Anda di halaman 1dari 14

Artikel-1

Warta - Astaga!com - lifestyle on internet

Astaga!com › Warta › Article

Lahan Satu Juta Hektar Untuk Tingkatkan Produksi Jagung 2002


Senin, 4 Juni 2001 11:10

Pemerintah menyiapkan lahan seluas 1 juta ha untuk program Gerakan Pengembangan


(Gerbang) Agribisnis Jagung guna meningkatkan produksi jagung pada 2002.

Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan Deptan, M. Jafar Hafsah di Jakarta menyatakan
lahan seluas itu untuk mengembangkan agribisnis jagung di 1000 kawasan yang tersebar
di 150 kabupaten di 17 provinsi. "Melalui Gerbang Agribisnis Jagung pemerintah
menargetkan produksi jagung sebanyak 5 juta ton," katanya dikutip Antara.

Setiap unit Gerbang Agribisnis Jagung, seluas 1000 ha berada dalam satu kawasan yang
setiap 500 ha akan ditangani oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan dikawal
oleh satu PPL senior. Lokasi penanaman jagung untuk program itu pada Musim Kering
(MK) II 2002 di tempatkan di lahan sawah sedangkan untuk Musim Hujan (MH)
2002/2003 di lahan kering.

Mengenai lokasi penanaman bagi program Gerbang Agribisnis Jagung, Jafar


menyebutkan, untuk Pulau Jawa tersebar di Jabar, Jateng, DI yogya, Jatim dan Banten
terdiri 596 unit, P.Sumatera 198 unit tersebar di Sumut, Sumbar, Jambi, Sumsel,
Bengkulu dan Lampung. Sedangkan 206 unit lainnya dialokasikan ke Sulsel, Sulut,
Kalsel, Kaltim, Kalbar dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menyinggung produksi jagung nasional pada 2002, dia menyatakan, luas panen
diprediksikan 3,8 juta ha dengan produktivitas sekitar 30,26 ton per hektar dan produksi
mencapai 11,50 juta ton. "Produksi tersebut lebih tinggi sebesar 19,69% dibanding angka
ramalan I yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 9,29 juta ton," katanya.

Jafar menyatakan, lahan yang akan dimanfaatkan untuk areal penanaman jagung yakni
dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan bero/tidur/terlantar, lahan perkebunan, lahan
transmigrasi, kehutanan, pasang surut atau lebak, kebun buah-buahan dan hasil cetak
sawah. Selain itu, juga dengan rehabilitasi dan konservasi lahan irigasi, tadah hujan,
pasang surut, kering dan lahan kritis.

Kebutuhan sarana produksi yang diperlukan bagi 1 juta ha lahan pengembangan


agribisnis jagung itu diperkirakan mencapai Rp3,467 triliun. Biaya tersebut diperlukan
untuk pengadaan pupuk urea 300 ribu ton, SP36 150 ribu ton, KCL 100 ribu ton, ZA 75
ribu ton, serta pestisida 4 juta liter. Selain itu juga untuk pengadaan alat dan mesin
pertanian seperti traktor 800 unit, pemipil 40 ribu unit dan pengering 20 ribu unit.
Sedangkan sumber pendanaan, ucapnya, diharapkan berasal dari swadaya masyarakat,
kredit program seperti KKP, KKPA, Kupedes, pinjaman swasta maupun dana guliran
proyek PKP. (lyl)

© 2003 - 2008 IMT. All Rights ReservedHubungi Astaga | Ketentuan Layanan |


Pemasangan Iklan | Astaga! RSS
TKPK Home Newsroom Press Release Keterangan Pers Mengenai
Program Pemerintah untuk Kurangi Kemiskinan
Keterangan Pers Mengenai Program Pemerintah untuk Kurangi
Kemiskinan

Jumat, 02 Mei 2008

Keterangan Pers Presiden

Keterangan Pers Mengenai Program Pemerintah untuk Kurangi


Kemiskinan

Jakarta, Rabu, 30 April 2008

Persoalan kemiskinan tidak hanya dialami bangsa Indonesia, namun juga dialami
negara-negara berkembang lainnya. Semua negara-negara di dunia, termasuk
Indonesia, berjuang dengan gigih memerangi kemiskinan. Demikian dikatakan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rekaman keterangan persnya di Istana
Merdeka, hari Rabu (30/4) sore.

