Anda di halaman 1dari 5

Cara dan Solusi Mengatasi Kemacetan di Kota Jakarta

Jakarta adalah kota yang super macet. Sebagai contoh dari Thamrin ke Otista
yang jaraknya hanya sekitar 13 km perjalanan dengan kendaraan mobil bisa
mencapai 2 jam lebih. Bahkan kalau hujan bisa 3 jam lebih. Kalau anda bekerja di
Jakarta dan rumah jauh di pinggiran, anda bisa menghabiskan waktu 3-5 jam lebih
di jalan.

Jakarta merupakan kota terbesar di Indonesia, berdasarkan catatan resmi catatan


sipil, tahun 2007, jumlah penduduk Jakarta adalah 7.706.392 jiwa, sedangkan
berdasarkan perkiraan, pada siang hari, penduduk Jakarta bisa mencapai 12 juta
jiwa. Mobilitas penduduk Jakarta yang sangat cepat dan massal ini membutuhkan
dukungan infrastuktur transportasi yang modern dan massal pula. pengertian
modern dan massal di sini adalah sebuah system transfortasi yang cepat, aman,
efisien, dan berkapasitas menampung banyak orang.
Persoalan Transportasi di Jakarta
Konfigurasi dari persoalan pokok transportasi di Jakarta adalah kapasitas jalan
tidak sebanding dengan jumlah kendaraan (pribadi dan umum) yang
menggunakannya. jumlah kendaraan yang beroperasi di jalan-jalan Jakarta untuk
tahun 2007 dihitung sebanyak 7.773.957 yang terdiri dari; kendaraan sepeda
motor 5.136.619 unit, mobil sebanyak 1.816.702 unit, kendaraan bus berjumlah
316.896, dan 503.740 untuk jenis kendaraan lainnya. Dari total tersebut,
kendaraan umum hanya berjumlah 2% dari seluruh kendaraan dijakarta. Rasio
perbandingan kendaraan pribadi dan kendaraan umum adalah 98% berbading 2%,
sebuah perbandingan dari volume penggunaan jalan yang didominasi kendaraan
pribadi. Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bambang Susantono,
mengacu pada kajian Study on Integrated Transportation Master Plan for
Jabodetabek (SITRAMP 2004), menyebutkan kerugian akibat kemacetan lalu-
lintas di DKI Jakarta mencapai Rp 8,3 triliun.
Solusi Kemacetan: Sistem Transportasi
Untuk mengatasi kemacetan di Jakarta, sekaligus untuk menyiapkan sebuah
sistem transportasi modern dan massal, tidak akan mungkin berhasil, jika jumlah
kendaraan pribadi tidak dikurangi. Pemerintah bisa mengurangi kendaraan pribadi
(sekaligus mengurangi emisi dan menghemat BBM) dengan jalan; pertama
menaikkan pajak impor kendaraan mewah hingga 200%. Selain itu, pemerintah
perlu untuk mempertimbangkan pajak progressif kepada orang-orang kaya
dijakarta, sebagai solusi pembiayaan untuk pembangunan sistem transportasi.
Pihak kepolisian juga harus aktif memburu dan membongkar sindikat
penyelundupan mobil mewah dari luar negeri. Kedua Jalan yang lain untuk
mengurangi jumlah kendaraan pribadi adalah pembatasan premium/BBM bagi
jenis kendaraan pribadi di SPBU-SPBU. Ketiga membatasi penggunaan
kendaraan plat merah diluar jam dinas/kantor, serta kewajiban kendaraan pribadi
untuk jadi transportasi umum (seperti di Cuba).
Penggunaan sistem busway, selamanya tidak akan menjadi efektif, jika
pemerintah tidak berani mengurangi porsi kendaraan pribadi di jalan raya.
Pemerintah juga harus mengurangi tingkat penggunaan kendaraan bermotor dan
pembuatan jalur khusus bagi kendaraan bermotor. Sistem transportasi publik
harus ditanggung oleh Negara, sehingga dalam penyediaan pelayanan (service)
bisa dengan harga lebih murah dan terjangkau oleh semua lapisan sosial
masyarakat. Untuk langkah membangun sistem transportasi modern dan massal
dimasa depan, pemerintah harus memfokuskan anggaran Dep. Perhubungan pada
pembelian/pembuatan sistem transportasi seperti pembangunan BRT (bus rapid
transit), MRT (mass rapid transit), atau subway (kereta bawah tanah).
Sumber pembiayaan untuk mewujudkan itu semua bisa diusahakan dari; pertama
pemerintah harus berani untuk melakukan tindakan politik untuk penghapusan
utang luar negeri (haircut debt), seperti yang dilakukan oleh pemerintahan
Argentina dan Nigeria. Dilaporkan bahwa jumlah dari bunga (Rp 91 triliun) dan
cicilan pokok (Rp 59,6 triliun ) utang yang harus dibayarkan oleh negara di tahun
2008 mencapai nilai 150-an trilyun rupiah. Kedua pemerintah bisa memacu
penerimaan perusahaan pertambangan asing dengan jalan nasionalisasi atau
skema bagi keuntungan yang seimbang, tidak merugikan pihak Indonesia. ketiga
pemerintah memaksimalkan proses peradilan terhadap koruptor dan pengejaran
hartanya untuk diserahkan kepada Negara, terutama soeharto dan kroninya.
Keempat pemerintah harus berani menarik surat obligasi perbankan yang
diselewengkan oleh obligor nakal. Kelima pemerintah menaikkan pajak impor
kendaraan mewah dan pajak progressif bagi orang kaya

