Anda di halaman 1dari 28

INTEGRASI IMTAQ

KE DALAM MATERI AJAR REPRODUKSI


UNTUK SMA

Oleh:
AGUNGPUJISANTOSO, S.Si.

SEKOLAH MENENGAH ATAS MUHAMMADIYAH 02


KECAMATAN WULUHAN KABUPATEN JEMBER
2004
Integrasi IMTAQ ke Dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA

Agung Puji Santoso


Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 02 Wuluhan Jember, 2004, 22 hal.

ABSTRAK

Permasalahan seksual remaja muslim semakin banyak terjadi seiring cepatnya


arus informasi. Guru dituntut memberikan pemahaman kepada siswa agar
pemasalahan tersebut teratasi. Untuk itu, usaha perumusan materi ajar reproduksi
yang terintegrasi dengan IMTAQ sangat perlu dilakukan. Penulisan karya ini
bertujuan melakukan usaha awal pengintegrasian IMTAQ–IPTEK sehingga
dihasilkan suatu rumusan materi pelajaran reproduksi yang terintegrasi dengan
IMTAQ. Materi ajar reproduksi SMA kurikulum 1994 membahas reproduksi
tumbuhan, hewan, dan manusia. Nilai-nilai IMTAQ yang bisa diintegrasikan ke
dalamnya antara lain (1) semua makhluk telah diciptakan dan diatur oleh Allah, (2)
fenomena reproduksi menunjukkan kebesaran Allah, (3) Allah kuasa menghidupkan
dari kematian dan mematikan dari kehidupan, (4) semua ciptaan Allah telah
direncanakan secara matang dan dengan perhitungan sempurna, (5) pengetahuan yang
benar terhadap fungsi reproduksi akan membentengi perilaku seseorang, dan (6)
Islam adalah agama paripurna. Usaha pengintegrasian IMTAQ-IPTEK dapat
dilakukan dengan menyisipkan nilai-nilai Islam saat memberikan penjelasan materi,
penugasan, serta pendidikan seksual sesuai ajaran Islam, baik melalui tatap muka di
kelas maupun media audio visual. Hal-hal yang dapat menjerumuskan kepada syirik,
penyerupaan Allah swt. dengan makhluk-Nya, dan penjelasan yang terlalu vulgar
harus dihindari.

Kata kunci: integrasi IMTAQ, materi ajar reproduksi, nilai-nilai IMTAQ.

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA i


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji syukur hanya penulis panjatkan ke hadirat Robbal


‘Alamin Yang Maha Pencipta dan Pengatur. Hanya dengan ridlo-Nya karya tulis ini
dapat terselesaikan.
Keberhasilan penulisan merupakan suatu kebanggaan. Bangga karena bisa
berbuat sesuatu hal positif. Bangga karena lebih mengerti hal-hal yang berkaitan
dengan reproduksi di alam semesta, bukti Keagungan Allah swt. Bangga yang,
semoga, jauh dari tinggi hati dan mengharap selain ridlo Allah swt. Akan lebih
membanggakan hati lagi bila mampu berusaha memberikan benteng keimanan
kepada siswa.
Kesungguhan hati pihak-pihak terkait dengan maju-kembang pendidikan untuk
meningkatkan kualitas pendidikan akan sangat membantu terciptanya generasi muda
yang kokoh, mandiri, kreatif, jujur, dan berakhlak mulia. Generasi seperti itulah yang
dapat membangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan maju. Generasi seperti
itulah yang nantinya memperoleh ridlo Allah swt.
Penulisan karya ini diharapkan merangsang pengelola pendidikan untuk
mengadakan kegiatan-kegiatan peningkatan kualitas pendidik. Pendidikan tidak akan
menghasilkan out-put optimal bila para pelakunya, terutama guru, belum mempunyai
kemampuan mendidik yang memadai. Guru di tingkat SMA yang memenuhi
kualifikasi pendidikan (menurut syarat pendidikan minimal) hanya 26 % (Ristek,
tanpa tahun). Akibatnya, produk pendidikan masih jauh tertinggal dengan bangsa-
bangsa lain.
Semoga apa yang menjadi tujuan penulisan dapat tercapai dan usaha-usaha
penggunaan karya ini menemui keberhasilan serta selalu dapat ditingkatkan. Semoga
semua yang telah dilakukan dapat mendekatkan penulis kepada Allah swt.

Jember, 10 Agustus 2004

Penulis

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA ii


DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRAK.............................................................................................................i
KATA PENGANTAR...........................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1 Latar Belakang............................................................................................1
1.2 Permasalahan..............................................................................................3
1.3 Tujuan.........................................................................................................3
1.4 Manfaat.......................................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................4
2.1 Materi Ajar Reproduksi..............................................................................4
2.2 Nilai-nilai IMTAQ dalam Materi Ajar Reproduksi....................................5
2.2.1 Semua Makhluk telah Diciptakan dan Diatur oleh Allah swt
......................................................................................................
5
2.2.2 Fenomena Reproduksi Menunjukkan Kebesaran Allah, Sang
Pencipta
......................................................................................................
7
2.2.3 Allah Kuasa Menghidupkan dari Kematian dan Mematikan
dari Kehidupan
......................................................................................................
8
2.2.4 Semua Ciptaan Allah telah Direncanakan secara Matang dan
dengan Perhitungan Sempurna
......................................................................................................
10
2.2.5 Pengetahuan yang Benar terhadap Fungsi Reproduksi akan
Membentengi Perilaku Seseorang
......................................................................................................
11
2.2.6 Islam adalah Agama Paripurna
......................................................................................................
12
2.3 Strategi Pengintegrasian IMTAQ-Reproduksi
.....................................................................................................................
16
2.3.1 Pengintegrasian IMTAQ-Reproduksi Melalui Tatap Muka di
Kelas
......................................................................................................
16

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA iii


2.3.2 Pengintegrasian IMTAQ-Reproduksi Melalui Media Audio
Visual
......................................................................................................
17
2.3.3 Rambu-rambu Pengintegrasian IMTAQ-Reproduksi
......................................................................................................
18

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN


...........................................................................................................................
20
3.1 Kesimpulan
.....................................................................................................................
20
3.2 Saran
.....................................................................................................................
20

DAFTAR PUSTAKA
...........................................................................................................................
21

