Anda di halaman 1dari 49

FISIOLOGIS OLAHRAGA

PENDAHULUAN

Konsep Kesehatan Olahraga dan Faal Olahraga :

• Pemahaman mengenai faal olahraga merupakan hal yang sangat penting bagi
guru olahraga, coach, trainer dan instruktur Fitness
• Kesehatan Olahraga merupakan istilah yang berhubungan erat dengan semua
aspek ilmu keolahragaan dan latihan
• Berdasarkan hasil penelitian terbaru serta makin meningkatnya minat terhadap
kesegaran jasmani dan kesejahteraan secara umum (Wellness), saat ini para
ahli dihadapkan pada tantangan yang makin kuat untuk terus mempelajari
sekaligus untuk memperoleh kesempatan untuk peningkatan karirnya.
• Faal olahraga merupakan aspek kesehatan olahraga yang mengkaji bagaimana
secara fungsional tubuh merespons dan mengatur serta melakukan
penyesuaian terhadap latihan.
• Kesehatan Olahraga merupakan berbagai macam aspek yang terlibat dalam
ilmu keolahragaan dan latihan. Contohnya : kedokteran olahraga, biomekanik,
kedokteran klinis, pertumbuhan dan perkembangan, psikologi dan sosiologi,
gizi, kontrol motorik dan fisiologi, sekarang ini fisiologi diartikan sama
dengan faal latihan atau faal dari latihan.
• Neuromuskuler. Semua gerakan tergantung dari konstruksi perototan, tingkat
kinerja dapat ditingkatkan apabila guru dan pelatih lebih banyak memahami
struktur dan fungsi otot skelet dalam istilah yang dikaitkan dengan jenis
serabut otot, bahan bakar yang dipakai dan bagaimana satu aktivitas menjadi
cepat lelah maupun yang berhubungan dengan kontrol saraf terhadap gerakan
otot yaitu fungsi syaraf dalam merekrut satuan motorik. Selain itu merupakan
aspek yang dapat membantu guru dan pelatih untuk mengetahui dan
memahami dengan lebih baik apa yang dimaksud dengan proses dasar
neuromuskuler yang terlibat seperti halnya bagaimana memperbaiki
keterampilan motorik.
SUMBER ENERSI
• Seluruh enersi yang dipakai dalam dunia biologis pada
dasarnya bersumber dari matahari
• Sumber enersi yang dapat dengan segera digunakan
untuk setiap aktivitas manusia seperti pada sistem
biologis datang dari pemecahan senyawa kimia
tunggal → ATP (Adenosine Triphospate)
• Metabolisme produksi ATP otot dan sel berasal dari pembebasan enersi
melalui pemecahan zat makanan dan senyawa lain yang melibatkan
serangkaian reaksi kimia Anaerobik maupun Aerobik.
• Untuk otot yang bekerja, maka sistem energinya tergantung dari intensitas dan
jangka waktu yang digunakan dalam kegiatan yang dilakukan.
Semua aktivitas manusia berpusat kepada kesanggupannya dalam
menyediakan energi yang harus dapat disediakan secara terus menerus. Tanpa
penyediaan energi yang terus menerus, sel, termasuk otot akan berhenti berfungsi
dan mati. Energi disediakan melalui penguraian/metabolisme terhadap dua zat
makanan utama yaitu karbohidrat dan lemak. Karbohidrat dimetabolis melalui
glikolisis dan Siklus Kreb. Lemak juga dimetabolis melalui Siklus Kreb tetapi
diawali dengan proses sebelumnya yang disebut dengan Oksidasi Beta.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, produksi energi merupakan


aktivitas yang tidak boleh berhenti yang dapat diproses melalui Aerobik dan
Anaerobik. Tujuan bab ini adalah mempelajari konsep energi secara umum dan
secara khusus mempelajari sumber energi yang disediakan untuk manusia selama
istirahat maupun dalam latihan jasmani.

Definisi Energi

Sebelum kita lanjutkan dengan sumber-sumber energi, terlebih dahulu


akan kita jelaskan apa yang disebut dengan energi. Umumnya kita memiliki
pengertian yang hampir sama dengan sifat serta karakteristik energi. Ada
beberapa istilah atau kata-kata seperti gaya, power, kekuatan, usaha keras,
gerakan, kehidupan bahkan semangat, paling tidak sudah dapat menggambarkan
inti dari apa yang disebut sebagai energi. Istilah-istilah ini, bagaimanapun juga
belum memberikan pengertian yang memuaskan apa sebenarnya energi. Secara
keilmuan energi diartikan sebagai “kapasitas untuk melakukan kerja”. Kerja dapat
diartikan sebagai aplikasi satu gaya pada jarak tertentu. Jadi energi dan kerja
merupakan dua kata yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Secara umum ada 6 bentuk energi yaitu; (1) Kimi, (2) mekanik, (3) panas,
(4) sinar, (5) elektrik dan (6) nuklir. Masing-masing energi tersebut dapat
dikonversi dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Transformasi energi ini telah
menjadi satu hal yang sangat menarik dan menjadi satu kajian yang tidak pernah
berhenti, khususnya apabila diaplikasikan ke dunia biologis. Secara khusus
ketertarikan kita terhadap energi adalah pada transformasi energi kimia ke energi
mekanik. Energi mekanik dimanifestasikan dalam gerakan manusia, sumber
energinya adalah dating dari konversi bahan makanan menjadi energi kimiawi di
dalam tubuh manusia.

Siklus Energi Biologis

Matahari merupakan sumber segala energi yang ada pada bumi, energi
matahari ini muncul karena adanya energi nuklir. Sejumlah energi nuklir
mencapai bumi sebagai sinar matahari atau energi sinar. Berjuta-juta tanaman
hijau yang ada di bumi menyimpan sebagian dari energi sinar matahari dalam
bentuk energi kimiawi. Selanjutnya energi ini akan digunakan tanaman hijau
untuk membuat molekul makanannya seperti glukosa, selulosa, protein dan lemak
yang terbentuk dari karbondioksida (CO2) dan air (H2O). Proses dimana tanaman
hijau membentuk makanannya sendiri yang disebut dengan photosynthesis.
Sebagai manusia, kita tidak dapat melakukan seperti halnya pada tanaman, kita
harus makan tanaman dan binatang lainnya untuk mensuplai makanan. Oleh
sebab itu, manusia sangat tergantung kepada kehidupan tanaman dan pada
akhirnya ketergantungan umat manusia kepada matahari untuk memenuhi
kebutuhan energi kita.

Dengan kehadiran O2, makanan akan dipecah menjadi CO2 dan H2O yang
sekaligus melepaskan energi kimia melalui proses metabolisme yang disebut
dengan respirasi. Tujuan utama metabolisme respirasi ini adalah untuk mensuplai
energi yang kita butuhkan dalam mempertahankan proses biologis seperti kerja
kimiawi untuk pertumbuhan dan juga kerja mekanik seperti untuk kontraksi otot.
Secara keseluruhan proses ini disebut dengan Siklus Energi Biologis.

TUMBUHA
N HIJAU

CO2 OKSIG
H2O Makanan EN (O2)
(Karbohidrat,
Lemak Dan
Energi Yang Protein)
Dipakai

MANUSIA DAN
BINATANG

Gambar 1. Siklus Energi Biologis. Energi sinar matahari digunakan oleh


tanaman untuk membuat melokul makanannya dari CO 2 dan H2O yang sekaligus
mengeluarkan O2. Tumbuhan dan binatang termasuk manusia menggunakan
oksigen untuk memecahkan makanan untuk menyediakan energi yang dibutuhkan
dalam kehidupan.

Adenosine Triphosphate – ATP

Bagaimana energi ini digunakan untuk kerja fisiologis khususnya kerja


mekanik seperti pada kontraksi otot. Energi yang dilepaskan saat pemecahan zat
makanan tidak dapat langsung digunakan untuk melakukan kegiatan. Namun akan
diubah terlebih dahulu menjadi satu ikatan kimiawi yang disebut dengan
Adenosine Triphosphate atau ATP yang disimpan di dalam otot. Apabila ATP ini
dipecahkan, maka energinya baru dapat kita gunakan untuk setiap aktivitas fisik
yang dilakukan.

Struktur ATP terdiri dari satu komponen yang sangat komplek disebut
Adenosine dan tiga bagian yang kurang komplekrumit disebut dengan kelompok
phosphate.Yang menjadi focus perhatian kita adalah pentingnya ikatan kimiawi
yang berada pada kelompok phosphatenya. Pada gambar berikut menggambarkan
Energi
struktur ATP dimaksud
Ikatan Phosphate berenergi tinggi

ADENOSINE P P P ADENOSINE P P P

A B + Pi
ATP ADP

Gambar 2. A. Struktur ATP secara sederhana yang menunjukkan ikatan


phosphate berenergi tinggi. B pemecahan ATP menjadi ADP serta phosphate
inorganic (Pi), ssekaligus dilepaskannya energi yang dapat digunakan.
Pemecahan 1 mol ATP akan menghasilkan 7 sampai 12 kilokalori energi
\

Dalam tubuh manusia, makanan berenergi digunakan untuk membentuk


Adenosin Triphosphate (ATP). ATP merupakan ikatan kimiawi yang apabila
dipecah ia dapat melepaskan energi yang dapat digunakan untuk kontraksi otot
dan proses biologis lainnya. Energi yang dihasilkan sewaktu pemecahan ATP
disebut dengan sumber energi segera yang dapat langsung digunakan sel otot
untuk melakukan kegiatannya

Sumber ATP
Karena hidrolisis ATP mampu melepaskan energi untuk kontraksi otot,
maka muncul pertanyaan “Sampai sejauh pentingnya suplai ikatan kimia ini untuk
setiap sel otot?”. Pertama harus difahami bahwa setiap saat otot bekerja hanya
disediakan oleh jumlah ATP yang sangat terbatas dan ATP secara teru digunakan
dan diregenerasi kembali. Regenerasi ATP membutuhkan energi. Ada tiga jalur
proses pembebasan energi untuk menghasilkan ATP: (1) Sistem ATP-PC atau
Sistem Oksigen. Dalam sistem ini, energi untuk meresintesis ATP muncul dari
hanya satu ikatan kimia yaitu Phosphocreatine (PC). (2) Glikolisis Anaerobik
atau Sistem Asam Laktat, dapat menyediakan ATP dari pemecahan glukosa atau
glikogen secara tidak sempurna. (3) Sistem ketiga disebut dengan Sistem
Oksigen. Sistem ini memiliki dua bagian; Bagian A meliputi penyempurnaan
oksidasi karbohidrat dan bagian B meliputi oksiasi asam lemak. Kedua bagian
tersebut akan berakhir ke dalam satu proses yang disebut Siklus Kreb. Karena
beberapa jenis protein dapat juga diproses melalui siklus ini, maka istilah yang
lebih tepat adalah Jalur akhir metabolisme ATP.