"Upaya untuk mengurangi kemiskinan, pemerintah telah menyiapkan berbagai


macam program. Di waktu lalu ada 55 proyek yang dikerjakan 19 departemen.
Setelah dicek dan dievaluasi, maka semua program tersebut dikonsolidasi ke dalam
tiga program," kata Presiden SBY.

"Pertama adalah perlindungan dan bantuan sosial. Program ini termasuk membeli
beras untuk rakyat miskin, pengobatan gratis, Biaya Operasional Sekolah (BOS), dan
bantuan-bantuan sejenis untuk rakyat miskin. Yang kedua adalah PNPM Mandiri atau
Program Nasional Pembangunan Masyarakat Mandiri. Kita menyadari bahwa
masyarakat komunitas lokal kita makin kreatif dan bisa diberdayakan. Dana yang
dikeluarkan pemerintah tidak sedikit, untuk tahun 2008 dikeluarkan dana lebih
kurang 2 sampai 3 miliar per kecamatan, sementara tahun depan ditargetnya 3
miliar per kecamatan," SBY menerangkan.

"Bila program pertama diibaratkan seperti memberi ikan, karena masyarakat seperti
itu harus cepat diberi bantuan, maka program yang kedua bisa diibaratkan
pemerintah memberi kail," lanjutnya. "Program ketiga adalah Kredit Usaha Rakyat
(KUR). Di Indonesia ada jutaan usaha makro, usaha perseorangan, usaha kecil, dan
usaha menengah. Di waktu lalu mereka kesulitan mendapatkan pinjaman atau
modal, dengan program ini para pengusaha mikro dan menengah dapat
mendapatkan pinjaman yang dipermudah karena pemerintah yang menjamin,"
tambah SBY.

Bila program tersebut dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, Presiden SBY yakin


ekonomi akan tumbuh, kemiskinan dapat dikurangi, pendapatan orang perseorang
naik, dan kesejahteraan masyarakat juga naik. "Saya berharap kepada semua
pemimpin daerah, gubernur, bupati, dan walikota dapat turun ke lapangan untuk
dengan kepemimpinannya mensukseskan program ini," kata Presiden SBY kepada
masyarakat Indonesia yang disiarkan di seluruh televisi Indonesia.

Dunia mengalami dua krisis baru. Pertama adalah krisis energi dan kedua adalah
krisis pangan. "Sebagian pakar ekonomi meramalkan akan terjadi resesi ekonomi
atau perlambatan ekonomi dunia yang diawali dengan perlambatan ekonomi di
Amerika Serikat. Sekarang kita mulai merasakan dampaknya, harga pangan sejak
beberapa bulan yang lalu terjadi kenaikan.Sejak itu pemerintah telah melakukan
berbagai upaya dengan kebijakan stabilisasi harga dengan tujuan agar harga tidak
terus naik," jelas SBY. "Tentu saja itu solusi jangan pendek. Untuk solusi jangka
panjang dan menengah adalah meningkatkan produksi pangan dalam negeri,"
tegasnya.

“Selaku seorang yang sedang mengemban amanah, secara jujur saya katakan
bahwa masalah yang dihadapi bangsa ini sangat berat. Oleh karena itu pemerintah
terus berupaya mencarikan solusinya. Saya meminta pengertian dan dukungan
seluruh rakyat Indonesia agar semua kerja keras pemerintah terus berhasil.
Kesulitan ekonomi seperti ini bukan hanya dialami bangsa kita, tapi juga bangsa-
bangsa lain,” tambahnya.

"Saya mengajak saudara-saudara untuk memikirkan suatu hal agar krisis minyak
dan pangan ini dapat dijadikan peluang atau berkah bagi bangsa ini. ," kata
Presiden.Dicontohkan, jutaan hektar tanah di Indonesia yang belum dimanfaatkan
secara maksimal, bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi jagung atau
kedelai yang berujung pada peningkatan penghasilan petani.

