Anda di halaman 1dari 10

Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 1 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...

::al-ahkam.net::
Siber Feqh Anda

Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 1


Posted by : zain-ys on Saturday, June 28, 2008 - 01:43 AM CCT

Setangkai Nasehat untuk Muslim Malaysia: Menyikapi Gejolak Politik Masa Kini.

Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia

Disusun oleh:
Abu Muhammad Waskito (Penulis Muslim di Indonesia)

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. As shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad, wa
‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Mukaddimah

Baru-baru ini saya membaca majalah Sabili, terbit di Jakarta, No. 25/Th. XV/26 Juni 2008 M. Disana ada sebuah
tulisan menarik berjudul, "Malaysia yang Mendidih". Tulisan ini merupakan laporan perjalanan wartawan Sabili
ketika baru-baru ini berkunjung ke Malaysia. Semula saya tidak terlalu peduli dengan tulisan itu, sebab saya
anggap tulisan politik biasa. Soal politik, bukan perkara aneh lagi di tengah-tengah masyarakat kami. Ia seperti
makan sehari-hari di saat pagi, siang, dan malam. Tetapi dalam tulisan itu ternyata banyak info-info politik masa
kini di Malaysia.

Setelah saya membaca tulisan itu sampai selesai, ternyata situasi politik di Malaysia sedang panas, penuh
kericuhan, silang pendapat satu sama lain. Surat kabar Republika terbitan Jakarta, juga memuat info-info semisal
itu. Berita yang dimuat di Republika tidak berbeda jauh dengan berita yang dimuat majalah Sabili. Dapat
disimpulkan, kondisi Malaysia saat ini sedang genting, proses politik memanas, sitegang meluas.

Jika melihat kondisi seperti itu, saya teringat pengalaman kami tahun 1998 dulu, sebelum Presiden Soeharto turun
dari posisinya sebagai Presiden RI. Kondisinya sangat mirip, meskipun ada perbedaan-perbedaan. Indonesia
ketika itu berada dalam kegentingan besar, dunia internasional menyaksikannya. Saya khawatir, Malaysia juga
akan mengalami kondisi yang sama, sehingga negara ini dikhawatirkan akan mengalami guncangan-guncangan
hebat sebagaimana kami alami setelah Reformasi 1998.

Di hari ini kami banyak menyesali sikap tergesa-gesa para mahasiswa, generasi muda, para politisi, atau gerakan
Islam yang waktu itu sangat menuntut Reformasi. Setelah 10 tahun berlalu, Reformasi hanya memberi kepuasan
dalam soal politik, tetapi dalam perkara kesejahteraan, harta benda, kedamaian sosial, moralitas, kesatuan negara,
sampai masa depan negeri kami hancur karena Reformasi. Dalam soal politik, Indonesia adalah surga, tetapi
dalam masalah sosial-ekonomi, kehidupan kami mengalami kerusakan luar-biasa.

1 of 10 28/06/2008 06:22 AM
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 1 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...

Alangkah sedihnya, jika kondisi politik Malaysia saat ini akan berkembang menjadi Reformasi palsu, seperti yang
kami alami selama 10 tahun terakhir (1998-2008). Apa yang akan terjadi jika konsep fundamental negara Malaysia
kemudian berubah menjadi sistem liberal, seperti yang terjadi di Indonesia? Sungguh, yang akan beruntung disana
adalah para pemodal besar, baik pemodal asing maupun lokal, sedangkan yang akan sangat menderita adalah
masyarakat Malaysia, khususnya umat Islam.

Menyadari kenyataan di atas, saya beranikan diri menyusun tulisan berisi nasehat ini untuk kaum Muslimin di
Malaysia. Saya sadari, apalah artinya diri saya sehingga harus memberi nasehat untuk sebuah bangsa yang
selama ini banyak dipuji-puji karena keberhasilannya? Namun niat saya, ingin menasehati sesama Muslim agar
terhindar dari musibah besar yang bisa menimpa. Kami telah sama-sama merasakan betapa pahit akibat dari
kesalahan politik yang kami lakukan sejak 10 tahun lalu. Kehidupan masyarakat tidak menjadi lebih baik, malah
menjadi sangat buruk, jauh lebih buruk dari keadaan di jaman Pak Harto dulu. Rakyat Malaysia sendiri telah
sama-sama tahu, demi mencari income, banyak warga kami menjadi pekerja illegal di Malaysia. Itu baru satu bukti
di antara sekian banyak bukti, bahwa kehidupan kami semakin sulit setelah Reformasi. Padahal dulu kami tidak
pernah sehina keadaan di masa kini.

Mengapa bisa menjadi demikian, padahal Reformasi adalah perbaikan? Semestinya, jika ada perbaikan, kehidupan
akan menjadi lebih baik. Secara teoritikal Reformasi memang perbaikan, tetapi kenyataan yang kami alami selama
10 tahun ini ternyata bukan Reformasi, melainkan LIBERALISASI (penerapan sistem liberal di segala bidang).
Masyarakat kami, seperti rumpun warga Muslim Nusantara lainnya, tidak cocok dengan sistem liberal, sebab
karakter kita bukan bangsa liberal seperti Amerika. Itulah sebab penderitaan kaum Muslim di Indonesia saat ini.

Ketua Dewan Pembina organisasi Islam Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII), KH. Cholil Badawi,
mengatakan, "Warna dominan sistem yang kini dikembangkan rezim demi rezim Reformasi, pasca jatuhnya
presiden Soeharto 1998, sangat pekat model liberalisme. Bahkan dalam berbagai penerapan rezim liberal di
Indonesia jauh lebih liberal dibandingkan di negara Barat asal ideologi itu. Tapi apa yang diperoleh bangsa ini
setelah Reformasi berjalan satu dekade?...Indonesia sungguh terpuruk tahun demi tahun Reformasi yang terus
berjalan. Kini bangsa Indonesia telah dimasukkan kategorinya sebagai negara gagal (Failed State), karena
kepemimpinan yang lemah, ekonomi yang terus-menerus merosot, korupsi dan kriminalitas menyebar, dan sistem
demokrasi (yang amat dibanggakan) itu, tapi ternyata telah gagal diterapkan untuk mewujudkan kesejahteraan
bangsa Indonesia." (Suara Islam, edisi 44, 16-29 Mei 2008 M, halaman 30).

Bagaimanapun kita adalah Muslim dan terikat Ukhuwwah Islamiyyah, sehingga satu sama lain memiliki
tanggung-jawab untuk tolong-menolong dan nasehat-menasehati dalam kebaikan.

"Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan
permusuhan." (Surat Al Maa’idah: 2).

"Demi waktu, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal
shalih, yang nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran." (Surat Al ‘Ashr).

Melalui tulisan ini saya menghimbau kaum Muslimin di Malaysia agar tidak terjerumus malapetaka seperti yang
telah menimpa bangsa kami. Selagi masih ada waktu aturlah energi politik sebaik mungkin, jangan sampai nanti
Anda kehilangan negeri Malaysia yang makmur, damai, dan sejahtera hanya karena hawa nafsu politik. Sungguh,
penyesalan di kemudian hari sangat sangat menyakitkan. Para ahli politik (politisi) Indonesia yang dulu keras
menuntut Reformasi, saat ini mereka bersembunyi, tidak mampu bertanggung-jawab atas malapetaka yang
mereka buat. Apakah Malaysia mahu mengalami nasib yang sama?