Makanan
Energi + Bahan Limbah
PC

Energi + ADP + Pi ATP

Gambar 3. Prinsip reaksi berpasangan. Energi dibebaskan dari pemecahan


makanan dan phosphocreatine yang secara fungsional saling terkait atau
berpasangan untuk energi yang diperlukan untuk meresintesis ATP dari ADP
(Adenosine Diphosphate) dan Phosphate Inorganik (Pi)
Ketiga suplaier energi untuk resintesis bekerja dengan cara yang sama.
Energi yang dibebaskan dari pemecahan bahan makanan dan energi yang
dibebaskan melalui pemecahan PC, digunakan untuk membentuk molekul ATP
kembali atau energi digunakan untuk mendorong reaksi sepreti pada gambar 2
dari kanan ke kiri. Dengan kata lain, energi yang dilepaskan dari pemecahan
makanan dan PC secara fungsional saling terkait satu sama lain atau berpasangan
(coupled) menjadi energi, membutuhkan resintesis ATP dari ADP dan Pi (gambar
3). Pasangan fungsional energi dari satu seri reaksi ke seri lainnya secara
biokimiawi disebut sebagai reaksi berpasangan atau coupled reaction sebagai
satu prinsip yang sangat mendasar yang terlibat dalam proses metabolisme ATP.

Sumber Anaerobik ATP – Metabolisme Anaerobik

Sebagaimana yang sudah disebutkan sebelumnya, ada dua sistem


metabolisme yang terlibat dalam resintesis ATP yaitu sistem phosphagen dan
glikolisis Anaerobik (Sistem Asam Laktat) bersifat Anaerobik. Anaerobik
diartikan tanpa oksigen, dan oleh karena itu proses metabolisme yang terjadi di
dalam tubuh (sel otot) meliputi serangkaian reaksi kimia yang berbeda pula. Jadi
metabolisme Anaerobik atau pembentukan ATP secara Anaerobik diartikan
sebagai resintesis ATP melalui serangkaian reaksi kimia yang tidak memerlukan
oksigen yang kita hirup.
Gambar 5. Struktur kimia Adenosine Triphosphate (ATP)
Adenosine Triphosphate (ATP) merupakan sumber energi utama yang
terdapat pada makhluk hidup. ATP merupakan bahan bakar untuk hampir
semua kegiatan sel termasuk gerakan otot, sintesis protein, pemecahan sel,
dan transmisi sinyal syaraf. Gambar menunjukkan molekul ATP dengan
kelompok 3 fosfat berwarna oranye. Energi kimia ATP disimpan pada ikatan
fosfat (Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2003. © 1993-2002
Microsoft Corporation. All rights reserved)

ATP-PC atau Sistem Phosphagen

Proses sistem Anaerobik ini tidak terlalu rumit, sehingga dapat dibahas
terlebih dahulu tetapi bukan berarti tidak penting. Phosphocreatine seperti halnya
dengan ATP, tersimpan di dalam otot. Karena keduanya (ATP dan PC)
mengandung phosphate, maka secara kolektif disebut dengan phosphagen atau
sistem phosphagen. PC mirip dengan ATP, apabila kelompok phosphatenya
dipecah maka sejumlah besar energi akan dibebaskan (gambar 4). Hasil akhir dari
pemecahan ini adal;ah creatine (C) dan Phosphate Inorganic (Pi). Seperti yang
sudah dijelaskan sebelumnya, energi langsung disediakan dan secara biokimia
dipasangkan untuk meresintesis ATP.

Ikatan Phosphate
berenergi tinggi Energi

CREATINE P Creatine CREATINE P

PC
Kinase C
+ Pi
A B

Gambar 4. A Struktur sederhana Phosphocreatine (PC) yang menunjukkan


adanya ikatan phosphate berenergi tinggi. B Pemecahan PC menjadi Creatine
(C) dan phosphate inorganic sekaligus melepaskan energi yang digunakan
untuk resintesis ATP
Sebagai contoh, secepat ATP dipecah sewaktu kontraksi otot, secepat itu
pula dibentuk kembali dari ADP dan Pi dengan bantuan energi yang diperoleh
dari pemecahan simpanan PC. Reaksi berpasangan ini dapat digambarkan seperti
pada gambar berikut

PC Pi + C + Energi
Energi + ADP + Pi ATP

Bagaimana juga penggambaran ini masih sangat sederhana. Tetapi di


dalam tubuh itu sendiri prosesnya sangat rumit serta membutuhkan sejumlah
enzim, yaitu satu ikatan protein yang membantu mempercepat kecepatan reaksi
secara individual. Kenyataannya, semua reaksi metabolisme yang terjadi di dalam
tubuh membutuhkan enzim termasuk juga pemecahan ATP.

Ironisnya, satu-satunya cara untuk membentuk kembali PC dari C dan Pi,


diambil dari energi yang dilepaskan dari pemecahan ATP. Kejadian ini akan
berlangsung saat pemulihan latihan yang diambil dari sumber utama ATP yang
diperoleh dari pemecahan bahan makanan. Jadi apabila cadangan PC terkuras
saat melakukan sprint dengan intensitas sangat tinggi, maka penggantian PC
tidak akan efektif sampai dimulainya saat pemulihan.

Berapa banyak energi ATP yang dihasilkan dari sistem phosphagen?.

Tabel 1. Perkiraan Energi yang tersedia dalam tubuh melalui sistem phosphagen
(ATP-PC)
Total
Phosphagen
ATP PC (ATP-PC)
Kontraksi Otot
a. mM/kg otot* 4-6 15-17 19-23
b. mM total massa otot † 120-180 450-510 570-690

Energi yang dapat digunakan π


a. kcal/kg otot 0.04-0.06 0.15- 0.19-0.23
0
.
1
7
b. kcal total massa otot 1.2-1.8 4.5-5.1 5.7-5.9

Beberapa poin di atas perlu digarisbawahi. Pertama, perlu difahami bahwa


penyimpanan PC di dalam otot melebihi penyimpanan ATP, hal dapat difahami
karena salah satu fungsi PC adalah untuk menyediakan energi untuk resintesis
ATP. Kedua, singkatan mM merupakan kependekan dari milimoles yaitu satuan
ukuran yang digunakan untuk mengukur kuantitas ikatan kimia. Satu mol
merupakan jumlah tertentu dari ikatan kimia dalam ukuran berat, ukuran berat ini
tergantung dari jumlaah dan jenis atom yang membentuk ikatan kimia.

1000 mM sama dengan 1 mol dan apabila 1 mol ATP dipecah maka akan
menghasilkan sejumlah energi yang dapat digunakan yaitu sebanyak 7 sampai 12
kcal. Ketiga, perlu diingat bahwa hanya berkisar 570 sampai 690 mMol
phosphagen saja yang tersimpan dalam otot secara keseluruhan. Ini sama dengan
5.7 sampai 5.9 kcal energi ATP yang memberikan gambaran jumlah yang tidak
akan cukup untuk digunakan dalam latihan. Sebagai contoh, simpanan
phosphagen pada otot yang bekerja mungkin akan terkuras setelah 10 detik
kegiatan yang all-out seperti pada lari sprint 100 meter. Jumlah keseluruhan
energi ATP yang dapat disediakan dari sistem phosphagen ini sangat terbatas.

Pentingnya sistem phosphagen dalam pendidikan jasmani dan olahraga


dapat dicontohkan pada kegiatan-kegiatan yang memerlukan daya ledak, start
cepat pada sprinter, pemain bola, peloncat tinggi maupun penolak peluru dan
kegiatan lain yang mirip dan dilakukan hanya dalam beberapa detik saja. Tanpa
sistem ini gerakan yang cepat dan berdaya ledak tidak dapat dilakukan, karena
dari sekian banyak kegiatan, maka ada beberapa kegiatan yang memang benar-
benar membutuhkan sejumlah besar energi ATP dalam waktu yang sangat
singkat. Sistem phosphagen merupakan satu sistem energi yang paling cepat
mnyediakan sumber energi ATP untuk kegiatan otot. Alasannya adalah bahwa (1)
tidak tergantung dari rangkaian reaksi kimia yang panjang, (2) tidak tergantung
dari transportasi oksigen yang kita hirup dan (3) ATP maupun PC disimpan
langsung pada mekanisme kontraktil otot.

Glikolisis Anaerobik (Sistem Asam Laktat)

Glikolisis diartikan sebagai pemecahan glukosa, oleh karena itu glikolisis


Anaerobik dapat diartikan sebagai pemecahan sebagian dari glukosa dalam
kondisi tanpa menggunakan oksigen.

Sistem energi Anaerobik dalam resintesis ATP dalam otot lainnya adalah
Anaerobik Glycolysis (Glikolisis Anaerobik) yang meliputi proses pemecahan
salah satu zat makanan yang tidak sempurna seperti karbohidrat (glukosa)
menjadi asam laktat (untuk itulah sistem ini dikenal juga sebagai sistem asam
laktat). Dalam tubuh semua karbohidrat akan diubah menjadi gula sederhana
(glukosa) yang bisa langsung digunakan dan disimpan pada liver/hati serta di otot
dalam bentuk glikogen yang dapat digunakan nantinya. Disini istilah karbohidrat,
gula, glukosa maupun glikogen akan disamaartikan untuk kepentingan
penyederhanaan istilah yang digunakan dalam proses metabolisme. Konsekuensi
yang terjadi saat atau sebagai hasil akhir yang diperoleh dari Metabolisme
Anaerobik adalah lactid acid (Asam Laktat).

