Anda di halaman 1dari 20

ORASI ILMIAH

PERANAN PSIKOLOGI DALAM MENJAWAB


FENOMENA PSIKOLOGIS MASYARAKAT INDONESIA

Irmawati
Guru Besar Psikologi Universitas Sumatera Utara

pada Upacara

PERINGATAN DIES NATALIS KE-57


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Auditorium USU, 20 Agustus 2009

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


MEDAN
2009
Bismillahirrahmannirrahim

Yang terhormat,
Pimpinan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Kota Medan
Rektor Universitas Sumatera Utara beserta jajaran
Pimpinan dan Anggota Majelis Wali Amanat
Pimpinan dan Anggota Dewan Guru Besar
Pimpinan dan Anggota Senat Akademik Universitas Sumatera Utara
Para Dekan Fakultas/Pembantu Dekan, Direktur Sekolah Pascasarjana,
Direktur dan Ketua Lembaga di Lingkungan Universitas Sumatera Utara
Para Dosen, Mahasiswa, dan Seluruh Keluarga Besar Universitas
Sumatera Utara
Para undangan dan hadirin yang saya muliakan.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua,

Sebelum saya menyampaikan orasi ilmiah dengan judul “Peranan


Psikologi dalam Menjawab Fenomena Psikologis Masyarakat Indonesia”,
saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan Bapak
Rektor dan Panitia Dies Natalis ke-57 USU serta izinkan saya mengucapkan
selamat Dies Natalis yang ke-57 kepada universitas yang kita cintai ini,
Universitas Sumatera Utara.

PERANAN PSIKOLOGI DALAM MENJAWAB FENOMENA PSIKOLOGIS


MASYARAKAT INDONESIA

A. PENGANTAR

Definisi Psikologi yang paling disepakati oleh para pakar adalah ilmu
yang mempelajari tingkah laku manusia. Menurut Wortman dkk. (2004)
Psikologi adalah “the scientific study of behavior, both external observable
action and internal thought”. Oleh karena tingkah laku merupakan

Irmawati: Peranan Psikologi dalam Menjawab Fenomena Psikologis Masyarakat Indonesia 1


manifestasi dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik manusia maka
melalui pengamatan tingkah laku kita dapat memahami sisi unik
kepribadian dan kejiwaan dari diri seseorang.
Perkembangan kajian dunia psikologi di Indonesia setidaknya terbagi
menjadi 6 bagian besar yaitu, Psikologi Perkembangan, Psikologi
Pendidikan, Psikologi Klinis, Psikologi Sosial, Psikologi Industri dan
Organisasi serta Psikologi Umum dan Eksperimen. Namun seiring semakin
kompleksnya permasalahan yang dihadapi manusia dalam berbagai aspek
kehidupan, bagian-bagian besar tersebut semakin berkembang hingga
kajian psikologi telah mencapai lebih dari 50 kajian.

B. KAJIAN-KAJIAN PSIKOLOGI DALAM BERBAGAI ASPEK


KEHIDUPAN

B.1. Psikologi Perkembangan


Perkembangan manusia harus diletakkan sebagai upaya untuk
mengoptimalkan seluruh aspek kehidupan manusia sejak bayi sampai lanjut
usia (Papalia, Olds, Feldman, 2001). Optimalisasi perkembangan manusia
dapat terlaksana jika lingkungan ikut mendukung. Oleh karena itu dalam
proses perkembangannya, manusia tidak terlepas dari konteks kesejarahan
dan budaya yang memberi pengaruh yang sangat kuat terhadap dirinya
(Hadis, 1995).
Saat ini fenomena yang berkaitan dengan psikologi perkembangan
yang menjadi perhatian para praktisi dan ilmuwan psikologi di Indonesia
adalah dampak berbagai peristiwa sosial-psikologis yang negatif pada anak-
anak sebagai akibat meningkatnya peristiwa-peristiwa kekerasan dalam
rumah tangga (KDRT), pembunuhan, penggunaan napza, keretakan
keluarga, dan berbagai penyakit yang menghambat perkembangan anak.
Juga kejadian-kejadian seperti perang, kerusuhan, konflik, krisis ekonomi,
bencana alam yang akan memberikan dampak besar terhadap
perkembangan psikologis anak.
Menurut Myers-Bowman, Walker, dan Myerss-Walls (2000), walaupun
anak-anak terekspos secara minimal dalam suatu peristiwa peristiwa teror,

2 Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-57 USU, 20 Agustus 2009


misalnya melihat pemberitaan di televisi dan surat kabar, dapat mengalami
kebingungan dan dihantui oleh berbagai pertanyaan tentang hal yang
mereka baca dari media massa tersebut. Kekuatan media massa dalam
menginformasikan peristiwa teror tidak sebatas memberikan gambaran
kejadian, tetapi juga mendiseminasi ketegangan. Termasuk kepada anak-
anak sebagai audiensnya. Jika aksi teror saja sudah memunculkan efek
“ngeri” bagi kalangan dewasa, maka dapat dibayangkan berapa kali lipat
derajat ketakutan yang bisa dialami oleh anak-anak. Pada anak-anak
tersebut pakar Psikologi Perkembangan dapat melakukan penanganan
seperti melakukan terapi bermain dan terapi desensitisasi untuk mengatasi
trauma dan stres yang dialami.
Akan tetapi, pemanfaatan ilmu psikologi bagi perkembangan anak
sebenarnya telah menjadi kebutuhan sehari-hari seperti upaya membantu
anak dalam mengatasi krisis perkembangannya ketika memasuki usia
sekolah, kesulitan bersosialisasi, permasalahan dengan saudara kandung,
perkembangan seksualitas, dan lain sebagainya.

