Anda di halaman 1dari 12

!

""""" #

cari

KOMPAS.com Cetak ePaper Bola Entertainment Games Tekno Otomotif Female Health Properti Forum Kompasiana Images Mobile KompasKarier PasangIklan GramediaShop

Home Nasional Regional Internasional Megapolitan Bisnis & Keuangan Olahraga Sains Travel Oase Edukasi English Archive Video More

Home

KEBINEKAAN
Penyeragaman yang Menyusup
Jumat, 27 Agustus 2010 | 03:33 WIB

Upaya meminggirkan mereka yang berbeda belakangan ini menjadi kegundahan banyak anggota
masyarakat karena Indonesia adalah ”berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Namun, menurut penelitian tim dari Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan
Rahima, gerak penyeragaman tersebut sudah terjadi setidaknya sejak tahun 2007-2008. Jalur yang
digunakan salah satunya melalui pendidikan di sekolah.

Farha Ciciek, pemimpin penelitian beranggotakan lima peneliti tersebut, menemukan, kelompok-
kelompok konservatif dan radikal keagamaan bersifat nasional ataupun transnasional menggunakan
sekolah, terutama kegiatan ekstrakurikuler kerohanian, sebagai tempat menyosialisasi nilai dan
praktik menolak keberagaman, mengembangkan kepatuhan tanpa nalar kritis, mengajarkan
kebenaran tunggal, cenderung mengembangkan sentimen keumatan dan kurang pada rasa
kebangsaan dan kemanusiaan, menolak yang berbeda, dan mendiskriminasi perempuan.

Penelitian dilakukan di 30 SLTA, terutama SMAN, SMKN, termasuk madrasah aliyah negeri. Dalam
pemaparan penelitian pada acara penganugerahan Saparinah Sadli Award, Selasa (24/8) di
Jakarta, Ciciek mengatakan, praktik tersebut juga ditemui di SMAN terkemuka di kota-kota
penelitian. Penelitian dilakukan di Jakarta, Pandeglang, Cianjur, Cilacap, Yogyakarta, Jember, dan
Padang.

Penelitian dilakukan awalnya untuk mengetahui praktik diskriminasi jender di sekolah. ”Tetapi, Terpopuler
sejumlah guru, terutama guru agama, orangtua murid SLTA, anggota ormas agama, dan aktivis
lembaga swadaya masyarakat mengeluhkan perilaku ’aneh’ yang menggelisahkan di rumah dan di Luruskan Sejarah Kelahiran Soekarno
Detik-detik Meletusnya Gunung...
sekolah,” tutur Ciciek.
Ibra: Guardiola Minikamku
Balotelli Kecelakaan
Di antaranya, siswi-siswi sebuah sekolah teladan di Yogyakarta dilarang tampil dalam acara
Ayo Taufik! Tinggal Selangkah Lagi
kesenian sekolah dengan alasan suara adalah aurat. Ada pula ibu yang merasa tak mengenali Gunung Sinabung Meletus
anaknya lagi karena si anak tak mau berhubungan dengan ibunya karena si anak menganggap iman
ibunya tak sebaik si anak. ”Ada juga ’anak yang hilang’ yang diakui juga oleh Kementerian Agama,” » Selengkapnya

kata Ciciek. Terkomentari

Terekomendasi
Diskriminasi
Kabar Palmerah

Aksi-aksi tersebut, demikian Ciciek, melahirkan diskriminasi jender dengan legitimasi agama.
Diskriminasi itu dilembagakan melalui organisasi resmi sekolah, yaitu kegiatan ekstra kurikuler
keagamaan, tecermin dari struktur dan kultur organisasi serta materi ajar yang disampaikan dalam
bentuk buku, majalah, selebaran, hingga VCD film. TANAH AIR
Merajut nusantara melalui
Siswi, misalnya, tidak boleh mengetuai organisasi ekstrakurikuler, perempuan hanya boleh liputan khusus berita dan
video
memimpin perempuan, suara perempuan di ruang publik dianggap aurat, pemisahan ketat ruangan
antara siswi dan siswa, pembedaan peran dengan penekanan peran domestik/rumah tanggal untuk
siswi. ”Pembedaan ruang dengan memakai tabir itu dilakukan di sekolah umum teladan,” kata Ciciek. KOMPAS ePaper
Koran digital dengan
Menghadapi kemunduran dalam penghargaan atas kesetaraan jender tersebut, ajakan Rahima pembaca terbanyak di
kepada organisasi kemasyarakatan ikut serta menyosialisasikan keberagaman, kesetaraan dan Indonesia
keadilan mendapat tanggapan baik. Begitu juga respons Kementerian Agama serta Pemerintah
Provinsi DI Yogyakarta. Yang responsnya belum menggembirakan adalah Kementerian Pendidikan
Nasional. ”Mereka beralasan, pendidikan urusan daerah setelah otonomi daerah,” kata Ciciek. KOMPASKita

Rubrik untuk membuka ruang

$ % &%
! """"" #

Ke depan, menurut Ciciek, jejaring masyarakat sipil harus dikuatkan dan introspeksi pada interaktif pembaca,tokoh,dan pengelola media.
pendekatan selama ini. Dia menyebut, masukan dari mereka yang pernah berada di dalam jaringan
konservatif, ide pembebasan perempuan sangat memukau, tetapi secara praktis ”kurang berhati”.

”Meskipun ide yang ditanaman keras, teman itu menyebutkan, pendekatannya sangat lembut,
merangkul, memanusiakan; pendekatan kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan pribadi. Dia
dianggap anggota keluarga, dibantu mengatasi segala kesulitan, mulai dari uang sekolah/kuliah,
sampai dicarikan jodoh,” tutur Ciciek.

Intinya, demikian Ciciek, ide konservatif yang mendiskriminasi itu menyusup tanpa kita sadari
karena melalui jalur pendidikan. Kegiatan ekstrakurikuler itu mendapat dana untuk kegiatan mereka
dari sponsor perusahaan swasta/bisnis, orangtua, hingga sekolah/negara.

Awalnya sekolah merasa terbantu sebab menganggap kegiatan tersebut sebagai penangkal dari
narkoba dan tawuran. Apabila tadinya hanya ditularkan melalui kegiatan ekstrakurikuler keagamaan,
perlahan diadopsi kegiatan inti sekolah, antara lain melalui aturan seragam sekolah, bahkan di SMA
dan SMK, kemudian ke rumah dan ruang publik lain.

Keragaman

Berbagai upaya penyeragaman terebut tidak terbatas pada satu kelompok dominan, tetapi juga di
dalam kelompok minoritas, termasuk yang berbasis agama.

Meski demikian, dinamika masyarakat saat ini yang masih memberi ruang keragaman pemikiran
bukanlah hal yang terberi, tetapi harus dipelihara dan dijaga. Seperti saat peluncuran buku
Psychology of Fashion, Fenomena Perempuan (Melepas) Jilba (LkiS, 2010) pada Selasa (24/8).
Buku hasil penelitian kualitatif pada empat perempuan di empat kota di Jawa untuk program S-1
Psikologi ditulis Juneman. Dia mengajak memahami dan menghargai keragaman di masyarakat. Di
tengah tingginya semangat di masyarakat agar perempuan mengenakan jilbab, demikian Juneman,
pilihan narasumber penelitian melepas jilbab tidak dapat diartikan berkurang keimanannya.

Musdah Mulia, pembahas buku, mengingatkan, dalam fikih perbedaan pemikiran adalah
keniscayaan. Dia mencontohkan perempuan sufi Rabiah Addawiyah yang memberikan hidupnya
bagi Tuhan, tanpa pamrih pada surga-neraka. Itu memotivasi berlomba pada kebaikan dan tidak
mengklaim kebenaran tunggal. (NMP/MH)

Font: A A A

Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

Kirim Komentar Anda


Nama

Email

Komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak
untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

More: Index Berita Info Kita Surat Pembaca Berita Duka Seremonia DKK Matahati Tanah Air Kompas Kita Kompas AR Kompas Dakode
Kompas Widget Kompas Apps Kabar Palmerah RSS Feed

About Kompas.com | Advertise with us | Info iklan | Privacy policy | Terms of use | Karir | Contact Us | Kompas Accelerator For IE 8
© 2008 - 2010 KOMPAS.com — All rights reserved

$ % &%
!""!"" " #!#

HOME NASIONAL MALAYSIA & INTERNASIONAL EKONOMI & ENERGI POLITIK & HUKUM RAGAM KHASANAH TOPIK AKTUAL FOKUS ISU POKOK & TOKOH
OTOMOTIF BURSA FOTO BUKU GAYA HIDUP CITIZEN JOURNALISM OPINI RUMOR & FAKTA INDEKS

Jilbab di Tengah Modernitas 15/01/2011 06:08 WIB | Indeks


Rabu, 12 Jan 2011 09:24 WIB
BERITA TERKAIT
Pada akhir tahun 1970-an, jilbab membanjiri pola kehidupan masyarakat Memangnya Kenapa Kalau Aku Berjilbab?
dunia. Globalisasi jilbab ini tak lain karena lahirnya revolusi Iran yang
Jilbab Kok Gitu? Koreksi Jilbab Indonesia
dikomandoni Imam Khomeini pada akhir 1970-an. Salah simbol kemenangan
Kehidupan 1 Perempuan Bersama 14 Laki-Laki
Khomeini adalah mengenakan jilbab bagi para pendukungnya, bahkan
kemudian dijadikan legitimasi politik Islam yang dipimpinnya. Berjilbab Menguak Kehidupan Para Pecandu Seks dan
akhirnya menjadi trend umat manusia, bukan saja umat Islam, sebagai Membangun Kesadaran Baru
bentuk eksentrik lahirnya peradaban baru dunia. Sampai-sampai Emha Korupsi Dalam Sebuah Kisah
Ainun Najib membuat puisi bertajuk “lautan jilbab” yang melihat Indonesia Berakhirnya Era Pelarangan Buku di Indonesia
juga kebanjiran trend dunia dalam mengenakan jilbab.