Sudah saatnya pemerintah memeriksa titik-titik kemacetan dan memperlebar jalur


di sana. Jika perlu melakukan penggusuran.

Selain hal di atas ada baiknya pemerintah menambah armada angkutan besar
seperti bis dan kereta api sehingga kepadatan penumpang di bis dan di kereta api
bisa dikurangi. Kereta api Jabotabek misalnya, penumpang berjubel bukan hanya
sampai ke pintu, tapi ada yang duduk di atap kereta. Kereta baru lewat setiap 15
menit sekali. Jika pemerintah bisa menambah gerbong hingga kereta lewat tiap 5
menit sekali, ini akan mengurangi kepadatan penumpang dan menambah
kenyamanan. Jika ini dilakukan, maka kemacetan juga dikurangi.

Pelebaran dan pendalaman kali Ciliwung dan kali-kali lainnya bisa membuat
sungai yang ada di Jakarta sebagai jalan baru tanpa harus menggusur perumahan.
Sekaligus juga mengurangi banjir karena daya tampung sungai jadi lebih besar.
Solusi ini lebih murah daripada solusi monorail yang mencapai lebih dari 7 trilyun
rupiah dan hanya mengcover daerah segitiga Sudirman, Gatot Subroto, dan
Kuningan.

Satu ide lagi, tidak ada salahnya jika pagi jam 7-9 jalan tol dari Cawang-
Semanggi dijadikan satu arah hanya ke arah Semanggi saja. Karena pada pagi hari
yang ke arah Semanggi begitu padat dan macet sementara arah sebaliknya sangat
lengang. Tidak pakai jalan tol juga lancar. Sebaliknya ketika jam pulang kantor,
jam 5-7 sore jalan tol dibuat 1 arah hanya ke arah Cawang. Dengan cara ini
minimal kemacetan di jalan Gatot Subroto, Mampang, dan Sudirman bisa
dikurangi.

Pemerintah juga harus membangun jalan layang di berbagai perempatan yang


ramai dan macet sehingga kemacetan karena lampu merah bisa dikurangi. Sekali
lagi cara ini lebih murah ketimbang membangun monorail yang memakan biaya
trilyunan rupiah.