Semoga nasehat ini berfaidah bagi Anda semua, dan juga bagi kami. Mohon dimaafkan atas segala kesalahan dan
kekurangan yang ada. Semoga Allah menyelamatkan umat Islam di Malaysia dari bencana dan malapetaka. Dan
semoga pula Allah menolong kami di Indonesia, untuk melakukan reformasi (perbaikan) terhadap gerakan
"Reformasi" yang telah membawa banyak malapetaka itu. Amin ya Arhamar Rahimin.

Catatan penting:

Tulisan ini boleh disebarkan seluas-luasnya. Boleh di-copy, di-print, dibukukan, diperbanyak, dan lain-lain. Namun
tidak diperkenankan ada perubahan, pengurangan, atau penambahan isi tulisan. Sangat dianjurkan tulisan ini
diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat Malaysia. Jika ada saran,
kritik, atau diskusi, silakan dikirim ke e-mail kami: areabuku@gmail.com. Atas semua dukungan dan pertolongan
Anda bagi tersebarnya kebaikan-kebaikan, semoga Allah memberi pahala yang melimpah. Allahumma amin.

Kenyataan Politik di Malaysia

Dalam tulisan berjudul "Malaysia yang Mendidih", dimuat di majalah Sabili No. 25/Th. XV/26 Juni 2008, halaman
71-75, terdapat berita-berita seputar perkembangan politik masa kini di Malaysia, antara lain:

- Tsunami politik yang terjadi di Malaysia, pasca Pemilu ke-12, mengantarkan negara ini pada babak
baru. Babak yang tidak ringan, penuh konflik dan sitegang.

- Kelompok Pakatan Nasional dalam pemilihan umum meraih kemenangan di 5 negara bagian
Malaysia.

- Mantan PM Malaysia, Dr. Mahathir Muhammad menyatakan mundur dari UMNO, jika Dato Seri
Abdullah Badawi tidak mundur dari jabatannya selaku PM Malaysia. Keputusan Mahathir mundur salah
satunya karena provokasi seorang anggota PAS, Haji Ismail Wan Teh.

2 of 10 28/06/2008 06:22 AM
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 1 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...

- Sri KS. Nijhar, dari kelompok MIC yang berbasis komunitas India, menyatakan mundur dari MIC.
Sementara MIC adalah partai pendukung Barisan Nasional.

- Wilayah Selangor, dengan motto Darul Ehsan, menolak konsep Islam Hadhari yang disuarakan oleh
PM Abdullah Badawi. Menurut Mohammad Azmi Abdul Hamid, presiden TERAS, cukup disebut Islam
saja, tak perlu menambah perkataan apapun di belakangnya (semisal Islam Hadhari), karena
dikhawatirkan akan membuat kerancuan dan merendahkan ajaran Islam.

- Kerajaan Kedah, menolak Khutbah Jum’at yang mewajibkan para khatib membaca naskah khutbah
dari pusat.

- Lim Kit Siang, menggugat hak-hak istimewa masyarakat Melayu dibanding dengan masyarakat China
dan India di Malaysia.

- Hindraf demo menuntut hak-hak orang Hindu di Malaysia, berakhir rusuh pada tahun 2007 lalu. M.
Manoharan ditangkap karena alasan ISA, lalu dipejarakan di Shah Alam. Meskipun begitu, setelah
pemilihan umum, dia mendapat satu kursi di parlemen.

- Ezam Mohammad Nor, mantan Ketua Pemuda Partai Keadilan Rakyat, bergabung dengan UMNO.

- Harga premium di Malaysia naik 40 % menjadi 2,70 RM.

- 12 Juli mendatang, rakyat Malaysia mengancam akan melakukan aksi turun ke jalan (demonstrasi).

- Dan lain-lain.

Situasi seperti di atas tidak jauh berbeda dengan kenyataan yang dulu kami alami di tahun 1998, sebelum Presiden
Soeharto turun dari jabatannya. Ketika itu wibawa pemerintah jatuh, sebab dikecam dari sana-sini.

Cara Pandang Keliru

Setelah menyebutkan berita-berita seputar perkembangan politik masa kini di Malaysia, wartawan Sabili membuat
kesimpulan:

"Kemenangan Pakatan Rakyat atau Barisan Alternatif atas Barisan Nasional dan UMNO di 5 negara bagian di
Malaysia ini, lebih karena kemarahan dan kekecewaan rakyat pada partai berkuasa. Ada perjuangan untuk
memenangkan keadaan, tapi kemuakan rakyat atas segala ketidak-adilan, korupsi, dan kecurangan, yang lebih
menentukan."

Kesimpulan seperti itu terlalu terburu-buru, emosional, tidak menimbang persoalan politik secara bijaksana. Kami
dulu mendapati sangat banyak analisis seperti itu. Waktu itu banyak sekali politisi dan aktivis politik yang marah,
kecewa, muak, menghujat, mengutuk Soeharto. Tetapi waktu kemudian membuktikan, bahwa ungkapan "marah"
dan "muak" tidak memberi faidah apa-apa. Jika waktu itu kami lebih bersabar, tidak terkena provokasi pandangan
para ahli politik, suara-suara mahasiswa, dan opini sesat media, mungkin bangsa kami tidak akan menderita
seperti saat ini. Tetapi apa hendak dikata, takdir Allah Ta’ala telah menentukan demikian, sehingga kami harus
sabar menghadapinya.

Masalah politik adalah perkara yang sangat menentukan perjalanan sebuah bangsa, menentukan kehidupan
rakyat. Oleh itu, memandang perkara politik tidak boleh secara sempit, hanya memandang keadaan yang ada di
depan mata. Ahli politik sejati akan menghitung banyak variable, sebelum membuat kesimpulan, misalnya
membaca sejarah politik suatu negara dalam 20 tahun terakhir, membaca situasi politik regional, membaca politik
dunia, dan sebagainya. Jika tidak demikian caranya, maka bidang politik akan dikuasai oleh orang-orang yang
berwawasan sempit.

Inilah "Situasi Provokasi"

Saya memandang, situasi politik di Malaysia saat ini bukanlah kenyataan sebenarnya. Apa yang sedang ramai
berkembang di tengah masyarakat Malaysia adalah "situasi provokasi". Masyarakat Malaysia sedang diprovokasi
oleh para ahli-ahli politik, pemimpin partai politik, mahasiswa, para aktivis pergerakan, media massa, juga oleh
kekuatan-kekuatan asing. Tujuannya, biar timbul temperatur politik yang sangat panas dan high pressure. Jika
sudah begitu, nanti kepemimpinan negara akan jatuh, sehingga Malaysia berada dalam keadaan tidak stabil.

Kondisi yang dihadapi PM Abdullah Badawi saat ini sama seperti kenyataan yang dihadapi Presiden Habibie waktu
itu. Habibie terus-menerus dimusuhi oleh kalangan sekular radikal yang tidak mahu keadaan nasional menjadi lebih
aman, tertib, dan sejahtera secara ekonomi. Mereka mendesak Habibie secepatnya turun dari jabatan presiden,
biar planning untuk memantapkan sistem liberal di Indonesia berjalan lancar.

