Anda di halaman 1dari 16

BANK DAN PERBANKAN

A. A. Penjelasan Umum

• Bank adalah Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat sebagaimana


dimaksud dalam undang-undang tentang perbankan yang berlaku;

• Kebijakan moneter adalah kebijakan yang ditetapkan dan dilaksanakan


oleh Bank Indonesia untuk mencapai dan memelihara kesetabilan nilai rupiah
yang dilakukan antara lain melalui pengendalian jumlah uang beredar dan
atau suku bunga;

• Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia Lembaga Negara


yang independen, bebas dari campur tangan pemerintah dan atau pihak
lainnya, kecuali untuk hal-hal lain secara tegas diatur undang-undang;

• Sistem pembayaran adalah suatu sistem yang menyangkut seperangkat


aturan, lembaga dan mekanisme yang digunakan untuk melaksanakan
pemindahan dana guna memenuhi suatu kewajiban yang timbul dari suatu
kegiatan ekonomi;

• Uang Rupiah adalah alat Pembayaran yang syah di Wilayah Negara


Indonesia;

• Yang dimaksud bebas memiliki devisa adalah bahwa penduduk yang


memperoleh dan memiliki devisa tidak wajib menjualnya kepada negara;

• Yang dimaksud dengan bebas menggunakan devisa adalah bahwa


penduduk dapat secara bebas melakukan kegiatan devisa antara lain untuk
perdagangan internasional, transaksi di pasar uang dan transaksi di pasar
modal;

Keberadaan bank sentral yang independen di Indonesia merupakan suatu


prasarat untuk dapat dilakukannya pengendalian moneter yang efektif dan
efisien. Keinginan tersebut dapat dilihat dari di keluarkannya Keputusan Presiden
Nomor 23 Tahun 1998 tentang Pembinaan Wewenang Kebijaksanaan Moneter
kepada Bank Indonesia.
Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 19998 tentan Pembentukkan Kepanitiaan
untuk menyusun Rancangan Undang-undang� tentang Kemandirian Bank
Sentral.

Keberadaan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral


dirasakan telah tidak sesuai lagi dengan perkembangan perbankkan saat ini.
Beberapa ketentuan yang tercantum dalam Undang-undang tersebut ternyata
belum cukup menjamin terselenggaranya Bank Indonesia yan independen.
− − Penempatan kedudukan Bank Indonesia sebagai Pembantu Pemerintah,
serta ke tidak jelasan tujuan dari Bank Indonesia, menyebabkan peran Bank
Indonesia sebagai otoritas moneter menjadi tidak jelas.

− − Pada akhirnya menyebabkan tanggung jawab atas suatu kebijakan yang


diambil juga tidak jelas.

− − Membuka peluang adanya intervensi dari pihak luar sehingga dapat


menyebabkan yang diambil Bank Indonesia menjadi kurang efektif.

− − Perlu segera dibentuk adanya undang-undang tentang Bank Sentral


diupayakan dapat memberikan landasan hukum yang kuat bagi
terselenggaranya tugas-tugas Bank Sentral secara efektif.

Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang telah


diundangkan pada tanggal 17 Mei 1999 diharapkan dapat menjadi landasan
yang kokoh bagi terselenggaranya bank sentral yang efektif.

Undang-undang tersebut kedapatan beberapa perubahan yang fundamental,�


yakni :
�ditetapkannya tujuan tunggal Bank Indonesia, Indevendensi Bank Indonesia
baik dari segi kelembagaan, fungsi, manajemen, personalia pimpinan maupun
anggaran. Disisi lain sejarah mencatat keadaan ekonomi Indonesia.

Kondisi sektor keuangan belum pulih, hal ini terlihat pada memburuknya kondisi
perbankan dan lembaga keuangan lainnya terkecuali dana pensiun dan
penggadaian.

Kebijakan Pemerintah di sektor keuangan, khususnya langkah restrukturisasi


sektor perbangkan, telah mencatat kemajuan yang cukup berarti namun
dampaknya terhadap pemulihan kondisi sektor keuangan belum begitu terlihat
sebagai akibat kompliknya permasalahan yang dihadapi.

Sementara itu kerja pasar modal, sangat terpuruk akibat krisis, mulai
menunjukkan tanda-tanda perbaikan dalam Triwulan terakhir dengan
menurunnya suku bunga dan mulai pulihnya kepercayaan investor atas prospek
perekonomian di Indonesia

Perbankan

Dalam tahun laporan kondisi perbankan secara umum belum menunjukkan


tanda-tanda perbaikan.
Proses perbaikan berjalan lambat,� karena kompleks dan besarnya skala
permasalahan yang dihadapi akibat parahnya ketidak seimbangan neraca di
sektor perbankan dan begitu banyaknya bank yang bermasalah. Dengan kondisi
tersebut program restrukturisasi perbankan membutuhkan persiapan yang
panjang dan rumit, koordinasi yang erat, serta biaya yang besar, kondisi
Perbankan Nasional rapuh akibat berbagai kelemahan internal dan semakin
diperburuk oleh adanya tekanan-tekanan eksternal seperti :
− − Gejolak nilai tukar
− − Tingkat suku bungan yang tinggi
− − Ketidak pastian Sosial Politik
− − Berbagai desas-desus negatif yang memicu penarikan dana perbankan
secara besar-besaran.

