Anda di halaman 1dari 68

HUBUNGAN KEKUATAN OTOT PERUT DAN KELENTUKAN

TOGOK DENGAN KEMAMPUAN MENYUNDUL BOLA


POSISI BERDIRI TERHADAP MAHASISWA PUTRA
SEMESTER IV PKLO FIK UNNES

SKRIPSI

Diajukan Dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata 1


Untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Disusun Oleh:

Nama : Eko Prasetyo


NIM : 6314000025
Jurusan : Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Fakultas : Ilmu Keolahragaan

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2005
SARI
EKO PRASETYO, (2005). Hubungan Kekuatan Otot Perut dan Kelentukan
Togok Dengan Kemampuan Menyundul Bola Posisi Berdiri Terhadap
Mahasiswa Putra Semester IV PKLO UNNES tahun 2004.

Masalah yang akan diungkapkan dari penelitian ini adalah untuk


mengetahui apakah ada hubungan kekuatan otot perut dan kelentukan togok
dengan kemampuan menyundul bola posisi berdiri. Tujuannya untuk mendapat
informasi ilmiah hubungan kekuatan otot perut dan kelentukan togok dengan
kemampuan menyundul bola posisi berdiri dan dilandasi teori-teori yang ada
hubungannya dengan permasalahan.
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini : mahasiswa putra PKLO
FIK UNNES, pengambilan sampel adalah total populasi sebanyak 34 orang,
variabel penelitian terdiri dari variabel bebas yaitu kekuatan otot perut (x1) dan
kelentukan togok (x2) dan variabel terikat yaitu kemampuan menyundul bola (y).
Instrumen yang digunakan untuk penjaringan data untuk : kekuatan otot perut
dengan duduk baring (30 detik), kelentukan togok dengan angkat badan ke atas,
mengunakan skala kemampuan menyundul bola dengan meteran sejauh mungkin.
Penjaringan dilakukan dengan menggunakan metode survey dengan teknik tes dan
pengukuran,dan data diolah dengan menggunakan korelasi sederhana, korelasi
ganda dan sebelum pengujian hipotesis dilakukan uji persyaratan :uji normalitas
data, uji homogenitas varians data, uji linearitas dan uji keberartian model dari
regresi.
Hasil pengujian hipotesis 1 : r x hitung > r tabel atau 0.5047>0.344 berarti ada
hubungan signifikan. hipotesis 2: r hitung > r tabel atau 0.5246>0.344 berarti ada
hubungan yang signifikan. hipotesis 3 : r x1,2 hitung > r tabel atau 0.6221>0.322 berarti
ada hubungan yang signifikan. Simpulan : ada hubungan bermakna antara variabel
x1 dan x2 dengan y, dan saran adalah untuk mendapatkan hasil sundulan bola yang
maksimal dalam latihan fisik untuk memperhatikan komponen fisik kekuatan otot
perut dan kelentukan togok.

ii

ii
HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipertahankan di hadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas

Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, pada:

Hari : Kamis

Tanggal : 17 Februari 2005

Panitia Ujian

Ketua Sekretaris

Drs. Sutardji, M.S Drs. M. Nasution , M.Kes


NIP. 130523506 NIP 131876119

Anggota Penguji

Kumbul Slamet B S.Pd,M.Kes.


NIP. 132205932

Drs. R. Soeyono M.Pd


NIP. 130219334

Drs. Tohar, M,Pd


NIP. 130340642

iv

iii
Kelentukan
Togok

Kekuatan
Otot Perut

Korelasi

iv
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Alasan Pemilihan Judul

Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga permainan yang sangat

populer dan digemari oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, baik di kota-kota

maupun di desa-desa. Perkembangan sepakbola di Indonesia makin pesat

sehingga tidak hanya laki-laki yang bermain sepakbola, bahkan sekarang

sepakbola juga dimainkan oleh kaum wanita. Di Indonesia dalam rangka

memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat, sepakbola

merupakan salah satu cabang olahraga yang diprioritaskan untuk dibina.

Para ahli sepakbola sepakat bahwa faktor penting dan berpengaruh serta

dibutuhkan dalam permainan sepakbola adalah teknik dasar pennainan sepakbola

yang harus dikuasai oleh para pemain lain (Djawad dkk., 1981:1). Penguasaan

teknik dasar merupakan suatu prasyarat yang harus dimiliki oleh setiap pemain,

agar permainan dapat dilakukan dengan baik.

Teknik dasar permainan sepakbola menentukan sampai dimana seorang

pemain dapat meningkatkan mutu permainannya. Penguasaan teknik dasar yang

baik dan sempurna, pemain dapat melaksanakan taktik permainan dengan mudah

karena pemain tersebut mempunyai kepercayaan pada diri sendiri cukup tinggi

dan setiap pengolahan bola yang dilakukan tidak banyak membuang tenaga yang

tidak perlu (Dirjen Olahraga dan Pemuda, 1972:4).


2

Sepakbola dimainkan oleh dua kelompok pemain, dan tiap-tiap kelompok

terdiri dari sebelas orang, sehingga dinamakan "Kesebelasan". Kesebelasan dapat

bermain dengan baik, jika setiap pemainnya memiliki keterampilan yang dapat

menunjang keberhasilan bermain sepakbola seperti penguasaan teknik dasar dan

taktik permainan. Teknik dasar dalam permainan sepakbola meliputi teknik

menendang, teknik menyetop, teknik mengkop (baca : menyundul bola), teknik

menangkap bola (sebagai penjaga gawang), teknik melempar (throw-in), dan

teknik mengumpan. Berorientasi pada berbagai macam teknik dasar yang

digunakan dalam permainan sepakbola, menyundul bola adalah suatu teknik yang

sangat penting dalam permainan. Pemain bola harus mahir menyundul bola

dengan berbagai cara, sebab menyundul bola merupakan keterampilan khas

sepakbola (Richard Widdow,1981:43). Menyundul bola merupakan salah satu

aspek teknik penting dalam permainan sepakbola, hal ini tercermin dari gol yang

tecipta ke gawang lawan sebagai hasil dari sundulan kepala pemain yang

menyerang. Sebaliknya untuk permain bertahan keterampilan menyundul bola

sangat dibutuhkan dalam menghalau serangan melalui udara. Oleh karena itu para

pemain baik pemain depan, pemain tengah, pemain belakang dan bahkan penjaga

gawang harus mahir menyundul bola dengan berbagai cara menurut kebutuhan.

Fungsi dan tujuan menyundul bola adalah : 1) untuk memberi umpan kepada

teman, 2) untuk membuat gol, 3) untuk menghentikan bola hanya kalau amat

perlu (Djawad, 1976 : 23). Kemampuan menyundul bola secara terarah bertambah

penting artinya dalam permainan apabila lawan bermain dengan sistem bertahan.

Pola permainan bertahan tersebut dapat diterobos dengan pola penyerangan lewat

atas atau udara yang memanfaatkan sundulan, Sebaliknya agar pemain penyerang

tidak mudah untuk menerobos sistem pertahanan, pemain belakangpun harus


3

mampu menyundul bola dengan baik. Memperhatikan aspek manfaat yang dapat

diambil dari keterampilan menyundul bola, maka pelatihan keterampilan

menyundul bola yang berdaya guna dan tepat guna sangat diperlukan. Menyundul

bola harus dilakukan dengan kening. Pandangan mata harus ditujukan kepada

bola, harus membiarkan diri "melempar" pandangan mata ke bola. Menyundul

bola dilakukan dengan cara mengayunkan punggung. Punggung diayun ke

belakang, kemudian dengan kuat diayun ke depan supaya kepala dapat

menghantam bola dengan keras (Chusaeri, 1976:17). Sukatamsi menjelaskan

beberapa hal tentang penguasaan teknik dasar menyundul bola yaitu : 1) lari

menjemput datangnya bola dengan pandangan mata terarah ke bola, 2) otot-otot

leher dikuatkan / dikencangkan untuk menyundul bola dan gunakan perkenaan

dengan dahi, 3) badan digerakkan atau ditarik ke belakang melengkung pada

daerah pinggang. Kemudian dengan menggerakkan seluruh tubuh yang terdiri dari

daya ledak otot perut, dorongan panggul dan kaki (lutut bengkok lalu diluruskan)

badan diayunkan atau dihentakkan ke depan sehingga dahi tepat mengenai bola

(Sukatamsi, 1981:171). Kemampuan menyundul bo1a dapat dilakukan dengan

berbagai cara, seperti posisi berdiri, cara sambil terbang (melayang), cara sambil

meloncat (jump header) yaitu meloncat ke atas untuk menyundul bo1a. Teknik

menyundul sambil meloncat (Jump header) dapat dilakukan dalam keadaan bo1a

melambung di atas kepala. Pelaksanaan menyundul bo1a membutuhkan adanya

koordinasi yang tepat antara 1) gerakan, 2) waktu lompatan yang tepat, dan 3)

kemantapan bo1a (Luxbacher Josep A., 1997:87). menyundul bo1a yang

dilakukan cara berdiri diperlukan aspek kekuatan otot perut yang dikoordinasikan

dengan kelentukan sebagai upaya persiapan pelaksanan sundulan, dimana

kelentukan akan memberikan sudut gerakan badan dalam ayunan. Kedua aspek
4

tersebut merupakan satu kesatuan gerak yang penting dalam menunjang

pelaksanaan sundulan, sehingga mampu menghasilkan unjuk kerja yang optimal.

Berkaitan dengan kelentukan atau fleksibilitas togok, pada dasarnya bertumpu

pada luas tidaknya ruang gerak sendi-sendi tubuh. Lentuk tidaknya seseorang

ditentukan oleh besar atau kecilnya sendi-sendi tubuh dalam bergerak, dan

dipengaruhi oleh elastisitas otot-otot, tendon dan ligamen. Dengan demikian

seseorang dikatakan memiliki kelentukan togok yang baik jika orang tersebut

mempunyai luas gerak bagian togok yang sangat luas dalam sendi-sendinya dan

elastisitas otot perut dan otot punggung yang baik, Kelentukan merupakan salah

satu aspek kondisi fisik yang sangat penting dalam pencapaian prestasi optimal.

Kelentukan sangat di perlukan sekali hampir di semua cabang olahraga yang

banyak menuntut banyak ruang gerak sendi seperti senam, loncat indah, beberapa

nomor atletik, permainan-permainan dengan bola, anggar, gulat, dan sebagainya

(Harsono.1988:163). Sedang kekuatan otot perut termasuk komponen pendukung

dalam usaha mendapat hasil sundulan yang maximal akan membantu gerak atau

ayunan tegak ke depan dengan cepat.yang dihasilkan oleh kontraksi otot perut

bagian depan dan belakang badan.

Berorientasi pada pemilihan judul tersebut di atas, dapat di asumsikan

bahwa terdapat hubungan antara kekuatan otot perut dan kelentukan togok dengan

kemampuan menyundul bola. Sehingga dapat disusun sebuah judul penelitian

“Hubungan antara Kekuatan Otot Perut dan Kelentukan Togok dengan

Kemampuan Menyundul Bola pada Mahasiswa Semester IV PKLO FIK UNNES

Semarang”. Adapun dasar lain pengambilan judul tersebut adalah sebagai berikut :

1. Kemampuan menyundul bola merupakan salah satu ciri khas permainan

sepak bola
5

2. Diasumsikan bahwa kekuatan otot perut dan kelentukan togok mempunyai

hubungan yang erat dengan kemampuan menyundul bola.

3. Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan .kemampuan menyundul bola

belum pernah dikaji secara empiric, sehingga perlu dilakukan penelitian.

B. Permasalahan

Berdasarkan pada latar belakang, identifikasi masalah dan pembatasan

masalah yang telah dibahas pada kajian sebelumnya, maka permasalahan

penelitian yang akan dicari pemecahannya di rumuskan sebagai berikut :

1. Apakah ada hubungan antara kekuatan otot perut dengan kemampuan

menyundul bola posisi berdiri pada mahasiswa putra semester IV PKLO

FIK UNNES Semarang Tahun 2004 ?

2. Apakah ada hubungan antara kelentukan togok dengan kemampuan

menyundul bola posisi berdiri pada mahasiswa putra semester IV PKLO

FIK UNNES Semarang Tahun 2004 ?

3. Apakah ada hubungan antara kekuatan otot perut dan kelentukan togok

dengan kemampuan menyundul bola posisi berdiri pada mahasiswa putra

semester IV PKLO FIK UNNES Semarang Tahun 2004 ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasar pada latar belakang identifikasi permasalahan dan permasalahan

penelitian, maka tujuan pelaksanaan penelitian adalah untuk mengetahui :

1. Hubungan kekuatan otot perut dengan menyundul bola posisi berdiri pada

mahasiswa semester IV PKLO FIK UNNES Semarang Tahun 2004.


6

2. Hubungan kelentukan togok dengan kemampuan menyundul bola posisi

berdiri pada mahasiswa putra semester IV PKLO FIK UNNES Semarang

Tahun 2004

3. Hubungan kekuatan otot perut dan kelentukan togok dengan kemampuan

menyundul posisi berdiri pada mahasiswa putra semester IV PKLO FIK

UNNES Semarang Tahun 2004

D. Penegasan Istilah

Berkaitan dengan beberapa istilah yang di gunakan dalam penelitian ini,

untuk menghindari kesalahan-kesalahan penafsiran mengenai judul skripsi dan

memperoleh gambaran yang jelas yang mengarah pada tujuan penelitian, maka

istilah-istilah yang perlu di tegaskan adalah berikut :

1. Hubungan

Hubungan menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah : 1) keadaan

berhubungan atau dihubungkan; 2) sesuatu yang dipakai untuk berhubungan atau

menghubungkan; 3) pertalian, sangkut paut, kontak; ikatan (Poerwardaminto,

1976 : 362)

2. Kekuatan otot perut

Kekuatan (strength) adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang

kemampuannya dalam menggunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja

(Depdikbut, 1997 : 5). Otot menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990:632)

adalah urat yang besar atau jaringan kenyal di tubuh manusia untuk

menggerakkan organ tubuh.Sedang perut adalah bagian tubuh di bawah rongga

dada (KBBI, 1990 : 676). Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kekuatan
7

otot perut adalah gerakan-gerakan kontraksi otot perut dalam melakukan gerakan

tidur terlentang untuk menerima beban waktu bekerja

3. Kelentukan

Kelentukan merupakan salah satu aspek kondisi fisik yang sangat penting

dalam pencapaian prestasi optimal. Kelentukan diperlukan sekali hampir di semua

cabang olahraga yang banyak menuntut ruang gerak sendi seperti senam.

4. Kelentukan togok

Kelentukan atau daya lentur adalah efektivitas seseorang dalam

menyesuaikan diri dalam segala aktivitas dengan penguluran tubuh yang luas. (M.

Satoyo, 1987 : 17). Hal ini akan sangat mudah ditandai dengan tingkat (flexibility)

persendian pada seluruh tubuh. Togok menurut kamus besar bahasa Indonesia

adalah : 1) 1 batang kayu yang di tebang dahan-dahannya; 2) tubuh yang tidak

bertangan dan berkaki (Poerwardaminto, 1976 : 1082).

Berdasarkan pengertian kelentukan togok yang dimaksud dalam penelitian

ini adalah kemampuan melentukkan togok atau batang tubuh sedemikian rupa

sehingga berbeda dalam sikap anatomis yaitu lurus antara batang tubuh dengan

tungkai.

5. Menyundul bola dengan cara berdiri

Kemampuan menyundul bola dapat dilakukan dengan berbagai cara,

seperti dengan cara berdiri, cara sambil terbang (melayang), cara sambil

melompat (jump hearder) yaitu meloncat ke atas untuk menyundul bola. Teknik

menyundul dengan cara berdiri dapat dilakukan dalam keadaan bola melambung

di atas kepala. Pelaksanaan menyundul bola membutuhkan adanya koordinasi


8

yang tepat dengan cara melengkungkan badan ke belakang lalu mengayunkan

kepalanya ke depan saat menyundul bola (Joe Luxbacher, 2001 : 58).

Berkaitan dengan penegasan istilah yang terkandung pada judul penelitian

tersebut di atas adalah hubungan yang dimiliki kekuatan otot perut dan kelentukan

togok dengan kemampuan menyundul bola posisi berdiri pada mahasiswa putra

semester IV PKLO FIK UNNES Semarang Tahun 2004.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diambil dari hasil pelaksanaan penelitian bagi dosen

pengampu mata kuliah sepak bola, pemain, pelatih dan para peminat olahraga

sepakbola pada khususnya, diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman atau

dasar untuk memberikan informasi ilmiah dalam pelaksanaan menyundul bola

dengan cara berdiri. Selain hal itu diharapkan dapat memberikan sumbangan

informasi positif bagi para pelatih sepakbola dan guru pendidikan jasmani dan

kesehatan dalam melatih dan mengajar, memilih dan mengembangkan pola

latihan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan dasar menyundul bola dengan

cara berdiri. agar latihan yang dilakukan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Diharapkan dapat memberikan sumbangan positif pada pengembangan ilmu

pengetahuan dan teori kepelatihan cabang olahraga sepakbola, khususnya pada

peningkatan jarak menyundul bola posisi berdiri.


9

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Permainan Sepakbola

Sepakbola sebagai salah satu cabang olahraga permainan, sangat digemari

oleh seluruh lapisan masyarakat, baik di kota maupun di desa. Perkembangan

sepakbola di Indonesia semakin pesat karena pembinaan dilakukan sejak usia dini

melalui sekolah-sekolah sepak bola (SSB) yang tersebar di segenap penjuru tanah

air.

Penguasaan teknik dasar merupakan suatu prasyarat yang harus dimiliki

oleh pemain. Faktor yang penting dan berpengaruh serta dibutuhkan dalam

permainan sepakbola adalah teknik dasar permainan sepakbola yang harus

dikuasai oleh para pemain (Djawad, dkk., 1981 : 1).

Teknik dasar permainan sepakbola terdiri dari beberapa macam yaitu

menendang bola, menggiring bola, mengontrol bola, menyundul bola, merebut

bola, lemparan ke dalam, gerak tipu dan teknik khusus penjaga gawang. Salah

satu teknik dasar penting dalam permainan sepakbola adalah teknik dasar

menyundul bola, karena teknik menyundul tidak hanya dibutuhkan oleh pemain

depan, namun juga diperlukan pemain belakang, pemain tengah dan bahkan oleh

penjaga gawang.

Sepakbola sebagai olahraga permainan memungkinkan pemain

menggunakan kepala untuk menyundul bola. Pemain menggunakan cara berdiri

menyundul bola untuk mengoper bola ke rekannya, untuk mencetak gol dengan

9
10

mengarahkan bola ke gawang lawan, atau untuk membuang bola yang mengarah

ke gawang mereka sendiri (Joe A. Luxbacher, 2001 : 62-63). Kemampuan

menyundul bola merupakan salah satu teknik yang diperlukan bagi seorang

pemain. Menyundul bola merupakan salah satu aspek teknik yang seringkali

dilupakan oleh para pelatih dan pemain, sehingga jarang diberikan dalam program

latihan. Mengkaji kenyataan tersebut, arti penting kemampuan menyundul bola

bagi pemain dalam pertandingan sepakbola sangat diperlukan. Pada pertandingan

sepakbola terciptanya suatu gol dari sundulan kepala merupakan sesuatu yang

menarik.

Menyundul bola merupakan salah satu aspek teknik dasar yang sangat

diperlukan dalam permainan sepakbola, baik oleh pemain penyerang maupun

pemain bertahan. Kemampuan melakukan duel di udara dengan menyundul bola

harus dikuasai oleh para pemain, baik pemain depan, pemain tengah, pemain

belakang dan bahkan penjaga gawang harus mahir menyundul bola dengan

berbagai cara menurut kebutuhan.

Kemampuan menyundul bola dapat dilakukan dengan berbagai cara,

seperti dengan cara berdiri, cara sambil terbang (melayang), cara dengan

meloncat yaitu meloncat ke atas untuk menyundul bola, Teknik menyundul

dengan cara berdiri dilakukan bola dalam keadaan melambung di atas kepala.

Menyundul bola cara berdiri memerlukan adanya kekuatan otot perut

yang dikoordinasikan dengan kelentukan togok. Kekuatan otot perut akan

memungkinkan seorang pemain melakukan gerakan ayunan tubuh ke depan

dengan cepat dalam menyongsong bola di udara, sedangkan kelentukan togok


11

akan memberikan sudut gerakan badan dalam ayunan. Kedua aspek tersebut

merupakan satu kesatuan gerak yang penting dalam menunjang keberhasilan

pelaksanaan menyundul bola, sehingga mampu menghasilkan kerja optimal.

Berorientasi pada uraian-uraian tersebut di atas, aspek-aspek kekuatan otot perut,

kelentukan togok, dan keterampilan menyundul bola dengan cara berdiri menarik

perhatian penulis untuk mengadakan penelitian.

1. Teknik Dasar Menyundul Bola

Sepakbola adalah salah satu permainan yang menggunakan bola besar.

Permainan sepakbola ini menurut Pagano dan Marien (1997 : 1) telah diketahui

berusia ribuan tahun. Namun pencipta permainan ini sampai sekarang tidak

diketahui.

Mengkaji pola gerak permainan sepakbola, di dalamnya meliputi gerakan-

gerakan seperti lari, lompat, loncat, menendang, menghentakkan, dan menangkap

bola bagi penjaga gawang (Sucipto, 2000 : 8). Semua gerakan-gerakan tersebut

terangkai dalam suatu pola gerak yang diperlukan pemain dalam menjalankan

tugasnya bermain sepakbola.

Berdasar pada pada analisis rumpun gerak dan keterampilan dasar,

permainan sepakbola memiliki 3 keterampilan dasar gerak yaitu gerak lokomotor,

gerak non lokomotor, dan gerak manipulatif. Gerak lokomotor dalam permainan

sepakbola tercermin pada gerakan perpindahan tempat ke segala arah, melompat /

meloncat, dan meluncur (Sucipto dkk., 2000 : 8). Gerak non lokomotor dalam

permainan sepakbola tercermin pada gerakan-gerakan yang tidak berpindah

tempat seperti menjangkau, melenting, membungkuk, meliuk (Sucipto dkk., 2000


12

: 9). Gerak manipulatif dalam permainan sepakbola tercermin pada gerakan-

gerakan seperti menendang bola, menggiring bola, menyundul bola, merampas

bola, dan menangkap bola bagi penjaga gawang, atau lemparan ke dalam untuk

memulai permainan setelah bola keluar lapangan (Sucipto,2000 : 9).