Media massa, ahli-ahli politik, pemimpin partai, aktivis gerakan, mahasiswa, dan lainnya di Malaysia saat ini
bersuara keras mengecam pemerintah, mengecam korupsi, nepotisme, ketidak-adilan, dan kecurangan. Tetapi
sebenarnya, perbaikan kondisi itu sulit diwujudkan dengan cara emosional, kemarahan, apalagi kekerasan.
Ingatlah, bulan Juni 1988 terjadi tragedi besar di lapangan Tiananmen Beijing China. Waktu itu Partai Komunis
China menumpas demonstran pro demokrasi? Apakah setelah itu gerakan pro demokrasi disana memenangkan
pertarungan? Tidak pernah menang, selain jatuh korban ribuan orang. Bahkan para pendukung demokrasi saat ini
"diaspora" di berbagai negara.

Perbaikan secara emosional bisa saja terjadi, tetapi ia akan meminta korban yang sangat banyak. Dan biasanya

3 of 10 28/06/2008 06:22 AM
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 1 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...

hal itu akan meninggalkan dendam politik berkepanjangan.

Kami ingat peristiwa di Tanjung Priok Jakarta Utara, 12 September 1984 lalu. Waktu itu disana terjadi tragedi
berdarah yang sangat mengerikan. Ada yang mengatakan, korban jatuh dalam peristiwa Tanjung Priok mencapai
400-an orang. Sebelum peristiwa itu terjadi, Allahuyarham Buya M. Natsir, Ketua Umum DDII waktu itu,
mengingatkan para dai dan muballigh agar hati-hati jika berceramah di Tanjung Priok. Beliau melihat disana para
pemuda diprovokasi untuk bersikap radikal. Jika sudah radikal, mereka akan sangat melakukan tindakan-tindakan
di luar kontrol (out of control).

Contoh serupa, yakni tragedi berdarah di Aljazair tahun 90-an, setelah FIS menang pemilu secara mutlak. Saat itu,
situasi politik sangat panas, temperatur konflik sangat panas. Tetapi akibat yang kemudian terjadi bukan
kemakmuran, kedamaian, dan kemenangan, tetapi banjir darah dimana-mana. Hingga Presiden Syadjali bin Jadid
terbunuh secara tragis. Bukan karena rakyat Aljazair tidak tahu mana keadilan, mana kezhaliman, tetapi situasi
konflik yang sangat panas akan membukakan pintu-pintu bagi kekuatan asing untuk memperkeruh situasi
domestik.

Rakyat Malaysia harus bisa membedakan, mana pergerakan politik murni yang menghendaki perbaikan, dan mana
provokasi yang ditujukan untuk membuat rakyat marah, beringas, radikal, dan lainnya. Dengan teori apapun, di
negara manapun, perbaikan sistem negara tidak bisa ditempuh dengan emosi, kemarahan, kemuakan, pertikaian,
saling serang, saling hujat, dan sebagainya. Cobalah cari di seluruh dunia, adakah sebuah bangsa di muka bumi
yang berdiri kokoh di atas azas kemarahan, kebencian, permusuhan, atau sifat tergesa-gesa?

Dalam situasi seperti ini, mudah membedakan antara orang-orang yang ikhlas menginginkan perbaikan dan
orang-orang yang sengaja memanaskan situasi untuk menimbulkan gejolak. Kami belajar dari
pengalaman-pengalaman selama Reformasi. Para Reformis sejati, mereka memiliki tuntutan bagi perbaikan
kondisi, tetapi mereka juga memiliki kesediaan untuk duduk bersama, berunding, bermusyawarah, mencari solusi
bersama secara damai. Adapun para provokator, mereka menghendaki kemarahan, emosi, kekerasan, tidak mau
berunding, tidak mau berdamai, tidak mau bersatu, sebab tujuan mereka bukan untuk perbaikan, tetapi untuk
merusak kesatuan masyarakat.

Orang-orang beriman pasti meyakini ayat ini: "Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka
damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih), dan bertaqwalah kepada Allah, agar kalian mendapat
rahmat." (Surat Al Hujurat: 10).

Lihatlah disana, sikap bersaudara dan berdamai, akan membawa kepada rahmat Allah. Sebaliknya, sikap
berbantah-bantahan, berselisih, saling menyerang satu sama lain, akan menghancurkan kekuatan.

"Dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah saling berbantah-bantahan, maka kalian akan
menjadi gentar, dan hilanglah kekuatan kalian. Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang
sabar." (Surat Al Anfaal: 46).

Masyarakat Malaysia harus berteguh hati untuk mempertahankan keutuhan bangsa dan terus melakukan perbaikan
secara bertahap, bukan secara emosional dan diwarnai kemarahan disana-sini. Sekali lagi saya ingatkan, orang
yang paling keras suaranya di hari ini, belum tentu dia akan bertanggung-jawab ketika nanti negara mengalami
kehancuran.

Di jaman Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra. umat Islam waktu itu juga mengalami "situasi provokasi" yang sangat
hebat. Sebagian orang menuntut agar Khalifah Ali menangkap para pembunuh Khalifah Utsman bin ‘Affan Ra.,
sebagian mendukung keputusan Khalifah Ali. Sebagian lagi kaum Khawarij yang memberontak kepada Khalifah,
kemudian kelompok Muawiyah bin Abi Sufyan Ra., juga ada kelompok yang kemudian menjadi kaum Syi’ah.
Bahkan disana ada kelompok Shahabat yang tidak mau terlibat konflik. Situasinya sangat genting, konflik
dimana-mana, negara dalam bahaya.

Apa yang didapat umat Islam setelah itu?

Luar biasa, disana terjadi peperangan antara sesama Muslim, Khalifah Ali Ra. terbunuh, kekuasaan jatuh ke
tangan Muawiyah, kelompok-kelompok sesat mulai bermunculan. Secara politik, sejak Muawiyah Ra. berkuasa,
sistem kepemimpinan Khalifah berubah menjadi dinasti. Di balik setiap konflik politik selalu muncul
kemerosotan-kemerosotan.

Kami masih ingat tahun 1997-1998 dulu, waktu itu Presiden Soeharto dikecam oleh para ahli ekonomi karena tidak
segera meminta bantuan IMF. Katanya, Indonesia butuh dana, IMF bisa dimintai bantuan. Kemudian terbukti,
ternyata IMF adalah pembuka kehancuran bangsa kami, sampai saat ini. Lalu kemana larinya ahli-ahli ekonomi itu?
Mereka bersembunyi, tidak pernah lagi angkat suara. Para ahli ekonomi itu ternyata adalah agen-agen IMF sendiri.
Mereka bantu-membantu untuk menghancurkan ekonomi kami. Hanya kepada Allah kami mengadu dan
berlindung.

Proses Reformasi di Indonesia

Dulu kami hidup di bawah sistem politik Orde Baru yang otoriter dan militeristik. Kehidupan politik saat itu sangat
tidak menyenangkan. Rakyat seperti tidak memiliki kebebasan politik. Tetapi Orde Baru bertanggung-jawab
memberikan jaminan kebutuhan pangan, energi, perumahan, sekolah, pekerjaan, kesehatan, transportasi, dan
lain-lain. Secara ekonomi, kehidupan kami relatif baik, meskipun masih di bawah standar kesejahteraan
masyarakat Malaysia. Namun secara politik, kami merasa sangat tidak puas.