Holoszy menyatakan bahwa ada batas tertinggi dari jumlah asam laktat
yang bisa ditolerir sebelum kegiatan itu dihentikan karena kelelahan yang luar
biasa. Salah satu yang dapat dijelaskan tentang keterbatasan tersebut adalah pH
interselular menurun apabila asam laktat sudah mulai menumpuk pada otot,
penumpukan mengakibatkan terhambatanya kecepatan penentrasi enzim
phosphofructokinase (PFK).

Dari pandangan kimiawi, glikolisis Anaerobik lebih rumit dibandingkan


dengan sistem phosphagen karena memerlukan 12 rangkaian reaksi kimia secara
terpisah tetapi berurutan sampai proses metabolisme itu benar-benar sempurna.
Rangkaian reaksi ini ditemukan oleh dua orang ilmuwan Jerman pada tahun
1930an yaitu Gustav Embden dan Otto Meyerhof. Berdasarkan alasan ini maka
glikolisis Anaerobik sering disebut sebagai siklus Embden-Meyerhof, tetapi lebih
sering disebut dengan Glikolisis Anaerobik karena lebih sederhana dan mudah
dihafalkan.

Bagaimana glikogen dipakai untuk resintesis ATP? Seperti yang sudah


dijelaskan sebelumnya, glikogen akan dipecah menjadi asam laktat melalui
serangkaian reaksi kimia. Sewaktu pemecahan ini, energi dilepaskan dan melalui
reaksi ganda/berpasangan (coupled reaction), energi ini digunakan untuk
meresintesis ATP.

Perlu ditekankan sekali lagi bahwa rangkaian reaksi tersebut masih


gambaran sederhana dan hanya menggambarkan sedikit dari masing-masing 12
reaksi yang terlibat dalam glikolisis. Selain itu, setiap reaksi yang terjadi
membutuhkan enzim khusus untuk memberikan efek percepatan reaksinya.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa salah satu enzim yang penting
adalah phosphofructokinase (PFK). Sedangkan enzim lainnya yang turut
mengendalikan reaksi tersebut diantaranya hexokinase, pyruvatkinase dan lactic
dehydrogenase.

Dengan rangkaian reaksi yang relatif lebih sederhana, maka hanya


beberapa mol ATP saja yang mampu dirensintesis dari glikogen dihasilkan dari
reaksi glikolisis anaerobik ini, apabila dibandingkan dengan hasil yang diperoleh
dari reaksi dengan menggunakan oksigen.Beberapa langkah tersebut dapat dilihat
pada gambar 5 skema berikut ini

Glikogen
(dari Otot)

Glukosa
Gkukosa atau
darah

Rangkaian ADP + Pi
glikolitik ATP

Asam Asam
Piruvat Laktat
Gambar 6. Glikolisis Anaerobik. Glikogen dipecah secara kimiawi melalui serangkaian reaksi
kimia menjadi asam laktat. Pada saat pemecahan energi dilepaskan dan melalui reaksi ganda
yang dipakai untuk meresintesis ATP

Sebagai contoh; hanya 3 mol ATP yang bisa dihasilkan dari pemecahan 1
mol atau 180 gram (kira-kira 6 ons) glikogen melalui glikolisis anaerobik.
Apabila oksigen mencukupi, dengan jumlah glikogen yang sama dapat dihasilkan
9 mol ATP. Simpulan dari persamaan reaksi berpasangan ini untuk resintesis ATP
dari glikolisis anaerobik dapat dilihat seperti berikut ini

(C6H12 O6) n 2C3H6O3 + Energi


(Glikogen) (Asam Laktat)

Energi + 3 ADP + 3 Pi 3 ATP

Sewaktu melakukan latihan, manfaat resintesis ATP dari Glikolisis


Anaerobik pada kenyataannya kurang dari 3 mol saja (3ATP) seperti yang terlihat
dari persamaan di atas. Alasannya adalah bahwa selama latihan yang sangat
melelahkan, otot maupun darah hanya mampu mentolerir penumpukan sekitar 60
sampai 70 gram atau 2 sampai 2.5 ons asam laktat sebelum munculnya kelelahan.
Apabila 180 gram glikogen dipecah melalui proses anaerobik selama latihan,
maka akan dihasilkan juga asam laktat sebanyak 180 gram (2C3H6O3). Namun
secara praktis, hanya sekitar 1 dan 1.5 mol ATP yang dapat diresintesis dari
glikolisis anaerobik selama latihan berat, sebelum asam laktat dalam darah dan
otot mencapai tingkat kelelahannya*
Seperti pada Sistem Phosphagen, Glikolisis Anaerobik dalam latihan
merupakan reaksi kimia yang sangat penting, karena mampu mensuplai ATP
dengan relatif cepat. Sebagai contoh; Karakteristik kegiatan yang bersifat
Glikolisis Anaerobik adalah kegiatan yang berintensitas tinggi dan dilakukan pada
jarak yang pendek seperti pada lari 400 dan 800 meter Sprint dengan waktu
berkisar 3 menit, benar-benar sangat tergantung dari sistem phosphagen dan
glikolisis anaerobik untuk membentuk ATP.

Jumlah keseluruhan energi ATP di dalam tubuh mlalui glikolisis anaerobik dapat
diperkirakan seperti pada tabel berikut ini:

Tabel. 2 Perkiraan ketersediaan energi dalam tubuh melalui Glikolisis Anaerobik


(Sistem Asam Laktat)

Per kg Total massa


O otot
to
t
Toleransi maksimal asam laktat 2.0-2.3 60-70
(dalam gram)
Pembentukan ATP (mM) 33-38 1000-12000
Energi yang dapat digunakan 0.33-0.38 10.0-1.0

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, apabila otot mampu mentolerir


2.0 sampai 2.3 gram asam laktat per kilogram otot atau 60 sampai 70 gram dari
total massa otot, maka secara maksimal ATP dapat dihasilkan melalui glikolisis
sebesar 1.0 sampai 1.2 mole saja (1000 sampai 1200 mM). Dalam kondisi seperti
ini, maka ATP yang dihasilkan dari sistem ini hanya dua kali lipat dari ATP yang
dihasilkan dari ATP-PC atau Sistem Phosphagen.

Dapat disimpulkan, bahwa melalui Glikolisis Anaerobik akan;

1. Mengakibatkan pembentukan asam laktat yang dikaitkan dengan kelelahan


otot.
2. Tidak membutuhkan keberadaan oksigen.
3. Hanya menggunakan karbohidrat sebagai bahan bakar (glikogen dan
glukosa) dan
4. Hanya mampu menghasilkan energi untuk meresisntesis beberapa mol ATP
saja.

Sumber ATP Aerobik – Metabolisme Aerobik

Untuk memahami bagaimana sistem aerobik ini bekerja, sebelumnya perlu


difahami terlebih dahulu beberapa istilah-istilah yang digunakan dalam reaksi
kimia seperti kelompok acetyl, NAD+, NADH, FAD+ dan FADH2.

Sesuai dengan tujuan dalam pembahasan berikut, kelompok acetyl secara


sederhana dapat diartikan sebagai molekul yang memiliki dua karbon,
umpamanya asam piruvat (molekul tiga karbon) melepaskan CO2 menjadi
kelompok acetyl sebelum masuk ke Siklus Kreb. Seperti halnya juga pada
metabolismee asam lemak, dua kelompok karbon dibentuk dulu sebelum
memasuki Siklus Kreb.

NAD+ (nicotinamide adenine dinucleotide) dan FAD+ (flavor adenine


dinucleotide) berfungsi sebagai akseptor hydrogen. H+ dipisahkan dari karbohidrat
sewaktu proses glikolisis dan Kreb Siklus terjadi. Pelepasan ion H+ dari ikatan
tertentu merupakan bentuk dari proses oksidasi. Apabila salah satu ikatan
menerima ion H+ dapat dikatakan sebagai “pengurangan wujud”. Jadi NADH dan
FADH2 merupakan bentuk pengurangan wujud dari NAD+ dan FAD+. Fungsi
NADH dan FADH2 ini adalah membawa electron ke Sistem Transportasi
Elektron.

Apabila oksigen tersedia, 1 mol glikogen akan dipecah secara sempurna


menjadi karbon dioksida (CO2) dan air (H2O) dan melepaskan enrgi yang cukup
untuk resintesis 39 mol ATP. Sejauh ini sistem aerobik merupakan penghasil
terbesar ATP. Bagaimanapun juga proses yang berlangsung selama metabolismee
ini lebih rumit dibandingkan dua jenis metabolismee sebelumnya. Seperti halnya
sistem anaerobik, reaksi sistem oksigen juga terjadi di dalam sel otot, tetapi tidak
sama dengan sebelumnya, sistem ini memiliki kekhususan lain yaitu terdapatnya
bagian subseluler yang disebut dengan Mitochondria. Bagian subseluler ini
berisikan sejumlah sistem membrane yang terdiri dari serangkaian lipatan-lipatan
yang saling melilit satu sama lain yang disebut dengan Cristae. Cristae ini
memiliki sejumlah sistem enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme aerobik.
Mitokondria inilah yang akan mmicuk perkembangan dari otot-otot rangka.

Glikogen Glikogen

Glukosa Glukosa

ADP + Pi ADP + Pi

ATP ATP
Asam Piruvat Asam Piruvat
Kecukupan Oksigen Tidak cukup Oksigen

CO2 + H2O + Asam Laktat


ATP

Gambar 7. Glikolisis Aerobik dan Glikolisis Anaerobik. Pemecahan glikogen ke


Asam Piruvat untuk resintesis ATP tidak membutuhkan oksigen. Dengan
.
keberadaan oksigen (Glikolisis Aerobik) asam piruvat seterusna dipecah lagi
menjadi CO2 dan H2O serta resintesis ATP yang lebih banyak. Tanpa oksigen
(Glikolisis Anaerobik), asam piruvat diubah menjadi asam laktat dan tidak ada
lagi resintesis ATP
Rangkaian reaksi kimia dari sistem aerobik dapat dibagi menjadi tiga
bagian rangkaian reaksi utama, yaitu (1) Glikolisis Aerobik, (2) Siklus Kreb dan
(3) Sistem Tranportasi Elektron.