B.2. Psikologi Pendidikan


Pada bidang Psikologi Pendidikan, kasus dan fenomena yang saat ini
masih menjadi sorotan adalah Ujian Nasional (UN) dan program akselerasi
siswa.
Pelaksanaan ujian akhir di berbagai tingkatan pendidikan setiap akhir
tahun ajaran, seringkali memunculkan pro-kontra kegunaannya. Perdebatan
dan kritik makin gencar. Arsip surat kabar Sinar Harapan mencatat
pendapat Fuad Hassan, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
dan mantan Mendiknas, bahwa penilaian hasil belajar tidak hanya dilakukan
dengan mengevaluasi hasil belajar, tetapi juga mencakup proses belajar-
mengajar yang dilakukan. Pelaksanaan UN hendaknya sebatas untuk
mengetahui peta kualitas pendidikan di Indonesia. Melalui UN dapat
diketahui sejauh mana kurikulum secara nasional tercapai, namun bukan
menjadi penentu kelulusan siswa. Peningkatan kualitas pendidikan pun
perlu disertai dengan peningkatan kualitas guru ketika mengajar. Kualitas
pembelajaran sebaiknya tidak dibebankan ke siswa dengan target nilai.

Irmawati: Peranan Psikologi dalam Menjawab Fenomena Psikologis Masyarakat Indonesia 3


Para siswa di sekolah yang berfasilitas minim, bahkan jauh dari prasyarat
pendidikan standar akan kesulitan menyesuaikan diri dengan standar
nasional. Akibatnya juga berdampak negatif dimana guru memberitahukan
kunci jawaban kepada siswa sehingga kelulusan siswa meningkat. Hal ini
secara tidak langsung akan membentuk karakter negatif pada siswa.
Pakar Psikologi Pendidikan dapat berperan dalam membantu sekolah
mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan psikologis
siswa sekaligus memberikan bimbingan bagi siswa yang menghadapi
kendala dalam proses belajarnya, seperti menangani kecemasan siswa
dalam menghadapi ujian.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada beberapa SMA di
Indonesia yang memiliki program akselerasi, Guru Besar Psikologi UGM
Asmadi Alsa menyimpulkan beberapa hal, diantaranya bahwa siswa
akselerasi memang memperoleh percepatan dalam hal perkembangan
secara kognitif, namun tidak dalam hal afektif dan psikomotoris (Pidato
Pengukuhan Prof. Asmadi Alsa dari www.ugm.ac.id). Namun begitu,
aktivitas belajar yang padat dapat memacu siswa sehingga memiliki daya
juang yang tinggi dalam belajar, karena memang tidak ditemukan adanya
dampak negatif dari hal itu. Meski demikian, pemantauan pada semester
awal menjadi amat penting dalam rangka melakukan tindakan lanjutan bagi
siswa yang ditemukan memiliki potensi tidak cukup mampu melakukan
penyesuaian diri dengan tuntutan program maupun juga lingkungan
akademik dan sosial yang baru (www.ugm.ac.id). Bagaimanapun, evaluasi
terhadap program akselerasi di Indonesia harus terus dilakukan dari
berbagai aspek. Keberhasilan akselerasi di negara lain tidaklah dapat
menjadi pegangan, mengingat kondisi demografis dan sosio-kultural yang
berbeda. Disinilah pakar Psikologi Pendidikan berperan.

B.3. Psikologi Klinis


Bagian Psikologi Klinis sering diidentikkan dengan profesi psikolog,
yakni dalam melakukan konseling dan terapi individual pada individu
dengan gangguan psikologis tertentu seperti individu yang mengalami
gangguan tidur, gangguan disosiatif, gangguan psikosomatis. Namun