4 of 10 28/06/2008 06:22 AM
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 1 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...

Waktu itu tuntutan kebebasan politik berkembang sangat kuat. Amien Rais menyuarakan ide agar Presiden
Soeharto diganti pemimpin lain, sejak tahun 1992. Kritik tidak kalah kerasnya juga dilontarkan oleh Dr. Sri Bintang
Pamungkas. Organisasi ICMI dan koran Republika aktif mengkritik kebijaksanaan pemerintah yang menyimpang.
Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhammadiyyah, majalah Sabili, dan lainnya juga mengkritik pemerintah.
Selain itu, organisasi seperti PBNU Abdurrahman Wahid, PRD, Fordem, PDI, dan lainnya juga mengkritik
pemerintah. Seolah semua telah sepakat, bahwa Pemerintah RI di bawah Soeharto zhalim dan harus disingkirkan.
Ketika itu juga muncul sebuah lagu pop berjudul "Bento" yang dinyanyikan Iwan Fals. Lagu itu sangat kental berisi
kecaman hebat kepada penguasa politik yang diserupakan dengan bandit mafia.

Seharusnya, ketika kami setuju untuk mengganti sistem Orde Baru, cukuplah disana diganti perkara-perkara yang
buruknya saja, tidak perlu diganti seluruhnya. Tetapi para ahli politik seperti Amien Rais dan lainnya, mereka terlalu
dikuasai hawa nafsu, sehingga segala yang berbau Orde Baru harus dihancurkan sampai ke akar-akarnya.
Padahal di jaman Orde Baru juga banyak perkara-perkara positif yang semestinya dipertahankan.

Setelah Reformasi Mei 1998, bangsa Indonesia sepakat menistakan Soeharto dan sistem yang dia buat selama 30
tahunan. Kami sepakat untuk menyingkirkan Soeharto sepenuhnya dari area politik. "No place anything for
Soeharto!" Kami tidak lagi menengok Soeharto, meskipun hanya untuk menghargai jasa-jasanya. Sampai Soeharto
meninggal 27 Januari 2008, bangsa Indonesia masih belum ada kemampuan untuk menghargai jasa-jasa baiknya.
Padahal, perbedaan antara jaman Reformasi dengan jaman Soeharto sangat nyata. Orang awam saja bisa tahu,
bahwa jaman Soeharto masih lebih baik daripada jaman Reformasi.

Ketika kami telah menjatuhkan "talak tiga" kepada Soeharto dan sistem Orde Barunya, kami menghadapi jaman
baru dengan tidak memiliki pengalaman dalam soal mengatur negara. Pengalaman dimiliki oleh Orde Baru,
sementara para mahasiswa (student), tidak tahu banyak tentang negara, selain tuntutan-tuntutan yang bersifat
umum. Disinilah titik awal kegagalan Reformasi kami. Jika sumberdaya manusia (human resources) yang dimiliki
para pendukung Reformasi bagus, mungkin gerakan Reformasi tidak akan berakhir dengan kekacauan.

Saat gerakan Reformasi tidak mampu mengelola negara, saat itu membuka kesempatan kepada kelompok liberal
dan pendukung asing untuk masuk menguasai keadaan. Dengan sarana media-media massa yang mereka miliki,
kelompok liberal dan pendukung asing berhasil menguasai sebagian besar simpul-simpul kekuasaan di Indonesia.
Hal itu terjadi sampai saat ini. Bangsa kami tidak pernah hidup tenang lagi, setelah haluan politik nasional
berubah dari pelayanan rakyat menjadi liberalisasi.

Bukan berarti kami meyakini bahwa pemerintahan Presiden Soeharto waktu itu sempurna, tidak ada cacat dan
kekurangan. Tidak demikian. Kepemimpinan siapapun pasti ada celanya, termasuk kepemimpinan Dr. Mahathir
Muhammad di Malaysia. Tetapi sistem politik Soeharto masih lebih baik daripada kami harus hidup di bawah azas
liberalisme. Liberalisme tidak cocok bagi umat Islam di Nusantara, bahkan tidak cocok bagi seluruh manusia,
sebab sistem itu hanya menguntungkan kaum pemodal (capitalist), dan merugikan kehidupan rakyat banyak.

Saudara Amran Nasution dalam tulisan berjudul, "Negara Gagal bernama Indonesia", antara lain mengatakan:

"Kini, setelah 10 tahun Reformasi berlangsung. Lihatlah, betapa menyedihkan keadaan negeri ini. Yang lebih
memilukan dan memalukan: kini Indonesia termasuk di dalam indeks 60 negara gagal tahun 2007 (failed state
index 2007). Indeks itu dibuat majalah Foreign Policy yang berwibawa, bekerjasama dengan lembaga think-tank
Amerika, The Fund For Peace. Banyak ukuran dalam membuat indeks itu. Tapi secara umum disebutkan antara
lain, pemerintah pusat sangat lemah dan tidak efektif, pelayanan umum jelek, korupsi dan kriminalitas menyebar,
dan ekonomi merosot." (Suara Islam, edisi 42, 18 April-1 Mei 2008, halaman 6).

Reformasi pada akhirnya tidak memenangkan rakyat Indonesia, tetapi memenangkan kepentingan para pemodal
(capitalist). Tujuan negara membangun keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat, akhirnya bergeser menjadi
meningkatkan kekayaan bagi kaum pemodal. Amran Nasution menambahkan, "Yang pasti, sistem ekonomi liberal
di manapun di dunia ini, termasuk di Amerika Serikat, menjadikan orang kaya yang segelintir bertambah kaya."
(Idem).

Dengan sangat menyesal harus kami katakan, Reformasi telah menghancurkan kehidupan rakyat Indonesia,
lahir-batin, moral-material, dunia-akhirat. Semoga Allah memaafkan kekeliruan bangsa Indonesia, dan segera
memberikan perbaikan sebagaimana diharapkan. Semoga malapetaka yang sama tidak menimpa saudara Muslim
serumpun se-Nusantara, bangsa Malaysia. Amin ya Rahmaan.

Waspadai Bahaya Besar

Di tubuh rakyat Malaysia kini muncul pendapat bermacam-macam. Ada yang menuntut Perdana Menteri mundur
dari jabatan, ada yang menuntut kebebasan politik, ada yang menuntut penyelidikan atas kasus-kasus korupsi, ada
yang menuntut keadilan atas diskriminasi, ada yang menuntut pembagian hasil kekayaan, dan lain-lain. Banyak
tuntutan muncul dimana-mana, situasi politik serasa panas. Sebagian besar kelompok politik saat ini berada dalam
posisi menuntut, dan pemerintah PM Abdullah Badawi sebagai pihak yang paling dituntut untuk memenuhi segala
rupa urusan.

Sebenarnya, munculnya banyak tuntutan politik dari bermacam-macam kelompok tersebut, hal itu menandakan
bahwa wibawa pemerintah PM Badawi semakin melemah. Perkara ini sangat serius, sebab kondisi instabilitas
(instability) rata-rata dimulai dari kewibawaan pemerintah yang semakin merosot. Itulah yang dulu kami kenal
sebagai crisis of confidence. Berawal dari krisis kepercayaan kepada pemerintah ini, biasanya akan terjadi
perubahan mendasar dalam sistem kenegaraan di sebuah negara.