Depresiasi rupiah yang kemudian diikuti oleh kenaikan suku bunga sebagai
konsekwensi upaya penstabilan harga dan nilai tukar rupiah telah memperburuk
kinerja debitur hingga terjadi kredit bermasalah semakin menumpuk. Sehingga
bank-bank terpaksa menanggung bunga bersih (net Interset margin) negatif
sebagai akibat peningkatan suku bunga dana yang lebih cepat dibandingkan
dengan peningkatan suku bunga pinjaman, yang menimbulkan kerugian bank
yang akhirnya mengikis permodalan bank. Sehingga hampir semua bank
mengalami kekurangan modal.

Dapat ditemukan bahwa sebagai konsekwensi suku bunga yang tinggi. Bank-
bank menghadapi kesulitan dalam mengakurkan dana kepada nasabah sehingga
inter mediasi bank terganggu.
Bank-bank cenderung menanamkan dana di pasar uang antar bank (PU.AB) dan
SBI dari pada di sektor riil yang dipandang mengandung resiko kredit lebih
tinggi.

Penjelasan permasalahan Perbankan menjadi tidak mudah sebagai akibat masih


terdapatnya berbagai kelemahan internal yang bersifat struktural bersumber dari
manajemen yang tidak independen :

1. 1. masih terdapatnya berbagai kelemahan internal yang bersifat struktural


bersumber dari manajemen yang tidak independen.
2. 2. rendahnya kompetensi dan intregritas baik pengelola maupun pemilik
bank.

Yang mengakibatkan lemahnya manajemen dengan resiko terlihat pada


banyaknya pelanggaran ketentuan kehati-hatian.

Keadaan ini diperburuk adanya oleh pelaksana fungsi pengawasan internal belum
berjalan secara optimal, kelemahan ini mempengaruhi kinerja perbankan
tercermin pada ketidak seimbangan neraca baik dari sisi Aktiva maupun Pasiva.

Dari sisi Aktiva, masalah utama adalah memburuknya kualitas Aktiva Produktif
sebagai dampak pemberian kredit yang tidak didasarkan pada azas pemberian
kredit yang sehat.

Hal ini tercermin dari pemberian kredit yang berlebihan pada kelompok tertentu
dan kelompok terkait yang berakibat banyaknya pelanggaran Batas Maksimum
Pemberian Kredit (BMPK) masalah lain dari penyaluran kredit adalah besarnya
porsi pinjaman kepada sektor ekonomi yang beresiko tinggi misalnya kredit
properti.

Pada sisi Pasiva, masalah utama yang dihadapi banyaknya sumber dana jangka
pendek berasal dari luar negeri tanpa lindung nilai (hedging) yang di tanamkan
pada properti-properti yang bersifat jangka panjang dan tidak menghasilkan
Devisa.
Selain itu suku bungan yang tinggi dan melebihi suku bungan pinjaman,
(negatife Spread) selama tahun laporan menambah kerugian dan membebani
modal.

1. 1. Tujuan Bank Indonesia


Berbeda dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1968 tentang Bank
Sentral yang tidak merumuskan secara tegas tujuan Bank Indonesia.

Bahwa Undang-Undang Bank Indonesia secara tegas dinyatakan dalam pasal


7 Tujuan Bank Indonesia adalah :
− − Mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah yang merupakan
Single obyective Bank Indonesia;
− − Kestabilan nilai rupiah yang dimaksud adalah, kestabilan nilai rupiah
terhadap barang dan jasa yang tercantum dari perkembangan laju Inflasi;
− − Serta kestabilan terhadap mata uang negara lain yang tercantum pada
perkembangan nilai tukar rupiah terhadap nilai mata uang negara lain.

Perumusan tujuan Bank Indonesia dalam bentuk Single obyective ini


dimaksudkan untuk memperjelas, sasaran yang akan dicapai dan batasan
tanggung jawab yang harus di pikul oleh Bank Indonesia dalam Undang-
Undang Nomor 13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral, dirumuskan secara
umum yaitu �meningkatkan tarap hidup rakyat�.