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA iv


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.
Menurut Karimi (1993) 87,2% penduduk Indonesia adalah muslim pada tahun 1990,
sedangkan menurut Seno (1996) prosentase penduduk muslim Indonesia adalah 86%.
Di balik potensi besar tersebut, generasi muda Indonesia, khususnya generasi
Muslim menghadapi tantangan sangat pelik yang berkaitan dengan interaksi dengan
lawan jenis. Penelitian Kementrian PP di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur
(2002) menunjukkan hasil mengejutkan. Sekitar 36 % siswa SD, SMP, dan SMA
putus sekolah telah menikah. 50% di antaranya mengaku telah melakukan hubungan
seksual pranikah. Bahkan, penelitian Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia
(PKBI) pada tahun 2002 hingga 2003 mendapati kurang lebih 20 % siswa SMA di
kota-kota besar pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Keadaan
memprihatinkan tersebut ternyata sangat berkaitan dengan cepatnya arus informasi.
Informasi tentang seks mereka dapatkan dari bacaan, televisi, video, internet, film,
dan teman/lingkungan.
Timbulnya masalah-masalah memprihatinkan tersebut dapat disebabkan oleh
beberapa hal, antara lain kurangnya perhatian pendidik/guru dalam penanaman nilai-
nilai iman dan taqwa (IMTAQ) kepada siswa melalui materi pelajaran yang
disampaikan sehingga keseimbangan IMTAQ-IPTEK, ukhrowi-duniawi, belum
tercipta. Selama ini, buku-buku sekolah yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK) dengan IMTAQ masih sangat terbatas jumlahnya. Selain
pelajaran agama Islam, belum ada kurikulum pelajaran lain yang mengharuskan atau
setidaknya menyarankan guru untuk memasukkan nilai-nilai IMTAQ ke dalam materi
ajarnya. Sedikitnya usaha penanaman nilai-nilai IMTAQ dalam penyampaian materi
ajar di sekolah, khususnya masalah reproduksi, dapat mengakibatkan perhatian siswa
terhadap rambu-rambu Allah dalam hubungannya dengan interaksi lawan jenis
menjadi kurang kuat. Dengan demikian, hal itu menyebabkan kemungkinan siswa
mendapatkan masalah dengan lawan jenisnya semakin besar.

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 1


Kemajuan IPTEK telah memperlihatkan dampak negatifnya bagi para pelajar.
Informasi-informasi negatif dari tempat yang jauh dapat dengan cepat tersebar
dengan sajian yang sangat vulgar, termasuk tindakan-tindakan asusila. Hal itu
memberikan peluang bagi siapa saja untuk meniru perbuatan-perbuatan negatif yang
ditayangkan, atau setidaknya menimbulkan rasa penasaran, khususnya bagi generasi
muda. Akibatnya, nilai-nilai luhur agama mulai ditinggalkan. Banyak tingkah laku
siswa yang mencemaskan, pergaulan bebas misalnya.
Oleh karena itu, usaha pengintegrasian nilai IMTAQ ke dalam IPTEK sangat
diperlukan bagi semua materi ajar di sekolah (tingkat SMA), khususnya tentang
reproduksi manusia. Dengan demikian, siswa memiliki filter sehingga dapat memilih
kegiatan yang bermanfaat dan meninggalkan yang tidak bermanfaat. Sekolah yang
sedikit menanamkan nilai-nilai IMTAQ bisa diperkirakan berpotensi menimbulkan
perilaku-perilaku yang meresahkan. Selain faktor eksternal siswa tersebut, menurut
Wibowo (2001), perilaku tersebut banyak dipengaruhi oleh hormon dan
pertumbuhan. Bentuk fisik yang mulai memberi ciri wanita dan pria menyebabkan
para remaja mulai mengalihkan perhatian kepada lawan jenisnya.
Ada tuntutan bagi guru (apalagi muslim) untuk memberikan penerangan
sehingga peserta didiknya diharapkan dapat menjadi manusia yang lebih baik. Setiap
muslim dituntut untuk memberikan peringatan dari apa saja fenomena ilmiah alam.
Allah berfirman sekaligus memperingatkan manusia,
“Segala sesuatu Kami jadikan berpasang-pasangan (jantan dan betina), supaya
kamu mengingat (akan kebesaran Allah).” (adz-Dzariyat: 49)
Sesuai dengan alasan-alasan di atas, usaha pengintegrasian IMTAQ ke dalam
IPTEK sangat penting untuk dilaksanakan, lebih-lebih bagi pengembangan
pengalaman belajar dan kecakapan hidup siswa agar memiliki kesadaran sebagai
makhluk Tuhan sesuai tuntutan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Oleh karena
itu, usaha perumusan materi pelajaran yang terintegrasi dengan IMTAQ sangat perlu
dilakukan.

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 2


1.2 Permasalahan
Permasalahan yang akan dikaji di dalam karya tulis ini adalah nilai-nilai IMTAQ
apa saja yang dapat diintegrasikan kedalam materi ajar reproduksi serta strategi
pengintegrasiannya?

1.3 Tujuan
Tujuan ditulisnya karya ini antara lain adalah sebagai berikut:
• Mengikuti Lomba Karya Tulis Peningkatan Keimanan dan Ketaqwaan (IMTAQ)
Siswa (Integrasi IMTAQ-IPTEK) bagi Guru SD/SMP/SMA/SMK/SLB yang
diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah.
• Melakukan usaha awal upaya pengintegrasian IMTAQ – IPTEK.
• Membuat suatu rumusan materi pelajaran reproduksi yang terintegrasi dengan
IMTAQ.

1.4 Manfaat
Manfaat yang ingin diperoleh antara lain adalah:
• Mengetahui mukjizat ilmiah Al-Qur’an dalam kaitannya dengan reproduksi.
• Meningkatkan pengalaman mengajar inovatif.
• Memberi masukan pentingnya pengintegrasian IMTAQ – IPTEK dan strategi
pelaksanaannya kepada pendidikan nasional.