Permainan sepakbola merupakan permainan yang dimainkan oleh dua regu

dengan jumlah pemain masing-masing regu sebanyak 11 orang termasuk penjaga

gawang. Tujuan permainan sepakbola adalah memasukkan bola ke gawang lawan

sebanyak-banyaknya, dan berusaha sekuat tenaga menjaga agar gawangnya tidak

kemasukan bola. Untuk mencapai tujuan itu seorang pemain harus memiliki

empat kemampuan pokok. Seperti dikatakan oleh Sukamtasi (1984:11) bahwa

"Untuk meningkatkan dan mencapai prestasi, olahragawan haruss memiliki empat

kelengkapan pokok yaitu : 1) kemampuan fisik; 2) teknik; 3) taktik; dan 4)

mental.

Pemain sepakbola agar dapat bermain dengan baik, harus menguasai

teknik-teknik dasar sepakbola. Djawad (1976 : 1) mengatakan bahwa "Salah satu

faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi sepakbola adalah

penguasaan teknik dasar sepakbola oleh para pemainnya". Josef Sneyers (1990 :

10) mengatakan bahwa "Dilihat dari segi teknis, mutu permainan suatu

kesebelasan ditentukan oleh penguasaan teknik dasar sepakbola". Tentang teknik

dasar bermain sepakbola terdapat banyak pendapat dari masing-masing pakar

sepakbola, akan tetapi semua pendapat itu tidak bertentangan dan saling

melengkapi. Sardjono (1982 : 16) mengatakan bahwa : Teknik-teknik sepakbola

dibagi menjadi dua golongan, yaitu : 1) teknik-teknik gerakan tanpa bola, terdiri
13

dari (a) lari dan mengubah arah; (b) melempar dan meloncat; (c) gerak tipu tanpa

bola. 2) Teknik-teknik gerakan dengan bola, terdiri : (a) menendang bola; (b)

menerima bola; (c) gerak tipu dengan bola; (d) merebut bola; (e) teknik penjaga

gawang. Witarsa (1983:1) mengatakan bahwa pembagian teknik sepakbola dibagi

menjadi dua bagian, yaitu : 1) teknik tanpa bola, terdiri dari (a) lari; (b) lompat;

(c) gerak tipu dengan badan; (d) gerakan khusus bagi pemain belakang. 2) Teknik

dengan bola terdiri dari : (a) menendang bola; (b) mengontrol bola; (c) membawa

bola; (d) menyundul bola; (e) gerak tipu dengan bola; (f) merebut bola; (g)

melempar bola; (h) gerakan khusus penjaga gawang.

Sukatamsi (1984 : 34) juga mengatakan bahwa teknik dasar sepakbola

yang harus dikuasai dengan baik dan sempurna adalah : 1) teknik tanpa bola,

terdiri dari (a) lari cepat tanpa mengubah arah; (b) melompat atau meloncat; (c)

gerak tipu tanpa bola; (d) gerakan-gerakan khusus penjaga gawang. 2) Teknik

dengan bola terdiri : (a) menendang bola; (b) menerima bola; (c) menggiring bola;

(d) menyundul bola; (e) gerak tipu dengan bola; (f) merampas bola; (g) lemparan

kedalam; (h) teknik khusus penjaga gawang.

Pendapat lain mengatakan bahwa teknik sepakbola pada dasarnya terbagi

atas dua bagian yaitu : 1) teknik badan terdiri dari (a) cara berlari; (b) cara

melompat; (c) gerak tipu badan. 2) Teknik bola, terdiri dari (a) menendang bola;

(b) menahan bola; (c) menggiring bola; (d) gerak tipu badan dengan bola; (e)

merebut bola; (e) menyundul bola; (f) lemparan kedalam; (g) penjaga gawang

(Depdikbud, 1991 : 61-65).


14

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa teknik dasar

sepakbola adalah : 1) teknik tanpa bola yaitu semua gerakan-gerakan tanpa bola,

terdiri dari : (a) lari cepat dan mengubah arah; (b) melompat dan meloncat; (c)

gerak tipu tanpa bola. 2) Teknik dengan bola yaitu semua gerakan-gerakan dengan

bola, terdiri dari : (a) menendang bola; (b) menerima bola; (c) menggiring bola;

(d) menyundul bola; (e) melempar bola; (f) gerak tipu dengan bola; (g) merebut

bola; (h) teknik-teknik khusus penjaga gawang.

Teknik menyundul bola merupakan salah satu teknik dasar yang penting

dalam permainan sepakbola, oleh karena itu harus dikuasai oleh setiap pemain.

Kemampuan menyundul bola secara terarah bertambah penting artinya apabila

lawan bermain dengan sistem bertahan, sehingga ruang gerak hanya ada lewat

kepala. Banyak gol yang secara langsung atau tidak langsung tercipta dari duel di

udara. Pemain yang sangat ahli dalam menyundul bola sangat dicari kesebelasan

manapun juga di dunia ini, karena tidak banyak pemain yang mampu menyundul

bola secara terarah pada saat sedang dijaga ketat oleh pemain lawan. Situasi

pertandingan demikian menghendaki bentuk latihan yang realistis, di mana

pemain belajar melonjak (meloncat) dengan tolakan pada kaki kiri kaki kanan,

bahkan juga dengan kedua kaki, atas sambil berdiri.

Menyundul bola pada hakekatnya adalah memainkan bola dengan kepala.

Tujuan menyundul bola dalam permainan sepakbola adalah untuk mengumpan,

mencetak gol, dan untuk mematahkan serangan lawan atau membuang bola.

Ditinjau dari posisi tubuhnya, menyundul bola dapat dilakukan sambil berdiri,

melompat, dan sambil meloncat. Banyak gol tercipta dalam permainan sepakbola
15

dari hasil sundulan kepala (Sucipto, 1999/2000 : 32). Dalam pelaksanaannya

menyundul bola dilakukan melalui tiga cara yaitu : 1) menyundul bola sambil

berdiri, 2) menyundul bola sambil meloncat, dan 3) menyundul bola sambil

melayang.

Menyundul bola sambil berdiri dilakukan manakala bola setinggi kepala.

Analisis menyundul bola sambil berdiri adalah sebagai berikut : 1) posisi badan

tegak, kedua kaki dibuka selebar bahu atau salah satu kaki maju ke depan dan

menghadap sasaran, 2) kedua lutut sedikit ditekuk. 3) lentingkan badan ke

belakang, pandangan diarahkan ke datangnya bola, dan dagu merapat dengan

leher, 4) dengan gerakan bersamaan otot-otot perut, dorongan panggul, dan kedua

lutut diluruskan, badan dilecutkan ke depan sehingga dahi mengenai bola, 5)

seluruh berat badan diikutsertakan ke depan, sehingga berat badan berada di

depan dan menghadap sasaran, 6) salah satu kaki maju ke depan sebagai gerak

lanjutan, 7) kedua lengan menjaga keseimbangan. Untuk lebih jelasnya dapat

dilihat pada gambar 1.

Menyundul bola sambil meloncat atau melompat pada umumnya

dilakukan manakala datangnya bola di luar jangkauan, baik secara vertikal

maupun secara horisontal. Analisis menyundul bola sambil meloncat atau

melompat adalah sebagai berikut : 1) meloncat atau melompat sesuai datangnya

bola; 2) Pada saat mencapai titik tertinggi atau terjauh, badan dilentingkan, otot-

otot leher dikontraksikan, pandangan ke sasaran dan dagu merapat dengan leher;

3) dengan gerak bersamaan otot-otot perut, dorongan panggul, dan dorongan

badan ke depan, sehingga dahi mengenai bola; 4) badan dicondongkan


16

Gambar 1.

Menyundul bola sambil berdiri

(Sucipto,2000 : 33)

ke depan dan mendarat dengan kedua kaki secara eksplosif. Adapun untuk

mengetahui lebih jauh tentang menyundul bola sambil meloncat, dapat

diperhatikan pada gambar 2.

Menyundul bola sangat penting dalam permainan sepakbola, sebab

dengan menyundul bola seorang pemain dapat menggunakan kepalanya,

khususnya bagian dahi (kening) untuk menerima bola. Oleh karena itu seorang

pemain bola harus mahir menyundul bola dengan berbagai cara menurut

kebutuhan. Adapun fungsi dan tujuan dari menyundul bola antara lain adalah
17

untuk : 1) untuk memberi umpan kepada teman, 2) untuk membuat got, 3) untuk

menghentikan bola (hanya kalau amat perlu) (Djawad, 1976:23).

Gambar 2.

Menyundul bola sambil meloncat / melompat

(Sucipto,2000 : 34)

Menyundul bola harus dilakukan dengan kening. Pandangan mata harus

ditujukan kepada bola, harus membiasakan diri "Melemparkan" pandangan mata

ke bola. Menyundul bola dilakukan dengan cara mengayunkan punggung.

Punggung diayun ke belakang, kemudian dengan kuat diayun ke depan supaya

kepala dapat menghantam bola dengan keras (Chusaeri, 1986:17).

Menyundul bola dengan cara meloncat agar menghasilkan jarak yang jauh,

seorang pemain harus ditunjang dengan kemampuan fisik yang prima atau baik

terutama sekali kemampuan daya ledak otot tungkai dan kelentukan togok. Oleh

karena itu program latihan yang diberikan harus mencakup latihan-latihan yang
18

berorientasi pada daya ledak dan kelentukan togok. Teknik menyundul bola

dengan meloncat (jump header) dilakukan pada saat bola melambung di udara.

Pelaksanaan yang benar membutuhkan koordinasi yang tepat antara 1) gerakan, 2)

waktu lompatan yang tepat, dan 3) kemantapan bola (LuxbacherJosep A.,

1997:87).

Berorientasi pada pelaksanaan menyundul bola yang dilakukan cara

berdiri diperlukan kekuatan otot perut yang dikoordinasikan dengan kelentukan

togok sebagai upaya persiapan pelaksanaan kekuatan perut akan memungkinkan

seorang pemain untuk melakukan gerakan ayunan badan ke depan secepatnya

usaha menyongsong bola di udara, sedangkan kelentukan togok akan memberikan

sudut gerakan badan dalam ayunan. Kedua aspek tersebut merupakan satu

kesatuan gerak yang sangat penting dalam menunjang pelaksanaan menyundul

bola, sehingga mampu meng-hasilkan unjuk kerja yang optimal. Berkaitan dengan

hal tersebut, maka diperlukan tingkat kondisi fisik yang baik agar unjuk kerja

yang dilakukan dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

2. Pengertian Kekuatan.

Setiap cabang olahraga memerlukan status kondisi fisik yang bervariasi

perbedaannya satu dengan yang lain.Untuk menentukan status kondisi pemain

perlu latihan kondisi fisik dasar dan bersifat umum yang harus diberikan jauh

sebelum program khusus.

Latihan dasar yang sangat pokok meliputi latihan peningkatan kekuatan

daya ledak.kelenturan dan daya tahan khusus serta umum (M.Sayoto, 1989 : 23).

yang dimaksud kekuatan menurut Harsono (1982 : 49) strength atau kekuatan
19

adalah energi untuk melawan suatu tahanan atau kemampuan untuk

membangkitkan tegangan (tension) terhadap suatu tahanan (resistence).

Sedangkan kekuatan menurut M. Satoyo (1989 : 16) mengatakan kekuatan

(strength). adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuan dalam

menggunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja. M. Soebroto (1977 :

25) mengatakan kekuatan otot kwalitas yang memungkinkan pengembangan

ketegangan otot dalam kontraksi yang maksimal. Dari ketiga pendapat tersebut

dapat disimpulkan bahwa kekuatan adalah kemampuan otot atau sekelompoknya

dalam usahanya menahan beban atau pekerjaan dalam waktu yang relatif pendek.