Trend berjilbab ini menjadi ideologi global yang berbaur dengan gejolak
politik global menjelang akhir abad ke-20. Ragam berjilbab manusia ini juga
melahirkan gerak trend global baru pada awal abad ke-21 yang menjelajahi dunia bahwa tanpa jilban pun, manusia bisa
melesakkan tradisi berperadaban. Jilbab bukan lagi sebagai trend ideologis, melainkan sebuah trend budaya yang telah
berjalan pada dasawarsa sebelumnya. Buku bertajuk “Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab” ini
berupaya melihat trend melepas jilbab bukanlah sebagai “pembangkangan” dalam beragama, tetapi sebagai sebuah trend
global yang niscaya.

Penulis melihat bahwa kewajiban berjilbab bukanlah simbol bagi perempuan. Banyak lelaki di Timur Tengah yang berjilbab
layaknya perempuan. Berjilbab merupakan psikologi manusia dalam menyesuaikan diri dengan konteks jamannya. Setiap
jaman memberikan tanda dan jawab sendiri, sehingga anak manusia harus mempunyai kreativitas psikologis yang
memberikan daya elastis dalam menjawab tanda jaman. Jilbab merupakan tradisi dalam berbudaya, bukanlah khitab agama
yang mengharuskan perempuan memakainya.

Perempuan postmodern saat ini biasa dengan melepaskan jilbabnya. Sekali lagi, bukan berarti membangkang atas ajaran
agama, tetapi memang jilbab merupakan trend global yang dipengaruhi jalan politik. Tidak berjilbab mencoba
mempertaruhkan jiwa psikologisnya dalam suatu aliran gerak organisasional. Pertaruhan ini akan menjadi sebuah gerak baru
ideologis yang mematahkan lautan jilbab sebagai jalan politik yang coba dilanggengkan para aktornya. Para pendukung
lautan jilbab pastilah menggunakan banyak argumentasi agama untuk melegitimasi jalan politik jilbabnya dalam mencuri hari
konstituen politik yang sedang dijalaninya.

Tak berjilbab dengan demikian menjadi “tradisi tanding” yang mencoba bergerak melakukan dekonstruksi atas kemutlakan
yang dijalankan secara sewenang-wenang. Kesewenangan dalam berjilbab sudah tidak relevan lagi di tengah laju kehidupan
kontemporer, selain karena lemah dalam argumentasinya, juga karena diselingi jalinan politik yang berada dibalik layar.
Tradisi tanding ini bisa menjadi trend global abad ke-21 yang mendekontruksi jelajah rezim lautan jilbab yang dikomandoni
Iran.

Penulis melihat fakta mutakhir terus memperlihatkan bahwa fenomena melepas jilbab telah melepaskan fanatisme beragama
dan berpolitik. Beragama dan berpolitik tidak lagi dimaknai secara monilitik, saklek dan logisentris. Tetapi beragama yang
ramah, toleran dan penuh penghargaan.

____________________________

udul buku : Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab


KATA KUNCI POPULAR

Penulis : Juneman
Buku Bursa Citizen Journalism
Ekonomi & Energi Fokus Isu
Peresensi : Siti Muyassarotul Hafidzoh (Peneliti CDIE UIN Sunan Kalijaga) Gaya Hidup Khasanah
Penerbit : LKiS Yogyakarta Malaysia & Internasional
Nasional Opini Otomotif Pokok
Tebal : 298 halaman
& Tokoh Politik & Hukum
Cetakan : I, November 2010 Ragam Rumor dan Fakta Surat
Pembaca Topik Aktual
Kata Kunci
Buku jilbab Modernitas
Powered by Translate

Kirim komentar baru

Nama anda: *

E-mail: *

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Homepage:

Komentar: *

" $ " "# !"" # %& '


!"! !# $ % % % % %

Home Paper Edition Weekender Youthspeak Study abroad Login Register

News & Views Headlines National Archipelago Business Jakarta World Sports Opinion Readers' forum Site Map

Sunday, August 29, 2010 07:18 AM Follow us on Search GO

NATIONAL More National News

To veil or not to veil, Islamic women face tough choices Population boom spells multi-sectoral
Dina Indrasafitri, The Jakarta Post, Jakarta | Thu, 08/26/2010 9:40 AM | National A | A | A | bust for RI
Edmond points finger at Raja in Gayus’
When Wina decided to shed her jilbab, the headscarf symbolizing, for most people, a woman’s commitment to case
Islam, her husband commented, “It’s up to you, but it’s degrading.”
Govt tries to improve conversion
program
She said some of her colleagues at work started gossiping and were cynical toward her following her decision to
remove the scarf after three years wearing it. Compost ‘not helping’ urban trash
woes
Wina, a thirty something Jakarta resident, had been one of the subjects in the book “Psychology of Fashion”: Press Council questions ‘Playboy’
Fenomena Perempuan Melepas Jilbab (Psychology of Fashion: The Phenomenon of Women Removing Their court ruling
Jilbab), launched Tuesday in Jakarta. PTTEP: ‘No verifiable proof’ for RI oil
spill claim
The author, Juneman, a psychologist from the University of Persada Indonesia, interviewed three other women
more
who also decided to shed their headscarves.

The choice was often met with shock and criticism — some soft and others openly harsh — from their friends and Paper Edition
family.
House, govt call for calm over border
Intan, a citizen from West Java, said she had a long argument with her mother after deciding to take off her veil and dispute
said her mother accused her of being “wishy-washy”.
Hatta says no reason for Idul Fitri food
In the book, Intan recalled her mother’s words: “See? I told you so. You didn’t have to [wear a jilbab] now you’re
shortages
embarrassed, right?” KPK to have more authority in money-
laundering probes
The book revealed that social institutions and peer groups often play a large part in influencing a woman’s decision Police warn travelers of fickle weather
to wear the Islamic head-scarf. And they are quick to react to women’s decision to remove it regardless of the fact
15,000 expected to attend service in
that such a decision is a private one.
support of pluralism
“I often get comments on my Facebook page, saying that I would look prettier in a jilbab ,” said Tia — not her real more
name — who attended the book launch.

The woman in her thirties said that despite similar nudges from friends and colleagues, she would still put off
donning a scarf.

Four of the women in the book said they were encouraged to wear the head scarf by institutions such as religious
organizations and schools, and by male figures.

Intan in particular recalled her public junior high school teacher teaching students that women who refused to wear
the jilbab were bound to hell.

The women interviewed in the book shared their various reasons behind their decision to remove their jilbabs. Tari
from West Java was disillusioned by the election process for the head of the women’s division of her campus’
religious group. She said rumor was rife that candidates had to wear the very conservative hijab, which covers
more than just the head and shoulders.

“This is not right. How come a woman’s worth is judged by the size of her jilbab,” she said.

Lanni from East Java said that one of her reasons was having her heart broken by the man who encouraged her to
wear a jilbab. While for Intan, studying Hindu and Buddhist philosophy during college had been one of the
antecedents.

Juneman said the reason to shed the jilbab fell into two categories: the feeling that one is not “enlightened” or
pious enough to wear one, or, on the contrary, feeling that they are already enlightened thus felt that the attire was
unnecessary.

Three of the women said they felt more comfortable after taking off their jilbabs, and two said they may return to
wearing the headscarf again in the future.

" # & !"! ' "$ ()


!"! !# $ % % % % %

All of the four women had finished undergraduate degrees and were living in major cities when Juneman conducted
the book’s research in 2007. When he first announced he needed subjects for the research over the Internet, more
than 10 women expressed their interest over the one month waiting period.

