Anda di halaman 1dari 2

REVIEW FILM (2009)

PURSUIT OF HAPPYNESS
Oleh : Novita D. Anjarsari

SINOPSIS

Film yang ditulis oleh Gabriele Muccino ini menceritakan kehidupan seorang ayah
yang berusaha mencapai, mencari, dan menemukan apa yang ia sebut sebagai sebuah
kebahagiaan. Di tengah liku-liku perjuangannya ia selalu didampingi oleh anaknya yang juga
sebagai motivasi baginya.

Kisah ini diawali dengan perjuangan Chris Gardner (tokoh utama) dalam mencari
pekerjaan dan menjual alat pemindai kepadatan tulang sebagai sumber penghasilannya.
Rintangan yang dihadapi pun tidak mudah. Ia juga harus membayar sewa rumah, sekolah, dan
juga membayar tilang karena ia parkir sembarangan. Semenjak itu, naik bus dan berlari telah
menjadi bagian dari hidupnya.

Awal pencapaian kebahagiaannya dimulai dari pertemuannya dengan Jay Twistle yang
juga kepala SDM pialang saham Dean Witter. Berkali-kali Chris mencoba mengajak Tn
Twistle berbincang-bincang, namun ia kurang mendapat respon dari Tn. Twistle. Chris tidak
menyerah begitu saja. Pada suatu ketika, Chris kembali menemui Tn. Twistle, namun ia buru-
buru ke Noe Valley. Tanpa pikir panjang, Chris pun meminta ijin untuk ikut ke Noe Valley.
Dari pertemuan ini, ternyata Chris bisa menarik perhatian dan menimbulkan kesan positif
bagi Tn. Twistle.

Tak lama berselang, Jay Twistle pun menawarinya untuk menjadi calon magang.
Chris pun menerimanya. Namun diluar dugaannya, ketika ia mengecat tembok rumah
kontrakannya, polisi datang dan menagih pembayaran tilang. Chris pun baru boleh keluar dari
tahanan keesokan harinya pada pukul 09.30. Padahal jadwal wawancaranya pukul 10.15.

Setelah urusan tilang selesai, ia pun berlari menuju Dean Witter tanpa sempat
mengganti bajunya. Tentu saja hal ini membuat pewawancara tercengang. Namun, berkat
usaha Chris untuk meyakinkan mereka, justru menimbulkan kesan positif untuk
pewawancara, dan ia pun diterima magang di perusahaan selama 6 bulan tanpa gaji dan tanpa
jaminan untuk diterima bekerja.
Berbekal tekad dan keyakinan untuk meraih impiannya ia pun berusaha menelepon
dan mencari relasi sebanyak-banyaknya untuk memperjuangkan programnya. Ia pun berusaha
menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat meskipun harus jatuh-bangun dan menghadapi
rintangan yang berat.

Di akhir cerita, Chris pun berhasil mencapai dan menemukan kebahagiaanya. Ia dapat
menarik 31 rekening ke Pice Bell. Ia pun diterima bekerja sebagai pialang di dean Witter.
Setelah bekerja di Dean Witter, Chris mendirikan firma investasi Gardner rich. Tahun 2006,
ia menjual saham minoritas dari firma pialangnya dalam kesepakatan multijuta dolar.

KESAN YANG DAPAT DITANGKAP

Kesan yang pertama kali muncul di benak saya ketika melihat film ini adalah adanya
self-efficacy yang tinggi pada diri Chris Gardner. Dengan adanya evaluasi diri yang positif
terhadap kemampuan dirinya, ia pun berusaha dan berjuang keras mencapai dan menemukan
kebahagiaannya. Keyakina yang ia wujudkan dalam tindakan itu pun mengantarkannya pada
keberhasilan yang jug aia sebut sebagai sebuah kebahagiaan.

Penjelasan di atas dibuktikan dengan melalui usaha diaagar dapat bertemu dan
berbincang-bincang dengan Jay Twistle. Sel;ain itu, Chris juga berusaha keras untuk
menyelesaikan pekerjaannya dan mengerjakan ujian dengan sungguh-sungguh agar dapat
diterima kerja di Dean Witter.

Berdasarkan bukti tersebut, saya juga memandang bahwa Chris memiliki fokus diri
yang positif, sehingga di dalam dirinya timbul ekspektansi optimistik (optimis dalam
mencapai pengharapannya).

Dari film ini, saya juga melihat bahwa Chris Gardner memiliki kemampuan dalam hal
persuasi. Hal tersebut terlihat ketika Chris berhasil mengubah sikap dan penilaian
pewawancara ketika melihat ia datang ke Dean Witter tidak memakai pakaian formal. Namun,
sikap pewawancara tersebut juga tidak lepas dri adanya atribusi positif terhadap sikap Chris.
Kemampuan persuasinya juga terbukti dengan adanya keberhasilan Chris meraih 31 rekening
yang masuk ke Pice Bell.