Anda di halaman 1dari 43

Sekolah Sebagai Miniatur Masyarakat :

Idealisme Pendidikan

Oleh : Drs. Rum Rosyid, MM

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2010
Daftar Isi 2
Pengantar 3
Pendahuluan 4
Agenda Reformasi Sistem Pendidikan Nasional 6
Visi Pendidikan Multikultur 14
Menumbuh Kembangkan Eksistensi Manusia 16
Pendidikan Terpadu: Sebuah harapan 19
Kebijakan Pendidikan : intervensi pemerintah dalam pendidikan 25
Kualitas Pembelajaran : Inti reformasi pendidikan 26
Cara Pandang Interaktif terhadap Kualitas Output 32
Guru sebagai Agen Perubahan 36
Mentalitas Wiraswasta : Sebagai Tantangan 38
Kepustakaan 40

2
Pengantar
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan karya
tulis sebagai upaya untuk memahami fenomena pendidikan ditanah air Indonesia.
Fenomena pendidikan yang terjadi merupakan produk kebijakan pendidikan yang
berlangsung sepanjang usia suatu bangsa. Disadari atau tidak seluruh kebijakan
pendidikan akan menghasilkan suatu bentuk peradaban baik yang carut-marut maupun
sistematis. Dengan demikian kesinambungan suatu kebijakan adalah suatu kemestian
agar proses perubahan selalu taat asas.

Menyaksikan seluruh fenomena pendidikan nampak bahwa dunia pendidikan masih


dalam keadaan carut-marut. Karena tidak dilandaskan pada ideology yang jelas. Hal ini
bukan semata kesalahan pemegang rezim pemerintahan, karena semanjak awal RI
menjadi ajang perebutan antar bangsa-bangsa di dunia baik dari belahan barat Portugis,
Belanda, Inggris, Perancis dan kini AS maupun timur seperti Jepang. Kesemuanya
membawa misi masing-masing, untuk melangsungkan eksistensi kebangsaan mereka. Hal
ini ikut serta membuat carut-marut kependidikan di Indonesia.

Kesadaran kesejarahan ini diperlukan agar kita dapat melihat kedepan, dan memberikan
solusi terbaik bagi pembangunan kemanusiaan dan kebangsaan yang terindah.
Akhirnya, semoga karya yang sederhana ini dapat membantu memberikan penyegaran
pemahaman atas dunia pendidikan di Indonesia.
Tiada gading yang tidak retak
Akhirul kalam
Pontianak, 23 Mei 2010

Penulis

3
Pendahuluan
Meminjam seruan Bung Karno yang terkenal, sekarang ini kita perlu “membangun dunia
baru.” Tetapi upaya untuk membangun dunia yang baru itu kiranya harus dimulai dengan
terlebih dahulu “membangun Indonesia baru.” Dan upaya membangun Indonesia baru itu
mungkin harus dimulai dengan membangun elite politik yang benar-benar lahir dari
kalangan rakyat dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Dalam Indonesia yang baru itu
diharapkan tiada lagi kalaupun ada kecil peranannya-kelompok elite yang hanya sibuk
berebut kekuasaan dan pengaruh.
Hal ini bisa terjadi jika para aktivis muda reformasi sekarang ini tidak enggan untuk
belajar dari para aktivis pergerakan generasi tahun 1920-an. Di satu pihak meneruskan
sikap militan generasi itu dalam memperjuangkan cita-cita bersama dan rela berkurban
demi cita-cita itu. Di lain pihak menolak kecenderungan untuk mewarisi sistem
pemerintahan sebelumnya, yakni kecenderungan untuk mengganti elite lama dengan elite
yang baru tetapi yang pola dan orientasi politiknya tetap sama. Dengan demikian akan
bisa diharapkan lahirnya elite politik yang benar-benar berorientasi pada semakin
terwujudnya demokrasi.
“Kaki kami telah berada di jalan menuju demokrasi,” lanjut Presiden Soekarno dalam
pidatonya di depan Kongres AS itu. “Tetapi kami tidak ingin menipu diri sendiri dengan
mengatakan bahwa kami telah menempuh seluruh jalan menuju demokrasi,”
sambungnya. Ia sadar bahwa meskipun selama bertahun-tahun bangsa Indonesia telah
beperang melawan kolonialisme, imperialisme dan elitisme, jalan menuju demokrasi
masih tetap panjang. Tetapi Bung Karno juga sadar bahwa betapapun panjangnya sebuah
perjalanan, ia harus dimulai dengan langkah-langkah pertama.

Reformasi pendidikan diibaratkan sebagai pohon yang terdiri dari empat bagian yaitu
akar, batang, cabang dan daunnya. Akar reformasi yang merupakan landasan filosofis
yang tak lain bersumber dari cara hidup (way of life) masyarakatnya. Sebagai akarnya
reformasi pendidikan adalah masalah sentralisasi-desentralisasi, masalah pemerataan-

4
mutu dan siklus politik pemerintahan setempat. Setelah melihat keprihatinan mengenai
pendidikan Indonesia serta penyebabnya, yang harus dilakukan adalah kembali ke filosofi
dasar pendidikan. Pendidikan adalah sebuah tindakan fundamental, yaitu perbuatan yang
menyentuh akar-akar hidup kita sehingga mengubah dan menentukan hidup manusia.
Jadi, mendidik adalah suatu perbuatan yang fundamental karena mendidik itu mengubah
dan menentukan hidup manusia. Kesejahteraan suatu bangsa amat bergantung pada
tingkat pendidikannya, apalagi pada zaman sekarang. Kesimpulannya, pendidikan itu me-
manusia-kan manusia muda. Pendidikan adalah suatu bentuk hidup bersama yang
membawa manusia muda ke tingkat manusia purnawan. (Driyarkara, 1991).

Sebagai batangnya adalah berupa mandat dari pemerintah dan standar-standarnya tentang
struktur dan tujuannya. Dalam hal ini isu-isu yang muncul adalah masalah akuntabilitas
dan prestasi sebagai prioritas utama. Cabang-cabang reformasi pendidikan adalah
manajemen lokal (on-site management), pemberdayaan guru, perhatian pada daerah
setempat. Sedangkan daun-daun reformasi pendidikan adalah keterlibatan orang tua
peserta didik dan keterlibatan masyarakat untuk menentukan misi sekolah yang dapat
diterima dan bernilai bagi masyarakat setempat. Terdapat tiga kondisi untuk terjadinya
reformasi pendidikan yaitu adanya perubahan struktur organisasi, adanya mekanisme
monitoring dari hasil yang diharapkan secara mudah yang biasa disebut akuntabilitas dan
terciptanya kekuatan untuk terjadinya reformasi.
Pembaruan pendidikan merupakan suatu proses multi dimensonal yang kompleks, dan
tidak hanya bertujuan untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang dirasakan,
tetapi terutama merupakan suatu usaha penelaahan kembali atas aspek-aspek sistem
pendidikan yang berorientasi pada rumusan tujuan yang baru [Jusuf Amir Faisal, 1995],
dan senantiasa berorientasi pada kebutuhan dan perubahan masyarakat. Oleh karena itu,
upaya pembaruan pendidikan tidak akan memiliki ujung akhir sampai kapanpun. Karena
persoalan pendidikan selalu saja ada selama peradaban dan kehidupan manusia itu sendiri
masih ada. Pembaruan pendidikan tidak akan pernah dapat diakhiri, apalagi dalam abad
informasi seperti saat ini, tingkat obselescence dari program pendidikan menjadi sangat
tinggi. Hal ini dapat terjadi karena perkembangan teknologi yang digunakan oleh
masyarakat dalam sistem produksi dapat mengembangkan teknologi dengan kecepatan

5
yang amat tinggi kerana ia harus bersaing dengan pasar ekonomi secara global, sehingga
perhitungan efektivitas dan efesiensi harus menjadi pilihan utamanya [Suyanto dan
Hisyam, 2000:17]. Tetapi sebaliknya disisi lain, "dunia pendidikan tidak dapat dengan
mudah mengikuti perkembangan teknologi yang terjadi di masyarakat sebagai akibat sulit
diterapkannya perhitungan-perhitungan ekonomi yang mendasarkan pada prinsip
efesiensi dan efektivitas terhadap semua unsurnya. Tidak semua pembaruan pendidikan
dapat dihitung atas dasar efisiensi dan untung rugi karena pendidikan memiliki misi
penting yang sulit dinilai secara ekonomi, yaitu misi kemanusiaan" [Suyanto dan Hisyam,
2000:17].

Agenda Reformasi Sistem Pendidikan Nasional


Pendidikan merupakan kebutuhan penting bagi setiap manusia, negara, maupun
pemerintah. Karena penting, maka pendidikan harus selalu ditumbuhkembangkan secara
sistimatis oleh para pengambil kebijakan yang berwenang di Republik ini [Suyanto dan
Hisyam, 2000:17]. Upaya pendidikan yang dilakukan suatu bangsa selalu memiliki
hubungan yang signifikan dengan rekayasa bangsa tersebut di masa mendatang.
Pendidikan selalu dihadapkan pada perubahan, baik perubahan zaman maupun perubahan
masyarakat. Maka, mau tidak mau pendidikan harus didisain mengikuti irama perubahan
tersebut, kalau tidak pendidikan akan ketinggalan. Oleh karena itu, tuntutan perubahan
pendidikan selalu relevan dengan kebutuhan masyarakat, baik pada konsep, kurikulum,
proses, fungsi, tujuan, manajemen lembaga-lembaga pendidikan, dan sumber daya
pengelolah pendidikan.
Milenium ketiga baru saja kita masuki. Tentu saja bekal hidup pada milenium tersebut
harus berbeda dengan bekal hidup kita pada milenium kedua, khususnya pada abad ke-
19-20. Kehidupan pada milenium ketiga benar-benar berada pada tingkat persaingan
global yang sangat ketat. Artinya, siapa saja yang tidak memenuhi persyaratan kualitas
global, akan tersingkir secara alami dengan sendirinya (Suyanto dan Hisyam, 2000:2).
Salah satu paradigma yang berbeda adalah paradigma di dalam aspek stabilitas dan
predikbilitas, bila pada milenium kedua orang selalu berfikir bahwa segala sesuatu itu
stabil dan bisa diprediksi, pada milenium ketiga semakin sulit untuk melihat adanya
stabilitas (Djamaluddin Ancok, 1998:2).

6
Ketika dunia menghadapi gerakan globalisasi, Amerika Serikat, dalam dokumen America
2000: An Education Strategy, terdapat enam tujuan pendidikan nasional Amerika Serikat.
Salah satunya bahwa Amerika Serikat menginginkan memiliki pengaruh secara global.
Maka untuk mencapai cita-cita itu, pendidikan nasional diformulasikan sebagai : US
students will be first in the world in science and mathematics achievement [Suyanto dan
Hisyam, 2000:22]. Dengan demikian, Amerika Serikat dalam salah satu strategi
pendidikannya menginginkan mahasiswa dan para pelajarnya memiliki prestasi yang
unggul di dunia dalam hal menguasai ilmu pengetahuan dan matematika.

Suatu usaha pembaruan pendidikan karena adanya tantangan kebutuhan dan perubahan
masyarakat pada saat itu, dan pendidikan juga diharapkan dapat menyiapkan produk
manusia yang mampu mengatasi kebutuhan dan perubahan masyarakat tersebut. Dengan
demikian, pendidikan sebenarnya lebih bersifat konservatif, karena selalu mengikuti
kebutuhan dan perubahan masyarakat. Sebagai contoh : misalnya, pada masyarakat
agraris, konsep pendidikan didisain agar relevan dengan perkembangan dan kebutuhan
masyarakat pada era tersebut, begitu juga apabila perubahan masyarakat menjadi
masyarakat industrial dan era informasi, maka pendidikan juga didisain mengikuti irama
perkembangan masyarakat industri dan masayarakat era informasi, dan seterusnya.
Demikian siklus perkembangan perubahan pendidikan, kalau tidak pendidikan akan
ketinggalan dari perubahan zaman yang begitu cepat.