“The nature of this research [qualitative], is not a representative one,” Juneman said.

Siti Musdah Mulia of the Conference For Religion and Peace said that it was only after the 1980s
that jilbabs became a major phenomenon in Indonesia, and the movement had grown more significantly in public
schools rather than religious ones.

“For pesantren [Islamic boarding school] students, the headscarf was just considered as part of the uniform, there
were no talks of hell for those not wearing jilbabs there,”
she said.

Siti added that there were other changing habits regarding how people viewed religion. For example, in the past
there were no unwritten rules that lectures should pause during the call to prayer.

She illustrated less rigid methods of wearing jilbab that she encountered during her student days at a university in
Cairo.

“Some female students only put on their scarves in class,” Siti said.

Some regions, which won autonomy since the fall of Soeharto’s centralist government, have imposed Islamic dress
codes on women.

In some regions, such as several parts of Aceh, failure to adhere to these codes can lead to punishment under
sharia law.

Related News >>


Ramadan: Suddenly religious
Issue: ‘Islam without veil’
Islam without veil
Malaysian women: Caning was opportunity to repent

Post Comments | Comments (0) | | | | | | | |

Life Sci-Tech Environment Body & Soul Art & Design Culture Lifestyle Entertainment People Features
News & Views Headlines National Archipelago Business Jakarta World Sports Special Report Opinion Readers' forum

Home Company Profile Online Media Kit Print Media Kit Weekender Media Kit About Us Contact Us Site Map
Copyright © 2008 The Jakarta Post - PT Bina Media Tenggara. All Rights Reserved.

# & !"! ' "$ ()


!"#$$"

Home Tentang SI Tim Redaksi Berlangganan Hubungi Kami Company Profile 2010

search... Go!
Index Berita Selengkapnya Dapatkan account e-mail gratis @sindotechno.net Daftar Check e-mail
News

Berita Utama
Fenomena “Perempuan (Melepas) Jilbab”
Budaya Sunday, 24 October 2010
Cerpen & Puisi
Ekonomi & Bisnis ITU adalah sebuah judul buku yang ditulis oleh seorang sarjana psikologi bernama Juneman dan
International diterbitkan oleh PT LKIS Printing Cemerlang,Yogyakarta. Ketika buku itu akan di-launching, Juneman
Megapolitan meminta pendapat saya, bagaimana baiknya.
Nusantara
Nasional
Apakah buku ini diteruskan terbit atau ditunda atau bahkan dibatalkan saja. Pertanyaan yang sangat
Opini
masuk akal melihat betapa di Indonesia ini orang bisa dilempari batu atau bahkan ditusuk hanya
Politik & Hukum
Periskop karena melakukan sesuatu yang menurut sekelompok orang tertentu bertentangan dengan apa yang
Polling & Analisis menurut mereka melanggar syariat agama, misalnya membangun rumah ibadah, berdoa atau
Quote of The Day berbusana secara tertentu.Di Aceh misalnya,perempuan bisa ditangkap polisi syariat hanya
Mirror gara-gara pakai jins dan baju ketat walaupun berjilbab.
Resensi Buku
Padahal busana seperti itu sangat umum di Jakarta. Ketika saya jadi pensyarah pelawat (istilah
Sports
Malaysia untuk: dosen tamu) di Universiti Malaya (UM), saya bermukim di Kuala Lumpur selama satu
Bola Manca semester. Menurut pengamatan saya,suasana keberagamaan di Malaysia lebih kental dari di
Bola Nasional Indonesia. Semua bumiputra (istilah Malaysia untuk pribumi) identik dengan muslim. Kalau di Kampus
Ragam Sport UI Jakarta kita masih bisa lihat cowok-cowok nongkrong di kantin pada saat salat Jumat, di UM
LifeStyle
kantin-kantin bersih dari cowok bumiputra pada saat seperti itu.

Halaman utama Bahkan saya agak tercengang ketika mengetahui bahwa beberapa rekan profesor saya berpoligami.
Automotive Sayang sekali kontrak saya terlalu singkat dan saya pun membawa istri saya ke Malaysia. Kalau
Fashion saya sendirian di sana, mungkin saya akan minta kontrak saya diperpanjang sampai waktu yang
Family
tidak terbatas. Saya tercengang karena selama ini mengira bahwa yang boleh berpoligami hanya
Syariah
para sultan dan bangsawan saja, sebagai privilege yang dibenarkan oleh adat,bukan agama.
Food
Home & Garden
Office solution Ternyata bukan begitu.Ternyata memang orang Malaysia menjalankan agama sesuai dengan syariat
Movie & Music Islam,bukan sekadar adat.Saya tanyakan hal ini kepada mahasiswa-mahasiswa saya, lakilaki
Kesehatan maupun perempuan. Saya tambah heran karena juga buat mereka poligami adalah hal yang
Kolom biasa-biasa saja. Di antara mereka cukup ramai (bahasa Malaysia untuk: banyak) yang lahir dari
Pendidikan keluarga poligami dan ketika saya tanya apakah mereka nanti akan berpoligami (buat yang laki-laki)
Ragam atau mau dimadu (buat yang perempuan), jawab mereka,“Mungkin saja.
Selebriti
Techno ”Alasan dari mahasiswi,“Daripada suami saya berzina ....”Subhanallah ... alangkah bahagianya orang
Travel
Malaysia. Semuanya ahli surga. Namun dalam hal busana, mereka justru lebih santai daripada yang
Trend & beauty
diharuskan oleh kelompok tertentu di Indonesia. Di dekat apartemen tempat kami tinggal ada sebuah
Karier
Energi
restoran tempat kami makan malam kalau istri saya sedang malas memasak.Salah satu pelayannya
Properti berjilbab, tetapi mengenakan jins (dengan kantong di bokongnya menggelembung karena ada
Remaja HP-nya) dan kaus ketat tangan pendek.

Daerah Saya pun yang Islamnya biasa-biasa saja (paling setengah- tingkat lebih tinggi dari pada Islam KTP)
Jawa Barat merasa disonan (bahasa psikologi untuk: heran) karena sepengetahuan saya, yang namanya aurat
Jawa Tengah & DIY perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali telapak tangan dan wajahnya (bahkan wajah pun kadang
Jawa Timur harus ditutup karena termasuk aurat). Jadi baju perempuan, walaupun kaus, ya harusnya tangan
Sumatera Utara panjang, dong. Begitu pikir saya. Namun disonansi saya tidak lama.
Sumatera Selatan
Sulawesi Selatan Setelah saya tinggal beberapa hari di Kuala Lumpur, saya melihat cukup banyak perempuan
bumiputra di mal (bukan di kampus) yang tidak berjilbab walaupun berbaju muslim.Saya juga melihat
VALAS cewek-cowok pacaran di mal, pegangan tangan, duduk berdampingan rapat-rapat, berangkulan, dan
sebagainya sebagaimana layaknya cewek-cowok pacaran di mal-mal Jakarta, padahal mereka tetap
berjilbab.
KURS JUAL BELI
Bahkan saya pernah menyaksikan serombongan ABG perempuan di tempat parkir di basement
berlarian sambil tertawa- tawa menuju pintu masuk mal.Khas perilaku ABG-lah di mana pun di dunia
USD 9050.00 8850.00 ini. Bedanya adalah bahwa mereka berhenti sejenak di depan sliding door mal,copot jilbab masing-
SGD 6961.85 6780.85 masing, memasukkan jilbab ke ransel,dan melanjutkan berhamburan masuk ke dalam mal.Sejak itu
AUD 8874.65 8642.65 saya berkesimpulan bahwa ternyata jilbab di Malaysia hanya bagian dari aksesori busana yang
JPY 112.08 108.52 lazim, tetapi tidak harus dipakai. Sesuai selera dan situasi dan kondisi saja.
*** Berbeda sekali dengan pengalaman saya di Arab Saudi.Ketika saya bekerja sebagai konsultan
22-Okt-2010 / 09:03 WIB
untuk sebuah perusahaan elektronik Indonesia yang mengerjakan proyek di Mekkah dan Madinah
(1980) maupun ketika saya berhaji dengan istri saya (1995),saya melihat semua perempuan Arab
Saudi berjilbab dan bercadar. Bukan sembarang jilbab dan cadar,melainkan jilbab lebar hitam dan
cadar pun hitam.

Jadi di Arab sana,tidak ada fashion-fashion busana muslim seperti di Indonesia yang walaupun
berjilbab, masih bisa tampil sensual. Karena itu saya pikir tadinya di Arab Saudi perempuan berjilbab
benar-benar karena faktor agama. Apalagi saya sering melihat formasi keluarga Arab ketika sedang
berjalan-jalan di tempat-tempat umum di Arab Saudi. Sang bapak jalan paling depan, ibu berjalan

% & %' &$ &'%' %' !# ()


!"#$$"

beberapa langkah di belakangnya, lengkap dengan jilbab-lebat-tutuprapat- hitamnya, sambil


menggandeng dua atau tiga anaknya.

