P. 1
Pengertian Dan Ciri Pembelajaran Pakem

Pengertian Dan Ciri Pembelajaran Pakem

|Views: 4,613|Likes:
Dipublikasikan oleh Assay_Mi_2195

More info:

Published by: Assay_Mi_2195 on Aug 30, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/18/2013

pdf

text

original

Sections

  • Category:Other
  • 1. Pengertian Pembelajaran
  • 2. Teori-Teori Pembelajaran
  • A. Berhavioristik
  • B. Kognitivisme
  • C. Humanistic
  • D. Sosial/Pemerhatian/permodelan
  • 3. Ciri-ciri Pembelajaran

PENGERTIAN DAN CIRI PEMBELAJARAN
PAKEM (PEMBELAJARAN AKTIF, KREATIF,
AFEKTIF, DAN MENYENANGKAN)

By. ideguru
SALAM SUKSES GURU INDONESIA, SEKARANG KITA AKAN BELAJAR
TENTANG PEMBELAJARAN PAKEM, KEBETULAN SAYA TELAH MENGIKUTI
PELATIHAN METODE PAKEM, SAYA JUGA SERTAKAN POWER POINT
TENTANG PEMBELAJARAN PAKEM

PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru
harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya,
mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses
aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang
hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika
pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka
pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat
penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan
sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.
Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam
sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana
belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara
penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian,
tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan
menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak
menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung,
sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika
pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran
tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa. Secara garis besar, gambaran PAKEM adalah
sebagai berikut:

1.Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan
kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
2.Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat,
termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan
pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
3.Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih
menarik dan menyediakan ‘pojok baca’

4.Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk
cara belajar kelompok.
5.Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan
suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam
menciptakan lingkungan sekolahnya.

SELANJUTNYA JIKA ANDA MENGINGINKAN LEBIH LENGKAP TENTANG
PEMBELAJARAN INOVATIF ALA PAKEM DALAM BENTUK POWER POINT
SILAHKAN DOWNLOAD GRATIS DI SINI

DEFINITION AND CHARACTERISTICS OF LEARNING PAKEM (ACTIVE
LEARNING, CREATIVE, affective, and FUN)
By. ideguru
GREETINGS TO SUCCESS GURU INDONESIA, NOW WE ARE GOING TO
LEARN ABOUT THE LEARNING PAKEM, I happened to have joined the training
PAKEM METHOD, ALSO MY POINT ABOUT THE POWER OF LEARNING Include
PAKEM
Contextual learning is the acronym for Active Learning, Creative, effective, and fun.
Active means that the learning process the teacher must create an atmosphere so that
students actively asked, questioned, and suggested the idea. Learning is an active process
of the learners in developing their knowledge, not a passive process which will only
accept running a lecture about the knowledge of teachers. Thus, if learning does not
provide the opportunity for students to take an active role, then the learning is contrary to
the nature of learning. Active participation of students is very important in order to
forming a creative generation, capable of producing something for the benefit of
themselves and others.
Creative is also intended that teachers create a variety of learning activities that meet
students' varying levels of ability. Fun is the teaching-learning atmosphere fun so
students are fully focused on learning so that when high rainfall attention. According to
the research, the high rainfall period proved to improve learning outcomes. Switched on
and fun learning is not enough if the process is not effective, that is not producing what
should be controlled by students after learning process took place, because learning has a
number of learning objectives to be achieved. If the only active learning and fun but not
effective, then learning to play are like usual. Broadly speaking, the image of contextual
learning is as follows:

1. Students engage in various activities that develop their understanding and ability
with an emphasis on learning through doing.
2. Teachers use a variety of tools and inspiring ways, including using the environment
as a learning resource to make learning interesting, fun, and suitable for students.
3. Teachers organize classroom by displaying books and learning materials more
attractive and provides a 'reading corner'
4. Teachers taught how to apply a more cooperative and interactive, including how to

study groups.

5. Teachers encourage students to find their own way in solving a problem, to express
his ideas, and melibatkam students in creating their school environment.

IF YOU WANT MORE NEXT COMPLETE INNOVATIVE LEARNING ABOUT ALA
PAKEM IN POWER POINT PLEASE DOWNLOAD FREE HERE
http://ideguru.wordpress.com/2010/04/19/pengertian-dan-ciri-pembelajaran-pakem-
pembelajaran-aktif-kreatif-afektif-dan-menyenangkan/

makalah cara belajar siswa aktif

Diposkan oleh welcome to my blog di 23.10
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi ALLAH SWT yang telah memberikan segala nik’matnya kepada hamba-
hambanya dan oleh karena itu makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik walaupun
dalam penulisan ini masih begitu banyak kekurangannya
Dan kami ucapakan rasa terima kasih kami kepada kedua orang tua kami yang selalu
member kami semangat dalam menuntut ilmu yang pada akhirnya memberikan semangat
motivasi kami dalam menuntut ilmu
Dan kami ucapakn pula rasa terima kasih kami kepada bapak slamet yang dengan sabar
membimbing kami dan menuntun kami dalam belajar
Mungkin kami sebagai penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih jauh sekali
dari kesempurnaan,baik dari isi,penyajian.untuk itu kami sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun untuk menuju kesempernuaan dalam penulis ini.semoga hadirnya
makalha yang sedrhan ini member mamfaat untuk pembaca dan terutam untuk penulis.

Jakarta,27 -06-2009

(penulis)
DAFTAR ISI

Kata pengantar……………………………………………………………..i
Daftar isi……………………………………………………………………ii
Bab I Pendahuluan………………………………………………..………iii
Bab II Landasan teori……………………………………………………….………….iv
a. (Cara belajar siswa aktif) CBSA...................................................................iv
1. Pengertian pendekatan CBSA...................................................................iv
2. Dasar-dasar pemikiran pendekatan CBSA.............................................iv
3. Hakikat Pendekatan CBSA.......................................................................iv
4. Prinsip-Prinsip Pendekatan CBSA...........................................................iv

b. Contoh pendekatan konsep dalam pembelajaran bahasa…….………….v
c. Pendekatan CBSA dalam pembelajaran………………………….……….vi
BAB III ANALISIS……………………………………………...……………………vii
a. Beberap pengertian kurikulum…………………………………………….vii
b. Antara kurikulum, pengajaran dan buku teks…………………….………vii
c. Menjadikan siswa aktif dengan metode KBM yang menarik…………….vii
BAB IV Kesimpulan....................…….....................................................viii
PENUTUP
Bab I
Pendahuluan
Jika kita tinjau perkembangan dan pertumbuhan seseorang, maka makin jelaslah bahwa
hidup seseorang didalam lingkungan yang berbudaya itu merupakan suatu perjuangan
dari seseorang untuk hidup dengan hak azasi manusiawi dalam menyatakan dirinya,
mahkluk yang berkehendak berdiri sendiri .makin aktif ia berikan konstribusi dalam
lingkungan sosialnya, makin ia menjalin ikatan dan menerima norma dari lingkungan,
makin meningkatatkan aspirasi-aspirasi dalam mempersoalkan kepentingan untuk
mencapai cita-citanya dalam mewujudkan dirinya (self actualozation), mengacu kepada
kemandirian.
Manusia hidup antara dua kutub existensi, sosial (lingkungan) dan kutub existensi
individu, yang satu dengan yang lain saling terjalin dalam dirinya (idividualisasi dan
sosialisasi). Pada satu pihak ia berhak mengemukakan dirinya atau kutub existensi
individual ingin dihargai dan diakui, tetapi pada pihak lain ia harus menyesuaikan diri
pada ketentuan-ketentuan yang berlaku didalam masyarakat, didalam lingkungan
sosialnya (kutub existensi sosial). Bila antar kedua kutub ini ada keseimbangan, maka ia
akan mencapai suatu kondisi mental sehat, tetapi bukan semata-mata keseimbangan
inilah yang merupakan makna hidup. Pada umumnya manusia beraspirasi dan dalam
mewujudkan aspirasi itu ada suatu jarak yang ditempuh oleh setiap orang, yaitu jarak
potensi yang dimiliki dan apa yang ingin dicapainya, jarak antara mengenal diri sebagai
mana ia adanya ,prestasinya (konsep diri) dan sebagaimana ia ingin menjadi.
Mendidik pada hakikanya merupakan bantuan untuk mencapai perkembangan dalam
mewujudkan dirinya, tanpa mengabaikan kepentingan lingkunganya dalam
perkembangan tersebut seperti tercentus di dalam perumusan GBHN yang bertolak dari
UUD 45 dalam kehidupan pancasila maka manusia indonesia seutuhnya mencakup
kemandirian dan kemampuan untuk ikut bertanggungjawab terhadap pembangunan
bangsanya. Ini berati bahwa cara-cara pemberian informasi itu dan suasana interaksi itu
berlangsung lebih penting daripada informasi itu sendiri.disinilah proses menjadi sarana
tidak saja meningkatakan cara belajar siswa aktif.
Akhir kata, semoga makalah yang sederhana dan begitu singkat ini memberi penjelasan
yang mudah dicerna bagi pembaca maupun untuk penulis sendiri.

