Anda di halaman 1dari 4

Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 2 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...

Welcome ibnuhisyam

Ads0003 Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 2


Posted by : admin on Saturday, June 28, 2008 - 02:14 AM CCT 9 Reads Printer Friendly Page

Sambungan dari:

http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=89950

Main Menu

· Home
· My Account
· Messages
· Kirim artikel/berita
· Logout

Pintasan lain..
· Al-Quranul Karim
· Topik
· Portal Hadith
· Khas: Muslimah
· Forum Diskusi
· 20 forum terkini
· 80 forum terkini
· Berita & Artikel
· Artikel Ilmiah
· Download
· Links Karakter Politik Islami
· Search
Para ahli politik (politisi) Muslim harus memahami ciri politik Islami, antara lain sebagaimana di bawah ini:
· Arkib Harian
1. Tujuan politik Islami ialah memelihara 5 perkara dari kehidupan kaum Muslimin, yakni: (1)
Data Portal Menjaga jiwa; (2) Menjaga agama; (3) Menjaga harta; (4) Menjaga akal, dan; (5) Menjaga keturunan.
· Senarai ahli Inilah 5 kepentingan umat Islam yang harus selalu dijaga dengan baik, sebab ia merupakan tujuan inti
· Paling Popular Syariat Islam.
· Recommend Us
· Statistics 2. Setiap usaha politik harus menghitung unsur maslahat (kebaikan) dan madharat (keburukan).
· Hubungi kami Ukuran politik Islami bukan selera Amerika, selera liberal orang Barat, atau selera United of Nations.
(Teknikal Sahaja) Prinsip dasar politik Islami ialah untuk mencapai maslahat dan menolak madharat. Jika ada dua pilihan,
maslahat dan madharat, maka yang dipilih adalah mengambil maslahat. Jika ada dua maslahat, maka
dipilih maslahat yang lebih besar. Jika ada dua madharat, maka boleh mengambil madharat kecil untuk
menghindari madharat yang besar. Para politisi Muslim harus mahu belajar Fiqih Islam agar bisa
memahami cara-cara mengambil keputusan politik.

3. Politik Islami mewujudkan persatuan umat Islam dan menghindari perpecahan. Ini merupakan
amanah agung dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang benar-benar harus dijaga para pemangku urusan
politik. Persatuan membawa kepada kekuatan, sedang perpecahan membawa kepada kehancuran.
Dengan lain kata, perpecahan akan menghancurkan Islam dan umatnya. Para ahli politik Islami tidak
mungkin akan menghancurkan agamanya sendiri. Hingga ketika seorang Muslim memiliki pendapat fiqih
yang benar, tetapi pendapat itu berbeda dengan sebagian besar paham kaum Muslimin, sehingga
dikhawatirkan terjadi perpecahan, maka sebaiknya dia menyembunyikan pendapatnya, sampai ada
kesempatan yang baik untuk mengemukakan pendapat itu. Rasulullah Saw. tidak mengijinkan para
Shahabat menyakiti Abdullah bin Ubay, seorang pemimpin munafik di Madinah. Padahal yang marah
kepada tokoh itu termasuk putra Abdullah bin Ubay sendiri. Nabi tidak mengijinkan karena tidak mau
memecah kesatuan warga Muslim Madinah. Begitu pula Nabi tidak mau membongkar Ka’bah, lalu
membangun kembali Ka’bah sesuai fondasi Nabi Ibrahim As., karena khawatir keimanan umat Islam
waktu itu masih lemah.

4. Para politisi Muslim harus memiliki kualitas kesabaran melebihi kesabaran orang biasa. Dunia
politik penuh dengan cobaan, godaan, dan fitnah. Masalah yang ada disana tidak jauh dari “tiga ta”, yakni
harta, wanita, dan tahta. Jikalau pengamat politik cukup tahu soal info-info politik dan kaitan satu kejadian

1 of 4 28/06/2008 06:25 AM
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 2 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...

dengan kejadian lain; jikalau aktivis politik cukup tahu bentuk-bentuk aksi dan gerakan politik; jikalau para
ulama perlu tahu hukum-hukum kasus politik; maka para ahli politik (politisi) harus paham seluk-beluk
praktik politik dan memiliki kesabaran untuk mencapai tujuan. Berpolitik tanpa kesabaran, seperti orang
yang mahu main foot ball, tanpa membawa bola. Politik disebut as siyasah atau siasat, sebab disana
sangat dibutuhkan wawasan ilmu, kecerdikan yang tinggi, dan kesabaran membina proses. Rasulullah
Saw. pernah menyetujui perjanjian Hudaibiyyah dengan orang musyrikin Mekah. Waktu itu sebagian
besar Shahabat tidak ridha dengan isi perjanjian tersebut, bahkan mereka hampir membangkang kepada
Nabi. Namun berkat kesabaran Nabi yang tinggi, semua pihak akhirnya menyadari bahwa keputusan Nabi
yang lebih benar.