− − Ketidak tegasan perumusan tersebut menimbulkan inplikasi peran Bank


Indonesia sebagai otoritas tidak jelas dan tidak terfokus bahkan timbul
Cnflicting karena antara menjaga kestabilan nilai rupiah degan tugas
mendorong pertumbuhan sering kali tidak dapat berjalan seiring.
− − Karena ketidak jelasan tujuan juga menjadikan tanggung jawab
terhadap kebijakan yang diambil tidak jelas. �

1. 1. Tugas Bank Indonesia

Dalam rangka mencapai tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan


nilai rupiah, Bank Indonesia didukung oleh 3 (tiga) pilar yang merupakan 3
(tiga) bidang utama tugas Bank Indonesia yaitu :

1. 1. Menetapkan dan melaksanakan kebijaksanaan moneter


2. 2. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
3. 3. Mengatur dan mengawasi Bank
Agar tujuan dapat dicapai, memelihara kestabilan nilai rupiah, maka ketiga
tugas tersebut harus di Intregrasikan.

Tugas menetapkan dan melaksanakan kebijaksanaan moneter Bank Indonesia


berwenang :
a. a. menetapkan sasaran-sasaran moneter dengan memperhatikan sasaran
laju inflasi yang ditetapkannya.
b. b. �melakukan pengendalian moneter dengan menggunakan cara-cara yang
termasuk tetapi tidak terbatas pada :
1) 1) �Operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun Valuta
Asing;
2) 2) �Penetapan tingkat Piskonto;
3) 3) �Penetapan cadangan wajib minimum;
4) 4) �Pengaturan kredit atau pembiayaan.

Dewan Gubernur beserta segenap keluarga besar Bank Indonesia


menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya atas dukungan dan
perhatian dari Pihak Pemerintah sehingga Independensi Bank Indonesia dapat
diwujudkan melalui Undang-Undang Bank Indonesia yaitu :

1. 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank


Indonesia;
a. a. Bahwa untuk memelihara kesinambungan mewujudkan masyarakat
��� Pelaksanaan ekonomi diarahkan kepada wujudnya perekonomian
nasional yang berpihak pada ekonomi kerakyatan merata, kandiri, andal,
berkeadilan dan mampu bersaing di kancah perekonomian Internasional.
b. b. �Bahwa guna mendukung terwujudnya perekonomian Nasional sebagai
mana tersebut di atas dan sejalan dengan tantangan perkembangan dan
pembangunan ekonomi yang semakin kompleks;
− − Sistem keuangan yang semakin maju serta perekonomian
International yang semakin maju;
− − Perekonomian internasional yang semakin kompetitip;
− − Kebijakan dan moneter harus dititik beratkan memelihara stabilitas
nilai rupiah;
c. c. Bahwa�� untuk�� menetapkan� dan� melaksanakan� kebijakan�
moneter� yang efektif dan efisien diperlukan sistem keuangan yang sehat,
transparan terpercaya, dapat dipertanggung jawabkan, didukung oleh
sistem pembayaran yang lancar, penguasaan bank yang selektip.
d. d. �Bahwa berdasarkan pertimbangkan-pertimbangan tersebut di atas
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral sudah tidak
sesuai lagi dengan tuntutan zaman, perlu segera diganti dengan Udang-
Undang yang baru.

Mengingat Dalam Kebijakan


1. 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 23 dan Pasal 33 Undang-
Undang Tahun 1945;
2. 2. Pasal 3 ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998;
3. 3. Ketetapan MPR RI Nomor XVI/MPR/1998.

− − Undang-Undang Republik Indonesia nomor 24 Tahun 1999 tentang Lalu


Lintas Devisa dan Sistem nilai Tukar.

− − Pembangunan Nasional dilaksanakan oleh Bangda Indonesia untuk


mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD
1945.

− − Dalam mendorong pembangunan Nasional salah satu alas sumber


pembiayaan yang sangat penting adalah Devisa. Untuk meningkatkan
devisa tersebut tahun 1970 Pemerintah menerapkan sistem Devisa bebas.
− − Penerapan devisa bebas tanpa diikuti dengan kebijakan pemantauan
lalu lintas devisa, tanpa diikuti dengan kebijakan pemantauan lalu lintas
Devisa dan penentuan sistem nilai tukar dapat menimbulkan dampak
negatif bagi perekonomian Nasional.

− − Untuk mencegah dampak negatif tersbut sistem Devisa bebas perlu


ditopang dengan Undang-Undang baru yang mandiri.

− − Menghapus ketidak pastian hukum yang telah berlangsung selama ini


dengan mencabut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1964.

Pokok-pokok ketentuan yang akan ditetapkan dengan peraturan Bank Indonesia


antara lain berupa :

a. a. Standar pedoman kebijaksanaan dan prosedur kegiatan transaksi Devisa;


b. b. �Rasio posisi Devisa Neto
c. c. Pembatasan kerugian potensial dan struktural terhadap modal

Penetapan sistem Nilai Tukar sebagaimana dimaksud dilakuakn dengan


Keputusan Presiden Republik Indonesia. Bank Indonesia mengkaji sistem nilai
tukar� yang diajukan kepada Pemerintah secara cermat dan hati-hati.

Sistem Nilai Tukar tersebut antara lain berupa :


a. a. Sistem Nilai Tukar Tetap�
b. b. Sistem Nilai Tukar mengambang
c. c. Sistem Nilai Tukar mengambang terkendali

Pokok-pokok ketentuan yang akan ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia


antara lain :
a. a. Devakuasi atau revaluasi rupiah terhadap mata uang asing;
b. b. �Penetapan nilai tukar harian serta penetapan lebar pita Intervensi
(Intervention Bank);
c. c. Arah operasi atau dipresiasi rupiah;
d. d. �Kegiatan Intervensi Bank Indonesia.

00 Pelaksanaan Yang Terkandung Di Dalamnya

  Strategi Kebijakan menetapkan dan melaksanakan kebijakan Moneter :

1. 1. Bank Indonesia dapat memberikan kredit atau pembayaran berdasarkan


prinsip syariah untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari
kepada bank untuk mengatasi kesulitan pedoman jangka pendek bank yang
bersangkutan.

2. 2. Pelaksanaan pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip


Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dijamin oleh Bank
penerima dengan aman yang berkualitas tinggi dan mudah di cairkan yang
nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diterimanya.
3. 3. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
ditetapkan Peraturan Bank Indonesia.

4. 4. Bank Indonesia melaksanakan kebijakan nilai tukar yang berdasarkan


sistem nilai tukar yang ditetapkan.

Mengatur dan menjaga Kelancaran Sistem Pembayaran :


(1) (1) Dalam rangka mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembangunan�
dimaksud dalam Pasal 8 hurup b, Bank Indonesia berwenang;
a. a. Melaksanakan dan memberikan persetujuan dan izin atas
penyelenggaraan jasa pembayaran.
b. b. �Mewajbkan penyelenggaraan jasa sistem pembayaran untuk
menyampaikan laporan tentang kegiatannya.
c. c. Menetapkan penggunaan alat pembayarannya.
(2)(2) Pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud ditetapkan dengan
Peraturan Bank Indonesia.

Bank Indonesia berwenang mengatur sistem kliring antar Bank dalam mata uang
Rupiah dan antar Valuta Asing. Penyelenggaraan kegiatan kliring antar Bank
dalam mata uang rupiah dan valuta asing dilakukan oleh Bank Indonesia antar
pihak lain dengan persetujuan Bank Indonesia.
− − Bank Indonesia menyelenggarakan penyelesaian akhir transaksi
pembayaran antar Bank dalam mata uang rupiah dan antar valuta asing.
− − Bank Indonesia berwenang menetapkan macam harga ciri uang yang akan
di keluarkan, bahkan yang digunakan dan� tanggal mulai berlakunya,
sebagai alat pembayaran yang sah.
− − Uang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dibebaskan dari bea meterai.
− − Bank Indonesia tidak memberikan penggantian atas uang yang hilang atau
musnah karena sebab apapun.

Kebijakan Perbankan
Sejalan dengan beratnya permasalahan yang dihadapi selama tahun laporan,
kebijaksanaan bidang perbankan diarahkan pada upaya.
− − Untuk memulihkan kepercayaan kepada Industri perbankan Nasional.
− − Memperbaiki kondisi kesehatan perbankan
− − Mencegah terulangnya krisis perbankan di masa depan.
Dalam upaya pemulihan kepercayaan masyarakat Pemerintah mengeluarkan
kebijakan penjaminan menyeluruh terhadap kewajiban Bank.

(Blanket guarantee Scheme), langkah tersebut kemudian didukung upaya


stabilisasi moneter guna menyerap kembali likuiditas ke dalam sistem perbankan.

Dalam hal penyehatan posisi dan prospek keuangan perbankan Pemerintah


menempuh langkah-langkah Retribusi perbankan, terutama melalui Program
Rekapitulasi langkah tersebut secara bertahap telah dapat meredam krisis
perbankan.
Sejak pertengahan tahun laporan, insiden penarikan dana secara besar-besaran
jauh berkurang dan penghimpunan dana pihak ketiga cenderung meningkat
kembali.

Sekalipun demikian kondisi perbankan sampai akhir tahun laporan relatip belum
menunjukkan pemulihan yang berarti sistem menciptakan Perbankan yang sehat
dan Kompetitif.

Pemerintah menetapkan program restrukturisasi perbankan sersifat menyeluruh.


Program yang mencakup langkah strategis berintikan kebijakan memperbaiki
kondisi Solvabilitas dan profitabilitas bank.
Mempertahankan kelangsungan hidup bank yang berprospek baik dan
mengaktifkan kembali fungsi perbankan sebagai lembaga Intermediasi yang di
fokuskan pada 4� :
I. I. Program penyehatan perbankan, khususnya program rekapitulasi Perbankan
II. II. �Perbankan kondisi Internal Bank�
III. III. Penyempurnaan perangkat hukum perbankan
IV. IV. Peningkatan fungsi Perbankan

Status Bank Indonesia

1. 1. Lembaga Negara yang Independen

− − Di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999, tentang Bank Indonesia


(UU-BI) dirumuskan bahwa Bank Indonesia adalah lembaga negara yang
Independen
− − Bebas campur tangan Pemerintah dan atau pihak lainnya kecuali untuk
hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undang-Undang (Pasal 4)
− − Sebagai Lembaga Independen, Bank Indonesia memiliki otonomi penuh
dalam pelaksanaan tugasnya.
− − Untuk menjamin Independen tersebut maka kedudukan Bank Indonesia
di luar Pemerintah.
Pencantuman status Independen dalam Undang-undang ini diperlukan untuk
memberikan dasar hukum yang kuat, menjamin kepastian hukum dan
konsistensi status kelembagaan Bank Indonesia.

1. 1. Bank Indonesia sebagai Badan Hukum

Pasal 4 ayat (3) merupakan dasar hukum Bank Indonesia sebagai badan hukum
dimana disebutkan bahwa Bank Indonesia adalah Badan Hukum berdasarkan
Undang-undang ini.�

Pengertian Badan Hukum

− − disini meliputi badan hukum publik;


− − Badan hukum Perdata

Dalam kedudukan sebagai Badan Hukum Publik, Bank Indonesia berwenang


menetapkan peraturan-peraturan yang mengikat masyarakat luar sesuai dengan
tugas dan wewenangnya.
Sedangkan sebagai Badan Hukum Perdata, Bank Indonesia dapat bertindak
untuk atau nama sendiri di dalam dan di luar pengadilan.

Penegasan Bank Indonesia sebagai Badan Hukum ini diperlukan agar terdapat
kejelasan wewenang Bank Indonesia dalam mengelola kekayaan sendiri terlepas
dari anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

1. 1. Kedudukan Bank Indonesia dalam Struktur Ketatanegraan Republik


Indonesia.
Sebagai Lembaga Negara yang Independen, Bank Indoenesia mempunyai
kedudukan yang khusus dalam struktur ketatanegaraan Republik Indonesia.
Sebagai Lembaga Negara, kedudukan Bank Indonesia tidak sejajar dengan
DPR, MPR dan tidak sama dengan departemen karena kedudukan Bank
Indonesia berada di luar Pemerintah. Dalam pelaksanaan tugasnya, Bank
Indonesia mempunyai hubungan kerja dengan DPR, BPK serta Pemerintah.

2. 2. Esensi dan Implikasi dari status dan kedudukan Bank Indonesia.


Esensi dari Status dan Kedudukan Bank Indonesia ini adalah agar pelaksanaan
tugas Bank Indonesia lebih transparan dan bertanggung jawab dalam
melaksanakan tugasnya untuk mencapai tujuan, memelihara kestabilan nilai
Rupiah yang tercermin� pada laju Inplasi dan Nilai Tukar.

Sumber pembiayaan :

Secara keseluruhan, operasi keuangan pemerintah yang mengalami defisit


sebesar Rp. 23,6 triliun atau 2,2% dari PDB di biayai oleh sumber pembiayana
yang berasal dari luar negeri, secara neto pembiayaan luar negeri mencapai
47,6% triliun, yaitu penarikan bantuan luar negeri pemerintah sebesar Rp. 78.3
triliun di kurangi pembayaran pokok utang luar negeri sebesar 30.7 triliun.

Dapat dikemukakan dalam perhitungan cicilan pokok utang luar negeri tersebut
telah termasuk penjadwalan cicilan pokok utang luar negeri pemerintah
sebesar $ 1,7 miliar, berdasarkan jenis pinjaman, Rp. 40,4 triliun atau 51,6%
dari total pinjaman merupakan bantuan program yang berasal dari Bank
Pembangunan Asia, Bank Dunia, Pemerintah Jepang dan sisanya merupakan
bantuan Proyek.

Realisasi penarikan bantuan luar negeri (bersih) yang lebih besar dari pada
realisasi defisit anggaran telah memungkinkan terjadinya peningkatan Saldo
bersil rekening pemerintah pada Bank Indonesia dan Bank Umum sebesar Rp.
24,0 triliun, sekitar Rp. 2,4 triliun dari kenaikan tersebut disebabkan oleh
perubahan kurs rekening Valuta Asing Pemerintah.

Dampak terhadap Pemerintah Dalam Negara

Sejalan dengan menurunnya kegiatan perekonomian dan daya beli masyarakat,


Pemerintah berupaya untuk meningkatkan peranannya sebagai stabilisator,
distributor dan stimilator, pemulihan sektor riil namun konstribusi Pemerintah
tersebut lebih terlihat pada peningkatan pengeluaran konsumsi, khususnya
untuk subsidi, dari pada pengeluaran Investasi baik untuk program JPS
maupun non JPS.
Kontribusi pengeluaran konsumsi Pemerintah terhadap PDB meningkat dari
7,8% pada tahun sebelumnya menjadi 8,8% sedangkan kontribusi pengeluaran
Investasi terhadap PDB tetap

Tabel : I

Dampak APBN terhadap Permintaan Dalam Negeri

1998/1999
Rincian 1996/1997 1997/1998 APBN APBN-P� 1)

Triliun Rupiah

I. Konsumsi 35,9 54,6 105,5 93,0


Pemerintah
Belanja pegawai dalam 14,4 18,1 23,6 23,5
negeri
Belanja barang dalam 7,8 8,3 10,1 10,1
negeri
Belanja rutin daerah 9,4 9,9 13,3 14,2
Pengeluaran rutin 4,3 18,3 58,5 45,2
lainnya

II. Konsumsi � � � �
Pemerintah
Pembiayaan dalam 27,0 30,0 63,3 48,0
rupiah
Bantuan Proyek 22,8 21,7 49,1 38,9

III. Jumlah 62,9 84,6 168,8 141,0

1) Prakiraan realisasi
Suumber : Departemen
Keuangan (diolah)

  Dampak terhadap Neraca Pembayaran

Kontribusi lalu lintas modal Pemerintah terhadap neraca pembayaran terlihat


meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan pinjaman
luar negeri pemerintah yang mencapai setara Rp. 78.3 triliun (tabel 2).

Adanya penjadualan cicilan pokok pinjaman luar negeri pemerintah juga cukup
signifikan dalam meningkatkan beban kewajiban cicilan pokok yang
seharusnya dibayar, dalam tahun tahun laporan sehingga secara neto
pemasukan modal Pemerintah dalam tahun laporan lebih besar dari pada�
tahun sebelumnya. Kontribusi kedua komponen ini juga cukup segnifikan
dalam mengimbangi peningkatan Impor bantuan proyek dan pembayaran
bunga pinjaman luar negeri.

Tabel : II
Dampak APBN terhadap Neraca Pembayaran Indonesia

1998/1999
1)
Rincian 1996/1997 1997/1998 APBN APBN-P�

Setara Triliun Rupiah

Transaksi Berjalan - 0,5 - 2,4 - 23,4 - 12,0


Neraca Barang 6,2 8,9 8,8 13,1
Ekspor migas 14,2 25,1 36,5 30,9
Impor bantuan proyek - 7,7 - 15,5 - 26,4 - 16,8
Lainnya - 0,3 - 0,8 - 1,4 - 1,0

� Neraca Jasa - 6,6 - 11,3 - 32,2 - 25,0


Pembayaran bunga � � � �
Pinjaman luar negeri - 6,6 - 10,3 - 31,0 - 24,1
Lainnya - 0,1 - 1,0 - 1,2 - 0,9

Pemasukan Modal Neto - 4,4 6,0 81,3 47,6


Pemerintah
��� Penarikan 11,9 23,8 114,6 78,3
Pinjaman Luar Negeri
���� Pembayaran
Cicilan Pokok
���� Utang luar negeri - 16,3 - 17,8 - 33,3 - 30,7
pemerintah
Lalu lintas Moneter� 2) - 4,9 3,6 58,0 35,6

1) Prakiraan realisasi
2) Positif berarti terjadi aliran
valuta asing
Sumber : Departemen Keuangan
(diolah)

Dampak Moneter

Operasi keuangan Pemerintah berdampak ekspansif terhadap jumlah uang


beredar dengan jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan tahun
sebelumnya Tabel 3.

Tabel : III

Dampak Moneter Keuangan Pemerintah

1998/1999
1)
Rincian 1996/1997 1997/1998 APBN APBN-P�

Setara Triliun Rupiah

Penerimaan Rupiah 76,4 83,1 112,8 129,5


Migas 5,9 10,2 13,2 10,3
� Nonmigas� 2) 67,,5 72,8 99,6 111,6
� Lainnya bersih�� 3) 3,0 0,1 - 7,7

Pengeluaran Rupiah 67,5 86,2 170,7 14,1,2


�Operasional 40,5 56,2 107,4 93,2
� Pembangunan 27,0 30,0 63,3 48,0

Dampak Moneter 9,0 - 3,1 - 58,0 - 11,7

1) Prakiraan realisasi
2) Penerimaan pajak dan bukan
pajak
3) Termasuk seleisih yang belum
diperhitungkan
4) Negatif berarti ekspansi

Sumber : Departemen Keuangan


(diolah)

Ekspansi terbesar terjadi pada jenis pengeluaran operasional, khususnya


subsidi yang mencapai Rp. 45 triliun. Pada sisi pengeluaran pembangunan,
ekspansi terutama bersumber dari realisasi program JPS dan terstrukturisasi
perbankan.

APBN Tahun 1999/2000

Dalam Tahun Anggaran 1999-2000 kondisi keuangan pemerintah diperkirakan


masih mendapat tekanan berupa tingginya kebutuhan pengeluaran, sedangkan
sumber-sumber penerimaan dalam negeri masih sangat terbatas.
Kondisi perekonomian nasional tidak separah tahun sebelumnya, menjadikan
peranan kebijakan fiskal sangat penting sebagai lokomotip pemulihan ekonomi,
sejalan dengan ini, pengeluaran berbagai subsidi mengalami pinjaman akan
mewarnai pengeluaran operasional keuangan pemerintah.

Adapun pengeluaran investasi tetap terfokus program JPS dalam pada itu
Pemerintah akan memberikan peranan yang lebih luas kepada Pemerintah
Daerah melalui perimbangan keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah.

Dari sektor penerimaan, harga melemah di pasar Internasional yang


diperkirakan melemah menjadi rat-rata $ 10, 5 per berel dan nilai tukar rupiah
yang diperkirakan menguat, penerimaan migas (Tabel 4 dan� 5).

Tabel : IV

Asumsi Dasar Penyusunan APBN 1998/1999 dan APBN 19992000

Rincian APBN APBN


1998/1999 1999/2000

1. PDB (triliun rupiah) 952 1.224


2. Pertumbuhan Ekonomi� -12 0
3. Laju Infasi (%) 66 17
4. Harga Minyak Mentah ($ per barel) 13 10,5
5. Produksi Minyak� (ribu barel per hari) 1.520 1.520
6. Kurs (Rp/$) 10.600 7.500

Tabel : V

Operasi Keuangan Pemerintah


1998/1999 1999/2000
Rincian APBN-P� Thd. PDB APBN Thd. PDB
1) (%)� 2) (%)� 2)

Penerimaan Dalam Negeri 160,5 15,2 142,2 11,6


Migas dan Nonmiigas 152,8 14,5 142,2 11,6
����� Migas 41,3 3,9 21,0 1,7
����� Pajak 96,4 9,2 94,7 7,7
�Bukan pajak dan 15,1 1,4 26,5 2,2
LBM�� 4)
��Penerimaan lainnya 7,7 0,7 0,0 0,0
bersih� 5)

Pengeluaran Pemerintah 184,1 17,5 195,7 16,0


�� Pengeluaran Operasional 119,3 11,3 114,5 9,3
� Pembayaran Bunga 24,1 2,3 20,5 1,7
Utang LN
����� Belanja Rutin 14,1 1,4 19,5 1,6
Daerah
����� Belanja Pegawai� 24,5 2,3 33,6 2,7
����� Belanja barang 11,1 1,0 11,0 0,9
����� Lain-lain� 6) 45,5 4,3 29,9 2,4
�� Penerimaan lainnya 64,8 6,2 81,2 6,7
bersih 7)

Tabungan Fiskal�� 8) 41,2 3,9 27,7 2,3


� �
Selisih Tabungan Fiskal- -23,6 -2,2 -53,5 -4,4
Investasi����

Pembiayaan 23,6 2,2 -53,5 4,4


�� Dalam Negeri� 9) -24,0 -2,3 0,0 0,0
�� Dana Luar Negeri Bersih 47,6 4,5 53,5 4,4
10)
1) Prakiraan realisasi
2) Prakiraan PDB 1998/99 sebesar Rp. 1.053,4 triliun
3) Prakiraan PDB 1998/00 sebesar Rp. 1.224,2 triliun
4) Termasuk penerimaan privatisasi BUMN
5) Termasuk selisih bersih yang belum diperhitungkan
6) Termasuk Subsidi dan utang dalam negeri
7) Termasuk biaya restrukturisasi perbankan�
8) Penerimaan dalam negeri dikurangi dengan pengeluaran operasional
9) Termasuk monetary correction sebesar Rp. 2,44 triliun pada tahun 1998/99
10) Penarikan pinjaman luar negeri dikurangi cicilan pokok (amortisasi) utang
luar negeri.

Sumber : Departemen Keuangan (diolah)


Sementara itu penerimaan sektor non migas dari pajak khususnya PPh. Dan
Pajak pertambahan nilai (PPN) akan mengalami penurunan, sejalan dengan itu
rencana privatisasi sejumlah BUMN dan penerimaan non migas bukan pajak
(PN.PB) diperkirakan akan meningkat.

Secara keseluruhan penerimaan pemerintah dari pajak diperkirakan masih


tinggi meskipun penerimaan PPh. Dari suku bunga deposito akan turun.