Alternatif yang lebih ekstrim adalah memindahkan ibukota dari Jakarta. Konon
presiden Soeharto ingin memindahkan ibukota ke Jonggol sehingga pengusaha
real estate Ciputra terlebih dulu sudah membuat perumahan di dekat Jonggol.
Namun karena lengser rencana itu tidak terlaksana. Lebih baik lagi jika ibukota di
pindah ke daerah yang kurang penduduknya seperti di Kalimantan sehingga
penduduk pulau Jawa yang sangat padat bisa tersedot sebagian ke sana. Silahkan
baca ini:

Lebih dari 80% uang yang ada beredar di Jakarta. Tak heran jika Jakarta terus
bertambah padat bahkan saat ini jumlah penduduknya yang 8,7 juta jiwa (data
tahun 2004) mengalahkan jumlah penduduk kota New York (8,1 juta). Ini karena
Jakarta memonopoli semua kegiatan baik politik, ekonomi, budaya, dan
sebagainya.

Amerika Serikat meski terjadi kemacetan namun berhasil mendistribusikan


penduduknya sehingga tidak menumpuk di ibukota. Washington DC yang
merupakan ibukota hanya menempati urutan ke 27 kota terpadat dengan jumlah
penduduk sekitar 550 ribu jiwa. Sementara New York yang merupakan pusat
bisnis di urutan pertama dengan 8,1 juta jiwa dan Los Angeles yang merupakan
pusat hiburan di urutan ke 2 dengan jumlah penduduk 3,8 juta jiwa.

Pemprov DKI mengeluarkan kebijakan sekolah masuk pukul 06.30 WIB mulai
Januari 2009. Karena katanya anak sekolah menyumbang 14% kemacetan di
Jakarta. Satulagi katanya, dengan memajukan jam belajar anak-anak sekolah akan
lebih fresh.

Bisa saja memajukan jam belajar, anak2 sekolah yang mengendarai kenderaan
dan para orang tua akan mengantar lebih awal anak2 nya yang pergi sekolah. tapi
apakah ini juga akan mengurangi kemacetan?, Padahal secara umum anak2
bersekolah dekat dengan pemukimannya sendiri. Sementara kemacetan yang
parah adalah dipusat bisnis.

Bila pemerintah ingin memajukan jam aktivitas, sebaiknya untuk para Pegawai
Pemerintahan, pelayan masyarakat lah yang pantas mesti masuk lebih awal,
karena selain dengan bangun lebih awal badan jadi sehat, segar, pikiran tenang
dan semua bentuk pelayanan sudah disiapkan hingga saat masyarakat datang
minta pelayanan tidak menyambutnya dengan muka kusut, kusam apalagi
kelelahan karena capek di kemacetan.
Mengingat tingginya kepemilikan kenderaan pribadi menurutku pemerintah bisa
membuat aturan batasan umur kenderaan misalkan maksimum 15tahun,
selebihnya pihak kepolisian tidak memperpanjang surat2 kenderaan tsb dan pada
akhirnya jadi barang rongsokan (skraf) atau, jika kenderaan itu sebagai kenderaan
antik, pihak berwenang bekerja sama dengan kepolisian menguji kelayakan,
safety dan emisi kenderaan tersebut dengan konsekuensi pajak kenderaan tsb jauh
lebih tinggi dari kenderaan baru.

Adanya batasan kepemilikan kenderaan di setiap rumah, setiap rumah diwajibkan


hanya punya 1 kenderaan, untuk kenderaan lebih dari satu pemilik diwajibkan
membayar Pajak/denda kepimilikan kenderaan berikutnya. Dan ini bisa membuat
pemilik kenderaan berfikir 2 kali untuk menyimpan kenderaan lebih dari 1.

Adanya kebijakan pemerintah untuk membatasi produsen mobil memasok


kenderaannya, walau kenderaan tersebut laris dan disukai masyarakat.
HAIRUL YOGI HAKIM

FAKULTAS ILMU SOSIAL


PROGRAM STUDI SEJARAH
UNIVERSITAS NEGRI JAKARTA