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 3


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Materi Ajar Reproduksi


Materi reproduksi SMA meliputi: (1) reproduksi dan pemencaran tumbuhan, (2)
reproduksi hewan, dan (3) reproduksi manusia. Secara ringkas ikhtisar/peta materi
ajar reproduksi untuk SMA yang disarikan dari Susilarini dkk. (tanpa tahun) dan
Pratiwi dkk. (2000) adalah sebagai berikut:

SISTEM REPRODUKSI
PENGERTIAN
TUJUAN
Tumbuhan Hewan Manusia
Reproduksi Vegetatif Reproduksi aseksual Reproduksi pria
Alami Pembelahan Organ reproduksi
Membelah diri Sporulasi Testis
Fragmentasi Tunas Saluran reproduksi
Stolon Fragmentasi Epididimis
Umbi batang Regenerasi Vas deferens
Rizoma Reproduksi seksual Kelenjar kelamin
Umbi lapis Tanpa pembuahan Uretra
Tunas adventif Pseudoseksual Penis
Spora Parthenogenesis Hormon reproduksi
Buatan Dengan pembuahan LH
Stek Hermaprodit FSH
Cangkok Testosteron
Menyambung Spermatogenesis
Okulasi Reproduksi wanita
Merunduk Organ reproduksi
Kultur jaringan Ovarium
Reproduksi Generatif Fimbriae
Penyerbukan Tuba falopi
Agen Uterus
Anemogami Vagina
Hidrogami Hormon
Zoidiogami Estrogen
Anthropogami Progesteron
Asal serbuksari LH
Autogami FSH
Geitonogami HCG
Alogami Laktogen
Bastar Relaksin
Pembuahan Prostagladin
Tunggal Oksitosin
Ganda Kehamilan dan kelahiran
Pemencaran tumbuhan Keluarga berencana
Secara aktif Pria
Bagian vegetatif Kondom
Letupan Fasektomi
Gerak higroskopis Wanita
Secara pasif Pil
Anemokori Spiral
Hidrokori Suntik
Zookori Implan
Anthropokori Tubektomi

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 4


2.2 Nilai-nilai IMTAQ dalam Materi Ajar Reproduksi
Menurut Agustami (2002), iman adalah keyakinan dalam hati mengenai ke-Esa-
an dan ke-Mahakuasa-an Allah yang diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan melalui
amal perbuatan yang baik. Sedangkan taqwa adalah sikap batin dan perilaku
seseorang untuk tetap konsisten melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi
larangan-larangan-Nya. Menurut pengertian itu, ada beberapa nilai-nilai IMTAQ
yang perlu diintegrasikan dalam materi ajar reproduksi SMA, antara lain bahwa (1)
semua makhluk telah diciptakan dan diatur oleh Allah, (2) fenomena reproduksi
menunjukkan kebesaran Allah, Sang Pencipta, (3) Allah kuasa menghidupkan dari
kematian dan mematikan dari kehidupan, (4) semua ciptaan Allah telah direncanakan
secara matang dan dengan perhitungan sempurna, (5) pengetahuan yang benar
terhadap fungsi reproduksi akan membentengi perilaku seseorang, dan (6) Islam
adalah agama paripurna.

2.2.1 Semua Makhluk Telah Diciptakan dan Diatur oleh Allah


Allah berfirman, yang artinya:
”Kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di
atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah serta menumbuhkan berbagai macam
tumbuh-tumbuhan yang indah.” (al-Hajj: 5).
“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-
buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang
mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka
mengapa kamu masih berpaling?” (al-An’aam: 95).
Ayat Al-Qur’an di atas telah dengan jelas menyebutkan bahwa tiap-tiap makhluk
telah diciptakan Allah dari bumi yang kering melalui berbagai macam proses dan
persenyawaan. Allah menciptakan Makhluk-Nya dengan dua cara yaitu dari
ketiadaan menjadi ada dan dari makhluk-makhluk sebelumnya melalui proses
reproduksi.
Menurut Al-Ghazali (2003), biji-bijian mengandung hikmah penciptaan tiada
tara. Biji-bijian tumbuhan diciptakan dengan kelengkapan keamanan yang kuat pada
kulitnya, dan mengandung benih yang dapat tumbuh. Sistim keamanan tersebut

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 5


memungkinkan biji-bijian dapat bertahan pada keadaan lingkungan yang buruk,
disimpan dalam waktu lama, dan menyebarkan tumbuhan ke tempat jauh. Dengan
demikian, biji-bijian seolah-olah harta yang sangat berharga dan akan muncul pada
waktu diperlukan.
Kelengkapan biji setelah kulit adalah endosperma dan lembaga. Endosperma
adalah jaringan penyimpan makanan selama pertumbuhan biji. Lembaga adalah
bagian yang tumbuh menjadi suatu tumbuhan. Ujung bawah lembaga disebut
hipokotil, membentuk akar pertama. Ujung atasnya disebut epikotil, membentuk daun
dan batang. Selain itu, lembaga juga dilengkapi dengan daun lembaga atau kotiledon
yang berfungsi sebagai penyimpanan atau pencernaan makanan yang akan digunakan
untuk pertumbuhan awal kecambah, atau berfungsi ganda untuk pencernaan sekaligus
penyimpanan makanan (Fuller dalam Annonimous, 1988).
Mengenai penyebukan, Allah menjelaskan:
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan
Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu,
dan sekali-kali bukan kamu yang menyimpannya.” (al-Hijr: 22).
Demikianlah, Allah telah merancang alam ini dengan sangat sempurna.
Tetumbuhan tidak akan lestari hanya karena kekuatan tubuhnya, tetapi tetumbuhan
membutuhkan pula adanya proses penyerbukan untuk menghasilkan biji sebagai
suatu sarana kelestariannya. Proses penyerbukan adalah bertemunya serbuksari
(pembawa sel sperma tumbuhan) dengan kepala putik (organ reproduksi betina
tumbuhan). Salah satu sarana penyerbukan adalah angin. Penyerbukan dengan
perantara angin disebut anemogami (Pratiwi, dkk., 2000).
Tidak cukup hanya biji, untuk melestarikan jenisnya Allah telah menentukan
bahwa jumlah keturunan harus lebih banyak daripada jumlah tetuanya. Sebatang
tumbuhan mampu menghasilkan beribu-ribu benih selama hidupnya. Hal itu
ditujukan agar kemungkinan tumbuhan untuk lestari menjadi sangat besar.
Allah metegaskan bahwa semua makhluk telah diciptakan Allah melalui kalam-
Nya. Firman-Nya:
“Perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu hanya (dengan) berkata
kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (Yaa Siin: 82)

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 6


Begitu pula halnya pada makhluk Allah lainnya baik hewan maupun manusia
yang pada proses reproduksinya juga melalui tahapan dan semua sudah ditentukan
dan dikehendaki oleh Allah (Yaa Siin: 82). Pada intinya, reproduksi makhluk hidup
berjalan sesua dengan kodrat dan kehendak-Nya. Kesempurnaan proses tersebut akan
berlangsung dengan baik sepanjang mengikuti kaidah-kaidah alami, sehingga akan
terjaga keseimbangan alam itu sendiri.