“Untuk bidang energi, saya meminta masyarakat Indonesia untuk hemat energi.
Bangsa kita ini masih tergolong bangsa yang boros. Saya menginstruksikan kepada
seluruh kantor dan instansi pemerintah untuk melakukan penghematan termasuk
membatasi pemakaian kendaraan dinas dan kendaraan pribadi," terangnya.

"Meskipun keadaan ekonomi kita mengalami masalah yang berat, saya mengajak
seluruh bangsa Indonesia untuk bersikap optimis dan berpikir positif serta tegar dan
terus mencari solusi. Seberat apapun pasti akan ada jalan keluar. Semoga di masa
sulit kita dapat lebih kompak bersama-sama mengatasi persoalan ini," tegas SBY.
Pada kesempatan itu pula Presiden SBY mengucapkan terimakasih kepada seluruh
masyarakat yang sabar dan mendukung program-program pemerintah. (osa)
INDUSTRI&PERDAGANGAN

Swasembada Kedelai dan Jagung


Masih Sebatas Mimpi

JAKARTA – Teriknya matahari tidak menyurutkan penduduk Desa Darawolong, Kabupaten


Karawang, Jawa Barat untuk menyaksikan panen perdana kedelai yang dilakukan oleh Menteri
Perindustrian dan Perdagangan Rini M.S Soewandi.

Di atas tanah seluas 75 ha, kedelai yang pertama kali ditanam pada pertengahan Juli 2003
menghasilkan panen yang dianggap sangat berhasil. Panen kedelai varietas lokal ini mampu
mencapai 3,6 ton/ha. Padahal target sebelumnya cuma 3 ton/ha.
Menanam kedelai merupakan sesuatu yang baru bagi daerah lumbung beras ini.
“Kami dulu sulit meminta dan meyakinkan penduduk agar mau memberikan tanahnya ditanami
kedelai setelah panen padi,” ujar Ata Sukarta, salah seorang penggerak kelompok tani di desa
Darawolong, Selasa (14/10).
Penanaman kedelai ini dijamin tidak akan mengganggu tanaman padi. Karena rumusannya
penanaman baru bisa dilakukan setelah panen padi dua kali. Biasanya tanah penduduk dibiarkan
menganggur apabila panen selesai,namun kali ini tanah terus berproduksi.
Keberhasilan panen perdana ini dengan konsep kemitraan dengan dunia usaha, mendorong
Menperindag untuk memikirkan meneruskan proyek ini menjadi 6000 ha. Daerah-daerah lain
juga akan ikut dilibatkan. Pemicunya, target swasembada kedelai!
Tidak hanya kedelai, komoditi jagung masuk dalam program peningkatan produksi ala
Menperindag. Kalau kedelai di Kerawang maka jagung di daerah Kebumen. Diharapkan
pendapatan petani juga ikut terdongkrak bila produksi semakin meningkat.
“Targetnya tahun 2005 swasembada jagung dan kedelai, produksi akan mampu memenuhi
semua kebutuhan industri dan masyarakat,” ujar Rini Soewandi optimis.
Ironis memang setelah pernah mengecap produksi jagung dan kedelai dalam jumlah besar,
Indonesia kini menjadi importir produk kedua komoditi itu dengan nilai triliunan rupiah. Sadarkah
kita, bila kecap, tahu atau tempe yang kita konsumsi bisa jadi dari kedelai impor. Jagung dan
kedelai, dua komoditi yang paling sangat tinggi impornya di samping gula dan beras. Setiap
tahun Indonesia mengimpor biji kedelai tak kurang 1,1 juta ton dan jagung 1,3 juta ton. Bahkan
bungkil kedelai Indonesia merupakan net importir dengan jumlah impor rata-rata 1 juta ton.
Padahal, kedua komoditi ini dianggap sangat vital bagi ketahanan pangan. Namun ternyata
produksi jagung dan kedelai tidak mampu mengimbangi laju peningkatan kebutuhan masyarakat.
Seiring pertambahan pendudukdengan kebutuhan jagung dan kedelai melonjak sementara
peningkatan produksi berjalan terseok-seok.