BAB II
PENDEKATAN PEMBELAJARAN
A. CBSA (CARA BELAJAR SISWA AKTIF)
1. Pengertian Pendekatan CBSA
Pada umumnya metode lebih cenderung disebut sebuah pendekatan. Dalam bahasa
Inggris dikenal dengan kata “approach” yang dimaksudnya juga “pendekatan”. Di dalam

kata pendekatan ada unsur psikhis seperti halnya yang ada pada proses belajar mengajar.
Semua guru profesional dituntut terampil mengajar tidak semata-mata hanya menyajikan
materi ajar. Guru dituntut memiliki pendekatan mengajar sesuai dengan tujuan
instruksional. Menguasai dan memahami materi yang akan diajarkan agar dengan cara
demikian pembelajar akan benar-benar memahami apa yang akan diajarkan. Piaget dan
Chomsky berbeda pendapat dalam hal hakikat manusia. Piaget memandang anak-
akalnya-sebagai agen yang aktif dan konstruktif yang secara perlahan-lahan maju dalam
kegiatan usaha sendiri yang terus-menerus. Pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)
menuntut keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari.
CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk
aktif terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa
memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif,
maupun psikomotor. Pendekatan CBSA menuntut keterlibatan mental vang tinggi
sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif,
afektif dan psikomolorik. Melalui proses kognitif pembelajar akan memiliki penguasaan
konsep dan prinsip. Konsep CBSA yang dalam bahasa Inggris disebut Student Active
Learning (SAL) dapat membantu pengajar meningkatkan daya kognitif pembelajar.
Kadar aktivitas pembelajar masih rendah dan belum terpogram. Akan tetapi dengan
CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan
kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara
bersama-sama.
2. Dasar-Dasar Pemikiran Pendekatan CBSA
Usaha penerapan dan peningkatan CBSA dalam kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
merupakan usaha “proses pembangkitan kembali” atau proses pemantapan konsep CBSA
yang telah ada. Untuk itu perlu dikaji alasan-alasan kebangkitan kembali dan usaha
peningkatan CBSA dasar dan alasan usaha peningkatan CBSA secara rasional adalah
sebagai berikut:
a. Rasional atau dasar pemikiran dan alasan usaha peningkatan CBSA dapat ditinjau
kembali pada hakikat CBSA dan tujuan pendekatan itu sendiri. Dengan cara demikian
pembelajar dapat diketahui potensi, tendensi dan terbentuknya pengetahuan, keterampilan
dan sikap yang dimilikinya. Pada dasarnya dapat diketahui bahwa baik pembelajar.
materi pelajaran, cara penyajian atau disebut juga pendekatan-pendekatan berkembang.
Jadi hampir semua komponen proses belajar mengajar mengalami perubahan.
Perubahan ini mengarah ke segi-segi positif yang harus didukung oleh tindakan secara
intelektual, oleh kemauan, kebiasaan belajar yang teratur, mempersenang diri pada waktu
belajar hendaknya tercipta baik di sekolah maupun di rumah. Bukankah materi pelajaran
itu banyak, bervariasi dan ini akan memotivasi pembelajar memiliki kebiasaan belalar.
Dalam hubungannya dengan CBSA salah satu kompetensi yang dituntut ialah memiliki
kemampuan profesional, mampu memiliki strategi dengan pendekatan yang tepat.
b. Implikasi mental-intelektual-emosional yang semaksimal mungkin dalam kegiatan
belajar mengajar akan mampu menimbulkan nilai yang berharga dan gairah belajar
menjadi makin meningkat. Komunikasi dua arah (seperti halnya pada teori pusaran atau
kumparan elektronik) menantang pembelajar berkomunikasi searah yang kurang bisa
membantu meningkatkan konsentrasi. Sifat melit yang disebut juga ingin tahu
(curionsity) pembelajar dimotivasi oleh aktivitas yang telah dilakukan. Pengalaman
belajar akan memberi kesempatan untuk rnelakukan proses belajar berikutnya dan akan

menimbulkan kreativitas sesuai dengan isi materi pelajaran.
c. Upaya memperbanyak arah komunikasi dan menerapkan banyak metode, media secara
bervariasi dapat berdampak positif. Cara seperti itu juga akan memberi peluang
memperoleh balikan untuk menilai efektivitas pembelajar itu. Ini dimaksud balikan tidak
ditunggu sampai ujian akhir tetapi dapat diperoleh pembelajar dengan segera. Dengan
demikian kesalahan-kesalahan dan kekeliruan dapat segera diperbaiki. Jadi, CBSA
memberi alasan untuk dilaksanakan penilaian secara efektif, secara terus-menerus melalui
tes akhir tatap muka, tes formatif dan tes sumatif.
d. Dilihat dari segi pemenuhan meningkatkan mutu pendidikan di LP’TK (Lembaga
Pendidikan Tenaga Pendidik) maka strategi dengan pendekatan CBSA layak mendapat
prioritas utama. Dengan wawasan pendidikan sebagai proses belajar mengajar
menggarisbawahi betapa pentingnya proses belajar mengajar yang tanggung jawabnya
diserahkan sepenuhnya kepada pembelajar. Dalam hal ini materi pembelajar harus benar-
benar dibuat sesuai dengan kemampuan berpikir mandiri, pembentukan kemauan si
pembelajar. Situasi pembelajar mampu menumbuhkan kemampuan dalam memecahkan
masalah secara abstrak, dan juga mencari pemecahan secara praktik.
3. Hakikat Pendekatan CBSA
Siswa pada hakekatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara
jelas, maka kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan
potensi itu. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada siswa sesuai
dengan taraf perkembangannya, sehingga mereka memperoleh konsep. Dengan
mengembangkan keterampilan-keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu
menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta mengembangkan sikap
dan nilai yang dituntut. Proses belajar-mengajar seperti inilah yang dapat menciptakan
siswa belajar aktif.
Hakekat dari CBSA adalah proses keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam
kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya:
a. Proses asimilasi/pengalaman kognitif, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya
pengetahuan
b. Proses perbuatan/pengalaman langsung, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya
keterampilan
c. Proses penghayatan dan internalisasi nilai, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya
nilai dan sikap
Walaupun demikian, hakekat CBSA tidak saja terletak pada tingkat keterlibatan
intelektual-emosional, tetapi terutama juga terletak pada diri siswa yang memiliki
potensi, tendensi atau kemungkinan kemungkinan yang menyebabkan siswa itu selalu
aktif dan dinamis. Oleh sebab itu guru diharapkan mempunyai kemampuan profesional
sehingga ia dapat menganalisis situasi instruksional kemudian mampu merencanakan
sistem pengajaran yang efektif dan efisien. Dalam menerapkan konsep CBSA, hakekat
CBSA perlu dijabarkan menjadi bagian-bagian kecil yang dapat kita sebut sebagai
prinsip-pninsip CBSA sebagai suatu tingkah laku konkret yang dapat diamati. Dengan
demikian dapat kita lihat tingkah laku siswa yang muncul dalam suatu kegiatan belajar
mengajar.
4. Prinsip-Prinsip Pendekatan CBSA
Prinsip CBSA adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada kegiatan-kegiatan
yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar-

mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik, Prinsip-Prinsip CBSA yang nampak
pada 4 dimensi sebagai berikut:
a. Dimensi subjek didik :
o Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada
pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang
direncanakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok,
dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.
o Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun
tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses
belajar mengajar. Hal mi terwujud bila guru bersikap demokratis.
o Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu
keberhasilan tertentu yang memang dirancang oleh guru.
o Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu
keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.
o Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun
termasuk guru.
b. Dimensi Guru
o Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta
partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.
o Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.
o Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.
o Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara serta tingkat
kemampuan masing-masing.
o Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta
penggunaan multi media. Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang
merangsang siswa untuk mencapai tujuan.
c. Dimensi Program
o Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat
serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru.
o Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep maupun aktivitas
siswa dalam proses belajar-mengajar.
o Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

d. Dimensi situasi belajar-mengajar
o Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara
guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.
o Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajar-mengajar.
5. Rambu-Rambu Pendekatan CBSA
Yang dimaksud dengan rambu-rambu CBSA adalah perwujudan prinsip-prinsip CBSA
yang dapat diukur dan rentangan yang paling rendah sampai pada rentangan yang paling
tinggi, yang berguna untuk menentukan tingkat CBSA dan suatu proses belajar-mengajar.
Rambu-rambu tersebut dapat dilihat dari beberapa dimensi. Rambu-rambu tersebut dapat
digunakan sebagai ukuran untuk menentukan apakah suatu proses belajar-mengajar
memiliki kadar CBSA yang tinggi atau rendah. Jadi bukan menentukan ada atau tidak
adanya kadar CBSA dalam proses belajar-mengajar. Bagaimanapun lemahnya seorang
guru, namun kadar CBSA itu pasti ada, walaupun rendah.

a. Berdasarkan pengelompokan siswa
Strategi belajar-mengajar yang dipilih oleh guru harus disesuaikan dengan tujuan
pengajaran serta materi tertentu. Ada materi yang sesuai untuk proses belajar secara
individual, akan tetapi ada pula yang lebih tepat untuk proses belajar secara kelompok.
Ditinjau dari segi waktu, keterampilan, alat atau media serta perhatian guru, pengajaran
yang berorientasi pada kelompok kadang-kadang lebih efektif.
b. Berdasarkan kecepatan Masing-Masing siswa
Pada saat-saat tertentu siswa dapat diberi kebebasan untuk memilih materi pelajaran
dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing.
Strategi ini memungkinkan siswa untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang mampu,
sedangkan bagi mereka yang kurang, akan belajar sesuai dengan batas kemampuannya.
Contoh untuk strategi belajar-mengajar berdasarkan kecepatan siswa adalah pengajaran
modul.

c. Pengelompokan berdasarkan kemampuan
Pengelompokan yang homogin dan didasarkan pada kemampuan siswa. Bila pada
pelaksanaan pengajaran untuk pencapaian tujuan tertentu, siswa harus dijadikan satu
kelompok maka hal ini mudah dilaksanakan. Siswa akan mengembangkan potensinya
secara optimal bila berada disekeliling teman yang hampir sama tingkat perkembangan
intelektualnya.
d. Pengelompokkan berdasarkan persamaan minat
Pada suatu guru perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk berkelompok
berdasarkan kesamaan minat. Pengelompokan ini biasanya terbentuk atas kesamaan
minat dan berorientasi pada suatu tugas atau permasalahan yang akan dikerjakan.
e. Berdasarkan domein-domein tujuan
Strategi belajar-mengajar berdasarkan domein/kawasan/ranah tujuan, dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
1) Menurut Benjamin S. Bloom CS, ada tiga domein ialah:
a) Domein kognitif, yang menitik beratkan aspek cipta.
b) Domein afektif, aspek sikap.
c) Dornein psikomotor, untuk aspek gerak.
2) Gagne mengklasifikasi lima macam kemampuan ialah:
a) Keterampilan intelektual.
b) Strategi kognitif.
c) Informasi verbal.
d) Keterampilan motorik.
e) Sikap dan nilai.
CBSA dapat diterapkan dalam setiap proses belajar mengajar. Kadar CBSA dalam setiap
proses belajar mengajar dipengaruhi oleh penggunaan strategi belajar mengajar yang
diperoleh. Dalam mengkaji ke-CBSA-an dan kebermaknaan kegiatan belajar mengajar,
Ausubel mengemukakan dua dimensi, yaitu kebermaknaan bahan serta proses belajar
mengajar dan modus kegiatan belajar mengajar. Ausubel mengecam pendapat yang
menganggap bahwa kegiatan belajar mengajar dengan modus ekspositorik, misalnya
dalam bentuk ceramah mesti kurang bermakna bagi siwa dan sebaliknya kegiatan belajar
mengajar dengan modus discovery dianggap selalu bermakna secara optimal.
Menurutnya kedua dimensi yang dikemukakan adalah independen, sehingga mungkin