Jadi kekuatan suatu otot di dasar atas : 1) dipengaruhi oleh unsur-unsur struktural

otot khususnya volume (isi); 2) semakin jelas bahwa kekuatan otot ditentukan

oleh kwalitas faktor tidak sengaja kepada otot atau kelompok otot yang

bersangkutan (M. Soebroto, 1977 : 25 ).

Hasil kemampuan menyundul bola semata-semata tidak hanya didasarkan

adanya kekuatan namun masih ada komponen fisik yang mendukung yaitu power,

oleh karena di dalam power kecuali ada kekuatan terdapat pula kecepatan. Power

adalah hasil dari Forcexvelocity, di mana force adalah sama (equivalent) dengan

strength dan velocity. (Suharno, 1982 : 49). Dari pernyataan tersebut dapat

disimpulkan bahwa pemain atau atlet yang mempunyai power adalah atlet yang

kecuali kuat juga cepat. Bertambah kekuatan akan pula berarti bertambahnya

power sehingga akan menghasilkan jarak sundulan bola lebih jauh.


20

3. Jenis serabut otot yang digunakan dalam kontraksi

Jenis serabut otot yang menggerakkan anggota tubuh dikelompokkan

menjadi dua golongan besar, yaitu serabut otot cepat (fast twitch fibres = FT

fibres) dan serabut otot lambat (slow twitch fibres = STfibres). Kedua jenis otot

tersebut berbeda dalam kecepatan kontraksi (Mc. Ardle, et. all., 1981 : 243-247;

Lamb, 1984 : 185).

Serabut otot yang lebih kuat untuk bekerja secara aerobik disebut tipe I

atau serabut otot merah atau serabut otot lambat. Serabut otot yang lebih kuat

untuk bekerja secara anaerobik disebut tipe II atau serabut otot putih atau serabut

otot cepat. Pembagian jenis serabut otot menjadi beberapa macam tipe didasarkan

pada karakteristik metabolik dan kecepatan kontraksi (Me. Ardle, et. All., 1981 :

243-247).

Serabut otot tipe I mempunyai lebih banyak mithokondria dengan enzim-

enzim yang diperlukan untuk memecah lemak dan karbohidrat secara sempurna

menjadi karbondioksida (C20) dan air CHbO). Penyediaan energi melalui proses

atau metabolisme aerobik berlangsung lama dan tidak cepat menimbulkan

kelelahan. Serabut otot tipe juga banyak .mengandung mioglobin, sehingga

disebutjuga serabut otot merah (Guyton, 1986 : 180). .

Serabut otot cepat (tipe II) mempunyai jumlah retikulum sarkoplasma

lebih banyak dibandingkan dengan serabut otot lambat (tipe I). Keadaan tersebut

menyebabkan proses pelepasan (re-uptake) ion kalsium berlangsung dengan cepat

sehingga proses kontraksi yang dihasilkan dapat berlangsung secara cepat. Dalam

serabut otot cepat proses penyediaan energi berlangsung melalui metabolisme


21

anaerobik. Kapasitas anaerobik jumlahnya sangat terbatas atau sedikit, sehingga

akan cepat habis dan menimbulkan kelelahan. Serabut otot putih memiliki ciri

utama yaitu cepat dalam menjawab rangsangan dan puncak kekuatan yang

dihasilkan lebih besar dari otot merah (Fox, 1993 : 97). Soekarman (1987:29)

membedakan sifat kedua jenis otot tersebut seperti terlihat pada label 1.

Persentase otot cepat dapat meningkat dan persentase otot lambat dapat

menurun dengan melakukan latihan anaerobik, tetapi sebaliknya dengan latihan

aerobik persentase otot lambat meningkat dan persentase otot cepat menurun.

Namun jika otot merah dilatih maka efek atau pengaruh dari latihan yang

diberikan tidak banyak berpengaruh pada serabut otot putih, sebaliknya latihan

tersebut ditujukan kepada serabut otot putih maka serabut otot merah ikut terlatih

(Fox, 1993 : 97).

Tabel 1
Perbandingan Sifat Otot Lambat dan Otot Cepat

Sifat Otot lambat Otot cepat

Kadar myoglobin Tinggi Rendah


Cadangan lemak Tinggi Rendah
Cadangan glikogen Tinggi Rendah
Kepadatan Mithokondria Tinggi Rendah
Enzim oksidasi Tinggi Rendah
Jumlah kapilaria Tinggi Rendah
Jaringan PC Rendah Tinggi
Enzim glikatison Rendah Tinggi
Kepayahan Rendah Tinggi
(Soekarman, 1987 : 29)
22

Memahami tentang jenis dan sifat serabut otot yang digunakan dalam

aktivitas kontraksi otot, maka dapat dijelaskan bahwa jenis serabut otot yang

digunakan unjuk kerja kecepatan dan kekuatan adalah serabut otot cepat (tipe II),

karena jenis serabut otot cepat (tipe II) ini dapat menampilkan kontraksi otot

secara cepat dan kuat.

4. Sistem energi untuk gerak / kontraksi otot

Energi adalah kemampuan untuk melakukan suatu usaha atau

menghasilkan suatu perubahan. Semua energi yang digunakan untuk proses

kehidupan berasal dari matahari. Melalui proses fotosintesis yang dilakukan oleh

tumbuhan hijau, energi matahari tersebut diubah menjadi energi kimia. Energi

yang dihasilkan tumbuhan terutama berbentuk sebagai glukosa, selulosa, protein

dan lemak. Untuk mendapatkan energi tersebut, manusia makan tumbuh-

tumbuhan dan hewan (Soekarman, 1987 : 12). Energi yang dihasilkan dari proses

oksidasi bahan makanan tidak dapat digunakan secara langsung untuk kontraksi

otot, tetapi terlebih dahulu energi ini membentuk senyawa kimia berenergi tinggi

yaitu Adenosin Triphosphate (ATP). Selanjutnya ATP yang terbentuk diangkut

oleh darah ke seluruh bagian sel yang memerlukan energi (Fox, 1993 : 97).

Otot merupakan salah satu alat tubuh yang menggunakan ATP sebagai

sumber energi dalam melakukan kontraksi, sehingga menimbulkan gerakan-

gerakan sebagai aktivitas fisik. ATP paling banyak tertimbun dalam sel otot

dibandingkan dengan jaringan tubuh yang lain, akan tetapi ATP yang tertimbun

dalam otot jumlahnya sangat terbatas, yaitu sekitar 4-6 mm/kg berat badan. ATP

yang tersedia ini hanya cukup untuk aktivitas cepat dan berat selama 8-30 detik,
23

sehingga untuk aktivitas yang lebih lama dari waktu tersebut perlu dilakukan

pembentukan ATP kembali (resintesis ATP).

Penampilan kekuatan dan kecepatan terutama didukung oleh kontraksi

dari serabut otot cepat dan penyediaan energi melalui proses anaerobik. Kapasitas

penyediaan energi anaerobik sangat menentukan untuk penampilan atau untuk

kerja yang cepat dan kuat. Dengan demikian kecepatan dan kekuatan yang

merupakan unsur utama dari daya ledak. Selain tergantung dari besarnya jumlah

serabut otot cepat, unjuk kerja / gerakan menyundul bola juga tergantung pada

system penyediaan energi anaerobic. Adapun penyediaan energi secara anaerobik

meliputi sistem ATP-PC (Phosphagen System) dan sistem glikolisis anaerobik

(Lactici Acid System). Karena PC merupakan senyawa yang mengandung bersifat

dan tertimbun di dalam otot seperti halnya ATP, maka sistem ini disebutjuga

sistem fosfagen.

Reaksi pemecahan ATP-PC berlangsung secara cepat dan terjadi di dalam

sel. Pada saat ATP digunakan, maka PC akan segera terurai dan membebaskan

energi, sehingga terjadi resintesis ATP. ATP dipecah pada saat kontraksi otot

berlangsung, kemudian dibentuk kembali dari Adenosin Diphosphate dan Piruvat

( ADP + pi ) oleh adanya energi yang berasal dari simpanan PC. Penyediaan

energi dengan system tersebut hanya dapat dipergunakan atau dipakai selama

3-8 detik (Soekarman, 1987 : ll). Adapun persamaan reaksi peristiwa sistem ATP-

PC adalah sebagai berikut:


24

PC ———————————— Pi +C+ Energi

Energi + ADP 4- Pi ————————————> ATP (Fox,

1993:).

Lebih lanjut Fox (1988 : 185) menyatakan bahwa kebaikan dari sistem

ATP-PC adalah : 1) tidak tergantung pada reaksi kimia yang panjang; 2) tidak

membutuhkan oksigen; 3) ATP-PC tertimbun dalam mekanisme kontraktil otot.

Selain sistem ATP-PC yang digunakan dalam unjuk kerja daya ledak,

system lain yang digunakan adalah sistem glikolisis anaerobik. Sistem glikolisis

anaerobic sangat rumit jika dibandingkan dengan sistem ATP-PC. Proses

glikolisis anaerobic memerlukan 12 macam reaksi yang berlangsung secara

berurutan, sehingga pembentukan energi berlangsung lebih lambat. Proses

pembentukan energi glikolisis anaerobik terjadi setelah cadangan ATP yang telah

dipakai selama 3-8 detik habis dan tidak dapat dipenuhi lagi oleh system

phosphagen. ATP dapat dibentuk kembali melalui pemecahan glikogen tanpa

oksigen dengan sistem glikolisis (asam laktat). Adapun ciri dari proses glikolisis

anaerobic adalah : 1) terbentuknya asam laktat; 2) tidak membutuhkan oksigen; 3)

hanya menggunakan karbohidrat; dan 4) memberikan energi untuk resintesis

beberapa molekul ATP.

Berikut digambarkan bagan penglepasan energi pada sel otot yang

berkontraksi.

1. Proses anaerob

a. ATP ADP + P + energi (detik pertama)

b. Kreatin fosfat + ADP Kreatin + ATP

(beberapa detik mula-mula)


25

c. Glikogen/glukosa + ADP Asam piruvat + ATP


(glikolisis)

2. Proses aerob

d. Acetyl co-enzime A + P + ADP + O2 CO2 + H2O + ATP (dari

asam piruvat atau dari asam lemak)

(Dangsina, 1984 :59)

Olahraga yang memerlukan kecepatan, pertama-tama akan menggunakan

sistem ATP-PC dan kemudian sistem glikolisis anaerobik. Sistem glikolisis

anaerobic sangat penting dalam olahraga karena dapat memberikan atau

menyediakan kembali (resintesis) ATP dengan cepat. Untuk olahraga yang

berlangsung selama 1-3 menit, energi yang digunakan terutama dari proses

glikolisis anaerobik (Soekarman, 1987 : 8).

5. Pengertian Kelentukan Togok

Kelentukan adalah efektivitas seseorang dalam menyesuaikan diri untuk

segala aktivitas dengan penguluran tubuh pada bidang sendi yang luas.

Kelentukan dipengaruhi oleh elastisitas sendi dan elastisitas otot-otot serta

dinyatakan dalam satuan derajat ( º ). Harsono (1988 : 163) menyatakan bahwa

lentuk tidaknya seseorang ditentukan oleh luas sempitnya ruang gerak sendi-

sendinya. Jadi kelentukan adalah kemampuan untuk melakukan gerakan dalam

ruang gerak sendi. Kecuali oleh ruang gerak sendi, kelentukan juga ditentukan

oleh elastisitas tidaknya otot-otot, tendon, dan ligamen. Sedangkan Melvin H.