Saya heran,bagaimana anak-anak itu bisa membedakan ibunya dari perempuan-perempuan lain
yang semuanya berjilbab-lebar-tutuprapat- hitam? Saya sendiri melihat perempuan-perempuan itu
sama saja. Kalau istri saya ada di antara mereka, saya pun tak tahu bagaimana mengenali istri
saya,kecuali saya panggil dan dia menjawab. Nah suara istri saya pasti saya kenal karena itulah
satu-satunya suara perempuan yang paling dekat di hati saya (di samping beberapa suara
perempuan lain yang juga dekat di hati saya).

Namun anggapan saya bahwa perempuan Arab berjilbab karena hakkul yakin akan agamanya sirna
ketika dalam suatu penerbangan dari Kairo ke Amsterdam (1976) sejumlah perempuan Arab
berjilbab- lebar-tutup-rapat-hitam bergantian masuk toilet dan keluar dari toilet mereka sudah buka
jilbab semua.Di bawah jilbab itu ternyata mereka memakai busana dan aksesori bermerek (waktu itu
sedang zaman oil boom, jadi orang Arab kaya-raya) dan wajah mereka cantik-cantik (wanita Timur
Tengah rata-rata cantik). Ternyata berjilbab atau tidak berjilbab hanyalah pilihan saja. Di Arab lebih
baik berjilbab, di Eropa lebih senang buka jilbab.

*** Karena itu, apa yang ditulis Juneman dalam bukunya Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab
tidak jauh-jauh dari realitas yang ada di seluruh dunia.Kasus-kasus yang diwawancarai dalam buku
Juneman semuanya memilih untuk membuka jilbab karena berbagai alasan. Persis sama dengan
ketika mereka memilih untuk memakai jilbab yang juga dengan berbagai alasan. Karena itu kata
“melepas” judul buku itu diberinya kurung.Artinya, kalau kita mau, kita bisa saja menggantinya
dengan kata “memakai” tanpa mengubah isi buku.

Soal pilih-memilih ini sebetulnya sangat manusiawi. Setiap hari manusia selalu melakukan pilihan.
Memilih mau nikah atau tunda nikah, pilih sekolah atau kerja, pilih makan di rumah atau di warung,
pilih baju, pilih kendaraan umum, pilih parpol atau presiden (dalam pemilu),dan seterusnya.Begitu
juga soal berbusana, pilih (melepas) atau (memakai) jilbab. Sama saja, hanya soal pilihan. Bahkan
pilih agama mana yang mau dianut atau mau pilih gak mau beragama sama sekali, itu sah-sah saja
karena pilihan memang menyangkut hak asasi manusia yang namanya “kebebasan”.

Dengan perkataan lain, orang yang terenggut kebebasan memilihnya sama saja dengan terenggut
salah satu hak asasinya. Termasuk kalau dia tidak boleh memilih agama atau kepercayaan atau
versi kepercayaannya. Masalah timbul ketika kebebasan yang hak asasi itu bertemu dengan hak
asasi orang lain yang bebas memilih juga,yang kebetulan saling bertentangan. Misalnya kalau
seorang perokok bertemu di satu tempat dengan orang yang nonperokok.Mereka pasti berbenturan
kepentingan, kecuali salah satu mau mengalah dan menyingkir.

Demikian juga kalau orang memilih agama atau busana dan orang lain tidak menyukainya, maka
akan terjadi konflik lagi,kecuali kalau salah satu bertoleransi (wanita wartawan CNN selalu
berkerudung dan berbaju tertutup kalau sedang meliput di Afghanistan atau Irak). Tidak (atau:
kurang) adanya toleransi dari sebagian masyarakat Indonesia inilah yang membuat Juneman
waswas ketika akan melaunching buku ini. Perasaan waswas ini bukan dialaminya sendiri, melainkan
banyak yang waswas kalau suatu persoalan sudah menyangkut masalah agama atau sesuatu yang
dianggap termasuk dalam kawasan agama.

Apalagi kalau untuk mencari jalan keluarnya (“duduk-bersama”) tetap saja digunakan dalil-dalil
agama (termasuk hukum syariat) karena hukum agama, seperti halnya setiap hukum lain, pada
dasarnya tidak toleran terhadap segala sesuatu yang di luar dirinya (pelanggaran hukum).Apalagi
kalau hukum agama tertentu harus diterapkan kepada orang lain yang tidak percaya pada agama itu
atau bahkan orang dari agama itu sendiri yang tidak percaya pada hukum-hukum agama yang itu.

Karena itu sebaiknya memang kalau sudah menyangkut hubungan dengan sesama manusia (hablum-
minannas), terutama kalau sudah menyangkut orang banyak, tidak terbatas pada kalangan sendiri
saja, kita gunakan hukum negara saja.Ada yang mengatakan,“ Loh, kok hukum Tuhan dianggap lebih
rendah daripada hukum negara yang bikinan manusia?” Tapi apa boleh buat,sebab Tuhan yang
membuat hukum itu benar memang Tuhannya sebagian orang tertentu,tetapi belum tentu diakui
(maaf) sebagai Tuhannya sebagian orang lain. Adapun hukum negara minimal diakui (walau tidak
selalu ditaati) oleh hampir seluruh bangsa ini.(*)

SARLITO WIRAWAN SARWONO


Guru Besar Fakultas Psikologi UI

Group Links :

Copyright © 2010 Media Nusantara Citra Group Tampilan terbaik pada resolusi 1024x768 pada browser FF1+, IE6+, Opr9+ Legal Disclaimer Privacy Policy

& & %' &$ &'%' %' !# ()


14 | Jendela Buku SABTU, 25 SEPTEMBER 2010 | MEDIA INDONESIA

Jilbab bukan Penakar Iman


Tidak perlu menghakimi keimanan seseorang ketika jilbab terlepas dari kepala.
Bagaimanapun, itu teritorium Tuhan.
parkan dalam buku ini, diakui matan kepada manusia dan
keempatnya merupakan upaya akomodatif terhadap nilai-nilai
‘pembacaan’ yang baik menge- kemanusiaan.”
nai fenomena yang terjadi di Buku yang tampil ‘serius’
masyarakat. dengan judul eye catching ini
Emmy Djatiningsih, calon dinilai semua peserta memberi-
peserta OPMI yang batal hadir kan pandangan komprehensif
Pada 18 September 2010, pembaca menuliskan komentarnya mela- mengenai fenomena perem-
Media Indonesia berkumpul untuk lui surat elektronik, “Buku ini puan melepas jilbab. Paling-
mendiskusikan buku Psychology membuka pandangan baru paling yang terasa sedikit mem-
of Fashion: Fenomena Perempuan ba gi saya, mudah-mudahan butuhkan perjuangan membaca
(Melepas) Jilbab yang diterbitkan bisa membuka wawasan me- ialah pemaparan teori-teori
Lembaga Kajian Islam dan Sosial ngenai pemaknaan jilbab. Ja- karena terkesan berat bagi
(LKiS). Kami membahas buku ini ngan sampai fenomena perem- orang awam. “Tapi itu pun
mengingat maraknya buku me- puan melepaskan jilbabnya perlu agar kita bisa memahami
ngenai jilbab dan perempuan, tapi menjadi sesuatu yang krusial dari sisi ilmunya,” tambah Ayu.
hampir tidak ada yang mengupas untuk diperdebatkan sehingga (M-4)
persoalan fenomena melepas jilbab kita melupakan esensi Islam.
dari aspek psikologis. Pendekat- Agama ini kan sangat mene- miweekend
an ini bisa memberi pemahaman kankan pentingnya penghor- @mediaindonesia.com
untuk menghargai pilihan-pilihan
individu dalam beragama, tanpa
harus menghakimi, mengingat saat
ini begitu mudahnya orang dituduh
kafir. Berikut adalah catatan Obrolan
Pembaca Media Indonesia menge-
nai buku tersebut. “Gue suka idenya, menarik. Karena
sebetulnya, melepas jilbab bukan
hal baru, tapi enggak banyak yang
mendekati persoalan ini secara in-
Vini Mariyane Rosya telektual.”
Feby Indirani
31 tahun, penulis dan