Potensi Pasar Impor


Banyak sebenarnya program yang pernah dilakukan pemerintah untuk mengejar ketertinggalan
itu tapi semuanya berlalu begitu saja. Di antaranya Program Pengapuran, Supra Insus, Opsus
kedelai dan program yang paling terkenal ketika era pemerintahan Soeharto, yakni Program
Gema Palagung (Gerakan Mandiri Padi Kedelai Jagung) menuju swasembada 2001. Tetapi,
sampai saat ini pun Indonesia belum mampu melakukan swasembada komoditi itu.
Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Siswono Yudohusodo mengatakan,
ke depan akan terjadi lonjakan kebutuhan pangan yang amat besar. Pasar pangan sebenarnya
merupakan potensi untuk memperkuat pertanian. Jika salah penanganan, pasar pangan amat
besar itu akan dimanfaatkan dengan baik sebagai pasar yang empuk oleh produsen pangan dari
luar.
Pasar domestik memang telah menjadi potensi yang luar biasa bagi produsen pangan, termasuk
jagung dan kedelai dari luar negeri. Apalagi mengingat harga jagung dan kedelai impor masuk
dengan harga murah.
Siswono menegaskan, impor dirangsang oleh pertama, kebutuhan dalam negeri yang amat
besar; kedua, harga di pasar international yang rendah, ketiga, produksi dalam negeri yang tidak
mencukupi; dan keempat, adanya bantuan kredit impor dari negara eksportir.
Bahkan ditengarai produk-produk itu masuk dengan cara dumping. Pembuktian adanya dumping
ini dilansir oleh Institutet for Agriculture and Trade Policy (IATP) yang bermarkas di Minnesota,
Amerika Serikat.
Selain jagung dan kedelai, produk yang juga didumping adalah gandum, beras dan kapas.
Kelima komoditas ini diekspor dengan harga di bawah biaya produksi.
Siswono menambahkan, akibat tekanan dari negara-negara eksportir kedelai dan jagung berupa
penyediaan kredit ekspor, sejak 10 tahun terakhir produksi kedelai dan jagung mengalami
penurunan.
Di lain pihak, petani Indonesia justru tidak memperoleh kebijakan yang nyata terhadap
keberpihakan terhadap petani. Padahal kedua komoditi ini masuk dalam skema proteksi dari
perdagangan bebas.
“Agar pembangunan pertanian memiliki arah yang jelas, negara perlu menetapkan politik
pertanian yaitu keputusan sangat mendasar di bidang pertanian pada tingkat negara, yang
menjadi arah ke depan, untuk menjadi acuan semua pihak yang terlibat, dengan sasaran
membangun kemandirian di bidang pangan,” ujar Siswono.

