Anda di halaman 1dari 10

Emile Durkheim

Pemikiran Durkheim tentang sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang


fakta sosial atau mempelajari masyarakat secara luas yang termasuk dalam
kajian sosiologi makro. Sedangkan masyarakat menurut Durkheim adalah
keseluruhan dari pola interaksi yang sangat kompleks sifatnya. Durkheim
dalam sepanjang hidupnya memberikan perhatiannya terhadap solidaritas
dan integrasi. Perhatian yang besar terhadapnya muncul dari kesadarnnya
bahwa berkurangnya pengaruh agama tradisional yang merusakkan
dukungan tradisional yang utama untuk standar moral bersama yang
membantu mempersatukan masyarakat di masa lampau. Solidaritas dan
integarasi merupakan permasalahan substansif dalam teori-teori Durkheim.
Masalah yang utama bagi Durkheim adalah masalah sentral dalam analisa
sosiologi yang menjelaskan tentang keteraturan sosial yang mendasar dan
berhubungan dengan proses-proses sosial yang meningkatkan integrasi dan
solidaritas. Dan juga merupakan masalah pokok dalam prespektif fungsional
sekarang ini. Fungsionalisme juga menekankan integrasi dan solidaritas
serta pentingnya memisahkan analisa tentang tujuan dan motivasi yang
sadar dari individu.

Asumsi umum yang paling mendasar Durkheim terhadap pendekatan


sosiologi adalah bahwa gejala sosial itu riil dan mempengaruhi kesadaran
individu serta perilakunya yang berbeda dari karakteristik psikologi, biologi
atau yang lainnya. Tekanan Durkheim pada kenyataan sosial yang obyektif
itu bertentangan dengan individu yang berlebihan. Dan penjelasan Durkheim
mengenai fakta sosial akan dijelaskan secara rinci dalam penjelasan berikut.

1. Fakta Sosial
Adalah setiap cara bertindak yang umumnya terdapat dalam suatu
masyarakat tertentu yang yang memiliki eksistensinya sendiri terlepas dari
manifestasi individu. Menurut Durkheim bahwa fakta sosial itu tidak dapat

K.J VEEGER , REALITAS SOSIAL , 1990, hal 142—149,170-173

PAUL DOYLE JOHNSON, TEORI SOSIOLOGI KLASIK DAN MODERN,1986, hal 170-179,
hal 214-22
direduksikan ke fakta individu melainkan memiliki eksistesinya yang
independen pada tingkat sosial.
Linkungan sosial dimana perilaku berlangsung berbeda dari lingkungan fisik
yang ditinggali. Lingkungan fisik hanya membuat kondisi-kondisi yang
diperhitungkan oleh setiap individu demi keselamatannnya. Tapi lingkungan
sosial tidak hanya membuat kondisi-kondisi tetapi juga norma-norma dan
tujuan-tujuan perilaku yang ditujukan kepadanya. Itulah ciri khas dari
lingkungan sosial, sehingga disebut oleh Durkheim sebagai fakta sosial atau
realitas sui generis.
Setiap individu lahir dalam lingkungan sosial budaya yang berbeda dan
tertentu. Yang dialaminya seolah-olah datang dari luar dan diluar
kemampuan individu atau tidak tergantung dari individu tersebut.
Masyarakat setempat dari lingkungan tersebut menyampaikan kepada tiap-
tiap anggota masyarakat berupa naskah yang berisi peranan-peranan yang
diharapkan dari masyarakat setempat tersebut. Boleh jadi tiap-tiap anggota
dari masyarakat tersebut membanggakan indepedensinya atau peranan-
peranan yang dimilikinya. Tetapi dalam kenyataannya individu tersebut lebih
banyak merupakan pelaku konformnitas daripada pemberontak yang lebih
menyukai pembaruan, lebih banyak bersikap konservatif daripada merintis
apa yang sudah ada atau lebih dulu yang menjadi masyarakat setempat.
Dan biasanya individu-individu sebagian besar tidak menyadari prestasi-
prestasinya yang didapat kan sebagai pelaku peranan tidak berasal dari
mereka sendiri melainkan dari fakta sosial. Baik dalam
pergaulan,pendidikan, maupun dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan
yang secara lazim disebut “pribadi” pun mereka lebih banyak menyesuaikan
diri dengan fakta sosial dari pada melanggar atau membuat sesuatu yang
baru. Sehubungan dengan pengaruh besar dari faktor rutin dalam perilaku
sosial anggota masyarakat , individu mendapatkan kesan dari fakta sosial
bahwa fakta sosial mempunyai kekuatan memaksa atau menekan atas
individu dan mengatur kelakuannya. Individu takut akan sanksi ataupun
reaksi negative atau hukumannya, kalau mereka tidak menyesuaikan diri
K.J VEEGER , REALITAS SOSIAL , 1990, hal 142—149,170-173