William (1990 : 87) menyatakan bahwa kelentukan sangat berguna sekali dalam

tindakan preventif mengatasi cidera dan perbaikan postur yang buruk. Harsono
26

(1988 : 163) menyatakan berdasar hasil-hasil penelitian menyatakan bahwa

perbaikan dalam kelentukan akan dapat: 1) mengurangi kemungkinan terjadinya

cedera-cedera otot dan sendi; 2) membantu dalam mengembangkan kecepatan,

koordinasi, dan kelincahan; 3) membantu memperkembangkan prestasi;

4) menghemat pengeluaran tenaga (efisien) pada waktu melakukan gerakan-

gerakan; dan 5) membantu memperbaiki sikap tubuh.

B. Hipotesis

Hipotesis adalah dugaan sementara yang mungkin benar atau mungkin

salah, akan menolak jika fakta-fakta membenarkan (Sutrisno Hadi, 1991 : 63).

Penolakan atau penerimaan suatu hipotesis sangat bergantung pada hasil-hasil

pengumpulan data penelitian.

Berdasar pada beberapa landasan teori yang telah diuraikan, maka hipotesis

yang diajukan dalam penelitian im adalah sebagai berikut:

1. Ada hubungan kekuatan otot perut dengan kemampuan menyundul bola

posisi berdiri pada Mahasiswa Semester IV PKLO FIK UNNES Semarang

Tahun 2004.

2. Ada hubungan kelentukan togok dengan kemampuan menyundul bola posisi

berdiri pada Mahasiswa Semester IV PKLO FIK UNNES Semarang Tahun

2004.

3. Ada hubungan kekuatan otot perut dan kelentukan togok dengan

kemampuan menyundul bola posisi berdiri pada Mahasiswa Semester IV

PKLO FIK UNNES Semarang Tahun 2004.


27

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode adalah pengetahuan tentang berbagai cara kerja yang disesuaikan

dengan obyek-obyek studi ilmu yang bersangkutan. Metode diperlukan dalam

pelaksanaan suatu penelitian. Metode penelitian memberikan garis-garis yang

cermat dan mengajukan syarat-syarat yang benar, maksudnya untuk menjaga agar

pengetahuan yang dicapai dari suatu penelitian dapat mempunyai nilai ilmiah

setinggi-tingginya (Sutrisno Hadi, 1986 : 4).

Penggunaan metode penelitian harus tepat dan mengarah pada tujuan

penelitian agar memperoleh hasil yang sesuai dan dapat dipertanggungjawabkan

secara ilmiah. Berbobot tidaknya suatu penelitian tergantung pada

pertanggungjawaban dari metode penelitian. Metode penelitian yang digunakan

dalam penelitian ini adalah metode survei. Berkaitan dengan metode penelitian

tersebut, akan dibahas beberapa hal yaitu : 1) Populasi Penelitian; 2) Sampel

Penelitian; 3) Variabel Penelitian; 4) Rancangan Penelitian; 5) Metode

Pengumpulan data; 6) Prosedur Penelitian; 7) Instrumen Penelitian; 8) Faktor-

faktor yang mempengaruhi Waktu dan tempat penelitian.

A. Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Suharsimi Arikunto, 1996

: 102). Adapun populasi yang menjadi subyek penelitian adalah para Mahasiswa

27
28

putra semester IV PKLO FIK UNNES Semarang tahun 2004 yang berjumlah 34

orang dan mempunyai karakteristik sebagai berikut :

1. jenis kelamin laki-laki

2. usia rata-rata 20-21 tahun

3. telah mendapat perkuliahan tehknik dasar bermain sepak bola

4. diampu oleh dosen sepak bola

B. Sampel Penelitian

Sampel merupakan sebagian dari populasi yang diselidiki, yang

generalisasinya (kesimpulannya) dikenakan terhadap semua individu atau

populasi. Suharsimi Arikunto (1996 : 120) menyatakan bahwa : "Untuk sekedar

ancar-ancar, maka apabila subyek kurang dari 100, lebih baik diambil semua,

sehingga penelitiannya berupa penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah

subyeknya besar dapat diambil 10 - 15 % atau 20-25 % atau lebih tergantung

setidak-tidaknya dari : 1) kemampuan peneliti dilihat dari waktu; 2) sempit

luasnya pengamatan dari setiap subyek karena hal ini menyangkut banyak

sedikitnya data; 3) besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk

penelitian yang resikonya besar, jika sampelnya besar hasilnya akan lebih baik.

Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampel (total

sampling) dengan jumlah sebanyak 34 orang. Dikatakan sampel total karena

masing-masing angggota populasi sekaligus menjadi anggota sampel penelitian.

C. Variabel Penelitian

Definisi operasional variabel adalah konsep tentang rumusan variable

penelitian sebagai dasar pegangan dalam mengukur data. Tujuan penjabaran


29

definisi operasional variabel adalah untuk menghindari kesalah pahaman

pengertian tentang variabel yang menjadi kajian dalam pelaksanaan penelitian.

Adapun variabel yang dimaksud dalam penelitian ini adalah :

1.Variabel bebas (independent variabel) meliputi : 1) kekuatan otot perut hasil tes

dan pengukuran baring tidur (sit-up) dalam 30 detik dilakukan 3x diambil jumlah

yang pengukuran terbanyak dari 3x unjuk kerja; 2) kelentukan togok yaitu

veriabel hasil tes dan pengukuran kemampuan besaran sudut togok yang

dinyatakan dalam satuan derajad ( º ).

2. Variabel terikat (dependent veriable) adalah kemampuan menyundul bola

dengan cara berdiri yang dinyatakan dalam satuan meter.

D. Rancangan Penelitian

Rancangan atau desain penelitian yang digunakan adalah desain

korelasional (Correlational Design). Desain yang dimaksud terlihat pada gambar

3.

1. menyundul bola
kekuatan otot perut (Xi)
3. cara berdiri

kelentukan togok (X2) 2.

1. γ x1 – Y; 2. γ X2 – Y ; 3 γ X,1,2 - Y

Gambar 3.

Desain Penelitian
30

E. Metode Pcngumpulan Data

Penjaringan data dilakukan dengan metode survey dengan teknik tes dan

pengukuran, yaitu tes kekuatan otot perut, tes kelentukan togok, dan tes

kemampuan menyundul bola dengan cara berdiri.

F. Prosedur Penelitian

Kegiatan pengambilan data penelitian dilakukan di Lapangan FIK UNNES

Semarang, dan Laboratorium UNNES Semarang, selama 2 (dua) tahapan, yaitu 1)

tahapan untuk mengukur variabel prediktor (X). Setelah istirahat 1 hari dilakukan

tahapan pengukuran variable kriterion (Y) bagi seluruh sampel penelitian.

Pelaksanaan tes dilakukan pada tangga 07 dan 09 juli 2004.

1. Tes Baring Duduk 30 detik (sit-up)

Tes ini bertujuan untuk mengukur kekuatan otot perut.

Alat/fasilitas yang dibutuhkan yaitu:

(1) Lantai lapangan rumput yang bersih

(2) Stop Watch

(3) Formulir pencatatan hasil tes.

(4) Alat tulis

Pelaksanaan:

Testee berbaring terlentang di atas lantai / rumput. Kedua lutut ditekuk ±

90°. Kedua tangan dilipat dan ditetakkan di belakang kepala, dengan jari tangan

saling berkaitan dan kedua tangan menyentuh lantai. Salah seorang teman testee

membantu memegang dan menekan kedua pergelangan kaki, agar kaki testee

tidak terangkat. Pada aba-aba "ya", testee bergerak mengambil sikap duduk,
31

sehingga kedua sikunya menyentuh paha, kemudian kembali ke sikap semula.

Lakukan gerakan itu berulang-ulang cepat tanpa istirahat dalam waktu 30 detik.

Gerakan itu gagal bilamana :

(1) Kedua lengan lepas. sehingga jari-jarinya tidak terjalin

(2) Kedua tungkai di tekuk dengan sudut lebih dari 90 º

(3) Kedua siku tidak menyentuh palia.

Untuk lebih jelas mengenai pelaksanaan tes baring duduk dapat dilihat pada

gambar berikut ini:


32

Gambar
Sikap baring duduk (sit-up)
Sumber : NURHASSAN.2001 : 142 : 143

G. Tes Fleksibilitas

1. Angkat Badan Atas (Trunk Lift / Extention)

Tujuan : Mengukur Kelentukan ekstentor tubuh

Tabel 2
Keuntungan dan kerugian mengukur kelentukan togok
Keuntungan Kerugian

- Membutuhkan sedikit peralatan - Pengujian dilakukan satu per satu

- Mudah dilaksanakan - Membutuhkan waktu lama

- Kemungkinan lentingan ke

belakang berlebihan
33

Pelaksanaan

Peralatan : Penggaris yang diberi tanda pada 6 dan 12 inci dan matras.

Posisi awal : Siswa menelungkup, kedua tangan di belakang paha dan ujung kaki

lurus.

Unjuk kerja : Siswa mengangkat kepala dan badannya, kemudian ditahan

sebentar untuk diukur (jangan memberi saran untuk mengangkat badan melebihi

12 inci). Tester mengukur jarak dari lantai ke dagu.siswa kemudian kcmbali

menurunkan badannya. Dua kali kesempatan dengan nilai paling tinggi yang

dicatat.

Penilaian : Nilai adalah ketinggian badan / dagu yang bisa diangkat dari lantai,

diukur dari dagu ke lantai, dicatat sampai inci paling dekat. Apabila diangkat

melebihi 12 inci dicatat hanya sampai 12 inci saja.

2. Tes kemampuan menyundul bola dengan meloncat

Kemampuan menyundul bola dengan cara berdiri adalah kemampuan

untuk menanduk bola dari satu tempat ke tempat lain sejauh mungkin dengan

perkenaan pada bagian dahi, Pengukuran kemampuan menyundul bola dengan

cara berdiri menggunakan tes menyundul sejauh mungkin.

H. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian, adalah: 1)

tes baring duduk 30 detik untuk mengukur kekuatan otot perut; 2) Angkat badan

atas (trunklift / Extention) untuk mengukur kelentukan togok; dan 3) Menyundul

bola dengan cara berdiri untuk mengukur kemampuan menyundul bola.


34

I. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penelitian

Subyek atau sampel penelitan adalah para pemain yang belum menguasai

teknik gerakan-gerakan menyundul bola dengan meloncat seperti pada atlet

dengan baik dan benar. Menyundul bola dengan cara berdiri merupakan salah satu

materi latihan dari keseluruhan program yang diberikan dalam skala persentasi

kecil, sedangkan penguasaan gerakan menyundul dengan cara berdiri

membutuhkan waktu yang relatif lama dan frekuensi latihan yang memadai,

sehingga keberhasilannya dapat mempengaruhi hasil pengukuran yang dilakukan.

J. Analisis Data

Pelaksanaan analisis data penelitian, setelah data diperoleh dari hasil

pengukuran selanjutnya dianalisis dengan teknik regresi. Namun sebelum

melakukan uji analisis terlebih dahulu dilakukan sejumlah uji persyaratan untuk

mengetahui kelayakan data. Adapun uji persyaratan tersebut meliputi :

1. Uji Normalitas Data

Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya data

yang akan dianalisis. Adapun uji normalitas menggunakan uji Liliefors.