Produksi Menurun
Kedelai, menunjukkan penyusutan lahan dan produksi. Pada 2000 luas lahan 824.484 ha
kemudian turun menjadi 678.848 ha pada 2001 dan menyusut lagi pada 2002 menjadi 544.522
ha tahun 20002. Seiring dengan penyempitan lahan, juga produksi anjlok. Tercatat produksi
kedelai pada 2000 mencapai kisaran 1 juta ton dan tahun 2001 sebanyak 827 ribu ton dan pada
2002 hanya bisa sebesar 573 ribu ton.
Kacang kedelai bagi industri pengolahan pangan di Indonesia banyak digunakan sebagai bahan
baku pembuatan tahu, tempe dan kecap dan susu. Jenis industri yang tergolong skala kecil -
menengah ini tetapi dalam jumlah sangat banyak menyebabkan tingginya tingkat kebutuhan
konsumsi kedelai.
Lonjakan importasi kedelai disebabkan peningkatan konsumsi produk industri rumahan seperti
tahu, tempe yang jenis makanan ini semakin banyak atau populer digunakan sebagai pengganti
daging.
Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, produksi jagung pada
2002 mengalami kenaikan sementara kedelai mengalami penurunan. Produksi jagung tahun
2002 naik sebesar 3,28 persen atau 0,31 juta ton pipilan kering, dari 9,35 juta ton pipilan kering
tahun 2001 menjadi 9,65 juta ton pipilan kering tahun 2002. Tetapi kenaikan produksi jagung ini
tidak diikuti dengan naiknya luas panen jagung tahun 2002 yang malah mengalami penurunan.
Penurunan luas panen jagung diperkirakan sebesar 4,84 persen.
Berbeda dengan produksi jagung, untuk produksi kedelai tahun 2002 sebaliknya malah
mengalami penurunan sebesar 18,61 persen. Dari 0,83 juta ton biji kering pada 2001 menjadi
0,67 juta ton biji kering di tahun 2001. Atau mengalami penurunan sebesar 0,15 juta ton biji
kering. Penurunan ini karena turunnya luas panen kedelai sekitar 19,79 persen atau 0,13 juta
hektare.
Departemen Pertanian selalu mengusung angka produksi jagung sekitar 9 juta ton lebih.
Produksi jagung tertinggi terjadi tahun 1998 sebanyak 10,1 juta ton dari luas areal panen 3,8 juta
ha. Tapi, di tengah produksi yang cukup tinggi tersebut, kebutuhan industri pakan ternak ternyata
justru dipasok dari impor. Industri pakan membutuhkan setiap tahun 3,5 juta ton jagung dari
jumlah produksi dalam negeri hanya mampu menyediakan 2 juta ton dan 1,5 juta ton merupakan
impor. Kebutuhan untuk pangan hanya berkisar 0,5 juta ton.
Konsumen jagung terbesar selama ini adalah untuk pangan dan industri pakan ternak. Bahan
baku pakan ternak 50 persen adalah jagung. Seiring membaiknya kehidupan ekonomi ekuivalen
dengan peningkatan konsumsi protein hewani,maka bertumbuhnya industri pakan menuntut
penyediaan jagung yang semakin besar.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak Indonesia (GPMT), Budiarto Soebijanto
menegaskan, pihaknya tidak akan mau impor kalau produksi nasional bisa mencukupi. Selain
kualitas lebih bagus, harga impor juga malah justru lebih mahal dari produk lokal. Dia menepis
tudingan yang menyebutkan apabila jagung impor lebih murah. Bahkan demikian tingginya harga
jagung dari AS, pengusaha kini mengalihkan sebagian impornya dari Cina. Harga impor dari Cina
US$125/ton, sedangkan dari AS mencapai US$130/ton.
“Kalau ada produksi di dalam negeri buat apa impor. Lebih menguntungkan beli di dalam negeri
dari impor. Selain kualitas lebih bagus bisa di beli dengan jumlah sedikit. Sedangkan impor harus
beli satu kapal dan bayar pakai dolar lagi,” tegas Budiarto.
Dia menekankan, pasokan jagung seluruhnya habis diserap industri pangan maupun pakan
ternak. “Kalau memang berlebih pasti ada tumpukan jagung. Sekarang, buktikan di mana ada
tumpukan itu,” ujarnya.
Untuk meningkatkan produksi, banyak desakan agar mengenakan bea masuk terhadap jagung
dan kedelai. Saat ini bea masuk jagung dan kedelai tidak dikenakan sama sekali. Di lain pihak,
pemerintah dalam hal ini Depperindag tidak berniat sama sekali untuk mengenakan bea masuk.
Karena itu, desakan untuk menaikkan bea masuk tidak mendapat respon.
Menurut Rini Soewandi, tanpa bea masuk harga jagung dan kedelai justru sudah baik.
Harga kedelai saat ini mencapai kisaran Rp3500/kg dan sudah cukup menguntungkan bagi
petani. Sedangkan harga jagung, menurut Budiarto cukup tinggi dan selalu mengikuti harga
jagung impor mencapai kisaran Rp1200/kg.
Bea masuk bukan program utama pemerintah untuk menaikkan pemasukan negara tapi lewat
pajak dan bea cukai. Bea masuk hanya alat stabilisasi harga. Harga saat ini sudah bisa
merangsang petani untuk menanam lebih banyak lagi,” ujar Menperindag.
Semangat petani untuk meningkatkan produksi harus diakui sangat besar. Namun, keberpihakan
pemerintah terhadap petani juga harus ada. Apabila instrumen itu tidak ada target swasembada
kedelai dan jagung rasanya masih jauh dari harapan atau masih sebatas impian. (SH/naomi
siagian)

