P. 1
GanKL HatiBudhaTanganBerbisa Dewi KZ Tamat

GanKL HatiBudhaTanganBerbisa Dewi KZ Tamat

|Views: 539|Likes:
Dipublikasikan oleh radiaku

More info:

Published by: radiaku on Sep 07, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. Pelajar Muda Berlengan Buntung
  • 1.2. Perempuan Genit dari Thian-Thay
  • 1.3. Tuduhan Yang Sulit Dibantah
  • 2.4. Jangan Sentuh Dia ... !!!
  • 2.5. Balasan Pengorbanan Darah
  • 2.6. Pertemuan Tak Terduga
  • 3.7. Jit-sing-po Tersapu Bersih
  • 3.8. Pembunuh Berkedok Berjubah Sutera
  • 3.9. Peresmian Perkumpulan Wi-to-hwe
  • 4.10. Tamu Agung Wi-to-Hwe
  • 4.11. Kehilangan Anting Kenangan
  • 4.12. Kuil Mesum Siong-cu-am
  • 5.13. Perebutan Sek-hud
  • 5.14. Sam-Cay-Ciat ... Penyelamat
  • 5.15. Kakek Aneh Di Dasar Jurang
  • 6.16. Dari Celaka Dapat Rejeki Nomplok
  • 6.17. Tabib Keliling Thian-bak-sin-jiu
  • 6.18. Puteri dari Istana Ngo-lui-kiong
  • 7.19. Racun Paling Dikenal, Jarang Dan ... Sama
  • 7.20. Bu-lim-siang-koay
  • 7.21. Racun Bu-ing-cui-sim-jiu
  • 8.22. Dalang Penyerangan Wi-to-hwe
  • 8.23. Jiwa Kesatria Tak Gentar Elmaut
  • 8.24. Tuduhan Pembunuh dan Pemerkosa
  • 9.25. Ayah Meninggal .. Dendam Makin Membara
  • 9.26. Kau ... Tidak Takut Racun ...??
  • 9.27. Rahasia Rumah Setan di Kay-hong
  • 10.28. Wi-to-hwe Terima Syarat Barter
  • 10.29. Salah Duga Terhadap Biau-jiu Siansing
  • 10.30. Cinta-Dendam Tak Bisa Berdampingan
  • 11.31. Hmm, ... Tidak Tahu Malu
  • 11.32. Rahasia Wi-to-hwecu
  • 11.33. Siapa Pembunuh Te-gak Suseng?
  • 12.34. Te-gak Suseng Hidup Kembali ...??
  • 12.35. Orang Desa Penagih Darah
  • 12.36. Jejak Ibunda, Mulai Tercium
  • 13.37. Pengkhianatan Kacung Keluarga
  • 13.38. Kedok dan kemunafikan Sang Ayah ...??!!
  • 13.39. Korban Ilmu Hian-giok-siu-hun
  • 14.40. Lelaki Penderita Tanpa Daksa
  • 14.41. Moyang Perguruan Racun
  • 14.42. Murid Ban-tok-ci-bun
  • 15.43. Misteri Perkumpulan Ngo-hong-kau
  • 15.44. Duta Istimewa Ngo-hong-kau
  • 15.45. Lorong Rahasia Ngo-hong-kau
  • 16.46. Siapa Murid Angkatan-13 Ban-tok-bun ??
  • 16.47. Dua Generasi Terkubur ... ??!!
  • 16.48. Silat Tinggi ... Cetek Pengalaman
  • 17.49. Pembantaian Di Lembah Ciang-liong-kok
  • 17.50. Bukan ... Murid Angkatan 14
  • 17.51. Malaikat Perempuan Penunggu Gunung
  • 18.52. Keluar Dari Kurungan Jala Sutera
  • 18.53. Rahasia Ngo-hong Kaucu
  • 18.54. Penderitaan Puteri Musuh Besar
  • 19.55. Keluhuran Budi Thian-thay-mo-ki
  • 19.56. Misteri Danau Setan
  • 19.57. Beberapa Misteri Mulai Terkuak
  • 20.58. Pembasmi Jit-sing-po
  • 20.59. Dendam Dibalas, Budi Pun Harus
  • 20.60. Pemberian Thian-thay-mo-ki
  • 21.61. Mati ... Bagi Pengikut Ngo-Hong-Kau
  • 21.62. Ibumu ... Tok-keng ... Paderi Siau-lim
  • 21.63. Pertanggungan Jawab Paderi Siau-lim-si
  • 22.64. Hampir ... Mengotori Kuil Suci
  • 22.65. Akal Bulus Ngo-hong Kaucu
  • 22.66. Tabir Misterius Terbuka Lebar

Tiraikasih Website http://kangzusi.

com/

Hati Budha Tangan Berbisa
Oleh: Gan KL
Di upload oleh : Andu di Indozone Ebook oleh Dewi KZ

1.1. Pelajar Muda Berlengan Buntung Sebuah paviliun tunggal berdiri di tengah sebuah taman dengan pepohonan yang rimbun. Paviliun itu dipajang mewah dengan macam-macam perabot yang serba antik. Seorang laki-laki setengah baya bermuka merah duduk menyanding sebuah meja perjamuan. Ia duduk seorang diri, mulutnya menyungging senyuman sinis yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ membayangkan kejudasan wataknya. Matanya selalu memandang keluar ke arah jalanan kecil di tengah taman, agaknya dia sedang menunggu kedatangan seseorang. Langkah kaki yang ringan cepat sekali mendatang dari kejauhan, tampak seorang laki-laki setengah umur berpakaian pelajar muncul dijalanan berliku di tengah taman sana, dengan langkah dan gerak gerik yang sangat hormat dia memasuki paviliun terus memberi hormat kepada laki-laki muka merah, sapanya: "Entah ada keperluan atau petunjuk apa Pocu (pemilik) memanggil hamba?" Senyuman sinis yang terbayang di ujung mulut laki-laki muka merah sudah sirna, pelan-pelan dia gerakkan tangan kanan serta berkata dengan kalem: "Suya, silakan duduk." "Hamba tidak berani." "Duduklah, hari ini ada beberapa patah kata yang ingin kusampaikan kepadamu, sebelum kita bicara, marilah kau temani aku makan minum sepuasnya." Laki-laki setengah umur yang dipanggil Suya (guru) itu mengambil tempat duduk di sebelah samping, wajahnya menampilkan perasaan was-was, kuatir dan jeri, sorot matanya guram dan menunduk tak berani adu pandang dengan sang Pocu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Hayolah, habiskan secangkir ini, jangan sungkan dan rikuh, sengaja kusuruh koki masak beberapa hidangan istimewa ini, tanggung lezat dan nikmat, cobalah, boleh kau buktikan sendiri." Laki-laki setengah umur berdiri sambil angkat cangkir araknya terus ditenggak habis, sekilas sorot matanya bentrok dengan orang, terus menunduk lagi dengan tersipu-sipu, rasa tidak tenteram batinnya lebih kentara pada air mukanya. Sebaliknya laki-laki muka merah bersenyum dengan riang gembira, setelah menghabiskan beberapa cangkir sambil menik¬mati hidangan, tak tertahan laki-laki setengah umur buka suara. "Pocu ada pesan apa, silakan katakan saja." "Suya, sudah lima tahun kau berbakti dalam perkampungan ini, bukan?" tanya sang Pocu. Laki-laki setengah umur mengiakan. "Kau bukan orang she Sim?" Pocu menegasi. Laki-laki setengah umur itu tersentak kaget sambil angkat kepalanya, sorot matanya membayangkan rasa takut dan ngeri, badannya gemetar, ternyata mukanya yang pucat itu kelihatan ada codet hitam bekas luka sebesar telapak tangan, kalau tanpa codet yang menyolok ini, wajah laki-laki pelajar setengah umur ini boleh terhitung laki-laki cakap. Laki-laki muka merah tetap tersenyum lebar katanya lebih lanjut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Siangkoan Hong, terus terang aku amat kagum akan tekad dan keteguhan semangatmu, kau sengaja merusak muka, ganti she dan mengubah nama, selama lima tahun menyelundup ke dalam perkampungan kita ini, baru kemarin malam waktu kau mengadakan pertemuan rahasia dengan Samhujin di belakang taman itu baru aku tahu seluk be!uk persoalannya, ai .........” Dari rasa jeri dan takut kini terunjuk rasa gusar dan dendam pada air muka dan sorot mata laki-laki setengah umur, mulutnya sudah terbuka hendak bicara, tapi urung. Sikap sang Pocu rada berubah, katanya dengan nada menyesal. "Siangkoan Hong, aku amat menyesal dan merasa bersalah terhadapmu, namun semua itu sudah menjadi kenyataan, tak mungkin diperbaiki lagi ..........” Menyalang sorot mata laki-laki setengah umur itu, katanya dengan dendam, "Apakah Pocu tidak tahu bahwa Cu Yan-hoa sudah menikah dan sedang hamil .......?” "Kutahu setelah peristiwa itu terjadi, menyesalpun sudah terlambat, kalian suami-istri cinta mencintai, kini dengan ikhlas kusatukan kembali kalian supaya tak berpisah untuk selamanya, anggaplah sebagai penebus kesalahanku, kelak kalau kau mau menuntut balas, aku akan menunggu kedatanganmu. Sekarang kau boleh pergi saja."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Berubah berulang kali air muka laki-laki setengah umur, katanya sambil menahan gejolak hatinya. "Siangkoan Hong berterima kasih akan budi kebaikan Pocu, numpang tanya, dia ..........” "Dia sudah menunggu kau di luar kampung, silakan." Laki-laki setengah umur angkat tangan memberi hormat terus mengundurkan diri. Lekas sekali dia sudah berada di luar perkampungan, katanya menghela napas sambil mendongak. "Lima tahun hidup tertekan, syukurlah aku bisa bebas dan merdeka hari ini, Cuma .........” "Pat-te (adik kedelapan)," seru seorang tiba-tiba. Dengan kaget laki-laki setengah umur berpaling, dilihatnya seorang laki-laki berpakaian Busu bertubuh tegap kereng berdiri dibelakangnya, air mukanya menampilkan rasa kasihan, simpatik dan seperti menahan sesuatu rahasia. "Toako, kau .........” "Marilah kita bicara sambil berjalan." Mereka lantas jalan berendeng menuju ke jalan besar. "Toako, Siaute tidak sempat berpamit, harap di maafkan."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Pat-te, selanjutnya pergilah ketempat jauh dan carilah satu tempat yang aman untuk menyembunyikan diri." "Toako, bahwa aku masih hidup bersama isteri tercinta sampai sekarang adalah demi keturunan darah daging …….” "Kelak boleh kau berdaya, sekarang yang penting kau harus lekas lari dan menyelamatkan diri.'' ”Melarikan diri?” ”Ketahuilah, aku mendapat tugas rahasia dari Pocu untuk antar kau, tentunya kau sudah tahu apa tugas yang harus kulaksanakan?" Laki-laki setengah umur menghentikan langkahnya, suaranya gemetar, “Jadi Toako diperintahkan untuk membunuh Siaute? Kenapa Toako tidak turun tangan?" "Pat-te, kalau aku mau turun tangan, buat apa aku bicara dengan kau.” "Lalu cara bagaimana Toako harus bertanggung jawab kepada Pocu?" Laki-laki tegap kereng berkata dengan suara lantang dan tegas,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Sudah tentu aku juga akan minggat ketempat jauh, aku ingin bebas dari belenggu kejahatan ini, jangan kau menguatirkan diriku, aku punya perhitungan sendiri ........” Seperti teringat sesuatu, laki-laki setengah umur bertanya dengan suara bergetar, "Toako, lalu dia ..... ... istriku." Berkerut-kerut kulit muka laki-laki tegap berpakaian Busu (kaum persilatan) itu, agak lama baru tercetus jawabannya, "Pat-te, biarlah aku terus terang kepadamu, kau harus tahan dan sabar, dia sudah meninggal, hidangan yang kau makan tadi adalah daging tubuhnya .........” Laki-laki setengah umur menjerit histeris, darah menyemprot dari mulutnya disusul muntah-muntah dengan kedua tangan menjambak rambut dan memukul kepala, rambut kepalanya sampai terbeset, darah membasahi muka dan tubuhnya, badannya limbung, mata mendelik, mulut menyeringai, siapapun akan merinding dan seram melihat mukanya. Akhirnya dia berteriak dengan suara serak, "Bagus, Bagus. Aku betul-betul bersatu kembali dengan dia, aku ....aku makan daging tubuhnya. Hahaha ........” Ditengah gelak tawanya yang menggila, bayangannya berkelebat pergi, akhirnya menjadi setitik hitam dan lenyap dari pandangan mata ..........

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ o0o Lima ekor kuda tengah mencongklang di jalan raya yang menuju ke kota Kayhong, yang terdepan adalah seorang pemuda berusia likuran berpakaian pelajar, wajahnya cakap bersih, sayang di tengah alisnya seolah-olah menampilkan hawa hitam yang menyebalkan, lebih menyolok lagi karena pelajar muda ini berlengan buntung. Orang kedua adalah laki-laki tua berpakaian hitam dengan muka hijau, alis tebal mata besar, sikapnya gagah bersemangat. Tiga penunggang yang lain tampaknya adalah kaum hamba. Terdengar laki-laki berjubah hitam itu berkata, "Ji-kongcu, sebelum magrib kita sudah akan tiba di Kayhong, terpaksa lamaran baru bisa diajukan besok pagi .........” Pelajar buntung tak menampilkan perasaan apa-apa, katanya dingin, "Perintah orang tua tak bisa dibangkang, yang benar aku tiada hasrat mengajukan lamaran ini." Berubah air muka laki-laki baju hitam, katanya serius, “Ji-kongcu, keluarga Ciang di Kayhong kekayaannya merajai dunia, apalagi Ciang Wi-bin hanya punya puteri tunggal .........” "Pui-congkoan." tukas pelajar buntung, "persetan dengan kekayaan keluarga Ciang, apa sangkut pautnya dengan aku, lihatlah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ kedaanku yang serba runyam ini, apa tidak memalukan kalau aku mengajukan lamaran?" "Kukira tidak menjadi soal.......” "Dari segi apa kau berani berkata demikian?" "Ciang Wi-bin adalah saudara angkat ayahmu, sepuluh tahun yang lalu pernah Ciang Wi-bin berkunjung, beliau memuji bakat dan kecakapan Kongcu, maka soal jodoh ini sudah terikat sejak waktu itu, hari ini kita hanya mengajukan lamaran secara resmi menurut adat." "Tapi keadaan sepuluh tahun yang lalu tidak begini bukan?" "Ah, tidak jadi soal, cuma .........” Pada saat itu, tiga ekor kuda merah mencongklang datang dari belakang, yang di depan adalah seorang gadis belia berusia 17-18 berbaju serba merah, dua orang dibelakangnya jelas adalah pelayannya. Serta merta pelajar buntung tertarik melihat kedatangan ketiga orang ini, segera dia hentikan tunggangannya, sorot matanya menatap ke muka gadis baju merah, tertampak gadis ini beralis lentik matanya jernih mulut mungil hidung mancung, kulitnya putih halus, kecantikannya sungguh mempesonakan. Cepat sekali ketiga penunggang kuda ini sudah mendekat, muka gadis baju merah tampak bersungut marah, sekilas dia melirik ke

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ arah pelajar buntung, alisnya berkerut dan terus melarikan kudanya lewat samping orang, salah seorang pelayan di belakangnya berludah sambil mencemooh, "Lihat orang kok melotot seperti maling mengincar barang, biji matanya kudu dikorek keluar." Cepat sekali kuda mereka sudah membedal kesana. Pelajar buntung melenggong di atas kudanya, akhirnya laki-laki baju hitam buka suara. "Ji-kongcu marilah kita lanjutkan perjalanan." "Sudahlah, soal jodohku ini batalkan saja." "Apa? Ji-kongcu, kau ...... kau tidak mau melamar lagi?" Pelajar buntung itu mendengus sebagai jawaban. Bergegas laki-laki baju hitam melompat turun, katanya dengan gugup, "Soal ini jangan dianggap remeh." Dingin kaku suara pelajar buntung, "Pui-congkoan, pulanglah kau membawa ketiga orang ini."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Ji-kongcu, bagaimana aku harus memberi laporan kepada Cukong (majikan) nanti?" "Katakan saja atas kehendakku." "Wah ........." jidat laki-laki baju hitam berkeringat, mulut terbuka mata membelalak, saking gugupnya dia tidak bisa berbicara lagi. Bahwasanya pelajar buntung ini memang tidak setuju akan perjodohannya dengan puteri keluarga Ciang dari Kayhong, soalnya perintah orang tua tak berani ditolak, terpaksa dia menurut saja. Tak nyana di tengah jalan tiba-tiba dia bersua dengan gadis baju merah tadi, semakin tebal keyakinannya untuk membatalkan perjodohan ini. Timbul suatu keinginan dalam benaknya, dia hanya ingin menikah dengan perempuan yang dicintainya. Sejak kecil dia memang sudah berwatak aneh, nyentrik. Calon isterinya belum pernah dilihatnya, cantik atau jelek belum diketahui, yang terang dia kesemsem pada gadis baju merah yang lewat barusan. Dia takkan membuang kesempatan baik ini untuk berkenalan, cepat dia berkata sambil mengangkat tangan. "Pui-congkoan, beritahu kepada ayah, sekarang aku mau pergi.....” Tersipu-sipu laki-laki baju hitam itu memburu maju menarik kendali kuda, serunya gelisah, "Ji-kongcu, jangan kau berbuat demikian."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Melotot mata pelajar buntung, bentaknya, "Pui-congkoan, tentunya kau sudah tahu watakku?" Sorot matanya yang tajam membuat laki-laki baju hitam menyurut jeri sambil lepaskan tangannya, pelajar buntung lantas keprak kudanya. Laki-laki baju hitam membanting kaki, cepat dia cemplak kudanya dan berkata pada ketiga pengiringnya, "Mari kita ikuti dia." Sementara itu, gadis baju merah tadi sudah melarikan kudanya cukup jauh, namun si pelajar buntung membedalkan kudanya secepat terbang, maka tidak lama dia dapat menyusulnya, saat lain pelajar buntung sudah mendahului beberapa tombak di sebelah depan terus putar kudanya mencegat di tengah jalan. Terpaksa ketiga kuda merah berhenti, dua pelayan baju hijau lantas keprak kudanya ke depan, salah seorang membentak gusar, "Apa maksud tuan menghadang jalan?" Tanpa gubris teguran pelayan ini, pelajar buntung memberi hormat di atas kudanya kepada gadis baju merah, katanya, "Nona ini bernama siapa?" Kaku dingin muka si gadis merah, mulutnya terkancing, agaknya dia segan menjawab.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Pelayan yang bicara tadi menjadi naik pitam, bentaknya bertolak pinggang, "Bedebah dari mana kau, berani kurangajar terhadap Siocia kami!" Sekilas pelajar buntung melirik dingin, jengeknya, "Jangan sembarang memaki orang." "Memangnya kenapa kalau kumaki kau," balas si pelayan. "Kau tidak ingin mampus bukan" "Kaulah yang cari mampus," sambil melolos pedang kedua pelayan ini segera hendak turun tangan. Namun si gadis baju merah telah menghentikan mereka, katanya dengan mengerling kepada pelajar buntung, "Apa maksud kelakuan tuan ini?" "Cayhe......." jawab si pelajar buntung tergagap. "Kenapa?" "Cayhe hanya ingin berkenalan, ingin tahu nama harum nona." Jawab gadis baju merah dingin,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Tentunya ada sebab musababnya?" Merah muka pelajar buntung, lekas ia sudah tenang pula, ujarnya, "Cayhe hanya ingin berkenalan." "Berkenalan? Hm, agaknya tuan salah melihat orang.“ "Salah melihat apa maksudmu?" "Nonamu ini bukan bunga jalanan." "Tidak, nona salah paham, terus terang Cayhe..." "Minggir," di tengah bentakan nyaring, seutas cambuk lemas sepanjang delapan kaki tahu-tahu melingkar-lingkar di udara terus menyambar ke bawah, angin menderu keras membawa tenaga dahsyat. Berubah air muka si pelajar buntung, tangan diulur menangkap ke arah bayangan cambuk. Cambuk adalah senjata lemas, kalau tidak punya latihan matang, kaum persilatan jaraag yang mau menggunakan, dengan bertangan kosong berani menangkap cambuk, agaknya pelajar buntung ini juga mempunyai kepandaian silat yang cukup tangguh. Tapi bayangan cambuk berkelebat laksana kilat, tahu-tahu berhenti dan meluncur ke samping memecut ke pantat kuda. Tangan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ pelajar ini buntung sebelah, lebih celaka lagi adalah pecutan cambuk ini amat keras. "Tar" karena kesakitan kuda itu meringkik dan berjingkrak terus membedal kencang laksana kuda liar, karena usahanya tak berhasil menjinakkan tunggangannya, terpaksa si pelajar buntung membiarkan saja kudanya lari sepuasnya. Entah berapa jauh kudanya berlari setelah rasa sakit dan kagetnya hilang kuda itu berhenti sendiri, lekas pelajar buntung lompat turun dan periksa luka pantatnya yang cukup parah, darah masih mengalir keluar dari luka sepanjang satu kaki. Dia tertawa getir sambil geleng-geleng kepala, ia keluarkan obat dan dibubuhkan pada luka kudanya itu, tanpa istirahat kuda ini terang tak dapat melanjutkan perjalanan. Berpikir sejenak, lalu dia simpan barang-barang penting yang ada dipunggung kuda ke dalam kantong bajunya, dia tepuk pantat kuda dan membiarkannya pergi. Kejadian ini memang salahnya sendiri, namun hatinya amat penasaran. Sekitarnya merupakan tanah belukar, sukar menentukan ke mana harus dituju, ingin mengejar gadis baju merah tadi, namun tak tahu ke jurusan mana dia harus menyusulnya, sesaat dia berdiri bingung. Tanpa tujuan akhirnya dia berlari-lari kecil, tak lama kemudian, jalan raya tampak di kejauhan sana, hatinya girang langkahpun dipercepat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Tiba-tiba ada suara jeritan orang berkumandang di kejauhan sana, pelajar buntung itu kaget, segera ia menghentikan langkahnya, lenyap jeritan seram tadi, suasana kembali sunyi senyap, setelah menentukan arahnya, segera dia melesat ke hutan sebelah kiri. Begitu dia masuk ke dalam hutan, sebuah pemandangan seram seketika membuatnya melenggong. Ternyata kedua pelayan si gadis baju merah yang lewat belum lama ini bersama kuda tunggangannya menggeletak binasa dalam hutan, dari luka-luka parah yang menyebabkan kematiannya kelihatan seperti dipukul oleh tenaga yang dahsyat. Di mana gadis baju merah? Pertanyaan ini menyentak sanubarinya, selamanya dia belum kenal dan baru pertama kali ini bertemu. malah tadi dia kena di pecut oleh cambuk orang, namun kini dia menguatirkan keselamatannya, sungguh aneh dan ganjil sekali perasaannya ini. Gelak tawa panjang yang melengking tiba-tiba bergema di dalam hutan sana. Tanpa pikir secepat kilat ia memburu kesana. Tampak empat orang berpakaian sutera putih dengan wajah yang bengis tengah mengepung gadis baju merah itu. Pucat pias muka si gadis baju merah, rambutpun awut-awutan darah kelihatan meleleh dari ujung mulutnya, agaknya dia sudah mengalami pertempuran sengit.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Terdengar salah seorang baju putih berkata menyeringai, "Budak hina, lekaslah mengaku saja!" "Apa yang harus kukatakan?" bentak si gadis baju merah itu beringas. "Ha, jangan pura-pura pikun, apalagi kalau bukan soal Sek-hud (batu Budha) itulah." "Aku tak tahu." "Sudah jangan banyak omong lagi," tukas seorang baju putih jang lain, "giring saja ke istana." Orang pertama tadi mengiakan, katanya, "Budak, marilah kau ikut kami pulang." Gadis baju merah mengertak gigi, jengeknya, "Jangan harap." "Memangnya kau berani bertingkah di sini, di tengah perkataannya, tahu-tahu tangannya mencengkeram ke arah si gadis baju merah. Gerakan tangan ini benar-benar hebat dan mengejutkan. Namun sigap sekali si gadis baju merah menyendal cambuknya, bagai ular sakti cambuk lemasnya itu berhasil membelit pergelangan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ tangan orang, tahu-tahu ujung cambuknya melejit ditengah jalan mematuk ke Jit-kiam-hiat, sebuah jalan darah yang mematikan. Orang baju putih menegakkan telapak tangan kiri menabas miring ujung cambuk, sementara gerakan mencengkeram tangan kanannya tetap tidak berubah. Ketika si gadis baju merah menggetarkan tangannya, cambuk lemasnya mulur lalu mengkeret pula, dengan lurus menjojoh pula ke Khi-hay-hiat lawan, berbareng tubuhnya menyurut mundur, dengan gemulai ia berhasil meluputkan diri dari cengkeraman tangan maut lawan. Begitu cengkeramannya luput, sementara ujung cambuk lawan sudah mengancam Khi-hay-hiatnya. Namun dengan gerakan yang sangat cepat tahu-tahu orang itu berhasil berkisar ke samping, di saat badannya berputar itu, sebelah tangannya memukul balik. Gelombang pukulan bagai gugur gunung dahsyatnya seketika mendampar tiba, gadis baju merah tergentak mundur sempoyongan, mukanya tambah pucat lagi. Seorang baju putih yang lain menggunakan kesempatan ini memapak gadis baju merah yang tergentak mundur itu dan kedua tangannya segera mencengkeram. "Berhenti!" tiba-tiba seseorang menggertak. Keempat orang baju putih tertegun, tertampak seorang pelajar buntung sebelah tangannya berwajah cakap tahu-tahu melayang tiba.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Gadis baju merah berpaling, pandangan mereka bentrok. Ia mengertak gigi dengan gemas, sebaliknya pelajar buntung mengangguk sambil tersenyum. Mendelik buas mata keempat orang baju putih, mereka menatap tajam kepada pelajar buntung ini, seorang diantaranya melompat maju, katanya dengan menyeringai, "Anak muda, kau hendak mengantar jiwamu?" Semakin tebal hawa gelap ditengah kedua alis pelajar buntung, katanya dingin, "Kalian ini apakah empat Sucia (rasul) dari Ngo-lui-kiong?" "Betul, agaknya kau punya pengalaman juga, sekali kau melibatkan diri dalam pertikaian ini, jangan harap kau bisa pergi dengan selamat." "Apa betul" si pelajar buntung menegas. "Kau kira aku membadut... ." belum selesai berkata, secepat kilat tahu-tahu sebelah tangannya bergerak mencengkeram. Pelajar buntung tertawa dingin, tidak berkelit tidak menyingkir, tidak melawan, tidak menangkis pula, orang berbaju putih segera tambah tenaga cengkeramannya, dengan telak dia mencengkeram ketiak kiri lawan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Huuuaaa'" jerit orang baju putih mendadak sambil tarhuyung mundur beberapa langkah dan roboh terjengkang dan binasa. Tiada orang tahu cara bagaimana orang berbaju putih itu meninggal, sedangkan pelajar buntung itu tidak pernah bergerak atau menyerang. Terunjuk perasaan kaget dan ngeri pada air muka si gadis baju merah. Tiga orang berbaju putih yang lain serempak merubung maju, tampang mereka yang bengis kelihatan amat buas seperti serigala kelaparan. Tenang dan wajar pelajar buntung berkata, "Jika kalian bertiga tidak ingin mampus, lekaslah menggelinding pergi dari sini." Seorang yang berusia paling tua diantara ketiga orang baju putih membentak dengan beringas, "Bocah keparat, cara keji apa yang kau gunakan barusan?" "Kau punya mata dan bisa saksikan sendiri." "Murid siapa kau?" "Kalian belum setimpal untuk menanyakan asal usulku." Seorang berbaju putih menggeram, tangan terayun terus memukul, si pelajar buntung sedikit miringkan tubuh, pukulan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ dahsyat itu dengan telak mengenai sebelah lengannya yang buntung. "Blang", pelajar buntung menggeliat saja. "Huuuaaaaaa" jeritan maut kembali berkumandang, tahu-tahu si baju putih yang menyerang itu terpental jatuh telentang dan tak bernyawa lagi. Sungguh luar biasa, tanpa turun tangan namun jiwa orang dengan mudah direnggutnya. Si baju putih yang berusia lebih tua tiba-tiba, menjerit dengan ketakutan, "Kau .... kau ini Te-gak Suseng (si pelajar dari neraka)?" "Betul," jawab si pelajar buntung. Tanpa sadar orang berbaju putih yang lain menyurut mundur, sejenak mereka saling pandang, tanpa bicara lagi segera ia angkat mayat temannya terus berlari pergi bagai terbang.

1.2. Perempuan Genit dari Thian-Thay Pucat dan membesi wajah si gadis baju merah, katanya tak acuh, "Ternyata tuan ini adalah Te-gak Suseng yang terkenal itu ......" "Tidak berani", sahut pelajar buntung.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Apa kehendak tuan sekarang?" tanya si gadis. "Terus terang, dengan setulus hati kuingin berkenalan." "Laki-perempuan dibatasi dengan adat, berkenalan apa, kau tidak keliru omong?" "Kaum persilatan macam kita kenapa harus pikirkan adat dan aturan segala?" "Te-gak Suseng, tak perlu cerewet lagi, tujuanmu adalah Sek-hud (batu Budha) bukan?” "Sek-hud? Baru sekarang kudengar nama ini, apa persoalannya akupun tidak tahu." Si gadis baju merah tertawa dingin, katanya, "Apa yang terkandung dalam pikiranmu, kau sendiri yang tahu, tapi biar kukatakan kepadamu dengan cara apapun akan kau gunakan, jangan harap kau bisa memperolehnya.” Te-gak Suseng jadi bingung, katanya, "Nona, kuulangi sekali lagi, sekali-kali tiada pikiranku seperti dugaanmu." "Kalau begitu boleh kau pergi." "Siapa nama nona?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kau tidak perlu tahu." "Kenapa nona begini kukuh?" "Aku tidak suka berteman dengan orang sebangsa serigala." Berubah roman muka Te-gak Suseng, terunjuk sinar kejam pada sorot matanya, namun hanya sekilas saja. "Nona pandang aku serendah serigala?" "Dari caramu membunuhi orang, manusia serigala belum cukup untuk melukiskan dirimu." Te-gak Suseng naik pitam, katanya dingin, "Kalau Cayhe tidak bunuh mereka, nona sudah menjadi tawanan orang-orang Ngo-lui-kiong tadi." Tertegun sebentar, lalu gadis baju merah berkata, "O, jadi tuan telah menolong aku?” "Secara kebetulan saja kupergoki kejadian ini, tiada maksudku untuk pamer di sini." "Bagaimana kalau kuterima kebaikan pertolonganmu ini?" "Kukira tidak perlu."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Lalu apa tujuan dan maksud tuan yang sebenarnya?" "Cayhe hanya ingin berkenalan saja.” "Apa tujuan ingin berkenalan dengan aku?" Walau sejak kecil Te-gak Suseng sudah terlalu sesumbar dan suka membawa adatnya sendiri, namun untuk menyatakan rasa sukanya dalam sekali bertemu ini, ia merasa malu dan tak kuasa diucapkan, dia tergagap tak bisa menjawab. Kata gadis baju merah dengan angkuh, "Tuan tak mau menjelaskan, aku ingin pamit, kebaikkanmu akan selalu kuingat," lalu dia putar badan tinggal pergi. Sebetulnya dia ingin menghadang dan menahannya, namun pikirannya berubah, dengan mendelong dia pandang bayangan orang lenyap di kejauhan sana. Dia merasa geli sendiri, bukankah tujuan perjalanannya kali ini hendak meminang putri keluarga Ciang di Kayhong, perintah orang tua tidak diindahkan, malah cari penyakit disini. Watak manusia terkadang memang aneh, yang mudah diperoleh tak diacuhkan, yang sukar didapat justeru diburu. Dengan terlonggong tercetus gumam dari mulut Te-gak Suseng, "Pada suatu hari aku pasti bisa memilikimu."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiba-tiba sebuah suara nyaring centil kumandang, "Tak nyana Te-gak Suseng sedang kasmaran disini." "Siapa?" bentak Te-gak Suseng. "Thian-thay-mo-ki menyampaikan salam hormat." Di tengah kumandang suara yang merdu,tampak seorang gadis jelita berusia dua puluhan yang bersolek muncul disebelah sana. Wajahnya berseri tawa dan mekar, gayanya genit mempesona, setiap jengkal tubuhnya mengandung daya pikat yang menggetarkan sukma laki-laki. Bergetar hati Te-gak Suseng, katanya, "Kau ini Thian-thay-mo-ki? (Perempuan genit dari Thian-thay)." Thian-thay-mo-ki menghampiri dengan gaya lenggang lenggok, buah dadanya yang membukit bergetar turun naik, setombak jauhnya dia berhenti, suaranya nan merdu bagai kicau burung berkata, "Masakah diriku ini bisa dipalsukan?" Berdetak jantung Te-gak Suseng, namun sikapnya tetap dingin, "Ada petunjuk apa?"

....” "Siapa saudaramu?" "Aduh galaknya..Tiraikasih Website http://kangzusi. "Cinta sepihak membawa penjesalan..... Kau jatuh hati pada nona cantik itu atau karena Sek-hud?"... kepandaian silatnya yang menjadikan dirinya ..” "Sudah tentu ada urusan lain.. Tergerak hati Te-gak Suseng.... kukira urungkan saja niatmu itu.. usiaku lebih tua.....com/ Thian-thay-mo-ki terkial-kial dengan genit. Apakah Sek-hud benda pusaka dunia persilatan sehingga di perebutkan? Baru hari ini dia berhadapan dengan Thianthay-mo-ki. ujarnya... namun nama orang sudah lama di dengarnya...." "Apa maksud ocehanmu ini?" "Saudara ." "Urusan apa?" "Coba jawab dulu.. Entah betapa banyak pemuda yang tergila-gila kepada perempuan centil ini. apa tidak setimpal memanggil saudara kepadamu?" "Hanya untuk itu saja . hakikatnya dia tidak tahu menahu soal Sek-hud.

" Setelah berpikir pulang pergi. "Coba terangkan. maka sikapnya terlalu dingin dan kaku." "Kalau aku tidak sudi menyatakan sikapku?" "Kau akan menyesal.com/ bak sekuntum bunga mawar yang berduri. katanya tawar. kau harus nyatakan dulu sikapmu." "Menyesal? Kenapa?" "Kalau kau tak mau jawab pertanyaanku. bagaimana kalau aku jatuh hati kepadanya? Bagaimana pula kalau karena Sek-hud?" "Soal ini amat penting. Pelajar buntung sudah kepincut pada gadis baju merah tadi. orang tidak berani sembarangan menyentuhnya. cukup sampai disini saja pembicaraan kami. akhirnya Te-gak Suheng berkata.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Aku harus tahu apa sebenarnya Sek-hud itu?" "Apa kau tidak tahu tentang Sek-hud itu? Kalau begitu jadi kau benar-benar mencintainya?" "Anggaplah demikian." .

Kedua. "Kenapa?" tanyanya. akhirnya dia cekikikan." Te-gak Suseng melengak. angin lalu sepoi-sepoi membawa bau harum yang memabukkan. “Pertama. hayolah pindah ke tempat lain dan duduk sambil bicara.com/ Terbayang senyum aneh pada wajah Thian-thay-mo-ki. katanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Dia tidak akan suka kepadamu. apakah kau mau merubah sikapmu?" . lalu duduk di sebuah batu besar. sayang kau ………" "Lenganku buntung. serta merta matanya melirik ke tubuh orang yang padat montok. begitu? Peduli amat. walau kau terhitung laki-laki ganteng. bergetar jantung Te-gak Suseng. darahnya terasa hendak meluap. julukanmu terlalu seram." Mereka masuk ke hutan yang lebih dalam. biji matanya sebening air berputar mengawasi seluruh badan Te-gak Suseng. lekas jelaskan tentang Sek-hud itu?" "Panjang ceritanya. Kata Thian-thay-mo-ki dengan tersenyum lebar. "Setelah kuceritakan.

.. Pek-ciok-am dipandang tempat suci karena pemiliknya Pek-ciok Sinni memiliki kepandaian silat dan Lwekang yang sudah mencapai puncak sempurna.." "Ah. beramai-ramai kaum persilatan mengincar Sek-hud itu . kepandaian silatnya yang tinggi itu diperoleh dari sebuah patung Budha dari batu yang dia miliki .. mungkin bakatnya terbatas ..." "Apa hubungannya dengan gadis baju merah?" "Karena dia adalah murid Pek-ciok Sinni..." "Sulit dikatakan... begitu kabar ini tersiar. biara nomor satu yang dipandang tempat suci kaum persilatan?" "Betul...... kalau benar gadis itu murid Pek-ciok Sinni. Tahun yang lalu tanpa sengaja ada orang tahu bahwa Pek-ciok Sinni sudah meninggal dunia..Tiraikasih Website http://kangzusi. tapi itu kenyataan." "Baiklah... masakah dia tidak kuasa melawan keroyokan empat rasul dari Ngolui-kiong itu. Apakah kau pernah dengar nama Pek-ciok-am?" "Pek-ciok-am ......com/ "Kukira tidak." . siapa yang berani mengganggu di sana.....” "Begitu mujijat Sek-hud itu?" "Entahlah... konon kabarnya. tidak mungkin..

?” "Ada dua sebab yang membuat aku bimbang untuk turun tangan. namun dia kuat menghadapi keroyokan mereka. kepandaian orang kosen ini sudah mencapai puncaknya.Tiraikasih Website http://kangzusi. tokoh aneh yang sudah lama lenyap dari Kangouw itu kabarnya mengikuti perjalanan gadis merah ini. Bu-cing-so (kakek tak kenal budi). namun itu soal lain.. cukup tangguh juga kepandaiannya. katanya kemudian." "Kau tak berani melawannya?" “Aku yakin hanya beberapa orang yang berani melawannya. memangnya Pek-ciok Sinni mau memungutnya sebagai murid?" "Ya.." ." Sejenak Te-gak Suseng terpekur." Thian-thay-mo-ki mengiakan... kenapa .com/ "Kalau dia tidak berbakat." "Dua sebab apa?" "Pertama. kemungkinan belum lama dia belajar. "Kaupun mengincar Sek-hud itu. kau dapat turun tangan sesuka hati. dia terkenal terlalu bertangan keji.... "Kepandaianmu cukup berlebihan untuk menghadapi gadis baju merah itu. belum mendapat seluruh warisan.

"Kau belum jelaskan tujuanmu mencari aku." "Kerja sama dengan kau. saudara.” "Maka kau ajak aku berunding?" "Ya..Tiraikasih Website http://kangzusi.. meski lenganmu buntung tidak jadi soal bagiku.com/ "Lalu sebab kedua?" "Inilah yang paling penting. aku dijuluki Mo-ki (wanita molek iblis) dan saudara bergelar Te-gak Suseng (pelajar dari neraka) kita segolongan.'' "Aku? Diriku yang rendah ini?" “Betul. maka ." "Apa tidak terlalu bodoh dan lucu jalan pikiranmu ini?" . katanya. namun Te-gak Suseng pura-pura tidak mengerti. Kata-katanya cukup gamblang.." "Apa maksudnya kerja sama itu?" "Kita dapat mencapai keinginan sesuai apa yang kita harapkan. aku tidak mau bentrok dengan kau.. lantaran kau.." lalu dia tertawa cekikik genit. dia menyatakan isi hatinya.

bagaimana jika pemecahannya kuberitahu kepadamu. gadis baju merah akan menjadi milikmu." "Aneh sekali! Mengapa tidak?" "Kalau kau tak kuat menghadapi ilmu saktinya Thian-cin-ci-sut. segalanya akan sia-sia belaka.." . Sek-hud hilang. lalu apa yang bisa kau peroleh?" "Memangnya aku tak bisa membantu dia menghadapi Bu-cingso?" "Tidak bisa... kalau gadis baju merah jatuh ke tangan Bu-cing-so." Te-gak Suseng tergelak-gelak. kepandaianmu cukup kuat untuk menghadapi Bu-cing-so. kenapa tidak turun tangan sendiri?" "Sayang sekali Lwekangku bukan tandingannya. "Perhitungan bagus.com/ "Sedikitpun tidak." "Tiada yang patut ditertawakan. jiwapun mungkin melayang. haha . pasti kau dapat menghadapi dia.Tiraikasih Website http://kangzusi. aku hanya ingin memperoleh Sek-hud.. katanya..." "Kalau kau kuat menghadapi ilmu Thian-cin-ci-sut. dengan ilmu kepandaian aliranmu yang ganas itu. aku susah payah kau ambil untungnya.

" "Sekarang dimana dia? Apa yang hendak kau lakukan?" . aku tidak akan menyusahkan.Tiraikasih Website http://kangzusi. "dia jatuh ke tanganmu?" "Jangan tegang. kau baru naksir dia.com/ Diam-diam berkuatir hati Te-gak Suseng bagi keselamatan si gadis baju merah yang menjadi incaran berbagai pihak itu. begitulah. masing-masing pihak mendapatkan apa yang diinginkan. belum tentu dia suka kepadamu. maka dengan dingin dia berkata." "Tiada yang mempermainkan kau. desisnya: "Kubunuh kau!" "Kalau aku mati." "Aku tidak suka dipermainkan." "Apa?" teriak Te-gak Suseng sambil berjingkrak. tujuanmu adalah si 'dia' bukan?" Beringas muka Te-gak Suseng. Kau kira aku bodoh. ketahuilah dia sudah jatuh dalam cengkeramanku. "Apa kau tidak takut setelah kau ajarkan cara menghancurkan Thian-cin-ci-sut itu. toh belum tentu kau mampu membunuhku. yang terang sekarang ini kau tiada sangkut paut dengan dia. bisa jadi aku malah bantu dia menghadapi kau?" "Lucu sekali. dia juga tidak akan hidup.

”Ku ganyang kau. Sekarang bebaskan dia juga!" ”Urusan tidak semudah itu. "Celaka!" Sekali kaki menutul." "Aku tidak mau. jangan kau tekan dan memeras aku. tiba-tiba sebuah suara lirih berkata. "Bluk-bluk". setelah tujuanku tercapai. Te-gak Suseng melenggong sejenak.com/ "Tidak apa-apa. Asal dia terangkan dimana Sek-hud berada. dia akan bebas. Bu-cing-so akan segera tiba. Thian thay-mo-ki menjerit kaget. hidung dan telinganya. Tanpa banyak pikir segera dia mengejar kearah perginya Thian-thay-mo-ki. kedua-duanya tersungkur roboh. "Aku mati. badannya terus melenting tinggi meluncur keluar hutan." ujar Thian-thay-mo-ki sambil berdiri. Beberapa lie ditempuhnya. darah meleleh dari mulut." ancam Te-gak Suseng murka. diapun takkan hidup. ." Sekonyong-konyong dua bayangan meluncur datang. tengah dia celingukan. kau harus mempelajari cara memecahkan Than-cin-ci-sut. namun tiada sesuatu yang ditemukan. lalu apa faedahnya bagimu?” "Hm. demi keselamatannya. kedua orang yang roboh binasa adalah kedua gadis yang berpakaian ketat.Tiraikasih Website http://kangzusi.

tertampak di luar hutan adalah tanah lapang berumput. kemari saksikan sendiri. Seorang laki-laki tua baju hitam tengah berhadapan dan bicara dengan laki-laki beruban baju putih. Di dada seragam puluhan orangorang baju hitam itu tersulam seekor burung elang yang pentang sayap. dilihatnya yang bersuara adalah Thian-thay-mo-ki. Dengan suara tertahan Thian-thay mo-ki berbisik: "Kawanan baju hitam itu adalah anak buah Sin-eng-pang (kelik elang sakti). laki-laki . "Ada apa?" tanya Te-gak Suseng. apa yang ada di luar hutan itu. "Jangan sentuh aku. Puluhan orang berpakaian hitam berjajar setengah bundar menghadapi tiga laki-laki baju putih jang mengempit gadis baju merah. dia sembunyi dibalik sebuah pohon besar seraya menggapai padanya. "Jangan takabur. lihatlah sendiri." bentak Te-gak Suseng sambil mengipat tangan. "Jangan keras-keras.Tiraikasih Website http://kangzusi." Setelah dekat pohon besar di mana Thian-thay-mo-ki sembunyi. Thian-thay-mo-ki ulur tangan hendak menariknya.com/ "Berhenti!" Te-gak Suseng segera hentikan langkahnya. Te-gak Suseng mengintip kesana dari celah-celah daun.” Te-gak Suseng menghampir.

com/ baju putih adalah komandan barisan tempur Ngo-lui-kiong.. ini daerah kekuasaan kami . "Lihat keadaan baru turun tangan menurut situasi..." Te-gak Suseng tenangkan diri.. "Ang-tongcu.." "Aku tahu. Pek-satsin The Gun..... semua orang bertujuan merebut Sek-hud." "Aku tidak sabar lagi . tokoh yang disegani di Bulim. kalau kau ingin bunuh mereka boleh silakan.. namun untuk menolong si dia kukira bukan pekerjaan gampang.Tiraikasih Website http://kangzusi." . terdengar suara Pek-sat-sin The Gun yang keras berkumandang.” "Tapi akulah yang menemukan dia. sekilas dia menerawang situasi yang dihadapinya ini.. apa maksudmu menahanku disini?" tanya Te-gak Suseng... janganlah kau merusak hubungan baik kita selama ini?" Laki-laki baju hitam yang dipanggil Ang-tongcu itu terkekeh tawa. "The-Congling..” "Entah berapa banyak pula tokoh-tokoh kosen yang menyembunyikan diri. katanya.

” "Orang she The.. kau terlalu takabur dan memandang rendah orang. Sekali ini Pek-sat-sin angkat kedua tangannya..” "Tinggalkan gadis itu. kau memaksa aku membunuhmu?" "Jangan takabur. orang luar dilarang melanggar aturan. "Blang”.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Ang-tongcu kira urusan semudah itu?" "Memangnya kau ingin main kekerasan?" "Bukan aku pandang rendah dirimu. kau takkan kuat menahan sekali pukulan. Ang-tongcu melancarkan pukulan mengarah dada Pek-sat-sin The Gun. jengekannya dingin... Lihat pukulan!" di tengah bentakannya. kuantar kalian pulang dengan selamat. Mentahmentah dia terima pukulan orang tanpa balas menyerang. Pek-sat-sin hanya tergetar mundur selangkah. bukan?" "Jadi maksud Ang-tongcu . .." teriak Ang-tongcu.com/ "Dalam daerah kekuasaan pihak kami.. seraya memukul lagi.. "Ang-tongcu.

Anak buah Sin-eng-pang serentak berteriak gemuruh. benang emas. Cepat sekali anak buah Sin-eng-pang menyurut mundur dan berjajar rapi. puluhan orang sekaligus menubruk maju menyerang Pek-sat-sin dan laki-laki baju putih yang mengempit si Gadis berbaju merah. darah menyembur dari mulutnya." sebuah bentakan nyaring menggetar seluruh hadirin. katanya. Namun belum lagi gerakan pedang ketiga orang itu mengenai sasaran. jiwa merekapun melayang. laksana geledek menyamber diselingi jeritan ngeri. tiga bayangan orang melompat maju berbareng. ketiga orang itu terpental balik ke belakang. orang she Ang itu terhuyung beberapa langkah terus roboh celentang. entah ada petunjuk apa?" .com/ "Dar". gumam Teng-gak Suseng di tempat sembunyinya. "Inilah kesempatan baik” "Berhenti. Lekas Pek-sat-sin angkat tangan memberi hormat.Tiraikasih Website http://kangzusi. Tertampak muncul seorang laki-laki kekar gagah dan dengan baju di bagian dada tersulam burung elang dengan. katanya. Te-gak Suseng beranjak maju. "Pangcu datang sendiri. tiga larik sinar pedang dengan perbawa yang mengejutkan mengurung ke arah Pek-sat-sin. kembali terdengar jeritan seram. Ditengah gemuruhnya teriakan gusar anak buah Sin-eng-pang. Ngo-lui-ciang ternyata memang ganas.

" "lni . agaknya kau terlalu pandang rendah orang-orang Pang kami?" "Pangcu sendiri yang berkata demikian. hebat dan ganas sekali pukulanmu." . urusan ini dapat kuanggap tak pernah terjadi." Pek-sat-sin mengertak gigi. Cayhe dipaksa turun tangan. kalau The-congling tinggalkan dia dan segera mengundurkan diri.. maaf. "Cayhe hanya menjalankan perintah. untuk menunaikan tugas.. Pangcu atau ketua Sin-engpang. "Salah mereka sendiri karena tidak becus belajar silat. "The-cong-ling.Tiraikasih Website http://kangzusi." kata sang Pangcu. tidak perlu Cayhe banyak bicara lagi.." "Baiklah. tapi Thecongling bertingkah di daerah kekuasaan kami.. kami tak bisa menurut. katanya. harap Pangcu maklum. biar kubelajar kenal dengan Ngo lui-ciang. terpaksa menuruti kehendak Pangcu." jawab The Gun.com/ Yang datang ternyata Ko Giok-wa... ”Tidak berani.." "Biasanya tak pernah ada bentrokan pihak kami dengan pihak kalian.

"Itulah Thian-cin-ci-sut! Bu-cing-so sudah datang. "Harap Pangcu memberi pengajaran. sungguh hebat sekaIi adu pukulan ini. "Hahahaha" sebuah gelak tawa melengking tiba-tiba berkumandang. dua orang sama-sama tergetar mundur selangkah.Tiraikasih Website http://kangzusi. Sin-eng-pangcu mendorong kedua tangannya memapak kedepan. Kecut hati Pek-sat-sin. namun dia nekat dan lancarkan pula pukulannya. Suara bagai guntur menggelegar menyebabkan tanah rumput beterbangan. rasa tertekan itu segera lenyap. secara reflek segera dia gunakan ilmu penawar Thian-cin-ci-sut yaag dia pelajari dari Thian-thay-mo ki. hayolah turun tangan. ." dengus Pangcu itu." Terasa oleh Te-gak Suseng anak telinga seakan-akan pecah. Ternyata sama kuat alias setanding. pukulan Ngo-lui-ciang menggempur sehebat gugur gunung. dengan membawa damparan dahsyat.com/ "Hm. jantung berdetak darah bergolak." lenyap perkataan The Gun ini. Gemetar suara Thian-thay-mo-ki berkata ditempat sembunyinya. suaranya begitu keras bagai halilintar memecah angkasa. Begitu Hiat-to tertutup dan dada terlindung.

gelak tawa itu tiba-tiba berhenti. namun Thian-cin-ci-sut tetap akan mencelakakan jiwanya ………" Tergerak hati Te-gak Suseng. Air muka Ko Giok-wa dan Pek-sat-sin berubah." ujar Thian-thay-mo-ki tiba-tiba. yang agak kuat darahpun meleleh dari mulut dan hidung. Murid-murid Sin-eng-pang yang rendah Lwekangnya sudah roboh binasa. kedua orang berdiri sempoyongan.Tiraikasih Website http://kangzusi. muka mereka menampilkan rasa tersiksa yang luar biasa. "Hiat-to gadis baju merah tertutuk tak bisa bergerak. dengan melongo dan mematung dia tetap berdiri di tempatnya. Tertampaklah seorang tua dengan rambut dan alis beruban. muka merah kepala gundul pelontos melayang bagai awan mengembang. Baru sekarang dia percaya apa yang dikuatirkan Thian-thay-mo-ki memang baralasan.com/ Di tanah lapang sana. Ngeri dan berdetak keras jantung Te-gak Suseng. Kalau gelombang tawa ini masih terus berkumandang. anak buah Sin-eng-pang satu persatu jatuh tersungkur. Gelombang tawa tadi tidak berhenti malah lebih keras bagai gelombang samudera mendampar-dampar. baru saja dia hendak menubruk keluar. laki-laki yang mengempit gadis baju merahpun melepaskan tangan dan jatuh tersimpuh. aneh. kelihatannya sedikitpun tidak terpengaruh apa-apa. “Celaka. agaknya mereka tak kuat bertahan lebih lama. Sementatra jidat Ko Giok-wa dan The Gun juga sudah dibasahi keringat yang gemerobyos. yang paling diperhatikan adalah si gadis merah. . mungkin seluruh hadirin takkan bisa selamat.

peduli apakah dirinya mampu berhadapan dengan Bu-cing-so. Te-gak Suseng menyadari bahwa dirinya harus cepat keluar. rambutnya yang beruban jarang-jarang. Melihat gelagatnya. katanya dingin. Thian-thay-mo-ki menahannya dengan suara.com/ "Bu-cing-so!" bisik Thian-thay-mo-ki. Waktu Te-gak Suseng mengamati lebih jelas. lihat siapa itu yang datang!" Satu makhluk aneh bagai gumpalan daging dengan atas putih bawah hitam tahu-tahu "menggelinding" tiba di tengah lapangan.Tiraikasih Website http://kangzusi. minta mampus?" Sin-eng pangcu Ko Giok-wa bergerak lebih dulu. jubahnya hitam sehingga . cepat mereka mengundurkan diri ke dalam hutan sebelah sana. Pek-sat-sin segera memberi tanda kepada anak buahnya. anak buahnya beramai-ramai mengintil di belakangnya dengan langkah sempoyongan sambil angkat teman-temannya yang mati dan terluka. Namun baru saja dia hendak bergerak. dia harus berani nyerempet bahaya. Demi keselamatan gadis baju merah. kiranya seorang aneh bertubuh pendek buntek. "Kalian tak lekas enyah. tertahan. "Tunggu dulu. Pelanpelan Bu-cing-so kemudian menghampiri si gadis merah. jenggot putih memanjang sebatas dengkul. Bu-cing-so berhenti di tengah gelanggang.

Siapa tahu setelah mengasingkan diri puluhan tahun. sungguh tak dinyana bahwa tokoh aneh ini masih hidup dan kini muncul juga untuk berebut Sek-hud.. kini usianya tentu sudah lewat se-abad. Konon pada enam puluh tahun yang lalu makhluk aneh ini sudah menjuluki diri sebagai 'Ang' (aki). Mereka saling pandang. perkataannya seperti orang biasa. kita berdua sama-sama!" 1.com/ dilihat dari kejauhan jadinya setengah putih separo hitam.Tiraikasih Website http://kangzusi. Anak kecil dan kaum perempuanpun kenal namanya. kau . jangan tergesa-gesa marilah kau berkenalan dulu dengan aku." Cepat sekali Bu-cing-so membalik badan. kini muncul lagi di sini. Terdengar orang aneh itu bersuara.3.. siapapun takkan menyangka di dunia ini ada manusia begini aneh. Tuduhan Yang Sulit Dibantah Nama Siang-thian-ong membuat jantung Te-gak Suseng dan Thian-thay-moki tergetar. golongan hitam paling jeri bila mendengar namanya. "Siang-thian-ong. serunya gemetar. seketika air mukanya berubah. . "Lote. kau belum mati?" "Aha...

ujarnya." .com/ Sesaat lamanya Bu-cing-so kememek. Siang-thian-ong. memangnya kenapa?" "Lwekang budak ini memang rendah. jangan kau terlalu tinggi menilai dirimu. "Ada petunjuk apa?" Siang-thian-ong terloroh-loroh." "Kalau tidak?" "Terpaksa kita harus berkelahi. kuharap kau jangan berlaku tamak lagi. "Lote.” "Apa maksudmu?” "Kuharap kau tidak ikut campur berebut Sek-hud segala. nyatanya hatimupun tamak. usia kita sama-sama tua. bukankah kaupun mengincar Sek-hud itu?" "Lote." "Hahaha. aku sendiripun tak berani mengusiknya. kabarnya kau berjiwa pendekar. namun tulang punggung di belakangnya cukup tangguh.Tiraikasih Website http://kangzusi. akhirnya dia membentak bengis. jangan harap kita akan memilikinya. binalah dirimu ke jalan yang benar demi hari tuamu." "Eh.

apapun yang terjadi pasti kubereskan." "Kalau kau tidak berani melawannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. kata¬nya dengan cemberut. Berubah kecut muka Thian-thay-mo-ki." "Cekak saja jawabku. bisiknya. justeru terbalik.com/ “Hebat benar." sahut Te-gak Suseng. maksud baik." Di dalam hutan Thian-thay-mo-ki berpaling kepada Te-gak Suseng. yang terang aku memberi peringatan padamu dengan. . buat apa kau bertingkah dihadapanku?" "Haha. siapa sih tulang punggungnya? Masakah Siangthiang-ong yang biasa ditakuti orang hari ini patah semangat?" "Siapa dia tidak perlu kukatakan. boleh silakan pergi saja. sekali soal ini sudah kebentur di tanganku." ujar Bu-cing-so. Cayhe tak setuju bekerja sama dengan kau. "Besar manfaatnya bagi kita kalau kedua bangkotan silat ini berkelahi" "Jangan kau gunakan istilah kita." "Agaknya tulang kita ini harus dilemaskan dengan adu otot. "orang lain tak kubiarkan menyentuh Sek-hud itu.

"Te-gak Suseng.. puluhan bayangan putih tampak berjajar menunggunya." Getaran keras dan ledakan dahsyat amat mengejutkan sekali.com/ "Jangan terlalu yakin. Begitu dia meluncur tiba. segera Te-gak Suseng menghardik. orang-orang baju putih itu segera merubung mengelilinginya. Tanpa gentar Te-gak Suseng melesat ke dalam hutan.. Kalau tidak menyaksikan sendiri. ." Te-gak Suseng terkejut sambil berpaling. cuma jumlahnya bertambah delapan.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Dari malu menjadi gusar.." sahut orang itu.. serunya. si apapun tak mau percaya.. Urusanku tak perlu kau turut campur. "Tutup mulutmu. "Siapa itu?" "Yang mau bikin perhitungan. Kiranya Pek-sat-sin The Gun dan kawan-kawannya.. belum tentu 'dia' mau terima kebaikanmu . masing-masing melancarkan pukulan maut. ternyata kedua bangkotan silat telah bergebrak dengan sengit. kemarilah kau. Pada saat itulah dari kejauhan sebelah sana terdengar sebuah suara berkata. kemarilah untuk menyelesaikan. puluhan tombak sekeliling gelanggang tanah berumput beterbangan.

ke depan. "Pyaaaaar!" Te-gak Suseng sempoyongan. "Jangan latah. utang jiwa harus bayar jiwa. . serahkan jiwamu!” Begitu kedua teJapak tangannya bergerak." Orang-orang baju putih sama menggerung murka.Tiraikasih Website http://kangzusi. Te-gak Suseng angkat sebelah tangannya mendorong. sayup-sayup terdengar suara gemuruh guntur menggelegar damparan tenaga menyambar ke depan." "Bagus.com/ Pek-sat-sin menyeringai. kedua utusan pihak kami itu kaukah yang membunuhnya." Membesi muka Te-gak Suseng. secara keras dia lawan serangan musuh. desisnya dengan bengis. "Mungkin utang jiwaku malah akan bertambah." "Betul. katanya. Pek-sat-sin sendiri tergetar mundur selangkah Dua orang berbaju putih melejit maju seraya menggempur pada waktu Te-gak Suseng masih sempoyongan. "Te-gak Suseng. Pek-sat-sin mengertak gusar.

"Plak-plak. "jangan biarkan dia menclekat. Te-gak Suseng terjepit dan bergoyang seperti perahu . Semakin berkobar napsu membunuh Te-gak Suseng. Pek-sat-sin sudah mengatur napas dan menghimpun tenaga.Tiraikasih Website http://kangzusi. hal ini cukup membuat semua. namun Te-gak Suseng sendiri juga terpental balik ke tengah kepungan oleh damparan angin pukulan musuh. tiga orang di sebelah kiri. pengeroyoknya terkesiap. sebat sekali dia menubruk ke arah Pek-sat sin. kepala pusing tujuh keliling. ketika Pek-sat-sin gerakkan kedua telapak tangannya. "Kurung dia.com/ Sekali berkelebat Te-gak Suseng menubruk ke arah kanan. Namun sedikitpun Te-gak Suseng tidak kelihatan terluka. Gelombang tenaga menggencet Te-gak Suseng dari berbagai penjuru sehingga darahnya terasa mendidih. dua orang berbaju putih dari arah depan menyusul juga menggempur." Pek-sat-sin memberi aba-aba. badan bergoyang gontai. melontarkan serangan bersama. Damparan pukulan dari samping dan belakang membuatnya terpental ke arah Pek-sat-sin. namun empat orang lain dari kanan dan belakang serentak menggempurnya pula. secepat kilat tahu-tahu Te-gak Suseng membelok ke kiri menerjang tiga orang berbaju putih." dua orang berbaju putih terjungkal." Suara benturan laksana bunyi guntur menimbulkan pusaran angin yang kencang. ia memapak dengan ayunan sebelah tangannya. kedelapan orang serentak turun tangan melancarkan Ngo-lui-ciang yang terkenal keras dan ganas.

"Aduh!" terdengar Pek-sat. pusaran angin yang kencang seketika tercerai-berai. "Huaaaaah. beberapa orang baju putih sama jatuh terguling. darah semakin bergolak.sin The Gun mengerang kesakitan. tanpa bersuara lagi segera dia melesat lenyap ke dalam hutan. kecuali Pek-sat-sin. "Lari kemana. tujuh orang yang lain tiada satupun yang selamat. . Sebaliknya. Sesosok bayangan tiba-tiba meluncur ke tengah gelanggang. siapapun yang kena disentuhnya tiada satu yang selamat. begitu ketat dan gencar serangan musuh sampai dia tidak kuasa balas menyerang. Thian-thay-mo-ki memandang Te-gak Suseng dengan senyuman manis seperti tak terjadi apa-apa. demikian juga gabungan pukulan anak buahnya dari berbagai arah teramat rapat dan sukar di jebol.com/ dipermainkan ombak. dilihatnya dengan muka beringas dan mata menyala Pek-sat-sin tengah menghampiri Thianthay-mo-ki.Tiraikasih Website http://kangzusi." bentak Te-gak Suseng hendak mengejar. begitu tekanan lenyap. Tapi cara bertempur yang dilaksanakan musuh sekarang membuat dirinya mati kutu. sigap sekali Te-gak Suseng menerjang keluar kepungan." jeritan susul menyusul. Waktu Te-gak Suseng berpaling. Jelas kalau pertempuran jarak dekat akan menguntungkan dirinya. Terutama pukulan Pek-sat-sin ganas sekali. napaspun memburu. Pek-sat-sin melihatnya sorot mata berkilat Te-gak Suseng tengah menatap dirinya.

semua korban tidak terluka. katanya sambil merangkap tangan. hanya telah kupersen mereka segenggam jarum sulamku. bayangan yang aneh itu mendadak menggelundung tiba. “Selamat bertemu Locianpwe." sahut Te-gak Suseng tetap kaku dingin." kata Thian-thay-mo-ki sambil mengerling mayat-mayat yang bergelimpangan. Tiba-tiba sesosok bayangan melayang pelahan tak jauh dari samping mereka. apa yang terjadi?" seru Thian-thay-mo-ki. "Itulah Bu-cing-so.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Jangan kejar. "Terima kasih atas bantuanmu." Thian-thay-mo-ki berseru mencegah." ujar Te-gak Suseng tawar. namun si Gadis berbaju merah tak kelihatan bayangannya.” Belum habis dia bicara. ilmu apakah yang kau gunakan?" “Tak bisa kuterangkan. Gemetar suara Te-gak Suseng. urusan di sini lebih penting. tahu-tahu Siang thian-ong sudah berdiri di hadapan mereka. lalu menambahkan: "Adik. agaknya Siang-thian-ong yang menang. kelak akan kubalas. Tanpa pikir Te-gak Suseng segera melompat maju mengadang di depan Siang-thiang-ong. "Urusan kecil tak perlu diperhatikan." . "Aneh.

lalu dia berpaling kepada Thian-thay-mo-ki. namun mengingat kedudukan dan tingkat dirinya tak leluasa dia." Te-gak Suseng segera ntenjawab. Dia amati Te-gak Suseng dari atas sampai kebawah.com/ Siang-thiang-ong merandek. lalu memandang mayat-mayat yang bergelimpangan itu... selamanya tiada satupun yang bisa lolos dengan hidup . jadi kau ini Te-gak Suseng? Kabarnya kau membunuh orang tanpa meninggaikan bekas.. Berkata Siang-thian-ong lebih lanjut. "Siapa yang membunuh mereka?" "Wanpwe.." tiba-tiba terpancar sinar aneh pada biji matanya. "Siapa namamu?" "Te-gak Suseng (pelajar dari neraka)!” "Hm.Tiraikasih Website http://kangzusi. kenapa lari ke sini dan membunuh orang?" Bergetar hati Te-gak Suseng dan Thian-thay mo-ki. "Bukankah kalian sembunyi di dalam hutan dan melihat tontonan. Agaknya tokoh aneh dari angkatan tua inipun tak berhasil menelacak rahasia Te-gak Suseng. . kiranya jejak mereka sudah diketahui orang. akhirnya dia mengerut kening.. tanyanya. katanya dengan melotot. mengajukan pertanyaan.

Te-gak Suseng berdiri bingung..Tiraikasih Website http://kangzusi. Sekali meliuk pinggang dan bergerak semampai... perempuan genit dari Thian-thay ini tertawa cekikik.... tahu-tahu lantas berkisar mencengkeram pundak.. tidak mengaku juga tidak menyangkal. "Maaf wanpwe tak bisa menerangkan. "Dalam waktu dekat ini beliau tidak akan meninggal..." "Di mana nenek galak itu menyembunyikan diri?" tanya Siangthian-ong.. sahutnya. "Budak hina. apakah Locianpwe ..” "Thian-thay-mo-ki?” Sekonyong-konyong Siang-thian-ong ulur tangan mencengkeram kearah Thian-thay-mo-ki.com/ "Kau isterinya?" Thian-thay-mo-ki. dan gaya aneh tahu-tahu Thianthay-mo-ki berkisar mundur jauh.. kelihatannya dia berhasil menangkap pergelangan tangan lawan. "Tiada sangkut pautnya'" ujar Te-gak Suseng dingin "Dia berjuluk Thian-thay-mo-ki . entah kenapa manusia aneh ini turun tangan dan menyerang Thian-thay-mo-ki." ujar Siang-thian-ong mendelik." . Sungguh luar biasa cepat gerakannya. "ternyata kau murid nenek galak itu.... apa dia masih hidup?” Thian-thay-mo-ki tertawa genit sambil mengerling.

... baiklah. "Jangan kau anggap lucu kejadian ini.. gadis berbaju merah itu ...” "Hahaha kalau ingin hidup.... Siapa adikmu? Kau boleh silakan pergi.... badan Siang thian-ong tahu-tahu lenyap dari hadapan mereka. namun bayangan gadis baju merah sudah tak kelihatan.Tiraikasih Website http://kangzusi. mukanya membeku dingin.." “Untuk apa kau tanya dia?" "Ini .. tiba-tiba dia melesat keluar hutan menuju ke tanah lapang berumput itu.com/ "Hm." Hanya sekali berkelebat. Te-gak Suseng berdiri melongo." "Locianpwe ..... aku tak punya waktu untuk mengobrol dengan kau. Iapun merasa geli akan sepak terjang yang tiada juntrungnya ini. Apakah yang telah terjadi? Ke mana si gadis baju merah? Te-gak Suseng melenggang dengan perasaan menyesal dan sedih. jangan mencampuri urusan orang lain.. Sejenak kemudian.” .. kecewa bukan?" ujar Thian-thay-mo-ki Te-gak Suseng membalik badan...." tiba-tiba orang tua itu berputar ke arah Te-gak Suseng: "Kenapa kau bocah ini mencegat jalanku?" "Numpang tanya. apa sih alasannya dia mengundit gadis berbaju merah? "Adik..

pe!ita di rumah-rumah penduduk mulai menyalakan. Kira-kira satu jam kemudian. segera dia melangkah masuk ke dalam kelenteng. tertawa dingin Thian-thay-mo-ki di belakangnya anggap tidak didengarnya. kau kira aku orang apa?" Te-gak Suseng segan perang mulut. semua korban mengenakan seragam hitam. dia merasa sepak terjangnya terlalu brutal. Tabir malam mulai menyelimuti jagat. kalau pulang cara bagaimana dia harus memberi pertanggungan jawab terhadap sang ayah. segera dia melangkah. beruntun ditemukan beberapa mayat pula.Tiraikasih Website http://kangzusi. Rasa aneh dan ingin tahu mengetuk hatinya. Melewati pekarangan dan serambi panjang. Berhenti sejenak baru dia putar badan hendak meninggalkan tempat itu. Akan tetapi bayangan si gadis baju merah selalu terbayang di depan kelopak matanya. mendadak sekilas dilihatnya empat sosok mayat tergeletak di dalam pintu.com/ "Jangan terlalu angkuh. Tanpa tujuan dia menyusuri jalan kecil di tengah ladang belalang. ia tahu ke mana dirinya hendak menuju? Niat semula memang ke kota Kayhong sudah dibatalkan. Serta merta dia menghentikan langkah di depan kelenteng besar itu lapat-lapat masih dapat dibacanya di atas pigura yang tergantung di atas pintu yang terbuka itu bertuliskan "Lo-kian-ceng-goen-si". Teringat pengalaman setengah hari ini. tiba-tiba di depannya muncul sebuah kelenteng besar yang dibangun dengan megah. . Dengan kencang dia berlari-lari sesaat lamanya. tulisan yang lebih kecil tak terbaca lagi olehnya. sinar api lapat-lapat menyorot keluar dari dalam kelenteng.

"Mungkin orang-orang ini mempunyai cara sendiri untuk menghabisi jiwa. kenapa semua orang di sini terbunuh seluruhnya? Lalu siapakah orang yang bertindak keji? Dia berjongkok dan memeriksa mayat seorang yang paling dekat.Tiraikasih Website http://kangzusi. terang perjamuan itu baru saja dimulai. Hidangan dan arak belum digasak habis. lalu dia putar badan hendak meninggalkan kelenteng ini.com/ Sinar api terang benderang disebelah dalam.. mulutnya bersuara tertahan. namun tak terdengar suara orang." ia menghibur dirinya sendiri dengan pikiran yang tidak masuk akal ini. Tiba-tiba mukanya berubah dan berjingkat berdiri sampai sempoyongan mundur. berdiri bulu kuduknya.. entah bagaimana dia bisa mati? Kembali dia memeriksa lebih cermat. "Apa mungkin . tadi kenapa?" Dia berdiri kesima dengan bingung. Sebentar dia ragu-ragu. suasana terasa seram dan menakutkan. Namun mayat bergelimpangan disekitar meja kursi. tentunya kelenteng besar ini adalah pusat kekuasaan dari sesuatu organisasi persilatan.. segera dia melesat masuk ke ruang tengah. badannya gemetar. alisnya berkerut dalam. keringat dingin membasahi sekujur badannya. tiada satupun yang hidup. pandangannya menyapu mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam pekarangan ini. Te-gak Suseng bergidik seram. dilihatnya sang korban tidak menunjukan sesuatu luka.. ... Tertampak puluhan meja perjamuan berjajar rapi di tanah berumput di tengah pekarangan. seketika dia merinding.

. pikirannya menjadi kacau balau...." bentak si gadis baju merah dengan bengis. Apakah yang telah terjadi? Dengan langkah berat Te-gak Suseng maju beberapa tindak. Hayo katakan. Dengan mataku sendiri pernah kusaksikan kau membunuh orang tanpa neninggalkan bekas. laksana kena aliran listrik tegangan tinggi... lalu sapanya... tambatan hatinya yang diuber-ubernya selama ini... "kejam benar perbuatanmu ..” “Tutup mulutmu. dengan cara keji apa kau membunuh mereka?" ....." Terkesiap hati Te-gak Suseng. Bagaimana dia dapat muncul disaat ini? Lalu apa sangkut pautnya semua korban ini dengan dia? Muka gadis berbaju merah kelihatan mengunjuk amarah yang tak tertahankan..com/ Tapi baru saja dia membalik badan.Tiraikasih Website http://kangzusi. Beberapa tombak di sebelah sana di jalanan yang ma¬suk ke ruang tengah ini. mayat-mayat ini . tiada alasan bagimu untuk mungkir lagi.. “Tak nyana di tempat ini bertemu lagi dengan nona?" "Te-gak Suseng.. kini kenyataan terpampang di depan mata. dia menyurut kembali dangan kaget.. tertampak sesosok bayangan merah nan jelita." "Cayhe baru saja tiba. dia bukan lain adalah si gadis baju merah pujaannya. serunya: "Nona bilang apa?" "Kau tidak berperikemanusiaan. matanya seperti hampir tarbakar.

” "Hm. dapatlah dibayangkan. tidak sedikit orang yang telah kubunuh. orang yang dihadapinya adalah gadis pujaannya. Watak Te-gak Suseng angkuh dan latah." "Berani membunuh orang kenapa kau tidak berani mengakuinya?” "Terus terang." dengus si nona." "Memangnya siapa?” "Ini . namun hal ini cukup menjadikan alasan untuk mengekang perasaan dan kendalikan wataknya.....Tiraikasih Website http://kangzusi. namun keadaan hari ini berbeda dengan biasanya. entahlah. katanya: "Bukan Cayhe yang melakukannya. biasanya dia tidak sudi banyak bicara. walau cintanya bertepuk sebelah tangan.. dan yang lebih penting adalah bahwa si nona yang turun tangan jahat membunuh orang sebanyak ini. Namun sekarang meski dia ingin melimpahkan isi hatinya juga tidak mungkin lagi.. betapa risau hatinya. namun kejadian di sini memang betul-betul bukan perbuatanku. . dan berbalik menuduhnya malah. kalau orang lain tentu sikapnya sudah jauh berubah..." "Cara bagaimana kau bisa berada di tempat ini?" "Tanpa sengaja aku masuk kemari.com/ Te-gak Suseng tertawa getir..

lalu dia bertanya. Setelah membisu sekian lamanya." "Jiwa ratusan orang.Tiraikasih Website http://kangzusi." Te-gak Suseng menyurut mundur. serunya beringas. "Nona bernama siapa?" "Kau tidak perlu tahu. apakah cukup dengan jawaban sepatah kata ini?" "Lalu apa yang harus Cayhe katakan dan buktikan?" Semua korban tiada satupun yang terluka atau keracunan." semprot si gadis baju merah." Berkerutuk gigi Te-gak Suseng. "aku tidak sudi beritahu kepadamu.com/ semua ini secara langsung telah memunahkan cita-cita dan keinginannya. kecuali kau memangnya siapa lagi orangnya?" . "Aku ini adalah penuntut batas sakit hati mereka. katanya. bukan aku yang membunuh mereka. "Sekali lagi kunyatakan. "Lalu apa sangkut paut nona dengan semua korban ini?" Meadelik mata gadis berbaju merah. cara membunuh orang yang tiada keduanya ini. sedapat mungkin dia menahan perasaan dan gejolak hatinya.

Cayhe tak tahu apa pula yang harus kukatakan. lalu diapun berdiri ke samping. Lekas si gadis baju merah menghampiri ke depan tandu. Suasana hening mencekam perasaan. Sebuah tandu berhias dipikul empat laki-laki kekar mendatangi. keempat pemikulnya berdiri tegak di tempatnya sambil meluruskan tangan. Di belakang tandu beriring puluhan orang seragam hitam.Tiraikasih Website http://kangzusi. entah apa yang dia laporkan.” Te-gak Suseng menjadi sebal. Tandu diturunkan. tak bisa kupenuhi permintaan ini. siapakah orang yang berada dalam tandu? Semua orang berbaju hitam sama memandangnya dengan sorot mata gusar penuh kebencian." . "Kau ini berjuluk Te-gak Suseng?" "Betul!" "Terangkan asal usulmu. lalu berbisik-bisik dari balik kerai. langsung menuju pekarangan tengah." Tiba-tiba derap kaki orang banyak datang dari luar.com/ "Nona terlalu yakin akan pendirian sendiri." "Maaf. lama sekali baru terdengar sebuah suara perempuan yang kereng berkata. seakan-akan ingin membeset kulit dan mengiris dagingnya.

com/ "Hm. kau." "Dengan apa kau membuktikan bukan perbuatanmu?" "Dengan kehormatan pribadiku. Gadis berbaju merah sebaliknya mengunjuk rasa jijik mencemoohkan." Tak tertahan lagi Te-gak Suseng segera ayun tangannya menggempur ke arah tandu. siapapun akan merinding melihat nafsunya yang mulai berkobar." Berubah roman muka Te-gak Suseng." "Hahaha. dia tidak terima dihina dan dicemooh. "Siapa sebutan yang mulia?" "Kau belum setimpal untuk tanya diriku. Semua orang berbaju hitam yang hadir sama menggerung gusar. . Te-gak Suseng. dengan keji kau menghabisi ratusan jiwa orang.Tiraikasih Website http://kangzusi. kekuatannya bagai kilat menyambar dan seperti badai mengamuk. juga berani bicara soal kehormatan pribadi. apa alasanmu?" "Sudah berapa kali Cayhe menyatakan. namun tiada satupun yang berani turun tangan. bukan Cayhe yang melakukannya. serangan yang dilandasi hawa amarah ini. Katanya sambil melangkah dua tindak ke arah tandu. hawa hitam di tengah kedua alisnya semakin tebal.

agaknya kata-kata itu bukan gertakan belaka. tak pernah terpikir olehnya untuk menyingkir saja. Sesaat lamanya dia menjadi bingung. Gemetar dan merinding Te-gak Suseng. Lwekang orang dalam tandu sungguh teramat tinggi. "Kau ingin mampus?" "Belum tentu kau mampu!" "Agaknya sebelum melihat peti mati." jawab Te-gak Suseng." kembali kerai tandu bergoyang.com/ Kerai tandu tampak sedikit bergoyang. Tiba-tiba teringat olehnya. Terdengar orang di dalam tandu buka suara pula:"Te-gak Suseng. apalagi di hadapan si gadis baju merah yang dipujanya. kau tidak akan menangis. Siangthian-ong pernah memberi peringatan kepada Bu-cing-so bahwa gadis baju merah ini mempunyai tulang punggung yang amat tangguh. segulung angin kencarg mendampar . bagaimana baiknya. kenyataan membuktikan bahwa dirinya bukan tandingan orang. namun dasar wataknya kaku dan suka menang. tak sudi dia unjuk kelemahan. seketika damparan badai pukulan Te-gak Suseng yang dahsyat itu sirna tanpa bekas. dari dalam tandu timbul serangkum angin lembut. siapapun tak berani mengusiknya. berkatalah terus terang sajal" "Tiada yang harus kukatakan.Tiraikasih Website http://kangzusi.

" . namun tetap menggiurkan. walau mukanya diliputi rasa dendam dan kebencian. "Te-gak Suseng. "Periksa dengan teliti jenazah para saudara yang menjadi korban. sikapnya agung berwibawa. Sungguh dia tidak habis mengerti akan perasaannya ini. bukan aku pembunuhnya. sampai balas menyerang atau membela diripun ia tak mampu. Gadis berbaju merah berkata dingin. Sejak dia mengembara. mukanya pucat pasi. secara refleks Te-gak Suseng ayun tangan memapak dengan pukulan." Terdengar suara kereng dari dalam tandu. baiknya berterus teranglah. Te-gak Suseng terhuyung-huyung puluhan langkah. “Nona. katanya getir sambil membersihkan noda darah dimulutnya." Sorot mata Te-gak-Suseng menatap wajah si¬gadis. "Plok" seperti ledakan halilintar di tengah angkasa.Tiraikasih Website http://kangzusi. baru pertama kali ini bertemu dengan musuh tang¬guh yang menakutkan ini. dua jalur darah meleleh dari ujung mulutnya.com/ keluar. Seketika kuncup amarah Te-gak Suseng yang meluap-luap berhadapan dengan si gadis yang telah menambat hatinya itu.

"Majukan tandu ini!" bergegas empat pemikul tandu angkat tandu berhias itu dan maju langsung mendekati Te-gak Suseng.com/ Beberapa orang mengiakan.Tiraikasih Website http://kangzusi. "pada dirimulah kubongkar teka teki ini." serunya. tempattempat yang terlarangpun tidak ketinggalan mereka periksa. Suara orang dalam tandu semakin dingin. gerak geriknya boleh dikata teramat cepat. Namun kepandaian orang dalam tandu sungguh luar biasa." Te-gak Suseng menengadah mukanya berkerut." "Yakin yang mulia pasti akan kecewa." Beberapa jalur kencang mendesir keluar dari balik kerai tandu. dia tahu sebabnya. akhirnya semua memberi laporan yang sama. puluhan orang berbaju hitam segera bekerja memariksa mayat-mayat yang bergelimpangan. "Tiada tanda-tanda luka sedikit pun. sehingga Te-gak Suseng seperti memapak sendiri ke arah terjangan angin kencang ini. darah terasa . maka dalam waktu yang sama beruntun beberapa jalur angin kencang menyambar pula. namun tidak mau mengatakan." "Tunggu saja hasilnya nanti. Kontan sekujur badan tergetar. seolah-olah dia sudah memperhitungkan dengan tepat ke mana Te-gak Suseng akan bergerak. Secepat kilat Te-gak Suseng melejit ke samping. "Te-gak Suseng.

. tak nyana terhadap badanmu sendiri kaupun berlaku begini kejam. 2.. betapa besar siksa derita ini sukar dilukiskan. napasnya mulai memburu.tidak ..Tiraikasih Website http://kangzusi.. ingin memaki namun tak mampu mengeluarkan suara. kuping dan hidung merembes darah.'' "Bluk". saking kesakitan raut mukanya sampai berubah bentuk.4.." ...com/ bergolak seperti beribu ular menggigit badannya. kedua biji matanya merah membara dan melotot.. Tapi dia mengertak gigi tanpa mengeluh sedikit pun.. Jangan Sentuh Dia . dari mulut.. kembali dia terguling jatuh. badannya mengejang... "Kau mau bicara tidak?" "Ti... "Buuk"... !!! Kata orang di dalam tandu itu penuh kebencian: "Te-gak Suseng. akhirnya dia roboh terguling dan berkelejotan beberapa kali. Lama kelamaan pandangan matanya semakin kabur dan berkunang-kunang. badannya meliuk-liuk dan meringkal.. lalu merangkak bangun dan meronta kesakitan. Keringat berketes-ketes.

Te-gak Suseng menjerit dengan beringas: "Kalau . “Siapa kau?" bentak orang di dalam tandu. "Berhenti!" di kala kedua orang berbaju hitam itu merandek karena seruan itu. bersumpah akan mem ... "Bunuh dia. dia membungkuk badan serta ulur tangan..." Seorang laki-laki tua baju hitam segera melangkah maju sambil mengiakan.." “Geledah badannya. sesosok bayangan orang bagai kilat tahu-tahu melayang turun. Tiba-tiba lakilaki baju hitam memekik seram terus terbanting jatuh. sebentar kaki tangan meronta-ronta cepat sekali jiwanya lantas melayang.....com/ Menghimpun seluruh tenaganya. kiranya seorang gadis jelita... aku .. kembali sejalur angin lesus menyampuk keluar dari dalam kerai..." ..." orang dalam tandu itu memberi perintah... membunuhmu." "Apa maksud kedatanganmu?" "Kau bertindak keterlaluan.. ... Terdengar gerungan gusar.. mati... dua orang berbaju hitam mengiakan sambil menghunus pedang. kalau aku .." orang di dalam tandu memberi perintah.. "keluarkan sesuatu yang bisa menunjukkan tanda dirinya. "Thian-thay-mo-ki.Tiraikasih Website http://kangzusi. Kontan badan Te-gak Suseng terlempar beberapa tombak dan terbanting diam.. tidak .

lalu kalianpun berdatangan." "Kau sekomplotan dengan dia?" “Asal usulnya aku tidak tahu. kalau membunuh orang tidak nanti dia mungkir. kaupun takkan luput dari tanggung jawab. kalau kau memang sekomplotan. "Kau berkepandaian silat tinggi lalu kau boleh sembarangan menuduh orang?" "Hm. namun terletak pada cara dia membunuh." ." "Kemungkinan kau bekerja sama dengan dia. namun belum ada setengah jam dia baru berpisah dengan aku. kusaksikan sendiri dia masuk ke kelenteng ini. apakah kau yakin dalam waktu setengah jam ini dia mampu membunuh ratusan orang yang berkepandaian tinggi?" “Soalnya tidak terletak pada waktu." Membesi wajah Thian-thay-mo-ki.com/ "Apa maksudmu?" "Te-gak Suseng memang dugal dan nyentrik.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Aku berani menjadi saksi bahwa bukan dia pembunuhnya. seluk beluk urusan ini pasti akan terbongkar. namun dia bukan laki-laki rendah yang tidak punya rasa tanggung jawab. katanya murka.

" sela orang di dalam tandu......Tiraikasih Website http://kangzusi.. hal itu takkan kulupakan...” "Kenyataan belum membuktikan bahwa dialah pembunuhnya bukan?" "Hanya dia yang ada di sini..... dengan rasa iba Thian-thay-mo-ki mengawasinya lalu berkata kepada si gadis baju merah: "Nona... kutanggung . namun jiwa ratusan orang . keadaannya mirip dengan yang lain-lain...com/ Badan Te-gak Suseng tampak bergerak-gerak. orang yang baru saja mati ini... "Sam-ci-ciat!" orang di dalam tandu berseru kaget." "Kau tidak setimpal untuk menanggung dia . serunya. .. apakah ini tidak bisa dijadikan bukti. namun aku yakin bukan dia yang turun tangan. "Kalau dengan ini bagaimana?” Di antara jari telunjuk dan jari tengahnya terselip sebentuk batu giok yang berbentuk menyerupai hati sebesar telapak tangan bayi.. batu giok itu berlobang tiga di tengahnya.. Thian-thay-mo-ki angkat tangannya.. tentunya kau tidak lupa bahwa dia pernah menolong kau dari tangan orang-orang Ngo-lui-kiong bukan?" Berubah air muka si gadis baju merah: "Betul. coba bagaimana kau akan menjelaskan?" "Aku tidak perlu menjelaskan..

"Kau .. .. mengingat benda ini... kutanggung menggusur dia kehadapanmu... "Baik...Tiraikasih Website http://kangzusi. tiba-tiba dia banting kaki terus membungkuk dan hendak memanggulnya ..." "Hiat-tonya yang tertutuk ...... persoalan sementara sampai di sini dulu.....” "Kalau kelak dapat dibuktikan bahwa Te-gak Suseng ada sangkut pautnya dengan pembunuhan ini. namun urusan belum selesai .'' Terunjuk perasaan serba salah pada wajah Thian-thay-mo-ki...... kau murid beliau?” "Betul!" Berdiam sesaat lamanya...com/ "Betul kau kenal benda ini?" jengek Thian-thay-mo-ki dingin.. lalu terdengar orang di dalam tandu bersuara berat.. boleh kau membawanya pergi. Tak terduga pada saat itu pula tiba-tiba Te-gak Suseng membuka mata...” “Sudah dibebaskan." "Baik. kalau tidak tentu jiwanya sudah melayang sejak tadi. sesaat dia bungkam.. terserah kau menghukumnya.

Bulan sabit menghiasi angkasa. dia merangkak bangun dengan sempoyongan. Dengan tatapan dingin Te-gak Suseng menyapu pandang semua orang yang hadir. Thian-thay-mo-ki melenggong. lukamu tidak ringan. lalu dia tatap pula muka si gadis baju merah sebentar. Thian-thay-mo-ki mengintil di belakang Te-gak Suseng.” Lalu dengan langkah sempoyongan dia beranjak ke pintu kelenteng.com/ "Jangan kau sentuh aku.Tiraikasih Website http://kangzusi. kembali wajahnya mengunjuk perasaan benci tapi juga kasihan. "Kebaikanmu ini akan terukir dalam hatiku. angin malam terasa dingin mengiris kulit.ki dan berkata." katanya dengan suara gemetar. akhirnya dia berkata. berobat dulu lebih penting. cakrawala remang-remang kebiruan. "Dik. dengan tangan menyanggah tanah. mulut sudah bergerak namun urung bicara. bintang-bintang bertaburan." . habis itu baru berputar kepada Thian-thay-mo. entah berapa jauh mereka berjalan.

cepat sekali bayangannya menghilang ditelan kegelapan malam. kalau tidak." Dengan mendongkol Thian-thay-mo-ki melerok ke arah Te-gak Suseng. "Terima kasih atas perhatianmu. rasanya Cayhe tahu cara bagaimana harus mengurus diri. lalu beranjak masuk ke hutan." "Te-gak Suseng. mungkin dia tak kuat bergerak lagi. luka dalam yang parah. sungguh tak tertahankan lagi. "kau kira aku ini betul-betul perempuan rendah? Hm!" Dengan murka dia terus putar badan dan berlari pergi. namun dia merasa sebal berhadapan dengan tingkah laku orang yang genit. ia tahu isi hati orang.com/ Betapapun dingin dan kaku sikap Te-gak Suseng. Cayhe tak ingin bikin repot kau. akhirnya terharu juga akan kebaikan orang. katanya sambil menghentikan langkah. "Kau tidak sudi bergaul bersamaku?" "Bukan begitu. Sekarang ." seru Thian-thay-mo-ki marah-marah. ditambah siksa tutukan jalan darah yang terbalik. Dia geleng-geleng kepala. Sekarang boleh silakan pergi saja. katanya dingin. namun urung. Te-gak Suseng ingin memanggil dan memberi penjelasan. Cayhe tidak suka terlalu banyak utang budi. untunglah wataknya yang keras tetap bertahan.Tiraikasih Website http://kangzusi.

tenaga seolah-olah sudah habis sama sekali. tulang sekujur badan serasa retak dan terlepas dari ruasnya. malah mungkin nyawa bisa melayang. sebelum jiwa Te-gak Suseng direnggut pukulan telapak tangan bayangan besar itu. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya baru dia dapat tiba di dalam hutan. seakan-akan sedang memikirkan sesuatu. Dalam keadaan seperti Te-gak Suseng ini. pusatkan pikiran untuk bersamadhi. urusan lain harus dikesampingkan dulu. Dia tenangkan diri mengatur napas lalu keluarkan dua butir obat dan ditelannya. cukup sedikit sentuh dengan tutukan jari saja akan membuatnya celaka.com/ yang penting mengobati luka-luka.Tiraikasih Website http://kangzusi. Tiba-tiba sesosok bayangan orang yang besar bagai setan menyelinap ke luar dari dalam hutan. lalu melompat dekat ke arah Te-gak Suseng. maka apa yang terjadi di sekelilingnya tidak dilketahui sama sekali. Pada detik-detik genting itu. . Saat-saat genting tengah dicapai dalam latihan Te-gak Suseng yang sedang samadhi ini. Bayangan orang itu tiba-tiba angkat tangan memukul batok kepala Te-gak Suseng. tahu-tahu orang itu menghentikan tangan di tengah udara. di luar dugaan. lama sekali baru kembali dia ayun tangannya. pelan-pelan ia pejamkan mata. lalu duduk di bawah sebuah pohon. matanya menyapu keadaan sekelilingnya. kalau tidak Cauhwe-jip-mo dengan badan cacat.

tuan ini orang kosen dari mana?" Ternyata setelah tinggal pergi dengan rasa dongkol.Tiraikasih Website http://kangzusi. siapa diriku kau tidak perlu tahu. kebetulan bayangan aneh yang hendak membunuh Te-gak Suseng ini kepergok olehnya. sebaliknya siapa orang itu Thian-thay-mo-ki tidak tahu. "Siapa?" hardiknya. maka dia hanya tertawa dingin dan berusaha memancing bayangan misterius itu. kelihatan bayangan mis¬terius ini adalah seorang berjubah sutera dan berkedok. Orang berkedok itu berkata dengan menyeringai: "Budak. Di bawah sinar bulan sabit yang remang-remang menembus dari sela-sela dedaunan. yang terang kau takkan bisa pergi dengan hidup. “Hm. "Betul. maka diam-diam dia putar balik. Bahwa namanya sendiri diketahui orang. Thian-thaymo-ki tidak tega meninggalkan Te-gak Suseng dalam keadaan sepayah itu.com/ "Heh!" tiba-tiba terdengar suara orang mendengus. reaksi bayangan orang itu teramat cepat dan sukar dilukiskan.g. Dari balik pohon sana„ melompat ke luar sesosok bayangan langsing. Thian-thay-mo-ki " jengek bayangan orang tadi. Kuatir mengganggu Te-gak Susen." . secepat kilat dia menubruk ke arah datangnya suara. mau tidak mau ia merasa ngeri namun tetap waspada.

tapi dia tidak suka padamu. namun tuan kan tidak perlu membunuh dan menutup mulutku .” "Ha ha ha. memangnya kenapa? " tanyanya. membunuh dia berarti memberantas kejahatan di Kangouw." Tegak alis lentik Thian-thay-mo-ki..Tiraikasih Website http://kangzusi. lalu apa tujuannya hendak membunuh Te-gak Suseng? Meski tahu takkan memperoleh ...com/ Thian-thay-mo-ki terkikik... cukup asal kuanggap perlu membunuhmu. kalau membunuh orang tentu punya alasan... kenapa sekarang putar balik lagi?" Berubah air muka Thian-thay-mo-ki. semua korbannya tidak meninggalkan bekas-bekas luka. kau naksir dia. perempuan jalang... "Lantaran aku mengganggu tuan membunuh Te-gak Suseng?" "Anggaplah betul ucapanmu. barusan kau pergi dengan marah-marah. agaknya bayangan misterius ini mengetahui apa yang telah terjadi. "Tidak apa-apa" "Manusia durjana sekalipun." "Omong kosong." "Te-gak Suseng bertangan gapah. Katanya. kau kira orang macam apa diriku ini. untuk membunuhmu tidak perlu pakai alasan segala.. "Lho.

apakah tidak malu melakukan perbuatan rendah . mustahil kalau lawan tidak terluka.com/ jawabnya.. baru pundak orang bergerak.. "Agaknya tuan malah yang berminat?" "Sudah tentu." "Oh. gerakannya secepat kilat. juga baik.” "Kau keliru. kau takut kalau sebentar dia siuman. dalam Bu-lim tentu punya kedudukan penting.. Kau hendak mengulur waktu... Tapi orang berkedok acuh tak acuh seperti tidak terserang apaapa. yang terang kalian harus samasama mampus.. kau bukan tandingannya?" "Terserah apa yang kau duga. beberapa tombak sekelilingnya bisa dicapainya. jarum rahasianya ini selembut bulu kerbau.. hujan jarum itu . aneh lagi. apa lagi jarak kedua orang begini dekat. Namun Thian-thay-mo-ki waspada dan siaga. bukan? He he he .. Maka dengan tertawa menggiurkan dia berkata." "Dari perawakan tuan tentunya bukan sebangsa manusia rendah." di tengah tawa dinginnya. aku tidak pedulikan segala peraturan.. tahu-tahu tangannya mencengkeram kearah Thian-thay-mo-ki. dia ayun tangan.Tiraikasih Website http://kangzusi.. segenggam jarum segera dia taburkan. gerak tangannya tetap mencengkeram.. dia berharap Tegak Suseng lekas bangun dari samadhinya. namun bisa mengulur waktu.

kalau terlambat diobati.. terluka oleh jarum-jarum saktinya.Tiraikasih Website http://kangzusi. yaitu Siok-li-sin-ciam (jarum gadis suci) yang bisa nyusup ke badan manusia mengikuti aliran darah. Orang berkedok itu terloroh-loroh. Selama dia berkelana baru pertama kali ini dia kebentur seorang yang tidak takut.. "Sayang sekali kalau kubunuh begini saja.. jarum akan merusak jantung orangnya binasa. makhluk seayu ini. namun pergelangan tangan Thian-thay-mo-ki juga terpegang oleh lawan. dan lebih menakutkan lagi bahwa jarum-jarum yang mengenai badan orang itu tahu-tahu sama rontok berjatuhan..” . Sedikit orang berkedok itu kerahkan tenaga seketika Thian-thaymo-ki merasa sekujur badannya lemas lunglai. kenapa tidak kunikmati dulu. seketika kecut perasaannya.com/ sebagian besar mengenai badan orang. sungguh luar biasa dan sukar dibayangkan.. matanya memancarkan sinar jalang serta merta terasa oleh Thian-thay-mo-ki akan maksud jahat orang. lalu gumamnya dengan suara berat. sorot matanya yang bernafsu menjelajah seluruh badan orang yang padat berisi. bahwa jarum-jarumnya itu adalah senjata rahasia yang terkenal ganas dan ditakuti persilatan. Dengan sebelah tangannya orang berkedok mengusap wajah Thian-thay-mo-ki.. tenaga murninya tak mampu dikerahkan lagi. Serasa terbang sukma Thian-thay-mo-ki saking kaget.

kemudian bersenang-senang dengan kau. lepaskan tanganku... Orang berkedok itu lalu menghampiri Te-gak Suseng yang masih samadhi itu.. tentunya julukannya ini bukan diperolehnya secara gampang... . Kata orang berkedok dengan tawa lebar.. kenyataan akan membuktikan. namun Soal hubungan laki perempuan tanggung nomor satu di dunia ini..." "Tidak bisa. "Kalau begitu .. “Ilmu silatmu akan kupunahkan dulu." ujar orang berkedok itu lalu cekakak seperti orang gila... katanya pula." lalu ia seret Thian-thay-mo-ki ke arah Te-gak Suseng.. ha ha ha ha.... memangnya aku tidak tahu apa yang terkandung dalam hatimu? Hahaha . "Apa benar?" tanyanya.." Tiba-tiba jari telunjuknya bergerak. diriku tidak gampang dipermainkan... badanpun gemetar. Thian-thay-mo-ki terhuyung-huyung jatuh terduduk tak mampu bergerak lagi. cepat dia ubah sikap dan unjuk tawa genit dengan aleman. Tapi dia berjuluk Mo-ki (iblis genit). "Rase genit. "Sudah tentu..!" Gelak tawa yang penuh nafsu birahi itu menyentak sanubari Thian-thay-mo-ki.com/ Pucat pias muka Thian-thay-mo-ki. walau aku sudah setengah baya.Tiraikasih Website http://kangzusi... sekarang kubereskan anak keparat ini. Kau tidak percaya? Sebentar boleh kau buktikan.

"Blang. lingkaran selanjutnya sudah saling susul menjadikan taburan .Tiraikasih Website http://kangzusi. teriak orang berkedok kaget. Hampir dalam waktu yang sama. namun benda berkilau itu seperti benda hidup layaknya. Sigap sekali orang berkedok itu membalik badan. kontan dia ayun tangannya menyapu. Badan Te-gak Suseng terbanting keras dan tidak bergerak mungkin jiwanya sudah melayang.” Thian-thay-mo-ki juga terpental balik. dengan muntah darah Te-gak Suseng terpukul mencelat beberapa tombak jauhnya. kebetulan dia menampak kedatangan Thian-thay-mo-ki. tahu-tahu melingkar balik terus berputar-putar satu lingkaran. sebuah benda. "Hebat juga rase genit ini. Sebat sekali dia berkelebat menyingkir. Seakan-akan menyala kedua biji mata Thianthay-mo-ki. dua lingkaran dan seterusnya. belum lingkaran pertama lenyap. tahu-tahu dia melompat berdiri dengan gerakan gemulai terus menubruk ke arah orang berkedok.com/ Hakikatnya Te-gak Suseng tidak menyadari bahwa elmaut tengah mengancam dirinya. "Cit-sian-hwi-yim!”. "ternyata kau tidak mempan tutukan. berkilauan tibatiba menyambar orang berkedok itu. dengan bersuara heran.” dengus orang berkedok. jari tengahnya tiba-tiba menutuk beberapa Hiat-to di badan sendiri. terdengar jeritan seram yang menggetarkan sukma." Thian-thay-mo-ki ayun tangan.

pada saat senjata rahasia Thian-thay-mo-ki ditimpukkan. pisau melengkung itu akhirnya jatuh di atas tanah." teriak Thian-thay-mo-ki geram. jelas sekali batok kepalanya tergores luka selebar tiga senti. "Rasakan sekali lagi.com/ sinar bundar laksana jala yang ketat dengan mengeluarkan desis angin kencang. pukulan dahsyat lawanpun sudah mendampar tiba "Blang". Dilihatnya darah meleleh dari mulut dan hidungnya. tertampak kain kedok kepala orang berkedok tadi basah oleh darah. berkelebat bayangannya lantas lenyap. Gerakan orang berkedok ternyata bagai setan berkelebat di tengah-tengah kepungan jala bersinar tajam itu. Pisau terbangnya yang melengkung itu sempat berputar di tengah udara. kontan dia terguling roboh. . "Perempuan sundel. siapa takkan kaget dan takut. kembali dia ayun tangannya. boleh kau menjadi pasangan di alam baka dengan anak keparat itu. namun bayangan orang berkedok sudah berkelebat di luar jangkauan lingkaran cahaya terang itu." Habis berkata. sejenak dia termenung berkata dingin. Setetah melingkar tujuh kali. Tapi orang berkedok bergerak lebih cepat. bagai kilat menyamber tahu-tahu orang berkedok itu sudah melejit ke atas seraya memukul dengan kedua tangannya. Tiba-tiba terdengar mulutnya menggerang cahaya terangpun seketika kuncup. Orang berkedok mendekati Thian-thay-mo-ki. jelas napasnya sudah terhenti.Tiraikasih Website http://kangzusi. belum sempat Cit-sian-hwi-yim (pisau terbang) di lepaskan.

. kemudian teriaknya dengan mendelik.. salah seorang coba melangkah maju pula.." Serta merta keduanya menyurut dua langkah. sesaat mereka mematung. siapakah pembunuhnya?" . "Te-gak Suseng. itulah Thian-thay-mo-ki. di sana juga ada . "Hah. "Lihat.. kenapa mereka sama-sama mampus dalam hutan ini.” "Aneh. Setengah jam telah berlalu.Tiraikasih Website http://kangzusi. apa itu?" Bergegas mereka melompat maju. "Sudah mati!" "He. bocah itu!” "Siapa?" tanya temannya. dia ulur tangan menyentuh badan orang. tiba-tiba satu diantaranya menjerit kaget. setelah ditunggu tiada gerak apa-apa. hanya suara keresekan daun pohon yang tertiup angin sehingga kesunyian mencekam perasaan. seorang yang lain juga berteriak.. dua orang laki-laki berbaju hitam memasuki hutan untuk meronda. dia juga mati.com/ Suasana dalam hutan hening lelap. Setelah longok sana longok sini.

Memangnya orang mati mampu membunuh orang? Tahu-tahu ......" "Li Ji. dia kan sudah mati.... Li Ji terbanting roboh celentang.Tiraikasih Website http://kangzusi.... kau ingin mampus. Laki-laki berbaju hitam yang lain serasa copot nyalinya. keparat kau ini.. "Waaaah!" jeritan panjang yang seram dan mengerikan memecah kesunyian.” "Kenapa?" "Hehe ... coba lihat.” "Tutup mulutmu.." "Memangnya kau hendak memperkosa mayatnya?" "Ah. jangan terpikat paras cantik..." "Lo-ong. untuk mencium pantatnya saja jangan kau harap . jiwanya melayang seketika......com/ "Mungkin dia orang tua .. berani cerewet!" "Hihi. kepalanya pecah mukanya hancur. tapi merabanya saja kan boleh?" orang berbaju hitam yang dipanggil Li Ji lantas mendekati Thian-thay-mo-ki terus berjongkok dan mengulur tangan...sungguh . nona yang begini menggiurkan.. sungguh membuatku tak tahan lagi.. terus terang. di kala dia masih hidup. tidak....... meski sudah tidak bernyawa .

"Apakah kau ti .. sekali dia tepuk telapak tangannya. biar kuhapus saja nama julukanku. Seperti dikejar setan laki-laki berbaju hitam itu segera lari lintang pukang. tidak mati? Tapi." Habis kata-katanya itu. kontan dia jatuh terkulai..com/ Thian-thay-mo-ki melompat bangun dengan gaya yang menggiurkan. kalau Thian-thay-mo-ki gampang mati.. kau setan atau manusia?" "Berapa jauh terpautnya antara setan dan manusia?" ujar Thianthay-mo-ki dingin.. Kaki terasa lemas. jelas tadi kau sudah tak bernapas?" "He he.. Noda darah masih meleleh dari hidung dan mulutnya. mulut terpentang dan megap-megap tak mampu bersuara.. bulu kuduknya berdiri semua. .Tiraikasih Website http://kangzusi. tahutahu seorang membentak dingin di hadapannya. "Berhenti!" Bergidik dan gemetar sekujur badan laki-laki berbaju hitam itu.. sekian lamanya baru dia berteriak serak. yang mencegat di tengah jalan kiranya Thian-thay-mo-ki. laki-laki berbaju hitam menjerit terus roboh binasa. beberapa langkah lagi dia sudah tiba di pinggir hutan.. "Kau.

tanyanya. “Beginikah kau mengakhiri hidupmu?" Sambil bicara dia duduk bersimpuh tangannya terulur . Bagaimana perempuan ini berada di dekatnya sedikitpun tidak disadarinya.Tiraikasih Website http://kangzusi..” Thian-thay-mo-ki melengak..com/ Bergegas Thian-thay-mo-ki berlari masuk hutan menghampiri Tegak Suseng. air mata tak tertahan lagi bercucuran.. kenapa? Siapakah petempuan ini? Dengan hambar dia lantas bertanya. "Jangan sentuh dia!" Tiba-tiba sebuah suara dingin berkumandang di belakangnya. dari sini dapatlah dibayangkan bahwa kepandaian silat orang ini cukup tinggi. “Siapakah Cianpwe ini?" "Namaku tidak perlu disebut lagi. Dilihatnya seorang perempuan setengah umur berwajah welas asih berdiri di sampingnya. Perempuan yang muncul mendadak ini juga melarang dirinya menyentuh jenazahnya. mulutnya menggumam sambil sesenggukkan.. Dengan kaget lekas Thian-thay-mo-ki tarik tangannya seraya meloncat berdiri.. . Kini teringat olehnya bahwa Te-gak Suseng pernah mencegah dirinya menyentuh tubuhnya.

ini membuat Thian-thay-mo-ki tidak sabar..” "Cianpwe pernah apa dengan dia?" "Ah. "Seorang berkedok telah memukulnya mati di saat dia bersamadhi. "Cianpwe kenal dia?" "Bukan saja kenal.com/ "Kenapa Cianpwe melarang aku menyentuhnya?" Tidak menjawab pertanyaannya. bukan saja Te-gak Suseng tidak menyintai dirinya. tak perlu dibicarakan lagi. memang sulit diraba. dia . "Kasihan!" Dengan terbelalak Thian-thay-mo-ki mengawasi. tanyanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun dia benar-benar menaruh hati kepadanya.” Jawaban yang tak karuan. katanya pilu. dua butir air mata menetes.. dia sendiri tidak habis . dengan jari-jari tangannya yang halus putih meraba sekujur badan Te-gak Suseng. perempuan itu malah maju mendekat.. malah bersikap kasar.." Perempuan setengah umur itu menghela napas penuh rasa iba... Tak tahan Thian-thay-mo-ki berkata. Perasaan manusia.

pendek kata Te-gak Suseng sudah menambat hatinya. Kalian ... atau mungkin Te-gak Suseng memang laki-laki yang patut dicintai setiap perempuan..... "Aku akan menuntut balas.. semua ini seperti sebuah impian belaka yang berakhir dengan tragis." ujar Thian-thay-mo-ki getir. Tak tertahan tercetus sumpahnya. "Kau .... Mungkin karena watak mereka ada titik persamaannya." ." "O.. "Kami hanya bersua secara kebetulan saja. barusan kelihatannya kaupun sudah mati ... apa pula yang harus kukatakan." Perempuan setengah umur mengawasi Thian-thay-mo-ki dengan tertegun. kau ingin menuntut balas? Kukira sulit sekali.com/ mengerti kenapa dirinya kasmaran terhadap laki-laki berlengan buntung yang baru dikenalnya ini.." "Siapakah gurumu?" "Aku dilarang menyebut nama beliau.” "Tiada hubungan apa-apa. inilah karma. tanyanya kemudian.." "Cianpwe tahu siapa laki-laki berkedök itu?" "Ai.” "Tapi aku hidup kembali.Tiraikasih Website http://kangzusi. Kini dia sudah meninggal...