4 Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-57 USU, 20 Agustus 2009


demikian, Psikologi Klinis tidaklah berperan hanya sampai disitu saja. Selain
dapat menangani permasalahan individual, juga dapat menangani
permasalahan komunitas.
Pada orasi ini saya akan menyoroti tiga fenomena aktual yang terkait
dengan kajian-kajian Psikologi Klinis yakni Psikologi Forensik, Psikologi
Kesehatan, dan Psikologi Bencana.
Terdapat kasus-kasus yang sebenarnya membutuhkan keterlibatan
pakar Psikologi Forensik seperti dalam kasus mutilasi. Kasus mayat
dipotong-potong atau mutilasi yang terjadi akhir-akhir ini membuat hati
kebanyakan orang miris. Peristiwa mutilasi dengan korban Heri Santoso
dilakukan Very Idham Henyansyah alias Ryan yang tidak lain adalah orang
dekat atau pernah dekat. Kasus Ryan ini memang menarik karena latar
belakang Ryan yang dianggap mempunyai perilaku seks menyimpang.
Sebenarnya kasus mutilasi telah banyak terjadi di Indonesia. Jauh sebelum
kasus Ryan, di Jakarta pernah gempar dengan kasus mayat potong tujuh
pada tahun 1980-an. Juga pada kerusuhan antaretnis di Kalimantan,
Maluku, dan Poso, sering dijumpai kasus mutilasi itu (Hasil wawancara
dengan Prof. Sarlito, suarakaryaonline.com). Penelusuran mengenai latar
belakang perilaku pelaku mutilasi hingga penggambaran psikologis profil
pelakunya merupakan bidang kajian pakar Psikologi Forensik.
Selain kasus mutilasi, kasus perkosaan juga hampir selalu mengisi
berita-berita di koran-koran lokal maupun nasional. Banyak kasus
perkosaan pada anak pelakunya bebas karena pihak polisi tidak memiliki
bukti cukup untuk menjerat si tersangka mengingat tidak adanya saksi,
bukti, atau pengakuan dari korban (Abdurrahman, 2009). Seperti kasus
perkosaan anak 9 tahun di Jawa Tengah yang diungkapkan oleh
Abdurrahman (Abdurrahman, 2009), karena prihatin akan sulitnya
pembuktian tersangka pemerkosaan, Kapolres Jawa Tengah dan rekan
psikolog yang peduli akan kasus tersebut menggunakan bukti psikologis
untuk menjerat tersangka dengan cara membuat rekaman (hidden camera)
ekspresi dan perilaku korban ketika dipertemukan (melalui one way mirror).
Proses rekaman ini diawali dengan seorang laki-laki tersangka alternatif
yang dimasukan ke dalam ruangan dan korban menunjukkan ekspresi

Irmawati: Peranan Psikologi dalam Menjawab Fenomena Psikologis Masyarakat Indonesia 5


biasa-biasa di ruangan sebelah. Selanjutnya tersangka utama dimasukkan
ke dalam ruangan. Ketika melihat tersangka utama, korban menunjukkan
ekspresi takut dan menangis. Bukti psikologis ini berhasil menggiring
pelaku ke pengadilan dan akhirnya dinyatakan terbukti bersalah.
Melihat ilustrasi di atas, peran Psikologi Forensik dibutuhkan untuk
membantu mengungkapkan kasus-kasus kriminal yang menimpa
masyarakat. Psikolog Forensik dapat membantu aparat penegak hukum
memberi gambaran utuh kepribadian si pelaku dan korban. Selain sebagai
saksi ahli di pengadilan, pakar Psikologi Forensik juga dapat berperan
sebagai konsultan di lembaga kepolisian bagi korban kasus-kasus KDRT,
korban perkosaan, atau kasus perwalian anak (Weiner & Hess, 2006).
Selain itu, peran Psikologi Forensik di Lembaga Pemasyarakatan tidak
kalah pentingnya. Banyak kasus psikologi yang terjadi pada narapidana
maupun petugas LAPAS.
Demikian pula fenomena Batu Ponari cukup menggemparkan
masyarakat Indonesia pada awal tahun ini. Ribuan orang dari berbagai
pelosok tanah air memadati Dusun Kedungsari, Kabupaten Jombang tempat
dukun Ponari berada. Dengan air celupan batu Ponari yang dianggap sakti
banyak pasien yang datang berobat dan menyatakan dirinya sembuh. Alih-
alih mendatangi pusat pengobatan resmi seperti dokter, rumah sakit
ataupun puskesmas, para pasien ini rela mengantri bahkan menginap demi
mendapatkan air celupan batu sakti Ponari. Tentulah fenomena ini menarik
perhatian para praktisi dan akademisi yang berkecimpung di dunia
kesehatan termasuk diantaranya para pakar Psikologi Kesehatan.
Kajian Psikologi Kesehatan mempelajari pengaruh kondisi psikologis
pada kondisi fisik berdasarkan prinsip bio-psiko-sosial, dimana penyakit
merupakan dampak gangguan pada sistem biologis, psikologis, dan sosial
individu. Interaksi sistem bio-psiko-sosial tersebut mengakibatkan respons
pasien pada kondisi medis menjadi beragam, seperti menunda
memeriksakan diri ke dokter ataupun membeli suplemen kesehatan tanpa
supervisi petugas medis. Kalaupun melakukan pengobatan, pasien lebih
memilih berpindah-pindah dokter (doctor-shopping) ataupun secara ekstrim