Untuk menghadapi kondisi milineum ketiga yang semakin tidak bisa diprediksi tersebut,
diperlukan kesiapan sikap mental manusia untuk menghadapi perubahan yang sangat
cepat. Orang tidak bisa lagi bersifat reaktif, hanya menunggu dan menghindari setiap
persoalan atau resiko demi resiko, dengan mempertahankan status-quo. Tetapi pada era
milineum ketiga, orang lebih bersifat proaktif dengan memiliki toleransi atas
ketidakjelasan yang terjadi akibat perubahan dengan tingkat dinamika yang tinggi.
Keran demokrasi dan demokratisasi begitu terbuka dan membahana pada masa reformasi
sekarang ini. Maka dari itu pula, reformasi pendidikan mutlak bagi bangsa ini dan dapat
segera diwujudkan menyusul semakin pentingnya sektor pendidikan dijadikan prioritas

7
utama pembangunan, dimana pembiayaan dan kewenangan menjadi fokus utama dalam
reformasi pendidikan tekait dengan desentralisasi pendidikan di era otonomi daerah saat
ini(Maman Suratman, 2007). Diantara berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah
pasca orde baru (orde reformasi), adalah kebijakan di bidang pendidikan yang
menentukan kiprah bangsa ini di masa depan. Niscaya, sumber daya manusia yang
unggul akan dibentuk melalui sistem pendidikan yang merupakan kapital sosial bagi
pembentuk generasi masa depan. Diharapkan, tidak hanya pemerintah yang
“memikirkan” konsep dan sistem pendidikan yang ideal, tetapi merupakan tanggung
jawab bersama.

Dalam konsepsi perikehidupan berbangsa dan bernegara yang menuju kearah civil
society sekarang ini, era reformasi dan otonomi daerah seakan angin segar sekaligus
kesempatan besar dalam reformasi di segala bidang untuk kemajuan bangsa. Sekali lagi,
pendidikan merupakan kunci bangsa untuk eksis dan bersaing di kancah global di masa
depan. Pengalaman negara-negara barat yang bermasyarakat dengan tingkat pendidikan
dan penguasaan teknologi yang tinggi membawa bangsanya pada kedudukan yang tinggi
pula pada percaturan internasional. Kedaulatan dan keunggulan yang kompetitif di masa
depan bukan milik suatu bangsa atau negara, melainkan hak semua bangsa di dunia dan
mampu diraih bangsa manapun, termasuk kita jika berbenah diri dari sekarang. Upaya
memperbaiki Pendidikan Nasional tidak hanya menyangkut masalah fisik dan dana saja.
Tapi, harus lebih mendasar dan strategis.

Sistem Pendidikan Nasional perlu direformasi dengan memadukan wahyu Tuhan dan
ilmu pengetahuan sebagai arena utama aktivitas pendidikan. Sekolah bukan hanya
menjadi tempat pembekalan pengetahuan kepada anak bangsa, tapi juga lembaga
penanaman nilai dan pembentuk sikap dan karakter. Anak-anak bangsa dikembangkan
bakatnya, dilatih kemampuan dan keterampilannya. Sekolah tempat menumbuh
kembangkan potensi akal, jasmani, dan rohani secara maksimal, seimbang, dan sesuai
tuntutan zaman. Output keseluruhan proses pendidikan adalah menyiapkan peserta didik
untuk bisa merealisasikan fungsi penciptaannya sebagai hamba Tuhan dan kemampuan

8
mengemban amanah mengelola bumi untuk dihuni secara aman, nyaman, damai, dan
sejahtera.

Sebagai ilustrasi, pada saat Amerika mengejar kemajuan teknologi ruang angkasa Rusia,
maka pada saat itu pendidikannya ditekankan pada Iptek. Demikian juga pada saat
Amerika mengejar kemajuan ekonomi Jepang dan Jerman, maka pada saat itu
pendidikannya ditekankan pada ekonomi. Dan akhir-akhir ini, ketika dirasakan lemahnya
integrasi bangsa Amerika, maka pendidikan ditekankan untuk membangun integrasi
bangsa (Sizer, 1992). Dengan indikator tersebut, akan menjadi lebih mudah meng-
identifikasikan krisis pendidikan yang terjadi, dengan didasarkan pada indikator yang
diukur dari tidak tercapainya tujuan tekanan pendidikan itu [Anas Syahrul dan Zaidie,
1999:29).

Beberapa usulan langkah-langkah reformasi pendidikan nasional untuk menyongsong


milenium ketiga adalah sebagai berikut :
Pertama, merumuskan visi dan misi pendidikan nasional kita yaitu :
(1) Pendidikan hendaknya memiliki visi yang berorientasi pada demokrasi bangsa
sehingga memungkinkan terjadinya proses pemberdayaan seluruh komponen masyarakat
secara demokratis. Menjadikan sekolah sebagai tempat kaderisasi kepemimpinan
nasional dan memasukkan program wajib militer untuk menumbuhkan rasa nasionalisme.
Memastikan terlaksananya proses pendidikan yang menanamkan jiwa kebebasan,
kemandirian, kewirausahaan, dan meningkatkan keterampilan hidup dan daya juang
kepada anak-anak bangsa yang menjadi peserta didik.

(2) Terselenggaranya pendidikan yang murah, bermutu, dan berwawasan global yang
memiliki daya saing nasional di percaturan global. Pendidikan hendaknya memiliki misi
agar tercapai partisipasi masyarakat secara menyeluruh sehingga secara mayoritas
seluruh komponen bangsa yang ada dalam masyarakat menjadi terdidik" (Suyanto dan
Hisyam, 2000:8).

Kedua, isi dan substansi pendidikan nasional yaitu :

9
(1) Substansi pendidikan dasar hendaknya mengacu pada pengembangan potensi dan
kreativitas siswa dalam totalitasnya. Meningkatkan wajib belajar dari Sembilan tahun
menjadi dua belas tahun. Oleh karena itu, tolok ukur keberhasilan pendidikan dasar tidak
semata-mata hanya mengacu pada NEM. Persoalan-persoalan yang terkait dengan
paradigma baru menegnai keberhasilan seseorang perlu mendapatkan perhatian secara
emplementatif.
(2) Substansi pendidikan di jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi
hendaknya membuka kemungkinan untuk terjadinya pengembangan individu secara
vertikal dan horizontal. Pengembangan vertikal mengacu pada struktur keilmuan,
sedangkan pengembangan horizontal mengacu pada keterkaitan dan relevansi antar
bidang keilmuan.
(3) Melakukan pembangunan Sistem Pendidikan Nasional yang konprehensif, integratif,
dan aplikatif. Makna konprehensif adalah menjamin perbaikan yang berkelanjutan,
integratif tak memisahkan aspek moral dan nilai-nilai luhur dari pembelajaran dan
pengajaran, dan aplikatif menunjuk pada mutu dan meningkatnya daya saing bangsa.
Pendidikan tinggi hendaknya jangan semata-mata hanya berorientasi pada penyiapan
tenaga kerja. Tetapi lebih jauh dari itu harus memperkuat kemampuan dasar mahasiswa
yang memungkinkan untuk berkembang lebih jauh, baik sebagai individu, anggota
masyarakat, maupun sebagai warga negara dalam konteks kehidupan yang global.

(4) Memberi perhatian serius pada pendidikan khusus bagi anak bangsa yang disebabkan
oleh cacat atau kecerdasan luar biasa peserta didik. Pendidikan nasional perlu
mengembangkan sistem pembelajaran yang egaliter dan demokratis agar tidak terjadi
pengelompokan dalam kelas belajar atas dasar kemampuan akademik.

(5) Menerapkan desentralisasi penyelenggaraan pendidikan dan meningkatkan partisipasi


masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan formal, nonformal, dan informal.
Pengembangan sekolah perlu menggunakan pendekatan community based education.
Dalam model in, sekolah dikembangkan dengan memperhatikan budaya dan potensi yang
ada di dalam masyarakat itu sendiri. Meningkatkan kualitas pengelolaan manajemen
sekolah dan metode pembelajaran serta menjadikan sekolah tidak lagi sebagai menara

10
gading yang steril dari analisis kebutuhan lingkungan sekitarnya. Sekolah bukan hanya
tempat penyelenggaraan pendidikan, tapi juga bisa menjadi pusat latihan, seminar,
workshop, dan studi banding. Sekolah adalah pusat belajar masyarakat di wilayahnya
berada.

(6) Melakukan monitoring dan evaluasi sistematis terhadap berbagai aspek konsep dan
operasional Sistem Pendidikan Nasional di semua jenis, jenjang, dan jalur pendidikan.
Untuk menjaga relevansi outcame pendidikan, perlu diimplemantasikan filsafat
rekonstruksionisme dalam berbagai tingkat kebijakan dan praksis pendidikan. Dengan
berorientasi pada filsafat ini, pendidikan akan mampu merekonstruksi berbagai bentuk
penyakit sosial, mental dan moral yang ada dalam masyarakat, sehingga pada akhirnya
akan dapat ditanamkan sikap-sikap toleransi etnis, rasial, agama, dan budaya dalam
konteks kehidupan yang kosmopolis dan plural [Suyanto dan Hisyam, 2000:11-12].

Ketiga, manajemen dan anggaran yaitu :


(1) Perguruan tinggi perlu dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip otonomi dan
accountability quality assurance. Dengan prinsip ini pada akhirnya perguruan tinggai
harus mempertanggungjawabkan kinerja kepada masyarakat, orang tua, mahasiswa,
maupun pemerintah.

(2) Manajemen pendidikan sekolah dasar hendaknya berada dalam satu sistem agar
terjadi efisienei administrasi dan efisiensi pembinaan akademik para guru.

(3) Pendidikan tinggi hendaknya diselenggarakan dengan menggunakan prinsip-prinsip


menajemen yang fleksibel dan dinamis agar memungkinkan setiap perguruan tinggi
untuk berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing dan tuntutan eksternal yang
dihadapinya.

(4) Pengembangan akademik di perguruan tinggi perlu fleksibilitas yang tinggi agar
tercipta kondisi persaingan akademik yang sehat. Memanfaatkan teknologi informasi dan
komunikasi untuk meningkatkan mutu pendidikan.

11
(5) Guru dan dosen harus diberdayakan secara sistematik dengan melihat aspek-aspek,
antara lain : kesejahteraan, rekruitmen dan penempatan, pembinaan dan pengembangan
karier, dan perlindungan profesi. Meningkatknya kompetensi, kesejahteraan,
penghargaan, dan perlindungan terhadap profesi guru tanpa membeda-bedakan status
kepegawaian, PNS atau swasta.

(6) School based management perlu dikembangkan dalam kerangka desentralisasi atau
devolusi pendidikan, agar lembaga-lembaga pendidikan dapat mempertahankan
akuntabilitasnya terhadap stake holder pendidikan nasional. Menumbuhkan kepedulian
masyarakat terhadap pendidikan. Kesadaran masyarakat untuk ambil bagian dalam
pendidikan adalah bentuk dari ketahanan sosial atas perubahan tantangan lingkungan
yang terjadi. Pendidikan tidak lagi menjadi tanggung jawab orang tua secara individu per
individu, tetapi itu tanggung jawab komunitas secara bersama.

(7) Mengawal realisasi anggaran pendidikan yang besarnya 20% dari total APBN
(Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) sebagaimana amanah Pasal 31 ayat 4
Amandemen IV UUD 1945. Pendidikan hendaknya mendapatkan proporsi alokasi dana
yang cukup memadai agar dapat mengembangkan program-program yang berorientasi
pada peningkatan mutu, relevansi, efisiensi dan pemerataan. Untuk itu, perlu ada
peningkatan anggaran secara signifikan sehingga mencapai 20% dari APBN yang sedang
berjalan. Karena anggaran pendidikan di Indonesia sangat rendah sehingga tidak mempu
untuk mendukung berbagai inovasi di bidang pendidikan (Suyanto dan Hisyam, 2000:11-
13).
Pelaksanaan proses pendidikan harus efektif untuk menanamkan jiwa kebebasan,
kemandirian, dan kewirausahaan. Dengan begitu anak-anak bangsa yang menjadi peserta
didik bisa eksis dalam persaingan di masa datang berbekal keterampilan hidup (life skill)
dan daya juang (adversity quotient) yang mumpuni. Kurikulum diarahkan untuk memberi
pengalaman belajar yang seimbang yang meliputi aspek intektual (IQ), emosional (EQ),
dan spiritual (SQ). Dan titik tekannya adalah membentuk karakter pembelajar agar anak
bangsa yang menjadi peserta didik memiliki keinginan untuk belajar di sepanjang

12
hayatnya. Tipe bangsa pembelajarlah yang bisa survive menghadapi persaingan global
yang rivalitasnya bukan lagi di tataran negara vs negara atau kota vs kota. Tetapi, sudah
di level individu vs individu. Karena itu, menjadi hajat kita bersama untuk
memperjuangkan perbaikan dan pembangunan dunia pendidikan di negeri ini.