. serunya gugup... kenapa?" tanya Thian-thay-mo-ki." "Belum saatnya mati. "Apakah sesuatu itu?" ... lalu katanya sedih. 2. tapi aku .." "Kenapa?" "Hanya sesuatu saja dalam langit ini yang mampu menghidupkan nyawanya. tanyanya.5. "Jadi dia masih punya harapan hidup?" "Ya.. hanya berpeluk tangan saja. Balasan Pengorbanan Darah Tergerak hati Thian-thay-mo-ki. "Daya hidupnya belum pudar..” "Perempuan itu menjawab ragu-ragu. hanya mati yang mengakhiri semua dendam.. sayang sekali .Tiraikasih Website http://kangzusi." Bersinar biji mata Thian-thay-mo-ki. "Memang sudah nasibnya. Ai.....com/ Kembali perempuan setengah umur meraba-raba sekujur badan Te-gak Suseng. mestinya belum saatnya dia mati ..

.” "Cobalah Cianpwe katakan benda apakah itu?” pinta Thian-thaymo-ki. obat mujarab yang ada di dalam dongeng. katanya tersedu-sedu. aku tak bisa lama di sini..com/ "Ah. Bercucuran pula air mata perempuan setengah umur.” "Sek-liong-hiat-ciang . sikapmu memberitahu kepadaku akan hubungan kalian.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Pelan-pelan dia berdiri lalu berdoa. "Nona." kata-kata selanjutnya tertelan oleh sedu sedannya.... Tapi dia tidak memperoleh jawaban... Sek-liong-hiat-ciang!” gumam Thianthay-mo-ki dengan haru dan kegirangan. Benda pusaka tak bisa diperoleh secara paksa. tahu-tahu bayangannya sudah menghilang. "Sek-liong-hiat-ciang (darah naga batu). sekarang aku hendak pergi. akhirnya dia berkertak gigi dan ambil keputusan. "Nak. tunggu dulu!" teriak Thian-thay-mo-ki. kupikir kau sudi menguburnya dengan selayaknya. . apalagi daya hidupnya hanya bertahan sebentar lagi. maafkan aku. jangan kau sentuh badan bagian kiri.. tak usah kukatakan. Terpaksa Thian-thay-mo-ki duduk di samping mayat Te-gak Suseng.. perempuan setengah umur pergi dan datang secara mendadak. "Cianpwe. Tapi ingat... aku . Sekali berkelebat. lama dia terlonggong..

Dia singkap lengan bajunya. Untung perempuan itu menyinggungnya." gumamnya. gumamnya: "Agaknya memang sudah takdir. kalau tidak. Sungguh bukan kepalang girangnya. Setengah jam kemudian.Tiraikasih Website http://kangzusi. Thian-thay-mo-ki menarik napas panjang. betul-betul terasa hembusan hangat dari lubang hidung. Setelah istirahat sekian lama. setelah kucek mata dia pandang lagi lebih jelas terlihat dada orang bernapas turun naik dengan teratur. Te-gak Suseng sudah menelan puluhan teguk darahnya. Apa boleh buat dia menghela napas putus asa. Dia sangka pandangnya kabur. namun teringat akan peringatan perempuan tadi.” Tapi pada saat itulah.com/ "Baik akan kucoba. dilihatnya tubuh Te-gak Suseng tetap kejang dingin tidak menunjuk sesuatu perubahan. cucuran darahnya segera di teteskan ke mulutnya. tiba-tiba dilihatnya badan Te-gak Suseng mulai bergerak. lalu meraba hidungnya." begitulah dia menggumam sendiri dengan suara gemetar. "Dia hidup kembali Sek-liong-hiat-ciang betul-betul bisa menghidupkan orang yang sudah mati. kematiannya tentu amat 'penasaran. ia menghentikan tetesan darahnya terus bersimpuh istirahat. Wajahnya nan ayu bak . Cepat tangannya yang lain menyanggah dagu Tegak Suseng sehingga mulutnya terpentang. lekas-lekas dia tarik tangannya pula. Kenapa sebelum ini tidak teringat olehku. darah segar segera mengucur keluar. Segera ia hendak meraba dada orang. dengan kuku jarinya yang panjang runcing dia gores lengannya yang putih halus.

"Oh. katanya." ia mengeluh dalam batin. dengan sendirinya ingatannya lambat launpun menjadi jernih. tetap akan menjadi teka-teki bagi dirinya. sudah tentu Te-gak Suseng yang belum siuman itu tidak tahu. Tiba-tiba Te-gak Suseng membuka kedua mata. sebelah tangannya menyanggah tanah. Sebetulnya Thian-thay-mo-ki bisa salurkan hawa murninya membantu orang siuman lebih cepat. Sungguh bukan kepalang senang hati Thian-thay-mo-ki. ia bangun berduduk. Bintang-bintang sudah buram. dia. remang-remang dilihatnya seseorang bersimpuh di sampingnya. Kenapa dia dilarang menyentuh badan bagian kiri. hawa dingin semakin menusuk tulang. kau kau akhirnya hidup kembali. lama sekali dia masih dalam keadaan setengah sadar. Akhirnya menjadi jelas juga penglihatannya. dan di mana letak rahasia Te-gak Suseng yang membunuh orang tanpa meninggalkan bekas luka-luka.com/ bunga mekar menampilkan perasaan yang aneh. terpaksa dia menahan sabar menunggu reaksi selanjutnya. Alam pikirannya masih kabur. tapi teringat pada peringatan perempuan itu. Sang waktu berjalan lambat di dalam penantian yang menggelisahkan. "Dik. hari sudah mendekat fajar.” .Tiraikasih Website http://kangzusi.

" "Hm.. lantas kupancing dia pergi.” "Berjubah sutera dan mengenakan kedok? Lalu bagaimana?" “Kebetulan aku datang waktu dia hendak memukulmu. dan selanjutnya?" "Dia meringkus aku.. tadi kau sudah mati sekali. "Benar." "Apa yang terjadi?" "Waktu kau bersamadhi. aku hidup kembali?" ia menegas. namun tahu-tahu diserang orang dan apa yang terjadi selanjutnya tidak diketahui.. Ucapan ‘hidup kembali’ betul-betul membuatnya kaget dan heran. menutuk hiat-toku. jarum-jarum saktiku yang keji tak kuasa melukai dia. tapi aku bukan tandingannya.com/ Terkesiap darah Te-gak Suseng. "Apa katamu. entah apa alasannya dia menyerang kau.. dia hanya ingat dirinya masuk hutan dan bersamadhi menyembuhkan luka-luka dalamnya. Untung aku bisa membebaskan diri dengan menjebol jalan darah yang tertutuk .Tiraikasih Website http://kangzusi. tiba-tiba muncul seorang laki-laki kekar berkedok dan berjubah sutera ." "Oh. orang macam apakah dia?" "Dia tak mau memperkenalkan diri..

sungguh menyentuh sanubari... Akhirnya aku menipunya dengan pura-pura mati setelah menutup Hiat-to menghentikan denyut nadi . tapi dalam waktu singkat aku bisa menyembuhkan lukaku. Semalam kau memang pernah membantuku.Tiraikasih Website http://kangzusi.. Aku tak berminat terhadap dirimu. kelak pasti akan kubalas kebaikanmu. .. "Cerita? Apa maksudmu?" Jawab Te-gak Suseng tak acuh.. "Ceritamu sudah tamat?" Berubah air muka Thian-thay-mo-ki mendengar nada pertanyaan orang yang ganjil.. aku tak sempat membebaskan tutukannya namun aku sempat melukai dengan senjataku yang lain....” "Aku .com/ hingga terluka.. meninggalkan tanda mata di atas kepalanya. "Karanganmu amat menarik.... badan gemetar wajahpun merah padam. aku membuntuti kau?" desis Thian-thay-mo-ki dengan gusar.. tapi tidak sepantasnya kau membuntuti diriku. katanya dingin." Te-gak Suseng berdiri.” "Kau tidak terluka?" "Terluka parah. serunya.. Waktu dia menyerangmu lagi.

.com/ "Laki-laki kekar berkedok dengan jubah sutera yang kau katakan itu aku kenal.....” "Dan masih ada . dia ayahmu?" "Sedikitpun tidak salah!" "Tapi dia betul-betul hendak membunuh kau.. apa yang aku katakan adalah kejadian nyata.." "Itu akan kuselidiki... banyak urusan yang harus kuselesaikan.Tiraikasih Website http://kangzusi..” "Tidak mungkin.. mungkinkah dia membunuhku? Siapa mau percaya cerita bohongmu?" "Dia .." ..” "Oh..” "Di atas kepalanya telah kuberikan tanda mata. maka jarum-jarummu tak dapat melukai dia ." kata Thian-thaymo-ki dengan suara tertekan........ mungkin dandanannya yang mirip ayahmu.” "Ketahuilah. terserah kau mau percaya. tiada tempo buat ngobrol disini......” ''Cukup sekian saja.. kau . Dia mengenakan Thian-hian-ih (baju sutera langit) yang tidak takut api air dan segala macam senjata tajam. "Te-gak Suseng. malah erat hubungannya dengan aku. dia adalah ayahku..

"Kalau tidak kubunuh kau. kau binatang berdarah dingin. tidak punya perikemanusiaan .. "Te-gak Suseng. matanya merah. aku bukan manusia.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Sebetulnya Thian-thay-mo-ki hendak mengisahkan munculnya perempuan setengah umur itu.” "Anggaplah begitu. tak nyana begini kasar dan tak kenal budi perlakuan yang diterimanya. Bergontai badan Thian-thay-mo-ki yang padat semampai..” o0o Sementara itu Te-gak Suseng tengah berlari. teriaknya beringas. katanya. tiba-tiba dia membanting kaki. selamat berpisah. dia tak suka bermuka-muka kepada orang lain.. Betapa benci dan dendam hatinya sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata. serta mendengar ucapan orang yang tak kenal budi amarahnya jadi memuncak. matanya mendelik memancarkan kebuasan." jengek Te-gak Suseng. ia mengakui bahwa sikapnya rada keterlaluan terhadap Thian-thay-mo-ki. dasar wataknya memang nyentrik dan kaku.. Setelah terlongong sekian lamanya. dengan darah sendiri dia menolong jiwa orang. ... lenyap kata-katanya bayangannya sudah berkelebat beberapa tombak jauhnya.

tiba-tiba seekor kuda meringkik berjingkrak dan berhenti di sampingnya. namun wajah orang yang kereng dan berwibawa masih diingatnya dengan baik.Tiraikasih Website http://kangzusi. hatinya seketika berdetak. Namun orang berani bersumpah dan katanya meninggalkan tanda mata di atas kepala orang itu. "Bukankah kau ini Ji Bun. selama dia mengembara. Serta merta dia angkat kepala. Walau beberapa tahun tak pernah bertemu. belum pernah dia menyebut nama sendiri. seorang tokoh yang di segani pula di daerah Tionggoan.” Kejutnya bukan kepalang.com/ Betapapun cerita Thian-thay-mo-ki tentang orang berkedok yang hendak membunuh dirinya sudah menggores dalam lubuk hatinya. lekas dia menyingkir ke pinggir. lalu melanjutkan perjalanan. si hartawan terkaya di Kayhong. Kalau betul. Ia anggap demi mencapai cita-citanya sengaja Thian-thay-mo-ki mengarang cerita bohong ini. . seseorang berseru. ternyata yang menegur adalah Ciang Wibin. maka orang berkedok itu pasti penyamaran seseorang jahat yang punya tujuan buruk. Te-gak Suseng mencuci muka di sebuah sungai kecil. Malam berakhir dan fajarpun menyingsing. hal inilah yang perlu dia selidiki kebenarannya. memangnya pernah terjadi dalam dunia ini seorang ayah membunuh anak kandungnya sendiri? Siapapun tiada yang mau percaya. terutama jenggot orang yang menjuntai panjang di depan dada. membersihkan noda-noda darah di bajunya. Tiada seorangpun kaum persilatan yang tahu nama aslinya. Setiba di jalan raya kebetulan dilihatnya beberapa orang penunggang kuda mendatangi. karena semua itu tidak mungkin terjadi.

.” "Salah latihan.. apakah ayahmu baik-baik saja belakangan ini?" tanya orang tua itu. entah orang sudah tahu belum akan hal ini? Bagaimana kalau ditanyakan... kau .com/ Ribuan li ditempuhnya hendak melamar puteri orang she Ciang ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Keponakan bodoh Ji Bun memberi salam hormat kepada paman Ciang... tentu serba runyam dan memalukan.." "Dalam sekejap enam tahun sudah berselang. mana boleh jadi?" .. "Berkat doa paman.. sahutnya dengan kebat-kebit... Delapan Centing di belakangnya beramai-ramai ikut turun pula.. Maka dengan tersipu-sipu dia memberi hormat. "Paman ada petunjuk apa?" "Lengan kirimu . beliau sehat-sehat saja. terpaksa dibuntungi..” Tanpa sadar Te-gak Suseng Ji Bun menyurut mundur. "Hiantit (keponakan baik). Hiantitpun sudah dewasa." "Dibuntung." Ciang Wi-bin tergelak-gelak sambil melompat turun.... eh. lantaran si gadis berbaju merah itulah sehingga dirinya berubah niat semula.

... jantungnya berdebar-debar. "Di samping melancong untuk menambah pengalaman. maksudnya supaya kau memperdalam Ilmu sastra tanpa belajar silat. bagaimana mungkin .com/ Ji Bun tidak menjawab... ia kuatir orang tanya berbelit-belit." berkelebat sorot matanya mengawasi Ji Bun. Berubah roman Ciang Wi-bin mengawasi lengan kiri Ji Bun yang kosong melambai..." Tiba-tiba seorang menjerit kaget diantara para Centing itu dan berseru: "He. tak nyana dia telah berubah haluan ... sambil menyelesaikan . "Ayahmu dulu menamakan kau `Bun` (sastra).... pasti dia inilah...." "Jadi kau juga belajar silat?" Ji Bun mengiakan sambil mengangguk.. katanya dangan nada rendah. menyelesaikan suatu urusan. "Kenapa Hiantit datang ke Kayhong seorang diri?" Ji Bun menjawab dengan suara tergagap... sebetulnya. "Bagaimana mungkin.Tiraikasih Website http://kangzusi.." "Maksud ayah supaya keponakan belajar silat untuk jaga diri.. gumamnya..” ..

. "ada apa berteriak-teriak. akhirnya ia berterus terang. "Jadi hiantit inikah Te-gak Suseng yang dimaksud itu?" Ji Bun tergagap." Lekas centing itu menunduk. "Betul!" Bergetar jenggot panjang Ciang Wi-bin. sahutnya takut-takut." Bertaut alis Ciang Wi-bin. julukan ini sama buruk dan jahatnya seperti setan iblis.com/ "Kurangajar. tanyanya gemetar. beberapa kali dia menyapu pandang ke arah Ji Bun." bentak Ciang Wi-bin sambil menoleh." "Tokoh macam apa dia?" tanya Ciang Wi-bin.Tiraikasih Website http://kangzusi... tiba-tiba teringat seorang tokoh Kangouw yang belakangan ini amat menggemparkan. Wajah dan dandanan yang dilukiskan itu mirip benar dengan Ji-kongcu. "Hamba . Te-gak Suseng. "Gelarnya adalah Te-gak Suseng!” "Apa? Te-gak Suseng?” "Ya.. . sesaat lamanya dia tak bersuara.. mohon ampun akan kesemberonoan hamba.

namun sekarang adalah laki-laki yang buntung lengannya. Hal ini terasa sangat menguntungkan dan melegakan hatinya malah. "Kalau begitu pergilah. Berhadapan dengan calon mertuanya.. dengan senyuman kecut.com/ Tokoh yang biasanya bertindak jujur dan terus terang ini betulbetul sangat kaget dan keheranan." Ciang Wi-bin menatap sesaat lagi. membunuh orang tanpa meninggalkan bekas." "Kau tidak mampir dulu ke rumahku?" "Lain hari sajalah. ujarnya." Lekas Ji Bun memberi hormat terus melangkah pergi dengan perasaan enteng. Sungguh tak pernah terpikir o!ehnya bahwa calon menantunya ternyata adalah Te-gak Suseng yang terkenal jahat dan kejam. "Kalau paman tiada petunjuk. katanya. perasaan Ji Bun seperti duduk di atas jarum. .. keponakan mohon pamit saja. mulutnya sudah terbuka hendak bicara. tidak heran Ciang Wi-bin kelihatan bimbang dan tidak menyinggung soal pernikahan dirinya dengan puteri tunggalnya.. namun urung. dirinya adalah seorang pemuda cakap. akhirnya dia mengulap tangan.Tiraikasih Website http://kangzusi. Enam tahun yang lalu.

Tergerak hati Ji Bun.Tiraikasih Website http://kangzusi. tanpa terasa dia tertawa geli sendiri. Bergegas dia berlompatan ke sana memburu ke arah lenyapnya tandu berhias itu. Sang surya sudah tinggi di tengah cakrawala. bagaimana perasaannya sekarang.com/ Bayangan si gadis baju merah nan molek selalu terbayang di depan kelopak matanya. dia sendiri tidak tahu. ia berdiri melenggong sejenak. Dia tahu belum saatnya sekarang dia menuntut balas. Dan yang lebih penting adalah dia tidak bisa melupakan si gadis berbaju merah itu. Setelah me. tahu-tahu ia menyadari dirinya berada di tengah ladang belukar yang jarang diinjak manusia. langkah kedua pemikul tandu kecil itu ringan dan cepat. namun rasa penasaran dan dendamnya tetap berkecamuk dalam sanubarinya. namun siapa dan bagaimana asal usul orang dalam tandu itu patut dia selidiki. tiba-tiba teringat olehnya tandu berhias yang dilihatnya di Ceng-goan-si. jelas mereka adalah ahli silat yang berkepandaian tinggi.nerawang keadaan sekelilingnya. kemudian ia menuju ke arah barat. di depan sana . Tiba-tiba sebuah tandu kecil yang dipikul dua orang berlalu tak jauh di depannya sana. Begitulah sambil berjalan tanpa tujuan pikirannya melayang jauh ke berbagai soal yang melibatkan dirinya akhir-akhir ini. setelah melewati semak belukar. apakah tandu ini sama dengan tandu yang diiringi gadis berbaju merah itu? Kepandaian tokoh kosen dalam tandu itu betul-betul membuat hatinya jeri dan kagum.

Setelah berpikir sejenak. jiwanya bisa terancam bahaya. Sebentar dia ragu-ragu. Apalagi di siang hari bolong begini. kalau di dalam hutan ada pos-pos penjagaan rahasia. tiada kelihatan jejak manusia. Semakin jauh semakin gelap dan dingin. Apakah markas komplotan rahasia yang sering beroperasi di Kangouw? Kalau main terjang secara gegabah. Aneh. namun tandu kecil tadi jelas lenyap ke dalam hutan ini. Tempat apakah ini? Demikian dia bertanya-tanya. Ji Bun segera mengejar masuk ke dalam hutan cemara. Setelah berpikir sejenak. pasti jejaknya sudah konangan dan akibat yang bakal menimpa dirinya harus dia perhatikan juga. akhirnya tiba di depan sebuah kelenteng. memangnya ke mana tujuannya? Agaknya ada apa-apa di dalam kelenteng bobrok ini. jarang dia menyerah pada keadaan. tertampak patung-patung pemujaan sudah tiada yang .Tiraikasih Website http://kangzusi. beberapa jauh dia harus melewati belukar berduri ini. akhirnya lapatlapat dilihatnya di depan sana ada bayangan sebuah bangunan megah. namun untuk putar balik rasanya teramat berat. Namun dasar wataknya angkuh dan suka menang. segera dia angkat langkah maju pula ke depan.com/ mengadang sebidang hutan pohon cemara. Semak-semak berduri menyulitkan perjalanannya. tandu berhias itu menyusup masuk ke dalam hutan dan lenyap. akhirnya dia melesat masuk ke dalam kelenteng.

soalnya di mana mereka menyembunyikan diri? Kenapa tidak dijaga dan membiarkan orang luar seperti dirinya terobosan kemari sesukanya? Didorong oleh rasa ingin tahu. rasa was-was seketika hilang setengah. di depannya berdiri seorang lakilaki tua berjubah hitam bertubuh kurus. serunya gemetar. meja roboh debu menumpuk. "Sahabat ini sungguh lucu. ternyata kosong tiada apa-apa. di antara semak-semak rumput yang tumbuh tinggi di pojok sana. namun dia sengaja pura-pura tidak tahu. tiba-tiba pandangannya menjadi terang. Dengan langkah tetap dia beranjak ke arah dalam. Namun jelas baginya bahwa tandu yang ini bukan tandu hias yang dilihatnya di Ceng-goan-si kemarin. Bahwa tandu ini ada di sini pasti ada penghuni dalam kelenteng bobrok ini. namun rasa heran dan curiga lantas mengetuk hatinya. laki-laki tua ini seketika berubah romannya. . tandu kecil berhias tadi tampak ada disana. Namun dari dalam tandu terendus bau wanita. kenapa terobosan ke kelenteng bobrok dan kotor ini?" Pelahan Ji Bun memutar badan. tentu adalah seorang perempuan yang naik tandu ini.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ utuh. begitu dirinya putar badan. setelah melewati balairung. maka terdengar pula suara yang menusuk menegurnya. wajahnya dingin culas. Segera dia mendekati tandu itu dan menyingkap kerai. timbul keinginannya untuk menyelidiki supaya jelas duduk persoalannya. Tiba-tiba terdengar sebuah suara lirih di belakangnya. tergerak hati Ji Bun.

"Orang naik tandu siapa?” Tegak alis Ji Bun.. katanya.... bicaralah terus terang?" ... "Jangan kau memancing kemarahanku untuk membunuhmu.” "Aku yang rendah Te-gak Suseng ....... kelenteng bobrok ." tanpa sadar laki-laki jubah hitam menyurut mundur..." "Tempat apakah ini. aku Si It-ho. sahutnya. Tidak menjawab Ji Bun malah balas bertanya.. “Siapakah tuan ini?" "Ah.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Sebuah ...” "Dimanakah orang yang naik tandu tadi?" Laki-laki berjubah hitam tertawa kering.. "untuk apa kau kemari?" tanyanya..com/ "Apakah saudara ini .” "Oh.......

Laki-laki kurus berjubah hitam mundur dua langkah dengan tajam dia tatap muka Ji Bun. tahukah kau tempat apa ini?" Sikap Ji Bun linglung seperti orang lupa ingatan.. sahutnya.. tempat apakah ini?" "Ki-po-hwe. “Pernah apa saudara dengan orang yang naik tandu ini?" "Kau tidak perlu tahu katakan saja di mana dia sekarang?'' "Maksud saudara .” "Jangan banyak omong... tangan sudah terayun hendak memukul. Ji Bun mendengus sekali.Tiraikasih Website http://kangzusi. mukanya mengunjuk rasa bingung seperti orang linglung.." potong Ji Bun. "Ini . lekas dia turunkan tangannya dengan pura-pura sempoyongan... namun pikirannya bekerja secepat kilat. “Te-gak Suseng...com/ Berubah air muka laki-laki berjubah hitam alias Si It-ho itu. tiba-tiba dia cekakak kegirangan. hanya sedikit menggerakan tangan.. seketika terendus bau harum merangsang hidung.. katanya tergagap..." . katanya. Laki-laki kurus berjubah hitam angkat pundak seraya mengusap kepalanya yang agak pelontos.

.Hwe. apakah aku ini sakit .. tahu-tahu meja besar pemujaan di depan deretan patung-patung pemujaan bergeser pelahan-lahan... tangan masing-masing menghunus senjata tajam.. pandangan matanya menjadi terang. Setiap tombak dijaga dua orang laki-laki berseragam hitam. ikutilah aku. tertampak pilar-pilar batu berderet panjang serta pintu yang berlapis-lapis.. kenapa kepalaku menjadi pusing?" "Saudara. ke ruang pemujaan. Siapa akan menyangka di bawah kelenteng bobrok ini ternyata ada bangunan di bawah tanah yang begini besar dan megah...po. muncullah sebuah !ubang yang menjurus ke bawah dengan undakan batu. Seperti orang kehilangan ingatan Ji Bun mengikuti langkah orang memasuki pintu bawah tanah ini.?” Tiba-tiba terdengar suara berisik.. .com/ "Ki. Oh.. Ji Bun mengikuti dengan langkah sempoyongan seakan-akan amat payah menggerakkan langkahnya. Para penjaga itu semua memberi hormat kepada laki-laki berbaju hitam ini. ternyata lorong panjang ini diterangi cahaya mutiara yang tertatah di dinding batu. dipandang dari luar. mulutnya menggumam. penjagaan keras dan ketat. undakan batu berakhir. Di depan pintu berbaris 12 orang yang . . Tepat di tengah-tengah pintu besar terukir deretan huruf yang berbunyi "Ki-po-hwe".. Cepat sekali mereka tiba di depan sebuah pintu besar yang gelap.. lalu dia mendahului jalan ke arah serambi." kata laki-laki kurus berjubah hitam.Tiraikasih Website http://kangzusi. Kira-kira tiga tombak kemudian. "Tuan hendak membawaku ke mana? Aneh.

"Siapa dia?" "Te-gak Suseng. "Saudara. Si-tongcu.com/ bersenjata pedang. terpaksa hamba mengundangnya kemari." "Terima perintah!" Si It-ho mengiakan. "Siau-hwe-cu (majikan muda) baik-baik saja?" Pemuda baju putih mengawasi Ji Bun." "Bagus.” sahut laki-laki kurus berbaju hitam. mari ikut aku!" . "Apa?" seru pemuda baju putih kaget. Laki-laki she Si lantas berkata. Setelah menyapu pandang pula kepada Ji Bun. Lekas laki-laki berbaju hitam memberi hormat. tanyanya. "Te-gak Suseng?" suaranya gemetar dan jeri. sapanya. wajahnya halus pakaiannya perlente. Seorang pemuda berusia 20an muncul di ambang pintu. Semua beralis tebal dan mata melotot. tak ubahnya seperti patung-patung batu. "Katanya dia mengikuti tandu. bawa dia ke kamar nomer 2 dan korek keterangannya. baru pemuda baju putih itu berlalu.Tiraikasih Website http://kangzusi.

tak jauh di depan meja berderet empat buah kursi. "Lwetong Si It-ho menghadap Hwe-cu. di sebelah kiri berdiri pemuda baju putih yang dipanggil "Siau-hwe-cu" tadi. sanggulnyapun dihiasi batu manikam. akhirnya mereka tiba di depan sebuah kamar batu yang tertutup rapat. wajahnya cantik jelita. di belakang duduk seorang perempuan setengah baya dengan pakaian mewah gemerlapan. laki-laki baju hitam mengetuk pintu tiga kali. usianya tujuh belasan. Suasana dalam ruang besar ini amat seram dan khidmat. meja yang biasanya digunakan para hakim.com/ Seperti orang linglung." "Hm. Laki-laki kurus membungkuk badan terus melangkah masuk. matanya yang tajam segera memandang ke arah Ji Bun. dengan kaku Ji Bun pandang orang serta mengikutinya masuk ke dalam. . katanya penuh hormat kepada perempuan bersolek itu. katanya. kursi ketiga di duduki seorang gadis yang bermuka kaku dengan pandangan pudar. begitu masuk mereka dihadang sebuah meja besar. suasana menyerupai hakim sedang bersidang dan gadis ayu itu menjadi terdakwa." sahut perempuan itu. Pintu besi yang besar dan berat itu lantas terbuka pelahan. Setelah melewati berlapis-lapis pintu dan ruangan. Dibelakang gadis berdiri dua laki-laki berbaju hitam sambil memeluk tangan.Tiraikasih Website http://kangzusi.

Dengan terlongong Ji Bun berdiri mematung di balik pintu. Seperti robot saja Ji Bun melangkah maju dan duduk di kursi sebelah gadis yang berdandan seperti puteri raja ini. "Kau kemari untuk dia?" tanya Ki-po-hwe-cu. "Kau boleh duduk. pintu besi yang tebal itu segera menutup pula.com/ "Tinggalkan dia di sini. "Perkeras penjagaan.6. "Kau inikah Te-gak Suseng?" Ji Bun hanya sedikit mengangguk dengan linglung. biar aku sendiri yang membereskan dia. bertaburan mutiara terangkat." Laki-laki kurus alias Si It-ho mengiakan. katanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. jangan sampai ada orang luar menyelundup kemari. kau boleh pergi. Jari-jari tangan Ki-po-hwe-cu yang." 2." Si It-ho segera mengundurkan diri. Pertemuan Tak Terduga. .

" "Oh. . Pemuda baju putih menyela bicara. Dengan suara halus dan ramah Ki-po-hwe-cu berkata kepada gadis rupawan itu.com/ "Dia?" Ji Bun menegas dengan tak mengerti.. "Pernah apa kau dengan dia?" "Dia? Cayhe . katanya. "Nona.." sahut gadis itu. "Kita lanjutkan persoalan genduk ayu ini. tidak kenal. Bergetar badan Ji Bun... kau bernama Ciang Bing-cu? Puteri tunggal Ciang Wibin?" "Ya.. suaranya merdu..... namun tiada orang yang memperhatikan dirinya.” "Kenapa kau menguntitnya?" "Cayhe . lalu mengikutinya.." Ki-po-hwe-cu berpaling kepada pemuda baju putih sambil manggut.Tiraikasih Website http://kangzusi. gadis rupawan itu tak pernah angkat kepala atau melirik kepadanya." Sejak Ji Bun memasuki ruang sidang ini. hanya tertarik.

Berkata Ciang Bing-cu dengan suara lembut. “Kalian menculikku dan hendak memeras ayahku?” Ki-po-hwe-cu terkekeh-kekeh. soal memeras. kutanggung kami takkan mengganggu seujung rambutmu. Lalu dia berkata pada kedua laki-laki baju hitam. "Nona. kalau hanya mengeluarkan lima renteng mutiara dan lima ribu tahil emas. sebagai puteri mestika seorang hartawan Kayhong. dengan selamat " Kembali bergetar badan Ji Bun. bila barang-barang yang kami minta diantar kemari. mencuri dan segala cara bisa saja kami halalkan." Berputar biji mata Ciang Bing-cu yang pudar." sahut pemuda baju putih. katanya. tentunya ayahmu tidak akan keberatan. bibirnya bergerakgerak. Ki-po-hwe-cu berkata kepada puteranya: "Bawa dia ke belakang. kau harus tinggal beberapa hari di sini. jangan sudah tahu kau sengaja melanggarnya'' "Anak tahu. Ingat. namun roman mukanya tidak mangunjuk reaksi apa-apa. selama hidupku ini. terpaksa. . itulah azas tujuan berdirinya organisasi ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. inilah undang-undang.com/ "Nona Ciang. hobiku adalah mengumpulkan segala macam benda-benda mestika. jangan kau sentuh dia. kaupun boleh pulang. namun dia tidak menanggapi.

." Tiba-tiba Ji Bun menanggapi dengan suara dingin.. Melotot biji mata pemuda baju putih. apa katamu?” Lenyap rona muka Ji Bun yang pura-pura linglung tadi." . jelaskan dulu persoalannya. suaranya tetap dingin kaku.." "Persoalan? Persoalan apa yang dijelaskan?" “Memangnya kedatanganku ini harus sia-sia?” “Kau .. pintar sekali kau berpura-pura..." Lalu dia mendekati Ciang Bing-cu.com/ "Kalian tetap di sini. "Nona.. katanya. empat orang yang hadir sama berjingkat kaget. katanya sambil menatap Ji Bun. tiada tanda-tanda seperti seorang yang hilang ingatan. dan berwibawa. marilah ikut aku.... "Nanti dulu!" Nadanya rendah berat. "Kau . aku sendiri yang akan menggusurnya. di sini tiada urusanmu lagi.." gemetar suara Ki-po-hwe-cu tiba-tiba. "Te-gak Suseng. kecuali Ciang Bing-cu yang tetap kehilangan kesadaran. namun bertenaga.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Kataku nanti dulu.

ketika melihat lengannya buntung sebelah. Apalagi waktu bersua Ciang Wi-bin di tengah jalan tadi. matanya menyapu pandang ke seluruh ruang sidang.Tiraikasih Website http://kangzusi. Tak nyana. Dalam waktu singkat ini dia sudah sempat memperhatikan lawan jenisnya ini. namun Ki-po-hwe berani menculik puterinya dan hendak minta tebusan. soal jodoh meski batal. Namun mimpipun tak pernah terpikir olehnya. sungguh kejadian yang cukup mengejutkan. Apalagi Ciang Wi-bin bukan tokoh sembarangan. bahwa di sini dia akan bertemu dengan Ciang Bing-cu puteri tunggal Ciang Wi-bin atau calon isterinya pula.” Ternyata waktu mendengar nama Te-gak Suseng tadi. Si It-ho. . Sayang lubuk hatinya sudah terisi bayangan si gadis berbaju merah. maka dia menggunakan obat bubuk dengan harapan dapat membius ingatan orang. laki-laki kurus berbaju hitam tadi tak berani melawannya secara kekerasan. Maka batalnya pernikahannya dengan gadis yang satu ini tidak menjadikan penyesalan baginya. namun sebagai seorang laki-laki tak mungkin ia berpeluk tangan. katanya.. sikap Ciang Wi-bin menjadi dingin dan kurang simpatik. memang rupawan dan menawan hati.com/ Mendadak Ji Bun berdiri. Betapapun hubungan kekeluargaan sudah mendalam. ia tahu dirinya bukan tandingan orang. Hal ini lebih meyakinkan pendiriannya untuk menggagalkan perjodohan ini. “Obat biusmu memangnya bisa berbuat apa terhadapku. Ji Bun sekaligus gunakan muslihat ini untuk menipu musuh supaya dirinya leluasa menyusup ke sarang musuh.

. Namun sudah terlambat jeritan yang mengerikan menelan suara bentakkannya. Kau sendiri perlu kuperingatkan. berani kau membunuh orangku di sini?" Ji Bun mendengus. bentaknya.“ seru Ki-po-hwe-cu dengan suara parau. Pemuda baju putih berteriak kaget.” . Ji Bun juga tak menunjukkan sesuatu gerakan... jangan kau main peras terhadap Ciang Wi-bin. "Kenapa tidak berani. sigap sekali mendadak Ji Bun membalik badan. tanpa bersuara serentak mereka mencengkeram bersama. “Te-gak Suseng.. “Brak!" Ki-po-hwe cu menggebrak meja. "Ketahuilah. tak tertampak sesuatu luka.” "Kematianmu sudah depan mata. "Jangan turun tangan!" Ki-po-hwe-cu membentak gusar akan kelancangan anak buahnya. masih berani kau membual.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Kedua laki-laki seragam hitam secara diam-diam menggeremet ke belakang Ji Bun.. kontan kedua laki-laki seragam hitam terkapar jatuh binasa. tempat ini tak ubahnya seperti neraka . jengeknya.

. nyawanya akan lenyap seketika. katanya. "Kalau Hwe-cu merasa setimpal. apa yang hendak kaulakukan terhadapnya?" "Tiada apa-apa? Biar dia mengantarku bersama nona Ciang ini keluar meninggalkan tempat ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun cepat sekali pikirannya bekerja. sekali raih." Ji Bun menyeringai sinis." Sekilas mata pemuda baju putih melirik ke arah kedua anak buahnya yang terkapar binasa di lantai. Namun Ki-po-hwe-cu tidak kalah akal.. tiba-tiba iapun berkelebat." Ji Bun tak menduga orang begitu licik dan licin. pergelangan tangan pemuda baju putih ternyata sudah dicengkeramnya. "Kau . "Lepaskan!" hardik Ki-po-hwe-cu. marilah kita barter saja. mukanya menjadi pucat. "Masakah begini gampang. sesaat dia melenggong. seketika sukmanya seperti melayang.. lekas lepaskan puteraku. tahu-tahu Ciang Bing-cu sudah dijinjingnya.. dengan sikap tenang dan tak acuh dia berkata. kalau kau tak ingin dia mampus.com/ "Hah!"secepat kilat tahu-tahu Ji Bun menubruk ke sana." . "Te-gak Suseng.. kalau tidak.

"Akan selalu kunantikan!" "Lepaskan dia. apakah pihakmu tidak rugi?" "Soal rugi tidak kupikirkan. bagaimana?” "Cayhe tidak pikirkan mati hidup lagi. "Puteramu cukup setimpal dengan puteri tunggal keluarga Ciang. akhirnya berkata dengan menggertak gigi. sahutnya. akan datang suatu ketika akan kutuntut perhitungan ini. yang penting puteramu ini takkan bernyawa juga." "Te-gak Suseng. selama gunung tetap menghijau dan air terus mengalir. bukan?" “Lalu bagaimana?" "Kita adakan tukar menukar tawanan.com/ "Barter!" Ki-po-hwe-cu menegas.” jawab Ji Bun." Cukup lama Ki-po-hwe-cu termangu." . "Kalau jiwamu harus dikorbankan.Tiraikasih Website http://kangzusi. kau boleh pergi membawa dia. jiwamu sendiri. "Anggaplah kau yang menang." Ji Bun terkekeh dingin.

kelak Hwe-cu boleh memberi ingat kepadaku. "biarkan mereka keluar. teriaknya beringas." bentak Ki-po-hwe-cu. memangnya kau kira aku bakal ingkar janji?" "Baiklah!" segera Ji Bun lepaskan pemuda baju putih. Ji Bun segera menggandeng tangan Ciang Bing-cu." Dengan penasaran pemuda baju putih mendelik kepada Ji Bun tanpa bicara lagi. Dengan sikap penasaran pemuda berbaju putih menekan sebuah tombol untuk membuka pintu besi. namun cepat sekali dia tarik kembali tangannya katanya: "Nona Ciang. "Te-gak Suseng." .com/ "Pertanggungan jawab apa yang kuperoleh dari kau?" "Hm. mampuslah kau di sini. "Te-gak Suseng. sebat sekali pemuda berbaju putih melompat jauh ke depan lalu mundur ke belakang meja.” "Kalau aku lupa.” "Jangan gegabah.Tiraikasih Website http://kangzusi. Maka Ki-po-hwe-cu juga segera membebaskan Ciang Bing-cu. dalam perhitungan ini kau utang dua jiwa kepadaku. katanya. Te-gak Suseng." "Antar mereka keluar!" Ki-po-hwe-cu memberi perintah kepada pemuda berbaju putih. serta mendorongnya kearah Ji Bun. marilah kita keluar. jangan lupa.

Matanya memancarkan cahaya terang. tanpa ragu-ragu segera dia mengintil di belakang Ji Bun. Menunjuk sampan itu Si It-ho berkata. Menebal hawa hitam di tengah alis Ji Bun. Si It-ho. untuk membunuhmu semudah membalik telapak tanganku. tahu-tahu sebuah sungai di bawah tanah menghadang di pengkolan sana. katanya. arus air sangat deras.com/ Memangnya Ciang Bing-cu tidak kuasa pada dirinya sendiri. segera dia angkat tangan sambil berkata. "Silakan naik sampan ini. . tak lama kemudian terdengarlah suara gemericik air mengalir. "Ke mana sungai ini mengalir?” "Menuju ke dunia bebas. Setiba di luar lorong." Si lt-ho menyurut mundur." Mengawasi sungai yang berarus deras ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. laki-laki kurus berbaju bitam itu sudah menunggu di luar pintu. katanya memberanikan diri. "Marilah ikut aku!" Mereka berputar kian kemari beberapa kejap lamanya. berkerut alis Ji Bun. katanya sekata demi sekata. "Orang she Si. sebuah sampan tertambat di piriggir sana." jawab Si It-ho.

kalau Hwe-cu kita tak niat membebaskan kau meski kepandaianmu setinggi langit juga jangan harap bisa keluar dari dalam bumi yang serba rahasia ini. Si lt-ho melepaskan tambatan tali. untungnya sampan ini dituntun seutas tali yang terikat pada kawat panjang di sebelah atas mengikuti liku-liku sungai. kecuali suara percikan air. demi keadilan dan kebenaran. suasana hening dan gelap gulita. Sekarang mereka bersua dan mengalami kesulitan bersama. maka meluncurlah sampan itu mengikuti arus. Kalau dua hari yang lalu dia tidak mengubah haluan. terpaksa dia harus bersabar. . kadang-kadang sempit tahu-tahu lebar.Tiraikasih Website http://kangzusi. Keadaan memaksa dia bertindak cepat dan tidak bersangsi lagi.com/ "Te-gak Suseng. sehingga lajunya tenang dan tidak sampai terbalik. sejak tadi dia sudah renggut jiwa orang. bau harum anak perawan yang memabukkan merangsang hidungnya membuat perasaan tergoncang dan hati dakdik-duk. Demi keselamatan Ciang Bing-cu." Sudah tentu Ji Bun tahu banyak perangkap dan alat-alat rahasia terpendam di bawah istana ini. kemungkinan perempuan cantik di depannya ini sudah menjadi isterinya. Ji Bun duduk berhadapan dekat sekali dengan si nona sampai bersentuh lutut. Ka!au menurut wataknya. Sungai di bawah tanah ini agaknya memang dibangun demi kebutuhan setempat yang liku-liku dan memusingkan kepala. maka dia menolongnya. sekali tarik dia peluk pinggang Ciang Bingcu terus melompat ke atas sampan. lima jari sendiripun tidak kelihatan.

"Silakan nona menelannya. mungkin keadaan sekarang akan berubah. yang menghilangkan daya pikirnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. entah menembus ke mana pula. lorong sungai kecil di bawah tanah berada tak jauh di belakang sana. katanya. Sampan itu tahu-tahu meluncur balik dan laju melawan arus masuk kembali ke dalam lorong itu. selama ini dia tetap bungkam. tak ubahnya seperti orang linglung. Sinar matahari membuat Ji Bun silau tak kuasa membuka mata. Ji Bun menariknya ke bawah sebuah pohon. siapa akan tahu dan mau percaya kalau lorong sungai itu merupakan jalan rahasia dari sebuah sindikat gelap. kira-kira dua jam mereka dibuai arus sungai dalam keadaan gelap gulita. sebentar dia pejamkan mata. Sudah tentu hal ini juga menguntungkan dan mengurangi banyak kesulitan bagi Ji Bun." . lambat laun di depan sana tampak secercah cahaya. kalau tidak mengalami sendiri. Entah berapa panjang sungai dibawah tanah ini. lalu pelan-pelan membukanya lagi. Ji Bun gandeng tangan Ciang Bing-cu dan melompat ke daratan. lalu mengeluarkan sebutir pil. sayang ia terpengaruh obat bius. "Byarr. ternyata sampan mereka sudah berada di pinggir sebuah sungai besar.com/ Jikalau Ciang Bing-cu dalam keadaan sadar dan segar bugar. Dengan hambar Bing-cu mengawasi Ji Bun." tahu-tahu sampan ini menerobos keluar dari lubang sempit dan tibalah mereka di alam bebas.

” "Obat penawar?" "Ya. "Lapat-lapat masih kuingat. tampak perubahan mulai terunjuk pada muka Ciang Bing-cu. katanya kemudian. Tahu kasiat obat penawarnya sudah bekerja. Tak lama kemudian. "Apakah ini?" "Obat penawar.Tiraikasih Website http://kangzusi. silakan telan saja. Pil ini adalah penawarnya." Seperti menyadari sesuatu Ciang Bing-cu manggut-manggut terus masukkan pil itu ke dalam mulut dan menelannya. tenggelam dalam renungan. kau masih ingat kejadian yang kau alami?" Sejenak Ciang Bing-cu mengerut alis dan mengenang kembali. apakah Kongcu yang menolongku?" . akhirnya dia menunduk. Semula marasa takut-takut dan curiga. matanya pudar dan hambar mulai hilang. segera Ji Bun membuka suara lebih dulu.com/ Dengan kaku Ciang Bing-cu menerima obat itu serta bertanya. nona dibius oleh orang-orang Ki-po-hwe. sinar matanya bening cemerlang laksana kilauan kaca mengawasi Ji Bun. "Nona Ciang. dengan tenang Ji Bun menunggu reaksinya dari samping.

" "Bagaimana nona bisa terjatuh di tangan orang-orang Ki-pohwe?" Timbul rasa gemas pada rona muka Ciang Bing-cu." "Kongcu terlalu merendah hati.Tiraikasih Website http://kangzusi. urusan sekecil ini tak usah dipikir dalam hati. belum sempat kumenegor mereka.” "Terima kasih atas budi pertolongan Kongcu. Kuingat mereka memanggil Kongcu demikian." “0h. gelar yang tak enak didengar. kan hanya secara kebetulan saja. Tersipu-sipu Ji Bun balas memberi hormat." "Apakah nona masih merasa kurang sehat?” “Tidak." ujar Ciang Bing-cu sambil memberi hormat. tiba-tiba muncul dua laki-laki berbaju hitam." . "Hari Ceng-bing waktu aku berada di pusara ibunda.com/ "Secara kabetulan saja kupergoki kejadian ini. "Nona tak perlu banyak peradatan. ya ya. katanya. boleh tanya siapakah nama besar Kongcu?" "Aku dijuluki Te-gak Suseng. tahu-tahu hidungku dirangsang bau harum. katanya. aku terus tak sadarkan diri. sekarang sudah baik.

"Lengan Kongcu .. Kemungkinan surat ancaman dan tebusan mereka sudah disampaikan kepada ayahmu. "lain kali saja aku berkunjung. "Silakan." sahut Si Bun. tujuan mereka hendak memeras ayahmu untuk menebus nona. Harap Kongcu tidak menolak." "Apakah Kongcu tidak sudi mampir?" "Ah tidak. agar ayah ." . mohon Kongcu suka mampir ke rumah." "Betapa jauhnya tempat ini dari Kayhong...” "Cacat karena latihan ilmu silat." tukas Ji Bun." "Kongcu sendiri hendak ke mana?" "Menyeberang Huang-ho terus ke utara..” Sekilas tatapan Ciang Bing-cu menyapu ke lengan kirinya yang buntung.Tiraikasih Website http://kangzusi.. katanya..” "Aku ada urusan penting..com/ "Perbuatan orang-orang Ki-po-hwe memang terlalu kotor." “Baiklah.. nona boleh berangkat.. aku ada sebuah tanda mata sebagai kenang-kenangan untuk menyatakan terima kasih pula. lebih baik nona lekas pulang saja.. aku betul-betul punya urusan penting.

kebaikan nona cukup kuterima saja di dalam hati. Ji Bun mengerut alis. meluncur sesosok bayangan orang. Ciang Bing-cu sudah angsurkan anting-anting itu. betapapun bisa menimbulkan prasangka yang tidak di inginkan. siapakah nona ini?” . "Sangu yang kubawa cukup berlebihan. Pada saat itulah. betapapun dia tak kan mau menerima hadiah. kalau tidak diterima terasa rikuh pula. katanya sambil goyang tangan. "Diseluruh wilayah utara dan selatan sungai besar. namun didesak begini rupa." "Bagaimana kalau dianggap saja sebagai kenang-kenangan?" Ji Bun sudah memperhitungkan untung ruginya. "Dik. belum sempat buka suara. kiranya Thian-thay-mo-ki yang muncul.Tiraikasih Website http://kangzusi. Sebagai seorang gadis. Thian-thay-mo-ki sudah cekikikan." Ji Bun mundur selangkah.com/ sembari berkata dia tanggalkan sebuah anting-anting batu kemala serta berkata pula. ia jadi serba susah. pada perusahaan dagang dan pegadaian apapun kau boleh unjukkan anting-anting ini untuk ambil uang. memberi milik pribadinya kepada laki yang masih asing baginya. katanya. ia jadi kehilangan akal.

” Tiba-tiba tergerak hati Ji Bun.." Panggilan "cici" membuat Thian-thay-mo-ki senang setengah mati. dari sorot mata orang Ciang Bing-cu segera merasakan hal ini. . "aku memang hendak mencarimu. “Thian-thay-mo-ki yang terkenal di Kangouw.” ujar Ji Bun. "Kongcu nona ini .. timbul suatu akal dalam benaknya. "Nona ini adalah puteri tunggal hartawan besar keluarga Ciang dari Kayhong." Thian-thay-mo-ki bersuara sambil manggut-manggut.. "Kau mencari aku? Ada perlu apa?” "Nanti kita bicarakan." "Oh..“ Lalu dia berpaling memperkenalkan.Tiraikasih Website http://kangzusi...com/ Matanya mengerling kepada Ciang Bing-cu dengan tatapan cemburu." jawab Ji Bun. sikap kasar dan kaku Ji Bun sebelumnya tak terpikir lagi olehnya.. katanya dengan senyum lebar. lekas dia berkata. Anak perempuan umumnya tajam perasaan. maka dengan tersenyum dia berkata. “Cici.

Tapi terpikir pula agar orang tidak mendapat malu. lalu mengangsurkan anting-anting itu kepada Ji Bun. . katanya. katanya. maka ia lantas ulur tangan menerima. Anting-anting ini merupakan tanda kepercayaan yang berlaku untuk mengambil uang di mana saja dalam wilayah utara dan selatan sungai besar. katanya. begitu Ciang Bing-cu tiba di rumah serta menceritakan pengalamannya. mana boleh menerima tanda mata ini. "Cayhe tidak berani menerima. sekali mengulur tangan. nilainya tentu amat berarti. "Silahkan terima!" Ji Bun mundur selangkah seraya berkata. Namun ucapan Ciang Bing-cu betul-betul menyulitkan dirinya seolah-olah terbelenggu oleh keadaan. terpaksa diterima ala kadarnya saja. "Kongcu. Ciang Bing-cu kukuh akan pendiriannya." Thian-thay-mo-ki yang tidak tahu persoalannya berubah air mukanya. nanti kalau pulang akan suruhan orang untuk mengembalikan saja.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Dengan nanar Ciang Bing-cu pandang Thian-thay-mo-ki sekejap." Otak Ji Bun bekerja cepat. Ia tidak naksir orangnya. Ciang Wi-bin pasti akan segera tahu akan dirinya. sulit menariknya kembali.

baiklah sementara ini kuterima saja..Tiraikasih Website http://kangzusi. kau terima tanda matanya?" "Tanda mata? Bukankah kukatakan hanya ku terima untuk sementara.com/ "Begini besar hasrat nona.. "Dik. Kecut dan getir perasaan Thian-thay-mo-ki.. terang kepandaiannya tidak lemah. berita aneh dan lucu. laki perempuan memberi tanda mata. mana ada yang pernah dikembalikan . dari gerak-gerik dan gayanya." "Apa. tanyanya...” ." "Huh. lekas dia ucapkan..” "Ini persoalan pribadiku.. "selamat berjumpa pula " terus melompat jauh dan berlari dengan mengembangkan Ginkang. katanya gemas. mengurungkan kehendaknya? Bukankah kau sudah terima tanda mata ... maksud tujuanku hendak mengurungkan kehendaknya saja." Ciang Bing-cu tersenyum senang dan lega. "Tadi kau bilang mencariku..." Thian-thay-mo-ki mengertak gigi. kelak akan kuusahakan untuk mengembalikannya. ada perlu apa?" "Tidak apa-apa.

ia tahu perbuatannya tadi memang ketertaluan. tenggorokannya seperti tersumbat sehingga katakatanya tersendat. katanya sambil kertak gigi. dada sakit. darah bergolak.. dia terima pukulan itu mentah-mentah tanpa balas menyerang." matanya menjadi merah. . aku pamit lebih dulu!" Seketika tegak alis Thian-thay-mo-ki. "Apa kehendakmu?" Gemetar badan Thian-thay-mo-ki saking murka. "Blang.." Ji Bun tergetar mundur selangkah. seketika mengobarkan nafsu membunuhnya. dengan geram ia mendesis.com/ "Maaf. pukulan ini cukup membuat mata Ji Bun berkunang-kunang.Tiraikasih Website http://kangzusi. Kepandaian Thian-thay-moki memang tidak rendah.. "Kubunuh kau!" Telapak tangannya berbateng terus memukul ke dada Ji Bun." "Te-gak Suseng. "Apa sih maksudmu ini?” "Tiada maksud apa-apa. namun sikapnya tetap dingin. Ji Bun rada menyesal juga. tidak terlalukah kau menghinaku . napas sesak. katanya angkuh. katanya geram..

katanya sambil menggerakkan kedua tangan. Sikapnya yang biasa genit tersapu bersih. Silakan coba saja!" Membesi muka Thian-thay-mo-ki. namun berduri.Tiraikasih Website http://kangzusi. dalam jarak sejauh ini. kalau gadis berbaju merah itu bak kembang teratai yang suci dan agung. maka dia laksana bunga mawar yang mekar semerbak. "Kau takkan punya kesempatan.com/ "Jangan kau tidak tahu diri?" Pilu. jengeknya. geram dan berbagai perasaan berkecamuk dalam hati Thian-thay-mo-ki. kau takkan lolos dari timpukan Soh-li-sin-ciam dan kejaran Jit-soan-hwi-yim. Sayang kesannya ini hanya sekilas saja. Ketahuilah. sedih. baru sekarang Ji Bun pertama kali melihat kecantikannya yang asli. "Kutahu maksudmu. teriaknya bengis. Memang amat menggiurkan dan mempesona. "Te-gak Suseng. Dilihatnya Thian-thay-mo-ki melejit mundur dua tombak.” . kedua tangannya menggenggam dua macam senjata rahasia yang khas. kedua senjata rahasia tunggalku ini. kau takkan mampu membunuhku bukan?" Tersirap darah Ji Bun.

Tiraikasih Website http://kangzusi. tak perlu aku membual kepadamu." Ji Bun melengak. katanya menegas: "Apa betul kejadian itu?” "Terserah kau percaya atau tidak..com/ Bergetar jantung Ji Bun. "Te-gak Suseng.. tapi . Kalau kau ingin bukti. Jit-sing-po Tersapu Bersih Tapi Thian-thay-mo-ki sudah berkata pula.7. kau memang laki-laki tidak punya perasaan. sebaliknya jarak sejauh ini paling menguntungkan untuk menyerang dengan senjata rahasia. Pikiran ini segera berkecamuk dalam benaknya. kau . bukan sengaja aku hendak pamer kepadamu. peduli siapakah orang berkedok itu. tutur kata dan sikapnya ini. rasa gusarnya lambat laun mulai pudar. komandan ronda dari Ngo-lui-kiong. boleh kau cari orang berkedok itu.... Turun tangan lebih dulu akan lebih menguntungkan.. betapapun dia pernah menolong dirinya. memang dalam jarak sejauh ini dia takkan mampu menyerang lawan. tanpa aku kau sudah mampus ditangan orang berkedok. Ini disaksikannya sendiri.. Soh-lisin-ciam sudah pernah menggempur mundur Pek-sat-sin The Gum.. kau takkan punya kesempatan lagi" . 3. sekarang dirinya terang juga takkan mampu menghadapinya. Jitsoan-hwi-yim mungkin adalah senjata ampuh yang melukai orang berkedok seperti yang diceritakan itu kalau betul orang berkedok itu adalah ayahnya. seakan-akan ceritanya itu tidak bohong.

apa lagi hendak menangkisnya. segenggam jarum lembut selebat hujan memapak tubrukan Ji Bun. tahu-tahu pisau melengkung itu sudah terbang balik. belum lagi pikirannya bekerja. Dengan mendelong dia hanya bisa mengawasi lingkaran sinar kemilau itu menyambar tiba tanpa mampu berkelit. "Seeer"." teriak Thian-thay-mo-ki beringas. Thian-thay-mo-ki ayunkan tangannya.com/ "Kenapa?" "Aku bertekad untuk membunuhmu. ia terkena beberapa batang jarum. senjata rahasia itu menyamber lewat di atas kepalanya. Serasa terbang sukma Ji Bun. rasa sakit seperti disengat kumbang merangsang tubuh Ji Bun. badanpun anjlok ke bawah.Tiraikasih Website http://kangzusi. selarik sinar kemilau mendesis terbang berputar-putar di tengah udara. gaya putarannya semakin kencang laksana angin lesus menderu. tenaganya tak mampu dikerahkan. secepat kilat dia menubruk maju. Lekas Ji Bun menunduk kepala. Berkobar pula amarah Ji Bun. Pada detik-detik yang menentukan mati hidupnya itulah. ternyata Thian-thay-mo-ki menimpukkan pula Jit-soan-hwi-yim. . tiba-tiba pisau terbang melengkung itu melesat balik ke tangan Thian-thay-mo-ki. di luar tahunya. hawa murni buntu. "Sret" pisau terbang melengkung itu berputar membabat leher. Seketika hawa murni dalam tubuhnya kandas. tahu-tahu dia melejit.

kontan Ji Bun terpental jatuh semaput. akan kubunuh kau. jiwanya pasti tak tertolong lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi.” habis berkata ia terus merangkak bangun dan tinggal pergi dengan langkah sempoyongan. . kalau sampai menusuk jantung. Thian-thay-mo-ki mengerahkan Lwekang lalu ulur tangan. sebatang demi sebatang jarum-jarum lembut yang mengeram dalam badan Ji Bun disedotnya keluar. "Berhenti!“ tiba-tiba Thian-thay-mo-ki menghadang di depannya. kau ingin mati dengan mudah? Soh-li-sin-ciam yang mengenaimu itu sudah cukup untuk merenggut jiwamu.com/ "Te-gak Suseng. katanya: "Kenapa kau tidak tega turun tangan?" "Hm. suaranya gemetar menahan sakit: "Mau apa kau?" "Plakl" tiba-tiba Thian-thay-mo-ki ayun tangan menamparnya. beruntun telapak tangannya bergerak-gerak keseluruh badannya. Ji Bun berhenti sambil menegakkan badannya. telapak tangannya sudah berubah warna merah. Dari jarak beberapa senti. semuanya lengket di telapak tangannya. jarum lembut itu bekerja lebih cepat mengikuti darahnya yang mengalir.” "Kalau aku tidak mati. Hal ini terjadi hanya dalam waktu sekejap saja. kau sudah mati lagi sekali!" Gemerobyos keringat dingin Ji Bun namun sikapnya tetap angkuh. Karena banyak bergerak.

lekas jarinya menutuk 36 Hiat-to di sekujur badan Thian-thay-mo-ki. pandangannya terpesona. Terasakan oleh Ji Bun dadanya menjadi longgar." kata Ji Bun dingin. jantungnya serasa hendak meloncat keluar. dikeluarkan pula tiga butir pil terus dijejalkan kemulutnya. kebetulan Ji Bun pun siuman dari pingsannya. hawa murni mengalir lancar. lekas dia menutuk beberapa Hiat-to ditubuh Thian-thay-mo-ki. kontan dia jatuh terguling. dilihatnya jarum-jarum lembut lengket di telapak tangan Thian-thay-mo-ki.Tiraikasih Website http://kangzusi. napas teratur. rasa sakit seperti disengat kumbang tadi sudah lenyap. seketika bergetar sekujur badannya.com/ Setelah dia berhasil menyerap jarum-jarum dari badan Ji Bun dengan kepandaian Lwekang perguruannya." tiba-tiba badannya melejit segesit kera melenting. terdengar jeritan nyaring Thian-thay-mo-ki. wa¬jahnya hambar dan bingung. Hanya sekejap saja. Cepat Thian-thay-mo-ki melompat bangun. badan segar. Rona mukanya berubah berganti. pelahan ia mulai membuka matanya. Thian-thay-mo-ki baru menarik napas panjang. sungguh dia tidak ha¬bis mengerti kenapa tahu-tahu . segera dia membentak: "Kau ingin mampus. melihat Thian-thay-mo-ki berada di sampingnya. keringat gemrobyos mem¬basahi sekujur badannya. dengan kerja keras sela¬ma setengah peminuman teh. "Plak''. waktu jarinya menyentuh kulit badannya yang halus padat kenyal. "Kaupun sudah mati sekali. Untungnya dia masih sadar. waktu dia berpaling. "Celaka!” keluhnya. tutukan jarinya berhenti di tengah jalan.

tak nyana suara rintihan.com/ dirinya roboh. hatinya ragu apa perlu lekas pulang atau tetap mengembara di Kangouw? Dari dandanan dan perawakannya seorang di¬ri berjalan di jalan raya sudah tentu menarik per¬hatian banyak orang. Thian-thay-mo-ki menghela napas dan masgul. iapun lekas-lekas meninggalkan tempat itu. badannya melesat ja¬uh terus berlari pergi secepat terbang. ia terlambat larinya. dia hanya merasa badannya seperti sedikit disentuh. tahu-tahu dia kehi¬langan perasaan. seingatnya. Sekilas dia pandang. selanjutnya kita tiada utangpiutang. terkapar tak sadarkan diri. orang berbaju hitam itu. namun dia tidak ambil pu¬sing ia sibuk memikirkan persoalan yang berkeca¬muk dalam benaknya. Ji Bun yang berlari agak lama baru sampai di jalan raya. Ji Bun kira orang ini terserang penyakit di waktu menempuh perjalanan. dili¬hatnya di bawah sebuah pohon terebah seorang ber¬baju hitam.” Sekali lompat. Ji Bun berkata lebih lanjut: "Kaulah orang pertama yang sudah mati dan hidup kembali ditangan¬ku. lalu melanjutkan perjalanan. Sekonyong-konyong sebuah rintihan orang mengejut¬kan lamunannya. caping lebar yang terbuat dari bambu menutupi kepala dan mukanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. itu semakin keras . waktu ia berpaling ke sana. selamat ber¬temu lagi. orang inilah yang merintih dan memilukan. Marilah kita ikuti perjalanan Te-gak Suseng.

agakny dia betul-betul sedang menahan rasa sakit. suara. sorot matanya yang pudar mengawasi Ji Bun beberapa kali." sahut Ji Bun. jawaban orang jadi membuatnya ingin tahu duduk persoalannya malah. Segera Ji Bun menegurnya: "Sahabat kenapa¬kah kau?" Suara orang berbaju hitam itu menjawab gemetar: "Apakah kau kawan sehaluan. baru saja hendak pergi. agaknya amat menderita.Tiraikasih Website http://kangzusi. mendekati dan berdiri disamping orang itu. "Apa maksud tuan?” tanyanya." Ya. "Siapa saudara cilik ini?" "Aku ini. orang berbaju hitam itu buka suara. namun rasa tertarik dan ingin tahu tak tertahan. Te-gak suseng. Agaknya orang itu sadar kalau ada orang mendekati dirinya. Namun badannya gemetar dan mengejang. pulu¬han tumbak sudah di tempuhnya. rintihannya segera berhenti. betul. lalu dia turunkan pula capingnya. pipi kanan ada codet bekas telapak tangan yang menyolok. . Cukup sekejap saja Ji Bun sudah melihat jelas orang ini berusia kira-kira setengah abad." Ji Bun melengak heran. Orang baju hitam sedikit menyingkap caping rumputnya yang menutup mukanya. segera ia balik." "Kau Te-gak Suseng? Kalau begitu boleh silakan pergi saja.com/ dan mengharukan.

agaknya dia tidak kuat menahan sakit. tiba-tiba . kau takkan mampu menahanku. tuan anggap diri sendiri sebagai laki-laki sejati?" Orang baju hitam tutup mulut. namun suara rintihan terdengar pula dari mulutnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. dia berusaha merangkak bangun. Ji Bun alihkan pembicaraannya." "Oh... kau punya nama bukan?" "Tidak punya!" Bangkit amarah Ji Bun. katanya geram: “Apa tuan malu dilihat orang?" Melotot biji mata orang berbaju hitam itu seperti amat murka. percuma kau banyak mulut.. katanya dingin: "Kau boleh silakan saja." "Kalau aku mau pergi. apa keinginanmu?" "Bereskan dulu persoalannya. sekali tangannya menyapu caping lebar yang menutupi muka orang berbaju hitam terpental beberapa tombak jauhnya.. Sorot mata Ji Bun dengan tajam mengawasi muka orang. "Tuan jatuh sakit atau terluka?" Berkerutuk gigi orang baju hitam. namun baru bergerak roboh lagi. kalau aku tidak mau pergi..com/ "Cita-cita tidak sama.." "Kau . lebih baik tak bergaul.

. "Hai matipun mataku tidak akan meram!" ........" “Hah lima hari?" teriak Ji Bun kaget." "Walau tuan berhasil menahan menjalarnya kadar racun dengan tenaga murni sehingga belum menyerang jantung... saudara cilik ." "Tak usah heran dan kaget...com/ dia berseru kaget: "He.... dalam setengah jam lagi..... sudah lima hari terkena racun namun masih bertahan hidup sungguh di luar dugaannya..... Sudah berapa lama sejak tuan terkena racun?" "Lima hari.. namun kau takkan bertahan lama. sekian lamanya baru kuasa mengeluarkan suara: "Saudara cilik .Tiraikasih Website http://kangzusi.. Lweekangmu tentunya amat hebat . jiwamu pasti melayang.” "Kau .... aku yang rendah ini punya sedikit pengetahuan bermain racun. "Aku ..." Oh......... kau terkena racun yang menyerang jantung!" Orang berbaju hitam tertegun melongo.. kutahu jiwaku takkan lama lagi. namun tidak seketika mati.. darimana kau bisa tahu?" "Tuan terkena racun maha jahat." demikian gumam orang berbaju hitam..

dia yakin bahwa si penyerang ayahnya sendiri. balik kelopak matanya. Jadi musuh yang dimaksud adalah ayahnya. untuk mengurangi musuh ayahnya? Atau membiarkan saja racun bekerja dan mampus sendiri? Atau menolongnya? Ji Bun sendiri menjadi geli dan kebodohan pikirannya untuk menolong orang yang mungkin adalah musuh ayahnya. mungkin korban yang dihadapinya ini tidak bersalah atau tidak berdosa. semua itu menjadikan jiwanya nyentrik. tiba-tiba bergetar badannya sambil menyurut mundur." Ji Bun membungkuk dan meraba urat nadi orang. Sayang keluhuran jiwanya ini sering tertekan oleh keangkuhannya sehingga menjadi kontras antara luar . angkuh.com/ "Siapa yang melukai tuan?" ''Musuh besarku.Tiraikasih Website http://kangzusi. timbul berbagai pikiran dalam benaknya. adalah jamak kalau sering terlibat dalam pertikaian bunuh membunuh. entah kenapa timbul pikiran demikian ini? Soalnya ia sendiri mengetahui perilaku ayahnya biasanya memang amat kejam dan kurang terhormat." "Siapa dia?" "Maaf. jiwa luhur dan cinta kasih terhadap sesama manusia. Wataknya dingin. memangnya ada permusuhan apakah di antara masing-masing pihak ini? Haruskah kubunuh dia. Dari kadar dan cara orang menggunakan racun. tak bisa kujelaskan. Sebagai orang persilatan. Untunglah di dalam lubuk hatinya yang paling dalam masih terbetik juga sifat pembawaan yang baik.

setiap orang wajib membunuhnya. Dirangsang oleh keluhuran budinya itu. kalau tidak tak mungkin ia dijuluki Te-gak Suseng (pelajar dari neraka).. tak tertahan Ji Bun bertanya: "Apakah musuh tuan adalah tokoh jahat yang menakutkan. segampang membunuhmu.. dia tidak setimpal disebut manusia.Tiraikasih Website http://kangzusi. Sudah tentu orang tidak tahu akan kekontrasan ini.com/ dan dalam. "Kau . kau bisa menawarkan racun?” "Betul." Orang berbaju hitam meggertak gigi." . sahutnya geram: "Iblis laknat. tanyanya: "Tuan bilang mati takkan meram. hina dina.. ada permusuhan dan dendam apakah kau dengan dia?" "Tak perlu kuberitahukan padamu?“ "Mungkin ada manfaatnya kalau kau jelaskan.. suaranya gemetar." "Aku tak ingin mendapat manfaat apa-apa dari kau.” "Kalau aku bisa menawarkan racun yang mengeram dalam tubuhmu?" Seketika terbelalak mata orang berbaju hitam. maka dalam pandangan sesama kaum persilatan dia dipandang tokoh jahat yang menakutkan.” Seperti dipukul godam hati Ji Bun.

mulutnya menggumam: "Aku harus hidup. Dua alasan yang berlawanan ini." "Permusuhan apa?" "Merebut isteri dan merusak keturunanku. . aku akan menawarkan racun dalam badanmu?" "Apakah itu syaratnya? Baiklah. katanya berat: "Jit-singpangcu Ji Ing-hong?" "Betul.. katanya: "Tuan jelaskan dulu duduk persoalannya...” Putusan Ji Bun sudah tetap.Tiraikasih Website http://kangzusi. Kalau kutolong orang ini. musuh besarku adalah Jit-sing-po Pocu. aku harus bertahan hidup ." Merinding dan berdiri bulu kuduk Ji Bun.. berarti menjilat ludahnya sendiri." Tanpa sadar Ji Bun menyurut mundur. merebut isteri membunuh keturunan orang merupakan dendam kesumat setinggi langit dan sedalam lautan.com/ Orang berbaju hitam melengak.. tak ubahnya seorang musuh yang bakal mendatangkan bencana bagi Jit-sing-po.. apakah betul ayah pernah melakukan kejahatan yang kelewat takaran ini? Timbul pertentangan pikiran di dalam benaknya. kalau kubunuh dia... sorot matanya memancarkan harapan hidup yang menyala. membuat hatinya bimbang. kuberitahu kepadamu.. tua bangka keparat itu..

desisnya: "Aku harus membunuhmu!" Bergetar tubuh orang berbaju hitam. kau terima!" Lalu dikeluarkan sebutir pil warna putih dan dilempar ke arah orang. nah.. "Siangkoan Hong.. kalau kau bisa menawarkan racun dan menyembuhkan aku..." .. Siangkoan Hong . inilah obatnya." Mendelik mata Ji Bun. kenapa ia tak tega membunuh orang yang sudah sekarat ini? "Siapakah nama tuan?" tanyanya kemudian. Kata Ji Bun lebih lanjut: "Tapi tadi sudah kujanjikan untuk memberi obat penawar." "Siangkoan Hong.com/ Dia tak habis mengerti kenapa mendadak timbul rasa welas asih dalam lubuk hatinya..” "Saudara cilik.. akan selalu terukir kebaikanmu ini dalam hatiku. Orang berbaju hitam menangkap obat itu lalu diamat-amati sejenak... dengan nanar dia tatap Ji Bun..Tiraikasih Website http://kangzusi. sungguh dia tak bisa menangkap alam pikiran anak muda yang lekas berubah tidak menentu ini.. kelak kau pasti akan memperoleh balasan yang setimpal. hal ini tetap akan kutepati... katanya: "Saudara cilik.

" jengek Ji Bun dingin. namun tanpa ragu-ragu ia jejalkan pil itu ke mulut. dia kerahkan hawa murni untuk menyembuhkan diri. Sebat sekali Ji Bun melompat mundur tiga tombak. Sementara itu orang berbaju hitam tengah duduk semadhi.Tiraikasih Website http://kangzusi. Lalu ia maju beberapa tindak. sesudah melihat jelas. matanya yang sipit mengawasi Ji Bun dengan tertawa lucu.. Perlahan Ji Bun alihkan pandangannya.. "mungkin pertemuan yang akan datang. Seorang kakek pendek buntak seperti bola pelahan merangkak bangun. jarak mereka tinggal seuluran tangan saja. seketika iapun terkesiap. tangan yang pendek kecil itu menepuk-nepuk badan membersihkan debu. Pelahan telapak tangannya terayun . kenapa mau membunuhnya pula?" . belum terlambat sekarang kubunuh dia.. aku akan merenggut jiwamu. Ia tengah tenggelam dalam lamunan tentang apa yang telah dilakukannya ini? Kenapa dia berlaku sebaik ini? Bahwa Te-gak Suseng menolong jiwa seseorang. pikirnya. kau telah menolongnya. Ji Bun menengadah mengawasi angkasa. malah musuh ayahnya.. katanya: “Anak muda.. dilihatnya segulungan bayangan menggelinding turun dari atas pohon.com/ "Tidak usahlah. Tiba-tiba terdengar suara berrisik daun pohon di atas kepalanya. mungkinkah orang-orang kangouw mau percaya akan kenyataan ini. dan mengeluarkan suara jatuh gedebukan." Orang berbaju hitam melengak.

kepalamu sudah kutempeleng pecah." berbareng tangan si kakek yang pendek itu terayun. tahu-tahu ia sudah berpindah tempat. sedikitpun tidak diketahui oleb Ji Bun. Segulung angin keras seketika menyambar ke arah Ji Bun sehingga tergetar mundur beberapa langkah. entah gerakan apa. sekarang lekas kau enyah dari sini." Ji Bun memangnya pemberang. sekilas melejit dia malah menubruk maju dan melabrak Siang-thian-ong tertampak Siangthian-ong tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeming sedikitpun. seperti setan berkelebat.com/ Makhluk aneh ini bukan lain adalah Siang-thian-ong (Kakek Duka Cita) yang sudah menggetarkan Kangouw pada enam puluhan tahun yang lalu. kau harus lekas enyah. segulung angin kencang menyampuk dari belakang. tahu-tahu bayangan orang yang diincarnya sudah lenyap. seketika ia naik pitam. kalau tidak kupandang pertolonganmu kepadanya. Namun disaat tubuh Ji Bun hampir menerjang tiba. belum sempat Ji Bun melancarkan serangan." Siang-thian-ong terkekeh dingin. berarti kau kurang ajar terhadapku.Tiraikasih Website http://kangzusi. . Semakin berkobar amarah Ji Bun. ujarnya: "Bocah bagus. bahwa makhluk yang aneh ini sembunyi di atas pohon. katanya angkuh: "Kalau aku tidak mau pergi?" "Kusuruh kau enyah. belum lagi pikirannya menyadari apa yang terjadi. sekilas ia tertegun jawabnya: "Tiada sangkut putnya dengan kau.

..” "Eh. kelak pasti akan kubalas..." “Bagaimana hasilnya?" tanya Siang-thian-ong.. namun tidak terlaka apa-apa. Wanpwe beruntung hidup kembali... serunya "Te-gak Suseng. lapat-lapat dia merasakan firasat jelek akan rumahnya yang kemungkinan mengalami sesuatu bencana.com/ "Blang. Jelas ayah bukan tandingannya lakilaki berbaju hitam ini. sapanya: "Locianpwe." Ji Bun terpental terbang tiga tombak lagi. tak nyana setelah berpisah sepuluh tahun. biarkan saja.. orang berbaju hitam melompat bangun. dia ..” "Hm. sorot matanya berkobar. akhirnya kucandak dan kulabrak dia... "Dua hari dua malam Wanpwe menguntitnya. suatu ketika pasti kita bisa menumpasnya. Pada saat itulah. tersipu-sipu dia memberi hormat. jengeknya: "Bocah ini tidak genah tindak tanduknya. sigap sekali dia melejit bangun. Dari percakapan kedua orang yang didengarnya tadi. ternyata dia pandai main racun karena tak terduga Wanpwe terbokong dan iapun dapat melarikan diri. kenyataan dirinya sudah menyembuhkan .." tiba-tiba pandangan orang berbaju hitam beralih ke arah Ji Bun yang berdiri di sana.” Tanpa bersuara Ji Bun segera angkat langkah berlari pergi. memang nasibnya yang mujur." Siang-thian-ong mendengus. tadi dia hendak membunuhmu . terima kasih akan kebaikanmu.Tiraikasih Website http://kangzusi. melihat Siang-thian-ong.

Akan tetapi dasar wataknya nyentrik. sedikitpun ia tidak menyesal. di tengah jalan dirinya berubah pikiran dan batal. Siang-thian-ong pasti tidak tinggal diam. Dari jauh ia sudah merasa heran kenapa penjaga pintu yang biasanya mondar-mandir kali ini tidak kelihatan. paling tidak puluhan li sekitar Jit-sing-po biasanya sudah ada orang yang menyambut kedatangannya. maka perbuatan ayahnya memang terampuni. Bagaimana nanti dia harus memberi laporan kepada orang tuanya? Jit-sing-po dengan pintu gerbangnya yang dibangun angker dan megah sudah kelihatan dari jauh dengan perasaan tidak tenteram. betapa akibatnya sukar dia bayangkan. ia berlari menuju ke arah pintu. tujuan perjalanan ke Kayhong kali ini adalah untuk melamar puteri keluarga Ciang. Sedangkan Siang-thian-ong dan orang berbaju hitam jelas sehaluan.com/ seorang musuh tangguh bagi keluarganya. bagaimana dia harus bersikap dan bertindak? Tiba-tiba timbul rasa rindu terhadap kampung halaman. ia tahu kalau tadi betul-betul menyerang orang berbaju hitam itu. Sebelum memasuki perkampungan. Kalau benar apa yang dikatakan mereka bahwa ayahnya merebut isteri dan membunuh keturunannya. Pintu gerbang . sebagai puteranya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Begitulah ia menempuh perjalanan siang malam. Kalau orang berbaju hitam tidak mendapatkan obat penawarnya. akhirnya tibalah dikampung halamannya. Apalagi kalau pihak musuh tahu akan asal usul dirinya. segera ia menuju ke arah Jit-siang-po. maka ia berkeputusan untuk pulang menjenguk ibunya. kesalahan sudah terjadi. hatinya sudah merasa takut dan was-was. kepandaian mereka teramat tangguh lagi. jiwanya pasti melayang.

pembunuhan yang sudah di rencanakan terlebih dulu.Tiraikasih Website http://kangzusi.. Pirasat jelek tiba-tiba merangsang hatinya. Biji mata Ji Bun melotot merah. Dia berdiri terpaku diundakan. dengan langkah lebar dia berlari ke dalam gedung.. serasa pecah jantung Ji Bun hatipun hancur luluh. Di pelataran. Jantungnya segera berdetak keras. Inilah peristiwa mengerikan. pemandangan yang mengerikan membuat kepalanya pusing.. pekarangan serambi panjang dan di mana-mana mayat bergelimpangan. Pilar-pilar batu sebesar pelukan tangan orang dewasa yang berjumlah enam di kanan kiri ruang pendopo masing-masing terikat enam mayat dengan wajah yang amat dikenalnya. serasa sukma terbang dari raganya.. pemandangan seram dan mengejutkan sekali. Agaknya seluruh penghuni Jit-singpo telah tersapu bersih tanpa satupun yang ketinggalan hidup. mata mereka mendelik. badannya bergoyang gontai. darah sudah membeku kering. Serangkum bau busuk merangsang hidung..com/ perkampungan yang dilapisi papan besi tampak mengkilap terbentang lebar. Mayat-mayat bergelimpangan sepanjang jalan. dengan langkah sempoyongan dia langsung lari ke ruang pendopo. seperti mendadak terserang penyakit gila layaknya dia menerjang masuk dengan kalap. suasana sepi tak kelihatan bayangan seorangpun . semua berwarna hitam. seperti orang mati penasaran.. . Mereka adalah enam jago kelas wahid di antara delapan anak buah ayahnya.

Hari sudah gelap. fajar telah menyingsing. sungguh mimpipun tak terduga. lalu di manakah ibu? Mati hidup mereka tak karuan paran.. agaknya ayah masih hidup. Belum genap sebulan ia meninggalkan kampung ini. mayatpun tak nampak di sini. menuntut balas! Pembunuh durjana adalah Siangkoan Hong yang pernah ditolongnya.. . Ji Bun tersadar dari duka citanya yang keliwat batas. baru sekarang dia betul-betul merasakan luluh dan lemas. mungkin Siang-thian-ong juga ikut serta. Aku harus menuntut balas. Dari gelap kembali menjadi terang.” mendadak Ji Bun melolong seperti orang kesurupan terus berlari ke belakang. betapa sedih dan pilu hatinya. tentunya tidak sedikit pula pembantunya. dari taman ke dapur. namun tiada sesuatu yang ditemukan.. Seperti yang didengarnya dari percakapan Siang-thian-ong dan Siangkoan Hong. Air mata tak tertahan dan bercucuran. sungguh tak terlukis dengan kata-kata.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun rasa benci dan dendam seketika merangsang sanubarinya. Apakah ibu terhindar dari petaka ini? Lalu di mana para pelayan? Dengan kepala berat dan pandangan berkunang-kunang ia lari kian kemari mencari.. . Tak terduga keadaan di belakang jauh berbeda.. suasana tetap tenteram dan bersih tidak kelihatan noda darah.com/ "lbu!. setiap kamar sampai ke gudang. namun peristiwa telah mengubah keadaan menjadi begini seram dan mengerikan.

Sepanjang jalan ia berpikir dengan cermat. Dan dirinya. lalu berusaha menuntut balas. 3. di dalam sebuah hotel sinar lampu masih kelihatan menyorot keluar dari salah sebuah kamar. di luar iapun tak pernah memperkenalkan asal usul sendiri.8. dendam kesumat menjadi bekal perjalanan yang kedua kalinya ini. maka timbullah sesuatu akal cara bagaimana ia harus menuntut balas. kalau mendapat perintah ayahnya baru keluar meninggalkan rumah. Kenapa sisa lain yang masih hidup tidak membereskan mayat-mayat mereka? Seorang diri ia kerja keras sambil bercucuran air mata mengebumikan semua mayat-mayat itu. namanya saja Jit-sing-pang sebagai sindikat namun selama beberapa tahun belakangan ini jarang ikut aktif di dalam pergerakan kaum persilatan. Langkah pertama. namun dari mana asal dirinya tiada seorangpun yang tahu.com/ Dia heran.Tiraikasih Website http://kangzusi. merahasiakan asal usul dan menekan watak biasanya yang angkuh. tidak sedikit anak buah Jit-sing-po. Seorang pemuda . ia harus bermuka-muka untuk mendekati dan mengikat hubungan dengan para musuhnya. Sete!ah berkeputusan kini dia tidak tergesa-gesa untuk menemukan ayah bundanya. yang terbunuh hanya sebagian kecil saja. maka dunia Kangouw hanya mengenal julukan Te-gak Suseng. dia harus segera mencari dan menemukan ayah. Kemudian meninggalkan kampung kelahirannya. Pembunuh Berkedok Berjubah Sutera Malam larut. kelak baru cari kesempatan untuk turun tangan. menuntut balas harus diutamakan.

. wajahnya kuyu dan lesu. Cukup lama juga tangan orang berkedok ini sudah naik turun sepuluh kali. Tangan orang berjubah sutera pelahan terangkat. tidurnya begitu lelap sampai ketajaman indranya seakan-akan berhenti bekerja sama sekali.Tiraikasih Website http://kangzusi. pukulan batin jauh lebih parah dari pada siksaan badaniah. rambut tertampak sudah ubanan. Sekonyong-konyong sesosok bayangan orang tinggi besar seperti setan muncul di belakangnya.com/ berlengan satu duduk bertopang dagu di depan jendela. Napas Ji Bun berat dan teratur. setiap detik setiap saat pikirannya tenggelam pada masa lalu. dengan menggeram lirih tangannya menggablok dengan keras. tidurnya amat lelap. Memang kekuatan manusia ada batasnya. Selama beberapa hari lupa makan lalai tidur. Akhirnya orang berkedok seperti berkeputusan tegas. sedikitpun dia tidak menyadari seseorang telah berada di belakangnya. duka lara telah menyiksa dirinya hingga patah semangat dan kurus. Saking lelah tanpa terasa Ji Bun akhirnya jatuh pulas mendekap di atas meja. sering pula menghela napas panjang. agaknya seperti meragukan sesuatu. di bawah pancaran sinar lampu jelas kelihatan orang ini mengenakan jubah sutera. sekian lamanya tangannya berhenti di tengah udara. kadangkadang ia mengertak gigi dengan mata mendelik. sasarannya tepat di punggung Ji Bun. kain kembang menutupi selebar mukanya. namun Ji Bun sedikitpun tidak mengetahui. Pemuda ini adalah Te-gak Suseng Ji Bun.

seperti datangnya tadi tiba-tiba bayangannya lenyap dalam sekejap. Kembali ia membentak seram: "Siapa kau?" Orang berkedok tetap tidak bersuara.. Namun perhitungannya sia-sia.. Namun ia tidak mati seketika.. Ji Bun rebah tidak bergerak lagi. baru dia bergerak. Waktu ia membuka mata. setelah berkelojotan beberapa kali. menewaskan pembunuh gelap ini. darah meleleh dari mulutnya. ia mengerahkan sisa tenaganya dan berteriak dengan suara serak: "Ayah engkau kenapa . Teringat oleh Ji Bun akan cerita Thian-thay-mo-ki. Jeritan Ji Bun tadi mengejutkan para tetamu di kamar lain. "Waaah!" jeritan panjang yang seram ini memecahkan kesunyian pagi...com/ Tanpa mengeluarkan suara Ji Bun tersungkur jatuh bersama kursi. malah seorang di kamar sebelah berteriak ketakutan: "Pembunuhan. sekujur badannya tiba-tiba mengejang keras. telapak tangan orang sudah menjotos pula. baru sekarang ia menyadari bahwa orang berkedok inilah yang pernah memukul mati dirinya. namun badannya tampak bergetar. setelah jelas sudah mati. Orang berkedok melangkah maju meraba pernapasannya.. ada pembunuhan!" . mungkinkah orang ini ayahnya walau perawakan dan dandanannya mirip sekali. Biji matanya hampir melotot keluar.. tangannya terayun pula.. ia yakin mampu. kenapa hendak membunuhku?" Orang berkedok tidak menjawab. Sekuat tenaga Ji Bun berguling ke samping. asal maju beberapa kaki dan dapat menyentuh badan orang.Tiraikasih Website http://kangzusi. darah kontan menyembur ke luar dari mulutnya.. memegang urat nadinya. beramai-ramai mereka berlari keluar.

sungguh kejadian yang tak habis dimengerti. Cerita Thian-thay-mo-ki tentang peristiwa yang dialami tempo hari sukar dipercaya. Mungkinkah si dia? Tiba-tiba teringat pada Thian-thay-mo-ki. Aneh. Sungguh aneh dan luar biasa. Entah berapa lama. Pukulan kedua membuatnya lupa ingatan. tak mungkin ia menaruh belas kasihan. Ini terbukti bahwa cerita yang didengar itu bukan bohong belaka. namun kini badannya tetap segar bugar. badan terasa nyaman segar dan enteng.com/ Suasana menjadi kacau. ia tahu pukulan kedua orang cukup berlebihan untuk menamatkan riwayatnya. Orang berkedok sengaja hendak membunuh dirinya. tapi segera ia menutup kamar itu dan lapor kepada yang berwajib. Pemilik hotel segera datang dan memeriksa keadaan. jelas masih teringat olehnya. Banyak persoalan yang sulit dipecahkan. segera ia cuci muka dan membersihkan badan. Lekas ia bangun berduduk. Pada saat itulah didengarnya suara ribut-ribut . pukulan pertama pembunuh gelap itu membuatnya muntah darah dan tak mampu bangun lagi. Mungkinkah dia mampu menghidupkan jiwanya pula? Tapi di mana dia sekarang? Tiba-tiba disadarinya sikapnya selama ini terhadap nona yang satu ini memang terlalu dingin dan kasar. sambil geleng-geleng segera dia berdiri.Tiraikasih Website http://kangzusi. dirinyapun tak pernah minum sesuatu dan tidak diobati. namun kini dialaminya sendiri. akhirnya Ji Bun siuman dan mendapatkan dirinya diserang roboh oleh seorang berkedok. Air sudah tersedia di dalam kamar. badannya tidak merasa sakit.

com/ di luar. bayangan orang berkedok yang membunuh dirinya barusan masih terbayang pada benaknya. Supaya tidak terlibat urusan yang bertele-tele. tunggu sebentar!" Ji Bun berhenti dan berpaling.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Ada perlu apa?" tanya Ji Bun tawar. . Di luar tahunya bahwa gerak-gerik dan kejadian di dalam hotel ini telah disaksikan dan diikuti oleh seseorang. Yang datang adalah Thian-thay-mo-ki. Tengah mengayun langkah dengan pikiran butek. ia tahu dirinyalah yang dijadikan sasaran keributan di luar itu. seketika ia berdiri melongo dan dingin perasaannya. Siapakah orang yang menyamar mirip ayahnya dan turun tangan sekeji ini kepada dirinya? Sampai detik ini ia yakin ayah kandung sendiri tak mungkin tega membunuh puteranya. Ji Bun melengak sebentar. tiba-tiba di belakang terdengar seorang berteriak memanggil: "Te-gak Suseng. selanjutnya ia harus ubah sikap dan tindak-tanduk. namun mengingat sakit hati dan dendam keluarganya. segera ia buka jendela terus melompat keluar secara diam-diam. Sekaligus Ji Bun berlari keluar kota baru kemudian melambatkan larinya. Pengetahuan dan pengalaman Thian-thay-mo-ki rasanya dapat dimanfaatkan untuk mengejar dan mencari jejak para musuh itu. agaknya ada opas datang karena laporan adanya pembunuhan di hotel ini. Ia jadi merasa sebal.

... jadi sekarang kau sudah percaya?" "Percaya..." "Memang kurasakan sikapku selama ini terlalu kasar terhadap nona....." ..com/ Semula Thian-thay-mo-ki sudah siap menghadapi sikap kasarnya. diluar dugaan ia disambut tawar saja.Tiraikasih Website http://kangzusi...” sahut Ji Bun. malah aku bersumpah bendak mencari tahu siapa dia sebetulnya dan apa tujuannya hendak membunuh aku?" "Tempo hari kau bilang dia adalah ayahmu?" "Menurut cerita nona.....” "Sudah terbukti bahwa dia bukan ayahmu?" "Eh. kau sudah tahu .. pagi tadi ... "Kenapa?" "Mungkin karena salah paham ..." "Aku menyaksikan seluruh kejadian tadi.” "Salah paham soal apa?" "Tentang orang berkedok itu. maka katanya dengan tersenyum lebar: "Hari ini kau jauh berbeda dari biasanya." "Oh......

. tidak pernah turun tangan...” "Tapi kau hidup kembali bukan?" Timbul rasa terima kasih dalam lubuk hati Ji Bun.. namun dia harus menahan gejolak hati. ujarnya: "Aku hanya menonton saja." Thian-thay-mo-ki tertawa penuh arti....." Kalut pikiran Ji Bun dirangsang berbagai persoalan. kelak kau akan mengerti sendiri. terutama terhadap Thian-thay-mo-ki.." "Ini .. tadinya kukira jiwaku sudah melayang . segera ia memberi hormat. sikapnya ini bukan pura-pura. katanya: "Terima kasih akan budi pertolongan nona.." "Kenapa sudah mati aku bisa hidup kembali?" "Mungkin untuk selanjutnya kau tetap akan mengerti kejadian ini. tak heran ... yang benar aku sendiri bukan tandingan orang berkedok itu. sebal dan benci akan tingkah lakunya yang genit. tak bisa kujelaskan..Tiraikasih Website http://kangzusi." "Aku tidak habis mengerti.. walau semestinya dia merasa jijik.... "Adikku! Kau suka menerima panggilan ini bukan?" . menekan perasaan dan berubah sikap.com/ "Oh..

" Riang hati Thian-thay-mo-ki. "Boleh saja. tanyanya: "Darimana kau tahu?” "Di dalam hotel semalam kau kelihatan mengertak gigi dan mengepal tinju serta membanting kaki. alisnya lentik. agaknya kau dirundung persoalan gawat?" Ji Bun was-was. kita harus siap menerima segala gemblengan dan ujian." sahutnya tertawa.Tiraikasih Website http://kangzusi. ”Dik. wajahnya bersemu merah. ia tidak puas akan penjelasan ini. namun sikapnya lain. dengan acuh ia tertawa. kerlingan matanya memang mempesona dan menggiurkan. "Jadi kaupun suka memanggilku Cici?" "Usiamu lebih tua. namun iapun tidak banyak debat lagi.com/ Dalam hati Ji Bun menggerutu. maklumlah sebagai kaum persilatan. betul tidak?" Tersentuh luka-luka di lubuk hati Ji Bun dan hampir menetes air matanya. meski ada kalanya kita sendiri juga berbuat kesalahan. katanya: "Terkadang aku memang memikirkan berbagai kejadian yang kurang menyenangkan. tanyanya ke lain persoalan: "Agaknya kau berubah begini mendadak?" . namun ia bertahan agar tidak sampai menangis. namun sedikitpun Ji Bun tidak tertarik. sengaja ia angkat alis." Thian-thay-mo-ki cukup cerdik. adalah pantas kalau kupanggil Cici padamu. sering menghela napas panjang.

" "Kukira sulit. dan yang lebih membingungkan. Semula ia mengira orang berkedok sengaja menyamar ayahnya untuk mempermudah turun tangan terhadap dirinya." "Sulit?" "Dua kali kusaksikan sendiri. Sudah lama hal ini kupikirkan. buat apa harus menyamar segala. orang itu tidak mau buka suara dan tidak menjelaskan maksudnya. dengan gabungan kita berdua mungkin masih bukan tandingannya.. peristiwa seperti ini jarang terjadi di Bu-lim. . tapi pasti akan ketemukan dia dan menuntut balas.” "Memang orang pandai ada yang lebih pandai." "Orang berkedok berjubah sutera itu.. apakah kau sudah berhasil menemukan jejaknya?" "Belum..Tiraikasih Website http://kangzusi.... dengan apa kau akan menerka asal usulnya?" demikian diam-diam timbul pula pertempuran dalam hati Ji Bun. Jika dia seorang tokoh yang jarang berkelana di Kangouw. Namun kepandaian silat orang jauh berlebihan untuk membunuh dirinya..com/ "Apa betul? Mungkin inilah hasil dari tempaan dari yang kualami itu. setinggi-tinggi gunung masih ada yang lebih tinggi lagi.. namun tak berhasil menemukan alirannya. betapa banyak tokohtokoh kosen berkepandaian tinggi .

” tanya Thian-thay-mo-ki. aku sedang menempuh perjalanan untuk menghadiri suatu undangan berdirinya." "Ya." Nyata. sudah. "aku sendiri ada kesulitan. suatu perkumpulan besar. katanya: “Cici. hal ini terlarang oleh perguruan. bukankah ini kebetulan?" "Menghadiri pembukaan perkumpulan apa?" "Apa pernah dengar nama Wi-to-hwe?” "Tiga hari lagi perkumpulan ini akan meresmikan berdirinya dan membuka markas. "sudikah kau beritahu asal usulmu?" Ji Bun kaget." ujar Thian-thay-mo-ki tak acuh. "Dik.Tiraikasih Website http://kangzusi. sekarang belum dapat kuberitahu. kita sama-sama menginap di hotel itu. bahwa kau pun tak usah tanya asal usulku. maafkan. kita bertemu lagi secara kebetulan?" "Boleh dikatakan demikian. Semua Pang dan Pay serta tokoh-tokoh bulim yang kenamaan sama diundang untuk menghadirinya. jelas tidak mungkin." . secara tidak langsung iapun memberitahukan Ji Bun. "Cici. tidak mungkin.com/ Apakah ia memang ayahku sendiri? Namun kesan ini segera dia sangkal pula.

keadilan dan kebenaran semakin guram. Pada tanggal sekian bertempat di Tong-pek-san. sesuai dengan namanya tentunya menempatkan diri di pihak yang baik dan menumpas kejahatan dan menindas kaum iblis bukan?” “Tentunya demikian. seratus tahun belakangan ini. maka ia menyambung: "Wi-to-hwe." "Siapakah ketuanya?" "Coba kau lihat sendiri. lalu mengeluarkan secarik kartu undangan besar warna merah. Mohon kehadiran para pendekar dan semua simpatisan. kita resmikan berdirinya perkumpulan dan markas besar kami." kata Thian-thay mo-ki. kalau aku bisa ikut mungkin bisa bertemu dengan musuh.Tiraikasih Website http://kangzusi. kita bersepakat untuk mendirikan perkumpulan penegak dan pembela keadilan dan kebenaran ini dengan harapan bisa mengembalikan wibawa dan membangkitkan azas dan cita-cita semula sehingga segala kejahatan dan kelaliman dapat kita tumpas. Cici juga diundang?" tanya Ji Bun.com/ "Oh. semua ini menjadi kenyataan. bahwa kaum iblis semakin tumbuh dan kaum pendekar malah kelelap. sementara hatinya membatin. . dunia persilatan semakin kacau dan kejahatan bersimaharaja. yang mempunyai cita-cita luhur dan sehaluan dalam satu tujuan." Ji Bun menerima undangan itu serta membacanya: "Dengan hormat. makna dan tujuan persilatan semakin pudar. sedikitnya ada kesempatan untuk mencari sumber penyelidikan. Bagi kaum yang berdarah panas. azas orang belajar silat semakin kabur.

" ." "Masih tiga hari dari hari pembukaan. kutanggung tiada orang yang menolak kedatanganmu.com/ Salam hormat. hayolah berangkat bersamaku." sahut Thian-thay-mo-ki sambil geleng-geleng. namun lahirnya berpura-pura." ujar Thian-thay-mo-ki tertawa." "Kalau begitu silakan Cici lekas berangkat. katanya : "Aku tidak diundang.” "Apa kau tidak ingin ke sana?" Sudah tentu Ji Bun ingin pergi. katanya tak mengerti: "Siapakah sebetulnya ketua perkumpulan ini?" "Entahlah. "masakah ketenaran Te-gak Suseng yang sudah menjulang tidak diundang. undangan semacam ini boleh dikatakan jarang ada dan bertentangan dengan kebiasaan. kukira tidak akan terlambat." Jadi dalam undangan ini tidak disebut siapakah Hwecu atau ketua perkumpulan yang bakal berdiri ini. Ji Bun kembalikan undangan itu. Wi-to-hwe Hwecu. apakah bisa mencapai Tong-pek-san?" "Kalau siang malam menempuh perjalanan.Tiraikasih Website http://kangzusi.” "Mungkin yang disuruh menyebar undangan tidak menemukan kau.

^^^^ Pegunungan Tong-pek-san di perbatasan Holam dan Ouwpak. Selama beberapa hari ini." kata Ji Bun akhirnya. . memangnya perbuatan jahat apa yang pernah kita lakukan? Soal gelar atau julukan kan mereka yang memberikan. apakah kita tidak bakal ditumpas oleh mereka malah?" Thian-thay-mo-ki terkial-kial sekian lamanya. kita berdua. puncaknya terletak di bilangan utara. terus terang. Tekadku sudah bulat ingin kulihat manusia macam apakah sebetulnya orang-orang yang berani menonjolkan dirinya dipihak penegak dan pembela kebenaran itu. bertujuan menumpas kejahatan. tokoh-tokoh berbagai aliran persilatan berbondong-bondong menuju ke atas gunung. ini menamakan dirinya penegak dan pembela kebenaran.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Baiklah mari berangkat. mereka adalah Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki yang datang untuk menghadiri berdirinya Wi-to-hwe. di antara arus manusia yang beramai-ramai itu terdapat seorang pemuda berpakaian pelajar dan buntung sebelah tangannya diiringi seorang gadis cantik dan bertingkah genit. Banyak orang yang kenal mereka sama melotot gusar dan menyingkir jauh. katanya: „Dik. seperti berhadapan dengan setan iblis atau merasa jijik. dengan julukan dan gelaran.com/ "Perkumpulan.

Semua tamu dipersilakan istirahat dan makan minum lebih dulu di barak ini baru kemudian diantar naik ke atas gunung. Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki sama berjalan menuju ke arah mulut gunung. kami tidak melayani." Thian-thay-mo-ki tertawa lebar.com/ Di mulut gunung sebelum naik ke puncak didirikan sebuah barak besar khusus untuk menyambut kedatangan para tamu. Pay atau perguruan silat dan para tokoh Bu-lim kenamaan.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Kepada siapa saja undangan disebar?" "Kepada Pang. Setelah istirahat dan menghilangkan lapar dan dahaga. “Aku yang rendah Go it-hong menjabat Hek-ki-tongcu dalam Wi-to-hwe. katanya memperkenalkan diri. di mana berdiri seorang tua berpakaian hitam dengan delapan orang pengiring. Laki-laki baju hitam setengah umur itu segera memberi salam hormat. harap kalian tunjukkan tanda undangan." "Apa pula maksudnya dengan tokoh kenamaan?” . Jalan berliku yang menjurus ke atas kebetulan terletak diujung belakang barak besar itu.katanya: "Kalau tidak punya undangan bagaimana?" “Maaf. kini bertugas menyambut kedatangan para tamu. tugasnya khusus menyambut para tamu naik ke atas gunung.

maaf. Hwecu kami merasa menyesal. Tocu disuruh menyampaikan perintah.. katanya : "Pembagi undangan memang ceroboh dan ketinggalan. langsung dia memberi hormat kepada Go It-hong dan berkata: "Lapor Tongcu.." "Apakah Te-gak Suseng yang tenar ini tidak setimpal hadir?" Berubah air muka Go It-hong. namun terbatas oleh peraturan.com/ "Soal ini .. si Hek-ki-tongcu. bersama Thian-thay-mo-ki mereka jalan berendeng." Ji Bun mengangguk. kita naik ke atas. lalu dia menyingkir ke samping sana. namun rasa herannya masih belum lenyap. Silakan!" Ji Bun melengak dan merasa heran.. matanya melirik Thian-thaymo-ki yang sedang mengangsurkan undangannya kepada Go Ithong." “Oh.Tiraikasih Website http://kangzusi. orang yang baru datang itu lantas bisik-bisik dipinggir kupingnya terus berlari kembali ke atas Go It-hong lantas maju ke depan Ji Bun serta memberi hormat. harap Siauhiap maafkan. bahwa Wito-hwecu suruh orang mengirim perintah mengundang dirinya hadir . sorot matanya tertuju kepada Ji Bun. Untunglah pada saat itu muncul seorang berbaju hitam pula berlari-lari turun dari atas gunung. nona itu berkata: "Mari dik. sesaat dia melongo. perintah apa?" tanya Go It-hong. tak enak dia berkeputusan sendiri. jelas dia tahu asal usul kedua orang ini. tugasku hanya menyambut tamu dan tidak melayani segala pertanyaan.

Yang benar hati Ji Bun samakin tertekan. Siang-thian-ong dan musuh juga hadir. soalnya nama julukanmu memang. Ji Bun berjalan dengan lenggang kangkung seenaknya saja seperti pelancongan. maka muncullah pemandangan aneh dari lekuklekuk gunung yang berlapis-lapis menjulang ke atas diantara jepitan dua puncak di sebelah sana.” Jalan gunung yang menanjak semakin tinggi dan berputar mengelilingi sebuah puncak yang tidak terlalu tinggi.com/ dan minta maaf lagi. sungguh membingungkan dan luar biasa. Dari kejauhan tampak batu bata merah dan genteng dari bangunan gedung yang megah itu. terutama orang berkedok itu. perkumpulan ini berdiri untuk menumpas kejahatan. kenapa dirinya malah disambut dengan hormat. "kan sudah kutanggung kau boleh hadir. satu sama lain bertentangan.Tiraikasih Website http://kangzusi. Rombongan demi rombongan tamu-tamu yang berbondong datang itu terus mengayun langkah dengan cepat menuju ke lekuk gunung sana. mungkin ada sesuatu yang mencurigakan di balik semua ini? "Bagaimana?" ujar Thian-thay-mo-ki tertawa senang. lalu tindakan apa yang harus dirinya . ia pikir kalau nanti melihat Siangkoan Hong. siapakah Hwecu sebenarnya? Nama Te-gak Suseng dipandang sebagai setan iblis. teramat tenar. Setelah tiba di puncak gunung. Membelakangi tebing gunung yang menjulang ke langit berdiri sebuah "panggung" besar.