5. Bagaimanapun harus difahamkan, bahwa politik adalah alat perjuangan umat Islam. Politik
bukan tujuan, politik bukan alat mencari harta, tahta, dan wanita. Politik bukan untuk unjuk kebolehan diri,
biar tampak hebat sebagai orang terpandang. Politik adalah sarana memperjuangkan kepentingan umat.
Jika dengan politik, kehidupan umat Islam semakin sengsara, maka politik macam itu gagal; sebaliknya,
politik disebut sukses jika menghasilkan kebaikan hidup bagi umat.

Sekurangnya, para politisi Muslim harus memahami lima butir pandangan di atas. Jika kelimanya diterapkan
dengan baik, insya Allah umat Islam akan meraih kehidupan bahagia dan terhindar dari malapetaka dan
sengsara. Konsep politik Islami tidak akan jauh dari semua itu. Semoga Allah menolong umat Islam di Malaysia
untuk memperbaiki hidupnya dengan metode politik Islami. Allahumma amin.

Terus terang, kami di Indonesia sangat menyesali, di negeri kami banyak sekali ahli-ahli politik. Sebagiannya
dikenal luas selaku pemimpin-pemimpin organisasi Islam. Tetapi sayang sekali, banyak dari mereka berpolitik
dengan hawa nafsu, sehingga akibatnya malapetaka bagi masyarakat kaum Muslimin.

Sebuah Konsep Solusi

Selanjutnya, perkenankan kami menghaturkan beberapa butir pemikiran sebagai solusi atas soalan-soalan
politik yang ada. Berikut ini saran-saran solusi kami:

1. Hendaklah kelompok-kelompok politik Islam, atau siapa saja yang mewakili kepentingan umat Islam di
Malaysia, mereka melakukan rekonsiliasi (reconciliation) untuk mengatasi sengketa, permusuhan, dan
perbedaan-perbedaan tajam dalam pendirian politik. Tempuhlah cara musyawarah untuk mencapai
titik-temu dan solusi bersama. Teringat perkataan ulama Salaf, “Jika suatu masalah tidak bisa lagi diatasi
dengan musyawarah, berarti ia bukan perkara Islam.”

2. Seluruh bagian dari masyarakat Muslim di Malaysia mereka harus satu kata dan berteguh hati pada
satu kesepakatan politik, bahwa negara Malaysia melindungi kepentingan Muslim dan Islam. Ini adalah
hak eksklusif Anda yang boleh dibela dan berhak diperjuangkan secara maksimal. Jangan sampai
kesepakatan itu goyah oleh alasan apapun. Bahkan adanya Malaysia adalah karena kepentingan Islam
dan umatnya di negeri ini. Semua bangsa di dunia berhak membela hak-hak ekslusifnya, tanpa perlu takut
tekanan apapun.

3. Masyarakat kaum Muslimin di Malaysia, khususnya para ahli-ahli politik, mereka harus waspada,
jangan sampai konflik politik yang saat ini terjadi akhirnya nanti berubah menjadi gerakan liberalisasi yang
menghancurkan kehidupan bangsa Malaysia, baik ekonomi, sosial, moralitas, agama, maupun
kesatuannya. Para ahli-ahli politik Islam harus benar-benar mengawal arah politik, sehingga tidak
mencelakai negara sendiri.

4. Tidak mengapa melakukan perubahan-perubahan demi perbaikan sistem dan tata-cara birokrasi.
Tetapi hendaknya, perubahan itu tidak menyentuh sistem kenegaraan Malaysia yang bersifat
fundamental. Mengapa demikian? Sebab di jaman masa kini, perubahan sistem secara fundamental
sering dimanfaatkan oleh anasir-anasir asing untuk mencelakai kehidupan kita. Sebagai contoh, saat ini
Konstitusi Indonesia telah berubah hingga 125 %. Apa hasilnya? Apakah rakyat semakin bahagia? Justru
sebaliknya, kami makin sengsara.

5. Diperlukan usaha-usaha diplomasi untuk menahan gejolak yang muncul disana-sini. Lakukan
pendekatan yang baik untuk meredakan ketegangan, kemarahan, dan potensi konflik. Manfaatkan
sarana-sarana dialog, komunikasi, serta perundingan untuk meredakan gejolak politik.

6. Jangan biarkan media-media massa menjadi regim politik yang terlalu banyak berpolitik, tetapi selalu
mengatasnamakan “kebebasan pers”. Sesungguhnya, kebebasan pers itu hanyalah helah untuk menutupi
tujuan-tujuan politik mereka. Kami belajar, bahwa yang dihadapi umat Islam di Indonesia buhan hanya
partai-partai politik, tetapi juga sebentuk “partai politik” yang bernama media massa.