saja terjadi pengalaman belajar mengajar dengan modus ekspositorik sangat bermakna
dan sebaliknya mungkin saja terjadi pengalaman belajar mengajar dengan modus
discovery tetapi tanpa sepenuhnya dimengerti oleh siswa. Yang penting adalah terjadinya
asimilasi kognitif pengalaman belajar itu sendiri oleh siswa.
B. Pendekatan Konsep dalam Pembelajaran Bahasa
Perbuatan belajar ingin menguasai dan memperoleh sistem respons berupa perilaku yang
mengait domein (ranah) kognitif, efektif dan psikomotorik. rincian tujuan secara
operasional akan menentukan strategi, pendekatan dan metode-metode mengajar atau
juga model-model pembelajar dalam pengembangan kegiatan belajar-mengajar- Berikut
ini akan memperlihatkan pendekatan konsep dalam kegiatan belajar-mengajar.
1. Konsep dan Ciri-ciri Konsep Apakah konsep itu ?
Konsep adalah klasifikasi perangsang yang memiiiki ciri-ciri tertentu yang sama. Konsep
merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman. Manifestasi
(perwujudan) proses kognitif melalui tahap-tahap.
a. Mengklasifikasikan pengalaman untuk menguasai konsep tertentu.
b. Menafsirkan pengalaman dengan jalan menghubungkan konsep yang telah diketahui
untuk menyusun generalisasi.
c.Mengumpulkan informasi untuk menafsirkan pengalaman.
Setiap konsep yang telah diperoleh mempunyai perbedaan isi dan luasnya. Seseorang
yang memiiiki konsep melalui proses yang benar pengalaman dan pengertiannya aican
kuat. Kemampuan membedakan sangat dibutuhkan dalam penguasaan konsep. Dapat
membedakan konsep berarti dapat melihat ciri-ciri setiap konsep.
2. Ciri-ciri suatu konsep adalah
a. Konsep memiliki gejala-gejala tertentu
b. Konsep diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman laagsung.
c. Konsep berbeda dalam isi dan luasnya.
d. Konsep yang diperoleh berguna untuk menafsirkan pengalaman-pengalarnan.
e. Konsep yang benar membentuk pengertian.
f. Setiap konsep berbeda dengan melihat ‘ciri-ciri tertentu.
3. Pendekatan Konsep dalam Kegiatan Belajar Mengajar
Konsep dasar adalah konsep yang diperoleh melalui pengalaman yang benar. Konsep
dasar berkembang melalui bimbingan pendidikan dan proses belajar mengajar.
Contoh : Perkembangan konsep bahasa anak. Dimulai dari suaru-suara yang tak ada
artinya (berceloteh) menjadi suara.huruf, lambat laun menjadi suku kata.
Konsep dimulai dengan memperkenalkan benda konkret, berkembang menjadi simbol
sehingga menjadi abstrak yang berupa ucapan atau tulisan yang mengandung konsep
yang lebih kompleks.
Konsep yang kompleks memerlukan permunculan berulang kali dalam satu pertemuan
dalam kelas, didukung media atau sarana yang tepat.
contoh : Kalau pengajar menjelaskan konsep “mata”, maka pembelajar dapat
memperlihatkan mata mereka secara konkret. Pengajar bertanya. inana matamu ? Apa
gunanya mata. Berapa matamu ? Dan pertanyaan-pertanyaan ini pembelajar dapat
menghubungakan benda konkret dengan fungsinya dan kegiatannya. Semua ini
memunculkan pengalaman baru.
Dalam proses internalisasi suatu konsep perlu diperhatikan dari beberapa hal; antara lain.
Memperkenalkan benda-benda yang semula tak bernama .menjadi bernama.

-Memperkenalkan unsur benda, sehingga memberi kemungkinan unsur lain.
.Menunjukkan persetujuan dengan membandingkan contoh dan bukan contoh
Contoh : pakaian: kain-kain yang dibuat dan dipakai di badan
bukan contoh : tas, kalung, giwang; barang-barang ini dipakai tetapi bukan pakaian,.
Oleh karena itu kondisi yang dipertimbangkan dalam kegiatan belajar mengajar dengan
pendekatan konsep adalah
1. Menanti kesiapan belajar, kematangan berpikir sesuai denaan unsur lingkunean.
2. Mengetengahkan konsep dasar dengan persepsi yang tienar yang mudah dimengerti.
3. Memperkenalkan konsep yang spesiflk dari pengalaman yang spesifik pula sampai
konsep yang kompleks.
4. Penjelasan perlahan-lahan dari yang konkret sampai ke yang abstrak.

Pengajar menempel kertas bergambar yang ada tulisannya BAJU”. Tulisan di bawah
baju. Pengajar sambil rnenunjuk gambar dan tulisan secara bergantian. Kegiatan ini
diulang ulang dan tekanan pada ucapan (membaca) kata BAJU itu..Pengajar menunjuk
sekali lagi gambar yang telah dikelompokkan. sebagai contoh
gambar : kemeja, blus, kebaya, celana, rok dan lain sebagainya yang dikelompokkan
dengan gambar tas, sepatu, ikat pinggang, topi dsb. Pengelompokan ini berdasarkan
contoh (sebenarnya) dan berdasarkan bukan contoh (sebagai pelengkap atau yang
berkesan mirip). Pembelajar menganiutidan mencamkan.Pengajar bersama pembelajar
memberi sebuah nama atau istilah. Gambar ini atau
barang yang termasuk baju dan gambar atau barang yang bukan baju tetapi sebagai
pelengkap. Pembelajar secara lisan dapat menyebut dengan nama “BAJU” dan defmisi
Menurut Jerome Bruner strategi pengolahan informasi perolehan konsep dilakukan
dengan pendekatan konsep secara cermat. Imbauan J. Bruner ialah agar pembelajar
memiliki kemampuan berpikir induktif dan pada pembelajar terbentuk konsep yang
benar. Selain memiliki konsep yang benar juga memiliki konsep yang kuat pada din
pembelajar. Akan tetapi jangan tergesa-gesa mengambil menyimpulkan menjadi simbol.
Dampaknya pembelajar hanya akan meniru yang diucapkan pengajar. Jika konsep dasar
yang dimiliki pembelajar kuat maka dengan mudah ia akan memberi pengertian sesuai
dengan situasi. Dengan proses pembelajaran, proses bimbingari, proses pendidikan yang
kontinyu akhimya konsep-konsep dasar akan dapat diperhalus. Kedewasaan pembelajar
yang makin bertamball dan meningkat, pengajar dapat mempercepat proses pembentukan
konsep dalam pembelajaran.
4) Cara Mempercepat Konsep
a. Contoh dan bukan contoh diharapkan sedapat mungkin dengan kehidupan sehari-hari.
b. Memberi nama, istilah dan definisi sesuai dengan contoh yang konkret.
c. Menghindari konsep yang tertutup atau yang sulit dipahami oleh pembelajar, dengan
alasan kemampuan berpikir si pembelajar masih sederhana.
d. Memberi kesempatan lebih banyak untuk menghubungkan dengan pengalaman atau
memperoleh pengalaman.
e. Memberi latihan-latihan secara teratur, dan memberi kesempatan untuk berhasil.
f. Membantu menemukan simbol dalam konsep itu dan menyusunnya dalam suatu kata
atau kalimat yang dapat diterima oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain.
“BAJU”.
3) Tahap Ikonik

a. Pengajar menunjuk tulisan “BAJU”, pembelajar mengucapkan “BAJU”.
b. Pengajar mengucapkan kai., “BAJU”, pembelajar dapat menjelaskan pengertian
“BAJU”.
c. Kalau pengajr menyuruh seorang pembelajar, “Lipatlah baju mil pembelajarpun akan
mengambil salah satu baju dan dilipat. Ini suatu pertanda bahwa pembelajar telah
memiliki konsep.

C.PENDEKATAN CBSA DALAM PEMBELAJARAN
Sejak dulu selalu dibicarakan masalah cara mengajar guru di kelas. Cara mengajar
dipakainya dengan istilah metode mengajar. Metode diartikan cara. Jika diperhatikan
berbagai metode yang dikenal dalam dunia pendidikan atau pembelajaran dan jumlahnya
makin mengembang, maka dipertanyakan apakah metode itu. Ada beberapa jawaban
untuk itu di antaranya, “Cara-cara penyajian bahan pembelajaran”. Dalam bahasa Inggris
disebut “method”. Dalam kata metode tercakup beberapa faktor seperti, penentuan urutan
bahan, penentuan tingkat kesukaran bahan, dan suatu sistem tertentu untuk mencapai
tujuan tertentu. Di samping istilah metode yang diartikan sebuah “cara” ; bahkan ada
yang menggunakan istilah “model”.
Pada umumnya metode lebih cenderung disebut sebuah pendekatan. Dalam bahasa
Inggris dikenal dengan*kata “approach” yang dimaksudnya juga “pendekatan”. Di dalam
kata pendekatan ada unsur psikhis seperti halnya yang ada pada proses belajar mengajar.
Semua guru profesional dituntut terampil mengajar tidak semata-mata hanya menyajikan
materi ajar. lapun dituntut memiliki pendekatan mengajar sesuai dengan tujuan
instruksional. Menguasai dan memahami materi yang akan diajarkan agar dengan cara
demikian pembelajar akan benar-benar memahami apa yang akan diajarkan. Piaget dan
Chomsky berbeda pendapat dalam hal hakikat manusia. Piaget memandang anak-
akalnya-sebagai agen yang aktif dan konstruktif yang secara perlahan-lahan maju dalam
kegiatan usaha sendiri yang terus-menerus. Keduanya tidak menyukai pendekatan-
pendekatan psikologis yang lebih awal. Pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)
menuntut keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari. Pendekatan CBSA
menuntut keterlibatan mental vang tinggi sehmgga terjadi proses-proses mental yang
berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomolorik. Melalui proses
kognitif pembelajar akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip.
A.Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan CBSA ?
Konsep CBSA yang dalam bahasa Inggris disebut Student Active Learning (SAL) dapat
membantu pengajar meningkatkan daya kognitif pembelajar. Kadar aktivitas pembelajar
masih rendah dan belum terpogram. Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar dapat
melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Tidak untuk
dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara bersama-sama
B. Dasar-Dasar Pemikiran CBSA
Usaha penerapan dan peningkatan CBSA dalam kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
merupakan usaha “proses pembangkitan kembali” atau proses pemantapan konsep CBSA
yang telah ada. Untuk itu perlu dikaji alasan-alasan kebangkitan kembali dan usaha
peningkatan CBSA Dasar dan alasan usaha peningkatan CBSA Secara rasional adalah
sebagai berikut:
1. Rasional atau dasar pemikiran dan alasan usaha peningkatan CBSA dapat ditinjau
kembali pada hakikat CBSA dan tujuan pendekatan itu sendiri. Dengan cara demikian