2.2.2 Fenomena Reproduksi Menunjukkan Kebesaran Allah, Sang Pencipta


Apabila diperhatikan, semua makhluk hidup di bumi ini dalam keadaan
berpasang-pasangan. Ada jantan dan betina. Makhluk hidup jantan menghasilkan sel
gamet jantan yang disebut sperma. Makhluk hidup betina menghasilkan sel gemet
betina yang disebut ovum. Makhluk hidup baru akan muncul dari penyatuan sperma
dan ovum. Sperma dari makhluk jenis lain tidak akan dapat bersatu/membuahi ovum
dari jenis lain, sehingga terjadi keteraturan alam yang mantap.
Bahkan, Ash Shobuni (tanpa tahun) menjelaskan bahwa semua benda di alam ini
mengalami “perkawinan”. Contohnya, listrik memiliki muatan positif dan negatif.
Begitu pula di dalam atom terdapat proton dan netron yang masing-masing berada
dalam pasangan-pasangan. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan berpasang-pasangan semuanya,
baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari
apa yang tidak mereka ketahui.” (Yaa Siin: 36)
Allah juga menegaskan bahwa apa yang Ia ciptakan secara berpasang-pasangan
itu merupakan bukti kebesaran-Nya.
“Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat
(akan kebesaran Allah).” (adz-Dzariyaat: 49)
Apabila direnungkan secara lebih mendalam, keadaan berpasang-pasangan itu
memungkinkan berlangsungnya interaksi antara makhluk satu dengan lainnya. Dari
interaksi tersebut, timbullah kelangsungan seluruh komponen alam. Apabila siang
tidak ditutup dengan malam, bisa dipastikan bumi akan “mati”. Apabila tidak ada
elektron di dalam atom, maka tidak akan ada persenyawaan kimia yang menghasilkan
air, udara, tanah, bahkan seluruh makhluk hidup.

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 7


Dengan adanya interaksi seksual antar individu makhluk hidup jantan dan betina
timbullah variasi genetis dalam suatu populasi. Hal ini sangat penting untuk
menunjang kemampuan adaptasi makhluk hidup terhadap kondisi lingkungan yang
berubah-ubah. Selain itu, interaksi seksual akan menyebabkan munculnya varietas-
varietas atau ras-ras yang berlain-lainan. Demikian pula halnya dengan manusia.
Manusia diciptakan dengan perbedaan-perbedaan ras, suku, hingga bangsa. Tujuan
diciptakannya manusia beserta variasinya adalah agar manusia saling mengenal satu
sama lain seperti dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara
kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” (al-
Hujarat: 13).
Begitulah Allah, mengingatkan manusia akan kebesaran-Nya dengan sangat
ilmiah. Allah Maha Mengetahui kemampuan akal manusia. Manusia, dengan segala
kelebihan dan kekurangannya, dibekali akal sehingga dituntut oleh Penciptanya untuk
memikirkan gejala-gejala alam sehingga kebesaran Allah tampak begitu jelas
baginya. Dengan demikian, manusia akan selalu membenarkan firman Allah dan
mentaati segala peraturan-Nya.

2.2.3 Allah Kuasa Menghidupkan dari Kematian dan Mematikan dari


Kehidupan
Allah berfirman,
“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-
buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati
dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat demikian) ialah Allah, maka mengapa
kamu masih berpaling?” (al-An’aam: 95)
Menurut Abdushshamad (2003), makna ayat tersebut adalah Allah menguasai
perjalanan biji yang kering dan diam. Dengan kekuasaan-Nya, Dia mengadakan
kehidupan bagi keduanya (tetumbuhan dan kecambahnya), dan bernapas setelah

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 8


diamnya. Maka, kecambah mampu tumbuh dan akarnya menghujam ke bumi mencari
nutrisi untuk pertumbuhannya.
Ayat tersebut menunjukkan mukjizat Al-Qur’an dalam perkecambahan biji-
bijian. Biji-bijian itu bagaikan benda mati walaupun ia dihasilkan oleh makhluk
hidup. Akan tetapi, biji-bijian akan segera menjadi hidup dari masa mati/dormansinya
bila mendapatkan lingkungan yang sesuai, yang cukup air.
Dormansi biji-bijian memungkinkan spesies tumbuhan tertentu tahan hidup
selama periode tertentu ketika keadaan lingkungan merugikan. Misalnya, jika biji
tumbuh-tumbuhan di zona iklim sedang bersemi segera setelah biji-bijian ini menjadi
masak, semaian biji-bijian ini dapat mati karena suhu rendah pada akhir musim gugur
dan musim dingin. Agar kematian semaian biji-bijian tidak terjadi, diperlukan suatu
mekanisme dormansi. Biji-bijian ini menjadi dorman selama musim-musim dengan
kondisi lingkungan yang merugikan; sehingga perkecambahannya tertunda hingga
musim semi berikutnya. Pada masa itu, tidak akan ada bahaya kerusakan pada biji
karena suhu rendah. Dormansi biji tumbuhan di daerah-daerah dengan musim kering
berkepanjangan juga terbukti berguna. Dormansi ini dapat mencegah perkecambahan
biji pada permulaan musim kering, ketika keadaan kemarau dapat menyukarkan
semaian ini untuk bertahan hidup (Anonimous, 1988). Demikian, Allah telah
membekali biji dengan kelengkapan sempurna dan menjaganya dengan mekanisme
menakjubkan, yaitu dormansi.
Manusia hendaknya memperhatikan dan merenungkan bagaimana biji-bijian
diciptakan, kemudian ditumbuhkan pada saat yang tepat sehingga pertumbuhan dan
perkembangannya dapat berlangsung. Apabila direnungkan lebih dalam lagi firman
Allah di atas bermaksud memperingatkan manusia bahwa kehidupan sesudah mati itu
sangat mudah bagi Allah. Kehidupan setelah kematian pasti terjadi dan tiap-tiap
manusia akan merasakannya.