7. Kekuatan militer harus bersatu padu, tidak sedia dipecah-belah. Mereka harus berdiri di belakang
kepentingan masyarakat Malaysia, bukan mengikuti kepentingan-kepentingan politik sempit. Kehancuran
negara kami salah satunya karena militer bisa dipecah menjadi blok-blok jendral yang satu sama lain
saling berbeda kepentingan.

8. Selalu awasi anasir-anasir asing yang gemar berkeliaran untuk membuat fitnah dimana-mana. Mereka
ini the real trouble maker. Mereka tidak berhenti membuat masalah, mengacau keadaan sosial, sebab
memang itulah tugasnya. Mereka mendapat upah dari kerja semacam itu. Di Indonesia, kelompok JIL
(Jaringan Islam Liberal) termasuk bagian dari anasir-anasir asing ini. Mungkin di Malaysia situasinya tidak
jauh beda, masih berkaitan dengan orang-orang liberal itu.

9. Ajak tokoh-tokoh Islam, para ulama, para pimpinan organisasi Islam di Malaysia untuk berunding,
bermusyawarah, dan mencari jalan keluar terbaik. Dengar masukan mereka, hargai suara mereka, sebab
mereka memiliki kepedulian atas nasib umat Islam di Malaysia.

10. Berhati-hatilah terhadap kelompok-kelompok tertentu yang mengatasnamakan gerakan Islam, tetapi
sikapnya tidak Islami. Mereka menghalalkan pluralisme, menolak Syariat Islam, mendewa-dewakan
demokrasi, dan tidak mau bersatu dengan sesama Muslim. Di Indonesia, kami sempat tertipu oleh
anak-anak muda aktivis Islam itu. Bahkan sebenarnya, rusaknya kehidupan bangsa kami saat ini, tak
lepas dari kebodohan cara-cara politik mereka. Mereka menyebut dirinya “partai dakwah”, padahal
usaha-usaha politiknya sangat merusak kehidupan umat Islam. Mereka turut mensukseskan gerakan
liberalisasi yang saat ini sangat kuat melanda Indonesia. Insya Allah partai PAS dan PKR di Malaysia
tidak seperti kelompok politik itu.

2 of 4 28/06/2008 06:25 AM
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 2 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...

Penutup

Kami berharap dengan setulus hati agar kiranya bangsa Malaysia, khususnya umat Islam, bersabar dan
bijaksana dalam mengawal proses-proses politik. Capailah perbaikan dan kemajuan secara gradual, bukan
emosional atau dilandasi kemarahan. Bersikaplah yang tenang, bijak, dan tidak tergesa-gesa. Jangan terburu
nafsu untuk menumpahkan segala amarah politik, sebab akibatnya nanti akan sangat menyakitkan.

Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah itu lembut, Dia menyukai kelembutan. Dia memberi di atas
kelembutan, apa yang tidak diberikan di atas kekerasan/ketergesaan.” (HR. Muslim). Dalam hadits lain, Nabi
bersabda: “Sesungguhnya Allah itu lembut, Dia menyukai kelembutan dalam seluruh perkara.” (HR. Bukhari
Muslim). Dalam hadits lain, Nabi Saw. juga bersabda: “Sesungguhnya kelembutan itu tidak terletak pada
sesuatu, melainkan akan menghiasinya dengan keindahan. Dan tidaklah kelembutan itu tercabut dari sesuatu,
melainkan akan menambah kejelekan padanya.” (HR. Muslim). Dalam satu riwayat dikatakan,
“Ketergesa-gesaan itu adalah dari syaitan.”

Hadits-hadits di atas maknanya sangat agung. Jika ingin kebaikan, maka kita harus menjaga ketenangan hidup
masyarakat; sebaliknya, jika ingin menyuburkan kejelekan, maka buatlah masyarakat menjadi beringas,
emosional, marah, anarkhis, dan sebagainya. Nanti di balik semua kejelekan itu tidak akan muncul kebaikan,
malah menyuburkan fitnah.

Umat Islam Malaysia tidak akan mampu membuat perbaikan, kemajuan, dan kekuatan jika menempuh cara-cara
kekerasan, silang sengketa, saling menghujat, saling marah satu sama lain. Tidak ada perbaikan terjadi dengan
cara-cara itu. Melainkan, perbaikan harus dibangun dengan sabar, dengan tekun, dengan damai, saling berbagi,
saling kerjasama, dan sebagainya. Oleh itu waspadalah terhadap suara-suara yang selalu membakar amarah,
mengencangkan sitegang, merusak ukhuwwah, memecah-belah, serta menyuburkan permusuhan di tubuh umat
Islam.