pembelajar dapat diketahui potensi, tendensi dan terbentuknya pengetahuan, keterampilan
dan sikap yang dimilikinya. Pada dasarnya dapat diketahui bahwa baik pembelajar.
materi pelajaran, cara penyajian atau disebut juga pendekatan-pendekatan berkembang.
Jadi hampir semua komponen proses belajar mengajar mengalami perubahan.
Perubahan ini mengarah ke segi-segi positif yang harus didukung oleh tindakan secara
intelektual, oleh kemauan, kebiasaan belajar yang teratur, mempersenang diri pada waktu
belajar hendaknya tercipta baik disekolah maupun di rumah. Bukankah materi pelajaran
itu banyak, bervariasi dan ini akan memotivasi pembelajar memiliki kebiasaan belalar.
Dalam bubungannya dengan CBSA salah satu kompetensi yang dituntut ialah memiliki
kemampuan profesional, mampu memiliki strategi dengan pendekatan yang tepat.
2. Implikasi mental-intelektual-emosional yang semaksimal mungkin dalam kegiatan
belajar mengajar akan mampu menimbulkan nilai yang berharga dan gairah belajar
menjadi makin meningkat. Komunikasi dua arah (seperti halnya pada teori pusara atau
kumparan elektronik) menantang pembelajar berkomunikasi searah yang kurang bisa
membantu meningkatkan konsentrasi. Sifat melit yang disebut juga ingin tahu
(curionsity) pembelajar dimotivasi oleh aktivitas yang telah dilakukan. Pengalaman
belajar akan member!
kesempatan untuk rnelakukan proses belajar berikutnya dan akan menimbulkan
kreativitas sesuai deengan isi materi pelajaran
3. Upaya memperbanyak arah komunikasi dan menerapkan banyak metode, media secara
bervariasi dapat berdampak positif. Cara seperti itu juga akan member! Peluang
memperoleh balikan untuk menilai efektivitas pembelajar itu. Ini dimaksud balikan tidak
ditunggu sampai ujian akhir tetapi dapat diperoleh pembelajar dengan segera. Dengan
demikian kesalahan-kesalahan dan kekeliruan dapat segera diperbaiki. Jadi, CBSA
member! alasan untuk dilaksanakan penilaian secara efektif, secara terus-menerus
melalui tes akhir tatap muka, tes formatif dan tes sumatif.
4. Dilihat dari segi pemenuhan meningkatkan mutu pendidikan di LP’TK (Lembaga
Pendidikan Tenaga Pendidik) maka strategi dengan pendekatan CBSA layak mendapat
prioritas utama. Dengan wawasan pendidikan sebagai proses belajar mengajar
menggarisbawahi betapa pentingnya proses belajar mengajar yang tanggung jawabnya
diserahkan sepenuhnya kepada pembelajar. Dalam hal ini materi pembelajar harus benar-
benar dibuat sesuai dengan kemampuan berpikir mandiri, pembentukan kemauan si
pembelajar. Situasi pembelajar mampu menumbuhkan kemampuan dalam memecahkan
masalah secara abstrak, dan juga mencari pemecahan secara praktik.

BAB III
ANALISIS
A.Beberapa Pengertian Kurikulum
Perkataan kurikulum mulai dikenal sebagai suatu istilah dalam dunia pendidikan sejak
kurang lebih satu abad yang lampau. Istilah kurikulum muncul untuk pertama kalinya di
dalam kamus Webstertahun 1856. Pada tahun itu penggunaan kurikulum dipakai dalam
bidang olahraga, yakni suatu alat yang membawa seseorang dan start sampai finish. Bam
pada tahun 1955 istilah kurikulum dipakai dalam bidangpendidikan dengan arti sejumlah
matapelajaran pada perguruan tinggi. Di dalam kamus tersebut (Webster), kurikulum

diartikan dalam dua macam, yaitu:
1. sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari murid di sekolah atau
perguruan tinggi untuk memoeroleh ijazah tertentu.
2. sejumlah mata pelajaran yang ditawarkan oleh suatu lembaga pendidikan atau suatu
departemen. Pengertian di atas membawa implikasi bahwa proses pendidikan di sekolah
yang termasuk kurikulum hanya mata pelajaran yang ditawarkan untuk dipelajari murid.
Kegiatan belajar selain mempeiajari mata pelajaran tidak termasuk ke dalam kurikulum.
Padahal sebagaimana diketahui bahwa proses pendidikan di sekolah mencakup berbagai
kegiatan yang diarahkan kepada pembentukan pribadi murid, baik jasmaniah maupun
rohaniah. Mempelajari sejumlah mata pelajaran di sekolah hanya saiah satu segi dan
pembentukan kepribadian itu.
3. Bila ditelusuri temyata istilah kurikulum mempunyai berbagai macam arti, yaitu:
a. Kurikulum diartikan sebagai rencana pelajaran
b. Kurikulum diartikan sebagai pengalaman belajar yang diperoleh murid dan sekolah
c. Kurikulum diartikan sebagai rencana belajar murid
Adanya pengertian yang mengatakan bahwa kurikulum tidak lebih dan sekedar rencana
pelajaran di suatu sekolah disebabkan oleh pandangan tradisional. Menurut pandangan
tradisional, sejumlah pelajaran yang harus ditempuh murid di suatu sekolah ilulah yang
merupakan kurikulum, sehingga menimlbulkan kesan seolah-olah belajar di sekolah
hanya sekedar mempelajari bukubuku leks yang sudah ditentukan sebagai bah an
pelajaran.
Kurikulum tradisional membeda-bedakan kegiatan belajar yang termasuk ke dalam
kegiatan kurikulum, kegiatan penyertaan kurikulum dan kegiatan di luar kurikulum.
Kegiatan-kegiatan belajar selain mempelajari sejumlah mata pelajaran yang sudah
ditentukan, bukan termasuk pada kegiatan kurikulum. Bila kegiatan itu merupakan
penunjang atau penyertaan dalam mempelajari suatu mata pelajaran tertentu dan
kurikulum, ini dianggap sebagai kurikulum penyerta (co-cunicular activities). Contohnya
kegiatan praktek kimia, ftsika, atau biologi di laboratorium; kunjungan ke suatu museum
untuk pembelajaran sejarah, dan sebagainya. Bila kegiatan itu tidak termasuk pelajaran
dan juga bukan penyerta, maka dimasukkan pada kegiatan di luar kurikulum
(extracurricular activities), seperti pramuka, olahraga, dan sebagainya.
Sedangkan menurut pandangan modem, kurikulumlebih dan sekedar rencanapelajaran.
Kurikulum di sini dianggap sebagai sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan
di sekolah. Pandangan ini bertolak dari sesuatu yang bersifat aktual sebagai suatu proses.
Dalam pendidikan kegiatan yang dilakukan murid dapat memben pengalaman belajar,
antara lain mulai dari mempelajari sejumlah mata pelajaran, berkebun, olahraga,
pramuka, bahkan pergaulan sesama murid maupun guru dan petugas sekolah dapat
memben pengalaman belajar yang bermanfaat. Semua pengalaman belajar yang diperoleh
dari sekolah itu dipandang sebagai kurikulum.
Atas dasar ini, inti kurikulum sebenarnya adalah pengalaman belajar. Pengalaman belajar
itu banyak kaitannya dengan melakukan berbagai kegiatan, interaksi sosial di lingkungan
sekolah, proses kerja sama dalam kelompok, bahkan interaksi dengan lingkungan fisik,
seperti gedung sekolah, tata ruang sekolah, murid memperoleh berbagai pengalaman.
Dengan demikian pengalaman itu bukan sekedar mempelajari mata pelajaran, tetapi yang
terpenting adalah pengalaman kehidupan. Semua ini dicakup dalam pengertian kurikulum

