P. 1
Psikologi Perempuan Melepas Jilbab

Psikologi Perempuan Melepas Jilbab

|Views: 1,182|Likes:
Dipublikasikan oleh Juneman Abraham
Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan [Melepas] Jilbab
(Psychology of Fashion: The Phenomenon of Women [Removing Their] Jilbab).

Author:
Juneman

Preface:
Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., A.P.U.
Dra. Tiwin Herman, M.Psi.

Epilogue:
Afrizal Malna
dr. G. Pandu Setiawan, Sp. K.J.

Format: Book

Edition: I (First Edition), July 2010

Description:
Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2010
xxxiv + 398 p.
14,5 x 21 cm

ISBN 13: 978-979-25-5325-3
ISBN 10: 979-25-5325-8

Notes: Includes bibliographical references (p. 371-386) and index

Subjects: Religion Psychology, Social-Humanities, Pluralism, Jilbab

Launched in Jakarta, August 2010, attended by:

1. Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, S.S., M.A., a member of Presidential Advisory Council, Republic of Indonesia (Dewan Pertimbangan Presiden RI / Wantimpres Bidang Pendidikan dan Kebudayaan)

2. Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., A.P.U., a member of Indonesian Academy of Sciences (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia / AIPI Komisi Ilmu Kebudayaan)

More info: http://knol.google.com/k/juneman/psychology-of-fashion-fenomena/2qc7aganedjje/1
Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan [Melepas] Jilbab
(Psychology of Fashion: The Phenomenon of Women [Removing Their] Jilbab).

Author:
Juneman

Preface:
Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., A.P.U.
Dra. Tiwin Herman, M.Psi.

Epilogue:
Afrizal Malna
dr. G. Pandu Setiawan, Sp. K.J.

Format: Book

Edition: I (First Edition), July 2010

Description:
Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2010
xxxiv + 398 p.
14,5 x 21 cm

ISBN 13: 978-979-25-5325-3
ISBN 10: 979-25-5325-8

Notes: Includes bibliographical references (p. 371-386) and index

Subjects: Religion Psychology, Social-Humanities, Pluralism, Jilbab

Launched in Jakarta, August 2010, attended by:

1. Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, S.S., M.A., a member of Presidential Advisory Council, Republic of Indonesia (Dewan Pertimbangan Presiden RI / Wantimpres Bidang Pendidikan dan Kebudayaan)

2. Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., A.P.U., a member of Indonesian Academy of Sciences (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia / AIPI Komisi Ilmu Kebudayaan)

More info: http://knol.google.com/k/juneman/psychology-of-fashion-fenomena/2qc7aganedjje/1

More info:

Published by: Juneman Abraham on Aug 29, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2013

pdf

text

original

cari

Home
KEBINEKAAN
Penyeragaman yang Menyusup
Jumat, 27 Agustus 2010 | 03:33 WIB
Upaya meminggirkan mereka yang berbeda belakangan ini menjadi kegundahan banyak anggota
masyarakat karena Indonesia adalah ”berbeda-beda tetapi tetap satu”.
Namun, menurut penelitian tim dari Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan
Rahima, gerak penyeragaman tersebut sudah terjadi setidaknya sejak tahun 2007-2008. Jalur yang
digunakan salah satunya melalui pendidikan di sekolah.
Farha Ciciek, pemimpin penelitian beranggotakan lima peneliti tersebut, menemukan, kelompok-
kelompok konservatif dan radikal keagamaan bersifat nasional ataupun transnasional menggunakan
sekolah, terutama kegiatan ekstrakurikuler kerohanian, sebagai tempat menyosialisasi nilai dan
praktik menolak keberagaman, mengembangkan kepatuhan tanpa nalar kritis, mengajarkan
kebenaran tunggal, cenderung mengembangkan sentimen keumatan dan kurang pada rasa
kebangsaan dan kemanusiaan, menolak yang berbeda, dan mendiskriminasi perempuan.
Penelitian dilakukan di 30 SLTA, terutama SMAN, SMKN, termasuk madrasah aliyah negeri. Dalam
pemaparan penelitian pada acara penganugerahan Saparinah Sadli Award, Selasa (24/8) di
Jakarta, Ciciek mengatakan, praktik tersebut juga ditemui di SMAN terkemuka di kota-kota
penelitian. Penelitian dilakukan di Jakarta, Pandeglang, Cianjur, Cilacap, Yogyakarta, Jember, dan
Padang.
Penelitian dilakukan awalnya untuk mengetahui praktik diskriminasi jender di sekolah. ”Tetapi,
sejumlah guru, terutama guru agama, orangtua murid SLTA, anggota ormas agama, dan aktivis
lembaga swadaya masyarakat mengeluhkan perilaku ’aneh’ yang menggelisahkan di rumah dan di
sekolah,” tutur Ciciek.
Di antaranya, siswi-siswi sebuah sekolah teladan di Yogyakarta dilarang tampil dalam acara
kesenian sekolah dengan alasan suara adalah aurat. Ada pula ibu yang merasa tak mengenali
anaknya lagi karena si anak tak mau berhubungan dengan ibunya karena si anak menganggap iman
ibunya tak sebaik si anak. ”Ada juga ’anak yang hilang’ yang diakui juga oleh Kementerian Agama,”
kata Ciciek.
Diskriminasi
Aksi-aksi tersebut, demikian Ciciek, melahirkan diskriminasi jender dengan legitimasi agama.
Diskriminasi itu dilembagakan melalui organisasi resmi sekolah, yaitu kegiatan ekstra kurikuler
keagamaan, tecermin dari struktur dan kultur organisasi serta materi ajar yang disampaikan dalam
bentuk buku, majalah, selebaran, hingga VCD film.
Siswi, misalnya, tidak boleh mengetuai organisasi ekstrakurikuler, perempuan hanya boleh
memimpin perempuan, suara perempuan di ruang publik dianggap aurat, pemisahan ketat ruangan
antara siswi dan siswa, pembedaan peran dengan penekanan peran domestik/rumah tanggal untuk
siswi. ”Pembedaan ruang dengan memakai tabir itu dilakukan di sekolah umum teladan,” kata Ciciek.
Menghadapi kemunduran dalam penghargaan atas kesetaraan jender tersebut, ajakan Rahima
kepada organisasi kemasyarakatan ikut serta menyosialisasikan keberagaman, kesetaraan dan
keadilan mendapat tanggapan baik. Begitu juga respons Kementerian Agama serta Pemerintah
Provinsi DI Yogyakarta. Yang responsnya belum menggembirakan adalah Kementerian Pendidikan
Nasional. ”Mereka beralasan, pendidikan urusan daerah setelah otonomi daerah,” kata Ciciek.
Luruskan Sejarah Kelahiran Soekarno
Detik-detik Meletusnya Gunung...
Ibra: Guardiola Minikamku
Balotelli Kecelakaan
Ayo Taufik! Tinggal Selangkah Lagi
Gunung Sinabung Meletus
» Selengkapnya
TANAH AIR
Merajut nusantara melalui
liputan khusus berita dan
video
KOMPAS ePaper
Koran digital dengan
pembaca terbanyak di
Indonesia
KOMPASKita
Rubrik untuk membuka ruang
KOMPAS.com Cetak ePaper Bola Entertainment Games Tekno Otomotif Female Health Properti Forum Kompasiana Images Mobile KompasKarier PasangIklan GramediaShop
Terpopuler
Terkomentari
Terekomendasi
Kabar Palmerah
Home Nasional Regional Internasional Megapolitan Bisnis & Keuangan Olahraga Sains Travel Oase Edukasi English Archive Video More
Þenveraaaman vana Menvusup - kCMÞAS.com hup://ceLak.kompas.com/read/2010/08/27/03333313/penveraaaman...
1 of 2 8/29/2010 2:49 ÞM
Ke depan, menurut Ciciek, jejaring masyarakat sipil harus dikuatkan dan introspeksi pada
pendekatan selama ini. Dia menyebut, masukan dari mereka yang pernah berada di dalam jaringan
konservatif, ide pembebasan perempuan sangat memukau, tetapi secara praktis ”kurang berhati”.
”Meskipun ide yang ditanaman keras, teman itu menyebutkan, pendekatannya sangat lembut,
merangkul, memanusiakan; pendekatan kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan pribadi. Dia
dianggap anggota keluarga, dibantu mengatasi segala kesulitan, mulai dari uang sekolah/kuliah,
sampai dicarikan jodoh,” tutur Ciciek.
Intinya, demikian Ciciek, ide konservatif yang mendiskriminasi itu menyusup tanpa kita sadari
karena melalui jalur pendidikan. Kegiatan ekstrakurikuler itu mendapat dana untuk kegiatan mereka
dari sponsor perusahaan swasta/bisnis, orangtua, hingga sekolah/negara.
Awalnya sekolah merasa terbantu sebab menganggap kegiatan tersebut sebagai penangkal dari
narkoba dan tawuran. Apabila tadinya hanya ditularkan melalui kegiatan ekstrakurikuler keagamaan,
perlahan diadopsi kegiatan inti sekolah, antara lain melalui aturan seragam sekolah, bahkan di SMA
dan SMK, kemudian ke rumah dan ruang publik lain.
Keragaman
Berbagai upaya penyeragaman terebut tidak terbatas pada satu kelompok dominan, tetapi juga di
dalam kelompok minoritas, termasuk yang berbasis agama.
Meski demikian, dinamika masyarakat saat ini yang masih memberi ruang keragaman pemikiran
bukanlah hal yang terberi, tetapi harus dipelihara dan dijaga. Seperti saat peluncuran buku
Psychology of Fashion, Fenomena Perempuan (Melepas) Jilba (LkiS, 2010) pada Selasa (24/8).
Buku hasil penelitian kualitatif pada empat perempuan di empat kota di Jawa untuk program S-1
Psikologi ditulis Juneman. Dia mengajak memahami dan menghargai keragaman di masyarakat. Di
tengah tingginya semangat di masyarakat agar perempuan mengenakan jilbab, demikian Juneman,
pilihan narasumber penelitian melepas jilbab tidak dapat diartikan berkurang keimanannya.
Musdah Mulia, pembahas buku, mengingatkan, dalam fikih perbedaan pemikiran adalah
keniscayaan. Dia mencontohkan perempuan sufi Rabiah Addawiyah yang memberikan hidupnya
bagi Tuhan, tanpa pamrih pada surga-neraka. Itu memotivasi berlomba pada kebaikan dan tidak
mengklaim kebenaran tunggal. (NMP/MH)
Font: A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