6 Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-57 USU, 20 Agustus 2009


melakukan pengobatan secara non-medis seperti yang terlihat pada
fenomena Batu Ponari dan berbagai pengobatan alternatif lain.
Banyak stimulus psiko-sosial (seperti beban kerja, kecemasan
ataupun kondisi emosi) secara langsung akan mempengaruhi sistem
hormon serta imunitas individu, yang mengakibatkan penurunan
kemampuan tubuh untuk mengatasi virus, bakteri, tumor dan gangguan
lain; yang kemudian kembali meningkatkan kecemasan dan memperburuk
kondisi emosi.
Psikolog Klinis yang bergerak dalam bidang kesehatan dapat
membantu pasien untuk lebih memahami kondisi kesehatan dan
penanganannya, mengurangi stres (baik sebagai faktor resiko munculnya
penyakit maupun sebagai dampak dari kondisi kesehatan yang menurun
serta penanganannya) dan juga membantu meningkatkan emosi positif
individu sehingga kualitas kesehatan individu akan meningkat. Beberapa
peran lain dari pakar Psikologi Kesehatan adalah pendampingan, konseling
dan terapi psikologis pada pasien, baik akut maupun kronis, seperti
penderita kanker, gagal ginjal dan HIV; yang dilaksanakan pada berbagai
institusi kesehatan, baik rumah sakit, puskesmas maupun klinik-klinik
kesehatan lainnya.
Selanjutnya, kita akan melihat kajian Psikologi Bencana. Wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia secara geografis terletak pada wilayah
yang rawan terhadap bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan
gunung berapi, tanah longsor, banjir dan sebagainya serta bencana akibat
ulah manusia seperti kerusuhan sosial dan politik, kecelakaan transportasi
udara, laut, dan darat (Departemen Kesehatan RI, 2008). Dipandang dari
segi keparahan tingkat bencana yang dialami, Indonesia termasuk dalam
urutan 10 besar Negara di dunia yang paling parah terkena bencana pada
tahun 2005 (Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia, 2006).
Para korban bencana atau penyintas (survivor) bisa mengalami
kematian, luka-luka, penyakit, tubuh menjadi lemah dan dari aspek
perasaan akan timbul rasa takut, cemas, merasa bersalah, sedih, marah,
dan kehilangan. Sedangkan dalam aspek pikiran, orang menjadi bingung
dan kalut (Pulih Aceh, tanpa tahun).

Irmawati: Peranan Psikologi dalam Menjawab Fenomena Psikologis Masyarakat Indonesia 7


Berbagai bidang kehidupan yang porak poranda hancur akibat
bencana sudah seharusnya dapat dipulihkan kembali secepatnya. Upaya
untuk pemulihan dan rehabilitasi fisik akan terhambat bila dukungan
terhadap kesehatan jiwa dan psikososial tidak mendapat perhatian.
Dipandang dari segi kesehatan jiwa, peristiwa traumatik yang tidak
teratasi secara sehat dapat menimbulkan gangguan trauma psikologis.
Namun sebaliknya apabila dapat diatasi secara sehat dan efektif, trauma
psikologis selain dapat dipulihkan kembali juga membuka kemungkinan
untuk tumbuhnya kemampuan individu dalam meminimalisasi dan
mengatasi dampak buruk suatu bencana yang disebut sebagai resiliensi
(Sulistyaningsih, 2009).
Apa yang dapat dilakukan oleh para pakar Psikologi Bencana?
Prosedur standar yang dilakukan adalah melakukan asesmen lalu kemudian
intervensi. Pakar Psikologi Bencana dapat melakukan intervensi mulai dari
dampak Psikologis Bencana yang sifatnya kasus ringan, menengah hingga
berat yang membutuhkan spesialisasi khusus untuk menanganinya. Terapi
yang dilakukan ada berbagai jenis mulai dari trauma healing yang sifatnya
pertolongan pertama hingga pada melakuan sesi terapi Post Traumatic
Stress Disorder dan terapi relaksasi.

B.4. Psikologi Sosial


Sebagai suatu negara dengan budaya yang beragam dan tersebar
dalam beribu-ribu pulau, persoalan sosial yang sedang dan akan dihadapi
oleh bangsa Indonesia tentunya akan terus silih berganti berdatangan.
Masih tak lekang dalam ingatan kita, beberapa tahun lalu terjadi kerusuhan
antar-etnis di Sampit, Ambon, dan Poso. Demikian pula peristiwa tragis
yang terjadi di Sumatera Utara sendiri yakni aksi unjuk rasa yang menuntut
pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap) yang berujung pada meninggalnya
Ketua DPRD Sumatera Utara. Dalam hal ini, ilmu psikologi khususnya
Psikologi Sosial mempunyai peran yang besar untuk menjawab berbagai
persoalan ini.
Konflik antar budaya dapat dipahami dan diselesaikan dengan teori-
teori seperti intergroup theory, peace theory, dan culture psychology.

8 Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-57 USU, 20 Agustus 2009


Persoalan-persoalan politik dapat diselami dengan menggunakan politic
psychology. Persoalan yang terjadi di masyarakat umumnya dapat
diselesaikan dengan community psychology.
Dalam menjawab persoalan-persoalan ini, Psikologi Sosial sangat
memperhatikan aspek-aspek budaya dan kondisi yang dimiliki oleh
masyarakat setempat, serta hubungan di dalam dan antar kelompok yang
ada di masyarakat tersebut. Teori identitas sosial melihat bahwa individu
cenderung untuk mencari identitas sosial yang positif dan meningkatkan
identitas kelompoknya untuk membedakan dengan kelompok lain.
Etnosentrisme melihat bahwa hubungan antar kelompok umumnya terjadi
karena kecenderungan kelompok memandang dirinya sebagai pusat dari
segalanya, sehingga terjadi in group favoritism dan berkembangnya
stereotipe-stereotipe tertentu terhadap kelompok lain.
Kesimpulannya, persoalan sosial yang dihadapi bangsa Indonesia bisa
dilihat dari kacamata Psikologi Sosial, begitupun upaya penanganannya
dapat dilakukan melalui berbagai cabang ilmu Psikologi Sosial.