Pada tingkat implementasinya di lapangan banyak hambatan yang menghadang. Di


tingkat implementasi perundang-undangan tersebut menghadapi manusia-manusia yang
belum berubah. Memang, perundang-undangan tersebut diyakini dalam jangka waktu
tertentu jika pelaksanaannya konsisten akan mengubah manusia-manusia Indonesia;
tetapi masalahnya dalam pelaksanaannya reformasi itu melibatkan manusia-manusia yang
belum mengerti reformasi dan tidak ingin mengerti reformasi karena akan merugikan
dirinya jika reformasi dilakukan secara total dan konsisten.
Apabila kita berbicara kemampuan dan kesiapan sebagai anak bangsa, tampaknya kita
belum siap benar menghadapi persaingan global pada milenium ketiga. Tenaga ahli kita
belum cukup memadai untuk siap bersaing di tingkat global. Apabila "dilihat dari
pendidikannya, angkatan kerja kita saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Sebagian
besar angkatan kerja (53%) tidak berpendidikan, yang berpendidikan dasar sebanyak
34%, berpindidikan menengah 11%, dan berpendidikan tinggi hanya 2%. Padahal
tuntutan dari dunia kerja pada akhir pembangunan jangka panjang II nanti mengharuskan
angkatan kerja kita berpendidikan" [Boediono, 1997:82]. Sebenarnya sektor pendidikan
menjadi tumpuan harapan dan memiliki peran strategis dan fungsional dalam upaya
membangun dan meningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pendidikan
sebenarnya selalu didesain untuk senantiasa berusaha menjawab kebutuhan dan tantangan
yang muncul di kalangan masyarakat sebagai konsekuensi dari suatu perubahan. Tetapi
pada kenyataannya, kondisi "pendidikan kita masih melahirkan mismatch yang luar biasa
dengan tuntutan dunia kerja. Kondisi seperti ini juga berarti bahwa daya saing kita secara
global amat rendah [Suyanto dan Hisyam, 2000:3].

Demikianlah, keberhasilan reformasi seperti ditunjukkan di atas telah dihadang oleh


masalah manusia yang merupakan subjek dan objek reformasi. Ironisnya program
reformasi kita tampaknya tidak memiliki isu yang kuat dan fundamental untuk mengatasi

13
masalah manusia dalam reformasi ini. Isu yang menyangkut manusia ini sering
diungkapkan dalam bentuk kritik-kritik budayawan kita terhadap pembangunan pada
masa Orde Baru yang mengabaikan manusia, namun sekarang tetap terlupakan.

Visi Pendidikan Multikultur


Tanpa menutup mata akan adanya kemungkinan isu-isu kritis lain yang menyertai
reformasi ini, namun tekad untuk tetap berkontribusi terhadap pembangunan kehidupan
bangsa melalui pencerdasannya adalah suatu niat yang bersumber dari refleksi yang
mendalam dari kekuatan religius bangsa dalam kehidupan bertakwa kepada Allah SWT
dan berawal dari suatu intellectual mindshift. Kalau titik awalnya (TA, Point of
Depature : POD) sudah jelas, yaitu kita menyadari (mindshift) bahwa kita belum terlepas
dari krisis multi dimensional, maka ke mana anak kita akan kita bawa; ke mana titik
tibanya atau Point of Arrival (POA).
Perspektif masa depan kita dilukiskan sebagai masyarakat madani yang beragama,
ditandai oleh kebersamaan dalam kebhinekaan yang dilandasi oleh keadilan dan
kesejahteraan yang berkesinambungan serta dalam keserasian dengan kecendrungan
global. Dengan memahami visi tentang perjalanan yang harus di tempuh akan mencapai
POA bangsa ini, maka kemudian perlu difahami bagaimana caranya mencapai cita-cita
tersebut.
Dalam kaitan dengan reformasi pendidikan, maka apa yang menjadi landasan filsafat
pendidikan adalah UUD 1945 pasal 31 ayat 1, yang menyebutkan bahwa setiap anak
Indonesia berhak untuk belajar. Dengan demikian, maka berdasarkan landasan bahwa
setiap anak itu adalah individu yang berbeda satu dengan lainnya dengan beragam bakat
dan watak, pengalaman belajar harus menjadi pengaruh yang bersifat personal, bermakna
dan beragam. Konsekunsinya adalah bahwa paradigma pendidikan menuju sistem
desentralisasi dalam otonom daerah mengacu pada keharusan pendidikan multikultur.
Paradigma pendidikan multi kultur mengisyaratkan bahwa individu siswa individual
belajar bersama dengan individulain dalam suasana saling menghormati, saling toleransi
dan saling memahami.
Cara pandang dan interpretasi orang dalam satu budaya etnis tertentu terhadap makna
lambang budaya tertentu, demikianpun perilakunya pada umumnya kurang lebih sama

14
dan merupakan microculture tertentu dalam keseluruhan culture yang dominan, atau yang
di sebut macroculture (mainstream). Namun, sebagaimana cara orang belajar juga
memiliki perbedaan, demikian juga kelompok individu tertentu berbeda perkembangan,
ara pandang dan orientasinya sesuai microculture tertentu dan sedikit banyak terbentuk
oleh culture tersebut karena society lives through them, harus beradaptasi terhadap
mainstream culture yang ada. Mereka adalah peserta didik yang apabila kurang mampu
beradaptasi, disebut field dependent atau field sensitive, yaitu mereka mengalami
kesulitan menyesuaikan diri dalam lingkungan belajar mereka. Apabila anak tidak dapat
menyesuaikan dirinya, maka ada kebutuhan tertentu yang tidak terpenuhi. Apabila
kebutuhannya tidak terpenuhi, ia akan mengalami stres atau frustasi, dan apabila
seseorang mengalami stres atau frustasi, maka berbagai prilaku yang menyimpang
(seperti mudah menipu dan sikap bermusuhan (hostile attitude) akan mungkin bisa
menjadi akibatnya. Semua kecenderungan itu merupakan potensi untuk korupsi, tawuran,
dsb.
Guru harus belajar agar mampu menerapkan strategi pembelajaran kooperatif
(cooperative teaching strategies) dalam pergaulan sosial dengan para sisiwa yang
memiliki berbagai sifat yang beragam itu dalam suasana belajar yang sangat
menyenangkan, sehingga mereka akan saling belajar segi-segi positif dari temannya.
Salah satu tujuan utama multicultural education adalah mengubah (transformasi) berbagai
pendekatan belajar mengajar, mengubah kunseptualisasi dan organisasinya sehingga
setiap individu dari berbagai culture memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar
dalam lembaga pendidikan. Yang disebut kesempatan yang sama itu bukan semata-mata
memperoleh bangku sekolah, melainkan yang lebih penting adalah selain kebersamaan
dalam satu kelas, perhatian dan pelayanan penuh juga harus ada terhadap kebutuhan
khusus pendidikan (special education needs) setiap individu.

Setiap peserta didik menjadi bagian dari kelompok tertentu, kelas sosial,
bangsa,etnis,agama, gender, kekhususan tertentu, dan ia bisa menjadi bagian atau
menjadi anggota dari berbagai kelompok itu. Bagi pendidik penting untuk menyadari
tingkat identifikasi pesertra didik dengan kelompok mana dan sampai seberapa jauh

15
terjadi sosialisasi, untuk bisa memahami, menjelaskan dan meramalkan perilakunya agar
ia terlayani dengan baik di kelasnya.

Apabila kurikulum sekolah-sekolah kita menggunakan kurikulum berbasis kompetensi


yang menunjuk pada kemampuan yang terkait dengan kriteria tertentu (criterion
referenced), maka mengintegrasikan pendidikan multikultur dalam mewujudkannya,
memerlukan patokan minimal (threshold), dengan rentangan sampai dengan superior.
Sekolah yang mengembangkan orientasi “managemen berbasis sekolah” perlu paling
sedikit mencapai ambang minimal kompetensi, sedangkan sekolah yang mutunya baik
yang mencapai rentangan superior dalam pengelolaan (manajemen)nya, dapat bersaing
dengan sekolah-sekolah dari negara lain. Namun apabila Indonesia yang memiliki kurang
lebih 210 juta penduduk serta lebih dari 300 suku bangsa dan kurang lebih 17.500
kepulauan, ingin berkompetisi dalam persaingan global, maka primodialisme yang
berlatar belakang kesukuan, ras, agama, kelompok, partai, fraksi, golongan, bahkan juga
asal pendidikan tidak harus menjadi stereotype dalam kehidupan bernegara, melainkan
penghargaan prestasi terhadap prestasi dan integritas pribadi harus lebih dikedepankan.

Menumbuh Kembangkan Eksistensi Manusia


Pendidikan harus mulai berbenah diri dengan menyusun strategi untuk dapat
menyongsong dan menjawab tantangan perubahan masyarakat yang kian cepat. Apabila
tidak maka pendidikan akan tertinggal dalam persaingan global. Maka dalam menyusun
strategi untuk menjawab tantangan perubahan tersebut, paling tidak harus memperhatikan
beberapa ciri, sebagai berikut:
Pendidikan Indonesia diupayakan lebih diorientasikan atau "lebih menekankan pada
upaya proses pembelajaran (learning) daripada mengajar (teaching)".
Pendidikan dapat "diorganisir dalam suatu struktur yang lebih bersifat fleksibel".
Pendidikan dapat "memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki
karakteristik khusus dan mandiri", dan
Pendidikan, "merupakan proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi
dengan lingkungan" (Zamroni,2000).
Keempat ciri ini, dapat disebut dengan paradigma pendidikan sistematik-organik yang

16
"menuntut pendidikan bersifat double tracks, artinya pendidikan sebagai suatu proses
yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan dan dinamika masyarakat".

Dua hal yang terkait dengan rumusan operasional mengenai hakikat pendidikan ialah
proses pendidikan yang berarti menumbuhkembangkan eksistensi manusia. Artinya,
bahwa keberadaan manusia ialah keberadaan interaktif, sebagai makhluk individu
sekaligus makhluk sosial. Sebagai ‘abdullah sekaligus khalifatullah. Antara tujuan dan
fungsi manusia ini sendiri yang kemudian menuntut eksistensi manusia untuk terus dicari
pemahaman aplikatifnya seperti apa. Dalam hal ini, benar bahwa prosesi pemaknaan atas
eksistensi manusia itu sendiri harus senantiasa berjalan sepanjang waktu. Sepanjang
tujuan dan fungsi manusia yakni sebagai ‘abdi dan khalifah belum mampu dipahami,
terkonsepsikan, dan teraplikasikan dengan baik maka sejatinya arahan hakikat pendidikan
secara menyeluruh belum mampu terwujudkan. Karena salah satu dari keberwujudan
eksistensi manusialah yang sampai pada konsekuensi progresifitas pendidikan, yang tak
hanya sekedar berdimensi lokalitas tetapi juga global. Tak hanya berdimensi sosial
manusia tetapi juga berdimensi Illahiyah.

Selanjutnya, merupakan eksistensi manusia yang memasyarakat. Apakah sama hal ini
dengan tuntutan peran dari adanya proses pendikan itu sendiri? Bisa dikatakan hampir
sama, namun yang lebih signifikan dalam hal ini bahwa eksistensi manusia yang
memasyarakat ialah ketika pemahaman unsure pendidikan terdapat lembaga pendidikan
dan non lembaga pendidikan, maka sejatinya bukan mencoba mendikotomikan antara
lembaga dan non lembaga tersebut. Kenapa demikian? Menjadi kurang tepat jika
mengasumsikan bahwa prosesi pendidikan bukan berada di masyarakat karena berada di
lembaga pendidikan. Karena sejatinya, antara lembaga dan non lembaga atau masyarakat
merupakan peran yang sama, bukan dua hal yang berbeda dalam ruang yang berbeda.
Sehingga menjadi kurang tepat lagi, jika kemudian keinginan dari eksistensi manusia—
dalam hal ini peran pendidikan mencoba menyiapkan konsepsi sebagai inisiasi
memasyarakat tadi, karena pendidikan itu sendiri ada dalam masyarakat. Benar bahwa,
tujuan pendidikan bukan diluar proses pendidikan yang mengasumsikan masyarakat, tapi
berada dalam pendidikan sendiri.