PAUL DOYLE JOHNSON, TEORI SOSIOLOGI KLASIK DAN MODERN,1986, hal 170-179,
hal 214-22
terhadap fakta sosial. Durkheim memakai istilah pengaruh dari fakta sosial
dengan puissance imperative et coercitive. Istilah fakta sosial seolah-olah
telah member kesan bahwa kehidupan sosial berstatus ontologis atau
kehidupan tersendiri yang terpisah dari kehidupan individual. Durkheim,
tidak menceraikan fakta sosial dari pelaku atau anggota masyarakat yang
disebut individu tetapi menurutnya ada alasan untuk memb ayangkan gejala
sosial sebagai obyek. Fakta sosial berupa struktur-struktur
masyarakat,Negara, dan keluarga, nilai-nilai seperti
kedaulatan,agama,adat,norma-norma kesusilaan , dan sebagainya.

Dari penjelasan di atas maka fakta sosial mempunyai karakteristik seperti,

• Fakta sosial bersifat eksternal terhadap individu

• Fakta soaial mempunyai kekuatan menekan dan memaksa


individu untuk berperilaku sesuai fakta sosial meskipun bukan
merupakan kemauannya

• Fakta sosial bersifat umum dan menyebar ke seluruh lapisan


masyarakat

• Fakta sosial harus dijelaskan dengan fakta sosial yang lain,


artinya bahwa untuk menjelaskan suatu fakta sosial harus
dijelaskan dalam hubungannya dengan fakta sosial yang
lain,namun selain itu tak menutup kemungkinan fakta sosial
dijelaskan dalam hubungannya dengan gejala individu.

2. Solidaritas Sosial

Dari semua fakta sosial yang dijelaskan oleh Durkheim, tak satupun yang se-
sentral konsep solidaritas sosial. Solidaritas sosial adalah suatu keadaan

K.J VEEGER , REALITAS SOSIAL , 1990, hal 142—149,170-173

PAUL DOYLE JOHNSON, TEORI SOSIOLOGI KLASIK DAN MODERN,1986, hal 170-179,
hal 214-22
dimana suatu hubungan keadaan antara inidividu atau kelompok yang
didasarkan pada faktor perasaan moral dan kepercayaan yang dianut
bersama diperkuat oleh pengalaman pengalaman emosional bersama.

Hubungan ikatan ini lebih kuat dibandingkan hubungan yang didasarkan


pada kontrak atas persetujuan rasional. Karena keadaan hubungan yang
ada, timbul dari kemampuan masing-masing individu dalam berempati
terhadap individu atau kelompok yang lain dalam hubungannya itu, sehingga
antara individu satu dengan yang lain dapat ikut merasakan perasaan
batiniyah dari salah satunya ketika terkena dampak peristiwa sosial. Dan
atas dasar kepercayaan yang dianut bersama merupakan satu kesatuan
nyata mendorong kesadaran kolektiv muncul.

a) Solidaritas Mekanik

Kesadaran sebagai individu pada masa dahulu masih lemah, sedangkan kesadaran

kolektif memerintah atas atas bagian terbesar kehidupan individu. Kepercayaan

yang sama, perasaan yang sama, dan tingkah laku yang sama mempersatukan

orang menjadi masyarakat. Apa yang dicela oleh salah satu maka dicela pula oleh

yang lainnya, apa yang dianggap baik oleh yang satu maka dianggapa baik pula

oleh yang lainnya. Solidaritas mekanik didasarkan pada suatu “kesadaran

kolektif” bersama (collective consciousness/conscience) yang menunjuk pada

totalitas kepercayaan dan sentimen bersama yang rata-rata ada pada warga

masyarakat yang sama itu.1 Itu merupakan suatu solidaritas yang tergantung

pada individu yang memiliki sifat-sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan

pola normatif yang sama pula. Ikatan utamanya adalah kepercayaan

bersama,cita-cita, dan komitmen moral. Contoh dari solidaritas mekanik di dalam

masyarakat adalah jamaah keagamaan. Bagi Durkheim indikator yang paling jelas

K.J VEEGER , REALITAS SOSIAL , 1990, hal 142—149,170-173

PAUL DOYLE JOHNSON, TEORI SOSIOLOGI KLASIK DAN MODERN,1986, hal 170-179,
hal 214-22
untuk solidaritas mekanik adalah ruang lingkup dan kerasnya hukum-hukum yang

bersifat menekan. Ciri khas yang penting dari solidaritas itu, didasarkan pada

suatu tingkat homogenitas yang tinggi dalam kepercayaan, sentimen dan

sebagainya. Homogenitas itu hanya berkembang bila tingkat pembagian kerja

rendah. Karena itu individualitas tidak berkembang, individualitas itu terus

menerus dilumpuhkan oleh tekanan yang besar sekali guna tercapainya

konformnitas.

b) Solidaritas Organik

Masyarakat modern disatukan oleh suatu solidaritas organik, yaitu


solidaritas organik muncul karena pembagian kerja bertambah besar.
Biasanya terjadi dalam masyarakat industri. Karena perbedaan antara
individual membuat mereka menjadi masyarakat, maka dapat dikatakan
integritas yang tinggi berpengaruh besar dalam terciptanya solidaritas
itu. Solidaritas organik didasarkan pada tingkat ketergantungan yang
tinggi. Adanya spesialisasi dalam kerja yang saling berhubungan dan
saling tergantung sedemikian rupa sehingga system itu membentuk
solidaritas menyeluruh yang funsionalitas. Tingkat diferensiasi dan
spesialisasi yang menimbulkan saling ketergantungan secara relative dari
pada nilai dan norma yang berlaku. Tingkat individu pun relatif tinggi. Apa
yang dianggap baik oleh salah satu orang, belum tentu menjadi baik pula
oleh yang lain.

Contoh dari solidaritas organiik di dalam masyarakat adalah perusahaan


dagang. Dimana di dalamnya anggota termotivasi oleh faktor imbalan
ekonomi, ada ketergantungan antara orang yang bekerja di
mesin,mengawasi mesin,memperbaiki mesin, mandor, penjual,
pembukuan, yang menjual barang, sekretaris, akuntan, manajer, dan

K.J VEEGER , REALITAS SOSIAL , 1990, hal 142—149,170-173

PAUL DOYLE JOHNSON, TEORI SOSIOLOGI KLASIK DAN MODERN,1986, hal 170-179,
hal 214-22
seterusnya, yang saling berhubungan, maka membentuk sebuah
solidaritas dalam suatu sistem.

Max Webber
Dalam pemikiran webber, difokuskan dalam masalah-masalah motivasi
individu dan arti subyektif. Tujuannya adalah untuk menganalisa hubungan
yang penting antara pola-pola motivasi subyektif dan pola institusional yang
besar dalam masyarakat. Bila Durkheim mempelajari masyarakat dalam
prespektif secara luas atau makro ,maka Webber melelalui prespektif dalam
lingkup yang lebih sempit yaitu prespektif mikro. Webber memilih konsep
rasionalitas sebagai titik pusat perhatiannya yang utama, dan sama
pentingnya dengan konsep utama Durkheim yaitu konsep solidaritas. Karena
konsep rasionalitas sebagai pusat acuan maka keunikan orientasi obyektif
individu serta motivasinya sebagian dapat diatasi dan diteliti. Jadi menurut
webber sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku sosial serta
intepretatif memandang individu dan tindakannya sebagai satuan dasar dan
individu sebagai inti dari sosiologi.
Bebeda dengan Durkheim, Webber memandang fakta sosial sebagai sesuatu
yang didasarkan pada motivasi individu dan ttindakan-tindakan social. Lalu
melihat masyarakat sebagai sesuatu yang riil, yang tidak harus
mencerminkan maksud individu-individu yang sadar. Masyarakat bukan
sekedar kenyataan tetapi lebih kepada bagian-bagiannya. Berikut ini akan
dijelaskan secara lebih rinci penjelasan mengenai tindakan social dan
macam-macam tindakan sosial yang didasarkan pada konsep rasionalitas.
1. Tindakan Sosial
Tindakan adalah semua perilaku yang dilakukan individu dimana ia
memberikan arti subyektif terhadap perilakunya. Lalu tindakan itu dapat
disebut tindakan social bila arti subyektif tersebut dihubungkan dengan

K.J VEEGER , REALITAS SOSIAL , 1990, hal 142—149,170-173

PAUL DOYLE JOHNSON, TEORI SOSIOLOGI KLASIK DAN MODERN,1986, hal 170-179,
hal 214-22
pelakunya. Artinya tindakan yang dilakukan individu mempunyai maksud
atau motivasi dan tujuan. Orang yang melempar batu ke sungai bukan
merupakan suatu tindakan social, karena tindakan itu tidak mempunyai
motivasi yang jelas serta tidak ada tujuannya. Kata “perikelakuan” yang
dipakai oleh Webber dimaksudkan untuk tindakan individu yang memiliki
arti subyektif untuk mencapai suatu tujuan yang didorong oleh motivasi.
Entah kelakuan itu berupa perencanaan,perenungan,pengambilan
keputusan dan sebagainya yang bisa bersifat lahiriah maupun batiniah.
Tanpa kesadaran perilaku manusia tidak dapat disebut sebagai tindakan
sosial. Jadi dapat disimpulkan tindaka individu yang mempunyai arti
subyektif sejauh mana mengorientasikannya dan memperhitungkan
kepada kelakuan orang lain dan mengarahkannya kepada itu.
Dalam konflik tradisional ada asumsi tentang pendekatan obyektif yaitui
pendekatan yang berhubungan dengan gejala yang hanya bisa dilihat,
diamati secara fisik atau nyata. Sedangkan pendekatan subyektif adalah
dalam hubungannya dengan gejala yang sulit untuk dipahami serta
diamati seperti perasaan individu, motif-motifnya dan pikirannya.
Maka webber menggunakan konsep rasionalitas sebagai kunci bagi suatu
analisa obyektif mengenai arti-arti subyektif dan juga merupakan dasar
perbandingan mengenai jenis-jenis tindakan sosial yang berbeda.
Pembedaan antara tindakan yang rasional dan nonrasional. Jadi tindakan
rasional adalah tindakan yang diambil berdasar pertimbangan yang sadar
dan dengan akal sehat dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan.
Maka berdasarkan criteria rasional dan nonrasional dapat dibagi dalam 2
kelompok, yaitu,
1. Tindakan rasional,meliputi
a) tindakan rasional instrumental
tindakan yang mempunyai tiongkat rasionalitas paling tinggi. Jadi
tindakan ini dengan pertimbangan yang sadar mempertimbangkan
alat,cara dan tujuan yang hendak dicapai. Contohnya sepulang kuliah

K.J VEEGER , REALITAS SOSIAL , 1990, hal 142—149,170-173

PAUL DOYLE JOHNSON, TEORI SOSIOLOGI KLASIK DAN MODERN,1986, hal 170-179,
hal 214-22
andi merasa lapar. Sedangkan dirumah nya nasi telah habis dan hanya
menyisakan beras putih. Maka agar andi bisa makan, dia harus memasak
beras putih tadi menjadi nasi dengan cara mencucinya terlebih dulu lalu
menanaknya kemudian ditunggu hingga matang dan akhirnya bisa
dimakan poleh andi. Disini tidak mungkin beras putih yang awalnya
berupa beras dengan sendirinya berubah menjadi nasi bila andi tidak
mengambil tindakan yang melmpertimbangkan bagaimana cara
memasaknya.
b) tindakan rasionalitas yang berorientasi nilai
bila dibandingkan dengan tindakan rasionalitas instrumental tindakan
yang berorientasi nilai mengorientasi kan tindakannya yang utama lebih
ke nilai-nilai. Bahwa alat-alat hanya merupakan obyek obyek perhitungan
dan pertimbangan yang sadar, tujuannya sudah ada dalam hubungannya
dengan nilai-nilai individu yang merupakan nilai akhir baginya. Nilai-nilai
akhir itu bersifat non rasional dimana individu tidak dapat
memperhitungkannya secara obyektif mengenai tujuan-tujuan mana yang
harus ditentukan. Contohnya ketika hari raya idul fitri, anak sungkem
kepada orang tua, lalu orang tua memberi kan uang kepada anaknya atau
keponakannya.
2. Tindakan nonrasional , meliputi

a) tindakan tradisional
merupakan tindakan yang nonrasional. Berawal dari munculnya folkways
atau kebiasaan yang secara tidak sadar atau perencanaan dilakukan
maka tindakan itu termasuk dalm tindakan tradisional. Biasanya
tiondakan terebut berdasarkan adat. Dan bila orientsinya sama maka
tindakan ini menjadi semacam tradisi, dalm masyarakat modern tindakan
tradisional akan semakin hilang dengan meningkatnya tindakan rasional
instrumental. Contoh dari tindakan ini adalah dalam masyarakat jawa

K.J VEEGER , REALITAS SOSIAL , 1990, hal 142—149,170-173

PAUL DOYLE JOHNSON, TEORI SOSIOLOGI KLASIK DAN MODERN,1986, hal 170-179,
hal 214-22
sering memberikan senyuman kepada atau memberikan sapaan ketika
bertemu walaupun tidak saling mengenal.

b) Tindakan Afektif
Tindakan yang didominasi oleh perasaan dan emosi tanpa refleksi
intelektual dan perencanaan yang sadar. Contohnya marah, cinta,
kesenangan, kegembiraan, kesedihan dan sbagainya. Orang yang sedang
mengalami emosi atau perasaan nya itu meluapkan ungkapannya tanpa
pertimbangan yang sadar dan intelektual. Tindakan itu benar-benar tidak
rasional dan karena kurangnya pertimbangan logika, ideology, dan
rasionalitas. Contohnya ketika ayah marah karena ditipu oleh teman
lamanya, maka secara sepontan pot bunga yang ada dilantai
ditendangnya secara spontan hingga pecah. Padahal bila
dipertimbangkan secara sadar pot itu terbuat dari bahan yang solid dan
keras.

Keempat tipe tindakan social itu merupakan tipe-tipe tindakan murni


,dimana mereka adalah konstruksi-konstruksi konseptual dari webber untuk
memahami dan menafsirkan realitas empiris yang beraneka ragam.

Daftar Pustaka

Doyle Paul Johnson, 1986, Teori Sosiologi Klasik dan Modern,


Gramedia: Jakarta

K.J VEEGER , REALITAS SOSIAL , 1990, hal 142—149,170-173

PAUL DOYLE JOHNSON, TEORI SOSIOLOGI KLASIK DAN MODERN,1986, hal 170-179,
hal 214-22
K.J Veeger, 1990, Realitas Sosial, Gramedia Pustaka Utama:
Jakarta

Kamanto Sunarto, 1994, Pengantar Sosiologi, Gramedia


Pustaka Utama: Jakarta

K.J VEEGER , REALITAS SOSIAL , 1990, hal 142—149,170-173

PAUL DOYLE JOHNSON, TEORI SOSIOLOGI KLASIK DAN MODERN,1986, hal 170-179,
hal 214-22