Untuk menguji data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak

digunakan statistik Liliefors. Adapun langkah-langkah dalam pengujian ini

sebagai berikut :

a. Data yang diperoleh diubah terlebih dahulu menjadi skor baku dengan rumus :

xi - x
Zi =
S
35

Keterangan :

Zi = Skor baku

xi = Rata-rata

S = Standar deviasi

b. Dihitung peluang untuk setiap bilangan baku yaitu F (Zi) = P (z ≤ Zi)

c. Dihitung proposisi Z1, Z2, Z3, … Zn (z ≤ Zi)

Banyaknya Z1 , Z2 , Z3 , ..., Zn ≤ Zi
S(Zi ) =
n

d. Dihitung harga mutlak F (Zi) – S (Zi)

e. Diambil Lo yaitu nilai terbesar dari |F (Zi) – S(Zi)|

f. Apabila Lo < Ltabel, maka data berdistribusi normal (Sudjana, 1996:466-476).

Perhitungan selanjutnya menggunakan program SPSS release 10.00 apabila

diperoleh nilai signifikansi > 0.05, dapat disimpulkan data berdistribusi normal.

2. Uji Homogenitas Varians

Uji homogenitas varians digunakan untuk mengetahui seragam tidaknya

variasi sampel-sampel yang diambil dari populasi yang sama dalam penelitian. Uji

homogenitas varians dihitung dengan menggunakan Levene test menggunakan

program SPSS. Apabila diperoleh nilai signifikasi lebih besar dari taraf kesalahan

0.05, dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh homogen.


36

3. Uji linieritas dan uji keberartian model garis regresi.

Uji linieritas dimaksudkan untuk menguji apakah data yang diperoleh

linier ataukah tidak. Jika data linier, dapat dilanjutkan dengan uji parametric

dengan teknik regresi linier namun jika data tidak linier digunakan uji regresi non

linier.

Uji keberartian model garis regresi dimaksud untuk menguji apakah data

predictor dapat digunakan sebagai peramalan kriterium ataukah tidak. Jika

predictor berarti maka dapat digunakan sebagai peramalan, sedang jika prediktor

tidak berarti sebagai konsekuensinya tidak dapat dipakai sebagai peramalan

kriterium. Adapun uji linieritas dan keberartian model garis regresi menggunakan

teknik analisis varians dengan langkah-langkah sebagai berikut :

Tabel 3
Persiapan Analisis Regresi
Sumber Variasi dk JK RK F
hitung
Total n JK(T) -
Regresi (a) 1 JK(a) RK(a) = JK(a): 1 RK(a | b)
Regresi (a|b) 1 JK(a|b) RK(a|b) = JK(a|b) : 1 RK(S)
Residu n-2 JK(S) RK(S) = JK (S) : (n-2)
Tuna cocok k-2 JK (TC) RK(TC) = JK(TC): (k-2) RK(TC)
Galat (E) n-k JK(E) RK(E) = JK(E) : (n-k) RK(E)

Keterangan:

= ∑Y
2
JK (T)

JK(a) =
(∑ Y )
N

JK(a|b)

= b ∑ XY -
(∑ X )(∑ Y )

 n 

JK(S) = JK(T) – JK(a) – JK(a|b)


37

2
 (∑ Yi ) 
= ∑ ∑ Yi −
2
JK(E) 
 ni 

JK(TC) = JK(S) – JK(E)

Untuk uji keberartian model regresi, apabila F hitung > F tabel dengan dk

(1:n-2) maka dapat disimpulkan bahwa model yang diperoleh signifikan.

Untuk uji kelinieran, apabila Fhitung < F tabel dengan dk (k-2 : n-k), maka dapat

disimpulkan bahwa model regresi tersebut berbentuk linier.

4. Uji regresi dengan persamaan Y = a + bX

5. Uji Korelasi

N ∑ XY - (∑ X )(∑ Y )
rxy =
{N ∑ X 2 2
}{
− (∑ X ) N ∑ Y 2 − (∑ Y )
2
}
( Sudjana.1992 : 369)

Setelah dilakukan uji regresi dan korelasi, selanjutnya dilakukan uji

sumbangan relatifitas dan uji, sumbangan efektifitas variabel prediktor terhadap

kriterium. Adapun langkah-langkah mencari sumbangan relatifitas dilakukan

dengan cara : 1) untuk variabel prediktor 1 (Xi) mencari harga Xi dibagi dengan

JK reg dikalikan 100% (harga X : JK reg ) x 100 %, 2) untuk variabel prediktor 2

(Xs) mencari harga X2 dibagi dengan JK reg dikalikan 100 % (harga Xi : JK reg )

x 100 %. Sedangkan untuk mencari sumbangan efektivitas garis regresi dapat

dilakukan dengan cara : 1) untuk keseluruhan prediktor yaitu membagi JK reg

dengan JK tunai dikalikan 100 ( JK reg : JK total ) x 100; 2) sedangkan untuk

masing-masing prediktor dilakukan dengan mengalikan sumbangan relatif (SR)

dalam persen dengan harga koefisien R determinan (SR % x R2).


38

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Data

Setelah diperoleh data dari hasil tes dan pengukuran untuk variabel

kekuatan otot perut, variabel kelentukan togok, dan hasil jarak menyundul bola

karena masing-masing variabel penelitian memiliki ukuran berbeda. Maka

sebelum dilakukan analisis data penelititan terlebih dahulu data ditransformasikan

ke dalam skor-T. Adapun rangkuman hasil masing-masing variabel seperti tertera

pada tabel 2 berikut ini. Deskripsi data kekuatan otot perut, kelentukan otot perut,

dan hasil jarak menyundul bola :

Tabel 4
Deskripsi Data Variabel Penelitian
NO VARIABEL N RATA- SD VARIANS

RATA

1 Kekuatan otot perut 34 22.12 3.6078 13.016

2 Kelentukan togok 34 51.06 6.6740 44.542

3 Hasil jarak menyundul bola 34 10.76 1.0564 1.115

Tabel 2 atas menyajikan diskripsi data hasil tes dan pengukuran kekuatan

otot perut n = 34. Rata-rata 22.12 SD sebesar 3.6078 dan varian sebesar 44.542
39

sedangkan untuk hasil jarak menyundul bola rata-rata 10.76. SD. Sebesar 1.0564

dan varian hasil jarak menyundul bola 1.115.

2. Analisis data

Guna memenuhi persyaratan analisis dalam pengujian hipotesis penelitian

akan dilakukan beberapa langkah uji persyaratan yang meliputi : uji Normalitas

distribusi data homogenitas varians data uji linearitas dan uji kapasitas modal

garis regresi. Adapun hasil rangkuman tersaji pada tabel di bawah ini.

a. Uji persyaratan uji normalitas distribusi data

Uji normalitas distribusi data meliputi variabel kekuatan otot perut,

kelentukan togok dan hasil jarak menyundul bola dari sampel sejumlah 34 orang

hasil dari tes dan pengukuran hasil tersaji pada tabel 3 di bawah ini dengan

menggunakan analisis kolmogorof Smirnov z.

Tabel 5
Rangkuman Uji Normatif Distrubusi Data
Dengan Kolmogorof-Smirnov Z

NO VARIABEL KOL.SMIRT Z Signifikan Keterangan

1 Kekuatan otot perut 1.2238 .1000 Normal

2 Kelentukan togok 1.0086 .2609 Normal

3 Hasil jarak 0.5749 .8956 Normal

menyundul bola
40

Berdasarkan hasil analisis yang tercantum dalam tabel 3 terlihat bahwa

data masing-masing variabel yaitu variabel kekuatan otot perut, kelentukan otot

togok dan hasil jarak menyundul bola.subyek penelitian penyebaran distribusi

datanya dalam keadaan normal sehingga dapat dilanjutkan uji parametik

B. Uji Homogenitas Varians Data

Persyaratan berikutnya adalah uji homogenitas varians data untuk

pengujian hipotesis. Maksud uji homogenitas varians data adalah untuk menguji

kesamaan beberapa buah varians populasi. Uji homogenitas ini menggunakan

Levene Statistik dengan kriteria data homogen apabila diperoleh nilai signifikansi

lebih besar dari taraf kesalahan 5%. Adapun hasil homogenitas varians data

menggunakan Levene Statistic dan hasilnya sebagai berikut tercantum pada

tabel 6.

Tabel 6
Rangkuman Uji Homogenitar Varians Data
Dengan Levene Stastistic

No. Variabel Levene Statistic Signifikasi Keterangan

1. Kekuatan Otot Perut 1.7043 .1760 Homogen

2. Kelentukan Togok .3545 .8387 Homogen

3. Hasil Jarak .3254 .8586 Homogen

Menyundul Bola

Berdasar pada hasil analisis data menggunakan Levene Statistic seperti


41

yang tercantum pada tabel 4 terlihat bahwa varians data variabel penelitian dalam

keadaan homogen, sehingga dapat dilanjutkan dengan uji parametik.

C. Uji Linieritas

Uji Kelinieritas adalah uji untuk mengetahui apakah antara prediktor X1

(Kekuatan otot perut), X2 (kelentukan togok) memiliki hubungan yang linier atau

tidak terhadap kreterium (Y). Uji dilakukan dengan teknik analisis varians.

Kreteria uji dinyatakan Linier, jika hasil F hitung X1 dan X2 ≥ F tabel pada taraf

signifikasi 5 %. Sebaliknya jika F hitung X1 dan X2 ≤ F tabel dinyatakan tidak

linier. Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 7
Rangkuman Uji Linier Variabel Data Penelitian
Menggunakan Anava

No. Variabel F hitung F tabel Keterangan

1. X1 – Y 10.9382 0.0023 Linier

2. X2 – Y 12.1511 0.0014 Linier

3. X1,2 – Y 9.7872 0.0005 Linier

Hasil uji regresi antara X1 (kekuatan otot perut) dengan hasil jarak

menyundul (Y) diperoleh F hitung 10.93482 dengan signfikansi 0.0023 < 0.05,

sehingga model regresi pada kelompok ini adalah linier. Pengujian model regresi

antara X2 (kelentukan togok) dengan hasil jarak menyundul bola (Y) diperoleh m

F hitung 12.15111 dengan signfikansi 0.0014 < 0.05, sehingga model regresi

pada kelompok ini adalah linier. Sedangkan pengujian hasil jarak menyundul bola
42

dengan kekuatan otot perut (X1) dan kelentukan togok F hitung 9.7872 dengan

signfikansi 0.0005, sehingga model regresi pada kelompok ini adalah linier.

D.Uji Keberartian Model

Uji keberartian model regresi dilakukan untuk mengetahui apakah

persamaan, garis regresi yang diperoleh berarti (bermakna) atau tidak untuk

digunakan sebagai prediksi harga Kreterium. Uji dilakukan dengan Uji t. Kriteria

uji dinyatakan berarti bila hasil t hitung X1, X2 ≥ t tabel pada taraf signifikasi 5 %.

Sebaliknya jika hasi t hitung X1, X2 ≤ t tabel tidak linier. Hasil analisis regresi

untuk berartian model tersaji pada tabel 8 Sebagai berikut :

Tabel 8
Rangkuman Uji Keberartian Model Variabel Data Penelitian
Menggunakan Uji t

No. Variabel t hitung Sig. T Keterangan

1. Kekuatan otot perut 3.307 0.0023 Bermakna

(X1 – Y)

Kelentukan togok
2. 3.486 0.0014 Bermakna

(X2 – Y)

Hasil uji regresi antara X1 dengan Y atau kekuatan otot perut dengan hasil

jarak menyundul bola diperoleh t hitung sebesar 3.307 dan X2 dengan Y atau

kelentukan togok dengan hasil jarak menyundul bola diperoleh t hitung sebesar

3.456. Berdasarkan hasil perhitungan maka variabel kekuatan otot perut dan

kelentukan otot togok, dinyatakan berarti dan dapat digunakan untuk memprediksi
43

keberhasilan pelaksanaan menyundul bola.