J
ILBAB memang tak seka- penerjemah lepas
dar kain penutup kepala.
Ada aspek psikologis, so-
MI/SUSANTO
siologis, sampai kultural,
ketika seseorang memutuskan BAHAS BUKU: Peserta Obrolan Pembaca Media Indonesia bersama Moderator Komunitas Good Reads Indonesia Lita Soerjadinata (tengah) seusai
berjilbab, pun ketika melepas- pembahasan buku Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab di Kantor Media Indonesia, Sabtu (18/9). Aku suka idenya, suka judulnya. Sebe-
nya. tulnya aku bukan penggemar buku non-
Juneman, psikolog lulusan begitu. Aku mikir, apa dengan Perempuan 31 tahun itu mikir kenapa juga diselamatin. anggap perempuan berjilbab fiksi jadi buku ini sedikit bukan tipeku.
Universitas Persada Indonesia membaca buku ini, aku bisa memang pernah mengenakan Saat udah lepas, ya terus dinilai lebih baik. Cowok-cowok ter- Mungkin bisa dibuat lebih populer.”
ini menggelontorkan perspek- berubah pikiran akan melepas jilbab tapi kini telah melepas- kemunduran. Banyak loh yang nyata senang cewek karena dia
tif segar di bukunya, berjudul jilbab,” kata perempuan ber- nya. “Setelah baca, ya aku me- berhenti tersenyum sama gue, pake jilbab, itu nyebelin,” ujar Didiet Prihastuti
Psychology of Fashion: Fenomena jilbab itu. rasa cukup terwakili dan sangat enggak mau nyapa lagi. Aduh, perempuan yang sempat ber- 28 tahun, karyawan
Perempuan (Melepas) Jilbab. Di Perasaan itu juga diakui terkoneksi dengan buku ini,” kok perempuan dikotak-ko- jilbab selama dua tahun itu. perusahaan swasta
antara maraknya buku-buku Chaeriwati (Eri) dan Puspa katanya. takkan begitu. Gue lepas jilbab Mendengar komentar Feby,
mengenai jilbab dan perem- Sari Ayu Yudha (Ayu). Ke- karena merasa lebih nyaman Eri tertawa. “Dan di buku ini,
puan, Juneman menawarkan duanya berjilbab dan merasa sekaligus menjadi protes gue keputusan empat perempuan
pandangan dari sisi psikologis penasaran dengan isi buku untuk kemunculan perda-per- mengenai jilbab mereka ber-
pelakunya, demi memahami tersebut. “Tapi setelah dibaca, da syariat,” katanya. hubungan dengan lelaki. Aku Aku suka ide dan cara menggambar-
keragaman manusia. aku justru makin yakin dengan Proses pelepasan jilbab Feby sempat mikir, kok dangkal bener kan subjek-subjeknya. Meski capek
Kebaruan itu diakui peserta pilihanku,” ujar Ayu. Dengan baca buku dilakukan secara bertahap. Plus ya,” ujarnya. membacanya, aku betul-betul bisa
Obrolan Pembaca Media In- Pendapatnya disambut ang- melalui fase kucing-kucingan Ayu menyambung, “Sebe- merasakan. Maksud si penulis benar-
donesia (OPMI), saat mendis- gukan mantap dari Eri. “Aku ini, aku belajar jangan dengan sang ibu. tulnya aku penasaran kenapa benar nyampe ke aku.
kusikan buku ini di kantor sendiri memakai jilbab sesuai segampang itulah “Nyokap pakai jilbab sete- dia (penulis) ambil ide ini. Puspa Sari Ayu Yudha
Media Indonesia, Sabtu (18/9). kebutuhan. Saat fitnes misal- lah haji. Dia enggak pernah Apalagi dia ini laki-laki. Jadi
Para peserta diskusi sepakat, nya, jujur saja ya, aku enggak menghakimi orang. maksa orang untuk pakai, tapi pengin tahu, apa pernah ada
25 tahun, anggota Good
Reads Indonesia
kebaruan ide penulis terletak pakai. Karena lebih nyaman Kalau ia melepas jilbab, dia selalu bilang kalau pakai alasan personal, misalnya ce-
pada penawaran konsep meng- enggak pakai,” kata Eri. ya jangan pernah buka. Ya weknya pernah lepas jilbab?
hormati pilihan, meski terkesan
jangan langsung bilang sudah, hampir tiga tahun gue Kok seakan-akan alasan cewek
kontroversial sekalipun. Terwakili itu degradasi.” ahli pakai jilbab di ojek atau pake jilbab adalah cowok,”
“Dengan baca buku ini, aku Perasaan khawatir di awal angkot. Sampai di rumah, keli- ujarnya.
belajar jangan segampang itu- membaca buku juga dialami Didiet Prihastuti hatan berjilbab padahal di luar Menurutku ide buku ini bagus dan baru.
lah menghakimi orang. Kalau Feby Indirani. “Tapi berbeda Peserta Obrolan Pembaca udah dilepas,” ujar Feby yang Pemahaman Hanya saja, di awal-awal buku, agak
ia melepas jilbab, jangan lang- dengan teman-teman yang meyakini jilbab ialah bagian Secara umum, empat peserta boring sih, karena penulisnya memberi-
sung bilang itu degradasi,” merasa khawatir jangan-jangan Feby pernah mengalami ‘te- dari budaya. OPMI mengaku mendapati pe- kan teori-teori. Ya, memang tergantung
ungkap Didiet Prihastuti, salah buku ini akan membuat ber- kanan-tekanan’ setelah me- Feby juga mengaku kenyang mahaman tentang bagaimana kebutuhan pembacanya, sih.
satu peserta diskusi. pikir ulang mengenai pema- lepas jilbab. “Pasti ada, lah. dengan pandangan lelaki atas menghargai pilihan-pilihan Chaeriwati (Eri)
Dia mengaku sudah deg- kaian jilbab. Aku sebaliknya, Pertama kali pakai jilbab pasti perempuan berjilbab. “Yang seseorang. Pengalaman-penga- 28 tahun, karyawan perusa-
degan ketika melihat sampul takut dihakimi,” ujar Feby lalu dikerumunin tuh, dikasih ucap- paling mengganggu ialah pan- laman perempuan yang me- haan swasta
buku. “Judulnya kan sudah tertawa. an selamat. La gue juga selalu dangan laki-laki yang meng- lepas jilbab mereka yang dipa-