Glikolisis Aerobik.

Rangkaian reaksi pertama meliputi pemecahan glikogen menjadi CO2 dan


H2O. Sebelumnya kita mengenal adanya Glikolisis Anaerobik dan dalam reaksi
ini juga dikenal Glikolisis Aerobik, tetapi perbedaannya hanya pada proses yang
sedang berlangsung yaitu dengan dan tanpa oksigen saja. Jadi Anaerobik diartikan
tanpa oksigen dan Aerobik dengan oksigen. Perlu difahami bahwa “selama
oksigen cukup tersedia, akumulasi asam laktat tidak akan terjadi”. Dengan adanya
oksigen dapat menghambat akumulasi asam laktat, namun demikian tidak
mengakibatkan terjadinya resintesis ATP.

Yang dilakukan oleh oksigen disini adalah mengalihkan sebagian besar


prekursor (sifat awal) asam laktat ke dalam sistem aerobik setelah resintesis ATP.

Glikolisis Aerobik Glikolisis Anaerobik


(C6H12 O6) n 2C3H4O3 + Energi
(Glikogen) (Asam Piruvat)

Energi + 3 ADP + 3 Pi 3 ATP


Seperti terlihat pada gambar berikut ini Jadi selama glikolisis aerobik, 1 mol
glikogen akan dipecah menjadi dua asam piruvat dan melepaskan enrgi yang
cukup untuk meresintesis 3 mol ATP. Reaksi berpasangan ini digambarkan pada
model persamaan berikut. Tambahan lain adalah 2 NAD+ akan berubah bentuk
menjadi 2 NADH+, selanjutnya dialihkan ke Sistem Transportasi Elektron yang
menghasilkan 6 mol ATP (masing-masing NADH menghasilkan 3 ATP).

Siklus Krebs (Krebs Cycle)

Reaksi ini merupakan lanjutan dari reaksi glikolisis aerobik, dimana asam
piruvat yang terbentuk selama glikolisis aerobik akan dibawa ke mitochondria dan
seterusnya akan dipecah dalam satu rangkaian reaksi kimia yang disebut Siklus
Kreb (istilah ini muncul setelah ditemukan oleh Sir Hans Krebs). Siklus ini juga
dikenal sebagai Siklus Asam Sitrat, karena ditemukannya beberapa jenis ikatan
kimia yang muncul di dalam siklus ini. Sejumlah peristiwa reaksi yang terjadi
sewaktu Siklus Krebs adalah;

1. Dihasilkannya Karbondioksida
2. Terjadi oksidasi dan juga reduksi dan
3. Dihasilkannya ATP
Saat CO2 akan dilepaskan dari asam piruvat kemudian dibentuk kelompok
acetyl atau dari 3 ikatan karbon menjadi 2 ikatan karbon. Kelompok acetyl ini
kemudian bergabung dengan co-enzym A kemudian membentuk acetyl co-enzym
A. CO2 juga terbentuk dalam Siklus Krebs. Semua CO2 yang dihasilkan akan
masuk/berdifusi ke dalam darah dan selanjutnya dibawa ke paru dan terakhir
dibuang ke udara bebas dari dalam tubuh.
Sekali lagi harus diingat, bahwa oksidasi adalah proses dimana electron
dibuang dari ikatan kimianya. Electron yang dibuang tersebut berbentuk ion
hydrogen (H) dari atom karbon yang sebelumnya dalam bentuk asam piruvat dan
sebelum itu dari glikogen. Atom hydrogen bermuatan partikel ion positif yang
disebut dengan proton sebagai ion hydrogen serta partikel ion negative yang
disebut dengan electron (lihat persamaan berikut).

H = H+ + e-
(atom hydrogen) (ion hydrogen)
(electron)

Jadi apabila atom hidrogennya dilepaskan dari ikatannya, maka ikatan tersebut
disebut teroksidasi atau telah dioksidasi

Produksi CO2 dan pembuangan electron di dalam Siklus Krebs salin terkait
satu sama lain: Asam piruvat (dalam bentuk yang telah diubah) bermuatan
Karbon (C), Hidrogen (H), dan Oksigen (O2); apabila H dilepaskan, maka yang
Glikogen
tertinggal hanya C dan O artinya hanya ada ikatan kimia karbondioksida saja. Jadi
di dalam Siklus Krebs, asam piruvat dioksidasi sekaligus menghasilkan CO2 .
Glukosa
Di dalam Siklus Krebs itu sendiri hanya akan dihasilkan dua unit ATP
ADP + Pi
untuk setiap unit glikogennya.
Glikolisis Aerobik Pada ke empat sisi Siklus Krebs yang berbeda, ion
ATP Sistem Transportasi Elektron
H+ akan dilepaskan dan selanjutnya akan memasuki
dan diakhiri dengan terbentuknyaAsam
air dan unit ATP. Secara skematis Siklus Kreb
Piruvat
dapat dilihatNAD
pada gambar 8 berikut
NADH CO2
+ -
H+e
CO2
SIKLUS
KREBS NAD
H++e- NADH
FAD
FADH2
CO2 NAD
H++e- H++e- NADH
Gambar 8. Siklus Krebs. Asam piruvat sebagai hasil akhir dari glikolisis
aerobik masuk ke dalam Siklus Krebs setelah sedikit ada perubahan. Begitu
memasuki siklus, terjadi dua kejadian reaksi: (1) pelepasan CO2 yang
akhirnya akan dibuang ke luar tubuh, (2) oksidasi atau pembuangan ion
hydrogen (H+) dan electron (e-) yang akan masuk ke dalam sistem
transportasi electron untuk perubahan lebih lanjut

Sistem Transportasi Elektron

Sebagai kelanjutan dari pemecahan glikogen, hasil akhirnya adalah H2O


yang didapat dari ion hydrogen dan electron terbuang di dalam Siklus Krebs serta
oksigen yang dihirup. Rangkaian reaksi dimana H2O dibentuk disebut dengan
Sistem Transportasi Elektron (STE) atau disebut sebagai Rantai Respirasi.
Rangkaian kejadian dimana ion hydrogen, electron masuk ke dalam STE
melalui FADH2 dan NADH dan dibawa ke oksigen dengan perataraan “pembawa
electron” dalam satu rangkaian reaksi enzimatik yang berakhir dengan
dihasilkannya air. Kalau digambarkan secara sederhana dapat dilihat sebagai 4H+
+ 4e- + O2 2H2O, artinya 4 ion hydrogen (4H+) ditambah 4 elektron (4e-) plus
1 mol oksigen (O2) akan menghasilkan 2 mol air (2H2O). Saat electron dibawa ke
rantai respirasi, energi akan dilepaskan dan ATP akan dihasilkan melalui reaksi
berpasangan. NADH masuk ke STE dan berada sedikit lebih tinggi di atas
FADH2, maka setiap kali NADH akan menghasilkan 3 mol ATP dan FADH2
dengan 2 mol ATP. Secara skematis dapat dilihat pada gambar 9.
Secara keseluruhan, 12 pasangan electron akan dihasilkan dari 1 mol
glikogen atau sama dengan 39 ATP. Dengan demikian, selama metabolisme
aerobik sebagian besar dari 39 ATP diresintesis di Sistem Transportasi Elektron
dan pada saat yang sama juga akan dihasilkan air.Ke 39 ATP yang diresintesis, 3
mol berasal dari glikolisis aerobik, 30 ATP dihasilkan dari pasasi NADH ke STE,
4 ATP dari pasasi FADH2 ke STE dan 2 ATP dihasilkan dari Siklus Krebs sendiri.
Apabila glukosa darah ditetapkan sebagai sumber bahan karbohidrat, maka
diperlukan 1 mol ATP akan digunakan untuk mengubah glukosa menjadi glukosa-
1-phosphate.

Lebih jauh lagi perlu diingat bahwa untuk memecahkan 180 gram atau 1
mol glikogen memerlukan 6 mol oksigen (6O2). Karena 1 mol gas (oksigen) diisi
22.4 liter pada temperature (C6H12 O6)n + 6O2 6CO2 + 6H2
dan tekanan standar, 6 mol (Glikogen) +
Energi
O2 = 6 x 22.4=134.4 liter. Energi + 39 ADP + Pi
39 ATP
Dengan demikian, 134,4 litr O2 dibutuhkan untuk meresintesis 39 mol ATP atau
134,4 : 39 = 3.45 liter O2 dibutuhkan untuk meresintesis 1 mol ATP. Dengan kata
lain setiap 3.45 liter oksigen yang dikonsumsi akan mensintesis 1 mol ATP secara
aerobik. Pada saat istirahat berkisar antara 10 sampai 15 menit dan pada saat
kegiatan anaerobik atau latihan yang maksimal, umumnya hanya berkisar 1 menit.
Energi tingkat
Persamaan dari reaksi berpasangan yang terlibat dalam pemecahan 1 mol
tinggi
2H+
glikogen
2e secara aerobik dilihat sebagai berikut
-

Perantara

2H+ ADP + Pi
2e-
Energi
FADH2 ATP

Perantara 2

2H+
-
2e

Perantara 3
ADP + Pi
2H+
-
Energi
2e ATP

2H+
Perantara 4 Perantara 5
2e-

Energi tingkat 2H+


ADP + Pi

rendah Energi
ATP
2e-

½ O2 H2O

Gambar 9. Sistem Transportasi Elektron. Ion hydrogen (H+) dan electron (e-) yang
dilepaskan dalam Siklus Krebs memiliki tingkat energi tinggi saat memasuki STE.
Disini terjadi dua kejadian kimiawi. Pertama ion hidrogenm dan electron
ditransport oleh “perantara” ke oksigen yang kita hirup untuk membentuk air
melalui serangkaian reaksi enzimatik; kedua; pada saat yang sama ATP
diresintesis melalui reaksi berpasangan yang diperoleh dari energi yang
dibebaskan. Untuk setiap pasangan electron yang ditransportasi, rata-rata 3 mol
ATP diresintesis.
Sistem Aerobik dan metabolisme Lemak

Dua jenis bahan makanan lain yaitu protein dan lemak juga dapat dipecah
secara aerobik dengan hasil akhir yang sama yaitu menjadi CO2 dan H2O serta
dilepaskannya energi. Lemak (biasanya berrantai karbon 16 atau 18) dalam
bentuk Triglycerides akan dipecah menjadi dua ikatan karbon (kelompok acyl)
melalui serangkaian reaksi yang disebut dengan Oksidasi Beta (Oksidasi – β)
sebelum memasuki Siklus Krebs dan Sistem Transportasi Elektron (gambar 11)

Asam lemak harus diaktifkan terlebih dahulu sebelum memasuki oksidasi


beta, aktivasi ini memerlukan 1 mol ATP. Selanjutnya, dalam oksidasi beta, satu
FADH2 dan satu NADH dirangsang dan masuk ke STE. Secara keseluruhan ATP
yang dihasilkan dari proses awal ini adalah 5 ATP (3 ATP dari NADHA dan 2
ATP dari FADH2. Sama dengan yang berlaku pada kelompok acyl dari asam
piruvat, yaitu 1 ATP, 3 NADH dan 1 FADH2 dihasilkan dalam Siklus Krebs.