B.Antara Kurikulum, Pengajaran dan Buku Teks
Kita tentunya telah mengetahui, bahwa kurikulum menunjukkan semua pengalaman
belajar siswa di sekolah. Atas dasar pandangan tersebut, diperoleh kesan bahwa sekolah
dapat dipandang sebagai miniatur masyarakat, karena di dalam lingkungan sekolah murid
mempelajari segi-segi kehidupan sosial, seperti norma-norma, nilai-nilai, adat istiadat,
gotong-royong atau kerja sama, dan sebagainya. Semua ini mirip dengan apa yang terjadi
di lingkungan masyarakat. Dengan demikian proses pendidikan dapat diarahkan kepada
pembentukan pribadi anak secara utuh, dan ini dicapai meialui kurikulum sekolah.
Dari kajian di atas ternyata pengertian kurikulum itu sangat luas; yakni pengalaman
belajar murid. Keluasan ini pada akhirnya dapat membingungkan para guru dalam
mengembangkan kurikulum, sehingga akan menyulitkan dalam perencanaan
pengajarannya.
HildaTaba mencoba memandang kurikulum dari sisi lain. Dia menganggap bahwa suatu
kurikulum biasanya terdiri atas tujuan, isi, pola belajar-mengajar, dan evaluasi.
Pandangan Taba tentang kurikulum yang lebih fungsional ini diikuti oleh tokoh-tokoh
lain, diantaranya adalah Ralph W. Tyler. Menurut Tyler, ada beberapa pertanyaan yang
perlu dijawab dalam proses pengembangan kurikulum dan pengajaran, yaitu:
1. Tujuan apa yang ingin dicapai?
2. Pengalaman belajar apa yang perlu disiapkan untuk mencapai tujuan?
3. Bagaimana pengalaman belajar itu diorganisasikan secara efektif
4. Bagaimana menentukan keberhasilan pencapaian tujuan?. Jika kita mengikuti
pandangan Tyler di atas maka pengajaran tidak terbatas hanya pada proses pengajaran
terhadap satu bahan tertentu saja, melainkan dapat pula diterapkan dalam pengajaran
untuk satu bidang studi atau pengajaran di suatu sekolah. Demikian pula kurikulum,
dapat dikembangkan untuk kurikulum suatu sekolah, kurikulum bidang studi atau pun
kurikulum untuk suatu bahan pelajaran tertentu.
Atas dasar pandangan tersebut, kita sebagai guru dapat mengembangkan kurikulum untuk
berbagai tujuan. Namun satu hal perlu dijadikan dasar dalam pengembangan kurikulum,
yaitu bahwa semua keputusan yang dibuat haruslah mempunyai landasan berpijak yang
kokoh. Ini dimaksudkan agar kurikulum yangdibuat dapat menuntun murid mencapai
tujuan jangkapendek yang dapat dijadikan alat untuk mencapai tujuan pendidikan jangka
panjang itu.
Komponen-komponen Kurikulum yaitu:
1. Komponen tujuan
2. Komponen isi
3. Komponen metode proses belajar-mengajar
4. Komponen evaluasi atau penilaian. Komponen Tujuan, yaitu arah atau sasaran yang
hendak dituju oleh proses penyelenggaraan pendidikan. Dalam setiap kegiatan sepatutnya
mempuny ai tujuan, karena tujuan menuntun kepada apa yang hendak dicapai, atau
sebagai gambaran tentang hasil akhir dan suatu kegiatan..
Isi Kurikulum, yaitu pengalaman belajar yang diperoleh murid dari sekolah. Dalam hal
ini murid melakukan berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh pengalaman belajar
tersebut. Pengalaman-pengalaman ini dirancang dan diorganisasikan sedemikian rupa
sehingga apa yang diperoleh murid sesuai dengan tujuan.
Ada beberapa kendala yang sering menyebabkan kegagalan dalam pelaksanaan
kurikulum di sekolah, yakni guru dalam proses belajar mengajar hanya menyampaikan

materi yang bersifat fakta, tidak bersifat prinsipal. Misalnya dalam pelajaran matematika,
murid hanya belajar tentang langkah-langkah memecahkan soal. Sedangkan prinsip
umum yangberlaku bagi sesuatu bahan tidak diberikan. Alangkah baiknya jika kepada
murid diberikan prinsip umum. Dengan prinsip umum ini murid diajari untuk
memecahkan berbagai persoalan.
Memang tidak mudah untuk menentukan mana yang prinsip, mana yang bersifat fakta.
Untuk itu dalam menentukan isi kurikulum diperlukan keahlian seseorang dalam sesuatu
bidang atau mata pelajaran tertentu. Dengan keahlian itulah dapat dikaji struktur bahan
yang menjadi isi kurikulum. Dalam hal ini tentunya diperlukan seorang guru yang
berkompetensi.
Metode atau Proses Belajar Mengajar yaitu cara murid memperoleh pengalaman belajar
untuk mencapai tujuan. Metode kurikulum berkenaan dengan proses pencapaian tujuan
sedangkan proses itu sendiri bertalian dengan bagaimana pengalaman belajar atau isi
kurikulum diorganisasikan. Setiap bentuk yangdigunakan membawadampak terhadap
proses memperoleh pengalaman yang dilaksanakan. Untuk itu perlu ada kriteria pola
organisasi kurikulum yang efektif.
Kriteria dalam merumuskan organisasi kurikulum yang efektif menurut Tyler adalah:
1.Berkesinambungan (continuity)
2.Berurutan (sequence)
3. Keterpaduan (integration)
1) Berkesinambungan, yaitu adanya pengulangan kembali unsur-unsur utama kurikulum
secara vertikal. Sebagai contoh, jika dalam pelajaran Bahasa pengembangan keterampilan
membaca dipandangsebagai sesuatu yang sangat penting, maka latihan membaca perlu
dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan. Dengan demikian keterampilan
murid dalam membaca dapat berkembang secara efektif melalui pelajaran di sekolah.
Berurutan, yaitu isi kurikulum diorganisasi dengan cara mengurutkan bahan pelajaran
sesuai dengan tingkat kedalaman atau keluasan yang dimiliki. Sebagai contoh,
keterampilan membaca dengan adanya kurikulum resmi seorang guru diharapkan dapat
merumuskan bahan sesuai dengan apa yang telah diprogramkan. Dengan demikian,
fungsi kurikulum ialah sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan tugasnya sehari-
hari disekolah. Kurikulum dan Buku Teks. Bagi para guru yang setiap hari berkecimpung
dalam dunia pendidikan dan pengajaran, akan terasa benar betapa erat hubungan antara
kurikulum dengan buku teks atau buku pelajaran. Begitu eratnya, terasa hubungan itu
saling menunjang antara satu dengan yang lain.
Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa kurikulum lebih dahulu daripada buku
teks. Dan buku dianggap sebagai sarana penunjang bagi kurikulum tersebut. Walaupun
begitu, tidaklah tertutup samasekali bahwa kurikulum tahirberdasarkan adanya buku yang
dianggap relatif baik untuk dituruti dan diprogramkan dengan bersistem. Pada
hakikafnya, kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan buku
teks adalah sarana belajar yangbiasa digunakan di sekolah-sekolah untuk menunjangsuatu
program pengajaran. Dengan demikian, antara kurikulum dan buku teks keberadaannya
selalu berdekatan dan berkaitan. Atau dengan perkataan lain, kurikulum itu ibarat resep
masakan dan buku teks adalah bahan-bahan yang dilakukan untuk mengolah masakan
tersebut. Dalam hal ini pengolahan atau juru masaknya adalah guru.
Cara Mengembangkan Kurikulum. Setelah kita mengetahui tentang konsep dan
kedudukan kurikulum dalam pendidikan yang telah diuraikan secara luas, maka sekarang

kita menginjak pada langkah-langkah atau cara mengembangkan kurikulum. Langkah-
langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Menentukan tujuan. Rumusan tujuan dibuat berdasarkan analisis terhadap berbagai
tuntutan, kebutuhan dan harapan. Oleh karena itu, tujuan dibuat dengan
mempcrtimbangkan faktor-faktor kebutuhan masyarakat, maupun murid, seperti
kebutuhan masyarakat dan murid di daerah pedesaan.
2. Menentukan isi. Isi kurikulum merupakan materi yang akan diberikan kepada murid
selama mengikuti proses pendidikan atau proses belajar-mengajar. Materi ini dapat
berupa mata-mata pelajaran ataupun masalah-masalah yang berhubungan dengan
kehidupan, yang perlu dipelajari untuk mencapai tujuan.
3. Merumuskan kegiatan belajar-mengajar. Hal ini mencakup penentuan metode dan
keseluruhan proses belajar-mengajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
4. Mengadakan evaluasi. Evaluasi banyak bergantung kepada tujuan yang hendak
dicapai. Hal ini sangat penting dalarn rangka menghasilkan balikan (feedback)
untukmengadakan perbaikan. Oleh karena itu, evaluasi harus dilakukan terus-menerus,
baik terhadap hasil maupun proses belajar.
C. Menjadikan siswa aktif dengan metode KBM yang menarik
Untuk menjadikan siwa aktif dalam kegiatan KBM seorang pengajar harus memiliki
criteria yang baik dalam pembelajaran diantarnya adalh;
1. kurikulum yang baik dan berkualitas
2. .seorang pengajar mempunyai metode yang menarik sehingga siswa mempunya
ketertarikan dalam belajar.
3. siswa dan pengajar mampu mengerti dalam kegiatan KBM, sebagai mana
contonya,kenapa siswa harus belajar?untuk apa?dan mamfaatnya?dan begitu juga dengan
guru,bagaiman ia dapat menjadi guru yang baik dan mampudimengerti oleh siswa? Jadi
seorang guru harus memilik metode pengajaran yang baik dan dinamik untuk
kelangsungan KBM.

BAB VI
KESIMPULAN DAN PENUTUPAN

Mendidik subjek didik untuk membangun dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas
pembangunan bangsa dalam dunia dan masyarakat dan terus-menerus berubah mampu
menuntut dia mampu berfikir sendiri.Hal ini perlu memahamidan memperlakukan
tuntutan peningkatan teknologi sains dan teknologi pada suatu generasi yang sebagian
tumbuh di pedesaan ,akan mempunyai dampak pada kehidupan lama yang sebelumnya
belum dialaminya.
Pertumbuhan dan pendidikan sikap yang sesuai diperlukan supaya tekaman – tekaman
hidup sebagai konsekuensi dari perkembangan sains dan teknologi ti9dak
menjerumuskan kita dalam suatu pertumbuhan masyarakat ekonomi yang serba
materialis,konsutif dan individualisti yang meruan dampak peningkatan ekonomi .apa
yang dihasilkan oleh sekolah merupakn persiapan dalam menghadapi tuntutan jaman dn
masa depan yang diakaitakan.untuk itu ,tidak saja ia harus mengwujudkan potensinya
secara alamiah dalam menghadapi masa depan tetapi ia harus mampu membangun dan
menguasai masa depan itu.disini terlekak factor pengembangan sikap untu sepenuhynya

bertanggung jawab terhadap tugasnya(matra afektif)yamg mewujudkan tekad
kecendurungan (tendency) dan kejadian (event) dari masa depan itu.keterampilan fisik
dan mental(matra psikomotorik)dan perolehan pengetahuan(kognitif)untuk berpikir
mandiri diperoleh denga pendekatan keterampilan prose situ merupakan penyatu kaitan
yang mendalam(interpenetrasi)dari empat matra,yang membuka suasana kondusif yang
ditandai oleh kepekaan intuitif (matra interaktif) terhadap berbagi masalah, sekaligus
menampilkan kreatifitasnya

papers how active student learning
Posted by welcome to my blog at 23:10
PREFACE

Praise be to GOD Almighty who has given everything nik'matnya to his servants, and
therefore this paper we can finish with either, although in this writing are still so many
shortcomings
And we ucapakan our gratitude to our parents who always our member morale in their
studies and ultimately give us a spirit of motivation in their studies
And we also ucapakn our gratitude to the father slamet who patiently guided us and led
us in learning
Maybe we as a writer very much aware that this paper is still a far cry from perfection,
either of the contents, we strongly expect that penyajian.untuk suggestions and
constructive criticism towards the author ini.semoga kesempernuaan presence of sedrhan
makalha this member to readers and terutam mamfaat to the author.