JUNEMAN OBROLAN PEMBACA


Buku Bulan Oktober 2010
Bermula dari Empati “SEKARANG bagaimana aku harus mencari
Ratuku, di Jakarta yang gemerlap ini? Jadi
Bunuh Diri Massal 2008 (bersama Alanda Kariza)
serta Adriana: Di Nol Kilometer Cinta(bersama Ar-
SEJAK awal halaman buku tegasnya. sebagai upaya menghargai hal-hal yang sebetulnya sulit, aku bilang, kalau pacarku sekadar cantik, apa tasya Sudirman). Kisah-kisah Fajar merupakan
Psychology of Fashion: Feno- Menurut Juneman, persoal- keragaman manusia. memalukan, ingin disangkal bedanya aku dengan laki-laki pada rangkaian cerita yang lebih dulu
mena Perempuan (Melepas) an jilbab adalah persoalan “Saya memang mencermati bahkan traumatik. Dari kisah- umumnya? Jika tak kutemukan tersebar di internet, baik di akun
Jilbab, penulis Juneman me- yang akan terus hidup tidak beragamnya pemaknaan ter- kisah mereka, barangkali da- perempuan yang kuimpikan, akan Facebook-nya ataupun laman pribadi
negaskan karyanya sebagai tergerus masa. Isu jilbab, hadap jilbab. Ambil contoh, pat kita amini bahwa mereka kujual saja hatiku.” (I Didn’t Lose My www.sutradarakacangan.multiply.com.
buku psikologi, bukan buku lanjutnya, tetap hangat dan ungkapan-ungkapan seperti menampakkan kualitas diri se- Heart, I Sold It On eBay!) Media Indonesia mengundang lima
agama. sem pat ‘dimainkan’ dalam ‘jilbab pilihan busana’ atau- bagai perempuan-perempuan Gelombang buku kumpulan cer- pembaca untuk berpartisipasi dalam
“Awalnya adalah pengamat- arena politik elektabilitas saat pun ‘merendahkan jilbab’. tangguh yang berani ambil pen sedang lumayan tinggi bulan- Obrolan Pembaca Media Indonesia
an pribadi. Ada kenalan yang Pemilu 2009. Itu kan mengandung posisi walau tetap menempat- bulan ini. Antara lain Balada Ching untuk membahas karya Fajar ini.
mengeluh mengalami tekanan “Bahkan,
kan, kalau saja ada muatan makna de dengan kan dirinya sebagai ‘pejalan Ching yang ditulis Maggie Tiojakin Bagi yang berminat, silakan kirim
sosio-psikis, mulai dari tekan- yang menyadari
enyadari tinda- berbeda-
nuansa yang berb spiritual yang kreatif’, seka- sampai Un Soir du Paris, Satu Petang data diri melalui surat elektronik
an yang halus sampai keras, kan ‘penjilbaban
njilbaban beda. Pergum
Pergumulan ligus sanggup mempertang- di Paris karya 12 penulis Indonesia. ke miweekend@mediaindonesia.com
ketika mereka melepas jilbab perempuan’
uan’ pemaknaan para gungjawabkan kepercayaan Di antara semarak kumpulan cer- selambat-lambatnya Minggu(2/10).
dan berada di ruang publik,” (yang muslimat it itulah eksistensial mereka,” ujarnya. pen itu, kami pilihkan buku I Didn’t Kami akan mengirimkan buku
jelas Juneman melalui surat dito- yang saya hhadir- Untuk memahami penga- Lose My Heart, I Sold It On eBay! ini untuk Anda sebelum dibahas
elektronik, Kamis (23/9). lak ke- kan dalam pe- laman para muslimat itu dari karya Fajar Nugros yang diterbitkan Gramedia bersama pada Sabtu (16/10) di Jakarta. Kami
Dia mengakui, sejumlah empat nelitian iini.” sisi psikologi, Juneman ju- Pustaka Utama. Sebelum ini, Fajar yang juga tunggu ya!
perbincangan itu telah me- muslimatt D a l a m ga menguraikan psikologi sutradara film itu lebih dulu menulis, antara lain Redaksi
nimbulkan empati terhadap dalam pe- bukunya, perkembangan kepercayaan
beban teror ekstensial yang nelitian kua- June man eksistensial secara komple-
rutin dialami para muslimat litatif ini)
i) te- meng- mentaris-komprehensif. “Juga
pascapelepasan jilbab. lah terjadi
di pula aju kan
aj bisa untuk memahami dina- BUKU BARU
“Latar belakang saya ialah pada level el sosial e m - mika fundamentalisme ke-
psikologi. Saya bisa merasa- dengan diberlaku- p a t agamaan,” tambah anggota
Jejaring Komunikasi Kesehat-
The Last Ember mencengangkan: petunjuk tsurat
kan dan menilai hal-hal terse- kannya saf antrean rempuan
perem ha-hidah--teka-teki simbolis.
but bersentuhan langsung penumpang pang yang muslim yang me- an Jiwa Indonesia itu. JERUSALEM-Roma berjarak 1.600 Penemuan itu melontarkan ia ke
dengan kesehatan jiwa dan memisahkanhkan perem- lepas jilbab memereka. Konsekuensinya, pembaca kilometer. Di bawah kedua kota dalam sebuah petualangan penuh
psikologi-sosial,” imbuhnya. puan denganngan laki-laki Semuanya memiliki pen pengala- mesti ‘menyiapkan energi’ itu, sekelompok orang berusaha bahaya mulai dari labirin di bawah
Apalagi, ‘perhatian’ terha- di beberapa halte
h l Trans-
T man personall yang di disebut- untuk membaca buku padat menghapus sejarah. Colosseum sampai berbagai tero-
dap masalah yang potensial Jakarta, serta diluncurkannya nya ‘memiliki perjuangannya teori psikologi ini, terutama Jonathan Marcus, seorang pe- wongan yang dibangun pada za-
mengganggu kesejahteraan gerbong kereta khusus perem- sendiri’. bagi yang awam. ngacara muda dan mantan siswa man kenabian di Yerusalem untuk
mental itu hampir tak ada di puan belum lama ini. Saya “Yang paling berkesan se- Yang jelas, buku ini cocok program doktor di bidang studi menemukan artefak tersembunyi
antara maraknya buku-buku kira perlu ada kajian-kajian lama proses penelitian, saya dibaca mahasiswa psikologi klasik, telah menjadi komoditas berusia 2.000 tahun yang selama ini
mengenai jilbab dan perem- kritis-mendalam terhadap hal- menangkap para subjek sa- sebagai sumber referensi, pe- panas yang dicari-cari para peda- dicari sejumlah kerajaan berbagai
puan. hal ini,” ujar kandidat magister ngat rendah hati dalam ber- rempuan serta khalayak luas gang barang purbakala. Namun, zaman.
“Kita perlu mendengar dan psikologi sosial, Universitas bagi pengalaman hidup yang untuk menambah wawasan saat diminta datang ke Roma un- Benda itu adalah simbol sejarah
belajar dari suara yang lain Indonesia itu. menurut saya mestinya tidak dan menghargai pilihan-pilih- tuk memeriksa sekeping peta batu Penulis : Daniel Levin yang lebih hebat jika dibandingkan
dengan sungguh-sungguh,” Buku ini, ditulis Juneman mudah bagi mereka. Ada an individu. (Sic/M-1) kuno milik seorang kliennya, dia Penerbit : Serambi dengan mitos agama mana pun.
menemukan sebuah rahasia yang Halaman : 573 (*/M-4)
29 AGUSTUS 2010
A9
Rak
Ketika Jilbab Dilepas
Mimpi Carter
Selama ini masalah
jilbab hanya diulas
oleh ahli agama dari
segi perspektif teolo-
gis dan hukum islam.
Juneman, mahasiswa
SOAL PALESTINA
magister psikologi,
menulis buku ini de-
ngan pendekatan psi- Jimmy Carter mengakui tas Yahudi ortodoks-ultranasio-
kologis. Dia mengurai- nalis yang memimpikan negara
kan alasan-alasan pe-
penyelesaian masalah Israel Raya mencakup seluruh
rempuan yang mele- Palestina-Israel boleh di- Tepi Barat dan Gaza. Partai-par-
pas jilbabnya. tai religius sayap kanan selalu
Juneman melakukan penelitian kualitatif
bilang mustahil. menjadi pemain kunci dalam ti-
terhadap empat subyek selama setahun me- ap pemerintahan koalisi di Isra-
lalui serangkaian wawancara. Meski tidak el.
onflik Palestina dan Isra-