Setap kali satu NADH akan meresintesis 3 ATP dan setiap sati FADH2
akan diresintesis 2 ATP. Maka secara keseluruhan ATP yang dihasilkan dari
Siklus Krebs dan Sistem Transportasi Elektron sebanyak 12 ATP. Dari tahapan
tersebut di atas, ATP yang dihasilkan adalah;

1. Hasil bersih ATP melalui poses aktivasi asam lemak, reaksi oksidasi beta dan
pada lintasan awal memasuki Siklus Krebs adalah 16 ATP.

2. Saat proses oksidasi beta, siklus Krebs menghasilkan 17 ATP

3. Pada bagian akhir proses yang melibatkan 4 rantaiHASIL


karbon,
BERSIHmaka
ATP akan
Dari Dari
dihasilkan 17 dan 12 ATP (kelompok acyl terakhir Glukosa
tidak masuk ke siklus
glikogen
darah otot
Krebs). A -1

Untuk asam lemak lainnya, hasil ATP yang diperoleh akan berbeda satu
sama lain. Untuk asam lamak lain yang sejenis seperti asam sterik yang memiliki
18 molekul karbon serta asam palmitat yang memiliki 16 molekul karbon mampu
menghasilkan 147 dan 130 ATP (lihat table 3) B -2 -1

C 0 +1

Glikogen D +2 +3
(otot)
E +8 +9

A 1 ATP “dipakai” Glukosa

F +14 +15
Glukosa-1-phosphate
ATP ADP + Pi
(Phosphorylase)
Glukosa (darah) Glukosa-6-phosphate

(Hexosekinase)

Fruktosa-6-phosphate
(Phosphofructokinase) B 1 ATP
ATP
ADP + Pi “dipakai”
Fructosa-1-6-Diphosphate G +16 +17
Ke Sistem 2 NAD+ C
Transportasi Elektron 2 NADH
2 ADP + Pi
22 ATP
ADP + Pi H +34 +35
Gambar
E 6 ATP10. Sumber resintesis ATP melalui oksidasi
karbohidrat yang sempurna dalam
dari STE D 2 ATP
bentuk glukosa darah maupun glikogen otot. Dua kolom pada bagian kanan mnunjukkan
produksi ATP bersih untuk setiap 2 Asam piruvat
tahap (3 Cs)
glikolisis (termasuk Siklus Krebs). Garis
(cukup oksigen) I +38 +39 tebal
menunjukkan ada sebagian +
2 NAD2 FAD
reaksi
2 NAD+ + yang diabaikan.
2 CO2F 6 ATP
Enzim kunci hexokinase, phosphorylase
2 CO2 I 18
4 ATP
ATP Asam
ke STE
dan phosphofructokinase 2ditandai
Asam Oksaloasetat
2 NADH2 FADH denganKe Parukurung.Kesitrat
Ketiga
Paru (6 Cs)enzim ini erat berkaitan dengan
2NADH Co-enzym
kelompok
2 Acetyl Co-A A
Acetyl
(2 (2
Cs)
dariCs)
STE dari STE
adaptasi latihan (4 Cs) 2 ADP SIKLUS
+ Pi KREBS
H G2 ATP
PRODUKSI
ASAM LEMAK ATP

ATP - 1 ATP
AMP + 2 ATP
Aktivasi Asam
Lemak

Aktivasi Asam 2 ATP


FAD+ Ke Sistem
Lemak mengurangi 1
FADH2 Transportrasi tiap siklus
kelompok acyl
NAD+ Elektron 3 ATP
NADH tiap siklus
Kelompok acyl

Acetyl-Co-A

12 ATP
Siklus Krebs dan
Sistem Transportasi
setiap siklus
Elektron

Gambar 11. Simpulan metabolism Asam Lemak (Aerobik). Asam lemak


diaktifkan untuk oksidasi beta, kemudian dlam satu rangkaian siklus,
unit karbon (kelompok acyl) dipisahkan selanjutnya masuk ke Siklus
Krebs sebagai acetyl-Co-A serta sejumlah karbon yang ada pada asam
lemak

Perlu diketahui bahwa 1 mol asam palmitat (lebih berat sedikit dari ½
pons dapat menghasilkan cukup energi untuk resintesis 130 mol ATP (lebih
banyak dari yang dihasilkan dari 1 mol glikogen. Bagaimanapun juga, diperlukan
oksigen sebanyak 515.2 liter (23 x 22.4 = 515.2 oksigen). Oleh sebab itu 3.96 liter
oksigen diperlukan untuk setiap mol ATP yang diresintesis (515.2:130 = 3.96).

Sekali lagi perlu diingat bahwa oksidasi 1 mol glikogen membutuhkan 6


mol oksigen (6 x 22.4 liter oksigen per mol = 134.4 liter oksigen) dan 3.45 liter
oksigen untuk menghasilkan 1 mol ATP. Jadi untuk menghasilkan 1 mol ATP
melalui oksidasi asam lemak membutuhkan 15% oksigen lebih banyak
dibandingkan dengan 1 mol ATP yang dihasilkan dari pemecahan sempurna
glikogen. Dengan kata lain membutuhkan lebih banyak oksigen untuk
menghasilkan 1 mol ATP dari lemak dibandingkan dari glikogen melalui
pemecahan yang bersifat aerobik.

Tabel. Produksi bersih ATP dari dua jenis Asam Lemak

Asam Sterat Asam Palmitat


(18 rantai karbon) (16 rantai karbon)
Aktivasi dan lintasan awal (17 – 16 ATP 16 ATP
1)
6 lintasan berikutnya (6 x 17) 102 ATP
5 lintasan berikutnya (5 x 17) 85 ATP
Lintasan terakhir (17) plus (12) 29 ATP 29 ATP
PRODUKSI TOTAL ATP 147 ATP 10 ATP

Peranan protein dalam metabolism aerobik

Sejauh ini pembahasan selalu terarah hanya pada karbohidrat dan lemak,
bagaimana dengan protein? Walaupun protein merupakan salah satu sumber ATP
tetapi hanya memiliki peranan kecil saja dalam keadaan istirahat bahkan hamper
tidak berperan sama sekali pada saat latihan fisik. Dalam kondisi kelaparan,
dimana karbohidrat sangat rendah atau pada saat kegiatan daya tahan yang
ekstrim (lomba ketahan dalam 6 hari), maka katabolisme protein mungkin akan
terlihat lebih nyata.

Total Energi Aerobik dari Otot


Sulit untuk menyebutkan jumlah total energi otot yang diperoleh
darisistem oksigen, karena semua jenis bahan makanan digunakan dalam proses
ini. Namun demikian, sebagai dasar perbandingan dengan sistem anaerobik,
jumlah total energi aerobik yang tersedia dalam otot dari glikogen saja bisa di
lihat pada table …..

Dari table dimaksud, mudah sekali diambil kesimpulan, bahwa sistem


oksigen merupakan sistem metabolism ATP yang sangat efisien. Sebagai contoh,
jumlah ATP secara keseluruhan dari pemecahan glikogen secara aerobik di dalam
otot antara 87 sampai 98 mol. Ini mendekati 50 kali lipat dibandingkan dengan
yang dapat disediakan melalui sistem anaerobik. Selain itu ada lagi 80 sampai 100
gram yang tersedia sebagai cadangan hati. Dan apabila semuanya digunakan
untuk metabolism aerobik, maka akan ada 17 sampai 22 mol ATP lagi yang dapat
dihasilkan.

Table Perkiraan ketersediaan energi dari glikogen otot melalui sistem aerobik
(oksigen)

Glikogen Otot
Per kg Otot Massa otot keseluruhan
Kandungan dalam otot (gram) 13 – 15 4500 – 450
Pembentukan ATP (mol) 2.8 – 3.2 87 – 98
Energi yang digunakan (kcal) 28 – 32 870 – 980

Keuntungan dari sistem aerobik adalah mampu menggunakan karbohidrat


maupun lemak untuk meresintesis sejumlah besar ATP tanpa harus merangsang
bahan limbah yang menjadi penyebab kelelahan. Oleh sebab itu, sistem aerobik
merupakan sistem yang paling sesuai untuk kondisi istirahat.

Dalam pendidikan jasmani maupun olahraga, sistem aerobik merupakan


system yang tepat dalam menghasilkan sejumlah besar ATP yang dibutuhkan
untuk kegiatan yang lama seperti lari marathon (42.2 km), dalam kegiatan
tersebut dapat diperkirakan akan ada sekitar 150 mol ATP yang dibutuhkan (rata-
rata 1 mol ATP dibutuhkan setiap menitnya). Kemampuan untuk memenuhi
kebutuhan energi yang diperlukan secara terus menerus, bukan merupakan hal
yang sulit, karena di dalam otot itu sendiri sudah tersedia sejumlah besar
glikogen, lemak dan oksigen untuk memenuhi kebutuhan di atas.

