Anda di halaman 1dari 4

Kecelakaan kerja

Pertanyaan : x.sulistiyono@exxonmobil.com

Dalam Permenaker no. Per 03/Men/1994 mengenai Program JAMSOSTEK ,


pengertian kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan
hubungan kerja , termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja demikian
pula kecelakaan yang terjadi daalam perjalana berangkat dari rumah menuju tempat
kerja daan pulang kerumah melalui jalan biasa atau wajar dilalui.( Bab I pasal 1
butir 7 ).

Sedangkan Direktur Teknik MIGAS selaku Kepala Inspeksi Tambang MIGAS


mendefinisikan Kecelakaan Kerja Tambang adalah setiap kecelakaan yang menimpa
pekerja taambang, pada waktu melakukan pekerjaannya ditempat kerja pada pada
WKP nya yang mengakibatkan pekerja kehilangan kesadaran, memerlukan
perawatan medis, mengalami luka2, kehilangan anggota badan, atau kematian.
Pekerjaan tambang adalah semua kegiatan yang dilakukan sehubungan dengan
tugas atau kepentingan perusahaan termasuk kegiatan insidentil, kegiatan sukarela
dan kegiatan lain yang dilakukan atas perintah/izin perusahaan.(keputusan Direktur
Teknik MIGAS selaku Kepala Inspeksi Tambang

Migas 25 Oktober 1996)

Mohon pencerahan atau komentar rekans dan para regulator apakah perjalanan ke
atau dari tempat kerja ke atau dari rumah , termasuk kecelakaan kerja? Perusahaan
multinasional yang saya tahu umumnya tidak memasukkan kecelakaan tersebut
sebagai kecelakaan kerja.Terima kasih. SLS

Tanggapan 1 : urip@ceres-pt.com

Benar, rekan Sulis, perjalanan rmh-ktr/tempat kerja-rmh dicover oleh asuransi


jamsostek bilamana rute itu adl rute tetap yg selalu dilalui saat pekerja peserta
jamsostek berangkat dan pulang dari/ke tempat kerjanya.

Tanggapan 2 : x.sulistiyono@exxonmobil.com

Pak Urip,

Kalau dianggap sebagai kecelakaan kerja , apakah kecelakaan tersebut juga harus
dilaporkan ke Pemerintah ? Kalau dibidang migas tentunya apakah harus dilaporkan
ke Ditjen MIGAS ? Apakah di kegiatan Migas dapat dikategorikan sebagai
kecelakaan kerja tambang ? Berkaitan denga kecelakaan kerja tambang khabarnya
ada kompensasi tertentu, misalnya fatality memperoleh kompensasi sebesar 72 x
gaji . Adakah rekans yang dapat memberi informasi ?

Tanggapan 3 : Hendarwin (Jakarta)

Pak Sulis,
Kasus seperti ini pernah terjadi di company kami, dimana seorang pegawai
meninggal dalam kecelakaan saat berangkat menuju tempat kerja. Karena ini
dianggap kecelakaan kerja (yg juga meliputi komuter / bepergian dari & ke tempat
kerja), maka keluarga almarhum mendapatkan kompensasi 72x gaji tersebut.

Tanggapan 4 : x.sulistiyono@exxonmobil.com

Pak Hendarwin,

Terima kasih informasinya. Mengenai kompensasi 72x gaji adakah yang mempunyai
peraturannya ?Mohon bagi infonya .Terima kasih.

Tanggapan 5 : Arief A

Untuk kecelakaan kerja ditambang (MIGAS), untuk pelaporannya sudah ada


ketentuannya, salah satunya *PENDATAAN DAN PELAPORAN KECELAKAAN TAMBANG
PADA PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI DAN PENGUSAHAAN
SUMBER DAYA PANAS BUMI* tertanggal 25 Oktober 1996. Dalam dokumen
tersebut, dinyatakan yang dimaksud dengan *kecelakaan kerja tambang* adalah
*setiap kecelakaan yang menimpa pekerja tambang, pada waktu melakukan
pekerjaannya ditempat kerja pada wilayah kuasa pertambangan yang
mengakibatkan pekerja kehilangan kesadaran, memerlukan perawatan medis,
mengalami luka-luka, kehilangan anggota badan, atau kematian.*

Untuk pengertian tambahan:

- *Pekerja tambang:* setiap orang yang kegiatannya berhubungan dengan


pemberi kerja tambang yang mengawasi langsung atau tidak langsung, termasuk
karyawan kontraktor yang terdapat dalam kontrak kerja tambang yang diketahui
dan atau oleh pemberi kerja.

- *Tempat kerja tambang:* wilayah kerja kuasa pertambangan dimana kegiatan


atau aktifitas kegiatan perusahaan berlangsung dan tempat lain dibawah
pengawasan Kepala Teknik Tambang dan atau Penyelidik.

Jadi disini, pengertian saya untuk kecelakaan yang tejadi pada saat pergi atau
pulang dari kerja, bukan termasuk kecelakaan kerja, atau mungkin ada yang bisa
jelaskan atau ada peraturan lain yang mengatur ttg ini, mohon pencerahannya.
(Kalau untuk OSHA, setahu saya - commuting tidak termasuk work related).