Mendadak langkah Ji Bun terhenti. hari ini pasti kutanya asal usulnya. gadis baju merah. jikalau dirinya tak kuasa menahan gejolak perasaan dendamnya sehingga rencana yang sudah teratur rapi menjadi gagal total.Tiraikasih Website http://kangzusi. kenapa kau?" tegur Thian-thay-mo-ki. seolah-olah dirinya sudah berdiri berdampingan dengan orang berbaju merah itu. jiwa sendiri mungkin sudah berkorban. Didepan terbentang hutan bambu yang lebat dan terawat baik. jantungnya berdetak. Sebelum berhasil menuntut balas." . jarak dari bangunan gedung di tanah datar seperti panggung besar itu sudah tidak jauh lagi. Ji Bun sampai lupa diri. dengan menggunakan kecerdikan dan akal adalah satusatunya jalan untuk menumpas dan melenyapkan musuh-musuh itu satu persatu. Dan yang paling ia kuatirkan adalah. Setelah melewati lingkaran gunung. Seperti mengigau Ji Bun berkata: "Itu dia. namun hal inipun terlalu banyak makan tenaga dan pikiran. jelas kepandaian sendiri bukan tandingan mereka.com/ lakukan? Kalau bertindak secara kekerasan. Sesosok bayangan merah tampak berdiri semampai di atas sebuah batu besar yang menonjol keluar. pemandangan di sini terasa nyaman dan mempesona. sorot matanya menyala memandang hutan bambu sebelah kanan. arus manusia kelihatan bergerak menjurus ke sana. "Dik. angin gunung sepoi-sepoi menghembus sehingga pakaiannya melambai-lambai mempesona.

merampas dan mencuri barang berharga milik orang lain. terus menyingkir pergi. Ji Bun sudah melupakan kehadiran Thian-thay-mo-ki. Gadis berbaju merah itu bak sebutir mutiara yang agung dan suci bersih. Cip-po-hwe merupakan perkumpulan kelas tiga di Kangouw. benci dan dendam seketika merangsang sanubarinya. langsung ia menghampiri ke sana. seorang diri ia terus menghampiri ke sana. Sebaliknya hancur luluh perasaan Thian-thay-moki. Penculikan Ciang Bing-cu puteri hartawan Kayhong yang berhasil dia gagalkan merupakan salah satu bukti. Rasa cemburu seketika membakar hatinya. Tapi setelah dekat berada di belakang gadis berbaju merah. boleh dikatakan terlalu menurunkan derajat diri dan memalukan.com/ Berubah air muka Thian-thay-mo-ki. seketika dia berdiri tertegun. Orang dalam tandu yang berkepandaian tinggi. si gadis berbaju merah yang dingin itu. Pemuda itu bagi Ji Bun tidak asing lagi. kalau dia bergaul dan berkumpul dengan pemuda macam ini. sudah tak terpikir lagi dalam benaknya. hatinya sudah tercuri oleh gadis berbaju merah itu. disadarinya betul-betul bahwa Ji Bun hakikatnya tidak suka dan menaruh hati terhadap dirinya. maka dengan gegetun ia banting kaki. namun Ji Bun tidak perhatikan. dengan segala cara kotor dan jahat mereka merebut. di mana pandangannya tertuju. .Tiraikasih Website http://kangzusi. karena dia bukan lain adalah putera Cip-po-hwecu. Di belakang batu gunung yang menonjol di sebelah kanan ternyata masih ada seorang pemuda berbaju putih yang berdiri di sana.

katanya keheranan: "Adik Hwi. Gadis berbaju merah menarik muka. Sesuatu yang sukar diperoleh adalah yang paling berharga. terasa kecut dan mendelu hati Ji Bun. hal ini memang tidak salah. dengan kaget. serunya kaget: "Te-gak Suseng!" Gadis berbaju merah ikut berpaling. begitu melihat Ji Bun seketika berubah hebat air mukanya. Dengan lembut gadis berbaju merah berkata kepada pemuda berbaju merah dengan tertawa: "Siaumoay pernah mendapatkan sedikit pertolongannya. badan Ji Bun seperti terkena aliran listrik. kebetulan sorot matanya kebentrok dengan pandangan Ji Bun." ." Dengan langkah cepat.Tiraikasih Website http://kangzusi. kau sudah kenal?" Panggilan "adik Hwi"menandakan hubungan mereka sudah tidak biasa. seolah-olah dalam jagat raya ini hanya si dia inilah yang tercantik. Begitu pandangan saling bentrok. katanva "Memang beruntung dapat bertemu lagi di sini. pemuda berbaju putih mendekati gadis berbaju merah.com/ Kebetulan pemuda berbaju putih berpaling ke sini. katanya: "Selamat bertemu!" Karena berlengan buntung maka Ji Bun hanya membungkuk badan memberi hormat.

Peresmian Perkumpulan Wi-to-hwe Menyala biji mata Ji Bun. dengusnya." "Menerobos ke markas kami. namun ia tahan perasaannya." namun dia .. "jangan memaki orang!" 3." "Musuh besar? Ada permusuhan apa di antara kalian." seru gadis berbaju merah sedikit marah.Tiraikasih Website http://kangzusi. membunuh dan menculik orang. Tak tertahan lagi kobaran amarah Ji Bun..” "Kenapa?" "Dia adalah musuh besarku... dia menyurut mundur dan tak berani menanggapi. hawa hitam yang tebal sudah terpusat di antara kedua alisnya. dengan tajam dia tatap pemuda berbaju putih.9.." gadis baju merah hanya bersuara dalam mulut dengan melongo.com/ "Tuan penolong adik Hwi?" tanya pemuda berbaju putih... "Te-gak Suseng. "Kau ini terhitung barang apa?" Agaknya pemuda baju putih betul-betul sudah jeri terhadap Ji Bun. katanya:" Cayhe mohon diberitahukan siapa nama harum nona?” ." "Oh.

hati-hatilah terhadap manusia tamak berhati serigala." kata gadis berbaju merah.. teriaknya: "Te-gak Suseng.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Aku pernah mendapat pertolongan tuan.” “Kenapa nona Pui sudi bergaul dengan manusia macam dia ini?" “Manusia macam dia apa maksudmu?" “Kaum keroco di Kangouw. "kenapa tidak langsung masuk saja?" Hampa hati Ji Bun karena sikap dingin dan diusir secara halus ini.com/ "Aku bernanaa Pui Ci-hwi.” "Selamanya Cayhe tak pernah mengharap balas budi siapapun." Karena dimaki dan dijelekkan dihadapan pujaan. tuan kemari atas undangan?" tanya si gadis berbaju merah.. perbuatannya kotor dan wataknya bejat.. "kelak pasti kubalas ." ujar Ji Bun. ia merasa terpukul gengsinya.. jengeknya sinis: "Kau tidak setimpal menyinggung nama gelaran dan perbuatanku. meski jeri pemuda baju putih menjadi marah dan berani.. . Cayhe memberi peringatan setulus hati. dengan menarik muka ia berkata dengan mengertak gigi: "Nona Pui.. "Itu urusan lain. sepak terjang dan nama gelaranmu itu memangnya harum bagi kaum persilatan?" Mata Ji Bun mengerling sedikit.

Tiraikasih Website http://kangzusi. Ji Bun balas bertanya: "Jadi nona adalah tuan rumah di sini?" "Ah. kehadirannya mengotori suasana saja. Pemuda berbaju putih berkata dingin:"Orang seperti ini hadir dalam pembukaan Wi-to-hwe. Tanpa hiraukan ucapan tajam orang. segera ia membalik pula dengan mendesis mendelik: "Kau ingin mampus?" Tanpa sadar pemuda berbaju putih menyurut mundur dengan bergidik. namun sabar ada batasnya." Manusia mana yang suka mendengar makian atau ejekan yang menghina. naga-naganya memang tidak kecil perbawa dan kekuatan Wi-to-hwe. serunya: "Tuan kemari sebagai tamu. hanya boleh dikatakan setengah tuan rumah.com/ cabul lagi." Kata-kata ini layaknya diucapkan oieh seorang tuan rumah. mungkinkah dia salah seorang dari anggota Wi-to-hwe? Atau ada hubungan kental dengan ketuanya? Kalau begitu orang dalam tandu yang melukai dirinya di Jing-goan-si tempo juga salah seorang dari Wi-to-hwe ini." . apalagi dihina di depan gadis pujaan hatinya. Gadis berbaju merah maju selangkah. Di sini bukan tempat untuk membunuh orang. walau dia sudah berjanji hendak ubah watak dan perilaku demi suksesnya menuntut balas. apa lagi Ji Bun yang memang berwatak nyentrik." Habis berkata ia terus putar badan hendak tinggal pergi. supaya kelak tidak menyesal setelah kasip. harap tahu diri. Tergerak hati Ji Bun.

dengan pandangan mesra ia mengerling kepada pemuda baju putih. ia tahu memang tidak leluasa main bunuh orang ditempat ini." Lalu dia ajak pemuda baju putih pergi dengan bergandengan tangan. akan tetapi ia kini betul-betul sudah banyak berubah.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Dik?" itulah suara panggilan Thian-thay-mo-ki. Dengan mendelong dia mengawasi bayangan merah putih semakin jauh. Ji Bun berpaling sambil tertawa. tawa untuk menghilangkan rasa pedihnya. "pemandangan di sana begitu permai. Hal itu secara langsung akan mempengaruhi rencananya untuk membalas dendam. timbul rasa kecut dan getir dalam hatinya. bagaimana kalau kita pindah tempat saja?" Gadis baju merah sedikit mengangguk. entah kapan tahu-tahu ia sudah berada di sampingnya. pemuda baju putih terang sudah mampus." sela pemuda berbaju putih. tertawa ewa. katanya dengan lembut dan prihatin: "Upacara pembukaan sudah hampir tiba. namun Thian-thay-mo-ki tidak hiraukan mimik tawanya. lalu berkata kepada Ji Bun yang dirangsang kemarahan: "Tuan boleh silakan.com/ “Setengah?" "Adik Hwi. Kalau menuruti watak Ji Bun dulu." .

beban dan tanggung jawab sakit hati belum terbalas. pikirannya jernih.Tiraikasih Website http://kangzusi. hatipun lapang. yang dipikirkan malah soal cinta melulu. keselamatan ayah bunda belum lagi diketahui. Ji Bun naksir kepada Pui Ci-hwi. ia tidak mau membicarakan soal ini lagi.com/ lnilah hubungan timbal balik yang serba bertentangan dan ruwet. katanya tenang kepada Thian-thay-mo-ki: “Cici." ujar Thian-thay-mo-ki tertawa. "laki perempuan jatuh cinta adalah karunia Tuhan dan menjadi sifat pembawaan manusia. ia tetap mengikutinya ke mana pergi. Setelah sadar akan kesalahannya. kau kira perbuatanku teramat bodoh bukan?” "Tidak. Namun. Supaya tidak menimbulkan hal-hal yang merikuhkan. namun dia rela menerima kenyataan ini. tenang kembali. inilah tindakan yang tidak bijaksana. soal cinta tidak boleh dipaksakan. malah ada kalanya berlaku kasar dan menyinggung perasaannya. boleh dikatakan malah merasa sebal dan benci. Tapi Thian-thay-mo-ki pun tidak patah semangat. Apakah akibat yang bakal terjadi dari cinta segi tiga yang aneh ini? Pelahan perasaan Ji Bun. kuingat waktu berada di Jing-goan-si kau pernah menunjukkan Sam-ci-ciat kepada . segera ia alihkan pembicaraan: "Cici. ia sadar akan kelancangan dirinya. namun sedikitpun dia tidak ambil perhatian. tapi bukan saja Pui Ci-hwi tidak simpatik terhadapnya.” Sudah tentu Ji Bun paham arti kata-kata orang. Sebaliknya Thian-thay-mo-ki kesemsem kepadanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.” agaknya ia segan bicara soal ini. tujuh orang tua masing-masing menempati tujuh kursi. boleh aku mengetahui?" "Itulah tanda pengenal perguruanku. namun suasana hening dan tenang. Kedua samping meja sembahyang rada ke belakang sana berderet delapan kursi kebesaran. api lilin terpasang menyala di mana-mana. Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki sementara berpisah mencari tempat duduk yang terpisah antara laki dan perempuan. mungkin dia itulah pengantar upacara.” "Kau terlalu memuji beliau. Entah berapa manusia yang berjubel-jubel di bawah panggung. Sorot mata Ji Bun . Kursi kedelapan yang paling kiri masih kosong. Enam belas orang lagi yang berseragam ketat sebagai pembantu upacara masing-masing berdiri tersebar di bawah panggung. Asap dupa mengepul tinggi." "Tentunya gurumu seorang tokoh luar biasa. benda apakah sebetulnya Sam-ci-ciat itu. barang-barang sesajian bertumpuk tinggi beraneka macam. Di depan gedung yang megah itu adalah sebidang tanah lapang yang luas. Ji Bun juga tidak bertanya lebih lanjut.com/ orang dalam tandu. Dua laki-laki setengah umur berpakaian rapi berdiri di kedua samping meja sembahyang. Mereka melanjutkan ke depan menuju kederetan bangunan gedung tadi. di sebelah utara dibangun sebuah panggung seluas lima tombak persegi dan tinggi enam tombak lebih.

Kalau kenyataan ini betul. Mengencang perasaan Ji Bun. ia ingin menemukan jejak Siangkoan Hong yang pernah ditolongnya itu namun orang tak dilihatnya. Siang-thian-ong ternyata duduk diantara tujuh orang tua. Sebagai orang-orang yang duduk sejajar bersaing Siang-thian-ong dan Bu-cing-so. Ke tujuh orang tua di atas panggung serempak berdiri menyambut. orang di dalam tandu tetap tidak keluar. tanpa terasa ia bergidik. Diam-diam jantungnya berdetak. Suara berisik mulai timbul di bawah panggung. . Tak tahunya harapannya tidak terkabul.Tiraikasih Website http://kangzusi. pikirnya. tandu berhias itu ternyata berhenti di kursi pertama pada deretan sebelah kiri. Bu-cing-so. Ketujuh orang tua yang duduk di kursi kebesaran di atas panggung mungkin sukar dicari tandingnya.com/ langsung tertuju kepada tujuh orang tua yang duduk di atas panggung. Memangnya untuk siapa pula kursi yang kosong di sebelah kiri itu? Tiba-tiba dilihatnya sebuah tandu berhias mendatangi langsung menuju ke panggung. Mungkinkah tragedi Jit-sing-po ada sangkut pautnya dengan Wi-to-hwe? Tibatiba berkelebat dugaan ini di dalam benaknya. kelima orang tua yang lain pasti tokoh kosen yang luar biasa pula. mungkin hari ini kudapat melihat wajah sebenarnya dari orang di dalam tandu itu. pandangannya menjelajah keseluruh pelosok. betapa tambah sulit tugas dirinya untuk menuntut balas.

suasana ramai kembali sirap menjadi hening. Di tengah suasana yang khidmat itu. entah mengapa perasaan Ji Bun menjadi risi dan kurang tentram. tertampak protokol mengumandangkan pengumuman dan upacara mulai berlangsung. Ji Bun membatin. dilihatnya seorang nyonya berpakaian hijau yang duduk di antara tamu-tamu perempuan di seberang sana kebetulan melengos ketika . namun sorot matanya berkilat tajam. Dia inikah Hwecu? Ji Bun ingin mencari tahu kepada orang yang duduk di sebelahnya. Muka yang kereng tidak menunjuk perasaan apa-apa. "Tang-tang-tang" tiga kali gentang bertalu. Suasana yang semula khidmat dan tenang kini menjadi agak kacau dan ramai karena munculnya orang bertandu itu. nanti pasti dia akan memperkenalkan diri. tak kira kenyataan meleset pula dari dugaannya. dilihatnya mimik orang yang duduk di sekitarnya juga menunjuk rasa bingung dan sangsi. agaknya merekapun tidak tahu siapa dan bagaimana asal usul Wi-to-hwe.com/ Agaknya hadirin juga tidak tahu akan asal usul orang di dalam tandu yang misterius ini. tampak seorang laki setengah baya dengan pakaian kebesaran di dahului empat anak laki-laki pembawa Hiolo beranjak pelan menuju ke atas panggung. Irama musik segera mengalun dari belakang panggung.Tiraikasih Website http://kangzusi. terasakan ada sepasang mata tajam yang tengah mengawasi dirinya. maka suara berisik semakin keras menjadi percakapan ramai di antara hadirin di bawah panggung. dari tempat jauh dapat merasakan ketajaman sinar matanya. waktu dia berpaling. Waktu ia berpaling ke sana.

tanpa berpaling perempuan berkerudung itu langsung masuk ke dalam hutan. dengan leluasa ia meninggalkan tempat itu. dari dandanan dan rambutnya terang usia perempuan ini sudah setengah abad. akhirnya ia ikut berdiri terus beranjak keluar pula.com/ dia berpaling. walau tertutup kain sari. untunglah dia tidak mendapatkan halangan. Sebetulnya tingkahnya ini kurang terhormat dan bisa dicela orang. Suasana tetap sunyi dan khidmat. setelah berpikir bolakbalik. dilihatnya sorot mata orang kembali tertuju ke arahnya. Tiba-tiba dilihatnya perempuan berkerudung itu berangkat meninggalkan tempat duduknya. sebelum pergi tangannya sedikit terangkat dan menunjuk keluar. semua pos-pos penjagaan ditarik . Tengah dia terlongong. namun belakangan ini untuk menghormati para tamu. Di ujung lapangan sebelah timur adalah hutan lebat. Siapakah perempuan ini? Seingat dia belum pernah kenal perempuan baju hijau berkedok kain sari tadi. Biasanya tempat-tempat ini ada pos penjagaan. maka tiada orang yang memperhatikan gerak geriknya. namun sinar matanya masih kelihatan cemerlang. di mana upacara sedang beriangsung. hadirin sedang tumplek perhatiannya ke arah panggung. sungguh luar biasa Lweekang perempuan tua ini. seolah-olah dia yakin Ji Bun pasti mengikuti dirinya. Ji Bun semakin heran dan tidak mengerti.Tiraikasih Website http://kangzusi. pelahan berjalan keluar meninggalkan panggung.

"Betul. "Kau bergelar Te-gak Suseng?” tanya perempuan itu dengan suara dingin tajam. kalau gagal segalanya bakal berantakan.. mohon tanya .. dilihatnya perempuan berkerudung itu sudah menunggunya di sana.. Tahu!" Bergolak perasaan Ji Bun. pikirnya.” "Bagaimana yang tidak sopan?" "Kau harus berlutut menjawab pertanyaanku. Demi berhasil menuntut balas.. Maka tenanglah pikirannya.. katanya tawar: "Ada petunjuk apa?" ..com/ seluruhnya..” "Tidak usah kau tanya siapa aku. sebutkan siapa gurumu dan dari aliran mana?" “Sikapmu ini terlalu kasar dan tidak pandang sebelah mata . puluhan tombak kemudian. inilah ujian dan gemblengn bagi diriku.. maka setelah meninggalkan gelanggang. tidak tampak lagi bayangan seorangpun. namun dia tekan sekuat mungkin. dia harus menempa diri.Tiraikasih Website http://kangzusi.” "Pertanyaanku ini sudah terhitung cukup sopan... Dengan penuh tanda tanya Ji Bun ikut masuk ke dalam hutan. berlaku bajik dengan penuh kesabaran.....

orang mengajaknya kemari tentu bukan secara kebetulan. keringat bertetes membasahi jidat Ji Bun. rasa sakit menusuk jantung. Begitu kerahkan tenaga. Waktu itu sebenarnya dia bisa. gerakan tangan yang lucu namun lihay. maka ia berkata. .” Sikap kasar dan takabur ini membuat Ji Bun geli dan dongkol pula. tahu-tahu pergelangan tangannya sudah terpegang oleh orang. dan itu berarti memenuhi keinginan orang pula.com/ Perempuan berkerudung diam sebentar. lalu berkata: "Kabarnya cara kau membunuh orang sangat aneh. jarang ada serangan seaneh ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun ia mengertak gigi tanpa. sekarang coba kau pertunjukkan kemampuanmu terhadapku." "Bolehkah aku tahu sebabnya?" "Memangnya harus banyak omong?" tiba tangannya mencengkeram ke arah Ji Bun. belum lagi pikirannya bekerja. jari-jari perempuan berkerudung itu tanggem menjepit. Sungguh-sungguh: "Apa alasanku harus menyerangmu?" "Kehendakku sendiri. si korban tidak menunjuk sesuatu luka. Ji Bun merasa tak sempat berkelit atau menyingkir. ia kuatir orang sudah kenal siapa dirinya. namun diam-diam ia waspada. apa lagi serangannya belum tentu dapat merobohkan orang. memperoleh kesempatan menyerang. tangannya dibiarkan terpegang. mengeluh atau merintih sedikitpun. namun dia tetap diam saja.

cekak saja. Sekian lama ia melongo." ujar perempuan berkerudung." sahut Ji Bun meringis. "kau kenal Thianthay-mo-ki?" Ji Bun melengak. "Anak muda. "Apa kau mencintainya? Jangan pakai macam-macam alasan. "Mati atau hidup tidak menjadi soal lagi bagiku. kau mencintainya tidak?" Ji Bun jadi bingung cara bagaimana ia harus menjawab. kalau mengatakan tidak." jengek perempuan berkerudung sambil melepaskan pegangannya. ia mengangguk dan mengiakan. lalu balas bertanya: "Pernah apa kau dengan Thian-thay-mo-ki? Tentunya kau punya alasan menanyakan hubungan kami ini?” . dengan melongo dia pandang orang. entah apa pula maksud tujuan pertanyaan orang ini? Baru pertama kali ini ia betul-betul menyadari untung ruginya bagi seorang menghadapi persoalan pelik. entah mengapa persoalan sampai melibatkan Thian-thay-mo-ki. "Hm. Ji Bun terhuyung mundur dua langkah.Tiraikasih Website http://kangzusi. kau gila dan congkak sekali.com/ "Kau tak ingin mampus bukan?" tanya perempuan berkerudung dengan dingin. hakikatnya ia tidak pernah timbul rasa cinta terhadap perempuan genit itu.

. kelak pasti kubalas kebaikannya. "Anak muda. itupun sudah untung bagi kau?" Merinding Ji Bun dibuatnya." “Jadi kau tidak naksir kepadanya?" "Cayhe tidak mengatakan demikian." bentak perempuan berkerudung tajam.Tiraikasih Website http://kangzusi. dalam hal apa dia tidak setimpal menjadi jodohmu? Bahwa dia tidak mencela kau bertangan buntung. belum menjurus ke soal cinta. kini baru jelas duduk persoalannya." "Kami hanya bersahabat." "Dengan cara apa kau hendak membalas budi?” "Itu bergantung keadaan dan kebutuhan." "Kau tahu kalau dia amat mencintaimu?" "Cinta tidak boleh dipaksakan." "Pungkir." "Tahukan kau. tak perlu kau banyak omong lagi.com/ "Aku hanya ingin satu jawaban yang tegas. kalau tiada dia jiwamu sudah melayang?" "Budi dan dendam selamanya kubedakan dengan jelas. memangnya perempuan berkerudung ini adalah guru Thian-thaymo-ki? Tapi jarang terjadi seorang guru memaksa orang lain untuk mencintai muridnya.

satu kata saja. Sebuah suara serak tua berkata: "Pasti ada pohon ribuan tahun di atas gunung. hutang piutang menjadi lunas. tiba-tiba berkumandang gelak tawa yang mengalun dari belakang sana. Cayhe tidak dapat menjawab." Di tengah gelak tawa yang menusuk telinga itu tampak bayangan hitam putih menggelundung tiba. mungkinkah semua ini adalah muslihat Thian-thay-mo-ki yang hendak mempermainkan dirinya demi mencapai tujuannya? Kalau betul. namun sukar ditemukan manusia umur seabad di dunia ini." Tiba-tiba timbul pikiran Ji Bun." "Kalau Cayhe berkata tidak?" "Kubunuh kau! Dia menolongmu dan akulah yang membunuhmu...Tiraikasih Website http://kangzusi. sungguh terlalu rendah dan hina.. ternyata dialah Siang-thian-ong.com/ "Maaf. dari ucapan Siang-thian-ong tidak sulit diduga bahwa usia perempuan berkerudung ini sudah melampaui . Untunglah sebelum keadaan menjadi runyam. ha ha ha ha . "Siapa?" bentak perempuan berkerudung tanpa berpaling..." "Kau harus memberi putusan.. Aku sudah bosan hidup. tak kira ada juga manusia yang tamak hidup malah. cinta atau tidak. Bergetar hati Ji Bun.

sinar matanya yang tajam menembus kain sari menatap Siang-thian-ong. tempo hari waktu Siang-thian-ong dan Bu-cing-so berkelahi memperebutkan gadis berbaju merah.. Perempuan berkerudung diam saja..Tiraikasih Website http://kangzusi. . Masih segar dalam ingatannya.." "Lokoay (bangkotan aneh). ternyata watakmupun tidak berubah.. tidak pasti aku tidak mengenali dirimu.” Selagi Ji Bun terlongong. katanya: "Sahabat lama dari Thian-thay. walau mukanya berkerudung kain sari. sang waktu berlalu tanpa mengenal kasihan. Siang-thian-ong ngakak sekali lagi. tapi tingkah lakunya tidak sedikitpun menunjukkan ketuaannya. Teringat dendam keluarganya. atau pemilik dari Sam-ci-ciat itu.. sungguh aneh dan sulit dipercayai. seketika darah bergolak..com/ seabad.. puluhan tahun bagai hari kemarin. syukurlah watakmu tetap abadi dan mencampuri urusan gendut genit itu. Siang-thian-ong garuk-garuk kepala lalu mengelus jenggotnya yang panjang.. kalau. pernah mereka menjajal kepandaian silat Thian-thay-mo-ki dan sebelum pergi mengatakan: "Kiranya kau ini murid nenek galak itu ." Kini yakinlah Ji Bun bahwa perempuan berkerudung adalah guru Thian-thay-mo-ki.. sudah habis belum obrolanmu?" tukas perempuan berkerudung. pandangan Siang-thian-ong tertuju ke arahnya. katanya: "Nenek galak. amarah berkobar namun dia tetap waspada dan tekan perasaan. namun wajahnya tetap rupawan. sungguh karunia .

.Tiraikasih Website http://kangzusi. Anak muda. hal ini harus diselidiki secara seksama dan mendalam.." . Hayolah. tidak boleh terburu nafsu.... Siang-thian-ong sehaluan dengan Siangkoan Hong yang pernah ditolongnya.... dan lagi sepak terjang dan perilaku dirinya harus hati-hati dan ramah. . "Syukurlah kaupun datang menghadiri upacara kebesaran ini." Kembali Ji Bun melongo. marilah ikut aku. "Orang kosen macam apakah Wi-to-hwe Hwecu" "Hal ini sekarang belum boleh diumumkan.” "Apakah saudara Siangkoan tempo hari itu juga akan kemari?" Kemungkinan ada. menjadi tamu agung Hwecu? Apakah mungkin .. sedikitnya tak boleh menunjukkan tandatanda yang mencurigakan. marilah hari ini kau merupakan tamu teragung bagi Hwecu." ujar Siang-thian-ong sambil bertolak pinggang.. tanyanya heran: "Wanpwee . bukan mustahil iapun ikut menjagal orang-orang Jitsing-po. kalau tidak jangan harap bisa menuntut balas.. maka tersipu-sipu ia memberi hormat: "Locianpwe selamat bertemu..com/ tahan dan sabar..” "Anak muda. mari kita minum sepuasnya..” "Banyak sekali kejadian yang tidak mungkin anak muda." tukas Ji Bun. demikian ia membatin." "Mohon tanya Locianpwe.

" hardik perempuan berkeruduug. jika kau sendiri tak mampu melihat asal usulnya. maka kau harus mawas diri . "Urusanku belum selesai" "Urusan apa?” "Tiada sangkut pautnya denganmu.com/ "Nanti dulu" sela perempuan berkerudung." "Omong kosong.. dengan kedudukanku. Coba lihat!" tiba-tiba telapak tangan nenek itu ke arah Ji Bun." "Tua bangka.. "Ada apa?“ tanya Siang-thian-ong dengan meninggikan suaranya.. kau tidak takut kehilangan pamor.." "Nenek galak. kau enyah saja.. apalagi bocah ini memang berwatak kepala batu dengan caramu ini jangan harap kau bisa mengorek keterangannya. katanya : "Nenek galak.. Siang-thiang-ong mengadang sambil membentang kedua tangannya.. Urusan anakanak biar mereka bereskan sendiri. "Memangnya kau mau berkelahi?" . hematlah tenagamu. jangan menimbulkan huru hara lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi.... masakah dia tidak mau menyebutkan asal usulnya ..." "Bisa saja." "Nenek galak.

sekarang terus terang aku tiada minat lagi." "Menyambut siapa?" "Kau. tak bisa kan berpeluk tangan. katanya: "Enam puluh tahun yang lalu sudah pernah kujajal kau. Mungkinkah disebabkan dirinya pernah memberi sedikit pertolongan kepada gadis berbaju merah yang mengaku bernama Pui Ci-hwi? Dari Pui Ci-hwi seketika dia teringat majikan muda atau pemuda Baju putih dari Cip-po-hwe itu rasa cemburu seketika membakar hatinya.com/ Siang-thian-ong tergelak-gelak keras. Padahal siapa sebetulnya Hwecu atau ketua Wi-to-hwe yang baru berdiri ini. Memangnya pemuda yang kotor dan bejat itu .Tiraikasih Website http://kangzusi." "Kalau begitu lekas kau enyah saja!" "Tapi Lohu(aku yang tua) menjalankan tugas. malah dirinya dijajarkan bersama perempuan berkerudung ini." Semakin besar rasa curiga Ji Bun. pokoknya kalian semua. betapapun dirinya tidak setimpal menjadi tamu agung segala apalagi tokoh macam Siangthian-ong mendapat tugas untuk menyambut tamu. sedikitpun dirinya tidak tahu. dia." "Menjalankan tugas apa?" "Tugas menyambut tamu.

jangan kau bercapek lelah... nenek galak. Tamu Agung Wi-to-Hwe "Boleh saja bila kau suka. "Aku tidak ingin jadi tamu agung segala.. Sementara itu. tua bangka." Siang-thian-ong berbatuk-batuk kering. perempuan berkerudung tengah berkata dengan angkuh." 4..” "Jadi terang kan ingin cari gara-gara terhadap bocah ini?" "Memangnya dia setimpal membuat perkara terhadapku? Sudahlah. kau sudah patut masuk liang kubur. selama hayat masih dikandung badan.10. Sebaiknya kau tahu diri. jangan cerewet." "Ha ha ha.. selama hidup memang Lohu adalah orang yang tidak tahu diri. tua bangka.Tiraikasih Website http://kangzusi. tiada orang yang berani mencampuri sepak terjangku.. katanya : "Nenek tua. jangan nanti kau katakan aku tak ingat hubungan baik masa lalu?" "Agaknya kau memang ingin memberi petunjuk kepadaku.com/ setimpal menjadi jodoh Pui Ci-hwi yang suci dan agung serta rupawan itu. karena watakmu masih begini aseran .” lalu Siang-thian-ong berpaling kepada Ji .” "Tutup mulutmu.

"Jangan pergi. Hadirin yang berjejal di bawah panggung sudah bubar. badanpun melejit tinggi meluncur ke sana. mereka tiba di sebuah pekarangan luas. Segera Ji Bun beranjak menuju ke arah bangunan gedung besar dan megah itu.com/ Bun dan menambahkan: "Anak muda. terdengar suara menggelegar di belakangnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. sebat sekali Ji Bun berkisar dan berbalik badan.” kata orang itu. suara gelak-tawa bercampur percakapan yang . Setelah melewati lorong pintu yang panjang." seru perempuan berkerudung. "Silakan ikut Cayhe. Di bawah peturjuk laki-laki ini Ji Bun lantas memasuki gedung besar itu. sapanya sambil merangkap tangan: "Apakah tuan ini Te-gak Suseng?" Ji Bun mengangguk. mumpung ada kesempatan segera ia meninggalkan tempat ini. tiada urusanmu lagi disini. Seorang laki-laki baju hitam segera menyambut kedatangannya. silakan pergi!" Ji Bun tidak peduli pertengkaran mereka. keadaan panggung kini sudah kosong melompong dan sunyi ditingkah sinar surya dan terang benderang. namun bersamaan waktunya Siang-thian-ong juga bergerak. tampak meja perjamuan sudah tersebar ratusan banyaknya. agaknya kedua bangkotan tua itu sudah saling hantam.

Tengah ia kebingungan.com/ ramai. ia ingin menemukan bayangan Siangkoan Hong di antara hadirin. diam-diam Ji Bun merasa heran." . silakan duduk!" Orang yang berbangkit dari tempat duduk dan ymnyilakan dirinya duduk ini terang adalah Wi-to-hwe Hwecu. walau sudah menjelajah segala pelosok pekarangan luas tempat perjamuan. serunya: "Tamu sudah tiba!" lalu dia mundur dan berdiri di samping. Tidak kelihatan tamu perempuan hadir dalam perjamuan ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. Akhirnya Ji Bun menyusur ke serambi panjang dipinggir ruang pendopo. di tengah-tengah meja perjamuan itu kelihatan bangkit dan mengulur tangan. serunya: "Sahabat muda. Bayangan seorang duduk. cepat ia membungkuk dan menyahut: "Aku yang rendah tak berani menerima kehormatan setinggi ini. dilihatnya laki-laki baju hitam yang menunjuk jalan tadi membungkuk badan ke arah meja tengah. mimpipun ia tidak habis mengerti bagaimana mungkin dirinya dipandang sebagai tamu kehormatan? Namun kenyataan tidak memberi kesempatan untuk ragu-ragu. agaknya mereka dijamu di tempat lain. Ji Bun menjadi kaget dan kebingungan. ke mana dirinya hendak dibawa? Pada serambi luar ini berderet lima meja perjamuan. ia tetap tak menemukan jejak Siangkoan Hong. Dengan tajam Ji Bun sapukan pandangnya ke seluruh gelanggang. jelas sekali kelima meja perjamuan adalah diperuntukkan para tokohtokoh tingkat tinggi. Namun ia kecewa.

Setelah basa basi ala kadarnya. Cukup sekali tarik napas saja sudah terasakan sesuatu oleh Ji Bun. hidungnya yang sudah terlatih baik merasakan adanya sesuatu yang tidak beres pada hidangan bubur sarang burung ini.com/ "Ah. yang lain masih asing dan tidak dikenalnya. Bubur sarang burung yang panas mengepul dan bau sedap segera disuguhkan. Air muka Wito-hwecu kelihatan kereng berwibawa. rendah hati. Di antara orang yang duduk semeja dia hanya kenal Bu-cing-so seorang. Seketika ia mengerut kening.Tiraikasih Website http://kangzusi. sorot mata mereka tertuju ke arah Ji Bun. silakan duduk!" Seluruh hadirin yang sudah duduk mengelilingi meja perjamuan serempak berbangkit juga. atau pemimpin yang berkuasa di suatu daerah. kebanyakan adalah para pimpinan sesuatu golongan atau aliran. malah racun jahat yang tidak berbau tidak berwarna. Hidangan ini tercampur racun. sepintas pandang membuat perasaan orang terasa risi. terpaksa dia menduduki kursi kosong di sebelah kiri. Semua hadirin adalah tokoh-tokoh persilatan yang terpandang. hampir saja ia berteriak kaget. siapapun sulit mengetahuinya. Sorot mata mereka sama-sama mengunjuk tanda tanya. Mereka termasuk kaum pendekar yang meliputi enam puluh tiga wilayah di selatan . kenapa Te-gak Suseng bisa mendapat kehormatan setinggi ini? Apa sebetulnya hubungan kedua pihak? Sudah tentu Ji Bun sendiripun tidak mengerti. silakan. namun bekerja lambat. namun kaku dan dingin.

betapa hebat akibatnya. semuanya berubah air mukanya. agaknya pihak Wi-to-hwe . mereka pun mati keracunan dalam perjamuan. Karena ia tahu cara penggunaan racun ini adalah ajaran tunggal dari perguruannya. di antara orang-orang yang hadir dalam perjamuan itu seorang laki-laki kurus berwajah tirus tiba-tiba berteriak dengan gemetar: "Dalam bubur ada racun!” Teriakannya seketika membuat seluruh hadirin menjadi ribut.com/ dan utara.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun perintah yang dikeluarkan adalah menghentikan penyuguhan hidangan. Dia ingin membongkar muslihat ini. Terbayang tragedi di Jing-goan-si. ia kira tiada orang kedua dalam Kangouw yang mampu meracik dan membuat racun ini. Apa tujuan ayah menggunakan racun di sini? Untuk menuntut balas? Padahal belum tentu semua hadirin adalah musuh. kecuali ayahnya. racun?” Hanya Wi-to-hwecu saja yang berlaku tenang-tenang tanpa menunjukkan perubahan apa-apa. ia berpaling dan berpesan kepada seorang pengawal pribadinya: "Perjamuan segera dihentikan. malah tidak sedikit yang berseru kaget: "Ha. namun segera pikirannya bergerak. kenapa hal itu bisa terjadi? Perlukah dia sekarang menggagalkan tragedi itu terulang lagi? Tengah bimbang." Perjamuan sebanyak ratusan meja itu tidak mungkin bisa dihentikan begitu saja. suruh Cengkoan kemari. Jikalau mereka semua keracunan dan binasa.

pikirnya." Bergetar kulit muka orang tua kurus.Tiraikasih Website http://kangzusi. dari penciuman khusus baru bisa membedakannya.com/ memang sudah berhati-hati dan berjaga jaga akan segala kemungkinan. Tanpa terasa Ji Bun melirik ke arah orang tua kurus itu. kalau tidak sungguh sulit bagiku memberikan pertanggungan jawab pada seluruh hadirin. betapa kejut hatinya. katanya: "Permainan kotor dan rendah ini. Siapakah orang tua ini dan bagaimana asal usulnya. sungguh amat memalukan sekali. kebetulan orang itu juga memandang Ji Bun. Kembali Ji Bun mengarahkan pandangan pada orang tua kurus itu. aku hanya sekali menolong Siangkoan Hong dan sekali menawarkan racun permainan orangorang Cip-po-hwe dan semua itu tidak diketahui orang lain. . tiada apa-apa!" Suara ribut-ribut lambat laun mereda dan berubah gelak tawa dan percakapan pula. katanya pelahan: "Kabarnya sahabat muda ini juga paham dan ahli di bidang racun?" Tersirap darah Ji Bun. apa iapun kenal akan racun ini? Wi-to-hwecu berpaling ke arah orans tua kurus. katanya "Tidak meleset dari dugaanmu." Wi-to-hwecu segera berseru lantang:" Tuan-tuan boleh silakan makan minum sepuasnya. kecuali orang yang tahu cara meracik dan membuatnya. karena racun yang digunakan dan tercampur di dalam bubur sarang burung ini boleh dikatakan tidak berwarna dan tidak berbau.

belum terhitung ahli. "sekali sahabat muda tebak lantas kena. katakata ini mengandung arti yang luas.. tiada sesuatu yang ada di Kangouw ini yang serba rahasia.com/ berdasarkan apa orang tua ini bertanya demikian? "Kabarnya". di dalam kalangan racun dia berjuluk ... Nama aslinya adalah Cu Ngo tok. Wanpwee berlaku kurang hormat....” Tiba-tiba Ji Bun ingat seseorang. dari mana tuan mengetahui?" "Ha ha." seru Wi-to-hwecu manggut-manggut.. katanya: Ah. mungkinkah . Sifatnya pendiam dan suka menyendiri. "marilah kuperkenalkan. tanpa terasa ia berteriak menukas: "Apakah Cui Bu-tok Cianpwee?” "Betul.Tiraikasih Website http://kangzusi.. aneh lagi.. Segera ia berbangkit dan menjawab: "Hanya tahu sedikit kulitnya saja. sahabat muda...." Cui Bu-tok tergelak-gelak. tidak apa!" Dari ayahnya Ji Bun pernah meadengar cerita mengenai tokoh racun yang aneh ini... "Sahabat muda. katanya: "Maaf. Di jaman ini hanya dia seorang yang terhitung betul-betul ahli dalam permainan racun. jarang ..." KembaJi Ji Bun berdiri memberi hormat." ujar Wi-to-hwecu sambil menunjuk si orang tua kurus." Serasa menciut jantung Ji Bun.

tidak mau mencampuri urusan duniawi lagi.” . akupun sulit membedakannya. Nama Ngotok dan Bu-tok (tak beracun) hampir sama. sungguh kejadian yang luar biasa.Tiraikasih Website http://kangzusi. Cui Bu-tok menuding bubut sarang burung sambil berkata kepadanya: "Sahabat muda tentunya tahu racun apakah ini?" Ji Bun pura-pura kikuk. sahutnya tertawa: "Racun ini tak bernama dan tidak berbau. tiada racun yang tidak mampu dipunahkan olehnya. Soal racun memang dipelajarinya secara mendalam.com/ bergaul dengan siapapun. maka dia menggunakan nama Ngo-tok (hanya aku sendiri). nama aslinya malah dilupakan orang. sungguh kita semua merasa beruntung. kabarnya orang tua ini sudah mengasingkan diri. Sepuluh tahun yang lalu." Ji Bun ikut minum bersama orang banyak. kita habiskan secangkir ini demi kejayaan dan ketenteraman kaum persilatan. katanya: "Kali ini Cui-loheng sudi turun gunung kembali. maka kaum persilatan memanggilnya Cui Bu-tok. bahwa Wi-to-hwe dapat mengundangnya. Marilah saudara-saudara. sudi menerima jabatan Cong-tam-ciang-ling dari perkumpulan kita. Wi-to-hwecu angkat cangkir. Namun selama hidup belum pernah dia melukai orang dengan keahlian racunnya itu.

Berdebar-debar jantung Ji Bun." sahut orang she Ko itu. hamba sedang mengusut dan mohon ampun akan keteledoran ini. tangkaplah orang-orang yang mencurigakan. sebelum diperoleh bukti-bukti yang nyata..Tiraikasih Website http://kangzusi.. Congkoan sudah menaruh curiga terhadap seseorang?" "Ya..com/ Pada saat itulah seorang laki-laki berpakaian biru mendatangi dengan langkah tergesa-gesa terus memberi hormat dan melapor: "Congkoan Ko Cin-jin menghadap Hwecu." "Perintahkan pada Heng-tong Bun-tongcu untuk menghadap dan membawa anak buahnya." "Kalau demikian." "Ko-congkoan. bahkan pejabat Heng-tong (seksi hukum) dipanggil. hamba tidak berani memberi kepastian dan bertindak. "Siapakah menurut pendapat Congkoan yang mencampur racun ini?" "Soal ini .. benar.. apakah diketahui ada orang mencampur racun dalam hidangan?” "Ya. jelas hendak membuka sidang dan memberi ." Congkoan Ko Cin-jin segera memberi hormat dan mengundurkan diri.

Begitu tiba orang yang terdepan segera mamberi hormat. bercambang lebat datang diiringi empat laki-laki berbadan kekar berotot kencang. umumnya persidangan untuk menghukum atau memutuskan sesuatu dalam setiap Pang atau Pay.com/ hukuman terbadap orang-orang yang bersalah di hadapan umum." "Segera persiapkan. serunya: “Heng-tong Bun Kiat-san menunggu perintah." "Terima perintah!" Bun Kiat-san lantas membawa anak buahnya mengundurkan diri. "setelah perjamuan bubar segera membuka sidang. Ji Bun punya maksud tujuan sendiri." Ji Bun tertegun.Tiraikasih Website http://kangzusi. tamu-tamu yang menginap segera dipersilakan memasuki kamarkamar yang sudah disediakan. Racun yang digunakan ini jelas adalah hasil racikan khas ayahnya. Perjamuan besar ini bubar kira-kira menjelang tengah malam. Namun tak sedikit pula yang malam itu juga turun gunung. memangnya siapa lagi yang menggunakan racun di sini? Segera seorang tua beralis tebal dan bermata besar. tengah ia bimbang apakah tetap tinggal atau pergi. dalam waktu sekejap keadaan menjadi sepi. katanya: "Sahabat muda. Karena si¬dang ini dilakukan . Wi-to-hwecu sudah berpaling ke arahnya." kata Wi-to-hwe-cu dengan merendahkan suara. tak pernah orang luar dipersilakan hadir. silakan menghadiri sidang kita yang pertama. perguruan silat atau perkumpulan selalu diadakan secara tertutup dan rahasia.

.. namun Ji Bun ingin juga tahu siapakah orang yang menaruh racun. perkumpulan kita akan berdosa terhadap ribuan kaum persilatan sepanjang masa.” "Jangan merendah diri. "Saudara mungkin merasa kejadian ini di luar kebiasaan bukan? Perkumpulan kita baru berdiri dengan resmi.com/ untuk urusan dalam perkumpulan itu sendiri. silakan ikut kami saja. Mungkinkah asal usul dirinya sudah dike¬tahui mereka dan dirinya dicurigai sebagai orang yang menaruh racun dalam hidangan? Namun tadi orang sudah memerintahkan untuk membekuk orang yang dicurigai menaruh racun." "Oh." lega hati Ji Bun.. maka ia tidak banyak bicara lagi. Oleh karena itu. mana bisa mendapat kehormatan ini .” Walau hatinya tidak tenteram.. lantas terjadi peristiwa yang memalukan ini.. namun dia berkata heran: "Aku yang rendah ini dari golongan keroco. kalau tidak konangan dan segera dicegah dan bertindak..Tiraikasih Website http://kangzusi. ^^^^ . malam ini kita bersidang dengan mengundang para Ciang-bun-jin dari segala aliran dan golongan yang hadir. Sukar baginya meraba maksud orang menahan dirinya. maka Ji Bun menjadi rikuh dan bingung.. betapa banyak orang yang akan menjadi korban.

memang sesuai benar dengan nama perkumpulannya. entah bagaimana kesudahan perkelahian kedua orang tua itu setelah dirinya pergi? Deretan meja kursi yang berjajar di sebelah kanan di mana Ji Bun berduduk bercampur dengan para ketua dan pimpinan berbagai cabang persilatan. Di belakang Wi-to-hwecu berderet berdiri tujuh orang tua.com/ Lilin sebesar kepalan sedang menyala terang di dalam ruangan besar yang cukup muat ratusan orang. tiga meja besar berjajar di ujung tengah kiri dalam bentuk segi tiga. Hengtong Tongcu Bun Kiat-san berdiri dengan membusungkan dada bersama delapan anak buahnya. yang dipuja Wi-to-hwe adalah Thian Te. Asap dupa mengepul tinggi di meja tengah yang di belakangnya tertaruh sebuah papan cendana yang diukir huruf indah berbunyi. Ji Bun teringat pada perempuan berkerudung kain sari itu. "Thian Te" (langit dan bumi). Siang-thian-ong dan Cu Bu-tok. Dua meja yang lain. berhadapan dengan meja perjamuan sana. Memang luar biasa dan berbeda dari meja pemujaan dari berbagai perguruan silat lain yang menaruh abu pemujaan cakal bakal perguruannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. termasuk Bu-cing-so. yang di sebelah kiri diduduki Wi-to-hwecu. yang kanan ternyata ditaruh tandu berhias yang misterius itu. . maksudnya mereka berazas tujuan demi langit dan bumi untuk memberantas kelaliman.

Tiraikasih Website http://kangzusi. Langkah laki-laki muka hijau rada sempoyongan dan ragu.. "Buka sidang!" Heng-tong Tongcu Bun Kiat-san segera memberi aba-aba. kepalanya tetap menunduk terus menuju ke tengah dan berdiri di belakang Bun Kiat-san. suaranya gemetar: "Hamba tidak tahu dosa apa yang telah kulakukan?" ... Tegang seluruh hadirin.. jelas laki-laki tua bermuka kehijauan ini digusur masuk sebagai terdakwa dalam perkara peracunan ini... Wajah Wi-to-hwecu tetap tenang hanya kulit mukanya bergerak-gerak. kau sudah tahu apa dosamu?” Laki-laki itu angkat kepalanya. Seorang tua bermuka pucat kehijauan melangkah masuk dengan menunduk. datang menghadap untuk. hanya api lilin saja yang kadang-kadang meletik berbunyi.. Tiba-tiba sebuah suara lantang kumandang di depan pintu ruangan: "Oh-hiangcu.com/ Kesunyian mencekam perasaan dalam ruang yang besar dengan hadirin yang begini banyak. sidang ." sepuluh anak buahnya serempak meniru berseru lantang dan panjang. di belakangnya diiringi dua laki-laki kekar berpakaian serba merah. semua menaruh perhatian benar. lalu berkata dengan suara berat: "Gohiangcu. "Buka .... terima perintah!" "Masuklah!" seru Wi-to-hwecu dengan suara berat..

betapapun kau sudah menjadi anak murid perkumpulan kita. "Kalau begitu. dikala membungkuk badan. Setelah laki-laki baju hitam berlutut. jangan lupa. sebaiknya berterus terang saja. berlututlah terhadap pemujaan Bumi dan Langit. itu kuakui. kepalanya sedikit miring dan matanya melirik ke arah Ji Bun. kau mau mengakui hal ini tidak?" "Ya. Lirikan sekejap itu cukup membuat Ji Bun merinding dan tersirap seperti kesetrom listrik." . entah sengaja atau tidak. lahirnya ia tetap berlaku tenang.com/ "Sewaktu masuk menjadi anggota perkumpulan kita kau telah bersumpah terhadap Bumi dan Langit. namun detak jantungnya berdebur laksana ombak mengamuk. Dari lirikan orang sekaligus ia sudah dapat mengenali siapa sebetulnya Hiangcu she Go itu." Laki-laki baju hitam berlutut dan menyembah ke arah pemujaan. kau pernah bersumpah dihadapan Bumi dan Langit." "Harap kebijaksanaan Hwecu. berkata pula Wi-to-hwecu: "Menaruh racun di dalam makanan. ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" "Hamba betul-betul tidak tahu menahu akan hal ini." jawab laki-laki itu.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Go Gun. dengan tujuan membunuh para undangan perkumpulan kita.

betapa akibatnya sungguh sukar dibayangkan. Go Gun. Siang-thian-ong. ratusan murid perkumpulan yang mengadakan perjamuan di Jing goan-si. sorot matanya kembali melirik Ji Bun. itu adalah murid-murid Wi-to-hwe . tanpa juntrungan tempo hari ia main terjang ke dalam Jing-goan-si serta memergoki pembunuhan itu. Semakin tidak tenang perasaan Ji Bun. Wi-to-hwecu tertawa dingin.. Bu-cing-so." Seperti dipukul godam jantung Ji Bun demi mendengar bukti yang hendak diajukan oleh pihak Wi-to-hwe. katanya: "Go Gun. dirinya terang bukan tandingan mereka. bukan?" Bergetar badan laki-laki berbaju hitam.. nama aslimu bukan Go Gun.. Tentunya kepandaian Hwecu ini juga bukan main hebatnya. kiranya para korban.” Tiba-tiba kumandang dari dalam tandu hias: "Berikan bukti-bukti kepadanya. . semuanya mati keracunan. dia tidak bersuara.. kalau laki-laki ini mengakui asal usulnya dan menuding siapa pula dirinya. bukankah itupun hasil karyamu?" "Bukan. Untung Thian-thay-mo-ki muncul dan menunjukkan tanda perguruannya dan menolong jiwanya. orang dalam tandu itu menuduh dirinya pembunuhnya.com/ “Hm. Kepandaian orang dalam tandu. semua sudah pernah dia saksikan sendiri.Tiraikasih Website http://kangzusi. hamba sungguh penasaran. Seperti diketahui.

katanya: "Inilah dia." "Copot kedok mukanya!" "Terima perintah!” Bun Kiat-san segera melangkah maju. Sementara Bun Kiat-san sudah menubruk maju seperti harimau menerkam mangsanya. Terdengar gerungan rendah dari dalam tandu. "Hamba di sini." Seluruh hadirin berjingkat kaget. dia terus tutuk Hiat-to laki-laki berbaju hitam. Tiba-tiba laki-laki baju hitam melompat bangun.com/ "Bun-tongcu!" seru Hwecu tiba-tiba. tangannya terus menjotos ke arah Wi-to-hwecu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Bun Kiat-san lantas meraih ke mukanya. Wi-to-hwecu menyeringai dingin. kepala Lo-han-tong dari Siaulim-si. Tertampaklah seraut wajah yang merah seperti buah kurma berkulit kasar. jotosan kencang laki-laki berbaju hitam seketika sirna tanpa bekas. hanya sekali mendengus laki itu roboh terkulai tak bergerak lagi. bernama Pui Ping-jio. aslinya Coangkoan Ji-sing-po. kedok yang tipis halus segera tercomot ditangannya. Sekali telikung dan tekan. segulung angin berkisar secara aneh menyambar dari dalam tandu. suaranya lantang bagai . It-sim Taysu segera bersabda Buddha.

"Pui Ping-jio. terbayang olehnya pemandangan seram dan mengerikan di Ji-sing-po. "Aku tetap memanggilmu Go-hiangcu. Ketua Bu-tong dan pimpinan Siau-lim-si tahu mereka telah kelepasan omong. maka selanjutnya mereka hanya tutup mulut saja. namun ia harus tekan perasaan dan tak boleh membeberkan rahasia ini. Ji Ing-hong melakukan perbuatan kotor yang memalukan ini. apakah hal ini memang sengaja dilakukan sendiri oleh Ji Ing-hong untuk mengelabui mata umum?" Seperti ditusuk sembilu hati Ji Bun. katanya: "Ji-sing-pocu." bentak Wi-to-hwecu bengis. sekarang tahukah apa dosamu?" . kemungkinan ingin merajai dan berkuasa di seluruh Kangouw. namun tekadnya untuk menuntut balas semakin besar." Pejabat ketua Bu-tong-Pay Cin-ji Totiang ikut menimbrung dengan suara kereng: ''Kabarnya markas Ji-sing-po diserbu dan seluruh anggotanya mati terbunuh.com/ lonceng bergema. apakah tujuannya?" Bu-cing-so segera menanggapi: "Maksud tujuannya amat besar. Orang dalam tandu bersuara pula: "Silakan Hwecu memberi keputusan hukum sesuai peraturan perkumpulan kita!" Secara tidak langsung ucapannya ini hendak menyatakan bahwa sidang dan keputusan yang terjadi di dalam Wi-to-hwe orang luar tiada hak turut campur.Tiraikasih Website http://kangzusi.

" teriak Pui Ping-jio beringas. namun dari situasi dan keadaan ini.... kau pernah bersumpah masuk anggota. Bun-tongcu . tiba-tiba ia berdiri . kau tetap harus menerima putusan hukum perkumpulan kita..” "Tutup mulutmu.. peduli bagaimana asalmu dan apa tujuannya.. tujuannya untuk menuntut balas. . "utang jiwa ini kelak pasti ada orang yang menagih ....” "Hamba sudah siap!" "Apa hukumannya bagi anak murid kita yang melanggar undangundang dan memberontak?" "Menurut undang-undang nomor satu.Tiraikasih Website http://kangzusi. dua orang segera maju memapah Pui Ping-jio keluar.” "Saudara muda. Menuntut balas sakit hati soal apa belumlah jelas. kemungkinan Wi-to-hwecu ini adalah salah seorang yang menimbulkan banjir darah di Ji-sing-po..com/ "Mau bunuh atau mau sembelih silahkan... Tak kuasa mengendalikan perasaannya lagi. Ji Bun tidak tahu apa tujuan ayahnya menyelundupkan Congkoan Pui Ping-jio ke dalam Wi-to-hwe dan dua kali menaruh racun dalam makanan. bagi yang khianat harus dihukum mati.. apakah kau punya usul dan ingin bicara?" tanya Wi-to-hwecu." "Gusur dia keluar!” "Baik!" sahut Bun Kiat-san sambil mengusap tangan..

. kalau ada waktu harap suka mampir lagi. Oleh karena itu hanya menyingkir saja jalan satu-satunya buat meringankan tekanan batinnya. urusan sekecil itu kenapa dipikirkan?" Sementara itu Pui Ping-jio sudah digusur keluar nasibnya tidak perlu ditanyakan lagi. sedetikpun tak tahan lagi tinggal di sini. namun mulut Ji Bun menjawab: "Terlalu berat kata-katamu ini. bergegas dia berjalan keluar. kusuruh orang untuk mengantarkan. apakah Siauhiap suka memaafkan kesalahan itu?" Dalam hati amat dendam. Hati Ji Bun seperti dibakar." Orang dalam tandu menimbrung: "Tempo hari aku salah paham dan turun tangan. Wi-to-hwecu tertawa lebar. Dengan sikap rikuh dan kikuk ia berkata: "Cayhe punya urusan penting yang harus segera diselesaikan.Tiraikasih Website http://kangzusi. harap Hwecu suka memberi izin supaya Cayhe boleh mengundurkan diri lebih dulu.com/ Ji Bun tahan mentah-mentah air mata yang hendak menetes dan darah yang hendak menyembur keluar. katanya: "Saudara muda boleh silakan. namun keadaan tidak mengidzinkan dan ia memang tidak mampu. Ia harus menolong Pui-congkoan." Sudah tentu ini hanya alasan yang dibuat-buat. alasan yang sekenanya diucapkan karena terdesak oleh keadaan. dia kendalikan pula rasa benci dan dendamnya. Setelah memberi hormat. maka dengan mendelong ia harus menyaksikan orang sendiri dihukum mati.

hamba akan siapkan seekor kuda. segera ia menubruk ke hutan sana. Namun kenyataan tidak memungkinkan. membuat napas serasa sesak. 4. Dendam bertumpuk dalam hatinya. Dari kejadian hari ini." Ji Bun angkat tangan.11. Lebih tersiksa perasaannya karena sedemikian jauh ia belum mengetahui siapakah sebetulnya musuh besarnya. ia berdiri sejenak menghirup napas panjang untuk melapangkan perasaannya. rasanya ingin dia membunuh sepuasnya untuk melampiaskan dendamnya. Dari sinar matahari yang menembus dari celah-cela dedaunan . dia harus bekerja sesuai rencana.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Setiba dilapangan luas. ia percaya bahwa secara diam-diam ayahnya sudah mulai bergerak. seorang berbaju hitam lantas mendekatinya." Sekali kaki menutul badannya terus melesat ke arah luar gunung. sapanya sedikit membungkuk: "Harap Siauhiap tunggu sebentar. Memangnya Ji Bun sedang merasa dongkol tak terlampiaskan. Setelah tiba di luar gunung. Tiba-tiba tak jauh dari tempatnya berdiri dari arah kiri sana berkelebat sesosok bayangan orang menyelinap lenyap ke dalam hutan. katanya: "Tidak perlulah. Kehilangan Anting Kenangan Bayangan seorang bertubuh tinggi kekar tampak berdiri di dalam hutan.

... kau . Tanpa pikir ia menubruk maju terus menyerang dengan pukulan ganas..... inilah aku.. gila kau!" bentak bayangan kekar itu.. segera Ji Bun menahan terjangan dan menghentikan pukulannya.. kenapa kau?" "Ayah!" seperti seorang anak yang tersiksa tahu-tahu berjumpa ayah bundanya. benteng kita ..... ..com/ pohon... teriaknya: "Apakah ayah?” "Ya. mereka?" terpancar cahaya penuh nafsu membunuh dari mata Ji Bun. "Nak.. darah terasa mendidih dalam rongga dadanya.....” "Kau sudah tahu?" "Ya." "Oh . "Bun-ji.. dilihatnya jelas orang ini berjubah sutera mengenakan kerudung kepala....Tiraikasih Website http://kangzusi.” "Yah.. siapakah pembunuhnya "Orang-orang Wi-to-hwe itulah. tak tertahan lagi air matanya lantas bercucuran. Mendengar suara bentakan ini....

. ada orang menyamar diriku?" "Ya." Memang tidak salah. kenapa begitu melihat aku lantas kau menyerang seganas itu?" "Tahukah ayah ada seorang menyaru dirimu.. dalam hal ini pasti ada latar belakang dan tujuan tertentu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Seketika ia bergidik sendiri.com/ “Nak. .... tanpa sebab kenapa dirinya diundang sebagai tamu kehormatan. "Yah." "Kenapa?" "Baru saja aku menjadi tamu kehormatan mereka. siapakah Wi-to-hwecu sebenarnya?” tanyanya kemudian. tulen atau palsu sukar kubedakan." "Apa. dua kali dia menyerangku . malah diminta hadir dalam sidang mereka. demikian pikir Ji Bun. betapa keji culas muslihat orang-orang Kangouw. dan mereka belum tahu asal usulku. ." "Tidak mungkin.. kemungkinan mereka memang sudah mengatur secara rapi..." "Mungkin perbuatan orang-orang Wi-to-hwe.... persis sekali." "Kau keliru nak. namun bara dendamnya semakin menyala.

” “Dunia terlalu luas." "Oh. darimana kita bisa merabanya dengan tepat?" "Apakah Siang-thian-ong dan lain-lain itupun ikut dalam peristiwa ini? Ada orang bernama Siangkoan Hong. suaranya gemetar: "Kau kenal Siangkoan Hong?" "Ya. berapa gelintir saja orang-orang yang berkepandaian setinggi itu. ia tergeletak luka-luka di pinggir jalan." “Nak. apakah dia pembunuh utamanya?" Tiba-tiba orang berkedok menyurut mundur. kemungkinan salah seorang musuhku dulu." "Dari mana ayah mendapat tahu. pantas tak enak dipandang. tentunya ayah bisa menebak siapa dia. napas sudah kempas-kempis karena keracunan. anak memang terlalu banyak ulah dan telah menolongnya. musuh tangguh yang sekarang kemungkinan adalah kaum keroco masa lalu. beberapa waktu yang lalu. muka yang kau lihat itu bukan wajah aslinya.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Dia tahu asal usulmu?" "Tidak tahu" .com/ "Sekarang belum diketahui secara pasti. dia mengenakan kedok. serba serbi dunia sukar diraba pula.

Tiraikasih Website http://kangzusi. Lwekang dan Kepandaian silatnya sekarang teramat tangguh di luar . untuk ini kita harus langsung tanya kepadanya. lalu di mana salah seorang yang lain" “Dialah tertua dari Jit-sing-pat-siang. memang dia pembunuh utamanya." Mendelik biji mata Ji Bun. sejak meningkat besar dan tahu urusan. seingatnya anak buah ayahnya yang diandalkan hanya Jit-sing-lak-ciang (enam panglima) saja. Lak-ciang dibantainya pula. bahwa Siangkoan Hong adalah nomor kedelapan dari Jit-sing-patciang." "Siangkoan Hong menyapu bersih benteng kita. apakah tujuannya?” "Ayah sendiri sampai sekarang belum jelas kemana maksud tujuan mereka itu." "Bukankah ayah pernah bentrok dengan dia?” "Ya." “Siapakah Siangkoan Hong itu?" "Terakhir dari Jit-sing-pat-siang (delapan panglima dari Jit-sing). namun dia tidak pernah mengatakan alasannya. sepuluh tahun yang lalu lari bersama Siangkoan Hong.com/ "Betul. hal ini benar-benar di luar dugaannya. "Yah. belakangan dia lari menjadi pengkhianat.

Tiraikasih Website http://kangzusi." "Bagus. bagus! Aku bersumpah akan menuntutkan balas baginya .... tentang Pui-congkoan." "Ayah. lika-liku persoalan itu kukira tidak mudah untuk diselami ..." Bergetar tubuh orang berkedok. hanya menambah jumlah tagihan saja. seluruh ketua cabang persilatan pada jaman ini boleh dikatakan hadir semua dalam perjamuan mereka. ." "Kenapa?" "Muslihatnya konangan musuh waktu menaruh racun dalam hidangan.. ayahmu ini tidak suka bila banyak orang dalam dunia ini tak tunduk kepadaku. .. sebetulnya ah. dia.." "Oh.. kini dia sudah berkorban. teriaknya dengan beringas: "Apa yang pernah dia katakan?" "Sepatah katapun dia tidak mengaku..." . jikalau melihat Pui-congkoan berhasil . .....” "Kalau demikian Siangkoan Hong pasti salah seorang dari Wi-tohwe?" "Kemungkinan besar... ya.com/ dugaanku.” "Nak.. maafkan anak bicara terus terang. ayah.

katanya dengan murka: "Bagaimana rencana ayah selanjutnya? " "Membalas dendam tentunya. kita ayah beranak tidak." "Anak mengerti dan akan bekerja. Ji Bun merasa tertusuk kupingnya mendengar kata-kata ini. bukan?" "Sudah tentu tidak. lebih baik kau tetap bekerja seorang diri mencari kesempatan untuk memberantas musuh satu persatu untuk mengurangi kekuatan mereka. namun harus hati-hati dan jangan sampai meninggalkan bekas-bekas yang mencurigakan. seperti petunjuk ayah....Tiraikasih Website http://kangzusi.. dimanakah ibu sekarang?" "Akupun sedang mencarinya. Entah kelak..." "Ibu tidak sampai tertimpa bencana.” ... namun ia berhadapan dengan ayah sendiri.. Ayah sudah mengatur rencana.com/ Ucapan seorang durjana. soal lamaran puteri keluarga Ciang di Kayhong . akhirnya Ji Bun bertanya dengan haru: "Yah.” "Yah." Berkerutuk gigi Ji Bun saking gemas.. bisa kumpul bersama... sekaligus juga untuk tetap merahasiakan asal usulmu. kalau ada urusan akan kusuruh orang mengadakan kontak . masih ada suatu hal." "Baiklah. apa yang bisa ia katakan? Setelah dengan rasa serba salah..

sungguh perbuatan brutal yang lucu. Nak. inilah tragedi yang paling mengenaskan dalam dunia. kesalahan tentu tidak perlu terjadi? Mengingat musuh-musuhnya. sedapat mungkin ia memusatkan pikirannya yang kalut. ayah berangkat dulu!" Habis kata-katanya. Dengan terlongong ia berdiri mematung di bayang-bayang kegelapan hutan. Apa rencana ayahnya? Bagaimana dirinya harus bergerak? Ke mana pula ia harus menemukan ibunya? Di mana Siangkoan Hong bersembunyi? Bahwa keparat itu adalah musuh ayahnya. jaga dirimu baik-baik.com/ "Keluarga hancur jiwa terancam. namun telah ditolongnya malah. hal itu tidak usah disinggung lagi. dengan tanda-tanda ini beliau bisa ikut mencari orang yang menyarunya itu. Namun hal ini harus diberitahu kepada beliau. Bicara soal menuntut balas. Baru sekarang Ji Bun ingat perkataan Thian-thay-mo-ki.Tiraikasih Website http://kangzusi. sungguh sukarnya . kenapa tadi dia lupa memeriksa dan membuktikan. Jikalau sejak mula dirinya sudah punya pendirian seperti sekarang. sudah tentu curiga terhadap ayah sendiri adalah sesuatu yang janggal dan menggelikan. bahwa dia pernah meninggalkan tanda mata di atas kepala orang berkedok. mereka sudah diketahui adalah bangkotan-bangkotan silat yang sukar ditandingi. meluncur ke dalam kegelapan sana. Keluarga berantakan. perasan Ji Bun menjadi berat. sekali berkelebat lenyaplah bayangannya. rumahpun sudah hancur.

tak ubahnya dengan anting umumnya. sekali berkelebat tahu-tahu sudah lenyap pula. tidak mau menjelas asal mula dari permusuhan ini. maka Pui Ci-hwi menjadi salah seorang musuhnya pula. Kini rasa cemburu ini sudah lenyap. Ji Bun bukan kaum kroco. dendam dan cinta selamanya takkan berdiri berdampingan. . Mereka adalah pembunuh-pembunuh yang membantai seluruh penghuni Jit-sing-po. Anting-anting yang punya arti terlalu besar di mana saja ia berada dengan sesuka hati boleh ambil dan menggunakan uang. sebetulnya tiada sesuatu yang istimewa. Anting-anting ini terhitung pusaka yang tak ternilai harganya. Tanpa terasa ia terbayang pula pada Ciang Bing-cu serta merta ia merogoh saku.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun tidak diperoleh sesuatu yang mencurigakan. Pikirannya teringat kepada Gadis baju merah Pui Ci-hwi pula. begitu cepat dan luar biasa sekali.com/ buka main. Dengan teliti ia bolak-balik memeriksanya. Baru sekarang ia sempat memperhatikan anting-anting ini. bagai setan dan seperti iblis. apakah keluarga Ciang tidak takut orang memalsu anting-anting ini untuk menggerogoti harta kekayaannya? Sekonyong-konyong sebuah bayangan berkelebat laksana kilat menyambar. namun bayangan itu tidak berhenti. secara refleks ia melancarkan serangan mematikan. mengeluarkan anting-anting batu pualam pemberian nona itu. dan ayahnya seperti menyembunyikan sesuatu. karena Pui Ci-hwi mengakui sebagai salah seorang Wi-to-hwe. semula ia merasa cemburu akan pergaulan pujaan hatinya ini dengan pemuda baju putih dari Cip-po-hwe yang bejat itu.

bertambah besar kejutnya. Setiba di luar hutan. hatinya lebih merasa jeri dan ngeri daripada penasaran. Jika anting-anting itu terjatuh orang-orang yang tidak bertanggung jawab di Kangouw. Siapakah orang yang kuat bertahan dari pukulan yang mematikan ini? Mungkinkah perbuatan orang-orang Wi-tohwe? . hutan lebat sehingga pandangan remangremang. betapa besar akibat yang bakal timbul karenanya? Mungkinkah orang sudah tahu manfaat atau kegunaan dari anting-anting itu serta mengintai dan mengincarnya selama ini. "Kurcaci kurang ajar!" hardik Ji Bun. kecuali tidak kena dengan telak. Tiba-tiba merasakan antinganting yang dipegangnya telah lenyap. Untuk pertama kali ini serangan dirinya yang ampuh kehilangan gunanya. Kecuali ayahnya. sungguh hebat dan mengerikan. Waktu itu malam gelap gulita. kalau terpukul pasti jiwanya melayang. mana ada bayangan manusia.Tiraikasih Website http://kangzusi. jelas tiada harapan sama sekali.com/ Keruan bukan kepalang kaget Ji Bun. Gemetar badan Ji Bun saking murka. betapapun tinggi kepandaian silat seorang. untuk mengejar seorang yang punya gerak gerik begitu cepat dan gesit. Namun bayangan yang satu ini tetap dapat kabur dan menghilang setelah terkena serangannya. badan¬nya melenting secepat kilat mengejar ke arah lenyapnya bayangan. dengan lesu ia menghentikan pengejarannya. tak terpikir olehnya jago silat mana yang mampu bertahan hidup setelah kena serangannya. Hal ini tidak pernah terjadi.

namun menyesalpun sudah kasip. untunglah kau bersuara." Memangnya hati sedang gundah. Tampak sesosok bayangan berlari mendatangi dari arah hutan sana. hakikatnya ia tidak jelas membedakan bentuk bayangan itu. maka Ji Bun menyambut dengan tak acuh: "Kau mengejar aku? Ada keperluan apa?" "Agaknya kau kurang senang?" .Tiraikasih Website http://kangzusi. Ji Bun segera menubruk maju. Kontan Ji Bun menyambutnya dengan bentakan: "Berhenti!" Bayangan segera berhenti. setelah dekat dan melihat jelas. kupingnya mendengar desiran seperti lambaian pakaian yang tertiup angin.com/ Sayang gerakan bayangan itu teramat cepat." "Dik." kata Thian-thay-mo-ki. ternyata pendatang ini adalah Thian-thay-mo-ki. Orang yang tahu bahwa dirinya membawa anting-anting itu hanya Thian-thay-mo-ki seorang. namun Thian-thay-mo-ki takkan kuat menghadapi pukulan yang mematikan. kalau tidak kita takkan bertemu di sini. Sedang terlongong dan kehabisan akal. Ji Bun jadi menyesal kenapa semula ia tidak menolak saja pemberian anting-anting ini. diam-diam ia merasa sebal. Bagaimana ia harus memberi pertanggungan jawab kepada Ciang Bing-cu? Inilah persoalan penting dan terbesar. Pula gerak-geriknya tidak segesit itu.

perempuan berkerudung kain sari hijau itu." "Kali ini gurumu turun gunung." "Memangnya aku tidak ambil peduli. bukan mustahil ia memberitahu rahasia ini kepada gurunya. namun itu urusan pribadi beliau." "Gurumu masih ada di atas gunung ini?" . sudah puluhan tahun beliau tidak muncul di Kangouw.Tiraikasih Website http://kangzusi. mungkinkah perempuan berkerudung kain sari itulah yang merebut anting-antingnya. tentunya mempunyai maksudmaksud tertentu?" "Memang benar. kepandaian orang begitu tinggi. kejadian yang kau alami anggaplah tidak ada. kemungkinan sekali dialah orang yang melakukannya.com/ Tiba-tiba tergetar hati Ji Bun. maka dengan sikap dingin ia bertanya: "Mana gurumu?" "Guruku?" "Ya.” "Dik." "Siapakah nama julukan gurumu yang mulia?" "Maafkan untuk hal ini. guruku tak senang namanya diketahui orang luar. dan lagi yang tahu akan hal ini hanya Thianthay-mo-ki." "Syukurlah kalau begitu. watak guruku terlalu nyentrik. betapapun arti dari anting-anting itu teramat besar.

dengan dingin ia menjawab: "Gerak gerik orang itu sangat mengejutkan. apakah sikapnya ini pura-pura belaka atau bicara setulus hati." "Apa. tidak sempat kulihat jelas bagaimana bentuk bayangannya." "Jadi kau curiga akan perbuatan guruku?" . ada sedikit.com/ "Tidak. Dik agaknya ada sesuatu yang mengganjal hatimu?" "Ya. kalau tidak buat apa dia merebutnya." "Boleh beritahukan padaku?" "Anting-anting pemberian Ciang Bing-cu tempo hari itu baru saja direbut seseorang. seolaholah hendak menyelami hatinya. dengan tajam ia tatap muka Thian-thay-mo-ki. setelah berkelahi dengan Siang-thian-ong. direbut orang? Ada orang berani merebut barang dari tangan Te-gak Suseng memangnya dia sudah bosan hidup." Diliputi rasa kaget dan heran suara Thian-thay-mo-ki: "Memangnya tokoh macam apakah dia? Mungkin ia sudah tahu manfaat anting-anting itu. Dik siapakah dia?" Berkilat laksana bintang kejora biji mata Ji Bun di dalam kegelapan.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Tapi soal anting-anting itu tiada orang lain yang tahu. ia lantas meninggalkan tempat ini.

. Lweekangnya kabarnya juga teramat tinggi. seumpama memetik bintang mengambil rembulan.." "Dinilai kepandaiannya. jarang orang melihat wajah aslinya . pula kepandaiannya mencuri begitu hebat..." Sikapnya yang sungguh-sungguh membuat Ji Bun percaya.com/ "Aku tidak mengatakan demikian... pandai menyamar..Tiraikasih Website http://kangzusi. apakah gerak-gerik bayangan itu teramat cepat dan aneh?" "Ya. guruku takkan sudi melakukan perbuatan serendah ini.." "Mungkinkah .." "Cici menyangka akan perbuatannya?" .. akhirnya Thian-thay-mo-ki bersuara pula: "Dik.." "Untuk ini aku berani tanggung. keduanya berdiam sesaat lamanya. seperti setan iblis layaknya... kabarnya jejak orang ini pergi datang tidak menentu. si dia?" "Dia ... mungkin hanya beberapa gelintir saja yang sejajar dengan Biau-jiu Siansing di jaman ini... siapa?" Sejenak berpikir baru Thian-thay-mo-ki berkata: "Pernahkah kaudengar nama Biau-jiu Siansing (si Tuan bertangan gaib)?" "Pernah kudengar.

." "Cara bagaimana kita bisa menemukan dia?" "Sulit. biarlah kuberitahu sebuah kisah rahasia dunia.. gundiknya itu tinggal di sebuah gedung di dalam kota Cinyang... menawan orang sebagai sandera?" "Selain itu tiada cara lain......Tiraikasih Website http://kangzusi.” "Gundik! Jadi dia punya keluarga?" "Dengarkan ceritaku." "Apa. " Thian-thay-mo-ki mengerut kening dan berpikir sekian lama...com/ "Ini hanya dugaan saja. tinggal di . tapi . persilatan kecuali aku mungkin tiada orang kedua yang tahu. lalu menyambung pula: "Untuk mencari dia memang sesukar memanjat langit.” "Memaksa muncul bagaimana?" "Kita tawan seseorang sebagai sandera untuk memancingnya... terpaksa kita harus paksa dia sendiri yang muncul." "Lalu siapa yang harus kita tawan?" "Kau kira cara ini boleh dilakukan? Baiklah.. Biau-jiu Siansing punya seorang gundik. dari gundik ini dia mendapatkan seorang .

..com/ putera.” . namun dugaanku ternyata meleset. gerakannya gesit dan cepat sekali.Tiraikasih Website http://kangzusi. Semula aku kira orang ini adalah maling atau sebangsa panca longok. baru aku tahu bahwa orang tua bungkuk kurus itu ternyata adalah Biau-jiu Siansing yang tersohor di Kangouw . Namun gedung kuno itu dipajang dan dihias serba mewah dan antik. waktu itu kupikir seorang gadis tak enak mencuri dengar pembicaraan pribadi orang lain.... Namun pengalamanku yang tak terduga itu...." Ji Bun berkata: "Maksud Cici hendak menculik puteranya itu dan dijadikan sandera? Kenapa tidak kita luruk saja ke gedung itu. kalau tidak ketemu boleh kita tunggu sampai dia muncul . kira-kira berusia sepuluh.. begitu besar kasih sayangnya terhadap puteranya ini . Dari pembicaraan mereka yang kucuri dengar. aku ada urusan ke Cinyang....” "Dari mana Cici mengetahui hal ini?" "Dua tahun yang lalu. Kebetulan seorang tua bungkuk melompat masuk tidak melalui pintu tapi dari atas tembok belakang.... menimbulkan suatu ilham dalam benakku malah. kalau kepergok kebetulan malah. maka secara diam-diam aku mengundurkan diri. pembantunya semua adalah perempuan....... karena mengejar seorang musuh aku kesasar memasuki sebuah gedung kuno. Kutemukan penghuni gedung kuno ini adalah seorang ibu dan puteranya yang masih kecil...” "Orang tua renta bungkuk?" "Itu bukan wajah aslinya.

.. duplikatnya teramat banyak. kini bakal terjatuh tangan Cip-po-hwe .” "Kukira tidak mungkin!" "Kenapa tidak mungkin?" "Jago-jago kosen Wi-to-hwe masakah berpeluk tangan saja?" .." "Pemuda baju putih itu bernama Liok Kin? Memangnya kenapa lagi?" "Konon kabarnya Sek-hud merupakan benda pusaka yang tak ternilai. jangan harap kau bisa berurusan sama dia...." "Nanti dulu. mari sekarang berangkat ke Cinyang.com/ "Terlalu rendah kau menilai Biau-jiu Siansing. Jika tidak kau pegang kelemahannya." "Cici masih ada urusan apa lagi?" "Masin ingat tentang Sek-hud itu?" "Sek-hud? Memangnya kenapa?” "Pui Ci-hwi atau gadis baju merah itu sudah membeberkan rahasia tempat penyimpanan Sek-hud itu kepada putera ketua Cippo-hwe yang bernama Liok Kin itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. pandai dan cerdik lagi." "Baiklah.

com/ "Bukan begitu soalnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. mati hidupnya tiada sangkut paut dengan dirinya." . Maka ia lantas bertanya: "Cici. Betapapun terlalu banyak jumlah jagojago kosen Wi-to-hwe. Akan tetapi dari jauh Thian-thay-mo-ki ke sini mencari dirinya untuk memberi tahu hal ini. bukankah kau mencintainya?" Ji Bun melengak. sehingga dia sukar mengendalikan perasaannya lagi. Kini mereka sudah turun dari Tong-pek-san. hakikatnya Pui Ci-hwi tidak tahu akan asal usulnya. Lok Kin mengaku sebagai putera seorang keluarga In di Jiciu. maksudmu menghendaki aku menolongnya dari cengkeraman Liok Kin yang kotor itu?” "Betul. tanyanya: "Cici." Terbayang wajah molek dari gadis baju merah bak mutiara nan cemerlang dalam benak Ji Bun. Kekotoran jiwa dan kebejatan pemuda baju putih Liok Kin membuatnya tak tahan untuk berpeluk tangan. dengan segala daya dan akal licik Liok Kin berhasil menggait dengan tujuan memperoleh Sek-hud itu. bagaimana nasib Pui Ci-hwi selanjutnya sulit diramalkan. Dalam hati diam-diam ia memperingatkan diri sendiri bahwa nona itu adalah musuh. apa pula maksudnya? Semestinya dia benci pada Pui Ci-hwi karena orang ini menjadi saingan beratnya. dalam waktu dekat ini kita mungkin sukar bertindak. Akan tetapi iapun menyadari bahwa sesuatu sedang menggelitik di dalam lubuk hatinya. kau tidak membencinya?" "Kenapa aku harus membencinya? Aku kasihan padanya malah.

kini malah diketahuinya bahwa nona." sekaligus memperlihatkan kebesaran cintanya? Kalau dugaan benar. Karena ia tidak menaruh perhatian terhadap Sek-hud. memang aneh perasaan manusia. namun kenyataan gadis yang di kejar-kejar ini tidak membalas cintanya. dia kasmaran terhadap Pui Ci-hwi sampai perintah orang tua yang menyuruhnya melamar puteri keluarga Ciang di Kayhong dia batalkan begitu saja. itu adalah komplotan para musuhnya. hal ini membuat Ji Bun sendiri tidak mengerti kenapa teraknir ini ia kehilangan pegangan akan sifatnya dulu yang keras kepala. akhirnya ia bertanya: "Apa Cici ada maksud mereebut Sek-hud itu?" "Tidak." Kata-kata ini seketika membakar rasa cemburu Ji Bun. akal muslihatnya ini sungguh lihay dan jitu. Bagaimana tindakanmu selanjutnya?" "Kenapa Cici tidak beritahu kepada Wi-to-hwe supaya mereka bereskan sendiri?” "Aku tidak sudi berhubungan dengan mereka " . Kenyataan ini tidak kuasa menahan rasa cemburunya. Mungkinkah Thian-thay-mo-ki sengaja mengatur muslihat dengan pura-pura "mundur untuk siap melangkah maju setindak.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Kasihan? Kenapa Cici malah kasihan padanya?" "Karena gadis yang masih suci bersih tidak menyadari bahwa dirinya dipermainkan orang.

ia terpukul dan malu diri akan sikap dan perlakuannya selama ini terhadap Thian-thay-mo-ki.” "Dik... atau mungkin kau pandang aku perempuan liar yang sudah kehilangan bentuk aslinya. tiada yang kupinta dan tiada yang kuharapkan.. hakikatnya melirikpun kau tidak sudi.. jangan berbelit-belit. bahwa cinta hakikatnya tidak boleh dipaksakan. kuharap Pui Ci-hwi selanjutnya mau mengubah sikapnya terhadap kau. bahwa belakangan ini kau mau bergaul dengan aku hanyalah bermukamuka saja . Aku hanya mohon sukalah kau tetap pandang aku sebagai teman biasa.. tidak perlu memberi penjelasan. Aku rela mengabulkan cita-citamu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Mungkin kau mengira aku punya tujuan tertentu. Kau sudah kupahami... tukasnya: "Cici jangan salah paham. namun aku ingin berterus terang kepadamu.” Diam-diam Bun mengakui akan kelihayan Thian-thay-mo-ki. itulah sebabnya kenapa aku mau membeberkan semua rahasia ini kepadamu. mungkin kau pandang aku ini perempuan jalang..." sampai di sini tiba-tiba suaranya berubah rawan. jangan kau menyangkal. walau aku tahu akan hal ini... dari golongan sesat. Terang sekali bahwa penilaiannya selama ini terhadap perempuan genit ini .. anggaplah ucapanku itu hanya isapan jempol belaka. "Terhadapku.. yang betul kau bukan akupun bukan..” Ji Bun betul-betul terharu. tidak sama sekali. Dengarkan. dulu aku pernah lancang mulut mengatakan kita adalah sejenis. aku tahu cintamu hanya tertuju kepada Pui Ci-hwi." "Dik. namun aku tetap senang bersamamu.com/ "Lalu kenapa kau beritahu kepadaku .

" "Apa kau bicara setulus hatimu?" Rada panas kulit muka Ji Bun. sehingga sedemikian jauh ia tetap tidak mau percaya bahwa perempuan ini berjiwa bersih. Namun ia toh harus menghadapi kenyataan ini. siapapun sukar mau percaya bahwa jiwanya begitu luhur.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ memang salah sama sekali. dengan suara lirih dia mengiakan. kecuali cinta jarang terjadi persahabatan yang kental di antara laki dan perempuan." . dinilai dari nama julukan Thian-thay-mo-ki. Dirinya tetap tidak menaruh cinta terhadapnya. karena biasanya persahabatan itu tidak akan bertahan lama. ia tidak kuasa mendebatnya. Namun kenyataan. aku amat berterima kasih. katanya: "Cici. yang terang rasa kurang senangnya jauh lebih menjalari sanubarinya. sembilan diantara sepuluh orang perempuan dalam dunia ini umumnya berjiwa cemburu. Namun pikiran lain segera menyangkal akan pikiran bajiknya ini. "Baiklah. yang betul dia ini seorang perempuan yang patut dipuji dan perempuan teladan. marilah kita berangkat!" "Berangkat ke mana?" "Kita harus mencegah Liok Kin membawa Pui Ci-hwi pulang ke markas besar Cip-po-hwe.

12. tanpa pikir tentu ia akan mengejarnya. namun orang-orang desa yang membawa dagangannya ke kota . Walau masih terlalu pagi. pasti bisa menyandaknya. mari berangkat. sinar cemerlang sudah menongol di ufuk timur sana. maka hancurlah jiwa-raga Pui Ci-hwi. sekuat tenaga mereka berlari." 4. apa manfaatnya? Kalau setengah hari yang lalu ia mendengar berita ini. namun setelah bertemu dengan ayahnya dan tahu siapa-apa musuhnya. kokok ayampun sudah bersahutan. apakah kesalahan itu harus terulang dengan menolong Pui Ci-hwi lagi. maka pikirannya banyak berubah. sehingga dia tak kuasa lagi mengendalikan diri. Sejam kemudian. kita langsung kejar ke markas besar Cip-po-hwe. Kuil Mesum Siong-cu-am Semula Ji Bun masih bimbang. "Apakah masih ada waktu. Bahwa ia pernah berbuat salah menolong jiwa Siangkoan Hong yang menjadi musuh utama keluarganya. Akhirnya dia manggut-manggut dan berkata: "Baiklah." tanyanya. betapapun Ji Bun tak dapat berpeluk tangan membiarkannya terjatuh ke tangan Liok Kin.com/ Kalau Pui Ci-hwi betul-betul kejeblos ke dalam markas Cip-pohwe. peduli bagaimana sikap dan perasaannya sekarang terhadapnya. "Ada. kedai udik ini umumnya menyediakan kue-kue kasar dan terbuat dari bahan-bahan kasar pula.Tiraikasih Website http://kangzusi. Namun sesuatu kekuatan yang mengeram dalam sanubarinya seolah-olah menyetir pikirannya." Keduanya segera meluncur ditengah malam gulita. Setelah terang tanah baru mereka mendapatkan sebuah kedai di pinggir jalan.

." Katakatanya tidak dilanjutkan.. mereka belum lagi pergi jauh. cepat Thian-thay-mo-ki berkata: "Nah kau sudah dengar." Lekas mereka makan minum sekenyangnya terus melanjutkan perjalanan dengan kecepatan lari mereka. namun kata-katanya yang terakhir terang ditujukan kepada Ji Bun. katanya: "Ada bubur?" "Ada bubur beras menir. lima puluh li kira-kira . cuma sayang yang ... segera kami siapkan..." sahut pelayan terus mengundurkan diri. "Harap tunggu sebentar. Di tengah keributan tamu-tamu yang makan minum itu. sediakan pula nyamikan lain yang enak.Tiraikasih Website http://kangzusi.. kedua pasangan adalah orang-orang yang mempesona. ada pula bakpau yang masih panas . dalam satu jam lagi pasti bisa menyandaknya. Mereka memilih tempat duduk menunggu sekian lamanya baru dilayani oleh seorang laki-laki gemuk yang berlepotan minyak.” "Baik." pinta Ji Bun..com/ banyak yang mampir untuk tangsal perut dan melepaskan lelah sekadarnya...... terdengar seorang yang bersuara serak sedang berkata: "Baru saja pergi sepasang. kini datang pula sepasang. setelah manggut-manggut pelayan ini bertanya: "Tuan dan nyonya hendak makan atau minum arak?" Sekilas Ji Bun melirik kepada Thian-thay-mo-ki.

Ji Bun langsung mendekati pintu. tiba-tiba tampak sesosok bayangan langsing berkelebat di dalam hutan. Ji Bun tahu kelenteng ini .. tanpa terasa hari sudah menjelang tengah hari. katanya: "Apa perlu masuk ke kelenteng itu untuk memeriksanya. mungkin mereka sedang istirahat di sana.." Tengah mereka bicara. namun bayangan pemuda baju putih dan Pui Ci-hwi tetap tidak kelihatan. belum lagi ia mengetuk pintu.com/ sudah mereka tempuh.Tiraikasih Website http://kangzusi. pipinya kemerahan dan tingkah lakunya agak genit. dengan sebelah tangan ia memberi hormat serta bertanya: "Sicu datang dari mana?" Tampak Nikoh ini bersolek..” Thian-thay-mo-ki menengadah melihat cuaca.. katanya: "Sekarang masih pagi. alis lentik. sebuah kelenteng kecil mungil indah berdiri di dalam hutan. Ji Bun menghentikan langkah." Mereka mempercepat langkah mengejar ke depan. kebetulan pintu kelenteng dibuka. Ji Bun menjadi gelisah. di depan sana membentang hutan yang rimbun. bibir bergincu. katanya: "Mungkin kita kesasar . mari kita kejar lagi ke depan. Tanpa banyak kata Ji Bun segera melesat ke sana.. di dalam hutan lapat-lapat kelihatan warna merah seperti bangunan kelenteng. seorang Nikoh muda yang memegang kebutan muncul. pigura di atas pintu bertatahkan tulisan "Siong-cuam". Agaknya kelenteng ini memuja Siongcu-nio-nio.

com/ pasti tempat mesum.. mana ada laki perempuan. mungkin Sicu .. tanyanya: "Siapa yang kau cari?” “Seorang laki dan perempuan. . katanya dengan tertawa nyaring: "Kalau aku tidak jadi soal bukan?" sembari berkata langsung melangkah masuk." ujar Thian-thay-mo-ki terus menerjang masuk.. Nikoh muda ini segera melintangkan kebutnya." "Omitohud. kelenteng kami tidak terima sumbangan... kelenteng kami adalah tempat suci. Suhu cilik kenapa merintangi aku?” “Sicu keliru." Thian-thay-mo-ki segera beranjak maju. katanya: "Sicu ini harap tahu diri. maka menjawab dengan suara kasar dan kaku: "Mencari orang!" Nikoh itu unjuk rasa heran dan bingung.Tiraikasih Website http://kangzusi.” "Cayhe harus memeriksanya ke dalam. laki-laki dilarang masuk ke dalam kelenteng.." "Kebetulan menghemat uangku." "Kelenteng adalah terbuka untuk umum bagi yang ingin menderma.." "Sicu.

namun Thian-thay-mo-ki cukup menyampuk sekali sambil membentak: "Beginikah tingkah seorang beribadat?” Sampokan ini membuat Nikoh muda itu sempoyongan mundur. Sicu!" bentak si Nikoh muda. setelah membelok ke kiri di belakang dinding tertampak rebah seorang gadis berbaju hijau. Begitu Ji Bun berhenti. Nikoh muda yang mengejar dari belakang sudah tiba. Lekas sekali terdengar suara gedebukan dan suara bentakan dari dalam disusul jeritan kesakitan. Nikoh muda itu menyurut menghadapi tatapan Ji Bun yang berwibawa. Dengan mendelik Nikoh muda ini pandang bayangan Thian-thay-mo-ki menghilang dan tetap mengadang di pintu.com/ Berubah air muka si Nkoh. Sekali si Nikoh memutar pergelangan. Gerakan ini cukup keji dan hebat.Tiraikasih Website http://kangzusi. serunya: "Sicu mau pakai kekerasan?" "Boleh saja!" jengek Thian-thay-mo-ki tak acuh. Mulut bicara kaki tetap melangkah badan langsung menumbuk ke arah kebutan si Nikoh yang melintang. "Ingin mampus kau?" jawab Ji Bun. . Cepat Ji Bun menerjang ke dalam. kebut terus menyabet punggung Ji Bun. benang kebutan yang terbuat dari bulu ekor kuda tahu-tahu berubah keras laksana kawat tajam menyongsong terjangan Thian-thay-mo-ki. "Berhenti. Kedua pihak belum berhantam. Thian-thay-mo-ki langsung berlari ke dalam. di sebelah sana Thian-thay-mo-ki tengah berhadapan dengan seorang Nikoh tua dan empat Nikoh muda yang mengepungnya. cepat sekali Ji Bun melesat ke dalam.

"Huaaah!" jeritan tertahan keluar dari keluar mulut Nikoh muda itu terus terguling dua kali dan tak bergerak lagi. Nikoh muda itu anggap tidak dengar peringatannya. telapak tangan kiri secepat kilat menebas ke depan. Berubah hebat air muka kelima Nikoh yang lain. namun tanpa berpaling Thian-thaymo-ki gerakkan kedua tangannya. keempat Nikoh muda itu serentak mengadang maju. katanya: "Kuperingatkan lagi kepadamu. Segera Thian-thay-mo-ki berlari ke belakang. kali ini ia tidak bergerak dan tak bersuara. keempat Nikoh muda itu tersentak mundur berputar-putar. keempat Nikoh muda itupun pucat dan ketakutan serta berlompatan menyingkir kebelakang. terunjuk amarah yang meluap pada muka Nikoh tua itu. . Membesi dingin muka Ji Bun. jangan cari mampus!" Kelima Nikoh di sebelah dalam serempak alihkan pandangannya kemari. kembali ia melangkah maju.com/ Ji Bun berkelit membalik badan.Tiraikasih Website http://kangzusi. desisnya gemetar: "Siapa Sicu ini?” "Aku yang rendah Te-gak Suseng. begitu kebutannya luput. "Cegat dia!" Nikoh tua memberi perintah." Berubah bingung dan jeri muka Nikoh tua yang diliputi amarah. diam saja membiarkan pukulan lawan mengenai tubuhnya. di tengah suara keluhan tertahan.

.. apakah bocah she Liok dan gadis baju merah ada di dalam kelenteng ini?” "Te-gak Suseng.com/ Sekali berkelebat lagi bayangan Thian-thay-mo-ki sudah lenyap ke dalam pintu ini samping sana. . tanyanya: "Siapakah gadis yang mati itu?" "Peduli siapa dia..." "Cari siapa?" "Bocah she Liok." "Kau terlalu mengbina." "Kuulangi perkataanku. berani kau berlaku kasar dan membunuh orang dalam kelenteng suci .” Ji Bun menunjuk gadis baju hijau yang tergeletak di pinggir tembok sana..Tiraikasih Website http://kangzusi. kelenteng adalah tempat suci. kalian harus membayar hutang jiwa ini... apa maksudmu kemari?" "Mencari orang. serunya: "Te-gak Suseng. Nikoh tua tuding Ji Bun.. Sambil menggerung gusar keempat Nikoh muda itu beramai-ramai mengejar ke dalam. mana boleh kau menghina dan bikin kotor di sini ." saking murka badan Nikoh tua sampai gemetar....

matanya beringas dan menakutkan sekali. bergetar: "Kau kau tidak takut racun?" "Bicara soal racun. namun serangkum bau harum segera merangsang hidungnya. waktu tangannya terangkat sejajar kepalanya. namun tanpa sebab dan alasan dirinya tanya keterangan bocah she Liok. agaknya keempat muda itu sudah dirobohkan Thian-thay-mo-ki. tiba-tiba disadarinya bahwa pukulan lawan tidak membawa gempuran tenaga atau samberan angin. Tanpa terasa ia bergelak tertawa. dilihatnya Nikoh tua dihadapannya menggerakkan ke dua tangan. biarpun para Nikoh di sini semua cabul dan tidak menjalankan ajaran agama semestinya." Nikoh tua melangkah mundur. Kini dua jiwa sudah menjadi korban. tangan kanan pelahan bergerak naik. telapak tangannya sudah berubah hitam legam. katanya: "Orang beribadat ternyata juga pakai racun. suaranya. Baru saja Ji Bun hendak balas menyerang. Ji Bun mengejek dingin: "Hek-sat-jiu! Baru setengah sempurna!" .com/ Ji Bun jadi rikuh akan sepak terjangnya. Beruntun terdengar pula jeritan dari belakang. kau. padahal kemungkinan para Nikoh ini memang tidak tahu siapa sebetulnya Liok Kin itu. sayang kau keliru berhadapan dengan aku. ia jadi menyesal akan kebrutalannya." Seketika terunjuk mimik jeri dan ketakutan pada muka Nikoh tua. Tengah ia terlongong. hanya bertingkah saja di hadapan seorang ahli.Tiraikasih Website http://kangzusi.

Tiraikasih Website http://kangzusi. berbareng telapak tangannya menabas tegak. diselingi keluhan tertahan." Nikoh tua itu menyeringai. kukunya yang runcing sampai mencakar kulit dagingnya. selain tidak sempat menggunakan ilmunya yang ganas itu. tangannya yang gemetar menuding Ji Bun yang sedang merangkak bangun. . Jari-jari lawan dibiarkan mencengkeram pundaknya. meski tidak sempat menangkis atau balas menyerang. namun reaksinya cukup cepat. gerakannya cepat. Hampir dalam waktu yang sama. agaknya kepandaian silat Nikoh tua ini tidak rendah. Ji Bun melengak. Nikoh tua itupun sempoyongan ke belakang.. jari-jari tangan si Nikoh yang hitam bagai cakar. melesat melampaui wuwungan rumah terus lenyap.. namun untuk menggunakan ilmu mujijatnya yang mematikan masih cukup berkelebihan. Serangan ini diluar dugaan Ji Bun. kau. "Blang". biasanya setiap korbannya pasti mampus..com/ "Serahkan jiwamu!" ditengah bentakan yang menusuk kuping. tahu-tahu mencengkeram ke arah Ji Bun. Namun Ji Bun pandang serangan ini seperti sentuhan belaka tanpa dihiraukan. Tapi Ji Bun tenang-tenang tanpa unjuk sesuatu katanya: "Sebetulnya Cayhe tidak ingin membunuhmu. sejak dirinya berkelana hanya dua kali kekecualian ini. Ji Bun muntah darah dengan badan terjengkang. mulutnya berteriak menakutkan: "Kau ..." bayangan abu-abu tiba-tiba berkelebat. aneh dan ganas sekali... untuk kedua kalinya ilmu mujijatnya yang mematikan gagal membunuh lawan yang pertama adalah orang misterius yang merebut anting-anting itu.

Terkerut alis Ji Bun. di sana berderet tiga bangunan yang mungil. dari jendela ia melongok ke dalam. baru dia teringat pada Thianthay-mo-ki yang sudah sekian lamanya melabrak ke dalam dan tiada kedengaran suaranya. namun ke mana dan di mana dia? Tengah bingung dan mencari. sesaat ia kehilangan Thian-thay-mo-ki terang takkan pergi begitu saja tanpa pamit. bahwa tempat ini tidak mirip tempat suci yang biasa dihuni sebangsa Nikoh yang memeluk agama. Berdegup jantung Ji Bun. suasana sunyi senyap tak kedengaran suara apapun. Yang tengah adalah ruangan tamu. hatinya menjadi . Ketiga kamar ini semua kosong. tak tampak bayangan orang. maka muncullah sebuah pintu sempit yang tiba cukup untuk lewat seorang. mungkin kelenteng ini hanyalah berkedok untuk berbuat mesum dan kejahatan lainnya. tiba-tiba dilihatnya sebuah gambar dewi Koan-im yang tergantung di dinding kamar tengah itu bergerak pelahan. panjangnya tak ubahnya seperti istana raja. di papiliun mungil itu menggeletak empat sosok mayat. Sekali lompat Ji Bun tiba di serambi papiliun itu. pajangan dan barang-barang yang ada mirip dengan kamar pertama. memangnya ke mana dia? Kecerdikan dan kepandaian silatnya meyakinkan takkan mengalami sesuatu di luar dugaan. di antara bayang-bayang pepohonan yang rimbun. tampak kamar-kamar dipajang begitu indah dan serba mewah.com/ Setelah terlongong sekian lamanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. mungkinkah mengalami sesuatu. kamar yang belakang adalah kamar tidur. Maka bergegas ia lari ke belakang.

apa yang telah terjadi?" tanya Ji Bun keheranan.” "Kalau benar tempat ini cabang Cip-po-hwe... tak kalah dengan kamar puteri raja.” "Cabang Cip-po-hwe?" seru Ji Bun kaget.. "He. katanya sambil acungkan jempolnya ke belakang: "Kamar di bawah tanah itu megah sekali. bocah she Liok itu pasti mampir kemari.” "Apa yang kautemukan di sana?" "Tempat ini adalah salah satu cabang Cip-po-hwe ." Tak habis heran Ji Bun karena didesak untuk memeriksa kamar di bawah tanah. "Dik. Dengan langkah gemulai Thian-thay-mo-ki bertindak keluar.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Memang tadi dia kemari. namun rasa tertarik memang tak tertahan lagi. coba kau masuk melihatnya sendiri. dilihatnya seseorang menerobos keluar dari pintu gelap itu." "Lalu Pui Ci-hwi?" "Masuklah dulu melihatnya. disaat siap-siap bertindak. sekilas ia melirik terus melangkah masuk. kini sudah pergi pula. Sebentar kau akan paham. kiranya Thian-thay-mo-ki adanya.com/ tegang. ...

Sebuah ranjang kayu cendana terletak di bagian dalam dengan kasur tinggi dan seprei jambon. sampaipun meja kursi semua terbuat dari barang-barang antik yang berukir indah dan hidup. dua kamar di kanan kiri semua tertutup dan digembok dari luar. ia menduga pasti ada apa-apa di dalam ketiga kamar ini. sehingga di tengah-tengah ketiga kamar ini merupakan pekarangan yang cukup luas. maka dapatlah dibayangkan apa gunanya tempattempat seperti ini. tampak pajangan berwarna warni. Tiba-tiba matanya bentrok dengan noda-noda darah yang berceceran diatas ranjang darah kental yang belum kering. Bahwa di dalam sebuah kelenteng dibangun kamar-kamar seindah ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. Bahwa Thian-thaymo-ki menyuruh dirinya memeriksa kamar di bawah tanah ini. di ujung loteng sana adalah jalanan datar halus yang cukup lebar sepanjang puluhan tombak. dengan langkah lebar ia memburu maju serta menyingkap kelambu. Kamar yang tengah tertutup kerai dengan pintu tertutup rapat. jantungnya berdegup semakin keras. .com/ Di belakang pintu sempit ini adalah sebuah lorong panjang yang pakai undakan. Setelah bimbang sebentar Ji Bun menyingkap kerai mandorong pintu dan melangkah masuk ke kamar tengah. Tiga kamar kembali berjajar segitiga di ujung sana. keadaan ini tak ubahnva seperti kamar tidur seorang permaisuri raja. jelas semua ini adalah barang-barang peninggalan jaman dahulu kala. kelambu menjuntai turun. Begitu melangkah masuk bau wangi segera merangsang hidung.

mungkin hanya untuk melampiaskan rasa sebal dari menghilangkan rasa malunya saja. Seorang gadis berbaju hijau rebah tak bernapas di dalam kamar. Keduanya saling tindih dan telanjang bulat. yang dibawah adalah laki-laki bercambang dan bertubuh kekar. badan bagian atas sudah terpisah. di mana kaki tangannya bergerak.com/ "Hah!" tiba-tiba ia menjerit tertahan dan menyurut mundur. Lama sekali baru ia sadar kembali. bahwa Siong-cuam ini adalah salah satu cabang Cip-po-hwe. dari badan merekalah darah itu mengalir ke bawah kasur. Ji Bun menggeram gusar. ia duga pada saat kedua laki perempuan ini berbuat mesum kepergok oleh Thian-thay-mo-ki. begitu pintu terbuka seketika dia berjingkat. sekian lamanya ia tertegun di tempatnya. Cepat ia berlari keluar lalu menarik pintu kamar di sebelah kiri. dandanannya mirip dengan gadis berbaju hijau yang mati di bawah tembok di luar tadi. sudah tentu perbuatannya ini tiada gunanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. kedua gadis baju hijau ini terang adalah murid-murid yang datang dari markas pusat seperti . lalu dibunuhnya. selebar mukanya merah jengah. Seperti apa yang dikatakan Thian-thay-mo-ki. Sebagai gadis perawan sudah tentu dia malu menjelaskan. semua perabot di dalam kamar ini disapunya porak poranda. Namun keempat kaki mereka masih saling tindih. mayat yang di atas adalah seorang perempuan gundul atau Nikoh muda yang cantik menggiurkan. maka dia suruh dirinya turun kemari menyaksikan sendiri. Selama ini Ji Bun belum pernah melihat adegan yang memalukan seperti ini. Ternyata di atas ranjang menggeletak dua sosok mayat.

” "Ada kabar Pui Ci-hwi?" "Ada. ke situlah pula mereka berada . Selain itu tiada apa-apa lagi yang patut diperiksa... "Darimana Cici tahu kalau tempat ini cabang Cip-po-hwe?" "Kau sudah lihat mayat gadis baju hijau itu? Dialah yang mengaku sebagai dayang-dayang Liok Kin." ujar Thian-thay-mo-ki. Nikoh tua itu sempat melarikan diri. ke mana sang majikan pergi. "Bagaimana? " tanya Thian-thay-mo-ki tersenyum begitu dia keluar. "Tempat mesum yang kotor. maka. Ji Bun lekas keluar meninggalkan kamar bawah tanah itu. bantal guling dan seprei morat marit.. "Demikian juga pikiranku.. pajangan kamar ini tak ubahnya seperti kamar di tengah." sahut Thianthay-mo-ki.Tiraikasih Website http://kangzusi.... perabuan yang berbentuk binatang terletak di atas meja masih mengepulkan asap dupa yang wangi semerbak..” . bakar saja. Sayang sekali.. seperti baru saja di tiduri orang dan belum lama meninggalkan tempat ini. Kelambu setengah terbuka.. satu jam yang lalu mereka sudah pergi pula.com/ yang pernah dilihatnya tempo hari. "Dia sudah tergenggam di tangan Liok Kin ." kata Ji Bun dengan uring-uringan... Kembali ia menarik pintu kamar terakhir.

tak kuasa ia mengendalikan diri sendiri... namun jiwa Pui Ci-hwi sulit dipertahankan lagi . iapun sudah tegas memutuskan harapannya untuk mempersuntingnya.." "Betul ucapanmu. maka reaksinya tawar saja. ia sudah tahu bahwa gadis berbaju merah adalah sekomplotan dengan musuh.. kini setelah urusan mendesak.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun untuk tujuan kali ini pasti mereka salah alamat." "Memangnya apa pula maksud tujuan perjalanan kita ini?" .. "Hayolah Dik. "Kejar ke mana?" "Ke mana mereka akan mendapatkan Sek-hud itu...com/ Mendelu perasaan Ji Bun... memang aneh perasaan itu." "Sek-hud?" hakikatnya Ji Bun tak punya minat terhadap Sek-hud." ajak Thian-thay-mo-ki. kita kejar lagi.. biasanya sikapnya dingin. katanya: "Kukira kita tidak usah bercapek lelah.” "Ada orang lain yang akan menagih jiwanya?. angkuh dan nyentrik.. para bangkotan dari Wi-to-hwe itu cukup untuk membikin mereka kocar kacir. namun tali asmara ini begitu ulet dan kencang mengikat sukma. tak kuasa dia memutuskan begitu saja.. tujuan Cip-po-hwe adalah mengumpulkan harta benda yang serba antik.