Jakarta, 27 -06-2009

(Author)
TABLE OF CONTENTS

Foreword ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .. i
Table of Contents ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ii
Chapter I Introduction ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .. ... ... ... iii
Chapter II Theory ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .... ... ... ... .... Iv
a. (Active learning mode) ........................................... CBSA ........................ iv
1. Understanding CBSA approach ............................................... .................... iv
2. Premises CBSA approach ............................................ . iv
3. CBSA approach ............................................... Itself ........................ iv
4. CBSA Principles Approach ............................................. .............. iv
b. Examples of concepts in language learning approach ... .... ... ... ... .... V

c. CBSA approach in teaching ... ... ... ... ... ... ... ... ... .... ... ... .... Vi
CHAPTER III
ANALYSIS ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... vii
a. Be some understanding of the curriculum ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ....
Vii
b. Between curriculum, instruction and textbooks ... ... ... ... ... ... ... .... ... ... ... Vii
c. Makes students active with interesting teaching methods ... ... ... ... .... Vii
CHAPTER IV Conclusion .................... ... ... ......................... ............................ viii
CLOSING
Chapter I
Preliminary
If we review the development and growth of someone, then increasingly clear that a
person living in a civilized environment it is a struggle of a person to live with human
rights in expressing himself, willed beings who stood alone. He gave a more active
contribution in the social environment, the more he had to bond and accept the norms of
the environment, the more meningkatatkan aspirations in the interests concerned to
achieve his goals in making himself (self actualozation), referring to independence.
Live between two poles of human existence, social (environmental) and the poles of
individual existence, the one with the other intertwined in him (idividualisasi and
socialization). On the one hand he was entitled to bring himself or the existence of
individual polar want to be appreciated and recognized, but on the other hand he had to
adjust to the provisions applicable in the community, within their social environment (the
poles of social existence). If between these two poles there is a balance, then he will
achieve a healthy mental state, but not merely the balance is what is the meaning of life.
In general human and aspires to realize the aspirations that there is a distance traveled by
each person, ie the distance potential and what he wanted to accomplish, know yourself
as the distance between where he is, his performance (self concept) and as he wants to be.

Educating the hakikanya an aid to achieving progress in realizing itself, without ignoring
the interests in these developments such lingkunganya tercentus in the formulation of the
Guidelines are contrary to the Constitution 45 in the life of the Pancasila, the Indonesian
people fully include self-reliance and the ability to share responsibility for the
development of their nation. This means that ways of providing information and
atmosphere interactions that lasted more important than the information sendiri.disinilah
process becomes a means not only improve the way of active student learning.
Finally, a simple paper and hopefully this brief explanation so easy to digest for the
reader and the writer himself.

CHAPTER II
LEARNING APPROACH
A. CBSA (ON STUDENT LEARNING HOW)
1. CBSA approach to understanding
In general, more likely method is called an approximation. In English, known by the
word "approach" which meant also "approach". In the words there are elements of the
approach as well as existing psikhis on teaching and learning process. All teachers are
required skilled professionals to teach not merely present the teaching materials. Teachers

are required to have teaching approach in accordance with instructional goals. Mastering
and understanding the material to be taught to learners in this way will truly understand
what will be taught. Piaget and Chomsky's dissent in the case of human nature. Piaget
looked at children-are distorted, as an active and constructive agents that gradually
progress in their own operations constantly. CBSA approach (Students Active Learning
mode) require mental engagement of the students on the material studied.
CBSA is a teaching approach that provides opportunities for students to actively engage
secar physical, mental, intellectual, and emotional in the hope that students gain the
maximum learning experience, whether in the realm of cognitive, affective, and
psychomotor. CBSA approach requires the involvement of Leaves of mental high that the
mental processes happening related to aspects of cognitive, affective and psikomolorik.
Through cognitive processes of learners will have the mastery of concepts and principles.
CBSA concept which in English is called a Student Active Learning (SAL) can help
teachers improve learners' cognitive resources. Learner activity levels are still low and
has not terpogram. But with the CBSA to learners can train yourself to complete the tasks
given to them. Not to do at home but worked together in class.
2. Thought Basics Approach CBSA
Implementation efforts and an increase in activity of Teaching and Learning CBSA
(MBC) is a business' return generating process "or the process of strengthening existing
CBSA concept. For it is necessary to discuss the reasons for the revival and efforts to
increase the basis and reasons CBSA CBSA efforts to improve the rational is as follows:
a. Rational or rationale and reasons for business improvement can CBSA CBSA is
reviewed at the nature and purpose of the approach itself. In this way learners can know
the potential, tendencies and the formation of knowledge, skills and attitudes they have.
Basically it is known that a good learner. subject matter, how the presentation or also
known approaches developed. So almost all the components of the learning process is
changing.
These changes led to the positive aspects that must be supported by actions intellectually,
by the will, the regular study habits, self mempersenang on study time should be created
both at school and at home. Did not matter that lesson many, varied and this will motivate
the learners have a habit belalar. In conjunction with one of the CBSA is to have the
competencies required of professional ability, was able to have a strategy with the right
approach.
b. Implications of mental-emotional-intellectual as much as possible in teaching and
learning activities will be able to generate valuable values and passion to learn to be
increasing. Two-way communication (as well as in the theory of vortex or electronic coil)
challenged the learners to communicate in the same direction that is less able to help
improve concentration. Inquisitorial nature of which is called also want to know
(curionsity) learners are motivated by activities that have been made. Learning
experience will provide opportunities for learning rnelakukan next and will lead to
creativity in accordance with the contents of the subject matter.
c. Efforts to reproduce the direction and implement the many methods of communication,
a variety of media can have a positive impact. Such a way that would also provide an
opportunity to assess the effectiveness of obtaining feedback that learners. This feedback
is not anticipated until the final examination but can be obtained with immediate learners.
Thus the errors and mistakes can be fixed. Thus, the CBSA gave reasons for the

assessment carried out effectively, continuously through the end-face test, formative tests
and summative tests.
d. Viewed from the aspect of fulfillment to improve the quality of education in LP'TK
(Manpower Education Institute of Education), the strategy with the CBSA approach
deserves priority. With an insight into education as a learning process underlines the
importance of teaching and learning process whose responsibilities handed over entirely
to the learner. In this case the material the learner should really be made in accordance
with the ability to think independently, forming the willingness of the learner. Situation
of learners able to nurture the ability to solve problems in the abstract, and also find
solutions in practice.
3. CBSA approach Itself
Students essentially have the potential or ability that has not been clearly established, the
obligation to stimulate gurulah so they could show that potential. The teachers can foster
students' skills in accordance with their level of development, so they get the concept. By
developing the skills of the acquisition process, students will be able to discover and
develop their own facts and concepts and to develop attitudes and values that are
required. Teaching-learning process such as this can create an active learning students.
The nature of the CBSA is a process of intellectual-emotional involvement of students in
teaching and learning activities that allow the occurrence:
a. The process of assimilation / cognitive experiences, namely: which enables the
formation of knowledge
b. Process actions / direct experience, namely: which enables the formation of skills
c. The process of appreciation and the internalization of values, namely: which enables
the formation of values and attitudes
Nevertheless, the essence of CBSA does not only lie in the level of intellectual-emotional
involvement, but especially also lies in the self-students who have potential, tendencies or
possibilities that lead to the student active and dynamic. Therefore, teachers are expected
to have a professional ability so that he can analyze the situation and then be able to plan
instructional teaching system that effectively and efficiently. In applying the concept of
CBSA, the essence of CBSA needs are translated into smaller parts which we could call
the principle-pninsip CBSA as a concrete behavior can be observed. Thus we can see the
behavior of students who appeared in a school activity.
4. CBSA Approach Principles
CBSA is a principle of behavioral learning based on activities that are visible, which
indicates the level of student involvement in the teaching-learning process of both
intellectual-emotional and physical, CBSA Principles which looks at four dimensions as
follows:
a. Dimensions subject students:
o The courage to realize their interests, desires, ideas and impulses that exist in students
in the teaching-learning process. Courage is realized because it was planned by the
teacher, for example by teaching through group discussion format, where students
without hesitation mengeluarkani opinion.
o The courage to seek opportunities to participate in the preparation and follow-up and a
teaching-learning process and follow-up and a learning process. This noodle realized if
teachers behave democratically.
o Creativity students in completing learning activities in order to achieve a certain

success which was designed by teachers.
o Creativity students in completing learning activities in order to achieve a certain
success, which was designed by teachers.
o Role of Smoking in doing something without feeling any pressure, and anyone,
including teachers.
b. Teacher Dimensions
o The effort to encourage students and teachers in increasing the students' enthusiasm and
active participation in the teaching-learning process.
o The ability of teachers in carrying out its role as an innovator and motivator.
o The existing democratic attitude to teachers in the teaching-learning process.
o Providing opportunities for students to learn according to how well each ability level.
o Ability to use various types of teaching-learning strategies and the use of multi media.
Mi capabilities will create a learning environment that stimulates students to achieve their
goals.
c. Dimensions Program
o The purpose of instruction, concepts and learning materials that meet the needs,
interests and abilities of students; is something very important teacher.
o Programs that allow the development of concepts and activities of students in the
teaching-learning process.
o Courses are flexible (flexible); adjusted to the situation.

d. Dimension of the teaching-learning situation
o Situation learn that embody good communication, warmth, friendliness, between
teacher-students and between students themselves in the process of teaching and learning.

o There is an atmosphere of joy and excitement on the students in the teaching-learning
process.
5. Approach signs CBSA
The meaning of signs is the embodiment of CBSA CBSA principles that can be measured
and the range of the lowest to the highest range, which is useful for determining the level
of CBSA and a teaching-learning process. These signs can be viewed from several
dimensions. These signs can be used as a measure to determine whether a teaching-
learning process has a high level or low CBSA. So rather than determining the presence
or absence in the CBSA content of the teaching-learning process. However the weakness
of a teacher, but there must be some CBSA levels, although low.
a. Based on the grouping of students
Teaching and learning strategies selected by teachers must be adapted to teaching
purposes as well as certain materials. There is material that is suitable for individual
learning process, but some are more appropriate for learning in groups. Viewed from the
aspect of time, skills, tools or media and the attention of teachers, teaching-oriented
groups are sometimes more effective.
b. Based on the speed of students' Individual
At certain moments the students can be given the freedom to choose subject matter
learning with media in accordance with their respective needs. This strategy allows
students to learn faster for those who are able, while for those with less, will be studied
according to the limits. Example for teaching and learning strategies based on the speed

of the module the student is teaching.