B.5. Psikologi Industri dan Organisasi


Psikologi Industri dan Organisasi sebagai salah satu kekhususan di
bidang ilmu psikologi memiliki banyak peran dalam masyarakat. Salah
satunya mengenai kompetensi di bidang ketenagakerjaan. Permasalahan
yang sering terjadi adalah tidak sesuainya kompetensi yang dimiliki
seseorang dengan pekerjaan yang digelutinya (Wrong Man on the Wrong
Place) yang efeknya bisa bermacam-macam (misal: perselisihan antara
pekerja dengan pihak pemberi kerja, PHK, kecelakaan kerja, dan stres
kerja). Oleh sebab itu dibutuhkan suatu proses penilaian (assessmen) agar
mendapatkan orang yang sesuai antara kompetensi yang dimiliki dengan
pekerjaan yang digeluti (Right Man on the Right Place).
Masih maraknya pemberitaan tentang nasib buruk Tenaga Kerja
Indonesia (TKI) di luar negeri, ditengarai karena faktor kompetensi TKI
yang kurang memadai merupakan suatu bukti nyata betapa pentingnya
kompetensi kerja seseorang. Hal ini sesuai dengan pernyataan oleh Direktur
BNP2TKI, Ir. Kustomo Usman, CES, MM, tentang TKI di Taiwan yang gagal

Irmawati: Peranan Psikologi dalam Menjawab Fenomena Psikologis Masyarakat Indonesia 9


berangkat dan sulit melakukan klaim asuransi karena minim pemahaman
dan pengetahuan sehingga mudah dibohongi (beritasekarang.com)
Permasalahan TKI seharusnya dapat dipecahkan bila kompetensi
yang dimiliki seorang TKI mampu membuatnya menjadi aman dan nyaman
ketika bekerja di luar negeri. Dengan kata lain, seorang TKI haruslah
memiliki keterampilan (skill) yang cukup untuk menghadapi berbagai
permasalahan yang mungkin terjadi ketika ia berada di luar negeri baik
Hard Skill maupun Soft Skill. Dalam hal ini kajian Psikologi Industri dan
Organisasi memiliki peran yang penting.
Selain permasalahan TKI maka fenomena klasik yang kerap dialami
manusia di dunia kerja adalah stres kerja. Penyebab stres kerja di dalam
organisasi bervariasi dan terkadang kompleks. Karyawan/pegawai yang
sangat sibuk ataupun sebaliknya merasa bosan dapat menjadi stres.
Demikian pula karyawan/pegawai yang memiliki pekerjaan yang berbahaya,
atau pekerjaan yang dirasakan mengancam keselamatan jiwa atau
psikologisnya, seperti pekerjaan dengan tingkat pengawasan dan resiko
yang tinggi terhadap sangkaan korupsi sebagaimana yang banyak terjadi
pada pejabat publik di Indonesia saat ini, sangat rentan terhadap stres.
Konsep yang berhubungan tetapi berbeda dengan stres kerja adalah
burn out. Burn out merupakan sebuah sindrom dari kelelahan emosional,
depersonalisasi, dan berkurangnya pencapaian individu, yang dapat muncul
pada individu di dalam pekerjaannya (Maslach & Jackson, 1986). Burn out
akan menyebabkan hilangnya minat bekerja, apatis, depresi, mudah marah,
dan mencari kesalahan orang lain. Pekerjaan yang dilakukan juga
memburuk dan tidak mengikuti prosedur yang ada. Pakar Psikologi Industri
dan Organisasi dapat memberikan bantuan berupa konsultasi dan
pendampingan karyawan/pegawai seperti Employee Asssistance
Programme, ataupun intervensi terhadap organisasinya seperti melakukan
asesmen terhadap beban kerja, arus kerja, maupun desain kerja sehingga
para karyawan/pegawai dapat mengatasi dan mengelola stres yang
dihadapinya (Hodkinson & Ford, 2005).