E. Uji Hipotesis

Uji hipotesis penelitian yang mengkaji hubungan antara kekuatan otot perut,

kelentukan togok dengan hasil jarak menyundul bola dilakukan analisis data

dengan menggunakan Korelasi Sederhana dan regresi ganda. Perhitungan statistik

dengan menggunakan SPSS For Windows Release 10.0.1 Adapun hasilnya adalah

sebagai berikut :

Tabel 9
Rangkuman Analisis Hubungan Kekuatan Otot Perut (X1), Kelentukan Otot
Togok (X2) dengan hasil Jarak Menyundul Bola (Y)

No. Variabel N R / r hitung R / r tabel 5 Keterangan

1. R X1 – Y 34 0,5047 0,344 Signifikan

2. r X2 – Y 34 0,5246 0,344 Signifikan

3. Rx1.2 – Y 34 0,6221 0,322 Signifikan

a. Pengujian hipotesis ke 1

Ha : Ada hubungan antara kekuatan otot perut dengan hasil jarak menyundul

bola.

Ho : Tidak ada hubungan kekuatan otot perut dengan hasil jarak menyundul

bola.
44

Uji hubungan kekuatan otot perut dengan hasil jarak menyundul bola,

diperoleh r hitung ≥ r tabel atau 0,5047 ≥ 0,344, sehingga hipotesis nol (Ho)

“ditolak”.

Hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan : Ada hubungan kekuatan togok

dengan hasil jarak menyundul bola “diterima”, berarti mempunyai / ada hubungan

yang signifikan.

b. Pengujian Hipotesis ke 2

Ha : Ada hubungan kelentukan togok dengan hasil menyundul bola.

Ho : Tidak ada hubungan kelentukan togok dengan hasil menyundul bola.

Uji hubungan kelentukan otot perut dengan hasil menyundul bola,

diperoleh r hitung ≥ r tabel atau 0,5246 ≥ 0,344, sehingga hipotesis nol

(Ho) ”ditolak” dan hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan :

Ada hubungan kelentukan togok dengan hasil jarak menyundul bola.

“diterima”, berarti mempunyai / ada hubungan yang signifikan.

c. Pengujian Hipotesis ke 3

Ha : Ada hubungan kekuatan otot perut, kelentukan togok dengan hasil

jarak menyundul bola

Ho : Tidak ada hubungan kekuatan otot perut, kelentukan togok dengan

hasil jarak menyundul bola.

Uji hubungan kekuatan otot perut, kelentukan otot perut dengan hasil

jarak menyundul bola diperoleh R hitung ≥ R tabel atau 0,6221 ≥ 0,33,

sehingga hipotesis nol (Ho) “ditolak” dan hipotesis alternatif (Ha) yang
45

mengatakan : “Ada hubungan kekuatan otot perut dan kelentukan togok

dengan hasil menyundul bola, “diterima”, berarti ada hubungan yang

signifikan.

F. Pembahasan

Merujuk pada hasil perhitungan dan analisis data penelitian.terlihat behwa

variabel-variabel yang menjadi kajian dalam penelitian yaitu : 1) Kekuatan otot

perut dengan kemampuan menyundul bola dengan cara berdiri. 2) Kelentukan

togok dengan kemampuan menyundul bola dengan cara berdiri dan 3) Kekuatan

otot perut, kelentukan togok dan kemampuan menyundul bola posisi berdiri pada

mahasiswa putra semester IV PKLO FIK UNNES Semarang tahun 2004

menunjukkan ada hubungan yang positif dan berarti. Berkaitan dengan hal

tersebut, selanjutnya akan dibahas hal-hal sebagai berikut :

a. Kekuatan otot perut

Kekuatan adalah merupakan hasil kontraksi otot dan kekuatan itu telah

ada semenjak dilahirkan. Semakin bertambah usia maka kekuatan otot tersebut

akan lebih mampu untuk menerima atau menahan beban dalam waktu yang relatif

singkat. Unjuk kerja menyundul bola dengan menggunakan cara berdiri akan

menggunakan otot-otot besar perut yang terdapat pada bagian depan perut seperti

M. Rectus abdominis, abliquus abdominis externis, obliquus abduminis internus

dan transversus abdominis, jika berkontraksi akan menghasilkan kekuatan yang

akan memfleksikan badan (gerakan mengayun ke depan) pada daerah torakal dan

lumbal.
46

Dalam teknik menyundul bola gerakan menyundul bola dibutuhkan

kekuatan otot perut yang maksimal,yaitu pada seakan ayunan badan dari belakang

ke arah depan dalam waktu yang singkat. Di samping faktor kondisi fisik lainnya.

Jadi upaya untuk mendapat hasil yang optimal dari menyundul bola, seorang

pemain tidak hanya membutuhkan penguasaan pada aspek teknik dan taktik saja,

melainkan juga aspek kondisi fisik pemain perlu penjagaan dan peningkatan

secara kontinyu melalui latihan dalam menghadapi pertandingan. Keberadaan

kondisi pemain diharapkan selalu dalam keadaan baik, sehingga dalam

menghadapi pertandingan tidak mengalami atau mengurangi kemampuan

individu. Apabila pemain mengalami penurunan kondisi fisik akan berpengaruh

buruk pada penampilan sehingga unjuk kerja tidak dapat berlangsung secara

optimal.

b. Kelentukan togok

Kelentukan togok merupakan jantung dari pelaksanaan menyundul bola

dengan meloncat. Ini ditandai dengan tinggi atau rendahnya derajat kemampuan

kelentukan togok dalam unjuk kerja optimal. Berorientasi pada arti penting

kelentukan togok pada pelaksanaan menyundul bola dengan cara berdiri, hal

terpenting yang harus disadari adalah pondasi untuk mencapai keberhasilan dalam

menyundul bola posisi berdiri. Meskipun tinggi rendahnya derajat kemampuan

kelentukan togok dalam unjuk kerja optimal sangat relatif, namun dampak

positifnya dalam menunjang keberhasilan pada hasil menyundul bola dengan

berlari memberikan kontribusi yang sangat besar.


47

c. Perpaduan Gerak Kekuatan Otot Perut dan Kelentukan Togok

Unjuk kerja menyundul bola dengan menggunakan cara berdiri akan

menggunakan otot-otot besar perut yang terdapat pada bagian depan perut seperti

M. Rectus abdominis, abliquus abdominis externis, obliquus abduminis internus

dan transversus abdominis, jika berkontraksi akan menghasilkan kekuatan yang

akan memfleksikan badan (gerakan mengayun ke depan) pada daerah torakal dan

lumbal.

Walaupun hasil kontraksi otot perut yaitu kekuatan telah ada masih

diperlukan lagi kelentukan togok yang akan memberi sumbangan dalam bentuk

besarnya sudut, diperoleh dari kegerakan ke belakang oleh otot-otot yang terdapat

pada bagian punggung seperti m. illiocostalis, m. longissimus, m. semispinalis, m.

multifidus. Otot-otot tersebut akan menarik batang badan ke belakang semaksimal

mungkin. Semakin besar derajat yang dibuat oleh kelentukan togok, maka akan

semakin besar pula kekuatan yang ditimbulkan otot bagian depan perut. Hal ini

terlihat jelas pada sumbangan effektivitas kelentukan togok (20,54 %).

Perpaduan kontraksi otot perut yang menghasilkan kekuatan dan otot

punggung menghasilkan kelentukan togok dapat dijelaskan oleh besarnya

sumbangan effektivitas yaitu kekuatan otot perut 18,16 % dan kelentukan togok

20,54 % mempunyai jumlah kontribusi sebesar 38,70 % belum cukup untuk

menunjang berhasil jauhnya jarak sundulan bola, mungkin karena pengaruh

kondisi fisik lainnya yang tidak ikut berperan aktif. Namun perpaduan antara

kekuatan otot perut dan kelentukan togok dirasakan cukup signifikan.


48

G. Keterbatasan Penelitian

Meskipun berbagai upaya telah dilakukan agar mendapat data yang akurat,

namun demikian karena adanya berbagai keketerbatasan yang bersifat teknis

maupun non teknis, maka perlu dikemukakan beberapa hal berkaitan dengan

keterbatasan yang muncul dalam penelitian ini, diantaranya adalah sebagai

berikut:

a. Subyek atau sampel penelitian adalah para mahasiswa yang relatif masih sangat

membutuhkan latihan, belum menguasai teknik gerakan-gerakan menyundul bola

dengan cara berdiri seperti pada pemain yang terlatih dengan baik dan benar.

Karena menyundul bola dengan cara berdiri merupakan salah satu materi latihan

dalam keseluruhan program. Maka untuk penguasaan gerakan yang baik dan

benar dibutuhkan waktu yang relatif lama dan frekuensi latihan yang memadai,

sehingga keberhasilannya dapat mempengaruhi hasil pengukuran yang dilakukan.

b. Menyundul bola dengan cara berdiri merupakan perpaduan gerak yang utuh dan

terpadu mulai dari permulaan sikap berdiri.kekuatan otot perut dan kelentukan

togok ke belakang pada saat gerakan menyundul bola sangat memerlukan

koordinasi gerak yang tinggi.

Adapun pelaksanaan tes untuk mengungkap masing-masing variabel dilakukan

secara terpisah atau pembagian. Dengan demikian dimungkinkan terjadi

kesenjangan pola gerak, hal ini tentunya akan mempengaruhi hasil yang dicapai
49

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan pada hasil analisis data untuk uji hipotesis, maka dapat

disimpulkan dalampenelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Ada hubungan antara kekuatan otot perut dengan kemampuan menyundul

bola posisi berdiri pada mahasiswa semester IV PKLO UNNES tahun 2004.

2. Ada hubungan antara kelentukan togok dengan kemampuan menyundul

bola posisi berdiri pada mahasiswa semester IV PKLO UNNES tahun 2004.

3. Ada hubungan antara kekuatan otot perut dan kelentukan togok dengan

kemampuan menyundul bola posisi berdiri pada mahasiswa semester IV

PKLO UNNES tahun 2004.

Besarnya sumbangan relativitas kekuatan otot perut terhadap kemampuan

menyundul bola posisi berdiri sebesar 46.92%, sedang kelentukan otot togok

53.08%. Adapun besarnya sumbangan effektifitas kekuatan otot perut terhadap

kemampuan menyundul bola posisi berdiri sebesar 18.16% sedang kelentukan

otot togok 20.5%.