Perbandingan Sistem Energi

Sebagai bahan pertimbangan akhir, coba kita bandingkan ke tiga sistem


energi yang sudah kita bahas sebelumnya, pertama berdasarkan karakteristik
umum dan kedua dengan melihat kapasitas dan daya dam memproduksi ATP.
Glikogen
Kapasitas diartikan sebagai jumlah yang tidak terikat oleh waktu, sedangkan daya
cenderung disebut
Glikolisis Aerobiksebagai percepatan
Glukosa atau jumlah dalam waktu tertentu.
ADP + Pi
Pemahaman tentang ketiga sistem ini, maka
ATP kita juga mampu membuat urutan

kapasitas maupun daya ketigaAsam


sistem dimaksud berdasarkan kapasitas dan daya
Piruvat
Protein
relatifnya.
Lemak CO2

CO2
SIKLUS KREBS

H++e- ADP + Pi
H++e- ATP
CO2 ADP + Pi
H++e-
ATP
H++e-
ADP + Pi
Sistem ATP
Transportasi ADP + Pi
Elektron ATP
Oksigen H2O
Gambar 12. Kesimulan system aerobic. Glikogin dioksidasi melalui tiga seri reaksi
kimia, glikolisis aerobic dimana asam piruvat dibentuk dan beberapa ATP diresintesis;
Siklus Krebs dimana CO2 dihasilkan dan H+ dan e- dilepaskan; dan Sistem
Transportasi Elektron dimana H2O dibentuk dari H+ , e- dan oksigen serta lebih
banyak ATP yang diresintesis. Lemak dan protein apabila digunakan sebagai bahan
bakar untuk resintesis ATP, juga akan masuk ke Siklus Krebs dan Sistem Transportasi

Sebelum menjelaskan reaksi sistem aerobic. Energi yang dilepaskan oleh


Sistem Oksigen atau Aerobik untuk memproduksi ATP, pada umumnya diperoleh
melalui pemecahan karbohidrat dan lemak atau protein (dalam keadaan yang
sangat khusus), akan menghasilkan karbondioksida dan air (limbah). Walaupun
sistem ini merupakan penghasil ATP yang paling banyak, namun prosesnya
sangat rumit, panjang dan melibatkan sejumlah besar enzim oksidatif.

Table Karakteristik Umum ketiga Sistem Energi dalam memproduksi ATP

Sistem Makanan atau O2 yang Kecepatan Produksi


kimia diperlukan ATP relatif
Anaerobik
Sistem ATP-PC Phosphocreatine Tidak Tercepat Sedikit,
terbatas
Sistem Asam Glikogen Tidak Cepat Sedikit,
Laktat (Glukosa) terbatas
Aerobik
Sistem Oksigen Glikogen, Lemak Ya Lambat Banyak, tak
dan protein terbatas

Table Kapasitas dan daya maksimal dari ketiga sistem energi

Daya maksimal Kapasitas maksimal


Sistem (ATP per menit) (total ATP yang
tersedia)
Phosphagen (ATP-PC) 3.6 0.7
Glikolisis Anaerobik 1.6 1.2
(Asam Laktat)
Aerobik atau Oksigen 1.0 90.0
(hanya dari glikogen)

Sistem Aerobik dan Anaerobik saat istirahat dan latihan

Paling tidak ada tiga sifat penting yang perlu dipertimbangkan dari sistem
anaerobik dan aerobik yang ada pada kondisi istirahat dan latihan: (1) jenis bahan
makanan yang akan dimetabolisir, (2) peranan dari masing-masing sistem, dan (3)
munculnya serta akumulasi asam laktat dalam darah.

Istirahat
Dari gambar berikut kita lihat bahwa dalam kondisi istirahat sekitar
duapertiga dari energi disediakan dari lemak dan satu pertiga disediakan dari
karbohidrat (glikogen dan glukosa). Protein tidak muncul dalam gambar, karena
kontribusinya memang sangat tidak nyata sama sekali. Karena sistem aerobik
merupakan satu-satunya sistem yang mampu berfungsi optimal untuk
menghasilkan enegi dalam keadaan istirahat, karena sistem transportasi okisgen
(jantung dan paru) mampu mensuplai oksigen dengan cukup pada setiap sel yang
membutuhkannya. Dengan kapabilitas tersebut, ATP mampu mensuplai semua
kebutuhan energinya pada kondisi istirahat. Molekul ATP yang muncul dari
sistem anaerobik dilihat sebagai bagian dari aerobik, karena kelihatannya memang
muncul walaupun oksigen tersedia.

1/3
ATP + Asam Laktat
glukos
a + O2
2/3 Aerobi
lemak k

A
ATP + CO2 + H2O
O2 yang dikonsumsi = O2 yang dibutuhkan (0.3
liter/menit
Asam laktat darah (10 mg/100
ml darah

B Waktu

Gambar 13. A. Sistem Aerobik mensuplai semua kebutuhan ATP dalam kondisi
istirahat. B, selama istirahat, konsumsi oksigen (0.3 liter/menit) berada dalam
keadaan konstan dan cukup untuk mensuplai ATP yang dibutuhkan;
konsekuensinya kadar asam laktat dalam darah tidak mengalami perubahan (10
mg%). Kombinasi semua factor ini menunjukkan bahwa metabolism yang terjadi
adalah aerobik.
Walaupun sistem aerobik merupakan satu-satunya yang mampu bekerja
pada kondisi istirahat, namun perlu dicatat bahwa ternyata bahwa dalam kondisi
ini terdapat asam laktat yang muncul secara konstan di dalam darah, namun
kemunculan tersebut tidak berakumulasi seperti yang terdapat pada system
glikolisis anaerobic (sekitar 10 mg untuk setiap 100 mlk darah). Alasan untuk
dapat menjelaskan fenomena ini memang sangat rumit dan memerlukan
pemahaman kimiawi yang dalam untuk dapat memahami setiap reaksi kimia yang
terjadi secara individual. Selain itu perlu ditambahkan bahwa terdapat sejumlah
besar enzim LDH (lactic dehydrogenase) yang mengkatalis reaksi asam piruvat
ke asam laktat. Sesuai dengan pengkajian dalam buku ini, ada bukti yang
menunjukkan bahwa kadar asam laktat tidak mengalami perubahan dan tidak
meningkat selama sistem anaerobik tidak mulai berproses. Perlu ditegaskan sekali
lagi, bahwa saat istirahat, bahan makanan yang digunakanuntuk kebutuhan
energy diambil dari lemak dan karbohidrat dan kebutuhan ATP hanya akan
disediakan dari sistem aerobik.

Latihan

Sistem anaerobik maupun aerobik memberikan kontribusi energi pada saat


latihan dan peranannya sangat tergantung dari (1) jenis kegiatan yang dilakukan,
(2) status kondisi latihan, dan (3) asupan bahan makanan atlet. Untuk melanjutkan
pembahasan, kita bagi dulu jenis kegiatan fisik ke dalam dua kategori: (1) jenis
kegiatan yang dilakukan hanya dalam waktu yang sangat singkat dan
membutuhkan usaha maksimal, dan (2) jenis kegiatan yang dilakukan dalam
waktu yang sangat lama dan membutuhkan usaha submaksimal. Selanjutnya akan
kita bahas secara khusus bagaimana interaksi dan peranan ketiga sistem energi
dalam latihan, karena pada dasarnya sulit untuk menetapkan satu sistem energi
hanya kepada satu jenis kegiatan saja. Pemahaman konsep ini sangat penting
terutama bagi para pelatih dalam merencanakan program latihan.

Saltin dan Kralson telah menggambarkan pola pengurasan glikogen


dengan kegiatan dari 30% samapai 120% kebutuhan oksigen maksimal. Sangat
menarik kalau kita bahas dengan hasil penemuan lainnya, karena ada beberapa hal
yang perlu dipertimbangkan yaitu factor keterbatasan. Bahwa kegiatan yang
membutuhkan kurang dari 60% dan lebih dari 90% kapasitas aerobik, cadangan
glikogen tidak berkurang secara nyata
(Mmol/kg otot basah)
Pengurasan glikogen

0 --
-- * 30
Kecepatan penggunaan

20 --
-- * *
(mmol/kg otot

60
basah/menit)

40 --
glikogen

-- 120 90
60 -- 12 --
Kelelahan 75
-- --
Persentase VO2max
80 -- 10 --
! -- ! ! ! !

. .
08 -- 30 60 90 120
Waktu (menit)
--
6 --
--
B

.
4 --

.
--
2 --
! ! ! ! ! !
150 125 100 75 50 25
Konsumsi oksigen (persentase dari VO2max )
.

Gambar 14. Pola pengurasan glikogen selama latihan melelahkan


pada sepeda. Pengurasan yang absolute (A) maupun relative (B)
berhubungan dengan intensitas. Catatan bahwa di bagaian A
kelelahan belum tercapai pada intensitas 30% dan 60%)
. Pada gambar…. menunjukan kecepatan penggunaan glikogen meningkat
secara tajam searah dengan peningkatan beban kerja. Pada beban yang sangat
tinggi dimana kelelahan muncul dengan sangat cepat, masih terdapat 70%
cadangan glikogen. Pada beban kerja yang membutuhkan 65 sampai 95%
kapasitas aerobik, kelelahan berkorelasi dengan pendekatan likogen pada taraf
nol.

Saltin dan Karlsson melaporkan kecepatan penggunaan glikogen pada 0.3,


0.7, 1.4, 3.4 dan 10 mM glukosa per kg otot basah per menit pada beban kerja 25,
50, 75, 100, dan 150% kapasitas aerobik. Gambar 14 menggambarkan semua
pengamatan yang telah dilakukan.

Latihan dalam waktu sangat singkat


Latihan pada kategori ini termasuk latihan sprint seperti 100, 200 dan 400
meter, 800 dan nomor lainnya yang membutuhkan kapasitas kerja sampai 2 atau
mungkin sampai 3 menit saja.