17
Kebijakan peningkatan mutu selama ini senantiasa cepat direspons sepenuhnya oleh
sekolah yang masuk pada kualifikasi “menuju kualitas unggul”. Sekolah pada klasifikasi
“memantapkan posisi” juga cepat merespons tetapi banyak mengalami kesulitan. Oleh
karena itu, kebijakan peningkatan mutu yang ada akan meningkatkan sekolah-sekolah
yang ada pada kualifikasi “menuju kualitas unggul” lebih cepat dibandingkan dengan
kualifikasi “memantapkan posisi”, apalagi kualifikasi “hidup tidak mati segan” dan “pas-
pasan”. Dengan peningkatan mutu secara konvensional sebagaimana yang ada selama ini
kesenjangan mutu diantara sekolah akan semakin tajam.

Dengan pandangan sudut yang berbeda, peningkatan mutu pendidikan konvensional


meneguhkan apa yang disebut Self-Fulfilling Prophecies: The Vicious Cycle, sekolah
yang kurang bermutu terjebak pada kelemahan sistem sehingga tidak bisa memiliki
harapan yang lepas dari “rendahnya mutu”. Sekolah bermutu rendah menjadikan sekolah
bermutu rendah. apa yang dicapai juga rendah Apabila kompetensi tidak hanya
ditekankan pada penguasaan pengetahuan dan ketrampilan semata, melainkan juga
ditekankan pada pengembangan karakter dan soft skill seperti kemampuan
berkomunikasi, kemampuan berkolaborasi dan berpartisipasi, secara relatif semua
sekolah akan dapat merespons, tanpa melihat kualifikasi kelas sekolah yang ada.
Dalam kondisi sekolah semacam ini dalam rangka meningkatkan mutu, kebijakan
pertama yang diperlukan adalah perubahan cara pandang (mind setting), baik bagi kepala
sekolah, guru, siswa dan juga orang tua siswa.

Kepala sekolah harus memiliki cara pandang baru berkaitan dengan sekolah. Yakni,
Sekolah bukan pabrik melainkan masyarakat kecil dan a learning community, siswa
bukan bahan mentah melainkan individu yang masing-masing memiliki karakteristik
berbeda; Guru bukan satu-satunya sumber ilmu, melainkan memberikan arah dan
mengantarkan peserta didik untuk menguasai ilmu, dan sekaligus a learning person.
Dengan demikian kepala sekolah harus memperlakukan guru sebagai pekerja
professional yang mandiri yang tidak perlu senantiasa diperintah atau didikte dan tidak
mencari kambing hitam “kualitas masukan” sebagai penyebab rendahnya mutu sekolah.

18
Guru harus memiliki cara pandang baru, bahwa, PBM tidak sederhana, melainkan proses
yang penuh ketidak pastian karena melibatkan pikiran, emosi, imaginasi, sikap siswa dan
sumber lain yang diperolehnya bukan dari guru; guru bukan pengecer ilmu melainkan
Guru adalah a cave (Consistent added value everywhere) worker.

Pendidikan Terpadu: Sebuah harapan


Pendidikan nasional selama ini tidak memiliki visi yang jelas tentang pemberdayaan
manusia Indonesia sendiri. Memang hal ini tergantung pada sistem politik dan kebijakan
pendidikan pemerintah, selama pemerintah lebih menitikberatkan pada pemanfaatan dan
pengagung-agungan produksi impor maka produksi dalam negeri akan terus mengalami
kemerosotan atau bahkan mati sama sekali. Politik ekonomi pemerintah selama ini tidak
sejalan dengan politik pendidikannya, politik pendidikannya juga tidak sesuai dengan
politik budayanya, demikian juga politik budayanya tidak sesuai dengan politik
ideologinya. Atau dengan kata lain antara politik yang satu dengan politik yang lain tidak
ada yang sejalan, seirama, dan senafas.
Dari segi ideologi, nasionalisme adalah ideologi yang paling dominan, namun ketika
berada dalam politik ekonomi dan politik militer berbeda karena lebih mementingkan
kepentingan luar negeri dalam arti menggunakan teori-teori Barat dan persenjataan
impor. Ini jelas menunjukkan tidak adanya keselarasan dan kesesusaian antara politik
ideologi dan politik ekonomi maupun militer. Demikian juga yang terjadi dengan politik
pendidikan dan politik lainnya tidak ada yang selaras. Pendidikan di Indonesia sampai
saat ini masih berjalan secara parsial dan terpisah-pisah tanpa adanya kordinasi yang jelas
dari pemerintah. Parsialisasi ini dapat dilihat dari banyaknya lembaga pendidikan yang
berlindung atau didirikan oleh beberapa departemen, misalnya Departemen Pertahanan
memiliki Akabri, Akpol dan sebagainya; Departemen Agama memiliki lembaga
pendidikan agama, Departemen Keuangan memiliki lembaga pendidikan STAN,
Departemen Dalam Negeri memiliki lembaga pendidikan STPDN dan sebagainya. Dasar
pemikiran pendirian tersebut di satu sisi adalah untuk pemberdayaan sumber daya
manusia masing-masing departemen, namun ada analisis lain yaitu sebagai lahan untuk
mendapat anggaran lebih besar. Karena lembaga-lembaga pendidikan di masing-masing
departemen merupakan sumber proposal proyek yang sangat strategis.

19
Implikasi dari parsialisasi dan terkesan miskordinasi sistem pendidikan nasional tersebut
menyebabkan munculnya bibit-bibit egoisme masing-masing departemen. Kordinasi yang
seharusnya menjadi salah satu strategi yang sangat penting menjadi terpental dengan
parsialisasi tersebut. Oleh karena itu, barangkali layak dikemukakan di sini dilontarkan
adanya ide Pendidikan Nasional Terpadu. Modus operandinya adalah dihilangkannya
masing-masing lembaga pendidikan di departemen yang berbeda kemudian dijadikan
menjadi satu payung. Namun sebelumnya harus dilakukan kesepakatan bersama secara
mantap bahwa payung tersebut harus tetap mengakomodasi kepentingan dan aspirasi
masing-masing departemen.

Untuk menyelaraskan perlu kiranya digagas politik pendidikan nasional terpadu yang
mencakup dan sejalan dengan politik ideologi, politik pemerintahan, politik budaya,
politik ekonomi, politik hukum, dan politik-politik lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk
memperjelas visi pendidikan nasioanl terpadu sebagai upaya untuk keluar dari
keterpurukan multidimensional bangsa Indonesia ini.

Dengan konsep pendidikan nasional terpadu visi pendidikan nasional adalah jelas
pemberdayaan manusia Indonesia dalam seluruh aspek kehidupan, seluruh sector
kehidupan, seluruh disiplin keilmuan, seluruh lapisan masyarakat, seluruh strata sosial,
seluruh kerangka ajaran agama, seluruh etnis bangsa, seluruh budaya bangsa, seluruh
tradisi local masyarakat, dan seluruh harapana manusia Indonesia. Pendidikan nasional
terpadu artinya memberikan kesempatan kepada masyarakat Indonesia seluruhnya untuk
mengembangkan minat, bakat, potensi, kreativitas, dan keterampilannya yang kemudian
didukung sepenuhnya dan diakui sepenuhnya oleh dunia industri serta pemerintah dengan
aturan hukum yang jelas dan tegas. Pemberdayaan lewat pendidikan tentunya perlu
dilakukan perombakan sistem pendidikan secara menyeluruh dimana tindakan-tindakan
dan praktik-praktik penyelewengan sebagaiman dikemukakan di sub sebelumnya telah
terbabat habis dalam proses pendidikan nasional. Kualitas alumni bukan hanya dinilai
dari keberhasilan menduduki jabatan akan tetapi dinilai sejauh mana alumni tersebut

20
telah memberikan sumbangan bagi pemberdayaan masyarakat. Inilah yang barangkali
menjadi idaman manusia Indonesia seutuhnya dan para founding father negara Indonesia.

Pendidikan nasional selama ini tidak pernah bersahabat dengan dunia industri. Dunia
industri seakan-akan berada di luar dunia pendidikan nasional. Padahal dunia industri dan
pendidikan adalah dua pihak yang saling membutuhkan. Industri di sini mencakup
seluruh jenis industri misalnya industri pertanian, industri kehutanan, industri kesehatan,
industri olah raga, industri pendidikan, industri kelautan, industri komunikasi, industri
transportasi, industri informasi, industri militer dan intelijen, industri budaya, industri
arsitektur, industri keuangan, industri entertainment, industri hukum, industri media
massa dan sebagainya. Simbiosis mutalisme di atas merupakan satu-satunya sarana yang
paling strategis bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional. Dengan adanya simbiosis
mutualisme inilah yang kemudian memunculkkan konsep pendidikan nasional terpadu.
Artinya segala kebutuhan kehidupan manusia Indonesia diupayakan dipenuhi dengan
membuat penelitian yang kemudian memproduksinya. Semua ini dilakukan oleh putera-
puteri Indonesia betapapun buruknya kualitas bila hal itu adalah produk dalam negeri
harus dihormati dan harus dikembangkan oleh pendidikan yang ada dengan penelitian
yang intensif. Atau dengan kata lain bahwa hasil penelitian yang dilakukan dan
ditemukan oleh ilmuwan Indonesia harus direspons dan didukung sepenuhnya oleh dunia
industri. Bukan hanya menerima jadi dari luar negeri, karena betatapun bagusnya produk
luar negeri lambat laun akan menyengsarakan dan memiskinkan masyarakat Indonesia
sendiri.

Adanya penyatuan payung pendidikan nasional dalam satu departemen. Departemen ini
benar-benar bertanggung jawab secara nasional baik dalam hal kualitas, standar minimal
lulusan, dan standar kesuksesan seorang alumni. Sebagai payung pendidikan secara
nasional berarti dia memiliki kewenangan dalam menentukan berbagai komponen
pendidikan. Departemen ini memiliki jaringan yang sangat kuat dengan berbagai
departemen. Jaringan tersebut didasarkan pada hubungan saling mengisi dan bertanggung
jawab. Artinya bahwa departemen pendidikan nasional terpadu ini harus memiliki ikatan
structural, fungsional, emosional, dan intelektyal dengan departemen lain. Misalnya

21
dengan Departemen Pertahanan, maka departemen pendidikan nasional terpadu ini
bekerja sama secara intensif dalam hal penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan
pengembangan teknologi persenjataan militer. Kerja sama bentuk ini dimaksudkan untuk
mnegurangi ketergantungan tekonologi militer kepada lura negeri. Penelitian yang
intensif dengan dukungan dana yang cukup serta langsung dipraktikkan dalam
departemen yang bersangkutan merupakan bentuk kerja sama yang saling
menguntungkan dan memberdayakan.

Departemen pendidikan nasional yang terpadu dalam penelitian persenjataan tersebut


bukan hanya berkaitan dengan persenjataan dengan teknologi tingkat menengah, akan
tetaoi juga teknologi tingkat tinggi yang tentunya memerlukan para ahli militer,
arsitektur, nuklir, fisika, elektro dan keahlian lain yang mendukung pengembangan
persenjataan canggih. Demikian juga kerja sama dengan departemen lain misalnya
departemen pertanian, keuangan, kesehatan dan sebagainya. Dengan demikian,
departemen pendidikan nasional terpadu ini bukan berarti berada di atas departemen
lainnya, akan tetapi merupakan satu-satunya departemen yang memiliki otoritas di bidang
pendidikan, penelitian, dan pengembangan sebagai upaya untuk memberdayakan
masyarakat Indonesia seluruhnya.

Kepercayaan tersebut merupkan modal yang sangat luar biasa ampuhnya bagi pencurahan
perhatian kemajuan dan peningkatan kualitas pendidikan nasional. Kepercayaan yang
saat ini menguap dari masing-masing pihak merupakan akibat secara tidak langsung dari
terpecahnya konsentrasi pengelola pendidikan nasional. Di satu sisi departemen ini
mengurusi dan bertanggung jawab terhadap kualitas pendidikan nasional, namun di sisi
lain tidak mampu mengakses dan memberikan regulasi yang tegas terhadap lembaga
yang ada di bawah naungannya. Kepercayaan tersebut bisa dimunculkan kembali jika
pemerintah memilki political will yang kuat dan konsisten terhadap kualitas pendidikan
nasional, karena pada dasarnya pemerintah Indonesia hanya ada satu dan berada di bawah
kekuasaan satu presiden dan satu wakil presiden dengan bekerja sama dengan DPR.
Apalagi menghadapi sistem pemerintahan Indonesai hasil pemilihan umum 2004 ini yang

22
lebih menganut sistem presidensil, maka peemrintah mnemiliki kekuasaan yang luar
biasa dalam menentukan hitam putih, merah biru, hijau kuningnya pendidikan nasional.

Pendidikan nasional pada dasarnya adalah otak dari sebuah badan besar yakni negara
Indonesia. Jika otak tersebut dipisah-pisah baik energi, potensi maupun kekuatannya,
maka kinerja otak tersebut tidak akan bisa maksimal. Demikian juga dengan pendidikan
nasional bila kekuatan, energi, dan potensinya dipisah-pisahkan ke masing-masing
departemen, maka performancenya juga tidak akan bisa mencapai maksimal. Sebagai
kekuatan utama dalam pendidikan nasional, maka pendidikan nasional terpadu ini
mencakup seluruh disiplin keilmuan yang berkembang saat ini. Kinerjanya dapat
ditentukan dengan target jangk apendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Namun
semua itu tidak boleh melupakan aspek moralitas yang menjadi kendali utama sistem
pendidikan nasional terpadu ini. Sebab tanp adanya kendali moralitas yang tinggi, maka
pemusatan kekuatan, potensi dan energi akan menjadi sasarn empuk bagi para "tikus-
tikus intelektual" yang tidak mengenal tempat dan waktu itu. Dengan demikian,
pemanfaatan departemen pendidikan sebagai muara satu-satunya seluruh proses
pendidikan nasional menjadi mudah dimonitor. Tentunya semua ini didasarkan pada
legislasi dan hukum yang jelasa dan mantap tidak interpretable dan multi tafsir.

Pendidikan nasional terpadu secara politik merupakan strategi nasional pemerintah yang
sedang berkuasa dalam rangka meningkatkan kualitas manusia Indonesia untuk
melepaskan diri dari ketergantungan dalam bentuk apapun dari negara lain. Berdiri di
atas kekuatan, kemampuan, kekayaan, sumber daya alam, dan keterampilan sendiri
adalah visi politik pendidikan nasional terpadu. Dengan visi ini dimungkinkan adanya
kebanggaan bagi para pengelola pendidikan karena benar-benar diperhatikan oleh dunia
industri lainnya. Politik pembangunan infrastruktur, suprastruktur, dan superstruktur
harus memberdayakan seluurh lapisan masyarakat baik secara sosial, politik, ekonomi,
budaya, maupun ideologi melalui pendidikan.

Dengan menjadikan pendidikan nasional terpadu sebagai strategi nasional pemerintah,


maka sebagai konsekuensi logis, konsekuensi, administrative, konsekuensi responsibiltas,

23
dan konsekuensi politik pemerintah harus menyediakan dana anggaran sesuai dengan
tuntutan konstitusi hadir amandemen yang mengamanatkan 20 persen dari total APBN.
Komitmen pengucuran dana sedemikian besar tentunya dibarengi dengan ketatnya nilai
moralitas bangsa sedemikian rupa sehingga para pengelola tidak lupa diri dengan
bergelimangnya dana anggaran pendidikan nasional terpadu. Hal ini harus mulai dirintis
dari proses pendidikan tingkat dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Moralitas bangsa
adalah satu-satunya tolok ukur keberhasilan peningkatan kualitas pendidikan nasional
terpadu. Karena dengan moralitas tinggi, maka kemungkinan bocornya anggaran dana
akan dapat diminimalisir. Harapan ini bukan merupakan ilusi dan obsesi intelektual dan
bersifat teoritik belaka, akan tetapi bila semua pihak memiliki komitmen bahwa siapa
yang salah harus dipecat dan siapa yang jujur harus terus didukung, maka moralitas
bangsa akan menjadi baik dan itu harus dimulai dari sekarang dan melalui jalur politik
pendidikan nasional terpadu.

Politik pendidikan dalam rangka pemberdayaan seluruh masyarakat Indonesia dan


penanaman moralitas merupakan sasaran dan tujuan utama pendidikan nasional terpadu.
Moralitas bangsa merupakan landasan spiritual yang tidak mampu dibangun dalam waktu
singkat. Penanaman moralitas bangsa harus dipupuk dan tidak pernah lengah sebentarpun
dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, pelakasanaan proses pendidikandari sejak
tingkat dasar, menengah sampai perguruan tinggi harus senantiasa dikawal moralitas
peserta didik. Peserta didik yang secara moral tidak lolos dan memiliki standar moral
rendah tidak berhak mengenyam pendidikan lebih tinggi. Karena semua itu akan sangat
merugikan masyarakat lainnya. Di saat yang sama pemberdayaan seluruh potensi, minat,
bakat, kreativitas, dan keterampilan baik di bidang teknologi, budaya, tradisi, seni,
intelektual, sastra dan sebagaianya haru smendapatkan prioritas utama dalam pendidikan.
Sebagaimana diungkap di atas semua itu mendapat dukungan penuh dari politik
pemerintah yang sedang berkuasa dan dunia industri yang terkait. Pemerintah terus
mengawal kerja sama dan jaringan kerja antara lembaga pendidikan dengan dunia
industri sebagai langkah untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap negara lain.
Sebagaimana juga diungkap di atas industri di sini mencakup industri dalam seluruh
aspek kehidupan masyarakat dan bangsa.

24
Kebijakan Pendidikan : intervensi pemerintah dalam pendidikan
Dalam perjalanan sejarah, sistem pendidikan di Indonesia berulang kali berganti. Mulai
dari rentetan kurikulum di era Orde Baru, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan
Kurikulum Terpadu Satuan Pendidikan (KTSP). Berubahnya kurikulum yang cepat
dalam rentang waktu yang pendek mengakibatkan kegagapan sistem di kalangan
pendidik serta pelajar.
Guru yang seharusnya mengawal proses pendidikan tidak menguasai sepenuhnya konsep
pendidikan yang digulirkan oleh pemerintah. Pendidikan bangsa pun tak jelas arahnya,
karena sistem yang dijalankan hanya merupakan adopsi sistem pendidikan dari luar
negeri yang sudah basi. Sistem pendidikan comotan dari luar negeri yang dipuja-puja
ternyata telah menjadi sampah di negeri asalnya. Institusi pendidikan semestinya berada
di garda terdepan dalam memproduk manusia beradab agar bisa membangun peradaban
yang bermartabat. Namun, masalahnya sistem dan paradigma pendidikan Indonesia yang
bercorak materialis saat ini cenderung menghasilkan cendekiawan yang pragmatis.

Peningkatan mutu sekolah tidak bisa melepaskan diri dari intervensi politik. Memang
pendidikan khususnya sekolah bukan lembaga atau organ politik, namun kebijakan
pemerintah yang harus dilaksanakan adalah merupakan kebijakan politik. Dalam banyak
hal sekolah tidak bisa menghindari dari politik ini. Artinya, sekolah mau tidak mau harus
tunduk dan patuh pada intervensi politik pemerintah. Betapapun sekolah, kepala sekolah
dan guru, meyakini bahwa kebijakan tersebut tidak baik dan tidak pas untuk sekolahnya,
tetap saja sekolah harus menerima dan melaksanakan. Sebutlah sebagai contoh, kebijakan
Ujian Nasional, KTSP, sertifikasi guru dengan porto folio, SBI, sekolah gratis dengan
membebankan pada sekolah. Sudah barang tentu intervensi politik dari pemerintah ini
tidak jarang menjadikan upaya peningkatan mutu sekolah semakin berat.

Peningkatan mutu sekolah, dapat disebut sebagai suatu perpaduan antara knowledge-
skill, art, dan entrepreneurship (Zamroni, 2009). Suatu perpaduan yang diperlukan untuk
membangun keseimbangan antara berbagai tekanan, tuntutan, keinginan, gagasan-
gagasan, pendekatan dan praktik. Perpaduan tersebut di atas berujung pada bagaimana

25
proses pembelajaran dilaksanakan sehingga terwujud proses pembelajaran yang
berkualitas. Semua upaya peningkatan mutu sekolah harus melewati variabel ini. Proses
pembelajaran merupakan faktor yang langsung menentukan kualitas sekolah.

Pembelajaran adalah proses yang kompleks rumit dimana berbagai variable saling
berinteraksi. Banyak variable dalam proses interaksi antara guru dan siswa berkaitan
dengan suatu materi tertentu yang tidak dapat dikendalikan secara pasti. Terdapat
keterkaitan berbagai yang sulit untuk diindentifikasi mana yang mempengaruhi dan mana
yang dipengaruhi. Hasil pembelajaran tidak bisa diestimasi secara matematis, pasti. Anak
yang kecapekan atau kurang gizi atau memiliki persoalan pribadi jelas akan
mempengaruhi proses dan hasil pembelajaran. Demikian pula kemiskinan dan kondisi
keluarga akan berpengaruh. Siswa yang memiliki motivasi dan yang tidaki memiliki akan
berbeda dalam kaitan dengan proses dan hasil pembelajaran. Dengan singkat, apa
pengaruh eksternal dan internal dalam diri siswa yang akan mempengaruhi proses dan
hasil pembelajaran. Dan sekali lagi, tidak semua pengaruh tersebut dapat dikendalikan
oleh kepala sekolah dan guru.

Sebagai suatu proses interaksi antara siswa dan guru berkaitan dengan materi tertentu,
maka tidak hanya kondisi siswa yang berpengaruh, tetapi juga kondisi guru tidak kalah
pentingnya mempengaruhi kualitas pembelajaran. Pepatah mengatakan, “kalau ingin
melihat prestasi siswa lihatlah kualitas gurunya”. Kondisi guru yang bervariasi berarti
kualitas dan hasil pembelajaran juga akan bervariasi. Semakin tinggi kesenjangan
kualitas guru, semakin tinggi kesenjangan prestasi siswa. Kualitas interaksi juga
dipengaruhi oleh keberadaan dan kualitas fasilitas, termasuk kurikulum yang
dipergunakan.

Kualitas Pembelajaran : Inti reformasi pendidikan


Peningkatan mutu atau kualitas pembelajaran merupakan inti dari reformasi pendidikan
di negara manapun. Hal ini disebabkan oleh asumsi bahwa, peningkatan mutu sekolah
yang memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan nasional, tergantung
pada kualitas pembelajaran. Namun, peningkatan kualitas pembelajaran sangat bersifat

26
kontekstual, sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan kultural sekolah dan
lingkungannya. Berbagai penelitian menunjukan bagaimana bagaimana pentingnya
kondisi dan lingkungan sekolah mempengaruhi kualitas pembelajaran, seperti, dalam
penelitian tentang sekolah efektif (Purkey & Smith, 1983), kerja guru dan pembelajaran
(McLaughlin Talbert, 1993), retrukturisasi sekolah dan kinerja organisasi (Darling-
Hammond, 1996), yang semuanya ini bermuara pada suatu pernyataan “apabila ingin
meningkatkan kualitas pembelajaran, kualitas sekolah sebagai satu kesatuan dimana
pembelajaran berlangsung harus ditingkatkan”.

Sebagai lembaga internasional yang bergerak di bidang budaya dan pendidikan,


UNESCO banyak memberikan perhatian dan berupaya mendorong peningkatan mutu
sekolah di banyak negara, khususnya negara-negara sedang berkembang. Setiap tahun
UNESCO kantor Asia & Pasifik bekerjasama pemerintah China dan Thailand secara
bergantian menyelenggarakan seminar innovasi pendidikan yang difokuskan pada
peningkatan mutu sekolah. UNESCO memiliki resep bahwa untuk meningkatkan kualitas
sekolah diperlukan berbagai kebijakan, yang mencakup antara lain (UNESCO, 2001
dalam Zamroni, 2009):
1. Sekolah harus siap dan terbuka dengan mengembangkan a reactive mindset,
menanggalkan “problem solving” yang menekankan pada orientasi masa lalu, berubah
menuju “change anticipating” yang berorientasi pada “how can we do things differently”.
2. Pilar kualitas sekolah adalah Learning how to learn, learning to do, learning to be, dan
learning to live together.
3. Menetapkan standard pendidikan dengan indikator yang jelas.
4. Memperbaharui dan kurikulum sehingga relevan dengan kebutuhan masyarakat dan
peserta didik.
5. Meningkatkan pemanfaatan ICT dalam pembelajaran dan pengeloaan sekolah.
6. Menekankan pada pengembangan sistem peningkatan kemampuan professional guru.
7. Mengembangkan kultur sekolah yang kondusif pada peningkatan mutu.
8. Meningkatkan partisipasi orang tua masyakat dan kolaborasi sekolah dan fihak-fihak
lain.
9. Melaksanakan Quality Assurance.

27
Definisi tunggal kualitas sekolah yang diterima banyak fihak sulit untuk dirumuskan.
Apalagi, rumus definisi mutu sekolah amat terkait dengan tujuan dan strategi pendidikan
yang ada. Begitu pula kualitas sekolah dipersepsikan berbeda-beda menurut kepala
sekolah, guru, siswa dan orang tua siswa.

Kualitas sekolah memiliki berbagai makna. Seperti, a)bisa berupa suatu konsensus tidak
tertulis atas kondisi-kondisi sekolah, yang kemudian menjurus sekolah favorit di satu
ujung dan dan sekolah “terlihat” di ujung lain; b)kualitas input yang ada; c)kualitas
proses yang terjadi; d)kualitas kurikulum yang tercermin dalam kegiatan sekolah sehari-
hari; e)kualitas output, baik dalam bentuk pencapaian ataupun dalam bentuk “gain score”;
f)value added, dalam, arti sejauh mana sekolah secara totalitas mengalami peningkatan;
dan, g)jumlah lulusan yang diterima Perguruan Tinggi ternama. (Prof. Zamroni, 2009).

Dalam kaitan dengan mutu sekolah, UNICEF mendeskripsikan sebagai suatu kondisi
dimana: a)siswa sehat, bergizi, dan siap mengikuti proses pembelajaran dan dapat
dukungan dari orang tua siswa dan masyarakat; b)lingkungan sekolah sehat, aman, tidak
bias gender dan fasilitas belajar tercukupi; c)kurikulum sekolah menjamin siswa
mendapatkan pelajaran yang memadai, khususnya pengetahuan dan ketrampilan untuk
hidup; d)proses dilaksanakan oleh guru yang terlatih dengan menekankan pada
pendekatan “learner-centered teaching”, manajemen kelas yang berkualitas, evaluasi dan
penilaian yang tepat, dan bisa mengurangi disparitas hasil dari berbagai latar belakang
yang ada; dan, e)outcome sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan aktif
berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Namun, selama ini pembicaraan mutu sekolah cenderung dititik beratkan pada
pengetahuan dan ketrampilan yang dikuasai oleh siswa. Memang, sangat sering
dibicarakan secara filosofis dan teoritis siswa harus memiliki cipta, karsa, rasa atau siswa
memiliki otak, hati dan budi, tetapi pada akhirnya tetap saja mutu kembali pada seberapa
jauh siswa sudah menguasai pengetahuan dan ketrampilan yang telah diajarkan di
sekolah. Lebih ironis lagi, pengetahuan yang dikuasai siswapun diestimasi dengan
pendekatan yang dangkal: kemampuan menghafal.

28
Makna mutu hanya diartikan sebagai kemampuan penguasaan pengetahuan merupakan
suatu realitas. Secara sadar dan terencana kondisi ini harus diubah. Perubahan dalam
kaitan dengan mutu ini merupakan keharusan, khususnya apabila dikaitkan dengan masa
depan, era baru abad 21. Mereka yang tidak mau berubah akan menjadi terasing dan
tertinggal zaman. Dengan puitis, Eric Hoffer (1971) pemikir berkebangsaan Amerika
Serikat menyatakan: “In times of change, learners inherit the Earth, while the learned find
themselves beautifully equipped to deal with a world that no longer.” Seorang ahli
pendidikan, lebih spesifik tokoh manajemen dan kebijakan pendidikan, Michael Fullan
(1994), menegaskan bahwa perubahan tidak dapat dihindarkan. Banyak pendidik terbawa
arus perubahan masa depan, dengan berbagai euphoria, tetapi tidak menyadari masa
depan itu sendiri, dengan lebih senang mempertahankan status quo. Fullan mengingatkan
dengan keras bahwa “yesterday’s scores will not win tomorrow’s ball games.” Oleh
karena itu, “if you are not part of the future, you’re history!”. Berkaitan dengan
perubahan di dunia pendidikan, futurist Alvin Toffler (1999) menegaskan bahwa: “The
illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who
cannot learn, unlearn, and relearn.”

Pendidikan berfungsi untuk mempersiapkan generasi baru mampu hidup dan sukses
menjalani kehidupan di masa depan, maka sekolah harus memahami dan
mengidentifikasi kompetensi apa yang diperlukan untuk masa depan itu. Jose J. Soto
(2005) mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan di abad 21 bagi kehidupan
masyarakat yang mulkultural, antara lain: a)memiliki integritas pribadi yang kokoh
dengan memegang teguh etika bertanggung jawab bagi kemajuan masyarakatnya dan
memegang teguh etika dalam perilaku pribadi dan profesionalnya; b)menjadi a learning
person, senantiasa memperluas dan memperdalam pengetahuan dan skills yang dimiliki;
c)memiliki kemampuan berkerjasama dengan segala perbedaan yang dimiliki;
d)menguasai dan memanfaatkan ITC; dan, e)mampu mengambil keputusan yang
senantiasa berlandaskan kepentingan masyarakat luas.

Lembaga lain, UNESCO menekankan pada empat pilar sebagai kemampuan dasar yang

29
harus dihasilkan oleh dunia pendidikan. Keempat pilar tersebut adalah: a)learning to do
(solve daily problems); b)learning to know (keep learning); c)learning to be (ethically
responsible) and d)learning to live together (the ability to respect and work with others).
Dalam suatu seminar berkaitan dengan reformasi pendidikan untuk meningkatkan
pendidikan yang bermutu, Kay (2008) menganalisis perkembangan yang akan terjadi di
abad 21 dan mengidentifikasi kompetensi apa yang diperlukan dan menjadi tugas
pendidikan untuk mempersiapkan warga negara dengan kompetensi tersebut.

Terdapat 5 kondisi atau konteks baru dalam kehidupan berbangsa, yang masing-masing
memerlukan kompetensi tertentu. Yakni, a)kondisi kompetisi global (perlu kesadaran
global dan kemandirian), b)kondisi kerjasama global (perlu kesadaran global,
kemampuan bekerjasama, penguasaan ITC), c)pertumbuhan informasi (perlu melek
teknologi, critiacal thinking & pemecahan masalah), d)perkembangan kerja dan karier
(perlu Critical Thinking & pemecahan masalah, innovasi & penyempurnaan, dan,
fleksibel & adaptable), e)perkembangan ekonomi berbasis pelayanan jasa, knowledge
economy (perlu Melek informasi, Critical Thinking dan pemecahan masalah).

Jadi menurut Kay diatas sekolah harus mempersiapkan siswa dengan kemampuan:
a)kesadaran global, b)watak kemandirian, c)kemampuan bekerjasama secara global,
d)kemampuan menguasai ITC, e)kemampuan melek teknologi, f)kemampuan intelektual
yang ditekankan pada critical thinking dan kemampuan memecahkan masalah,
g)kemampuan untuk melakukan innovasi & menyempurnakan, dan, h) memiliki
pengetahuan dan ketrampilan yang bersifat fleksibel & adaptabel.

Menurut Kay (2008) ini, mutu sekolah ditentukan bagaimana jawaban atas pertanyaan:
a)apakah siswa mampu berpikir kritis dan memecahkan masalah. b)apakah siswa
memiliki kesadaran global. c)apakah siswa memiliki kemandirian. d)apakah siswa
mampu bekerjasama dengan baik. e)apakah siswa melek teknologi. f)apakah siswa
memiliki watak pembaharu. g)apakah siswa mampu berkomunikasi secara efektif. Kalau
jawaban “ya”, maka sekolah itu bermutu. Semakin tinggi skore dekat dengan ya, semakin
bermutu sekolah itu. Selanjutnya, berdasarkan kemampuan tersebut diatas, Kay (2008)

30
mengidentifikasi 5 kemampuan yang amat penting dalam kehidupan, yakni, a)etika kerja,
b)kemampuan berkolaborasi, c)kemampuan berkomunikasi, d)tanggung jawab sosial,
dan, e)berpikir kritis dan memecahkan masalah.

Sejalan dengan kajian Kay ini, Departemen Pendidikan New Zealand melakukan
reformasi kurikulum dengan menekankan bahwa para siswa harus menguasai lima
kemampuan dasar. Yakni, a)kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah
(critical thinking dan problem solving)), b)kemampuan mempergunakan bahasa, symbol-
simbol dan teks, c)kemampuan mengendalikan diri sendiri (mampu memotivasi diri
sendiri, memiliki sikap “bisa mengerjakan” “a can-do attitude”, mampu merencanakan
masa depan), d)kemampuan berhubungan dan bekerjasama (kemampuan untuk
mendengarkan, kemampuan mengenali perbedaan pendapat, kemampuan bernegosiasi,
kemampuan berpikir bersama) dan, e)kemampuan berpartisipasi dan berkontribusi bagi
kesejahteraan masyarakatnya (kemampuan untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan,
kemampuan berkontribusi, kemampuan menciptakan peluang). Kemampuan dasar ini
dikembangkan-diaplikasikan pada setiap mata pelajaran yang ada.

Barangkali akan muncul pertanyaan apakah perkembangan abad 21 diatas relevan bagi
bangsa Indonesia yang masih berstatus sebagai negara sedang berkembang.
Perkembangan dan perubahan kehidupan masyarakat mengarah pada satu trend besar dan
universal, yakni perubahan dan kemajuan. Sebagai negara terbuka, bangsa Indonesia
akan masuk arus besar tersebut. Pengalaman perkembangan teknologi selama ini
menunjukan tingkat perkembangan yang terjadi amat cepat dan dampaknya juga cepat
menyebar dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam aspek kultur. Oleh karena itu,
bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri dengan baik dan masuk arus perubahan
dengan cerdas agar bisa memanfaatkan peluang yang ada, tidak sekedar memperoleh
dampak negatif belaka.

Kompetensi abad ke 21 harus pula dijadikan acuan dalam pendidikan Indonesia. Sekolah,
khususnya kepala sekolah dan guru harus mulai mengubah mind set nya. Mengajar tidak
sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan, melainkan mengajar

31
juga mentransfer kehidupan. Implikasi yang paling dekat adalah semua guru, tidak
pandang mata pelajaran yang diampu, memiliki tanggung jawab membangun moral dan
karakter siswa. Dengan kata lain membangun karakter atau watak merupakan tujuan
utama dalam proses pembelajaran. Tapi sayangnya pengembangan karakter tidak bisa
diajarkan, melainkan dikembangkan lewat proses pembiasaan. Oleh karena itu, perilaku
guru harus bisa dijadikan tauladan bagi para siswanya. Sekolah, sendiri harus merupakan
kancah kehidupan tempat pembangunan karakter berlangsung.

Cara Pandang Interaktif terhadap Kualitas Output


Paradigma pendidikan sistemik-organik menekankan bahwa proses pendidikan formal,
sistem persekolahan, harus memiliki ciri-ciri: (1) pendidikan lebih menekankan pada
proses pembelajaran (learning) daripada mengajar (teaching); (2) pendidikan diorganisir
dalam struktur yang fleksibel; (3) pendidikan memperlakukan peserta didik sebagai
individu yang memiliki karakter khusus dan mandiri; dan (4) pendidikan merupakan
proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan lingkungan (Zamroni,
2000). Paradigma pendidikan sistemik-organik menuntut pendidikan bersifat double-
tracks, yaitu pendidikan sebagai proses yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan
dan dinamika masyarakatnya.