Copyright © Sinar Harapan 2003


JATIM AKAN LAKSANAKAN PROGRAM PEMBANGUNAN KAWASAN AGROBISNIS
JAGUNG TERPADU
-Berita Agrobisnis - Dinas Informasi dan Komunikasi, 08-07-2004 08:08 WIB -

Pemerintah kabupaten/kota di Jawa Timur akan melaksanakan program pembangunan kawasan agrobisnis
jagung terpadu, yakni memberdayakan potensi pertanian guna memperoleh nilai tambah. Tampak Gubernur
Jatim didampingi Ketua Bapemas Jatim H. Soeyono, SH, MSi dalam acara ekspose Pengembangan Klaster Jagung
Terpadu di ruang Kertanegara Jl Pahlawan 110 Surabaya, Rabu (7/7). (Foto: Busan).

Pemerintah kabupaten/kota di Jawa Timur akan melaksanakan program pembangunan kawasan agrobisnis
jagung terpadu, yakni memberdayakan potensi pertanian guna memperoleh nilai tambah dengan
melaksanakan empat sistem pembangunan terpadu diantaranya pemanfatan lahan pertanian, teknologi
deversifikasi usaha, distribusi dan usaha. Hal itu dikatakan Gubernur Jatim H Imam Utomo S dalam
ekspose Pengembangan Klaster Jagung Terpadu di ruang Kertanegara Kantor Gubernur Jatim Jl Pahlawan
110 Surabaya, Rabu (7/7).

Menurut Gubernur, pelaksanaan programnya akan diawali dengan budidaya tanaman jagung yang
melibatkan masyarakat tani dan keluarganya untuk dibina menanam jagung guna mencapai produktifitas
maksimal. \"Oleh karena itu para petani akan diajak kerjasama dengan mitra usaha dalam
mengembangkan indrustri jagung terpadu,\" katanya.

Dikatakan Imam, dengan adanya industri jagung terpadu nantinya, akan tercipta nilai tambah guna
meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani yang pada gilirannya secara luas dapat mempengaruhi
tingkat pertumbuhan ekonomi lokal. \"Program ini dapat direalisasikan di daerah mana saja dalam bentuk
implementasi yang nyata,\" katanya.

Dijelaskan Imam, program kelompok kerja untuk lahan 1.000 hektar hingga 1.500 hektar akan melibatkan
sekitar 4.000 petani. Karena penanaman jagung merupakan kebutuhan, sedangkan penanaman jagung
selama ini, penanamannya tidak secara rutin dari beberapa lahan yang ditentukan. \"Apabila dikerjakan
dengan kelompok kerja akan berjalan dengan baik, sehingga yang dibutuhkan setiap harinya kalau sekitar
1000 ton akan dapat memenuhi permintaannya. Dalam melaksanakan program ini, pemerintah akan
memberdayakan para petani, guna mengentas keterpurukan hasilnya agar dapat menjadi nilai tambah,\"
katanya.

\"Dan di Jatim ini dapat diterapkan kemampuannya, apabila petani bekerja dengan secara kesungguhan,
khususnya para pengusaha di pabrik tersebut nantinya dapat mengambil di pasar,\" tambahnya.

Di tempat yang sama, yang sama Direktur Utama Lembaga Merak Haryanto Tedjo mengatakan, program ini
akan dilaksanakan yang bekerja sama antara pemerintah dengan lembaga merak. karena lembaga ini
belum memiliki kekuatan. Kerjasama dengan pemerintah yang akan difasilitasi oleh Bapemas Jatim. Oleh
karena itu lembaga ini harus memiliki benang merah terlebih dahulu sejalan untuk memfasilitasi program
tersebut.

Dikatakan Haryanto, keuntungan pelaksanaan program ini untuk para petani. Sehingga melalui program ini
petani memiliki hak akses yang sangat jelas. \"Dan nantinya para petani ini akan memiliki sistem industri,
namun tidak bisa secara instan, hal ini memerlukan waktu dalam kurun waktu lima tahun,\" katanya.

\"Sedangkan program ini bagi petani merupakan proses pembelajaran, dari pada petani hanya berharap
saja sehingga tidak nampak actionnya. Dengan melakukan program ini akan nampak secara langsung, dan
lembaga ini akan mengusulkan dengan dua sistem,\" kata Haryanto.