Mengenai biaya ganti rugi atau kompensasi, menurut saya sudah berbeda dengan
bahasan diatas, tergantung term and condition dari kesepakatan yang ada. Kalau
kita punya atau ikut Jamsostek atau Astek atau asuransi lain, tentunya disitu sudah
ditentukan kondisi yang bagaimana yang akan mendapatkan kompensasi. Begitu
juga dengan perusahaan, tentunya mempunyai kebijakan yang berbeda-beda untuk
masalah tanggungan kesehatan atau jaminan kesehatan ini. Contoh ada kontraktor
asing yang mengasuransikan pegawainya pada saat travelling by pesawat, jika
kecelakaan dan meninggal akan mendapatkan 150 ribu US $ dan masih ditambahkan
lagi dari perusahaan masih memberikan tunjangan kematian dan pesangonnya,
belum lagi yang dari Jamsostek, dan lain-lain. Dan perlakuan antara pegawai tetap
dengan pegawai kontrak biasanya akan berbeda.
Mohon maaf kalau kurang berkenan atau kalau ada salah (CMIIW).

Tanggapan 6 : x.sulistiyono@exxonmobil.com

Perbedaan2 mengenai definisi kecelakaan kerja inilah inilah yang menjadi


masalahnya , khususnya mengenai berangkat /pulang ke/dari lokasi kerja dari/ke
rumah. JAMSOSTEK mengatakan sebagai kecelakaan kerja, OSHA tidak , MIGAS
interpretasi saya tidak masuk. Perbedaan2 pengertian antara lembaga Pemerintah
seyogyany diselesaikan dan mohon pendapat sebaiknya menuju yang
menguntungkan rakyat banyak (JAMSOSTEK) atau menuju pendapat definisi
masyarakat internasional (OSHA) ? Bila ada rekan yang bekerja di Ditjen Migas atau
BPMIGAS, yang anggota milis ,please comment.

Tanggapan 7 : Dawe runggur

Sedikit menambahkan mengenai kriteria kecelakaan tambang (referensi keputusan


mentamben no 555.K/26/M.PE/1995 tentang K3 pertambangan umum.

Kecelakaan tambang harus memenuhi 5 unsur yaitu

1. benar2 terjadi

2. Mengakibatkan cidera pekerja tambang atau orang yang diberi izin oleh kepala
tehnik tambang

3. Akibat kegiatan usaha pertambangan

4. terjadi pada jam kerja tambang yang mendapat cidera atau setiap orang yang
diberi izain dana

5. terjadi di dalam wilayah kegiatan usaha pertambangan atau wilayah proyek

demikian sedikit informasi dari saya

Tanggapan 8 : Pudjo Andika

Untuk tambahan informasi barangkali bermanfaat.

Peraturan ttg kecelakaan kerja di atur dalam Pedoman Peraturan Perusahaan Bidang
SDM (Korporat Pertamina) di Surat Keputusan No. Kpts.48/C0000/99-SO.Saya tidak
tau apakah ada peraturan yg lebih baru.

Dalam diperaturan tersebut tidak disebutkan wilayah kerja, hanya disebutkan hak &
kewajiban2 jika pekerjaan mengalami kecelakaan kerja.

Tetapi dalam wording Liability Insurance ttg Work Compensation Act (WCA)
disebutkan bahwa yang termasuk dalam kategori lokasi kecelakaan kerja adalah
selama bekerja di lokasi pekerjaan / proyek, ketika berangkat dari rumah hingga ke
lokasi proyek, dan juga ketika pulang kerja dari lokasi proyek ke rumah kembali
dalam suatu perjalanan yang wajar. Untuk jenis proyek seperti pembangunan jalan
atau pemasangan pipa, maka yang dimaksud lokasi proyek adalah sepanjang jalur
pembangunan jalan atau sepanjang jalur pemasangan pipa.

Perbedaannya dengan Asuransi Personal Accident (PA) adalah PA hanya menyantuni


jika pekerja meninggal/cacat tetap total atau sebagian karena kecelakaan.
Dimanapun ia berada, sedang kerja atau sedang tidak dalam rangka bekerja.
Besarnya santunan sesuai dengan Harga Pertanggungan yg telah disepakati.
Sedangkan di WCA yg dicover adalah jika mengalami kecelakaan di lokasi kerja saja
dan jika meninggal dunia maksimal penggantiannya 72 kali gaji bulanan. Sedangkan
untuk cacat total atau cacat tetap besarannya mengacu pada lampiran UU
No.14/1993

Semoga bermanfaat dan jika ada kesalahan informasi mohon maaf.

Tanggapan 9 : Dirman Artib

Pak Pudjo,

Pantesan banyak yang tertarik kerja di Pertamina ya ?

Gimana yang Non-Pertamina/KPS lain?

Atau kontraktornya/suppliernya yg lagi berada atau sedang mengerjakan job yg


dipesan oleh mereka ?

Khan jadi nggak fair kalo terlalu banyak gap, padahal yang bakal "damage" setiap
hari adalah kontraktor + supplier, ya toh ?

Tanggapan 10 : Pudjo Andika

Pak Dirman,

Kalo saya tidak salah informasi peraturan tersebut berlaku untuk KPS KPS yang lain.
Oleh karena itu dalam kontrak dengan para kontraktornya/Supplier, para KPS
biasanya mewajibkan mereka (Kontraktor/Suppliernya) mengasuransikan
pekerjanya. Biasanya hal itu termuat dalam kontrak yang secara garis besar meliputi
WCA (Workmen Compensation Act), ELI ( Employer's Liability Insurance), CGL
( Comprehensive General Liability ) dan ATPL ( Automobile Third Party Liability).

Keempat jenis asuransi tsb tidak harus dipenuhi oleh para kontraktor/supplier, jadi
tergantung dari jenis pekerjaan.

Semoga bermanfaat