5 of 10 28/06/2008 06:22 AM
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 1 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...

Bisa saja di Malaysia akan muncul perubahan sistem negara secara fundamental. Tetapi apakah masyarakat
Malaysia telah siap menyambutnya? Apakah elemen-elemen politik di Malaysia telah mempersiapkan idea-idea,
konsep-konsep, planning, kekuatan finansial, dan juga kekuatan human resources? Apakah rakyat Malaysia telah
memiliki kata sepakat (consensus) untuk membangun negara yang lebih baik? Apakah segala sesuatunya telah
dipersiapkan dengan matang, termasuk kesiapan menghadapi situasi terburuk bilamana terjadi? Apakah seluruh
elemen pemerintahan sejak di pusat sampai di daerah telah siap dengan perubahan fundamental? Apakah rakyat
Malaysia telah siap menghadapi kenyataan terburuk?

Bilamana pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab dengan memuaskan, janganlah tergesa-gesa dan banyak
mengajukan tuntutan kepada pemerintahan. Hendaknya setiap elemen masyarakat menahan diri, tidak
membuang-buang energi dengan memikirkan idea-idea radikal, padahal mereka belum melakukan persiapan
apapun.

Jika masyarakat Malaysia, termasuk organisasi-organisasi Islam di dalamnya, terus-menerus terlibat


silang-sengketa, konflik politik, bertikai satu sama lainnya, hal itu akan membuka sekian banyak celah dan pintu
bagi kekuatan-kekuatan asing untuk masuk negeri ini, lalu menguasainya. Indonesia adalah contoh mudah yang
bisa dilihat warga Malaysia. Negeri kami saat ini jauh berbeda dengan yang Anda kenal sebelum 1998 lalu.

Bukan hanya Indonesia, tetapi juga Iraq, Afghanistan, Chechnya, Somalia, Sudan, dan lainnya. Semuanya berada
dalam ancaman kekuatan-kekuatan asing yang terus-menerus mengintai, ingin merusak, menanamkan
perpecahan, menanti silap-lengahnya kita, lalu mereka sukses menanamkan cengkeraman colonialism dalam
tubuh bangsa kita.

Jangan tergoda oleh pikiran-pikiran politik yang tampak elok, revolusioner, menjamin keadilan, menawarkan
kemakmuran, penuh heroism, dan seterusnya. Semua itu sering menjadi khayalan palsu, godaan menyesatkan,
cobaan-cobaan yang nanti akan sangat disesali akibatnya.

Para ahli-ahli politik, marilah kita berfikir lebih jernih! Jangan tergesa-gesa, jangan memperturutkan hawa nafsu.
Marilah kita melihat jauh ke depan dan menengok ke belakang.

Sebuah contoh masalah, yaitu perkara ekonomi. Dalam kondisi saat ini, apakah Malaysia bisa melepaskan diri dari
pengaruh ekonomi asing? Jawablah dengan jujur! Pasti jawabnya, tidak mungkin Malaysia bisa lepas dari pengaruh
ekonomi asing. Kemudian, jika nanti Malaysia telah berubah secara radikal menjadi negara dengan sistem baru,
seperti mana yang dimaui oleh kelompok-kelompok politik saat ini, apakah Malaysia saat itu bisa melepaskan diri
dari pengaruh ekonomi asing? Jawabnya juga sama, pasti Malaysia tidak bisa lepas dari pengaruh ekonomi asing.
Dapat diambil kesimpulan, dalam kondisi bagaimanapun, Malaysia tidak bisa lepas dari pengaruh ekonomi asing.

Bilamana demikian, patut ditanyakan disini, apakah pengaruh ekonomi asing di hari itu akan lebih baik daripada
pengaruh asing di hari ini? Boleh jadi, Anda yakin bahwa pengaruh asing di masa nanti lebih baik dari saat ini,
sebab sistem-nya waktu itu telah diubah menjadi lebih baik. Tetapi siapa bisa menjamin jika kondisi nanti akan
lebih baik, bukan menjadi lebih buruk? Apa jaminannya bahwa kondisi ekonomi nanti akan lebih baik?

Untuk mengubah keadaan lebih baik, tidak cukup hanya bicara, membuat statement-statement politik di media
massa, atau membuat aksi-aksi di jalanan. Tidak cukup hanya itu. Disini dibutuhkan power besar, berupa idea
cemerlang, human resouces yang banyak dan handal, situasi politik yang stabil, tata-hukum yang tertib, mentality
birokrasi yang bersih dan amanah, kepemimpinan yang tangguh, serta kesatuan elemen-elemen politik. Membuat
perubahan bagus tak semudah membalik telapak tangan.

Lalu bagaimana dengan keadaan masyarakat Malaysia sekarang? Apakah mereka telah siap dengan segala bekal
dan modal untuk membangun peradaban bangsa yang hebat? Atau jangan-jangan mereka baru mempersiapkan
hanya dengan keelokan statement politik, tidak disertai persiapan modal untuk melakukan perbaikan? Jika hanya
melontarkan statement politik yang bisa membuat telinga memerah menahan marah, anak-anak student di tingkat
menengah pun bisa melakukannya.

Kaum kolonialis Barat akan selalu mencari-cari celah untuk menjatuhkan, merusak, menjerumuskan suatu bangsa
ke dalam sengsara. Jangan sampai hal itu terjadi di Malaysia, sehingga akibatnya akan menyengsarakan hidup
warga Muslim di negeri ini. Cukuplah penderitaan kami alami di Indonesia, dan doakan semoga kami diberi hidayat
taufik oleh Allah untuk melakukan perbaikan keadaan. Amin.

Tentang Korupsi Pejabat Negara

Siapa yang suka dengan pejabat korup? Siapa mahu berkongsi dengan pejabat korup? Tentu, semua membenci
korupsi dan para pelakunya. Siapapun dirinya. Hati nurani manusia secara fitrah membenci kejahatan, apalagi
berupa penggelapan harta negara.

Kami di Indonesia sudah kenyang dengan isu korupsi ini. Sejak tahun 1990-an, bangsa kami sudah sangat terbiasa
bicara soal korupsi. Tetapi harapan munculnya birokrasi negara yang bersih dan bebas korupsi, sangatlah sulit.
Kami hanya bisa berharap, tak lebih.

Korupsi di Indonesia telah merasuk secara dalam ke kebudayaan kami, sehingga setiap ada kesempatan, orang
akan berbuat korupsi demi memperkaya diri dan keluarganya sendiri. Jika banyak orang belum berbuat korupsi, itu
bukan karena mereka tidak mau, tetapi mereka tidak ada kesempatan melakukan korupsi. Terbukti dalam banyak
kejadian, orang yang mulanya sangat benci korupsi, akhirnya terlibat korupsi juga.

6 of 10 28/06/2008 06:22 AM
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 1 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...

Begitu hebatnya korupsi ini, hingga beberapa waktu lalu tersiar kabar secara meluas, tentang percakapan telepon,
antara Arthalita Suryani dan pejabat Kejaksaan Agung Indonesia. Dalam pembicaraan itu mereka sepakat
melakukan konspirasi dalam rangka meloloskan suatu perkara korupsi seorang pengusaha tertentu. Rekaman
percakapan penyuapan itu kini tersebar di pengguna mobile phone, sebagai ringtone.