K
mewakili seluruh muslimah yang melepas jil- Kuatnya kelompok Yahudi ga-
el selalu menjadi isu uta-
bab, buku ini berusaha menjawab persoalan ris keras ini bisa dibuktikan dari
ma bagi siapa saja Presi-
seperti, “Apakah perempuan menjadi lebih ti- pengakuan Perdana Menteri
den Amerika Serikat.
dak religius ketika dia melepaskan jilbab?” Benjamin Netanyahu, yang ber-
Termasuk Jimmy Carter,
Melalui buku ini, penulis mengajak pemba- kuasa saat ini. Dia mengatakan
yang merupakan pemimpin ke-
canya untuk berempati dan tidak menilai rezimnya terancam bubar jika
39 negara adidaya itu. Bahkan
atau memberikan cap tertentu bagi perempu- meneruskan pembekuan proyek
persoalan yang sudah berlang-
an yang memutuskan melepas jilbabnya. Bu- sung lebih dari enam dekade—ji-
ku ini penting dibaca untuk yang ingin men- ka dihitung sejak negara Israel
dalami soal jilbab. ● AMANDRA MM berdiri—itu kerap menjadi jual- JUDUL : Palestina: Perdamaian Bukan Perpecahan
an dalam kampanye pemilihan JUDUL ASLI : Palestine: Peace Not Apartheid
Judul : Psychology of Fashion: Fenomena presiden Amerika. PENULIS : Jimmy Carter
Perempuan (Melepas) Jilbab Namun apa yang dilakukan PENERBIT : Dian Rakyat
Penulis : Juneman
Jimmy Carter, 86 tahun, sung- CETAKAN : 2010
Penerbit : LKiS
Edisi : Cetakan 1, Juli 2010 guh luar biasa. Ia bukan seka- TEBAL : 344 halaman
Tebal : 398 halaman dar asal bicara. Tapi, sejak per-
tama kali mengunjungi negara
Zionis itu pada 1973, ia sudah
Mengarungi Rimba Kaban mulai tertarik dan bertekad
permukiman Yahudi di Tepi Ba-
mendalami konflik di antara dua
rat, termasuk Yerusalem Timur,
Novel ini terinspirasi bangsa itu. Saat itu Carter, men- dalam proposal Putra Mahkota masalah Palestina-Israel boleh yang akan berakhir tenggatnya
oleh pengalaman priba- jabat Gubernur Negara Bagian Abdullah dari Arab Saudi yang dibilang mustahil. Ada dua fak- bulan depan.
di penulis selama men- Georgia, diundang sebagai tamu diadopsi dalam resolusi Konfe- tor internal yang bercokol di ke- Peraih Hadiah Nobel Perda-
jadi siswa Muallimin Perdana Menteri Golda Meir. rensi Tingkat Tinggi Liga Arab di dua pihak yang menjadi ganjal- maian 2002 itu pun secara jujur
Muhammadiyah Yogya- Carter, yang datang bersama Beirut, Libanon, delapan tahun an. Di Jalur Gaza, terdapat ke- menilai Amerika selama ini sela-
karta 30 tahun silam. istrinya, Rosalynn, sejak itu mu- yang lalu. lompok Hamas yang berprinsip lu memihak Israel dan bersikap
Tapi penulis tetap me- lai membangun hubungan priba- Sebanyak 22 negara Arab setu- tidak mengakui keberadaan Is- permisif atas penjajahan Israel
nyelipkan imajinasinya. di dengan Perdana Menteri Meir, ju membina hubungan diploma- rael dan bersumpah menghan- terhadap Palestina. Hal ini me-
Sehingga, menurut Bu- Menteri Luar Negeri Abba Eban, tik dan kerja sama perdagangan curkan Negara Bintang Daud rupakan faktor eksternal yang
tet Kertaradjasa, novel Yitzhak Rabin—yang kemudian dengan Israel jika negara itu ber- itu. sejatinya bisa menjadi penentu.
ini tetap tergolong fiksi menjadi perdana menteri—dan sedia mundur dari seluruh wila- Di dalam Israel sendiri juga Alhasil, mimpi Carter dan rakyat
dan membuat novel ini Jenderal Moshe Dayan yang le- yah yang mereka kuasai setelah masih hidup komunitas-komuni- Palestina akan negara berdaulat
enak dibaca. gendaris. Perang Enam Hari pada 1967. Ini masih terus berlanjut. ● FAISAL ASSEGAF
Kaban, tokoh utama novel ini, lancar men- Ia pun menjadikan isu Palesti- berarti, negara Yahudi itu harus
ceritakan gambaran sekolahnya itu. Bagi me- na-Israel sebagai prioritas kebi- menyerahkan Dataran Tinggi
reka yang bersekolah di lembaga pendidikan jakan luar negerinya setelah di- Golan kepada Suriah dan kawas-
yang mainstream, Muallimin tergolong seko- lantik sebagai presiden pada 20 an pertanian Sheeba yang di-
lah aneh. Bahkan, jika merujuk kepada kuali- Januari 1977. Dalam dua buku- klaim oleh Libanon serta Suriah.
tas, ijazah Muallimin tidak bakal laku dipakai nya, Palestina Perdamaian Bu- Buku Palestine Peace Not
melanjutkan ke perguruan tinggi, apalagi kan Perpecahan (Palestine Peace Apartheid terbit pada 2006, dan
mencari pekerjaan. Not Apartheid) dan Merengkuh We Can Have Peace in The Holy
Namun kekurangan ini justru menjadi “ser- Perdamaian di Kota Suci (We Land dipublikasikan pertama
ba lebih” di mata Kaban. Muallimin tidak ha- Can Have Peace in The Holy kali pada 2009. Kedua buku ini
nya membentuk kepribadiannya, tapi juga Land), Carter membagi peng- diterbitkan oleh Simon & Schus-
mengajari bagaimana seharusnya manusia hi- alaman pribadinya dalam men- ter. Sedangkan edisi bahasa In-
dup. Ia tak gampang menyerah. Justru Kaban ciptakan perdamaian di kawasan donesianya diterbitkan oleh pe-
menyulapnya menjadi energi positif meng- Timur Tengah. nerbit Dian Rakyat.
arungi ombak kehidupan. “Modal luar biasa Simak saja usaha kerasnya sa- Yang menarik dalam buku ini,
bagi para peselancar hidup,” tulis Nataya Cha- at mempertemukan Presiden Carter mengakui penyelesaian
roonsri, dosen Universitas Trisakti Jakarta. Mesir Anwar Sadat dengan Per-
Bagi Emha Ainun Nadjib, rekan penulis, dana Menteri Israel Menachem
Kaban membolak-balikkan arti rumah dan Begin. Setelah beberapa kali per-
rimba. Rumah Kaban di Samarinda dan pe- undingan di tempat peristirahat-
tualangannya bersekolah di Yogyakarta sa- an Carter di Camp David, hanya JUDUL : Merengkuh Perdamaian di Kota
ma-sama membentuk jati dirinya. Pengalam- dalam dua tahun masa rezimnya Suci
an Kaban mampu mencerahkan dan inspira- (1977-1981), ia berhasil menggi- JUDUL ASLI : We Can Have Peace in The Holy
tif bagi pembacanya. ● AKBAR TRI KURNIAWAN ring kedua pemimpin itu mene- Land
ken perjanjian damai. PENULIS : Jimmy Carter
Pria kelahiran Kota Plains, PENERBIT : Dian Rakyat
Judul : Rimba Kaban
Penulis : Syafril Teha Noer Georgia, ini menyadari isu Pales- PENERJEMAH : Heri Purwosusanto
Penerbit : Komunitas Ladang tina merupakan syarat utama CETAKAN : 2010
Edisi : Juni 2010 bagi perdamaian di seluruh ka- TEBAL : 270 + xxix halaman
Tebal : x + 421 halaman wasan itu. Prinsip itu tercantum
! "#$# #% "& #&'%'""(

Minggu, 29 Agustus 2010 Selamat Datang | Register | Sign In cari

KOMPAS.com Cetak ePaper Bola Entertainment Games Tekno Otomotif Female Health Properti Forum Kompasiana Images Mobile KompasKarier PasangIklan GramediaShop

Home Nasional Regional Internasional Megapolitan Bisnis & Keuangan Olahraga Sains Travel Oase Edukasi English Archive Video More

Jeda Padamu Negeri Puisiku Ceritaku Mata Air Novel Cakrawala Muasal Cerber Resensi

"Perempuan (Melepas) Jilbab" Diluncurkan Terpopuler

Rabu, 25 Agustus 2010 | 05:48 WIB Ayo Taufik! Tinggal Selangkah Lagi
Luruskan Sejarah Kelahiran Soekarno
JAKARTA, KOMPAS.com — Buku Psychology Gunung Sinabung Meletus
of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas) Mascherano Sudah di Barcelona
Jilbab yang ditulis psikolog dari Universtas Chelsea Menang, Ancelotti Justru...
Persada Indonesia, Juneman (27), diluncurkan Nani Gemilang, MU Menang Lagi
di Jakarta, Selasa (24/8/2010) sore. Acara » Selengkapnya
peluncuran itu dihadiri mantan Menteri
Terkomentari
Pemberdayaan Perempuan Prof Dr Meutia
Hatta Swasono. Terekomendasi

Kabar Palmerah
Menurut Juneman, buku tersebut berisi hasil muslimah.or.id

riset kualitas dirinya sebagai peneliti terhadap ilustrasi


subyek yang melepas jilbabnya dan lebih
menyoroti perempuan yang melepas jilbabnya (setelah sebelumnya mengenakan jilbab) dari
perspektif psikososial filosofis, dengan didukung teori psikologi kontemporer.

"Buku ini menghadirkan pergulatan atau dinamika kepercayaan eksistensial muslimah yang
melepaskan jilbabnya pada sebelum, sedang, dan sesudah melakukan tindakan itu," katanya.

Dia menambahkan, meskipun tidak berpretensi mewakili seluruh muslimah di Indonesia yang
melepas jilbab, buku ini dapat menggugah kearifan masyarakat sebagai pribadi dan ketika
dihadapkan pada fenomena ini.

"Buku ini juga mengandung muatan psikologi perkembangan, psikologi perempuan, psikologi spiritual,
dan psikologi sosial," ujarnya.

Juneman menegaskan, semua muslimah dalam penelitian di buku tersebut tetap menjadi seorang
muslim sampai mereka telah melepaskan jilbabnya saat ini, namun cara mereka menjadi muslim dan
lebih khusus cara memakai jilbab dan berjilbab beberapa kali diperdalam, diperluas, dan ditata
kembali.

Meutia Hatta Swasono dalam sambutan mengharapkan, kehadiran buku dapat meningkatkan
kesadaran masyarakat Indonesia untuk bisa memahami perbedaan dan pluralisme dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.

Sementara itu, Guru Besar UIN Syarief Hidayatullah Jakarta Prof Dr Siti Musdah Mulia, MA, yang
menulis kata pengantar dalam buku tersebut mengatakan, buku tersebut menarik untuk dibaca siapa
pun yang ingin mendalami jilbab.

Oleh karena itu, katanya, perlu membangun sikap apresiasi terhadap perempuan yang atas
kerelaannya sendiri memakai jilbab, sebaliknya juga menghargai mereka yang dengan pilihan
melepas jilbabnya.

Ketua LSM Jejaring Komunikasi Kesehatan Jiwa (Jejak Jiwa) selaku penyelenggara peluncuran
buku itu, dr G Pandu Setiawan, SpKJ mengatakan, Juneman sebagai penulis dan peneliti memiliki
kejelian memilih tema yang nilainya jauh lebih penting adalah apabila masyarakat melihat upaya ini
sebagai tawaran dialog berkelanjutan.