Karena makin rumit dan kompleksnya persoalan yang dihadapi oleh dunia pendidikan,
dibutuhkan paradigma pendidikan masa depan yang dinilai lebih mampu menjawab
tantangan zaman, yaitu paradigma pendidikan sistemik-organik yang menekankan bahwa
segala objek, peristiwa, dan pengalaman merupakan bagian-bagian yang tidak
terpisahkan dari suatu keseluruhan yang utuh. Dunia pendidikan senantiasa mengaitkan
proses pendidikan dengan masyarakat pada umumnya dan dunia kerja pada khususnya.
Dengan system semacam ini, dunia pendidikan kita diharapkan mampu menghasilkan
lulusan yang memiliki kemampuan dan fleksibilitas tinggi untuk menyesuaikan dengan
tuntutan zaman yang senantiasa berubah dengan cepat.

Proses pendidikan berlangsung di sekolah mencakup tiga komponen utama, proses


pembelajaran, manajemen sekolah dan kultur sekolah. Ketiga komponen ini saling

32
berinteraksi dan saling pengaruh mempengrahi, memiliki hubungan sebab akibat secara
timbal balik. Sekolah sebagai suatu entitas mandiri mendapatkan masukan berupa siswa
dan masukan instrumental seperti kurikulum, guru, buku, peralatan laboratorium.
Keberadaan dan kualitas masukan instrumental bisa mempengaruhi pula kualitas proses
yang ada di sekolah. Namun, bagaimana pengaruh kualitas masukan instrumental
terhadap proses yang berlangsung di sekolah akan sangat tergantung pada kepemimpinan
kepala sekolah. Artinya, pengaruh tidak bersifat linier dan pasti, melainkan dinamis
interaktif. Oleh karena itu, kondisi masukan yang sama diantara berberapa sekolah
dampaknya bisa berbeda bagi proses dan kualitas lulusan sekolah. Hal ini meneguhkan
bagaimana pentingnya peran posisi kepala sekolah dalam peningkatan mutu.

Cara pandang input prosesoutput yang bersifat linier harus ditinggalkan dan diganti
cara pandang yang dinamis interakti.(Zamroni, 2009). Sekolah bisa dilihat sebagai
institusi yang memiliki 3 level: level kelas, level mediator, dan level manajemen. Input
yang ada bisa langsung ke salah satu diantara level ini. Output sekolah, bermutu atau
tidak, sangat ditentukan oleh proses yang terjadi pada level kelas, dimana berlangsung
pembelajaran. Namun proses pembelajaran yang ada akan ditentukan oleh level mediator,
yakni keberadaan dan kualitas guru. Demikian pula, kinerja guru sangat ditentukan oleh
level manajemen. Dalam level manajemen inilah kultur sekolah memiliki pengaruh yang
amat besar.

Pencapaian kompetensi yang dihasilkan berkaitan erat dengan bagaimana pembelajaran


dilaksanakan, oleh karena itu kebijakan ke tiga adalah meningkatkan kemampuan guru
dalam mengelola proses pembelajaran. Sebagaimana dikemukakan diatas membangun
karakter menjadi tujuan penting bagi mata pelajaran apapun juga. Karakter yang perlu
ditanamkembangkan pada diri siswa adalah karakter yang diperlukan untuk abad 21,
sebagaimana dirumuskan Kay (2008). Yakni, a)etika kerja, b)kemampuan berkolaborasi,
c)kemampuan berkomunikasi, d)tanggung jawab sosial, dan, e)berpikir kritis dan
memecahkan masalah. Tujuan mewujudkan kompetensi ini menuntut proses
pembelajaran menekankan keseimbangan dari empat dasar: menghafal, analitis, kreatif,
dan praktis. Evaluasi pembelajaran harus pula bertumpu pada empat dasar ini.

33
Setelah sekolah memiliki kesadaran diri sebagai entitas utuh mandiri dan memiliki cara
pandang baru, termasuk tujuan sekolah tidak semata-mata menekankan pada kemampuan
ilmu dan teknologi, tetapi juga menekankan pada pengembangan moral siswa, dan telah
ada perubahan dalam penekanan pembelajaran, maka kebijakan keempat yang diperlukan
adalah meningkatkan kemampuan kepala sekolah untuk melakukan capacity building. Di
sekolah memiliki banyak dan berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh warga
sekolah. Guru memiliki tujuan, demikian pula siswa memiliki rencana yang akan dicapai.
Masing-masing kelas memiliki rencana dan tujuan kegiatan. Guru BP juga memiliki
kegiatan untuk mencapai tujun tertentu. Semua kegiatan tersebut diatas harus diatur,
ditata dan disinkronkan sehingga menuju satu tujuan terciptanya proses pembelajaran
yang berkualitas untuk mewujudkan prestasi yang berkualitas pula. Penyatuan dan
sinkronisasi menyatukan semua potensi inilah yang disebut dengan Capacity Building
(Zamroni, 2000).

Kebijakan ke lima dalam peningkatan mutu adalah menekankan peningkatan kemampuan


profesional guru yang berkesinambungan (Countinues professional development bagi
guru) berlangsung di sekolah. Untuk itu, budaya kolaborasi perlu dikembangkan di
kalangan sekolah. Kultur, watak dan semangat berkolaborasi perlu dikembangkan
diantara warga sekolah khususnya diantara para guru sangat penting karena merupakan
fondasi untuk berlangsungnya peningkatan kemampuan professional guru. Upaya
peningkatan kemampuan professional guru yang paling efektif adalah guru yang dikenal
lebih memiliki kemampuan melakukan observasi guru lain yang tengah melaksanakan
pembelajaran, kemudian observer memberikan masukan kepada yang bersangkutan.
Semangat berkolaborasi juga diperlukan diantara sekolah yang ada, khususnya yang
lokasinya berdekatan. Sebab, peningkatan kemampuan professional guru yang paling
efektif lagi efisien adalah apabila berlangsung di sekolah atau antar sekolah yang
berdekatan. Untuk itu, situasi dan semangat kompetisi yang berlebih-lebihan perlu untuk
dikendalikan, dan diganti dengan semangat berkolaborasi.

Kebijakan keenam dalam peningkatan mutu adalah mengembangkan sistem data dan

34
informasi yang baik yang dapat dipergunakan dalam pengelolaan sekolah termasuk dalam
proses pembelajaran. Semua kegiatan di sekolah dicatat, disusun dan ditransfer sebagai
data kuantitatif, sehingga netral, objektif dan memiliki mana yang sama bagi siapapun
juga. Proses peningkatan mutu dari waktu ke waktu mempergunakan dan mencermati
data ini. Perubahan dari waktu ke waktu merefleksikan perubahan yang terjadi di sekolah.
Dengan demikian proses peningkatan mutu berlangsung hari demi hari, terencana dan
secara faktual dapat diikuti dengan seksama.

Kebijakan sebagaimana dikemukakan diatas didasarkan pada satu asumsi bahwa sekolah
telah memiliki dan merumuskan secara singkat dan jelas visi dan missi sekolah. Warga
sekolah khususnya guru dan siswa memahami visi dan missi sehingga mereka memiliki
arah yang jelas kemana mereka menuju dan apa yang harus dilakukan agar tujuan dapat
dicapai. Tanpa pemahaman akan visi dan missi, kegiatan sekolah dalam peningkatan
mutu tidak memiliki arah. Akibatnya, kegiatan tidak akan efektif dan efisien.

Secara mendasar sekolah memang harus ditekankan untuk membangun karakter siswa,
sebagai basis membangun karakter bangsa. Sungguh, bangsa ini memerlukan karakter
yang kuat. Karakterlah yang memberikan arah kemana bangsa harus menuju, apa-apa
yang harus dikejar dan dicapai, dan sebaliknya apa-apa yang harus dihindari,
ditinggalkan dan dibuang jauh-jauh. Keroposnya karakter bangsa menyebabkan, bangsa
ini kehilangan arah, dan warga bangsa tidak memiliki lagi pegangan yang jelas apa yang
harus dikejar dan diraih, dan apa yang harus ditinggalkan. Oleh karena itulah visi
pendidikan nasional Indonesia menekankan keberadaan manusia berkualitas dalam
kecendekiawanan, kecerdasan spiritual, emosional, sosial, serta kinestetis (gerak tubuh)
dan kepiawaian, serta mampu menghadapi perkembangan dan persaingan global. Untuk
ini, sekolah harus mulai mengembangkan kompetensi abad 21yang menekankan pada
pengembangan karakter.

Guru sebagai Agen Perubahan


Dalam upaya mengimplementasikan paradigma pendidikan masa depan, peran guru
sebagai pilar utama peningkatan mutu pendidikan jelas tidak boleh dipandang sebelah

35
mata. Sudah saatnya guru diberi kebebasan dan keleluasaan untuk mengelola proses
pembelajaran secara kreatif, “liar”, dan mencerdaskan, sehingga pembelajaran
berlangsung efektif, menarik, dan menyenangkan. Sudah bukan saatnya lagi guru
dipajang dalam “rumah kaca” yang selalu diawasi gerak-geriknya, sehingga guru yang
dianggap “tampil beda” dalam mengelola proses pembelajaran “kena semprit” dan
dihambat kariernya.

Profesi guru bukan sembarangan, melainkan penting dan menentukan masa depan
bangsa. Dengan demikian guru harus menjadi orang yang memiliki jati diri kuat,
senantiasa menjadi tauladan dan merencanakan, melaksanakan pembelajaran dengan
serius sepenuh hati. Siswa juga harus memiliki cara pandang baru, yakni, sekolah bukan
merupakan keharusan melainkan kebutuhan; siswa bukan peserta pasif, melainkan
peserta aktif, siswa bukan tidak berdaya, melainkan memiliki kekuatan untuk merealisir
apa yang dinginkan; apa saya bisa mengerjakan ?, YES saya bisa kerjakan; dan, tidak
sekedar senang bisa lulus, melainkan Why not the best?. Dengan demikian siswa menjadi
individu yang memiliki cita-cita yang tinggi, semangat belajar keras dan yakin bahwa
yang bersangkutan mampu.

Dalam Undang-undang Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas (pasal 40 ayat 2) jelas


dinyatakan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban: (1) menciptakan
suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; (2)
mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan (3)
memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan
kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ini artinya, guru tidak lagi berperan sebagai
“piranti negara” yang semata-mata mengabdi untuk kepentingan penguasa, tetapi sebagai
“hamba kemanusiaan” yang mengabdikan diri untuk “memanusiakan” generasi bangsa
secara “utuh” dan “paripurna” (cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual) sesuai
dengan tuntutan zaman.

Dalam konteks demikian, guru harus benar-benar menjadi “agen perubahan” dan menjadi
sosok profesional yang senantiasa bersikap responsif dan kritis terhadap berbagai

36
perkembangan dan dinamika peradaban yang terus berlangsung di sekitarnya. Guru -
bersama stakeholder pendidikan yang lain - harus selalu menjadikan sekolah bagaikan
“magnet” yang mampu mengundang daya pikat anak-anak bangsa untuk berinteraksi,
berdialog, dan bercurah pikir dalam suasana lingkungan pembelajaran yang menarik dan
menyenangkan. Dengan cara demikian, tidak akan terjadi proses deschooling society di
mana sekolah mulai dijauhi oleh masyarakat akibat ketidakberdayaan pengelola sekolah
dalam menciptakan institusi pembelajaran yang “murah-meriah” di tengah merebaknya
gaya hidup hedonistik, konsumtif, materialistik, dan kapitalistik.

Demikian pula, orang tua siswa harus memiliki cara pandang baru. Yaitu, tanggung
jawab ortu tidak selesai dengan membayar uang ke sekolah; yang terikat dengan
perjanjian dan kewajiban sekolah tidak hanya anaknya, melainkan juga dirinya;
sepenuhnya percaya pada sekolah dan bekerjasama dengan sekolah; perlu
mengembangkan keserasian apa yang di sekolah dan apa yang di rumah; tidak ada
sekolah murah, sekolah itu mahal; dan, angka nilai penting, tetapi bukan segala-
segalanya. Dengan demikian orang tua akan patuh pada aturan sekolah dan berpartisipasi
dalam membantu terlaksananya kegiatan sekolah.

Kebijakan kedua dalam peningkatan mutu adalah memperkuat penekanan sekolah


sebagai suatu entitas mandiri, sebagai implikasi dari kebijakan SBM dan KTSP. Oleh
karena itu, semua intervensi dalam rangkaian peningkatan mutu senantiasa melewati
sekolah. Kondisi memerlukan kesadaran diri secara serius dari kalangan sekolah sendiri.
Sekolah telah memiliki memiliki kemandirian dan kemerdekaan sebagai basis munculnya
watak kreatif innovative dan berani mengambil resiko.

Mentalitas Wiraswasta : Sebagai Tantangan


DEMAM wirausaha di dunia perguruan tinggi sebenarnya berasal dari keinginan
Indonesia meniru silicon valley-nya Amerika Serikat. Seorang tokoh bernama Iskandar
Alisjahbana menjadi peletak ide ini. Pada 10 Mei 1963, seorang mahasiswa berbicara di
depan ratusan mahasiswa lainnya. Dalam orasinya, ia menyinggung soal mahasiswa Cina

37
di kampus tempatnya belajar. Kata-kata yang diucapkannya menyinggung kelebihan
mahasiswa Cina.

Yang dibicarakannya bukan ajakan untuk meniru prestasi mahasiswa Cina. Sang
mahasiswa tersebut malah menyulut kebencian pribumi dan non-pribumi. "Bakar motor-
motor mereka," kata orator bernama Siswono. Kejadian ini terjadi di Institut Teknologi
Bandung. Untung kejadian itu tidak berlangsung lama. Seorang dosen datang dan
menempeleng balik mahasiswa yang berkoar tersebut. Lalu ia berkata, "Sis, menampar
orang secara fisik di kampus, itu haram hukumnya. Di kampus orang harus menampar
dengan otak, berdebat!"

Sang dosen, Iskandar Alisjahbana lantas membawa mahasiswanya itu ke tempat lain dan
diajak berbicara. Tentu saja, Iskandar tidak ingin ITB yang disebut menyulut konflik
rasial di Indonesia sehingga ia perlu mengamankan mahasiswanya tersebut. "Sis lalu
membuat buku dan meminta maaf pada seluruh sivitas akademika. Itu dua bulan setelah
kejadian itu," kata Iskandar pada suata sesi wawancara dengan Kampus dan budayawan
Hawe Setiawan, 15 November 2008. Kenapa mahasiswa bisa bertingkah rasis seperti itu?
Iskandar mengatakan mahasiswa-mahasiswa ITB yang berdarah pribumi cemburu dengan
prestasi non-pribumi. Cemburu berawal dari sedikitnya mahasiswa pribumi naik kelas
ketimbang non-pribumi. "Pada zaman saya masih mahasiswa, hanya ada dua pribumi
yang lulus ujian lisan. Sampai zaman saya jadi dosen pun kejadiannya tidak beda jauh,"
ujarnya terkekeh.

Kelemahan akademis seperti itu tidak dibiarkan lama oleh Iskandar. Ia menilai
mahasiswa pribumi tidak 'bodoh' apa yang dibicarakan oleh kolonial sebagai inlander
pemalas. Ia mengatakan, adanya sikap rendah diri karena perlakukan koloniallah yang
membuat banyak generasi muda saat itu seperti lemah. Ditambah lagi karut-marut
politik membuat runyam perhatian ke dunia pendidikan.

38
Iskandar melepaskan beban politik pada dunia pendidikan dan mengalihkan perbaikan
mutu mahasiswa pada program-program seperti need of achievement (NAch) training.
Pelatihan ini bertujuan mendongkrak motivasi dan kreativitas mahasiswa di zaman itu.
Maksudnya, agar mahasiswa Indonesia bisa mandiri dan tidak melulu disebut malas.
"Ada orang yang need of achievement-nya tinggi. Ada juga orang yang punya need of
affiliation yang tinggi, dan ada orang yang need of power-nya tinggi. Setiap manusia
punya tiga need ini. Indonesia adalah masyarakat gotong royong. Saya datangkan seorang
dosen dari Amerika," jelasnya.

Pelatihan Need of Achievement sebenarnya landasan dari pelatihan wirausahawan.


Iskandar membawa wacana ini pertama kali ke ITB dimana saat itu perguruan tinggi
hanya menghasilkan mahasiswa berkemampuan teknis dan calon pekerja belaka.
Di berbagai perguruan tinggi pelatihan, training, dan beasiswa menjadi wirausahawan
dibuka. Misal, Institut Pertanian Bogor (IPB). Mengutip situs lembaga tersebut, sekitar
2.000 mahasiswa IPB mendaftar pada program pengembangan kewirausahawan pada
Maret 2009. Konon, dana permodalan yang tersedia Rp 1,4 miliar.

Sama halnya dengan IPB, pihak kemahasiswaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Bandung pun membagikan dana kewirausahaan kepada mahasiswanya. Sebanyak Rp 1
miliar akan diberikan kepada 108 mahasiswa. Besaran dana itu berasal dari bantuan
Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Selain kampus yang
membuka lebar-lebar pintu bagi mahasiswa yang ingin mengubah nasib melalui pelatihan
wirausaha, banyak pula komunitas ekstrakampus yang membuka layanan pelatihan
seperti ini. Meski pandangan wirausaha dalam pendidikan kadang
dicibir sebagai praktik pragmatisme pendidikan, tapi di sisi lain ilmu wirausaha dianggap
jalan keluar dari "musibah" menumpuknya pengangguran intelek di negeri ini.

Banyaknya pelatihan seperti ini tentu bukan fenomena tanpa sebab. Terbersit nama
seorang tokoh pendidikan dan disebut tokoh pendobrak menara gading perguruan tinggi,
Iskandar Alisjahbana sebagai pelopor gerakan wirausaha di dalam perguruan tinggi di

39
Indonesia. Tokoh yang meninggal dunia pada 16 Desember 2008 itu meninggalkan
wacana berharga bagi dunia pendidikan Indonesia. Pada periode Iskandar menjadi Rektor
ITB (1976-1978), Iskandar membangun inkubator bisnis di ITB. Ia datangkan pula ahli
wirausaha dari Amerika Serikat, membuat kerjasama dengan dengan universitas luar
negeri dan menyinergikan akademik teknis dengan ilmu perusahaan. Iskandar berhenti
dengan aktivitasnya sebagai rektor setelah rumahnya diberondong peluru tentara kala ITB
diduduki tentara 1979.

Meski kini Iskandar telah tiada, tapi catatan sejarah dan pemikirannya bergeming di ITB.
Karena Pak Is, begitu ia akrab dipanggil, tidak ada lagi pertarungan rasial karena
cemburu nilai. Siswono Yudohusodo sudah menjadi pejabat di negeri ini dan pengusaha
pula. Anak didiknya yang lain seperti Arifin Panigoro pun sudah menjadi pembesar
Grup Medco. Yang ada saat ini adalah ITB dan berbagai perguruan tinggi berlomba-
lomba mencetak sarjana yang wirausahawan dan menyambungkan perguruan tinggi
dengan industri. Cita-cita menjadikan Indonesia seperti silicon valley.

Kepustakaan
Annaz , Menuntut Pendidikan Haus Gratis, Berkualitas, Ilmiah, Modern dan Demokratis
, www.kprm-prd.org Copyrighted 2009.
Aronowitz, Stanley and Henry A .Giroux, 1990. Post-Modern Education: Politics,
Culture dan Social Criticism. Oxford: University of Minessota Press.
Aronowitz, Stanley & Henry Giroux, 1987. Education Under Siege: The Consevative,
Liberal, and Radical Debate Over Schooling. London & Hanley: Routledge &
Kegan Paul.
Akhmadi et al. 2003.Pengamatan Cepat Smeru Tentang Permasalahn Pendidikan dan
Program JPS, Beasiswa, dan DBO di Empat Propinsi. Jakarta: SMERU.
.............2004. Laporan Penelitian: Penyelenggaraan Guru Bantu. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional.
Alisjahbana, Armida S. “Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan”, Bandung : FE
Universitas Padjadjaran, 2000

40
AMIR SYARIF SIREGAR, Pembatalan UU BHP menuai berbagai tanggapan,
WASPADA ONLINE, Saturday, 03 April 2010 08:57
AMUBA , Refleksi Hari Pendidikan Nasional, on Wed, 04/29/2009 - 20:23
Anshari, Endang Saifuddin, Piagam Jakarta 22 Juni 1945 Sebuah Konsensus Nasional
Tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949), (Jakarta : Gema Insani
Press), 1997
Anjrah Lelono Broto, Guru Dalam Arus Pragmatisme, Sebuah Renungan Hari
Kebangkitan Nasional, google 2010.
Andreo F Rajagukguk, Lentera Pendidikan Hilangnya Pendidikan Nasional, google 2010.
Asril Ridwan , Ancaman Keras dan Pragmatisme Dingin , 18.02.2010 Adrienne
WoltersdorfBildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Adrienne
Woltersdorf.
Atmadi, A. & Setiyaningsih (eds.), Transformasi Pendidikan (Yogyakarta: Kanisius,
2001)
Audi, Robert, Agama dan Nalar Sekuler dalam Masyarakat Liberal, (Yogyakarta : UII
Press), 2002
ave in Pojok, Kebijakan Privatisasi BUMN: Relasi State, Market dan Civil Society,
Posted on 19. Jan, 2010
Browne. R.K. & Lamb.A. 2000. Linking Theory to Practice in the Workplace.AERC
Proceeding.
B.J. Habibie, Detik-Detik Yang Menentukan, Jalan panjang Indonesia Menuju
Demokrasi, THC Mandiri, 2006.
Caldwell, B.J. 2000. A Theory Of Learning In The Self-Managing School. EPM,
Department Manager, Faculty of Education, (Online),
(http://www.edfac.unimelb.edu.au diakses 30 Agustus 2003).
Cromwell,S.2000.Site-Based Managament:Boon or Boondogle?.School
Administrator Articie.Education World,(Online),(http://www.education world.com
diakses 25 September 2003).
Conny Semiawan, Prof Dr (2003) Memelihara Integrasi Sosial dan Menegakkan HAM
Melalui Pendidikan Multikultural , 14 September 2003, Pendidikan, Ditjen
HAM

41
Chadd .J.& Anderson.M.A.2005. Illinois Work-Based Learning Programs: Worksite
Mentor Knowledge and Training, Jurnal Career and Technical Education
Research, Volume 30 nomor 1 Tahun 2005.
Cholisin.(2004a). Konsolidasi Demokrasi Melalui Pengembangan Karakter
Kewarganegaraan, dalam Jurnal Civics : Media Kajian Kewarganegaraan,
Volume 1, Nomor 1, Juni 2004. Yogyakarta : Jurusan PPKn FIS UNY.
Cholisin.(2000b).Pendidikan di Indonesia dalam Perspektif Demokrasi. Makalah
disampaikan dalam Seminar Sehari “demokrasi di Indonesia : Dulu, Kini, dan
Esok”, Penyelenggara Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta
bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta, 28
Agustus 2004.
Cholisin, Kebijakan Pendidikan Dan Pendidikan Demokrasi , google 2010
Choirul Mahfud(2009), Quo Vadis Politik Pendidikan Islam, at 11 November, 2009,
google Maret 2010.
Darmaningtyas, Berbagai Problematik Ujian Nasional, Sumber: Kompas, Selasa, 1
Desember 2009
Dini Kinanthi, Pemikiran Gus Dur Tentang Kebangsaan Harus Dilanjutkan, Email:
dinikina@plasa.com
Dewantara, Ki Hadjar, 1945 [1963]. Karja Ki Hadjar Dewantara: Bagian Pertama:
Pendidikan. Yogjakarta: Taman Siswa.
Dewey's, John , my pedagogic creed, famous declaration concerning education. First
published in The School Journal, Volume LIV, Number 3 (January 16,
1897).
Doni Koesoema , Desain Besar Pendidikan & Berbagai Problematik Ujian Nasional,
Driyarkara, Driyarkara: tentang Pendidikan (Yogyakarta: Kanisius, 1991)
Kompas, Selasa, 1 Desember 2009
Ebenstein, Willam & Fogelman, Edwin, Isme-Isme Dewasa Ini (Todays Isms),
Penerjemah Alex Jemadu, (Jakarta : Penerbit Erlangga), 1984
Eko Pujiati, S.H., M.Pd, Realisasi Kebijakan Otoda Di Bidang Pendidikan Melalui
Manajemen Berbasis Sekolah Di Kota Malang, Saturday, 12 April 2008
Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, Jakarta : CV Rajawali, 1986.

42
Eyre, Richard & Linda, Mengajarkan Nilai-Nilai kepada Anak (Jakarta: Gramedia, 1997)
Falah, Maslahul(2003), Islam Ala Soekarno Jejak Langkah Pemikiran
Islam Liberal Indonesia, Kreasi Wacana , Yogyakarta.

43