c. Grouping based on ability
The grouping of homogeneous and based on student ability. When the execution
instruction for achieving certain goals, students must be one group then it is easy to
implement. Students will develop their potential optimally when positioned around a
friend who was almost the same level of intellectual development.
d. Grouping based on the equation of interest
At a teacher needs to provide opportunities for students to groups based on common
interests. This grouping is usually formed on similar interests and oriented to a task or
problem that will be done.
e. Based on the domain of goal-domains
Teaching and learning strategies based on the domains / areas / domains purposes, can be
grouped as follows:
1) According to Benjamin S. Bloom CS, there are three domains are:
a) The cognitive domains, which stressed on aspects of copyright.
b) the domains of affective, aspects of attitude.
c) Dornein psychomotor, to aspects of motion.
2) Gagne classify five kinds of capabilities are:
a) Intellectual Skills.
b) cognitive strategies.
c) verbal information.
d) motor skills.
e) The attitude and values.
CBSA can be applied in any learning process. CBSA content in any learning process is
influenced by the use of teaching and learning strategies acquired. In reviewing the
CBSA and the meaningfulness of the learning activity, Ausubel suggests two dimensions,
namely meaningfulness of materials and teaching-learning process and the mode of
teaching and learning activities. Ausubel condemned the opinion that considers that the
activities of learning and teaching with ekspositorik mode, for example in the form of
speech should be less meaningful to Siwa and reverse modes of teaching and learning by
discovery is considered significant is always optimal. According to the two dimensions of
the problem is independent, so that may just be learning experiences with highly
significant ekspositorik mode and vice versa is possible teaching and learning experience
with discovery mode but without being fully understood by students. What is important is
the occurrence of cognitive assimilation of the learning experience by the students
themselves.
B. Concepts in Language Learning Approach
Act of learning to master the system and obtain a response in the form of behavior that
relate domains (domains), cognitive, effective and psychomotor. details of the operational
objectives will determine the strategies, approaches and teaching methods or models are
also learners in the development of teaching and learning activities-The following will
show the approach to the concept of teaching and learning activities.
1. Concept and Characteristics of Concept Is that concept?
The concept is a stimulant which owns the classification of certain features the same. The
concept is a mental structure which is obtained from observation and experience.

Manifestation (manifestation) of cognitive processes through the stages.
a. Classify the experience to master certain concepts.
b. Interpreting experience with the road connecting the concepts that have been known to
make generalizations.
c.Mengumpulkan information for interpreting experience.
Every concept that has been obtained has different content and breadth. A person who
owns the concept through the correct process aican strong experience and understanding.
Ability to differentiate is needed in the mastery of concepts. Can distinguish the concept
of means can see the characteristics of each concept.
2. The characteristics of a concept is
a. The concept of having certain symptoms
b. The concept gained through observation and experience laagsung.
c. Concepts differ in content and breadth.
d. Obtained useful concept for interpreting experience-pengalarnan.
e. The concept of the right to form understanding.
f. Each concept is different from seeing 'certain characteristics.
3. Concept Approach in Teaching and Learning Activities
The basic concept is a concept that gained through experience that's right. The basic
concept evolved through the guidance of education and learning process.
Example: The development of the concept of child language. Starting from suaru-voice
means nothing (talking) to suara.huruf, gradually become syllables.
Begins by introducing the concept of concrete objects, developed into an abstract symbol
to become a form of speech or writing which contains a more complex concepts.
Complex concept that requires permunculan repeatedly in a single meeting in the
classroom, supported by the media or the proper tools.
Example: If the teacher explained the concept of "eyes", then the learner can demonstrate
in concrete terms their eyes. Teachers ask. inana your eyes? What good eyes. How are
your eyes? And these questions can menghubungakan learner concrete object with its
function and its activities. All of this leads to new experiences.
In the process of internalizing a concept note of several things; among others. Introduce
objects that originally nameless. Be named.
Introducing object-elements, thus providing the possibility of another element.
. Indicates approval by comparing the sample and not an example
Examples: clothing: the fabrics are made and worn on the body
not an example: bags, necklaces, earrings, these items are used but not the clothes.
Therefore, the conditions considered in the learning and teaching approach is the concept
1. Awaiting the readiness to learn, maturity, thought fit denaan lingkunean elements.
2. Explores the basic concept with the perception that tienar easily understandable.
3. Introducing the concept of experience specific spesiflk also to a complex concept.
4. Explanation slowly from the concrete to the abstract.

Lecturer attached to the existing pictorial writing paper clothes. " The caption under the
clothes. Lecturer rnenunjuk images and writings while alternately. This activity is
repeated and repeated pressure on the speech (reading) words that outfit again .. Teachers
pointed to a picture that has been grouped. as an example
image: shirts, blouses, kebaya, pants, skirts, etc, which are grouped

with picture bags, shoes, belts, hats etc.. This grouping is based on
example (in fact) and not an example based on (as a complement or a
similar impression). Menganiutidan learners with learners mencamkan.Pengajar give a
name or term. This image or
goods including clothes and pictures or articles that are not clothes but as
complementary. Learners can verbally mention the name of "clothes" and the definition
According to Jerome Bruner acquisition strategy concepts of information processing is
done by a careful approach. J. Appeal Bruner is that learners have the ability to think
inductively and established the concept that true learner. In addition to having the correct
concept also has a strong concept in the din of the learners. But do not be hasty to
conclude become a symbol takes. The impact learners will only imitate the spoken
teacher. If the basic concept of the learner held strong so easily it will give understanding
in accordance with the situation. With the learning process, bimbingari process, the
process of continuous education that ultimately the basic concepts will be refined.
Learners who increasingly bertamball maturity and increased, teachers can accelerate the
formation of concepts in the learning process.
4) How to Accelerate Concept
a. Examples and are not expected as far as possible with examples of everyday life.
b. Giving names, terms and definitions in accordance with a concrete example.
c. Avoid the concept of a closed or hard to comprehend by the learners, by reason of the
learners' thinking skills is still modest.
d. Providing more opportunities to connect with the experience or the experience.
e. Giving exercises regularly, and give a chance to succeed.
f. Helped found the symbol in that concept and put them together in a word or phrase that
can be received by himself or by others.
"Clothes".
3) Phase iconic
a. Teachers pointed to the words "clothes", the learners say "clothes".
b. Teachers say the kai., "Clothes", the learner can explain the sense
"Clothes".
c. If pengajr sent a learner, "Fold the clothes pembelajarpun miles will take one and
folded clothes. This is a sign that the learners already have a draft.

CBSA C. APPROACH IN LEARNING
Had always discussed the problem of how to teach teachers in the classroom. How to
teach the teaching methods used by the term. Methods defined ways. If you note a variety
of methods known in the education or learning and growing in number is inflated, then it
is questionable whether the method. There are several answers to it in between, "The
ways the presentation of learning materials." In English is called "method". In the word
covered by several factors such as method, determining the sequence of materials,
determining the level of difficulty of material, and a particular system to achieve certain
goals. In addition to the methods defined the term a "way"; some even use the term
"model".
In general, more likely method is called an approximation. In English, known as * the
word "approach" which meant also "approach". In the words there are elements of the
approach as well as existing psikhis on teaching and learning process. All teachers are

required skilled professionals to teach not merely present the teaching materials. trap are
required to have teaching approach in accordance with instructional goals. Mastering and
understanding the material to be taught to learners in this way will truly understand what
will be taught. Piaget and Chomsky's dissent in the case of human nature. Piaget looked
at children-are distorted, as an active and constructive agents that gradually progress in
their own operations constantly. Both did not like the psychological approaches early.
CBSA approach (Students Active Learning mode) require mental engagement of the
students on the material studied. CBSA approach requires the involvement of higher
mental sehmgga Leaves occur mental processes associated with aspects of cognitive,
affective and psikomolorik. Through cognitive processes of learners will have the
mastery of concepts and principles.
A. What exactly is meant by CBSA?
CBSA concept which in English is called a Student Active Learning (SAL) can help
teachers improve learners' cognitive resources. Learner activity levels are still low and
has not terpogram. But with the CBSA to learners can train yourself to complete the tasks
given to them. Not to do at home but worked together in class
B. Thought Basics CBSA
Implementation efforts and an increase in activity of Teaching and Learning CBSA
(KBM)
an effort to "re-generation process" or the process of strengthening the concept of CBSA
that already exist. For it is necessary to discuss the reasons for the revival and efforts
The CBSA and the reason for increased efforts to improve the CBSA The rational is as
follows:
1. Rational or rationale and reasons for business improvement can CBSA CBSA is
reviewed at the nature and purpose of the approach itself. In this way learners can know
the potential, tendencies and the formation of knowledge, skills and attitudes they have.
Basically it is known that a good learner. subject matter, how the presentation or also
known approaches developed. So almost all the components of the learning process is
changing.
These changes led to the positive aspects that must be supported by actions intellectually,
by the will, the regular study habits, self mempersenang study time should be created at
both school and at home. Did not matter that lesson many, varied and this will motivate
the learners have a habit belalar. In bubungannya with one of the CBSA is to have the
competencies required of professional ability, was able to have a strategy with the right
approach.
2. Implications of mental-emotional-intellectual as much as possible in teaching and
learning activities will be able to generate valuable values and passion to learn to be
increasing. Two-way communication (as well as in the tomb theory or electronic coil)
challenged the learners to communicate in the same direction that is less able to help
improve concentration. Inquisitorial nature of which is called also want to know
(curionsity) learners are motivated by activities that have been made. Learning
experience will be member!
opportunities for learning rnelakukan next and creativity will lead to appropriate subject
matter content deengan
3. Efforts to reproduce the direction and implement the many methods of communication,
a variety of media can have a positive impact. This method would also be member!

Opportunities obtain feedback to assess the learner's effectiveness. This feedback is not
anticipated until the final examination but can be obtained with immediate learners. Thus
the errors and mistakes can be fixed. So, CBSA member! reasons for the assessment
carried out effectively, continuously through the end-face test, formative tests and
summative tests.
4. Viewed from the aspect of fulfillment to improve the quality of education in LP'TK
(Manpower Education Institute of Education), the strategy with the CBSA approach
deserves priority. With an insight into education as a learning process underlines the
importance of teaching and learning process whose responsibilities handed over entirely
to the learner. In this case the material the learner should really be made in accordance
with the ability to think independently, forming the willingness of the learner. Situation
of learners able to nurture the ability to solve problems in the abstract, and also find
solutions in practice.