Kenyataan berbicara, menghapus korupsi tidak semudah menghapus debu-debu di kaca. Korupsi berkenaan
dengan budaya yang berlangsung sangat lama. Diperlukan keberanian besar untuk menghapus korupsi dari sistem
pemerintahan kita. Seorang pemimpin China Hu Jintao pernah berseru, "Sediakan 99 peti mati untuk para koruptor,
dan 1 peti mati untuk saya, jika saya juga korupsi." China telah memberi contoh menghukum mati para koruptor.
Tetapi, hal itu juga tidak menjamin korupsi telah bersih atau terobati dengan sempurna. Bilamana kita saksikan
tersebarnya produk-produk asal China yang sangat murah, mengandung zat-zat berbahaya, kualitas sangat buruk,
hal itu tidak lepas dari praktik korupsi juga.

Dalam sejarah Islam pun, meskipun ketika itu negara berdasarkan Hukum Islam, seperti di masa Bani Umayyah,
Bani Abbassiyah, atau Turki Utsmani, disana juga terjadi kasus-kasus korupsi juga. Kalau kita membaca sejarah
Kekhalifahan, sejak jaman Yazid bin Muawiyyah sampai jaman Abdul Malik bin Marwan, pejabat-pejabat dinasti
Umayyah, hidupnya bermewah-mewah juga, sehingga semua itu coba diperbaiki oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz
Ra. Kelak di akhir sejarah dinasti-dinasti itu korupsi terjadi meluas, sehingga negara lemah, kemudian mudah
ditaklukkan orang lain.

Bukan hanya di dunia Islam, di negara-negara Barat pun seringkali terjadi korupsi. Siapa mengatakan bahwa di
Amerika tidak ada korupsi? Justru sangat banyak korupsi. Cobalah lihat film-film Hollywood, disana ditunjukkan
sangat banyak kasus-kasus korupsi, baik di militer, White House, perusahaan-perusahaan, profesi, dll. Idea-idea
yang muncul dalam film itu, tentu digali dari kenyataan-kenyataan di lapangan.

Kelompok neo conservative yang menguasai Gedung Putih saat ini seperti George Bush, Dick Cheney, Donald
Rumsfeld, Condoleeza Rice, Paul Wolfowitz, dan lain-lain. Mereka adalah pejabat-pejabat yang memiliki saham di
perusahaan-perusahaan kontraktor pembangunan, minyak, bahkan perusahaan penyedia tentara bayaran
(Blackwater Force). Begitu berambisinya mereka pada uang, sampai membuat skenario penyerangan kepada Irak
dengan alasan "senjata pemusnah massal". Ternyata, alasan mereka kemudian dinyatakan palsu. Bisakah sebuah
negara yang sarat dengan penyelewengan seperti itu disebut bebas korupsi?

Termasuk kasus Iran Contra yang melibatkan Amerika, Iran, dan milisi bersenjata di Nikaragua. Bahkan dinas
intelijen CIA pun disebut-sebut menggunakan dana penjualan narkotika untuk membiayai operasi-operasinya.
Sebuah buku bagus ditulis oleh Jerry D. Gray, seorang Muslim asal Amerika yang saat ini tinggal di Indonesia. Dia
menulis, "Demokrasi Barbar Ala Amerika". Disana disebutkan sangat banyak data-data pelanggaran hukum, hak
asasi manusia, korupsi, amoralitas, keterlibatan dalam jaringan kriminal, dan lainnya yang melibatkan Amerika.
Sampai penulisnya merasa muak dan malu menjadi orang Amerika.

Jadi, korupsi bisa terjadi dimana-mana. Dan kekuasaan pemerintah adalah yang paling beresiko terjadi korupsi di
dalamnya. Hingga ada ungkapan terkenal, "The power tends to corrupt!" (kekuasaan itu cenderung menjadi korup).
Setiap yang memegang kekuasaan beresiko melakukan korupsi, sebab kekuasaan (birokrasi) berhubungan
dengan uang rakyat, uang negara, dan harta-benda yang sangat banyak.

Satu-satunya kekuatan yang bisa menolak korupsi adalah inner power (kekuatan batin). Ia adalah komitmen moral
yang kuat dalam diri seseorang, sehingga dia merasa tidak tega melakukan korupsi, sebab akibatnya akan
menyengsarakan orang banyak. "Jikalau saya tidak tega menyaksikan anak-isteri saya menderita, maka saya juga
tidak tega menyaksikan rakyat menderita karena korupsi," begitu pemikiran moralitas tinggi.

Bagi seorang Muslim, korupsi bisa diatasi dengan ketaqwaan di hati, yaitu rasa takut kepada Allah jika nanti di
Akhirat, Allah akan menghitung amal-amalnya. Orang-orang shalih tidak melakukan korupsi bukan karena tidak ada
kesempatan atau bukan karena tidak mahu uang, tetapi mereka takut jikalau Allah nanti menghitung perbuatan
korupsinya di Akhirat.

Hal ini mengingatkan kami kepada pemimpin-pemimpin Masyumi dulu di tahun 50-an. Mereka adalah negarawan,
politisi, birokrator, namun juga kaum moralis yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral Islami. Jika mereka
mengatakan anti korupsi, hal itu benar-benar dijalankan, bukan hanya di lisan saja. Berbeda dengan orang-orang
masa kini, lidahnya bilang anti korupsi, sementara perutnya kenyang dengan makan korupsi.

Dulu almarhum Buya Muhammad Natsir, ketika kabinetnya jatuh pada saat menjelang Maghrib (sekitar jam 18.00),
beliau dan keluarganya telah keluar dari rumah dinas yang disediakan bagi pejabat Perdana Menteri pada jam
24.00 tengah malam. Apa yang terjadi? Beliau keluar dari rumah dinas itu hanya dengan membawa 2 tas (bag)
besar berisi barang-barang pribadi. Barang-barang beliau seluruhnya hanya dua tas besar saja. Inilah tipe
pemimpin sejati, tidak hanya indah di lisan, tetapi juga indah di perbuatan. Mana mungkin pejabat jaman sekarang
hanya memiliki barang-barang penting sebanyak dua tas besar? Sampai akhir hayatnya Buya M. Natsir tidak
pernah mampu membeli rumah sendiri dari penghasilannya.

Sebalik itu, saat ini di negeri kami terjadi fenomena aneh di kalangan para aktivis dakwah. Dulu mereka hidupnya
sederhana, jujur dalam perkataan, moralnya tinggi, amanah, takut kepada Allah, tidak mau berbuat korupsi
meskipun hanya uang seribu atau dua ribu rupiah. Tetapi setelah menjadi anggota parlemen, setelah menjadi
pejabat, setelah sibuk dengan proyek-proyek, hidup mereka berubah. Kini mereka hidup bermewah-mewah, rumah
megah, kendaraan mewah, fasilitas hidup melimpah. Sampai tubuh mereka pun jadi gemuk-gemuk, dengan
timbunan lemak yang banyak di pipi dan leher. Wajah mereka dulu seperti ustadz, sekarang seperti wajah pejabat

7 of 10 28/06/2008 06:22 AM
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 1 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...

biasa. Sungguh mengerikan, betapa cepatnya keimanan itu hancur karena soal harta-benda. Kami harus
menangisi tokoh-tokoh mulia seperti almarhum Buya M. Natsir dan para sejawatnya, sebab kami tidak mampu
meneruskan keteladan akhlak mereka.