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 9


2.2.4 Semua Ciptaan Allah telah Direncanakan secara Matang dan dengan
Perhitungan Sempurna
Allah berfirman,
“Sesungguhnya Kami ciptakan segala sesuatu itu dengan ukuran-ukuran
tertentu.” (al-Qamar: 49)
Maka jelaslah bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu yang ada dengan
ukuran-ukuran yang sudah pasti dan matang. Kematangan rencana Allah dapat dilihat
dari kenyataan bahwa Allah tidak saja menciptakan makhluknya dari tiada menjadi
ada tetapi Allah juga menciptakan suatu sistem yang menjamin kelestarian ciptaannya
salah satunya ialah sitem reproduksi.
Di dalam sistem reproduksi terkandung sangat banyak hikmah penciptaan. Allah
berfirman di dalam surat al-Mu’minuun ayat 13 yang artinya:
“Kemudian kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim).
Bila air mani diartikan sperma dan tempat yang kokoh tersebut diartikan testis,
maka fakta kekokohan testis sangat sesuai dengan pernyataan ayat tersebut. Testis
diciptakan dengan konstruksi sempurna sehingga dapat memproduksi sekaligus
melindungi kelangsungan hidup sperma. Di dalam testis, sperma dijaga dan
dipelihara oleh sel khusus yang disebut sebagai sel sertoli. Sel sertoli mencukupi
seluruh kebutuhan sperma selama tahap pemasakan di dalam testis. Selain itu, sel
sertoli juga melindungi sperma dari “serangan” sel-sel imunitas karena struktur sel
sperma yang berbeda dengan sel tubuh sehingga terdeteksi sebagai sel asing oleh sel
imunitas. Testis membutuhkan suhu lebih rendah dari suhu tubuh untuk dapat
memproduksi sperma. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, testis dibungkus oleh
skrotum dengan struktur khasnya yang mempunyai permukaan berkerut. Permukaan
berkerut tersebut menyebabkan permukaan skrotum menjadi relatif lebih luas jika
dibandingkan dengan volumenya sehingga memungkinkan pelepasan suhu mejadi
lebih besar daripada apabila permukaan tersebut tidak berkerut. Dengan demikian
suhu testis menjadi lebih rendah dari suhu organ tubuh di sekitarnya.
Masih banyak hikmah reproduksi yang lain. Cukup kiranya hikmah-hikmah di
atas menjadi bahan renungan akan kesempurnaan ciptaan Allah.

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 10


2.2.5 Pengetahuan yang Benar terhadap Fungsi Reproduksi akan Membentengi
Perilaku Seseorang
Allah berfirman:
“Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan dari padanya
istri dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari
binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi
kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah,
Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia;
maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (az-Zumar: 6)
Ayat di atas menegaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah beserta
kebutuhannya. Dijelaskan pula bahwa kejadian manusia di dalam rahim diliputi oleh
tiga kegelapan. Disebut “kegelapan” karena selaput itu bersifat padat dan tidak dapat
ditembus oleh air, cahaya, atau panas. Selaput ini dikenal sebagai ruang amnion,
chorionic membrane, dan yolk sac. Selaput ini tidak dapat dilihat kecuali dengan
melakukan pengirisan secara detail dan hanya terlihat seperti sebuah selaput saja
apabila diamati dengan mata telanjang (Abdushsamad, 2003).
Di akhir ayat, Allah menegaskan bahwa hanya Dia-lah yang patut disembah.
Dengan diungkapnya rahasia alam kandungan sebelum para ilmuan menemukan fakta
itu, manusia seharusnya dapat meyakini keberadaan Allah, dan ia harus menyembah
hanya kepada-Nya.
Allah mengajak manusia untuk merenungkan penciptaannya sehingga dia sadar
akan dibangkitkan kembali kelak setelah kematiannya. Firman Allah:
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur)
sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes
mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang
sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada
kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu
yang sudah ditentukan. Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi.
Kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan
di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang
dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 11


pun yang dahulunya telah diketahuinya. Kamu lihat bumi ini kering, kemudian
apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah
serta menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (al-Hajj:
5).
Setelah manusia mengetahui proses penciptaannya yang penuh dengan
kesempurnaan, diharapkan manusia menjadi yakin akan datangnya hari kebangkitan.
Keyakinan akan datangnya hari kebangkitan akan mendorong seseorang untuk
menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Betapa tidak,
Allah akan membalas setiap perbuatan baik manusia dengan kebaikan dan membalas
keburukan dengan siksa. Kehidupan dunia ini hanyalah ujian bagi manusia apakah ia
akan berbuat baik atau buruk, sesuai dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang
bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan),
karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (al-Insaan: 2)
Setiap manusia akan diminta pertanggung-jawaban perbuatannya oleh Allah.
Allah selalu memperingatkan manusia dengan mengajak manusia untuk memikirkan
penciptaannya. Orang yang memahami penciptaannya dan reproduksi akan lebih
mengerti arti firman Allah berikut:
“Apakah manusia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?
Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan ke dalam rahim?” (al-
Qiyaamah: 36 – 37)
Dengan pengertian yang cukup akan dua ayat tersebut, siswa diharapkan untuk dapat
berpikir secara logis dan dewasa tentang resiko hubungan seksual pranikah dan
konsekuensi moral yang dapat menjadikan beban hidupnya. Dengan demikian, siswa
dapat memahami bahwa diperlukan suatu kematangan sikap dan perilaku untuk
mengadakan hubungan dengan lawan jenis yaitu melalui pernikahan sehingga
hubungan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

2.2.6 Islam adalah Agama Paripurna


Kandungan al-Qur’an meliputi hukum-hukum, kisah orang terdahulu, ramalan
masa depan, hingga ilmu pengetahuan. Hukum-hukum di dalam al-Qur’an al-Karim