Ketika Reformasi 1998 berjalan di Indonesia, saya pribadi belum mencapai bekal yang cukup untuk berbicara
kepada masyarakat. Namun kini, sekurangnya saya telah belajar dari pengalaman-pengalaman di negeri kami.
Manakala melihat perkembangan politik di Malaysia berjalan sepertimana yang dulu kami alami, ada kerisauan
besar di hati. “Jangan sampai kaum Muslimin di negeri ini akan mengalami petaka seperti kami,” begitulah
alasan saya. Tidaklah yang kami inginkan, melainkan agar Anda terhindar dari malapetaka yang sangat
menyakitkan.

Saya yakin, seperti apapun situasi di Malaysia saat ini, apakah karena harga premium naik, kasus korupsi,
ketidak-adilan politik, dan lainnya, semua itu masih jauh lebih baik daripada kondisi yang kami alami di
Indonesia. Kehidupan Anda sekalian disini masih jauh lebih mudah. Maka syukuri apa yang ada dan jangan
disia-siakan.

Ingat selalu firman Allah Ta’ala: “Jika kalian bersukur, maka Aku (Allah) akan menambah nikmat-Ku, namun jika
kalian kufur, ingatlah sesungguhnya adzab-Ku (bagi orang-orang yang tidak bersyukur) sangat pedih.” (Surat
Ibrahim: 7). Begitu pula Nabi berpesan: “Lihatlah kepada yang di bawah kalian, jangan melihat yang dia atas
kalian. Yang demikian itu agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.”

Bilamana ada kesulitan-kesulitan, maka seluruh dunia pun kini menghadapi kesulitan. Krisis pangan dan minyak
bumi menimpa semua bangsa-bangsa. Manakah negeri-negeri Islam yang tidak dilanda kesulitan? Hingga di
negeri seperti Kerajaan Saudi Arabia (KSA) pun ada kesulitan. Jadi amat berlebihan bilamana Anda menuntut
kesempurnaan di masa yang penuh kekurangan ini. Hanya di syurga Allah amal-amal hamba yang shalih akan
di balas dengan sempurna. Di syurga tidak ada krisis pangan, tidak ada krisis premium, tidak ada krisis politik,
bahkan tidak dibutuhkan demokrasi.

Demikian yang bisa saya kemukakan. Mohon dimaafkan atas segala silap dan kekurangan. Syukran
jazakumullah khairan katsira atas segala perhatian dan pengertiannya. Semoga upaya ini bermanfaat bagi Anda
sekalian, umat Islam di Nusantara, dan bagi kami disini. Marilah kita saling mendoakan, agar situasi di negeri
kita masing-masing diberi pertolongan oleh Allah Ta’ala. Allahumma amin. Bagaimanapun, orang-orang beriman
satu sama lain saling bersaudara. “Bahwasanya orang-orang beriman itu saling bersaudara.” (Surat Al Hujurat:
10).

Wallahu a’lam bisshawaab.

Selesai ditulis di Bandung, hari Rabu, 25 Juni 2008, waktu Dhuha.

Oleh Abu Muhammad Waskito.

Tentang Penulis
Lahir di Malang, Jawa Timur, tahun 1972. Menulis buku-buku keislaman populer,
sejak tahun 2001. Sampai saat ini telah menulis lebih dari 15 naskah buku,
sebagian besar sudah diterbitkan. Sebagian contoh karya buku: 10 Sikap Positif
Menghadapi Kesulitan Hidup (Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001); Menepis
Godaan Pornografi (Darul Falah, Jakarta, 2005); Life Is Beautiful: Hidup Tanpa
Tekanan Stress (Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2005); 21 Resiko Buruk Busana
Seksi (Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 2006); Muslimah Wedding: Bila Hati Rindu
Menikah (Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 2007); Hidup Itu Mudah (Khalifa, Jakarta,
2007). Hubungi penulis lewat e-mail: areabuku@gmail.com.

3 of 4 28/06/2008 06:25 AM
Belajar dari Pengalaman Pahit REFORMASI di Indonesia Bhg 2 :: ::al-a... http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=a...

Welcome to EZForumComments (you can change and disable this text in the admin area)
You can comment this article here:
Options
HTML is ON
BBCode is ON
Smilies are ON

g Allow HTML
b
c
d
e
f
b Allow BBCODE
c
d
e
f
g
b Allow Smilies
c
d
e
f
g
g Add Signature
b
c
d
e
f
c Watch this thread
d
e
f
g

Submit
mod
Page created in 0.381203 Seconds

Powered by MD-Pro

4 of 4 28/06/2008 06:25 AM