CHAPTER III
ANALYSIS
A. Some of Understanding Curriculum
Word of the curriculum began to be known as a term in education since about one
century ago. The term curriculum first appeared in the dictionary Webstertahun 1856. In
that year the use of the curriculum used in the field of sports, namely a tool that brings a
person and start to finish. Bam in 1955 the term curriculum is used in the sense of
matapelajaran bidangpendidikan at college. In the dictionary (Webster), the curriculum is
defined in two kinds, namely:
1. number of subjects that must be taken or learned student in high school and college
diplomas to certain memoeroleh.
2. number of subjects offered by an educational institution or a department.
Understanding the above carry the implication that the process of education in school
curricula that include only subjects that are offered for students to learn. Mempeiajari
learning activities other than excluding the subjects into the curriculum. Yet as it is
known that the process of education in schools includes a variety of activities that are
directed to the personal formation of students, both physical and spiritual. Number of
subjects studied at school saiah only one facet and the formation of personality.
3. If it turns out the term curriculum has traced various meanings, namely:
a. Curriculum is defined as lesson plans
b. Curriculum is defined as a learning experience of students and the school obtained
c. Curriculum is defined as a student learning plan
Be an understanding which says that the curriculum is nothing more than a lesson plan in
a school due to the traditional view. According to the traditional view, a number of
lessons that must be taken by students in a school ilulah which is a curriculum, so that the
impression menimlbulkan learned in school just to learn who has been determined
bukubuku relaxed as that's the lesson.
Differentiate traditional curriculum and learning activities are included in the curriculum
activities, investment activities outside the curriculum and curriculum activities. Learning
activities in addition to studying a number of subjects that have been determined, is not

included in the curriculum activities. If the activity is supporting or inclusion in studying
a particular subject and curriculum, the curriculum is regarded as a concomitant (co-
cunicular activities). For example the practice is chemistry, physics, or biology in the
laboratory; visit to a museum for learning history, and so forth. If these activities are not
included and is also not an accompanying lesson, then put on activities outside the
curriculum (extracurricular activities), such as scouts, sports, and so forth.
While the view of the modem, and just kurikulumlebih rencanapelajaran. The curriculum
here is considered as something real happening in the education process at school. This
view is contrary to the actual nature of something as a process. In the educational
activities undertaken to shaping students learning experience, among others, ranging from
studying a number of subjects, gardening, sports, scouts, and even fellow students and the
teachers association and school officials can yell a useful learning experience. All the
learning experiences gained from the school was seen as a curriculum.
On this basis, the core curriculum is actually a learning experience. Learning experience
that much to do with doing various activities, social interaction in the school
environment, the process of cooperation within the group, even the interaction with the
physical environment, such as school buildings, school layout, students acquire a variety
of experiences. Thus, the experience is not just studying the subjects, but the most
important is the experience of life. All this is covered in terms of curriculum

B. Between the Curriculum, Teaching and Textbooks
We certainly have known, that the curriculum shows all students' learning experiences at
school. On the basis of those views, gained the impression that the school could be
viewed as a miniature society, because in the school environment students learn the
aspects of social life, such as norms, values, customs, mutual assistance or cooperation,
and so forth. All of this is similar to what happens in the community. Thus the
educational process can be directed to the personal formation of the child as a whole, and
this is achieved meialui school curriculum.
From the above study was very broad understanding of the curriculum; the student
learning experience. This breadth can be confusing in the end the teachers in developing
curriculum, so that will complicate the planning of teaching.
HildaTaba try to look at the curriculum from the other side. He considers that a
curriculum usually consists of objectives, content, teaching-learning pattern, and
evaluation. Taba's view of a more functional curriculum is followed by other leading
figures, including Ralph W. Tyler. According to Tyler, there are some questions that need
to be answered in the process of curriculum development and teaching, namely:
1. What is your purpose to be achieved?
2. The experience of learning what needs to be prepared to reach a goal?
3. How is it organized learning experience effectively
4. How to define success in achieving the objectives?. If we follow the view above, so
Tyler is not only limited instruction on the process of teaching on one particular
ingredient, but can also be applied in teaching for one field of study or teaching in a
school. Similarly, the curriculum, can be developed for a school curriculum, the
curriculum or any field of study curriculum for a specific lesson materials.
On the basis of those views, we as teachers can develop a curriculum for different
purposes. But one thing should be the foundation in curriculum development, namely that

all decisions made must have a solid foundation footing. This is so that curriculum can
lead students yangdibuat jangkapendek goals that can be used as a tool for achieving
long-term educational goals.
The curriculum components are:
1. Component objectives
2. Component contents
3. Component methods of teaching and learning process
4. Components of the evaluation or assessment. Component Objectives, namely the
direction or goals that would target the process of education. In each activity should
mempuny ai goals, because goals led to what was to be achieved, or as a picture of the
final results and an activity ..
The curriculum contents, namely student learning experience gained from the school. In
this case the students do various activities in order to obtain such a learning experience.
These experiences are designed and organized in such a way as to what is obtained in
accordance with the objectives of students.
There are several obstacles that often lead to failures in the implementation of the
curriculum in schools, ie teachers in teaching and learning materials that are present only
facts, not the character of the principals. For example in math, students only learn about
the steps to solve the problem. While the general principles yangberlaku for material
things was not given. It would be nice if the student is given a general principle. With
these general principles the students are taught to solve various problems.
It was not easy to determine which principles, which are facts. For that in determining the
curriculum content needed someone in a certain field of expertise or specific subjects.
With the expertise that can be studied the structure of the material into curriculum
content. In this case there is a need of a competent teacher.
Teaching and Learning methods or the way students gain experience learning to achieve
goals. Curriculum methods with respect to the process of achieving goals, while the
process itself relative to how the experience of learning or curriculum content is
organized. Any form of yangdigunakan membawadampak to the process of gaining
experience performed. For that we need criteria for an effective pattern of curriculum
organization.
Criteria in formulating an effective curriculum organization by Tyler are:
1.Berkesinambungan (continuity)
2.Berurutan (sequence)
3. Integration (integration)
1) Sustainable, namely the repetition of the key elements of returning curriculum
vertically. For example, if in a language lesson reading skills development
dipandangsebagai something very important, then practice reading needs to be done
continuously or continuously. Thus students in reading skills can be developed
effectively through the lessons at school.
Sequentially, ie curriculum content is organized in a way to sort the materials according
to the level of depth or breadth owned. For example, reading skills with the official
curriculum of a teacher is expected to formulate the material in accordance with what has
been programmed. Thus, the function is as a curriculum guide for teachers in performing
their duties at school everyday. Curriculum and Textbook. For teachers who every day
engage in education and teaching, it will feel really how close the relationship between

curriculum with textbooks or textbooks. So close, supporting each other feels that the
relationship between one another.
There are some opinions that say that the curriculum earlier than textbooks. And the book
is considered as a means of supporting the curriculum. Even so, it is not closed
completely that the curriculum tahirberdasarkan of relatively good books that are
considered to be obeyed and programmed with the collection system. In hakikafnya, the
curriculum is a tool to achieve educational goals. While textbooks are used yangbiasa
learning tool in schools for the teaching program menunjangsuatu. Thus, between
curriculum and textbooks are always adjacent and related existence. Or in other words,
the curriculum is like a text book of recipes and ingredients that are done to treat these
dishes. In this process, or the chef is a teacher.
How to Develop Curriculum. Now that we know about the concept and position in the
educational curriculum that has been described extensively, so now we're stepping on the
steps or how to develop the curriculum. These steps are as follows:
1. Determine the purpose. The formulation of objectives are based on an analysis of
various demands, needs and expectations. Therefore, the goal was made by
mempcrtimbangkan factors community needs, and students, such as the needs of society
and students in rural areas.
2. Determining the content. Curriculum content is material that will be given to students
during the process of education or the teaching-learning process. This material can be
either subjects or issues relating to life, which need to be studied to achieve the goal.
3. Formulate teaching and learning activities. This includes determining the method and
the overall teaching-learning process necessary to achieve the goal.
4. An evaluation. Evaluation depend on the goals to be achieved. This is very important
to generate feedback mg (feedback) untukmengadakan improvement. Therefore, the
evaluation must be done continuously, both the results and learning process.
C. Makes students active with interesting teaching methods
To make the Siwa is active in teaching and learning activities a teacher should have a
good criterion in the learning diantarnya adalh;
1. A good curriculum and quality
2. . A teacher has an interesting method so that the students possessed an interest in
learning.
3. students and teachers can understand the teaching and learning activities, as where
contonya, why students should learn? for what? and mamfaatnya? and so does the
teacher, how he can be a good teacher and mampudimengerti by students? So a teacher
should choose a method of teaching is good and the dynamic for the continuity of
teaching and learning.

CHAPTER VI
CONCLUSIONS AND CLOSING

Subject to educate students to develop themselves and be responsible for developing the
nation in the world and society and capable of constantly changing demands he could
think was necessary memahamidan sendiri.Hal treat the demands of increasing
technology in science and technology on the part of a generation grew up in rural areas,

will having an impact on long life that did not previously experienced.
Growth and education appropriate attitude required to tekaman - tekaman life as a
consequence of developments in science and technology ti9dak growth plunges us in a
materialist society-paced economy, which meruan individualisti konsutif and the impact
of economic improvement. What is produced by the school merupakn preparation in
facing the demands nd era diakaitakan.untuk future, not only he should mengwujudkan
potential naturally in the future but he must be able to build and master the future
development factor itu.disini terlekak untu sepenuhynya responsible attitude to their task
(affective dimension) yamg realize determination kecendurungan (tendency) and
incidents (events) from the future physical and mental itu.keterampilan (psychomotor
dimension) and the acquisition of knowledge (cognitive) for independent thinking skills
acquired premises approach there is a unifying process is a deep connection
(interpenetration) of the four dimensions, an open atmosphere conducive marked by an
intuitive sensitivity (interactive dimension) of the share issue, while displaying their
creativity http://abas-nr.blogspot.com/2010/01/makalah-cara-belajar-siswa-aktif.html

Republika Online : Anak Aktif vs Hiperaktif

Jan 22, '09 1:58 AM
for everyone

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->