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 12


sangat sesuai dengan fitrah manusia bahkan semua gejala alam, kecuali hal-hal yang
tidak diketahui manusia karena keterbatasan pemikirannya sehingga “tampak tidak
sesuai”.
Khusus masalah reproduksi manusia, Islam telah membuat peraturan dan
batasan-batasan yang sangat sesuai dengan kemuliaan manusia itu sendiri.
Reproduksi manusia harus dilakukan dengan jalan pernikahan.
Allah berfirman,
“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang engkau senangi dua, tiga, atau
empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (kawinilah)
seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki.” (an-Nisa’: 3)
Allah berfirman,
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu serta orang-
orang yang layak (untuk menikah, kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang
laki-laki maupun hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin,
Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas
(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (an-Nuur: 32)
Nabi saw. bersabda,
“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian memiliki kemampuan untuk
menikah, maka menikahlah. Karena sesungguhnya hal itu dapat mencegah
pandangan mata kalian dan kehormatan kalian. Sedang bagi siapa yang belum
mampu, maka hendaknya ia berpuasa, dan puasa itu adalah perisai baginya.”
(HR. Bukhari, Muslim)
Ayat-ayat al-Qur’an dan hadist Nabi di atas telah jelas mensyariatkan
pernikahan. Dijelaskan pula bahwa pernikahan akan mengantar pelakunya kepada
terjaganya pandangan mata dan kehormatan. Bahkan Rasulullah pernah bersabda:
“Jika seorang hamba menikah, maka sesunggunnya ia telah menyempurnakan
setengah dari agamanya. Oleh karena itu, bertaqwalah kepada Allah untuk
menyempurnakan sebagian yang lainnya.” (HR. Baihaqi)
Begitulah Islam mengatur perihal reproduksi sesuai dengan fitrah pemeluknya.
Kemuliaan pernikahan yang lain dijelaskan oleh Allah sebagai berikut:

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 13


“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-
isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya. Dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih saying.” (ar-Ruum: 21)
Begitu lengkapnya ajaran Islam, sehingga masalah-masalah yang berkaitan
dengan reproduksi dapat terjawab. Permasalahan tersebut antara lain Keluarga
Berencana (KB), bayi tabung, dan aborsi.
Di dalam Ensiklopedi Islam (2002) dijelaskan bahwa hukum keluarga berencana
adalah halal, kecuali KB yang bersifat permanen bila tidak ada alasan-alasan kuat
untuk melakukannya. Keluarga berencana bertujuan untuk mengatur kelahiran
sehingga tercipta keluarga sejahtera, baik fisik dan mental maupun sosial ekonomi.
Dalam pengertian ini, keluarga berencana merupakan usaha pembentukan generasi
yang tangguh. Dengan demikian, program ini dianjurkan oleh ajaran Islam. Allah
berfirman:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya
meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka
khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka
bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang
benar.” (an-Nisaa’: 9).
Cara ber-KB yang pernah dilakukan pada jaman Rosulullah adalah senggama
terputus (coitus interuptus). Muslim meriwayatkan: “Dari Jabir, ia berkata: “Kami
melakukan ‘azl (senggama terputus) pada masa Rosulullah SAW. Apa yag kami
lakukan itu beritanya sampai kepada Nabi SAW, tetapi beliau tidak melarang kami.”
Cara KB lainnya adalah pantang berkala (menghindari hubungan seksual pada masa
subur wanita); cara kontrasepsi sederhana dengan obat atau alat (krem, jeli cairan
berbusa, kondom, diafragma); dan cara kontrasepsi efektif yang bersifat sementara
(pil, IUD atau spiral, dan suntikan). Hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian
alat atau obat kontrasepsi adalah perintah Allah untuk memelihara pandangan dan
kemaluan (an-Nuur: 30 – 31), yaitu pemasangan alat/obat KB pada kemaluan
dilakukan sendiri atau oleh suami/istrinya sendiri.

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 14


Cara ber-KB secara permanen (vasektomi dan tubektomi) diharamkan oleh
ajaran Islam. Cara-cara tersebut dapat disebut sebagai pengebirian yang tidak
dibenarkan oleh Nabi. Rosulullah bersabda:
“Tidaklah termasuk golongan kami (umat Islam) orang yang mengebiri orang
lain atau mengebiri dirinya sendiri.” (HR. Tabrani).
Keadaan alat reproduksi yang tidak sempurna akan menyebabkan
ketidakmungkinan pertemuan antara sel sperma dan sel telur, sehingga pasangan
suami istri tidak mungkin memperoleh keturunan. Untuk memperoleh keturunan,
bayi tabung merupakan salah satu – setidaknya dewasa ini adalah satu-satunya –
alternatif pemecahan yang tepat. Munculnya teknologi bayi tabung mengundang
berbagai pendapat ulama dan timbulnya pertentangan. Salah satu pendapat yang
menghalalkannya adalah Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majlis Tarjih (1993)
dengan syarat sperma dan ovum kedua-duanya berasal dari pasangan nikah yang sah.
Rakhmat (1991) menambahkan syarat bayi tabung: (1) sperma harus berasal dari
suami saat mereka sudah menikah (sperma suami yang diambil sebelum pernikahan
tidak boleh digunakan) dan suami belum meninggal, dan (2) embrio yang terbentuk
harus di tanamkan pada rahim istri (wanita yang menghasilkan sel telur yang dibuahi
itu). Dengan syarat-syarat seperti itu maka bayi tabung halal menurut Islam.
Mengenai aborsi, Muktamar Tarjih Muhammadiyah XXII 1989 dalam Pimpinan
Pusat Muhammadiyah Majlis Tarjih (1993) memutuskan bahwa aborsi dengan
alasan-alasan untuk melindungi keselamatan atau kesehatan ibu waktu hamil dan
melahirkan (abortus provocatus medicinalis) adalah boleh untuk dilakukan. Tetapi,
aborsi yang dilakukan dengan sengaja (abortus provocatus kriminalis) haram untuk
dilakukan. Salah satu dasar dari keputusan itu adalah firman Allah:
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan.
Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu.
Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (al-Isra’: 31)