Penulis: Jodhi Yudono | Editor: Jodhi Yudono | Sumber : ANT Dibaca : 58249

Sent from Indosat BlackBerry powered by

Font: A A A

Ada 100 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

% "* "#$# + $+
!""###$ % $& $ '" ' ($ ) * +& ,& - -./ #+ *& .$$$

Forgot your password? Forgot your username? Create an account

Home Berita LKiS Resensi Buku Tentang LKiS Cara Transaksi Galeri Foto search...

Katalog Buku
Ekonomi
Home you are : Berita LKiS you are : Buku Baru you are : PSYCHOLOGY OF FASHION ; Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab
Filsafat
Islam Kritis
Kajian Perempuan & Gender
PSYCHOLOGY OF FASHION ; Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab
Komunikasi Kode Buku : B0492
Judul Buku : PSYCHOLOGY OF FASHION ; Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab
NU dan Pesantren Penulis : Juneman
Pendidikan Kata Pengantar : Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., A.P.U. & Dra. Tiwin Herman, M.Psi.
Epilog : Afrizal Malna & dr. G. Pandu Setiawan, Sp. K.J.
Sosial Budaya ISBN 10 : 979-25-5325-8
Seri Dialog ISBN 13 : 978-979-25-5325-3
Halaman : xxxiv + 398 hlm
Politik Kertas / Ukuran : HVS / 14,5 x 21 cm
Pustaka Tokoh Bangsa Cetakan : I, Juli 2010
Katagori : Sosial Humaniora
Pustaka Sastra Penerbit : LKiS Yogyakarta
Pustaka Populer Harga : Rp. 72.500,-

Pustaka Pesantren
Matapena “Ide-ide dan penjabaran di dalam buku ini tidak bermaksud menyandera pembacanya dalam konteks
keilmuan saja, tetapi memberikan perspektif telaah yang humanistik, tanpa pretensi. Layak sebagai referensi pencerahan batin &
List All Products pengayaan berpikir, supaya tidak tersesat dalam labirin kecurigaan, ketidaktahuan, & akusasi.”
Show Cart — dr. Nova Riyanti Yusuf. Psikiater, Anggota Komisi IX DPR RI, Novelis, Scriptwriter

Your Cart is currently empty. “Buku ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki penghayatan personal dalam menjalani pengalamannya, termasuk pengalaman
beragama. Sebuah usaha yang layak diberi apresiasi.”
— Dr. Bagus Takwin, M.Hum. Manajer Riset Fakultas Psikologi UI, Penulis Buku & Novel

“Penulis menggambarkan melalui analisis kualitatifnya: Selama seseorang tidak melalui tahap-tahap kepercayaan eksistensial,
latestnews diragukan bahwa ia mengenal hakikat dirinya sendiri... Spirits rebellious dalam kasus-kasus buku ini hendaknya dimengerti dalam
konteks pertumbuhan, yang justru akan menjadi dangkal jika dibaca sebagai alas justifikasi simplistik bagi muslimah yang berjilbab
NGOBROL DENGAN GUS DUR untuk melepaskan jilbab.”
DARI ALAM KUBUR — Dr. Ahmad Zubaidi, M.Psi., Psikolog, Wakil Ketua Program Magister Psikologi UPI YAI Jakarta, Psikolog alumnus UGM
BEDA PENDAPAT DI TENGAH
UMAT ; Sejak Zaman Sahabat “Dalam ilmu psikologi bisnis telah mengemuka kajian mengenai intercultural sensitivity yang memberi kita pengertian betapa kepekaan
hingga Abad Keempat semacam itu sangat penting dikembangkan dalam rangka kondusivitas, sustainabilitas, dan produktivitas suatu institusi bisnis seperti
OBAT HATI ; Menyehatkan perusahaan. Penulis buku ini telah mengambil bagian dalam konteks tersebut dengan membagikan pengalaman belajarnya dari
Ruhani dengan Ajaran Islami muslimah yang melepas Jilbab”
INSPIRING RAMADHAN ; — Djati Adi Wicaksono, M.Inf.Sys.(Griffith), Manajer Sistem Informasi PT. Indika Energy, Tbk.
Renungan Pencerahan di Bulan
Penuh Kemuliaan “Kehadiran buku ini kami sambut dalam rangka pengembangan wacana psikologis yang ilmiah dan dialogis dalam masyarakat
MATA AIR PERADABAN ; Dua Indonesia yang plural dan multidimensional.”
Milenium Wonosobo Drs. Lukman S. Sriamin, M.Psi., Psikolog, Ketua Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah DKI Jakarta 2005-2008

Populer

NGOBROL DENGAN GUS DUR


DARI ALAM KUBUR
BEDA PENDAPAT DI TENGAH
UMAT ; Sejak Zaman Sahabat
hingga Abad Keempat
OBAT HATI ; Menyehatkan
Ruhani dengan Ajaran Islami
INSPIRING RAMADHAN ;
Renungan Pencerahan di Bulan
Penuh Kemuliaan
MATA AIR PERADABAN ; Dua
Milenium Wonosobo

Copyright © 2000-2009 PT LKIS Pelangi Aksara, Email: lkis@lkis.co.id

Kantor Pusat :
Jl. Parangtritis Km. 4,4, Salakan Baru No. 1, Sewon - Bantul - JOGJAKARTA, Telp. (0274) 387 194 Fax. (0274) 379 430

Kantor Perwakilan Jabotabek:


Jl.Desa Putra RT. 04 RW. 06 No. 73, Srengseng Sawah - Jagakarsa - Jakarta Selatan, Telp/Fax. (021) 7889 0304

Kantor Perwakilan Jawa Timur:


Perumahan Graha Sejahtera Blok G-2 RT. 04 RW. 09, Jl. Tirtomulyo - Klandungan - Landungsari - Dau - Malang - Jawa Timur Telp : (0341) 461 878

© 2010 Penerbit LKIS


Joomla! is Free Software released under the GNU General Kontak Kami

3"24"2505 0!67
jejaring komunikasi kesehatan jiwa
the indonesian mental health network

Acara Peluncuran dan Ulas Buku


Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan [Melepas] Jilbab
Selasa, 24 Agustus 2010, di Jakarta

Buku ini berisikan hasil riset kualitatif


penulis/peneliti terhadap para subjek yang melepas
jilbabnya. Buku ini lebih menyoroti fenomena
perempuan yang melepas jilbabnya (setelah
sebelumnya mengenakan jilbab) dari perspektif
psikososial filosofis, dengan didukung oleh teori-
teori psikologi kontemporer. Buku ini menghadirkan
pergulatan atau dinamika kepercayaan eksistensial
muslimah yang melepaskan jilbabnya pada sebelum,
sedang, dan sesudah melakukan tindakan itu.
Meskipun tidak berpretensi mewakili seluruh
muslimah di Indonesia yang melepas jilbab, buku ini
menggugah kearifan kita sebagai pribadi dan
masyarakat ketika dihadapkan pada fenomena ini.
Buku ini mengandung muatan psikologi
perkembangan, psikologi perempuan, psikologi
spiritual, dan psikologi sosial.

ISBN 978-979-25-5325-3
Cetakan Juli, 2010
xxxiv + 398 halaman; 14,5 x 21 cm

Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., A.P.U.


Buku yang terbuka di hadapan pembaca, setahu saya, adalah buku pertama mengupas secara
tuntas fenomena melepas jilbab di kalangan perempuan Islam. Menariknya, buku ini ditulis oleh
seorang Sarjana Psikologi, Juneman .... Buku ini menjadi penting dibaca oleh siapapun yang
ingin mendalami soal jilbab. Perlu membangun sikap apresiasi terhadap perempuan yang atas
kerelaannya sendiri memakai jilbab, sebaliknya juga menghargai mereka yang dengan pilihan
bebasnya melepas atau membuka kembali jilbabnya. Bahkan, juga mengapresiasi mereka yang
sama sekali tidak tertarik memakai jilbab. Itulah pesan psikologis dari buku ini.

dr. Pandu Setiawan, Sp.K.J.


Penulis (sekaligus peneliti)-nya, Juneman, memiliki kejelian memilih tema …. Nilai yang jauh
lebih penting adalah apabila kita melihat upaya ini sebagai tawaran dialog berkelanjutan dan
pemicu kuat untuk mencoba memahami proses-proses intrapsikis yang sangat halus nuansanya.

Afrizal Malna
Buku Juneman ini membawa saya ke dalam dialog yang luas dan terbuka antara wacana-wacana
teologis dan antropologis. Sejumlah biografi kecil dari beberapa perempuan yang menghadapi
arus yang terkesan saling bertolak belakang antara “berpakaian teologis” atau “berpakaian
eksistensialis”, diturunkan dalam buku ini seperti membaca kisah-kisah kecil yang seringkali
tidak terdengar di antara suara-suara besar.