10 Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-57 USU, 20 Agustus 2009


B.6. Sumbangan Psikologi untuk Pengembangan USU
Berikut saya akan menyampaikan hasil-hasil penelitian mahasiswa
Psikologi USU di bawah bimbingan para dosen mengenai tinjauan-tinjauan
psikologi yang kiranya dapat menjadi masukan bagi pengembangan
Universitas Sumatera Utara. Fenomena yang akan diangkat yaitu mengenai
culture shock mahasiswa asing yang berada di USU, deprivasi relative
fraternalistik mahasiswa USU, dan gambaran sikap mahasiswa terhadap
mata kuliah Kewirausahaan.
Pada saat ini terdapat sejumlah mahasiswa asing asal Malaysia yang
menempuh pendidikan di Universitas Sumatera Utara. Tentu saja mereka
menghadapi perbedaan-perbedaan kebiasaan dan budaya dengan budaya
negara asalnya. Menurut Gudykunst dan Kim (2003) perbedaan budaya
dapat menimbulkan keterkejutan dan tekanan yang menyebabkan
terguncangnya konsep diri, identitas kultural, dan mengakibatkan
kecemasan. Reaksi terhadap situasi yang diikuti rasa cemas dan stres itu
disebut dengan culture shock. Hasil penelitian Frandawati (2009) terhadap
mahasiswa asing asal Malaysia yang melanjutkan studi di USU, menemukan
bahwa para mahasiswa tersebut memiliki kecenderungan culture shock
tergolong sedang. Hal ini berarti mereka mulai bisa menyesuaikan diri
namun masih mengalami beberapa masalah adaptasi seperti merasa
diperlakukan berbeda dalam berinteraksi dengan penduduk lokal, tidak
menguasai bahasa Indonesia dengan baik, dan masih kurang nyaman
dengan perbedaan budaya yang ada. Temuan lain, culture shock pada
mahasiswi lebih tinggi bila dibandingkan culture shock pada mahasiswa,
dan culture shock pada mahasiswa Malaysia bersuku Cina lebih tinggi
dibandingkan dengan suku Melayu dan India.
Hasil penelitian ini kiranya dapat menjadi masukan bagi pimpinan
fakultas/universitas untuk mengembangkan Program Orientasi Berbasis
Psikologi Budaya bagi mahasiswa asing di USU agar dapat dengan segera
mengatasi culture shock yang dialami, sehingga mereka dapat berproses
lebih cepat untuk fokus pada proses belajarnya.
Terkait dengan mata kuliah laboratorium Psikologi Sosial, mahasiswa
Psikologi USU juga telah melakukan penelitian untuk melihat bagaimana

Irmawati: Peranan Psikologi dalam Menjawab Fenomena Psikologis Masyarakat Indonesia 11


gambaran deprivasi relatif fraternalistik mahasiswa USU terhadap adanya
perbedaaan fasilitas di tiap fakultas/program studi. Deprivasi relatif
fraternalistik merupakan suatu keadaan dimana seseorang membandingkan
keadaan kelompoknya (ingroup) dengan kelompok lain (outgroup) dan
merasa bahwa apa yang mereka dapat kurang dari apa yang seharusnya
atau pantas mereka dapat (Dion, 2001).
Deprivasi relatif fraternalistik bukan hanya membuat kelompok
membandingkan kelompoknya dengan kelompok lainnya, tetapi juga
menimbulkan berbagai bentuk perasaan negatif akibat adanya persepsi
ketidakadilan yang terjadi (Hogg, 2002). Persepsi akan adanya suatu
kesenjangan (deprivasi) berdasarkan kelompok dapat menyebabkan
individu merasa marah dan terasing sehingga dapat mengarahkan individu
kepada konflik dengan kelompok sosial atau institusi yang berinteraksi
dengan mereka.
Berdasarkan hasil angket yang telah disebar kepada 360 orang
mahasiswa Universitas Sumatera Utara, didapatkan data bahwa pendapat
mahasiswa secara umum terhadap ketersediaan fasilitas (sarana dan
prasarana) belajar mengajar adalah:
1. Sebanyak 337 mahasiswa (93,61%) menganggap terdapat
perbedaan fasilitas di setiap fakultas atau program studi yang ada di
Universitas Sumatera Utara.
2. Selanjutnya sebanyak 70 orang mahasiswa (19,44%) menganggap
ketersediaan fasilitas belajar mengajar di fakultas atau program
studinya tergolong baik (semua sarana tersedia), 205 orang
mahasiswa (56,40%) menganggap ketersediaan fasilitas (sarana dan
prasarana) belajar mengajar di fakultas atau program studinya cukup
(1 – 2 sarana tidak tersedia) dan sebanyak 78 orang mahasiswa
(21,67%) menganggap ketersediaan fasilitas (sarana dan prasarana)
belajar mengajar di fakultas atau program studi mereka buruk (lebih
dari 2 sarana tidak tersedia).
3. Dilihat dari komponen kognitif dan komponen afektif, yang
dikategorikan ke dalam tingkatan tinggi, sedang, dan rendah,
diperoleh data sebagai berikut:

12 Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-57 USU, 20 Agustus 2009


Deprivasi Relatif Afektif
Kognitif (Pemikiran)
Fraternalistik (Penghayatan)
Tinggi 61 (16.9%) 63 (17.5%)
Sedang 250 (69.4%) 237 (65.8%)
Rendah 50 (13.9%) 60 (16.6%)

Tabel di atas menunjukkan bahwa antara kategori deprivasi relatif


fraternalistik yang bersifat kognitif (pemikiran) sejalan dengan yang bersifat
afektif (penghayatan). Sebagian besar subjek penelitian mengalami
deprivasi relatif fraternalistik baik secara kognitif (pemikiran) dan afektif
(penghayatan) di dalam kategori sedang. Meski deprivasi relatif
fraternalistik sebagian besar subjek berada dalam kategori sedang, kiranya
perlu segera dilakukan perbaikan fasilitas belajar mengajar oleh pihak
fakultas/universitas agar subjek yang berada dalam kategori sedang ini
tidak mengarah ke dalam kategori deprivasi relatif fraternalistik yang tinggi,
sebaliknya akan menurunkan deprivasi relatif fraternalistik-nya ke dalam
kategori rendah. Mengingat deprivasi relatif fraternalistik yang tinggi dapat
memunculkan berbagai perilaku negatif seperti yang disebutkan
sebelumnya.