49
50

B. Saran

Beroreintasi pada hasil dan simpulan hasil penelitian yang telah

dilakukan.maka penulis perlu ajukan beberapa saran kepada pelatih sepak bola

dan para guru pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi dalam melatih atau

mengajar cabang olahraga sepakbola khususnya menyundul bola dengan cara

berdiri disarankan beberapa hal sebagai berikut:

1. Keberhasilan menyundul bola posisi berdiri berkaitan erat dengan unsur

kondisi fisik yaitu kekuatan otot perut sangat diperlukan dalam menunjang

keberhasilan seorang pemain, sehingga perlu dijadikan sebagai bahan

pelatihan bagi para pemain sepakbola demi pencapaian prestasi menyundul

bola posisi berdiri

2. Keberhasilan melakukan menyundul bola posisi berdiri berkaitan erat

dengan unsur kondisi fisik kelentukan, yaitu kelentukan togok. Kelentukan

togok sangat diperlukan dalam. menunjang keberhasilan seorang pemain,

sehingga perlu dijadikan sebagai bahan pelatihan bagi para pemain

sepakbola demi pencapaian prestasi menyundul bola dengan cara berdiri

3. Penggunaan sampel dalam penelitian ini adalah para Mahasiswa putra

semester IV PKLO FIK UNNES Semarang yang menerima pelatihan

berbagai macam teknik dasar bermain sepakbola. Teknik menyundul bola

sedikit sekali diberikan dalam program pelatihan, sehingga penguasaan

materi khususnya menyundul bola posisi berdiri memiliki persentasi yang

relatif kecil. Untuk itu agar mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan

spesifik dapat dilakukan penelitian lanjutan dengan menambah jumlah

sampel atau menambah aspek prediktor dalam penelitian.


51

DAFTAR PUSTAKA

Aang. Witarsa. 1993. Dasar-dasar Tekhnik Sepak bola. Kumpulan materi kursus
Instruktur sepak bola Yogyakarta : Komda PSSI DIY

Chusaeri.1976. Bimbingan Tekhnik dan Taktik sepakbola.Jakarta : PT mutiara


Sumber Widya

Depdikbud.1997. Kondisi Fisik Anak–anak Sekolah Dasar. Jakarta Dikdas


Menum.Menpora

Dirjen Olahraga dan Pemuda. 1972. Pedoman Mengajar Olahraga. Jakarta :


Depdikbud

Djawad Dkk. 1981. Dasar Bermain Sepakbola. Edisi kedua.Yogyakarta : Intan

Fox.EL. 1988. Sport Physiology. Third Edition. Philadelpia : LUB.Saunders

Harsono. 1988. Codching dan Aspek-aspek Psikologis dalam Choahing. Jakarta :


Depdikbud

---------. 1982. Ilmu Coaching. Jakarta ; Pusat Ilmu Olahraga; Koni Pusat

Lamb. 1984. Physiology Of Exercise Respons and Adaptation. New York :


Mc.Millan Publising Comapany.

Lixbacker. Yosep A. 1997. Sepak bola Taktik dan Tekhnik Bermain. Jakarta : PT.
Raja Gratindo

Mc.Ardle. Katch et all. 1981. Exercise Pkysiology; Energi. Nutrittion and Human.
1st Edittion. Pkyladelphia : Lea Febiger

Melwin H. William. 1990. Life Tine Fitness and Wellness. Second Edition.
Dubuque. WM. C Brown Publishers
52

Moeloek,Dangsiana,1984. Kesehatan dan Olahraga. Jakarta :Universitas


Indonesia

Nurhassan. 2001. Tes dan Pengukuran Dalam Pendidikan Jasmani. Prinsip-


prinsip dan Penerapannya. Jakarta. Diknas. Diknasnem. Ditjen olahraga

Sarjono. 1982. Pengajaran Sepakbola. Surakarta. Tiga Serangkai

Sayoto.M. 1982. Kekuataan dan Kondisi Fisik. Semarang. Effhara Daharsa Prize

Sucipto. dkk. 1999/2000. Olahraga Pilihan : Sepakbola. Jakarta. Dirjen


Diknasmen.

Suharno HP. 1985. Ilmu Kepelatihan Olahraga. Yogyakarta : IKIP Yogyakarta

Suharsimi Arikunto. 1996. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek.


Jakarta. Rineka Cipta

Sujana. 1992. Desain dan Analisis Experiment. Bandung. Tarsito

Sukatamsi. 1981. Tekhnik Dasar Bermain Sepakbola. Solo. Tiga Serangkai

Sutrisno Hadi.1981.Metodologi Research.Jilid 1 Yogyakarta. Fakultas Psikologi


UGM.

---------------. 1988. Statistik Regresi. Yogyakarta. Yayasan Psikologi UGM

Soebroto.M. 1975. Masalah-Masalah dalam Kedokteran Olahraga.Latihan


Olahraga.Dan Coaching. (Terjemahan Oleh : M.Soebroto). Jakarta.
Dirjen PLSO. Depdikbud.

Widdows Richard. 1981. Sepakbola, Ketrampilan, Taktik dan Fakta. Jakarta :


Mercu Buana.
53

NAMA-NAMA PESERTA PENELITIAN


MAHASISWA PUTRA SEMESTER IV
PKLO FIK UNNES SEMARANG

No. Nama No. Nama


1. Denny 18. Ari Y.
2. Saiful 19. Budi P.
3. Endro W. 20. Imam S.
4. Dwi AR. 21. Arifin Tirtana
5. M. Irfan 22. Arifin K.
6. Agus Maria 23. Imam HR.
7. Puthut K. 24. Agus W.
8. Nanang K. 25. Erik
9. Farid H. 26. Catur
10. Eko H. 27. Sigit B.
11. Nugroho 28. Panji R.
12. I. Nengah 29. Rokhmad
13. Catoyo 30. Ach. Chairila
14. Zanuar 31. Esav A.
15. Imron M. 32. Ananda
16. Agus PN. 33. Abuzar
17. Sugiarto 34. Hendro M.
54

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... i

SARI .......................................................................................................... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................... iii

HALAMAN PENGESAHAN .................................................................... iv

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN .......................................... v

KATA PENGANTAR ............................................................................... vi

DAFTAR ISI ........................................................................................... viii

DAFTAR TABEL ..................................................................................... xi

DAFTAR GAMBAR ................................................................................ xii

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ xiii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1

A. Alasan Pemilihan Judul .......................................................... 1

B. Permasalahan ......................................................................... 5

C. TujuanPenelitian .................................................................... 5

D. Penegasan Istilah .................................................................... 6

E. Manfaat Penelitian.................................................................. 8

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS ........................................ 9


55

A. PermainanSepakbola ............................................................... 9

1. Teknik Dasar Menyundul Bola ...................................... 11

2. Pengertian kekuatan....................................................... 18

3. Jenis Serabut Otot yang Digunakan Dalam kontraksi ..... 20

4. Sistem Energi Untuk Gerak ........................................... 22

5. Pengertian Kelentukan Togok ........................................ 25

B. Hipotesis................................................................................ 26

BAB III METODE PENELITIAN ............................................................ 27

A. Populasi Penelitian ............................................................. 27

B. Sampel Penelitian............................................................... 28

C. Variabel Penelitian ............................................................. 28

D. Rancangan Penelitian ......................................................... 29

E. Metode Pengumpulan Data ................................................ 30

F. Prosedur Penelitian ........................................................... 30

G. Tes Fleksibilitas ................................................................. 32

H. Instrumen Penelitian .......................................................... 33

I. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penelitian ................... 34

J. Analisis Data...................................................................... 34

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................... 38


56

A. Hasil Penelitian ................................................................... 38

B.Uji Homogenitas Variaus Data ............................................. 40

C. Uji Linieritas ........................................................................ 41

D. Uji Keberartian Model.......................................................... 42

E. Uji Hipotesis......................................................................... 43

F. Pembahasan .......................................................................... 45

G. Keterbatasan Penelitian ........................................................ 48

BABV SIMPULAN DAN SARAN........................................................... 49

A. Simpulan ................................................................................. 49

B. Saran ...................................................................................... 50

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN
57

DAFTAR TABEL

TABEL HALAMAN

1. Perbandingan Sifat Otot Lambat dan Otot Cepat ................................... 21

2. Keuntungan dan kerugian mengukur kelentukan togok ......................... 32

3. persiapan analisis regresi ....................................................................... 36

4. Diskripsi Data Variable Penelitian ........................................................ 38

5. Rangkuman Uji Normalitas ................................................................... 39

6. Rangkuman Uji Homogenitas Vrian Data ............................................. 40

7. Rangkuman Uji Linier Variabel Data Penelitian .................................... 41

8. Rangkuman Uji Keberartian Model Variabel Data Penelitian ................ 42

9. Rangkuman Analisis X1 dan X2 dengan Y ............................................. 43


58

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR HALAMAN

1. Menyundul Bola Sambil Berdiri ........................................................16

2. Menyundul Bola Sambil Meloncat/Melompat ...................................17

3. Desain Penelitian ..............................................................................29

4. Pelaksanaan Pengukuran Kekuatan Otot Perut ..................................32


59

LAMPIRAN-LAMPIRAN

LAMPIRAN HALAMAN

1. Daftar Nama Sampel .........................................................................53

2. Data Hasil Pengukuran......................................................................54

3. Uji Normalitas Data ..........................................................................56

4. Uji Homogenitas Data .......................................................................58

5. Linierity Test ....................................................................................59

6. Multiple Regresi ...............................................................................63

7. Ringkasan Hasil Perhitungan Analisis Regresi ..................................67

8. Surat Penetapan Pembimbing ............................................................68

9. Surat Ijin Penelitian...........................................................................69


60

Halaman Tercetak Seharusnya


1 Penmainan Permainan
Hams Harus
4 Dasamnya Dasarnya
Pemainan Permainan
Mahasiswi Mahasiswa
7 Menyunduk Menyundul
10 Oeh Oleh
12 Haruss Harus
Sukamtasi Sukatamsi
14 Atas Atau
26 Kelincaban Kelincahan
Im Ini
39 Penelititan Penelitian
40 Lineasitas Linearitas
41 Variaus Varians
42 Kelinearitas Linearitas
48 Kegerakan Gerakan
50 Dalampenelitian Dalam penelitian
61

Lampiran 6 Lampiran 11 Lampiran 16


Lampiran 1

Lampiran 7 Lampiran 12 Lampiran 17


Lampiran 2

Lampiran 8 Lampiran 13 Lampiran 18


Lampiran 3

Lampiran 9 Lampiran 14 Lampiran 19


Lampiran 4

Lampiran 10 Lampiran 15 Lampiran 20


Lampiran 5

Lampiran 21

Lampiran 22

Lampiran 23

Lampiran 24

Lampiran 25
62
63

KATA PENGANTAR

Rasa syukur Penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang

telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya hingga Penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini. Tersusunnya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan

bimbingan berbagai pihak. Oleh karena itu Penulis mengucapkan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :

1. Bapak dan Ibu tercinta, yang selalu memanjatkan doa dan dorongan material

maupun spiritual, dan kasih sayang yang tulus.

2. Rektor UNNES yang memberi kesempatan penulis untuk menimba ilmu.

3. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES, yang telah memberikan ijin

penelitian untuk menyusun skripsi.

4. Drs. Wahadi, M.Pd, Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga yang

telah memberikan ijin penelitian.

5. Drs. R. Soeyono M,Pd, Pembimbing I atas bimbingannya sehingga skripsi ini

dapat terselesaikan dengan baik.

6. Drs Tohar M.Pd, Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan,

motivasi, semangat, pengertian hingga terselesaikannya skripsi ini.

7. Kumbul Slamet B, S.Pd,M.Pd, Penguji atas masukan, saran dan kritik demi

kesempurnaan skripsi ini.

8. Dosen jurusan PKLO yang memberikan pengetahuan selama perkualiahan.

vi
64

9. Almamater khususnya angkatan 2000 PKLO yang ikut membantu pelaksanaan

penelitian.

10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

memberikan bantuan dan dorongan baik material maupun spiritual sehingga

skripsi ini dapat terselesaikan.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para

pembaca semua.

Penulis

vii