Kirim Komentar Anda
Nama
Email
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak
untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
interaktif pembaca,tokoh,dan pengelola media.
More: Index Berita Info Kita Surat Pembaca Berita Duka Seremonia DKK Matahati Tanah Air Kompas Kita Kompas AR Kompas Dakode
Kompas Widget Kompas Apps Kabar Palmerah RSS Feed
About Kompas.com | Advertise with us | Info iklan | Privacy policy | Terms of use | Karir | Contact Us | Kompas Accelerator For IE 8
© 2008 - 2010 KOMPAS.com — All rights reserved
Þenveraaaman vana Menvusup - kCMÞAS.com hup://ceLak.kompas.com/read/2010/08/27/03333313/penveraaaman...
2 of 2 8/29/2010 2:49 ÞM
Jilbab di Tengah Modernitas
Rabu, 12 Jan 2011 09:24 WIB
Pada akhir tahun 1970-an, jilbab membanjiri pola kehidupan masyarakat
dunia. Globalisasi jilbab ini tak lain karena lahirnya revolusi Iran yang
dikomandoni Imam Khomeini pada akhir 1970-an. Salah simbol kemenangan
Khomeini adalah mengenakan jilbab bagi para pendukungnya, bahkan
kemudian dijadikan legitimasi politik Islam yang dipimpinnya. Berjilbab
akhirnya menjadi trend umat manusia, bukan saja umat Islam, sebagai
bentuk eksentrik lahirnya peradaban baru dunia. Sampai-sampai Emha
Ainun Najib membuat puisi bertajuk “lautan jilbab” yang melihat Indonesia
juga kebanjiran trend dunia dalam mengenakan jilbab.
Trend berjilbab ini menjadi ideologi global yang berbaur dengan gejolak
politik global menjelang akhir abad ke-20. Ragam berjilbab manusia ini juga
melahirkan gerak trend global baru pada awal abad ke-21 yang menjelajahi dunia bahwa tanpa jilban pun, manusia bisa
melesakkan tradisi berperadaban. Jilbab bukan lagi sebagai trend ideologis, melainkan sebuah trend budaya yang telah
berjalan pada dasawarsa sebelumnya. Buku bertajuk “Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab” ini
berupaya melihat trend melepas jilbab bukanlah sebagai “pembangkangan” dalam beragama, tetapi sebagai sebuah trend
global yang niscaya.
Penulis melihat bahwa kewajiban berjilbab bukanlah simbol bagi perempuan. Banyak lelaki di Timur Tengah yang berjilbab
layaknya perempuan. Berjilbab merupakan psikologi manusia dalam menyesuaikan diri dengan konteks jamannya. Setiap
jaman memberikan tanda dan jawab sendiri, sehingga anak manusia harus mempunyai kreativitas psikologis yang
memberikan daya elastis dalam menjawab tanda jaman. Jilbab merupakan tradisi dalam berbudaya, bukanlah khitab agama
yang mengharuskan perempuan memakainya.
Perempuan postmodern saat ini biasa dengan melepaskan jilbabnya. Sekali lagi, bukan berarti membangkang atas ajaran
agama, tetapi memang jilbab merupakan trend global yang dipengaruhi jalan politik. Tidak berjilbab mencoba
mempertaruhkan jiwa psikologisnya dalam suatu aliran gerak organisasional. Pertaruhan ini akan menjadi sebuah gerak baru
ideologis yang mematahkan lautan jilbab sebagai jalan politik yang coba dilanggengkan para aktornya. Para pendukung
lautan jilbab pastilah menggunakan banyak argumentasi agama untuk melegitimasi jalan politik jilbabnya dalam mencuri hari
konstituen politik yang sedang dijalaninya.
Tak berjilbab dengan demikian menjadi “tradisi tanding” yang mencoba bergerak melakukan dekonstruksi atas kemutlakan
yang dijalankan secara sewenang-wenang. Kesewenangan dalam berjilbab sudah tidak relevan lagi di tengah laju kehidupan
kontemporer, selain karena lemah dalam argumentasinya, juga karena diselingi jalinan politik yang berada dibalik layar.
Tradisi tanding ini bisa menjadi trend global abad ke-21 yang mendekontruksi jelajah rezim lautan jilbab yang dikomandoni
Iran.
Penulis melihat fakta mutakhir terus memperlihatkan bahwa fenomena melepas jilbab telah melepaskan fanatisme beragama
dan berpolitik. Beragama dan berpolitik tidak lagi dimaknai secara monilitik, saklek dan logisentris. Tetapi beragama yang
ramah, toleran dan penuh penghargaan.
____________________________
udul buku : Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab
Penulis : Juneman
Peresensi : Siti Muyassarotul Hafidzoh (Peneliti CDIE UIN Sunan Kalijaga)
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Tebal : 298 halaman
Cetakan : I, November 2010
Kata Kunci
Buku jilbab Modernitas
Kirim komentar baru
Nama anda: *
E-mail: *
The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
Homepage:
Komentar: *
15/01/2011 06:08 WIB | Indeks
BERITA TERKAIT
Memangnya Kenapa Kalau Aku Berjilbab?
Jilbab Kok Gitu? Koreksi Jilbab Indonesia
Kehidupan 1 Perempuan Bersama 14 Laki-Laki
Menguak Kehidupan Para Pecandu Seks dan
Membangun Kesadaran Baru
Korupsi Dalam Sebuah Kisah
Berakhirnya Era Pelarangan Buku di Indonesia
KATA KUNCI POPULAR
Buku Bursa Citizen Journalism
Ekonomi & Energi Fokus Isu
Gaya Hidup Khasanah
Malaysia & Internasional
Nasional Opini Otomotif Pokok
& Tokoh Politik & Hukum
Ragam Rumor dan Fakta Surat
Pembaca Topik Aktual
Powered by Translate
HOME NASIONAL MALAYSIA & INTERNASIONAL EKONOMI & ENERGI POLITIK & HUKUM RAGAM KHASANAH TOPIK AKTUAL FOKUS ISU POKOK & TOKOH
OTOMOTIF BURSA FOTO BUKU GAYA HIDUP CITIZEN JOURNALISM OPINI RUMOR & FAKTA INDEKS
!llbab dl 1enaah ModernlLas | rlmanews.com - 8er[uana 1anpa kebenclan hup://www.rlmanews.com/read/20110112/12303/[llbab-dl-Lenaah-m...
1 of 2 1/13/2011 3:43 ÞM
Home Paper Edition Weekender Youthspeak Study abroad Login Register
News & Views Headlines National Archipelago Business Jakarta World Sports Opinion Readers' forum Site Map
Sunday, August 29, 2010 07:18 AM Follow us on Search GO
A | A | A |
To veil or not to veil, Islamic women face tough choices
Dina Indrasafitri, The Jakarta Post, Jakarta | Thu, 08/26/2010 9:40 AM | National
When Wina decided to shed her jilbab, the headscarf symbolizing, for most people, a woman’s commitment to
Islam, her husband commented, “It’s up to you, but it’s degrading.”
She said some of her colleagues at work started gossiping and were cynical toward her following her decision to
remove the scarf after three years wearing it.
Wina, a thirty something Jakarta resident, had been one of the subjects in the book “Psychology of Fashion”:
Fenomena Perempuan Melepas Jilbab (Psychology of Fashion: The Phenomenon of Women Removing Their
Jilbab), launched Tuesday in Jakarta.
The author, Juneman, a psychologist from the University of Persada Indonesia, interviewed three other women
who also decided to shed their headscarves.
The choice was often met with shock and criticism — some soft and others openly harsh — from their friends and
family.
Intan, a citizen from West Java, said she had a long argument with her mother after deciding to take off her veil and
said her mother accused her of being “wishy-washy”.
In the book, Intan recalled her mother’s words: “See? I told you so. You didn’t have to [wear a jilbab] now you’re
embarrassed, right?”
The book revealed that social institutions and peer groups often play a large part in influencing a woman’s decision
to wear the Islamic head-scarf. And they are quick to react to women’s decision to remove it regardless of the fact
that such a decision is a private one.
“I often get comments on my Facebook page, saying that I would look prettier in a jilbab ,” said Tia — not her real
name — who attended the book launch.
The woman in her thirties said that despite similar nudges from friends and colleagues, she would still put off
donning a scarf.
Four of the women in the book said they were encouraged to wear the head scarf by institutions such as religious
organizations and schools, and by male figures.
Intan in particular recalled her public junior high school teacher teaching students that women who refused to wear
the jilbab were bound to hell.
The women interviewed in the book shared their various reasons behind their decision to remove their jilbabs. Tari
from West Java was disillusioned by the election process for the head of the women’s division of her campus’
religious group. She said rumor was rife that candidates had to wear the very conservative hijab, which covers
more than just the head and shoulders.
“This is not right. How come a woman’s worth is judged by the size of her jilbab,” she said.
Lanni from East Java said that one of her reasons was having her heart broken by the man who encouraged her to
wear a jilbab. While for Intan, studying Hindu and Buddhist philosophy during college had been one of the
antecedents.
Juneman said the reason to shed the jilbab fell into two categories: the feeling that one is not “enlightened” or
pious enough to wear one, or, on the contrary, feeling that they are already enlightened thus felt that the attire was
unnecessary.
Three of the women said they felt more comfortable after taking off their jilbabs, and two said they may return to
wearing the headscarf again in the future.
NATIONAL
Population boom spells multi-sectoral
bust for RI
Edmond points finger at Raja in Gayus’
case
Govt tries to improve conversion
program
Compost ‘not helping’ urban trash
woes
Press Council questions ‘Playboy’
court ruling
PTTEP: ‘No verifiable proof’ for RI oil
spill claim
more
House, govt call for calm over border
dispute
Hatta says no reason for Idul Fitri food
shortages
KPK to have more authority in money-
laundering probes
Police warn travelers of fickle weather
15,000 expected to attend service in
support of pluralism
more
More National News
Paper Edition
1o vell or noL Lo vell, lslamlc women face Louah cholces | 1he !akarLa ÞosL hup://www.Lhe[akarLaposL.com/news/2010/08/26/Lo-vell-or-noL-vell-l...
1 of 2 8/29/2010 7:16 AM
All of the four women had finished undergraduate degrees and were living in major cities when Juneman conducted
the book’s research in 2007. When he first announced he needed subjects for the research over the Internet, more
than 10 women expressed their interest over the one month waiting period.
“The nature of this research [qualitative], is not a representative one,” Juneman said.
Siti Musdah Mulia of the Conference For Religion and Peace said that it was only after the 1980s
that jilbabs became a major phenomenon in Indonesia, and the movement had grown more significantly in public
schools rather than religious ones.
“For pesantren [Islamic boarding school] students, the headscarf was just considered as part of the uniform, there
were no talks of hell for those not wearing jilbabs there,”
she said.
Siti added that there were other changing habits regarding how people viewed religion. For example, in the past
there were no unwritten rules that lectures should pause during the call to prayer.
She illustrated less rigid methods of wearing jilbab that she encountered during her student days at a university in
Cairo.
“Some female students only put on their scarves in class,” Siti said.
Some regions, which won autonomy since the fall of Soeharto’s centralist government, have imposed Islamic dress
codes on women.
In some regions, such as several parts of Aceh, failure to adhere to these codes can lead to punishment under
sharia law.
| | | | | | | |
Related News >>
Ramadan: Suddenly religious
Issue: ‘Islam without veil’
Islam without veil
Malaysian women: Caning was opportunity to repent
Post Comments | Comments (0)
Life Sci-Tech Environment Body & Soul Art & Design Culture Lifestyle Entertainment People Features
News & Views Headlines National Archipelago Business Jakarta World Sports Special Report Opinion Readers' forum
Home Company Profile Online Media Kit Print Media Kit Weekender Media Kit About Us Contact Us Site Map
Copyright © 2008 The Jakarta Post - PT Bina Media Tenggara. All Rights Reserved.
1o vell or noL Lo vell, lslamlc women face Louah cholces | 1he !akarLa ÞosL hup://www.Lhe[akarLaposL.com/news/2010/08/26/Lo-vell-or-noL-vell-l...
2 of 2 8/29/2010 7:16 AM
Home Tentang SI Tim Redaksi Berlangganan Hubungi Kami Company Profile 2010
search... Go!
Index Berita Selengkapnya
News
Berita Utama
Budaya
Cerpen & Puisi
Ekonomi & Bisnis
International
Megapolitan
Nusantara
Nasional
Opini
Politik & Hukum
Periskop
Polling & Analisis
Quote of The Day
Mirror
Resensi Buku
Sports
Bola Manca
Bola Nasional
Ragam Sport
LifeStyle
Halaman utama
Automotive
Fashion
Family
Syariah
Food
Home & Garden
Office solution
Movie & Music
Kesehatan
Kolom
Pendidikan
Ragam
Selebriti
Techno
Travel
Trend & beauty
Karier
Energi
Properti
Remaja
Daerah
Jawa Barat
Jawa Tengah & DIY
Jawa Timur
Sumatera Utara
Sumatera Selatan
Sulawesi Selatan
VALAS
KURS JUAL BELI
USD 9050.00 8850.00
SGD 6961.85 6780.85
AUD 8874.65 8642.65
JPY 112.08 108.52
22-Okt-2010 / 09:03 WIB