Gambar…. Menggambarkan peran relative dari sistem energi yang terjadi


pada saat kegiatan berlangsung. Disini dapat dilihat bahwa bahan makanan utama
adalah karbohidrat, dengan sedikit lemak dan protein diabaikan penggunaannya.
Juga dapat dilihat bahwa sistem yang predominan adalah anaerobik. Disini
menunjukkan bahwa energi atau ATP yang dibutuhkan untuk memenuhi
kebutuhan ini tidak bisa disediakan melalui sistem aerobik. Konsekuensinya, pada
umumnya ATP harus disuplai secara aerobik melalu sistem phosphagen dan
glikolisis anaerobik. Kadar phosphocreatine (PC) pada kegiatan yang sangat
singkat dengan intensitas kjerja yang sangat tinggi, akan menurun sampai ke
tingkat yang paling rendah dan bahkan akan tetap rendah walaupun latihan sudah
dihentikan. Namun perlu dicatat, bahwa PC akan dapat dengan cepat diganti
(dalam hitungan menit) selama fase pemulihan.

Ada dua alasan, mengapa ada keterbatasan dari sistem aerobik dalam
mensuplai cukup ATP saat melakukan latihan: (1) masing-masing kita memiliki
keterbatasan aerobik power atau kecepatan maksimum dalam mengkonsumsi
oksigen; dan (2) paling tidak dibutuhkan 2 sampai 3 menit dalam mengkonsumsi
oksigen untuk mencapai tingkat yang baru dan lebih tinggi. Sebagai contoh, atlet
terlatih memiliki aerobik power maksimal antara 3.0 liter (perempuan) dan 5.0
liter (laki-laki) oksigen per menit. Sedangkan bagi mereka yang tidak terlatih
sebanyak 2.2 liter (perempuan) dan 3.2 liter (laki-laki) permenit. Kadar oksigen
ini tidak akan mampu mencukupi untuk mensuplai semua kebutuhan ATP untuk
kegiatan seperti 100 meter sprint yang membutuhkan lebih dari 45 liter (sekitar 8
liter oksigen per 100 meter atau per 10 detik).

Bahkan kalaupun itu memungkinkan untuk mengkonsumsi oksigen pada


kecepatan yang memenuhi kebutuhan energi atau ATP, tetap saja akan
memerlukan waktu 2 atau 3 menit pertama latihannya dalam mempercepat
konsumsi oksigen pada tingkat yang dibutuhkan. Alasan untuk peningkatan
kebutuhan oksigen yang tertunda dan terkait dengan waktu, memiliki hubungan
yang erat dengan penyesuaian biokimiawi dan fisiologis untuk sampai kepada
kebutuhannya. Dan ini juga dapat dibuktikan pada saat transisi dari kondisi
istirahat ke kondisi latihan walau pada intensitas yang berbeda dan dari latihan
dengan intensitas lebih rendah ke latihan dengan intensitas yang lebih tinggi.

Periode semasa kadar konsumsi oksigen rendah untuk memenuhi


kebutuhan ATP dalam latihan disebut dengan oxygen deficit (kekuarangan
oksigen). Pada masa kekurangan oksigen, sistem energi kemudian berpindah ke
sistem phosphagen dan sistem glikolisis anaerobik untuk memenuhi semua
kebutuhan ATP dalam latihan. Ini berarti bahwa latihan yang berdurasi singat
dengan intensitas yang sangat tinggi, akan selalu menderita kekurangan oksigen
sepanjang kegiatan berjalan dengan sumber utama ATP diambil dari dua sistem
anaerobik.

Gambar berikut menggambarkan bahwa kecepatan akselerasi glikolisis


anaerobik sejalan dengan kecepatan yang sama dengan peningkatan pada kadar
asam laktat. Akumulasi asam laktat akan terjadi secara nyata pada kegiatan yang
berdurasi 2 sampai 10 menit. Pengurasan PC dan kecepatan resintesis ATP sangat
penting untuk kegiatan yang berdurasi kurang dari 3 menit. Oleh sebab itu untuk
pemulihan yang disebabkan oleh tekanan kerja yang intensif, maka latihan harus
dihentikan atau dilanjutkan pada intensitas yang lebih rendah. Kadar asam laktat
darah setinggi 200 mg % tercatat saat perlombaan nomor-nomor sprint dan
berenang. Kadar tersebut 20 kali lebih besar dibandingkan engan kadar yang
ditemukan pada saat istirahat (10 mg %).

karbohidrat anaerobik ATP + Asam laktat

lemak
+ O2
A ATP + CO2 + H2O

Gambar 15. A. Sewaktu latihan yang all out dalam waktu yang
sangat singkat, maka system anaerobic, glikolisis anaerobic dan
phosphagen (tidak terlihat) mensuplai hampir seluruh kebutuhan
ATP

B
= Kekurangan oksigen

= Oksigen yang dikonsumsi


+ = Kebutuhan oksigen
O2 per menit

= Konsumsi oksigen sewaktu latihan


= Konsumsi oksigen istirahat

Sprint Lari ½ mil


10-30 detik 2:00 menit
Gambar 15 B, Keterkaitan antara kekurangan oksigen, konsumsi
oksigen dan oksigen yang dibutuhkan selama latihan dalam waktu
C sangat pendek.
Asam laktat darah (mg.%)

150 -

100 -

50 -

0
! ! ! !
Gambar 150C. Akumulasi
0.5 1.5 laktat 1.5
asam 2.0
darah sewaktu latihan yang
melelahkan antara 30 detik sampai 2 menit
Waktu latihan (menit)

Latihan jangka lama

Kadar asam laktat merupakan indicator yang sangat sempurna untuk


menaksir sistem energi mana yang predominan dan digunakan selama kegiatan
berlangsung. Apabila kadarnya tinggi, sistem utama yang digunakan pasti
glikolisis anaerobik dan apabila kadarnya rendah, maka sistem yang digunakan
adalah sistem aerobik.

Setiap latihan yang dapat dipertahankan dalam waktu yang relative lama
termasuk ke dalam kategori ini.. yang dimaksud dengan relative lama adalah
waktu yang digunakan dalam latihan 10 menit atau lebih. Dalam kasus tertentu,
bahan makanan utama yang digunakan, sekali lagi berasal dari karbohidrat dan
lemak. Untuk kegiatan yang mencapai 20 menit seperti pada continuous running,
maka karbohidrat menjadi bahan yang paling dominan untuk resintesis ATP,
sedangkan yang bersumber dari lemak, memiliki peranan yang relative kecil.
Walaupun kadarnya tinggi tetapi tidak maksimal, asam laktat akan muncul dalam
darah. Apabila kegiatan latihan mulai melewati 1 jam, cadangan glikogen
menunjukkan penurunan konsentrasi yang sangat nyata dan lemak menjadi sangat
penting sebagai sumber resintesisi ATP. Pertukaran penggunaan karbohidrat dan
lemak akan berbeda antara satu atlet terhadap atlet lainnya, hal ini berkaitan
dengan status atlet dalam latihan, proporsi serabut otot cepat dan lambat serta
cadangan awal glikogennya.

anaerobik

A karbohidrat
ATP + Asam laktat

lemak
+ O2
ATP + CO2 + H2O

Gambar 16. A, Pada saat latihan yang berdurasi lama dengan beban
submaksimal. Sumber utama ATP diperoleh umumnya dari system
aerobic:
B

= Kekurangan oksigen
= Oksigen yang dikonsumsi
O2 per menit

+ = Kebutuhan oksigen
= Konsumsi oksigen sewaktu latihan
= Konsumsi oksigen istirahat

Waktu yang digunakan untuk latihan


0 60
(menit)

Gambar 16 B, Glikolisis anaerobic serta system phosphagen juga memberikan


kontribusi ATP, tetapi hanya pada tahap awal latihan submaksimal
C oksigen) sebelum konsumsi oksigen mencapai tahap yang
(kekurangan
konstan (steady-state).

Waktu yang digunakan untuk latihan


0 60
(menit)

Gambar 16. C, begitu sampai pada taraf steady-state, sejumlah kecil asam
laktat menunjukkan kenaikan selama kekurangan oksigen dn tetap konstan
sampai lomba berakhir

Dalam jenis kegiatan ini, sumber utama ATP akan disuplai melalui sistem
aerobik. Sistem asam laktat maupun sistem phosphagen juga turut memberikan
andilnya, tetapi hanya pada fase-fase awal kegiatan, sebelum konsumsi oksigen
mencapai tingkat steady-state; pada saat ini kekurangan oksigen akan terjadi.
Begitu konsumsi oksigen mencapai tingkat steady-state yang baru (sekitar 2
sampai 3 menit), maka semua kebutuhan ATP sudah dapat dipenuhi seluruhnya.
Akumulasi asam laktat darah tidak mencapai kadar yang tinggi pada saat latihan
yang berdurasi tidak lebih dari 1 jam.

Glikolisis Anaerobik akan berhenti apabila kondisi steady-state sudah


tercapai, dan akumulasi asam laktat hanya dalam jumlah yang kecil dan relative
konstan sampai berakhirnya kegiatan tersebut. Contoh paling baik adalah saat lari
marathon. Disini atlet akan berlari sejauh 42.2 km dengan waktu berkisar 2.5 jam,
tetapi di akhir lomba ternyata asam laktat hanya meningkat tidak lebih dari 2
sampai 3 kali lipat dibandingkan saat istirahat. Kelelahan yang dirasakan pelari di
akhir lomba disebabkan oleh factor-faktor lain dibandingkan dengan tingginya
kadar asam laktat. Beberapa factor penting yang mengakibatkan timbulnya rasa
lelah adalah: (1) rendahnya glukosa darah sebagai akibat terkurasnya cadangan
glikogen pada hati; (2) kelelahanm pada otot yang disebabkan karena terkurasnya
cadangan glikogen otot; (3) kehilangan cairan (dehidrasi) dan elektrolit yang
menyebabkan peningkatan pada suhu tubuh; dan (4) kebosanan serta terpaan yang
diderita oleh tubuh selama kegiatan berlangsung.