Hingga para pemuda yang menyeru dirinya selaku partai Islam, ternyata mereka takluk pula di hadapan
kemegahan harta. Dengan ketaqwaan di hati, keinginan untuk berbuat korupsi akan teratasi. Sebab seseorang
tidak takut kepada siapapun, selain takut kepada Allah sahaja. Dia tak mau selamat di dunia, namun binasa di
Akhirat.

Mungkin ada yang berkata, "Korupsi bisa diatasi dengan membuat aturan hukum yang hebat, dengan membuat
komisi pemberantasan korupsi yang hebat, dengan memberi gaji tinggi bagi setiap pegawai negara."

Cara-cara semacam itu bisa membantu, meskipun hasilnya tidak mutlak. Aturan hukum yang hebat masih bisa
dikalahkan oleh kecerdikan manusia. Para pejabat yang buruk moral tapi cerdas akal, dia akan mencari-cari celah
kesilapan hukum, lalu mengambil untung secara "legal", sehingga tidak dianggap menyalahi hukum. Komisi
pemberantasan korupsi pun sama sahaja, mereka berisi manusia-manusia yang tidak kebal terhadap uang dan
sogokan (risywah). Adapun gaji pegawai yang tinggi, jika gaya hidup (life style) keluarga pejabat itu tinggi, niscaya
income setinggi apa jua, tak kan pernah cukup baginya.

Ketahuilah saudaraku, isu korupsi adalah cara paling klasik (kuno) untuk menjatuhkan suatu pemerintahan.
Dimanapun masanya, siapapun pejabatnya, korupsi berpeluang terjadi. Dulu presiden Soeharto dihujat disana-sini
karena alasan KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme). Tetapi apakah kemudian regim Reformasi bebas dari KKN?
Ternyata tidak sama sekali, bahkan saat ini lebih parah kondisinya.

Bukan berarti usaha untuk mengatasi masalah korupsi lalu harus dibuang. Tidak sama sekali. Korupsi tetap jahat,
tetap tercela, ia harus diobati dan diselesaikan. Namun jangan jadikan isu korupsi untuk menghancurkan
kebaikan-kebaikan yang sudah dimiliki rakyat Malaysia. Membangun sistem negara itu sangat-sangat sulit.
Alhamdulillah kalau ia telah terbentuk, dengan nikmat Allah. Jikalau disana ada masalah-masalah korupsi, marilah
kita atasi dengan baik, secara bertahap, dan bijaksana.

Siapapun pemimpinnya, selalu ada resiko korupsi, biarpun sudah dibuat peraturan sehebat apapun. Selama
pemerintahan itu diisi oleh manusia yang punya hawa nafsu, bukan diisi oleh para Malaikat, yakinlah korupsi bisa
terjadi disana. Ketaqwaan hatilah yang bisa menolak korupsi. Oleh itu, mari kita benahi persoalan ini tidak dengan
emosi, tetapi dengan gerakan penyadaran masyarakat dan teladan mulia para pejabat.

Ingatlah, kami dulu pernah sangat emosi ingin agar praktik korupsi dihabisi sampai ke akar-akarnya. Namun yang
terjadi, kami menutup satu pintu korupsi, namun akibatnya terbuka seribu pintu-pintu korupsi lainnya.

Sifat Kolonialisme Barat

Harus pula disadari oleh masyarakat Muslim Malaysia, bahwa negara-negara Barat telah dikuasai oleh sifat-sifat
colonialism. Dulu mereka menjajah negeri-negeri di Asia Afrika selama ratusan tahun. Sesudah terbentuk United Of
Nations (Perserikatan Bangsa Bangsa), era penjajahan berakhir berganti era kemerdekaan. Apakah sesudah itu
sifat colonialism mereka sirna? Tidak sama sekali, hanya berubah bentuk saja. Tujuannya sama, mengumpul
harta-benda orang lain untuk menyokong kehidupan mereka, hanya caranya lebih lunak, yakni melalui penjajahan
ekonomi.

Sepertimana bangsa Barat dahulu mencari harta-benda di Timur Jauh, seperti negeri Nusantara ini, saat ini mereka
juga masih berhajat pada harta-benda itu. Di Indonesia, mereka menguasi tambang-tambang, proyek-proyek, bisnis
keuangan, sampai menguasai pasar barang-barang. Tidak berbeda dengan mereka ialah Jepang, China, Taiwan,
dan Korea. Mereka sama-sama bersyarikat dalam colonialism baru ini. Kami sendiri di negeri kami kehilangan
kuasa untuk membina usaha-usaha ekonomi guna memakmurkan kehidupan rakyat kami. Setelah Reformasi 1998,
kondisinya berubah sangat dahsyat. Korporasi-korporasi asing seperti berpesta pora mengerumuni kekayaan
negeri kami yang sebenarnya jauh lebih kaya daripada negeri Malaysia. Negeri kami kaya, tetapi rakyat kami
menderita.

Cukuplah buat rakyat Indonesia diberi tontotan TV sebanyak-banyaknya, sejak pagi buta sampai menjelang pagi
pula. Hiburan, film, sinetron, musik, komedi, game, foot ball, dan lain-lain disebarkan oleh sekitar 20 channel TV
swasta. Rakyat kami cukup disibukkan oleh acara-acara TV itu, sementara mereka tidak sadar kalau negerinya
terus-menerus dikuras kekayaannya oleh para colonialist (kolonialis) asing.

Di masa presiden Soeharto masih ada pembelaan atas hak-hak rakyat, meskipun colonialism itu sudah bermula
dari jamannya juga. Sekurangnya di jaman Pak Harto masih ada rasa peduli kepada nasib rakyat kecil, dalam arti
yang sesungguhnya. Setelah regim Reformasi mengambil alih kuasa, tidak ada lagi yang membela rakyat kami.
Para ahli-ahli politik, termasuk disana Prof. Dr. Amien Rais, mereka hanya bisa mengucap seribu dua ribu teori,
sementara keadaan rakyat kami tidak semakin membaik.

Pahamilah wahai saudaraku, kaum Muslim Malaysia, negeri Anda memiliki sekian kekayaan dengan potensi
ekonomi yang besar. Semua itu membuat para kolonis terbit liurnya, ingin menguasai negeri Anda, demi
menumpuk kekayaan sesuka hati mereka. Dimanapun jua, sekalipun di ujung dunia, jika ada sumber kekayaan
besar disana, kaum kolonialis pasti akan datang untuk mengeruknya. Tidak ada kerja pokok para penjajah itu,
melainkan memeriksa potensi ekonomi setiap negara, lalu memikirkan cara-cara untuk merebut ekonomi itu.