Fenomena “Perempuan (Melepas) Jilbab”
Sunday, 24 October 2010
ITU adalah sebuah judul buku yang ditulis oleh seorang sarjana psikologi bernama Juneman dan
diterbitkan oleh PT LKIS Printing Cemerlang,Yogyakarta. Ketika buku itu akan di-launching, Juneman
meminta pendapat saya, bagaimana baiknya.
Apakah buku ini diteruskan terbit atau ditunda atau bahkan dibatalkan saja. Pertanyaan yang sangat
masuk akal melihat betapa di Indonesia ini orang bisa dilempari batu atau bahkan ditusuk hanya
karena melakukan sesuatu yang menurut sekelompok orang tertentu bertentangan dengan apa yang
menurut mereka melanggar syariat agama, misalnya membangun rumah ibadah, berdoa atau
berbusana secara tertentu.Di Aceh misalnya,perempuan bisa ditangkap polisi syariat hanya
gara-gara pakai jins dan baju ketat walaupun berjilbab.
Padahal busana seperti itu sangat umum di Jakarta. Ketika saya jadi pensyarah pelawat (istilah
Malaysia untuk: dosen tamu) di Universiti Malaya (UM), saya bermukim di Kuala Lumpur selama satu
semester. Menurut pengamatan saya,suasana keberagamaan di Malaysia lebih kental dari di
Indonesia. Semua bumiputra (istilah Malaysia untuk pribumi) identik dengan muslim. Kalau di Kampus
UI Jakarta kita masih bisa lihat cowok-cowok nongkrong di kantin pada saat salat Jumat, di UM
kantin-kantin bersih dari cowok bumiputra pada saat seperti itu.
Bahkan saya agak tercengang ketika mengetahui bahwa beberapa rekan profesor saya berpoligami.
Sayang sekali kontrak saya terlalu singkat dan saya pun membawa istri saya ke Malaysia. Kalau
saya sendirian di sana, mungkin saya akan minta kontrak saya diperpanjang sampai waktu yang
tidak terbatas. Saya tercengang karena selama ini mengira bahwa yang boleh berpoligami hanya
para sultan dan bangsawan saja, sebagai privilege yang dibenarkan oleh adat,bukan agama.
Ternyata bukan begitu.Ternyata memang orang Malaysia menjalankan agama sesuai dengan syariat
Islam,bukan sekadar adat.Saya tanyakan hal ini kepada mahasiswa-mahasiswa saya, lakilaki
maupun perempuan. Saya tambah heran karena juga buat mereka poligami adalah hal yang
biasa-biasa saja. Di antara mereka cukup ramai (bahasa Malaysia untuk: banyak) yang lahir dari
keluarga poligami dan ketika saya tanya apakah mereka nanti akan berpoligami (buat yang laki-laki)
atau mau dimadu (buat yang perempuan), jawab mereka,“Mungkin saja.
”Alasan dari mahasiswi,“Daripada suami saya berzina ....”Subhanallah ... alangkah bahagianya orang
Malaysia. Semuanya ahli surga. Namun dalam hal busana, mereka justru lebih santai daripada yang
diharuskan oleh kelompok tertentu di Indonesia. Di dekat apartemen tempat kami tinggal ada sebuah
restoran tempat kami makan malam kalau istri saya sedang malas memasak.Salah satu pelayannya
berjilbab, tetapi mengenakan jins (dengan kantong di bokongnya menggelembung karena ada
HP-nya) dan kaus ketat tangan pendek.
Saya pun yang Islamnya biasa-biasa saja (paling setengah- tingkat lebih tinggi dari pada Islam KTP)
merasa disonan (bahasa psikologi untuk: heran) karena sepengetahuan saya, yang namanya aurat
perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali telapak tangan dan wajahnya (bahkan wajah pun kadang
harus ditutup karena termasuk aurat). Jadi baju perempuan, walaupun kaus, ya harusnya tangan
panjang, dong. Begitu pikir saya. Namun disonansi saya tidak lama.
Setelah saya tinggal beberapa hari di Kuala Lumpur, saya melihat cukup banyak perempuan
bumiputra di mal (bukan di kampus) yang tidak berjilbab walaupun berbaju muslim.Saya juga melihat
cewek-cowok pacaran di mal, pegangan tangan, duduk berdampingan rapat-rapat, berangkulan, dan
sebagainya sebagaimana layaknya cewek-cowok pacaran di mal-mal Jakarta, padahal mereka tetap
berjilbab.
Bahkan saya pernah menyaksikan serombongan ABG perempuan di tempat parkir di basement
berlarian sambil tertawa- tawa menuju pintu masuk mal.Khas perilaku ABG-lah di mana pun di dunia
ini. Bedanya adalah bahwa mereka berhenti sejenak di depan sliding door mal,copot jilbab masing-
masing, memasukkan jilbab ke ransel,dan melanjutkan berhamburan masuk ke dalam mal.Sejak itu
saya berkesimpulan bahwa ternyata jilbab di Malaysia hanya bagian dari aksesori busana yang
lazim, tetapi tidak harus dipakai. Sesuai selera dan situasi dan kondisi saja.
*** Berbeda sekali dengan pengalaman saya di Arab Saudi.Ketika saya bekerja sebagai konsultan
untuk sebuah perusahaan elektronik Indonesia yang mengerjakan proyek di Mekkah dan Madinah
(1980) maupun ketika saya berhaji dengan istri saya (1995),saya melihat semua perempuan Arab
Saudi berjilbab dan bercadar. Bukan sembarang jilbab dan cadar,melainkan jilbab lebar hitam dan
cadar pun hitam.
Jadi di Arab sana,tidak ada fashion-fashion busana muslim seperti di Indonesia yang walaupun
berjilbab, masih bisa tampil sensual. Karena itu saya pikir tadinya di Arab Saudi perempuan berjilbab
benar-benar karena faktor agama. Apalagi saya sering melihat formasi keluarga Arab ketika sedang
berjalan-jalan di tempat-tempat umum di Arab Saudi. Sang bapak jalan paling depan, ibu berjalan