. ini sesuai apa yang kucuri dengar waktu di Tong-pek-san.Tiraikasih Website http://kangzusi. markas Cip-po-hwe memangnya bakal pindah ke lain tempat?" "Bukan markas Cip-po-hwe tujuan kita." "Kenapa tergesa-gesa. katanya: "Sek-hud adalah peninggalan penting perguruan Pu. katanya: "Hubungan laki perempuan memangnya amat lugu.. terutama bagi seorang gadis yang baru mekar." "Menurut pengakuan gadis baju hijau itu. Pui Ci-hwi pernah memberitahu kepada Liok Kin bahwa Sek-hud disembunyikan di puncak Pek-ciok-hong di belakang Pek-ciok-am itu" Berkerut alis Ji Bun. "apakah bocah she Liok itu ." "Marilah kita kejar." .." "Maksudmu Pek-ciok-am?” Ji Bun menegas." "Habis mau ke mana?" "Biara nomor satu di kolong langit ini.. sulitlah dijelaskan.i Kenapa dia berani membocorkan rahasia ini kepada orang luar?" Thian-thay-mo-ki cekikikan.com/ Setelah tertegun Ji Bun berkata: "Aku hanya ingin membantai bocah she Liok itu... Liok Kin sedang menggusur Pui Ci-hwi ke sana untuk mengambil Sek-hud... kalau tidak bisa terlambat.

" "Cici tahu di mana letak Pek-ciok-am itu?" "Tahu saja." . besok pagi kita bisa sampai di tempat tujuan." Kain gordin penutup kain pemujaan disiram minyak lalu mereka sulut dengan api lilin. Pada sebuah jalan pegunungan yang kecil berliku tampak dua bayangan orang tengah mengayun langkah berlari bagai terbang. cepat sekali api berkobar." "Bakar dulu sarang rase yang mesum ini. sudah tentu menusuk bagi pendengaran Ji Bun. Setelah meninggalkan Siong-cu-am. kabut pagi masih tebal.com/ Secara tidak langsung ia mau bilang bahwa hubungan kedua muda mudi ini sudah melampaui batas kesusilaan. Fajar menyingsing. Sebentar saja kelenteng itu sudah menjadi lautan api. mereka adalah Te-gak Suseng dan Thian-thay-mo-ki. emosinya jadi sukar ditekan lagi. Dari jauh Thian-thay-mo-ki menuding puncak di depan sana yang tertampak sebuah bangunan berwarna putih. mereka menuju ke arah timur.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Hayolah kita susul ke sana. kalau siang malam menempuh perjalanan. katanya: "Itulah Pek-ciok-am yang dipandang sebagai biara nomor satu di kolong langit ini. hawa terasa dingin segar.

13." 5. cepat sekali mereka sudah tiba di depan biara. lekas ia berkata: "Cici. namun peraturan ini masih tetap dipatuhi oleh segala lapisan. Seluruh bangunan ini serba putih dibangun dari kepingan batu putih. sekilas terlihat oleh Ji Bun serombongan orang sedang mendatangi dari bawah gunung mengiringi sebuah tandu.com/ Ji Bun hanya mengiakan saja tanpa bicara. Perebutan Sek-hud Beberapa kali Thian-thay-mo-ki menoleh ke bawah.Tiraikasih Website http://kangzusi." Ji Bun punya perhitungan tersendiri. bagaimana kalau kita menyingkir dulu?" . pintu tertutup. katanya: "Kalau mereka sudah datang. kita tidak usah turun tangan. "Mari kita langsung menuju ke belakang puncak!” ajak Thianthay-mo-ki. katanya: "Apa tidak masuk dulu melihat keadaan di dalam?" "Orang luar biasanya di larang masuk." Pada saat itulah. ia tak mau berjumpa dengan orang-orang Wi-to-hwe. katanya: "Orang dalam tandu! Tak nyana pihak Wi-to-hwe juga sudah mendapat kabar dan meluruk kemari. walau (Nikoh sakti) sudah wafat. Ji Bun mengawasi pintu biara.

" Segera mereka menyingkap dedaunan menyelinap ke dalam semak-semak. bawa orangmu dan periksa. pengiring-pengiring tandupun tiada yang dikenalnya. kita sembunyi di dalam gerombolan bambu sana. tandu kecil ini bukan tandu milik "orang dalam tandu. rombongan dari manakah orang-orang ini? Tandu diturunkan menghadap ke pintu biara. Tiba-tiba Ji Bun ingat sesuatu.com/ Heran tak mengerti Thian-thay-mo-ki melirik kepada Ji Bun. tanyanya: "Cici. katanya: "Baiklah. tandu kecil itu cepat sekali juga sudah tiba. ke dalam biara. memangnya aku heran kenapa aku dihormati begitu rupa. sebetulnya siapa ketua Wi-to-hwe?" "Bukankah kau diundang sebagai tamu terhormat dan duduk semeja dengan dia?" "Aku tidak tahu siapa dia." Derap langkah rombongan orang. Dengan seksama Ji Bun mengintip dari celah-celah dedaunan. radi semakin dekat. tiga orang tua pengiring dan lima laki-laki kekar segera berdiri sejajar meluruskan tangan di samping tandu. meluncur ke depan biara." . tanpa terasa ia menjadi heran.Tiraikasih Website http://kangzusi. Terdengar suara orang perempuan yang seperti sudah dikenalnya dari dalam tandu: "Ho-tongcu." itu. Tampak tujuh delapan bayangan orang berlompatan.

sekali ini dia turun tangan sendiri memimpin seluruh anak buahnya. tak terduga pintu biara hanya dirapatkan saja. tanaman kembang dan pepohonan teratur rajin.com/ Salah satu di antara ketiga orang tua yang bermuka lonjong berdagu panjang dengan jenggot pendek dan segera mengiakan sambil membungkuk. Namun suasana tetap hening. selama puluhan tahun ini." .” Baru sekarang Ji Bun mengerti.Tiraikasih Website http://kangzusi. sahutnya: "Lapor Hwecu. Tepat mengadang pintu berdiri sebuah pilar batu persegi yang ditatah beberapa huruf berbunyi: “Tempat suci untuk membina diri. Setelah ragu-ragu sebentar segera ia nekat mendorong pintu. Sekali ulap tangan. tak tersangka karena mengincar Sek-hud. itulah perintahku!" Ho-tongcu mengiakan sambil membungkuk pula. tiada seorangpun yang berani memasuki biara ini. undakan dan serambi panjang semuanya serba putih bersih tanpa berdebu seakan-akan setiap saat selalu dibersihkan orang. orang biasa dilarang masuk. Dari luar memandang ke dalam. ternyata Cip po hwe-cu yang berada di dalam tandu ini. Dingin suara Cip-po hwe-cu: "Ho-tongcu. sekali dorong lantas terbuka. tiga laki-laki kekar segera tampil dan mengintil di belakang orang she Ho ini dan melangkah ke arah biara. Dengan rasa kebat-kebit Ho-tongcu melangkah ke depan pintu.

itu hanya kabar angin . memangnya apa yang kau takuti?" Rasa takut kelihatan di roman Ho-tongcu. .." sahut Li-tongcu. "Kau masuk dan periksa. "Hm.. Li-tongcu. "Terima perintah. Ho-tongcu segera nekat mendahului melompat masuk ke dalam.. "Hiiiaaaat!" jeritan ngeri tiba-tiba kumandang.." kata Hwecu. Cip-po hwe-cu bersuara dari dalam tandu: "Ho-tongcu. tampak Ho-tongcu yang melesat masuk itu terpental keluar dan "bluk" terbanting tak bergerak lagi.com/ Sambil mengawasi batu pilar ini." Seorang tua lain yang bermuka bentuk segi tiga segera mengiakan dan tampil kemuka..ciok Sin-ni sudah meninggal. Ho-tongcu dan ketiga laki-laki kekar tak berani melangkah masuk.Tiraikasih Website http://kangzusi. karena takut akan peraturan perkumpulan. Pek.. katanya sambil menoleh dengan suara gemetar: "Hwecu.. Li-tongcu dan ketiga laki-laki kekar itu sama terbelalak dan mematung.” "Kau berani menentang perintahku?" dengus Cip-po hwe-cu. membusung dada dan segera melangkah lebar memasuki biara.. Mungkin demi gengsi atau.

" Agaknya Cip-po hwe-cu juga kaget akan kejadian diluar dugaan ini.. kukira para bangkotan Wi-to-hwe itu sudah mengetahui... usahanya pasti akan sia-sia. Berputar otak Ji Bun." "Memangnya..com/ Di tempat sembunyinya Ji Bun berpaling kepada Thian-thay-moki." "Apa kau lihat jelas siapa yang menyerangmu?” . bisiknya: "Apakah Pek-ciok Sin-ni masih hidup?” Thian-thay-mo-ki menggeleng tanda tidak tahu. suaranya tersendat: "Lapor Hwecu .. Ho-tongcu yang terlempar keluar ternyata masih hidup dan sedang merangkak bangun dengan lemas gemetar.Tiraikasih Website http://kangzusi... Sek-hud adalah milik pribadi Sin-ni. malah mungkin jiwapun bisa melayang.. walau Liok Kin diberi petunjuk oleh Pui Ci-hwi.. hamba .... mukanya serius dan curiga. Lama sekali dia tak bersuara. Pui Ci-hwi terbius dan tak kuasa akan diri sendiri. Sementara itu. agaknya Pek-ciok Sin-ni memang seorang tokoh yang teramat disegani. tanyanya pula: "Cici.” "Kau kenapa?" "Kepandaian silat dan Lweekangku punah. akhirnya dia berseru lantang: "Tokoh kosen siapakah yang ada di dalam?” Tiada reaksi atau penyahutan.. Dari reaksi beberapa orang ini. peduli siapa yang berada di dalam Pek-ciok-am.

"Li-tengcu.Tiraikasih Website http://kangzusi. yang lain ikut aku ke belakang puncak. suasana menjadi hening. kalau malu dilihat orang. "Marilah kita lihat tontonan ramai. kalian mundur saja. dan mencekam. Dari arah samping yang berlawanan. "Kita bagaimana?" tanya Ji Bun. hanya di ujung jurang sana tumbuh beberapa pohon siong yang tua dan angker. tiada rumput atau pepohonan yang tumbuh di sini. Cip-po hwe-cu mendengus." Cepat sekah rombongan mereka lantas meninggalkan tempat ini. puncak bagian belakang itu. ke empat orang itu bergegas berlari balik. baiklah aku mohon diri saja. mereka lantas menuju ke Pek-ciokhong." Cip-po hwe-cu memberi abaaba. Di mana-mana batu putih melulu. baru saja hamba melangkah masuk." Lalu ia perintahkan anak buahnya: "Ho-tongcu boleh bawa dua orang turun gunung lebih dulu. entah diterjang angin dari arah mana tahu-tahu badan terpental keluar.com/ "Tidak.” Kembali Cip-po hwe-cu berseru: "Sahabat yang ada di dalam biara kenapa tidak sudi keluar?" Tetap tiada sahutan. Seperti mendapat pengampunan. kepada Thian-thay-mo-ki." ajak Thian-thay-mo-ki. jengeknya: "Sahabat tidak perlu main sembunyi. Tepat di tengah-tengah serakan .

di belakangnya berderet puluhan anak buahnya. Bayangan orang banyak bermunculan di Pek-ciok-hong. Pada bagian muka menara ini ditatah sebuah papan batu di mana terukir sebaris huruf yang berbunyi: "Tempat semayam Pek-ciok Sin-ni nan abadi.com/ batu putih itu terdapat sebuah panggung yang menyerupai kembang teratai. jurang di bawahnya tak terlihat dasarnya. Sambil mengendap dan menggeremet Ji Bun dan Thian-thay-moki terus merambat naik ke puncak. jumlahnya tidak kurang 50an." Kiranya di sinilah tempat kuburan jenazah Pek-ciok Sin-ni. kira-kira terpaut tujuh delapan tombak dengan Pek-ciok-hong disini. Setelah dekat. lalu menyembunyikan diri di lekukan batu. menjulang kelangit sebuah puncak yang menembus mega.Tiraikasih Website http://kangzusi. agaknya demi mendapatkan Sek-hud. . kali ini Cip-po-hwe benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya. begitu tinggi dan curam puncak ini. Di belakang panggung ini. dilihatnya Liok Kin bersama Pui Ci-hwi duduk berendeng di atas batu yang berbentuk menyerupai seekor naga. Cip-po hwe-cu sudah keluar dari tandu. Di tengah panggung ini berdiri pula sebuah menara setinggi beberapa tombak. duduk diatas sebuah batu yang mencuat keluar tak jauh dari anaknya.

delapan laki-laki berotot kekar berdiri dengan membawa cangkul.. akhirnya dia berhenti lima tombak di belakang panggung menara itu. batu-batu kerikil beterbangan muncrat kemana-mana. katanya: "Cici.. Ji bun mengertak gigi. peduli siapa orang dalam biara yang memunahkan ilmu silat Ho-tongcu.com/ Di belakang panggung teratai sana." "Ada apa?" "Kukira ada apa-apa yang kurang beres. Liok Kin berpaling ke arah Pui Ci-hwi dan berkata dengan suara halus dan ramah: "Adik Hwi. linggis dan martir. tidak salah lagi tempat itu?" Dengan kaku seperti linglung Pui Ci-hwi mengangguk. agak Pui Ci-hwi memang sudah terbius .” "Nanti dulu. Seorang tua baju hitam mondar mandir seperti sedang mengukur. Liok Kin segera memberi perintah dengan suara lantang: "Lekas keduk. sekop." Maka ramailah suara berkerontangan bekerjanya cangkul.... linggis dan martir besar. yang jelas dia adalah .Tiraikasih Website http://kangzusi." "Lalu apa yang hendak kau lakukan?" "Akan kutamatkan dulu bocah she Liok itu. harus bekerja cepat dan sekuat tenaga.

Cip-po hwe-cu pelan-pelan membungkuk badan mengulur tangan ke dalam lubang. Setelah mengawasi tempat galian dengan seksama. selama ini tiada orang yang muncul mencegah pengedukan ini. namun dia masih nekat pasti dia punya keyakinan.Tiraikasih Website http://kangzusi. Seluruh anggota Cip-po-hwe yang hadir sama menjulur leher sepanjang mungkin dari tempatnya ingin melihat lubang galian." Thian-thay-mo-ki manggut-manggut. akhirnya Cip-po hwe-cu menengadah sambil terloroh-loroh riang." "Cip-po hwe-cu sudah tahu bahwa maksudnya telah diketahui orang.com/ sepihak dengan Pui Ci-hwi. . agaknya patung Budha ini dibuat dan diukir oleh seorang ahli sehingga dilihat dari kejauhan sungguh elok dan hidup. Sebuah papan batu akhirnya terbongkar keluar. dikeluarkannya sebuah patung Budha yang terbuat dari batu putih setinggi satu kaki. kenapa sejauh ini dia tetap menonton saja. Tapi kenyataan justeru di luar dugaan. bagai kilat dia sudah melesat ke tempat galian. Delapan laki-laki yang gemerobyos keringat itu segera mundur ke samping. disusul suara kaget dan kegirangan: "Sek-hud!" Cip-po hwe-cu segera membentak: "Minggir semua!" Belum lenyap kumandang suaranya. Adegan-adegan tegang masih akan menyusul.

hwi tetap linglung. Dik?" "Aku bicara setulus hati. pengetahuanmu juga amat tinggi." "Banyak terima kasih." Ji Bun memuji sejujurnya. katanya: "Apa kau bukan menyindirku." kata Thian-thay-mo-ki. tampak Cip-po hwe-cu tengah membolak-balik patung Budha itu serta memeriksanya dengan teliti. "Apanya yang janggal?" "Apa kau tidak lihat patung itu berlubang di bagian badannya." "Pandangan Cici memang tajam. kukira ada yang tidak beres. kenapa Sek-hud (patung Budha batu) ini tidak berhati?" Keadaan Pui Ci." "Kulihat ada yang janggal." Sementara itu. baru pertama kali ini ia memuji orang lain. sahutnya datar: "Entah aku tidak tahu." .Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Ji Bun berkata gemetar: "Mereka berhasil. Thian-thay-mo-ki membalas dengan senyuman riang. Akhirnya dia berpaling ke arah gadis baju merah dan bertanya dengan keheranan: "Nona Pui. sejak wataknya berubah.

mungkin. dari mencuri kini kau berani terang-terangan main rebut?" Orang tua bungkuk terkekeh-kekeh. Tampak seorang laki-laki tua bungkuk berdiri tiga tombak di ujung sana.. Bagaimana orang tua bungkuk ini muncul dan cara bagaimana dia merebut Sek-hud seluruh hadirin tiada yang tahu dan melihat jelas. di sana Cip-po hwe-cu sudah membentak dengan bengis: “Biau-jiu Siansing. patung Budha itu telah berpindah ke tangannya.com/ "Dulu waktu kau melihat Sek-hud ini apa demikian juga keadaannya?" "Ya. Sekonyong-konyong Cip-po hwe-cu menjerit kaget. gadis baju merah itu mengiakan. patung yang dipegangnya tahu-tahu lenyap. Suara Thian-thay-mo ki rada gemetar: "Dari gerak-geriknya itu. katanya: "Kwik Un-hiang. "Siapakah si bungkuk ini?" tanya Ji Bun terperanjat...” Belum habis percakapan mereka di sini. cara bagaimana kau bisa mengenalku sebagai Biau-jiu Siansing?" "Panca longok macammu ini. memangnya ada orang duanya dalam Kangouw?" .Tiraikasih Website http://kangzusi.

" "Kalau tidak?" "Aku bersumpah takkan melepaskanmu. tapi Kwik-hwecu. si maling sakti yang terkenal di Kangouw.. orang yang merebut anting-anting giok dari tangannya pasti dia orangnya. seketika Ji Bun naik pitam. tak usah diragukan lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi. Ji Bun hanya melirik sekejap terus melangkah ke arah Biau-jiu Siansing." . "Te-gak Suseng!" teriak Cip-po hwe-cu kaget.." "Ah..” "Lebih baik kau kembalikan patung itu.." Mendengar laki-laki bungkuk ini adalah Biau-jiu Siansing. mukanya seketika beringas dan diliputi nafsu menmbunuh. Berputar biji mata Biau-jiu Siansing.gak Suseng. maka tanpa ragu segera ia melompat keluar. kau memakiku panca longok. memangnya kau sendiri ini apa . katanya : "Te. Dari caranya merebut patung tadi terbukti sama dengan cara orang merebut anting-anting dari tangannya.hud?" "Cayhe tidak punya minat. kau juga ingin merebut Sek.com/ "Anggaplah kau menebak betul. aku tidak peduli.

.. malah . boleh kau bereskan dulu urusanmu. dalam hatimu sudah tahu apa maksudku.... siluman kecil menjadi setan besar." "Tutup mulutmu. maling yang hina dina . katanya kemudian: "Anak muda.com/ "Lalu apa kehendakmu?" "Janganlah sudah tahu pura-pura tanya.. memang gelaran Biau-jiu Sian¬sing tidak berharga seperti penilaianmu itu?" "Baik." "Agaknya Lohu belum pernah bermusuhan dengan kau?" "Hm. ucapanmu ini menjadikan kau ini lebih rendah dari pancalongok.. jengeknya dingin: "Jangan kau nanti berusaha lari ." Menyala sinar mata Ji Bun..” "Omong kosong." Sorot mata Biau-jiu Siansing beralih ke arah Cip-po hwe-cu." "Sopan? Apa kau setimpal bicara soal kesopanan?" Dengan penuh keheranan Biau-jiu Siansing menatap Ji Bun. katanya berseri tawa: "Kwik Un-hiang. dalam sepuluh tahun ini kau sudah tumbuh sayap..Tiraikasih Website http://kangzusi.. bicaralah yang sopan terhadap Lohu.. ada urusan apa boleh dikesampingkan dulu. Te-gak Suseng.. biar Lohu bereskan urusan dengan mereka.

ketahuilah aku termasuk tingkat kilat dari tingkat atas. semua itu dari satu sumber. merampok. kini menjadi ketuanya pula. menunduk: "Maaf akan kelancangan Wanpwee." .Tiraikasih Website http://kangzusi. air. Mencuri. kau termasuk yang mana?" Gemetar sekujur badan Cip-po hwe-cu." Biau-jiu Siansing terloroh-loroh. membegal dan merampas. aku termasuk gunung dari tingkat bawah. suaranyapun tersendat: Geledek. api. dikalangan maling ada sumbernya yang terdiri delapan tingkat. tanyanya: “Aturan apa?" “Keluarga punya aturan. menipu. katanya. angin." Mundur setapak Cip-po hwe-cu. gunung. membuka markas segala." Pucat keabu-abuan selebar muka Cip-po hwe-cu. kilat." "Kwik Un-hiang. seluruh anak buahnyapun tersirap dan berubah air mukanya. Maka terdengar Biau-jiu Siansing membentak dengan bengis: "Dalam delapan tingkat itu. katanya: "Tingkatan dan kemampuanmu masih terlalu jauh. apa kau masih tahu aturan?” Berubah air muka Cip-po hwe-cu.com/ mendirikan perkumpulan. bagaimana kalau kubawa Sek-hud ini?" "Terserah. aku tak berani banyak mulut lagi. tanah dan kayu. golongan punya disiplin.

betapa besar dosamu. Pekciok Sin-ni menjadi simbol yang diagungkan di seluruh lapisan persilatan.com/ "Aku tahu. Seperti mengajar dan memberi peringatan kepada bawahannya saja Biau-jiu Siansing berbicara lebih lanjut: "Menurut undangundang kalangan kita." . tapi kau masih berani melanggarnya.. Pek-ciok-am adalah tempat suci yang tak boleh dilanggar oleh golongan manapun. untuk kali ini kau terhitung melanggar undang-undang karena berani menentang tingkat yang lebih tinggi. sungguh bodoh dan picikkan?" Kembali Cip-po hwe-cu hanya mengiakan saja. sesama golongan tidak boleh saling rebutan. biarlah kuberitahu. malahan berani menantang lagi. Berkata Biau-jiu Siansing lebih lanjut: "Sekarang lihatlah pertanda yang ada di atas batu piramid itu." Cip-po hwe-cu mengiakan sambil manggut-manggut. masing-masing tingkat ada perbedaan. seketika dia menjerit kaget sambil mundur tiga langkah.. kau berani paksa anak buahmu masuk ke biara sini. "Dan lagi di pintu biara sudah kuberi tanda pengenalku menandakan bahwa golongan kilat sudah mencampuri urusan ini. dalam hati kau memberontak." "Hah!" waktu berpaling ke arah samping lubang yang digali anak buahnya tadi.Tiraikasih Website http://kangzusi.

karena kesadarannya terpengaruh oleh obat bius. badannya gemetar sampai perhiasan diatas kepalanya ikut bergoyang-goyang. Te-gak Suseng. Liok Kin berdiri hendak melangkah pergi. Liok Kin mengertak gigi. kalau kau masih ingin hidup lekaslah menyingkir saja. keadaannya mirip sekali dengan Ciang Bing-cu tempo hari. dia tidak mencintaimu. biarlah kuampuni kali ini. Seketika beringas wajahnya: "Kau ingin mampus?" hardiknya. . Tapi Ji Bun lantas melesat ke depan Liok Kin. desisnya: "Te-gak Suseng." Kata-kata setajam sembilu menusuk ulu hati Ji Bun. pergilah!" "Banyak terima kasih!" tersipu-sipu Cip-po hwe cu berkata memberi hormat terus putar badan memberi perintah kepada anak buahnya: “Turun gunung!" Dengan menggandeng Pui Ci-hwi. apa hakmu?" "Tanpa hak apa-apa." "Jangan takabur dan menghina orang. Biau jiu Siansing ulapkan tangan: "Mengingat kau bersalah tanpa sengaja.Tiraikasih Website http://kangzusi. jengeknya: "Tinggalkan dia!" Pui Ci-hwi melerok sekali kepada Ji Bun tanpa memberi reaksi apa-apa.com/ Lenyap wibawa dan keangkeran Cip-po hwe cu.

" seru Biau-jiu Siansing. tenaga gerakan ditambah damparan pukulan dahsyat ini. Jika badannya sampai menubruk menara batu. Suasana menjadi tegang. cara bagaimana menyelesaikannya?" "Utang jiwa bayar jiwa. membunuh orang." "Jiwa ragaku ada di sini. ternyata secara licik Cip-po hwe-cu menyerang ketika perhatian Ji Bun terpencar. aku tidak sabar menunggu di sini. menculik tawananku lagi. "urusan kita biar diselesaikan lain hari saja..Tiraikasih Website http://kangzusi. biarlah perhitungan itu kita bereskan sekalian. tahu-tahu segulung angin keras menerpa ke arahnya. teriaknya: “Tunggu sebentar . maka tubuhnya melayang kencang menerjang ke arah menara di panggung teratai sana. tantangnya: "Bagus sekali. pasti hancur lebur. katanya: ''Te-gak Suseng.com/ Cip-po hwe-cu menghampiri. puluhan anak buah yang lain serentak ikut merubung maju.. tempo hari kau berani bikin onar di markas kami. Ji Bun tidak menduga bahwa lawan akan turun tangan. Hayolah mulai!" Tongcu she Li dan seorang kawannya tiba-tiba menubruk maju.." Ji Bun berputar menghadapi Cip-po hwe-cu. ." Ji Bun melompat mundur.. kalau kau mampu boleh kau renggutnya. "Anak muda." belum habis perkataannya. semua siap meraba senjata.

Thian-thay-mo-ki terpaksa unjuk diri. begitu sabarnya sampai sedemkian jauh masih belum mau muncul. Ji Bun menjadi kikuk dan risi. Ji Bun tenangkan diri sebentar. katanya kemudian: "Terima kasih akan bantuan tuan. Biau-jiu Siansing nienatap Ji Bun. . berbareng tangan menekan ke bawah. tiba-tiba gelombang gelak-tawa yang keras menusuk telinga menggetar bumi bergema dari kejauhan.com/ Untunglah serangkum angin lembut tahu-tahu menghembus enteng dari arah samping sana sehingga luncuran tubuhnya yang kencang itu menjadi lambat. Sebuah tawa nyaring tiba-tiba berkumandang. rase kecil yang datang bersamamu itu cukup baik sekali latihannya." Yang dimaksud jelas Thian-thay-mo-ki. Maka lekas dia kerahkan kekuatan memberatkan tubuh. katanya: "Anak muda. Orang yang menolongnya dengan dorongan serangkum angin enteng tadi adalah Biau-jiu Siansing.Tiraikasih Website http://kangzusi. sebetulnya ada persoalan apa diantara kita?" Belum Ji Bun menjawab. Namun selebar mukanya sudah berubah merah padam. badan berputar lagi sehingga dia berjumpalitan dan turun dengan enteng." "Tidak usah. Pada detik-detik sebelum badannya membentur menara. Ji Bun merasakan daya luncuran tubuhnya tibatiba jauh berkurang. membuat semua laki-laki yang hadir terbeliak. tubuhnya yang gempal dan padat laksana segumpal bara yang menyala.

ia insaf bahwa dirinya bukan tandingan kedua bangkotan aneh ini. Serta merta Ji Bun kerahkan kekuatannya menurut ajaran Thian-thay-mo-ki untuk menolak pengaruh Thiancin-ci-sut ini. Semua hadirin memang gemetar dengan muka pucat terpengaruh oleh gelombang tawa yang hebat ini. betul juga napas yang tadinya memburu dan darah yang mendidih seketika tertekan kembali. hanya Biau-jiu Siansing saja yang kelihatan masih tenang-tenang seperti tidak terpengaruh sama sekali. hawa di atas puncak seketika seperti bergolak hebat. ." Thian-thay-mo-ki berteriak tertahan. tahu-tahu dua orang sudah muncul dihadapan orang banyak. para anak buah Cip-po-hwe yang berkepandaian dan Lwekangnya rendah.Tiraikasih Website http://kangzusi. Hanya dalam waktu sekejap saja. Siang-thian-ong dan Bu-cing-so langsung meluruk ke arah Biau-jiu Siansing serta berdiri dikanan-kirinya. Untunglah gelombang tawa itu cepat sekali sirap. "Bu-ciang-so datang. Membara dendam dan sakit hati Ji Bun. agaknya kedua bangkotan tua inipun sengaja datang hendak merebut Sek-hud di tangan Biau-jiu Siansing itu.com/ cepat sekali tahu-tahu sudah dekat di bawah bukit. satu persatu meringis kesakitan sambil mendekap kuping serta menungging. kedua orang aneh ini adalah Bucing-so dan Siang-thian-ong. Dalam pada itu. namun lahirnya dia tetap tenang.

" seru Ji Bun.... "Orang she Liok. ia berkisar terus balas memukul. bersama anak buahnya. sudah tentu Lweekangnya bukan olah-olah hebatnya. Betapapun lihay Ji Bun. beramai mereka mengundurkan diri turun gunung tanpa bersuara lagi. merekapun ikut mengundurkan diri. Sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan. Sam-Cay-Ciat . Li-tongcu dan seorang Tongcu yang lain segera mengadang sambil melontarkan pukulan telapak tangan. tak urung dia terpental juga oleh gempuran sengit ini.." disusul jeritan ngeri. di tengah iringan anak buahnya. dengan sempoyongan akhirnya punggungnya menumbuk cagak batu darah seakan-akan bergolak di rongga dadanya. "jangan harap kau bisa pergi begini mudah. jiwanya melayang. seketika kedua orang ini terjungkir balik dan tak bergerak lagi. plok.14. Serangan yang dilandasi kemarahan ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. sembari berkelit dari damparan pukulan lawan. kali ini Ji Bun sudah waspada." Segera ia menubruk maju pula. kedua telapak tangannya menghantam dengan seluruh kekuatannya. boleh dikata sedahsyat gugur gunung. . Cip-po hwe-cu menggerung gusar menubruk ke arah Ji Bun. "Plak. Liok Kin tetap menggandeng tangan Pui Ci-hwi. Penyelamat Lekas Cip-po hwe-cu memberi tanda.com/ 5.

begitu menggiurkan dengan gerak-gerik yang menarik lagi. katanya dengan kemayu: "Siau-hwecu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Thian-thay-mo-ki segera unjuk senyum genit se¬mekar kembang dimusim semi. sebat sekali tahu-tahu Thian thay-mo-ki sudah mencegat di hadapan Liok Kin. memangnya kau kira aku ini seperti anak keparat sedingin batu itu." Tegak alis Liok Kin. Liok Kin mengawasi Thianthay-mo-ki dengan penuh gairah. katanya sambil melangkah maju: "Siau-hwecu. "Minggir!" tiba-tiba Thian-thay-mo-ki membentak. "Orang she Liok.com/ Sementara itu." Liok Kin tertawa lebar." Sambil memicingkan kedua matanya. lepaskan dia!" "Tidak bisa!" "Pihak Wi-to-hwe pasti akan mengobrak-abrik sarangmu." . siapa yang takkan terpesona?" Semakin manis tawa Thian-thay-mo-ki. puluhan anak buah Cip-po-hwe terguling menjadi korban. katanya: "Sudah tentu. maka terdengar jerit dan keluh orang banyak saling susul. Liok Kin sudah menarik Pui Ci-hwi berlari lebih dulu diiringi anak buahnya. katanya: "Nona secantik bidadari. agaknya kaupun pintar menilai dan memilih. agaknya kaupun amat romantis. sebelah tanganpun bekerja menghamburkan segenggam So-li-sin-ciam (jarum sakti gadis suci).

Lekas Liok Kin miringkan tubuh seraya menarik Pui Ci-hwi untuk menghadang di depannya. jari-jari tangannya sudah menyentuh pundak Pui Ci-hwi. tiba-tiba ia bergerak secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan Liok Kin.com/ "Bagus sekali. dalam waktu dekat keduanya masih sama kuat alias setanding." Gerakan Thian-thay-mo-ki begitu cepat. Selama itu kedua pihak masih sama bertahan dalam kewaspadaan tanpa bicara." ujar Thian-thay-mo-ki.Tiraikasih Website http://kangzusi. kedua bangkotan tua ini cukup berkelebihan untuk membunuh Biau-jiu Siansing. sunguh heran dan gemas pula hatinya. Kontan Thian-thay-mo-ki digamparnya mundur tiga langkah. Bahwa dalam keadaan linglung Pui Ci-hwi bisa menyerang. maka dia tetap mempertahankan jarak tertentu dengan serangan Bik-khong-ciang (pukulan dari jauh). . jengeknya dingin: "Thian-thay-mo-ki. jangan kau kira aku ini sebodoh kerbau. Sementara Bu-cing-so dan Siang-thian-ong tanpa berkedip mengawasi Biau-jiu Siansing. Disebelah sana Ji Bun tengah melabrak Cip-po hwe-cu dengan sengit. baru saja Liok Kin buka mulut. Cip-po hwe-cu tahu bahwa serangan Ji Bun hanya bisa dilancarkan dalam jarak dekat. maling sakti yang menjagoi seluruh dunia dengan gerak geriknya yang luar biasa. sungguh di luar dugaan Thian-thay-mo-ki. namun dalam hati masing-masing cukup mengetahui bila menilai kepandaian silat dan Lwekang. "Blang" tahu-tahu sekenanya Pui Ci-hwi menamparkan tangannya.

seakan-akan sejak tadi memang dia sudah berada di situ. seorang nenek tua ubanan berpakaian warna-warni muncul segesit setan melayang. bibirnya yang kering tiba-tiba bergerak." teriak Thian-thay-mo-ki. seakan-akan sorot mata dan perkataan nenek tua ini mempunyai kekuatan yang tak mampu dilawannya. Tanpa terasa Thian-thay-mo-ki melenggong. atau mungkin ada soal-soal lain yang dikuatirkan pula. terpencil dan patah semangat. Sekali meleset perhitungan orang pasti dapat melarikan diri. lekas dia mundur ke belakang. Sorot mata nenek tua itu menyapu ke arah Liok Kin.com/ Bahwa kedua jago kosen ini masih mengulur waktu. terlalu kecil. katanya dingin: "Anak kelinci. "Orang she Liok. Begitu aneh dan mendadak munculnya nenek ubanan ini. karena mereka tidak berani gegabah. lekas lepaskan dia!" Liok Kin patuh. seketika dia bergetar seperti kena aliran listrik. sehingga tiada orang yang menyadari kehadirannya. "mampuslah kau!" Sekonyong-konyong. Tatapan mata nenek tua ini seakan-akan memiliki daya magnit yang menyedot sukma sehingga orang yang dipandang merasa dirinya. Begitu sorot matanya bentrok dengan pandangan orang.Tiraikasih Website http://kangzusi. serta merta dia menyurut mundur. cepat ia lepaskan pegangannya. .

Tersipu-sipu dia melompat ke sana sambil bertanya dengan penuh perhatian: "Bagaimana keadaanmu. pasti dia! Tak nyana dia juga menjadi anggota Wi-tohwe .." Dalam waktu sekejap.” . waktu ia berpaling.. Ji Bun mendesis penuh dendam: "Sakit hati ini pasti kubalas. mana Pui Ci-hwi?" Berubah air muka Thian-thay-mo-ki. dilihatnya Ji Bun terhuyung-huyung sambil muntah darah. jiwa anjingmu sementara biar kutinggalkan!" Habis berkata dia tarik dan kempit Pui Ci-hwi terus berkelebat menghilang entah ke mana.. sahutnya kemudian: "Ah.Tiraikasih Website http://kangzusi. dengan tangannya dia menyeka darah yang meleleh di mulutnya. mulutnya menggumam: "Diakah? Ya.com/ Berkata pula nenek berpakaian warna-warni ini: "Nenek tua hari ini tidak ingin membunuhmu.. hatinya kecut dan mendelu. Thian-thay-mo-ki masih terlongong.... keruan serasa remuk hatinya.” Lamunan Thian-thay-mo-ki buyar dikejutkan suara seseorang yang mengerang menahan sakit. Dik?" Ji Bun mengertak gigi. Cip-po hwe-cu dan anak buahnya sudah lari turun gunung secepat terbang. Cici. tidak apa-apa. puluhan mayat anak buahnya ditinggalkan begitu saja. namun sikapnya tetap halus dan ramah: "Sudah dibawa pergi orang mereka sendiri.

" "Boleh. Sekali salah langkah dan tak berhasil meloloskan diri. Sedikitpun tak pernah kendur perhatian mereka. diawasi dan dijaga oleh dua bangkotan silat yang lihay ini. apakah tidak malu terhadap nenek moyang. tinggalkan Sek-hud. juga tak berani sembarang bergerak. Beberapa kejap pula." Biau-jiu Siansing ngakak. Maklumlah ditatap. tiba-tiba Siang-thian-ong buka suara: "Sahabat. silakan coba. dilihatnya Bu-cingso dan Siang-thian-ong masih mengawasi Biau-jiu Siansing saja.Tiraikasih Website http://kangzusi. Betapapun aneh dan lihay gerak geriknya.com/ Terpukul batin Ji Bun. nama besar dan ketenarannya bakal runtuh total. ia sendiri tak mengerti kenapa dirinya masih perihatin terhadap keselamatan si nona? Bukankah dia sehaluan dengan musuh? Pikiran bekerja matapun melirik ke arah sana." jengek Bu-cing-so. sendiri?" "Memangnya kau mampu membawanya pergi?" "Mungkin saja. kau boleh pergi sesuka hatimu." . "Lohu tak sabar menunggu lagi. Sorot mata Biau-jiu Siansing lambat laun mengunjuk perasaan gelisah. katanya: "Kalau aku yang rendah ini turun gunung dengan bertangan kosong.

katanya:" Sahabat. hati kita masing-masing sama tahu bukan?" Dengam bingung sekilas Ji Bun melirik Thian-thay-mo-ki.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Kenapa kalian tidak turun tangan saja?" tantang Biau-jiu Siansing malah. Biau-jiu Siansing angkat Sek-hud di tangannya itu. kenapa selama ini mereka bertahan dan mempersoalkan siapa lebih dulu yang harus turun tangan." "Jika Lohu melancarkan Thian-cin-ci-sut sekuat tenaga. maksudnya ingin tanya apa sebetulnya yang sedang dilakukan ketiga orang ini. katanya menyeringai: "Apa kalian tidak memberi keringanan kepadaku?" "Kecuali kau tinggalkan Sek-hud itu!" "Baiklah kutegaskan sekali lagi. barang yang sudah berada di tanganku tak mungkin kulepaskan pula. Thian-thay-mo-ki tahu maksudnya. sementara saudara Siang-thian-ong menyerang dengan Siang-thiansin-ciang. biarlah aku iringi saja." "Jadi perlu bertahan secara berlarut-larut begini?" "Kalau kalian punya hobby demikian. kau tahu apa akibatnya bagi dirimu?" . ia geleng-geleng bahwa dirinyapun tidak tahu. Bergeming badan Siang-thian-ong yang bulat tambun bagai bola itu.

darah mengalir seperti biasa tiada tandatanda terluka. "Maling cilik. Mungkinkah Biau-jiu Siansing memiliki ilmu mematikan yang masih disimpannya." ." "Umpama benar begitu. apa kau ingin gugur bersama Sek-hud?" Sahut Biau-jiu Siansing tanpa pikir: "Betul. Namun sekarang dia rasakan dadanya longgar. hanya dalam hati saja ia bertanyatanya." kata Siang-thian-ong kuatir. namun satu diantara kalian atau keduanya juga pasti ikut menjadi korban. lalu apa yang dapat kau peroleh?" "Memangnya apa pula yang bisa kalian dapatkan?" Ji Bun benar-benar bingung dan tak mengerti akan percakapan mereka. juga tidak mengerahkan tenaga murni untuk berobat.com/ "Cayhe yakin pasti dapat gugur bersama dengan salah satu di antara kalian. Begitu hebatkah ilmunya itu sampai dia tidak gentar menghadapi kedua lawan tangguh ini? Firasat lain membuat Ji Bun semakin bingung dan tak habis mengerti pula. Belum lagi dia minum obat. namun luka-luka dalamnya sembuh sendirinya. apa pula yang terjadi atas dirinya? Sudah tentu dia tidak bisa mengemukakan perasaannya ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. Barusan dia terpukul luka parah sampai muntah darah oleh Bik-khong-chiang Cip-po hwe-cu.

katanya: "Cayhe adalah Jit-sing-ko-jin (orang lama dari Jit-sing).Tiraikasih Website http://kangzusi. . Lohu akan turun tangan!" Pada saat itulah tiba-tiba sebuah suara serak dengan nada yang kuat berkata: "Orang mati meninggalkan nama. tak jadi soal jika aku iringi kematianmu. di punggungnya menggemblok sebuah kantong atau tas pelajar." "Nah. "Ha ha ha ha. siaplah. namun roman mukanya rada pucat sehingga berlawanan dengan sorot matanya. tangannya memegang kipas yang besar. kiranya seorang laki-laki berpakaian pelajar warna biru sepasang matanya memancar terang. setimpal. katanya: “Saudara ini orang kosen dari mana?" Pelajar pertengahan umur itu membentang kipasnya serta melingkupkan pula. memang tenteramlah arwahmu di alam baka!" Suara lenyap orangnyapun muncul.” ujar Siang-thian-ong.com/ "Memang aku sudah bosan hidup. matipun takkan menyesal." "Apa? Jit-sing-ko-jin?" seru Biau-jiu Siansing. kalau maling tua harus mampus secara demikian. aku yang rendah ini mendapat iringan seorang gembong silat masuk liang kubur. Biau-jiu Siansing melirik kepada pendatang ini.

namun tiada membawa hasil. memang betul. Begitu saling ber¬adu mata." "Maling tua. . kau bisa mencuri segala benda di dunia ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. Kini ibunyapun belum diketahui parasnya. betapa dendam hatinya. Bahwa orang ini mengatakan dirinya juga orang dari Jit-sing. memangnya dia ada hubungan dan sangkut paut dengan Jit-sing-po? Dengan cepat dan cermat otaknya bekerja. Betapa derita siksa batin ini sungguh tak terlukiskan dengan kata. Musuh besar dihadapan. hati terasa pilu dan sedih. bergetar badan Ji Bun. namun ia tidak mampu berbuat apa-apa. serta merta bergetar perasaan Ji Bun. Yang terbayang justeru tragedi yang mengerikan dengan pembantaian besar-besaran dari seluruh penghuni Jit-sing-po itu. ya. la dilahirkan di Jit-sing-po. membayangkan kembali bayangan orang ini. sampai asal usul diri sendiri juga harus dirahasiakan. Sorot mata Jit-sing-ko-jin yang tajam itu sekilas melirik juga ke arah Ji Bun. sudah tentu Thian-thay-mo-ki tidak tahu akan hal ini." "Ehm. apakah pernah dilihat atau dikenalnya." Mendengar pelajar ini menyebut dirinya sebagai “orang lama dari Jit-sing". karena dia tidak tahu riwayat hidup Ji Bun. sedang ayahnya adalah Jit-sing po-cu. Ini hanya perubahan pikiran batinnya.com/ "Belum pernah kudengar. namun belum tentu mengenal semua tokoh-tokoh tenar di jagat ini. didapatinya sinar mata yang berkilat ini sayupsayup mengandung nafsu membunuh yang membara.

"Entah. memangnya ada orang bisa memperoleh sesuatu tanpa mengeluarkan pengorbanan?" "Bagaimana pendapat tuan." "Kurasa memang demikian. apa yang harus kupertahankan?" . dalam hati kenapa pelajar pertengahan umur ini menatap dirinya sedemikian rupa? "Dik. aku tidak kenal." Jit-sing ko-jin tertawa lebar. agaknya kedatanganku ini tidak akan sia-sia.Tiraikasih Website http://kangzusi." kata Biau-jiu Siansing. jijik dan menghina. "pertaruhan apa yang kau siapkan?" "Pertaruhan?" "Ya. katanya:"Siapapun berhak mendapat bagian di dalam memperoleh benda-benda mestika. sorot matanya merasa sebal.com/ Tatapan orang sudah beralih." Tanpa berjanji Siang-thian-ong dan Bu-cing-so melirik ke arah Jitsing-ko-jin. namun jantung Ji Bun masih berdebur keras. diam-diam ia bertanya. kau tahu asal usul orang ini?" Thian-thay-mo-ki berbisik di sampingnya." "Orang ini kelihatannya bukan orang baik-baik. "Jit-sing-ko-jin.

bicara terus terang. hitam dan putih jarang ikut campur." Pandangan Jit-sing-ko-jin beralih ke arah Bu-cing-so. Lohu tidak akan menolak. juga ingin mempertahankan jiwa." "Ucapan saudara tidak enak didengar." "Selamanya aku tak pernah mengenal arti menyesal. katanya dingin: "Cianpwe adalah tokoh yang berbudi luhur dan terpandang." "Maka kunasehati kamu untuk menyerahkan barang itu saja." "Kalau tidak?" "Tuan akan menyesal setelah kasip. betul tidak?" "Kata-kata saudara setajam jarum menusuk ulu hatiku. apakah kau juga kepingin memiliki Sek-hud?" ." "Jadi kau ingin gugur bersama Sek-hud?" "Kalau ada orang lain ingin mengiringi kematianku. Ingin memiliki Sek-hud.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Hari ini kau akan meresapinya.com/ "Lebih baik mengundurkan diri saja." "Maling tua. keadaanmu sekarang seumpama naik di punggung harimau.

com/ "Disini tiada hakmu ikut bicara." sela Bu-cing-so sambil mengulap tangan." Saking marah seolah-olah berdiri rambut Bu-cing-so. jelas sudah kehilangan harga dirimu. sayup-sayup seperti terdengar bunyi gemuruh. Selamanya aku tak sudi diancam atau diusir. Segulung angin bagai gelombang segera mendampar ke arah Jit-sing-ko-jin. Jit-sing-ko-jin segera memapak dengan pukulan. "Lebih baik kau lekas pergi saja." "Jangan kau jual tampang dihadapanku. dalam kalangan Bulim mengutamakan tingkatan dan menunjung tinggi peradaban. Cianpwe sendiri kemaruk akan Sek-hud. kau ini kurangajar terhadap orang yang lebih tua.Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya: “Cianpwe kalau bicara harap sopan sedikit." "Berani kau memperingatkan aku orang tua? siapa gurumu?" "Kukira tak perlu kukatakan. “Pyaaar!" ditengah ledakan yang dahsyat." "Kau memang perlu dihajar adat. Manusia boleh dibunuh pantang dihina. . hawa panas menjadi bergolak." Jit-sing-ko-jin mendengus dingin. begitu lihay pukulan ini. Telapak tangannya segera mendorong ke arah Jit-sing-ko-jin." "Aku tidak akan menyingkir." "Tahu diri untuk dihormati yang lebih muda.

Kekuatan pukulan kedua ini terang jauh lebih hebat dan mengejutkan daripada pukulan pertama. betapa gesit dan cepat gerak tubuhnya. kontan Jit-sing-ko-jin tergentak mundur dua langkah. damparan angin pukulan bagai gugur gunung laksana sambaran halilintar menggulung ke arah Jit-sing-ko-jin. sungguh mengejutkan. Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki sama-sama tersirap kaget. sungguh tiada bandingan di dunia ini. Nah. gerakannya aneh seperti setan. Ji Bun dan Thian-thaymo-ki bertiga dengan puluhan mayat anak buah Cip-po-hwe. Bu-cing-so terkekeh. . Bayangan biru berkelebat. bayangan Biau-jiu Siansing sudah tidak kelihatan lagi. tak heran kau bersikap garang dan tidak tahu aturan. katanya: "Tak nyana kau punya kepandaian juga." kembali ia kerjakan tangannya. Kini tinggat Jit-sing-ko-jin. Dalam waktu yang sama. Betapa cepat gerakan si maling tua ini. Demikian pula Siang-thian-ong juga lenyap dalam sekejap itu.com/ Kekuatan yang saling ber¬hantam laksana guntur menggetar bumi. sambut lagi pukulan ini. terdengar Siang-thian-ong membentak: "Lari ke mana!" Waktu Ji Bun berpaling. Bu-ciang-so meninggalkan Jit-sing-ko-jin dan ikut mengejar ke bawah gunung. bahwa Jit-sing-ko-jin mampu mengadu kekuatan pukulan dengan Bu-cingso tanpa terluka sedikitpun. Betapa tinggi Lwekangnya rasanya sukar dicari jago-jago kosen setinggi ini di dalam Bulim.Tiraikasih Website http://kangzusi. tahu-tahu Jit-sing-ko-jin berkisar dan menyingkir ke samping.

" kata Thian-thay-mo-ki lesu.Tiraikasih Website http://kangzusi. Apalagi siapa dia dan bagaimana asal usulnya. jelas tidak mungkin. sebetulnya ia hendak tanya tentang anting-anting batu pualam yang direbut orang itu kepada Biau-jiu Siansing. mungkin tiada seorangpun dalam bulim ini yang tahu. ginkangnya tinggi Lwekangnya hebat.com/ Hati Ji Bun mendelu dan masgul." "Tuan mempertaruhkan jiwa sendiri?" . Namun orang yang dicarinya sekarang sudah pergi. Tergerak hati Ji Bun." "Nanti dulu. katanya dengan suara lebih dingin: "Tuan ada petunjuk apa?" Beberapa kali sorot mata setajam kilat dari Jit-sing-ko-jin menatap Ji Bun. katanya sekata demi sekata: "Kau inikah Te-gak Suseng? Kabarnya orang yang kau bunuh tidak meninggalkan bekasbekas luka?" "Apa maksud tuan?" "Aku ingin mencobanya. "marilah pergi. umpama betul-betul bersua juga belum tentu dirinya bisa mengenalinya. "Dik." tiba-tiba Jit-sing-ko-jin bersuara hambar. untuk menemukan pula tentu amat sulit karena maling tua ini pandai menyamar dan merubah diri. Untuk mengejarnya.

aku hanya ketarik dan ingin menjajal saja. biar kuuji sampai di mana kemampuanmu. Jit-sing- .” "Ha ha ha." "Aku tidak ingin membunuh orang tanpa alasan. jangan takabur dan mengagulkan diri. si tua Bu-cing-so bangkotan itu toh tak mampu berbuat apa-apa terhadapku." Selama beberapa hari ini. Ji Bun melejit maju. karena tantangan Jit-sing-ko-jin ini seketika terbakar amarahnya. rasa dendam dan kebenciannya tidak terlampias. memangnya Ji Bun selalu uringuringan." "Anak muda. kau belum setimpal. kau ini terhitung apa?" "Jadi kau ini betul-betul ingin mampus?" "Hayolah coba!" Tak tahan lagi. jangan tuan main-main dengan jiwamu." Watak nyentrik Ji Bun yang terpendam dan ditekan selama ini tak tertaharkan lagi. katanya mendesis: "Tuan agaknya sengaja mencari perkara?" Acuh dan dengan nada menghina Jit-sing-ko-jin berkata: "Mencari perkara? Hm. katanya mendelik: "Sekali lagi kunyatakan.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Anggaplah begitu. secepat kilat ia menerjang lawan sambil melancarkan ilmu mujijat yang mematikan itu.

" dada Ji Bun malah kena di hantam hingga jungkir balik. Thian-thay-mo-ki memekik kuatir. . sorot matanya semakin liar diliputi nafsu binatang. keruan darahnya tersirap. tapi ia melihat Ji Bun dilempar ke jurang. Ternyata ilmu mujijat yang dilancarkan Ji Bun kali ini kehilangan daya keampuhannya terhadap orang yang satu ini. dengan nanar dan penuh nafsu ia pandang tubuh Thian-thay-mo-ki. Hiat-to Thian-thay-mo-ki tertutuk. Sekali lompat Jit-sing-ko-jin menghampiri Ji Bun serta mencengkeram dadanya terus dibawa lari ke jurang di belakang sana. sambil menyeringai tahu-tahu ia sudah pegang dan tutuk Hiat-to Thianthay-mo-ki dengan lemas Thian-thay-mo-ki roboh terkulai. “Blang. terus terguling-guling. hatinya remuk rendam. darah mengucur dari hidung dan menyembur dari mulut. Jit-sing-ko-jin lompat kembali ke tempatnya. dengan mengerang keras Ji Bun terpental menumbuk batu besar belakang sana. tidak menyingkir tidak menangkis.Tiraikasih Website http://kangzusi. kedua tangannya segera merogoh saku. dendam dan gusar seketika merangsang perasaannya. sekejap ia berdiam diri. Matanya seketika mendelik. Kembali ada seorang yang gentar dan kebal terhadap ilmunya yang ditakuti itu. seketika dia melenggang. "Huuuuab!” sekumur darah tersembur dari mulutnya. Dari jauh ia ayun tangan terus dilemparkan Ji Bun sekuatnya. badan lunglai tak mampu bergerak. Badannya membal pula. Namun Jit-sing-ko-jin bergerak lebih cepat.com/ ko-jin memperdengarkan tawa dingin.

demikian perasaan Thian-thay-mo-ki saat itu. teriaknya dengan suara memekik: "Kau . hampir saja ia jatuh semaput. Thian-thay-mo-ki sudah merasakan firasat jelek. Sepasang matanya yang biasa suka melerok genit .com/ Dari sorot mata orang. "Bret." Seolah-olah manusia yang dibeset kulitnya hidup-hidup. namun ia tak mampu melawan. "bukit" halus nan licin montok seketika terpampang di depan mata. dada seketika terasa dingin. tak percuma perjalananku ini. tahu-tahu pandangan menjadi gelap.. jantung terasa hampir meledak.. apa yang kau inginkan?" Mulut Jit-sing-ko-jin terpentang lebar sambil ngakak kegirangan. "Ha ha ha! He he he!" Jit-sing-ko-jin bergelak-tawa sepuasnya. badan tak mampu bergeming. gelak tawa orang laksana setan iblis yang penuh nafsu. mukanya pucat pias. namun mulutnya masih bisa bersuara... Jari-jari iblis mulai merogoh celananya." baju di depan dadanya tiba-tiba dirobek. amat menakutkan sekali. sukma serasa terbang ke awang-awang. namun dalam pendengaran Thian-thay-mo-ki. juga tidak lebih menakutkan dari kenyataan yang sedang dihadapi Thian-thay-mo-ki ini.. Lidahnya serasa kaku tak mampu bersuara pula.. "hidangan senikmat ini... Seumpama kematian yang paling sadis. bibirnya bergetar menahan isak tangis. kenapa disia-sia kan. jalan pikiran orang sudah dapat dirabanya.Tiraikasih Website http://kangzusi.

tiba-tiba Jit-sing-ko-jin menarik tangan seraya mundur. pelahan Hiat-tonya mulai lancar seperti biasa. Thian-thay-mo-ki kerahkan seluruh kekuatannya dengan kepandaian khas perguruannya untuk menjebol Hiat-to yang tertutuk." Jit-sing-ko-jin tenggelam dalam pemikiran. Pada saat-saat kritis itulah. dengan tertegun dia awasi sebuah cincin tiga lubang yang terikat di pinggang Thian-thay-mo-ki. . Usaha menjebol tutukan Hiat-to segera dipergencar.. kira-kira segondokan air. namun bagi seseorang yang sudah kepepet di jalan buntu. Dia merangkak bangun sambil menutupi dadanya. setitik harapanpun takkan dilepaskan begitu saja...com/ menawan sukma laki-laki. terdengar mulutnya menggumam: "Sam-cay-ciat.” Sorot matanya berubah dan berubah lagi. Walau usahanya ini mungkin gagal dan sia-sia. kelak kau akan mendapat pembalasan setimpal. namun dia kuatir dan jeri .Tiraikasih Website http://kangzusi. Thian-thay-mo-ki menarik napas lega... Dia ini muridnya . agaknya dia berat meninggalkan daging gemuk yang nikmat dan dapat dilalapnya dengan mudah ini. kini mendelik sebesar kelereng seakanakan melotot keluar. Seumpama lolos dari renggutan elmaut.. sukma yang sudah terbang melayang seperti kembali pula keraganya.. Begitu merasakan perubahan sikap dan rona muka orang.. segera dia berkata: "Jangan kau memburu nafsu binatang saja. tanpa berkata pula... tiba-tiba dia tutul kakinya terus melayang pergi... air mata tak tertahankan lagi bercucuran dengan deras..

5. hembusan angin melambaikan rambutnya yang awut-awutan. Kakek Aneh Di Dasar Jurang Ternyata dihadapannya entah sejak kapan sudah berdiri seorang berkedok berjubah sutera. Begitu besar dan murni cintanya kepada Ji Bun. Tiba-tiba sebuah suara serak yang kuat berkata disampingnya: "Apakah nona ini Thian-thay-mo-ki?" Thian-thay-mo-ki tersentak dari lamunannya. sungguh tak nyana begitu mengenaskan kematiannya. pelahan dia menghampiri pinggir jurang. Orang inilah yang pernah turun tangan dan memukul Ji Bun.15. dengan kaget ia berpaling. hatinya semakin luluh.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Dia teringat akan nasib Ji Bun. pikirannya menjadi butek dan kosong. serta merta badannya melejit mundur beberapa kaki. selama ini ia mengharapkan imbalan cinta yang sama dari perubahan sikap Ji Bun yang selama ini bersikap dingin terhadapnya. mata mendelong mengawasi jurang yang tidak kelihatan dasarnya itu. Sekarang harapannya menjadi impian kosong belaka. di atas batu. ia duduk. Entah berapa lama dia melamun seorang diri memikirkan nasibnya. "Hah!" Mulutnya menjerit kaget. Dengan senjata rahasia Jit-swan-hwi-jim tempo . bukan kepalang rasa pilu dan sedih hatinya. Mengangkat langkah rasanya seberat ribuan kati. Air mata sudah membasahi pakaiannya.

Remuk rendam hati Thian-thay-mo-ki. maka kususul ke sini. Terdengar orang berkudung itu berkata pula : "Apakah nona adalah Thian-thay-mo-ki?" Terpaksa Thian-thay-mo-ki menjawab dengan suara gagap: "Betul. tuan ada perlu apa?" "Aku sedang mencarinya..com/ hari ia pernah melukai kepala orang ini.." Thian-thay-mo-ki mengertak gigi. tanpa sadar tangannya merogoh kantong senjata rahasianya.. pandangannya terakhir berhenti di atas kepala orang.Tiraikasih Website http://kangzusi.. tuan .. Apakah orang ini pula? Dengan tajam ia awasi orang dihadapannya ini.." "Apa? Tuan . tanyanya: "Apa maksud tuan mencarinya?" .. mencarinya?" "Ya. Namun karena tertutup kerudung tak mungkin ia bisa melihatnya apakah ada codet bekas luka di atas kepala orang ini. kudengar orang mengatakan dia bersama nona menuju kemari..” “Nona kenal Te-gak Suseng?" potong orang berkerudung. namun Ji Bun tidak percaya akan ceritanya itu. sahutnya: "Kenal.

" Bergetar sekujur badan Thian-thay-mo-ki.. katanya dengan geram: "Dia terpukul luka parah oleh seorang yang mengaku sebagai Jit-sing-ko-jin. namun rasa sedih sudah merasuk perasaannya sehingga pikirannya tidak jernih.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Kami adalah ayah beranak." Terhuyung badan orang berkedok. lalu katanya dengan nada serius: "Apakah nona tahu hubungannya dengan Lohu?" Tergerak hati Thian-thay mo-ki." Bergoyang gontai badan orang berkedok.com/ Sejenak orang berkedok berpikir. Thian-thaymo-ki mengulang sekali lagi "Dia sudah meninggal. dengan berlinang air mata ia mengawasi bawah .. teriaknya seperti orang kalap: "Bagaimana dia bisa mati?" Sebetulnya Thian-thay-mo-ki amat heran dan curiga. sudah meninggal. di mana dia sekarang?" "Dia ." Dengan menahan isak tangis dan kepiluan hatinya... tanyanya: "Mohon diberitahu. lalu dilempar ke jurang." “Apa?" teriak orang berkedok beijingkrak seperti orang gila. seperti hampir tersungkur jatuh. ia menegas dengan suara gemetar: "Ayah beranak?” "Ya. "katakan sekali lagi.

memang ada seseorang yang menyaru ayahnya untuk mempermudah turun tangan membunuhnya." orang berkedok bersuara dengan mulut melongo.. namun . aku bersumpah menuntut balas kematian puteraku. katanya ada orang menyaru diriku dan menurunkan tangan jahat kepadanya. malah kusaksikan sendiri.. lalu katanya pula: "Lohu akan perhatikan. Lama sekali baru tercetus kata-kata dari mulutnya: "Orang macam apakah Jit-sing-ko-jin itu?" "Entahlah.." . agaknya dia mengenakan kedok muka atau menyamar dengan obat-obatan!" "Oh.. sorot matanya tajam buas. belum lama ini anakku itu memberitahu kepadaku.Tiraikasih Website http://kangzusi. mukanya pucat.com/ jurang. "Ya. tentunya nona tahu akan kejadian ini?" Tanda tanya yang selama ini mengganjel hati Thian-thay-mo-ki kini disinggung oleh orang berkedok.. dia takkan lolos dari tanganku. maka dia mengangguk.. di kalangan Kangouw belum pernah kudengar nama julukan orang ini..” "Namun bagaimana?" Menurut penglihatanku." "Bagaimana perawakan dan raut wajahnya?" "Berpakaian jubah biru mirip pelajar berusia setengah umur... mudah dikenali. Nona. sorot mata dan rona wajahnya amat berbeda. sahutnya. naga-naganya seperti dugaan Te-gak Suseng.

sayang anakku itu tak berumur panjang. hampir saja ia menangis gerung-gerung. katanya dengan geram. Orang berkedok menghela napas. Karma menghendaki demikian. katanya kemudian dengan setengah terisak: "Apakah nona barusan bergebrak dengan orang?" Bahwa dirinya hampir diperkosa orang sudah tentu malu diceritakan. orang yang mengaku sebagai Jit-singko-jin itulah. namun rasa kebencian masih menjalari nuraninya.com/ Kembali orang berkedok tepekur sekian lama." "Mana dia?" "Belum lama dia pergi. tenggorokan seperti tersumbat sesuatu. "Ya. ia hanya manggut-manggut saja. apa pula yang bisa Lohu katakan. katanya rawan: "Begini besar dan suci murni cinta nona." Tak tertahan bercucuranlah air mata Thian-thay-mo-ki. agaknya kau menaruh hati terhadap puteraku?" Tersentuh perasaan Thian-thay-mo-ki." "Sampai keujung langitpun kubersumpah akan mencarinya untuk membayar utang jiwa puteraku. .Tiraikasih Website http://kangzusi. Nona. sepatah kata pun tak kuasa diucapkannya.

Pelahan ia duduk kembali di tempatnya tadi. bertemu lain kesempatan saja. o0o Kini marilah kita ikuti nasib Ji Bun yang terpukul luka parah dan dilempar ke jurang oleh Jit-sing-ko-jin itu.. Lohu harus segera berusaha menemukan jenazahnya.... langkahnya kelihatan sempoyongan. kini orang yang dicintai sudah meninggal.. sungguh lucu dan tragis pula... Tiba-tiba Thian-thay-mo-ki ingat kenapa tadi lupa tanya nama gelaran orang.com/ Orang berkedok berkata pula dengan mengertak gigi: "Maaf nona.. sampaipun siapa she dan namanyapun dia tidak tahu. Begitu parah sekali luka-lukanya sampai tenaga untuk bergerakpun tak mampu....Tiraikasih Website http://kangzusi. pikirannyapun semakin butek dan kosong pula . Ia amat mencintai Ji Bun. tak ubahnya seperti orang asing yang tidak dikenalnya sama sekali. maka ia tinggal terima nasib saja . Pada detik-detik gawat waktu badannya melayang-layang di udara itulah. setitik sinar terang yang masih sempat merasuk pikirannya adalah bahwa dirinya bakal terbanting hancur lebur di dasar jurang." belum habis bicara ia sudah lari turun ke bawah gunung.. biarlah kita. namun bagaimana asal usulnya sedikitnya ia tidak tahu.. pikiran Lohu amat kusut. Dasar jurang yang tidak kelihatan diliputi kabut nan gelap. dengan kaku ia tetap mengawasi bawah jurang.

Ia ingin membuka mata. namun suaranya begitu lemah sampai ia sendiri tak .. akhirnya iapun kehilangan kesadaran. lalu lenyap dalam sekejap mata. sekuat tenagapun tak mampu ia membukanya. "Aku . namun kini ia sudah mulai sadar betul-betul.” Kembali kupingnya mendengar perkataan ini. namun reaksinya begitu lembut laksana angin menghembus permukaan air sehingga cuma menimbulkan sedikit gelembung air belaka. hawa murninya yang semula keruh pelan-pelan mulai jernih dan mengalir lancar pula. Baru sekarang dia kuat membuka sedikit kelopak matanya. tiba-tiba kupingnya mendengar seruan kaget.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun kelopak matanya rasanya seberat ribuan kati.. "Ternyata dia masih hidup .. "Apakah aku tidak mati?" demikian pikir Ji Bun.. Agak lama pula baru dia bisa menyesuaikan keadaan terang dan bisa melihat jelas. Entah berapa lama kemudian. Dalam keadaan sadar tak sadar. sinar terang yang remang-remang cukup menyilaukan matanya.. Itulah dinding batu yang licin mengkilap mengelilingi sekitarnya. masih hidup!" ia berteriak kegirangan seperti putus lotre..com/ membiarkan dirinya meluncur ke bawah.... Akhirnya iapun menyadari bahwa dirinya berada di dalam sebuah gua batu. entah betapa lama lagi. dalam keadaan setengah sadar lambat laun pikirannya menjadi sedikit jernih.. seruan kaget itu terdengar jelas dalam hati Ji Bun...

akhirnya baru bersuara setelah tenangkan diri: "Apakah Locianpwe yang menolong Wanpwe?" . dengan seluruh tenaga ia coba berpaling. Ia hanya merasa bahwa dirinya barusan sudah berteriak sekeras-kerasnya. rasa senang di luar dugaan merangsang hatinya sehingga mendatangkan kekuatan luar biasa. di mana sorot matanya memandang. Jika makhluk aneh ini tidak bersuara. Ternyata di atas tanah hanya beberapa kaki jauhnya dari tempatnya rebah. suara serak tua dan bertenaga. Hanya sepasang mata berkilat yang menembus keluar dari balik rambutnya.com/ mendengarnya. Lama sekali ia terlonggong mengawasi orang aneh ini. "Buyung. takdir belum menentukan kau mampus. walau badan bergoyang gontai dan gemetar. seketika jantung serasa meloncat keluar. sungguh Ji Bun takkan mau percaya bahwa makhluk ini adalah manusia." Dia jelas mendengar perkataan ini. duduk bersimpuh "seekor" makhluk aneh. Sekuat tenaga ia membalik badan terus merangkak bangun dengan kedua tangan me¬nahan tanah. Kini Ji Bun sudah yakin bahwa dirinya memang masih hidup. sampaipun jambangnya juga sudah ubanan dan panjang menutupi selebar mukanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. hampir mati tapi belum meninggal. akhirnya ia dapat berduduk juga. rambut ubanan panjang menyentuh bumi.

dibagian ketiak dia bikin sebuah lubang. tangannya itu bisa menjulur keluar melalui lubang baju dan cukup menyentuh sedikit badan lawan saja segera akan merenggut jiwa orang. ini . kalau dugaan Locu tidak meleret. dengan tertegun ia mengawasi orang aneh ini tanpa bersuara lagi." Ji Bun melongo." .. tangan kirinya yang beracun jahat ini sejak mula ia sembunyikan di dalam baju. maka orang-orang yang tidak tahu mengira dirinya seorang buntung. Di waktu ia bergebrak melawan musuh.. bagaimana mungkin?" "Tanganmu yang beracun itulah!" Tersirap darah Ji Bun. Orang aneh itu berkata pula: "Buyung..com/ Suara orang aneh yang menggetar telinga berkata. Tangan berbisa. tanyanya tak mengerti: “Ini.. jika ada kesempatan mendekat.. racun yang lengket di tanganmu itu adalah Bu-ing-cui-simjiu (tangan penghancur hati tanpa bayangan) yang paling ganas masa kini. Selama ini rahasia ini belum diketahui siapapun. dan yang penting semua korban itu tidak kelihatan terluka juga tidak nampak keracunan.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Buyung. baru sekarang Ji Bun betul-betul sadar bahwa tangan kirinya yang selama ini ia sembunyikan di dalam baju kini sudah terjulur.. dibagian luar terselubung oleh lengan baju yang menjuntai kosong.. malah Locu yang hampir saja mampus ditanganmu. Untuk pertama kali inilah rahasia dirinya betul-betul terbongkar.

... jelas kau bukan orang baik-baik. tatapannya tertuju kemukanya.. dengan melongo ia balas pandang orang. dengan ketakutan ia meronta berdiri sambil mundur mepet dinding.” Hampir pecah nyali Ji Bun.. tentunya segampang membalikkan telapak tangan belaka. lama sekali. memang betul inilah Bu-ing-cuisim-jiu.. "Anak muda.com/ Kaget dan heran pula Ji Bun dibuatnya. katanya gemetar: "Memang tepat dugaan Locianpwe." Terpancar sorot mata dingin yang berkilauan dari kedua biji mata orang aneh. katanya kemudian: "Jit-sing-pang" . seharusnya Locu membunuhmu .. Untuk merenggut jiwanya. bayangan kematian melingkupi sanubarinya pula. namun hatinya bekerja mencari daya.Tiraikasih Website http://kangzusi.. agaknya orang aneh ini tadi sudah menyentuh tangan kirinya. baru terdengar dia menggumam: “Kulihat kau ini berbakat dan cerdik pandai tak mirip orang jahat atau kaum durjana. kau dari perguruan mana?" Ji Bun berpikir-pikir. Kalau memang demikian nasibnya. malah bisa menguraikan asal usul ilmu beracun yang dia yakinkan itu." Ji Bun diam saja. katanya dengan suara berat: "Kau bisa meyakinkan ilmu beracun yang sudah lenyap ratusan tahun dari Bu-lim. laripun tiada gunanya. namun dia tidak apa-apa. terang orang aneh ini adalah tokoh yang luar biasa. Pandangan orang aneh beralih mengikuti gerak geriknya...

" "Sekarang siapa yang menjabat sebagai Ciangbunjin?" "Ayahku sendiri.. Konon Kwi-kian-jiu akhirnya terbakar binasa dan tidak punya murid keturunan. di. berjalan lurus tak pernah melakukan kejahatan. Jit-sing-lo-jin adalah seorang jujur dan luhur budi. bisa Bu-ing-cui-sim-jiu ini teramat jahat dan paling beracun diseluruh jagat.Tiraikasih Website http://kangzusi.. Dan orang yang sempurna meyakinkan Bu-ingcui-sim-jiu ini hanya seorang tokoh yang bernama Kwi-kian-jiu (setanpun sedih melihatnya) yang hidup dua ratus tahun yang lalu. Orang yang terkena tidak menunjukkan tanda-tanda keracunan... apa lagi menggunakan racun lalu dari mana kau mempelajari ilmu beracun ini?" "Di ." "Menurut apa yang kutahu. segera menyerang jantung. diajarkan oleh ayah.. namun begitu racun menyentuh badan..." Orang aneh ini terpekur sekian lamanya pula.” . apakah ayahmu mendapatkan Tok-keng (kitab racun) peninggalannya?" Ji Bun mengiakan dengan rasa was-was.com/ "Pernah apa kau dengan Jit-sing-lo-jin?" "Beliau adalah kakekku.. akhirnya berkata dengan nada sunggguh-sungguh: "Menurut apa yang kuketahui.

tiada masa depan yang bisa dia harapkan.com/ "Tahukah kau bagi setiap insan yang meyakinkan Bu-ing-cui-simjiu ini selama hidupnya takkan bisa disembuhkan lagi?" "Ini ... bila Bu-ing-cui-sim-jiu sempurna diyakinkan racun dan jiwa raga orang yang meyakinkan akan terlebur menjadi satu.." Seperti kejeblos ke dasar lautan yang dalam dan dingin. selama hidup racun ini takkan tawar dari tak bisa disembuhkan. namun racun yang mengeram dalam tubuhmu sendiri tak mungkin ditawarkan lagi. kecuali kalau kau kutungi tanganmu sendiri.. dia membiarkan dan menurunkan ilmu beracun yang jahat ini kepada putera sendiri..” "Agaknya bapakmu itu manusia yang tak kenal perikemanusiaan. Jika kenyataan memang demikian. hidupnya ini boleh terhitung sia-sia belaka... mana mungkin?" "Lohu hanya dengar cerita ini dan belum pernah menyaksikan Tok-keng itu... perasaan Ji Bun serasa membeku." "Ah.. "Obat itu hanya bisa menawarkan orang lain yang terkena racunmu. namun mungkinkah seorang ayah kandung tega merusak dan menjerumuskan darah daging sendiri? Atau mungkin ayah sendiri tidak tahu akibat dari meyakinkan ilmu beracun ini? .." ujar Ji Bun. menurut cerita para orang tua. entahlah ..Tiraikasih Website http://kangzusi." "Tapi Wanpwe selalu membawa obat penawarnya. masa depanmu tentu amat suram.

Tok-jiu atau tangan beracunnya itu pasti kehilangan daya ampuhnya. Waktu itu dia baru berusia delapan tahun. pada waktu-waktu tertentu pula bersemadhi mengerahkan hawa murni sesuai apa yang dipelajari dari penuturan ayahnya. dan kenyataan membuktikan ilmunya ini tidak seperti apa yang dikatakan ayahnya yakni tiada bandingannya di jagat. . ditengah jalan dirinya malah kepincut kepada Pui Ci-hwi. lalu menelan obat pemunahnya setiap jangka waktu tertentu. belum pernah ia dengar ayahnya membicarakan soal ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun dirinya masih disuruh pergi ke Kayhong untuk melamar puteri keluarga Ciang. bila ilmu ini berhasil diyakinkan. hanya pernah diberitahu. Kalau menghadapi seorang jago silat yang memiliki Lweekang tinggi. Namun ia pernah diperingatkan untuk tidak saling bersentuhan kulit dengan siapa saja.com/ Memang sejak dia mayakinkan ilmu ini. setiap hari dia rendam tangannya di dalam air obat. lalu apa pula maksud tujuannya? Tanpa sebab dan tak karuan juntrungan. jika tidak saling gebrak. Buktinya tadi ia dilukai dan terlempar ke dalam jurang ini. bukankah sepak terjangnya belakangan ini terlalu brutal dan menggelikan? Pikirannya lantas mengenang kembali pada masa-masa diwaktu dirinya berlatih ilmu beracun ini masih segar dalam ingatannya. Jika sang ayah sudah tahu akibat yang akan timbul setelah meyakinkan ilmu ini. tiada orang lagi di kolong langit ini yang bisa menandingi dirinya.

.." "Kenapa Locianpwe sendiri tidak takut terhadap racunku ini?" "Lohu sudah berhasil meyakinkan Kim-kong-sin-kang... orang tua aneh ini sudah tiada tandingan lagi. sungguh tak kira orang aneh dihadapannya ini ternyata berhasil meyakinkan Kim-kong-sin-kang. Apakah kenyataan memang sesuai apa yang diuraikan orang aneh ini? Hal ini bukan saja menakutkan..." "Ya.. malah boleh dikatakan terlalu kejam dan diluar perikemanusiaan. "Buyung. seratus macam racun juga tidak mempan terhadap diriku. Namun selama ini belum pernah mendapat penjelasan dari ayahnya cara bagaimana dia harus memunahkan racun dan Lwekang dari ilmu yang dipelajarinya ini...com/ Sepuluh tahun penuh dia berlatih dengan giat baru ilmunya itu berhasil diyakinkan. ilmu mujijat yang pernah didengarnya di dalam dongeng. darimana Locianpwee bisa tahu?" . "namun sukar percaya . namun dalam hati ia tetap tak mengerti. kau tidak percaya?" "Bukan .." sahut Ji Bun tergugup.. mungkin di dalam Bu-lim masa kini. bukan tidak percaya.. kelak kau boleh mencobanya." Kejut dan tersirap darah Ji Bun..Tiraikasih Website http://kangzusi. "Racun ini tak berwarna dan tak berbau.

karena kenyataan kau memang sudah mati. Tak kira sejam kemudian." "Oh. Namun daya luncurmu meski teralang oleh akar rotan baru kemudian terbanting jatuh dan terhindar dari hancur lebur. apakah kau pernah makan obat-obat yang mujarab?" "Tidak.. anggaplah nasibmu yang belum ditakdirkan menemai ajal. kulupakan. mohon tanya siapa nama gelaran Locianpwe yang mulia?" "Nama gelaranku sudah lama." sahut Ji Bun tegas sambil menggeleng. ini sudah kuperiksa dengan seksama. denyut nadimu sudah berhenti. ya.. Kenyataan waktu itu kau betul-betul sudah mati..com/ "Walau racun ini tak berwarna dan tak berbau namun pasti ada reaksinya bagi setiap orang yang terkena racun ini.. kau dapat bernapas kembali dan bergerak-gerak.. beberapa kali ia sudah pernah mati namun akhirnya hidup kembali. entah kenapa? Semakin dipikir hal ini semakin membingungkan dan tak habis dimengerti..” "Apakah Locianpwe pernah memberikan pertolongan padaku?" "Tidak.. peristiwa aneh yang tak mungkin terjadi..Tiraikasih Website http://kangzusi. ." "Wanpwe dilempar ke dasar jurang ini. kejadian ini belum pernah Lohu alami selama hidup . Anak muda. bagaimana Cianpwe bisa menolongku sehingga tidak terjatuh hancur dari atas?" "Akar-akar rotan menjalar di dinding gunung itulah yang menolong jiwamu dan tiada sangkut pautnya dengan Lohu..

namun untuk mengutungi lenganku ini . namun bagi pendengaran Ji Bun bagai geledek menyambar dipinggir kupingnya." "Berapa banyak jiwa yang telah menjadi korban tangan berbisamu ini?" "Kalau tidak terpaksa.Tiraikasih Website http://kangzusi. Wanpwe tak pernah memakai tangan berbisa...." Enak saja orang tua aneh ini mengeluarkan kata-kata.." "Lohu kurang percaya?" "Maksud Locianpwe . namun mengingat kakekmu Jit-sing-lojin dulu pernah bertemu muka beberapa kali denganku.." ujar orang tua itu. maka tangan berbisamu ini tak kuusik sama sekali...” "Tadi sebetulnya Lohu sudah akan bikin cacat tanganmu untuk mengurangi bencana bagi kaum persilatan... akhirnya kuubah niatku..” "Kenapa?" . tak terbayang rasa ingin minta ampun sedikitpun.. "bagaimana kau sampai dilempar ke dasar jurang ini?" "Aku diserang orang.. Sifatnya yang nyentrik dan angkuh seketika kambuh. maka dengan mengertak gigi ia berkata: "Locianpwe boleh menamatkan jiwa Wanpwe.com/ "Anak muda. aku yakin tak pernah membunuh orang yang tak berdosa.

Tiba-tiba tangannya menepuk bumi ." Orang tua aneh mengulur jari-jari tangannya yang kurus bagaikan kulit membungkus tulang.com/ "Jangan harap!" "Anak muda. membunuhmu bagiku sama saja seperti memitas seekor kutu.Tiraikasih Website http://kangzusi. cukup sekali angkat saja. seketika terasa oleh Ji Bun adanya daya sedot keras luar biasa. sehingga dirinya terseret maju kehadapan orang tua. walau jiwa sendiri rangkap dua belas juga sudah melayang sejak tadi. sungguh sukma serasa copot dari raganya." "Sudah kau pikirkan?" "Tenaga dan kemampuanku tak kuasa melindungi jiwa raga sendiri. lalu dia miringkan kepala menepekur. katanya mendelik: "Boleh silakan turun tangan. "Jadi kau rela mati daripada kutung lenganmu?" "Tidak salah." Beringas muka Ji Bun. Dengan kepandaian setinggi ini. Sekali raih pasti dirinya kena dipegang olehnya. kalau orang menginginkan dirinya mati. buat apa aku harus banyak pikir." "Agaknya kau amat angkuh?" ujar orang tua aneh.

"Apa benar dia sudah mati?" si orang tua menegaskan pula.. mendadak dia berjingkrak bangun." "Sudah lama jiwanya melayang ke sorga. begitu keras gelak tawa dan gerung tangisnya menjadi perpaduan suara yang bergema bagai bunyi genta besar yang bertalu-talu secara bergelombang di gua batu itu. hi hi hi hi . orang tua aneh kembali meloso jatuh terduduk.. . gelak-tawanya berubah menjadi gerung tangis yang keras. he he he he. tanyanya:" Ya." Bergetar badan orang tua aneh. " ditengah gelak-tawa seperti orang kerasukan setan. teriaknya beringas: " Maksudmu dia sudah mati?" Ji Bun terperanjat dan manggut-manggut sebagai jawaban. Anak muda.com/ seraya berkata: "Hampir. tentunya tadi kau lewat Pekciok-am bukan?" Tergerak hati Ji Bun. kau berada di Pek-ciok-hong. saja Lohu lupa sebuah hal penting. kenapa?" "Bertemu dengan Nikoh busuk itu tidak?" "Nikoh busuk siapa?" "Yang menyebut dirinya Pek-ciok Sinni itu. sekali cengkeram dia pegang pergelangan Ji Bun. "Agaknya Wanpwe tidak perlu berbohong." "Ha ha ha ha. Lambat laun.Tiraikasih Website http://kangzusi.

"Hm.. pikirnya.. enak saja kau hendak pergi? Selama hidupmu jangan harap kau bisa keluar dari sini. kenapa kau begini emosi?" "Pergi. "urusan Lohu tak usah kau banyak mulut. Ia kehabisan akal dan tak tahu apa yang harus dilakukan. akhirnya menggumam seorang diri :"Dia sudah mati. sudah mampus lebih dulu. enyah dari sini!" ujar orang tua aneh dengan mengulap tangan..com/ Kuping Ji Bun sampai pekak dan berdiri mematung mengawasi tiagkah laku orang yang lucu dan aneh. tanpa bicara lagi bergegas dia putar tubuh terus lari keluar gua. Anak muda. agaknya sudah sekian puluh tahun tak pernah berjumpa. puluhan tahun penantianku di sini menjadi sia-sia belaka . kembali!" Tanpa kuasa Ji Bun menghentikan langkah..Tiraikasih Website http://kangzusi.." Suatu kesempatan bagi Ji Bun. sungguh aneh dan tak masuk diakal." Timbul rasa ketarik dan ingin tahu Ji Bun. "Hai. agaknya orang tua aneh ini mempunyai hubungan yang luar biasa dengan Pek-ciok Sinni.. yang satu berada di puncak depan sana dan yang lain di dasar jurang di belakang gunung.. Lama sekali baru isak tangis orang aneh ini mulai mereda." "Apa maksud Locianpwe?" . Maka tak tahan ia lantas bertanya:" Locianpwe.

kau takkan menggunakan tangan berbisa itu untuk melukai orang-orang yang tidak berdosa. memangnya tangan berbisaku ini bisa berbuat apa?" "Omong kosong. katanya tertawa kecut: "Tadi Locianpwe hendak mengutungi lengan kiriku. kalau tidak jangan harap.” Ji Bun melengak. kalau aku tak bisa keluar dari sini. orang hutanpun tak mampu memanjat ke atas. kalau tidak. sekarang Lohu sudah berubah pikiran. Ketahuilah. Dari Celaka Dapat Rejeki Nomplok "Anak muda." "Mohon dijelaskan syarat-syarat apakah" "Kau harus sumpah berat. dikelilingi tebing gunung yang terjal lagi. tapi ada syarat-syarat yang harus kau patuhi. apakah niatmu ini tidak berkelebihan. biarlah tanganmu itu tetap melengket di badanmu. setelah muncul kembali di kalangan Kangouw." "Wanpwe mohon keterangan. memangnya aku orang tua ini sudi bersemayam di sini selama puluhan tahun.com/ "Kecuali badanmu tumbuh sayap dan bisa terbang.kau bisa keluar dari tempat terasing dan buntu ini." . aku orang tua tentu mempunyai perhitungan sendiri." 6.Tiraikasih Website http://kangzusi. sarang setan ini dalamnya ribuan tombak.16.

" "Locianpwe.” Seketika terbangkit semangat Ji Bun. sumpah segala hanya akan mengekang seorang Kuncu (lelaki ksatria) tapi takkan membatasi tingkah laku seorang Siaujin (manusia rendah).." "Orang macam apakah dia?" ...Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Untuk hal ini Locianpwe tidak usah kuatir. tapi apakah kau bisa berbuat demikian?" Untuk ini Wanpwe akan mematuhinya." "Sekarang bersumpahlah. Lohu percaya untuk pertama kali ini. namun kau harus berusaha mencarikan seseorang .. soal jahat dan kebajikan hanya terpaut segaris dalam pikiran manusia.. ujarnya: "Mungkin orang yang harus kaucari sudah tiada lagi di dunia ini." "Hm... selamanya Wanpwe tidak pernah melukai orang tanpa sebab. memang betul. namun sebelum Lohu mendapat bukti nyata bahwa dia betul-betul sudah meninggal." "Baiklah. akan kuusahakan supaya kau bisa keluar dari lembah maut ini.. betapapun aku takkan putus asa. katanya: "Silakan memberi petunjuk.." Tahu-tahu guramlah pandangan orang tua aneh itu..

.. pandanganpun mendelong. Ji-lan.. Ha ha ha... katanya dengan melamun: "Dia bernama Toh Ji-lan. asmara tetap asmara... dengarkan petunjukku....com/ "Seorang perempuan." ." Ji Bun menghirup napas panjang. ayu jelita.. ingin bersuara namun merasa rikuh. perempuan cantik jelita... lekas sekali orang tua aneh ini tenang kembali dan berkata pula sambil menggerakkan tangan: "Duduklah..” suaranya semakin lirih." "Perempuan?" "Ehm. si jelita masa lalu entah bagaimana keadaannya sekarang? Loyo? Seperti kuntilanak? Nenek reyot? atau mungkin sudah menjadi tulang belulang.. Ji-lan. Dengan bingung dan keheranan Ji Bun mengawasi orang tua yang serba misterius ini. tanyanya "Siapakah dia?" Wajah si orang tua seperti kehilangan semangat... Untunglah setelah sekian lama dibuai emosi. ratu kecantikan.. perempuan.. agaknya ia tambah terkenang pada masa mudanya dahulu.Tiraikasih Website http://kangzusi..

" "O. pada suatu kesempatan yang tak terduga. jago pedang itu akhirnya jatuh cinta kepada sang adik.. muncullah sepasang kembang kakak beradik di dunia Kangouw.” Sampai disini ia berhenti sejenak." lapat-lapat dalam hati Ji Bun sudah meraba makna dari rangkaian cerita ini. sehidup semati.. tak terhitung jumlah pemuda yang sama mengejar dan kepincut oleh kepandaian dan kecantikan mereka. lalu melanjutkan ceritanya . dia rela mencukur rambut menjadi Nikoh (biarawati). tak mungkin ia merebut kekasih adiknya.com/ Ji Bun lantas duduk mendeprok di atas tanah. yang tua bernama Toh Ji-hwi. maka akhirnya. cinta yang hanya dipendam di dalam hati akhirnya sang kakak menjadi kerasukan iblis. sehingga menimbulkan banyak huru-hara dan sering menggegerkan dunia persilatan. namun dia tetap sadar. berhenti sejenak baru ia berkata dengan kalem seperti menekan perasaan: "Puluhan tahun yang lalu... hubungan semakin intim dan akhimya mereka bersumpah setia. maka tanpa sadar mulutnya bersuara. Di antara sekian banyak pemuda yang menjadi pemujanya. "dari cinta sepihak. lalu melanjutkan. ada seorang ahli pedang yang berpandangan tinggi angkuh..Tiraikasih Website http://kangzusi.. adiknya bernama Toh Ji-lan kecantikan dan kepandaian ilmu silat mereka menjagoi jagat. terpancar sinar terang yang aneh dari kedua biji mata si orang tua. jago pedang ini berkenalan dengan sepasang kakak beradik ini. Orang tua aneh melirih sekejap padanya. Sayang sang Taci secara diam-diam juga jatuh cinta kepada jago pedang itu .

maka sang Taci mengeluarkan selembar daun bodi. katanya di atas daun bodi itu dimuat pelajaran Kim-kong-sin-kang dari aliran Hud yang tertinggi. "Ah!" Ji Bun berseru kejut..... kalau tidak jangan harap bisa mempersunting adiknya .. cara bagaimana untuk menjadikan dirinya jago silat tanpa tandingan. Suatu hari... .. namun cinta asmara yang terpendam di dalam sanubarinya temyata masih terukir amat mendalam.. sang Taci mendapat suatu rejeki nomplok secara tidak terduga. walau dia sudah menjadi biarawati. namanya tenar diagulkan. kecuali jago pedang itu menjadi jago silat nomor satu diseluruh kolong langit ini...com/ "Sejak kecil kedua kakak beradik ini tumbuh bersama tanpa asuhan orang tua. di situ sang Taci mengajukan syarat. karena ingin lekas menikah dan berdampingan dengan kekasihnya. inilah kisah rahasia yang tak mungkin diketahui oleh kaum persilatan. Tak lama kemudian. sengaja jago pedang itu berkunjung ke biara tempat semayam sang Taci. sang adik amat berduka karena sang Taci rela mengasingkan diri menjadi pemeluk agama yang asih.. kaum persilatan menjunjungnya sebagai Sin-ni (Nikoh sakti)...” "Jago pedang itu minta petunjuk. dia menemukan sebuah Sek-hud peninggalan orang aneh pada jaman kuno.. mereka hidup berdampingan.. Orang tua aneh tetap melanjutkan ceritanya: "Akhimya dia berhasil meyakinkan kepandaian silat yang tiada taranya.Tiraikasih Website http://kangzusi.. namun ia tidak tahu isi hati dan perasaan sang Taci.. demikian pula jago pedang itupun tidak tahu .

dengan riang dan setulus hati ia menerimanya. Baru sekarang dia menyadari bahwa dirinya terjeblos ke dalam perangkap yang agaknya memang sudah direncanakan sebelumnya. belakangan dia diantar ke sebuah tempat yang amat tersembunyi untuk berlatih dan meyakinkan ilmu sakti itu. tanpa sebab dan secara mudah memperoleh ilmu sakti nan mujijat setelah berhasil bukan saja menjagoi dunia. cita-citanya untuk mempersunting sang kekasihpun akan tercapai. hampir saja dia Cau-hwe-jip-mo (kelumpuhan)." "Segalanya berjalan lancar karena diatur oleh sang Taci. "Setiap orang yang gemar meyakinkan ilmu silat umumnya pasti tergila-gila terhadap ilmu yang dilatihnya. kalau berhasil. betapa takkan tertarik batinnya? Sudah tentu jago pedang itu amat terharu dan berterima kasih.Tiraikasih Website http://kangzusi. sesambatan dan mengamuk. kemudian ia menyadari adanya sesuatu yang kurang beres.com/ untuk meyakinkan harus memiliki tubuh kuat dan perjaka lagi. yakni pada tingkat tertentu latihannya hawa murninya selalu mengalami jalan buntu dan aliran darahnya selalu menyimpang. tapi didapatinya pintu rahasia satu-satunya yang bisa dilalui untuk keluar itu sudah tertutup buntu. akhimya dia ingin keluar menemui sang Taci untuk mohon petunjuk dan menyelidiki bersama. dirangsang oleh emosi dan rasa dukanya. hampir ia menjadi gila.. "Jago pedang itu berteriak dan menggembor sejadi-jadinya.. namun siapa yang tahu akan keadaannya yang terkurung di bawah tanah itu.. setelah menggembleng diri sekian lamanya. coba bayangkan. Kiranya karena . selama hidup ini agaknya takkan bisa melihat langit dan hidup bebas lagi. setelah diselami dan diyakini berulang kali dan tetap tidak berhasil. seluruh jagat pasti tiada tandingannya .

. cintanya tak terbalas. ia berharap semua ini bukan kenyataan... Maka kembali ia menekuni pelajaran yang termuat di atas daun bodi itu.. selama sepuluh tahun dari hasil latihan dan ketekunannya akhimya dia dapat meyakinkan Kim-kong-sin-kang itu dengan sempuma. untuk keluar . pada waktu itu dia berusaha pula untuk menjebol pintu rahasia yang tertutup itu.. Bahwasanya jalan itu sudah buntu.. darah mengalir balik dan bersimpangsiur . akhimya didapatinya bahwa teori pelajaran yang termuat pada daun bodi itu ternyata sebenarnya sudah diubah.. dia percaya dan yakin akan keenceran otaknya.. maka diaturlah rencana keji itu. kemungkinan setelah ia berhasil meyakinkan ilmu mujijat itu sang Taci akan membuka pintu rahasia itu. tak heran dia selalu mengalami jalan buntu dalam latihannya.” “Demi berkumpul kembali dengan pujaan hati yang. baru saat itu dia betul-betul menyadari dan mengerti bahwa semua ini memang muslihat yang telah direncanakan.Tiraikasih Website http://kangzusi. diam-diam ia berpikir: apakah ini mungkin? "Dalam keadaan putus asa itu..com/ sang Taci patah arang. Alis Ji Bun bertaut lebih kencang.. maka dia harus berjuang. amat dicintainya.. dengan tekun ia mempelajari dan menyelidiki di mana letak kesalahan dari teori ilmu mujijat ini. Begitulah dari tahun ke tahun.. " Sampai di sini berlinang-linanglah air mata orang tua aneh itu." demikian orang tua menyambung ceritanya. dia yakin sang adikpun tidak tahu akan peristiwa tragis ini ... "jago pedang itu sedapatnya berpikir ke arah yang baik. dan bertahan hidup. hatinya menjadi benci dan dendam...

oleh karena itu. dia terus bertahan hidup dalam serba kekurangan dan menderita sampai sekarang. sorot matanyapun semakin suram namun diliputi nafsu kebencian dan putus harapan. Terketuk hati sanuhari Ji Bun.Tiraikasih Website http://kangzusi. Seorang jago pedang yang muda belia harus hidup merana di lembah maut diliputi keputus asaan sampai menjadi orang tua ubanan yang cacat lagi. atau mungkin pula sang Taci insaf dan bertobat akan dosa-dosanya. setiap kali pasti mengalami gangguan mendadak. . namun dia tetap tak berhasil. sehingga urat nadi kakinya mengkeret dan menjadikan lumpuh total. hatinya amat terharu. sayang karena dalam tahap permulaan meyakinkan ilmu mujijat itu dia sudah melakukan kesalahan. dia mengharap suatu ketika sang kekasih dapat membongkar muslihat ini dan datang menolongnya.com/ jelas takkan ada harapan lagi. dalam keadaan kepepet dan putus asa itu. maka pikirannya lalu beralih ke dinding jurang yang terjal dan tinggi itu. dikala dia mengerahkan hawa murni dan mencapai batas tertentu. sehingga kepandaian Ginkang yang tiada taranya itu tak dapat melampaui taraf yang dicapainya. dengan seluruh hasil kekuatan latihannya selama puluhan tahun ia melompat dan mengitari tebing.” "Kini dia betul-betul sudah putus harapan. mau menolong keluar untuk melihat dunia ramai pula. ia amat simpatik akan nasib orang tua aneh yang sengsara ini. sungguh teramat kejam dan tragis sekali. kenyataan kembali menghancurkan setitik harapannya yang terakhir." Habis cerita si orang tua aneh. namun dia harus tetap hidup.

com/ Jelas bahwa jago pedang di dalam cerita itu adalah si kakek tua aneh dengan rambut dan jenggot ubanan yang terurai panjang menyentuh bumi ini. "Tapi apa?" "Bagaimana aku bisa keluar dari sini?" . Betapa mengerikan dan menakutkan liku-liku kehidupan dunia persilatan ini. Pek-ciok Sin-ni yang diagulkan dan dipandang sebagai biarawati nan suci dan agung temyata sampai hati melakukan perbuatan nan culas diluar perikemanusiaan ini.. keringat dingin gemerobyos. Setelah menunduk dan menepekur sekian lama. Memangnya beginilah sepak terjang kebanyakan tokoh-tokoh kosen yang menamakan dirinya pendekar pada jaman ini diluar tahu khalayak ramai. kau harus bekerja untuk Lohu menemukan dan mencari kabarnya Toh Ji-lan?" "Baik.. Wanpwe berjanji. Siapa akan mengira.... sungguh siapapun takkan bisa membayangkan. tiba-tiba orang tua aneh angkat kepala dan berkata dengan nada serius: "Buyung. apapun yang terjadi. kau harus berjanji. sang Taci yang dimaksud dalam cerita itu adalah Pek-ciok Sin-ni..Tiraikasih Website http://kangzusi.. Sampai di sini tiba-tiba Ji Bun sadar akan keadaan dirinya pula bahwa orang tua aneh ini tak berhasil keluar dari tempat ini meski sudah berusaha puluhan tahun. tapi .. bukankah dirinyapun takkan ada harapan? Mau-tak-mau ia berdiri gemetar dan lemas lunglai.

kecuali caraku itu.” "Untuk ini terpaksa Wanpwe tidak bisa menerima.. mulutnya tergagap : "Locianpwe.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Menurut pendapat Wanpwe yang bodoh.” Menghadapi keadaan di luar dugaan ini. kutambah pelajaran ilmu Ginkang lagi. . Ji Bun menjadi bingung. "tiada alasan buat Cianpwe untuk mengorbankan jiwa raga kepada Wanpwe.. bagaimana pula akibat yang harus kau alami?" "Tidak seluruhnya." kata Ji Bun. mari duduk membelakangi Lohu.. karena ketulusan dan kejujuranmu ini.com/ "Itu soal mudah. kau akan melayang 'terbang' keluar dari sini. lebih baik cari jalan lain saja.. sekarang. tapi setelah Locianpwe salurkan Lweekang dan hawa murni ke dalam tubuhku." "Hahaha.. Ketahuilah... buyung. Lohu betul-betul mau percaya seluruhnya padamu.. dua bagian yang tersisa cukup untuk bekalku mempertahankan hidup di sini. Lohu akan bantu kau menjebol jalan darah mati hidupmu.. hanya delapan bagian saja." "Bukankah Lohu menyuruhmu melakukan sesuatu?" "Ya. lalu seluruh Lweekang dan hawa murniku akan kusalurkan pula ke dalam tubuhmu. Kukira . tiada jalan lain lagi.

Tiraikasih Website http://kangzusi. jalan darah mati. segulung arus panas tahu-tahu merembes melalui Bing-bun-hiatnya. lekas sekali bersatu padu menjadi arus kuat bagai air bah yang tak terbendung lagi. mendeprok di atas tanah setelah badannya terseret berputar-putar. Cuaca dalam gua dari terang menjadi gelap dan dari gelap kembali terang." tahu-tahu angin keras menggulung Ji Bun hingga berkisar maju tanpa daya. badan terasa panas seperti dipanggang keringat mengalir deras membasah kuyup. sehingga Ji Bun tergeletak semaput. Tenaga luar bergabung hawa murninya. terus menerjang kejalan darah Hian-koan. Akhimya Ji Bun sadar kembali setelah digembleng sehari semalam.hidupnya. Sekali dua kali dan tiga kali.com/ "Buyung. Sehari semalam telah lampau pula. terasakan sejalur tenaga hangat masih merembes melalui Pek-hwe-hiat masuk ke badannya. sorot matanya yang tajam mengkilat kini sudah pudar. terpaksa ia duduk bersimpuh. Sungguh menyesal dan terima kasih pula hati Ji Bun. kau tidak berkuasa lagi. dikala dia sadar kembali. setelah menyusup dan menerjang kian kemari keseluruh Hiat-to dan urat nadi. jalan darah mati hidupnya akhimya keterjang jebol. ia pikir budi kebaikan ini biarlah kuukir di dalam hati sanubari saja. kerena terjangan yang teramat keras ini. tersipu-sipu ia memberi sembah dan tak sanggup mengeluarkan kata-kata saking terharunya. Entah berapa lamanya. kenyataan tak memberi kesempatan baginya untuk ragu-ragu lagi. dilihatnya orang tua aneh itu duduk mendeprok lemas dibelakangnya. selama ini dia berhasil mempelajari pula sejurus kepandaian Swan-kong-hwe-seng-sin-hoat .

com/ (gerakan terbang mumbul dengan berputar di udara) dari si orang aneh. sudah tentu perasaan ini timbul karena dia merasa utang budi. Kumpul selama dua hari dua malam menyebabkan hatinya merasa iba dan berat meninggalkan orang tua aneh ini. dia berpesan dengan wanti-wanti: "Buyung. Dari celaka Ji Bun malah memperoleh rejeki nomplok.." Dengan laku hormat Ji Bun terima tusuk kundai itu terus disimpan dalam sakunya. inilah tanda perkenalanku. tidak kini dia tentunya sudah berubah menjadi nenek tua ubanan juga. orang tua aneh itu menyuruhnya berangkat meninggalkan tempat itu. dengan meminjam tenaga tutulan kaki di dinding gunung. di kala fajar menyingsing. Hari ketiga. badannya bisa melayang naik ke atas. katanya: "Locianpwe. sungguh mimpipun tak pernah terbayang sebelumnya. beritahukan apa yang kau alami dan kau saksikan di sini kepadanya. bila kau menemukan perempuan yang bernama Toh Ji-lan itu . gerakan Ginkang tingkat ini berlandaskan sekali emposan hawa murni.Tiraikasih Website http://kangzusi..... ah. sehingga badannya seenteng asap melesat mumbul dengan berputar seperti kitiran. keluarkan tanda pengenalku ini. Orang tua itu mengeluarkan sebuah tusuk kundai yang terbuat dari emas. sukalah kau memberitahu gelaranmu?” Orang tua itu menggeleng : .

Tiraikasih Website http://kangzusi. apakah Cianpwe suka terima usulku ini?" "Soal apa?" "Setelah Wanpwe keluar dari sini. tak tertahan dia bercucuran air mata. cukuplah kalau dia mengenali tusuk kundai ini. kepada siapa aku harus melampiaskan dendamku ini." "Jangan. yang kunanti hanyalah pengharapan terakhir untuk melihatnya sekali lagi atau mendengar beritanya. untuk mengusahakan tali sepanjang itu kukira bukan soal sulit. jurang ini sedalam ribuan meter!” "Ribuan meter hanya ukuran perkiraan saja." "Kenapa Locianpwe tak mau keluar saja?" "Pek-ciok Sin-ni sudah mampus. rasanya masa hidupku sudah mencapai ujung pangkalnya apa lagi yang kuharapkan. kekasihku dimasa muda entah apakah masih hidup. inilah watak pembawaannya yang bijaksana." "Biarlah Lohu menunggu beritamu di sini saja. setelah kau keluar sukalah segera kau kerjakan pesanku itu. memperlihatkan ." "Wanpwe mempunyai pendapat bodoh." Ji Bun amat pilu dan tidak tega. sudah dekat ajal. usia Lohu sudah seabad. lekaslah kau pergi. akan kucari tali. panjang untuk menolong Cianpwe.com/ "Tidak perlulah.

. dia menjadi bimbang dan tidak yakin akan gerakan ginkang yang baru dipelajarinya itu. Ji Bun sudah merasakan badannya segar nyaman dan enteng sekali. namun dia tekan perasaannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Ji Bun gentakkan kedua kakinya. badannya segera meluncur ke atas bagai . dalam semasakan air.com/ budi pekertinya yang sejati.." Tanpa bicara Ji Bun menyembah pula terus keluar dari gua. selamat. Orang aneh tua itupun agaknya amat emosi. untuk pertama kali inilah dia mencucurkan air mata untuk orang lain. hawa jangan sampai terhenti bangkit.. kenapa harus bertele-tele seperti orang perempuan. waktu dia angkat kepala. Diam-diam ternyata orang tua aneh itu telah merayap di belakangnya. katanya sambil ulap tangan berulang kali: "Pergi. Segera dia duduk bersemadi. apakah mampu "terbang" keluar dari tempat ini dengan. lekas pergi! Seorang jago silat. hatinya merasa dak-dik-duk.. sehingga badannya seperti terselubung kabut putih. tampak dinding gunung begitu terjal dan tegak lurus selicin kaca. Tapi baru melihat keadaan begini saja. katanya dengan suara berat: "Keluarkan seluruh tenaga.!" dengan teriakan melengking untuk menambah semangat dan mengobarkan kekuatannya. ujung puncak dari gunung terjal ini seakanakan menyundul langit." “Hiiiiaaaaaaat . hawa murni dipusatkan di pusar terus dituntun berkeliling menyusup kesetiap urat nadi dan merembes keluar ke seluruh pori-pori kulitnya.. selama hidupnya.

namun kenyataan kini ia sudah berada di atas. entah sampai di mana tingkat kekuatannya sendiri sekarang? Entah cukup mampu untuk bekal menuntut balas kepada para musuhnya itu? Sudah tentu. demikian pula Jit-sing-kojin yang begitu kejam melempar dirinya ke dalam jurang tanpa sebab dan alasan yang meyakinkan. sekali lompat mencapai sepuluh tombak lebih. Teringat olehnya akan orang berkedok yang dua kali turun tangan terhadap dirinya. sehingga lengan bajunya yang kiri tetap kosong melambai. meminjam daya tutulan ini kembali badannya berkisar mumbul pula. di tengah udara badannya lantas bergerak melintang berbareng kakinya. lalu menghirup napas panjang beberapa kali. Diapun tak lupa akan para musuh buyutan Wi-to-hwe. Dalam waktu sekejap ini timbul beberapa kali perubahan pikiran dalam benaknya. cepat sekali dia sudah terbang berputar tiba di atas puncak. Sejak dia berdiri menghimpun semangat dan memusatkan pikiran. Sang ayah yang terpisah. Setelah memperoleh saluran tenaga dalam orang tua aneh di bawah jurang itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. demikian pula sang ibu yang lenyap. kembali dia sembunyikan lengan kirinya ke dalam baju. dengan lengan baju ia usap keringat di atas jidatnya.com/ roket. menutul didinding gunung. sedikitpun dia tidak berani mengalihkan perhatian mengendurkan tenaga. hampir dia tidak berani mempercayai kenyataan ini. satu tingkat demi satu tingkat. . soal ini lekas sekali akan memperoleh jawabnya.

ke mana dia dapat mencari perempuan yang bernama Toh Ji-lan sesuai pesan si orang tua aneh itu? Secara langsung dia teringat kepada Pui Ci-hwi..com/ Dunia seluas ini. Tiba-tiba waktu dia berpaling ke sana.. kenapa kau?" tanya Ji Bun. Setelah dia perhatikan dengan seksama. tampak dia berpaling dengan lesu. batinnya: "Kiranya dia. Sekali lompat Thian-thay-mo-ki melayang turun memapak kedatangannya. rona mukanya yang semula pucat berubah hebat. "Cici.. kaget dan merasa aneh serta keheranan. tiba-tiba matanya terbeliak.. serunya dengan gemetar: "Kau. kau tidak mati?” Haru dan terpukul sanubari Ji Bun menghadapi sikapnya ini. hatinya seketika tergoncang. katanya sambil mendekat dua langkah: . dilihatnya di ujung batu di pinggir jurang sebelah sana duduk melamun seorang perempuan yang mematung. sikapnya hambar. dik. mulutnya melongo tanpa bersuara. sebagai murid Pek-ciok Sinni tentunya gadis ini tahu di mana Susioknya berada sekarang.Tiraikasih Website http://kangzusi.. mungkinkah dia belum tinggal pergi?" Bergegas dia memburu kesana seraya berteriak: " Cici!" Perempuan itu temyata adalah Thian-thay-mo-ki. tiga hari telah berselang.

. "Dik. aku . Ji Bun amat menyesal... tiada apa-apa yang pernah dia berikan kepadanya. beberapa kali aku hampir terjun ke bawah menyusulmu..." tiba-tiba ia menggerung tangis seraya menubruk maju dan membuka kedua tangan hendak memeluk Ji Bun. Inilah limpahan isi hati yang murni. air mata seketika bercucuran.. "Cici.. mukanya yang pucat menjadi merah. selama ini kau belum pergi?" 6. "Dik.. malahan rasa cinta .17. "Jangan sentuh aku!" Lekas Thian-thay-mo-ki mengerem gerakkannya sambil berpaling melengong.com/ "Cici.. cinta sejati. aku tidak mati!" "Apa betul? Atau hanya mimpi?" ujar Thian-thay-mo-ki tersendat." dengan malu-malu Thian-thay-mo-ki menunduk.. Ji Bun melihat jelas bahwa muka si nona kelihatan pucat dan agak kurus. Tabib Keliling Thian-bak-sin-jiu . dia merasa tidak patut menerima cinta murni ini. sorot matanya memancarkan perasaan cinta kasih nan tebal seperti pandangan seorang ibu yang amat prihatin terhadap kesehatan puteranya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Lekas Ji Bun menyingkir seraya berteriak..

serta membisiki bahwa untuk selanjutnya ia akan memberi balasan setimpal akan cinta kasih besarnya. Malah iapun ingin memeluknya. namun soal tangan kirinya tetap dia rahasiakan. bahwa belakangan ini ia mau bergaul sama dia hanya ingin memperalatnya demi mencapai tujuan menuntut balas keluarganya. apakah ia harus menyalahkan ayahnya? "Dik. Seperti disayat dan ditusuk sembilu rasa hatinya. pikiran lain lekas sekali membuatnya tenang kembali. sungguh ia tidak habis mengerti kenapa semua ini bisa terjadi.com/ sedikitpun tiada. Kini Ji Bun betul-betul malu diri ia merasa bahwa perbuatan dan tujuannya teramat hina dan kotor. kau pernah dengar orang yang bernama Toh Ji-lan?" "Belum pernah dengar. yaitu lengan kirinya itu. Lalu dia bertanya: "Cici.Tiraikasih Website http://kangzusi. Ji Bun lantas ceritakan pengalamannya. bagaimana kau bisa tetap hidup?" tanya Thian-thay-mo-ki kemudian. maka selama hidup dirinya takkan ada kesempatan lagi untuk main cinta dengan perempuan. tapi bisa kita selidiki. Akan tetapi ia tidak berbuat sejauh itu. ia ingin membeber kenyataan ini dan mohon maaf. tangan berbisa.” "Kemana Jit-sing Kojin?” . jika benar apa yang dikatakan si orang tua aneh.

seperasaan. Jit-sing kojin pasti sekongkol dengan Biau-jiu Siansing. dapatkah kedua bangkotan itu menyandak Biau-jiu Siansing?" . katanya : "Hampir saja aku diperkosa olehnya." "Mengapa kau berpendapat demikian??” "Kenyataan amat jelas. menurut hematku. namun mereka tetap ragu-ragu. sebetulnya gabungan kekuatan mereka cukup berlebihan untuk membereskan seorang Biau-jiu Siansing. dari percakapan mereka agaknya rela untuk gugur bersama Sek-hud. betapapun tinggi Ginkangnya jangan harap bisa lolos dari pengawasan kedua bangkotan lihay itu.” Ia lantas menceritakan kejadian terakhir yang dialaminya. pikir. Lalu katanya pula.Tiraikasih Website http://kangzusi. cuma kita tak habis. namun Jit-sing-kojin justeru muncul pada saat yang menentukan. yang tidak kita ketahui.com/ Thian thay-mo-ki mengertak gigi. terang sekali di dalam hal ini ada latar belakang." "Menurut pendapatmu. untung tanda perguruanku menyelamatkan aku.” "Ya. namun kedua bangkotan tua itn sama-sama tak berani turun tangan secara gegabah. "Dik. agaknya merekapun menguatirkan sesuatu. akupun. dia sengaja memancing kemarahan Bu-cing-so untuk melabraknya sehingga Biau-jiu Siansing mendapat kesempatan untuk lari." "Analisamu memang masuk akal. Bu-cing-so dan Siang-thian-ong telah mengawasi Biau-jiu Siansing dengan ketat.

" Baru sekarang Ji Bun juga merasakan perutnya keruyukan. di bawah gunung ada sebuah kampung di mana mereka mendapatkan sebuah warung lalu pesan makanan ala kadarnya. Biau-jiu Siansing kalau berhasil mempelajarinya.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Mungkin.com/ "Tidak mungkin." kata Thian-thay-mo-ki penuh perhatian. laparnya setengah mati. namun pihak Wi-to-hwe tidak akan berpeluk tangan. "Dik." Mereka lantas berlari turun dari Pek-ciok-kong. mungkin tiada jago kosen yang dapat menandinginya. ditambah kepandaian sendiri yang. marilah kita turun gunung mencari makanan. sudah begitu tinggi." dengan cekikikan Thian-thay-mo-ki lalu menambahkan: "Dik." "Mencari Biau-jiu Siansing maksudmu?" . Ginkang Biau-jiu Siansing tidak bernama kosong. tiga hari tidak makan. "kemana tujuan kita selanjutnya?" Berpikir sebentar baru Ji Bun menjawab: "Kita menuju ke Cinyang saja. sahutnya: "Ya. perutkupun sudah berontak." "Menurut kabar Sek-hud menyimpan rahasia pelajaran ilmu silat.

jelaskan maksud kedatangan.com/ "Disamping minta kembali anting-anting." Ji Bun segera maju menggedor pintu. jadi bekerja menurut rencana semula?" "Kukira secara hormat kita mohon bertemu dulu. begitu keras suaranya. kita bekerja menurut keadaan nanti. gedung ini tak salah lagi?" "Tak salah. dua muda-mudi mendatangi gedung kuno yang jarang dikunjungi orang karena terkenal sebagai rumah setan. kecuali orang tuli saja yang tidak mendengar. katanya : "Cici. Menghadapi daun pintunya yang tertutup rapat itu Ji Bun mengerut kening." "Baiklah. .Tiraikasih Website http://kangzusi. aku masih ingat betul. Hari itu. namun lama sekali tak terdengar penyahutan dari dalam. mereka adalah Te-gak Suseng dan Thian-thay-mo-ki. kemball Ji Bun menggedor pintu dengan gelang besi yang tergantung di pintu itu. kalau mereka sengaja main gila baru kita pakai kekerasan." "Ya. Namun tetap tiada reaksi. sekaligus kita cari jejak Jit-sing-kojin." o0o Pada jalan raya di selatan kota Cinyang berdiri sebuah gedung kuno yang angker.

Thian-thay-mo-ki lantas menjawab: "Kami hendak mengunjungi pemilik rumah ini..” "Ya. "Kalian kenal baik dengan pemilik gedung ini. kalian hendak mengunjungi pemilik gedung ini?" “Tidak salah!" sahut Ji Bun.com/ Setelah ditunggu lagi sebentar. dilihatnya orang yang bicara adalah lakilaki yang berpakaian kasar dengan jubah kusut. sambil membunyikan kelintingnya.." kata Ji Bun. tabib itu terus putar badan dan tinggal pergi. atau . tiba-tiba sebuah suara bertanya: "Kalian mau apa?" Waktu Ji Bun berpaling. kiranya orang ini adalah tabib kelilingan. kenalan lama. .Tiraikasih Website http://kangzusi. tangan memegang kelintingan. katanya: "Apa. di punggung menggeblok sebuah peti obat. "Ha ha ha ha "tiba-tiba tabib kelilingan itu terkial-kial sampai terbungkuk-bungkuk." Terbelalak biji mata tabib kelilingan itu. di atas peti obat tertancap sebuah panji kecil di mana tertulis sebaris huruf yang berbunyi "mengobati berbagai penyakit yang sukar disembuhkan"..

com/ Melihat kelakuan tabib keliling ini agak ganjil.” .Tiraikasih Website http://kangzusi. teriaknya: "Apa? Rumah setan?" Dengan rasa jeri tabib kelilingan itu ke pintu gedung kuno itu. Setelah matahari terbenam. yang bernyali kecil tiada yang berani lewat jalanan. di kota Cinyang gedung ini sudah terkenal sebagai rumah setan . katanya: "Tunggu sebentar sahabat!" Dengan kaget dan melongo tabib kelilingan itu menyurut selangkah. rumah setan. tanyanya: "Apa-apaan kau ini?" "Kenapa saudara tertawa?" "Tadi tuan bilang kenal baik dengan penghuni gedung ini. Ji Bun tahu urusan pasti tidak beres.” Berubah air muka Ji Bun. sekali gerak segera dia memburu ke depan dan mengadang. maka aku merasa geli." "Memangnya apanya yang lucu?" "Sudah lama gedung ini tiada penghuninya... katanya: "Betul...

katanya dingin: "Apa saudara hendak mengorek keterangan dariku?" Tabib itu terbahak-bahak. katanya: "Terlalu berat ucapan tuan. semua berkat bantuan para sahabat." "Tuan. barusan tuan ada bilang kenal baik dengan pemilik gedung ini.com/ “Omong kosong. ketenaran nama siapa?" Akhirnya Ji Bun naik pitam. baru pertama kali ini aku ke kota ini. katanya kemudian setelah melenggong: "Terus terang Cayhe berkunjung kemari karena mendengar ketenarannya. lalu bagaimana kau harus memberi penjelasan?" Ji Bun kememek tak mampu menjawab." Mendapat angin tabib kelilingan tidak memberi kelonggaran. Cayhe sudah biasa keluntang ke utara dan kelantung ke selatan. dalam ajaran Nabi toh tidak dikatakan beliau menyangkal adanya setan. agaknya kau orang sekolahan. di dunia ini mana ada setan atau memedi segala. .Tiraikasih Website http://kangzusi. beliau hanya mengatakan tidak suka berbincang tentang setan. katanya mendesak: "Mendengar ketenarannya. itu hanya pandangan dan pendapat orang-orang bodoh belaka.

jangan kata rumah. apa nona pernah dengar gelaranku ini?” "Baru pertama kali ini. sampai siapa dan berapa banyak penghuninyapun sudah apal diluar kepalaku. sekali periksa serta raba. mungkin ucapanku tadi memang salah. maksudku bahwa mungkin tuan salah alamat. harap dimaafkan. sudah kukatakan aku ini kaum kroco." "Thian-bak-sin-jiu?" "Betul.com/ pengetahuan dasar seorang kelana sudah kupahami betul. mungkin bisa kubantu mencarikan siapa sebetulnya yang hendak tuan kunjungi?" Baru saja Ji Bun hendak menjawab. terus terang seluruh kota Cinyang ini tiada yang tidak kukenal. mana mungkin Lihiap ini tahu akan gelaranku. mohon tanya siapa gelaran tuan?" "Aku yang rendah sering dipanggil Thian-bak-sin-jiu (tangan sakti bermata dewa). harap nona tidak mentertawakan. seorang kroco belaka. hi hi hi." "He he he. penyakit orang pasti dapat disembuhkan?" ." "Jadi tuan punya pandangan tajam untuk menentukan penyakit orang.Tiraikasih Website http://kangzusi. tiba-tiba Thian-thay-mo-ki menyeletuk: “Kalau demikian tuan tentu bukan orang sembarangan.

" Thian-thay-mo-ki cekikikan. kami kakak beradik tak menemukan orang yang kami cari. Thian-bak-sin-jiu menjinjing peti obatnya terus meletakkannya di atas undakan batu. aku yang rendah ini juga bisa meramal. lalu mendudukinya sebagai kursi. lalu ia mendekati undakan batu dan duduk di tempat yang teduh di bawah pohon. tapi aku bisa juga melakukannya. ai." "Jadi pandanganmu juga bisa melihat nasib orang. tidak. penglihatanku hanya menen¬tukan nasib orang. betul. katanya: "Bagus sekali. tentunya tuan juga bisa meramalnya dengan baik?" "Ai. Sebetulnya Ji Bun merasa sebal melihat tingkah laku Thian-thaymo-ki yang jalang ini. di samping seorang tabib." ujar Thianthay-mo-ki. tidak.com/ "Ah. soal kesaktian tanganku ini me¬mang sulit untuk menyembuhkan orang." "Ya. mungkin itulah sebabnya kenapa selama ini tak pernah timbul rasa simpatik apalagi cinta terhadap perempuan yang satu ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. itu soal nujum. he he." "Baiklah. coba lihat nasib kami dengan nujummu. kepandaian rendah dan nama kosong belaka. katanya kemudian dengan sungguh-sungguh: .

kepada Ji Bun supaya sabar. lalu dengan riang ia berkata: "Kalau demikian." Dengan kedipan mata Thian-thay-mo-ki memberi isyarat. masih ada urusan lain yang harus kita kerjakan. tanpa kuramalkan. sungguh beruntung kami dapat bertemu dengan tuan.Tiraikasih Website http://kangzusi. pasti semua urusan akan beres." "Berapa ongkosnya untuk ramalanmu?" . kedua mencari barang!" Dengan jari-jarinya Thian-bak-sin-jiu mengelus jenggotkambingnya." "Pertama mencari orang. selanya: "Cici. mungkin aku bisa memberi petunjuk. bila bertemu dengan aku. bukan ku suka membual." "Boleh nona katakan saja. Ada dua soal mohon." Ji Bun tidak sabar. katanya sambil geleng-geleng lalu memutar kepala: "Harap katakan satu persatu saja.com/ "Cukup asal nona katakan siapa orang yang kalian cari. katanya: "Tuan ini. diberi petunjuk.” Thian-bak-sin-jiu mengerling sambil tertawa penuh arti. untuk menjelaskan urusan apapun.

. soal mencari orang.. begitulah . mata melek-merem. kami tak bisa menemukan orang yang dicari itu?" "Menurut ramalan memang demikian." "Jadi dalam kota Cinyang ini...." "Jadi taripnya disesuaikan dengan sesuatu yang hendak diramalkan itu?" "He he. kira-kira 10-an li jaraknya.. .com/ "ltu bergantung dari orang yang kau cari dan barang apa yang hendak kau temukan. nah silakan meramalkan apakah orang yang hendak kami cari bisa diketemukan?" Thian-bak-sin-jiu menarik tangannya ke dalam dengan bajunya yang longgar... mulutnya berkomat-kamit. orang yang dicari pasti dapat diketemukan." "Apa tepat dan dapat dipercaya?" .” "Kalau tuan bisa nujum.Tiraikasih Website http://kangzusi. kalian harus menuju ke arah barat.. sesaat lamanya baru dia berkata: "Yang dicari laki-laki atau perempuan?" "Laki-laki!" "Em..

murah sekali. soal mencari barang?” "Betul. tanyanya: "Apanya yang aneh?" "Menurut ramalan. dia berpaling ke arah lain." .” Ji Bun tidak sabar lagi. berseru heran: “He. setelah sekian lama. Aneh!” Alis Thian-thay-mo-ki menegak. tolong usahakan.com/ "Ramalanku selamanya tepat seratus persen. belum pernah meleset. tiada mahal bukan?" “Tidak. Thian-bak-sin-jiu tertawa lebar. "Sepuluh tahil perak.Tiraikasih Website http://kangzusi. berapa harus kubayar!"." "Baiklah. katanya pula: "Ramalan kedua. yang hilang itu bisa ditemukan kembali?” Kembali Thian-bak-sin-jiu melek-merem dan tekuk-tekuk jarinya sambil komat-kamit. apakah barang. barang yang hilang itu bukan milik nona. tiba-tiba dia.

" "Tuan memang pandai meramal. mohon tanya siapa nama besar tuan?" Thian-bak-sin-jiu terkekeh-kekeh.Tiraikasih Website http://kangzusi. ujarnya: "Tebakan tuan memang betul. tak usah dicari lagi. anting-anting itu memang bukan milik Thian-thay-mo-ki. pikirnya. hayolah pergi saja. katanya: "Nona hanya bergurau saja. sudah dimiliki orang?" "Ya. Thian-thay-mo-ki tersenyum." . kalau salah sejak kini aku mengasingkan diri saja. apakah barang itu bisa diminta kembali?" "Barang itu sudah ketemu pemiliknya." Ji Bun tak sabar lagi. aku hanya bilang menurut ramalanku. “Cici. tukasnya. mungkin tabib ini memang pandai meramal." "Apa." "Jadi barang itu sudah tak bisa kami temukan lagi?" "Ramalanku tak pernah meleset. manjur benar ramalan tuan.com/ Tergerak hati Ji Bun. hal ini ditebaknya dengan tepat.

kalian bukan kakak dan adik kandung.” . tuan harus terus membujang kalau ingin hidup lama. Thian-thay-mo-ki berjingkat kaget. maaf kalau aku bicara terus terang.Tiraikasih Website http://kangzusi. segar bugar tidak merasakan apa-apa. lalu katanya: "Tuan ini." "Selamanya kuyakin pada pandangan kedua biji mataku ini. Ji Bun kaget karena ahli nujum ini tahu akan penyakit tangan berbisanya. sambii miringkan kepala dia melirik beberapa kali." Ji Bun tersirap. menentukan nasib hidup tuan dimasa depan. dari mana datangnya penyakit?" "Tuan sendiri maklum. sedang Thian-thay-mo-ki hanya melongo karena tidak tahu duduk persoalan.” "Tapi penyakit yang mengeram dalam tubuh tuan ini. akhirnya ia unjuk rasa prihatin." "Sungguh aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan. tuan kejangkitan penyakit jahat yang sukar diobati. katanya dingin: "Perkataan tuan sukar dipercaya. malah aku berani bilang. Ji Bun pura-pura tenang. benar tidak?" "Pengetahuan cetek begini tak perlu dibuat heran. kenapa harus berpura-pura.com/ Thian-bak-sin-jiu tiba-tiba menghadapi Ji Bun. aku sehat walafiat.

apalagi kalau rahasia dirinya ini bocor dan menjadi rahasia umum. betulkah tabib kelana ini pandai meramal atau hanya . agaknya perkataan orang tua aneh dibawah jurang Pekciok-hong itu memang benar. hatinya menjadi hambar.. bahwa tabib ini sekali pandang lantas tahu akan rahasia dirinya. ia yakin bahwa ucapan tabib kelana ini memang bukan bualan." Cemberut muka Thian-thay-mo-ki. akibatnya tentu amat besar. namun juga menakutkan. katanya kepada Thian-thay-mo-ki: "Nona. bingung dan tak habis mengerti.. seluruhnya 20 tahil perak.com/ Sudah tak kuasa Ji Bun menahan perasaannya roman mukanya berubah. dari sikap dan perubahan air muka Ji Bun. keruan hatinya ikut hampa. hal ini sungguh amat aneh.Tiraikasih Website http://kangzusi.” Thian-bak-sin-jiu berdiri sambil memanggul peti obatnya." "Usaha hidupmu pasti tidak hanya tukang nujum saja bukan?" .. mungkinkah orang ini punya maksud tertentu dengan mengatur muslihat bohong belaka? Dengan pandangan penuh tanda tanya Thian-thay-mo-ki mengawasi Ji Bun.. katanya: "Tuan betul-betul minta uang?" "Penghidupanku memangnya dari hasil ini..

cepat sekali dia sudah berubah sikap dan berkata kepada Ji Bun: "Tuan. semua itu tergantung jodoh dan Hokki. tiada penyakit yang tidak tersembuhkan di dunia ini." dengan mengerahkan sedikit tenaga ia lemparkan uang emasnya itu. semua itu bergantung jodoh dan Hokki saja" mungkinkah tabib kelana ini pandai menawarkan racun? Gerak-gerik . namun dalam telinga Ji Bun masih terkiang kata "tiada penyakit yang tak terobati di dunia ini. tuan terimalah. tawa tidak meringis tidak dia berkata kepada Thianthay-mo-ki: "Terima kasih nona!” Sikapnya mirip sekali dengan orang-orang melarat umumnya yang dapat rejeki. dengan merintih-rintih dia memijat telapak tangannya. setelah berdiri lagi dengan menyeringai. selamat bertemu pada lain kesempatan.Tiraikasih Website http://kangzusi." Habis berkata sambil menggoyang-goyang kelintingannya segera ia melangkah pergi. Tergopoh-gopoh Thian-bak-sin-jiu maju menerimanya. uang emas itu terbuang jauh." Terpaksa Thian thay-mo-ki keluarkan sekerat emas sambil berkata: "Nah. lalu dengan menggelundung sambil merangkak ia menghampiri uang emas itu. obatku inipun sudah dikenal oleh segenap penduduk kota Cinyang ini. Bayangan orang sudah lenyap di pengkolan sana. tapi tibatiba ia menjerit keras terus mendeprok jatuh terduduk.com/ "Ya.

tuh lihat." . namun tetap tidak melihat bayangan seorangpun. Sekian lama mereka celingukan tak melihat bayangan seorangpun. kenapa kau begini tak sabar. tabib ini amat mencurigakan." demikian kata Thian-thaymo-ki. tentu dia menunggu kita disana " "Kalau dia hanya menipu saja?" tanya Ji Bun. bukankah di atas gundukan tanah sana ada orang?" "Belum tentu dia orang yang hendak kita cari. akhirnya mereka maju lagi puluhan tombak jauhnya. hanya sebuah jalan kecil lurus langsung ke arah barat. setelah berunding.” Begitulah mereka lantas keluar menuju ke barat. mungkin sekali. "Ah.com/ orang ini memang tak ubahnya seperti tabib kelilingan. "Agaknya kita memang ditipu. "Belum terlambat kita kembali ke sini dan geledah gedung setan ini. "kukira dia sendiri penyamaran Biau-jiu Siansing.Tiraikasih Website http://kangzusi." ''Marilah kita menuju ke barat menemuinya seperti ramalannya tadi." "Ya. "Dik. tempat yang ditunjuk ternyata adalah tegalan liar yang tak dihuni manusia. kenapa tadi kubiarkan dia pergi." Thian-thay-mo-ki berpen¬dapat. kira-kira sepuluh li jauhnya. namun tutur katanya sangat mencurigakan. "kalau dia betul Biau-jiu Siansing adanya." ujar Ji Bun gegetun.

" "Tuan memang tabib kelilingan yang pintar.. Memang betul orang yang duduk di atas gundukan tanah adalah orang tua bungkuk yang pernah mereka lihat di Pek-ciok-hong yaitu Biau-jiu Siansing. patut dipuji juga. orang tua bungkuk!" teriak Ji Bun. pujian! Kalian bisa mencariku ke gedung setan di kota Cinyang. "Hayolah cepat. semangatnya seketika berkobar. itulah dia. Dari kejauhan Ji Bun menyapa sambil angkat sebelah tangan: "Maaf.com/ Sementara itu jarak mereka sudah semakin dekat. Nah. Lohu juga baru datang." . katanya: "Ah.Tiraikasih Website http://kangzusi. tentunya kau sudah tahu maksud kedatangan kami?" "Karena sek-hud bukan?" "Aku sendiri tiada minat mendapatkan sek-hud." "Marilah kita bicara soal itu.. tuan menunggu terlalu lama." Dua sosok bayangan melesat bagai panah meluncur." Biau-jiu Siansing tertawa." "Pujian.. tuan tak usah mungkir dengan urusan lain. tidak.

” "Hal itu tak perlu kau katakan.com/ “Ucapanmu bikin Lohu heran dan tak mengerti..Tiraikasih Website http://kangzusi.” "Lekaslah tuan kembalikan saja...." Ji Bun mendengus.. sebetulnya barang apa yang kau minta?" "Anting-anting batu pualam itu. kau semakin ngelantur. teriaknya dengan penuh haru: "Apa? Apa katamu?" "Anting-anting batu pualam itu. jengeknya: "Cayhe kagum akan gerak gerik dan kepandaian silatmu... aku tidak suka dipuji ..." "Kan. Ji Bun melengak malah. Cepat Thian-thay-mo-ki menyela: "Apa maksud perkataan Cianpwe barusan?" . tiada keinginan lain kecuali kuminta kembali barangku itu?" “Em...." Bergetar sekujur badan Biau-jiu Siansing..anting-anting itu hilang?" ucapan ini amat lucu..

anak muda. "harap kau suka kembalikan.com/ Biau-jiu Siansing tergelak-gelak. kau kira Lohu yang mencurinya?" teriak Biaujiu Siansing. kenapa dicari kian kemari." tukas Ji Bun. Maka Ji Bun lantas menjawab: "Berdasarkan gerakan dan caranya." "Apa. "Berdasar apa kau berani menuduh Lohu?" Ji Bun tertegun bahwasanya bayangan yang merebut antinganting dari tangannya itu tidak dilihatnya jelas bentuknya." . sahutnya: "Bukankah dia memperbincangkan anting-anting pualam itu?" "Betul. terang persamaan ini belum meyakinkan untuk dibuat tuduhan. apa maksudmu?" "Kalau tidak hilang. bukankah persoalannya cukup jelas?" "Jadi kau juga tahu akan anting-anting itu?" "Orang sebagai diriku. hanya menurut dugaan dan rabaan Thian-thay-mo-ki saja sehingga dia mencari Biau-jiu Siansing yang gerak-geriknya memang mirip dengan pencuri itu. barang berharga apa yang tidak kuketahui?" "Cayhe memohon dengan hormat. tuan menegas anting-anting itu hilang. memang tidak sedkit orang yang mungkin memiliki Ginkang sehebat itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun kepandaian mencuri setinggi itu rasanya sukar dicari keduanya.

com/ "Cara bagaimana anting-anting itu lenyap? "Direbut dari tanganku. dia memberi anting-anting sebagai tanda mata .” Kejut dan berubah air muka Ji Bun." "Tapi barusan kau bilang tahu akan seluk anting-anting itu?" "Kenapa harus heran...Tiraikasih Website http://kangzusi. dengan kedudukan dan ketenaran Lohu. kau anak muda ini belum apaapa dibandingkan aku." "Tuan tak usah mungkir. "Kau juga tahu akan hal itu?" suaranya gemetar. dihadapan Lohu jangan kau takabur. apalagi mungkir. lekaslah kembalikan.. karena merasa hutang budi. 6. bukankah kau pernah menolong puteri keluarga Ciang dari Kayhong yang ditawan Cip-po-hwe. Puteri dari Istana Ngo-lui-kiong ." "Bicara soal cara dan kepandaian.18. demi mengejar kembali anting-anting itu. rada ganjil kejadian ini. tidak sudi aku melakukan cara serendah itu." "O... aku takkan segan-segan turun tangan dengan keji. ketahuilah..

Tiraikasih Website http://kangzusi. tapi pada maksud dan tujuan dari pemberian antinganting kepadamu. hanya dengan tanda kepercayaan saja tak mungkin bisa ambil uang.com/ "Ya. "di tanganmu anting-anting itu adalah benda pusaka. malah ada aturannya pula. agaknya persoalan semakin rumit. Berkata Biau-jiu Siansing sungguh-sungguh: “Tanda kepercayaan Ciang Wi-bin untuk mengambil hartanya bukan terdiri dari anting-anting itu saja. harus tanda kepercayaan dan orang yang membawanya cocok satu sama lain sesuai laporan dari pusat. kebetulan hari itu aku memergoki kejadian. namun di tangan orang lain tak ubahnya seperti barang rongsokan belaka. Berkata Biau-jiu Siansing lebih lanjut: "Persoalannya tidak terletak pada nilai dan manfaat dari antinganting itu. Kalau dia berikan anting-anting itu pada seseorang. seluruh cabang perusahaannya juga diberitahu kepada siapa dia berikan tanda kepercayaan itu.” kata Biau-jiu Siansing. apa tidak bakal bangkrut kalau hartanya boleh sesuka hati diambil orang?” Hal ini memang tak pernah terpikir oleh Ji Bun. betapa besar kekayaan Ciang Wi-bin." "Kenapa?" Ji Bun heran dan tidak mengerti. betul tidak?” Cep-kelakep. Kalau tidak. peduli kemana maksud tujuan Ciang Bing-cu . kedengarannya juga masuk akal. Ji Bun tak mampu menjawab.

maka ia manggut-manggut mendengar ucapan Thian-thay-mo-ki. mereka toh sekongkol hendak merebut Sek-hud . . jika anting-anting itu terjatuh di tangannya." Terguncang hati Ji Bun.Tiraikasih Website http://kangzusi. dengan kepandaian tuan menyamar.com/ memberi anting-anting itu. kau kira orang macam apa Lohu ini?" "Menurut caramu merebut Sek-hud. Biau-jiu Siansing terloroh-loroh. betapa dia takkan menyaru sebagai dirinya untuk melepaskan nafsu tamaknya. betapa tenar dan tinggi kedudukan Bu-cing-so dan Siang-thian-ong. persoalan apa pula yang tak bisa kau lakukan?" Mendelik mata Biau-jiu Siansing. selama ini tiada orang yang pernah melihat muka aslinya. Tiba-tiba Thian-thay-mo-ki cekikikan.. serunya: "Orang maling juga ada aturannya. katanya: "Harta benda dan Sek-hud merupakan persoalan yang berbeda bagi Bulim. kepandaian Biau-jiu Siansing merias diri dan menyamar juga tiada bandingannya dalam Bu-lim. namun kalau terjatuh ditangan tuan. betapapun dirinya harus bertanggung jawab. ujarnya: “Ditangan orang lain mungkin anting-anting itu tak berarti lagi.

namun ia tak berani berkukuh menuduhnya." "Soal apa?" "Tentang Jit-sing kojin yang bersekongkol dengan tuan." Masgul hati Ji Bun.Tiraikasih Website http://kangzusi. Maka segera Ji Bun buka suara: "Cayhe masih mohon keterangan darimu. sesuai kedudukan dan tingkatanmu. agaknya memang sulit untuk menemukan anting-anting itu. tapi di puncak Pek-ciok-hong kau pernah membeberkan asal usul sendiri sebagai seorang pentolan maling yang bertingkat tinggi. untuk sementata biar kami percaya omonganmu." . ucapan Biau-jiu Siansing tidak meyakinkan dirinya. segera ia menanggapi: "Sesuai apa yang kau katakan. Hilangnya anting-anting itu bukan mustahil karena dicuri oleh orang golonganmu. apakah sudi tolong menyelidiki persoalan ini?" Biau-jiu Siansing menepekur sebentar. Tapi kecerdikan Thian-thay-mo-ki lebih tinggi daripada Ji Bun. akan kubantu mencarinya. sahutnya kemudian: ''Nah. Baiklah. perjalanan kali ini terhitung sia-sia.com/ itu?" kata-kata yang tajam ini membuat Ji Bun mati kutu tak dapat mendebat lagi. kan harus begitu bicaranya.

kau menuntut balas sakit hati orang lain?" .Tiraikasih Website http://kangzusi. teriaknya terbeliak: "Hutang jiwa siapa?" Ji Bun menggertak gigi." "Aku hanya ingin tahu jejak Jit-sing kojin. memangnya kau tidak kenal dia? untuk apa kau cari Jit-sing kojin?" "Untuk membuat perhitungan utang jiwa. tanyanya: "Tuan sudi memberitahu jejaknya?" Biau-jiu Siansing menggeleng.com/ "Sekongkol denganku?" tukas Biau-jiu Siansing dengan mata melotot. jangan kau kira otakmu paling pintar sendiri. katanya dengan suara tawar: "Aneh bahwa kau punya perhitungan dengan dia. „Kejadian di Pek-ciok-hong itu. siapapun tahu apa latar belakang yang tersembunyi di balik peristiwa itu." "Ha ha.” "Lho. anak muda." Kaget sambil menyurut mundur Biau-jiu Siansing.

masakah aku mesti ingkar janji padamu yang lebih muda.com/ Tanpa menjawab pertanyaan. tak punya tempat tinggal tetap lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi.. timbul suatu akal yang mengilhami benaknya." Dengan demikian maksud semula untuk mencari Biau-jiu Siansing menjadi gagal. jejak Jit-sing kojin juga tak bisa diketahui." "Tidak mungkin.” gumam Biau-jiu Siansing." "Cayhe harap bisa segera bertemu dengan dia. malah mendesak dengan suara berat: “Ucapanmu membuktikan bahwa kau berhubungan erat dengan dia. akalnya ini akan bisa membuktikan apa betul Biau-jiu Siansing ini adalah orang yang rebut .. demikian pula anting-anting pualam itu tetap tidak diketahui parannya." "Apa tuan betul-betul bisa menyampaikan kabar padanya?" "Sudah tentu... Ji Bun. "teka-teki apa yang telah dia lakukan?" "Tuan tidak menolak perintahku?” "Lohu akan sampaikan hal ini kepadanya. sungguh Ji Bun amat penasaran. Tiba-tiba pikirannya tergerak. jejaknya tidak menentu. biar dia sendiri yang membereskan perhitungan ini dengan kau. harap kau suka beritahu di mana dia sekarang?" "Aneh .

tak pernah dia menduga bakal diserang secara mendadak. sebat sekali tahu-tahu Ji Bun sudah melayang kembali ketempatnya semula. Hanya sekali berkelebat. . katanya tandas: "Nah.com/ anting-anting pualam dari tangannya. "apa sih maksudmu?" Thian-thay-mo-ki. Maka tanpa bicara lagi. Lwekangnya sekarang sungguh teramat tinggi. "Te-gak Suseng. sejak jalan darah mati-hidupnya ditembus oleh orang tua aneh dibawah jurang Pek-ciok-hong. serahkan anting-anting itu padaku. soalnya dia tidak tahu menahu tentang rahasia tangan berbisanya itu." "Kenyataan apa?" tanya Biau-jiu Siansing melengak keheranan. betapapun lihay dan tinggi kepandaian Biau-jiu Siansing. kenyataan sudah membuktikan. yaitu tangan kirinya yang beracun dan pernah menyentuh penyerobot itu tapi tanpa menimbulkan reaksi apa-apa. terkesiap kaget dan melongo karena tindakan Ji Bun yang aneh serta mendadak ini. sudah tentu ia tidak mengerti maksud tujuan Ji Bun. Berubah membesi kaku rona muka Ji Bun. tangan kirinya yang beracunpun berhasil menutul badan orang." teriak Biau-jiu Siansing gemetar dengan menyurut mundur selangkah.Tiraikasih Website http://kangzusi. ditambah hawa murninya sendiri. seperti kilat mendadak ia menerjang ke arah Biau-jin Siansing. tidak usah mungkir lagi.

tangan kananpun menjotos dengan kekuatan hebat." "Memangnya kau bocah ini bisa berbuat apa?" Biau-jiu Siansing mengejek. Blau-jiu Siansing angkat sebelah tangan. Tahu gelagat jelek. berbareng kaki menggeser cepat ke .” ujar Biau-jiu Siansing. sejak mendapat saluran tenaga dari orang tua aneh. cukup menarik juga persoalanmu. "Baiklah.Tiraikasih Website http://kangzusi. "kecuali tanganmu itu. kenyataan ini bukan kebetulan?" ''Maksudmu orang yang menyerobot anting-anting dari tanganmu itu juga lolos tanpa kurang suatu apa meski terpukul tanganmu yang berbisa?" "Kan kau sudah tahu. terasakan oleh Ji Bun bahwa kekuatan yang ia kerahkan kali ini terasa amat keras dan dahsyat. lekas dia menahan gerakannya. apa yang pernah kuucapkan pasti kutepati. kenapa tanya pula?" "Hm. bertanggung jawab dan takkan berubah. kuingin tahu ada apalagi kemampuanmu yang lain?" "Kukira kau takkan kecewa.com/ "Terlalu sedikit orang yang mampu bertahan dari seranganku. rasakan pukulanku ini!" sembari bicara Ji Bun lantas kerahkan tenaga ke tangan kanannya. sikapnya acuh tak acuh. terasakan olehnya tekanan pukulan Ji Bun begitu keras dan besar. di tengah suara hardikan terakhir. namun sebelum kedua kekuatan saling bentrok." "Cayhe takkan percaya begitu saja. Nah.

hal ini membuat Ji Bun sendiri amat kaget. Betapa tinggi dan dalam kepandaian silat dari Lwekang Biau-jiu Siansing. namun tidak heran dan kaget.com/ samping.. hanya sekali berkelebat. kau. walau merasa diluar dugaan.." jengek Ji Bun.. toh tidak berani melawan secara kekerasan. secepat terbang iapun bergerak mengejar.” Dikala tangannya terangkat. serunya dirangsang emosi: "Buyung. tak mungkin memiliki Lwekang setinggi ini?" kedengarannya amat lucu perkataan ini.."Nah. Biau-jiu Siansing mengunjuk heran dan kaget. disadarinya bahwa Lwekangnya sekarang betul-betul sudah terlampau hebat daripada tingkat yang pernah dia bayangkan sebelumnya.. rasakan pukulanku lagi . tiba-tiba Biau-jiu Siansing juga bergerak. maka tertampaklah dua sosok bayangan . namun demikian damparan angin kencang yang dahsyat bagai gunung meledak membuat dirinya terguncang sempoyongan.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Terlampau banyak kejadian yang tak mungkin dibayangkan di dunia ini... "Lari kemana!" sembari membentak. tahu-tahu tubuhnya sudah menggeser 10 tombak jauhnya... Thian-thay-mo-ki sudah tahu akan pengalaman Ji Bun yang ketiban rejeki didasar jurang itu. Tapi kepandaian Ji Bun sekarang sudah bukan olah-olah hebatnya... begitu cepat sehingga sulit diikuti oleh pandangan mata..

gerakannya seenteng burung walet. hanya sekali menyelinap terus membelok lagi ke kanan.com/ orang berkelebat saling susul meluncur bagai meteor. betapapun Ji Bun tak mampu menyandaknya. lalu ia ubah niatnya semula. sang surya sudah condong ke barat tanpa terasa. namun ia merandek serta berpikir sekejap. namun kedua bayangan orang di depan sudah menjadi dua titik hitam yang melayang bagai asap terbang. Dalam pada itu Ji Bun telah mengerahkan seluruh kekuatannya sambil tancap gas mengejar dengan kencang. sebentar lagi sudah tak kelihatan. ternyata Biau-jiu Siansing yang tersohor memiliki Ginkang tiada bandingan ini dapat dikejarnya dalam jarak tertentu untuk sekian lamanya. Dengan gemas Ji Bun terpaksa menghentikan pengejarannya. Jurusan mereka menuju ke barat laut. hal ini sudah cukup melegakan hatinya. hutan lebat membentang di beberapa tempat. Cepat sekali. Akan tetapi nama Biau-jiu Siansing memang bukan gelaran kosong. . walau tak berhasil menyandak lawan. Tak jauh di depan sana adalah pegunungan yang turun naik. segera ia ikut mengejar ke arah sana. Ji Bun sudah putar balik hendak menemui Thian-thay-mo-ki. dalam waktu singkat bayangan mereka lantas lenyap. tapi bisa mempertahankan dalam jarak tertentu dengan Biau-jiu Siansing yang memiliki Ginkang paling top itu. hanya terpaut selangkah saja. Thian-thay-mo-ki melenggong sekejap. tiba-tiba bayangan Biau-jiu Siansing sudah lenyap ditelan semak-semak.Tiraikasih Website http://kangzusi.

kini ia pikir Lwekang dan kemampuan silatnya sekarang kiranya cukup berkelebihan untuk bekal menuntut balas. segera ia tahu bahwa tempat di mana dia berada termasuk pegunungan Tong-pek-san. malah waktu menyamar tabib kelilingan. malah kepandaian silat tinggipun takkan berguna. . lebih celaka kalau keluarga Ciang mengalami kebangkrutan harta benda. sulit ditemukan. Bayangan Biau-jiu Siansing masih selalu mengganggu pikirannya. segera ia berlari menuju ke arah Tongpek-san. Semakin dipikir semakin membuat hatinya masgul. kenapa tidak langsung meluruk ke Tong-pek-san saja dan bertindak menurut gelagat. terutama dirinya harus memberi pertanggungan jawab kepada Ciang Bing-cu. Dalam perjamuan berdirinya Wi-to-hwe tempo hari. ia yakin anting-anting itu pasti terjatuh ke tangan maling sakti itu. bukankah ia malu berhadapan dengan mereka. kalau gelagat tidak menguntungkan boleh purapura menanyakan keselamatan Pui Ci-hwi. Setelah berketetapan. orangpun mengorek rahasia pribadinya. kecuali ayahnya rasanya tiada orang lagi selain orang tua aneh dalam jurang itu yang tahu.Tiraikasih Website http://kangzusi. bekal pengalaman dan pengetahuan umum adalah yang terpenting. Wi-to hwe-cu pernah menyatakan padanya akan menyambut kedatangannya setiap waktu. sekaligus untuk mencari tahu jejak Toh Ji-lan. liku-liku kehidupan Kangouw sungguh serba berbahaya. hal ini sungguh amat luar biasa. lalu dari mana Biau-jiu Siansing bisa tahu pula? Orang ini pandai menyamar diri.com/ Setelah menerawang keadaan sekitarnya. yang paling mengerikan adalah orang tidak jeri menghadapi tangannya yang berbisa. untuk menunaikan pesan orang tua aneh itu.

katanya : . kini setiap menghadapi persoalan dia cukup tabah untuk berpikir dan mengendalikan diri.com/ Sejak keluarganya mengalami bencana. Magrib sudah berlalu. sifatnya memang sudah jauh berubah. watak aslinya yang tersembunyi selama ini. Sinar pelita di perkampungan di depan nan jauh sana sudah mulai tampak. segera ia berhenti. namun bayangan yang serba putih jelas kelihatan. Tanpa menjawab gadis haju putih itu maju mendekat sambil mengamat-amati Ji Bun. sehingga tanpa terasa gerak badannya sedikit lamban. tabir malampun menjelang. waktu ia berpaling dilihatnya seorang gadis berpakaian ketat warna putih berdiri di depannya. baru sekarang mulai terhalau dan berubah semua sepak terjangnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Nona siapa?" tanya Ji Bun. maka sifat brutalnya selama ini menjadi berubah tabah dan terkendali. Karena alam pikirannya terus bekerja. jagat raya kini sudah menjadi gelap gulita. malam gelap remang-remang. karena perubahan itu sendiri timbul dari nuraninya yang murni. Sekonyong-konyong dari belakangnya berkumandang sebuah suara nyaring enteng: "Berhenti tuan!" Ji Bun tersentak kaget dari lamunannya.

namun ia mengiakan juga. "Sungguh beruntung dapat bertemu di sini." Ji Bun berpikir pulang pergi. aku sendiri ada urusan penting. tanyanya dengan menegakkan alis. kunjungannya ke Wi-to-hwe untuk menyelesaikan pribadinya lebih penting. kenapa beruntung?” "Aku mendapat perintah majikan untuk ngundang Siangkong ke sana. terpaksa menolak undangannya.com/ "Agaknya Siangkong (tuan muda) adalah Te-gak Suseng?" Gadis ini masih asing bagi Ji Bun.Tiraikasih Website http://kangzusi. Maka ia menjawab tawar: "Harap beritahu kepada maiikanmu." . "Siapakah majikanmu?" "Setelah berhadapan tentu Siangkong akan tahu. ia kira orang mungkin dari aliran yang tidak genah.thay-mo-ki." "Siapa?" "Thian." "Tapi ada seseorang ingin betul bertemu dengan Siangkong." Heran Ji Bun. daripada tersangkut banyak urusan lebih baik tidak." "Apa.

keselamatan jiwanya tak boleh tidak diperhatikan sama sekali." Baru dua jam sejak Ji Bun mengejar Biau-jiu Siansing berpisah dengan Thian-thay-mo-ki.. ia tak gentar. tahu-tahu menyala sebarisan lampu-lampu gantung berderet memanjang menuju ke depan sebuah kelenteng kecil. Memang nama Te-gak Suseng sudah cukup menggetarkan nyali . mari tunjukkan jalannya. sikapnya garang dan kereng. di depan kelenteng berdiri berjajar di kanankiri delapan laki-laki berseragam putih." ujar gadis berbaju putih sambil putar tubuh terus berlari ke arah selatan. ia ingin melihat Siangkong. maka ia berkata: "Baiklah. Kepandaian Ji Bun kini sudah tinggi. begitu Ji Bun muncul mereka sama mengunjuk rasa tegang. walau merasa curiga." "Silakan ikut diriku. kata-kata yang memancing dari gadis baju putih ini rada ganjil.” "Dalam detik-detik kehidupannya yang terakhir. Siangkong akan jelas seluruhnya. setelah berlari cukup lama.. Tak jauh mereka memasuki hutan.com/ "Apa? Dia ..." “Melihat yang terakhir? Apa maksudmu?" "Setelah sampai di tempat tujuan.. walau dirinya tidak pernah menaruh cinta terhadap perempuan yang disebut itu. mereka membelok ke timur memasuki sebuah hutan. nyalinyapun besar. namun selama bergaul belakangan ini timbul juga rasa persahabatannya.Tiraikasih Website http://kangzusi.

mungkin hal inilah yang menciutkan nyali mereka. . Dari pintu besar sudah kelihatan jelas keadaan ruang pendopo yang diterangi lampion warna kehijauan. suasana terasa mencekam. membunuh orang tanpa meninggalkan bekas luka sedikitpun.com/ setiap insan persilatan. namun tidak kelihatan bayangan seorangpun. apalagi pukulan tangannya yang jahat. di depan bagian pinggir. asap mengepul tinggi. agaknya mereka terbunuh dalam waktu dekat ini. di belakangnya mengiring seorang laki-laki tua berjubah putih dan berperawakan tegap kekar. Selagi dia melenggong. Memasuki pintu besar. Gadis yang menunjuk jalan membalik serta berkata: "Harap Siangkong tunggu sebentar. tak lama ia keluar kembali dan gerakan tangan: "Silakan masuk!" Tanpa curiga dan tidak ragu sedikitpun. sehingga keadaan di belakang sana rada remang-remang. di lantai ruang pendopo ternyata terbaring 13 mayat orang berseragam putih. dengan langkah tegap Ji Bun lantas masuk. noda-noda darah belum kering. tampak seorang gadis muda belia tak ubahnya seorang puteri raja dengan pakaian serba putih berjalan keluar dari belakang tabir kain sari." lalu dia berlari ke belakang. empat gadis berpakaian ketat warna putih masing-masing berdiri di kanan kiri. mereka tiba di sebuah ruang pendopo yang amat luas. bau harum tiba-tiba merangsang hidung. dua lampion besar warna merah tergantung di emperan. "Hah!" tiba-tiba ia menjerit tertahan waktu memandang sana.Tiraikasih Website http://kangzusi.

sikapnya lebih agung dan suci. Pek-sat-sin tetap mengiringi disebelahnya. maka ia segera mengangguk.Tiraikasih Website http://kangzusi. tak diduganya bahwa puteri Ngo-lui-kiong akhirnya terseret juga ke percaturan dunia persilatan. Kelihatannya gadis berbaju putih ini lebih cantik dari gadis baju merah Put Ci-hwi. Laki-laki jubah putih bertubuh tinggi besar ini adalah komandan patroli Ngo-lui-kiong. Dengan langkah gemulai puteri jelita berpakaian serba putih ini menuju ke tengah terus duduk di kursi kebesaran yang berlapis kulit harimau. Dengan mata melotot Pek-sat-sin pandang Ji Bun. katanya: . majulah menghadap Kiong-cu (puteri) kami. Ji Bun lantas tahu siapa mereka orang ini.com/ Begitu meihat laki-laki tua jubah putih ini. begitu cantik jelita puteri ini hingga menyiiaukan pandangan rasanya." Tergerak hati Ji Bun. apalagi dia seorang perempuan. Thian-thaymo-ki pernah melukainya dengan Soh-li-sin-ciam. bibir merah laksana delima merekah. Berkulit putih bersih rambut hitam mengkilap. Tanpa terasa Ji Bun menelan air liur. mengenakan pakaian serba putih. lembut dan ramah. betapapun dirinya tak boleh berlaku gegabah dan tidak tahu aturan. Orang Ngo-lui-kiong. peduli kedudukan dan asal usulnya. yaitu Pek-sat-sin The Cun yang pernah dilihatnya waktu memperebutkan Sek-hud tempo hari. katanya: "Te-gak Suseng.

"Tentunya tuan tidak lupa utang tujuh jiwa anak buah kami bukan? "Cayhe tidak pernah menyangkal. lalu menjawab: "Tuan tak usah banyak adat!" suaranya semerdu kicauan burung kenari.Tiraikasih Website http://kangzusi. jelaskan saja. jika aku tidak bunuh orang kepalaku sendiri yang bakal terpenggal." Puteri baju putih mendehem." "Jadi untuk hal inikah nona mengundangku kemari?" "Agaknya tuan amat tabah dan sabar memangnya kau kira aku tidak punya pekerjaan dan hanya ingin mengobrol dengan kau?” "Lalu apa maksudmu. golok selalu berlumuran darah. "Ada persoalan apa nona mencariku?" tanya Ji Bun.com/ "Cayhe menyampaikan hormat. walau sikapnya dingin. katanya: "Memang betul juga. kalau kedua pihak sudah saling bertentangan. mati-hidup atau luka-luka merupakan kejadian jamak." . sebagai insan persilatan yang berkelana di Kangouw.” Puteri baju putih itu tertawa tawar. namun kedengarannya nyaring. namun caramu membunuh mereka kukira terlalu rendah. tentunya nona tahu juga akan hal ini.

kukira tidak perlu mempersoalkan siapa salah siapa benar. namun menurut aturan Kang¬ouw.. bagaimana mungkin dia membunuh orang-orang ini? Dari pergaulannya belakangan ini ia tahu bahwa Thian-thay-mo-ki tidak bersifat kejam dan suka membunuh orang.." Berdegup hati Ji Bun. setiap utang jiwa harus bayar jiwa . katanya mendesis dengan mata setengah memicing: "Tuan pandai putar lidah. mukanya membesi. bagus sekali. kalau begitu aku leluasa turun tangan." .com/ "Tuan sudah melihat ke 13 mayat itu? itulah buah karya Thianthay-mo-ki.. belum lama dirinya berpisah dengan Thianthay-mo-ki.Tiraikasih Website http://kangzusi.” "Tanpa diselidiki dulu sebab musababnya dan pihak mana yang salah?" "Terhadap orang-orang sebangsa tuan. katanya sambil mengernyit kening: "Nona sendiri yang mengatakan demikian. maka dengan sikap tak acuh ia berkata: "Apakah mereka anak buahmu? Pandai betul mereka mencari kematian?" Berubah rona muka puteri baju putih." Ji Bun naik pitam.

di empat penjuru tergantung lampu-lampu kaca yang membuat tempat ini terang benderang. terunjuk senyuman getir pada wajahnya. tertampak kedua matanya guram. Begitu melihat Ji Bun muncul. rambutnya awut awutan. tepat di tengah-tengah pekarangan. seorang perempuan tampak terbelenggu di cagak sebelah kanan. Menyusuri serambi panjang yang terbuat dari papan-papan batu marmer. begitu gemulai gerak-geriknya sungguh amat menawan hati." dengan gerakan bergontai ia berdiri terus menuju ke belakang deretan patung pemujaan." "Agaknya nona amat yakin. pakaiannya kusut masai. dua diantaranya masing-masing mengacungkan pedang ke Hiat-to mematikan dibadan Thian-thay-mo-ki. "malam ini jangan harap kau bisa bertingkah di sini." jengek puteri berbaju putih dengan nada mencemooh. kalau bukan terluka parah waktu berhantam. dia bukan lain adalah Thian-thay-mo-ki. di balik deretan patung-patung mereka diadang sebuah pintu tengah. nafsu membunuh seketika merangsang hati Ji Bun. .Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Te-gak Suseng. Begitu memasuki pintu tengah ini. Ji Bun mengikut di belakangnya. akhirnya mereka tiba di sebuah pekarangan. tiba-tiba terpancar cahaya aneh pada kedua biji mata Thian-thay-mo-ki namun cepat sekali lantas lenyap pula. tentunya dia disiksa dengan kejam. Empat laki-laki berbaju putih berjajar di belakang cagak. berdiri dua cagak kayu. apa kehendakmu?" "Marilah ikut aku ke belakang. darah meleleh dari hidung dan mulutnya.

Sementara empat orang laki-laki tua berjajar di sebelah kiri. akhirnya tertawan .Tiraikasih Website http://kangzusi.. Pek-sat-sin The Gun tetap mengiringi di belakangnya. di tengah jalan kepergok mereka.” "Kau terluka?" "Ya." . katanya dengan suara gemetar kepada Thianthay-mo-ki : “Cici." Mendadak Ji Bun putar badan. agaknya kepandaian dan kedudukan keempat orang ini tidak rendah. tuan! Pintu neraka sudah terbuka menyambut kalian. apa yang telah terjadi?" Kata Thian-thay-mo-ki sayu: "Tujuanku mengejarmu..com/ Puteri berbaju putih tadi beranjak ke kanan dan berdiri di pinggir sana. malah disiksa pula.. Muka Ji Bun sudah membesi gelap... sekali melejit dia meluncur ke tengah pekarangan.. teriaknya beringas kepada puteri berbaju putih: "Lepaskan dia!" Dingin suara puteri baju putih : "Cagak yang satu itu sudah kusiapkan untukmu.

serunya: "Dik. saking gusar ia malah terbahak-bahak. . jangan hiraukan aku. Puteri baju putih berkata pula: "Betapa cantik rupanya itu." Badik di tangan laki-laki itu tiba-tiba menggores ke muka Thianthay-mo-ki yang cantik itu dan meninggalkan sejalur luka memanjang yang berdarah.com/ Betapa sabar Ji Bun juga tak tertahan lagi. apakah kau sudah bosan hidup?" Tiba-tiba salah seorang berbaju putih di belakang cagak melolos sebilah badik terus diacungkan di depan muka Thian-thay-mo-ki. apa kau senang melihat mukanya berhias?" Agaknya Thian-thay-mo-ki sudah nekat. kenapa ia harus sungkan-sungkan terhadap golongan rendah ini. serunya : ''Bagaimana kalau yang berkuasa di neraka juga takut menerima kedatanganku?" "Kukira pikiranmu yang keblinger!” "Nona masih muda dan cantik rupawan.Tiraikasih Website http://kangzusi. apalagi yang dihadapi adalah Ngo-lui-kiong. kau tahu apa yang harus kau lakukan.

Begitu timbul pikiran ini. Thian-thay-mo-ki pejamkan mata. pandangan yang menyatakan bahwa ia telah berlaku gegabah. dua titik air mata membasahi pipinya. Mukanya merah padam dilumuri nafsu yang membara. ia . tenaga sudah dipusatkan pada telapak tangan kiri. bahwa pihak musuh mulai bergerak sebetulnya malah kebetulan bagi Ji Bun. begitu Ji Bun berkelebat segera ia gerakkan kedua tangannya memapak. namun jiwa Thian-thay-moki terancam di ujung pedang musuh. badannya gemetar menahan emosi. "Su-lo (empat tertua).Tiraikasih Website http://kangzusi." puteri baju putih memberi perintah. Agaknya puteri baju putih sudah menduga dan siaga. menyerahlah saja!" ejek puteri baju putih. "Te-gak Suseng. cepat sekali ia menubruk ke arah puteri berbaju putih itu. seluruh urat nadinya terasa hampir meledak saking gusar dan gugup. membalas budi kebaikan dengan kebrutalan. Dengan tajam ia pandang Thian-thay-mo-ki. namun sedapat mungkin ia tekan perasaannya. dengan langkah rapi dan teratur. jangan kau tidak tahu diri. Menangkap perampok harus menawan pentolannya. "tangkap dia!" Serentak keempat laki-laki tua yang berdiri di sebelah kiri mengiakan. mereka bergerak pelahan menghampiri Ji Bun. Mendelik sebesar kelereng biji mata Ji Bun.com/ Ji Bun mengertak gigi.

ia tetap terkepung oleh empat lawannya.. Jarang Dan . Racun Paling Dikenal. setiap kali menubruk dan menerjang.com/ berduduk sambil melontarkan pukulannya. Tanpa bersuara. Dalam waktu singkat benturan- .19. Dua kekuatan saling bentrok mengeluarkan angin yang berderai ke empat penjuru. "Blum!" di tengah suara dasyat ini. Semua ini terjadi dalam sekejap saja. puteri baju putih menjerit kaget karena tidak menduga bahwa Ji Bun memiliki kekuatan yang luar biasa ini. cukup dengan isyarat kedipan mata serempak keempat laki-laki tua itu dapat bergerak bersama dan menggempur. darah menyemprot dari mulutnya. Hebat sekali Ji Bun mematahkan serangan orang dengan telapak tangan kanan. gerak-gerik Ji Bun sedikit terganggu. setiap kali serangan Ji Bun selalu gagal dan kandas. tampak Pek-sat-sin terhuyung-huyung. namun kekuatannya sungguh hebat luar biasa. Sejak Lwekangnya berlipat ganda. setiap gerakgeriknya membawa desir angin kencang. Sama Angin pukulan dahsyat bersimpang siur menerjang dan menggencet semakin kencang. Dapatkah Thian-thay-mo-ki diselamatkan oleh Ji Bun? Siapakah sebenarnya si pencuri anting-anting milik Ji Bun dan dapatkah ditemukan kembali? 7. Pek-sat-sin yang siap dari samping segera menghantam.Tiraikasih Website http://kangzusi. Dalam pada itu keempat laki-laki tua serba putih juga lantas melompat maju mengurung Ji Bun..

darah tak kuasa ditekan lagi. tanpa terasa Ji Bun menghentikan serangan dan . lambat-laun gerak langkahnya mulai terkendali. Semua hadirin sama berteriak kaget. ia menggeser badan terus mendorong dengan seluruh kekuatannya. ia serang laki-laki tua yang berdiri tepat di hadapannya. salah satu dari Su-lo tampak tergentak mundur jatuh terduduk. Napsu membunuh Ji Bun semakin berkobar. "Berhenti!" hardikan nyaring seolah-olah mempunyai wibawa yang besar. "Huuuaaah!" seorang lagi jatuh terkapar tak bernyawa. beberapa kali berkelebat. lekas ia berputar secara berlawanan dari pusaran kekuatan musuh.com/ benturan keras bagai halilintar menggetar bumi merontokkon debu di atas wuwungan rumah. Gerak-gerik Ji Bun kelihatan semakin semrawut. "Blang". pukulan dahsyat ini dilandasi tambahan damparan kekuatan lawan sehingga menambah perbawa serangannya. Darah tampak meleleh dari ujung mulut Ji Bun. sehingga serangan para lawannya sebagian besar dapat dipunahkan. keruan tersirap darahnya. tiga yang lain sempoyongan mundur. cepat-cepat ia menghimpun semangat memusatkan pikiran. terdengarlah salah satu dari Su-lo menjerit roboh binasa.Tiraikasih Website http://kangzusi. Suara keras kembali berdentuman. Gempuran kekerasan ini boleh dikata sedahsyat ledakan gunung. sekali menggerakkan tangan. Ji Bun nekat. teringat pelajaran tempo dulu waktu dirinya terkepung oleh The Gun. seperti terombang ambing oleh damparan kekuatan delapan jalur pukulan musuh.

sebelum aku mati. teriaknya kalap.com/ memutar badan." ancam puteri baju putih. sorot matanya beringas memantulkan sinar yang mengerikan. sungguh dia tidak tega melihat Thian-thay-mo-ki gugur di depan . Air muka Pek-sat-sin The Gun berkerut berubah bentuk. "agaknya terlalu rendah aku menilaimu. Baru saja Thian-thay-mo-ki hendak membuka suara. agaknya dia tersiksa oleh rasa sakit dalamnya. "Ingin mampus kau!" Segera ia menerjang ke arah cagak. mulut terbuka tapi tak keluar suara. "Te-gak Suseng. seketika badannya mengejang dan merontah-rontah. Ji Bun semakin beringas. puteri baju putih segera menutuk lehernya. Dengan mengertak gigi terpaksa Ji Bun menghentikan aksinya. akan ku beri kesempatan hidup kalian. Beberapa laki-laki baju putih itu juga sama mundur berderet di belakang cagak kayu. katanya: "Lepaskan dia." "Jangan kau mimpi. dia akan mampus lebih dulu." bentak puteri baju putih. jari-jari tangannya yang halus mengancam batok kepala Thian-thay-mo-ki. "Berdiri!" puteri baju putih membentak. wajahnya yang cantik menyeringai seram seperti drakula. Muka puteri berbaju putih membesi berdiri di belakang Thian-thay-mo-ki." Ji Bun menggeram.Tiraikasih Website http://kangzusi.

" . lepaskan dia!" ancam Ji Bun." "Tapi inilah syaratku. Lekas puteri baju putih mencegah.Tiraikasih Website http://kangzusi. soal asal usul jangan harap kau mengetahui." "Syarat apa?" "Terangkan asal usul dan aliran perguruan kalian. tapi ada syaratnya. Dua orang tua yang masih hidup segera menubruk bersama. perhitungan ini boleh kita selesaikan kelak. setelah menepekur sebentar baru berkata: "Lepaskan boleh. "Ji lo harap mundur!" Dengan mendelik gemas terpaksa ke dua orang tua mundur tanpa bersuara. Dua mayat orang tua yang lain segera digotong ke samping oleh empat laki-laki baju putih.com/ matanya secara mengenaskan." "Tak dapat kuterima. "Sekali lagi kuperingatkan." "Soal perhitungan ini selalu kutunggu tuntutanmu di Bulim. Berkilauan biji mata puteri baju putih.

Kedua orang tua baju putih segera menghadang maju. agaknya dalam segebrak Pek-sat-sin juga kena dibereskan oleh si pendatang. Sesosok bayangan berkelebat seenteng. Pandangan laki-laki muka hitam menyapu ke seluruh gelanggang. Pek-satsin The Gun segera berlari masuk ke dalam kelenteng. Pucat beringas muka puteri baju putih. cepat sekali terdengar benturan keras. setan melayang keluar dan berdiri tegak di tengah lapangan. bluk.Tiraikasih Website http://kangzusi." tahu-tahu dua sosok mayat terlempar ke luar jatuh di tengah pekarangan. Ji Bun merasa pernah melihat sorot mata orang ini.com/ Pada saat itulah dua kali lolong jeritan berkumandang dari pintu kelenteng. katanya dingin: . dilihatnya yang datang seorang laki-laki pertengahan umur bermuka hitam. Kiranya mayat kedua laki-laki baju putih. "Blak. kedua matanya menyorot terang. semua orang termasuk Ji Bun sama terperanjat. namun tak teringat di mana dan kapan pernah melihat wajah seperti ini. setelah mampus mayatnya di lempar keluar. seorang di antaranya membentak: "Sahabat orang kosen dari mana?" Waktu Ji Bun berpaling.

perkenalkan dirimu. apakah kalian tidak tahu aturan ini?” Tergerak hati Ji Bun." "Peraturan ini sudah diketahui oleh umum. memang aku inilah. mereka memang harus menerima ganjarannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. malah menyerang lebih dulu." ." "Akulah komandan ronda Wi-to-hwe. Seorang tua baju putih yang lain segera membuka suara: "Sahabat. "Betul." "Kenapa nona membunuh orang di tempat terlarang kami?" "Pihak kalian tak pernah mengumumkan bahwa daerah ini terlarang. nona ini tentunya puteri kesayangan Ciangbunjin Ngo-luikiong In Giok-yan?" "Ya." "Komandan ronda Wi-to-hwe?" puteri baju putih menegas." "Lalu bagaimana komandan harus bertanggung jawab atas kedua jiwa orang kami?" "Orang-orangmu tak mau memperkenalkan diri.com/ "Seratus li disekeliling daerah Tong-pek-san ini dilarang membunuh orang.

Tiraikasih Website http://kangzusi. kata salah seorang: "Sahabat menghina orangkarena merasa berkepandaian tinggi?" "Kalau benar kau mau apa?" jengek laki-laki muka hitam." "Boleh. "Kau harus membayar dengan jiwamu. seketika kedua orang tua baju putih tergeliat. "Daar. Laki-laki muka hitam mengekeh dingin. Wi-to-hwe adalah musuhnya. kaki berkisar maju.com/ Kedua orang tua baju putih menggeram gusar. kini mereka mendapatkan sasarannya." "Jangan bertingkah!" kedua orang tua ini barusan sudah terjungkal di tangan Ji Bun. katanya: "Biar aku menjajal sampai di mana kehebatan Ngo-lui-kang. kedua tangannya terangkat masing-masing menghadapi seorang tua baju putih. hatinya penasaran dan tidak terlampias. . laki-laki pertengahan umur muka hitam juga tersurut mundur setindak. pyaar!" dua kali suara keras. orang-orang Nga-lui-kiong inipun memusuhinya. serempak mereka menyerang. Ji Bun mundur dan menonton sambil berpeluk tangan." Mulut bicara tangan bergerak. kalau kalian yakin bisa menagih kepadaku.

" ujar laki-laki muka hitam." aku tidak ingin membunuh kau. .Tiraikasih Website http://kangzusi." dalam waktu yang sama laki-laki muka hitam juga membentak.com/ biarlah mereka berhantam mati-matian. belum lagi kekuatan pukulan kedua orang tua itu dilontarkan. tak kira laki-laki muka hitam inipun pandai main racun. mendadak tangannya terangkat hendak mengepruk kepala Thian-thay-mo-ki. sudah tentu kedua orang tua baju putih semakin berkobar semangat tempurnya. lalu tak bergerak lagi. mendadak mereka terhuyung mundur sendiri dan sama menjerit: "Racun!" keduanya lantas terjungkal bersama. kau boleh lekas pergi. kembali mereka ayun tangan. Mencelos hati Ji Bun. "Jangan melukainya. laki-laki muka hitam hanya melayangkan kedua tangannya saja dari jauh. Karena lebih banyak seorang. dari kematian kedua orang tua baju putih ia dapat meraba racun yang digunakan laki-laki muka hitam bukan sembarang racun. setelah berkelejetan. ''Nona In. "Berani kau!" bentak Ji Bun dengan gemetar. Sambil gigit bibir sekian lamanya ln Giok-yan menatap laki-laki muka hitam. In Giok-yan atau puteri baju putih tampak pucat. menghadapi damparan angin pukulan sedahsyat gugur gunung ini. ditengah gerungan panjang. hal ini akan menguntungkan dirinya.

Kapan saja kalian boleh menuntut balas.. batok kepala Thian-thay-mo-ki pasti pecah berantakan. secara diam-diam Thian-thay-mo-ki sudah berhasil menjebol tutukan Hiat-tonya." "Jangan kau paksa aku membunuhmu?" Berkeriut gigi In Giok-yan......Tiraikasih Website http://kangzusi." Setelah sekian lamanya." "Maaf tidak bisa .. dia inilah orang berkedok yang pernah turun tangan jahat kepadamu. perkumpulan kami sedang mencarinya. "Aku harus menuntut balas bagi orang-orangku yang menjadi korban keganasannya... lihatlah kulit kepalanya. ... . kalau tenaga dia kerahkan.” ujar laki-laki muka hitam lebih lanjut. hanya serambut telapak tangannya hampir mengenai batok kepala Thian-thay-mo-ki. sorot matanya seketika beringas buas... " "Itu soal lain." "Pihak kami inginkan dia hidup. "Jangan kau melukainya. maka ia bersuara tertahan: "Dik.com/ In Giok-yan melengak." Bergetar pula badan laki-laki muka hitam. katanya penuh kebencian: "Sejak kini Ngo-liu-kiong akan membuat perhitungan kepada Wi-to-hwe.

Kenapa dia ingin membunuhku? Mungkinkah pihak mereka sudah tahu rahasia pribadiku? Berdiri bulu kuduk Ji Bun. kalau Thian-thay-mo-ki tidak memberitahu. Ji Bun mendesis geram sambil mengertak gigi: "He he." "He he he he. namun sebagian masih kelihatan jelas. musuh yang misterius ini mungkin akan dibiarkan begitu saja. waktu ia pandang kepala orang. terasa olehnya seolah-olah sekeliling dirinya sudah diawasi oleh orang-orang mereka.com/ Ji Bun sendiri juga tersentak kaget.Tiraikasih Website http://kangzusi. anak keparat. perbuatan orang ini pasti mempunyai latar belakang. agaknya Thian memang sudah mengatur pertemuan kita malam ini." "Anak keparat. walaupun ditutupi rambut. Laki-laki muka hitam mendadak menghampiri Ji Bun malah. kebencianpun meresap pada sendi-sendi tulang dan di dalam aliran darahnya. Tak nyana bahwa orang yang menyaru ayahnya dan turun tangan dua kali secara keji terhadap dirinya ternyata adalah orang Wi-to-hwe pula. ia harus bikin terang persoalannya lebih dulu. diatas telinga kanan laki-laki muka hitam ini ada bekas codet memanjang. maka ia berkata: . rupanya nyawamu masih panjang?" "Perbuatanmu sungguh rendah dan memalukan. memang betul. malam ini kau pasti mampus!" Amarah membakar dada Ji Bun. namun ia menekan sekuatnya.

telapak tangan kiri dikerahkan sepenuh tenaganya. dua kali jiwaku hampir tamat karena pembokonganmu. telapak tangan kanan juga menabas. siapa yang suruh kau berbuat jahat kepadaku?" "Terserah bagaimana dugaan dan pikiranmu?" "Siapa yang menyuruhmu?" Ji Bun menegas pula. ingin aku mampus? Kita belum pernah kenal. tidak bermusuhan lagi bukan?" "Kukira tiada perlunya kuberi penjelasan." Ji Bun tak kuasa mengendalikan emosinya lagi." "Kau." "Di balik semua peristiwa ini pasti ada orang yang mengendalikan.com/ "Tuan turun tangan dengan segala cara yang rendah dan kotor. lampu-lampu kaca yang bergantungan sama pecah . ujarnya: "Karena aku ingin kau mampus. setelah mampus kau akan mengerti. Laki-laki baju hitam tidak gegabah. hawa panas serasa pecah berderai ke empat penjuru. bentaknya: "Akan kubikin kau hancur!" Di tengah hardikannya. iapun angkat tangan menyambut dengan kekerasan.Tiraikasih Website http://kangzusi. ditengah suara gemuruh yang menggetar bumi. kenapa?" Laki-laki muka hitam menyeringai sadis. "Jangan mengoceh saja.

betapapun dia masih bukan tandingan musuhnya. Ji Bun inipun berhasil memukul dada lawan. Begitu cepat gerakan laki-laki muka hitam. tidak berkelit dia malah memapak maju. telapak tangannya tegak menebas ke dada lawan pula. Jubah Ji Bun tercengkeram robek tak keruan sehingga lengan kirinya yang disembunyikan di dalam baju kelihatan. di sana terdengar suara gedebukan. empat orang anak buah In Giok-yan sama terjungkal roboh tak bernyawa. Laki-laki muka hitam tertawa sinis. . untung dia mendapat saluran Lwekang orang tua aneh. "Tangan!" Thian-thay-mo-ki dan In Giok-yan menjerit bersama tanpa berjanji.com/ berjatuhan. yang masih hidup sama terpaku gemetar. seorang segera melepas tali-tali yang membelenggu Thian-thay-mo-ki. tahu-tahu badannya berkisar satu lingkaran ke sana. kecepatannya laksana kilat menyamber. Kebetulan bagi Ji Bun. Dua keluhan keluar dari dua mulut. Ji Bun tergeliat.Tiraikasih Website http://kangzusi. Lekas In Giok-yan memberi isyarat kepada anak buahnya. tanpa berhenti tiba-tiba dia menubruk kearah Ji Bun seraya mencengkeram dadanya. Ji Bun sendiri bergidik melihat kehebatan gerakan ini. sementara laki-laki muka hitam terpental mundur empat langkah. beberapa orang di belakangnya segera maju. tiba-tiba bayangannya berkelebat ke tempatnya semula pula. Namun tangan kiri beracun.

. Sebelum badannya tersungkur jatuh ke tanah. Ji Bun memburu maju terus mencengkeram baju dada orang serta menjinjingnya. darah meleleh dari mulut dan hidungnya. Laki-laki muka hitam mendongak sambil tergelak-gelak. teriaknya beringas: "Matipun takkan kubiarkan badanmu utuh .. Gerak gerik laki-laki muka hitam sungguh laksana kilat. laki-laki muka hitam lantas terkapar celentang. betapa keras genjotan jarak dekat ini. ..com/ Setelah terhuyung dua langkah.. Mimpipun Ji Bun tidak menyangka lawan bakal pura-pura terluka parah oleh racunnya dan secara mendadak membokongnya pula. tiba-tiba telapak tangan laki-laki muka hitam menggenjot ke dada Ji Bun." belum habis dia berkata. sebat sekali laki-laki muka hitam melejit maju sambil ulur tangan mencengkeramnya. belum lagi Thian-thay-mo-ki berlari mencapai tujuannya. Sebaliknya hancur luluh hati Thian-thay-mo-ki. apalagi lawan memang sudah siap dan menghimpun setaker tenaganya. kontan Thian-thay-mo-ki terpental. dengan menjerit kalap segera ia meronta sehingga tali yang meringkusnya itu putus berkepingkeping. Thian-thay-mo-ki dan ln Giok-yan sama menjerit kaget. perubahan ini terjadi secara mendadak pula sehingga membuatnya tertegun kaget. Dengan muntah darah Ji Bun terlempar beberapa tombak jauhnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Tak pernah terpikir oleh In Giok-yan bahwa Thian-thay-mo-ki mampu menjebol Hiat-to yang tertutuk. beruntung ia melontarkan tiga kali pukulan.

katanya. "Tangan bocah keparat ini beracun. badannya harus dileburkan supaya tidak menimbulkan bencana bagi orang lain. iapun mati kutu. kau takkan menjadi setan!" sorot matanya semakin jalang. . Sambil menyeret Thian-thay-mo-ki. "Ha ha ha. laki-laki muka hitam mendekati Ji Bun. orang-orangmu di luar masih hidup." "Baik." In giok-yan membanting kaki. hatinya jahat lagi. nafsu birahinya tampak berkobar. mayat teman-temannya pun tak sempat diurus lagi.com/ In Giok-yan masih melenggong ditempatnya. menjadi setanpun takkan kuampuni kau!" desis Thian thaymo-ki. serunya: "Sejak kini kami bersumpah takkan hidup sejajar dengan Wi-to-hwe!" Habis berkata ia gerakkan tangan terus bergegas keluar. nona ayu. anak buahnya yang masih tersipu-sipu mengintil di belakangnya. hanya Hiat-tonya saja tertutuk.Tiraikasih Website http://kangzusi. Kata laki-laki muka merah sambil melirik kepada In Giok-yan: "Sebelum pikiranku berubah ingin membunuhmu. "Apa yang hendak kau lakukan?" teriak Thianthay-mo-ki serak. lekas kau enyah dari sini. Laki-laki muka hitam menyeringai seram.

namun anak buahnya ternyata melakukan perbuatan serendah dan sekotor ini." sekonyong-konyong seseorang bersabda dengan suara lantang.com/ Karena urat nadi tangannya terpegang. tidak nampak tanda terluka. terasa badannya ikut terseret mundur gentayangan." Suara yang keras berisi ini membuat Thian-thay-mo-ki tersentak sadar dari kepedihannya. namun di depan sana tahu-tahu berdiri seorang Hwesio besar yang kereng berwibawa. waktu dia angkat kepala. "0-mi-to-hud (Amitha Budha). apalagi Lwekang laki-laki muka hitam jauh lebih tinggi. umpama dia tidak tertawan juga takkan mampu melawan. bentaknya menatap tajam lakilaki muka hitam: "Lepaskan perempuan ini!" . dilihatnya pujaan hatinya masih rebah tak bergerak. "Blang". "Siapakah Toa-hwesio ini?" tanyanya. Thian-thay-mo-ki tak mampu meronta. Thian-thay-mo-ki pejamkan mata dan menjerit tertahan. tiba-tiba kedua biji matanya memancarkan sinar terang. ini membuktikan bahwa hatinya agak jeri. "Pinceng Thong-sian." sahut hwesio itu. Laki-laki muka hitam angkat tangannya terus mengepruk ke batok kepala Ji Bun. hancur luluh hati Thian-thay-mo-ki. Jari-jari laki-laki muka hitam yang memegangi Thian-thay-mo-ki terasa rada gemetar. serasa sukmanya ikut terbang bersama nyawa Ji Bun yang sudah tamat.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Wi-to-hwe hanya namanya saja membela keadilan dan menegakkan kebenaran.

sebat sekali ia terus melesat keluar. "Cret". Thong-sian bersabda sekali lagi. segulung angin segera meniup dari mulutnya ke arah lampu gelas yang tergantung lima tombak diemperan sana.com/ "Cayhe hanya bertindak menurut perintah. tiba-tiba bibirnya mencebir. sehingga luncurannya bertambah jauh ke sana dan jatuh terguling di . katanya: "Silakan Toa-hwesio unjukkan dulu kepandaian.Tiraikasih Website http://kangzusi. mendadak ia lempar Thian-thay-mo-ki ke arah Thong-sian." "Pinceng suruh kau melepaskan dia." “Perintah siapa?" "Sudah tentu Hwecu (ketua) kami. kaki kanan berkisar ke samping sehingga tubuhnya ikut menyingkir." Berputar biji mata laki-laki muka hitam. Tak nyana daya luncuran tubuh Thian thay-mo-ki yang terlempar ini sungguh kencang. sebetulnya ia tak mau bersentuhan dengan tubuh perempuan." lenyap pujiannya. supaya Cayhe ada alasan untuk memberi laporan?" Tong-sian berpikir sebentar. sinar apipun seketika padam. Bergetar suara laki-laki muka hitam: "Sian-thian-cin-kin. kalau tidak terpaksa Pinceng melanggar pantangan. hebat betul Lwekang Toa-hwesio. lampu gelas itu tahu-tahu berlubang sebesar jari.

dengan cepat pikirannya lantas sadar dan jernih kembali. segera iapun memburu . ia coba mengempos semangat. namun kenapa sekarang tidak merasakan sakit atau luka-luka. "perbuatan kejam dan keji. mulutnya masih sempat berpekik: "Racun!" Badannya terus lunglai tak bergerak lagi. "Haya!" tiba-tiba ia berpekik mengawasi Thian-thay-mo-ki yang menggeletak tak bergerak di atas tanah. jelas tadi dadanya terpukul serangan dahsyat yang mematikan. dalam hati diam-diam ia amat kaget. Tak lama setelah Thong-sian melesat terbang mengejar musuh. setelah menghirup napas panjang ia berkata: "Jiwa manusia begini culas.Tiraikasih Website http://kangzusi. tiada rasa kesakitan sedikitpun. mengejar ke sana. Kenapa? Matanya menjelajah sekelilingnya ia ingin memperoleh jawab akan pertanyaan hatinya. Pinceng salah hitung dan dikelabui. Apakah sudah mati? Demikian ia membatin. "Amitha Budha. tiba-tiba Ji Bun merintih sekali terus membuka mata. Pelan-pelan dia berdiri. sekejap dia celingukan terus geleng kepala.com/ tanah. bukan sekali ini saja kejadian demikian berlangsung." Cepat ia melangkah maju serta meraba pernapasan Thian-thay-mo-ki katanya membanting kaki: "Celaka!" Tiba-tiba badannya melenting tinggi terus melayang bagat seekor bangau. semua kejadian segera terbayang di dalam benaknya." Thong-sian bersabda pula. kenapa aku selalu kena diselomoti?" Di mana matanya menyapu pandang. tiada seorang hidup yang dilihatnya. dua lampu kaca masih menyala menerangi mayat-mayat yang bergelimpangan di tanah. Lwekangnya masih penuh berisi.

tidaklah heran kelak tidak takut racun malahan juga pandai menggunakan racun.Tiraikasih Website http://kangzusi. “Racun. kecuali ayah dan dirinya. mukapun terasa panas. namun racun yang ini adalah racun yang paling dikenal. racun jahat macam apapun ia masih sanggup menawarkannya. ia buka mata pula terus meraba pernapasannya. Kalau laki-laki muka hitam itu adalah komandan ronda dari Wi-to-hwe. Kini dia ganti tangan kanan. masih ada orang lain yang pandai pula menggunakan racun ini? Tiba-tiba ia teringat akan Cui Bu-tok. begitu tangannya meraba tubuh orang. payudaranya yang montok menongol keluar. "aneh betul" Yang membuatnya heran dan kaget bukan lantaran Thian-thaymo-ki terkena racun. asal daya hidupnya masih kuat bertahan. Cepat ia pejam mata. cepat ia raba urat nadi. bukan mustahil dia adalah murid didik Cui Bu-tok.com/ maju. setelah tenangkan diri. lalu memeriksa kelopak matanya juga. seketika ia bergidik gemetar. . Ternyata karena gugup dan gelisahnya. seketika semangat Ji Bun seperti terbang keawang-awang." gumamnya. sungguh tak pernah terpikir olehnya. terasa denyutnya amat lemah. juga racun yang jarang terdapat di dunia ini. Lekas dia membalik jazad orang. darah seketika bergejolak. tertampak sebutir buah anggur merah menghiasi bukit tandus nan putih licin ini. si ahli racun sakti yang kini berada di Wi-to-hwe. tiada daya hidup sedikitpun. baju didepan dadanya yang robek tersingkap. tanganpun ditarik. tangan yang diulur hendak meraba adalah tangan kirinya yang beracun jahat.

pelan-pelan Thianthay-mo-ki mulai bergerak lalu membuka mata. Mana Hwesio gede yang bergelar Thong-sian itu? Untung dia muncul tepat pada waktunya. Ji Bun juga amat terharu.. katanya.. setelah melihat keadaan sekitarnya.. teramat beracun?" Thian-thay-mo-ki menegaskan dengan kaget. seiring dia tutuk pula beberapa Hiat-to dibadannya. terpaksa Ji Bun bicara terus terang: "Cici. . seketika mukanya menjadi merah. soalnya tanganku teramat beracun . kalau tidak pasti kau sudah binasa di tangan komandan ronda Wi-to-hwe tadi. segera ia meloncat bangun. Bu-lim-siang-koay Lekas ia ke!uarkan obat penawat racun terus dijejalkan ke mulut Thian-thay-mo-ki.20.” "Apa. cepat ia membetulkan bajunya yang sobek dan berkata: "Dik.com/ 7. sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata.. waktu ia menunduk. tanganmu ternyata tidak cacat?” Karena rahasia sudah terbongkar. katanya dengan penuh haru: "Dik." "Waktu aku siuman keadaan sunyi senyap tak kelihatan seorangpun." Thian-thay-mo-ki merasa dadanya dingin.Tiraikasih Website http://kangzusi. Kira-kira segodokan air mendidih. "Cici juga tidak apa-apa?" "Aku tidak apa-apa. kau masih hidup? betapa besar perhatiannya.

. siapa saja bila tersentuh kulitnya.. katanya heran dan bingung: "Nyonya berbaju hitam." Tegak alis Ji Bun.” “Siapa?" tanya Ji Bun.Tiraikasih Website http://kangzusi." Perawakannya sedang? Mungkinkah . Serius dan penuh perhatian rona muka Ji Bun. "Siapakah dia?" . O ya.. siapa namanya?"“Entahlah. sang korban tak memperlihatkan tanda yang mencurigakan. lama sekali baru dia bersuara dengan penuh emosi: "Wajahnya welas asih?" "Ya. secerah sinar surya di pagi hari pada musim semi.. selama ini kulupa memberitahu padamu. sekarang kuingat seseorang. namun bagi orang yang mengerti soal racun dengan cepat akan dapat diketahuinya. "Seorang nyonya berpakaian hitam yang berwajah welas asih.. segera racun akan menyerang jantung dan kematian. kukira kau mengenalnya." "Pantas kau melarang orang menyentuhmu..” lalu Thian-thay-mo-ki menceritakan kejadian yang dialaminya dulu. setelah aku meyakinkan semacam ilmu beracun yang sudah lama putus turunan.com/ "Benar. dia tidak memperkenalkan diri.

buat apa kau menempuh bahaya. ah. lalu siapakah dia? Suatu teka teki yang meresahkan hati pula.com/ "Ibuku!" jawab Ji Bun.. "Tapi. untuk sementara biarlah kita berpisah di sini saja. kau hendak berpisah dengan aku? Kau tak sudi berteman denganku lagi?" "Tidak.Tiraikasih Website http://kangzusi. terpaksa dia. berkata dengan rawan: "Sudahlah." Ji Bun tenggelam dalam alam pikirannya. tak mungkin dia meninggalkan diriku terkapar begitu saja." "Tidak.” "Apa aku tak bisa membantu. sementara tak urus persoalan ini. ia kecuali ayahnya hanya ibunya saja yang tahu akan rahasia tangannya vang beracun. umpama dia salah periksa dan menyangka dirinya sudah mati.. dia tidak berkata apa-apa lagi. suaranya gemetar: "Dik. tetap tidak menemukan jawabannya. Setelah berpikir pula sebentar. begitu besar kasih sayangnya terhadap dirinya... Lalu apa pula yang dikatakannya?" "Tidak ada.. tak mungkin dia berpesan kepada orang lain untuk mengurus jenazahnya. Cici jangan salah paham. namun ibunya tak pernah memakai baju hitam. aku ada urusan penting ." "Menempuh bahaya? Aku malah ingin ikut. Ke mana? Menyelesaikan urusan apa?” ." Berubah wajah Thian-thay-mo-ki. Cici..

disadarinya bahwa kesan buruknya dulu ternyata tidak berdasar sama sekali. ingin dia berbincang beberapa kata. berbagai peristiwa telah menjalin hubungan mereka semakin dekat dan intim. apa yang hendak kau lakukan?" Ji Bun menggeleng-geleng tanpa menjawab.Tiraikasih Website http://kangzusi. Ji Bun tiba di puncak utara Tongpek-san. Dikala malam berganti pagi. katanya: "Maafkan Cici. sorot mata nan pilu dan syahdu membuat hatinya terguncang. namun kata-kata dan sikapnya sekarang adalah tulus." kata Thian-thay-mo-ki. sikap dan kesannya terhadap Thian-thay-mo-ki sudah jauh berubah." Setelah berkata ia terus berlari pergi ditelan kegelapan. ada kesulitan yang tak bisa kuterangkan. meski asmara Ji Bun hanya timbul di dalam relung hatinya yang paling bawah. kita pasti akan bertemu lagi. "Jangan serba susah dik.com/ Serba susah Ji Bun dibuatnya. "Dik. Sesuai apa yang dinamakan "cinta timbul setelah bergaul yang lama." Dengan rasa iba dan penuh penyesalan Ji Bun menatapnya dalam-dalam. "katakan. di sinilah tempo hari peresmian berdirinya Wi-to-hwe . jika aku tidak mati. ia tidak ingin Thian-thay-mo-ki ikut menempuh bahaya. akhirnya ia mengeraskan hati. setelah bergaul sekian lama ini. kau pergilah. namun tak kuasa diucapkan.

hatinya menjadi bimbang. akhirnya berhenti disebuah hutan yang berhawa sejuk nyaman dan sunyi. bila dirinya memperkenalkan diri dan menantang untuk menuntut balas secara terus terang. Dia perlu berpikir pula dengan kepala dingin. Dia menilai Lwekangnya sendiri. Situasi mengubah dirinya menjadi tabah dan pendiam. betapa akibatnya dia tak berani membayangkan. dan yang terpenting. terpaksa taruhannya harus cermat dan teliti. pihak musuh pasti akan turun tangan keji dengan tanpa mengenal kasihan. namun kalau melawan orang di dalam tandu dan Wito-hwecu masih merupakan tanda tanya besar. Kalau Menggunakan akal. sekarang untuk melawan satu persatu dengan tokoh-tokoh kosen macam Siang-thian-ong masih cukup mampu. maka ia berlari sepuluh li ke arah yang berlawanan. Semula kedatangannya dirangsang emosi yang berkobar untuk menuntut balas. serupa seorang setan judi. tapi kalau menghadapi keroyokan mereka. setiba di tempat tujuan. karena belum memperoleh langkah-langkah yang dirasa baik untuk menjalankan aksinya. Sejauh ini ayahnya tidak pernah muncul dan mengadakan kontak . Situasi agaknya menyudutkan dirinya untuk berlaku nekat secara untung-untungan. disaat menyadari bahwa modalnya bertaruh kurang banyak.Tiraikasih Website http://kangzusi. setelah memilih tempat yang tersembunyi. dia lalu duduk bersimpuh dan mulai putar otak. wataknya nyentrik yang dulu sudah tersapu bersih. dalam keadaan yang serba salah ini tentu sukar turun tangan baginya. dari sini ke lembah sana akan langsung menuju ke markas besar Wi-to-hwe. dikuatirkan asal usul sendiri sudah terbongkar oleh pihak sana.com/ diadakan.

Karena apa dia begitu sedih? Kenapa berkeluh kesah seorang diri ditempat sunyi ini? Seperti bara api di bawah sekam.Tiraikasih Website http://kangzusi. Semakin dekat isak tangispun semakin terang dan keras. Pui Ci-hwi menggelendot dibatang pohon. orang takkan menangis begitu sedih. Inilah kesempatan baik. cari keterangan Toh Ji-lan kepadanya untuk menunaikan pesan . asmara yang sudah hampir padam direlung hatinya tiba-tiba berkobar pula. Seketika Ji Bun berdiri tertegun. namun gejolak perasaannya tak bisa dikendalikan. Siapa yang menangis di hutan belukar yang sepi ini? Sebetulnya ia tak ingin ambil peduli. tapi bagi seorang perempuan persilatan. Mendadak bayangan merah sesosok tubuh orang muncul di depan. kalau tidak kebentur suatu peristiwa yang betul-betul mengetuk hati sanubarinya. namun sebuah pikiran lain segera menyangkal alam pikirannya ini nona itu adalah komplotan musuh. Disaat hatinya risau dan gundah tak bisa ambil putusan. isak tangisnyapun begitu pilu. ke dua pundaknya tampak gemetar. sungguh di luar dugaannya bahwa orang yang menangis ini ternyata adalah gadis berbaju merah.com/ pula. Pui Ci-hwi. tiba-tiba kupingnya mendengar suara isak tangis perempuan yang sayupsayup terbawa kesiur angin. memang kaum perempuan suka menangis. akhirnya ia berdiri dan melangkah ke arah datangnya suara tangisan. segera timbul ilham dalam benak Ji Bun. hal ini menyebabkan dia harus bertindak secara diam-diam seorang diri.

mengorek pula keterangan... hal inilah yang paling penting. Terdengar nenek itu berkata dengan nada kereng berwibawa: "Budak usil. hayo pulang. Sekonyong-konyong sesosok bayangan berkelebat. Nenek itu mendengus geram. begitu iba dan memelas sekali keadaannya.. Tentunya nenek ini juga salah seorang anggota Wi-to-hwe.. katanya: "Berani kau bertingkah dengan adatmu. Demikianlah Ji Bun sudah berketetapan.. pasti dia inilah yang merebut Pui Cihwi dari tangan Liok-Kin. hati Ji Bun ikut terharu.." Pui Ci-hwi membalik serta angkat kepala... disaat dia hendak bertindak . lekas Ji Bun tarik kakinya yang sudah terangkat hendak melangkah itu. serta menyelinap ke belakang pohon.Tiraikasih Website http://kangzusi. tahu-tahu seorang nenek berpakaian warna-warni bagai setan berkelebat muncul disamping Pui Ci-hwi. apa pula sebab dan alasan mereka turun tangan sekeji itu. wajahnya sayu penuh kepedihan. suaranya tegas dan tandas: "Lolo (nenek)..com/ orang tua aneh sebagai imbalan budinya yang telah menyalurkan Lwekang kepada dirinya. apakah mereka sudah tahu akan asal usul diriku." . aku tidak mau pulang" Air matanya bercucuran membasahi mukanya. Tanya pula siapa saja yang ikut serta dalam pembantaian besar-besaran di Jit-sing-po yang menimbulkan korban begitu banyak dan mengerikan. nenek ini pernah muncul di Pek-ciok-hong waktu terjadi perebutan Sek-hud tempo hari.

lekas sekali dia sudah putar balik... katanya dengan isak tangis yang memilukan: "Lolo. siapa yang telah menyalahi kau.." "Lolo. nenek itu berkata dengan suara lebih lembut: "Anak bodoh. entah apa hubungan antara tua dan muda ini? Kenapa pula dia mengucapkan kata-kata yang begitu putus asa.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Apa-apaan ucapanmu. katakan. sebetulnya apa sebabnya kau sampai berpikir sependek ini?" Pui Ci-hwi menunduk sambil menangis gerung-gerung.. maafkan anak Hwi yang tidak berbakti ini . tak berarti hidupku ini... tangannya ." Ji Bun yang mencuri dengar menjadi keheranan. seperti membujuk anak kecil saja ia berkata: "Anak bodoh. hanya ingin mati.. tibatiba nenek itu mendengus sekali. Setelah menghela napas.." kata-kata selanjutnya tertelan dalam tenggorokan.. budak bodoh. tahu-tahu dia putar tubuh terus melompat pergi. Lolo akan melampiaskan kedongkolanmu?" Semakin keras isak tangis Pui Ci-hwi mendengar bujukan ini. aku .. "Lalu apa keinginanmu?" "Aku . sama sekali dia tak dapat bicara..com/ Tiba-tiba Pui Ci-hwi tekuk lutut.. Nenek itu mengelus rambutnya..

" Sekali angkat seperti menjinjing anak ayam saja si nenek mengangkat Liok Kin tinggi-tinggi. ternyata orang ini bukan lain adalah putera Cip-po-hwecu. maka sengaja aku susul kau kemari. aku hanya ingin mati ditanganmu . Liok Kin berhasil mengorek keterangan rahasia Sek-hud dari mulut Pui Ci-hwi. bocah inikah yang menyakiti hatimu? Kenapa tadi kau mohon ampun baginya?" Tersipu-sipu Liok Kin merayap bangun. Waktu melihat orang baju putih ini.." . berdegup jantung Ji Bun. bentaknya bengis: "Bocah keparat.” lalu ia berlutut dan menyembah.. Sambil menuding Liok Kin nenek itu berkata: "Budak. Dengan mengertak gigi Pui Ci-hwi melotot kepada Liok Kin.Tiraikasih Website http://kangzusi. yaitu Liok Kin adanya.. aku tidak ingin mohon pengampunan. memang akulah yang ceroboh sampai berbuat tidak senonoh terhadapmu. "Bluk". air matapun bercucuran. desisnya penuh kebencian: "Akan Kubeset kulitmu dan kulebur badanmu. katanya penuh nada sedih kepada Pui Ci-hwi: "Adik Hwi. akan kucincang kau. sehingga Sek-hud terjatuh ke tangan Biau-jiu Siansing. orang baju putih itu mengeluh kesakitan. dengan cara rendah dan kotor.. ternyata pemuda bergajul ini masih berani kelayapan di Kang-ouw. aku tahu matipun takkan setimpal menebus dosaku.com/ menjinjing seorang berpakaian putih. memang pemuda yang tidak tahu diri. ia banting orang itu ke tanah.

jangan kau terkibul oleh mulut manisnya. memangnya kau belum cukup menderita? Masa kau belum melihat watak bejat bocah bergajul ini?" "Lolo." Liok Kin menjerit jatuh dua tombak jauhnya. tangannya sudah bergerak terentang ke dua samping . semoga pada penitisan mendatang kita berkumpul lagi!" seru Liok Kin. "Lolo!" Pui Ci-hwi memekik dengan suara serak. jaraknya hanya beberapa kaki saja. Si nenek melempar Liok Kin ke atas terus menangkap kedua kakinya. Sebetulnya ingin Ji Bun menghantamnya mampus.. Tak keruan rasa hati Ji Bun.." "Ai. apa sih maksudmu sebetulnya?" "Harap Lolo suka membebaskan dia. selamanya aku mencintaimu. "Blum.com/ "Adik Hwi. suka mengampuninya.. apa betul bocah she Liok ini menaruh cinta secara murni? Sungguh meragukan. "Budak.... kebetulan dia terlempar ke arah tempat sembunyi Ji Bun... dia heran dan bingung.. harap engkau .Tiraikasih Website http://kangzusi. Terpaksa si nenek menghentikan gerakannya.." "Apa? membebaskan dia? bukankah kau ingin membeset tubuhnya? Budak. namun ia masih dapat bersabar. pemuda berhati serigala macam ini. ." nenek itu berkeluh terus ayun badan Liok Kin serta melemparnya pergi.

" Si nenek menjadi tidak sabar. sekali salah langkah." ." Liok Kin menatap Pui Ci-hwi terakhir kali. katanya mohon kasihan: "Adikku tercinta. sukalah kau sempurnakan diriku saja." "Enyahlah kau!" bentak Pui Ci-hwi beringas. kalau tidak kubunuh kau. bentaknya dengan mendelik: "Keparat. selamat berpisah. dengan nada yang penuh iba Liok Kin barkata: "Adik Hwi. katanya dengan muka sedih dan mewekmewek: "Adik Hwi. sukalah adik mengabulkan keinginanku. jangan jual lagak kalau ingin hidup lekas menggelinding pergi. aku bersumpah kepada Thian. maaf kalau tidak kuucapkan selamat berjumpa lagi.com/ Sekian lama setelah rasa kesakitan lenyap baru Liok Kin mampu merangkak berduduk. Setelah menghela napas." Pui Ci-hwi membanting kaki sambil menutup muka dengan kedua tangannya. selama hidupku hanya adiklah yang terisi dalam kalbuku. apa pula faedah hidup dalam dunia ini. aku tahu selama hidup ini takkan bisa mempersunting dirimu lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi. Liok Kin berkata pula: "Adikku yang terkasih. bentaknya: "Enyahlah kau!" Suaranya jauh lebih lemah dan tidak sebengis tadi. aku hanya ingin mati untuk menebus dosaku.

ternyata yang dimaksud bukan dirinya. Ada keinginan Ji Bun mengejar Liok Kin dan membunuhnya. Tengah ia berpikir-pikir. Waktu ia mengintip ke sana. kau?" . dilihatnya yang muncul adalah seorang Thauto atau imam piara rambut yang sudah ubanan dengan rambut terikat gelang perak di atas kepalanya. namun suaranya tidak keluar. cuma yang dia kuatirkan adalah nenek berpakaian warna warni ini. banyak persoalan yang harus mendapatkan jawaban dari mulutnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. memangnya perlu dipersilakan keluar?" Bergetar hati Ji Bun. Diam-diam Ji Bun merasa lega.com/ Habis kata-katanya segera ia putar badan terus berlari sekencang-kencangnya. tidak lekas menggelinding keluar sendiri. Tangannya menjinjing sebatang sekop besar. ia harus mencari kesempatan untuk bicara dengan Pui Ci-hwi. ia kira jejaknya sudah konangan. Pui Ci-hwi sudah membuka mulut hendak berteriak. namun pikiran lain membatalkan niatnya. teriaknya dengan terbeliak: "Oh. bayangan seorang berperawakan besar tiba-tiba muncul dari semaksemak dedaunan sana. hal ini jauh lebih baik dari pada dia main teka teki sendiri. air mata kembali berderai. Agaknya nenek itu juga merasa diluar dugaan. tiba-tiba terdengar suara tawa dingin yang berat. baru saja ia hendak keluar. tiba-tiba didengarnya si nenek mengejek dingin: "Siapa itu. beratnya mungkin ada seratusan kati.

kabarnya kedua orang aneh ini akhirnya gugur bersama setelah saling berhantam sengit. mayat mereka yang terjatuh ke dalam jurang tak ditemukan. Terdengar Pek-siu-thay-swe menyeringai seram menunjukkan gusinya yang ompong: "Jay-ih-lo-sat. Puluhan tahun yang lalu. memang tidak kusangka. katanya dengan cengar-cengir: “Tidak sangka bukan?" "Hm. kukira kau sudah lama mampus dan tinggal tulang belulangmu saja. dengusnya: "Katakan terus terang. siapa yang akan membereskan mayatmu?" Si nenek menarik muka. "Pek-siu-thay-swe." . kejam dan keji." si nenek menggeram. agaknya berita yang didengarnya itu jauh menyimpang dari kenyataan." Hati Ji Bun betul-betul amat terkejut. buktinya kedua orang aneh ini sekarang muncul berhadapan pula di sini. setombak jauhnya baru berhenti. tokoh-tokoh dari aliran putih dan golongan hitam sama lari terbirit-birit bila mendengar nama mereka. Kedua orang aneh ini samasama bertabiat miring dan menyendiri.Tiraikasih Website http://kangzusi. apa maksud kedatanganmu?" "Tentunya membuat perhitungan lama itu. jadi si nenek ini adalah Jay-ih-lo-sat tentunya. tak nyana bahwa Thauto ini adalah salah satu dari Bu-lim-siang-koay (dua orang aneh dari Bulim) yang pernah dia dengar dari cerita ayahnya. kalau aku mampus. Jika begitu.com/ Tak acuh sikap Thauto itu melangkah ke depan si nenek.

. dari mulut Pui Ci-hwi dia akan berhasil membongkar segala persoalan yang selama ini mengganjal hatinya. Pada saat ia hendak menggeremet . katanya: "Budak. Bibirnya bergerak. silakan turun tangan. akhirnya ia membungkuk memberi hormat terus beranjak ke luar hutan. pergilah kau.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Nanti dulu peraturan lama tak boleh dilanggar. selama kita bergebrak aku tidak ingin ada orang ketiga hadir di sini.com/ "Dengan cara apa kau hendak membuat perhitungan?" "Pertempuran di puncak Kim-ting di gurun Gobi pada 30 tahun yang lalu tadinya kukira bakal menentukan siapa unggul dan asor di antara kita...” "Jadi maksudmu ingin menyelesaikan persoalan itu sampai salah satu pihak menemui ajal.." "Memangnya kau kira bisa hidup lagi?" “Baik." sahut Pui Ci-hwi tertegun. Terbangkit semangat Ji Bun.. "aku tak mau pulang.” "Lolo. pulang saja." "Kau mau ke mana? Berani kau tidak patuh pada omonganku?" Rawan pandangan Pui Ci-hwi. tak nyana kini kau masih tetap hidup . inilah kesempatan baik.. namun urung bicara.." Jay-ih-lo-sat mengulap tangan kepada Pui Ci-hwi.

sudah tentu Ji Bun tak bisa ngeloyor pergi. menggelinding keluar!" Karena jejaknya sudah konangan.Tiraikasih Website http://kangzusi. taruhlah golokmu dan sembahlah pada Buddha. tiba-tiba Pek-siu-thay-swe berseru: "Anak muda. "Apa maksudmu?" Pek-siu-thay-swe menghentikan gerakkannya sambil menoleh.... cepat ia sembunyikan lengan kirinya ke dalam baju terus melangkah keluar. jahat dan baik hanya terpaut segaris saja. sungguh berita gembira dalam Bu-lim sepanjang masa ." "Hwecu. hampir aku lupa bahwa Jay-ih-lo-sat sekarang juga membela keadilan menegakkan kebenaran segala. "Tahan!” bentak Jay-ih-lo-sat..com/ mundur untuk mengejar Pui Ci-hwi. Tanpa bicara Pek-siu-thay-swe angkat sekop terus mengepruk kepala Ji Bun.. "Kau dilarang menyentuhnya." "Siapa sih dia?" "Teman Hwecu kami.” "Kenapa harus ditertawakan." "Jay-ih-lo-sat sudah telanjur kotor dan bau darah kedua tangannya. Ha ha ha. memangnya juga bisa diterima menjadi murid Buddha?" .

jangan takabur. daripada Lohu sendiri yang bekerja. anak muda!" "Dia justeru harus tetap di sini." "Berita aneh." "Syarat apa?" "Dia harus mampu melawan sekali pukulan Lohu. tapi ada syaratnya.” "Hm. sebagai seorang anggota Wi-to-hwe.Tiraikasih Website http://kangzusi.. "Baiklah. kulanggar kebiasaanku sekali ini." "Pek-siu-thay-swe.. kau paksa aku melanggar kebiasaan..com/ "Tak perlu banyak cerewet!" sahut si nenek.. lekaslah enyah. baiklah. sebagai wasit dan menjadi saksi. meski untuk menyelesaikan urusan pribadi juga tidak ditertawa orang. berita aneh! Ha ha! Nenek tua renta seperti kau ini juga memerlukan wasit dan saksi segala ." "Apa dia setimpal jadi saksi?" "Kenapa tidak setimpal?" "Nenek cerewet. biar dia di sini supaya bisa mengurus mayatmu nanti.. memangnya kau bermaksud membunuhnya bukan?" .

di dalam melaksanakan rencananya menuntut balas. namun ia ingin mendapat kesempatan menyaksikan kepandaian silat dan Lwekang kedua orang aneh ini.com/ Ji Bun menjadi gregeten. bahwa Jay-ihlo-sat adalah salah satu anggota Wi-to-hwe. terang kau bermaksud tidak baik. apa kau sudah tahu bahwa menjadi saksi itu tidak gampang?” Jay-ih-lo-sat segera menanggapi: "Kenapa kau harus menjajal dia dengan pukulanmu?" "Ingin kulihat apa dia setimpal menjadi saksi atau tidak?" "Tiada persoalan setimpal atau tidak! Nenek bawel. sebetulnya ia tidak mau jadi wasit atau saksi segala. iapun merupakan salah satu musuhnya yang tangguh pula. dicemooh oleh Pek-siu-thay-swe.Tiraikasih Website http://kangzusi. Cayhe jadi kepingin menjadi saksi. bukankah nama gelaran Te-gak Suseng cukup cemerlang bagi telinga kebanyakan orang. siapa hidup atau mati toh tiada sangkut pautnya dengan dirinya." Dengan temberang Pek-siu-thay-swe berkata: "Anak muda. betapapun ia perlu menyelami sampai di mana tingkat kepandaiannya." Ji Bun mengelutuk tawar: "Tidak jadi soal. aku siap menghadapi pukulannya. di samping itu ia merasa penasaran karena di ejek. Maka dengan dingin ia segera menyeletuk: "Kalau begitu. kau sendiri yang main-main mengajukan saksi segala?” "Kau suruh dia menghadapi pukulanmu." .

Tapi kenapa Jay-ih-lo-sat begitu getol membela dirinya. kau pergilah.. betulkah begini besar perhatiannya? Dua jiwanya hampir tamat oleh serangan gelap Komandan ronda perkumpulan itu.. maka ia berkata dengan kukuh: "Biarlah.com/ Melotot mata Jay-ih-lo-sat. . kenapa hatimu menjadi begini baik? Ha ha ha ha .Tiraikasih Website http://kangzusi.. bukan mustahil di balik semua ini ada latar belakangnya." "Kutarik pernyataanku tadi. kau adalah tamu agung Hwecu kami. Cayhe betul-betul ingin menjajal pukulan Cianpwe ini. semua peristiwa yang saling bertentangan ini. tamu agung segala.." "Memangnya membunuh orang sebagai hobimu?" "Nenek bawel.. karena tujuan Pek-siu-thayswe memang hendak memukul mampus dirinya untuk mempertahankan kebiasaannya. tidak perlu pakai saksi segala. Lohu tidak akan menjilat lidah sendiri." Pek-siu-thay-swe mendengus: "Kau ini plintat-pelintut.. hal ini merupakan tanda-tanda tanya pula..” Ji Bun tahu bahwa Jay-ih-lo-sat kuatir dirinya tidak kuat menghadapi pukulan Pek-siu-thay-swe. Buyung. kalau dia mau pergi juga harus menerima pukulanku dulu.. katanya: "Buyung... bagaimana aku harus memberi keterangan kepada Hwecu nanti?" Ji Bun tertawa geli dalam hati. sungguh sukar diraba.

begitu menarik napas. Sedikitpun Ji Bun tak berani lena." 7. “Daaar!" dahsyat luar biasa pasir berterbangan dan batu berloncatan. . serunya: "Silakan memberi petunjuk.Tiraikasih Website http://kangzusi.21. dan pohon sama berhamburan.com/ segera ia maju dua langkah dengan membusung dada. beberapa tombak sekeliling gelanggang pepohonan sama tergetar. ia kerahkan sepenuh kekuatannya. segulung angin kencang seketika menerjang ke arah Ji Bun. namun ia tetap tak bergeming di tempatnya berdiri sekokoh gunung. darah mengalir balik ke atas hampir menyembur dari mulutnya. katanya: "Kesatria boleh dibunuh pantang dihina. mulut berteriak ia songsong pukulan lawan. telapak tangan kanan tiba-tiba mendorong ke depan. Kontan Ji Bun merasakan pandangan berkunang-kunang. sungguh hebat dan mengejutkan bentrokan kedua kekuatan yang luar biasa ini." Pek-siu-thay-swe pindah sekopnya ketangan kiri. Racun Bu-ing-cui-sim-jiu Apa boleh buat Jay-ih-lo-sat mundur ke samping. lalu berkata dengan suara berat: "Sambut pukulan ini!" Kedua lutut rada ditekuk dan setengah jongkok. secara sukarela Cayhe menerima gemblengan ini.

terlalu memuji. keringat bertetes-tetes. hasil adu kekuatan ini sungguh di luar dugaannya. kulit daging mukanya berkerut.” Sekali berkelebat.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun dalam hati ia membatin: "Memang masih banyak persoalan yang berada di luar dugaanmu." Setelah tertegun lagi sejenak Jay-ih-lo-sat berkata: "Sahabat muda hendak kemana. Ji Bun sendiri juga amat haru.com/ Sebaliknya Pek-siu-thay-swe tergeser empat kaki dari kedudukan semula." "Ah. matanya memancarkan sinar-sinar tajam yang mengerikan. Jay-ih-lo-sat sebaliknya berdiri melongo untuk sekian lamanya tanpa bersuara. atau kebetulan lewat di sini?" . Dengan melongo Jay-ih lo-sat berkata: "Sahabat muda." mulut Ji Bun menjawab. ia percaya bahwa kemampuannya sudah cukup berkelebihan untuk bekal menuntut balas kepada musuh-musuhnya. sejak kini gelar Pek-siu-thayswe kuhapus dari permukaan bumi. mimpipun tak pernah dia duga bahwa penilaiannya terhadap Ji Bun meleset begitu jauh. lama sekali baru dia kuasa berbicara: "Habis ludes! Lohu memang cari penyakit dan memungut malu sendiri. diam-diam ia meyakinkan diri sendiri dari hasil ujian barusan. badannya melejit tinggi dan lenyap di dalam hutan. Lwekangmu jauh di atas dugaanku.

Jay-ih-lo-sat lantas mengundurkan diri. mulut lembah untuk memasuki markas besar kini sudah didirikan pos penjagaan. apa lagi hendak membongkar semua tekateki yang selama ini mengganjel hatinya. diam-diam Ji Bun memperhatikan sekelilingnya. kalau begitu marilah kuantar. sahutnya: "Cayhe ada urusan. kalau tidak menggunakan akal. biarlah cari kesempatan lain saja. tahu-tahu Wi-to-hwecu sudah muncul dari pintu sana." ." langsung mereka terus berlari menuju ke markas Wi-to-hwe. Pikiran Ji Bun cepat bekerja. katanya sambil membungkuk hormat: "Cayhe menghadap Hwecu. Setelah Ji Bun dipersilakan duduk. Agaknya Jay-ih-lo-sat mempunyai kedudukan tinggi di dalam perkumpulan. sebentar lagi ia harus mengorek keterangannya. di sekitar markas besar tidak sedikit pula didirikan rumah-rumah gedung dengan denah yang cukup luas. Sepanjang jalan. Lekas Ji Bun berdiri menyambut. didapatinya bahwa situasi sekarang sudah jauh berbeda dengan pertama kali dia datang tempo hari. tanpa memberi laporan lebih dulu. Dalam hati Ji Bun rada kecewa karena tak sempat menguntit gadis baju merah Pui Ci-hwi sesuai rencananya tadi kesempatan itu mungkin sukar diperoleh lagi. namun urusan sudah kadung berlarut.Tiraikasih Website http://kangzusi. dia langsung membawa Ji Bun masuk ke ruang pendopo.com/ Tergerak hati Ji Bun. Belum berhasil pikirannya menemukan putusan. sengaja hendak mengunjungi Hwecu kalian." "O. sepanjang jalan banyak tersebar pula petugas ronda.

" ." "Ada persoalan apa. ini menandakan bahwa dia sangat menghargai kedatangan Ji Bun." Tutur katanya ramah dan rendah hati lagi. silakan duduk.com/ Wi-to-hwecu tertawa lantang. maka ia berdiri dan berkata: ''Kunjunganku yang tiba-tiba ini harap Hwecu tidak berkecil hati. maka melanjutkan: "Hwecu." sahut Ji Bun. Wi-to-hwecu berkata pula: "Syukurlah sahabat muda suka berkunjung kemari lagi." Ia sudah berkeputusan untuk bicara blak-blakan. "Cayhe ingin bertemu dengan komandan ronda perkumpulan kalian untuk bicara beberapa patah kata. seorang pelayan kecil muncul menyuguhkan teh. Cayhe mempunyai suatu permintaan yang mungkin kurang patut diajukan.Tiraikasih Website http://kangzusi. semakin dipikir ia merasa tingkah orang teramat ganjil." “Khu In maksudmu? Saudara kenal dia?" "Pernah bertemu sekali." sambut Wi-tohwecu tersenyum. entah muslihat keji apa pula yang tersembunyi di balik keramah-tamahan ini. silakan saudara katakan saja. aku senang sekali. Setelah masing-masing duduk." "Terima kasih. namun bagi penerimaan Ji Bun justeru kebalikannya. katanya riang: "Sahabat muda tak perlu banyak adat.

Tiraikasih Website http://kangzusi." "Panggil komandan Khu untuk menghadap!" Laki-laki itu mengiakan sambil membungkuk terus mengundurkan diri. . Seketika Ji Bun dirangsang nafsu membunuh namun sekuatnya ia tekan gejolak hatinya sehingga lahirnya tetap kelihatan tenang dan wajar.com/ "Itu gampang. namun bentuk dan perawakan tubuh serta dandanannya mirip sekali." kata Wi-to-hwecu lalu ia memukul genta kecil di samping tempat duduknya. Seorang laki-laki berpakaian hitam segera muncul di ambang pintu." Laki-laki muka itu mengiakan dan maju berdiri di depan sang Hwecu dengan tangan lurus kebawah. serunya: "Ong Cap-yang berdinas siap menerima perintah. "Siauhiap ini ingin bertemu dengan kau. Kebetulan sorot mata Ji Bun juga menatapnya. terasakan sinar mata orang ini rada berbeda. Serunya: "Hamba Khu In menghadap hwecu!" "Kemarilah. Tidak lama seorang laki-laki berperawakan sedang bermuka hitam memasuki ruang pendopo." Khu In bersuara dalam mulut dengan nada heran.” "O. pandangannya pun penuh tanda tanya menatap Ji Bun. "Hwecu memanggil entah ada tugas apa?" tanya orang itu.

sayang caranya kurang bisa dihargai. aku yakin selamanya tak pernah bermusuhan denganmu. katanya dengan suara berat dan prihatin "Sengaja aku kemari untuk menyatakan terima kasih akan hadiah yang kau berikan semalam. seorang laki-laki berani berbuat harus berani bertanggung jawab." . perbuatanmu kemarin tentu ada maksud tujuannya. kalau sudah berkepala harimau kenapa jadi berekor ular." Ji Bun menyeringai tawar." "Apa?" Khu In melengak kaget. Ji Bun menarik muka. katanya dingin: "Perbuatanmu sungguh amat mengagumkan. katanya: "Hamba tidak tahu apa yang dikatakan Siauhiap ini. katanya sekata demi sekata: "Komandan Khu.Tiraikasih Website http://kangzusi. maka sengaja aku kemari mohon penjelasan. katanya: "Hm.com/ "Siauhiap ingin bertemu dengan aku?" tanya Khu In "Entah ada persoalan apa?" Pelan-pelan Ji Bun berdiri meninggalkan tempat duduknya. sebetul apa yang telah terjadi?" Dengan heran dan bingung Khu In mundur selangkah. mukanya yang hitam menjadi semakin gelap dan mengunjuk rasa bimbang." Kedua biji mata Wi-to-hwecu memancarkan sinar yang berwibawa.

"Kalau ada yang kurahasiakan. namun ia duduk kembali ke tempatnya.. sukalah kau ceritakan terus terang apa yang pernah kaualami.com/ Wi-to-hwecu membentak bengis: "Komandan Khu." Ji Bun mendongkol.. persoalan ini tidak sulit untuk diselidiki dan dibikin terang. katanya bingung: "Hamba betul-betul tidak tahu apa-apa. mungkin sejak tadi sudah melabrak muka hitam ini. mungkin aku bisa bertindak menurut keadaan?" "Belum lama berselang. Kata Wi-to-hwecu lebih lanjut: "Saudara muda. "Cayhe disergap seorang misterius berpakaian jubah sutera mengenakan kedok. hampir saja jiwaku melayang . tiada persoalan yang harus dirahasiakan. silakan duduk.” Bergetar tubuh Wi-to-hwecu." "Saudara muda.. sebetulnya apa yang pernah kau lakukan?" Bertaut alis Khu In. kalau ia tidak kuatir akan situasi sekelilingnya." demikian tutur Ji Bun. serunya: "Orang berkedok berjubah sutera?" . mari bicara secara blak-blakan saja.Tiraikasih Website http://kangzusi. jangan kau lupa akan kedudukanmu dan peraturan perkumpulan. hamba rela dihukum sesuai peraturan perkumpulan. rasa benci dalam dadanya hampir saia meledak." "Masakah begitu?" sang Hwecu menegas.

. aku mengalami serangan ketiga yang hampir menamatkan jiwaku pula." "Penyerangnya tetap orang berkedok berjubah sutera itu?" "Kali ini bukan." "Setelah itu. "Hah . jiwaku hampir direnggut elmaut.." Serta merta matanya melirik kearah Khu In. mukanya yang hitam menjadi merah padam. Apa Hwecu kenal dia?" "Silakan saudara lanjutkan ceritamu. maka dia menambahkan: "Betul.Tiraikasih Website http://kangzusi. tapi komandan ronda itu she Khu inilah. agaknya persoalan takkan meleset terlalu jauh dari yang diduganya semula. di sebuah kelenteng kira-kira seratus li dari sini.. dan selanjutnya?" "Kemarin malam. penyerang gelap ini tetap orang berkedok berpakaian jubah sutera itu. .. suaranya tidak terdengar.com/ Dengan nanar Ji Bun pandang muka orang. seolah-olah dia ingin meraba isi hati atau jalan pikiran Hwecu yang misterius ini. seorang berkedok yang mengenakan jubah sutera warna hijau. di dalam hotel. dari sorot matanya ia hendak meraba rasa kaget yang merangsang sanubarinya setelah mendengar keterangannya.” Khu In mundur dua langkah dengan mata terbeliak dan mulut terbuka lebar. kembali aku diserangnya secara menggelap.

ada dua alibi untuk menyangkal tuduhanmu. setapakpun dia tidak meninggalkan sidang.com/ Sejenak Wi-to-hwecu menepekur. ada saksi dan korban lain pada waktu itu. kemarin malam komandan Khu menghadiri sebuah rapat yang kupimpin sendiri. maka iapun tak mau mundur." Ji Bun tertawa dingin. menurut laporan Jay-ih-lo-sat yang membawa Siauhiap kemari. lalu katanya: "Hal ini tidak mungkin. ini membuktikan bahwa kepandaian silat Siauhiap jauh lebih tinggi dari komandan Khu.” "Ya.Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya dingin: "Apa Hwecu sudi mendengar bukti-bukti yang akan kuajukan?" "Ya. sudah tentu. sebelum turun tangan orang itu memperkenalkan diri sebagai Komandan ronda perkumpulanmu. katanya Siauhiap kuat beradu pukulan dan mengalahkan Pek-siau-thay-swe." "Pertama. sudah tentu tak mungkin dia pergi ke kelenteng sejauh seratus li untuk membunuh Siauhiap. Kedua. Kedua. namun Ji Bun sendiri sudah mempunyai pendapat dan bukti-bukti yang nyata. apalagi perawakan dan bentuk rupanya sama. terang komandan Khu takkan mampu menyerang saudara bukan?" Kedua alasan ini kedengarannya masuk akal. silakan terangkan. katanya: "Tentu Hwecu punya alasan dalam hal ini. Pertama." "Siapa?" .

"Ya. yang menjadi saksi adalah Thian-thay-mo-ki dan Thong-sian Hwesio. Ji Bun menjadi tidak sabar lagi. mendadak ia berdiri." "Harap komandan Khu tanggalkan ikat kepalanya. Wi-to-hwecu juga berdiri." ." "Saudara masih ada bukti?" Wi-to-hwecu menegas. mungkin ada orang yang menyamar komandan Khu?" Pihak sana menyangkal tuduhannya dengan berbagai alasan. namun Khu In menggeleng dengan kebingungan.” "Di badanku?" teriak Khu In melongo sambil menuding hidung sendiri. katanya serius: “Bukti apa." Wi-to-hwecu mengawasi Khu In. setelah menepekur pula sejenak akhirnya Wito-hwecu berkata kepada Ji Bun: "Saudara muda." "Siapa itu Thong-sian Hwesio?" "Aku sendiri belum tahu. katanya penuh emosi: "Cayhe masih punya bukti-bukti lain. coba tunjukkan.Tiraikasih Website http://kangzusi. buktinya ada di tubuh komandan Khu ini.com/ "Para korban itu adalah murid: Ngo-liu-kiong.

Apa boleh buat. tapi satu hal tak mungkin dipalsukan. "He.com/ Seketika Khu In unjuk rasa gusar. codet itu bisa saja ditutupi dengan keahlian seseorang yang pandai merias. Khu In melepas ikat kepalanya. silakan tunjukkan di mana?" tanya Wi-to-hwecu. terpaksa dia harus berjuang mati-matian mempertahankan hidup. Kalau langkah terakhir ini berhasil. dan kini tibalah saatnya dia membongkar segala persoalan. namun dihadapan sang Hwecu ia tidak berani marah. Wi-to-hwecu memberi isyarat pelahan. Ji Bun tidak menjawab. di atas kuping sampai jidatnya ada codet luka memanjang yang kelihatan jelas.Tiraikasih Website http://kangzusi. Ji Bun terbelalak dan tertegun di tempatnya. namun codet itu sekarang sudah lenyap. laki-laki muka hitam yang memperkenalkan diri sebagai komandan ronda Wi-to-hwe ini pernah panik waktu Thian-thay-mo-ki membongkar kedoknya sebagai orang berkedok yang menyaru ayahnya dan ingin membunuhnya itu. "Saudara muda. ia berteriak kaget. ternyata di atas jidat dan pinggir kuping komandan Khu tiada kelihatan codet bekas lukaluka. kau?" . masih segar dalam ingatannya. yaitu laki-laki muka hitam itu pernah kena serangan tangannya yang beracun tanpa kurang suatu apa. walau menyadari dirinya berada di dalam sarang harimau. Secepat kilat mendadak ia menerjang ke arah Khu In serta melancarkan serangannya yang jahat beracun. Sungguh kejadian aneh luar biasa. Wi-to-hwecu tidak menduga Ji Bun bakal turun tangan.

" Setajam pisau sorot mata Wi-to-hwecu menatap muka Ji Bun. . masih merupakan teka teki pula. "Saudara berani membunuh orangku di sini?” bentak Wi-tohwecu. Memang siapakah orangnya yang menyaru Khu In? Apa tujuannya hendak membunuh dirinya? "Saudara muda. Kalut pikiran Ji Bun. tiada persoalan lagi bukan?" tanya Wi-te-hwecu penuh kesabaran. apakah asal usul sendiri sudah diketahui pihak lawan. obat penawar dikeluarkan terus dijejalkan kemulut komandan Khu. hal ini membuatnya bingung malah. sekian lama dia diam saja. Kini sudah terbukti bahwa Khu In bukan orang yang beberapa kali membokong dirinya.com/ Ditengah teriakan kaget inilah. baru kemudian berkata dengan mengertak gigi: "Dia tidak bakal mati." Khu In jatuh terkapar. "blang. kenyataan komandan khu ini tidak kuat menahan serangannya. Cayhe hanya menjajalnya untuk yang terakhir. kaki tangan berkelejetan sebentar terus lemas lunglai tak bergerak lagi. semua harapannya gagal total. Ji Bun menduga orang mungkin bisa turun tangan namun orang tetap berpeluk tangan saja. lalu menutuk beberapa Hiat-to lagi. apakah dirinya harus berterus terang untuk menuntut balas? Ataukah menolong jiwanya untuk mengatur rencana lebih lanjut? Cepat sekali ia ambil berkeputusan.Tiraikasih Website http://kangzusi.

sahutnya: "Cayhe amat menyesal dan mohon maaf. kutanggung didalam waktu singkat teka teki ini pasti dapat dibongkar." "O. mungkin menimbulkan curiga orang. baiklah. kiranya begitu. lalu siapa yang dimaksud dengan ucapan Wi-to-hwecu dari kedua orang itu? Kalau dirinya bertanya lebih lanjut. kejadian ini tak perlu dipersoalkan." "Syukurlah kalau urusan bisa selekasnya dibikin terang." Berdegup jantung Ji Bun." Tergerak pikiran Ji Bun. oleh karena itu Cayhe terpaksa harus menjajalnya. seorang yang lain adalah samaran. . di pinggir jidatnya ada bekas luka yang mirip benar dengan codet di jidat orang berkedok itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya: "Apakah Hwecu sudah tahu siapa orang berkedok itu?" "Sedikit banyak sudah dapat kuraba juntrungannya. salah satu dari orang berkedok itu adalah ayah kandungnya." "Terima kasih akan keluhuran Hwecu." "Tadi saudara ada menyinggung orang berkedok? Apa sangkut pautnya dengan komandan Khu?" "Pembunuh kemarin malam yang memperkenalkan diri sebagai komandan ronda itu.com/ Ji Bun menarik napas panjang.

katanya: "Saudara. akhirnya ia mendapat akal. bolehkah Cayhe mengajukan sebuah pertanyaan lagi?" "Boleh saja." Wi-to-hwecu tergelak-gelak. tiada persoalan. Silakan duduk. setelah memberi hormat. namun di sini Hwecu menyambutku sebagai tamu terhormat.. Setelah berhadapan langsung dengan musuh besarnya.." Kembali mereka duduk menyanding meja." kata Wi-to-hwecu sambil mengulap tangan.. sungguh berat rasa hati Ji Bun untuk tinggal pergi begitu saja. hal ini sungguh membingungkan diriku. tanyanya: "Hwecu." Khu In melirik ke arah Ji Bun. boleh saudara utarakan.. ada persoalan apa. ia mengundurkan diri.. setelah menghirup seteguk air teh. pelan-pelan Ji Bun berkata: "Cayhe seorang keroco dalam Bulim.” .com/ Sementara itu Khu In sudah mulai siuman sambil merintih lemas. namun bagaiman ia harus berkata? Setelah dipikir bolak balik. mungkin inilah yang jodoh." "Gelaranku terlalu jelek didengar. "Komandan Khu. orangpun anggap sepak terjangku nyeleweng badanku cacad lagi . kau boleh silakan istirahat. tak lama kemudian pelan-pelan dia merangkak bangun. terus terang aku amat mengagumi watak dan kepolosan hatimu.. betapapun dia harus mencari keterangan sebagai ancang-ancang untuk rencananya yang akan datang.Tiraikasih Website http://kangzusi.

. bukankah dia pernah mendapat pertolongan saudara.com/ "Saudara. dengan sikap wajar segera ia bertanya: "Apakah Hwecu kenal orang yang bernama Siangkoan Hong?" Bergetar badan Wi-to-hwecu. mungkinkah ia memang belum tahu asal usul dirinya? Tapi persoalan lain seketika menggejolak sanubarinya pula.” Percakapan ini berarti sia-sia. dirinya terang takkan unggul berdebat. Yang penting perbuatan atau prilaku. matanya menatap Ji Bun sekian lamanya. Cayhepun teramat rendah untuk dikatakan berperilaku baik.. setiap waktu setiap saat dia tidak pernah melupakan budi kebaikanmu itu. di manakah dia sekarang?" . Maka ia bertanya lebih lanjut: "Harap tanya. badaniah jangan disejajarkan dengan hatiniah.." "Dalam hal ini." Kembali diluar dugaan Ji Bun..Tiraikasih Website http://kangzusi.... katanya: "Kenal. terus terang pembicaraan secara blak-blakan ini meyakinkan dirinya bahwa orang memang belum tahu akan asal usul dirinya. soal nama dan gelarankan hanya sebutan kosong belaka.” "Saudara terlalu rendah hati .. sungguh tak berani aku terima pujian Hwecu yang berkelebihan ini . Wi-to-hwecu memang pandai berdiplomasi.

biarlah kuberitahu kepada saudara. juga karena ada hubungannya dengan Siangkoan Hong. Wi-to-hwecu berkata: "Bicara sejauh ini.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Kabarnya isterinya direbut dan puteranya dibunuh oleh Jit-singpocu Ji Ing-hong. namun cepat sekali sudah lenyap pula." Berpikir sebentar. memang ada kejadian itu. mau tak mau Cayhe harus berpikir demikian. dia seorang anggota kehormatan.com/ "Karena ada kesulitan maka sementara dia harus mengasingkan diri." "O. kabarnya Jit-sing-po sudah hancur berantakan?" "Saudara kira itu perbuatan Siangkoan Hong?" "Setelah tahu ikatan permusuhan kedua pihak. bahwa saudara dipandang tamu terhormat oleh perkumpulan kami. untuk hal ini harap saudara suka maklum. apa benar?" Terpancar sinar kebencian yang menyala dari mata Wi-to-hwecu. tentunya dia juga seorang anggota Wi-to-hwe?" "Betul." "Apa maksud dan tujuan saudara menanyakan hal ini?" "Hanya tanya sambil lalu saja. katanya sambil manggutmanggut: "Betul." ." "Belakangan ini kudengar berita yang tersiar di kalangan Kangouw.

" Ji Bun mengumpat dalam hati.." baru sekarang Ji Bun paham. Tiba-tiba sebuah suara serak tua yang kuat terdengar berkata dari ambang pintu: "Bu-ing-cui-sim-jiu. Dilihatnya seorang laki-laki tua kurus kering muncul di depan pintu.. Kembali Wi-to-hwecu berkata: "Selain itu boleh kujelaskan juga. tiada sangkut paut orang lain . bahwa sasaran Siangkoan Hong hanya Ji Ing-hong saja. mendadak ia melonjak berdiri. tidak sedikit dia menanam permusuhan. memang bukan. peristiwa itu masih teka-teki. dia bukan lain adalah Cui Bu-tok yang pegang kekuasaan . tapi Ji Ing-hong memang harus menerima ganjarannya setimpal dengan perbuatanperbuatan jahatnya. cuma kedudukan Siangkoan Hong terang cukup tinggi di dalam Wi-to-hwecu. bila perlu biarlah kelak memaksanya keluar untuk membuat perhitungan.. soal tamu terhormat sudah terjawab sekarang." "Kepandaian Jit-sing pocu dan Jit-sing-pat-ciang anak buahnya itu semua tinggi. tanyanya tak sabar: "Jadi maksud Hwecu.com/ "O. memangnya siapa yang mampu membunuh mereka?" "Sampai detik ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. yang menghancur leburkan Jit-sing-po bukan Siangkoan Hong?" "Ya.!” Ji Bun melengak." Kaget dan berubah air muka Ji Bun.

selamat bertemu. apa tadi yang kau serukan?" tanya Wi-to-hwecu dengan tatapan tajam. bolehkah hamba duduk berbicara dengan Ji-siauhiap ini?" "Boleh saja. Cui Bu-tok memberi hormat. katanya: "Lapor Hwecu. . Wi-to-hwecu mengerut alis. tanyanya: "Cui-ciangling. setelah dekat ia angkat tangan memberi hormat kepada Ji Bun.Tiraikasih Website http://kangzusi. ada keperluan?" Latihan batin Ji Bun masih belum matang. terlalu gampang dirangsang emosi." Dengan langkah lebar Cui Bu-tok memasuki ruang pendopo. katanya: "Siauhiap. pernah semeja dalam perjamuan tempo hari dengan Ji Bun." sahut Ji Bun memanggut. Tiada racun yang tidak dikenal. lekas dia tenangkan diri dan duduk kembali di tempatnya. "Tuan ada petunjuk apa?" "Cui-ciangling. silakan masuk. dan tiada racun yang tak bisa ditawarkan oleh Cui Bu-tok. namun selama hidup ia tidak pernah mencelakai orang dengan racunnya." "Sama-sama.com/ hukum di Wi-to-hwe. ia merupakan tokoh dan ahli dibidang permainan racun masa kini.

silakan berkata.Tiraikasih Website http://kangzusi.” "Namun bagaimana?" "Racun yang khusus hanya merangsang jantung ini. Urusan sudah sejauh ini." Tersirap darah Ji Bun..” "Tidak. harap Siauhiap tidak berkecil hati.." "Ada omongan apa.. terbunuh oleh Bu-ing-cui-sim-jiu. sulit untuk meracik racun ... Hati Ji Bun amat kaget. Kata Cui Bu-tok sambil mengawasi Ji Bun: "Ada beberapa patah kata ingin kusampaikan." sahut Cui Bu-tok goyang tangan.. maka dia manggut-manggut sambil mengiakan. malah bukan semuanya. namun . berdebat tiada artinya. kecuali orang aneh dibawah jurang Pekciok-hong dan orang yang menyaru Khu In. tidak. Bu-ing-cui-sim-jiu?" sorot mata Wi-to-hwecu yang memancar tajam ke arah Ji Bun.." "O. kini tambah seorang lagi yang mengetahui rahasia dirinya. semua korban di Jing-goan-si itu terbunuh oleh racun yang dicampur dalam makanan." "Murid-murid kita yang menjadi korban di Jing-goan-si tempo hari.. adalah ramuan dari resep yang telah lama lenyap.com/ "Hamba tadi bilang Ji-siauhiap ini telah berhasil meyakinkan Buing-cui-sim-jiu yang hanya pernah kudengar dalam dongeng. "Siauhiap jangan salah paham.. semua juga terkena racun Bu-ing-cui-sim-jiu. katanya: "Jadi kau menyangka ...

sungguh merupakan keajaiban." Wi-to-hwecu memandang ke arah Ko Ling-jin. "Bolehkah Siauhiap perkenalkan nama perguruanmu?" Sejenak Ji Bun terdiam." sahut Cui Bu-tok. "Orang-orang macam apa mereka?" . Cui Bu-tok ikut berdiri. "Congkoan Ko Ling-jin ada urusan penting memberi laporan kepada Hwecu." Mendadak seorang laki-laki setengah umur berpakaian jubah biru tergopoh-gopoh datang dan berdiri di luar pintu. katanya: "Ada urusan penting apa?" "Ada serombongan orang menyerbu ke atas gunung?” "Apa." Mendadak Wi-to-hwecu berdiri." "Kabarnya tiada racun yang tidak bisa kau tawarkan?" "Kecuali racun yang satu ini. lalu menjawab: "Untuk ini maaf tidak bisa kuterangkan. ada orang menyerbu kemari?" "Betul. suaranya kedengaran gugup gemetar.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ hebat ini ternyata Siauhiap malah sudah meyakinkan Bu-ing-cui-simjiu.

" "Begitu gawat?" "Kedua Ho-hoat agung (pelindung) juga sudah datang membantu.” "Menuntut balas? Selamanya perkumpulan kita tidak bermusuhan dengan Ngo-lui-kiong.. namun tetap tak dapat membendung serbuan musuh. pos terdepan sudah bobol. Tio-tongcu telah gugur?" "Ya...com/ "Ngo-lui-kiong-cu..” ...." "Apa...” Dingin sorot mata Wi-to-hwecu.Tiraikasih Website http://kangzusi. murid-murid kita sudah ada puluhan yang gugur . serunya bengis: "Apakah Tiotongcu tidak kuat menghadapi mereka?" "Tio-tongcu sudah gugur pada saat pos terdepan dibobol musuh... Tin-kiu-thian In Ci-san memimpin 50-an anak buahnya datang menuntut balas ... semua murid-murid yang bertugas di sana seluruhnya gugur......" "Berapa sih kemampuan Tin-kiu-thian In Ci-san?" "Ada dua orang yang memiliki kepandaian luar biasa diantara anak buahnya . permusuhan apa yang mereka tuntut?" "Mereka datang dengan garang.

" seru Wi-to hwecu. sahutnya: "Hamba siap menerima tugas. Cui Bu-tok melangkah maju seraya memberi hormat.22. kalau betul." seru sang Hwecu pula." setelah memberi hormat Ko Ling-jin segera mengundurkan diri pula." "Hamba terima perintah. kumpulkan untuk kelompok bendera merah putih dengan seluruh hulubalangnya untuk maju ke depan laga bersamaku." Cui-ciangling mengiakan dan segera mengundurkan diri. kedua bangkotan tua itu. "Penjagaan dan mempertahankan markas besar kuserahkan kepadamu untuk memimpinnya. "Ko-congkoan. Dalang Penyerangan Wi-to-hwe "Hamba siap di sini!" jawab Ko Ling-jin. sebelum pergi dia melirik sekilas ke arah Ji Bun. 8.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Hm. yang lain tetap bertugas di pos masingmasing. ia menduga kedua Hou-hoat yang dimaksud mungkin adalah Bu-cing-so dan Siang-thian-ong. Pikiran Ji Bun bekerja cepat. Cui-ciangling." "Perintahkan untuk siap tempur. kekuatan Ngo-lui-kiong sungguh .

Setelah melewati lapangan luas dan mengitari lembah. mungkin mereka inilah pimpinan kelompok bendera merah putih beserta para hulubalangnya." Lekas Ji Bun berdiri. dibelakangnya kedua Hiangcu dari kelompok bendera merah putih.com/ amat mengejutkan. sahutnya: "Cayhe ingin ikut Hwecu untuk menghadapi musuh yang menyerbu itu. katanya: "Saudara muda. tentu karena anak buahnya yang dipimpin Ngo-lui-kiongcu In Giok-yan terbasmi oleh laki-laki muka hitam yang menyamar sebagai Komandan ronda Wi-to-hwe di kelenteng itu. kesempatan ini cukup baik bagi dirinya untuk menuntut balas kepada musuh-musuh besar ini? Dalam hati dia sudah tahu kenapa pihak Ngo-lui-kiong meluruk kemari menuntut balas. biar aku keluar sejenak untuk membereskan persoalan ini. Di sana bayangan orang banyak juga bergerak. sayup-sayup sudah terdengar suara pertempuran yang riuh rendah. mereka sudah ditunggu dua orang tua dan enam laki-laki berpakaian ketat yang siap dengan senjata lengkap berjajar di luar pintu. sikap Wi-to-hwecu tetap tenang saja. Sambil mengulap tangan Wi-to-hwecu segera pimpin anak buahnya berlari keluar. Dalam pada itu. marilah kita keluar bersama!" Sekeluar ruang pendopo. agaknya mereka mulai siap siaga suasana menjadi tegang.Tiraikasih Website http://kangzusi. Ji Bun mengiringinya. sukalah duduk lagi sebentar. ." "Kalau demikian.

Wi-to-hwecu bersama Ji Bun dan lain-lain langsung memasuki gelanggang. kenapa ilmu sakti ini tidak dia gunakan? Demikian pula ilmu pukulan Siang-thian-ong juga merupakan kepandaian yang tiada taranya.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun kedua orang berbaju putih anak buah Ngo-luikong ini termasuk jago yang berkepandaian paling tinggi. Tin-kuithian In Ci-san. begitu hebat jalannya pertempuran ini sampai orang-orang yang menonton mundur cukup jauh dari arena. Dalam Bu-lim masa ini. tertampak oleh Ji Bun. di depan barisan orang-orang berbaju putih ini berdiri seorang laki-laki tinggi berbaju putih. tentunya dia inilah Ketua Ngo-liu-kiong. Bu-cing-so memiliki ilmu Thian-cin-ci-sut. tertampak di tengah tanah lapang dua orang tua ubanan bertubuh tinggi dan cebo! sedang bertempur sengit melawan dua orang berbaju putih. kedua anak buah Ngo-lui-kiong itu . empat orang sedang bertempur segera melompat mundur.com/ Lekas sekali mereka sudah berada di mulut gunung yang bertanah lapang. puluhan orang berdiri sejajar disebelah sana. Beberapa mayat sudah menggeletak di sana sini. mereka kuat bertahan menghadapi kedua bangkotan tua ini. namun dia juga tak dapat mengalahkan lawannya. maka betapa tinggi kepandaian Ngo-liu-kiong-cu In Ci-san. sungguh sukar dibayangkan. yang terluka parah merintih-rintih mengenaskan. "Berhenti!" begitu tiba Wi-to-hwecu segera berseru dengan suara menggeledek. tokoh-tokoh kosen yang kira-kira setanding dengan Bu-cing-so dan Siang-thian-ong dapat dihitung dengan jari.

Wi-to-hwecu manggut-manggut." Laki-laki tinggi besar berjubah putih beranjak ke depan menghadapi Wi-to-hwecu. katanya uring-uringan: "Mereka bisa main racun. katanya: "Perkumpulanmu mengagulkan diri sebagai Wi-to (menegakkan keadilan). setelah mundur mereka diam saja sambil menunduk lesu." "Menuntut balas apa. Wi-to-hwecu segera angkat tangan serta menyapa: "In-ciangbun meluruk datang dengan anak buah sebanyak ini. napas tidak memburu." Tergerak hati Ji Bun. sebaliknya Bu-cing-so dan Siang-thian-ong sama mengunjuk rasa lelah.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ kira-kira berusia empat puluhan. syukur Lohu berdua mampu bertahan." Tegak alis Bu-cing-so. katanya lantang: "Silakan In-ciangbun maju bicara. ketahuilah kami datang untuk menuntut balas. muka tidak merah. Wi-to-hwecu berkata dengan nada berat: "Harap kalian mundur dan istirahat. In-ciangbun mempunyai bukti-bukti yang nyata?" . namun sepak terjangnya amat kotor dan memalukan. kalau tidak akibatnya sukar dibayangkan. tentunya ada alasan yang bisa diberikan kepada kami?" In Ci-san terkekeh dingin. biar kubereskan mereka.

" "Kenapa tidak kau jelaskan duduk perkara yang sebenarnya?" "Tanyakan kepada dirimu sendiri...com/ "Sudah tentu. bukankah kejadian ini amat aneh?" "He he. jangan harap kau bisa turun dari Tong-pek-san. aku tak sudi banyak omong lagi.. katanya: "Hwecu bermulut besar. jangan bertingkah dan main bunuh di daerahku." "Sebetulnya apa maksud tujuanmu?" "Tiada lain menuntut balas bagi murid-murid kita yang gugur." "Aku sendiri tidak tahu. jangan kau menggertak orang. katanya: "In Ci-san.Tiraikasih Website http://kangzusi.. banyak mulut takkan berguna..." Ngo-lui-kiongcu menyeringai." "Azas berdirinya perkumpulan kami demi menegakkan keadilan dan kebenaran.. utang darah bayar darah. justru pihak kamilah yang akan mencuci bersih To-pek-san dengan darah. kalau tidak memberikan tanggung jawab. perbuatanmu ini terlalu menghina. segala persoalan harus diselidiki dulu supaya jelas duduknya perkara." Wi-to-hwecu menggeram gusar. delapan puluh tujuh murid kami beruntun terbunuh oleh Wi-to-hwe kalian .'' ..

diapun utang puluhan jiwa orang-orang kami. asal dia tidak melanggar 'Bu-to' (aturan persilatan). kalian meresmikan perkumpulan dan mendirikan markas dengan simbol menegakkan keadilan segala. serunya: "Dia ini Te-gak Suseng bukan?" "Betul!" sahut Wi-to-hwecu.Tiraikasih Website http://kangzusi. coba jawab. pertanyaan ini sudah lama juga menjadi teka-teki didalam benaknya. Maka terdengar Wi-to-hwecu berkata dengan aseran: "Suatu perkumpulan berdiri dan berkecimpung dalam Bu-lim." "Orang she In. seluruh kaum persilatan dari golongan lurus pasti tidak menerimanya. diumumkan atau tidak kan tidak melanggar peraturan." Terbangkit semangat Ji Bun. Kau sendiri menyembunyikan asal-usul dan tidak mengumumkan nama sendiri kepada kaum persilatan." . tidak perlu malu hidup berjajar dengan sesamanya.com/ "He he. namun sepak terjangnya kotor dan rendah. "Ternyata dia juga salah seorang algojo dari Wi-to-hwe. Soal asal-usul dan namaku kan termasuk urusan pribadi seseorang. maka kami ingin mendengar penjelasanmu. tidak usah kau mencari alasan dan mengoceh. marilah kita bicarakan urusan yang sebenarnya. tidak mengingkari azas tujuannya." Tiba-tiba sorot mata Tin-kui-thian In Ci-san menatap ke arah Ji Bun." "Itu pembela diri yang menyimpang dari kebenaran. merdu sekali kata-kata Hwecu.

"kau adalah tamu kami. segera menyela. tapi Cayhe tidak menolak segala tantangan. hal ini harus segera dijelaskan. maka ia menjengek. kau hendak bertanggung jawab seorang diri?" "Ya. Tentu saja Ji Bun tahu apa yang dimaksud oleh ucapan In Ci-san tadi.Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya: "Perlu apa pakai cara segala. "Bagus sekali. tidak boleh sembarangan turun tangan. boleh silakan. katakan caranya untuk menyelesaikan persoalan ini?” Ngo-lui-kiongcu menyeringai seram." Wi-to-hwecu. anak muda." "Maksudmu. dalam situasi seperti sekarang tak berguna dia membela diri dan menjelaskan duduk persoalannya." jawab Ji Bun. "Saudara muda. katanya tandas: "Orang she In. namun bahwa dirinya dianggap sebagai anggota perkumpulan yang menjadi musuh besarnya." kata Ngo-lui-kiongcu. menjadi tanggung jawab kami untuk melindungi keselamatanmu. namun mulutnya menjawab tawar: "Terima kasih." Tatapan dingin tajam Wi-to-hwecu menyapu ke arah Ngo-luikiongcu. In ciangbun harap tahu akan hal ini. kedatangan kami bukan untuk mengadu kepandaian." Dalam hati Ji Bun mengumpat.com/ Wi-to-hwe-cu berpaling ke arah Ji Bun. katanya: "Cayhe bukan anggota Wito-hwe. .

" Wi-to-hwecu dan seluruh Hiangcu dan Tongcu yang hadir sama menggeram gusar. belakangan. mata melotot gigi berkerutuk menahan marah. tidak sulit rasanya mencapai cita-cita yang selama ini dinantikan. segera dia memberi pertolongan kepada Bu-cing-so dan Siang-thian-ong yang terkena racun. sekali lagi kuperingatkan.com/ biarlah puluhan. untuk ini harap kau suka berpikir sekali lagi. Saat itu. ini sudah kami selidiki adanya manusia-manusia licik dan licin yang menyaru menjadi anggota kami serta melakukan kejahatan di luar. jiwa orang-orang Ngo-lui-kiong gugur di Tong-peksan atau Wi-to-hwe kalian yang hancur lebur?" Wi-to-hwecu mengertak gigi. penguasa hukum markas pusat Cui Bu-tok sudah memburu tiba dengan membawa dua puluhan anak buahnya. meski perbuatannya ini termasuk mengail di air keruh. Hasrat Ji Bun untuk menuntut balas sudah berkobar dalam benaknya. jika kedua pihak mulai berhantam. jelas tujuannya untuk merusak nama baik kami. setelah itu baru meruntuhkan yang lain satu persatu. namun demi .Tiraikasih Website http://kangzusi. seluruh jago-jago Wito-hwe pasti terlibat dalam pertempuran sengit secara terbuka. maka tibalah saatnya dia langsung menghadapi Wi-to-hwecu. serunya: "Tanpa pikirkan akibatnya?" "Itulah tujuan kedatangan kami!” "Baik." "Hanya anak kecil yang mau percaya pada omonganmu ini.

Suasana semakin tegang dan mencekam perasaan seluruh hadirin." "Baik buruk akhirnya akan diputuskan oleh kesimpulan umum.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun kenyataan membuat onar dan melakukan kejahatan di Bulim. kulitnya saja kalian mengagulkan diri sebagai penegak keadilan. itu berarti aku sudah memberikan pertanggungan-jawab kepada kaum persilatan. kalau secara mendadak melancarkan serangan. Bergetarlah suara Wi-to-hwecu: "in Ci-san. segala carapun boleh dilakukan. berulang kali sudah kujelaskan." Acuh sikap Ngo-lui-kiongcu. katanya: "Bagaimana jalan pikiranmu semua orang juga dapat menebaknya. Sudah tentu tiada orang lain yang tahu akan jalan pikiran Ji Bun. Wito-hwecu juga segera memberi tanda kepada anak buahnya untuk .com/ menuntut balas ratusan jiwa orang-orang Jit-sing-po." Ngo-lui-kiongcu segera angkat tangan dan memberi aba-aba dengan bentakan menggeledek: "Maju!" Puluhan orang berbaju putih itu serempak menerjang maju. maka dapatlah dibayangkan bagaimana nasibnya yang bakal menimpa pihak Wi-to-hwe. maka segala akibat yang bakal terjadí menjadi tanggung-jawabmu. tak usah banyak cerewet. sudahlah. perbuatan rendah dan kotor ini sungguh amat memalukan. Dengan bekal Lwekang Ji Bun sekarang serta tangannya yang berbisa.

gerak-geriknya amat gesit dan enteng. disinilah letak perhatian Ji Bun. In Ci san segera menubruk maju ke dapan Wi-to-hwecu sambil melayangkan telapak tangannya yang segede kipas. Sementara Bu-cing-so dan Siang-thian-ong tetap melayani kedua orang baju putih yang menjadi lawan mereka tadi. yang berperawakan pendek menghadapi Bu-cing-so. pertempuran sengit segera berlangsung dengan gegap gempita. gerak langkahnya amat aneh. In Ci-san membarengi suara bentakan bergemuruh seperti suara guntur. sementara Jay-ih-lo-sat kirakira bisa ditimbang dari kekuatan Pek-siu-thay-swe yang pernah kecundang ditangannya. Dilihatnya orang-orang Ngo-lui-kiong kecuali kedua orang berbaju putih yang melawan Bu cing-so dan Siang-thian-ong itu. setiap kali melontarkan pukulannya. setiap pukulan berhantam dengan cara keras lawan keras. Setelah memberi aba-aba. Ji Bun menonton di pinggir gelanggang sambil berpeluk tangan. jelas Lwekang dan kepandaiannya masih lebih unggul daripada lawannya. kekuatan kedua pihak seimbang.com/ menyambut serbuan musuh. dia main sergap dan bertempur dengan putar-memutar. Di sebelah sini. selebihnya berkepandaian rendah. maka gerak-gerik kedua orang baju putih itu kelihatan menonjol. setiap jurus. Wi-to-hwecu beserta orang dalam tandu yang belum muncul merupakan dua jago terkosen yang paling sukar dihadapi. Orang yang melawan Siang-thian-ong berperawakan tinggi. namun Wi-to-hwecu menghadapinya dengan tenang dan seenaknya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Yang lain-lain saling baku hantam dengan sasaran masing-masing. jadi kira-kira dirinya cukup mampu .

Situasi sudah semakin kentara. ratusan orang yang mempertahankan markas pusat merupakan kekuatan yang tak boleh dipandang enteng. sebaliknya.Tiraikasih Website http://kangzusi. kalau saat ini ayahnya muncul. harapan untuk menuntut balas menjadi lebih meyakinkan. bala bantuan di belakang masih cukup banyak. . hal ini tidak menguntungkan Ngo-lui-kiong. kalau pertempuran ini terus dilanjutkan. Dia berpikir. gejolak hatinya ikut memuncak menyertai perobahan yang mulai kentara di tengah gelanggang. Ji Bun tetap berdiri sekokoh batu karang yang didampar amukan ombak ditengah ajang pertempuran yang sengit itu. situasi pasti akan segera banyak berubah. Jika sekarang juga dirinya ikut terjun ke dalam ajang pertempuran. terbawa hanyut oleh desiran angin gunung yang menghembus santer sehingga menjadi paduan suara yang seram mengerikan. jeritan benturan senjata dan teriakan membangkit semangat. bagaimana akibatnya sudah bisa diramalkan. kekuatan Wi-to-hwe masih segar.com/ menghadapinya. tujuan Ngo-lui-kiong hendak mencuci bersih Tong-pek-san dengan darah jelas takkan mungkin terlaksana. Siang-thian-ong dan Cui Bu-tok serta beberapa jago-jago kosen lainnya harus roboh. kecuali Wi-to-hwecu bersama Bucing-so. sungguh merupakan kesempatan terbalk yang sukar dicari. Pertempuran semakin memuncak. kalau jago-jago Wi-to-hwe hanya beberapa gelintir orang ini.

Ia maklum pihak musuh lebih banyak dan kuat. darah menyembur dari mulutnya. sudah tentu tidak menguntungkan? Kecuali dia berhasil membekuk Wi-to-hwecu? . apa betul Wi-to-hwecu adalah durjana yang menghancur leburkan Jit-sing-po. sekali turun tangan ia pantang mundur dan harus berhasil. gelagatnya dia mulai terdesak oleh rangsakan orang berbaju putih yang ganas. Rambut dan jenggot ubanan Siang-thian-ong beterbangan. kalau tidak. memangnya siapa saja yang menjadi musuh-musuh besarnya yang sejati sampai sekarang dia masih belum berhasil mengumpulkan data-data yang menyakinkan. Sampai sekarang hatinya masih bimbang dan bertanya-tanya. kalau bergerak secara membabi buta. Siangkoan Hong yang menjadi biang keladi dari pembantaian besar-besaran itu sampai sejauh ini belum pernah muncul. sedang partai Bu-cing-so kelihatan masih setanding alias sama kuat. aksi untuk menuntut balas selanjutnya bakal sulit dan berbahaya. Dia menghadapi suatu pilihan yang menentukan.com/ "Ngek! Huuuaa!" tampak Ngo-lui-kiongcu mengerang kesakitan.Tiraikasih Website http://kangzusi. Segara turun tangan atau menanti kelanjutannya? Demikian Ji Bun bertanya-tanya dalam hati. dadanya terpukul Wi-to-hwecu. Puluhan jiwa sudah melayang. tapi tenaga pukulan Ngo-lui-ciang sekeras guntur itu tetap hebat dan tidak menjadi asor karenanya. mayat bergelimpangan. namun ayahnya jelas menuduh pihak Wi-to-hwe yang menjadi algojo-algojonya. badannya yang pendek buntak menggelinding pergi-datang seperti bola yang ditendang kian kemari.

seluruh hadirin yang lagi bertempur tiada yang tidak mendengarnya. namun kedengarannya setajam jarum menusuk kuping. dia mundur dan menghentikan serangan.Tiraikasih Website http://kangzusi. jubahnya yang putih berlepotan darah. Puluhan mayat sudah berjatuhan sehingga darah mengalir berceceran. langkahnyapun sempoyongan hampir jatuh.com/ Baru saja hasrat ini berkelebat dalam benaknya. sehingga seluruh gelanggang seperti dipagari oleh barisan manusia. tahu-tahu Jay-ih-lo-sat sudah berada di tengah gelanggang. Berdegup hati Ji Bun. Tampak bayangan warna warni berkelebat pergi datang bagai seekor naga yang memainkan ombak di tengah samudera raya. ini pertanda bahwa Lwekang orang dalam tandu sudah mencapai taraf yang tiada taranya. orang berbaju putih sama roboh binasa. Di belakang menyusul beberapa bayangan orang lagi. Joli itu langsung menuju ke arah Siang-thianong yang sedang berhantam dengan orang berbaju putih. sekonyongkonyong jeritan seram saling susul kumandang dari sana sini. Pelan-pelan sebuah tandu atau joli berhias dipikul memasuki arena. . Dalam waktu yang sama. darah kembali menyemprot dari mulutnya. Murid-murid Ngo-lui-kiong merupakan jumlah yang terbesar di antara mayat-mayat yang bergelimpangan. Untung Wi-to-hwecu tidak menambahi serangan. hasrat turun tangan yang sudah berkobar seketika diurungkan. Yang lain segera menghentikan pertempuran dan mundur ke barisan masing-masing. suaranya tidak keras. Ngo-lui-kiongcu kembali kena sekali pukulan Wi-to-hwecu. "Berhenti!" orang dalam tandu membentak enteng.

rambut dan janggutnya bergerakgerak." Murid Ngo-lui-kiong yang masih hidup beramai-ramai kumpul di belakang Tin-kiu-thian In Ci-san.com/ Walau sudah berhenti dan mengundurkan diri. pertama. hal ini sungguh luar biasa. katanya: "Sahabat. Terdengar orang dalam tandu bersuara tajam: "Tuan ini jago kosen dari mana?" Orang berbaju putih berperawakan tinggi yang bertempur melawan Siang-thian-ong terkekeh dingin. Didengarnya orang dalam tandu tertawa dingin.Tiraikasih Website http://kangzusi." . kedua. kalau sejak tadi dia mau turun tangan. namun Siangthian-ong masih melotot beringas. namun hatinya masih was-was. katanya: "Apakah pertanyaanmu ini tidak berkelebihan. situasi tentu jauh berubah. kau dan temanmu yang satu ini pasti bukan anak buah Ngolui-kiong. sudah tentu aku ini anak buah Ngo-lui-kiong. ilmu silat kalian tidak serasi. jangan menyembunyikan kepala tapi memperlihatkan ekor. pihak Wi-to-hwe sudah menguasai suasana. kedua orang baju putih itu berkepandaian lebih tinggi dari Ketua Ngo-lui-kiong In Cisan. Dalam hati Ji Bun amat menyesal. anak buah biasa mana mungkin berkepandaian lebih tinggi dari pemimpinnya. Maka seluruh perhatiannya kini ia tujukan ke arah orang dalam tandu itu. kesempatan baik tadi sudah disia-siakan.

Terdengar orang dalam tandu berkata pula: “Sahabat. Tersirap darah Ji Bun. apakah dirinya kuat menandinginya masih sukar diraba juga." "Kurangajar. memangnya kau ini kura-kura yang malu dilihat orang." Di sebelah sana Wi-to-hwecu juga sedang mengajukan pertanyaan kepada Ketua Ngo-lui-kiong Tui-kiu-thian In Ci-san: "Sebagai ketua suatu aliran. undang-undang Bu-lim sudah kau injak-injak. katanya: "Kenapa kau tidak keluar saja. terus terang aku tidak ingin membunuh orang yang tidak kukenal. katakanlah asal usulmu?" "Kenapa tidak yang mulia dulu memperkenalkan diri?" "Akulah yang tertua dari para Hou-hoat Wi-to-hwe. namun dia tidak kuasa melawan damparan angin si orang dalam tandu. seketika ia tergetar mundur empat langkah." "Kau melanggar daerah terlarang dan main bunuh ditempat kami.com/ Dengan kaget orang berbaju putih menyurut mundur.Tiraikasih Website http://kangzusi. kepandaian orang baju putih barusan sudah disaksikan sendiri. tentunya kau berani bertanggung jawab bukan?" ." segulung angin tahu-tahu melanda dari dalam tandu menerjang orang berbaju putih." "Tentunya kau punya nama dan gelaran.

katanya aseran: "Cici. orang dalam tandu memberi peringatan terakhir: "Sahabat.. kau tidak mau memperkenalkan diri.. tahukah kau siapa baju putih yang berdiri di sebelah kanan Ngo-lui-kiongcu itu?" .ki." "Takabur sekali kau. karena yang datang adalah Thian-thay-mo." desis Wi-to-hwecu. sesosok bayangan orang tahu-tahu meluncur datang dan hinggap di pinggir gelanggang..." "Kenyataan akan membuktikan.com/ Ngo-lui-kiongcu mendehem geram. kenapa kaupun kemari?" Thian-thay-mo-ki tersenyum kecut. seketika Ji Bun mengerut alis. "kukira kau takkan bisa turun gunung hari ini.” "Terserah!" sahut orang berbaju putih tak acuh. katanya: "Selama air mengalir dan gunung menghijau pasti akan datang saatnya untuk memberikan pertanggungan jawab.Tiraikasih Website http://kangzusi. terpaksa kupandang kau sepihak dengan musuh ." "Dik.. tanyanya: "Kau tidak senang?" Lekas Ji Bun menyangkal: "Tidak." Disebelah sini. Pada saat itulah. tiada maksudku demikian." "In Ci-san.

mereka mengenakan kedok dan merias diri. bukan mustahil orang yang menyaru dengan kedok hijau dan berjubah sutera itupun komplotan mereka. si baju putih yang itu bukan lain adalah Biau-jiu Siansing yang kau cari-cari itu. menyaru jadi anak buah Ngo-lui-kiong. sorot matanya membara." Seketika merah padam muka Ji Bun. . secara reflek si baju putih menyurut mundur sambil berjaga.23." 8. Thian-thay-mo-ki melirihkan suaranya: "Tanpa sengaja aku mencuri dengar pembicaraan mereka bahwa pihak Ngo-lui-kiong berani meluruk kemari mencari setori lantaran dihasut dan didukung oleh kedua orang baju putih itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya: "Kemungkinan mereka sekomplotan. Jiwa Kesatria Tak Gentar Elmaut Ji Bun mengertak gigi. tapi sayup-sayup seperti kudengar mereka menyinggung Jit-sing-kojin. katanya gugup: "Apa benar?" "Kau tidak percaya pada Cicimu ini?" "Lalu siapa laki-laki baju putih yang lain itu?" "Entahlah." Habis berkata segera ia melejit maju ke depan orang berbaju putih.com/ "Siapa dia?" tanya Ji Bun sambil memandang orang berbaju putih yang tadi bertempur melawan Bu-cing-so.

mumpung kepergok di sini. sedikit miring sebelah tangannya bergerak menangkis. luka dalamnya seketika kambuh. Ji Bun terkekeh dingin. katanya: "Te-gak Suseng. "Plak". kontan Ngo-lui-kiongcu sempoyongan mundur tiga langkah. kebetulan kau menampilkan diri. setelah urusan di sini selesai saja?" . Sisa kekuatan benturan membuat pasir debu beterbangan memenuhi angkasa. sapanya: "Selamat bertemu tuan!" Orang baju putih melengak. seluruh hadirin tergetar oleh benturan dasyat ini. telapak tangannya yang segede kipas itu segera melayang menghantam Ji Bun Ji Bun mendengus geram. persoalan kita kukira kurang leluasa dibereskan disini dan sekarang juga." Ngo-lui-kiongcu tiba-tiba beranjak maju.Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya dengan suara rendah: "Bagaimana kau?" "Kenapa tidak bersabar sebentar. seluruh hadirin juga terkejut terhadap perbuatan Ji Bun yang mendadak ini. darah kembali meleleh dari mulutnya.com/ sorot matanya hambar dan kaget. utangmu pada pihak kami biar dibereskan sekarang juga." belum habis bicara. tentunya kau harus memberi pertanggungan jawab kepadaku." "Untuk menemukan jejakmu terlalu sulit. katanya. Ji Bun melirik ke arah Ngo-lui-kiongcu dan tetap menghadapi orang berbaju putih tadi. dengan mendelik: "Anak muda.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Untuk apa membuang-buang waktu, nasib orang-orang Ngo-luikiong sudah jelas, jangan harap kau dapat turun dari Tong-pek-san." "Belum tentu, boleh kau buktikan sendiri." Tengah percakapan berlangsung, mendadak Wi-to hwecu menjerit kaget seraya berteriak: "Ngo-lui-cu!" Dengan kaget Ji Bun berpaling, dilihatnya Ngo-lui-kiongcu sudah mundur dua tombak di sebelah sana, tangan kanannya menggengam sebuah bola warna merah sebesar kepalan, menyusul kedua orang baju putih itupun turut melejit mundur seraya mengacungkan bola bundar warna merah yang sama bentuk dan besarnya. Lekas Thian-thay-mo-ki melompat maju ke samping Ji Bun serta menarik lengannya teriaknya gugup: "Lekas mundur!" "Ada apa?" tanya Ji Bun tak mengerti. "Kau belum pernah dengar Ngo-lui-cu (mutiara guntur)?" "Benda apa sih Ngo-lui-cu itu?" "Pusaka pelindung Ngo-lui-kiong, namanya saja mutiara, yang betul merupakan granat yang seketika meledak bila dilemparkan, betapa tinggi kepandaianmu juga sukar terluput dari sasarannya." "Jadi Ngo-lui-cu sama seperti Bik-lik-tan (granat halilintar)?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Betul, lekas kau mundur Dik," tanpa banyak bicara lagi segera ia seret Ji Bun mundur beberapa tombak. Ji Bun terbelalak bingung, sungguh perubahan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya, tiga butir Ngo-lui-cu kiranya cukup berlebihan untuk merobohkan Wi-to-hwecu dan seluruh anak buahnya. Sisa anak buah Ngo-lui-kiong akan lebila leluasa menerjang ke atas dan menyerbu markas dan mendudukinya, dibantu kedua orang baju putih lagi, seluruh anggota Wi-to-hwe akan ditumpas habis-habisan. Apakah dirinya harus tinggal pergi demikian saja? Kalau tetap berada di sini, bukan mustahil dirinya bakal ikut menjadi korban. Sementara itu, Ngo-lui-kiongcu dan kedua orang baju putih yang masing-masing mengacungkan Ngo-lui-cu berpencar ke tiga arah, jarak antara ketiganya kira-kira dua tombak, itu berarti sepuluh tombak disekitar mereka dapat mereka capai dengan sekali timpukan granat yang mematikan itu. Pucat dan berubah air muka orang-orang Wi-to-hwe, tandu berhias itupun menyurut mundur setombak lebih. Rambut ubanan Bu-cing-so dan Siang-thian-ong sempat bergerak-gerak berdiri, agaknya mereka teramat murka. Ngo-lui-kiongcu tertawa gelak-gelak seperti orang kesurupan, katanya: "Wi-to-hwe akan tamat hari ini, kalian masih ada pesan apa lagi?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Tajam tatapan Wi-to-hwecu, namun suaranya masih mantap dan kuat: "ln Ci-san, kau memang licik dan keji, boleh kau coba timpukan senjatamu itu." In Ci-san menyeringai, katanya: "Tadi sudah kukatakan kalau bukan aku yang gugur di sini, maka akulah yang akan mencuci tanah Tong-pek-san ini dengan darah kalian ini." Orang berbaju putih yang dituding sebagai Biau-jiu Siansing oleh Thian-thay-mo-ki tadi mendadak berpaling ke arah Ji Bun, katanya: "Anak muda, kalau kau tidak ingin mampus, lekas tinggalkan tempat ini." Ji Bun menjadi serba susah, kata-kata orang berbaju putih ini terasa mengandung arti mendalam namun sukar ditebak, kalau dirinya sampai ikut jadi korban ledakan Ngo-lui-cu. bukankah keinginannya bakal tercapai malah? Tapi dia justeru menganjurkan dirinya lekas pergi, apa sih maksudnya? Tak tertahan ia bertanya: "Apa maksud tuan?" "Aku tidak ingin kau mampus di sini," kata orang itu. “Kau kira dengan menanam kebajikan padaku, lantas dapat merubah sikapku kepadamu?" Thian-thay-mo-ki juga menarik muka, sikapnya rada gelisah, katanya: "Bagaimana?" Tegas kata-kata Ji Bun: "Dalam hal ini pasti ada muslihatnya, aku takkan ditipu mentah-mentah, kalau mau pergi aku bisa segera

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ berangkat, tidak mungkin lataran aku seorang dia melemparkan Ngo-lui-cu, lagi kepandaian orang-orang ini, orang di dalam tandu, belum tentu mereka takkan mampu menyelamatkan diri, aku justeru ingin melihat akhir dari pertempuran di sini." "Dik, ketiga orang yang membawa Ngo-lui-cu berkepandaian tinggi, keadaan ini jangan kau remehkan, memang tidak sulit bagi Wi-to-hwecu dan lain? yang berkepandaian tinggi untuk menyelamatkan diri, namun bagaimana kelanjutannya? Urusan belum beres, yang celaka adalah mereka yang berkepandaian rendah, memang markas ini harus dikosongkan." Lahirnya Wi-to-hwecu tenang-tenang saja, namun hatinya tegang dan gelisah, keadaan seperti ini takkan bisa dikuasai hanya dengan kekuatan Lwekang atau kepandaian silat, memang tiada cara lain yang tepat untuk mengatasinya, urusan sekarang bukan saja merupakan persoalan mati hidup jiwa orang-orang yang hadir, juga mengenai nama dan kebesaran Wi-to-hwe yang harus tetap diperjuangkan, sekali salah langkah, Wi-to-hwe akan lenyap dan tak bisa lagi berdiri di kalangan Bu lim. "Te-gak Suseng," orang baju putih samaran Biau-jiu Siansing bicara lagi. "kau ingin menghadap Giam-lo-ong?" Ji Bun mengertak gigi tanpa menjawab, dalam hati ia sudah berkeputusan tidak akan berpihak kepada musuh, namun bila Wi-tohwecu dan lain-lain semua mampus karena ledakan Ngo-lui-cu maka gagal harapannya untuk menuntut balas, betapa hati takkan menyesal dan malu kepada para arwah yang telah mendahuluinya. Kembali dia menghadapi satu pilihan. Sebaiknya sekarang dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ bertindak secara mendadak membekuk Wi-to-hwecu dan meninggalkan tempat ini, peduli apa yang bakal terjadi di sini. Maka ia lantas berbisik kepada Thian-thay-mo-ki: "Cici, lekas kau pergi " "Tidak, mati hidup aku tetap berdampingan dengan kau." "Kau bisa menggagalkan rencana besarku," ucap Ji Bun sambil membanting kaki. Baru saja Thian-thay-mo-ki hendak membuka mulut, tiba-tiba rombongan orang yang berjaga dimulut gunung sana seperti tersibak ombak sama menyingkir ke samping, tampak seorang Hwesio bertubuh besar melayang tiba seperti awan mengembang. Suasana menjadi hiruk-pikuk. Ngo-lui-kiongcu berpaling sambil membentak lantang: "Hwesio keparat, berhenti di situ!" Seperti tidak mendengar, Hwesio itu tetap melangkah maju dengan enteng. Keruan Ngo-lui-kiongcu naik pitam, bentaknya: "Tangkap dia!" Dua laki-laki memegang pedang segera menubruk maju, aneh sekali, entah menggunakan gerakan apa, tahu-tahu Hwesio itu berkelebat sekali, bayangannya tahu-tahu lenyap, kedua orang itu menubruk tempat kosong, hampir saja mereka jatuh tersungkur, sementara Hwesio gede sudah berada di tengah arena.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Gerakan Hwesio ini seketika mengejutkan setiap hadirin. Tiba-tiba Thian-thay-mo-ki berseru dengan suara haru tersendat: "Dik, itulah dia!" Ji Bun garuk-garuk kepala, tanyanya: "Dia siapa?" "Thong-sian Hwesio yang pernah menolong kita itu." Begitu tiba Thong-sian menyapu pandang ke seluruh gelanggang, akhirnya pandangannya berhenti pada Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki, masih segar dalam ingatannya, bahwa Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki waktu itu sudah mati betul-betul. Lekas Ji Bun tampil kemuka sembari memberi hormat: "Banyak terima kasih atas pertolongan Siansu tempo hari.” "Apa, jadi kalian ......” "Kami berdua lolos dari elmaut." "Amitha Budha!" Thong-sian bersabda, lalu dia berpaling kepada Ngo-lui-kiongcu, katanya: "In sicu, simpanlah Ngo-lui-cu itu." "Siapakah gelaran Toa-hwesio?" tanya Ngo-lui-kiongcu, suaranya hambar. "Pinceng Thong-sian." "Orang beribadat kenapa mencampuri urusan duniawi?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Omitohud, kebajikan adalah pangkal ajaran Budha, mendarma baktikan kebijaksanaan demi menolong sesamanya adalah kewajiban setiap insan." "Sekali lagi kuulangi, lekaslah Toa-hwesio pergi saja." "Memang Pinceng harus datang kemari dengan sia-sia." "O, memangnya Toa-hwesio berdiri di pihak mana?" "Di pihak yang benar." "Pihak mana yang benar?" "Pinceng harap Sicu menyimpan Ngo-lui-cu dan mundur lima tombak." "Cukup dengan sepatah katamu saja?" "Kukira cukup berkelebihan." "Lekas Toa-hwesio mengambil sikap, ke mana kau berpihak, kalau tidak, aku tidak kenal ajaran bajik atau bijak segala." Terpancar sinar terang jernih pada mata Thong-sian Hwesio, dengan tajam dia tatap muka Ngo-lui-kiongcu, begitu tenang dan berwibawa sekali sorot matanya, tanpa terasa In Ci-san menyurut mundur dengan keder.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Wi-to-hwecu dan lain-lain saling adu pandang dengan heran, tiada seorangpun yang tahu asal-usul Hwesio ini, kawan atau lawan juga belum jelas. Orang baju putih yang ada di sebelah kiri tiba-tiba berbisik: "Inciangbun, baiknya kita mundur saja sementara." In Ci-san amat angkuh dan terlalu menjaga gengsi, demi nama baiknya, mana dia mau takluk kepada seorang Hwesio yang belum diketahui asal-usulnya, maka dia menggeleng, katanya: "Toahwesio, apa sih maksudmu sebetulnya?" Dengan angker berwibawa Thong-sian Hwesio berkata: "Aku kemari demi menegakkan keadilan bagi Bu-lim." Orang baju putih di sebelah kiri itu mendadak berseru tertahan, kakinya menyurut beberapa langkah, agaknya dia mengenali siapa Hwesio gede ini, sorot matanya seketika memancarkan nafsu keji, tiba-tiba kakinya menjejak tanah, badannya melejit mundur, berbareng tangannya terayun ke depan, Ngo-lui-cu ditangannya itu dia timpukkan kepada Thong-sian Hwesio. Padahal saat itu Thongsian Hweesio berdiri di tengah antara kedua pihak. Perbuatan nekat orang berbaju putih yang diluar dugaan ini sungguh mengejutkan seluruh hadirin termasuk Ngo-lui-kiongcu sendiri, sekali meledak, Kekuatan Ngo-lui-cu dapat mencapai lima tombak jauhnya, dalam jarak sejauh ini, tiada seorangpun yang bisa lolos dari renggutan elmaut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Di tengah teriakan orang banyak mereka sama melompat mundur sejauh mungkin. Jarak Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki hanya setombak lebih dengan Thong-sian Hwesio, untuk berkelit atau menyingkir jelas tidak mungkin lagi. Untunglah pada detik-detik yang menegangkan itu, tiba-tiba tangan Thong-sian terangkat sambil melambai, seperti orang bermain sulap saja tahu-tahu Ngo-lui-cu yang hampir jatuh menyentuh bumi itu berhenti di tengah udara terus meluncur kesamberan tangan Thong-sian. Rasa kejut semua orang masih belum hilang, tapi mereka tak lupa berseru memuji. Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki saling berpandangan dengan tertawa getir, keringat dingin sudah membasahi badan mereka. Sebaliknya rona muka Ngo-lui-kiongcu berubah tidak menentu, kedua biji matanya terbelalak. Sorot mata Thong-sian setajam golok seterang bintang kejora menatap ke arah si orang berbaju putih tadi, katanya: "Kenapa Sicu turun tangan sekeji ini kepada Pinceng?" Nafsu jalang siorang baju putih yang terpancar dari sorot matanya berubah rasa jeri dan ketakutan, tanpa bersuara lagi dia melirik memberi tanda kepada Biau-jiu Siansing, serempak keduanya lantas melejit tinggi dan meluncur turun ke lamping gunung, gerakgeriknya aneh secepat kilat lagi, dalam sekejap sudah lenyap dari pandangan mata.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Setelah Ji Bun sadar kembali dari lamunannya katanya sambil membanting kaki: "Kembali dia lolos." Dengan ditinggal pergi kedua orang baju putih yang menjadi tulang punggungnya, Ngo-lui-kiongcu menjadi patah semangat, seperti burung yang patah sayapnya, keruan dia menjadi bingung dan gelisah, Ngo-lui-cu tak bermanfaat lagi. apalagi anak buahnya juga patah semangat dan banyak yang terluka. Wi-to-hwecu masih berdiam diri tanpa bertindak untuk menunggu reaksi Thong-sian Hwesio selanjutnya. Tampak Thong-sian menarik tangan menyimpan Ngo-lui-cu rampasan dalam lengan bajunya, lalu katanya kepada Wi-to-hwecu sambil melangkah maju: "Sicu ini adalah Hwecu?" "Ya, Toa-hwesio ada petunjuk apa?" "Pinceng membawa firman Thian untuk menunaikan darma bakti demi keserasian hidup kaum persilatan, untuk ini harap Sicu selekasnya membubarkan Wi-to-hwe." Sudah tentu seluruh hadirin terperanjat mendengar ucapan ini. Tidak malu Wi-to-hwecu sebagai seorang pemimpin, terlebih dulu dia membalas hormat lalu berkata. dengan sewajarnya: "Ucapan Taysu ini tentu punya dasar dan alasannya?" "Sepak terjang anak buahmu di luar tentunya Sicu sendiri juga tahu, apa yang dinamakan menegakkan keadilan, tak ubahnya melanggar kemanusiaan belaka, ini jelas tidak boleh dibenarkan."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Taysu mendengar omongan orang atau menyaksikan sendiri?" Thong-sian menuding Ji Bun berdua. katanya: "Kedua Sicu muda ini adalah salah dua korban dari kekejaman anak buahmu." Berkata Wi-to-hwe-cu dengan nada serius: "Di kalangan Kangouw sudah disinyalir adanya orang-orang yang menyaru murid-murid kami dan melakukan kejahatan di luaran, untuk ini kami sudah mengerahkan tenaga untuk menyelidikinya, dalam waktu dekat pasti kami dapat memberikan pertanggungan jawab kepada Bulim." "Omitohud! Seorang Buddhis pantang berbohong, Pinceng tak dapat percaya begini saja." "Lalu bagaimana pendapat Taysu?" "Bubarkan saja perkumpulanmu." "Tidak mungkin," sahut Wi-to-hwecu tegas. Berkilat biji mata Thong-sian Hwesio, katanya dengan suara kereng, "Pinceng terpaksa harus melanggar pantangan." Bu-cing-so, Siang-thian-ong dan Cui Bu-tok serempak melompat maju sambil menggerung gusar, suasana kembali memuncak tegang. Tandu berhias itupun segera melayang datang, kata orang di dalam tandu itu: "Taysu dari aliran dan perguruan mana?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Pinceng tidak punya aliran, melainkan pendeta sebatang kara dari kelenteng bobrok belaka." "Gerakan Taysu waktu menangkap Ngo-lui-cu tadi jelas adalah Sian-thian-chin-khi?" Terunjuk rasa kaget dan heran pada muka Thong-sian Hwesio, katanya setelah melengak sejenak: "Luas juga pengetahuan Sicu, ya, memang betul Sian-thian-chin-khi." Sian-thian-chin-khi merupakan ilmu Lwekang yang tiada taranya, sekuat besi seulet baja, kalau latihan sudah sempurna dapat digunakan sesuka hati, sedikit pikiran bergerak cukup untuk melukai lawan, bagi yang berkepandaian rendah tidak ambil peduli, namun bagi pendengaran Siang-thian-ong dan lain-lain, bukan kepalang kejut mereka. "Jadi Taysu adalah murid keturunan Sin-ceng (paderi sakti)?" kata orang dalam tandu pula. Thong-sian menarik muka dan merangkap tangan, katanya: "Betul, beliau adalah guruku almarhum. Pandangan Sicu begini luas, sungguh mengagumkan." "Tapi Taysu menghendaki perkumpulan kami bubar apakah permintaan ini tidak keterlaluan?" "Betapapun Pinceng tidak gampang mengubah keputusan."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Wi-to-hwecu segera menyela bicara: "Kita yakin tak pernah melanggar Wi-to, Taysu begini memaksa, lebih baik kita gugur seluruhya." Thong-sian menepekur sebentar, katanya kemudian: "Kalau Sicu mampu melawan tiga kali pukulanku, selanjutnya Pinceng tidak akan mencampuri lagi urusan Kang-ouw." "Baik, kuterima tantangan ini," jawab Wi-to-hwecu nekat. "Jangan Hwecu," orang dalam tandu mencegah dengan suara bimbang. Persoalan sudah jelas, Thong-sian Hwesio telah berhasil meyakinkan Sian-thian-chin-khi, Lweekang yang tiada taranya, betapapun tinggi kepandaian seseorang takkan kuat menghadapi ujung jarinya, apalagi tiga kali pukulan. Tapi kaum persilatan memandang nama lebih berharga daripada jiwa raga, demi gengsi mereka rela berkorban, apalagi seorang pemimpin yang harus membubarkan perkumpulannya, sudah tentu dia lebih suka gugur dari pada hidup mendapat malu. Si cebol bundar Siang-thian-ong segera menggelinding maju, serunya. " Biar Lohu dulu yang menghadapi tiga pukulanmu." Wi-to-hwecu angkat tangan, serunya: "Ini urusanku sendiri, harap Hou-hoat mundur dan jangan banyak bicara lagi." "Hwecu," seru orang dalam tandu, "sebagai kepala para Houhoat, biar aku yang menerima tantangan ini."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tidak, aku ini seorang pemimpin, akulah yang harus menghadapi ujian ini, kalau aku tidak beruntung, boleh Cong-hou-hoat segera bubarkan perkumpulan kita ini." Sungguh jiwa ksatria yang tak gentar menghadapi elmaut. "Hwecu" seru orang dalam tandu, pertimbangkan kembali putusanmu." "Tiada yang perlu dipertimbangkan lagi, putusanku tak dapat diubah, beberapa persoalan kita yang belum sempat kubereskan harap kau sudi menyelesaikannya." Lalu dia melangkah kehadapan Thong-sian, tantangnya dengan ketus: "Silakan mulai!" Thong sian maju beberapa langkah, jarak mereka tinggal setombak lebih, keduanya berdiri tegak berhadapan. Suasana hening lelap, jarum jatuhpun bisa terdengar, hawa seperti membeku, ketegangan mencekam sanubari setiap hadirin. Tapi begitu pandangan kedua orang saling bentrok, keduanya sama-sama melongo dan mematung. Dengan suara haru gemetar, tiba-tiba Wi-to-hwecu bertanya: "Belum genap 20 tahun Taysu mencukur rambut bukan?" Jelas Thong-sian sangat kaget, romannya berubah. "Betul" sahutnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Nama preman Taysu she Ciu?" "Sicu, kau ......" Thong-sian mundur tiga langkah, kulit daging mukanya gemetar, agaknya pertanyaannya yang berulang ini membuatnya kaget dan kebingungan. Tiba-tiba Wi-to-hwecu angkat tangan kanan, jempol dan jari telunjuknya terangkat berkembang, sementara tiga jarinya yang lain ditekuk turun, katanya gemetar: "Taysu sudah mengerti?" Kembali Thong-sian menyurut mundur, suaranya tersendat: "Kaukah ini?" “Ya" sahut Wi-to-hwecu singkat. Teka-teki apa yang dibicarakan kedua orang ini tiada yang tahu. Thong sian segera merangkap tangan, lalu komat-kamit, akhirnya bersuara: "Bagus, bagus, sungguh diluar dugaan Pinceng. Sicu, bereskan dulu persoalan di sini." Wi-to-hwecu mendekati Ngo-lui-kiongcu, katanya dengan suara berat: "In-ciangbun, sekali lagi kunyatakan bahwa anak buahku pasti tiada yang membunuh anak muridmu, yang terang memang ada orang yang mengadu domba. Tidak sedikit jatuh korban di antara kita, sebetulnya pihakmulah yang harus bertanggung jawab seluruhnya, namun sesuai azas tujuan berdirinya perkumpulan kami, biarlah persoalan ini kami anggap malapetaka yang tak terduga, anggaplah selesai persoalan ini, bagaimana pendapatmu?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ In Ci-san tahu situasi tidak menguntungkan pihaknya, kalau tidak mau terima saran pihak sana, memangnya dia hendak berbuat apalagi? Setelah diam sebentar, lalu berkata dengan penuh kebencian: "Baiklah soal ini sementara selesai sampai di sini, namun cepat atau lambat perhitungan ini pasti akan kami tagih." "Itu urusan kelak, bagaimana kalau tuan dan anak buahmu mampir dulu untuk istirahat dan mengobati yang luka-luka?" "Tidak perlu, selamat bertemu kelak," In Ci-san putar badan memberi tanda kepada sisa anak buahnya, serunya: "Bawa mayatmayat teman-temanmu." Beramai anak buah Ngo-lui-kiong bekerja cepat, cepat sekali para korban sudah dipanggul dan dibawa turun gunung. Pertikaian yang berlangsung secara aneh ini lekas sekali sudah usai, namun hati semua orang dirundung awan gelap, ada hubungan apakah sebetulnya antara Wi-to-hwecu dengan Thong-sian Hwesio? Cukup dengan beberapa patah kata yang tidak dimengerti tadi, dengan mudah Wi-to-hwecu dapat mengubah tekad dan pendirian Thong-sian? Hati Ji Bun berat seperti diganduli barang ribuan kati, niatnya hendak menuntut balas ketika mendapat kesempatan tadi telah lenyap, dia pikir harus selekasnya bertemu dengan ayah, setelah jelas duduk persoalannya, barulah mereka bergabung mengambil tindakan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Setelah membereskan urusannya, Wi-to-hwecu mendekati Ji Bun, katanya: "Sahabat muda, sekarang silakan." Diam-diam Ji Bun mengertak gigi, sahutnya: "Sekarang juga kami mohon diri, kalau ada kesempatan kelak kami pasti berkunjung pula." "Kenapa tergesa-gesa?" "Banyak urusan yang harus kami bereskan," sahut Ji Bun lalu dia memutar ke arah Thong-sian, katanya: "Taysu, terima kasih akan pertolongan tempo hari, Wanpwe mohon diri." Thong-sian tidak bersuara, dia hanya mengangguk sambil merangkap kedua tangan di depan dada, namun sorot matanya berkilauan menatap muka Ji Bun. Setelah basa-basi ala kadarnya pula, segera Ji Bun turun gunung bersama Thian-thay-mo-ki.

8.24. Tuduhan Pembunuh dan Pemerkosa .... Setiba dibawah gunung, Ji Bun menarik napas panjang, pikiran masih terasa pepat, ayah berkelana di Kang-ouw tidak menentu jejaknya, demikian pula bunda tak keruan paran, kekuatan musuh semakin bertambah, banyak tanda tanya yang selama ini dapat terbatas? Tiba-tiba dia sadar, dirinya melupakan suatu hal penting, kenapa tadi tidak sekalian mencari kabar kepada orang dalam tandu atau kepada Wi-to-hwe tentang adik Pek-ciok Sin-ni yang bernama Toh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Ji-lan itu, tugas dan pesan orang tua di dalam jurang itukan harus selekasnya diselesaikan. "Dik," tiba-tiba Thian-thay-mo-ki buka suara, "apakah musuhmu berada di Wi-to-hwe?" Tergetar hati Ji Bun. "Kenapa Cici tanya hal ini?” "Sorot mata dan sikapmu memberitahu padaku. "Apa benar?" "Waktu peresmian berdirinya We-to-hwe tempo hari sudah kudapati perubahan sikapmu ini, aku tak berani tanya, namun perubahan saling susul atas dirimu, watakmu yang nyentrik dulu sudah kau buang jauh, perubahan secara dratis ini bukan menandakan pengalamanmu yang semakin bertambah, tapi karena adanya tekanan batin tertentu sehingga jiwamu tertekan, atau mungkin juga hal ini memang kehendakmu sendiri karena sesuatu hal, maaf aku bicara secara blak-blakan." Merinding bulu kuduk Ji Bun, diam-diam ia mengagumi ketelitian Thian-thay-mo-ki, namun diam-diam iapun semakin waspada, disadarinya bahwa keadaan dirinya semakin ruwet, ayah sendiri tidak mau menjelaskan peristiwa hancurnya Jit-sing-po, sejauh ini tidak mau kerja sama dengan dirinya, tidak menunjukkan aksi lagi. Secara langsung dia menyadari juga bahwa ayahnya telah banyak berubah pula, sehingga hubungan mereka ayah beranak menjadi renggang seperti dibatasi sesuatu jalur yang tidak kelihatan. Kenapa bisa demikian?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitulah tanpa bersuara mereka melanjutkan perjalanan tanpa arah. Tiba-tiba pandangan mereka terasa kabur, bayangan putih tahu-tahu berkelebat di depan mata, seorang berbaju putih entah kapan sudah mengadang di depan mereka, Ji Bun berdua segera berhenti, seketika berkobar semangat Ji Bun, orang yang mencegatnya ini ternyata Biau-jiu Siansing adanya. "Tuan menungguku di sini?" tanya Ji Bun. "Ya, begitulah," sahut Biau-jiu Siansing. "Agaknya tuan dapat dipercaya." "Omong kosong, memangnya Lohu harus ingkar janji terhadap anak muda," ujar Biau-jiu Siansing, "banyak orang mondir-mandir di sini, marilah kita cari tempat lain." "Di dalam hutan sana, bagaimana?" tanya Ji Bun. Hutan yang ditunjuk terletak disebelah kiri, dengan pepohonan yang rindang. "Baik, namun Lohu ada pendapat." "Pendapat apa?" "Untuk menyelesaikan pertikaian kita, lebih baik kalau tiada orang ketiga menyaksikan." Maksudnya mengusir Thian-thay-mo-ki secara halus.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Berubah air muka Thian-thay-mo-ki, katanya: "Biau-jiu Siansing, hubungan kami sudah kau ketahui, aku bukan orang luar." "Hubungan kau dipaksakan," jengek Biau-jiu Siansing terkekeh lucu. "Baiklah, Cici," tukas Ji Bun, "kau tunggu saja di luar hutan." Apa boleh buat, Thian-thay-mo-ki akhirnya mengangguk, pesannya: "Hati-hati, Dik." "Aku tahu, Cici tidak usah kuatir." Biau-jiu Siansing berkelebat seperti bayangan setan, tahu-tahu lenyap kedalam hutan. Lekas Ji Bun mengudak kesana. Waktu itu sudah mendekati magrib, cuaca dalam hutan remangremang gelap, namun Biau jiu Siansing mengenakan pakaian putih bayangannya cukup menyolok. Kira-kira puluhan tombak Ji Bun mengudak, dilihatnya bayangan orang sudah berdiri menanti kekedatangannya. Ji bun mendekati dalam jarak beberapa kaki, secara langsung dia buka suara: "Tuan, tak perlu banyak omong, bagaimana anting-anting pualamku itu?" "Kenapa kau menuduh aku yang merebut anting-antingmu itu?" "Jadi kau mungkir?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Tak pernah aku merebut barangmu, bagaimana aku harus mengaku." "Aku tidak percaya." "Te-gak Suseng, perlu kutanyakan dengan tegas, kalau kau punya bukti bahwa memang aku yang melakukan, batok kepalaku boleh kuserahkan kepadamu, kalau tidak, jangan kau melanggar aturan Kang-ouw, menuduhku secara tidak semena-mena." Sudah tentu mulut Ji Bun terkancing, bicara soal bukti hakikatnya dia tidak bisa menunjukkan, hanya berdasarkan gerakan dan kebal racun tangannya saja, maka dia menuduh Biau-jiu-Siansing. "Kau harus lekas memberi keterangan kepada pemilik barang itu, supaya mereka lekas bertindak, kalau tidak harta bendanya bakal ludes dalam sekejap mata, bagaimana akibatnya, kau yang harus memikulnya." Memang benar, anting-anting itu milik pribadi Ciang Bing-cu, nilai anting-anting itu sendiri mungkin tidak seberapa, namun arti dari akibat hilangnya anting-anting itu tak terkira besarnya, kalau sampai hal ini bocor dan diketahui keluarga Ciang, bagaimana dirinya harus menghadapinya? Benak berpikir, namun mulutnya tetap kukuh: "Tuan bilang hendak mempertaruhkan batok kepalamu?" "Betul." "Baik, soal ini sementara boleh ditunda."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Anak muda, masih ada satu hal perlu kuperingatkan padamu, nama gelaran Thian-thay-mo-ki terlalu buruk di kalangan Kang-ouw .......” "Aku tahu kau tidak usah kuatir," kata Ji Bun, "lalu bagaimana janjimu tempo hari?" "Janji apa?" "Kau pernah berjanji hendak menyampaikan kabar kepada Jitsing-kojin, supaya selekasnya mencari aku buat menyelesaikan ......” "Dia tidak mencarimu?" seru Biau-jiau Siansing, "aneh sekali, hal itu sudah kusampaikan padanya, dia juga sudah berjanji hendak menemui kau?" "Sekarang boleh kau katakan di mana dia berada, biar aku yang mencarinya." "Dia tidak punya tempat tinggal yang tetap." "Itu hanya alasan belaka, kaukan sekelompok dengan dia, di mana jejaknya kau pasti tahu." "Ada permusuhan apakah antara kau dengan dia?" "Sudah tahu masih pura-pura tanya?" "Aku betul-betul tidak tahu, sukalah kau terangkan?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Kau tidak perlu tahu, katakan saja alamatnya." "Tidak bisa." "Kenapa?" desis Ji Bun, "untuk mencapai keinginanku, tindakan apapun bisa kulakukan." "Kau menantang Lohu, he?" "Kalau kau tidak terus terang, kuganyang kau." Biau-jiu Siansing menepekur sebentar, katanya: "Berilah waktu kepadaku, kapan dan di mana, biar dia sendiri yang mencarimu?" "Aku tidak sabar menunggu," jawab Ji Bun. „Lima hari lagi kita bertemu dijalan raya yang menuju ke Kayhong, bagaimana?" tanya Biau-jiu Siansing tanpa hiraukan sikap ketus Ji Bun. "Baiklah, tapi ada syaratnya." "Syarat apa?" "Jelaskan asal usul Jit-sing-kojin." "Hal itu biar dia sendiri yang menjelaskan padamu, Lohu tidak berhak."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Kalau kau tidak menerima syaratku, aku juga tidak terima janjimu." "Te-gak Suseng," desis Biau-jiu Siansing, "kau suka bertingkah, selama hidup belum pernah Lohu diancam dan ditekan orang." "Kalau begitu jangan harap kau bisa pergi." "Memangnya kau mampu menahan Lohu?" lenyap suaranya badannya tiba-tiba melesat kebelakang, Ji Bun menghardik keras, telapak tangannya menepuk "Blang" ditengah suara gemuruh sebatang pohon besar roboh, namun bayangan Biau-jiu Siansing sudah lenyap. Serasa meledak dada Ji Bun, amarahnya memuncak, cepat ia menyelinap ke dalam hutan dan melesat seringan burung walet, sayang hutan ini terlalu lebat, pandangannya selalu terhalang, langkahnyapun sedikit terganggu oleh semak-semak. Tiba-tiba ia teringat akan Ginkang berkisar dengan badan memutar mumbul ke atas ajaran orang tua aneh di bawah jurang Pek-ciok-hong itu, segera badannya melejit tinggi berputar mumbul ke tengah angkasa, kakinya menutul pucuk-pucuk pohon sehingga gerakannya secepat burung, terbang, namun ke mana pandangannya menjelajah, hanya tampak setitik putih berkelebat di kejauhan sana, segera dia mengudak kencang kearah bayangan putih itu. Dengan seluruh kekuatannya dia kembangkan Ginkang yang tiada bandingan ini, seenteng asap melayang cepat sekali dia sudah menempuh delapan li, cuaca sudah gelap, untung bayangan itu mengenakan baju putih sehingga Ji Bun tidak kehilangan sasaran.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tak jauh di depan sana terlihat sinar pelita, agaknya sebuah kota kecil, kalau orang yang dikejarnya ini sampai memasuki kota, untuk mencarinya tentu lebih sukar, karena gugup Ji Bun tambah tenaga dan mengejar semakin kencang, bagai segulung kabut entengnya ia berhasil melampaui orang lalu berhenti setombak di depan orang, mulutpun membentak: "Berhenti!" Bayangan putih itupun segera menghentikan langkahnya. Tapi Ji Bun seketika melongo dan berdiri kaku, ternyata bayang putih yang dikejarnya ini bukan Biau-jiu Siansing, tapi seorang Nikoh muda belia. Dongkol dan merengut wajah Nikoh muda ini, serunya marahmarah: "Apa maksud Sicu mencegatku?" Ji Bun menjadi kikuk, ia menyengir kecut, namun dalam hati ia memuji akan gerakan orang yang hebat, katanya tergagap: "Maaf, Cayhe keliru, kusangka Suthay adalah orang yang tadi kukejar." Dengan seksama Nikoh muda itu mengamati Ji Bun, katanya dengan suara rada gemetar: "Apakah Sicu Te-gak Suseng adanya?" "Betul, memang akulah yang rendah." Tiba-tiba mendelik gusar mata Nikoh muda, bentaknya beringas: "Te-gak Suseng, kau binatang yang tidak berperi kemanusiaan ini, kalau tidak kuhancur leburkan kau kubersumpah tidak jadi manusia."

” Ji Bun berjingkat." Ji Bun geleng-geleng. kau . memangnya siapa lagi kecuali kau yang membunuh orang tanpa meninggalkan bekas?" Ji Bun mundur selangkah lagi. teriaknya terbeliak: "Membunuh tanpa meninggalkan bekas?" .Tiraikasih Website http://kangzusi." Nikoh muda mendesis pula." "Seorang Suciku yang soleh dan patuh pada ajaran agama. serunya gemetar.. berdasar apa kau menuduhku demikian?" "Te-gak Suseng.. ujarnya: "Cayhe betul-betul tidak mengerti." “Lho. serunya sambil mundur: "Apa maksudmu Siau-suthay?” Desis Nikoh muda penuh kebencian dan dendam: "Perbuatanmu tak terampunkan. "Apa? Memperkosa dan membunuh?" "Ya. namun kau telah memperkosa dan membunuhnya. sambil mengertak gigi: "Di tempat suci kau telah berani berbuat jahat dan kotor. tanyanya tak mengerti: "Cayhe tidak tahu apa yang Suthay katakan....." Ji Bun bingung. kau membunuh setelah memperkosa Suciku... kau .com/ Kaget dan heran Ji Bun dibuatnya.

teriaknya menahan isak: "Kau menyangkal?" "Ya.com/ "Betul." "Serahkan jiwamu!" tahu-tahu telapak tangan Nikoh itu menggempur ke dada Ji Bun. namun sekali berkisar Ji Bun sudah berkelebat menyingkir. jangan hanya berdasar bukti-bukti yang masih belum jelas terus menuduh Cayhe yang melakukannya. kekuatannya sungguh amat mengejutkan." Sedih dan haru membuat badan Nikoh muda itu bergetar. namun kalau bicara soal kepandaian silat dan Lwekang. dan racun ini kecuali dirinya hanya ayahnya yang bisa menggunakan. tentu jiwanya bisa melayang. serangan kedua segera menghantam pula. kalau tidak melawan atau menangkis.Tiraikasih Website http://kangzusi. maka dia membela diri dengan tenang: "Siausuthay. kau berani mungkir?" Ji Bun berpikir. teriaknya: "Siau-suthay orang yang beribadat. sekali pukulannya luput. Ji Bun berkelit ke kiri dan menyingkir ke kanan. lama kelamaan ia menjadi keripuhan juga. namun kalau tinggal pergi begini saja. dengan tegas kusangkal tuduhanmu ini. hanya Cui-sim-tok yang sanggup membunuh orang tanpa meninggalkan tanda-tanda yang mencurigakan. caranya nekat dan seranganpun membabi buta. tentunya tidak sedikit jago-jago kosen yang mampu juga membunuh orang tanpa meninggalkan bekas. . kenapa begini galak dan berpandangan sempit?" Nikoh muda itu anggap tidak dengar peringatannya.

ia kerahkan tenaga di telapak tangan terus menahan kedepan. kenyataan sudah membuktikan. soalnya Suthay bertindak serampangan. Nikoh itu menjerit ngeri. Ji Bun naik pitam menghadapi serangan membabi buta ini. lebih celaka lagi Nikoh ini akan lebih yakin bahwa dirinya memang seorang pembunuh. tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan. namun Nikoh ini sudah kalap. Betapapun dia harus menyelidiki peristiwa ini dan membongkar pembunuhan ini. coba. Karena itu ketika lawan menyerang lagi." "Pandangan Suthay terlatu sempit. kalau menuruti wataknya dulu. seperti kerasukan setan kembali ia menubruk maju dengan serudukan dan tendangan secara keji. dikala lawan menyeruduk tiba pula. kapan peristiwa itu terjadi dan di mana?" . kau masih berani menyangkal." Semakin berkobar rasa benci yang tersorot dari mata Nikoh muda. urusanpun akan berlarut. sebat sekali dia menyelinap miring terus melintangkan tangan balas menjojoh. Ji Bun berkata dengan nada berat: "Cayhe tidak ingin melukai Suthay. badannya tersungkur ke samping.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ bukankah namanya bakal dicap semakin kotor. namun dia hanya mendengus gusar. mungkin Nikoh muda ini sudah tak bernyawa lagi. apa yang kau katakan kenyataan hanya obrolan mulut Suthay sendiri. desisnya mengertak gigi: "Te-gak Suseng. terdengar Nikoh itu mengerang pendek dan sempoyongan. darah meleleh dari mulutnya.

suasana hening lelap di dalam kelenteng kecil ini. soal ini boleh dikesampingkan. kembali mereka dihadang sebidang hutan liar. cukup lama mereka harus berlari diantara semak-semak hutan dengan naik turun bukit-bukit yang terjal.com/ Nikoh muda itu menyeka darah yang meleleh di pinggir mulutnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. . dilihatnya sebuah pigura besar cat hitam tergantung di atas pintu dengan empat tulisan emas yang berbunyi "Ci-hang-boh-toh". Setelah Nikoh itu menyelinap masuk ke dalam kelenteng. katanya kemudian: "Lagakmu seolah-olah kau tidak tahu sama sekali." "Baik. kiranya sebuah kelenteng Kwan Im. sakit hati ini pasti akan kubalas. akhirnya tampak sebuah kelenteng kecil. gerak-gerik Nikoh muda itu ternyata cukup tangkas dan tinggi Ginkangnya. Ji Bun pikir. selamat bertemu." lenyap suaranya orangnyapun sudah berkelebat beberapa tombak jauhnya. sekian lama dia masih melotot gusar. maka segera ia angkat langkah mengejar. barulah Ji Bun lari mendekat. dengan mengerahkan sepenuh tenaganya baru Ji Bun dapat menyusul dalam jarak tertentu." "Kenyataan memang demikian. urusan ini harus selekasnya diselidiki dan dibereskan. Setelah melampaui kota kecil. namun tuduhan membunuh dan memperkosa ini sungguh bukan urusan sepele. pintu kelenteng setengah terbuka setelah Nikoh muda tadi menyelinap masuk. Thian akan menjatuhkan hukuman setimpal atas perbuatanmu. aku tidak tahu apa-apa. itulah biara yang khusus ditempati oleh Nikoh atau biarawati.

dua sosok bayangan orang tampak di jendela. itulah sebuah kamar tamu yang dipajang sederhana. hatinya menjadi tidak tenteram. begitu masuk Ji Bun lantas berada di ruang sembahyang. sebagai seorang laki-laki asing. Menjurus ke kiri adalah serambi panjang yang menuju ke belakang. akhirnya Ji Bun memberanikan diri melangkah maju terus menyelinap masuk juga dengan langkah enteng tidak bersuara. Sinar pelita yang guram menerangi ruang sembahyang yang sunyi dan tidak kelihatan bayangan orang. namun terawat baik. lebih baik bersuara menyatakan maksud kedatangannya. supaya tidak timbul salah paham dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Nikoh muda yang dikuntitnya tadi membuka pintu terus mundur kesamping. Kelenteng kecil. Ji Bun berpikir sebalum bertindak lebih jauh. agaknya mereka tengah bicara. Kamar di sebelah tengah segera menjadi terang.com/ Sejenak ragu-ragu. tapi sinar pelita menembus keluar dari kamar sebelah barat. di belakang taman adalah dua kamar yang berjajar dalam keadaan gelap. kedua tangan terangkap di depan dada. malam-malam keluyuran di biara Nikoh. Kamar di sebelah timur gelap gulita. sambutnya dingin: "Silakan masuk!" . di samping sana adalah sebuah halaman yang ditanami tetumbuhan. Namun sebelum dia buka suara. tergerak hati Ji Bun. siapakah dia? Dalam hati dia bertanyatanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. sebuah suara serak berkumandang dari kamar sebelah barat itu. "Apakah Te-gak Suseng Sicu yang datang? Silakan masuk!" Suara ini seperti sudah amat dikenal.

sikapnya kereng. dia cegah kata-kata Ji Bun selanjutnya. siapakah nama gelaran Cianpwe?" "Gelaran Pin-ni. katanya: "Memang muridku itu ceroboh. Suthay memberi ampun. hal ini tidak perlu diungkat lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi. Siu-yen. betapapun dia tak habis pikir di mana dan kapan dia pernah berjumpa atau mendengar suaranya? "Mohon tanya. . "Silakan duduk." "Tidak... Nikoh ini belum pernah dikenalnya." "Barusan murid Suthay . kalau tidak kenapa dikatakan salah paham.” Siu-yen angkat sebelah tangannya. apakah pembunuhnya sudah ketangkap. tampak seorang Nikoh setengah umur sudah duduk di atas sebuah kasur bundar." Ji Bun jadi melenggong.com/ Ji Bun membungkuk lalu melangkah masuk ke ruang tamu." sapanya setelah Ji Bun masuk. membawa daya tarik yang kuat. mukanya tampak jernih." Ji Bun duduk di sebuah kursi di depan nikoh tua itu.. "Terima kasih. Pin-ni memang mengharapkan kedatangan Sicu. harap.. sinar matanya memancar terang." "Tengah malam buta Wanpwe memberanikan diri keluyuran di tempat suci ini. dia malah salah paham kapada Sicu.

Tiraikasih Website http://kangzusi. Ji Bun ikut di belakangnya. kalau memang salah paham. sebelum terbunuh dia sudah dinodai lebih dulu kesuciannya. Setelah memasuki sebuah pekarangan lainnya. katanya: "Inilah muridku yang tertua. nyalakan lampu!" Ngo-cin segera masuk ke kamar sebelah. Ngo-sim. agaknya tengah menekan perasaan haru dan sedih hatinya. karena ada urusan Pinni sedang keluar. segera dia mengikuti Nikoh tua ini melangkah keluar menuju serambi panjang ke arah belakang. hanya Ngo-sim seorang di dalam biara." "Cianpwe masih ada petunjuk apa?” "Sukalah Sicu memeriksa jenazah muridku dulu.com/ "Kedatangan Wanpwe memang ingin bikin terang peristiwa ini. keluarnya sudah membawa pelita. jari-jari tangannya gemetar menuding ke arah jenazah. Siu-yen memberi tanda kepada Ji Bun. baiklah Wanpwe mohon diri saja " "Nanti dulu. Wajah Siu-yen yang alim jernih tampak guram dan berkeriut. Ngo-cin juga keluar memetik daun obat. Siu-yen melangkah masuk. namun sekujur badannya tidak ada luka-luka atau tanda-tanda keracunan. jenazah ini ditutupi selempang kuning. maka Ngo-cin mengira Sicu yang . mereka berhenti di sebuah kamar yang tertutup kain putih. dilihatnya sesosok jenazah berbaring diatas sebuah dipan. tentu Nikoh inilah yang terbunuh setelah diperkosa." lalu dia berbangkit dan berkata kepada Nikoh muda yang berdiri di ambang pintu: “Ngo-cin.

coba tolong singkapkan tutup mukanya. katanya: "Biarlah Wanpwe memeriksanya. Nikoh muda itu segera maju menyingkap kasa yang menutupi muka Ngo-sim.. suaranya Nikoh tua yang seperti amat dikenalnya ini. maka dia tidak bertanya lebih lanjut.” Ngo-cin.” Berkerut alis Ji Bun.. murid-murid Wito-hwe juga pernah mengalami peristiwa yang sama." hambar dan hampa hati Ji Bun.Tiraikasih Website http://kangzusi. Sicu berada di tempat Wi-to-hwe." Tersirap darah Ji Bun. kecantikannya boleh diagulkan. sungguh suatu hal yang amat mengejutkan. seakan-akan jelas mengenai seluk beluk dirinya.com/ melakukannya ." "O. namun bibirnya mengerut kencang seperti menahan sakit dan derita. waktu peristiwa ini terjadi.. jelas dia mati membawa dendam dan kebencian yang . setelah diselidiki dapat diketahui bahwa mereka terbunuh oleh racun Bu-ingcui-sim Sicu adalah orang ahli dalam bidang racun ini. maka sukalah Sicu memeriksanya. dari mana Nikoh tua ini tahu kalau dirinya berada di markas besar Wi-to-hwe? Berkata Siu-yen Nikoh lebih lanjut: "Tempo hari. katanya: "Lalu dari mana Cianpwe bisa mengatakan semua ini salah paham terhadap diri Cayhe?" "Karena Pinni tahu. tampak wajah si korban begitu halus putih seperti orang hidup yang tidur nyenyak.

seperti tidak tega melihat wajah Sucinya. lama kelamaan jantungnya berdetak semakin keras. "Betul. racun sudah bersatu padu dalam darah dagingnya. Kecuali mereka ayah dan anak. memang keracunan Bu-ing-cui-sim. jelas pembunuhan ini seperti sudah direncanakan terlebih dulu. "Bagaimana Sicu?'' Siu-yen bertanya dengan suara berat. Ngo-cin berpaling." Darah Ji Bun tersirap.com/ luar biasa. kalau orang lain menggunakan racun ini harus memasukkan racun ke dalam mulut si korban baru akan membawa hasil. memang tidak salah korban mati karena keracunan Bu-ing-cui-sim. apakah ada orang lain yang mampu menggunakan racun jahat ini? Sejak dirinya berhasil meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu." "Kalau begitu kecuali Sicu yang sudah menyatu-padukan racun ini dengan jiwa raga. namun lahirnya tenang-tenang." . siapa pula yang mampu menggunakan racun Buing-cui-sim ini. Mungkinkah perbuatan ayahnya? betulkah sang ayah sampai berbuat sekotor dan sehina ini? Tanpa merasa dia bergidik sendiri. Dengan jari telunjuk Ji Bun singkap kelopak mata sang korban. dengan seksama dia memeriksa.Tiraikasih Website http://kangzusi. sahutnya: "Untuk hal ini maaf Wanpwe tidak bisa menerangkan.

" .Tiraikasih Website http://kangzusi. pura-pura bingung.com/ Terpancar sinar gemerlap kedua mata Siu-yen. "Dia siapa?" tanyanya... Lekas Ji Bun tenangkan diri. Lama Siu-yen menatap Ji Bun dengan pandangan berkobar.. tapi Pin-ni yakin dan punya alasan untuk menuduhnya..." "Bolehkah hal ini dijelaskan?" "Kukira Sicu tidak perlu tahu.." "Tidak sedikit orang yang pandai menggunakan racun dalam Bulim .. kecuali dia tiada orang lain lagi.." Mendadak Siu-yen mendesis beringas: "Pasti dia." Serta merta berdiri bulu kuduk Ji Bun. sesaat kemudian baru Nikoh tua buka suara pula: "Seorang iblis laknat yang pandai menggunakan racun. tanyanya mendesak: “Pin-ni memberanikan diri..” “Memang. seolah-olah ingin meraba perasaan Ji Bun." "Hm .. harap Sicu suka memperkenalkan perguruanmu?" "Terpaksa Wanpwe harus menolak permintaanmu ini.. adakah saudara seperguruan Sicu yang berkelana di Kang-ouw?“ "Kukira tidak ada.

Tiraikasih Website http://kangzusi. . pertama orang berkedok yang menyaru ayahnya. memangnya siapa pula dalam Kang-ouw yang bisa menggunakan racun ini? Tapi segera dia teringat kepada beberapa orang misterius yang kebal menghadapi racun jahatnya. Jit-sing-kojin. tiada alasan dia mendesak keterangan orang.com/ Karena ada maksud lain. untuk ini harap Sicu maklum. Maka lega dan lapanglah dadanya. menurut kejadian dan hasil pemeriksaannya. lalu salah seorang anak buah Cip-po-hwe. dia berdoa semoga bukan ayahnya yang melakukan perbuatan keji dan kotor ini. karena racun Bu-ing-cui-sim ini hanya bisa dibuat dari resep rahasia yang hanya dimiliki ayahnya. sampaipun Cui Bu-tok yang mengagulkan diri seorang ahli dalam permainan racun pun mengakui hanya tahu nama racun ini. tapi tidak mampu menawarkan. namun dalam hati sudah menambah perhatian dan kewaspadaan. sebagai seorang beribadat tidak boleh aku sembarangan omong. Nikoh tua di biara Siong-cu-am.” Ji Bun terbungkam. dia yakin kalau yang melakukan perbuatan rendah dan kotor ini adalah ayahnya. kemungkinan sekali orang-orang yang kebal racun ini pun pandai menggunakan racun. orang yang merebut antinganting pualam. serta orang yang menyamar sebagai komandan ronda Wi-to-hwe itu. kemungkinan juga meleset. demikian pula Biau jiu Siansing. semuanya kebal terhadap racunnya. maka Ji Bun mendesak: "Wanpwe ingin tahu siapakah tokoh yang ahli menggunakan racun ini?" "Urusan ini sukar diduga.

” "Tidak apa. Sesaat lamanya ia berjalan dengan pikiran kosong. Hari itu. sebuah kota kecil yang masih cukup jauh dari Kayhong. urusannya lebih penting dan harus segera dibereskan. tiba-tiba dia tersentak sadar. dia tiba di Jip-seng." Ji Bun pikir tak perlu lama-lama berada disini. waktu sudah berselang cukup lama. Sekarang dia harus cepat menuju jalan raya yang menjurus ke Kayhong untuk menemui Jit-sing-kojin seperti yang pernah dijanjikan oleh Biau-jiu Siansing. baru sekarang dia ingat kepada Thianthay-mo-ki yang ditinggalkan waktu mengejar Biau-jiu Siansing tadi. hari ini sudah hari keempat. katanya: "Sicu. orang belum kunjung tiba juga. Setelah ditunggu sekian lamanya. maka dia mohon diri: "Biarlah Wanpwe mohon pamit saja. namun Jit-sing-kojin yang hendak ditemuinya itu tetap tidak kelihatan bayangannya.com/ Siu-yen mengulap tangan. agaknya ucapan Biau- .” "Pin-ni amat menyesal karena kesalahan paham ini. dia juga akan mampir ke Kayhong menemui Ciang Wi-bin untuk tanya jejak ayahnya. kemungkinan nona itu sudah pergi.” Sedikit membungkuk segera ia mengundurkan diri langsung keluar kelenteng. Wanpwepun ikut berduka cita karena peristiwa ini. lama hatinya menjadi dongkol dan penasaran.Tiraikasih Website http://kangzusi. maka dia merasa tidak perlu balik menemuinya lagi. silakan minum teh di kamar tamu. di samping untuk merebut kembali antinganting pualam. Malam itu juga dia menempuh perjalanan.

bukan aku Siau-kim-kong ini suka membual. baru pertama kali ini.” . kenapa?" "Bagaimana kepandaian silat Ko-pangcu?” "Hebat.Tiraikasih Website http://kangzusi.” "Sebetulnya ada apa?“ 9... seorang laki bersuara serak kasar tengah berkata: "Jiya. Tengah dia menunduk menikmati hidangannya. The Liok kali ini betul-betul terbuka matanya .. setua ini hidupku.. kalau bicara kau selalu ngelantur.. segera dia angkat alis. Dendam Makin Membara "Ji-ya kenal Sin-eng-pangcu Ko Giok-wa tidak.. tanyanya: "Lo-liok.com/ jiu Siansing tak dapat dipercaya lagi. sungguh tidak penasaran ..” "Sudah tentu tahu... Ayah Meninggal .. maka dia memutar ke pintu barat serta istirahat disebuah warung arak di luar kota. didengarnya pembicaraan beberapa orang tamu yang duduk di meja sebelah sana..25. "seorang jagoan kelas satu dalam Bu-lim." puji laki-laki muka kuning sambil mengacungkan jempol.” Orang yang dipanggil Jiya adalah seorang laki-laki bermuka kuning... Karena tiada minat masuk kota. memangnya kau tak pernah melek?" "Jiya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.. mengobrak-abrik dan menghancurkan Thian-ong-ce. katanya tawar: "Pertikaian orang-orang persilatan umumnya memang berbuntut panjang. segera dia pasang kuping. "Agaknya orang berkedok berjubah hijau itu memang sengaja hendak cari perkara. teriaknya: “Ji-ya.. Dengan kemenangan gemilang itu mereka kembali lewat Jit-likang. adegan yang lebih seram belum sempat ... dia memperkenalkan diri sebagai teman pihak Thian-ong-ce yang hendak menuntut balas bagi kematian temantemannya.. tiada akhirnya.. 20-an anak murid Sin-eng-pang di bawah pimpinan Kopangcu sendiri." Laki-laki suara serak kasar tadi penasaran.. ceritaku kan belum tamat.." Agaknya laki-laki muka kuning tidak tertarik oleh cerita ini.com/ "Heh.. "Bagaimana selanjutnya?" tanya laki-laki muka kuning setelah meneguk araknya. "semalam aku kebetulan lewat Jit-li-kang dan menyaksikan peristiwa itu.. namun di sana mereka tertimpa nasib malang ." Tersirap Ji Bun mendengar kata-kata terakhir itu. kini gunung itu sudah mereka caplok dan dijadikan cabang Sin-engpang.. " "Tertimpa nasib malang bagaimana?" "Mereka dicegat seorang laki-laki berkedok yang mengenakan jubah sutera. maka terjadilah bentrokan sengit .” seru laki-laki bersuara serak kasar tadi sambil gebrak meja.

orang berkedok yang diceritakan itu entah ayahnya atau bukan? Seluruh tamu-tamu yang ada dalam warung arak kecil ini jadi tertarik oleh cerita orang bersuara serak dan perhatian mereka tertuju ke arah sini. setelah dia uraikan alasannya.. "dalam tiga gebrak saja. 20 lebih jago-jago Sin-eng-pang yang berkepandaian tinggi semua menggeletak dibunuhnya.. semakin keras suara orang serak kasar: "Ji-ya.. ya. beruntung dia melancarkan serangan ganas pula.. Orang berkedok itu betul-betul keji.'' "Hah.. dalam tiga kali gebrakan saja." "Siapakah orang berkedok itu?" "Entah.Tiraikasih Website http://kangzusi. Ketahuilah... Ko-pangcu sudah menggeletak tak bernyawa . tiada satupun yang ketinggalan hidup....." berubah hebat air muka laki-laki muka kuning sambil berjingkrak berdiri... kepandaian orang berkedok itu ternyata hebat sekali.. setelah membinasakan Kopangcu. kenapa dia menuntut balas terus turun tangan secara kejam. tentunya dia bukan sembarangan tokoh. Tahu banyak orang tertarik dan memperhatikan ceritanya." "Ehm. itu baru permulaan. suara gemetar: "Apa betul?" Ikut tegang hati Ji Bun..” .” dia acungkan tiga jari sambil menyambung dengan ludah beterbangan..com/ kuceritakan. tiga .

sukar dilihat macam apa orang berpakaian hitam ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. kelihatannya keduanya sama kuat. keduanya berkelahi dengan dahsyat dan sengit. Tahu-tahu muncul lagi seorang berkedok berjubah pula ... Ji-ya..com/ "Memangnya..” Mengencang jantung Ji Bun. darah mengalir lebih cepat. Thian memang murah untuk membalas kelaliman mereka. buntutnya ternyata lebih seram dan menegangkan.. sukar dibedakan mana yang datang duluan dan mana yang baru tiba.. dia sudah berdiri. namun lama-lama kehabisan tenaga juga. bentuk dan perawakan kedua orang berkedok ini persis satu sama lain. orang itu melanjutkan ceritanya: "Pertempuran itu berlangsung selama satu jam... Pada saat pertempuran memuncak dan hampir berakhir tahu-tahu muncul pula seorang berpakaian hitam. seperti pinang dibelah dua. akhirnya mereka berhantam sampai ke dalam hutan. namun kudengar dia mendengus menggumam seorang diri. begitu berhadapan tanpa bicara terus gerak tangan dan angkat kaki. 'Ajal tua bangka ini sudah di depan mata namun masih saling cakar dan akhirnya gugur bersama. agaknya sakit . Setelah istirahat sebentar..... dari atas bukit bergumul sampai ke bawah jurang. malam itu terlalu gelap. namun duduk kembali sambil menenggak secangkir arak." "Apa? Jadi ada dua?" "Ya. serasa terbang sukmaku waktu menyaksikan pertempuran hebat itu ... serang menyerang dengan pukulan mematikan.

disusul dua kali jeritan yang menyayat hati." tanya laki-laki yang dipanggil Ji-ya." Laksana disambar geledek kepala Ji Bun....com/ hatiku akan terbalas... suasana lantas sunyi senyap.” Semua orang yang mendengarkan cerita itu sama melongo. “Kudengar suara gerungan dan bentakan berulang kali dari dalam hutan. teriaknya: "Keparat kau. Hiiii!” "Ada apa?" "Kedua orang berkedok itu sama-sama menggeletak di dalam hutan.. dicengkeramnya pundaknya. waktu aku melongok kesana . apa ..' Habis berkata orang baju hitam itu menerjang kedalam hutan . sekali lompat dijambretnya baju si orang bersuara serak. seram dan mengerikan sekali kematian mereka... bentaknya bengis: "Apakah ceritamu betul-betul terjadi?" Lemas lunglai badan laki-laki itu. diam-diam aku merayap masuk ke dalam hutan.. batok kepalanya hancur.” “Bagaimana akhirnya.. apaan ini?” .... mukanya rusak tak terkenali lagi. tenaga untuk merontapun tiada. namun matanya melotot gusar. "Karena tertarik. dadanya terasa sesak...Tiraikasih Website http://kangzusi.

Seluruh tamu sama terbeliak kaget dan gemetar ketakutan." "Berapa jauh Jit-li-kang dari sini?" "Kurang lebih 30 li ke arah barat .” Sambil lepas tangan Ji Bun dorong badan orang... . Dengan teriakan yang seram dan mengerikan laki-laki muka kuning roboh menimpa meja. Te-gak Suseng?" "Lekas katakan sebenarnya..... rona muka Ji Bun sudah berubah.. kalau tidak kucincang badanmu.. telapak tangannya menempeleng ke batok kepala Ji Bun.. cepat sekali dia sudah melesat keluar warung makan dan berlari ke arah barat. Laki-laki suara serak ketakutan setengah mati.." ancam Ji Bun beringas. jiwapun melayang.. sorot matanya liar dan buas.Tiraikasih Website http://kangzusi. agaknya Ji Bun sudah kerasukan setan pikirannya sudah pepat.. "Memang kejadian nyata.. tuan ini. desisnya mengancam: "Katakan. apa betulbetul terjadi?" Laki-laki muka kuning tiba-tiba berdiri.com/ Karena diburu emosi. bukan bualan.. suaranya menjadi lirih tertelan di dalam ombak kerongkongan: "Tuan . secara reflek dia melancarkan serangan balasan dengan tangan berbisa. kaki tangan berkelejetan sebentar. .

Lekas sekali jarak 30 li telah dicapainya. langkahnya lemas sempoyongan dan hampir terjungkal. . seolah-olah sukma sudah meninggalkan raganya. Setiba di atas bukit. Terasa bumi seperti berputar jungkir balik. batok kepala remuk dan mukanya hancur. Kedua petani itu berdiri berhimpitan. seperti pernah terjadi pertempuran sengit di sini. Begitu melihat kedatangan Ji Bun.com/ pikirannya kosong dan hambar. dilihatnya dua orang petani sedang mengeduk tanah. Dengan langkah sempoyongan. seperti orang gila segera ia menubruk kesana. membuat liang lahat. dengan melongo dan takut mereka mengawasi Ji Bun. jubah sutera warna biru.Tiraikasih Website http://kangzusi. langsung dia menuju ke sana. Tampak oleh Ji Bun tak jauh di sana menggeletak dua sosok mayat yang sukar dikenali lagi bentuk rupanya. di bawah bukit sebelah kanan adalah hutan lebat. Suara gedebukan seperti sesuatu benda berat menyentuh tanah terdengar saling bergantian di sebelah depan. Tanpa menentukan arah Ji Bun terus berlari ke dalam. begitulah keadaan hutan belantara ratusan li ini. setelah dia tanya letak Jit-li-kang kepada orang jalan. mata berkunang-kunang. dilihatnya keadaan memang porak peronda. Ji Bun berlari masuk ke dalam hutan. segera mereka menyurut mundur dengan ketakutan. jelas orang yang turun tangan memang amat keji. Kedua mayat mengenakan pakaian yang sama. Di tanah kosong sebelah sana. begitu subur dan rimbun tetumbuhan di sini sampai sinar matahari tak tertembus ke dalam hutan.

buntalan puyer dan peralatan untuk meracik racun yang dibuat sedemikian mungil dan rapi. Kedua petani itu sebetulnya hendak mengubur mayat kedua orang ini. lalu dia memeriksa kantong jenazah kedua. dengan perasasan luluh dia mendeprok di atas tanah. siapakah pembunuhnya? Orang yang menyaru ayahnya ini juga mati. Namun dendam kehancuran Jit-sing-po betapapun harus . memangnya mereka takut kena perkara. alam terasa menjadi hampa dan semuanya menjadi serba kelabu. jari-jari tangannya meraba dan mengelus jenazah yang sudah dingin dan kaku ini. Bergegas dia berlutut menyembah berulang kali. gigi berkerutukan.Tiraikasih Website http://kangzusi. kini menjadi jelas dan pasti bahwa jenazah kedua inilah jasad ayahnya. sukar baginya menentukan yang manakah jenazah ayah kandungnya. botol obat. air mata bercucuran. teka-teki ini takkan terbongkar untuk selamanya.com/ Ji Bun kuatkan hati dan tenangkan diri. sesaat dia melenggong. Pikirannya bekerja: "Ayah telah meninggal. maka secara diam-diam mereka mengeluyur pergi. terutama soal bunuh membunuh kaum persilatan. kini melihat orang ini sudah mengenali jenazah familinya. Terasakan segala sesuatu di dunia ini sedang berubah. Dia menangis tanpa bersuara. Tetesan air hujan yang dingin menyentak sadar Ji Bun. air mata tak terbendung lagi. Terpaksa dia periksa badan jenazah yang lebih dekat. saku bajunya kosong tiada sesuatu yang dapat menentukan asal-usulnya. dengan badan bergoyang gontai pelan-pelan dia berjongkok. siapakah dia ini?" Kini dia sudah meninggal.

tiada yang dirahasiakan. Dia rasa masih perlu untuk menempuh perjalanan ke Kayhong. tawa yang mengobarkan semangat menuntut balas. kini tibalah saatnya untuk mencuci tangan ini dengan darah para musuhnya. dia mulai menerawang langkahlangkah yang harus dilakukan selanjutnya. dia memohon pula supaya arwah ayahnya memberi bekal kekuatan lahir batin untuk menuntut balas sakit hati ini. Besok dia bakal berhadapan dengan Jit-sing-kojin. Dia mendongak mengawasi mega yang bergerak. sehingga banyak kesempatan disia-siakan. Ini merupakan tugas penting yang harus dipikulnya. dengan batu gunung ia mendirikan nisan serta berlutut dan berdoa semoga arwah ayahnya diterima disisi Thian. dia menyesali kelemahan sendiri yang terlalu was-was dan berhati-hati. Segera dia masukkan kedua jenazah ke dalam liang lahat yang sudah digali kedua petani tadi. hatinya pepat seperti dirundung mega mendung.Tiraikasih Website http://kangzusi. jika aksi balas mulai dilakukan. kini tibalah saatnya untuk beraksi. kini kelihatan lagi. mati hidup diri sendiri sukar diramalkan. Mendadak dia berdiri sambil banting-anting kaki. Pikiran tenang kepalai dingin. kalau orang tidak menepati janji. soal anting-anting pualam itu harus dibereskan. Hawa hitam di antara kedua alis yang selama ini lenyap.com/ dibalas. geli akan nasibnya sendiri. tapi soal ini tidak boleh ditunda-tunda lagi. maka . sesuai yang dijanjikan Biau-jiu Siansing. tiba-tiba dia tertawa. kini tiada yang perlu disembunyikan. Setelah menyembah sekali lagi segera dia keluar dari hutan itu. demikian pula tangan berbisa yang selama ini disembunyikan dalam lengan bajunya telah dikeluarkan.

Jit-sing-kojin tetap tidak kunjung tiba. kalau sebaliknya. tanpa menemukan kesulitan Ji Bun berhasil menuju ke tempat yang dituju. namun beberapa tahun belakangan ini tidak saling hubungan. tentunya kurang pantas. tahu-tahu hari ke tujuh sudah berselang. Keluarga Ciang adalah hartawan terkaya dan ternama di Kayhong. Begitulah dengan pikiran mantap dan langkah tenang dia menuju ke Kayhong. bayangan Biau-jiu Siansingpun tidak kelihatan. kota kuno yang dulu pernah menjadi ibukota ini memang angker bangunannya. . kalau datangdatang dia langsung minta bertemu dengan Ciang Bing-cu. apa yang harus diutarakan setelah masuk pintu dan berhadapan? Kedua keluarga mereka memang kenalan karib. betapapun permusuhan dirinya harus dibereskan juga. keluarganya kini sudah berantakan.com/ dapatlah diduga bahwa orang berkedok menyaru ayahnya itu pasti dia adanya. Pikirannya mulai bimbang pula. bagaimana pula dia harus memberi penjelasan kepada Ciang Wi-bin setelah berhadapan? Entah Ciang Wi-bin tahu tidak tentang pemberian anting-anting pualam Ciang Bing-cu kepada dirinya? la pikir biarlah nanti bertindak menurut keadaan maka segera dia menuju ke gedung keluarga Ciang. Hari itu dia tiba di Kayhong. kemegahan kota ini memang jauh berbeda dengan kota-kota lain. mau tak mau Ji Bun tambah yakin bahwa dugaannya tidak meleset. Jit-sing-kojin adalah orang berkedok berbaju sutera yang menyaru ayahnya. Tunggu punya tunggu.Tiraikasih Website http://kangzusi.

katakan Ji Bun ingin bertemu. tolong sampaikan kepada Siocia bahwa Ji Bun ingin bertemu. dia mengikuti pelayan cilik ini masuk ke dalam. katanya: “Baiklah." Ji Bun tertawa.com/ Seorang kakek berpakaian hitam tiba-tiba muncul dari balik pintu. sikapnya jauh berubah." Tak lama kemudian. wajahnya berseri-seri. apakah siocia ada dirumah?" Bertolak pinggang laki baju hitam. begitu tiba dia memberi hormat kepada Ji Bun. katanya ramah: "Cayhe adalah kenalan lama dengan keluarga Ciang.." Orang tua baju hitam mengerut kening..” Ji Bun manggut-manggut. majikan kami sedang keluar. katanya: “Siocia tidak leluasa keluar menyambut. tidak kebetulan.Tiraikasih Website http://kangzusi. orang tua ini sudah keluar pula. Gedung keluarga Ciang yang kaya raya memang teramat .” "Wah. katanya dengan menarik muka: "Sukalah Kongcu tahu diri." “Kalau begitu . dengan nanar dia mengawasi Ji Bun sapanya: “Kongcu cari siapa?" Ji Bun menyahut: "Sudahkah laporan kepada majikanmu. dari belakangnya memburu keluar seorang pelayan perempuan kecil. harap tunggu sebentar. harap Siangkong masuk saja.. melihat dandanannya seperti seorang pesuruh. belum kembali.

.. baru tiba di pekarangan yang dikelilingi tembok tinggi dengan pintu bundar rembulan.. katanya: "Terima kasih akan perhatian adik.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ besar dan luas sekali. katanya likat: "Berkunjung secara sembrono. ujar Ji Bun. setelah berdiam sebentar segera ia menambahkan: "Adik Ciang. kenapa?" "Anting pualam pemberian adik dulu. sekian lama mereka putar kayun memasuki beberapa pintu dan melewati beberapa pekarangan serta serambi panjang yang berliku-liku. tidak apa. katanya keluarga kakak ketimpa bencana." "Apakah para musuh sudah diketahui?" "Ya.” . silakan duduk di dalam... seorang pelayan menyuguh teh. silakan. harap adik memaafkan.. Siaumoay ikut berduka dan prihatin... lekas dia membungkuk.." "Ah. kedatanganku ini hendak mohon maaf kepadamu ..” "Mohon maaf. tampak seorang gadis bersolek dengan pakaian kuno melangkah keluar menyambut. tak sengaja telah kuhilangkan . sudah ada tanda-tanda yang mencurigakan." Merah dan panas muka Ji Bun. Ciang Bing-cu lantas buka suara: "Ayah bilang." Pedih hati Ji Bun." Keduanya masuk kedalam sebuah rumah samping lalu duduk di kursi marmer. katanya dengan malu-malu: "Siangkong sudi berkunjung.

waktu aku keluarkan dan kubuat main-main. aku merasa tidak enak. kejadian sudah berselang. begitu ada kesempatan lantas turun tangan.. Katanja paman sedang keluar apa betul?" "Betul. Kuduga penyerobot itu sudah lama mengintip dan menguntit aku. lebih malu lagi karena bentuk dan rupa orang itupun tidak kulihat jelas. yang membuatku menyesal... tanyanya: “Bagaimana bisa hilang?" Merah muka Ji Bun. tidak perlu diperhatikan .." “Kedatanganku hanya mau menjelaskan soal tadi disamping menyampaikan sembah sujud kepada paman . katanya rikuh: "Kalau dikatakan memang aku terlalu bodoh. selama ini aku masih belum berhasil menemukan jejaknya... tahutahu diserobot orang. Ciang Bing-cu bersuara dalam mulut...." "Tidak aku bersumpah pasti akan mencarinya.com/ Berubah air muka Ciang Bing-cu.Tiraikasih Website http://kangzusi.." "Urusan sekecil ini. anting itu takkan berguna bagi orang lain." “Kakak Ji." ." “O”.. mungkin dalam dua hari ini beliau akan pulang. biarlah. adik sudi memaafkan.

Ji Bun tak bisa menolak terpaksa dia iringi kehendak Ciang Bing-cu makan minum." ..... memang demikian. tanyanya heran: "Kakak Ji. wataknya yang keras juga tidak ingin mendapatkan belas kasihan orang lain katanya: "Beruntung beliau-beliau terhindar dari malapetaka." "Kakak Ji. Setelah beberapa cangkir arak dan hidangan hampir dilalap habis. kukira sikapmu tidak benar.." Tidak lama mereka bicara..Tiraikasih Website http://kangzusi." kata Ciang Bing-cu..com/ "Baiklah. pelayan sudah menyiapkan sebuah meja perjamuan... kabarnya setelah orang berhasil meyakinkan racun Bu-ing-cuisim-jiu. "walau ayah tidak dirumah.. selama hidupnya takkan bisa ditawarkan lagi... maaf akan kelancanganku. adik menyambut kedatanganmu sebagai tuan rumah. bukankah tangan kirimu . tapi keluarga kita kan kenalan lama.. apa betul?" Ji Bun manggut-manggut dengan gerakan berat... tiba-tiba Ciang Bing-cu berjingkat sadar. katanya: "Ya. terpaksa dia ceritakan rahasia tangannya yang berbisa. katanya penuh haru: "Ah. dia tidak ingin menyinggung soal yang menyedihkan ini. sekarang aku mohon pamit . tunggulah ayah pulang. Terbeliak kedua biji mata Ciang Bing-cu..” Sedih hati Ji Bun.” Ji Bun tertawa getir.. hampir saja dia meneteskan air mata. sukalah menginap beberapa hari. Apakah paman dan bibi ..

hampir saja dia jatuh tersungkur." Ji Bun ingin menolak bantuan orang. yang benar aku tidak bisa menentang kehendak ayah.Tiraikasih Website http://kangzusi. begitulah.. masing-masing orang memang punya nasibnya sendiri. ia tahu bahwa dirinya mulai mabok. pikirnya. kakak Bun.. Kata Ciang Bing-cu lembut: "Kau mabok... silakan kau makan sekenyangnya. pandanganpun mulai kabur. namun badan lemas dan kaki sempoyongan. aku tak kuat banyak minum. Tiba-tiba Ji Bun ingat kata-kata Biau-jiu Siansing. sedih dan rawan.. setelah dia melihat dua bayangan Ciang Bing-cu baru dia melonjak kaget. untung Ciang Bing-cu lantas memapahnya.com/ Besar perhatian Ciang Bing-cu.. terpaksa dia mendoprok . kaki terasa enteng kepala amat berat. segera ia letakkan cangkir dan bangkit berdiri dan berkata: "Maaf akan kekasaranku ini . badannya seketika tergeliat." Begitu bergerak.." Ji Bun mengiakan. lama kelamaan kepala terasa berat. apa betul dia memang ada maksud tertentu? "Kakak Ji.. kepalapun pening.. tanpa terasa secangkir demi secangkir dia telah tenggak puluhan cangkir arak." "Ai. aku mohon pamit saja." helaan napas Ciang Bing-cu mengandung putus harapan. penasaran dan dendam selama ini yang belum terlampias membuat pikirannya pepat. "Kenapa engkau dulu mau meyakinkan ilmu beracun ini?" "Ini .

. "Ma . Selama hidup baru pertama kali Ji Bun minum arak sampai mabok. sebuah suara lembut berkata: "Kakak Bun." "Aku tahu. mari minum teh" Sebuah cangkir porselin yang berbentuk indah disodorkan ke dalam kelambu. Dengan langkah sempoyongan dan setengah terseret Ji Bun membiarkan dirinya dipapah masuk sebuah kamar buku. . malam sudah larut. matanya silau oleh sinar lampu. tanpa perintah mereka tiada yang berani maju membantu. begitu rebah di atas ranjang." kata Ciang Bing-cu.com/ duduk dikursinya lagi. jangan kau sentuh tangan kiriku. namun dia bergegas bangun duduk.. ternyata Ciang Bing-cu meladeni dengan tekun. Ciang Bing-cu segera menurunkan kelambu serta menutup pintu dan tinggal pergi.Tiraikasih Website http://kangzusi. Waktu Ji Bun sadar dan membuka mata. jangan.. andaikata kepandaiannya setinggi langit juga takkan mampu mengendalikan diri lagi. baru saja dia bergerak hendak turun mengambil air. kepalanya masih terasa berat.” kata si nona. mana boleh. dia tarik tangan kanan Ji Bun serta memapahnya keluar villa terus menuju ke pintu rembulan di kanan sana. badan terasa lunglai tak mampu bergerak lagi. mulutpun kering. "Marilah kupapah masuk kekamar istirahat. Para pelayan yang meladeni di situ sama melongo dan keripuhan.

" "Terima kasih. langkah kakinya masih enteng seperti mengambang. lalu katanya pula: "Banyak terima kasih." "Baik. namun batas-batas tertentu masih harus dipegang teguh. Ji Bun duduk melamun dipinggir ranjang. pikirannya semakin kusut. bayangan Ciang Bing-cu nan molek masih terbayang-bayang. silakan ambil di sini. engkau juga harus tidur. Ji Bun merebahkan diri." "Silakan adik juga istirahat saja.com/ Gugup dan malu Ji Bun dibuatnya. akhirnya ia bangkit dan turun dari ranjang. Dengan pandangan tajam Ciang Bing-cu menatap Ji Bun sekali lagi. perhatian adik bikin aku malu saja. lantas apa maksud dan sikap Ciang Bing-cu yang luar biasa ini? Setelah menghabiskan secangkir teh. rasa kantuknya sudah hilang. .Tiraikasih Website http://kangzusi." kata Ji Bun. lalu beranjak keluar dengan langkah gemulai. "Ah. setelah gulak-gulik tak bisa tidur. tak lupa dia tutup pintu dari luar. tak tahu betapa perasaan hatinya sekarang apakah setimpal dia mendapat pelayanan begini? Laki perempuan ada batasnya. keperluanmu sudah kusediakan. walau sama-sama orang persilatan. sekarang waktu apa?" "Jam empat pagi." Pikirannya sedikit jernih.

.?? Dia mondar-mandir di kamar buku itu. akhir¬nya duduk dikursi dekat rak buku. seperti diketahui Sek-hud dipandang pusaka persilatan yang diperebutkan berbagai golongan. Ternyata diantara rak buku dan barang-barang antik sana. tampak sebuah patung Budha kecil ukuran dua kaki yang terbuat dari batu putih.com/ 9. pandangannya terbeliak. mestinya dia menyimpannya di tempat rahasia... kenapa hanya ditaruh begini saja di antara koleksi barang-barang antiknya? Mungkinkah dia tak tahu seluk-beluk dan nilai Sek-hud ini? Tapi ini tidak mungkin.Tiraikasih Website http://kangzusi. tidak sedikit manusia yang rela mengorbankan jiwa raga untuk merebut Sek-hud ini. Entah cara bagaimana Ciang Wi-bin bisa mendapatkan Sek-hud ini.. Tidak Takut Racun .. patung Budha batu putih ini jelas adalah Sekhud yang pernah diperoleh Cip-po-hwecu dan akhirnya direbut oleh Biau-jiu Siansing. namun Wi-to-hwe mempunyai hubungan .26. Sek-hud adalah barang peninggalan Pek-ciok Sin-ni. Mendadak dia terkesiap. tanpa tujuan dia memandangi koleksi buku-buku kuno serta lukisan dari pujangga jaman dahulu. Kau . tepat pada letak jantung dari patung itu berlubang sebesar kepalan anak kecil. pada kotak kedua baris tengah.. bagaimana mungkin tahu-tahu berada di antara rak barang-barang antik di rumah Ciang Wi-bin? Berapa jiwa sudah berkorban karena Sek-hud. Pui Ci-hwi adalah murid didiknya.. Tidak salah lagi..

” "Semula memang benar. Bahwa Ciang Wi-bin kembali pada saat pagi buta begini." Ciang Wi-bing tergelak-gelak sambil mengelus jenggotnya.. syukurlah kau sudi berkunjung kerumahku. tiba-tiba pintu kamar berbunyi berkeriut dibuka dari luar. tersipu-sipu dia melangkah maju memberi hormat: "Keponakan tidak berbudi memberi salam hormat pada paman. hal inipun sukar untuk dijajaki." "O. sahutnya likat: "Ya.” . waktu Ji Bun putar badan. namun kini tidak. tampak seorang tua bertubuh tegap berjenggot kambing melangkah masuk. Selagi dia tenggelam dalam pemikiran.com/ yang kental dengan Pui Ci-hwi. martabat Ciang Wi-bin dikenal cukup bijaksana dan suka blak-blakan." Merah muka Ji Bun. kebetulan sekali. betapa banyak jago-jago silat Wi-tohwe yang berkepandaian tinggi.. kenapa pihak mereka diam saja tanpa mengambil tindakan? Hal ini benar-benar sulit dimengerti.. hal ini betul-betul diluar dugaan Ji Bun.. silakan duduk. apakah Hiantit sedang menikmati Sek-hud ini." "Paman juga silakan duduk. kabarnya Sek-hud ini adalah barang pusaka persilatan . mungkin ada udang dibalik batu? Lama sekali Ji Bun melamun mengawasi Sek-hud.Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya: "Hiantit.

benar. katanya: "Terima kasih atas perhatian paman. Paman membelinya dari tukang loak. bagaimana mungkin bisa terjatuh ke tangan tukang loak?" Sementara itu mereka sudah duduk berhadapan. maka kubeli dengan sepuluh tahil perak.Tiraikasih Website http://kangzusi. wajah Ciang Wibin menampilkan rasa duka. kemujijatan Sek-hud terletak pada Hud-sim (hati Budha). maksud paman?" "Ya. pada lubang itu ada bekas-bekas cukilan. paman amat menyesal tidak bisa memberi bantuan apapun" Pilu hati Ji Bun. tiada sebuah patung manapun yang dibuat atau diukir tanpa hati. namun dia tahan jangan sampai menetes.” Katanya kau sudah berhasil mencari tahu siapa-siapa musuhmu itu?" .com/ "Kenapa demikian?" "Apakah Hiantit tidak melihat Sek-hud ini rada ganjil?" "Lubang yang tepat berada dihati Sek-hud ini. Siautit bersumpah akan membalas dendam. suaranyapun sedih: "Keluargamu tertimpa bencana. Betapa tinggi nilai keantikan Sek-hud ini. kulihat buatannya cukup baik dan antik. air mata sudah berkaca dikelopak matanya." "Dari mana paman tahu kemujijatan Sek-hud ini terletak pada Hud-sim?" "Setiap orang akan tahu. namun patung ini sudah tak berhati.

" "Hiantit. Kuharap keponakan tidak usah putus asa.com/ "Ya. "Kau kemari lantaran soal anting-anting pualam itu?" . agaknya takdir memang berkehendak demikian." "Lalu bagaimana ibumu.Tiraikasih Website http://kangzusi. segala siksa derita harus ditanggung sendiri." "Baik. sorot matanyapun penuh kebencian. sejak peristiwa itu terjadi selama ini tak pernah dia muncul tentunya kau tahu dimana jejaknya sekarang?" Terbayang akan kematian ayahnya yang mengenaskan di hutan." "Jejak ibupun tidak diketahui. tapi masih belum bisa dipastikan. hubungan keluarga kita seperti saudara kandung sendiri. wajahnya pucat pasi." "Ai. aku sudah minta bantuan orang untuk mencari mereka.” demikian kata Ciang Wi-bin. lalu dia bertanya. namun mengingat ini adalah nasib jelek dirinya sendiri. keponakan berjanji." "Ai. ayahmu berwatak aneh dan menyendiri. maka dengan sedih ia menjawab: "Sampai sekarang keponakan juga sedang berusaha menemukan ayah. tak tertahan lagi bercucuran air matanya giginya berkerutukan menahan gelora sakit hatinya. ingin menerangkan. aksi apa yang hendak kau lakukan sukalah kau memberitahu kepadaku lebih dulu.

betapapun dia pantang membicarakan jodoh. soal ikatan jodoh ini tidak akan dia sangkal. katanya kemudian: "Tentunya kau sudah tahu akan ikatan jodohmu dengan anak Cu oleh ayahmu dulu. apalagi keluarganya tertimpa bencana..” "Soal ini tidak perlu dibuat risau. soal jodoh harus sama-sama disetujui oleh kedua pihak .... maka dia berkata: "Tentunya paman sudah tahu akan rahasia tangan berbisa keponakan?” Berubah air muka Ciang Wi-bin." Dia hentikan kata-katanya sambil mengawasi reaksi Ji Bun." "Tapi keponakan tidak tenteram." Ciang Wi-bin menepekur sebentar... paman punya cara untuk menyelesaikannya.... katanya: "Ya. Ji Bun menjadi gundah dan bingung.Tiraikasih Website http://kangzusi. ini memang soal pelik.com/ "Keponakan amat menyesal . Anak Cu juga pernah dapat pertolonganmu dari orang-orang Cip-po-hwe...” ... Ciang Bing-cu termasuk seorang gadis jelita.. sebelum sakit hati terbalas. tapi paman tidak akan memaksakan soal ini. namun tangan kirinya yang berbisa merupakan penghalang yang membatasi diri untuk berdekatan dengan lawan jenisnya. arti dari pemberian anting-anting itu memang amat mendalam. tapi paman akan berusaha untuk mendapat obat penawarnya meski harus mengorbankan apapun ..

namun setelah tahu orang sekomplotan dengan musuhnya.. mati hidup diri sendiri juga sukar diramalkan." "Thian punya kuasa manusia berusaha. gadis baju merah Pui Ci-hwi terlebih dulu menarik perhatiannya." "Soal ini boleh kita tunda saja. bagaimana pendapatmu terhadap Bing-cu?” Serba susah bagi Ji Bun untuk memberi jawaban. sebagai seorang laki-laki sejati mana boleh menelantarkan masa remaja seorang gadis yang punya masa depan gemilang? Maka dengan sungguh dia berkata: "Budi luhur dan perhatian paman tak berani keponakan melupakan dan menampik. cuma racun ini mungkin tiada obat penawarnya. sayang kelakuannya terlalu tercela.. sulit untuk melenyapkan landasan Lwekangnya. rasa cintanya ini sudah pudar.Tiraikasih Website http://kangzusi.. namun keponakan sekarang belum berani menerimanya . tiada sesuatu persoalan yang tidak bisa dibereskan.com/ "Kebaikan paman akan terukir dalam lubuk hati keponakan. Gadis semacam Ciang Bing-cu memang jodoh yang setimpal dan menjadi idam-idaman banyak orang. asal kita mau berusaha. kalau tiada harapan untuk ditawarkan. Demikian pula tiada racun yang tak bisa ditawarkan. apalagi ada perintah orang tua." "Kenapa?" . ilmu berbisa merupakan penghalang yang terbesar lagi. Dendam sakit hati keluarga belum terbalas. Begitu tinggi cinta murni Thian-thay-mo-ki terhadap dirinya." "Menawarkan racun soal gampang.

dengan apa boleh buat akhirnya dia buka suara: "Adikmu mengatakan . tanyanya: "Paman jelaskan saja. lama dia termenung.. namun Bing-cu si budak itu sudah bersumpah dalam hati. dikala ilmu beracun ini dapat ditawarkan saat itulah Siautit akan memenuhi janji perjodohan ini. katanya: “Harap paman suka membujuk adik Cu dan menjelaskan kesulitan keponakan ini.." . betapapun keponakan tak berani menyia-nyiakan masa remaja adik Cu." "Watak adikmu terlalu keras dan kukuh. lalu berkata sambil angkat kepala: "Baiklah.Tiraikasih Website http://kangzusi.. "Agaknya paman ada kesulitan. silakan katakan saja.. betapapun dia tidak akan mengingkari janji kedua keluarga yang telah menjodohkan kalian.com/ "Selama ilmu beracun ini masih melekat pada tubuh keponakan. lebih besar keinginan untuk tahu. tiada gunanya aku membujuknya." Ciang Wi-bin berdiam sesaat lamanya lagi.” Tergerak hati Ji Bun." Ji Bun amat menyesal." Ciang Wi-bun mengunjuk rasa serba susah." "Memang bijaksana keputusanmu." Ji Bun menunduk dengan masgul. lama sekali iapun berdiam diri. Siautit berjanji.

. kemungkinan sang ayah dulu mempunyai perhitungannya sendiri... apakah setimpal berjodoh dengan adik Cu .com/ "Anak Cu bilang umpama tiada obat penawarnya.” "Hiantit. namun demikian keponakan akan menjadi seorang cacad. walau keputusan itu agak kejam. terpaksa ... apa pula yang harus dia katakan." "Ya. sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada orang tua." "Masih ada persoalan yang perlu kusampaikan kepada paman. tujuan baik dan luhur ini sekaligus menandakan betapa mendalam dan suci murni cintanya terhadap dirinya. namun kesalahan terletak. namun dia mengakui. paman sudah bilang. meski kesalahan sudah terjadi kini beliau sudah meninggal." "Terpaksa apa?" "Terpaksa potong saja lengan kirimu." Ji Bun betul-betul kaget. memang hanya inilah jalan satu-satunya. "Maksud adik Cu cukup mengharukan.Tiraikasih Website http://kangzusi. katakan saja. tujuannya hanya ingin menikah dengan dirinya. pada sang ayah yang telah menurunkan ilmu Buing-cui-sim-jiu ini padanya. akan berusaha mendapatkan obat penawarnya meski harus mengorbankan apapun sekarang soal ini boleh dikesampingkan dulu. Maksud Ciang Bing-cu juga baik.... memang cara itu boleh dilaksanakan bila terpaksa." .

Tiraikasih Website http://kangzusi. cuaca diluar sudah mulai remang-remang fajar telah menyingsing. maka usul paman ini kukira ditunda dulu. masa depan masih kabur. .. rencana apa pula yang dapat dilakukan beliau. setiap langkah-langkah keponakan harus dipikir dulu secara seksama. jejak ayah-bunda belum terang. mati-hidup keponakan kelak sukar diramalkan. ayahnya sudah meninggal. nasib apa yang bakal menimpa dirinya? Api lilin sudah guram. katanya: "Kau masih harus istirahat. jangan. keponakan ingin pamit .." "Tidak." "Ayahmu seorang luar biasa. aku percaya secara diam-diam dia pasti sudah mengatur rencana untuk menuntut balas. katanya: "Setelah terang tanah.com/ "Dendam keluarga betapapun harus dibalas..." Ji Bun ikut berdiri. kuharap di dalam." Berlinang-linang air mata Ji Bun. Ciang Wi-bin berbangkit. sayang dia belum mampu menumpas para musuhnya secepat mungkin. Perasaan pilu dan sedih yang belum pernah dirasakan oleh Ji Bun tiba-tiba merangsang sanubarinya. betapapun kau harus menginap beberapa hari di sini. hari sudah hampir terang tanah segala persoalan bicarakan besok saja. tentu diapun punya perhitungan yang luar biasa pula." habis berkata Ciang Wi-bin lantas keluar.

Reaksi Ji Bun boleh dikata sudah teramat cepat. Gerakan Ji Bun cukup sebat. baru saja badannya meluncur turun di pekarangan. karena gregetan. dilihatnya Ciang Wi-bin beserta. adakah kau lihat jejak musuh?" “Cepat sekali gerakan orang itu.com/ Sekonyong-konyong terdengar jengekan tawa dingin di luar kamar buku begitu dingin dan menggiriskan sekali tawa ini. Bukan kepalang kejut Ji Bun. dengan lesu Ji Bun putar balik. Bing-cu berlari keluar memapaknya. kali ini berkumandang dari arah wuwungan sebelah kiri. beberapa orang pembantunya tengah ribut-ribut di kamar. namun tiada sesuatu bayangan yang dilihatnya. dia berjingkrak berdiri." tutur si nona. .Tiraikasih Website http://kangzusi." sahut Ji Bun. Bayangan itu sungguh sangat gesit dan cepat sekali. bentaknya: "Siapa?" Sebat sekali badannya melayang keluar kamar dan hinggap di luar pekarangan. bagai anak panah tubuhnya segera meluncur ke atas wuwungan. dilihatnya sesosok bayangan abu-abu tengah kabur ke arah barat. tanpa pikir Ji Bun segera mengejar dengan kencang. aku kehilangan jejaknya. dalam sekejap bayangan itu tahu-tahu sudah lenyap di balik wuwungan rumah sekitarnya. "Apa yang terjadi di dalam?" "Sek-hud telah dicuri orang. Tengah dia melenggong. Tahu tiada harapan menyusul lagi. kembali terdengar jengek tawa dingin tadi. katanya: "Kakak Bun.

. tapi Ji Bun tetap kukuh hendak menunaikan tanggung jawab keluarga. kini dia merasa sudah tiba saatnya untuk beraksi. Sek-hud sudah tak berharga lagi. Ciang Wi-bin bersama puterinya mengundurkan diri. Terunjuk rasa hambar seperti kehilangan sesuatu pada wajah Ciang Bing-cu. Hari itu juga Ji Bun lantas meninggalkan tempat keluarga Ciang. begitu gampang dikelabuhi dengan pancingan orang meninggalkan kamar buku sehingga Sek-hud dicuri orang. Seperti tidak terjadi apa-apa Ciang Wi-bin melangkah keluar. hilang ya sudahlah.Tiraikasih Website http://kangzusi. Ji Bun kembali ke kamar dan membersihkan badan. Ciang Wi-bin berdua sudah menunggu kedatangannya. tak lama kemudian seorang kacung membawanya ke villa yang kemarin Ji Bun bicara dengan Ciang Wibin. dengan kukuh Ji Bun minta diri. pertama dia harus menuju ke Wi-to-hwe menyelidiki jejak Siangkoan Hong. dia merasa dirinya teramat bodoh." Sementara itu hari sudah terang tanah. katanya: "Hantit tidak usah berkecil hati.com/ Ji Bun menjadi kikuk dan rikuh. Walau Ciang Wi-bin sudah membujuk berulang kali. mereka menyambut dengan hangat. Setelah makan. tapi hidangan cukup banyak ragamnya. Lwekang dan kepandaian silatnya sekarang sudah meyakinkan untuk menuntut balas seorang diri. walau sarapan pagi. Dengan langkah lebar Ji Bun meninggalkan Kayhong langsung menuju ke Tong-pek-san. lalu menuntut balas secara terbuka.

Tiraikasih Website http://kangzusi. apalagi Cui Pi-hwi sekarang sudah dinodai oleh Liok Kin." "Jadi kau mencari aku?" tanya Pui Ci-hwi. namun cepat sekali sikapnya berubah dingin pula. kiranya tuan. kiranya bayangan merah itu memang betul Pui Ci-hwi adanya. cintanya itu sudah lama pudar. mukanya yang pucat bersemu merah. Lekas Ji Bun mendekatinya. terbayang akan pengalaman selama ini. sorot matanya pudar menampilkan kepedihan. berdegup jantungnya. tiba-tiba bayangan merah nan molek semampai terbayang dikelopak matanya." "Tunggu sebentar nona Pui. Tengah dia berdiri melamun. .” seru Ji Bun memburu maju waktu melihat orang hendak pergi. badanpun rada kurus. dia kira pandangannya kabur. sapanya: ''Selamat bertemu nona Pui. "ada urusan yang hendak kubicarakan dengan nona. Namun sejak tahu Pui Ci-hwi adalah segolongan dengan para musuhnya. cintanya bertepuk sebelah tangan.com/ Hari itu dia tiba di tempat yang dulu untuk pertama kali dia melihat gadis baju merah Pui Ci-hwi sehingga membatalkan niatnya mengajukan lamaran kepada puteri keluarga Ciang. majikan muda dari Cip-po-hwe. katanya tawar: “O. jantungnya berdebar-debar setelah melihat lebih jelas lagi. setelah dikucek-kucek. Wajah Pui Ci-hwi agak pucat. "ada apa?" "Apakah nona betul murid Pek-ciok Sin-ni?" tanya Ji Bun." Pui Ci-hwi berhenti sambil berpaling. serta merta langkahnya merandek.

” Maksud Ji Bun hendak mencari tahu jejak Toh Ji-lan. kalau begitu Cayhe ingin mencari tahu seseorang kepada nona." sahut Pui Ci-hwi kaku sambil mengerut kening." "Maaf hal ini tak bisa kujelaskan." "Mengingat tuan pernah menolong aku.com/ Pui Ci-hwi melengak. harapan itu kini menjadi kosong. namun dia tidak putus asa." "Apa?" teriak Ji Bun tertegun heran. perempuan yang harus ditemuinya sesuai pesan seorang tua aneh di bawah jurang. "Syukurlah. tanyanya: "Apa betul nona tidak hubungan apa-apa dengan Sin-ni?" "Hubungan sih memang ada. "Kau bukan murid Sin-ni? Lalu darimana nona bisa tahu rahasia Sek-hud itu sehingga diburuburu orang persilatan. adik kandung Pek-ciok Sin-ni. baiklah kujawab pertanyaan ini secara terus terang. dengan heran dia balas bertanya: "Untuk apa tuan tanya hal ini?" "Ada beberapa persoalan yang ingin kuketahui. sebagai tamu kehormatan perkumpulan kami pula.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Mencari siapa?" . Aku bukan murid beliau.

" "Tolong tanya." Ji Bun menarik napas panjang." "Pesan siapa?" "Seorang tua. kalau dia sudah meninggal." “Sayang beliau sudah tak berada di dunia fana ini.com/ "Yaitu adik kandung Sin-ni yang bernama Toh Ji-lan. kepalanya sedikit menggeleng. maka orang tua itu bertahan hidup sekian puluh tahun di bawah jurang dengan siksa derita. "Ya. air mukapun berubah. betapa kejam akhir dari semua ini. hanya karena ingin bertemu sekali lagi dengan kekasih. biarlah kuberi kabar secara terus terang kepada orang tua aneh itu." "Sudah meninggal maksudmu?" Ji Bun menegas. timbul juga rasa kasihan terhadap orang tua itu. pikirnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. dimanakah pusara beliau?" Kaget dan heran Pui Ci-hwi menatap Ji Bun. tanyanya melongo: "Untuk apa tanya tentang beliau?" "Cayhe mendapat pesan seseorang untuk mencari tahu jejaknya. . sahutnya: "Hal ini tak boleh kukatakan." Bergetar badan Pui Ci-hwi. sudah lama meninggal dunia. namun Cayhe sendiri tidak tahu nama dan gelarannya.

Berkerutuk gigi Ji Bun. jawablah nona. namun suaranya semakin dingin kaku: "Apa nona tahu kenapa Wito-hwe bermusuhan dengan Jit-sing-pangcu Ji Ing-hong?" "Kau .com/ Soal lain segera timbul dalam benaknya. siapa pula yang membunuhnya?" "Tidak tahu." "Wi-to-hwe hakikatnya tidak bermusuhan dengan Jit-sing-po.Tiraikasih Website http://kangzusi. sedapat mungkin dia tekan emosinya." "Ji Ing-hong ditemukan mati di dalam hutan dengan mengenaskan. aku tak tahu.." . untuk apa kau tanya hal ini?" "Karena Cayhe ingin tahu duduknya persoalan.." tak tahan Ji Bun menahan rangsangan dendam dan benci. suaranya bengis. sikapnyapun kembali kaku dingin membuat Pui Ci-hwi menyurut jeri. Nah." "Akan tetapi Jit-sing-po hancur lebur?" "Entah. "Hari ini kau harus menjawab pertanyaanku sejujurnya." "Nona Pui.. hawa hitam yang selama ini lenyap kini kentara pula di antara kedua alisnya. Pui Ci-hwi mengiakan sambil mengangguk.. "Nona juga anggota Wi-to-hwe?" tanyanya.

.com/ "Kenapa aku harus menjawab.. secepat kilat dia mencengkeram pergelangan tangan Pui Ci-hwi.. jawab pertanyaanku. "Untuk membunuhmu segampang membalikkan tangan..“ sahut Pui Ci-hwi ketus.. Di mana Siangkoan Hong sekarang?" “Siangkoan Hong? Untuk apa kau mencari dia?" Pui Ci-hwi balas bertanya: "Bukankah kau pernah menolong jiwanya?" "Ya tempo hari aku belum terlibat dalam urusan ini. tangan berbisa segera terangkat tinggi. tapi sekarang kau yang kutanyai.” "Soal ini boleh kau tanya kepada Hwecu saja." "Aku tidak sudi menjawab. '"Demi mencapai tujuanku aku tidak segan-segan turun tangan secara keji.Tiraikasih Website http://kangzusi.. sekarang ." .. mukanya yang pucat menjadi merah padam." Ji Bun menggeram murka. katanya mengancam: "Untuk membunuhmu sekarang bagiku segampang memites seekor semut. tidak sudi." "Kau hendak membunuhku?" teriak Pui Ci-hwi." "Tentu! akan kucari dia.

dandanan demikian rada ganjil dan aneh.Tiraikasih Website http://kangzusi. katakata orang ini seperti api disiram minyak.com/ Bergetar tubuh Pui Ci. jubahnya hitam. membuat amarahnya semakin berkobar.” Mendelik buas mata Ji Bun. air mukanya berubah. matanya mendelik. lekas enyah dari sini." . Cepat Ji Bun menoleh. ujarnya: "Te-gak Suseng. membual saja kepada orang lain. ancamnya: “Kalau kau masih ingin hidup. dilihatnya seorang setengah tua berperawakan sedang. bermuka tirus bermata sipit berdiri dua tombak di belakangnya. “Kwe-loh-jin." Memangnya dendam dan amarah Ji Bun tidak terlampias.” Orang yang menamakan dirinya Kwe-loh-jin atau orang lewat di jalanan ini tertawa menyengir.hwi. tanpa bicara ia menatap Ji Bun dengan penuh kebencian. "Lepaskan dia!" sekonyong-konyong sebuah hardikan berkumandang dari belakang. aku kemari hendak membuat perhitungan dagang dengan kau. desisnya dingin: "Kau betul-betul ingin mampus?" "Nanti dulu." "Perhitungan dagang apa? Aku tidak punya minat. "Tuan orang kosen dari mana?" tanya Ji Bun. rambut kepalanya diikat kain hitam pula.

"Siapakah kau?" tanya Ji Bun. apa betul masih banyak lagi orang-orang yang tidak mempan terhadap racun jahatnya? Seperti tidak kurang suatu apa. tahutahu dia sudah mencengkeramnya pula pergelangan tangan Pui Cihwi dan berdiri di tempatnya semula.. Kwe-loh-jin berkata: "Te-gak Suseng. ternyata Kwe-loh-jin kebal terhadap racun latihannya." Tanpa sadar Ji Bun bertanya : "Kau.. betapa cepat dan tangkas gerakannya ini. marilah kita bicarakan soal dagang itu. "Orang lewat!" . setelah kujelaskan. namun bagiku racun itu bukan apa-apa. sebat sekali Ji Bun melepaskan tangan Pui Ci-hwi terus menubruk ke arah Kwe-loh-jin.. Tapi hasil dari serangannya sungguh di luar dugaannya. Diam-diam Ji Bun menjadi sangsi akan ilmu pukulan berbisa yang diyakinkannya selama ini. tangan berbisa sekaligus menyerang dengan gerakan secepat kilat." ujar Kwe-loh-jin tertawa lebar." Sebelum orang bicara habis.tidak takut racun?" "Bu-ing-cui-sim-jiu memang teramat jahat.com/ "Te-gak Suseng. orang malah berdiri tersenyum simpul. Kwe-lohjin yang kena serangan tangan berbisa tidak roboh binasa. kutanggung minatmu pasti besar. sungguh luar biasa.Tiraikasih Website http://kangzusi.

"Bukankah kau ingin memperoleh kembali barangmu yang hilang?" "Barang hilang?" teriak Ji Bun. suaranya mengancam gemetar: "Bagus sekali. katanya dengan nada yang dibuat setenang mungkin. jangan kau harap bisa merebutnya kembali tanpa memberikan imbalan kepadaku. berani kau bicara soal dagang segala dihadapanku?" 9. Rahasia Rumah Setan di Kay-hong "Orang Lewat" terloroh-loroh." Sebelum bicara "orang lewat" seperti menahan perasaannya." .com/ "Apa maksud dan tujuanmu?" "Sejak tadi sudah kukatakan. untuk membicarakan soal dagang.Tiraikasih Website http://kangzusi." Seperti hendak meledak dada Ji Bun." "Baiklah coba kau terangkan. "barang apa?" "Anting-anting pualam yang tak ternilai harganya untuk mengambil uang di mana saja. katanya: "Te-gak Suseng jangan kau umbar amarahmu. sinar matanya liar.27. jadi yang merebut antinganting itu adalah kau.

itulah yang harus kau berikan padaku. "kalau main pukul lagi. ini lebih meyakinkan Ji Bun bahwa orang ini memang betul adalah orang yang merebut anting-antingnya. telapak tangannya terus memukul ke arah Orang Lewat. tahu-tahu Orang Lewat sudah menyingkir tiga tombak jauhnya. seolah-olah apa yang terjadi disekelilingnya tidak dilihat dan tak didengar. Untuk kedua kali Ji Bun melepas pegangan tangan Pui Ci-hwi.” tantang orang itu. terpaksa kutinggal pergi saja. bergerak. gerakan badan begitu gesit dan enteng." "Baiklah. Gerakan seringan kapas seperti setan melayang ditambah orang juga tidak gentar terkena pukulan beracunnya. kepalamu juga harus kupenggal. sungguh menggelikan. kalau berhantam. betapa dahsyat kekuatan pukulan bagai gugur gunung ini. kalau mau pergi.com/ "Bukan saja anting-anting itu harus kurebut kembali. peduli amat semua peristiwa yang tiada sangkut paut dengan dirinya. memangnya kau mampu merintangi?" . tapi hanya sekali berkelebat. "Te-gak Suseng." orang lewat berseru memberi peringatan. boleh coba." "Hm. Pui Ci-hwi tetap berdiri kaku di tempatnya tanpa.Tiraikasih Website http://kangzusi. sepuluh atau dua puluh kali pukulanmu masih belum apa-apa bagiku. sungguh tidak kalah dibandingkan Biau-jiu Siansing. memangnya kau bisa lolos?" "Omong kosong.

"Gampang saja. anting-anting akan kukembalikan padamu.com/ "Katakan. apa kehendakmu?" bentak Ji Bun dongkol. kita main barter. katanya: "Apa maksudmu sebenarnya?" Tenang-tenang saja sikap "orang lewat". tapi tegakah dia menyerahkan Pui Ci-hwi sebagai barang tukaran? Apa pula maksud "orang lewat" dengan mengajukan syarat yang tidak berperikemanusiaan ini? Maka dia mendengus dingin." Tergerak hati Ji Bun." sahut "orang lewat". tapi tetap tidak bersuara. kan tidak merugikan kau?" "Pernah apa kau dengan dia? Apa tujuanmu menghendaki dirinya?" tanya Ji Bun. katanya: “Bukankah tadi kau hendak membunuhnya? Kalau sekarang dia kutukar antinganting pualam itu. "Bukan apa-apaku.Tiraikasih Website http://kangzusi. kutukar dengan barangmu yang hilang. nah. serahkan dia kepadaku. Memang Ji Bun ingin sekali mendapatkan anting-antingnya yang hilang. Lalu dia merogoh kantong mengeluarkan anting-anting pualam serta ditimang-timang di telapak . tanyanya: "Dia? Kenapa aku harus serahkan dia padamu?" "Untuk barter." Mendelik gusar pandangan Pui Ci-hwi menga¬wasi "orang lewat". Soal untuk apa aku ingin memiliki dia itu bukan urusanmu.

keruan ia melenggong. Nyata. tampak bayangannya melejit. kembali pukulan kedua menyusul tiba. Ji Bun tidak menyianyiakan kesempatan. Dengan sombong dan tertawa senang. namun "orang lewat” sempat melintangkan tangan menangkis. sekarang kau sudah tiada hak untuk barter lagi dengan aku. begitu sampukan tangan berhasil membuat orang gentayangan. "orang lewat" berkata: "Te-gak Suseng. anting-anting itu memang betul adalah miliknya yang hilang itu. Karena tidak menduga dan kurang siaga. ke sana terus mengoget seperti ikan selicin belut tahu-tahu orang sudah menyingkir dari cakaran tangan Ji Bun. terdengar pula suara teriakan kaget. serangan ini secepat kilat menyambar. Serasa pecah kepala Ji Bun saking murka. di tengah suara keras beserta angin kencang berderai keempat penjuru. sekonyong-konyong telapak tangannya menyapu ke depan. Amarah Ji Bun sudah memuncak. orang lewat tersampuk sempoyongan oleh damparan angin kencang ini. terdengar keluhan tertahan.com/ tangannya. Gerakan orang ini betul-betul diluar dugaan Ji Bun. Mendapat angin dengan kedua pukulannya. Kali ini "orang lewat” memperlihatkan kemampuan silatnya yang luar biasa. lalu segera ia menyimpannya pula. segera ia mendesak maju. kekuatannya bukan olah-olah hebatnya. "orang lewat" menyurut mundur beberapa langkah." .Tiraikasih Website http://kangzusi. secepat kilat jarijarinya mencengkeram ke dada lawan. tahu-tahu Pui Ci-hwi menjadi tawanan si "orang lewat".

jengeknya "Kaupun tidak akan hidup. Namun sekali berkelebat Ji Bun juga sudah melejit ke sana menghadang di depannya." Hal ini memang betul. dengan langkah berat Ji Bun mendesak maju. tapi dengan menggondol dia. karena soal sakit hati. mungkin kau punya kesempatan buat lolos. bagaimana mungkin dia mampu meloloskan diri? "Kau tidak mau menukarnya dengan anting-anting. jangan harap kau bisa pergi. Ji Bun nekat. kalau dia berkukuh hendak menggondol pergi Pui Ci-hwi. Bicara soal Lwekang dia malah lebih rendah dua tingkat. sekaligus dia melontarkan serangan mematikan. "orang lewat" hanya mengandal gerakan tubuhnya yang lihay dan sedikit lebih tinggi dari Ji Bun. aku bisa membunuhnya." . kalau bertangan kosong. kau kira bisa pergi dengan selamat?” Sekali jinjing terus dikempit. dengan sendirinya permainan silatnya akan terhalang. "orang lewat" dipaksa mundur ke tempatnya semula. betapapun gerakannya juga kurang leluasa. dialah yang akan mati lebih dulu!" ancam "orang lewat" menyeringai sadis. mendadak "orang lewat" melenting jauh ke sana.com/ "Hm. masakah aku ini manusia rendah yang sudi berbuat sekeji itu. "Berani kau turun tangan.Tiraikasih Website http://kangzusi. tapi untuk barter. itu berarti jiwanya tidak lebih berharga daripada anting-anting itu." "Kau keliru.

anggaplah aku berhasil memungut dia tanpa sengaja. jangan kau membual. segala persoalan dirinya agaknya sudah tergenggam di tangan orang. itulah akhirnya. kau peroleh?" Memang tepat dan lihay gertakan "Orang Lewat" itu. Segera ia menjawab: "Tidak bisa. sesaat dia berpikir. namun teringat anting-anting soal kecil." "Te-gak Suseng. aku tahu kau ingin dia hidup untuk mengorek keterangan asal-usul para musuhmu bukan?" Diam-diam terperanjat Ji Bun. Lepaskan dia!" Agaknya "orang lewat" gentar menghadapi tekat Ji Bun yang membara. lebih penting adalah menuntut balas.” Sebetulnya Ji Bun hampir terbujuk. untuk membunuhnya sekarang aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga. apa yang akan.com/ "Te-gak Suseng. katanya dingin: "Dari orang lainpun aku bisa mendapat keterangan yang kuinginkan. soal barter batal saja. hanya Pui Ci-hwi satu-satunya sumber untuk menyelidiki para musuhnya. kalau betul dia membunuh Pui Ci-hwi terus tinggal pergi. tapi anting-anting tetap kukembalikan padamu. maka dengan mendengus dia berkata: "Kau membunuh dia.Tiraikasih Website http://kangzusi. lalu katanya: "Te-gak Suseng." . betapapun dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan baik ini. untuk ini tidak mungkin dia berani membunuhnya. kalau dia betul-betul mampus ditanganku. bukankah antinganting itu tetap takkan berhasil diminta kembali? Namun Ji Bun juga maklum bahwa "Orang Lewat" ini ingin membawa pergi Pui Ci-hwi pasti punya maksud tertentu. lalu aku membunuhmu.

Ji Bun menggerung gusar. dalam benaknya selalu terbayang orang berkedok. lakilaki muka hitam. begitu tajamnya seperti goresan pisau di ulu hatinya. jarijari tangannya sudah mencengkeram dengan gerakan yang luar biasa." seketika Ji Bun menjerit kaget sambil menyurut mundur. namun "Orang Lewat" berkelit ke kiri terus menerjang ke kanan. mimiknya seperti orang ketakutan melihat setan iblis. Ternyata di atas kuping sebelah kanan "Orang Lewat" kelihatan codet bekas memanjang. dan "Orang Lewat” ini ternyata adalah satu orang. berjubah sutera yang kepalanya ada codet bekas luka.com/ "Memangnya kau mampu membunuhku?" cemooh orang itu. karena tangannya memegangi Pui Ci-hwi. belum lenyap suara gerungannya. suatu ketika jari Ji Bun berhasil menarik kain hitam yang mengikat rambut kepala "Orang Lewat". lama kelamaan menyurut juga. serangan Ji Bun tidak menjadi kendur. kini hendak membawa Pui Ci-hwi kenapa? . betapa tinggi dan lihay gerakan "Orang Lewat". matanya terbeliak dengan muka pucat lalu merah dan kehijauan. Codet ini memberi kesan yang mendalam bagi Ji Bun. lalu siapa yang satu lagi? Mungkinkah masih ada orang ketiga? Sungguh luar biasa. Jadi dia belum mati? Dengan kedua tangannya sendiri dia mengubur dua orang yang sama-sama berkedok dan berjubah sutera. jadi antara Orang berkedok. "Hah. beruntun jari tangannya bekerja dengan serangan lihay. salah satu adalah ayahnya. berulang kali orang ini hendak menghabiskan jiwanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Cret".

lagi tidak takut menghadapi Bu-ingcui sim-jiu yang amat beracun itu.Tiraikasih Website http://kangzusi. setelah dipikir secara seksama. dengan bentuk wajah yang selalu berubah. Bukan saja kejadian ini teramat aneh. Secara wajar. "Siapa dia? Siapa dia?" tak tertahan Ji Bun berteriak-teriak seperti orang gila. gerakan badan yang terlalu hebat dan mengejutkan. juga amat menakutkan. Ya pasti dia. waktu dia menyapu pandang sekelilingnya.com/ Lekas Ji Bun tenangkan diri. kalau tidak dirinya takkan hidup tenang. Tempo hari kalau tidak ketemu tabib keliling dan dipancing keluar kota mungkin teka-teki ini sudah berhasil dibongkarnya. Dia lebih condong menaruh curiga kepada Biau-Jiu Siansing karena orang inipun memiliki gerakan tubuh dan Ginkang sehebat itu. katanya isteri dan seorang puteranya berdiam di gedung setan itu. salahsalah jiwa sendiri bisa melayang oleh kelicikan dan kelicinan musuh. Ji Bun berkeputusan untuk mampir . ke¬cuali dia pasti tiada orang yang punya kemampuan seperti itu. Teka-teki ini harus cepat dibongkar. Ji Bun tenggelam dalam pemikirannya. ternyata Orang Lewat dan Pui Ci-hwi sudah lenyap. agaknya orang melarikan diri waktu dirinya linglung tadi. sepak terjang orang seperti setan gentayangan. Gedung setan di kota Cinyang. demikian pula Jitsing-ko-jin bukan mustahil adalah samarannya. Untuk menuju Tong-pek-san kebetulan harus lewat kota Cinyang. Diantara serangkaian kejadian ini seakan-akan berselubung suatu teka-teki yang serba misterius. seperti apa yang dikatakan Thianthay-mo-ki adalah sarang atau tempat sembunyi Biau-jiu Siansing. namun teka-teki yang menakutkan ini tidak mudah dibongkar. dia lantas berpikir kepada Biau-jiu Siansing.

maka dia tidak masuk kota. Di sini dia mencari hotel untuk melepaskan lelah dan menghabiskan waktu. Setelah cuci muka dan ganti pakaian. seorang diri mondar-mandir di dalam kamar. dia pesan makanan." "Bagaimana raut wajahnya?" "Entahlah. kuatir jejaknya diketahui pihak musuh. Supaya tidak mengejutkan pihak sana. sendirian dia sudah makan minum dengan lahapnya. tapi berputar menuju ke sebuah kota kecil di selatan Cinyang yang jaraknya kira-kira beberapa li.” Pelayan angsurkan surat itu. malam nanti setelah kentongan kedua baru akan mulai beraksi. seketika berubah air muka Ji Bun. tidak leluasa untuk bekerja.Tiraikasih Website http://kangzusi. itulah secarik kertas tanpa sampul sebesar telapak tangan. segera dia keluar hutan dan menempuh perjalanan lewat jalan raya. Begitu membaca tulisan di atas kertas itu. karena terlalu pagi. agaknya seperti orang persilatan. Tiba-tiba pelayan masuk. Hari kelima pagi-pagi benar Ji Bun sudah sampai di kota Cinyang. suaranya gemetar: "Mana orang yang membawa surat ini?" "Sudah pergi. Tak lama kemudian. katanya: "Siangkong." Tergerak hati Ji Bun. katanya: "Bawa kemari.com/ ke kota Cinyang mencari Biau-jiu Siansing." . ada seorang tamu suruh hamba menyampaikan sepucuk surat.

bunyinya demikian: "Disampaikan kepada Te-gak Suseng. ditambah mengancam dan menindas. Hud-sim boleh diserahkan padamu. perjalanan kali ini agaknya bakal gagal lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi." Dengan heran dan curiga si pelayan melirik sekejap pada Ji Bun. Jadi terang sekarang tujuan-tujuan "Orang Lewat" menculik Pui Cuihwi ternyata untuk barter dengan Hud-sim. menipu. suruh ketuanya menukar jiwa nona itu dengan Hudsim. lekaslah kau pergi ke Wi-to-hwe. tiada apa-apa. dari gejala yang sudah teraba secara beruntun ini. Dengan terlongong Ji Bun mengawasi kertas ditangannya. dia lebih yakin bahwa "Orang Lewat" ini memang duplikat Biau-jiu-Siansing. selewatnya hari yang kutentukan. lalu mengundurkan diri. agaknya gerak-geriknya selalu diintai oleh lawan. Semua ini merupakan perbuatan kotor dan rendah yang selalu terjadi dikalangan Kang-ouw oleh manusia-manusia rendah. merampas dan merebut. mungkinkah "Orang Lewat" pula yang melakukan pencurian Sek-hud di gedung keluarga Ciang? Musuh ditempat gelap. akan kujanjikan tempat dan waktunya setelah tiba waktunya.com/ "Baik. kau boleh keluar. urusan ini memang serba sulit dan dirinya dipihak yang dirugikan. Kalau ingin memperoleh si jelita tanpa kurang suatu apa dan anting-anting. mencuri. yang ." Gemas dan dongkol ji Bun bukan main. hal ini memang sudah sering terjadi dan tidak mengherankan dirinya. keselamatan jiwanya bukan tanggung jawabku lagi. Kubatasi 10 hari. kalau ketuanya setuju. Ji Bun membaca sekali lagi tulisan surat itu. Tertanda Kwe-loh-jin. dirinya ditempat terang.

tidak nampak bayangan orang lewat di sini. denah gedung ini cukup luas dan besar. Sejenak Ji Bun berdiri di atas pagar tembok menerawang keadaan sekelilingnya. Sesosok bayangan dengan cepat melayang ke arah "gedung setan" di kota Cinyang. Dia bukan lain Te-gak Suseng Ji Bun adanya. . debu setebal beberapa mili. keadaan tidak berbeda dengan tempo hari waktu pertama kali dia datang. pintu besarnya tertutup rapat. pekarangan berlapis-lapis. sambil menengadah dia tenggak habis secangkir arak. galagasi berada dimana-mana.com/ belum diketahui hanyalah apa tujuan orang ini selalu hendak membunuh dirinya. sekali lompat dia naik ke atas wuwungan. lalu berputar ke arah samping. tetumbuhan tua tersebar dimana-mana. mulutnya menggumam: "Malam ini harus kubongkar seluk-beluk si maling tua itu. Memang sesuai betul keadaan Gedung Setan ini dengan namanya. suasana hening mencekam." o0o Kentongan kedua baru saja berkumandang. ia yakin dirinya belum pernah bermusuhan dengan dia.Tiraikasih Website http://kangzusi. tampak rumah berderet. Apakah sekarang ia harus pergi ke Tong-pek-san dan bekerja sesuai yang diminta "Orang Lewat" seperti yang ditulis dalam suratnya ini? Dengan keras dia gebrak meja. Selayang pandang keadaan serba gelap. Mungkinkah ada orang tinggal di tempat seperti ini? Ji Bun jadi terlongong bingung. hawapun terasa lembab dan menggiriskan orang.

bau busuk merangsang hidung. jendela dan pintunya sama runtuh. bangunan rumahrumah disekelilingnya juga banyak yang rusak dan bobrok. matanya masih bisa melihat sesuatu di tempat gelap dengan jelas. pasti ada sinar lampu atau lilin. juga tidak percaya di dunia ini ada setan. Sudah tentu Ji Bun tidak mau berhenti begini saja dan balik dengan tangan hampa. merinding.com/ Ji Bun tidak takut setan. Tapi kalau. setelah bimbang sebentar. rumah serta tempat-tempat yang sering dikatakan keramat dan dihuni setan hanya permainan kotor orang-orang persilatan yang suka main-main dengan tujuan tertentu belaka. dia membelok ke serambi sana terus memasuki pekarangan lapis ketiga. hening lelap. seolaholah tiada kehidupan lagi di dunia fana ini. namun yang dihadapinya sekarang hanya kepekatan yang menyeramkan. namun bagi orang yang berkepandaian setinggi Ji Bun sekarang. Malam memang teramat gelap. yang masih ketinggalan sedang berbunyi berkeriut ditiup angin. Betapa tinggi kepandaian Ji Bun menghadapi suasana yang seram menggiriskan ini. Keadaan di sini tak ubahnya dengan pekarangan pertama. hawa seperti membeku. jalur jalan kecil yang berliku-liku juga sudah penuh ditumbuhi lumut dan rumput-rumput serta ditumpuki daun kering. Tertampak pekarangan ini sudah lebat ditumbuhi semak-semak rumput dan pepohonan liar. Dengan langkah pelan dan hati-hati dia mendekati pintu rembulan dan menuju ke halaman kedua. bayang-bayang pepohonan mirip setan iblis yang menjulurkan jari-jari tangan siap menerkam mangsanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. berdiri juga bulu kuduknya. rumah ini dihuni manusia. akhirnya dia enjot kaki dan melayang turun di pekarangan. Namun Ji Bun tidak putus asa. Pemandangan di sini .

. Lalu tindakan apa yang harus dia lakukan. Atau . kiranya hanya nama kosong dan gertakan bagi yang bernyali kecil belaka. muslihat menakuti orang dengan tujuan tertentu. dilihatnya di antara sela pepohonan lapat-lapat kelihatan sinar pelita yang menyorot keluar. dengan berindap dan menggeremet Ji Bun maju semakin dekat. Apa yang pernah dilihat dan dialami Thian-thay-mo-ki dulu agaknya memang kenyataan. "Tegak Suseng mohon bertemu dengan tuan rumah. tentu dia tidak akan menyembunyikan diri. itu menyorot keluar dari sebuah kamar yang tertutup kain gordin. Kini dia sudah melihat jelas. Waktu Ji Bun sampai di serambi luar kamar itu sinar pelita di dalam kamar itu mendadak padam. selepas matanya memandang.. Kalau dipandang dari wuwungan rumah. sinar pelita. bila dirinya bersuara dan memperkenalkan diri. karena kain gordin kurang rapat sehingga sinar pelita ini menyorot keluar dari sela-sela meski hanya segaris saja. Agaknya tidak siasia perjalanan Ji Bun kali ini.. Keruan kaget berdegup hati Ji Bun.com/ jauh berubah. seperti kebun yang selalu diatur oleh tangan-tangan manusia. tanaman di sini kelihatannya teratur dan teramat baik. gedung sebesar ini kalau pihak sana sengaja mau menyembunyikan diri.Tiraikasih Website http://kangzusi. Apa yang dinamakan gedung setan. Dengan enteng Ji Bun melayang ke arah sinar pelita." . Serta merta hati Ji Bun menjadi tegang. sinar pelita ini terang tidak akan kelihatan. dia tahu bahwa jejaknya sudah konangan. untuk mencarinya tentu sesulit memanjat ke langit. Maka Ji Bun lantas bersuara. karena teraling dan tertutup oleh bayang-bayang dedaunan yang lebat. kalau Biau-jiu Siansing memang seorang tokoh yang punya gengsi dan berbobot.

Tiraikasih Website http://kangzusi. keruan Ji Bun naik pitam. pelan-pelan dia putar badan di mulut serambi sana dilihatnya berdiri seorang nyonya berpakaian serba hijau. kali. Bercekat hati Ji Bun. nyalakan lagi api di dalam kamar. "Bagaimana. kedua matanya menyala terang seperti mata harimau di malam. tapi sekarang sudah pergi." perintah nyonya baju hijau. namun dengan tabah. agaknya Lwekang dan kepandaian silatnya tidak rendah. "Berdiri!" sekonyong-konyong suara seorang perempuan berkumandang di belakangnya. namun tiada reaksi apa-apa. segera sinar lampu menyala lagi di dalam dan kebetulan menyorot dimuka nyonya baju hijau ini. Biji mata bocah itu berputar mengawasi Ji Bun sekejap. Sahutnya dengan suara nyaring: “Ada orang menguntit. dilihat pula sesosok bayangan kecil seringan burung melayang turun dari atap rumah. namun bekas-bekas . kiranya seorang laki-laki berusia 10–an tahun. agaknya usianya ada setengah abad. Saat lain." tanya nyonya baju hijau. dengan amarah yang berkobar segera dia mendekati pintu. maka jelas kelihatan raut mukanya yang sudah agak berkeriput.com/ Beruntun dia berkaok tiga. Bocah itu segera berlari masuk ke dalam.” "Baik.

com/ kecantikannya masih kelihatan. namun dengan nanar dia awasi muka Ji Bun. Nyonya baju hijau tidak bersuara. Nyonya itu menuding ke dalam. Pajangan kamar ini cukup bagus namun sederhana. air mukanya berubah-ubah.” Lalu dia mendahului melangkah masuk." "Tamu?" Ji Bun mengernyit kening. anak kecil tadi sudah tidak kelihatan bayangannya. Sekilas Ji Bun melenggong. namun nyonya ini bilang dirinya hanya seorang tamu. katanya: "Mari bicara di dalam. sayang rona mukanya menampilkan mimik yang aneh. "Siapakah yang mulai ini?" sapa Ji Bun lebih dulu.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Kau heran bukan?” Memang Ji Bun heran dan tak mengerti. aku terhitung tamu juga disini. menurut cerita Thianthay-mo-ki. Bocah tadi adalah putera tunggalnya. Maka dengan dingin dia .” Tak tahan Ji Bun buka suara pula: "Apakah engkau majikan gedung ini?'' "Bukan. katanya nyonya ini adalah isteri Biau-jiau Siansing atau gundiknya. suasana terasa redup dan nyaman dibawah sinar lampu teplok. tapi dia lantas ikut masuk.

"kau inikah Te-gak Suseng? Apa maksud kedatanganmu?" “Sengaja mengunjungi Biau-jiu Siansing Locianpwe. “Siapakah Biau-jiau Siansing? Darimana tahu kalau dia tinggal di gedung setan?" "Tiada sesuatu rahasia mutlak di dunia ini." "Kalau begitu biar kukasih tahu. "Biau-jiu Siansing!" Ji Bun mengulangi dengan tegas." Cukup sepatah kata jawabanmu ini lantas hendak mengusirku pergi.com/ mengejek: "Tapi kutahu bahwa engkau adalah penghuni gedung ini?" "Soal kecil ini tidak perlu diperdebatkan. ”Siapa katamu?" bentak nyonya baju hijau dengan air muka berubah." . Sebelum kutemukah dia." "Berapa rahasia yang sudah kau ketahui?" "Soal ini saja sudah cukup berlebihan." ujar nyonya baju hijau lesu.Tiraikasih Website http://kangzusi." sahut Ji Bun garang sedapat mungkin dia kendalikan rasa geramnya. disini tiada orang bernama Biaujiu Siansing. aku tidak akan meninggalkan gedung ini.

Biau-jiu Siansinglah yang mengajarkan padaku." “Aku..com/ "Berdasarkan apa kau yakin Biau-jiu Siansing berada di gedung ini?" “Berdasarkan berita yang kuperoleh." "Kau berani bertingkah di sini?" "Kalau tidak berani tidak akan kemari. maka dengan geram dia berkata dingin: "Hu-jin (nyonya) tidak akan memaksaku untuk bertindak.. dia sudah berkeputusan." "Dengan cara apa kau hendak bekerja?” "Sulit dikatakan. meski harus menggunakan cara keji apapun juga akan mengobrak-abrik gedung ini dan mengorek usal-usul Biau-jiu Siansing yang sesungguhnya." ”Kabar dari mana?” "Nyonya tidak perlu tahu..Tiraikasih Website http://kangzusi.” ." Ji Bun menarik muka. Tidak tahu apa itu Biau-jiau Siansing segala. bukan?" "Kau mengancamku?” "Bukan mengancam demi mencapai keinginan yang kuharapkan. bukan saja dia licin dan licik malah rendah dan hina . aku tidak segan bertindak dengan cara apapun.

jengeknya: "Tokoh aneh apa? Memangnya dia setimpal?" "Kenapa tidak setimpal" "Main curi. buat apa kau membela dia?" Mencorong sinar mata nyonya baju hijau. Namun nyonya ini dapat menyebut namanya dengan tepat.com/ "Kentutmu! Omong kosong!" "Jadi Hujin mengakui akan kenyataan ini? Kalau Hujin tidak kenal dia. menipu. bentaknya bengis: "Biau-jiu Siansing adalah tokoh aneh di kalangan Kang-ouw. setimpalkah orang yang melakukan perbuatan serendah itu dimanakah tokoh aneh?" Dengan mengertak gigi nyonya baju hijau menatap Ji Bun sekian lama.Tiraikasih Website http://kangzusi. kecuali Ciang Wi-bin dan puterinya tiada orang lain yang tahu. dengan gemetar dia berkata: “Dari mana Hujin tahu aku bernama Ji Bun?" . rebut. "Kau bernama Ji Bun bukan?” Hati Ji Bun betul-betul tergoncang hebat. nama aslinya selamanya belum pernah bocor di kalangan Kang-ouw. mengandalkan apa kau berani memaki dan menghinanya?" Ji Bun mendengus berat. mendadak dia berkata. memeras dan segala tipu kotor. sungguh mengejutkan dan mengerikan.

.. mata terbeliak mulut melongo.. belum pernah. beruntun dia menyurut tiga tindak. darah seketika tersirap ke atas kepala. giginya berkerutukan menahan gejolak hati.” Serasa meledak Ji Bun.” Terpencar sorot kebencian yang menyala dari kedua biji mata nyonya baju hijau.... Dengan haru dan penuh emosi nyonya baju hijau berkata pula: "Kau tahu siapa aku?" Tergagap-gagap Ji Bun berkata: "Hujin ... lama kemudian baru dia berkata: "Kalau Lan Giok-tin?” Bergetar sekujur badan Ji Bun. siapa?" “Kau pernah dengar nama gelaran Khong-kok-lan So Yan?" “Be ..com/ Dingin sekali sikap nyonya baju hijau.dari mana Hujin tahu. hampir saja meja kursi diterjangnya roboh.Tiraikasih Website http://kangzusi. .. serunya: "Itulah ibundaku. katanya: “Malah aku juga tahu kau ini adalah putranya Ji Ing-hong. lama sekali dia mengawasi nyonya itu tanpa bersuara... namun Ji Bun sudah terkekang oleh suasana yang mengejutkan ini..." "Dia yang melahirkan kau?" "Ya." "Dia masih hidup?" pertanyaan mendadak ini teramat menusuk..

apa maksudmu?" "Ketahuilah. bahwa nyonya baju hijau ini ternyata adalah isteri tua dari ayahnya. Khong-kok-lan So Yan. sementara dirinya berada di dalam gedung setan pula. Berkata pula Khong-kok-lan So Yan: "Sayang sejauh ini aku belum berhasil membunuh Ji Ing-hong dengan kedua tanganku sendiri. penasaranpun terasa sesak hampir berhenti. aku inilah isteri Ji lng-hong yang resmi. sungguh kejadian yang tak pernah dia bayangkan meski di dalam mimpi.." Seperti ditusuk sembilu sekujur badan Ji Bun.. seketika dia merinding dan gemerobyos keringat dinginnya.com/ tanpa ragu dia menjawab: "Mati hidup ibu sampai sekarang belum kuketahui. dulu pernah dia tanya tentang nyonya besar ini kepada ibunya.. Bagaimana mungkin dia bisa berada di gedung setan ini? Siapa pula bocah itu? Apakah adiknya dari tunggal bapak lain ibu? Ji Bun jadi ragu-ragu. Ji Bun.. bertemu atau melihat nyonya ini. seketika menjadi linu dan pati rasa." . Tak heran dia bisa menyebut namanya yang merupakan rahasia bagi orang lain.Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya sudah lama meninggal apakah dia ini setan gentayangan? Teringat akan setan." "Hm. memang dia bakal mengalami hari naas. apakah gedung ini betul adalah tempat sembunyi Biau-jiu Siansing? Selama hidup Ji Bun belum pernah. dia hanya tahu bahwa ibunya isteri kedua." "Hujin .

Sungguh peristiwa yang sukar diterima oleh akal sehat bahwa di antara suami isteri bisa terjadi dendam berdarah? Serta merta dia teringat kepada Siangkoan Hong..." .... timbul perasaan dingin dari relung hatinya. tak tertahan ia berteriak tanpa sadar: "Taybo kenal . dia pernah bilang punya dendam kesumat terhadap Ji Ing-hong yang merebut isteri dan membunuh anaknya..Tiraikasih Website http://kangzusi.. katanya kemudian: "Apakah ada kesalahan paham?" "Salah paham apa? Hm. mungkinkah dia ...28.. poci dan cangkir teh di atas meja sama menggelinding jatuh keterjang pantat Ji Bun.” “Jangan panggil aku Taybo (ibu tua). entah ada permusuhan apa pula antara ayah dan nyonya besar ini? "Taybo .. Aku she So. terserah kau ingin panggil apa padaku.com/ Bergidik pula Ji Bun dibuatnya mendengar kata-kata ini." Apakah wanita setengah baya ini benar ibu tiri Ji Bun? Dan siapa pula anak laki-laki itu? Dapatkah Ji Bun mengorek rahasia mengenai Biau-jiu Siansing? 10. yang jelas dendam berdarah!" "Dendam berdarah?" teriak Ji Bun sembari mundur selangkah pula.. aku sudah putus hubungan dengan Ji Ing-hong... Wi-to-hwe Terima Syarat Barter Ji Bun menelan air liur seka!i..

agaknya dugaannya meleset. mulutnya tetap terkancing saja.... beliau sudah . segera dia bertanya pula: "Bolehkah jelaskan duduk persoalan yang sebenarnya?" "Kau boleh tanya kepada bapakmu. apa boleh buat dia mengubah panggilan: "Apakah So-cianpwe kenal Siangkoan Hong?" "Siangkoan Hong? Belum pernah dengar." "Dia ." Mendelik Ji Bun. mengingat orang adalah isteri tua ayahnya." bentak Khong-kok-lan bengis.. tanyanya: "Kapan kejadiannya?" "Sepuluh hari yang lalu.. betapapun dirinya adalah anak muda yang harus tetap hormat terhadap orang tua..." "Apa? Ji ing-hong sudah mampus?" "Ya”. "terbunuh oleh musuh yang tidak dikenal. bukan mustahil di balik peristiwa ini ada rangkaian cerita yang menakutkan? Dari . meninggal." Gemetar keras sekali sekujur badan Khong-kok-lan So Yan. sahut Ji Bun. sesaat dia kememek.com/ "Aku bukan Taybo..." "Bagus sekali..Tiraikasih Website http://kangzusi." Ji Bun melengak. Ji Bun angkat pundak.. memang setimpal dia mampus..

" “Bayangan tadi muncul kembali.Tiraikasih Website http://kangzusi." Bocah yang bernama Siau-po memang penurut. dia masuk dari luar kamar. Celakanya keluarga serta seluruh penghuni Jit-sing-po tahu-tahu telah hancur lebur. bayangannya lenyap ditelan kegelapan. "Nanti kuberi tahu padamu.. bocah tadi tiba-tiba muncul lagi..com/ mana mungkin antara suami isteri bisa terjalin dendam berdarah? Sayang sekali sejak kecil dirinya hidup secara terisolir. mengenai seluk beluk keluarga sendiripun tidak jelas.. siapakah yang menguntit dirinya? Mungkin Kwe-lo-jin? Kalau demikian mungkin pemilik gedung ini memang bukan Biau-jiu Siansing.. kau jaga di luar saja. "Siau-po." "Untuk apa dia kemari?" tanya anak itu. segera ia berlari keluar. kau harus berjaga di luar sana. tapi . Tergerak hati Ji Bun.. mimik wajah Khong-kok-lan So Yan yang menakutkan dirangsang oleh emosinya tadi segera lenyap begitu bocah ini muncul. Kalau tidak salah menguntit dia. Pada saat itulah. usianya masih begitu . Setelah dewasa dia diperintahkan berkelana dan langsung menuju Kayhong untuk melamar puteri keluarga Ciang. tanyanya dengan ramah dan lembut: “Siau-po.." sahut bocah itu sambil menuding Ji Bun. semuanya gugur melawan para penyerbu sehingga segala sesuatu semakin kabur.

peduli bagaimana duduk persoalan sebenarnya.. kalau bukan lantaran sesuatu hal...... lekaslah kau pergi sebelum aku mengubah sikapku. namun bayangan Biau-jiau Siansing masih melekat dalam benaknya. anggap berakhirlah segala dendam kesumat.. namun gerak-geriknya amat cekatan. namun dia juga tahu pertanyaan akan sia-sia.” "Di sini tiada Biau-jiu Siansing.. kalau tidak . Ji Bun mengeraskan kepala. "kau masih ada urusan?" Ji Bun ingin tanya liku-liku persoalan ini supaya jelas.” "Bagaimana?" "Kubunuh kau!" . Ji Bun. tak tertahan Ji Bun bertanya: "Siapakah dia?" "Kau tidak perlu tahu. Nyonya ini jelas tak mau menjelaskan... kelak kalau ibunya berhasil ditemukan dapat tanya kepada beliau saja. kuberitahukan padamu." sahut Khong-kok-lan So Yan. katanya: "Mengenai Biau-jiu Siansing ..com/ kecil." kata Khong-kok-lan So Yan sambil angkat sebelah tangannya. yang terang ayahnya sudah meninggal. "Kau boleh pergi. jiwamu sudah melayang sejak tadi.Tiraikasih Website http://kangzusi..

pu!uhan batang anak panah berseliweran di depan dan kanan kiri. Peduli bagaimana martabat ayahnya di masa hidup.Tiraikasih Website http://kangzusi. Baru sekarang dia merasakan urusan keluarganya benar-benar serba rumit. sekaligus dia berlari menuju ke hotel tempat menginap. Tapi bukan soal gampang untuk membunuhku. Tanpa mengeluarkan suara langsung dia masuk ke kamar dan rebah di atas ranjang dan merenungkan pengalaman tadi. dia tak habis mengerti dan tidak mampu memecahkan persoalan ini." sebatang lembing yang runcing mengkilap tiba-tiba menjulur keluar dari dalam dinding. majulah selangkah dan berpalinglah ke belakang. ser". orang-orang yang berkepentinganpun sudah wafat. lihat apa itu?" Setengah percaya Ji Bun maju selangkah terus berpaling. apa pula yang harus dirisaukan? Kecuali menuntut balas. waktu itu sudah mendekati kentongan keempat. betapapun sulit dihindarkan. tanpa bersuara lagi segera dia enjot kaki melesat keluar gedung setan. jengeknya: "Kuhormati kau sebagai Taybo. Ji Bun mengertak gigi. "Crat. Serangan gelap macam ini. Pengalaman selama dua jam ini sungguh aneh bin ajaib.com/ Ji Bun tak kuasa menahan sabar." "Hm. namun keluarga sudah berantakan. "Bagaimana?" tanya si nyonya. tiada tugas apapun yang setimpal untuk dipikirkan. keringat dingin membasahi jidatnya. . karuan dia berteriak kaget sambil melompat menyingkir. tepat mengincar punggung di mana tadi dia berdiri. susul menyusul terdengar pula suara "ser. semuanya menancap di dinding.

Kini yang dia pikirkan adalah permintaan Kwe-loh-jin melalui secarik kertasnya itu. Setengah malam dia bekerja berat. Hal inipun menandakan kecerdikan dan kelicikannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun dia lupa lelah dan tidak kantuk. Biau-jiu Siansing bilang supaya Wi-to-hwe menyerahkan Hud-sim kepada dirinya. . kesempatan masih ada untuk berhadapan dengan dia. terang dirinya tak bisa minta kepada Wi-to-hwe untuk mengeluarkan Hud-sim dan barter dengan Pui Ci-hwi. Jika dia harus beraksi menuntut balas. kalau tidak situasi pasti sudah jauh berubah. terang Wi-to-hwe akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi dirinya. Agaknya dia harus bekerja secara bertahap. agaknya orang juga jeri menghadapi jagojago Wi-to-hwe. dengan sendirinya pula rahasia pribadi Biau-jiu Siansing juga sukar untuk dibongkar. terlebih dulu harus membereskan persoalan yang menakutkan ini. Pihak Wi-to-hwe mau menerima syarat barter ini? Apa betul Hudsim terjatuh ke pihak Wi-to-hwe? Diam-diam Ji Bun bersyukur bahwa dia tidak katakan asal usul dirinya kepada Pui Ci-hwi. Kalau Kwe-loh-jin benar adalah duplikat Biaujiu Siansing. betapapun dia harus bekerja sekuat tenaga. soal tetek bengek tidak usah ambil pusing. Kalau asal dirinya diketahui pihak musuh. semua persoalan yang serba rumit ini satu persatu berganti berkelebat dalam benaknya. Kapan dan di mana akan dilakukan pertukaran akan diberitahu lebih lanjut.com/ sebagai seorang anak yang harus bakti terhadap orang tua.

"Aku hendak naik gunung mengunjungi Hwecu. Tengah dia mengayun langkah." "Ada urusan?" . suasana hotel kecil itu sudah menjadi ramai dan ribut. dengan kedudukan dan jabatan orang dalam tandu di Wi-to-hwe. Ji Bun angkat kedua tangan memberi hormat. dia segera melanjutkan perjalanan menuju ke Tong-pek-san. belum lagi hari terang tanah. Waktu Ji Bun angkat kepala. sang surya memancarkan sinarnya yang cemerlang di ufuk timur. hatinya bersorak girang. tiba-tiba sebuah tandu berhias dipikul empat orang mendatangi. kan dapat mengurangi tenaga supaya tidak usah jauhjauh pergi ke markas besarnya.com/ Hotel-hotel di kota kecil seperti ini kebanyakan dihuni oleh kaum pedagang yang menempuh perjalanan jauh. soal Hud-sim. sapanya: "Selamat bertemu yang mulia!" "Saudara kecil hendak ke mana?" tanya orang dalam tandu. Setelah tangsel perut ala kadarnya. Ji Bun sekalian bangun dan cuci muka. untuk tiga kali dia naik ke gunung ini. begitu ayam jago berkokok. tentunya dapat diajukan kepadanya. Sementara itu. Karena tidak bisa tidur. tandu itupun sudah berhenti tak jauh di depannya. kiranya yang mendatang adalah tandu berhias dengan orang dalam tandu yang misterius itu. Lekas sekali hari sudah terang tanah.Tiraikasih Website http://kangzusi.

Ji Bun diam dan menunggu reaksi dengan tenang-tenang." . sayang Hwecu kebetulan sedang turun gunung untuk suatu keperluan. katanya." "O. Tak lama kemudian." Ji Bun keluarkan surat tulisan Kwe-loh-jin. ada urusan apa boleh kau katakan padaku.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Lalu kenapa kau jadi penengahnya?” "Ya. "Silakan baca surat ini. katanya kemudian dengan nada yang menggiriskan: "Saudara kecil. dia mengajukan syarat ini." Salah seorang laki-laki baju hitam yang memikul tandu segera menerima surat itu dan diangsurkan ke dalam tandu." "Berani dia mengajukan syarat seperti ini? Siapakah Kwe-loh-jin itu?" "Entah. mungkin aku bisa memberi keputusan. apakah yang telah terjadi?" "Seperti apa yang dikatakan dalam surat itu. karena anting-anting pualam milikku terjatuh di tangannya. orang dalam tandu menggeram gusar.com/ "Ada urusan penting perlu segera kubicarakan berhadapan dengan Hwecu sendiri. akupun tidak kenal dia. nona Pui sudah diculik oleh orang itu. untuk mengembalikan anting-anting itu.

" "Keparat .." Ji Bun naik pitam. tolong saudara cilik sampaikan kepada Kwe-loh-jin. selamat berpisah.." "Masih ada omongan apa lagi?" "Tahukah kau apa sebenarnya Hud-sim itu?" . masakah kau juga mau ditekan dan diperas?" "Banyak kejadian dalam dunia ini sukar dipertimbangkan dengan akal sehat.Tiraikasih Website http://kangzusi. saudara cilik.” "Hal itu tak mungkin dilaksanakan.." "Kalau begitu anggaplah Cayhe salah alamat." "Tunggu sebentar.. rasanya siapapun pasti akan berpikir demikian. hakikatnya aku tidak bisa menemukan jejaknya.. katanya aseran: "Kau kira Cayhe sekomplotan dengan Kwe-loh-jin?" Sesaat orang dalam tandu berpikir.com/ "Kepandaianmu sudah begini tinggi... katanya kemudian: "Bukan aku banyak curiga. suruh dia berhadapan langsung dengan aku ." "Kukira tidak mungkin..

terus terang Cayhe tidak berani sembarangan omong." . biarlah aku yang tanggung untuk menerima syarat yang diajukan Kwe-loh-jin ini. katanya dengan menegak alis: "Malingpun mempunyai aturannya sendiri.. Sudah tentu Ji Bun maklum akan maksud ini. kukira hal-hal yang tidak penting itu tidak perlu dipikirkan dan dikuatirkan." ucapannya ini terlalu angkuh tak ubahnya seorang jago silat tulen. namun bagaimana kenyataannya sulit dikatakan. maklumlah Pui Ci-hwi gadis jelita yang masih perawan.com/ "Cayhe tidak tahu. Akhirnya orang dalam tandu bersuara dengan nada berat: "Saudara cilik.. tanyanya: "Tapi apa?" "Aku menguatirkan keselamatan Pui Ci-hwi . tapi .." Uutuk sekian lamanya keduanya diam saja.. banyak hal yang harus dikuatirkan.." "Kau tidak berani menanggung?" "Maaf... hal ini aku tidak berani tanggung.Tiraikasih Website http://kangzusi.. orang dari golongan manakah Kwe-lohjin ini?" "Ini .” Tak terduga oleh Ji Bun bahwa orang dalam tandu bakal menerima syarat yang diajukan Kwe-loh-jin. dugaan memang ada. "Menurut pendapatanmu... juga tidak ingin tahu...” Yang dimaksud dengan keselamatan sudah tentu bukan hanya mati-hidup jiwanya.. Kalau sampai terjatuh ke tangan manusia rendah dan cabul.

" "Saudara cilik. kalau dipikir dia tertawa sendiri. tapi aku tetap berkuatir. aku pasti antar barang itu ke sana. secara beruntun dia bekerja untuk kepentingan pihak musuhnya. maka kuharap dikala kau menukar orang." "Baiklah. "Saudara cilik hendak menunggu di mana?" "Kutunggu di hotel Im-ping-can di kota kecil Ngo-li-cip di selatan kota Cinyang. sekali lagi kupesan wanti-wanti. Cayhe akan bekerja melihat gelagat. selalu terhalang oleh macam-macam perubahan yang dihadapinya.com/ "Bukan aku minta pertanggunganmu. malah sukar dimengerti. namun aksi menuntut balas yang sudah dirancangnya sekian lama belum dilaksanakan. dalam tiga hari." "Baiklah.Tiraikasih Website http://kangzusi." Di mulut dia berkata demikian. dia merasa kelakuannya kali ini amat lucu dan menggelikan." "Cayhe akan bekerja sekuat tenaga. kau harus perhatikan kekuatiranku ini. namun timbul suatu perasaan aneh dalam relung hatinya." "Cayhe akan menunggu dengan sabar." .

Kenapa Taybo Khong-kok-lan So Yan kedapatan berdiam di gedung setan dalam kota Cinyang? Dendam berdarah apakah yang terjadi antara dia dengan ayah? Siapa pula bocah yang bernama Siau-po itu? Dengan tegas So Yan menyangkal bahwa dirinya ada sangkut paut dengan Biau-jiu Siansing. lalu melalui Pui Ci-hwi satu persatu dia akan mulai aksinya menuntut balas kepada para musuhnya. ia menjadi iseng tanpa kerjaan. alam semesta terang benderang.com/ Tandu berhias itu segera putar balik ke arah datangnya tadi. Tiga hari cukup lama bagi Ji Bun untuk menunggu di sebuah hotel di kota sepi ini. . langkah mereka ringan dan cepat bagai terbang. Menurut perhitungannya. apakah ini dapat dipercaya?" Betulkah Kwe-loh-jin merupakan salah satu duplikat Biau-jiu Siansing? Siapakah orang berkedok yang gugur bersama ayahnya? Apakah Siangkoan Hong pembunuhnya? Dikala mendengar jejak ibunya belum diketahui parannya. Taybo bilang pasti akan datang saat naasnya. Dalam hati dia berpikir.Tiraikasih Website http://kangzusi. kembali dia merangkai langkah-langkah yang lebih sempurna untuk menunaikan tugas berat ini. Hari itu tanpa tujuan dia jalan-jalan memasuki sebuah jalanan. setelah selesai barter dengan Kweloh-jin. risau dan gundah. Sang surya sudah tinggi. apakah maksudnya? Semakin dipikir Ji Bun merasa persoalan ini semakin simpang siur dan ruwet. agaknya kepandaian silat keempat laki-laki pemikul tandu amat tinggi. paling cepat hari ke tiga baru barang itu akan diantar kemari. langkah pertama yang dia lakukan yaitu membongkar kedok orang. namun hatinya seperti diliputi mega mendung. Dalam suasana tenang dan pikiran jernih ini.

mulut cemberut." Lalu kedua tangan terpentang terus menubruk maju pula hendak mendekap.com/ Tiba-tiba bayangan semampai seorang berlari mendatangi dan langsung menubruk ke arahnya.. Liok-koko. jangan kau menyiksaku lagi. rupanya gadis ini orang sinting. katanya sambil tertawa cekikikan." "Siapakah Liok-kokomu itu?" tanya Ji Bun. kau . Ji Bun terperanjat. dilihatnya seorang nona belia berusia tujuan belas dengan rambut semerawut. teriaknya mendelik liar: "Liok Kin. kau sudah tidak mencintaiku lagi?" "Aku bukan she Liok. "Liok-koko." kata Ji Bun. seluruh milikku sudah kuberikan padamu. "Ha ha ha ha. walau menjadi abu juga tetap kukenal kau.Tiraikasih Website http://kangzusi. Begitu tubrukan luput gadis itu lantas putar badan. lekas ia mengegos ke samping pula. demikian pikirannya. kau sungguh kejam!" . namun berwajah molek. katanya sedih: "Liok-koko. gadis itu menegakkan alis.. aku tahu kau pasti akan kembali. Berubah air muka gadis sinting. kau justeru membuangku begini saja. Sekali mengegos Ji Bun menghindar.. pakaian kumal dan sorot mata guram. Karena dua kali luput menubruk.

kiranya gadis sinting ini mengira dirinya sebagai Liok Kin. Waktu itu Liok Kin pernah bersumpah sambil menuding langit dan bumi. lahirnya memang sudah buyar. namun suatu ketika kalau ada sentuhan dari luar. katanya: "Liok-koko. Gadis sinting itu tiba-tiba menutup muka sambil menangis sesenggukan.. kini kau tidak menghiraukan diriku lagi?" Agaknya dia tetap anggap Ji Bun sebagai Liok Kin. rasa cintanya itu akan berkobar pula. setelah dipermainkan dan dinodai kesuciannya terus ditinggal pergi begitu saja. penasaran dan malu. bukankah kau pernah bersumpah. Seperti diketahui Ji Bun pernah jatuh hati terhadap Pui Ci-hwi. Tempo hari Jay-ih-lo-sat hendak merobek tubuh Liok Kin.Tiraikasih Website http://kangzusi. Sampai sekarang Pui Ci-wi masih dikelabui dan belum sadar bahwa dirinya hanya dipermainkan belaka. namun dari cinta sekarang .. sehingga gadis ini kurang waras pikirannya.com/ Baru sekarang Ji Bun mengerti. Saking marah. namun gadis baju merah malah memohonkan ampun baginya. setelah tahu Pui Ci-wi sehaluan dengan para musulmya. itu majikan muda Cip-po-hwe yang bergajul.. seumpama laut kering dan batu membusuk. Agaknya gadis ini dirayu oleh Liok Kin. Demikianlah keadaan Ji Bun sekarang. mereka adalah korban permainan Liok Kin. nasibnya tidak lebih baik daripada gadis sinting ini. tapi cintamu takkan berubah? Kau . Namun setelah cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun biasanya orang paling sukar melupakan cinta yang pertama. cinta itu sudah pudar. pemuda cabul yang suka mempermainkan anak perawan.. Sungguh tak nyana pemuda keparat ini ternyata seorang bergajul. bahwa selama hidupnya hanya mencintai Pui Ci-hwi saja.

katanya: "Liok-koko apa katamu?” Ji Bun jadi dongkol dan gemes. dengan kaku dan linglung dia awasi Ji Bun..” Sorot mata hambar gadis sinting itu terbeliak buas. dan dendam ini dia limpahkan kepada Liok Kin yang tidak bertanggung jawab. Aku tidak menipumu. betapapun hatinya tidak tega.. tanpa sadar tiba-tiba dia menggeram: "Liok Kin.. Keruan Ji Bun gugup dan keripuhan.com/ dia menjadi dendam.. hakikatnya tidak bisa diurus lagi." Gadis sinting itu tertegun dan menghentikan tangisnya. katanya dengan memiringkan kepala: "Apakah kau ini bukan Liok-koko?" "Bukan.. Kalau tinggal pergi begini saja. aku . dalam keadaan apa boleh buat. namun dia tidak mungkin turun tangan kepadanya.. terpaksa ia bersabar. apalagi nasibnya harus dikasihani.Tiraikasih Website http://kangzusi. air mukanyapun beringas. kalau tidak membunuhmu. serunya: "Aku bukan Liokkokomu. terpaksa ia mengada-ada: “Nona hendak mencari Liok Kin bukan?” Gadis sinting lantas menghentikan langkahnya. orang yang sudah kehilangan pikiran waras. aku bersumpah bukan manusia. selangkah demi selangkah ia menghampiri Ji Bun. siapakah namamu?" "Aku . Liok-koko kan sudah tahu. tapi aku bisa bantu kau mencarinya." ..

punggungnya menggendong peti obat sedang mendatangi sambil menggoyang-goyang kelintingan ditangannya.. air mukanya seketika membesi kaku. Yong-yong. aku hendak pergi ke rumah Liok-koko saja.. dimanakah rumahku?" Pada saat itulah terdengar suara kelintingan berkumandang dari ujung jalan sana.. seorang laki-laki berjubah kasar dengan jenggot kambing. dia memanggilku Yong-moay..com/ "Tapi aku tidak tahu?" "Aku bernama Dian Yong-yong . Mendengar suara kelinting segera Ji Bun berpaling. Dengan terkekeh dingin Ji Bun menyapa: "Biau-jiu Siansing." "Nona Dian tinggal di rumah mana?" "Rumah? Rumah? Aku sudah tidak punya rumah lagi. sorot matanyapun penuh nafsu membunuh. Kiranya seorang tabib kelilingan." "Aku . selamat bertemu." Ji Bun tertawa getir.. katanya: "Nona Dian. kau harus pulang.. Yang datang ini memang bukan lain adalah salah satu duplikat Biaujiu Siansing." . nanti ku suruh Liok Kin menjemputmu di rumah. tempo hari telah menyamar jadi tabib kelilingan dan mengaku bergelar Thian-gan-sin-jiu..Tiraikasih Website http://kangzusi.

tua-muda.. besar kecil. kesan ini seketika lenyap. Lohu harus mengobati gadis yang sakit ingatan ini?" "Apa betul kau mampu mengobati penyakit gila?" "Omong kosong! Di seluruh pelosok kota Cinyang. "Bagus sekali." ujar Biau-jiu Siansing terus terang." "Persoalan kita sementara ditunda dulu... tabib keliling itu terus mendekati Ji Bun seperti tidak ada persoalan apa-apa. siapa yang tidak kenal nama Thian-gan-sin jiu?" "Kuperingatkan jangan kau main-main terhadapku . untung bertemu dengan Lohu.Tiraikasih Website http://kangzusi. akupun sedang mencari kau. jengeknya dingin: "Kau tidak usah pura-pura. Sorot matanya mengawasi si gadis sinting.” "Kalau hanya main-main buat apa aku harus mencarimu?" "Jadi kau punya tujuan mencariku?" .. batinnya: mungkin dia mampu mengobati sakit gila? Tapi mengingat siapa dia sebenarnya. bukankah kau mencariku?" "Memang betul..com/ Tanpa hiraukan seruan Ji Bun." Ji Bun melenggong. aku mencarimu. sakit ingatan. tiba-tiba ia berkata: "Hah.

keluarga biasa yang mengukuhi adat leluhurnya. sayang dia tidak bisa mengatakan di mana tempat tinggalnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. gadis ayu dan segar bugar berubah begini rupa. dosa yang tidak terampunkan. peristiwa ini merupakan . katanya kereng: "Keluarga punya aturan. bagaimana pendapatmu akan perbuatan rendah dari golonganmu?" Mendelik mata Biau-jiu Siansing. Tanpa sadar Ji Bun menyeringai ejek." "Lohu tahu. katanya menggumam: "Kasihan. rumahnya ada di pusat kota Cinyang. hakikatnya mereka segolongan. majikan muda Cip-po-hwe. katanya: "Mencuri mestika dan merusak paras ayu.29. negara ada undang-undang.com/ Biau-jiu Siansing turunkan peti obatnya. Biau-jiu Siansing pernah menggunakan tingkat kedudukannya yang lebih tinggi dikalangan Kangouw untuk merebut Sek-hud dari tangan Cippo-hwe yang terhitung bawahannya. ternyata perbuatan Cip-pohwe. Dian Pek-ban yang terkenal adalah ayahnya." Tak sadar Ji Bun menanggapi: "Dia dipermainkan oleh Liok Kin." 10." "Dari kalangan Bu-lim juga?" "Bukan. Salah Duga Terhadap Biau-jiu Siansing Waktu rebutan Sek-hud di puncak Pek-ciok-hong dulu. sebutir Ya-bing-cu (mutiara yang bersinar ditempat gelap) warisan leluhur keluarga Dian telah lenyap tercuri orang.

sesaat kemudian baru dia berdiri.” "Apa.. Lohu pasti akan bertindak menurut aturan." "Lho aneh." "Tidak bisa? Apa maksudmu?" "Perhitungan kita sekarang harus dibereskan." "Cayhe bersumpah pasti akan membunuh pemuda bergajul itu.. lalu berkata: ”Sakit ingatan tidak akan bisa diobati dengan obat saja. Pelan-pelan dan rapi sekali Biau-jiu Siansing memasukkan botolbotol obat ke dalam petinya pula.. ada perhitungan apa di antara kita yang harus dibereskan?" .. beruntun dia menutuk beberapa Hiat-to di tubuh Dian Yong-yong." "Tidak bisa. disini tidak leluasa.com/ pelanggaran di dunia Kang-ouw. Lalu ia membuka peti obat dan mengeluarkan beberapa macam obat. Biau-jiu Siansing tidak bicara lagi. dia harus dibantu dengan pengobatan tusuk jarum. katanya: "Menolong orang seperti menolong kebakaran. kau hendak meloloskan diri?" sela Ji Bun. terpaksa kau harus ikut susah payah. seketika Dian Yong-yong terkulai lemas.Tiraikasih Website http://kangzusi.. dia harus diantar pulang dulu baru aku bisa bekerja ... jumlahnya sekitar 10-an butir terus dijejalkan ke mulut Dian Yong-yong." kata Ji Bun dingin..

tanyanya menegas: "Lohu menghendaki barang apa." "Hud-sim!" bentak Ji Bun gemas.com/ "Aku tidak punya tempo ngobrol dengan kau.. katanya: “Jangan terburu nafsu. Aku ingin membuktikan asal-usulmu yang sebenarnya. barang yang kau kehendaki. lalu katanya dengan suara berat: "Tanggalkan ikat kepalamu... tidak mungkin dia mungkir begini saja." "Asal-usulku kan tidak diukir di atas kepala?" "Lebih baik lekas kau lakukan permintaanku. pelan-pelan dia menarik ikat kepalanya dan seketika Ji Bun berdiri melongo. dalam tiga hari pasti diantar . kaget dan heran sorot mata Biau-jiu Siansing.” Bingung. tadi kau bilang apa? Hud-sim?" Sikap dan tingkah orang betul-betul membuat Ji Bun kewalahan. bicaralah dulu persoalannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. ternyata orang begini licik dan licin serta pandai main sandiwara pula." Lekas Biau jiu Siansing goyang tangan. . kau pasti tahu." Biau-jiu Siansing bergelak-gelak.. Sekilas ia berpikir. "Hud-sim apa?" Ji Bun acungkan telapak tangannya sambil mengancam: "Setelah kubelah batok kepalamu.. syarat yang dulu diajukan orang dan menghendaki barang pusaka itu.