Kata Haryanto, caranya dengan sistem melalui jalur akademis, melalui tahapan-tahapan, yakni tahapan
cd, tahapan ekonomi, atau dengan tahapan pembangunan lainnya. Selain itu dengan menciptakan produk
yang dijamin dengan komunikasi yang terdapat dilingkungannya, namun hal ini tergantung pada pemda.

Ditambahkannya, program pembangunan agribisnis kawasan jagung terpadu dilaksanakan bertujuan untuk
mewujudkan kemandirian masyarakat tani melalui kerjasama dengan mitra usaha untuk mengembangkan
agro indrustri terpadu, membangun Sumber Daya Manusia (SDM) daerah, membangun Sumber Daya Alam
(SDA) memproduktifkan lahan tidur serta melakukan konservasi lahan untuk meningkatkan kesuburan
tanah, dan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) serta untuk memperbaiki tatanan sosial dan
ekonomi masyarakat desa.(son)
Peningkatan Peluang Ekspor Agribisnis Jagung Indonesia

Jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari


keluarga rumput-rumputan. Daerah-daerah penghasil utama tanaman
jagung di Indonesia adalah, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura,
D.I. Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur dan
Maluku. Khususnya di Daerah Jawa Timur dan Madura, budidaya tanaman
jagung dilakukan secara intensif karena kondisi tanah dan iklimnya sangat
mendukung untuk pertumbuhannya. Di Indonesia pada tahun 2004
produksinya baru 11,225 juta ton, pada 2005 meningkat menjadi 12,52 juta
ton. Dan prediksi untuk tahun 2006 diperkirakan 12,13 Juta ton.
Pada kesempatan ini didalam mewujudkan suatu sistem pertanian
yang terpadu, bahwa perlunya peningkatan produksi agribinis jagung untuk
memenuhi kebutuhan dalam negeri dan apabila memungkinkan dengan
kapasitas produksi yang besar dapat membuka jaringan pasar ekspor
Internasional. Apabila dilihat dari kondisi lahan, iklim serta kapasitas
produksinya Indonesia cukup mampu didalam peningkatan agribisnis jagung
untuk memenuhi permintaan daripada konsumen domestik dan
Internasional. Dalam hal ini bagaimana sttrategi dan pelaksanaan pertanian
yang digalakkan dengan integritas dan pemanfaatan lahan serta budidaya
dan pertumbuhannya. Menurut survey dan pencatatan USDA, Departemen
Pertanian, USA tahun 2005 stoknya masih 122,6 juta ton. Namun, sampai
Oktober 2006 yang lalu tinggal 88,1 juta ton.

Menurut analisa ternyata produksi jagung dalam negeri memang


belum mampu mencukupi kebutuhan bahan baku industri pakan ternak,
untuk itulah dengan berbagai upaya dalam memenuhi permintaan konsumen
agribisnis jagung ini, Pemerintah Indonesia telah mencanangkan
swasembada jagung pada 2007, dengan target produksi 15 juta ton
dikarenakan kebutuhan konsumsi dan industri pakan ternak yang melonjak.
Diharapkan dalam pencanangan swasembada agribisnis jagung 2007 dapat
berjalan dengan baik sesuai dengan mutu bibit tanaman jagung yang
berkualitas didalam pengembangannya. Dimana dengan terbatasnya
persediaan jagung dunia untuk ekspor dan meningkatnya permintaan etanol
baik di Amerika, China dan berbagai negara berpotensi menciptakan
ekspektasi kenaikan harga jagung di pasar dunia untuk beberapa tahun ke
depan, Indonesia diharapkan dapat mampu menangkap peluang pasar ini
menjadi salah satu acuan untuk mencari celah pasar kebutuhan konsumen di
pasar dunia.

Produksi Secondary Tanaman Pangan Indonesia


Ton
Tahun Jagung Kacang Kacang Kacang Ubi Kayu Kentang
Kedelai Hijau
2002 9.654.105 16.913.10
673.056 718.071 288.089 1.771.642
4
2003 10.886.44 18.523.81
671.600 785.526 335.224 1.991.478
2 0
2004 11.225.24 19.424.70
723.483 837.495 310.412 1.901.802
3 7
2005 12.523.89 19.321.18
808.353 836.295 320.963 1.856.969
4 3
2006*) 12.136.79 19.907.30
780.880 839.970 334.200 1.805.431
8 4

Sumber BPS & Berbagai Sumber Wacana.

Frans Hero K. Purba


Staf Subdit Promosi dan Pengembangan Pasar
Direktorat Pemasaran Internasional
Ditjen PPHP

http://agribisnis.deptan.go.id
Developed © 2005 by Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian
Jl. Harsono RM No. 3, Gedung D-Lantai 2 Ragunan-Jakarta 12550-Indonesia
email: bp2hp@deptan.go.id / agribisdata@deptan.go.id
Platform : Win32 | Browser : Microsoft Internet Explorer | Resolution : 1280x1024 | Color : 32 bit | IP Anda : 202.51.56.2
25/01/08 20:03

Harga Jual Jagung Melonjak


Medan (ANTARA News) - Petani dalam negeri diminta mengembangkan terus tanaman
jagungnya memanfaatkan permintaan yang tinggi atas komoditi itu pada tahun ini yang
akhirnya mendorong lonjakan harga jual di pasar luar dan dalam negeri.

"Harga jual jagung di pasar internasional pada tahun ini akan semakin tinggi. Bahkan
pada kwartal II diprediksi bisa menembus Rp3.650 per kg (harga CIF)," kata Ketua
Dewan Jagung Nasional, Tony K Kristianto, di Medan, Jumat.

Prediksi harga yang membaik itu, kata dia, sudah terlihat pada sepanjang Januari ini.

"Harga jual sepanjang kwartal pertama tahun ini diperkirakan rata-rata Rp3.250 per kg di
pasar internasioanl dan Rp2.500 per kg di dalam negeri," katanya dalam diskusi jagung
yang digelar PT.Dupont Indonesia bersama Dewan Jagung Nasional yang dihadiri
Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad.

Harga jual bahkan mencapai angka tertinggi pada kwartal II sebesar Rp3.650 per kg di
pasar internasional dan Rp3.500 per kg di dalam negeri.

Kalau-pun turun, katanya, harga jual jagung itu diasumsikan paling murah Rp3.100 per
kg di pasar luar negeri dan Rp3.000 per kg di dalam negeri.

"Harga yang turun itu akan terjadi pada kwartal III dimana ketika itu sedang terjadi masa
panen di Amerika Serikat," katanya.

Dia menjelaskan, tahun ini, konsumsi jagung di dalam negeri mencapai 8,60 juta ton
dimana untuk kebutuhan perusahaan pakan ternak sebanyak 4,10 juta ton, dan
masyarakat 4,50 juta ton.

Sementara produksi diperkirakan sebanyak 8,60 juta. "Prospek tanaman jagung masih
sangat besar karena permintaan terus meningkat di pasar internasional," katanya.

Sementara itu, Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad, mengatakan, Indonesia akan bisa
mengembangkan tanaman jagung kalau pemerintah provinsi dan kabupaten/kota serius
membantu pengembangan komoditi itu.

"Petani akan tertarik bertanam jagung, kalau harga jual menguntungkan, Jadi harga itu
yang harus dibantu pemerintah untuk tetap terjaga," katanya.

Dia menegaskan, pemerintah provinsi/kota dan kabupaten tidak susah melakukan


penjagaan harga itu. "Buktinya saya sudah menerapkan di Gorontalo dan hasilnya cukup
bagus, petani semakin tertarik mengembangkan tanaman jagung karena harga jualnya
bertahan mahal," katanya.

Dia memberi contoh, Pemprov Gorontalo menetapkan batas harga terendah untuk jagung
itu dewasa ini 1.600 per kg. "Kalau di bawah itu, Pemprov membelinya dengan dana
yang berasal dari APBD," katanya.

Tahun ini Gorontalo menargetkan bisa menghasilakn 750 ribu ton jagung atau hampir
sama dengan produksi Sumut.(*)

COPYRIGHT © 2008