Hadirin sekalian, perguruan tinggi memiliki tugas moral terhadap


keberhasilan para lulusannya.

Meredith (1996) menyatakan bahwa salah satu upaya mengurangi


atau menurunkan angka pengangguran yang bersumber pada jumlah
lulusan Perguruan Tinggi yang makin meningkat sedangkan kesempatan
kerja semakin terbatas adalah menyiapkan mahasiswa untuk memiliki jiwa
berwirausaha, menjadi lulusan yang berorientasi sebagai pencipta kerja,
bukan pencari kerja.
Menurut Irwandi (2008) berwirausaha merupakan salah satu pilihan
yang rasional mengingat sifatnya yang mandiri, sehingga tidak tergantung
pada ketersediaan lapangan kerja yang ada, sementara minat para lulusan
Perguruan Tinggi untuk berwirausaha masih sangat rendah.

Irmawati: Peranan Psikologi dalam Menjawab Fenomena Psikologis Masyarakat Indonesia 13


Drucker (1996), mengartikan kewirausahaan sebagai semangat,
kemampuan, sikap, perilaku individu dalam menangani usaha atau kegiatan
yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan, cara
kerja, teknologi dan produk baru dengan mewujudkan efisiensi dalam
rangka memberikan pelayanan yang lebih baik atau memperoleh
keuntungan yang lebih besar.
Keberhasilan program pendidikan MKU khususnya mata kuliah
kewirausahaan ditandai dengan adanya perubahan perilaku mahasiswa
sesuai dengan tujuan kurikuler, baik dari aspek kognitif, afektif, dan
psikomotoriknya (Rahmawati, 2004).
Mahasiswa Fakultas Psikologi USU telah melakukan penelitian tentang
gambaran sikap mahasiswa Universitas Sumatera Utara terhadap mata
kuliah Kewirausahaan. Dengan sampel sejumlah 250 mahasiswa yang
sudah mengikuti mata kuliah Kewirausahaan ditemukan bahwa secara
umum mahasiswa USU memiliki sikap dalam kategori sedang terhadap
mata kuliah Kewirausahaan. Ini berarti sikap terhadap kewirausahaan
cenderung netral, tidak tergolong positif ataupun tidak tergolong negatif.
Lebih lanjut, berdasarkan kategorisasi sikap terhadap kewirausahaan
ditinjau dari jenis kelamin dan asal fakultas diperoleh data-data sebagai
berikut:
• Sikap terhadap kewirausahaan tidak ada perbedaan yang signifikan
antara subjek laki-laki dengan subjek perempuan.
• Sikap terhadap kewirausahaan terlihat positif pada subjek yang
berasal dari Fakultas MIPA, Psikologi, Teknik, Pertanian, ISIP, dan
Ekonomi.

Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang menjadi


subjek penelitian sudah mendapatkan masukan secara kognitif mengenai
kewirausahaan. Meski masih tergolong netral, tapi paling tidak sikap ini
cukup menjadi modal bagi mahasiswa untuk dapat mandiri kelak. Aspek
kognitif ini tentunya harus diimbangi dengan lingkungan yang kondusif
sehingga dapat muncul dalam bentuk psikomotorik. Penting sekali untuk
menciptakan dan mendukung program-program kewirausahaan mahasiswa
seperti pelatihan serta memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk

14 Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-57 USU, 20 Agustus 2009


berwirausaha saat mereka masih duduk di bangku kuliah sesuai dengan
bidang keilmuan mereka melalui bimbingan para dosen aau pakar di bidang
usaha. Hal ini sesuai dengan kebijakan Dikti yang telah menyediakan dana
yang cukup besar untuk kegiatan kewirausahaan mahasiswa di seluruh
universitas di Indonesia.

C. PENUTUP

Kesejahteraan psikologis manusia dapat dicapai jika dalam


perkembangannya, manusia tidak mengalami hambatan yang serius, baik
yang berasal dari dalam diri orang yang bersangkutan maupun yang berasal
dari luar diri. Dalam kenyataan, tidak ada manusia yang bebas dari
hambatan. Ada hambatan yang kecil yang dapat dengan mudah diatasi oleh
yang bersangkutan, tetapi ada hambatan yang sulit diatasi sendiri sehingga
memerlukan bantuan profesional. Dalam hal ini peran para pakar psikologi
yaitu ilmuwan psikologi dan psikolog yang kompeten, objektif, jujur,
menjunjung tinggi integritas dan norma-norma keahlian akan sangat
menentukan keberhasilan manusia dalam mengatasi hambatan-hambatan
perkembangan dirinya. Manusia yang dimaksud tidak hanya sebagai
individu semata namun juga ia sebagai bagian dari kelompok masyarakat
dan organisasi. Psikologi tidak semata-mata “psikotes” sebagaimana yang
sudah sangat umum dikenal masyarakat, akan tetapi perannya dapat
mengatasi berbagai fenomena psikologis manusia baik secara individual
maupun kelompok.
Demikian orasi ilmiah yang dapat saya kemukakan dalam rangka
Dies Natalis USU ke-57 ini. Dirgahayu USU, semoga dengan Tridharma
Perguruan Tinggi, USU dapat lebih berperan dalam memberdayakan
masyarakat Indonesia.