Dalam kegiatan yang berdurasi lama dengan intensitas yang sangat rendah
seperti jalan, bermain golf maupun tugas-tugas industrial, asam laktat tidak
berakumulasi di atas kadar istirahat. Hal ini disebabkan karena sistem phosphagen
sendiri sudah cukup untuk mensuplai tambahan ATP sebelum mencapai tahap
steady-state konsumsi oksigen. Walaupun penyebabnya masih belum terungkap,
dalam kasus ini kelelahan dapat ditangguhkan sampai 6 jam atau lebih.

Akan sangat bermanfaat, apabila pelatih memahami bagimana peranan


ketiga sistem energi dalam kegiatan latihan yang sangat lama. Sebagai contoh,
salah satu aspek yang sangat penting pada lomba jarak menengah dan jarak jauh
adalah mengatur tempo berlari (pacing). Apabila si atlet start terlalu cepat pada
marathon atau sprint final terlalu dini, maka akan terjadi akumulasi asam laktat
yang tinggi dan cadangan glikogen otot akan terkuras lebih awal. Seperti yang
sudah dijelaskan sebelumnya, apabila intensitas kegiatan meningkat, maka akan
meningkat pula kebutuhan energi dari sistem anaerobik. konsekuensinya adalah
kekalahan karena kelelahan muncul lebih awal. Secara fisiologis, perlu disarankan
bahwa pelari seharusnya dapat berlari dengan mempertahankan pace
kecepatannya sepanjang jarak lomba pada umumnya dan kemudian melakukan
finis dengan seluruh kemampuannya. Dengan kata lain, kemunculan kelelahan
yang disebabkan oleh akumulasi asam laktat dan terkurasnya cadangan glikogen
otot harus dapat ditangguhkan sampai menjelang akhir lomba.

Di samping gambaran umum di atas, ada kasus khusus yang perlu


difahami yaitu pada lari jarak menengah. Pada nomor ini strategi dri satu pelari ke
pelari lainnya sangat bervariasi. Sebagai salah satu contoh adalah sebagian pelari
selalu melakukan “muncul dari belakang” dan melakukan sprint akhir pada jarak
300 yard. Setiap pelari elit menemukan strategi yang disesuaikan dengan
kapasitas fisiologisnya. Pelari sprint biasanya memiliki persentase serabut otot
cepat yang lebih tinggi (fast glycolytic) dan “front runner” mungkin memiliki
persentase serabut lambat yang lebih banyak (slow oxidative).
Kapasitas anaerobik menjadi factor yang sangat penting dalam latihan
pada jarak-jarak pendek dengan intensitas yang tinggi, maka maximal aerobik
power merupakan factor yang menentukan untuk kegiatan yang berdurasi lama.
Mengapa demikian, karena mayoritas energi yang diperlukan dari jenis kegiatan
ini datang dari sistem aerobik. Maximal Aerobik Power (VO2max) diartikan sebagai
kecepatan maksimal dalam mengkonsumsi oksigen atau Konsumsi Oksigen
Maksimal. Makin tinggi konsumsi oksigen maksimal yang dimiliki atlet, makin

.
bertambah kesempatan untuk berhasil dalam nomor-nomor ketahanan, asalkan
semua factor yang dapat memberikan kontribusi untuk jadi juaranya “tersedia”.

. ..
Waktu terbaik untuk lomba 30 km

160 --

150 --

140 --

.
(menit)

. ...
170
130 --
--

120 --

110 --

100 --
//
// ! ! ! !
50 60 70 80

Maximal Aerobic Power


(ml/kg-min)

Gambar 17. Semakin baik maximal aerobic power si atlet, akan lebih berhasil
dia dalam mengikuti nomor-nomor daya tahan, asalkan semua factor yang
berkontribusi terhadap performa juara “tersedia”

Interaksi Sumber Energi aerobik dan Anaerobik selama kegiatan berlangsung


Sebelum telah dibahas sistem energi yang diperlukan untuk kegiatan yang
berdurasi sangat singkat dan yang berdurasi sangat lama. Sekarang bagaimana
untuk kegiatan yang berlangsung dinatar keduanya? Apakah bersifat anaerobik
atau aerobik atau membutuhkan keduanya?. Sebagai pada lari 1500 meter. Dalam
kegiatan ini sistem energi anaerobik mengambil porsi yang paling banyak dalam
mensuplai ATP saat sprint awal maupun finish. sedangkan aerobik akan
mendominasi sistem saat berada dipertengahan lomba. Pada lari ini paling tidak
setengah kebutuhan ATP, setengahnya dimabil dari aerobik dan setengahnya lagi
anaerobik.

Gambar berikut menunjukan distribusi sistem energi untuk setiap kegiatan


yang berbeda yang disebut dengan energi continuum. Dengan kata lain, semua
nomor seperti 100 meter sprint hamper 100% bersumber dari anaerobik
sedangkan di sebelah kanan seperti marathon jelas bersifat aerobik. Diantara
kedua kutub sistem energi disebut sebagai grey zone (daerah abu-abu), artinya
berbagai jenis sistem yang diperlukan akan berperan saling bergantian yaitu
antara anaerobik dan aerobik.

Kegiatan ini merupakan kegiatan yang paling menyulitkan atlet, karena


semua sistm diperlukan dalam kegiatan tersebut. Jadi memang merupakan yang
paling sulit dalam mempersiapkan atlet, karena mereka harus menghabiskan
SUMBER ENERGI UTAMA
banyak waktu dalam latihan pengembangan sistem anaerobik dan aerobik.

ATP-PC
ATP-PC dan Sistem Asam Laktat Asam Laktat Sistem Oksigen
Sistem Oksigen

% Aerobik 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

% Anaerobik 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

Nomor
100 200 400 800 1500 3200 30 5000 10.000 42.2
(meter)

Waktu
Menit:detik 0:10 0:20 0:45 1:45 3:45 9:00 30 14:00 29:00 135:00
Gambar Rata-rata persentase kontribusi sumber eneergi aerobic dan anaerobic
pada beberapa nomor lomba. Daerah yang tidak berwarna menunjukkan apakah itu
termasuk metabolism anaerobic (kiri) atau aerobic (kanan). Daerah berwarna
menunjukkan nomor lomba dimana system anaerobic dan aerobic sama-sama
penting

Konsep kontinum energi ini dapat diterapkan untuk semua kegiatan tidak hanya
pada cabang olahraga atletik saja.

Kesimpulan

Pada bab ini yang paling penting untuk dipertimbangkan adalah energi.
Matahari merupakan sumber energi yang tidak pernah habis dan merupakan
sumber energi utama bagi bumi, melalui radiasi solar, karbohidrat dlam tanaman
dapat dbentuk. Manusia dan binatang makan tanaman dan juga bintang lainnya
sebagai makanan. Dlam tubuh manusia, energi makanan digunakan untuk
membentuk Adenosine Triphosphate atau ATP merupakan senyawa kimia yang
apabila dipecahkan akan mensuplai energi untuk kontraksi otot dan peristiwa
biologis lainnya.

Produksi ATP dapat terjadi melalui metabolism (reaksi kimia) serobik


(tanpa oksigen) dan aerobik (dengan oksigen). Ada dua sistem serobik; (1)
phosphagen atau Sistem ATP-PC; dan (2) Glikolisis Anaerobik atau Sistem Asam
Laktat.

Phosphagen (ATP-PC, merupakan senyawa kimia yang mirip dengan


ATP) disimpan di dalam mekanisme kontraktil otot dan merupakan sumber energi
yang paling cepat untuk digunakan otot. Sistem energi ini merupakan sistem
yang paling utama digunakan untuk memproduksi ATP sewaktu latihan yang
berdurasi singkat dengan intensitas yang sangat tinggi. Sistem energi serobik
melepaskan energi untuk resintesis ATP melalui pemecahan karbohidrat
(glikogen dan glukosa) yang tidak sempurna menjadi asam laktat. Apabila Asam
laktat terus meningkat dalam darah dan otot maka peningkatan tersebut dapat
menyebabkan otot menjadi lelah. Glikolisis Anaerobik juga menjadi penyuplai
ATP utama untuk resintesis ATP pada kegiatan yang berdurasi singkat dan
berintensitas sangat tinggi seperti sprint 400 meter dan 800 meter. Kegiatan yang
benar-benar mengandalkan sistem phosphagen dan glikolisis serobik disebut
dengan kegiatan aerobik. Sistem energi aerobik, melepaskan energi untuk
meresintesis ATP dengan cara memecahkan (umumnya) dari karbohidrat dan
lemak dan kadang-kadang juga dari protein, menjadi karbondioksida dan air.

Walaupun sejauh ini sistem oksigen mampu menghasilkan ATP paling


banyak, namun memerlukan serangkaian reaksi kimia yang rumit. Dengan
karbohidrat akan dipecah melalui reaksi pertama kimia disebut dengan glikolisis
Aerobik, glikogen akan dipecah menjadi asam piruvat, asam piruvat masuk ke
dalam siklus krebs yang selanjutnya akan dihasilkan karbondioksida dan elektron
dalam bentuk atom hidrogen (elektron) yang terbawa oksigen yang kita hirup,
kemudian air dibentuk dan ATP disintesis. Apabila lemak digunakan sebagai
bahan energi, reaksi kimianya sama terkecuali pada rangkaian pertama yaitu
reaksi yang terjadi pada Oksidasi Beta. Sistem Oksigen pada umumnya
digunakan pada kegiatan berintensitas rendah, menggunakan waktu yang lama
seperti pada lari maraton. Jenis kegiatannya disebut dengan kegiatan Aerobik.

Selain itu banyak kegiatan fisik yang melibatkan kedua sistem


metabolisme, sebagai contoh pada lari 1500 meter. Disini sistem Anaerobik
merupakan pensuplai utama ATP khususnya saat lari sprint terutama pada start
dan finish, sedangkan Sistem Oksigen mengambil porsi lebih besar pada saat
dipertengahan lari atau steady-state. Pemahaman terhadap sistem energi ini sangat
berguna dalam merencanakan program latihan.