Kalau Anda melihat cara hidup orang Barat. Mereka memuja liberalism dan hedonism. Orang Barat hidup memuja
hawa nafsu hewaniah. Gaya hidup macam itu sangat high cost (butuh biaya tinggi). Jadi, kapan kiranya mereka

8 of 10 28/06/2008 06:22 AM
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 1 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...

akan bisa tidur tenang tidak mengganggu orang lain, sementara mereka sehar-hari butuh biaya tinggi? Semakin
dalam bangsa Barat tenggelam ke gaya hidup liberalism, semakin hebat pula ambisi menjajahnya.

Kesempatan emas yang bisa digunakan kolonialis untuk merebut kekayaan suatu negara ialah melalui perubahan
politik. Ketika perhatian rakyat tertuju ke isu-isu politik, saat itu para kolonialis akan memanfaatkan waktu untuk
merebut satu demi satu fasilitas ekonomi. Buktinya ialah apa yang kami alami di Indonesia setelah tahun 1998.

Kami tidak menyangka, bahwa manakala kami sibuk dengan urusan-urusan politik, partai politik, pemilihan umum,
parlemen, kepemimpinan, dan lainnya, ternyata saat itu kekuatan asing berbondong-bondong memasuki
bidang-bidang ekonomi-bisnis. Manakala keadaan politik mulai reda, kami mulai kembali ke kerja masing-masing,
nyatalah disana berbagai kekayaan negara sudah berpindah ke tangan kaum kolonialis.

Kami tidak tahu bagaimana keadaan di Malaysia saat ini. Kami tidak bisa mencampuri "halaman rumah" orang lain.
Kami hanya bisa menasehatkan, bahwa silang-sengketa politik yang berkembang di Malaysia saat ini adalah
kenyataan yang tak jauh beda dengan kondisi kami di tahun 1997-1998 lalu. Di balik konflik politik itu ternyata kami
kehilangan banyak kekayaan dan kekuatan ekonomi. Jangan sampai saat Anda sibuk dengan isu-isu politik, saat
itu tanpa disadari negeri Anda perlahan berpindah kuasa ke tangan orang-orang kolonialis asing.

Arah Konflik Politik

Saat ini terjadi konflik politik antara satu kekuatan dengan kekuatan lain. UMNO dan Barisan Nasional di satu
pihak, sementara di pihak lain ada Pakatan Nasional, di dalamnya ada Partai Keadilan Rakyat, PAS, dan
kelompok-kelompok politik lain. Ada pula kepentingan wilayah Malaysia Timur, kepentingan komunitas warga
keturunan India, China, dan lainnya. Secara umum, semua kepentingan di luar UMNO dan Barisan Nasional,
menuntut adanya perubahan fundamental dalam sistem politik, sesuai kepentingan masing-masing. Partai Keadilan
Rakyat tentu berharap ada power sharing dengan Barisan Nasional, sementara PAS menuntut kehidupan
masyarakat yang lebih Islami, komunitas keturunan India dan China menuntut kesetaraan hak-hak politik, dan
kepentingan politik wilayah Malaysia Timur meminta proporsi pembagian kekayaan yang lebih besar.

Jika semua tuntutan itu dipenuhi, sebagaimana yang diminta, pasti akan terjadi perubahan fundamental dalam
sistem tata-negara Malaysia. Mungkin saja, Malaysia akan meniru Indonesia, menerapkan sistem demokrasi liberal,
media massa liberal, ekonomi liberal, budaya liberal, sampai cara beragama liberal. Jika itu yang terjadi, maka
lekas-lekaslah Anda ucapkan, "Good bye my country!" Jikalau sistem liberal yang akhirnya diterapkan di Malaysia,
maka saat itu kepentingan Muslim Malaysia bisa dikatakan sirna sudah. Tidak ada yang melindungi kepentingan
Muslim Malaysia, dan mereka pasti akan kalah oleh gelombang liberalisasi. Bukan hanya negara-negara bagian
yang selama ini dikuasai UMNO dan Barisan Nasional, bahkan wilayah Kelantan, Kedah, Trengganu, dan lain-lain
yang didominasi oleh PAS akan tenggelam pula dilamun ombak liberalisme.

Seharusnya, di masa seperti ini, kelompok-kelompok politik yang mengikatkan diri dengan kepentingan umat Islam,
mereka mau bersatu, berkoalisi, mencari jalan pemecahan atas masalah-masalah bersama. Kami yakin UMNO
mewakili kepentingan Muslim, begitu pula PKR Anwar Ibrahim dan PAS. Mengapa tidak ketiga kekuatan ini
mencari solusi bersama, mendahulukan kepentingan yang lebih utama daripada ambisi politik masing-masing
kelompok? Kepentingan umat Muslim di Malaysia ada di tangan ketiga kelompok tersebut. Jangan karena
masalah-masalah kecil, lalu dikorbankan masa depan rakyat Muslim Malaysia yang lebih besar.

Dengan musyawarah, silaturahmi, serta saling bahu-membahu, insya Allah tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari
kehidupan Muslim Malaysia di masa depan. Kecuali jika salah satu pihak lebih mendahulukan hawa nafsu
berkuasa, melebihi kepentingan untuk menyelamatkan kehidupan rakyat Muslim Malaysia. Jika seperti itu, berarti
mereka telah siap menghadapi situasi kacau-balau karena konflik politik. Termasuk di dalamnya, mereka siap
menyaksikan rakyatnya menjadi barang mainan kaum kolonialis.

Alangkah baik jika antar ketiga kekuatan partai di atas dibuat sarana komunikasi, saling pengertian, bahkan aliansi
jika memungkinkan. Adapun konflik selama ini, sikap saling serang selama ini, usaha saling menjatuhkan satu
sama lain, harus dihentikan. Mengapa? Sebab kepentingan Muslim Malaysia ada di pundak UMNO, PAS, dan PKR
itu. Hendak kemana lagi Pak Cik, ummat melabuhkan harapan, kalau bukan ke pundak-pundak Anda semua?
Demi Allah, jika sebagian dari Anda tega berkhianat atas amanah umat Muslim Malaysia, yakinlah hidup mereka
nanti akan menderita. Apa tidak cukup pengalaman pahit yang kami alami di Indonesia dalam 10 tahun terakhir ini
sebagai peringatan?

Kami yakin dan mendoakan, Perdana Menteri Dato Seri Abdullah Badawi, Tuan Guru Nik Aziz Nik Mat, serta Dr.
Anwar Ibrahim dan isteri, kesemuanya ini moga benar-benar bisa mengawal kepentingan masyarakat Muslim di
Malaysia. Di hadapan paduka sekalian, Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menitipkan amanah mulia untuk menjaga
kepentingan umat Islam di Malaysia dengan sangat hati-hati, jangan dibiarkan rusak oleh proses-proses politik
yang menyesatkan. Ingatlah selalu kepentingan umat Islam, maka Allah akan menunjukkan lautan karunia-Nya.
Amin.

Bersambung bahagian (2)

Welcome to EZForumComments (you can change and disable this text in the admin area)
You can comment this article here:

9 of 10 28/06/2008 06:22 AM
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 1 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...

Options
HTML is ON
BBCode is ON
Smilies are ON

g Allow HTML
b
c
d
e
f
b Allow BBCODE
c
d
e
f
g
b Allow Smilies
c
d
e
f
g
b Add Signature
c
d
e
f
g
c Watch this thread
d
e
f
g

Submit

Page created in 0.330126 Seconds

Powered by MD-Pro

10 of 10 28/06/2008 06:22 AM