" "Orang yaog kau bayangkan tadi apa ada sangkut pautnya dengan Hud-sim?" "Ya." "Memangnya kau kira siapa aku ini?" "Hal ini tidak perlu kukatakan. katakan. "Apa maksudmu memaksaku menanggalkan ikat kepala?" jengek Biau-jiu Siansing. akan tetapi kenyataan sekarang membuktikan di atas jidat kanan orang ini ternyata tidak ada codet atau bekas luka apapun. katanya: "Menurut apa yang kau tahu. kau terlalu angkuh. kecuali kau sendiri." "Anak keparat. laki-laki muka hitam komandan ronda Wi-to-hwe serta Kwe-loh-jin adalah duplikat Biau-jiu Siansing.com/ Ji Bun yakin bahwa orang-orang yang menyaru orang berkebok berjubah sutera.Tiraikasih Website http://kangzusi. Ji Bun menyengir kikuk. katanya: "Sekarang Cayhe baru membuktikan bahwa engkau memang bukan orang yang kusangka." Ji Bun perpikir sebentar. mungkin aku bisa memberi sedikit keterangan. tapi kau tidak perlu tahu. siapa lagi yang pandai menyaru dan pintar merias?" .

Yu-ing-long-kun (Satria bayangan) sudah lama meninggal dunia. tapi orang ini sudah puluhan tahun tidak muncul di Kangouw. bukan mustahil anak murid mereka pasti ada yang berkelana di Kangouw. kabarnya kini sudah jadi biarawati. namun soalnya tetap tidak terpecahkan.com/ Biau jiu Siansing menepekur sebentar." . kenapa dirinya yang menjadi incaran pembunuhan ini? Biau-jiu Siansing berkata sambil mengawasi Yong-yong yang menggeletak di tanah: "Lebih penting kutolong dia. tinggal Jian-bin-kek saja. kukira cukup banyak orang. walau sudah puluhan tahun tidak pernah muncul. siapa tahu kalau belakangan ini dia mulai beraksi lagi? Kecuali ketiga orang ini. tidak perlu dipikir." "Kecuali itu?" "KuKira tiada lagi yang dapat dikatakan ahli. sudah meninggal..." "Menurut pendapatmu tokoh-tokoh mana saja yang termasuk ahli dalam bidang ini?" "Ehm . yaitu.Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya: "Sukar dikatakan. Lohu boleh pergi bukan?" "Nanti dulu. soalnya cuma pandai dan ahli atau tidak. Pek-pian-kwi-li (setan perempuan seratus perubahan)." Ji Bun berpikir: Pek-pian-kwi-li adalah perempuan.. Jian-bin-khek (tamu seribu muka).

.com/ "Masih ada persoalan apa?" Maksud Ji Bun ingin tanya apakah dia majikan dari gedung setan. katanya: "Untuk apakah kau sebenarnya ingin bertemu dengan Jit-sing-kojin?" "Jawab saja pertanyaanku. Katanya: "Agaknya kau ini pelupa?" "Pelupa? Apa maksudmu?" "Kau pernah berjanji dalam jangka lima hari hendak mempertemukan aku dengan Jit-sing-ko-jin .. benaknya memikirkan soal lain yang lebih penting.” "O.....Tiraikasih Website http://kangzusi.. tidak perlu kau mengetahui. maka pertanyaan yang sudah hampir dia ajukan segera ditelan kembali.” Ji Bun manyeringai. ini . atau salah duga. Mungkin dulu Thian-thay-mo-ki salah dengar.." "Tapi Lohu ingin tahu duduk persoalannya?" "Itu soal pribadiku. sedang ibu tuanya menyangkal adanya Biau-jiu Siansing di sana. kalau soal ini sekarang dia tanyakan berarti membocorkan rahasia ibu tuanya itu. jengeknya: "Kenapa kau membual belaka?" Biau-jiu Siansing menghela napas dengan suara berat. soal lain tidak perlu dibicarakan. namun mengingat ada Khong-kok-lan So Yan disana." ....

mana mayatnya? Buktikan?" "Kau sendiri yang mengubur mayatnya. ternyata kau begini rendah dan tidak tahu malu.Tiraikasih Website http://kangzusi. berulang kali kau menjilat ludahmu sendiri.com/ Biau-jiu Siansing menunduk sedih." Sikap Biau-jiu Siansing tidak berubah." "Aku?" seru Ji Bun berjingkrak kaget. namun sorot matanya menjadi tajam dan gusar. katanya kemudian: "Jit-singko-jin sudah mati. jangan takabur. "Kau pernah mengubur dua mayat orang." "Siapa bilang aku membual?" "Katamu dia sudah mampus. "Apakah kau sendiri tidak menemukan sesuatu di jalan raya Kayhong?" "Soal apa yang kau maksud?" tanya Ji Bun gemetar. "Biau-jiu Siansing. benar tidak?" . desisnya geram: "Anak muda. kini membual lagi. dalam hal apa Lohu rendah dan tidak tahu malu?" "Ji-sing-ko-jin sekomplotan dengan kau." "Apa katamu?" bentak Ji Bun mendelik gusar sambil mendesak maju selangkah.

belakangan mereka lari secara diam-diam. sungguh menakutkan sekali. Semula dia kira bila berhadapan dengan Biau-jiu Siansing. Lalu siapakah pembunuh Jit-sing-ko-jin dan ayahnya? Siapa pula sebetulnya Jit-sing-ko-jin ini? Bahwa Biau-jiu Siansing sehaluan . mungkinkah gerak gerik dirinya berada dalam genggamannya? Kalau demikian. orang ketiga lantas mengambil keuntungan membunuh mereka. rahasia pribadinya tentu juga sudah diketahuinya. apalagi waktu itu tepat pada hari yang kita janjikan. kuyakin pelajar yang dimaksudkan pasti kau adanya. Akan tetapi orang berkedok yang dua kali mencelakai jiwanya dan jidatnya terluka oleh senjata rahasia Jit-swan-hwi-jim Thian-thay-mo-ki terang adalah duplikat Kwe-loh-jin yang misterius itu.com/ Bergetar tubuh Ji Bun. Ji Bun tidak bisa memecahkan persoalan yang rumit ini. tapi kenyataan sekarang jauh di luar perhitungannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. memangnya ada liku-liku apa yang tersembunyi di balik rangkaian kejadian ini. maka segala soal akan terbongkar dengan sendirinya. "Darimana kau tahu aku mengubur dua mayat?" "Kudengar dari petani. umpama Jit-sing-ko-jin menyaru ayahnya dan kepergok lalu keduanya bertempur sampai kehabisan tenaga. dari mana orang tahu dirinya pernah mengubur kedua mayat itu? Waktu itu hanya dua petani yang menyaksikan." "Memangnya kenapa kalau benar?" "Salah satu dari kedua mayat itu adalah Jit-sing-ko-jin.” Melotot besar biji mata Ji Bun.

lalu siapakah mayat seorang yang lain?” "Ini . sekarang jelaskan..com/ dengan Jit-sing-ko-jin sudah jelas. "Sekarang giliran aku bertanya apakah setiap orang yang selalu bergaul dengan kau pasti kau ketahui riwayat dan asal-usulnya?" Cep-klakep. seolah-olah dia menghadapi lautan mega yang tebal dan pekat. otaknya terasa semakin tumpul. air mukanya berubah ganti berganti." "Tapi kau tahu rahasianya itu bukan?" "Tidak tahu. siapakah nama asli atau gelaran Jit-sing-ko-jin serta riwayat hidupnya?" Biau-jiu Siansing menggeleng-geleng.Tiraikasih Website http://kangzusi. Ji Bun tidak mampu bersuara lagi. maka ia lantas bertanya: "Kalau betul katamu." . "Tidak tahu." "Baik. umpama betul kau tidak tahu.. kenapa berubah pakai kedok dan jubah sutera?" "Itu kan rahasia pribadinya. sekarang kau harus menjawab sebuah pertanyaan lagi. Semakin dipikir. Ji Bun angkat tangan bergaya seperti merintangi. tiada sesuatu yang dapat dilihat dan diraba.. katanya: "Pokoknya sebelum memberi jawaban. Jit-sing-ko-jin berdandan sebagai pelajar. kau tidak boleh pergi." "Baik. kemungkinan orang tahu seluk beluknya. aku sendiri tidak tahu." jawabnya.

” kejut Ji Bun bukan kepalang. "Hartawan Kayhong.. "Kau tidak percaya?" tanya Biau-jiau Siansing melihat kesangsian orang. . sekarang kau harus jawab pertanyaanku tadi." "Melindungi aku? Siapa yang suruh kau?" bentak Ji Bun kaget.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Anak muda. matanya melirik ke arah Dian Yongyong. katanya kemudian dengan mengertak gigi: "Baiklah." "Apa. sekian lama dia berdiri tertegun. sebelum kau mencariku. silakan.. tapi ingat perhitungan kita belum beres. Ciang Wi-bin." "Memangnya kau tega melihat gadis ini semakin parah?" Ji Bun menjadi bimbang. lain waktu kesempatan masih ada. terus terang.. kau mendapat pesan paman Ciang ." "Tidak bisa. mungkin aku akan mencarimu." "Anak muda.. biarlah aku menolong jiwa gadis ini. kalau selama ini aku selalu mengalah dan memberi kelonggaran padamu juga ada sebabnya." "Sebab apa?" "Karena Lohu sudah berjanji kepada seseorang untuk melindungimu.

" Ji Bun bergidik tanpa kedinginan. ternyata orang sudah tahu asal-usul dirinya. benar tidak?" Ji Bun tersentak mundur tiga langkah. Maka katanya: "Kapan kau mendapat pesan itu?" "Beberapa hari yang lalu. betapapun ia tidak tega menyia-nyiakan masa remaja Ciang Bing-cu yang molek itu. Ciang Wi-bin hanya punya anak satu-satunya ini. sukar untuk dipercaya. jangan angkuh dan keras kepala. Lwekangmu memang tinggi." sahut Ji Bun. setelah kau meninggalkan gedung keluarga Ciang. matanya terbeliak. "Kau bernama Ji Bun." "Memangnya aku ini tidak mampu mempertahankan jiwa raga sendiri .." . putera tunggal Ji Ing-hong.com/ "Ya. Ciang Wi-bin dan Lohu adalah dua manusia yang senyawa.Tiraikasih Website http://kangzusi. dapatlah kau bayangkan sendiri betapa besar perhatian dan harapan yang dia limpahkan padamu. puterinya itu sudah bersumpah takkan menikah kecuali kawin dengan kau. agaknya memang tidak membual. bahwa dia berjanji akan mempersunting Ciang Bing-cu setelah kadar racun dalam tubuhnya dapat ditawarkan hanya alasan untuk mengulur waktu belaka. namun pengalamanmu terlalu cetek. Berkata Biau-jiu Siansing lebih lanjut: "Ji Bun..” "Ji Bun. karena ilmu racun ini hakikatnya tidak mungkin ditawarkan lagi.. mulut melongo.

. ia pikir sebagai jago silat kawakan yang luas pengalamannya. semoga dia dapat memberi keterangan.. . kecuali berhadapan dengan Ciang Wi-bin serta membuktikan sendiri. maka dia lantas berkata dengan sungguh-sungguh: "Apakah kau kenal seorang bernama Kwe-loh-jin?" "Kwe-loh-jin? Belum pernah dengar. Dia merasa kehabisan akal. mungkin aku bisa memberi tahu apa-apa yang bermanfaat bagimu. kepalanya terasa pening dan pikiran pepat menghadapi berbagai persoalan yang tiada juntrungannya ini.." "Kau boleh silakan pergi saja. macam apa dia?" "Scorang laki-laki kekar berusia antara setengah abad. mungkin Biau-jiu Siansing tahu asal-usul Kwe-loh-jin. katakanlah. Ji Bun menghela napas berat.” "Jangan gegabah dan menuruti adatmu sendiri. Tapi aku bisa perhatikan dan mencari tahu.com/ Ji Bun ragu-ragu." Biau-jiu Siansing melengak sebentar. lalu dia kempit Dian Yongyong terus melangkah pergi. Lohu tak bisa meraba siapa dia. jelas soal ini tidak bisa dibuktikan. teringat akan janjinya dengan Kwe-loh-jin dalam 10 hari ini. Untuk apa kau tanya dia?" "Kalau kau tidak kenal dia. tidak perlu kuterangkan.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Sulit .

manisan!" Setelah berputar di antara beberapa tamu. seorang diri Ji Bun mondar-mandir dalam kamarnya.” Ji Bun menggeleng kepala. belilah kacang.. kwaci atau manisan dan lain-lain . Tiba-tiba seorang gadis manis berpakaian anak dusun sambil menenteng keranjang berjalan masuk.com/ Dengan perasaan hambar dia melangkah kembali ke hotel di luar kota Cinyang dan mengeram di dalam kamar selama tiga hari tanpa keluar.. dia memperhitungkan utusan orang dalam tandu pasti akan datang pada saat-saat tak lama ini. dengan Hud-sim ini dia akan membuat barter dengan Kwe-loh-jin atas diri Pui Ci-hwi dan anting-anting pualamnya itu. tanyanya heran: "Siapa kau?" "Aku adalah utusan majikan tandu berhias untuk mengantar sesuatu kepada Siangkong. mulutnya berkaok-kaok menjajakan dagangannya: "Kacang.... akhirnya dia berhenti di depan pintu kamar Ji Bun yang tidak tertutup. dia menunggu utusan si orang dalam tandu yang akan mengantar Hud-sim kemari.Tiraikasih Website http://kangzusi.. kwaci. katanya sambil berseri tawa: "Siangkong. Mendadak gadis itu melangkah maju dan berkata sambil merendahkan suaranya: "Siangkong inikah Te-gak Suseng?" Tersirap darah Ji Bun. Dikala orang-orang mulai menyulut pelita.." .

com/ "O. nanti menarik perhatian orang lain. entah berapa jiwa sudah berkorban karena benda ini. tertampak sebuah benda putih berbentuk seperti hati.” dari bawah keranjangnya dia menarik keluar sebuah buntalan kain terus diangsurkan kepada Ji Bun." “Jangan. dipegangnya dan dibolakbalik. terasa oleh Ji Bun kecuali mengkilap dan bersih.Tiraikasih Website http://kangzusi. silakan masuk. Setelah tenang perasaannya. belum lagi dia sempat membuka buntalan kain itu. dia taruh buntalan itu di atas meja. cepat Ji Bun bungkus lagi "Hati Buddha" itu dengan kain semula. aku harus lekas pulang memberi laporan. ia periksa dengan teliti dan seksama. lalu dia buka buntalan itu. banyak orang di sini. sementara mulutnya berseru: "Siapa?" . napas Ji Bun terasa sesak dan rada gemetar. Sekarang barang ini diperolehnya tanpa mengeluarkan tenaga apapun. Apakah mungkin Kwe-loh-jin dapat membedakannya? "Tok-tok-tok!" tiba-tiba ada orang mengetuk pintu. gadis dusun itu sudah melangkah pergi sambil berkaok-kaok pula menjajakan dagangannya. Cepat Ji Bun menerimanya. Lekas Ji Bun tutup pintu serta menyulut api. Menghadapi buntalan kain yang berisi pusaka persilatan. Lama ia mengamat-amati benda itu. Silakan Siangkong terima barang ini. tiada sesuatu yang aneh dan mencurigakan pada benda ini. namun masih banyak pula yang rela korbankan jiwa untuk merebutnya. terasa benda ini cukup berat. lalu di manakah letak keajaiban batu ini? Tulen atau palsu juga sukar diketahui.

tadi ada seorang tamu minta menyampaikan surat ini padamu. tanpa bicara dia terima surat itu dan ditaruh di meja." Sebelum beranjak pergi pelayan itu merogoh-rogoh kantong baju dan celananya. namun Kwe-loh-jin sudah lantas tahu. gerak-geriknya seperti setan yang sukar ditangkap ." Ji Bun bakar surat itu." Lekas Ji Bun buka pintu dan berkata: "Bawa masuk!" Pelayan itu mengiakan. katanya: "Keluarlah. hatinya diam-diam gelisah dan was-was. setelah pelayan keluar baru Ji Bun makan minum seorang diri sambil membuka surat itu. akhirnya dia keluarkan secarik kertas yang kumal dan berkata: "Siangkong.com/ Terdengar suara pelayan di luar pintu: "Siangkong. mendadak dia menjerit kaget: "Wah. kalau perlu akan kupanggil. setelah menurunkan beberapa macam hidangan di atas meja. dia sudah maklum. Perhatikan: jangan sampai dikuntit orang. inilah hamba mengantar hidangan malam. Kwe-loh-jin. berat betul!" Ji Bun melotot kepadanya. baru saja barang ini diantar kemari." Tergerak hati Ji Bun. bawa barang itu dan temui aku di sana. sekenanya dia dorong buntalan kain itu ke pinggir meja.Tiraikasih Website http://kangzusi. Hanya sebaris kata yang berbunyi: "Kentongan ketiga nanti lima li ke arah barat.

Kehilangan Hud-sim bagi dirinya tidak menjadi soal. cara bagaimana malam nanti dia harus bekerja. Ji Bun segera kempit buntalan Hud-sim terus melompat luar lewat jendela.com/ juntrungannya. yang penting hanyalah anting-anting pualam itu dan membongkar kedok asli orang. mustahil pihak mereka tidak bertindak secara diam-diam? Betapa banyak jago-jago silat Wi-to-hwe. Namun dia juga tahu betapapun dia waspada. masakah mereka berpeluk tangan dan mau dirugikan. . hal ini harus diperhatikan. soalnya apakah di dalam permainan barter ini Kwe-loh-jin bakal menggunakan akal licik. Setelah kedua pihak menukar barang-barang yang diinginkan. baru saja kentongan ketiga bertalu di kejauhan. keselamatan jiwa Pui Ci-bwi juga bukan perhatiannya. apakah mereka tidak curiga terhadap dirinya? Kalau dirinya mau bertindak secara tamak. Seorang diri dia habiskan beberapa cangkir arak untuk menghabiskan waktu. Ji Bun lantas merebahkan diri di atas ranjang. pikirannya terus bekerja.Tiraikasih Website http://kangzusi. secara mendadak dia harus membekuknya dan mengompes keterangan teka-teki yang selalu menghantui sanubarirya selama ini. Begini mudah Wi-to-hwe mau menyerahkan Hud-sim. bukankah mereka akan kehilangan segalanya? Setelah pelayan kukuti mangkok piring. karena sepak terjang orang selama ini terlalu licin. mencaplok Hud-sim dan tinggal pergi. sungguh sukar menghadapi bangkotan semacam ini. yang jelas dirinya berada dipihak yang tidak menguntungkan.

" Dingin perasaan hati Ji Bun. dari sini lebih mempertegas tindak-tanduknya yang licik dan licin serta banyak akal. dia membedakan arah datangnya suara. Menurut perhitungannya sekarang. Mendadak kumandang sebuah suara dari dalam hutan tak jauh di depan sana: "Te-gak Suseng. kau tidak berani unjuk diri?" "Kita hanya bicara soal barter saja. "Kwe-loh-jin. cara bagaimana menukarnya?" "Boleh kau taruh barang itu di atas batu di sebelah kiri tempat kau berdiri sekarang.Tiraikasih Website http://kangzusi." “Barang sudah kubawa. agaknya rencana yang dirancangnya tadi tak berguna lagi. Kwe-loh-jin hanya bilang lima li ke arah barat tanpa menyebut nama tempatnya. serunya geram. namun sekian jauh dia tidak melihat tanda-tanda yang mencurigakan. sepanjang jalan dia selalu perhatikan belakangnya kalau-kalau ada orang menguntitnya. Terdengar suara itu berkata pula: "Lebih baik kau jangan bertindak serampangan. sudah kau bawa barang itu?" Ji Bun berhenti dan mendengarkan dengan seksama. dia sudah berlari hampir lima li jauhnya.com/ Dengan kencang Ji Bun lari ke arah barat. atau kau ingin membatalkan barter ini?" Memuncak amarah Ji Bun. katanya: "Apa maksudmu?" .

ia siap bertindak. teriaknya: "Keparat.. kalau dalam satu jam tidak lekas ditolong mungkin akan menjadi cacat.. dengan kepandaian dan gerak gerikmu sekarang kau belum mampu memaksa aku keluar. selanjutnya jangan harap dirinya bisa menemukan jejak orang. bekerjalah menurut petunjukku.. tempatnya sudah berpindah: "Te-gak Suseng." Tidak kepalang gusar Ji Bun.Tiraikasih Website http://kangzusi.. anting-anting dan gadis itu berada di dalam kelenteng." Ji Bun mengertak gigi saking gemasnya. Terus terang. agaknya orang memang tidak ingin berhadapan muka dengan dirinya.. licik benar kau .com/ "Taruh saja di tempat yang kutunjuk. gadis pujaanmu itu kena kututuk dengan ilmu khusus. katanya: "Lohu percaya padamu." "Lalu mana anting-anting dan gadis itu?" "Membelok ke timur. desisnya: "Kau tidak ingin membuktikan tulen atau palsunya barang ini?" Kwe-loh-jin terkekeh-kekeh. Lohu akan mengambilnya sendiri. Tak terduga ketika suara Kwe-loh-jin berkata pula. kalau kesempatan ini hilang. kau akan menemukan sebuah kelenteng kecil." Apa boleh buat.” . diam-diam ia perhitungkan tempat sembunyi orang serta jaraknya.

jangan harap kau bisa mengambilnya kembali. walau hatinya tidak rela.Tiraikasih Website http://kangzusi. nadanya mengejek: "Anak muda." "Baik. kalau nona itu menjadi cacat. Cinta-Dendam Tak Bisa Berdampingan Dengan uring-uringan Ji Bun putar ke tempat semua. kenapa petunjuk Biau-jiu Siansing diabaikan untuk membicarakan .30. kini suara itu berkumandang pula dari arah lain." "Betapapun aku tidak bisa mempercayai obrolanmu?" "Itu terserah." pada saat suaranya masih kumandang. diam-diam ia sesalkan dirinya yang terlalu angkuh dan suka membawa adatnya sendiri. "Bagaimana. Lohu masih bisa membuat kontak dengan pihak Wi-to-hwe untuk membicarakan soal ini. secara kilat Ji Bun menubruk ke arah datangnya suara. namun apa boleh buat.com/ "Umpama betul. tak mungkin dia bertindak menurut rencananya tadi. jangan kau membuang waktu percuma." Serasa meledak kepala Ji Bun karena amarah yang meluap-luap. bagaimana kau harus memberi pertanggungan jawab kepada Wi-to-hwe?" 10. soal anting-antingmu itu. maksud Lohu hanya untuk menyelesaikan barter ini. lekas putuskan. namun ia tidak mampu berbuat apa-apa. kalau barter kali im gagal. namun bayangan setanpun tidak dilihatnya. tidak ada maksud lain.

kalau dia mau membantu secara diam-diam. serunya: "Sekarang boleh kau pergi ambil barangmu. dia simpan ke dalam kantong lalu memeriksa keadaan Pui Ci-hwi. dia boleh . Memang Pui Ci-hwi adalah musuh. bagaimanapun anting-anting pualam itu harus segera direbut kembali. namun menyesal sudah kasip dan tak berguna. Dia jemput anting-anting itu lebih dulu. memang di atas gundukan tanah di tengah hutan sana bertengger sebuah kelenteng kecil. setelah diperiksa dan. nah inilah kutaruh di sini. napasnyapun teratur." Ji Bun menekan rasa gemasnya. lalu mencari tahu asal-usul lawan dari mulut Pui Ci-hwi. suasana gelap dan sunyi seram. Sementara antinganting pualam di taruh di atas meja. Jarak tiga li sekejap saja sudah dicapainya. kedua matanya terpejam. Ji Bun kuatir ditipu." Kwe-loh-jin tergelak-gelak kesenangan. jelas Kwe-loh-jin takkan mampu menyembunyikan diri lagi. di bawah meja sembayang. lekas dia dorong pintu terus melangkah masuk. bertambah lega hati Ji Bun. tidak kurang suatu apa barulah lega hatinya. Tampak wajahnya pucat dan kurus. Maka ia lantas keluarkan Hud-sim serta menaruh di atas batu.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ persoalan ini. keadaannya seperti tidur pulas. cepat ia meluncur ke arah timur. serunya: "Kwe-loh-jin. memang dia bukan lain Pui Ci-hwi adanya. hal ini membuatnya ragu-ragu. Di mana tutukan Hiat-to Kwe-loh-jin harus memeriksanya dulu baru akan diketahuinya. anggaplah kau yang menang. kini dia harus mengaku kalah. dilihatnya meringkel sesosok tubuh.

seketika jantung Ji Bun berdebur keras sekali.. agaknya dia kaget dan heran melihat keadaan dirinya ditempat asing ini. setelah sekujur badan orang dia raba kian kemari tetap tidak menemukan apa-apa. namun dia tidak berani menyentuhnya. Memangnya dia pernah kasmaran terhadap gadis jelita ini. hanya dalam sekejap saja Pui Cihwi sudah bergerak dan siuman. Tapi keadaan sekarang tidak memberi waktu kepadanya untuk bimbang. diteliti air mukanya. Menawarkan racun bagi Ji Bun bukan kerja yang sulit. Setelah dia periksa semua Hiat-to sekujur badannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. ditambah bau harum gadis jelita. terasa empuk licin dan halus.. baru mendadak dia sadar kemungkinan si nona terpengaruh oleh obat racun yang menidurkan. dan tidak menemukan keanehan apa-apa. "Hah." teriaknya sambil merangkak bangun.. kau . lekas dia keluarkan sebutir Pit-tok-tan yang selalu dibawanya dan dijejalkannya ke mulut Pui Ci-hwi. Terpaksa dia keraskan kepala.com/ membunuhnya. Sekuatnya Ji Bun tekan perasaannya yang berkobar tadi. lalu dia bergantian meraba tempat lain. dengan jari-jari gemetar dia pegang urat nadi pergelangan tangan si nona tidak ada tanda apa-apa. namun situasi kemudian yang kejam ini telah mengubah segalanya.. jadi bukan lantaran Hiat-tonya tertutuk seperti apa yang dikatakan Kwe-loh-jin. dengan mengeluh lirih dia membalik tubuh. katanya dingin: "Nona Pui merasa tidak apa bukan?" ..

. mulutnya berteriak-teriak seperti orang kalap: "Hud-sim adalah benda yang tak ternilai . suaranya gemetar: “Katamu Hud-sim? Untuk menebus diriku?" Tiba-tiba dia menjambak rambut kepalanya sendiri. katanya terus terang: "Perkumpulanmu mengeluarkan imbalan yang cukup besar untuk menolong jiwa nona melalui tanganku. kau ditukar dari tangan Kwe-loh-jin. badannya terbungkuk-bungkuk dan sempoyongan. Wi-to-hwe sudah mengeluarkan imbalannya.. walau menghadapi musuh besar. Tapi Ji Bun tidak peduli akan sikapnya ini. namun sedikitpun tidak gentar. Ji Bun melihat wajah si nona murung dan masgul seperti semula sebelum diculik Kwe-loh-jin tempo hari.." "Hud-sim?" teriak Pui Ci-hwi keras-keras. mukanya yang semula dingin kaku kini berubah haru dan sedih.. tanyanya dingin: "Apa yang telah terjadi?" Di bawah cahaya remang bintang-bintang di langit.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Maksudmu dengan imbalan tadi?" "Ya." "Apa .com/ Sekejap Pui Ci-hwi menatap Ji Bun.." "Imbalan apa?" "Dengan Hud-sim. apa katamu?" "Nona sekarang sudah merdeka.

aku tidak setimpal. "Apa maksud nona dengan katamu tadi?" Membesi muka Pui Ci-hwi. aku . waktu pertama kali dirinya naik ke Tong-pek-san. tanyanya: "Tidak setimpal? Kenapa?” Seperti orang mengigau Pui Ci-hwi berkata: "Dosaku terlalu besar. namun dari terjadinya peristiwa Sek-hud tempo hari. kiranya dia adalah anak angkat ketua Wito-hwe. tapi kenapa dia bilang dirinya patut mampus?" Semula Ji Bun kira orang adalah murid Pek-ciok Sin-ni. namun tak urung dia bertanya pula.com/ harganya.. Sedikit ragu-ragu akhirnya Pui Ci-hwi berkata dengan tegas: "Wito-hwecu.” "Gi-hu (ayah angkat)? Siapa ayah angkat nona?" tanya Ji Bun...” "O!" baru sekarang Ji Bun mengerti.. tidak perlu Gi-hu mengeluarkan imbalan sebesar itu.. katanya sepatah demi sepatah: "Aku ini orang yang patut mati.” Ji Bun jadi ketarik dan ingin tahu.Tiraikasih Website http://kangzusi.. mampuspun tidak setimpal untuk menebusnya.. dia tidak tahu apa arti ucapan Pui Ci-hwi. tidak setimpal . dapatlah disimpulkan kalau .. walau dia tidak ingin mengorek rahasia orang.. belakangan baru diketahui bahwa dugaan meleset. Pui Ci-hwi pernah mengaku dirinya terhitung setengah majikan di sana. aku tidak ." Ji Bun melengak.

com/ Wi-to-hwe pasti ada hubungan erat dengan Pek-ciok Sin-ni.. apa maksudmu?" "Karena .Tiraikasih Website http://kangzusi. Tiba-tiba Pui Ci-hwi menarik muka. katanya dengan nada haru dan tandas: "Bolehkah aku mohon sesuatu padamu?" "Memohon kepada Cayhe .” Ji Bun heran dan tidak mengerti. juga membikin kotor nama baik Gihu. karena aku merusak diriku sendiri. sekarang ketambahan lagi kejadian ini. lebih celaka lagi aku telah menyia-nyiakan kebaikan orang-orang yang memperhatikan diriku.. rasanya dia menjadi paham sedikit. gadis jelita yang menjadi gila karena dipermainkan cintanya.." ujar Ji Bun. kenapa begini? Serta merta dia terbayang kepada Dian Yong-yong.. si nona pernah jatuh cinta pada pemuda itu.. tanpa terasa. kini dia minta padanya untuk membunuhnya.." "Cayhe tidak mengerti. pernah pula memohonkan ampun kepada Jay-ih-lo-sat yang hendak membunuhnya. soal apa?" "Sukakah kau tolong aku membunuh Liok-kin. namun hal ini tidak perlu dia ketahui lebih lanjut. Sekarang dia alihkan pembicaraan pada persoalan yang pokok: "Nona patut mati. dia bertanya: "Membunuh Liok-kin keparat itu? Bukankah nona pernah menyintainya?" .. matipun belum setimpal menebus dosaku. pernah ditipu.

. si nona tidak sebersih dan sesuci dulu pula.Tiraikasih Website http://kangzusi. sikapnya begitu aneh dan bertentangan terhadap Liok Kin bocah keparat itu.." . terimalah ucapan terima kasihku dulu. "tiada yang dapat kuberikan untuk membalas kebaikanmu. warnanya luntur lagi. namun asmara yang terpendam ini akan timbul bila dipengaruhi oleh sesuatu. karena dia telah menodai aku . dia menodai kesucianku!" Berubah air muka Ji Bun." "Siangkong. namun karena keadaan situasi memaksa sehingga belakangan berubah perasaan ini. timbul pula perasaan aneh yang sukar diutarakan dengan kata-kata.com/ Gemetar dan berkerut-kerut kulit muka Pui Ci-hwi. cinta pertama yang pernah membuat getir hatinya sudah lama terpendam. Maklumlah dulu dia pernah terpikat dan mengejar gadis pujaan hatinya dengan bertepuk sebelah tangan. sorot matanya memancarkan sinar hijau yang diliputi napsu dendam dan membunuh. serta merta terbakar rasa cemburunya. teriaknya bengis: "Ya. tapi sekarang aku ingin membunuhnya. getir. Kini bak sebentuk batu pualam yang semula mulus bersih dan kini telah retak dan cacat." kata Pui Ci-hwi tertawa.. sebetulnya aku memang ingin membunuhnya... tanpa pikir segera ia berkata: "Untuk ini aku menerimanya. aku pernah mencintainya.." "Menodai kau?" "Ya. Tak heran sekarang dia kelihatan seperti kehilangan gairah hidup.

Ji Bun berkeringat dingin. tangannya terayun terus mengepruk batok kepalanya sendiri. Dia ingin buka suara. . Kejadian berubah amat mendadak.” Mendadak Pui Ci-hwi berteriak kalap. Walau sudah terlambat. maka tidak kuterima maksud baikmu itu. Pui Ci-hwi kontan jatuh tersungkur.” Habis berkata dengan sedih ia menangis sambil menunduk. darah meleleh dari mulutnya.. dia dapat memaafkannya. ingin juga dia melimpahkan isi hatinya. karena segala ini tidak mungkin terjadi. Memang cinta dan dendam tak bisa berdampingan.... namun hanya mulutnya bergerak beberapa kali terus jatuh semaput. namun menimbulkan perasaan kecut dalam sanubarinya. tak sempat berpikir bagi Ji Bun.. katanya tawar: "Tidak perlu nona sungkan-sungkan. syukur dia masih sempat menyelamatkan jiwanya. secara refleks tangannya menyampuk. "Plak".com/ Sebutan yang mendadak berubah ini terasa asing dan risi bagi pendengaran Ji Bun. Sekarang segalanya sudah terlambat . Namun dia tidak kuasa buka suara. perasaannya menjadi tidak karuan darahnya bergolak... Kusut pikiran Ji Bun. nama gelaranmu. dalam detik-detik yang menentukan tadi. tampak wajah Pui Ci-hwi yang kurus pucat bersemu merah.. katanya dengan tertawa getir: "Siangkong." Ragu-ragu sebentar.. soalnya kesanku terlalu jelek akan. aku tahu bagaimana perasaan dan sikapmu dulu padaku. apa lagi sekarang si nona bukan gadis lagi . terpaksa aku harus berterus terang.Tiraikasih Website http://kangzusi.

“Taysu . bagaimana bisa terjatuh ke tangan Thong-sian Hwesio? “Betul. kakipun menyurut mundur.” .. Thong-sian Hwesio menggembol sebuah buntalan kain. tampak seorang Hwesio kereng berperawakan tinggi besar entah sejak kapan sudah berdiri disampingnya. Setelah melihat jelas baru dikenalinya bahwa yang datang adalah Thong-sian Hwesio yang punya kemampuan luar biasa itu. Kedua biji mata Thong-sian kelihatan berkilauan seperti mutiara di malam gelap." mulut bicara kepada Ji Bun. memang inilah Hud-sim yang tadi kau bawa..Tiraikasih Website http://kangzusi..com/ "Amitha Bundha!" tiba-tiba berkumandang sabda Buddha yang keras dari samping. Dingin perasaan Ji Bun... namun sorot mata Thong-sian tertuju ke arah Pui Ci-hwi. Dengan kaget Ji Bun membalik tubuh sambil menyingkir ke samping. bagaimana bisa .. sinar matanya memancar terang dan mengejutkan... katanya setelah menarik napas sambil memberi hormat: "Cayhe unjuk hormat pada Taysu" “Tidak usahlah.. syukur barusan kau telah menolong jiwanya." ujar Thongsian kalem. tanpa sadar dia menjerit kaget: "Hud-sim?" Tubuhnya gemetar. barang ini bukankah sudah dia serahkan pada Kwe-loh-jin..

. tapi dari kejadian ini. karuan hatinya menjadi masgul.. Betapapun licik dan licinnya Kwe-loh-jin.. dari sini ia dapat menarik kesimpulan bahwa Thong- .com/ "Manusia culas dan tamak. tidak disadari bahwa burung gereja juga sudah siap menerkam di belakangnya. Ji Bun ikut merasa terharu.Tiraikasih Website http://kangzusi. patah semangat dan penasaran pula. Semula dia hendak mengorek keterangan dari mulut Pui Ci-hwi.. jadi sejak itu dia tidak menampakkan diri.. lalu iapun mengatur rencana. Sementara itu Thong-sian sedang membungkuk memeriksa keadaan Pui Ci-hwi.” "Mungkin ajalnya belum tiba.. katanya: "Kasihan gadis ini tersiksa begini rupa. aku lantas mengambil Hud-sim ini. mana boleh dia dibiarkan malang melintang sesukanya?" "Apakah Kwe-loh-jin sudah Taysu ." "O. tak terduga perkembangan belakangan ini semua berada di luar perhitungannya. sebelum dia muncul. pinceng terburu nafsu. seperti walang hendak mencaplok tonggeret." Ji Bun baru paham.. agaknya dia tahu diri terus melarikan diri.. ternyata dia tidak mampu berbuat apa-apa. Jadi setelah orang dalam tandu suruh orang mengantar Hud-sim kepadanya. kini Thong-sian muncul." Nadanya iba dan mengandung perasaan dekat. begitu kau taruh Hud-sim di atas batu. Ji Bun yakin pula bahwa Thong-sian Hwesio telah menjadi anggota Wi-to-hwe. rencananya semula terang gagal total pula.

.. seketika dia menjerit: "Taysuhu..." ujar Thong-sian welas asih. kau . katanya dengan hambar: "Aku .. Waktu Ngo-luikiong menyerbu Wi-to-hwe dan Thong-sian Hwesio muncul tempo hari. jadi tidak mengenalnya.. malu aku bertemu dengan siapapun.." "O.... setelah melihat jelas orang yang menolong dirinya.... siapa kau? Agaknya dia belum kenal Thong-sian Hwesio. tidak biarkan aku mati saja ..” "Sekarang mari ikut aku pulang ke gunung. belum mati? Kenapa ti ...” . maka dapatlah dibayangkan betapa sukar usaha dirinya untuk menuntut balas. "Pinceng adalah sahabat baik ayahmu.. aku tidak mau.....” "Anak bodoh ..com/ sian Hwesio pasti mempunyai hubungan luar biasa dengan Wi-tohwe. "Anak manis..Tiraikasih Website http://kangzusi.. kebetulan dia sedang mengembara di luar.. terang beban dirinya di dalam menyelusuri jejak musuh-musuhnya akan bertambah berat..... kau ." lambat dia angkat kepala dan memutar biji matanya.” "Tidak . Lekas sekali Pui Ci-hwi sudah siuman dari pingsannya atas pertolongan Thong-sian..... Dengan bertambahnya seorang Thong-sian Hwesio. Seorang Thong-sian saja bukan tandingannya.

badannya mencelat ke atas terus terbanting jatuh dan berkelejetan. tangis seorang gadis yang menyesali nasibnya setelah kesuciannya ternoda.. ialu apa yang terjadi? Agaknya Thong-sian juga tidak berhasil menemukan sebab musababnya.” Pada saat itulah." teriak Pui Ci-hwi dengan sesambatan. Mungkinkah sampukan tangannya tadi terlalu berat. jangan kata dirinya. katanya uring-uringan: "Aneh. namun setelah diperiksa dan diobati kesehatannya sudah sembuh. kesannya cukup baik terhadap Hwesio yang pernah menolong dirinya ini. maklumlah gerakan refleks untuk menyelamatkan jiwanya. tidak . buih keluar dari mulutnya dan tidak sadarkan diri.. dengan kehadiran Thong-sian di sini. Thongsian Hwesio juga merasa di luar dugaan. nyamuk terbangpun diketahui. tangisnya begitu sedih memilukan. aneh!" Tiba-tiba tergerak hati Ji Bun. pikirnya: "Kwe-loh-jin teramat culas dan licin. masakah bisa mengelabui mereka. Cayhe mohon diri. maka dengan hormat dia berkata: "Taysu. bukan mustahil dia telah menaruh apa-apa atas .com/ “Oh. serunya: "Apa yang terjadi?" Ji Bun juga tidak mengerti. dia tarik kakinya yang sudah melangkah itu. Ji Bun merasa tak perlu berada di sini lebih lama.Tiraikasih Website http://kangzusi. mendadak Pui Ci-hwi berseru melengking.. Ji Bun kaget. kalau ada orang membokong.

sehingga ketiga butir pil tertelan ke dalam perut. dengan seksama Ji Bun memeriksa. ketiga butir pil itu terus dia jejalkan ke dalam mulut. Tak sabar Ji Bun. "Tak berguna. Racun apakah ini. Thong-sian memijat dagu Pui Ci-hwi sehingga mulutnya terbuka. akhirnya dia berkata. "racun ini sebelumnya tidak pernah kulihat. racun apakah yang mengenai dia?" "Entahlah.com/ tubuh Pui Ci-hwi. kelopak mata dan lidahnya." lalu dia keluarkan tiga butir Pit-tok-tan dan diserahkan kepada Thong-sian. katanya gemetar: "Apa racun? Kabarnya Sicu cukup ahli dalam permainan racun." "Apa bisa ditawarkan?" "Akan kucoba.Tiraikasih Website http://kangzusi. kembali dia menutuk sekali di Ho-ciat-hiat." Thong-sian mengiakan sambil mundur." sahut Ji Bun haru dan penuh emosi. ia coba memeriksa bibir. Dengan pengalamannya yang luar biasa dalam bidangnya. begini ganas?" . tiba-tiba dia menjerit kaget dan melotot: "Racun!" Terpancar sinar terang dari Thong-sian. Lama ditunggu tetap tidak membawa reaksi. bolehkah Cayhe memeriksanya?" "Ya. segera dia berkata: "Taysu.

kau tidak perlu memaksa dia nanti dia akan keluar sendiri. begitu habis . Betul juga dari atap rumah sebelah belakang segera terdengar Kwe-loh-jin bersuara: "Thong-sian memang kau lebih pintar. katanya tawar: "Dia kemari dengan maksud dan tujuan tertentu. tak dilihatnya bayangan orang. gerakannya boleh dikatakan secepat percikan api. Sebat sekali ia melesat keluar pintu. Hwesio ini amat tabah. dengan Lwekang dan kepandaiannya. ini membuktikan dia berkisar dari arah kiri ke belakang. kalau dia mau tentu gerak-gerik lawan dapat diikuti. Dengan menggeram segera dia lompat naik ke atap rumah." Dalam hati Ji Bun merasa ngeri. tiada orang yang dapat menawarkannya di jagat ini. tanyanya: "Dari mana Taysu tahu?" "Waktu dia bicara. kini dia ada di belakang kelenteng. tiada sesuatu yang dilihatnya. jadi dia bicara sudah tidak di tempatnya semula. namun iapun memuji akan kepintaran dan pengalaman orang yang luas.com/ Tiba-tiba berkumandang sebuah suara yang sudah amat dikenalnya dari luar pintu: "Itu namanya Giam-ong-ling (perintah raja akhirat).Tiraikasih Website http://kangzusi. Namun setiba di luar. Agaknya Thong-sian dapat meraba isi hati Ji Bun. selepas mata memandang." "Kwe-loh-jin!" teriak Ji Bun. Dilihatnya Thong-sian masih berjaga disamping Pui Ci-hwi. pikirnya. kata-katanya yang terakhir diucapkan menjurus ke kiri." Tegak alis Ji Bun. terpaksa dia lompat turun kembali ke dalam kelenteng.

. seringan daun jatuh dia melayang turun di pekarangan. otot hijau menonjol di jidatnya kakinya sudah melangkah dan hendak . kau tahu betapa banyak orang yang menginginkan jiwamu.Tiraikasih Website http://kangzusi. kalau dia pernah menyamar sebagai ayah dan pernah membunuh dirinya. kenapa malu sembunyi seperti bangsa kunyuk?" Kwe-loh-jin terloroh-loroh. memangnya siapa dan dari golongan manakah dia? Ya. tanyanya gemetar: "Apa maksudmu?" "Kalau rahasia pribadimu kubeberkan hah." jengek Kwe-loh-jin kau tidak ingin aku membongkar rahasia pribadimu bukan?" Ji Bun tertegun.." Ji Bun membentak gusar: "Kalau kau berani hayo unjukkan dirimu. lebih baik jangan kau turun tangan. maka percuma Siau-sicu hendak mencarinya. Terpancar sinar membara dari mata Ji Bun. sudah tentu dia jelas mengetahui seluk- .. katanya: "Te-gak Suseng.com/ kata-katanya. ingin aku mencobanya. ini sungguh menakutkan. berdiri bulu kuduknya. “Anak muda.. Kwe-loh jin angkat sebelah tangannya. cukup hanya sepatah kataku saja kau akan mampus tanpa ada liang kubur." "Bagus. agaknya Kwe-loh-jin juga tahu tentang asal-usulnya.” tantang Ji Bun berani." Perasaan dingin menjalari sekujur badan Ji Bun. bayangannyapun lenyap dari tempat semula.

dia masih terpaut jauh sekali. aku yakin kau tidak akan turun tangan terhadapku. kuyakin pasti tiada orang yang mampu menawarkannya. inikah Kwe-loh-jin? Apa tujuanmu?" "Ah. masakah perlu ditanya lagi. untuk membunuh bagi Pinceng bukan kerja berat?" "Ha ha ha. kecuali kau tidak pedulikan jiwa nona itu. hal ini tidak perlu dibuat heran." "Dia tidak akan mati." "Betul. Memangnya kau tega melihat dia mampus." "Tujuanmu pada Hud-sim ini?" "Ya.com/ beluk pribadinya. Hud-sim bisa kuganti dengan obat penawar?" "Kau kira Pinceng mau terima?" "Tentu saja. namun apa sebabnya sampai berulang kali dia berusaha membunuh aku? Terdengar Thong-sian membuka suara dengan kalem dan tandas: "Sicu. ah. tapi jangan lupa.Tiraikasih Website http://kangzusi. jangan kau kira Cui Bu-tok si keledai kurus itu mampu. bukan kau saja yang pandai bermain racun." "Apa kau tidak pikir." . Hal ini sudah kuperhitungkan. Giam-ong-ling adalah racun yang sudah lenyap selama ratusan tahun dari Kang-ouw. Thong-sian.

" Ji Bun tidak tahan lagi. mantap: "Kuyakin kau takkan berbuat demikian. kalau tidak.. menjalankan perintah siapa?" "Mungkinkah kujawab pertanyaan ini?" "Pinceng yakin tiada orang yang tidak takut mati.. tapi obat penawarnya tidak kubawa." "Sicu .. katanya. sekaligus untuk melenyapkan bencana bagi insan persilatan bagaimana?" Kwe-loh-jin sedikitpun tidak gentar.com/ Thong-sian menjawab sekata demi sekata: "Jika kutukar jiwanya dengan jiwamu. umpamanya kan ingin meringkus diriku untuk paksa menyerahkan obat penawarnya..." "Apakah Sicu yakin betul?" "Sudah tentu. aku tidak lagi berkewajiban melindungi jiwa ragaku sendiri. jadi kau tetap tidak akan bisa menukar jiwanya dengan obat penawar itu." "Tapi jiwa ragaku ini sudah kuserahkan kepada seseorang.Tiraikasih Website http://kangzusi. sejak tadi kau sudah beraksi. "Blang" . seiring dengan tubrukan pukulannya pun dilontarkan secepat kilat. soalnya aku juga hanya menjalankan perintah. demikian pula kau. sambil menggerung dia menubruk maju.

. sementara Kwe-loh-jin terhuyung empat langkah baru berdiri tegak pula. aku tidak peduli. kau paham maksudku?" "Jangan kau bertingkah ." Kwe-loh-jin terkekeh-kekeh. agaknya bukan saja orang tahu jelas seluk beluk dirinya.. malah ibunya yang hilang dan jejaknya sekarang diketahui. "memangnya kau ingin kubongkar rahasia pribadimu?" Benci Ji Bun setengah mati. sejak Jit-sing-po hancur. Sedikit merandek segera Ji Bun bergerak maju serta menyerang pula. serta merta Ji Bun menghentikan aksinya.” .com/ Ji Bun tergentak turun ke tanah.. jawabnya: "Katakan saja. Karena serangannya luput. jelas di balik batu pasti ada udang. "Anak muda." ancam Kwe-loh-jin.Tiraikasih Website http://kangzusi. dia menjadi nekat. sumber berita ini betapapun takkan begini saja. serunya: "Apa kau tidak pikirkan keselamatan jiwa ibumu?" Seperti disamber geledek kejut Ji Bun. dengan terbeliak dia menyurut mundur.. baru pertama kali ini mendengar berita tentang ibunya. "Berhenti!" bentak Kwe-loh-jin sambil mengegos ke samping. maka dengan penuh emosi dia berteriak: "Kau tahu jejak ibuku? Di mana beliau? "Kini bukan waktunya ngobrol. yang terang kau tidak akan hidup lewat hari ini.

betapapun dia pantang melakukan kecerobohan yang akan membahayakan jiwa ibunya.. setelah urusanmu di sini beres baru kita selesaikan pula perhitungan lain... dia tidak peduli pengorbanan apapun yang harus dia pertaruhkan. Ji Bun sampai berdiri menjublek. asal ibu beranak bisa kumpul kembali. Kwe-loh-jin bekerja atas perintah orang. Apa boleh buat. tatapannya begitu tajam dan mengerikan. katanya dingin: "Thongsian.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun darah dalam tubuhnya masih mendidih." kata Kwe-loh-jin. memangnya siapa orang yang berada di belakang layar itu? Waktu dia membunuh diriku memangnya juga atas perintah? Adakah hubungannya dengan hancurnya Jit-sing-po serta kematian ayahnya? Pikir punya pikir." "Agaknya Pinceng terpaksa harus melanggar pantangan untuk menamatkan riwayatmu . Kini Kwe-loh-jin menghadapi Thong-sian. persoalanmu boleh dikesamping dulu. Memang dalam suasana yang menegangkan ini..com/ "Anak muda. demi keselamatan ibundanya.” . katanya dengan suara berat: "Sicu harus katakan dulu atas perintah siapa kau bekerja?" "Hal itu terang tidak mungkin kukatakan. terpaksa Ji Bun mundur setombak lebih. kau mau menyerahkan Hud-sim?” Melotot bagai kelereng biji mata Thong-sian. persoalan begini ruwet sehingga tiada kesempatan baginya untuk berpikir.

mukanya merah legam kehitaman. Sambil tertawa lebar Kweloh-jin segera berseru: "Anak muda. setengah jam lagi nona ini akan berubah menjadi cairan darah. "Thong-sian." ujar Kwe-loh-jin. agaknya amat menderita dan tersiksa sekali. lekas Ji Bun menerimanya. sementara ini Pinceng mengaku kalah. dia pasti kembali membawa obat penawarnya. "biarlah anak muda ini tetap menjadi penengahnya. kau boleh tunggu setengah jam di sini. biar dia ikut aku mengambil obat penawarnya. mulutnya megap-megap. Hud-sim serahkan padanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. marilah" . masakah aku harus percaya padamu?" "Begini saja. sampai tulang belulangnya luluh. tampak kaki tangannya meringkel. nah boleh kau tunggu dan saksikan sendiri. segera dia lemparkan Hud-sim ke arah Ji Bun. nah serahkan Hud-sim kepadaku." "Bagus.com/ "Lohu tidak takut diancam." "Sebelum obat penawar kau serahkan." Sekejap Thong-sian berpaling memandang Pui Ci-wi. nah bagaimana?" Thong-sian tidak bicara lagi. "Mana obat penawarnya?" "Kau mau serahkan Hud-sim?" "Baiklah. matanya terpejam. "jawab Kwe-loh-jin.

Ingat. tubuhnya melesat ke wuwungan." "Kau keparat hina dina yang tidak tahu malu.Tiraikasih Website http://kangzusi. keselamatan jiwa ibumu berada ditanganku. sebentar lagi bakal terang tanah. apa yang dinamakan perintah tidak lebih hanya muslihat untuk menipu si kepala gundul tadi. selamanya Lohu bekerja sendiri dan atas kehendak sendiri pula." ." maki Ji Bun dengan murka dan gemas. "Siapakah kau sebetulnya?" "Siapa aku. "Betul.com/ Ditengah kumandang suaranya. agaknya kau ingin berbicara?" tanya Kwe-loh-jin. cepat sekali sinar sang surya sudah mencorong di ufuk timur. dengan dongkol dia tatap orang. susul menyusul dua bayangan berlari kencang beberapa li jauhnya. Kwe-loh-jin langsung menerjang masuk. kau menyamar orang berkedok beberapa kali hendak membunuhku. apakah aksimu itu juga atas perintah orang?" "Kau keliru. Kokok ayam sudah sayup-sayup terdengar di kejauhan. selamanya kau tidak akan tahu dan mengerti. Ji Bun ikut melesat kedalam hutan. Tiga tombak di dalam hutan Kwe-loh-jin berhenti dan menunggu. ingin rasanya dia keremus dan mencacah tubuh orang. lekas Ji Bun mengikuti dengan gerakan tak kalah tangkasnya. katanya: "Berhenti anak muda!" Ji Bun mengerem luncuran tubuhnya. jangan bertingkah terhadapku. di depan adalah hutan lebat. "Anak muda.

Hm. sebelum mencacah tubuhmu tidak terlampias dendamku. marilah kau tukar obat penawarnya." "Bagaimana keadaan ibuku?" "Dia baik-baik saja.. ibumu.. pihak Wi-to-hwe dan anak buahnya yang melakukan. waktu tidak dapat menunggu.. katanya sesaat kemudian: "Bagaimana ibuku bisa jatuh di tanganmu?” "Untuk ini kau tidak perlu tanya." . tapi Kwe-lohjin tidak peduli.31. suatu hari kau akan mengerti sendiri.. Lan Giok-tin sendiri bilang.com/ Bergidik Ji Bun dibuatnya. kujamin dia tidak kurang suatu apa-apa." 11. Hmm. ." "Kalau begitu Lan Giok-tin akan mati lebih dulu. "Pertanyaan ini dapat kujawab." "Kau kira bisa mengancamku. katanya pula: “Ji Bun.. asal kau tidak bersikap bermusuhan terhadapku. Tidak Tahu Malu "Kaukah yang melakukan pembantaian di Jit-sing-po?" tanya Ji Bun pula." Darah serasa hendak menyemprot dari mata Ji Bun.Tiraikasih Website http://kangzusi.

pokoknya asal kau bebaskan ibuku.com/ "Apa betul?" "Terserah padamu. betapapun hidupnya takkan bisa tenteram. soal menuntut balas boleh ditunda. namun orang ini bilang demi keselamatan jiwa raganya sendiri terpaksa hendak membunuhnya serta menculik ibunya. bagaimana?" "Saatnya belum tiba." Berkerutuk gigi Ji Bun saking gemasnya dan hampir membuat dadanya meledak.Tiraikasih Website http://kangzusi. boleh kubatalkan niatku untuk menuntut balas terhadapmu. dia percaya. kau tidak perlu tahu. . kalau kau melanggar peringatan ini sukar kukatakan apa akibatnya. sebaliknya sehari saja ibunya belum bebas dari genggaman tangan-tangan iblis." Ji Bun mengertak gigi. nah. namun kau harus ingat satu hal. kalau tiba saatnya. "peduli siapa kau. ayahnya juga pernah bilang demikian. Siapakah sebetulnya orang ini? Memangnya ada latar belakang yang terahasia di balik semua peristiwa ini? "Kwe-loh-jin." sahut Kwe-loh-jin. seluruh perhitungan dulu dapat dianggap lunas. kalian ibu beranak pasti akan bertemu. selamanya dirinya tidak punya permusuhan dengan orang ini. tak usah dibicarakan. "Saat apa maksudmu?" "Urusanku sendiri. jangan kau cari setori padaku." kata Ji Bun kemudian.

Kalau sekarang demi menyelamatkan ibunya dia harus ingkar janji dan melakukan kesalahan ini. sebagai insan persilatan yang harus teguh berjiwa ksatria. sepak terjangnya belum pernah melanggar kesalahan... kalau betul Wi-to-hwe adalah musuhnya buat apa dia harus menolong para musuhnya itu. kelicikan dan kekotoran perbuatan Kwe-loh-jin ini? Hud-sim bukan miliknya. "Dagang bagaimana?" "Cayhe akan menyerahkan Hud-sim sebagai imbalannya. Namun setelah kelepasan omong baru dia merasa jalan pikirannya ini kurang tepat. kalau gagal dan ditolak.. namun dia yakin selama dirinya mengembara. sebetulnya ia bermaksud menukar keselamatan dan kebebasan ibunya. . bukankah dirinya sendiri yang akan malu dan ditertawakan orang? "Tukar apa yang kau maksud?" tanya Kwe-loh-jin. Ji Bun berpikir. dendam tetap dendam. "Kwe-loh-jin. Walau julukan Te-gak Suseng kurang sedap didengar." katanya.Tiraikasih Website http://kangzusi. apalagi belum tentu Kwe-loh-jin mau menerima usulnya ini. betapa dirinya takkan dipandang hina dan rendah dan itu berarti memusuhi kaum persilatan umumnya? Apa pula bedanya perbuatan ini dengan ketamakan.com/ "Hayo serahkan!" seru Kwe-loh-jin. kita bisa bicara secara dagang. kenapa harus bicara soal keadilan dan kebenaran segala." sampai di sini mendadak ia berhenti.. berdasarkan hak apa dia berani memberikan kepada Kwe-loh-jin untuk menukar keselamatan dan kebebasan ibunya.. .

itu namanya bekerja menurut gelagat. Sementara itu fajar sudah menyingsing. Ji Bun menerimanya." ujar Ji Bun sambil ulap tangan. namun sekilas dia merasa sungkan. maka tanpa bersuara cepat ia berlari kembali ke kelenteng kecil itu. Thong-sian sudah menunggu dengan tidak sabar." Ji Bun melemparkan buntalan Hud-sim. ujarnya "Anak muda." "Hm. "serahkan obat penawarnya.com/ "Tak jadilah. serahkan!" Ji Bun ragu-ragu." "Jangan cerewet." Kwe-loh-jin mengerut kening. lalu dia mengeluarkan sebuah botol porselin kecil. katanya: "Apakah obatmu ini tulen?" "Tidak usah kuatir. kali ini aku tidak menipu.Tiraikasih Website http://kangzusi. melihat Ji Bun muncul segera ia tanya: "Bagaimana?" . ingin dia bicara. tidak tahu malu. setelah dibuka tutupnya dia menuang sebutir pil warna hijau pupus terus dilemparkan ke arah Ji Bun. katanya: "Tadi kau bilang obat penawarnya tidak kau bawa?" Kwe-loh-jin terkekeh-kekeh.

air mukanya seketika berubah kaku dingin. katanya: "Bagaimana perasaan nona?" ." ujar Thong-sian dengan sikap sungguh-sungguh." "Mohon Sicu suka mengantarnya kembali ke atas gunung." "Silakan katakan saja. selamat bertemu. "Siau-sicu." "Wah. dia telah siuman kembali..Tiraikasih Website http://kangzusi. lambat laun menjadi pucat terus bersemu merah segar. ini . "ada sebuah permintaan Pinceng yang mungkin agak merikuhkan." habis berkata dia angkat sebelah telapak tangan ke depan dada. Tak lama muka Pui Ci-hwi yang sudah menghitam itu mulai berubah. beruntun ia bekerja demi kepentingan pihak musuh. lalu terhitung apa ini? Tapi pikiran lain segera berkelebat dalam benak Ji Bun. apa lagi berdiri." dingin sikap Ji Bun. denyut nadi juga semakin keras. Menghadapi gadis jelita yang pernah menjadi pujaan hatinya. lekas dia berkata: "Baiklah. Pinceng bersumpah untuk menyelidiki asal usul Kwe-loh-jin dan membongkar perbuatan jahatnya..com/ "Obat penawarnya sudah kudapat. tahu-tahu badannya melejit ke atas bagai burung melayang ke atas wuwungan. Lekas ia mendekati Pui Ci-hwi dan jejalkan pil itu ke mulutnya. Agaknya Pui Ci-hwi kehabisan tenaga." Ji Bun menjadi ragu-ragu. cukup lama masih belum mampu bergerak.. dalam sepeminuman teh. Ji Bun merasa iba juga melihat keadaan orang. napaspun mulai teratur. namun cepat sekali perasaan iba ini lenyap." "Syukurlah.

Sungguh tak nyana Nikoh tua ini bisa muncul di kelenteng kecil ini. Waktu Ji Bun berpaling. tersipu-sipu dia menyembah. karena sang korban mati tanpa meninggalkan bekas apa-apa di atas tubuhnya. cepat dia angkat tangan memberi hormat: "Selamat bertemu Suthay. katanya: "Tapi Cayhe sudah berjanji kepada Thong-sian Taysu untuk antar nona?" Tiba-tiba sesosok bayangan abu-abu masuk kelenteng. air mata berkaca-kaca dikelopak matanya. katanya lemah: "Beruntung tidak apa-apa. matanya tertuju kepada Pui Ci-hwi." "Cayhe diwajibkan untuk mengantar nona pulang ke atas gunung. dan dirinyalah yang menjadi kambing hitam disangka membunuhnya." . pelan-pelan meronta bangun lalu duduk bertopang kaki meja sembahyang." kata Siu-yan tegas dan bengis. yang datang ternyata adalah Siu-yan Nikoh. "Budak binal." Pui Ci-hwi tertawa getir.Tiraikasih Website http://kangzusi. muridnya yang bergelar Ngo-sim pernah dibunuh setelah diperkosa. Berubah air muka Pui Ci-hwi." Siu-yan membalas hormat. aku tidak mau pulang.com/ Pui Ci-hwi pandang Ji Bun dengan rasa haru dan terima kasih. katanya sedih: "Siangkong. itu kepala biara Boh-to-am." Bertaut alis Ji Bun. "terlalu jual lagak kau. air mata tak tertahan lagi bercucuran.

"Kesalahan itu kau lakukan diluar kesadaranmu. tidakkah kau berpikir betapa ayah angkatmu susah payah membimbingmu sampai sebesar ini?" "Anak Hwi tahu matipun tidak dapat menebus dosaku... katanya lebih bengis: "Kau masih tidak mau pulang?" "Anak Hwi tiada muka bertemu dengan orang banyak." sahut Pui Ci-hwi sesenggukan lebih keras.." "Lalu apa keinginanmu?" "Anak Hwi hanya .." Bergetar jantung Ji Bun." "Harap engkau suka menerima sebuah permintaan anak Hwi. anak Hwi patut mati. apakah Siu-yan juga salah seorang pentolan dari Wi-to-hwe? Dari nada pembicaraan kedua orang seolah-olah mereka punya hubungan dan ikatan yang bukan sembarangan..Tiraikasih Website http://kangzusi.. hanya ingin . semua orang akan memaafkan kau." "Besar nyalimu." .. Dengan marah Siu-yan Loni mengebaskan lengan bajunya..com/ Dengan sesenggukan Ci-hwi berkata: "Anak Hwi memang tidak becus. ingin mendapat kebebasan.

banyak kata- . "Ayah kandungmu sendiri. biarlah dalam penitisan mendatang kubalas kebaikan orang banyak. ujarnya: "Karma.." Siu-yan Loni menarik napas panjang." "Kau ingin jadi Nikoh? Tidak boleh.com/ "Soal apa?" "Terimalah anak Hwi dan cukurlah rambutku. Riwayat hidupmu mengandung rangkaian cerita yang membawa banjirnya air mata berdarah. dan sekarang kau berbuat begini. terpaksa kau ganti she dan namamu. apakah tidak meluluhkan hati dan menghancurkan harapan orang tuamu?" Terbeliak mata Pui Ci-hwi. katanya gemetar: "Jadi beliau adalah ayah kandungku? Jadi anak Hwi bukan she Pui?" "Bukan.Tiraikasih Website http://kangzusi. dulu karena menghindari tekanan dan kejaran musuh. karma! Anak bodoh... tahukah kau siapa sebenarnya ayah angkatmu itu?" "Siapakah beliau?” tanya Ci-hwi. begitu sedih dan memilukan isak tangisnya. Ji Bun ingin tahu seluk-beluk dan muka asli Wi-to-hwecu dari pembicaraan kedua orang ini. namun dia amat kecewa." "Oooo." Ci-hwi mendekam di lantai dan pecahlah jerit tangisnya." "Kalau begitu biarlah anak Hwi mati saja. kau bukan she Pui.

..Tiraikasih Website http://kangzusi." . katanya: "Pinni berani pastikan adalah perbuatan Jit-sing-pocu Ji Ing-hong keparat itu.” Mendelu hati Ji Bun. "Apanya yang sayang?" "Sayang dia sudah mampus. Pui Ci-hwi sendiri ternyata punya riwayat hidup yang mengenaskan.. apakah ada sangkut pautnya dengan peristiwa pembantaian di Jitsing-po? Kembali Siu-yan Loni menghela napas. suaranya berubah welas asih: "Nak. wajahnya basah air mata bak sekuntum bunga basah oleh air embun.com/ kata yang tidak dimengerti olehnya. segala persoalan biarlah ayahmu sendiri yang memutuskan.. jangan menangis lagi... Apakah yang dikatakan hanjir air mata berdarah? Dan apa yang dikatakan musuh besar. “Ji Ing-hong?" dia menegas. tempo hari sudah Suthay selidiki?” Marah dan benci terbayang sekilas pada air muka Siu-yan. sayang ." Pelan-pelan Pui Ci-hwi merangkak bangun.." "Apakah peristiwa dalam biara. Tak tahan Ji Bun bertanya: “Apakah Suthay juga anggota Wi-tohwe?" Setelah melengak Siu-yan Loni menjawab: "Loni tidak menyangkal. bangunlah.

" Dalam pembicaraan ini sikap Siu-yan Loni tawar dan acuh tak acuh. biji mata Siu-yan Loni malah mencorong terang menatap muka Ji Bun. pandai menggunakan racun lagi. namun sikapnya pura-pura kaget.com/ Diam-diam Ji Bun mengertak gigi. Maka dia mendesak lebih lanjut: "Lwekang Ji Ing-hong amat tinggi. terang sikapnya akan mengunjuk keanehan." "Mungkinkah perbuatan Siangkoan Hong?" Sama berubah air muka Siu-yan Loni dan Pui Ci-hwi. lama sekali baru dia bersuara: "Berdasarkan apa Sicu bilang demikian?" Berputar pikiran Ji Bun. Pinni sendiri tidak tahu. maka jawabnya kereng: "Siangkoan Hong kan bermusuhan dengan Ji Ing-hong?" . seakan-akan ingin menyelami isi hatinya. tanyanya: "Ji Ing-hong sudah mati? Siapakah yang membunuhnya?" "Entahlah. dia jadi nekat. namun sikap dingin dan tawar Siu-yan Loni sungguh di luar dugaannya. Ji Bun menjadi bingung dan tak habis mengerti. kukira tidak banyak tokoh-tokoh silat Kang-ouw yang mampu membunuhnya? Bagaimana pendapat Suthay?" "Tiada yang bisa kujadikan pegangan untuk menduga-duga soal ini. biarlah bicara blak-blakan saja untuk menyelidiki persoalan ini lebih terang.Tiraikasih Website http://kangzusi. kalau benar ayahnya terbunuh oleh orang-orang Wi-to-hwe.

.com/ "Tapi bukan Siangkoan Hong yang berbuat. maksudnya hendak paksa orang bicara terus terang. Siu-yan Loni tertawa kalem. percakapan yang kudengar dari mulut Ji Ing-hong sebelum dia terbunuh. kalau betul..” "Apa yang kebetulan?" "Waktu Ji Ing-hong menemui ajalnya bersama orang berkedok lain." "Cayhe ingin betul berhadapan dengan Siangkoan Hong. kebetulan Cayhe lewat ditempat kejadian." Inilah akal yang seketika timbul dalam benak Ji Bun. Pinni malah tidak akan menyesal..Tiraikasih Website http://kangzusi.. namun hal ini tidak bisa membuktikan bahwa Siangkoan Hong atau jago-jago Wi-to-hwe lainnya yang melakukan." "Berdasarkan apa Suthay berani berkata demikian?” "Sepak terjang Siangkoan Hong cukup diketahui olehku." "Kenapa?" "Untuk membuktikan dan membuat terang peristiwa ini. katanya: "Mungkin saja dia menyinggung Wi-to-hwe... telah menyinggung nama Wi-to-hwe." ." "Kejadian yang amat kebetulan ..

suaranya penuh emosi: "Keterangan apa?" “Bukan sekali ini saja Sicu menaruh perhatian terhadap peristiwa Jit-sing-po?" "Memangnya kenapa?" "Bu-ing-cui-sim-jiu yang Sicu yakinkan." "Betul. kau pasti ada hubungan dengan Ji lng-hong." "Pernah apa Sicu dengan dia?" Muka Ji Bun membesi hijau. Perlukah dia tetap merahasiakan diri untuk beberapa lama? Sebelum mendapat . Kalau dia berterus terang akan asal usulnya sendiri.Tiraikasih Website http://kangzusi. mau tak mau Pinni harus minta keterangan padamu.com/ Timbul pula sorot terang yang mencorong dari kedua biji mata Siu-yan Loni." sahut Ji Bun. "Kalau demikian. itu berarti dia harus mulai beraksi menuntut balas kepada para musuhnya secara terbuka. tanpa gentar iapun balas menatap mata orang. katanya: “Siau-sicu." Terunjuk pula mimik aneh pada muka Ji Bun. bukankah satu sumber dengan racun penghancur jantung yang menjadi kemahiran Ji Inghong?" "Untuk ini Cayhe tidak menyangkal. kini cukup sepatah kata saja bakal merubah situasi seluruhnya.

namun lahirnya dia amat tenang. kau pernah menolong jiwa Siangkoan Hong. Diam-diam terperanjat hati Ji Bun akan kelihayan orang. karena keluhuran budimu ini. apakah perlu membedakan salah dan benar secara jelas?" Ji Bun mati kutu.” "Siau-sicu. namun dia balas bertanya dengan pedas: "Cayhe justru ingin tahu di mana letak salah benar dari peristiwa besar ini. akhirnya dia berkeputusan. dikala berhadapan langsung dengan Siangkoan Hong barulah tiba saatnya yang paling baik untuk dia turun tangan. seluruh Wi-to-hwe meski harus bertindak kepadamu juga pasti memberi kelonggaran.Tiraikasih Website http://kangzusi. kubisa menerima . Dia sengaja pura-pura penasaran.com/ keterangan dan mengumpulkan data-data yang lengkap tidak akan bertindak? Atau sekarang juga dia harus bekerja? Apakah waktu dan sasaran yang harus diganyangnya sekarang tepat? Beberapa kali pikirannya berputar. betul tidak?" "Sicu tidak bicara setulus hati bukan?" jengek Siu-yan. katanya pura-pura bingung: "Apa yang Suthay maksudkan?" "Apa betul Siau-sicu bertujuan demi keadilan Bu-lim?" "Kukira memang demikian. tapi juga tidak terlalu kenal. katanya: "Hubungan kami bukan sembarangan. keadilan Bu-lim tidak boleh diinjak-injak. maka dia tekan gejolak hatinya yang hampir meledak." "Sebelum bicara soal keadilan.

kapan Sicu akan berkunjung." "Baik. namun beberapa kejadian nyata yang pernah dialaminya beberapa kali belakangan ini seolah-olah melunturkan keyakinan dan dugaannya semula. kicau burung nan merdu berkumandang di dalam hutan. dia merasa kehabisan kata-kata. katanya kemudian setelah berpikir: "Boleh. . Cayhe mohon diri. kabut mulai menghilang." "Terima kasih. cuaca cerah cemerlang." Siu-yan Loni manggut-manggut. akan kuatur supaya kau bertemu dengan dia. Sekeluar dari pintu kelenteng Ji Bun disongsong cahaya matahari yang terang benderang. dia. namun relung hatinya diliputi awan mendung yang tebal. setelah ragu-ragu sebentar." Kembali Ji Bun gelagapan. ke Tong-pek-san?" "Sekarang juga boleh berangkat. Dari apa yang pernah dia dengar dari cerita ayahnya. serta katakata Kwe-loh-jin waktu membicarakan keselamatan ibundanya. Ji Bun yakin bahwa pihak Wi-to-hwelah yang melakukan pembantaian besar-besaran di Jit-sing-po." setelah memberi hormat Ji Bun putar tubuh dan tinggal pergi.Tiraikasih Website http://kangzusi. menjawab: "Cayhe harap bisa berhadapan langsung dan bicara dengan Siangkoan Hong sendiri.com/ pendirianmu dalam menyelidiki peristiwa besar namun kau sendiri harus berterus terang menjelaskan asal-usulmu bukan.

Pikirnya. seorang laki-laki yang masih asing telah berdiri didepannya. baru pertama kali ini ada orang memanggilnya dengan nama aslinya.Tiraikasih Website http://kangzusi. kalau dia menyangkal atau mungkin soal perbuatan Wi-to-hwe yang melakukan pembantaian di Jit-sing-po. lalu tindakan apa yang harus dia lakukan? Thong-sian Hwesio terang tidak berada di markas. reaksi apa pula yang bakal timbul oleh sesama kaum persilatan? Tidak lama kemudian Ji Bun sudah tiba di jalan raya dan menuju ke arah Tong-pek-san. Mau tidak mau ia terbayang pula akan kematian ayahnya di jalan raya Kayhong yang mengenaskan itu. yakinkah dirinya bisa mengalahkan mereka? Tengah dia berjalan dengan pikiran kusut. berarti mengurangi kekuatan musuh yang tangguh. Adanya kejadian yang berlainan satu sama lain menjadikan perasaan Ji Bun berlainan pula setiap kali dia menuju ke Tong-pek-san. tunggu sebentar!" Kejut Ji Bun bukan main. tiba-tiba sebuah suara berkumandang dari belakangnya: "Ji-siauhiap.com/ Dari pembicaraan dengan Siu-yan Loni barusan. namun adanya Bu-cing-so. sorot matanya tajam. Peristiwa di Bok-to-am yang mengerikan dan kejam itu betulkah perbuatannya? Jika peristiwa ini tersiar luas di kalangan Kang-ouw. jelas Siangkoan Hong merupakan salah seorang tokoh yang berkedudukan penting dan dihormati dalam Wi-to-hwe. . tidak mengaku telah membunuh ayahnya pula. dan jelilatan mengawasi dirinya. Siang-thian-ong dan lain-lain jago kosen. apa lagi kalau mereka mengeroyok dirinya. segera ia berhenti dan berpaling dengan siaga. hatinya semakin berat. setelah berhadapan dengan Siangkoan Hong.

com/ Sekilas dia tatap laki-laki asing ini. bentaknya: "Kau sekomplotan dengan Kwe-loh-jin?" "Ji Bun.. kebetulan kau datang. otot di jidatnya seketika menegang. "bukankah sekarang kau hendak ke markas Wi-to-hwe." "Ji Bun.” "Manfaat? Hm. untuk menuntut balas? Kau hanya mengantar jiwamu saja...." jengek laki-laki tak dikenal itu." . wajahnya merah diliputi nafsu membunuh.Tiraikasih Website http://kangzusi.. aku hanya seorang pesuruh saja.." "Jangan terlalu banyak kau menaruh harapan pada diriku. kecuali menjalankan perintah. lalu bertanya dengan kereng: "Orang kosen darimana sahabat ini?" Laki-laki tak dikenal itu bergelak tawa." "Memangnya kau takkan buka mulut bila kuringkus.. kedatanganku ini membawa manfaat bagimu . ada beberapa persoalan kau harus menjawabnya." kata orang itu tanpa menghiraukan ancaman Ji Bun. segala persoalan aku tidak tahu menahu. ujarnya : "Tak berani kuterima sebutan orang kosen. "bicaralah dengan sopan." "Darimana kau bisa tahu kalau aku she Ji? Siapa pula yang menyuruhmu kemari?" "Orang yang menguasai mati hidup ibundamu itulah." Mendidih darah Ji Bun.

majikanku berjanji. kau yakin bisa menyelamatkan diri dari Sian-thiancin-khi Thong-sian Hwesio yang lihay itu?” "Apa maksudmu?" "Aku hanya disuruh menyampaikan beberapa patah kata saja padamu. ialah meminjam tanganmu untuk menghancurkan Wi-to-hwe.Tiraikasih Website http://kangzusi." Memang sebuah umpan besar yang penuh daya tarik bagi Ji Bun." "Masih ada." "Siapa majikanmu? Apa pula tujuanmu?" "Maaf.com/ "Mengantar jiwa saja? Apa maksudmu?" "Dengan bekal kepandaianmu sekarang. "Betul. soal tujuan. siapa majikanku tidak bisa kujelaskan. kau akan diberi kesempatan menemui ibundamu dan membeber segala persoalannya." "Apa? Meminjam tanganku?" teriak Ji Bun kaget. Kau mampu melawan keroyokan mereka?" "Itu urusanku. dua pihak sama-sama memungut untungnya. apalagi menghancurkan musuh memang menjadi idamannya untuk . tak perlu kau campur tahu. setelah tugas berat ini berhasil.

Memangnya ia sendiri merasa kekurangan tenaga dan tak mampu membebaskan ibunya. tak sangka orang malah mengajak kerja sama. belum selesai aku bicara. maka dengan nada haru ia berkata: "Apakah janji majikanmu dapat dipercaya?" "Apa yang diucapkan majikanku pasti dapat dipercaya?" "Kau bilang meminjam tanganku. gerak-gerik serta sepak terjangnya serba misterius.Tiraikasih Website http://kangzusi. padahal tadi kau bilang kemampuanku belum mencukupi untuk menghadapi jago-jago mereka?" "Jangan kuatir." Bangkit semangat Ji Bun.32.com/ menuntut balas bagi seluruh warga Jit-sing-po yang telah gugur. Rahasia Wi-to-hwecu "Siapa pembunuhnya?" . bukan mustahil majikan orang ini adalah juga dia. Diam-diam ia menimbang." "Tahukah kau siapa pembunuh ayahmu dan seorang berkedok yang menyamar beliau?" 11. kepandaian Kwe-loh-jin cukup tangguh. coba jelaskan." "Baik. katanya: "Rencana apa yang telah diaturnya?" "Jangan tergesa-gesa. majikanku sudah mengaturnya dengan rapi.

malah dipandang tamu terhormat? Maka untuk turun tangan. bukankah kau boleh keluar masuk markas Wi-tohwe. Desisnya sambil mengertak gigi: "Siapa saksinya?" "Majikanku. kau harus pilih waktu dan saat Thong-sian dan Wi-to-hwecu hadir baru turun tangan." "Apa? Dia?" teriak Ji Bun." "Jangan kuatir. sorot matanya seketika beringas. kau harus mencari kesempatan yang paling baik.com/ "Thong-sian Hwesio. "Kenapa majikanmu ingin pinjam tanganku untuk menghancurkan Wi-to-hwe?" "Sederhana saja. siapakah majikannya? Kenapa selalu menyuruh Kwe-loh-jin turun tangan kepada dirinya? Kenapa menculik ibunya? Semua ini sulit terjawab olehnya. memang kecuali Thong-sian Hwesio tiada tokoh lain yang punya kepandaian tinggi dan mampu membunuh ayahnya dan orang berkedok itu. yang lain tidak menjadi soal lagi." "Tapi aku sendiri tidak yakin dapat melawan mereka dan bertahan hidup." .Tiraikasih Website http://kangzusi." Ji Bun melenggong. karena majikanku hendak memberantas penghalang bagi cita-citanya. kalau kedua orang ini mampus.

Ngo-lui-cu. segata pengorbanan boleh saja dilakukan. dia akan membebaskan ibuku?". kalau dapat mengatur keadaan dengan baik. dengan membawa benda peledak ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. sehingga kepalanya terasa panas dan pikiran butek. waktu ia melongok ke dalam kantong." Ji Bun menerima dan membuka kantong itu. memang hanya Ngo-lui-cu saja senjata terampuh yang tepat untuk menghancurkan musuhnya sekaligus. . Laki-laki tak dikenal itu celingukan sebentar. katanya: "Nah. lalu mengeluarkan sebuah kantong kecil. katanya: "Ya. Tak terpikir lagi olehnya apa maksud tujuan dari bantuan orang tak dikenal ini dengan memberikan Ngo-lui-cu.com/ "Lalu cara bagaimana aku harus turun tangan?" tanya Ji Bun penuh semangat." Gemetar jari-jari tangan Ji Bun yang memegangi kantong kecil itu. seketika ia menjerit kaget: "Ngo-lui-cu?" Laki-laki tak dikenal itu menyeringai. kau periksa sendiri. yang terang kini tibalah kesempatan paling baik untuk dirinya menuntut balas. kau kan sudah tahu kekuatannya. malaikat dewatapun tak bisa lolos dalam jarak tiga tombak. Ji Bun betul-betul sudah dirangsang dendam dan hasrat menuntut balas yang tebal. Tanyanya menegas: "Majikanmu bilang setelah tugasku selesai. Asal sakit hati terbalas dan dapat bertemu dengan ibunda. Sian-thian-sin-kang Thong-sian Hwesio tidak perlu ditakuti lagi. bukan mustahil seluruh jago Wi-to-hwe juga akan dijaring dan dibunuhnya semua.

ketiga. Terdengar laki-laki itu berkata pula: "Ngo-lui-cu amat dahsyat kekuatannya. . gerakannya sungguh mengejutkan. Kalau dia berhasil mempelajari ilmu yang tertera di dalam Hud-sim. pasti tiada tandingannya dikolong langit." "Apakah aku harus percaya demikian saja oleh obrolanmu ini?” "Orang she Ji. kedua. segala janji tetap takkan berguna. kau di tempat terang dan kami di tempat gelap. kalau majikanku sengaja mau main tipu.com/ "Ya. berarti sudah menggenggam mati-hidupmu pula. selamat bertemu!” tanpa berpaling tahu-tahu badannya melesat terus menghilang. ibumu berada di tangan kami." "Kalau begitu kudoakan semoga kau berhasil. Pertama. sekaligus hendak membeber sebuah rahasia. apa yang diucapkan ini memang benar." Bergidik Ji Bun dibuatnya. Betapa besar ambisi orang ini dapatlah dibayangkan. dari sini sekaligus membuktikan bahwa majikan orang itu adalah seorang yang menakutkan. kalau kau menggunakan tepat pada waktunya. terang kau akau berhasil dengan baik.Tiraikasih Website http://kangzusi. Kini Hud-sim terjatuh ke tangannya. cukup kau gunakan sedikit tenaga untuk menimpukannya saja." “Cara memakainya aku sudah tahu. dengan memegang rahasia pribadimu.

Dengan hati-hati Ji Bun simpan Ngo-lui-cu di ikat pinggangnya." "Terima kasih!" kata Ji Bun. Sepanjang jalan jantung Ji Bun berdebar keras. mereka naik kuda menuju ke markas. ia merasa semakin mantap dan terlindung. hatinya merancang bagaimana dirinya harus bekerja nanti. silakan. seorang laki-laki pakaian biru segera keluar menyambut. orang ini hanya seorang pesuruh. Dapatlah dibayangkan betapa hebat kepandaian majikannya. Apakah Thong-sian Hwesio sudah kembali? Cara bagaimana dia harus berusaha mengumpulkan pentolan-pentolan musuh supaya lebih leluasa turun tangan? Cepat sekali mereka sudah tiba di depan markas. agaknya dugaan ini kurang tepat lagi. hamba mendapat perintah untuk menyambut. Di bawah . Di belakang benteng sudah siap menunggu dua ekor kuda.Tiraikasih Website http://kangzusi. **** Pos terdepan yang rusak digempur pihak Ngo-lui-kiong tempo hari kini sudah di bangun lagi lebih mentereng dan angker. Begitu Ji Bun tiba di depan benteng. dia bukan lain adalah Congkoan Wi-to-hwe Ko Ling-jin. seorang penjaga maju menerima kuda tunggangan mereka. cepat ia memberi hormat sambil berseri tawa: "Siau-hiap tentu lelah dalam perjalanan. untuk kali terakhir sekarang ia pergi ke Tong-pek-san.com/ Semula Ji Bun kira hanya Biau-jiu Siansing yang memiliki gerakan tubuh paling gesit.

Ji Bun tenangkan diri. terpaksa aku mohon tanya ada hubungan apakah sebetulnya antara saudara muda dengan Ji Ing-hong?" . sahutnya: "Ada pertanyaan apa?. Wi-to-hwecu sudah menunggu dan menyongsong kedatangannya. oleh karena itu." Wajah Wi-to-hwecu yang kaku tidak menunjukkan perasaan apaapa. siapkan perjamuan. katanya: "Siangkoan Hong pernah mendapat pertolongan saudara muda. sungguh kebetulan sekali. Kalau saudara bertekad ingin menemuinya demi menyelesaikan permusuhan dengan Jit-sing-po atas kematian Ji Ing-hong. silakan Hwecu katakan.com/ petunjuk dan iringan Ko Ling-jin.Tiraikasih Website http://kangzusi. undanglah para Houhoat dan semua tamu-tamu yang ada untuk hadir. untuk ini dia tidak akan melupakan selama hidup. Setelah duduk Wi-to-hwecu berkata kepada Ko Lingjin: "Ko-congkoan. kesempatan bakal tiba tanpa susah payah. namun suaranya kedengaran hambar. Diam-diam Ji Bun bersorak dalam hati. Cuma apakah Thong-sian termasuk orang yang akan hadir di dalam perjamuan nanti?" "Maksud kedatangan saudara muda sudah Lohu ketahui namun ada suatu persoalan mohon saudara muda suka menjelaskan secara jujur?" kata Wi-to-hwecu mulai. Ji Bun langsung menuju ke ruang pendopo." Ko Ling-jin mengiakan sambil memberi hormat terus mengundurkan diri.

Yang laki-laki tampan dan yang perempuan . maka ia berkata: "Apakah hal ini boleh kuumumkan setelah berhadapan dengan Sangkoan Hong?" Berkerut alis Wi-to-hwecu. namanya harum terkenal di seluruh jagat.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Baik." Sudah lama dia mengharapkan hal ini." Kebetulan bagi Ji Bun. namun sekarang belum waktunya atau segala rencananya bakal gagal total. Tentang bagaimana persoalan yang sebenarnya tidak diketahui. aku tidak memaksa. yang diketahui hanya ayahnya bermusuhan dengan Siangkoan Hong lantaran rebut isteri dan membunuh anaknya. katanya: "Dengan senang hati. sayang tiada kesempatan. Pada waktu itu muncul seorang perempuan cantik molek.com/ Berhadapan dengan musuh besar. Kini Wi-to-hwecu mau mengungkat peristiwa lama ini. namun jawabannya juga samar-samar. yaitu isteri Siangkoan Hong. ingin rasanya Ji Bun mengkeremusnya. katanya: "Tidak bisa dijelaskan dulu padaku?" "Belum tiba saatnya. katanya pelan dengan suara berat: "Untuk menjelaskan peristiwa ini harus kembali pada masa kira-kira 20-an tahun lalu. Hal ini pernah dia tanyakan kepada sang ayah. Dia bernama Cu Yan-hoa. Sekilas terunjuk sorot derita dan sedih pada sinar mata Wi-tohwecu. namun ingin kuwakili Siangkoan Hong untuk menjelaskan duduk persoalan dari permusuhan ini. tentu saja amat cocok dengan keinginannya.

. namun sekuatnya dia menahan diri.” Dengan hati gelisah.. Setelah merandek Wi-to-hwecu melanjutkan: "Pada suatu hari...” Berubah air muka Ji Bun.. masgul dan lama kelamaan putus asa. Semula Siangkoan Hong tidak menaruh perhatian. apalagi waktu itu Cu Yan-hoa sedang hamil .com/ jelita. Tak lama kemudian. Selama mereka menikah belum pernah mereka berpisah. Siangkoan Hong menjadi gelandangan Kang-ouw untuk mencari isterinya. Tutur Wi-to-hwecu lebih lanjut dengan mengertak gigi: "Jit-singpang berkuasa dan banyak tenaganya. betapapun sulitnya .. tapi kalau dikatakan yang lelaki tampan.” Terbayang oleh Ji Bun akan codet atau bekas luka yang membuat buruk muka Siangkoan Hong. hal ini menandakan isterinya pasti mengalami sesuatu yang harus dikuatirkan. Lwekang dan kepandaian silat Ji Ing-hong teramat tinggi. mendadak Cu Yan-hoa lenyap tak karuan parannya.. Jit-sing-po merupakan sebuah perkampungan angker dalam Bu-lim.Tiraikasih Website http://kangzusi. namun isterinya tercinta sedang hamil. dia mendapat kabar bahwa isterinya. ia sangka isterinya keluar mengurus sesuatu. Betapa sedih dan tersiksa hatinya. Kalau yang perempuan dikatakan jelita mungkin benar. hal ini amat meragukan. Namun setelah beruntun beberapa hari tidak kunjung pulang barulah Siangkoan Hong menyadari urusan tidak sederhana. entah berapa banyak sesama kaum persilatan yang iri terhadap pasangan ini .. kiranya siapapun dapat membayangkan. Untuk menolong isterinya dari mulut harimau.. Cu Yan-hoa diculik oleh Jit-sing-pocu Ji Ing-hong .... Siangkoan Hong tahu dirinya tidak mampu..

com/ juga harus berusaha menolongnya. maka segala seluk beluk dalam perkampungan sama sekali tidak diketahui. walau dia adalah Siau-pocu. dia menanti dengan sabar... Usaha Siangkoan Hong memang tidak sia-sia. dia berlaku hati-hati. Sampai sekian lamanya dia tetap tak berhasil mendapatkan kesempatan menemui isterinya. Mengingat keturunan yang dikandung dalam perut isterinya. Setiap hari dia harus bermuka-muka dan munduk-munduk untuk mengambil hati Ji Ing-hong. akhirnya dia diangkat menjadi salah seorang guru silat.” "Apakah ini kenyataan?" tak tertahan Ji Bun bertanya." Nafas Ji Bun agak memburu. Syukurlah dia dibekali kepandaian yang berbakat.” "Bagaimana kelanjutannya?" tanya Ji Bun tak sabar. "Setelah berada di dalam benteng perkampungan. maka dia tidak kenal putus asa. Ia marah dan berduka akan nasib isterinya karena kekejian dan kekotoran Ji Ing-hong..Tiraikasih Website http://kangzusi. duduk berdampingan dan berdiri sejajar dengan tujuh jago kosen lainnya di dalam perkampungan. dididik dalam lingkungan tersendiri. namun sejak kecil terisolir.. "Sekejap mata beberapa tahun telah berselang. sabar .. . tekadnya menjadi besar untuk selekasnya berhadapan dengan isteri terkasih.. Dalam keadaan terpaksa akhirnya dia merusak wajah sendiri dan menyelundup ke Jit-sing-po .. akhirnya ia berhasil menyelidiki bahwa isterinya ternyata telah menjadi gundik kedua Ji Ing-hong. mereka dijuluki Jit-sing-patciang (delapan panglima Jit-sing). Kini seakan-akan dia mendengar dongeng saja..

dia menjamu Siangkoan Hong. Timbul perasaan ruwet dalam hati Ji Bun.. juga tidak tahu apakah anaknya itu masih hidup atau sudah mati. Dari pertemuan itu baru dia tahu bahwa isterinya bertahan hidup demi keturunan darah daging dalam kandungannya.. anaknya segera disingkirkan. Iapun berharap dapat bertemu sekali lagi dengan suaminya . Beberapa hari kemudian. katanya: "Sudah tentu kenyataan. akhirnya ia mendapat kesempatan bertemu dengan isterinya.. Dia sendiri tidak tahu anaknya itu laki-laki atau perempuan. Pada suatu hari. “ sampai di sini. iapun mengakui akan kesalahannya . untuk inilah dia bertahan hidup..” "Jadi ada keturunan Siangkoan Hong yang tertinggal dalam perkampungan?" "Semula hal ini masih teka-teki. iapun merasa malu dan ..Tiraikasih Website http://kangzusi. karena setelah Cu Yan-hoa melahirkan. "Ji Ing-hong memang manusia durjana yang kejam. Di samping merasakan tugas menuntut balas yang kian menekan.. dia tidak bersikap apa-apa pada waktu itu... suaranyapun menjadi serak namun dendam dan kebenciannya tetap menyalanyala. Sayang pertemuan mereka suami isteri konangan oleh Ji Inghong. penuh dendam dan kebencian.. dia berjanji memberi kesempatan kepada mereka suami-isteri untuk berkumpul dan hidup rukun kembali.. kulit muka Wi-to-hwecu tampak mengencang dan gemetar.com/ Geram menyala sorot mata Wi-to-hwecu..

Agaknya Wi-to-hwecu juga berusaha menekan emosinya. yang benar dia menyuruh Ciu Tay-lian membunuh Siangkoan Hong secara diam-diam ..Tiraikasih Website http://kangzusi. watak mereka berdua jauh berbeda dengan keenam temanteman sejawatnya... apakah dia sampai hati berbuat sekejam ini?" . itulah perbuatan binatang.” "Jadi Siangkoan Hong tidak mati terbunuh?" "Ehm. Namun waktu itu terpaksa dia harus tunduk pada keadaan. kalau dia manusia. akhirnya dia membongkar perbuatan di luar perikemanusiaan itu ..." tiba-tiba Wito-hwecu menggebrak meja sampai semplak sebagian.” "Perbuatan apa yang dia bongkar?" "Ji Ing-hong sudah membunuh Cu Yan-hoa... lama sekali baru dia melanjutkan: "Dendam Siangkoan Hong tetap tak berkurang karena isterinya diculik.. matanya mendelik sebesar kelereng. Iapun amat marah dan mengutuk perbuatan Ji Ing-hong yang tidak tahu malu.. Lahirnya saja diantar.. Ji Ing-hong menyuruh tertua dari Jit-sing-pat-ciang yang bernama Ciu Tay-lian mengantar Siangkoan Hong ke luar perkampungan. Setelah perjamuan usai. mukanya gelap dan suaranya geram: "Saudara muda.. perjamuan itu akhirnya berlalu dalam suasana janggal dan kurang menyenangkan. hubungan Ciu Tay-lian dengan Siangkoan Hong amat kental......com/ menyesal akan perbuatan ayahnya yang kotor dan hina dimasa hidup itu.. perjamuan yang diadakan itu menghidangkan daging Cu Yan-hoa .

. dia hanya mencari Ji Ing-hong saja." "Siangkoan Hong mengumpulkan komplotan untuk menghancur leburkan Jit-Sing-po?" "Umpama betul dia menghancur leburkan Jit-Sing-po juga belum terlampias dendamnya.." "Tidak mungkin. daging manusia sebagai hidangan perjamuan ..” "Tapi kenyataan memang demikian.. katanya dengan nada hampir menangis :"Saudara muda.." "Bagaimana kelanjutannya?" "Sudah tentu Siangkoan Hong bersumpah menuntut balas.. "Kenapa tidak mungkin?" "Ji-pocu tidak mungkin melakukan perbuatan sekejam itu.." teriak Ji Bun tiba-tiba seperti orang kalap.. Siangkoan Hong telah makan darah daging isterinya sendiri .com/ Merinding dan gemetar sekujur badan Ji Bun." "Lalu siapa yang membantai seluruh penghuni Jit-sing-po?" .Tiraikasih Website http://kangzusi. tapi dia tidak berbuat demikian..” Hampir melotot keluar biji mata Wi-to-hwecu. apakah betul kenyataan? Betulkah ayahnya begitu jahat? Sungguh peristiwa tragis yang belum pernah ada duanya di jagat ini..

saudara muda!" "Tak berani." "Tadi Hwecu bilang keturunan Siangkoan Hong ditinggal dalam Jit-sing-po?" "Menurut dugaan waktu itu." Ji Bun mengertak gigi." sahut Ji Bun. "Hwecu silakan.com/ "Entah. tertua dari Pat-ciang itu?" "Setelah dia melepas pergi Siangkoan Hong." "Lalu siapa yang membunuh Ji-pocu di jalan raya menuju Kayhong?" "Juga tidak diketahui." Wi-to-hwecu berdiri." "Apakah hari ini Cayhe bisa berhadapan langsung dengan Siangkoan Hong?" "Tentu boleh." Tiba-tiba Ko Ling-jin melangkah masuk memberi hormat serta memberi lapor: "Perjamuan sudah siap. katanya: "Lalu kemana Ciu Tay-lian. tiada yang tahu.Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya: "Silakan. Namun belakangan setelah diselidiki baru diketahui orok yang baru lahir itupun sudah dibunuh. jejaknya pun tidak diketahui.” .

com/ "Baiklah. yang terpikir hanyalah cara bagaimana nanti dia harus menggunakan Ngo-lui-cu. Siu-yan Suthay. Situasi amat menguntungkan dirinya. supaya tiada satupun diantara hadirin yang lolos dari reng¬gutan maut. Bu-cing-so dan Siang-thianong duduk paling bawah. namun hal ini tidak sempat dipikirkan lagi. Perjamuan ini terdiri atas dua meja. Begitu Ji Bun dan Hwecu tiba. Sebutir Ngo-lui-cu cukup berkelebihan untuk menghancurkan gardu ini beserta seluruh isinya. paling atas adalah Wi-to-hwecu. Sementara Thong-sian Hwesio dan Siu-yan duduk menyendiri di meja lain yang lebih kecil. Jay-ih-lo-sat dan jago-jago Wi-to-hwe yang lain sama hadir kecuali orang dalam tandu yang tidak tampak bayangannya." Perjamuan diadakan di sebuah gardu besar di luar ruang tamu yang terbuka.Tiraikasih Website http://kangzusi. Diam-diam Ji Bun meraba-raba dan sukar menebak maksud Wito-hwecu mengumpulkan jago-jagonya dalam perjamuan ini. Thong-sian Hwesio. maklumlah mereka orang beribadat. Seketika pula jantungnya berdebur keras. Bucing-so. Diam-diam Ji Bun bersyukur bahwa Thian agaknya akan memenuhi keinginannya. sekarang persoalan hanya terletak pada keselamatan dirinya sendiri. mari bersama saja. . Sekilas pandangan Ji Bun menyapu para hadirin. semua hadirin segera berdiri menyambut. Jay-ih-lo-sat berhadapan dengan Ji Bun. hidangan mereka berbeda dengan hidangan di meja sebelah sini. Siang-thian-ong. Ji Bun duduk di tempat tamu.

Kalau kesempatan ini lenyap. Kalau mereka mati penasaran.com/ namun cara bagaimana dirinya harus membebaskan diri? Pura-pura minta diri meninggalkan perjamuan lalu melemparkan Ngo-lui-cu? Tapi semua hadirin adalah bangkotan silat yang memiliki kepandaian tinggi. arti penuntutan balas ini dirasakan kurang setimpal. juga menyangkut keselamatan jiwa ibundanya. . supaya musuh mati tanpa penasaran. Yang terpenting sebelum turun tangan. Dia insaf harus segera berkeputusan dan bertindak. namun pikiran Ji Bun masih tenggelam dalam keraguan. menyesalpun sudah kasep. tapi untuk selanjutnya juga tiada kesempatan sebaik hari sekarang ini. Hal ini akan menimbulkan curiga pihak lawan. Tapi ibunya masih berada dalam cengkeraman orang. semua ini bakal menggagalkan usahanya. Namun demikian. Hwesio gede ini adalah pembunuh ayahnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. ia ragu dan serba salah. ibu beranak takkan berjumpa lagi. bukan saja merupakan penuntutan balas bagi para korban. lalu bagaimana nasib ibunya kelak? Dia tidak berani melirik ke arah Thong-sian Hwesio. Kalau dirinya mati. apa pula resiko yang harus dihadapinya? Beberapa cangkir arak sudah dihabiskan. Gugur bersama musuh merupakan kesuksesan dalam menuntut balas ini. Sedikit lena dan gerak-geriknya kurang wajar pasti akan menimbulkan curiga pihak sana. Menurut apa yang dikatakan laki-laki tak dikenal. Sukses atau gagal usahanya ini. dia harus memperkenalkan diri. Dia kuatir kalau terlalu banyak mengawasi musuhnya ini takkan kuasa mengendalikan emosinya lagi.

Diam-diam ia sudah berkeputusan. kurus dan pucat seperti sekuntum bunga yang sudah layu. sekali dia melemparkan Ngo-lui-cu. Sesosok bayangan merah secara diam-diam memasuki gardu tanpa bersuara dan duduk di samping Siu-yan Suthay. Hanya beberapa hari. ia sudah bertekad. tiada yang buka suara. dia bukan lain adalah Pui Ci-hwi.com/ Perjamuan ini berlangsung dalam suasana tenteram. hanya suara beradunya mangkok piring dengan sumpit. akibat apa yang bakal terjadi. segera ia buka suara: "Hwecu. Ji Bun meliriknya sebentar. tiada seorangpun yang hadir ini akan ketinggalan hidup. