Pendidikan Dan Pembangunan Ekonomi

Pendidikan dan Pembangunan Ekonomi

TESIS bahwa pendidikan memberi kontribusi secara signifikan terhadap pembangunan ekonomi telah menjadi kebenaran yang bersifat aksiomatik. Berbagai kajian akademis dan penelitian empiris telah membuktikan keabsahan tesis itu. Buku terakhir William Schweke, Smart Money: Education and Economic Development (2004), sekali lagi memberi afirmasi atas tesis ilmiah para scholars terdahulu, bahwa pendidikan bukan saja akan melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, memiliki pengetahuan dan keterampilan serta menguasai teknologi, tetapi juga dapat menumbuhkan iklim bisnis yang sehat dan kondusif bagi pertumbuhan ekonomi. Karena itu, investasi di bidang pendidikan tidak saja berfaedah bagi perorangan, tetapi juga bagi komunitas bisnis dan masyarakat umum. Pencapaian pendidikan pada semua level niscaya akan meningkatkan pendapatan dan produktivitas masyarakat. Pendidikan merupakan jalan menuju kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi. Sedangkan kegagalan membangun pendidikan akan melahirkan berbagai problem krusial: pengangguran, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, dan welfare dependency yang menjadi beban sosial politik bagi pemerintah.

MEMASUKI abad ke-21, paradigma pembangunan yang merujuk knowledge-based economy tampak kian dominan. Paradigma ini menegaskan tiga hal. Pertama, kemajuan ekonomi dalam banyak hal bertumpu pada basis dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua, hubungan kausalitas antara pendidikan dan kemajuan ekonomi menjadi kian kuat dan solid. Ketiga, pendidikan menjadi penggerak utama dinamika perkembangan ekonomi, yang mendorong proses transformasi struktural berjangka panjang. Sebagai ilustrasi, Jepang adalah negara Asia pertama yang menjadi pelopor pembangunan perekonomian berbasis ilmu pengetahuan. Setelah Jepang, menyusul negara-negara Asia Timur lain seperti Singapura, China, Taiwan, Hongkong, dan Korea Selatan. Melalui artikel ini penulis bermaksud mencermati kontribusi pendidikan terhadap pembangunan ekonomi dengan melihat perbandingan antara Korea mewakili Asia serta Kenya dan Zimbabwe mewakili Afrika. Pilihan tiga negara ini menarik karena semula Korea, yang secara ekonomi tertinggal, ternyata mampu mengungguli dan kemudian meninggalkan kedua negara Afrika itu. Beberapa indikator ekonomi makro menunjukkan perubahan amat signifikan antara ketiga negara berbeda benua itu. Yang-Ro Yoon, seorang peneliti ekonomi Bank Dunia, dalam Effectiveness Born Out of Necessity: A Comparison of Korean and East African Education Policies (2003), mengemukakan sejumlah temuan menarik berdasarkan observasi di tiga negara itu. Pada dekade 1960-an GNP per kapita Korea hanya 87 dollar AS, sementara Kenya 90 dollar AS. Memasuki dekade 1970-an GNP per kapita Korea mulai meningkat menjadi 270 dollar AS, namun masih lebih rendah dibanding Zimbabwe yang telah mencapai 330 dollar AS. Indikator lain seperti gross savings rate (persentase terhadap GDP) juga menunjukkan, Korea lebih rendah dibanding kedua negara Afrika itu. Pada pertengahan 1970-an, gross savings rate masing-masing negara adalah: Korea 8 persen, Kenya 15 persen, dan Zimbabwe 14 persen. Meski demikian, dalam hal pembangunan pertanian Korea relatif lebih unggul. Sektor pertanian memberi sumbangan terhadap GDP sebesar 37 persen di Korea, 35 persen di Kenya, dan 20 persen di Zimbabwe. Memasuki dekade 1980-an, pembangunan ekonomi di Korea berlangsung amat intensif dan pesat. Bahkan antara periode 1980 dan 1996 dapat dikatakan sebagai masa keemasan saat negeri gingseng itu mampu melakukan transformasi ekonomi secara fundamental. Pada tahun-tahun itu pertumbuhan ekonomi Korea melesat jauh meninggalkan Kenya dan Zimbabwe.

Sedangkan GNP per kapita Kenya dan Zimbabwe masing-masing 320 dollar AS dan 610 dollar AS. 12 persen di Kenya. Bercermin pada pengalaman Korea.2 persen tahun 1965 menjadi 4. sementara Indonesia baru mulai tahun 1984.7 persen tahun 1962 menjadi 0. Mengikuti agenda Millenium Development Goals (MDGs).6 persen pada tahun 1995. Yang menakjubkan. kelas menengah ekonomi di Korea juga terbentuk dengan baik dan mapan. lebih dari setengah anak-anak usia sekolah pada level ini telah memasuki perguruan tinggi. Pemerintah Korea mengambil langkah-langkah ekspansif antara 1960-an dan 1990-an guna memperluas akses pendidikan bagi segenap warga negara. terutama yang diperuntukkan bagi penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Program wajib belajar pendidikan dasar (universal basic education) sudah dilaksanakan sejak lama dan berhasil dituntaskan tahun 1965. Korea sukses melakukan inovasi teknologi (otomotif dan elektronik) karena memperoleh transfer teknologi melalui hubungan dagang dengan negara-negara maju tersebut. Bersamaan dengan itu. dan 17 persen di Zimbabwe. Investasi di bidang pendidikan secara nyata berhasil mendorong kemajuan ekonomi dan menciptakan kesejahteraan sosial. tercermin pada social return lebih tinggi dibanding private return. Menyadari bahwa pendidikan dasar merupakan bagian dari public good.2 persen tahun 1980. investasi di bidang pendidikan harus didukung pembiayaan memadai. Sementara pertumbuhan penduduk di Kenya justru meningkat dari 3.980 dollar AS tahun 1998 saat terjadi krisis moneter). Pemerintah Indonesia harus mengambil langkah-langkah strategis dalam upaya membangun pendidikan nasional. Penting dicatat. Komitmen Pemerintah Korea terhadap pembangunan pendidikan itu tercermin pada public expenditure. Pada tahun 1959. kalangan pengusaha Korea telah membangun hubungan dagang dan membuka akses pasar ke negara-negara kawasan seperti Jepang. Setelah program ini sukses. dan jenjang SLTA juga hampir bersifat universal pada periode yang sama. maka Pemerintah Korea mengalokasikan anggaran untuk pendidikan dasar jauh lebih besar dibanding level menengah dan tinggi. Untuk itu. bahkan telah menyeberang ke Amerika dan Eropa. Berbagai studi menunjukkan. Pertumbuhan ekonomi Korea yang mengesankan ini terkait keberhasilan dalam menurunkan angka pertumbuhan penduduk selama tiga dekade: dari 2. Pada dekade antara 1960-an dan 1980-an. pada jenjang pendidikan tinggi juga mengalami ekspansi besar-besaran. akses ke pendidikan menengah dan pendidikan tinggi juga harus diperluas. meski kemudian menurun menjadi 2.4 persen dari GNP. guna mendukung universal basic education dan terus meningkat secara reguler menjadi 23 persen tahun 1971. Pemerintah Korea mulai menurunkan anggaran pendidikan pada kisaran antara 14 sampai 17 persen dari total belanja negara atau sekitar 2. anggaran untuk pendidikan mencapai 15 persen dari total belanja negara. selain faktor basis pendidikan yang lebih kuat. guna mendukung upaya menciptakan knowledge society yang menjadi basis akselerasi pembangunan ekonomi di masa depan.2 sampai 4.Pada tahun 1996 GNP per kapita Korea telah mencapai 10.600 dollar AS (meski lalu menurun menjadi 7. Sedangkan wajib belajar jenjang SLTP berhasil dicapai tahun 1980-an.9 persen pada 1993. tahun 2015 Pemerintah Indonesia harus menjamin bahwa seluruh anak usia sekolah dasar akan memperoleh pendidikan dasar. salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi di Korea adalah komitmen yang kuat dalam membangun pendidikan. basis pendidikan di Korea memang amat kokoh. TIDAK diragukan lagi. Perbedaan yang signifikan juga terlihat pada gross savings rate yakni 36 persen di Korea. .

Paradigma ini menegaskan tiga hal. pendidikan menjadi penggerak utama dinamika perkembangan ekonomi. pembangunan ekonomi di Korea berlangsung amat intensif dan pesat. Berbagai kajian akademis dan penelitian empiris telah membuktikan keabsahan tesis itu. ternyata mampu mengungguli dan kemudian meninggalkan kedua negara Afrika itu. Karena itu.Pendidikan dan Pembangunan Ekonomi TESIS bahwa pendidikan memberi kontribusi secara signifikan terhadap pembangunan ekonomi telah menjadi kebenaran yang bersifat aksiomatik. Setelah Jepang. Melalui artikel ini penulis bermaksud mencermati kontribusi pendidikan terhadap pembangunan ekonomi dengan melihat perbandingan antara Korea mewakili Asia serta Kenya dan Zimbabwe mewakili Afrika. memiliki pengetahuan dan keterampilan serta menguasai teknologi. hubungan kausalitas antara pendidikan dan kemajuan ekonomi menjadi kian kuat dan solid. tetapi juga bagi komunitas bisnis dan masyarakat umum. Memasuki dekade 1970-an GNP per kapita Korea mulai meningkat menjadi 270 dollar AS. kemajuan ekonomi dalam banyak hal bertumpu pada basis dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. namun masih lebih rendah dibanding Zimbabwe yang telah mencapai 330 dollar AS. Pada tahun-tahun itu pertumbuhan ekonomi Korea melesat jauh meninggalkan Kenya dan Zimbabwe. Taiwan. dan Zimbabwe 14 persen. 35 persen di Kenya. Pada pertengahan 1970-an. Hongkong. Kenya 15 persen. penyalahgunaan narkoba. Pendidikan merupakan jalan menuju kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi. Smart Money: Education and Economic Development (2004). Indikator lain seperti gross savings rate (persentase terhadap GDP) juga menunjukkan. Buku terakhir William Schweke. Pencapaian pendidikan pada semua level niscaya akan meningkatkan pendapatan dan produktivitas masyarakat. Jepang adalah negara Asia pertama yang menjadi pelopor pembangunan perekonomian berbasis ilmu pengetahuan. kriminalitas. paradigma pembangunan yang merujuk knowledge-based economy tampak kian dominan. Sebagai ilustrasi. Bahkan antara periode 1980 dan 1996 dapat dikatakan sebagai masa keemasan saat negeri gingseng itu mampu melakukan transformasi ekonomi secara fundamental. investasi di bidang pendidikan tidak saja berfaedah bagi perorangan. Sektor pertanian memberi sumbangan terhadap GDP sebesar 37 persen di Korea. menyusul negara-negara Asia Timur lain seperti Singapura. bahwa pendidikan bukan saja akan melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas. yang mendorong proses transformasi struktural berjangka panjang. dalam hal pembangunan pertanian Korea relatif lebih unggul. Yang-Ro Yoon. seorang peneliti ekonomi Bank Dunia. mengemukakan sejumlah temuan menarik berdasarkan observasi di tiga negara itu. Kedua. sementara Kenya 90 dollar AS. Memasuki dekade 1980-an. . China. Pada dekade 1960-an GNP per kapita Korea hanya 87 dollar AS. Ketiga. Sedangkan kegagalan membangun pendidikan akan melahirkan berbagai problem krusial: pengangguran. tetapi juga dapat menumbuhkan iklim bisnis yang sehat dan kondusif bagi pertumbuhan ekonomi. dan 20 persen di Zimbabwe. yang secara ekonomi tertinggal. dalam Effectiveness Born Out of Necessity: A Comparison of Korean and East African Education Policies (2003). dan welfare dependency yang menjadi beban sosial politik bagi pemerintah. gross savings rate masing-masing negara adalah: Korea 8 persen. sekali lagi memberi afirmasi atas tesis ilmiah para scholars terdahulu. Beberapa indikator ekonomi makro menunjukkan perubahan amat signifikan antara ketiga negara berbeda benua itu. Pilihan tiga negara ini menarik karena semula Korea. Pertama. Meski demikian. Korea lebih rendah dibanding kedua negara Afrika itu. MEMASUKI abad ke-21. dan Korea Selatan.

Perbedaan yang signifikan juga terlihat pada gross savings rate yakni 36 persen di Korea. kelas menengah ekonomi di Korea juga terbentuk dengan baik dan mapan. Pemerintah Korea mengambil langkah-langkah ekspansif antara 1960-an dan 1990-an guna memperluas akses pendidikan bagi segenap warga negara. Bercermin pada pengalaman Korea. maka Pemerintah Korea mengalokasikan anggaran untuk pendidikan dasar jauh lebih besar dibanding level menengah dan tinggi. Sedangkan GNP per kapita Kenya dan Zimbabwe masing-masing 320 dollar AS dan 610 dollar AS. Pemerintah Korea mulai menurunkan anggaran pendidikan pada kisaran antara 14 sampai 17 persen dari total belanja negara atau sekitar 2. Bersamaan dengan itu. Komitmen Pemerintah Korea terhadap pembangunan pendidikan itu tercermin pada public expenditure. Berbagai studi menunjukkan. kalangan pengusaha Korea telah membangun hubungan dagang dan membuka akses pasar ke negara-negara kawasan seperti Jepang. Program wajib belajar pendidikan dasar (universal basic education) sudah dilaksanakan sejak lama dan berhasil dituntaskan tahun 1965. guna mendukung upaya menciptakan knowledge society yang menjadi basis akselerasi pembangunan ekonomi di masa depan. tercermin pada social return lebih tinggi dibanding private return. Yang menakjubkan. Korea sukses melakukan inovasi teknologi (otomotif dan elektronik) karena memperoleh transfer teknologi melalui hubungan dagang dengan negara-negara maju tersebut. Setelah program ini sukses. Sementara pertumbuhan penduduk di Kenya justru meningkat dari 3. lebih dari setengah anak-anak usia sekolah pada level ini telah memasuki perguruan tinggi. Pada dekade antara 1960-an dan 1980-an. pada jenjang pendidikan tinggi juga mengalami ekspansi besar-besaran. TIDAK diragukan lagi.4 persen dari GNP. tahun 2015 Pemerintah Indonesia harus menjamin bahwa seluruh anak usia sekolah dasar akan memperoleh pendidikan dasar. guna mendukung universal basic education dan terus meningkat secara reguler menjadi 23 persen tahun 1971. . Penting dicatat. sementara Indonesia baru mulai tahun 1984. bahkan telah menyeberang ke Amerika dan Eropa. akses ke pendidikan menengah dan pendidikan tinggi juga harus diperluas. Investasi di bidang pendidikan secara nyata berhasil mendorong kemajuan ekonomi dan menciptakan kesejahteraan sosial.600 dollar AS (meski lalu menurun menjadi 7. selain faktor basis pendidikan yang lebih kuat. basis pendidikan di Korea memang amat kokoh. Menyadari bahwa pendidikan dasar merupakan bagian dari public good.2 persen tahun 1965 menjadi 4. dan jenjang SLTA juga hampir bersifat universal pada periode yang sama. anggaran untuk pendidikan mencapai 15 persen dari total belanja negara.7 persen tahun 1962 menjadi 0. Mengikuti agenda Millenium Development Goals (MDGs). investasi di bidang pendidikan harus didukung pembiayaan memadai.Pada tahun 1996 GNP per kapita Korea telah mencapai 10. Pada tahun 1959. Pemerintah Indonesia harus mengambil langkah-langkah strategis dalam upaya membangun pendidikan nasional.6 persen pada tahun 1995. terutama yang diperuntukkan bagi penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. 12 persen di Kenya. Sedangkan wajib belajar jenjang SLTP berhasil dicapai tahun 1980-an. salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi di Korea adalah komitmen yang kuat dalam membangun pendidikan. meski kemudian menurun menjadi 2.980 dollar AS tahun 1998 saat terjadi krisis moneter). dan 17 persen di Zimbabwe.2 persen tahun 1980. Pertumbuhan ekonomi Korea yang mengesankan ini terkait keberhasilan dalam menurunkan angka pertumbuhan penduduk selama tiga dekade: dari 2.9 persen pada 1993. Untuk itu.2 sampai 4.

dalam pandangan Freire. Menjadi subyek atau makhluk yang lebih manusiawi. sebenarnya mereka tidak lagi menjadi bejana kosong atau empty vessel. Baginya. tugas utama pendidikan sebenarnya mengantar peserta didik menjadi subyek. tetapi mereka harus memerankan dirinya sebagai pekerja kultural (cultural workers). Padahal. mereka mengalami alienasi dari diri dan lingkungannya. but not without Freire. Paling tidak ada dua ciri orang tertindas.Refleksi Pendidikan Bersama Paulo Freire SECARA kebetulan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei bertepatan dengan meninggalnya filosof pendidikan terkemuka abad ke-20. Freire menunjukkan kecintaannya yang tinggi kepada manusia. manusia adalah incomplete and unfinished beings. Arah politik pendidikan Freire berporos pada keberpihakan kepada kaum tertindas (the oppressed). Sebab. Untuk menggambarkan betapa pentingnya Freire dalam dunia pendidikan bisa disimak dari statemen Moacir Gadotti dan Carlos Alberto Torres (1997) "Educators can be with Freire or against Freire. dalam pandangan Freire. termasuk di Indonesia (ada sembilan buku yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia). merasa bodoh. dehumanisasi adalah distorsi atas panggilan ontologis manusia. Pertanyaannya. tertindas karena warna kulit. Guru. Kaum tertindas ini bisa bermacam. Idealitas itu bisa dicapai jika proses pembelajaran mengandaikan relasi antara guru/dosen dan peserta didik yang bersifat subyek-subyek. Paulo Freire.obyek. Mereka harus sadar. Kedua. less cruel. tertindas oleh struktur sosial yang tak adil dan diskriminatif. Untuk itulah emansipasi dan transendensi tingkat kesadaran itu harus melibatkan dua gerakan ganda ini sekaligus.sama peserta didik) dalam mengkritisi dan memproduksi ilmu pengetahuan.macam. saat mereka telah berinteraksi dengan dunia dan manusia lain. Freire berangkat dari konsep tentang manusia. manusia secara fitrah mempunyai kapasitas untuk mengubah nasibnya. tetapi hanya mampu mengimitasi orang lain. Untuk itulah manusia dituntut untuk selalu berusaha menjadi subyek yang mampu mengubah realitas eksistensialnya. Mengapa Freire punya banyak pengikut? Menurut kesaksian Martin Carnoy (1998). Pertama. pendidikan itu mempunyai dua kekuatan sekaligus: sebagai aksi kultural untuk pembebasan . Filsafat pendidikan Freire bertumpu pada keyakinan. Dengan kepercayaan ini ia berjuang untuk menegakkan sebuah dunia yang "menos feio. karena ia harus terlibat (bersama." Pernyataan ini menunjukkan signifikansi Freire dalam diskursus pendidikan di dunia. jender. bagaimana mengemansipasi mereka yang tertindas? Untuk menjawab pertanyaan itu. tidak mengetahui apa-apa. bukan subyek. tetapi telah menjadi makhluk yang mengetahui. menos desumano" (less ugly. dikarenakan dia mempunyai arah politik pendidikan yang jelas. konsep ini tidak berarti hanya menjadikan guru sebagai fasilitator an sich. Tetapi. adalah panggilan ontologis (ontological vocation) manusia. menos malvado. less inhumane). tetapi ia juga bisa dipengaruhi dan dibentuk oleh struktur sosial atau miliu tempat ia berkembang. dan sebagainya. Dengan demikian. Inilah yang membedakannya dengan Ivan Illich. tidak hanya menjadi tenaga pengajar yang memberi instruksi kepada anak didik. Tulisan ini dimaksudkan sebagai renungan memperingati Hardiknas dengan mendiskusikan pemikiran Freire dan kemungkinan dikontekstualisasikan di Indonesia. pada 2 Mei 1997. tertindas rezim otoriter. ras. mereka mengalami self-depreciation. Sebagai seorang humanis-revolusioner. Mereka tidak bisa menjadi subyek otonom. kesadaran manusia itu berproses secara dialektis antara diri dan lingkungan. Untuk mencapai tujuan ini. proses yang ditempuh harus mengandaikan dua gerakan ganda: meningkatkan kesadaran kritis peserta didik sekaligus berupaya mentransformasikan struktur sosial yang menjadikan penindasan itu berlangsung. Ia punya potensi untuk berkembang dan mempengaruhi lingkungan. Sebaliknya.

harus ada dialektika antara teks dan konteks. Mereka mengalami apa yang disebut segregasi pendidikan. Ia harus diperluas perannya dalam menciptakan kehidupan publik yang lebih demokratis. Jika pendidikan dipahami sebagai aksi kultural untuk pembebasan.atau sebagai aksi kultural untuk dominasi dan hegemoni. Mereka adalah kaum miskin kota dan sudah terbiasa dengan kekerasan. PELAJARAN yang bisa ditarik Freire untuk konteks pendidikan kita paling tidak adalah komitmennya terhadap kaum marjinal. dalam pandangan Freire." Dengan demikian. Kelompok ini termasuk mereka yang kurang beruntung mendapatkan pendidikan yang memadai. tetapi bukankah negara telah diamanati UUD? Jika kita memakai perspektif Paulo Freire. bukankah tugas sekolah untuk memaksimalkan mereka yang tidak mampu? Jika ada yang tidak mampu. Jika asumsi ini benar. . "reading a word cannot be separated from reading the world and speaking a word must be related to transforming reality. sebagai medium untuk memproduksi sistem sosial yang baru atau sebagai medium untuk mereproduksi status quo. jika mereka tidak pernah bergaul dengan kelompok ini karena hanya bergaul dengan sejenisnya di sekolah. anak-anak jalanan. harus ada semacam kontekstualisasi pembelajaran di kelas. Lewat perspektif Freirean kita bisa bertanya: kepada siapa sesungguhnya pendidikan kita saat ini berpihak? Apakah negara sudah sungguh-sungguh mengamalkan salah satu pasal UUD 1945 kita yang berbunyi "anak-anak telantar dipelihara oleh negara"? Mengapa ada kesenjangan yang luar biasa tinggi dalam pendidikan kita. Bagaimana mereka bisa berempati dan bersimpati kepada penyandang cacat. bahwa sekolah hanya berfungsi sebagai alat untuk melayani kepentingan masyarakat dominan dalam rangka mempertahankan dan mereproduksi status quo? Ada dua kelompok kaum marjinal yang tereksklusi dan jarang mendapatkan perhatian serius oleh publik dalam hal pendidikan: Pertama. maka pendidikan tidak bisa dibatasi fungsinya hanya sebatas area pembelajaran di sekolah. mengapa solusinya dengan cara pengeksklusian. Pendidikan mereka dibedakan dengan kaum "normal. bukan dengan pemberdayaan? Jika asumsi itu salah. Untuk itu. seks dan mabuk-mabukan. namun di sisi yang lain ada sekolah dengan fasilitas seadanya yang dihuni kaum marjinal? Bukankah dengan membiarkan kesenjangan itu terus berlangsung sama dengan membenarkan tesisnya Samuel Bowles dan Herbert Gintis dalam Schooling in Capitalist America (1976). kunci utama agar kedua kelompok itu bisa menjadi subyek yang otonom dan bisa mengkritisi realitas eksistensialnya adalah dengan cara mengembangkan kesadaran kritisnya dan mentransformasi struktur sosial yang tidak adil. dan hanya orang kaya yang mampu menyekolahkan anaknya ke sekolah itu. Di mana peran negara dalam memberi pendidikan yang layak buat mereka? Meski negara bukan satusatunya aktor yang bertanggung jawab. Teks yang diajarkan di kelas harus dikaitkan kehidupan nyata. Secara kuantitas kelompok ini kian banyak. Anak-anak normal juga tidak mendapat pendidikan pluralitas yang memadai. Dengan kata lain. dengan fasilitas lengkap." Segregasi pendidikan ini telah berlangsung sekian lama dengan asumsi. di satu sisi ada sekolah yang luar biasa mahal. terutama di kota-kota besar. mereka tereksklusi dari sistem sosial orang-orang normal. teks dan realitas. Jadilah mereka sebagai warga kelas dua. mereka yang cacat tidak mampu bersaing dengan yang normal karena ada bagian syaraf tertentu yang tidak bisa bekerja maksimal. Kedua. penyandang cacat. bukankah itu sama saja menutup peluang mereka untuk mendapat pendidikan yang sama seperti yang diperoleh orang normal? Tidakkah ini berarti diskriminasi? Dampak lain dari segregasi pendidikan adalah para penyandang cacat menjadi terasing dari lingkungan sosial.

Akan tetapi.kan jadwal kuliah. Ini amat mengherankan. namun terbentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Pendidikan kita sudah seharusnya berpihak kepada mereka. sikap ini masih bagus. dan sebagainya. Sebelum tahun 1970-an atau pada zaman Soekarno. Artinya. pada umumnya datang pada pukul 09. Demikian juga perilaku pegawai di perguruan tinggi yang harusnya datang pukul 07. Padahal buku merupakan jendela dunia. Seorang panelis yang sebagian besar hidupnya dicurahkan di perguruan tinggi mengamati.Kaum marjinal harus diyakinkan bahwa mereka berhak dan mampu menentukan nasib sendiri. berhak mendapatkan keadilan. baik dosen maupun mahasiswa kini tidak lagi menghargai disiplin. Ada suatu anggapan bahwa setelah SMA dan masuk perguruan tinggi. dorongan bermalas-malas di kalangan sivitas akademika sangat kuat. tidak digubris. tapi merembet ke sekolah. ´Paling banyak kehadiran mahasiswa hanya 10 kali dalam satu semester.00. berhak melawan segala bentuk diskriminasi. bukan mengabdi kepentingan masyarakat dominan. Sementara itu daya serap mahasiswa terhadap mata kuliah yang disuapi dosennya hanya 20-30 persen. bangsa ini dijuluki bangsa yang berperilaku tidak menghargai proses. tidak apa-apa.00.sekolah rendah dan menengah. karena pelajaran dari bangsa Jepang dan Belanda masih menetes kepada para pemimpin bangsa saat itu. para dosennya sendiri juga suka bolos. Saya pesimistis jika kedua kelompok itu telah terakomodir secara maksimal dalam RUU Sisdiknas. Menurut penelitiannya. Sebagian besar dari mereka kemudian mengajar dan menguji. Mengapa begitu. Baik mahasiswa maupun dosen sering bolos.´ keluhnya. Situasi ini diperparah oleh perilaku sebagian besar mahasiswa yang tidak senang membaca buku. sudah saatnya kita memperhatikan sungguh-sungguh masa depan kedua kelompok ini. Bangsa ini kembali terpuruk dalam potret kecil olahraga di arena SEA Games XXIII yang berakhir Senin (5/12) di Manila. Yang paling parah. Jarang sekali mereka disinggung dalam perdebatan RUU ini. mereka semua bisa hidup bebas. Bangsa yang Merendahkan Etos Kerja Perilaku sebuah bangsa tidak tercipta dalam waktu singkat. selama 40 tahun mengajar tidak ada satu mahasiswa pun yang mengikuti kuliah tiap minggu dalam satu semester lengkap. gejala itu tumbuh subur pada saat negeri ini membangun pada masa Orde Baru. Sebanyak 99 persen dari dosennya merupakan lulusan sendiri yang mengambil S2 dan S3 di dalam negeri. tidak ada dosen yang mau mengajar . tidak suka kerja keras. Kalau kita membicara. Mereka mulai malas bekerja dan malas berdisiplin. Karena itu. Dalam gambaran besar. Gejala umum ini ternyata tidak hanya di kalangan perguruan tinggi. dalam arti mereka tahu disiplin. sejak tahun 1970-an perilaku unggul itu mulai merosot. Mengapa semua itu bisa terjadi? Lihatlah kondisi perguruan tinggi yang sudah lama mengalami ´kecelakaan´. tetapi ingin serba instan. Mau datang kuliah. sindiran atau marah. Padahal saya sudah melakukan peringatan. mau bolos.

teori.00 atau pukul 10. mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Katanya yang penting bukan hasil. filsafat. Itu kerja orang-orang miskin. radio dan sebagainya memublikasikan pembedaan itu. yang kerja fisikal hanya sedikit saja karena harkatnya rendah. Menurut pengalamannya. Makin kurang kerja manual atau sama sekali tidak kerja manual. di republik ini para mahasiswa tidak menganggapnya demikian. menghargai etika. banyak sekali peminatnya karena makin tinggi harkatnya. dari 50-80 mahasiswa yang datang tepat waktu cuma 10 orang. Ketika panelis ini mengajar pada jadwal pukul 07. Tapi kemudian tidak boleh dipakai oleh murid-murid untuk melakukan apa-apa yang menghasilkan apa-apa. Kerja intelektual atau kerja mental. itu artinya belajar atau kuliah. Tidak ada yang minta maaf karena keterlambatan itu. Oleh negeri bekas jajahannya. Makin banyak kerja manual manusia itu makin rendah harkatnya. kejujuran dan integritas. Kerja fisik itu bukan hanya dianggap rendah. mayoritas penduduknya sehari-hari mengikuti prinsip-prinsip dasar kehidupan.00. Pernah ada pelajaran hasta karya. Di Amerika Serikat. Para mahasiswa di negara-negara maju menyebut belajar itu bekerja. dari yang fisikal. sedangkan kerja orang-orang yang tidak begitu harus menjauhkan diri dari yang manual. hormat pada hak orang/warga lain. hormat pada aturan dan hukum masyarakat.kerja. Namun. Situasi ini sama dengan zaman Yunani dan Romawi dulu. Di zaman Yunani kuno tersebut semua kerja yang bersifat fisikal manual dianggap tidak bermartabat. Celakanya.pada pukul 07. cinta pada pekerjaan. Padahal semuanya ada di diktat. masuklah mereka satu demi satu. Dalam kurikulum. setelah buka pintu langsung duduk. Dulu yang mengadakan kurikulum jenis ini Pemerintah Kolonial Belanda. televisi. Tidak ada catatan dari dia sehingga waktu ujian banyak yang tidak bisa jawab. berusaha keras menabung dan investasi. pada umumnya mereka tidak mau belajar keras serta tidak senang membaca buku. kemudian diganti dengan nama resmi keterampilan atau kerajinan seni rupa. Masuknya juga unik. Lebih jauh lagi. kuliah ini hak kita. Pernah dalam diskusi IKIP seluruh Indonesia. Pendidikan antikerja Sebuah analisis terhadap perilaku masyarakat di negara maju menyatakan. misalnya. bidang keterampilan kerajinan dipisahkan dari seni rupa. Pada zaman Ode Baru. Malah yang ada pun terus dianjurkan agar dihapus. Maunya mereka mengajar di atas pukul 09. bukan kerja fisikal. setelah satu jam. Di kalangan masyarakat ada hubungan antara harkat manusia dan kerja manual. tapi juga merupakan kerja orang-orang jelata.00. saya lihat diktat itu bersih sekali. anak-anak lebih suka sekolah. tapi tidak suka kerja. Mereka menganggap. Proses rasa bebas itu artinya kerja sembarangan dalam pelajaran seni rupa kerajinan dan sebagainya. . jadi bebas mau kuliah atau tidak. Namun. Benar-benar mengherankan. Misalnya. I must to work. makin tinggi harkatnya. mulai tahun 1970-an. tapi proses. seraya tidak peduli hasilnya apa. program manual work hampir tidak pernah ada. misalnya belajar ilmu.00. bertanggung jawab. Yang mengatakan bahwa pelajaran seni dan hasta karya di sekolah-sekolah itu harus bebas berekspresi. ´Pernah sekali waktu saya periksa diktat yang sudah saya bagikan. dalam kurikulum. Pernah seorang menteri pendidikan menyatakan.´ tuturnya. kalau mahasiswa itu berkata. bekerja keras hingga tepat waktu. terkesan anti. semua media koran. Jadi sekolah itu hanya untuk kerja mental.

ada yang bekerja sebagai tukang kebun. Mereka merasa tertekan sebab kalau membuat design berorientasi pasar itu dianggap rendah. pada last summer ia akan bekerja sebagai kontraktor membangun jembatan. Yang bagus dan dihargai kalau design dibuat klasik atau bersifat scientific. ya korupsi itu. Malah mereka bisa anteng bekerja di perpustakaan seperti menyusun buku yang secara fisik tidak mau dikerjakan mahasiswa Indonesia. Hidup senang artinya punya banyak uang. tanpa kerja... ´Di AS. Dalam hati saya. Manusia Indonesia pada umumnya bermimpi hidup senang. ya orang-orang rendah. Nilai paling tinggi itu hidup senang. Sejumlah ahli design pernah mengeluhkan tentang perilaku di kampusnya yang tidak market friendly. . yang umumnya tidak disukai oleh mahasiswa Indonesia.Bernilai rendah Ironisnya. kerja itu beban. Artinya. Lalu siapa yang menghasil. dunia pendidikan di republik ini juga ´memusuhi´ program yang berorientasi pasar. Situasi ini berbeda dengan di luar negeri. misalnya.´ panelis ini mengungkapkan pengalamannya. kok mahasiswa Amerika tingkatan doktor mau kerjaan seperti itu. Yang tidak bekerja hanya mahasiswa Indonesia yang kebetulan dapat beasiswa dari pemerintah. Bangsa ini menganggap kerja itu mempunyai nilai rendah.. hidup enak. Di negara maju itu hampir semua mahasiswanya bekerja.kan makanan dan sebagainya? Seperti pada zaman Yunani kuno. Bagaimana menciptakan harta banyak tanpa kerja. kerja itu suatu keterpaksaan. rakyat jelata itu. para mahasiswa S3 biasa mengobrol. Mereka tidak tahu bahwa kita menganggapnya rendah. kerja itu suatu siksaan. Merekalah yang disuruh kerja. menghasilkan padi. Begitu juga mahasiswa Korea ketika libur.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful