Anda di halaman 1dari 7

Contoh Studi Tahapan Monitoring dan Evaluasi Kebijakan

 TAHAP 1: MERUMUSKAN MASALAH


Dalam studi kasus tersebut, langkah-langkah yang diambil dalam merumuskan masalah meliputi:
1. Memikirkan masalah yang ada dengan cara mengumpulkan secara cepat data empiris yang
ada dan menilai pihak-pihak yang terlibat.
 Adanya campur tangan pemerintah dalam penentuan kebijakan di daerah bahakan hingga
tingkat terbawah yaitu desa. Pemerintah bahkan berkeinginan melakukan kebijakan
sentralisasi, birokratisasi, penyeragaman (uniformitas) pemerintahan dan komunitas pada
tingkat desa.
 Munculnya program-program baru untuk melakukan simpan pinjam sehingga
memberikan banyak alternative bagi masyarakat untuk ‘gali lubang tutup lubang’. Hal
tersebut juga menyebabkan munculnya persaingan-persaingan baru dalam kelompok yang
memiliki perbedaan program.
 Pihak-pihak yang terlibat diantaranya:
- Pemerintah pusat, pemerintah daerah
- Kelompok masyarakat (Banjar)
- Pelaku ekonomi
- Permufakatan desa (Paruman)
- Pemimpin desa adat
- Anggota desa adat
2. Menetapkan batasan permasalahan
 Tingkat perkembangan program perekonomian yang terkait aturan adat dan kebiasaan
dalam masyarakat.
3. Pengembangan bukti permasalahan
 Berekembangnya program perekonomian yaitu untuk program simpan pinjam hingga
menyebabkan adanya persaingan antara pengurus dan kelompok.
4. Menentukan tujuan dan sasaran
 Mengkaji kebijakan lembaga perkereditan dan simpan pinjam yang menerapkan aturan
adat ke dalam system pegelolaanya
 Mengevaluasi efektifitas pelaksanaan kebijakan aturan adat dan dampaknya dalam
program perekonomian rakyat.

Perumusan Masalah:
1. Bagaimana efektifitas penerapan kebijakan aturan adat dalam peningkatan perekonomian
rakyat.
2. Bagaimana dampak lembaga yang menganut aturan adat dalam sistemnya terhadap
perekonomian rakyat.
 TAHAP 2: PENENTUAN KRITERIA EVALUASI
Berdasarkan perumusan permasalahan yang ada, akan ditetapkan kriteria evaluasi untuk
menganalisis efektifitas kebijakan dan regulasi penanggulangan banjir yang telah ada dan
menganalisis kebijakan yang sesuai untuk diterapkan dalam menangani masalah banjir khususnya
pada daerah rawan banjir yang melibatkan partisipasi masyarakat.
Tipe Kriteria Pertanyaan Kriteria Evaluasi
Efektifitas Apakah kebijakan pemerintah di Ukuran tingkat efektifitas dapat dilihat dari:
bidang Koperasi dan UKM Kebijakan koperasi danUKM dapat
yang telah ada sudah mencapai menyelesaikan masalah pembangunan
hasil yang telah diinginkan? KUMKM yang diyakini mampu menjadi
penyannga bagi perekonomian nasional
Efisiensi Seberapa banyak usaha yang Ukuran efisiensi dilihat dari:
diperlukan untuk mencapai hasil  Sejauh mana peranan pemerintah dan
yang telah diinginkan? stakeholders lainnya dalam merumuskan
kebijakan UMKM
 Sejauh mana partisipasi masyarakat dan
pengusaha dalam mendukung
pembangunan UMKM
Kecukupan Seberapa jauh pencapaian hasil  Kebijakan yang dirumuskan oleh
kebijakan di bidang koperasi pemerintah dan stakeholder lainnya dapat
dan UKM dapat mningkatkan meningkatkan pembangunan KUMKM
kegiatan pembangunan UMKM  Masyarakat berpartisipasi aktif dalam
di Indonsia meningkatkan pembangunan KUMKM
Perataan Apakah manfaat dari kebijakan Kebijakan di bidang Koperasi dan UKM dapat
(equity) penanggulangan banjir tersebut dirasakan manfaatnya bagi pemerintah, pelaku
sudah merata kepada seluruh ekonomi, dan masyrakat.
masyarakat dan pelaku usaha yang
ada
Responsivitas Apakah hasil kebijakan UMKM Kebijakan UMKM yang dirumuskan sesuai
tersebut dapat memuaskan bagi untuk diterapkan dalam pembangunan UMKM
para pelaku ekonomi? dengan melibatkan partisipasi pelaku ekonomi
dan masyarakat dalam setiap proses
didalamnya.
Ketepatan Apakah hasil dari kebijakan di Ukuran yang digunakan adalah kebijakan
bidang koperasi dan UMKM tersebut benar-benar dapat menanggulangi
tersebut sudah tepat untuk masalah lambannya Pembangunan UMKM di
mengatasi lambannya Indonesia
pembangunan UMKM di
Indonesia
 TAHAP KETIGA: IDENTIFIKASI ALTERNATIF KEBIJAKAN
Pada tahapan yang ketiga ini, akan dicari berbagai alternatif yang didasarkan pada permasalahan
dan kriteria evaluasi yang ada, yaitu:
Alternatif tanpa tindakan (no action alternative)
Dengan cara tetap mempertahankan kebijakan di bidang Koperasi dan UKM yang selama ini
diterapkan pada zaman orde baru, yaitu kebijakan yang bersifat sektoral, sentralistik, dan top
down tanpa adanya kebijakan partisipasi masyarakat, yaitu Pemerintah yang sepenuhnya
mengurus koperasi dan UKM
Alternatif mempertahankan sistem yang lama dengan membuat beberapa aturan tambahan
Alternatif ini tetap mempertahankan kebijakan Mengurangi peran pemerintah dalam monopoli
hal yang berkaitan dengan pembangunan koperasi dan UKM dengan Penyediaan pembiayaan
bagi para pelaku KUMKM
Alternatif berdasarkan kebijakan yang baru
Alternatif kebijakan yang baru disini yaitu dengan kebijakan dilakukannya pemberdayaan di
bidang Koperasi dan UKM melalui pemeberian dana program kekuatan KUMKM di berbagai
sektor ekonomi
Tahap 4 Evaluasi Alternatif Kebijakan
Pada tahap 4 ini, setiap alternatif dievaluasi berdasarkan pada permasalahn yang dijabarkan
pada masing-masing altenatif tersebut. Adpun evaluasi dari masing-masing alternatif adalah sebagai
berikut:
Alternatif Tanpa Tindakan (No Action Alternative)
Menggunakan kebijakan yang lama, yaitu kebijakan yang bersifat sektoral, sentralistik, dan
top down tanpa adanya kebijakan partisipasi masyarakat, yaitu Pemerintah yang sepenuhnya
mengurus koperasi dan UKM. Evaluasi alternatif didasarkan pada:
Proyeksi : Jika partispasi masyarakat tidak diprioritaskan dalam perkembangan unit koperasi
dan UKM, dimana yang berkuasa sepenuhnya adalah pemerintah maka usaha
ekonomi
Evaluasi : Dengan tetap menggunakan kebijakan lama, maka para pelaku ekonomi dan
masyarakat susah berkembang dalam bidang usaha
Alternatif mempertahankan sistem yang lama dengan membuat beberapa aturan tambahan
Alternatif ini dimana Mengurangi peran pemerintah dalam monopoli hal yang berkaitan dengan
pembangunan koperasi dan UKM dengan Penyediaan pembiayaan bagi para pelaku KUMKM
Evaluasi alternatif didasarkan pada:
Proyeksi : pelaku ekonomi dapat terus meningkatkan masing-masing usaha yang dijalaninya ,
tetapi harus tetap memperhatikan aturan yang sudah dibuat oleh pemerintah.
Evaluasi : Diharapkan dengan adanya kebijakan ini, para pelaku ekonomi dapat berkembang
dalam kegiatan usaha yang dijalaninya.
Alternatif berdasarkan kebijakan yang baru
Untuk mendukung pola kemitraan antara pelaku ekonomi dan meningkatakan kegiatan usaha
formal diperlukan upaya untuk mengkaji ulang Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 2005
dimana Pemberdayaan KUMKM dilakukan melalui pemberian dana program kekuatan
KUMKM di berbagai sektor ekonomi
Proyeksi : Berhasilnya peningkatan peran pelaku ekonomi dalam kegiatan usaha dengan
tujuan Meningkatnya produktvitas UMKM, Meningkatnya proporsi usaha kecil
formal melalui pemberian dana program kekuatan KUMKM di berbagai sektor
ekonomi
Evaluasi : Peran pelaku ekonomi dapat berkembang, Sehingga pelaku ekonomi dapat terus
berkembang untuk meningkatkan perannya dan dalam hal ini kesejahteraan
masyarakat khususnya para pelaku informal juga diperhatikan.
Tahap 5 Penunjukan dan Pemilihan Berbagai Alternatif
Pada tahap 5 ini, setiap alternatif akan dipilih sesuai dengan evaluasi yang telah dilakukan.
Adapu penunjukan dan pemilihan alternatif adalah sebagai beikut:
Pemilihan Alternatif
Alternatif
Pemerintah yang Pemberdayaan KUMKM melalui
Dampak Bagi Mengurangi peran pemerintah dengan
sepenuhnya pemberian dana program
Kelompok Penyediaan pembiayaan bagi
mengurus kekuatan KUMKM di berbagai
KUMKM
koperasi sektor ekonomi
Pemerintah A B A
Pelaku ekonomi C B A
Masyarakat D B A
Catatan: A adalah konsekuensi terbaik, dan D adalah konsekuensi terburuk

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa alternatif yang paling baik adalh alternatif ketiga, yaitu
alternatif yang mendukung pola Pemberdayaan KUMKM melalui pemeberian dana program
kekuatan KUMKM di berbagai sektor ekonomi kemitraan sehingga dapat membantu para pelaku
ekonomi
Tahap 6 Monitoring dan Evaluasi Keluaran Kebijakan
Dimana dilakukan Evaluasi pada tahap pasca pelaksanaan (ex-post), yaitu evaluasi yang dilaksanakan
setelah pelaksanaan rencana berakhir, yang diarahkan untuk melihat apakah pencapaian
(keluaran/hasil/dampak) program mampu mengatasi masalah pembangunan yang ingin dipecahkan.
Evaluasi ini digunakan untuk menilai efisiensi (keluaran dan hasil dibandingkan masukan),
efektivitas (hasil dan dampak terhadap sasaran), ataupun manfaat (dampak terhadap kebutuhan) dari
suatu program.
Monitoring dan Evaluasi
Monitoring terhadap contoh kebijakan di atas direkomendasikan dilakukan tiap satu periode
waktu tertentu selama masa implementasinya. Berdasarkan level of monitoring, meliputi:
Matrik Level Of Monitoring
Dimensi Indikator Cara dan Sumber Data
Laju produktivitas UKM bertendensi menurun, Survei sekunder data-data
Belum tercapainya laju pertumbuhan PDB UKM 5,4 terkait
% sedang laju pertumbuhan ekonomi nasional 5,6 % : Kementrian Koperasi dan
Sulit tercapainya proporsi usaha kecil formal UKM, dan Dinas UKM, BPS
Kondisi awal
Sulit Meningkatnya kualitas kelembagaan dan
organisasi koperasi sesuai jati diri koperasi
Belum Berfungsinya sistem untuk menumbuhkan
wirausaha berbasis IPTEK
Peraturan perundangan dan kebijakan pemerintah di Survei sekunder data-data
bidang pembangunan KUKM, baik pada tingkat terkait
pusat dan daerah : Kementrian Koperasi dan
Data perekonomian nasional UKM, dan Dinas UKM, BPS
Input
Data kinerja dan produktivitas UKM secara nasional
Data usulan perbaikan dan penyempurnaan kebijakan
pemerintah di bidang KUKM
Data kondisi perekonomian daerah
Meningkatnya produktvitas UMKM dengan laju Laporan PDRB nasional dan
pertumbuhan tinggi dari laju pertumbuhan tiap kota perencanaan terkait
produktivitas nasional
Meningkatnya proporsi usaha kecil formal
Meningkatnya nilai ekspor produk UKM dengan laju
Output pertumbuhan lebih tinggi dari laju pertumbuhan nilai
tambahnya
Berfungsinya sistem untuk menumbuhkan wirausaha
berbasis IPTEK
Meningkatnya kualitas kelembagaan dan organisasi
koperasi sesuai jati diri koperasi (70.000 unit koperasi
berkualitas)
KUMKM dapat berperan sebagai dinamisator dan
stabilisator perekonomian nasional
Outcome
KUMKM dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat
yang berkelanjutan
Positif:
Meningkatkan produktivitas KUMKM
Meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan
masyarakat
Impacts Tantangan:
Diperlukan efektifitas kebijakan pemerintah di bidang
koperasi dan UKM.
Kurang tepat sasarannya kebijakan pemerintah di
bidang koperasi dan UKM

Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi dilakukan annually, baik pada tahap perencanaan, atau pasca
pelaksanaan. Urutan kegiatan dalam evaluasi kebijakan terdiri dari ex ante, maintenance, monitoring, dan
ex post. Pelaksanaan evaluasi kebijakan koperasi dan UKM di Indonesia menggunakan ex-ante
evaluation, karena evaluasi tersebut dilaksanakan pada tahap perencanaan (kebijakan belum disahkan
secara hukum, masih dalam tahap penggodokan).
Evaluasi Terhadap Kriteria Kebijakan di Bidang Koperasi dan UKM
Tipe Kriteria Pertanyaan Evaluasi
Belum dapat dipastikan karena kebijakannya masih
Apakah hasil yang diinginkan telah
Efektivitas dalam bentuk rencana, namun selama ini
dicapai?
perkembangannya cenderung lamban.
Untuk mencapai target kebijakan diperlukan
penegakan hukum yang tegas di masing-masing
Berapa banyak dipergunakan wilayah di Indonesia dengan memberikan sanksi
Efisiensi
sumber daya? bagi para pelanggarnya. Untuk itu diperlukan
sumber daya manusia yang konsekuen demi
tercapainya tujuan kebijakan.
Pencapaian hasil yang optimal ialah apabila
Seberapa jauh pencapaian hasil yang kebijakan pemerintah di bidang koperasi dan UKM
Kecukupan diinginkan telah memecahkan telah berhasil mencapai pembangunan koperasi
masalah? dan UKM

Apakah biaya dan manfaat Manfaat kebijakan didistribusikan untuk


didistribusikan dengan merata kepentingan nasional dengan menyelamatkan
Perataan
kepada kelompok target yang penggunaan alokasi dana yang inovatif untuk
berbeda? pemberian pinjaman dana bagi pelaku ekonomi
Kebijakan di bidang UMKM didukung oleh para
Apakah hasil kebijakan memuaskan stakeholders terkait, terutama para pelaku
Responsivitas kebutuhan, preferensi, atau nilai ekonomi, masyarakat Indonesia secara
kelompok-kelompok tertentu? keseluruhan, maupun para investor yang ingin
menanam modal di Indonesia.
Pengadaan kebijakan di bidang UMKM lahan
pertanian pangan sebenarnya merupakan langkah
yang tepat untuk Meningkatkan produktvitas
Apakah hasil yang diinginkan
Ketepatan UMKM, Meningkatkan proporsi usaha kecil formal,
benar-benar berguna atau bernilai?
dan nilai ekspor produk UKM dengan laju
pertumbuhan lebih tinggi