Dapatkan account e-mail gratis @sindotechno.net Daftar Check e-mail
Parlan SepuLar lndonesla, Sumber 8eferensl 1erpercava hup://www.sepuLar-lndonesla.com/edlslceLak/conLenL/vlew/339443/
1 of 2 10/24/2010 10:39 AM
Group Links :
Copyright © 2010 Media Nusantara Citra Group Tampilan terbaik pada resolusi 1024x768 pada browser FF1+, IE6+, Opr9+ Legal Disclaimer Privacy Policy
beberapa langkah di belakangnya, lengkap dengan jilbab-lebat-tutuprapat- hitamnya, sambil
menggandeng dua atau tiga anaknya.
Saya heran,bagaimana anak-anak itu bisa membedakan ibunya dari perempuan-perempuan lain
yang semuanya berjilbab-lebar-tutuprapat- hitam? Saya sendiri melihat perempuan-perempuan itu
sama saja. Kalau istri saya ada di antara mereka, saya pun tak tahu bagaimana mengenali istri
saya,kecuali saya panggil dan dia menjawab. Nah suara istri saya pasti saya kenal karena itulah
satu-satunya suara perempuan yang paling dekat di hati saya (di samping beberapa suara
perempuan lain yang juga dekat di hati saya).
Namun anggapan saya bahwa perempuan Arab berjilbab karena hakkul yakin akan agamanya sirna
ketika dalam suatu penerbangan dari Kairo ke Amsterdam (1976) sejumlah perempuan Arab
berjilbab- lebar-tutup-rapat-hitam bergantian masuk toilet dan keluar dari toilet mereka sudah buka
jilbab semua.Di bawah jilbab itu ternyata mereka memakai busana dan aksesori bermerek (waktu itu
sedang zaman oil boom, jadi orang Arab kaya-raya) dan wajah mereka cantik-cantik (wanita Timur
Tengah rata-rata cantik). Ternyata berjilbab atau tidak berjilbab hanyalah pilihan saja. Di Arab lebih
baik berjilbab, di Eropa lebih senang buka jilbab.
*** Karena itu, apa yang ditulis Juneman dalam bukunya Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab
tidak jauh-jauh dari realitas yang ada di seluruh dunia.Kasus-kasus yang diwawancarai dalam buku
Juneman semuanya memilih untuk membuka jilbab karena berbagai alasan. Persis sama dengan
ketika mereka memilih untuk memakai jilbab yang juga dengan berbagai alasan. Karena itu kata
“melepas” judul buku itu diberinya kurung.Artinya, kalau kita mau, kita bisa saja menggantinya
dengan kata “memakai” tanpa mengubah isi buku.
Soal pilih-memilih ini sebetulnya sangat manusiawi. Setiap hari manusia selalu melakukan pilihan.
Memilih mau nikah atau tunda nikah, pilih sekolah atau kerja, pilih makan di rumah atau di warung,
pilih baju, pilih kendaraan umum, pilih parpol atau presiden (dalam pemilu),dan seterusnya.Begitu
juga soal berbusana, pilih (melepas) atau (memakai) jilbab. Sama saja, hanya soal pilihan. Bahkan
pilih agama mana yang mau dianut atau mau pilih gak mau beragama sama sekali, itu sah-sah saja
karena pilihan memang menyangkut hak asasi manusia yang namanya “kebebasan”.
Dengan perkataan lain, orang yang terenggut kebebasan memilihnya sama saja dengan terenggut
salah satu hak asasinya. Termasuk kalau dia tidak boleh memilih agama atau kepercayaan atau
versi kepercayaannya. Masalah timbul ketika kebebasan yang hak asasi itu bertemu dengan hak
asasi orang lain yang bebas memilih juga,yang kebetulan saling bertentangan. Misalnya kalau
seorang perokok bertemu di satu tempat dengan orang yang nonperokok.Mereka pasti berbenturan
kepentingan, kecuali salah satu mau mengalah dan menyingkir.
Demikian juga kalau orang memilih agama atau busana dan orang lain tidak menyukainya, maka
akan terjadi konflik lagi,kecuali kalau salah satu bertoleransi (wanita wartawan CNN selalu
berkerudung dan berbaju tertutup kalau sedang meliput di Afghanistan atau Irak). Tidak (atau:
kurang) adanya toleransi dari sebagian masyarakat Indonesia inilah yang membuat Juneman
waswas ketika akan melaunching buku ini. Perasaan waswas ini bukan dialaminya sendiri, melainkan
banyak yang waswas kalau suatu persoalan sudah menyangkut masalah agama atau sesuatu yang
dianggap termasuk dalam kawasan agama.
Apalagi kalau untuk mencari jalan keluarnya (“duduk-bersama”) tetap saja digunakan dalil-dalil
agama (termasuk hukum syariat) karena hukum agama, seperti halnya setiap hukum lain, pada
dasarnya tidak toleran terhadap segala sesuatu yang di luar dirinya (pelanggaran hukum).Apalagi
kalau hukum agama tertentu harus diterapkan kepada orang lain yang tidak percaya pada agama itu
atau bahkan orang dari agama itu sendiri yang tidak percaya pada hukum-hukum agama yang itu.
Karena itu sebaiknya memang kalau sudah menyangkut hubungan dengan sesama manusia (hablum-
minannas), terutama kalau sudah menyangkut orang banyak, tidak terbatas pada kalangan sendiri
saja, kita gunakan hukum negara saja.Ada yang mengatakan,“ Loh, kok hukum Tuhan dianggap lebih
rendah daripada hukum negara yang bikinan manusia?” Tapi apa boleh buat,sebab Tuhan yang
membuat hukum itu benar memang Tuhannya sebagian orang tertentu,tetapi belum tentu diakui
(maaf) sebagai Tuhannya sebagian orang lain. Adapun hukum negara minimal diakui (walau tidak
selalu ditaati) oleh hampir seluruh bangsa ini.(*)
SARLITO WIRAWAN SARWONO
Guru Besar Fakultas Psikologi UI

Parlan SepuLar lndonesla, Sumber 8eferensl 1erpercava hup://www.sepuLar-lndonesla.com/edlslceLak/conLenL/vlew/339443/
2 of 2 10/24/2010 10:39 AM
JERUSALEM-Roma berjarak 1.600
kilometer. Di bawah ke dua kota
itu, sekelompok orang berusaha
menghapus sejarah.
Jonathan Marcus, seorang pe-
ngacara muda dan mantan siswa
program doktor di bidang studi
klasik, telah menjadi komoditas
panas yang dicari-cari para peda-
gang barang purbakala. Namun,
saat diminta datang ke Roma un-
tuk memeriksa sekeping peta batu
kuno milik seorang kliennya, dia
menemukan sebuah rahasia yang
mencengangkan: petunjuk tsurat
ha-hidah--teka-teki simbolis.
Penemuan itu melontarkan ia ke
dalam sebuah petualangan penuh
bahaya mulai dari labirin di bawah
Colosseum sampai berbagai tero-
wongan yang dibangun pada za-
man kenabian di Yerusalem untuk
menemukan artefak tersembunyi
berusia 2.000 tahun yang selama ini
dicari sejumlah kerajaan berbagai
zaman.
Benda itu adalah simbol sejarah
yang lebih hebat jika dibandingkan
dengan mitos agama mana pun.
(*/M-4)
begitu. Aku mikir, apa dengan
membaca buku ini, aku bisa
berubah pikiran akan melepas
jilbab,” kata perempuan ber-
jilbab itu.
Perasaan itu juga diakui
Chaeriwati (Eri) dan Puspa
Sari Ayu Yudha (Ayu). Ke-
duanya berjilbab dan merasa
penasaran dengan isi buku
tersebut. “Tapi setelah dibaca,
aku justru makin yakin dengan
pilihanku,” ujar Ayu.
Pendapatnya disambut ang-
gukan mantap dari Eri. “Aku
sendiri memakai jilbab sesuai
kebutuhan. Saat fitnes misal-
nya, jujur saja ya, aku enggak
pakai. Karena lebih nyaman
enggak pakai,” kata Eri.
Terwakili
Perasaan khawatir di awal
membaca buku juga dialami
Feby Indirani. “Tapi berbeda
dengan teman-teman yang
merasa khawatir jangan-jangan
buku ini akan membuat ber-
pikir ulang mengenai pema-
kaian jilbab. Aku sebaliknya,
takut dihakimi,” ujar Feby lalu
tertawa.
14 | Jendela Buku SABTU, 25 SEPTEMBER 2010 | MEDIA INDONESIA
SEJAK awal halaman buku
Psychology of Fashion: Feno-
mena Perempuan (Melepas)
Jil bab, penulis Juneman me-
negaskan karyanya sebagai
buku psikologi, bukan buku
agama.
“Awalnya adalah pengamat-
an pribadi. Ada kenalan yang
mengeluh mengalami tekanan
sosio-psikis, mulai dari tekan-
an yang halus sampai keras,
ketika mereka melepas jilbab
dan berada di ruang publik,”
jelas Juneman melalui surat
elektronik, Kamis (23/9).
Dia mengakui, sejumlah
perbincangan itu telah me-
nimbulkan empati terhadap
beban teror ekstensial yang
rutin dialami para muslimat
pascapelepasan jilbab.
“Latar belakang saya ialah
psikologi. Saya bisa merasa-
kan dan menilai hal-hal terse-
but bersentuhan langsung
de ngan kesehatan jiwa dan
psikologi-sosial,” imbuhnya.
Apalagi, ‘perhatian’ terha-
dap masalah yang potensial
mengganggu kesejahteraan
mental itu hampir tak ada di
antara maraknya buku-buku
mengenai jilbab dan perem-
puan.
“Kita perlu mendengar dan
belajar dari suara yang lain
dengan sungguh-sungguh,”
tegasnya.
Menurut Juneman, persoal-
an jilbab adalah persoalan
yang akan terus hidup tidak
tergerus masa. Isu jilbab,
lan jutnya, tetap hangat dan
sem pat ‘dimainkan’ dalam
arena politik elektabilitas saat
Pemilu 2009.
“Bahkan, kalau saja ada
yang menyadari tinda-
kan ‘penjilbaban
perempuan’
(yang
di to-
lak ke-
e mp a t
muslimat
dalam pe-
nelitian kua-
litatif ini) te-
lah terjadi pula
pada level sosial
dengan diberlaku-
kannya saf antrean
penumpang yang
memisahkan perem-
puan dengan laki-laki
di beberapa halte Trans-
Jakarta, serta diluncurkannya
gerbong kereta khusus perem-
puan belum lama ini. Saya
kira perlu ada kajian-kajian
kritis-mendalam terhadap hal-
hal ini,” ujar kandidat magister
psikologi sosial, Universitas
Indonesia itu.
Buku ini, ditulis Juneman
sebagai upaya menghargai
keragaman manusia.
“Saya memang mencermati
beragamnya pemaknaan ter-
hadap jilbab. Ambil contoh,
ungkapan-ungkapan seperti
‘jilbab pilihan busana’ atau-
pun ‘merendahkan jilbab’.
Itu kan mengandung
muatan makna dengan
nuansa yang berbeda-
beda. Pergumulan
pemaknaan para
muslimat itulah
yang saya hadir-
kan dalam pe-
nelitian ini.”
D a l a m
bu kunya,
June man
me n g -
aju kan
e m -
p a t
pe rempuan
muslim yang me-
lepas jilbab mereka.
Semuanya memiliki pengala-
man personal yang disebut-
nya ‘memiliki perjuangannya
sendiri’.
“Yang paling berkesan se-
lama proses penelitian, saya
menangkap para subjek sa-
ngat rendah hati dalam ber-
bagi pengalaman hidup yang
menurut saya mestinya tidak
mudah bagi mereka. Ada
hal-hal yang sebetulnya sulit,
memalukan, ingin disangkal
bahkan traumatik. Dari kisah-
kisah mereka, barangkali da-
pat kita amini bahwa mereka
menampakkan kualitas diri se-
bagai perempuan-perempuan
tangguh yang berani ambil
posisi walau tetap menempat-
kan dirinya sebagai ‘pejalan
spiritual yang kreatif’, seka-
ligus sanggup mempertang-
gungjawabkan kepercayaan
eksistensial mereka,” ujarnya.
Untuk memahami penga-
laman para muslimat itu da ri
sisi psikologi, Juneman ju-
ga menguraikan psikologi
perkembangan kepercayaan
eksistensial secara komple-
mentaris-komprehensif. “Juga
bisa untuk memahami dina-
mika fundamentalisme ke-
agamaan,” tambah anggota
Jejaring Komunikasi Kesehat-
an Jiwa Indonesia itu.
Konsekuensinya, pembaca
mesti ‘menyiapkan energi’
untuk membaca buku padat
teori psikologi ini, terutama
ba gi yang awam.
Yang jelas, buku ini cocok
dibaca mahasiswa psikologi
sebagai sumber referensi, pe-
rempuan serta khalayak luas
untuk menambah wawasan
dan menghargai pilihan-pilih-
an individu. (Sic/M-1)
OBROLAN PEMBACA
Bermula dari Empati
J
ILBAB memang tak seka-
dar kain penutup kepala.
Ada aspek psikologis, so-
siologis, sampai kultural,
ketika seseorang memutuskan
berjilbab, pun ketika melepas-
nya.
Juneman, psikolog lulusan
Universitas Persada Indonesia
ini menggelontorkan perspek-
tif segar di bukunya, berjudul
Psychology of Fashion: Fenomena
Perempuan (Melepas) Jilbab. Di
antara maraknya buku-buku
mengenai jilbab dan perem-
puan, Juneman menawarkan
pandangan dari sisi psikologis
pelakunya, demi memahami
keragaman manusia.
Kebaruan itu diakui peserta
Obrolan Pembaca Media In-
donesia (OPMI), saat mendis-
kusikan buku ini di kantor
Me dia Indonesia, Sabtu (18/9).
Para peserta diskusi sepakat,
kebaruan ide penulis terletak
pada penawaran konsep meng-
hormati pilihan, meski terkesan
kontroversial sekalipun.
“Dengan baca buku ini, aku
belajar jangan segampang itu-
lah menghakimi orang. Kalau
ia melepas jilbab, jangan lang-
sung bilang itu degradasi,”
ungkap Didiet Prihastuti, salah
satu peserta diskusi.
Dia mengaku sudah deg-
degan ketika melihat sampul
buku. “Judulnya kan sudah
Jilbab bukan Penakar Iman
MI/SUSANTO
BAHAS BUKU: Peserta Obrolan Pembaca Media Indonesia bersama Moderator Komunitas Good Reads Indonesia Lita Soerjadinata (tengah) seusai
pembahasan buku Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab di Kantor Media Indonesia, Sabtu (18/9).
Tidak perlu menghakimi keimanan seseorang ketika jilbab terlepas dari kepala.
Bagaimanapun, itu teritorium Tuhan.
Vini Mariyane Rosya
Perempuan 31 tahun itu
me mang pernah mengenakan
jilbab tapi kini telah melepas-
nya. “Setelah baca, ya aku me-
rasa cukup terwakili dan sangat
terkoneksi dengan buku ini,”
katanya.
Feby pernah mengalami ‘te-
kanan-tekanan’ setelah me-
lepas jilbab. “Pasti ada, lah.
Pertama kali pakai jilbab pasti
dikerumunin tuh, dikasih ucap-
an selamat. La gue juga selalu
Feby Indirani
31 tahun, penulis dan
penerjemah lepas
Didiet Prihastuti
28 tahun, karyawan
perusahaan swasta
Puspa Sari Ayu Yudha
25 tahun, anggota Good
Reads Indonesia
Chaeriwati (Eri)
28 tahun, karyawan perusa-
haan swasta
“Gue suka idenya, menarik. Kare na
sebetul nya, mel epas j i l bab bukan
hal baru, tapi enggak banyak yang
mendekati persoalan ini secara in-
telektual.”
Aku suka idenya, suka judulnya. Se be-
tulnya aku bukan penggemar buku non-
fiksi jadi buku ini sedikit bukan tipeku.
Mungkin bisa dibuat lebih populer.”
Aku suka ide dan cara menggambar-
kan subjek-subjeknya. Meski capek
membacanya, aku betul-betul bisa
merasakan. Maksud si penulis benar-
benar nyampe ke aku.
Menurutku ide buku ini bagus dan baru.
Hanya saja, di awal-awal buku, agak
boring sih, karena penulisnya memberi-
kan teori-teori. Ya, memang tergantung
kebutuhan pembacanya, sih.
BUKU BARU
The Last Ember
Pada 18 September 2010, pembaca
Media Indonesia berkumpul untuk
mendiskusikan buku Psychology
of Fashion: Fenomena Perempuan
(Melepas) Jilbab yang diterbitkan
Lembaga Kajian Islam dan Sosial
(LKiS). Kami membahas buku ini
mengingat maraknya buku me-
ngenai jilbab dan perempuan, tapi
hampir tidak ada yang mengupas
persoalan fenomena melepas jilbab
dari aspek psikologis. Pendekat-
an ini bisa memberi pemahaman
untuk menghargai pilihan-pilihan
individu dalam beragama, tanpa
harus menghakimi, mengingat saat
ini begitu mudahnya orang dituduh
kafir. Berikut adalah catatan Obrolan
Pembaca Media Indonesia menge-
nai buku tersebut.
mikir kenapa juga diselamatin.
Saat udah lepas, ya terus dinilai
kemunduran. Banyak loh yang
berhenti tersenyum sama gue,
enggak mau nyapa lagi. Aduh,
kok perempuan dikotak-ko-
takkan begitu. Gue lepas jilbab
karena merasa lebih nyaman
sekaligus menjadi protes gue
untuk kemunculan perda-per-
da syariat,” katanya.
Proses pelepasan jilbab Feby
dilakukan secara bertahap. Plus
melalui fase kucing-kucingan
dengan sang ibu.
“Nyokap pakai jilbab sete-
lah haji. Dia enggak pernah
maksa orang untuk pakai, tapi
dia selalu bilang kalau pakai
ya jangan pernah buka. Ya
su dah, hampir tiga tahun gue
ahli pakai jilbab di ojek atau
angkot. Sampai di rumah, keli-
hatan berjilbab padahal di luar
udah dilepas,” ujar Feby yang
meyakini jilbab ialah bagian
dari budaya.
Feby juga mengaku kenyang
dengan pandangan lelaki atas
perempuan berjilbab. “Yang
paling mengganggu ialah pan-
dangan laki-laki yang meng-
anggap perempuan berjilbab
lebih baik. Cowok-cowok ter-
nyata se nang cewek karena dia
pake jilbab, itu nyebelin,” ujar
perempuan yang sempat ber-
jilbab se lama dua tahun itu.
Mendengar komentar Feby,
Eri tertawa. “Dan di buku ini,
keputusan empat perempuan
mengenai jilbab mereka ber-
hubungan dengan lelaki. Aku
sempat mikir, kok dangkal bener
ya,” ujarnya.
Ayu menyambung, “Sebe-
tulnya aku penasaran kenapa
dia (penulis) ambil ide ini.
Apalagi dia ini laki-laki. Jadi
pengin tahu, apa pernah ada
alasan personal, misalnya ce-
weknya pernah lepas jilbab?
Kok seakan-akan alasan cewek
pake jilbab adalah cowok,”
ujar nya.
Pemahaman
Secara umum, empat peserta
OPMI mengaku mendapati pe-
mahaman tentang bagaimana
menghargai pilihan-pilihan
seseorang. Pengalaman-penga-
laman perempuan yang me-
lepas jilbab mereka yang dipa-
parkan dalam buku ini, diakui
keempatnya merupakan upaya
‘pembacaan’ yang baik menge-
nai fenomena yang terjadi di
masyarakat.
Emmy Djatiningsih, calon
peserta OPMI yang batal hadir
menuliskan komentarnya mela-
lui surat elektronik, “Buku ini
membuka pandangan baru
ba gi saya, mudah-mudahan
bi sa membuka wawasan me-
ngenai pemaknaan jilbab. Ja-
ngan sampai fenomena perem-
puan melepaskan jilbabnya
men jadi sesuatu yang krusial
untuk diperdebatkan sehingga
kita melupakan esensi Islam.
Agama ini kan sangat mene-
kankan pentingnya penghor-
matan kepada manusia dan
akomodatif terhadap nilai-nilai
kemanusiaan.”
Buku yang tampil ‘serius’
dengan judul eye catching ini
dinilai semua peserta memberi-
kan pandangan komprehensif
mengenai fenomena perem-
puan melepas jilbab. Paling-
paling yang terasa sedikit mem-
butuhkan perjuangan membaca
ialah pemaparan teori-teori
karena terkesan berat bagi
orang awam. “Tapi itu pun
per lu agar kita bisa memahami
dari sisi ilmunya,” tambah Ayu.
(M-4)
miweekend
@mediaindonesia.com
kan, kalau saja ada
enyadari tinda-
njilbaban
uan’
t
pe-
kua-
i) te-
di pula
el sosial
diberlaku-
saf antrean
pang yang
hkan perem-
ngan laki-laki
h l T
muatan makna de
nuansa yang berb
beda. Pergum
pemaknaan
muslimat it
yang saya h
kan dalam
nelitian i
D a l
bu ku
June
me
aj
e
p
pe rem
muslim yang
lepas jilbab me
Semuanya memiliki pen
l di
JUNEMAN
“SEKARANG bagaimana aku harus mencari
Ratuku, di Jakarta yang gemerlap ini? Jadi
aku bilang, kalau pacarku sekadar cantik, apa
bedanya aku dengan laki-laki pada
umumnya? Jika tak kutemukan
perempuan yang kuimpikan, akan
kujual saja hatiku.” (I Didn’t Lose My
Heart, I Sold It On eBay!)
Gelombang buku kumpulan cer-
pen sedang lumayan tinggi bulan-
bulan ini. Antara lain Balada Ching
Ching yang ditulis Maggie Tiojakin
sampai Un Soir du Paris, Satu Petang
di Paris karya 12 penulis Indonesia.
Di antara semarak kumpulan cer-
pen itu, kami pilihkan buku I Didn’t
Lose My Heart, I Sold It On eBay!
karya Fajar Nugros yang diterbitkan Gramedia
Pustaka Utama. Sebelum ini, Fajar yang juga
sutradara film itu lebih dulu menulis, antara lain
Bunuh Diri Massal 2008 (bersama Alanda Kariza)
serta Adriana: Di Nol Kilometer Cinta(bersama Ar-
tasya Sudirman). Kisah-kisah Fajar merupakan
rangkaian cerita yang lebih dulu
tersebar di internet, baik di akun
Facebook-nya ataupun laman pribadi
www.sutradarakacangan.multiply.com.
Media Indonesia mengundang lima
pembaca untuk berpartisipasi dalam
Obrolan Pembaca Media Indonesia
untuk membahas karya Fajar ini.
Bagi yang berminat, silakan kirim
data diri melalui surat elektronik
ke miweekend@mediaindonesia.com
selambat-lambatnya Minggu(2/10).
Kami akan mengirimkan buku
ini untuk Anda sebelum dibahas
bersama pada Sabtu (16/10) di Jakarta. Kami
tunggu ya!
Redaksi
Buku Bulan Oktober 2010
Dengan baca buku
ini, aku belajar jangan
segampang itulah
menghakimi orang.
Kalau ia melepas jilbab,
jangan langsung bilang
itu degradasi.”
Didiet Prihastuti
Peserta Obrolan Pembaca
Penulis : Daniel Levin
Penerbit : Serambi
Halaman : 573
Jimmy Carter mengakui
penyelesaian masalah
Palestina-Israel boleh di-
bilang mustahil.
K
onflik Palestina dan Isra-
el selalu menjadi isu uta-
ma bagi siapa saja Presi-
den Amerika Serikat.
Termasuk Jimmy Carter,
yang merupakan pemimpin ke-
39 negara adidaya itu. Bahkan
persoalan yang sudah berlang-
sung lebih dari enam dekade—ji-
ka dihitung sejak negara Israel
berdiri—itu kerap menjadi jual-
an dalam kampanye pemilihan
presiden Amerika.
Namun apa yang dilakukan
Jimmy Carter, 86 tahun, sung-
guh luar biasa. Ia bukan seka-
dar asal bicara. Tapi, sejak per-
tama kali mengunjungi negara
Zionis itu pada 1973, ia sudah
mulai tertarik dan bertekad
mendalami konflik di antara dua
bangsa itu. Saat itu Carter, men-
jabat Gubernur Negara Bagian
Georgia, diundang sebagai tamu
Perdana Menteri Golda Meir.
Carter, yang datang bersama
istrinya, Rosalynn, sejak itu mu-
lai membangun hubungan priba-
di dengan Perdana Menteri Meir,
Menteri Luar Negeri Abba Eban,
Yitzhak Rabin—yang kemudian
menjadi perdana menteri—dan
Jenderal Moshe Dayan yang le-
gendaris.
Ia pun menjadikan isu Palesti-
na-Israel sebagai prioritas kebi-
jakan luar negerinya setelah di-
lantik sebagai presiden pada 20
Januari 1977. Dalam dua buku-
nya, Palestina Perdamaian Bu-
kan Perpecahan (Palestine Peace
Not Apartheid) dan Merengkuh
Perdamaian di Kota Suci (We
Can Have Peace in The Holy
Land), Carter membagi peng-
alaman pribadinya dalam men-
ciptakan perdamaian di kawasan
Timur Tengah.
Simak saja usaha kerasnya sa-
at mempertemukan Presiden
Mesir Anwar Sadat dengan Per-
dana Menteri Israel Menachem
Begin. Setelah beberapa kali per-
undingan di tempat peristirahat-
an Carter di Camp David, hanya
dalam dua tahun masa rezimnya
(1977-1981), ia berhasil menggi-
ring kedua pemimpin itu mene-
ken perjanjian damai.
Pria kelahiran Kota Plains,
Georgia, ini menyadari isu Pales-
tina merupakan syarat utama
bagi perdamaian di seluruh ka-
wasan itu. Prinsip itu tercantum
dalam proposal Putra Mahkota
Abdullah dari Arab Saudi yang
diadopsi dalam resolusi Konfe-
rensi Tingkat Tinggi Liga Arab di
Beirut, Libanon, delapan tahun
yang lalu.
Sebanyak 22 negara Arab setu-
ju membina hubungan diploma-
tik dan kerja sama perdagangan
dengan Israel jika negara itu ber-
sedia mundur dari seluruh wila-
yah yang mereka kuasai setelah
Perang Enam Hari pada 1967. Ini
berarti, negara Yahudi itu harus
menyerahkan Dataran Tinggi
Golan kepada Suriah dan kawas-
an pertanian Sheeba yang di-
klaim oleh Libanon serta Suriah.
Buku Palestine Peace Not
Apartheid terbit pada 2006, dan
We Can Have Peace in The Holy
Land dipublikasikan pertama
kali pada 2009. Kedua buku ini
diterbitkan oleh Simon & Schus-
ter. Sedangkan edisi bahasa In-
donesianya diterbitkan oleh pe-
nerbit Dian Rakyat.
Yang menarik dalam buku ini,
Carter mengakui penyelesaian
masalah Palestina-Israel boleh
dibilang mustahil. Ada dua fak-
tor internal yang bercokol di ke-
dua pihak yang menjadi ganjal-
an. Di Jalur Gaza, terdapat ke-
lompok Hamas yang berprinsip
tidak mengakui keberadaan Is-
rael dan bersumpah menghan-
curkan Negara Bintang Daud
itu.
Di dalam Israel sendiri juga
masih hidup komunitas-komuni-
tas Yahudi ortodoks-ultranasio-
nalis yang memimpikan negara
Israel Raya mencakup seluruh
Tepi Barat dan Gaza. Partai-par-
tai religius sayap kanan selalu
menjadi pemain kunci dalam ti-
ap pemerintahan koalisi di Isra-
el.
Kuatnya kelompok Yahudi ga-
ris keras ini bisa dibuktikan dari
pengakuan Perdana Menteri
Benjamin Netanyahu, yang ber-
kuasa saat ini. Dia mengatakan
rezimnya terancam bubar jika
meneruskan pembekuan proyek
permukiman Yahudi di Tepi Ba-
rat, termasuk Yerusalem Timur,
yang akan berakhir tenggatnya
bulan depan.
Peraih Hadiah Nobel Perda-
maian 2002 itu pun secara jujur
menilai Amerika selama ini sela-
lu memihak Israel dan bersikap
permisif atas penjajahan Israel
terhadap Palestina. Hal ini me-
rupakan faktor eksternal yang
sejatinya bisa menjadi penentu.
Alhasil, mimpi Carter dan rakyat
Palestina akan negara berdaulat
masih terus berlanjut. ●FAISAL ASSEGAF
29 AGUSTUS 2010
A9
Rak
Ketika Jilbab Dilepas
Selama ini masalah
jilbab hanya diulas
oleh ahli agama dari
segi perspektif teolo-
gis dan hukum islam.
Juneman, mahasiswa
magister psikologi,
menulis buku ini de-
ngan pendekatan psi-
kologis. Dia mengurai-
kan alasan-alasan pe-
rempuan yang mele-
pas jilbabnya.
Juneman melakukan penelitian kualitatif
terhadap empat subyek selama setahun me-
lalui serangkaian wawancara. Meski tidak
mewakili seluruh muslimah yang melepas jil-
bab, buku ini berusaha menjawab persoalan
seperti, “Apakah perempuan menjadi lebih ti-
dak religius ketika dia melepaskan jilbab?”
Melalui buku ini, penulis mengajak pemba-
canya untuk berempati dan tidak menilai
atau memberikan cap tertentu bagi perempu-
an yang memutuskan melepas jilbabnya. Bu-
ku ini penting dibaca untuk yang ingin men-
dalami soal jilbab. ●AMANDRA MM
Judul : Psychology of Fashion: Fenomena
Perempuan (Melepas) Jilbab
Penulis : Juneman
Penerbit : LKiS
Edisi : Cetakan 1, Juli 2010
Tebal : 398 halaman
Mengarungi Rimba Kaban
Novel ini terinspirasi
oleh pengalaman priba-
di penulis selama men-
jadi siswa Muallimin
Muhammadiyah Yogya-
karta 30 tahun silam.
Tapi penulis tetap me-
nyelipkan imajinasinya.
Sehingga, menurut Bu-
tet Kertaradjasa, novel
ini tetap tergolong fiksi
dan membuat novel ini
enak dibaca.
Kaban, tokoh utama novel ini, lancar men-
ceritakan gambaran sekolahnya itu. Bagi me-
reka yang bersekolah di lembaga pendidikan
yang mainstream, Muallimin tergolong seko-
lah aneh. Bahkan, jika merujuk kepada kuali-
tas, ijazah Muallimin tidak bakal laku dipakai
melanjutkan ke perguruan tinggi, apalagi
mencari pekerjaan.
Namun kekurangan ini justru menjadi “ser-
ba lebih” di mata Kaban. Muallimin tidak ha-
nya membentuk kepribadiannya, tapi juga
mengajari bagaimana seharusnya manusia hi-
dup. Ia tak gampang menyerah. Justru Kaban
menyulapnya menjadi energi positif meng-
arungi ombak kehidupan. “Modal luar biasa
bagi para peselancar hidup,” tulis Nataya Cha-
roonsri, dosen Universitas Trisakti Jakarta.
Bagi Emha Ainun Nadjib, rekan penulis,
Kaban membolak-balikkan arti rumah dan
rimba. Rumah Kaban di Samarinda dan pe-
tualangannya bersekolah di Yogyakarta sa-
ma-sama membentuk jati dirinya. Pengalam-
an Kaban mampu mencerahkan dan inspira-
tif bagi pembacanya. ●AKBAR TRI KURNIAWAN
Judul : Rimba Kaban
Penulis : Syafril Teha Noer
Penerbit : Komunitas Ladang
Edisi : Juni 2010
Tebal : x + 421 halaman
JUDUL : Palestina: Perdamaian Bukan Perpecahan
JUDUL ASLI : Palestine: Peace Not Apartheid
PENULIS : Jimmy Carter
PENERBIT : Dian Rakyat
CETAKAN : 2010
TEBAL : 344 halaman
JUDUL : Merengkuh Perdamaian di Kota
Suci
JUDUL ASLI : We Can Have Peace in The Holy
Land
PENULIS : Jimmy Carter
PENERBIT : Dian Rakyat
PENERJEMAH : Heri Purwosusanto
CETAKAN : 2010
TEBAL : 270 + xxix halaman
Mimpi Carter
SOAL PALESTINA
Minggu, 29 Agustus 2010 Selamat Datang | Register | Sign In cari
Jeda Padamu Negeri Puisiku Ceritaku Mata Air Novel Cakrawala Muasal Cerber Resensi
muslimah.or.id
ilustrasi
Penulis: Jodhi Yudono | Editor: Jodhi Yudono | Sumber : ANT Dibaca : 58249
Sent from Indosat BlackBerry powered by
"Perempuan (Melepas) Jilbab" Diluncurkan
Rabu, 25 Agustus 2010 | 05:48 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com —Buku Psychology
of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas)
Jilbab yang ditulis psikolog dari Universtas
Persada Indonesia, Juneman (27), diluncurkan
di Jakarta, Selasa (24/8/2010) sore. Acara
peluncuran itu dihadiri mantan Menteri
Pemberdayaan Perempuan Prof Dr Meutia
Hatta Swasono.
Menurut Juneman, buku tersebut berisi hasil
riset kualitas dirinya sebagai peneliti terhadap
subyek yang melepas jilbabnya dan lebih
menyoroti perempuan yang melepas jilbabnya (setelah sebelumnya mengenakan jilbab) dari
perspektif psikososial filosofis, dengan didukung teori psikologi kontemporer.
"Buku ini menghadirkan pergulatan atau dinamika kepercayaan eksistensial muslimah yang
melepaskan jilbabnya pada sebelum, sedang, dan sesudah melakukan tindakan itu," katanya.
Dia menambahkan, meskipun tidak berpretensi mewakili seluruh muslimah di Indonesia yang
melepas jilbab, buku ini dapat menggugah kearifan masyarakat sebagai pribadi dan ketika
dihadapkan pada fenomena ini.
"Buku ini juga mengandung muatan psikologi perkembangan, psikologi perempuan, psikologi spiritual,
dan psikologi sosial," ujarnya.
Juneman menegaskan, semua muslimah dalam penelitian di buku tersebut tetap menjadi seorang
muslim sampai mereka telah melepaskan jilbabnya saat ini, namun cara mereka menjadi muslim dan
lebih khusus cara memakai jilbab dan berjilbab beberapa kali diperdalam, diperluas, dan ditata
kembali.
Meutia Hatta Swasono dalam sambutan mengharapkan, kehadiran buku dapat meningkatkan
kesadaran masyarakat Indonesia untuk bisa memahami perbedaan dan pluralisme dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.
Sementara itu, Guru Besar UIN Syarief Hidayatullah Jakarta Prof Dr Siti Musdah Mulia, MA, yang
menulis kata pengantar dalam buku tersebut mengatakan, buku tersebut menarik untuk dibaca siapa
pun yang ingin mendalami jilbab.
Oleh karena itu, katanya, perlu membangun sikap apresiasi terhadap perempuan yang atas
kerelaannya sendiri memakai jilbab, sebaliknya juga menghargai mereka yang dengan pilihan
melepas jilbabnya.
Ketua LSM Jejaring Komunikasi Kesehatan Jiwa (Jejak Jiwa) selaku penyelenggara peluncuran
buku itu, dr G Pandu Setiawan, SpKJ mengatakan, Juneman sebagai penulis dan peneliti memiliki
kejelian memilih tema yang nilainya jauh lebih penting adalah apabila masyarakat melihat upaya ini
sebagai tawaran dialog berkelanjutan.
Font: A A A
Ada 100 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda
Ayo Taufik! Tinggal Selangkah Lagi
Luruskan Sejarah Kelahiran Soekarno
Gunung Sinabung Meletus
Mascherano Sudah di Barcelona
Chelsea Menang, Ancelotti Justru...
Nani Gemilang, MU Menang Lagi
» Selengkapnya
KOMPAS.com Cetak ePaper Bola Entertainment Games Tekno Otomotif Female Health Properti Forum Kompasiana Images Mobile KompasKarier PasangIklan GramediaShop
Terpopuler
Terkomentari
Terekomendasi
Kabar Palmerah
Home Nasional Regional Internasional Megapolitan Bisnis & Keuangan Olahraga Sains Travel Oase Edukasi English Archive Video More
"Þerempuan (Melepas) !llbab" ulluncurkan - kCMÞAS.com hup://oase.kompas.com/read/2010/08/23/03484226/Þerempuan.Me...
8/29/2010 7:17 AM
Forgot your password? Forgot your username? Create an account
Home Berita LKiS Resensi Buku Tentang LKiS Cara Transaksi Galeri Foto search...
Katalog Buku
Ekonomi
Filsafat
Islam Kritis
Kajian Perempuan & Gender
Komunikasi
NU dan Pesantren
Pendidikan
Sosial Budaya
Seri Dialog
Politik
Pustaka Tokoh Bangsa
Pustaka Sastra
Pustaka Populer
Pustaka Pesantren
Matapena
List All Products
Show Cart
Your Cart is currently empty.
latestnews
NGOBROL DENGAN GUS DUR
DARI ALAM KUBUR
BEDA PENDAPAT DI TENGAH
UMAT ; Sejak Zaman Sahabat
hingga Abad Keempat
OBAT HATI ; Menyehatkan
Ruhani dengan Ajaran Islami
INSPIRING RAMADHAN ;
Renungan Pencerahan di Bulan
Penuh Kemuliaan
MATA AIR PERADABAN ; Dua
Milenium Wonosobo
Populer
NGOBROL DENGAN GUS DUR
DARI ALAM KUBUR
BEDA PENDAPAT DI TENGAH
UMAT ; Sejak Zaman Sahabat
hingga Abad Keempat
OBAT HATI ; Menyehatkan
Ruhani dengan Ajaran Islami
INSPIRING RAMADHAN ;
Renungan Pencerahan di Bulan
Penuh Kemuliaan
MATA AIR PERADABAN ; Dua
Milenium Wonosobo
Home you are : Berita LKiS you are : Buku Baru you are : PSYCHOLOGY OF FASHION ; Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab
© 2010 Penerbit LKIS
Joomla! is Free Software released under the GNU General
Kontak Kami
PSYCHOLOGY OF FASHION ; Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab
Kode Buku : B0492
Judul Buku : PSYCHOLOGY OF FASHION ; Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab
Penulis : Juneman
Kata Pengantar : Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., A.P.U. & Dra. Tiwin Herman, M.Psi.
Epilog : Afrizal Malna & dr. G. Pandu Setiawan, Sp. K.J.
ISBN 10 : 979-25-5325-8
ISBN 13 : 978-979-25-5325-3
Halaman : xxxiv + 398 hlm
Kertas / Ukuran : HVS / 14,5 x 21 cm
Cetakan : I, Juli 2010
Katagori : Sosial Humaniora
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Harga : Rp. 72.500,-

“Ide-ide dan penjabaran di dalam buku ini tidak bermaksud menyandera pembacanya dalam konteks
keilmuan saja, tetapi memberikan perspektif telaah yang humanistik, tanpa pretensi. Layak sebagai referensi pencerahan batin &
pengayaan berpikir, supaya tidak tersesat dalam labirin kecurigaan, ketidaktahuan, & akusasi.”
—dr. Nova Riyanti Yusuf. Psikiater, Anggota Komisi IX DPR RI, Novelis, Scriptwriter
“Buku ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki penghayatan personal dalam menjalani pengalamannya, termasuk pengalaman
beragama. Sebuah usaha yang layak diberi apresiasi.”
—Dr. Bagus Takwin, M.Hum. Manajer Riset Fakultas Psikologi UI, Penulis Buku & Novel
“Penulis menggambarkan melalui analisis kualitatifnya: Selama seseorang tidak melalui tahap-tahap kepercayaan eksistensial,
diragukan bahwa ia mengenal hakikat dirinya sendiri... Spirits rebellious dalam kasus-kasus buku ini hendaknya dimengerti dalam
konteks pertumbuhan, yang justru akan menjadi dangkal jika dibaca sebagai alas justifikasi simplistik bagi muslimah yang berjilbab
untuk melepaskan jilbab.”
—Dr. Ahmad Zubaidi, M.Psi., Psikolog, Wakil Ketua Program Magister Psikologi UPI YAI Jakarta, Psikolog alumnus UGM
“Dalam ilmu psikologi bisnis telah mengemuka kajian mengenai intercultural sensitivity yang memberi kita pengertian betapa kepekaan
semacam itu sangat penting dikembangkan dalam rangka kondusivitas, sustainabilitas, dan produktivitas suatu institusi bisnis seperti
perusahaan. Penulis buku ini telah mengambil bagian dalam konteks tersebut dengan membagikan pengalaman belajarnya dari
muslimah yang melepas Jilbab”
—Djati Adi Wicaksono, M.Inf.Sys.(Griffith), Manajer Sistem Informasi PT. Indika Energy, Tbk.
“Kehadiran buku ini kami sambut dalam rangka pengembangan wacana psikologis yang ilmiah dan dialogis dalam masyarakat
Indonesia yang plural dan multidimensional.”
Drs. Lukman S. Sriamin, M.Psi., Psikolog, Ketua Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah DKI Jakarta 2005-2008

Copyright © 2000-2009 PT LKIS Pelangi Aksara, Email: lkis@lkis.co.id
Kantor Pusat :
Jl. Parangtritis Km. 4,4, Salakan Baru No. 1, Sewon - Bantul - JOGJAKARTA, Telp. (0274) 387 194 Fax. (0274) 379 430
Kantor Perwakilan Jabotabek:
Jl.Desa Putra RT. 04 RW. 06 No. 73, Srengseng Sawah - Jagakarsa - Jakarta Selatan, Telp/Fax. (021) 7889 0304
Kantor Perwakilan Jawa Timur:
Perumahan Graha Sejahtera Blok G-2 RT. 04 RW. 09, Jl. Tirtomulyo - Klandungan - Landungsari - Dau - Malang - Jawa Timur Telp : (0341) 461 878
ÞS?CPCLCC? Cl lASPlCn , lenomena Þerempuan (Melepas) !llbab hup://www.lkls.co.ld/lndex.php?opuon=com_conLenL&vlew=arucle&...
8/29/2010 1:43 ÞM
jejaring komunikasi kesehatan jiwa
the indonesian mental health network
Acara Peluncuran dan Ulas Buku
Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan [Melepas] Jilbab
Selasa, 24 Agustus 2010, di Jakarta

Buku ini berisikan hasil riset kualitatif
penulis/peneliti terhadap para subjek yang melepas
jilbabnya. Buku ini lebih menyoroti fenomena
perempuan yang melepas jilbabnya (setelah
sebelumnya mengenakan jilbab) dari perspektif
psikososial filosofis, dengan didukung oleh teori-
teori psikologi kontemporer. Buku ini menghadirkan
pergulatan atau dinamika kepercayaan eksistensial
muslimah yang melepaskan jilbabnya pada sebelum,
sedang, dan sesudah melakukan tindakan itu.
Meskipun tidak berpretensi mewakili seluruh
muslimah di Indonesia yang melepas jilbab, buku ini
menggugah kearifan kita sebagai pribadi dan
masyarakat ketika dihadapkan pada fenomena ini.
Buku ini mengandung muatan psikologi
perkembangan, psikologi perempuan, psikologi
spiritual, dan psikologi sosial.


Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., A.P.U.
Buku yang terbuka di hadapan pembaca, setahu saya, adalah buku pertama mengupas secara
tuntas fenomena melepas jilbab di kalangan perempuan Islam. Menariknya, buku ini ditulis oleh
seorang Sarjana Psikologi, Juneman .... Buku ini menjadi penting dibaca oleh siapapun yang
ingin mendalami soal jilbab. Perlu membangun sikap apresiasi terhadap perempuan yang atas
kerelaannya sendiri memakai jilbab, sebaliknya juga menghargai mereka yang dengan pilihan
bebasnya melepas atau membuka kembali jilbabnya. Bahkan, juga mengapresiasi mereka yang
sama sekali tidak tertarik memakai jilbab. Itulah pesan psikologis dari buku ini.

dr. Pandu Setiawan, Sp.K.J.
Penulis (sekaligus peneliti)-nya, Juneman, memiliki kejelian memilih tema …. Nilai yang jauh
lebih penting adalah apabila kita melihat upaya ini sebagai tawaran dialog berkelanjutan dan
pemicu kuat untuk mencoba memahami proses-proses intrapsikis yang sangat halus nuansanya.

Afrizal Malna
Buku Juneman ini membawa saya ke dalam dialog yang luas dan terbuka antara wacana-wacana
teologis dan antropologis. Sejumlah biografi kecil dari beberapa perempuan yang menghadapi
arus yang terkesan saling bertolak belakang antara “berpakaian teologis” atau “berpakaian
eksistensialis”, diturunkan dalam buku ini seperti membaca kisah-kisah kecil yang seringkali
tidak terdengar di antara suara-suara besar.
ISBN 978-979-25-5325-3
Cetakan Juli, 2010
xxxiv + 398 halaman; 14,5 x 21 cm

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->