Anda di halaman 1dari 10

Rangkaian transien

Rangkaian transien
• Rangkaian Transien.
• Fenomena peralihan dalam rangkaian listrik (electrical transient) adalah suatu manifestasi keluaran dari keadaan
perubahan mendadak di dalam rangkaian lsitrik pada saat suatu saklar (switch) membuka, menutup, atau timbulnya
gangguan/ kesalahan (fault) pada system tersebut. Waktu transien umumnya sangat singkat dibandingkan dengan
waktu keadaan tunak (steady state).
• Walaupun demikian, masa transien menjadi sangat penting dalam sistem karena pada masa tersebut suatu
perubahan mendadak akan termanifestasikan baik dalam bentuk arus maupun tegangan yang kadangkala dalam hal
ekstrim akan mengakibatkan kerusakan fatal pada system seperti memacetkan mesin, memutuskan hubungan
listrik, mengganggu/menggagalkan sistem komunikasi, dan lain-lain.
• Oleh karena itu cukup beralasan bahwa pemahaman yang jelas dari apresiasi peristiwa dan perilaku rangkaian listrik
pada masa transien sangat perlu dipelajari dan diteliti dengan seksama. Sangat disayangkan penelitian perilaku
rangkaian listrik tersebut tidak banyak mendapat perhatian kebanyakan ahli teknik listrik atau kadangkala hanya
dianggap sepele apa yang sedang terjadi pada saat-saat peralihan tersebut dalam system peralatan listrik.
• Dengan pemahaman atas perilaku transien tersebut, secara matematis dapat dihitung dan diukur dengan berbagai
instrumen elektronik, setidaknya dapat diusahakan untuk mencegah terjadinya kerusakan system maupun
mengontrol sistem agar keadaan berbahaya dapat terelakkan dan teratasi.
• Semua fenomena transien dalam sistem listrik mekanis dapat dinyatakan oleh 3 jenis elemen rangkaian listrik
berupa resistansi, induktansi, dan kapasitansi. Ketiga jenis elemen listrik yaitu resistor, induktor, dan kapasitor dapat
mengeluarkan energi alam dalam jumlah terbatas, seperti misalnya resistor hanya mampu mendisipasi energi lsitrik
dalam bentuk panas I2R. Sedangkan induktor dan kapasitor mampu menyimpan masing-masing energi magnetik
(1/2)Li2 dan energi elektris (1/2)CV2.
• Dalam keadaan tunak (steady state), energi yang tersimpan pada induktor dan kapasitor adalah
konstan (untuk sumber konstan) dan sesuai dengan perubahan arus dan tegangan bentuk
gelombang sumber bolakbalik (untuk sumber bolak-balik).
• Begitu terdapat sedikit perubahan/ gangguan terhadap rangkaian listriknya akan terjadi
redistribusi energi yang akan memunculkan kondisi baru, dimana redistribusi energi tersebut tidak
dapat terjadi dalam waktu yang sangat cepat tetapi dalam waktu yang yang terbatas pula.
• Dan selama interval waktu dalam proses transien akan berlaku prinsip bahwa jumlah energi yang
terkonservasi (yang disupply) sama dengan energi tersimpan ditambah dengan energi terdisipasi.
Keadaan inilah yang menjadi dasar pemahaman perilaku transien untuk diterapkan pada
pengamatan-pengamatan rangkaian R, L, C berikut ini.
• Walaupun rangkaian-rangkaian yang akan ditinjau memiliki pemunculan yang sangat elementer,
rangkaian-rangkaian tersebut penting digunakan dalam praktek, misalnya berguna sebagai
jaringan-jaringan kopling rangkaian elektronis, sebagai jaringan pengkompensasi di dalam sistem-
sistem kontrol otomatis, juga sebagai jaringan penyama (rangkaian resonansi, delay) di dalam
saluran-saluran komunikasi dan saluran-saluran daya.
• Pengamatan dan penelitian dilakukan untuk mempelajari dan menganalisis response berbagai
rangkaian R, L, dan C dengan fenomena yang bervariasi. Beberapa parameter penting dapat
dianalisis lebih mendetail antara lain mengenai tegangan/ lewatan maksimum (maximum
overshoot), waktu puncak (peak time tm), dan waktu penetapan (settling time ts). Terbatasnya
komponen-komponen resistor, kapasitor, dan induktor atau model-model rangkaian serta alat
ukur/ instrumen dengan spesifikasi yang serba terbatas menjadi kendala pada pemunculan
karakteristik dari response rangkaian tertentu saja
• Induktor.
Pada dasarnya sebuah kapasitor merupakan dua
keping konduktor yang dipisahkan oleh suatu
insulator (udara, hampa udara atau suatu material
tertentu). Secara skematis sebuah kapasitor keping
sejajar dapat digambarkan seperti pada gambar 1.1.
• Misalkan tegangan DC dikenakan pada kedua keping seperti ditunjukkan pada
• gambar 1.1. Karena kedua keping tersebut dipisahkan oleh suatu insulator, pada
• dasarnya tidak ada elektron yang dapat menyeberang celah di antara kedua
keping. Pada saat baterai belum terhubung, kedua keping akan bersifat netral
(belum temuati).
• Saat baterai terhubung, titik dimana kawat pada ujung kutub negative
dihubungkan akan menolak elektron, sedangkan titik dimana kutub positif
terhubungkan menarik elektron. Elektron-elektron tersebut akan tersebar ke
seluruh keping kapasitor. Sesaat, elektron mengalir ke dalam keping sebelah
kanan dan electron mengalir keluar dari keping sebelah kiri; pada kondisi ini arus
mengalir melalui kapasitor walaupun sebenamya tidak ada elektron yang
mengalir melalui celah kedua keping tersebut.
• Setelah bagian luar dari keping termuati, berangsur-angsur akan menolak
muatan baru dari baterai. Karenanya arus pada keping tersebut akan menurun
besarnya terhadap waktu sampai kedua keping tersebut berada pada tegangan
yang dimiliki baterai. Keping sebelah kanan akan memiliki kelebihan elektron
yang terukur dengan muatan -Q dan pada keping sebelah kiri temuati sebesar
+Q.
• Besarnya muatan Q ini karenanya proporsional dengan V atau
Q µV
 

• Konstanta proporsionalitas tersebut dinyatakan sebagai kapasitansi atau C


  Q=CV
 
• dimana satuan kapasitansi ini dinyatakan dengan farad (F).
• Secara umum hubungan antara muatan dan tegangan untuk sebuah kapasitor
• dapat dituliskan sebagai 
q=Cv
• dengan demikian arus i yang mengalir diberikan oleh 
i = dq / dt = C dv / dt
• atau
• Induktor.
• Telah diketahui bahwa elektron yang bergerak atau arus listrik yang mengalir
akan
• menghasilkan medan magnet. Namm kebalikannya untuk menghasilkan arus
listrik
• (arus induksi) perlu dilakukan perubahan medan magnet.
• Percobaan yang sangat sederhana dapat dilakukan seperti diskemakan pada
• gambar 1.2. Saat saklar (switch) ditutup dan arus mengalir secara tetap pada
kumparan di bagian bawah, maka tidak ada arus induksi yang mengalir pada
kumparan bagian atas. Namun sesaat saklar ditutup (atau dibuka) sehingga
medan magnet yang dihasilkan berubah, maka voltmeter akan menunjukkan
adanya perubahan tegangan induksi. Besamya tegangan yang dihasilkan
adalah sebanding dengan perubaban arus induksi, dapat dituliskan sebagai:
•  
• v = L di / dt
• dimana harga proporsinalitas L disebut induksi diri atau induktansi dengan
satuan henry (H).
Gambar 1.2 Percobaan sederhana terjadinya induksi diri pada induktor

Gambar 1.3 Terjadinya arus transien pada rangkaian RC


• Arus Transien pada Rangkaian RC
• Gambar 1.3 menjelaskan proses pemuatan dan pelucutan muatan
pada sebuah kapasitor.
• Jika mula-mula saklar berada pada posisi 1 dalam waktu yang relatif
lama maka kapasitor akan termuati sebesar V volt. Pada keadaan ini
kita catat sebagai t = 0.
• Saat saklar dipindah ke posisi 2, muatan kapasitor mulai dilucuti
(discharge) sehingga tegangan pada kapasitor tersebut mulai menurun.
Saat tegangan pada kapasitor mulai menurun, energi yang tersimpan
akan dilepas menjadi panas melalui resistor. Karena tegangan pada
kapasitor adalah sama dengan tegangan pada resistor maka arus yang
lewat rangkaian juga akan menurun. Proses ini terus berlangsung
sampai seluruh muatan terlucuti atau tegangan dan arus menjadi nol
sehingga rangkaian dalam keadaan stabil (steady-state).
• Untuk menentukan persamaan tegangan dan arus saat muatan
kapasitor dilucuti dapat digunakan hk Kirchhoff tentang arus sebagai
berikut.
• iC (t) + iR (t) = 0
•  
• Dengan menggunakan hubungan V-I pada C dan R diperoleh
•  
•  
•  
•  
•  
• Dibagi dengan C dan dengan mendifinisikan n t = RC , didapat
•  
•  
•  
•  
•  
•  
•  
• merupakan persamaan eksponensial dimana
• v C (t) = merupakan harga sesaat
• V 1= amplitudo atau harga maksimum
• e = 2,718..................
• t = waktu dalam detik
• t = konstanta waktu dalam detik