Wassalammu’alaikum Wr. Wb.

Guru Besar Psikologi USU

Prof. Dr. Irmawati, psikolog

Irmawati: Peranan Psikologi dalam Menjawab Fenomena Psikologis Masyarakat Indonesia 15


DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, M. (2009). Bocah 9 Tahun Diperkosa, Tersangka Dibebaskan


Karena Tak Cukup Bukti. detikNews, Kamis 8 Januari 2009.

Asmadi, A. (2007). Pengukuhan Prof Asmadi Alsa: Akselerasi Tidak


Berdampak Negatif Bagi Perkembangan Psikososial,. www.ugm.ac.id
6 Juni 2007. http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=792

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Pedoman Upaya


Kesehatan Jiwa dan Psikososial untuk Kesiapsiagaan Bencana.
Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen
Kesehatan RI.

Dion, K. L. (2001). The Social Psychology of Perceived Prejudice and


Discrimination. University of Toronto. Available FTP:
http://proquest.comEarthman, G. I. 2002. School Facility Condition
and Student Academic Achievement. Available FTP: http://www.ucla-
idea.org

Frandawati. (2009). Gambaran Culture Shock Mahasiswa Asing Asal


Malaysia. Skripsi. Medan: tidak diterbitkan.

Gudykunst, W., B. & Kim, Y.,Y. (2003). Communicating With Strangers: An


Approah to intercultural communication. 4th Ed. New York: Mc Graw-
Hill.

Hadis, F.A. (1995). Gagasan Orang Tua dalam Optimalisasi Kualitas Sumber
Daya Manusia. Jakarta: Pidato Pengukuhan dalam Upacara
Penerimaan Jabatan sebagai Guru Besar Tetap dalam Psikologi
Fakultas Psikologi UI.

Hodkinson G.P., & Ford J.K. (2005). International Review of Industrial and
Organizational Psychology. Vol. 20

Hogg, M. A. & Graham M. V. (2002). Social Psychology. Third Edition.


Edinburgh: Prentice Hall.

16 Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-57 USU, 20 Agustus 2009


Irwandi. (1998). Mahasiswa menjadi titik perhatian terpenting.
http://dikti.go.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=20
3 Diakses tanggal 20 Agustus 2008.

Kaplan, I. & Orlando, D. (1998). Merajut kembali hidup yang terkoyak:


Panduan Konseling Trauma, Victorian Foundation for Survivors of
Torture.

Maslach & Jackson. (1986). Maslach Burnout Inventory. Palo Alto:


Consulting Psychologists Press

Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI). (2006).


Pengurangan Risiko Bencana Dimulai di Sekolah. Jakarta: MPBI.

Meneropong USU dengan Kacamata Psikologi Sosial. (2009). Hasil Penelitian


Mahasiswa Psikologi USU untuk Mata Kuliah Laboratorium Psikologi
Sosial. Untuk kalangan sendiri.

Meredith, Geoffrey G. (1996). Kewirausahaan teori dan praktek. Jakarta:


Pustaka Binaman Presindo.

Moore, D. & Letzion, R. (2003). Perception of Sense of Control, Relative


Deprivation, & Expectations of Young Jews & Palestinians in Israel.
Journal of Psychology. Pg. 521-540. http://www.proquest.com

Papalia, D., Olds, S.W., Feldman, R.D. (2001). Human Development. 8th
edition, Boston: McGraw Hill.

Pin. Desember (2008). 11 TKI Bermasalah di Taiwan. beritasekarang.com


16 Maret 2009. http://www.beritasekarang.com

Pulih Aceh. (tanpa tahun). Resep Puleh. Banda Aceh: Pulih Aceh.

Rahmawati. (2000). Pendidikan Wirausaha dalam Globalisasi. Liberty:


Yogyakarta.

Sarwono, S.W. (2008). Mutilasi, Media Massa Menjadi Inspirasi.


Suarakaryaonline. Sabtu, 1 November 2008. http://www.suarakarya-
online.com/news.html?id=212833

Irmawati: Peranan Psikologi dalam Menjawab Fenomena Psikologis Masyarakat Indonesia 17


Sulistyaningsih, Wiwik. (2009). Pengaruh Pelatihan Resiliensi dan
Penyuluhan untuk Menurunkan Trauma Psikologis dan Meningkatkan
Empati pada Guru di Kabupaten Aceh Selatan. Disertasi. Tidak
diterbitkan. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Weiner, I. B & Hess, A. K. (2006). Handbook of Forensic Psychology. New


York: A Wile-Interscience Publication.

Wrightsman. (2001). Forensik Psychology. US: Wadsworth-Thomson


Learning.

18 Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-57 USU, 20 Agustus 2009