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 15


2.3 Strategi Pengintegrasian IMTAQ – Reproduksi
2.3.1 Pengintegrasian IMTAQ – Reproduksi melalui Tatap Muka di Kelas
Melalui tatap muka di kelas, pengintegrasiaan nilai-nilai IMTAQ dapat
dijelaskan dengan memaparkan terlebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan
reproduksi (sesuai dengan kurikulum yang berlaku), kemudian menyisipkan ajaran
Islam yang berkaitan dengan masing-masing topik bahasan. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam hal ini adalah tingkat pemahaman siswa. Teori-teori yang cukup
rumit akan membingungkan siswa. Guru sebaiknya menyampaikan teori-teori
sederhana sehingga dapat dipahami dengan mudah oleh siswa. Siswa kelas dua SMA
umumnya belum mempunyai pengetahuan mendalam tentang kloning, DNA atau
kromosom, atau protein-protein tertentu yang berkaitan dengan reproduksi.
Pengetahuan tersebut akan mereka dapatkan di kelas tiga dan tingkat pendidikan yang
lebih tinggi (perguruan tinggi). Namun, teori-teori dasar yang berkaitan dengan hal
tersebut dapat disampaikan secara sederhana untuk menambah pengetahuan mereka.
Penugasan terstruktur dapat diberikan kepada siswa untuk menguji atau
menambah pengetahuan mereka. Tugas-tugas itu dapat berupa soal atau pembuatan
karya tulis untuk lebih mendalami materi yang disampaikan melalui tatap muka di
kelas. Misalnya: siswa diberikan tugas untuk menuliskan sekaligus menjelaskan ayat-
ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan penyerbukan.
Tugas yang telah dikerjakan oleh siswa hendaknya diperiksa agar guru
mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan.
Kemudian, tugas tersebut dikembalikan kepada siswa sebagai bahan pelajaran
pribadinya agar mereka mengetahui kesesuaian hasil pekerjaan mereka. Untuk
mendukung kesesuaian hasil pekerjaan, guru perlu menjelaskan jawaban atau hasil
pekerjaan yang tepat.
Pembahasan tentang seksualitas remaja (pendidikan seks) perlu disampaikan agar
siswa dapat mengetahui seksualitas dengan lebih jelas sehingga mempunyai
pertimbangan positif apabila mereka akan melakukan hubungan seks. Dengan
pertimbangan positif tersebut, siswa diharapkan dapat menghindari hubungan seksual
sebelum pernikahan. Dengan itu pula, mereka diharapkan bisa melakukan hubungan
seks secara sehat apabila telah menikah.

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 16


Menurut Rahman dan Fachrudin dalam PKBI (2000) pendidikan seksual
mempunyai pengertian Pendidikan seks adalah perlakuan proses sadar dan sistematis
di sekolah, keluarga dan masyarakat untuk menyampaikan proses perkelaminan
menurut agama dan yang sudah ditetapkan oleh masyarakat. Pendidikan seks di
sekolah mempunyai ruang lingkup (1) penciptaan manusia oleh Allah (proses
kejadian manusia mulai dari pembuahan), (2) perkembangan laki-laki dan perempuan
(secara fisik dan psikis), (3) kemampuan personal, (4) perilaku kekelaminan,
(5) kesehatan seksual, (6) peran keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah, dan
(6) problema dan tantangan dalam perkembangannya. Sedangkan informasi yang
dapat diberikan mencakup: tentang masalah reproduksi, proses kelahiran, KB,
perilaku menyimpang, kejahatan seks, perlindungan hukum. Pendidikan seks juga
bisa diberikan dalam kegiatan OSIS seperti program Keputrian, Keputraan, Pesantren
Kilat, Retreat, dan lain sebagainya.

2.3.2 Pengintegrasian IMTAQ – Reproduksi Melalui Media Audio Visual


Seiring dengan kemajuan teknologi, penjelasan terhadap meteri pelajaran sekolah
telah dapat dilakukan melalui media audio visual. Media ini dapat berupa VCD.
Beberapa VCD tentang reproduksi telah beredar luas, di antaranya ialah Keajaiban
Penciptaan Manusia yang diproduksi dan diedarkan oleh PT. Nada Cipta Raya,
Jakarta. VCD ini memaparkan proses penciptaan manusia di dalam rahim. Cerita di
dalamnya meliputi rancangan sempurna penciptaan sperma, perjalanan sel-sel gamet
(sprema dan ovum), perkembangan embrio dan janin, dan perkembangan beberapa
organ vital manusia. VCD ini juga berisi ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan
reproduksi manusia, perintah-perintah Allah untuk memikirkan dan merenungkan
kejadian manusia, serta peringatan Allah akan hari akhir. Walaupun disajikan dengan
sangat sederhana, aka tetapi VCD ini sangat membantu untuk memberikan gambaran
lebih jelas tentang reproduksi manusia.

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 17


2.3.3 Rambu-rambu Pengintegrasian IMTAQ – Reproduksi
Dalam usaha pengintegrasian IMTAQ ke dalam materi ajar reproduksi perlu
adanya beberapa batasan agar dapat mencapai tujuan dan sasaran yang telah
direncanakan. Dengan adanya batasan-batasan ini, selain keimanan siswa dapat
meningkat, peningkatan tersebut diharapkan masih berada di dalam ridho Allah.
Dengan kata lain hal-hal yang bisa menjurus kepada syirik, penyamaan Allah dengan
makhluk-Nya, dan penjelasan yang terlalu vulgar harus dihindari dalam usaha
memberikan pemahanan tentang reproduksi kepada siswa.
Sangat tegas firman Allah dalam surat al-Ikhlas ayat 1 – 4,
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”. Allah tempat meminta. Tiada
beranak dan tiada diperanakkan, dan tiada sesuatu pun yang setara dengan-
Nya.
Allah itu Maha Esa yang tidak ada sekutu baginya dan tidak ada tuhan lain yang patut
disembah selain Allah. Dia-lah tempat meminta segala sesuatu dengan kata lain Dia-
lah tempat segala makhluk bergantung. Dia juga tidak beranak tiada pula
diperanakkan seperti makhluk ciptaan-Nya, karena itu tidak ada sesuatupun yang
menyerupai-Nya. Sebagian makhluk Allah dibekali sifat beranak dengan jalan
reproduksi agar jenisnya dapat lestari di muka bumi ini, termasuk manusia.
Dalam menjelaskan reproduksi manusia Allah mengajarkan penjelasan dengan
perkataan yang penuh dengan sopan santun tetapi cukup memberikan gambaran bagi
sesuatu hal yang dijelaskan. Beberapa ayat al-Qur’an berikut berisi penjelasan
sekaligus peraturan Allah bagaimana seharusnya manusia melakukan kegiatan
reproduksinya.
“Mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi
mereka.” (al-Baqarah: 187).
Kata “pakaian” diartikan oleh Imam Baidawi (dalam Al-Istanbuli, 2002) sebagai
hubungan suami isteri (persetubuhan). Pakaian suami adalah sesuatu yang menutupi
sekujur tubuhnya demikian pula halnya dengan pakaian isteri. Dalam arti kata yang
lain pakaian bisa diartikan sebagai sesuatu hal yang melindungi pemakainya dari
sengatan matahari dan udara dingin serta sebagai penghias tubuh dengan menutupi
rahasia-rahasia yang tidak boleh orang lain mengetahuinya. Suami isteri seharusnya