Sejalan dengan menurunnya tingkat suku bunga deposito untuk mencapai


sasaran tersebut pemerintah berupaya mengambil langkah yang strategis.

Seperti perluasan Basis Pajak, Intensifikasi pemungutan dan perbaikan


administrasi.

Setengah dari penerimaan negara diperkirakan dianggarkan sekitar Rp. 13


triliun.
Sisanya akan diperoleh dari laba BUMN.
Sumber lain seperti :

  Dana Reboisasi
  Iuran hasil hutan
  Dan Pemungutan; Departemen lainnya.

Disisi pengeluaran, pengurangan subsisdi yang tidak tepat sasaran akan


menurunkan pengeluaran subsidi menjadi Rp. 28 triliun. Pada tahun anggaran
1998/99 pemerintah menghapuskan beberapa jenis subsidi, seperti gandum,
gula, kedelai, dan pupuk.

Subsidi BBM mengalami penurunan menjadi Rp. 10 triliun. Selain faktor


penguatan nilai tukar rupiah, penurunan ini disebabkan oleh prakiraan
rendahnya harga minyak di pasar internasional. Subsidi antur (bahan bakar
pesawat jet) dan avgas (bahan bakar pesawat baling-baling) dihapuskan�
sehingga mengikuti harga internasional. Subsidi listrik akan dibatasi maksimum
Rp 7,2 triliun. Tarif listrik yang lebih tinggi mungkin akan dikenakan kepada
industri-industri dan rumah tangga menengah atas.
Sementara itu, pemerintah menaikan anggaran gaji/pensiun pegawai negeri
sipil dan ABRI sekitar 40%. Kenaikan ini ditujukan mengimbangi tajamnya
penurunan pendapatan riil pegawai negeri/pensiunan selama tahun 1998/99.
Alokasi untuk belanja rutin daerah (subsidi daerah otonomi) juga akan
mengalami peningkatan, sehubungan dengan rencana pemerintah untuk
meningkatkan perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah.

Di sisi pengeluaran investasi, prioritas utama tetap diberikan kepada program


JPS yang meliputi (i) penciptaan kesempatan kerja, (ii) perlindungan sosial
dasar di bidangi kesehatan dan pendidikan, (iii) peningkatan ketahanan pangan
dan gizi, dan (iv) pemulihan perekonomian, termasuk bantuan untuk kegiatan
usaha kecil, usaha menengah dan koperasi.
Sementara itu, pemerintah menganggarkan dana sekitar Rp 17 triliun dari
seluruh pengeluaran dalam rangka program restrukturisasi perbankan yang
diprakirakan akan mencapai Rp 34 triliun dalam tahun anggaran 1999/2000.
Sisa Rp 17 triliun dari biaya tersebut diprakirakan akan dapat ditutup oleh hasil
penjualan aset-aset bank yang dikuasai oleh Assets Management Unit (AMU).
Alokasi anggaran dan hasil penjualan tersebut diharapkan cukup untuk
menutup seluruh pengeluaran yang berkaitan dengan program.

Restrukturisasi perbankan selama tahun 199-2000 yaitu biaya bunga obligasi,


biaya operasional BPPN/AMU, dan biaya-biaya lainnya. Di sisi pengeluaran
investasi ini juga terjadi realokasi anggaran (Switching policy) dari proyek-
proyek sektoral (Departeman) menjadi dana pembangunan daerah khususnya
bantuan yang bersifat umum (black gront) dalam jumlah yang lebih besar.

Dengan berbagai asumsi di atas defisit operasi keuangan pemerintah di


perkirakan mencapai sektor Rp. 53,5 triliun atau 4,4% dari PDB. Seluruh defisit
tersebut diharapkan akan dibiayai dengan pinjaman luar negeri yang antara
lain berasal dari Bank Dunia.

Bank Pembangunan Asia, Pemerintah Jepang dalam rangka Miyazawa dan


consultative Group For Indonesia.

Kendala-Kendala Perbankan

Adanya 16 Bank yang dilikuidasi 1 November 1997 yang nilainya diperkirakan


Rp 14 triliun adalah jumlah yang tidak sedikit.

No. Nama Bank Aset. (Juta rupiah)

1. Bank 425 .697


2. Bank Industri 543.901
3. Bank Anrico 122.720
4. Bank Astria 715.767
5. Bank Andromeda 1.383.377
6. Bank Harapan Sentosa 4.291.625
7. Bank Guna Internasional 449.886
8. Sejahtera Bank Umum 2.220.045
9. Bank Majapahit 176.000
10. Bank Jakarta 296.822
11. Bank Kosagraha Semesta 201.323
12. Bank Mataram Dhana Arta 305.262
13. South East Asia Bank 458.117
14. Bank Pasific 2.276.050
15. Bank Dwipa Semesta 159.305
16. Bank Citra Hasta Dharma 163.506

���