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 18


dapat menjadi pelindung serta menjaga rahasia pasangannya, sehingga menjadi
amanlah ia dan tampak indah oleh orang lain. Demikian, Allah mengibaratkan dengan
perkataan yang penuh sopan-santun namun sangat tepat bagi sepasang suami isteri.
“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka
datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu
kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah
kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah
kabar gembira orang-orang yang beriman.” (al-Baqarah: 223).
Al-Qur’an menggambarkan bahwa seorang isteri itu adalah tanah tempat suami
bercocok tanam, tempat yang subur untuk proses pertumbuhan, tempat memperoleh
keturunan. Gambaran yang diberikan Allah di dalam al-Qur’an meletakkan wanita
(isteri) laksana tanah subur yang disiapkan untuk dibajak dan ditanami benih
pemiliknya agar berbuah. Tanah tersebut juga harus dijaga oleh pemiliknya dari
gangguan hama dan rumput-rumput liar agar didapatkan hasil yang baik.
Cara-cara yag paling baik telah dicontohkan oleh Allah melalui kalam-Nya yang
suci, al-Qur’an. Contoh-contoh tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam
memberikan pendidikan reproduksi kepada siswa. Dengan perkataan yang baik, siswa
tidak akan berpikiran negatif yang justru dapat menimbulkan rasa penasaran.
Ada kemungkinan beberapa siswa mendapatkan masalah seksual baik yang
menyangkut dirinya sendiri maupun hubungan dengan lawan jenisnya. Masalah-
masalah ini dapat dijelaskan di depan kelas, misalnya masalah menstruasi, ada pula
yang harus dijelaskan atau diselesaikan di tempat rahasia sehingga siswa lebih
terbuka dan penyelesaian masalah menjadi lebih aman dan tuntas, misalnya siswa
yang telah melakukan hubungan seksual pranikah.

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 19


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Nilai-nilai IMTAQ yang perlu diintegrasikan ke dalam materi ajar reproduksi
SMA antara lain (1) semua makhluk telah diciptakan dan diatur oleh Allah, (2)
fenomena reproduksi menunjukkan kebesaran Allah, Sang Pencipta, (3) Allah kuasa
menghidupkan dari kematian dan mematikan dari kehidupan, (4) semua ciptaan Allah
telah direncanakan secara matang dan dengan perhitungan sempurna, (5) pengetahuan
yang benar terhadap fungsi reproduksi akan membentengi perilaku seseorang, dan (6)
Islam adalah agama paripurna.
Penanaman nilai-nilai tersebut dapat dilakukan melalui (1) tatap muka di kelas,
(2) penugasan, dan (3) kegiatan ekstra kurikuler. Media audio visual dapat digunakan
sebagai pendukung kegiatan di kelas. Hal-hal yang bisa menjurus kepada syirik,
penyamaan Allah dengan makhluk-Nya, dan penjelasan yang terlalu vulgar harus
dihindari dalam usaha memberikan pemahanan tentang reproduksi.

3.2 Saran
Perlu adanya pendidikan dan latihan bagi guru untuk meningkatkan pengetahuan
mengenai pendidikan seks di sekolah. Dengan pengetahuan yang cukup tentang
perkembangan dan permasalahan seksualitas remaja, guru diharapkan mampu
memberikan pemahaman seksual kepada siswa. Siswa yang paham akan
seksualitasnya akan membentengi diri dari perilaku seksual menyimpang sehingga
masalah-masalah seksual – misalnya kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit
menular seksual, dan beban mental yang menyertainya – dapat dihindari.

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 20


DAFTAR PUSTAKA

Abdushshamad, M.K. 2003. Mukjizat Ilmiah dalam Al-Qur’an. Diterjemahkan oleh


Alimin, Ihsan, G., dan Hamdan, U. Akbar Media Eka Sarana. Jakarta. 396
hal.

Agustami. 2002. Keseimbangan Peningkatan Imtak dengan Pengasaan Iptek. PT.


Dian Ariesta. Jakarta. Hal: 8.

Al-Ghazali. 2003. Sapaan Alam. Tafakur Al-Ghazali atas Fenomena Alam.


Diterjemahkan oleh Sudiatno, A. Penerbit IIMaN. Jakarta. Hal. 137.

Al-Istanbuli, M.M. 2002. Kado Perkawinan. Diterjemahkan oleh Ibnu Ibrahim.


Pustaka Azzam. Jakarta. 564 hal.

Anonimous. 1988. Ilmu Pengetahuan Populer. Jilid 6. Edisi ketiga Bahasa Indonesia.
Grolier International, Inc. Hal: 126 – 127.

Anonimous. 2002. Ensiklopedi Islam. Jilid 3. PT Ichtiar Baru van Hoeve. Jakarta.
Hal: 27 – 29.

Ash Shabuni. Tanpa tahun. Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis. Diterjemahkan oleh Nur,
M.Q. Pustaka Amani. Jakarta.

Karimi, S. 1993. http://www.isnet.org/archive-milis/dec93/part9/0088.html. Diakses


tanggal 13 Juli 2004.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majlis Tarjih. 1993. Himpunan Putusan Tarjih


Muhammadiyah. Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Jember
Majlis Tarjih.

PKBI. 2000. Prosiding Seminar: Perlukah Pendidikan Seks Bagi Remaja. PKBI.
Jakarta. Hal. 4.

Pratiwi, D.A., Maryati, Srikini, Suharno, dan Bambang. 2000. Buku Penuntun
Biologi untuk SMU Kelas 2. Penerbit Erlangga. Jakarta. Hal 221 – 247.

Rakhmat, J. 1991. Islam Alternatif: Ceramah-ceramah di Kampus. Penerbit Mizan.


Bandung. Hal. 150 – 151.

Ristek. Tanpa tahun. Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2001-2005. http://


www.ristek.go.id/referensi/hukum/prop_bab5.htm. Diakses tanggal 08
Agustus 2004.

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 21


Seno, P.A. 1996. http://www.suaramerdeka.com/harian/0111/26/nas17.htm. Diakses
tanggal 13 Juli 2004.

Susilarini dkk. tanpa tahun. Pista (Pelatihan Intensif Siswa Terampil dan Aktif)
Biologi Kelas 2 Semester 4 SMU. CV. Seti-Aji. Surakarta. hal 49 – 56.

Wibowo, A. 2001. Permasalahan Reproduksi Remaja dan Alternatif Jalan Keluarnya.


http://www.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/ma61permasalahan.html. Diakses
tanggal 13 Juli 2004.

Integrasi IMTAQ ke dalam Materi Ajar Reproduksi untuk SMA 22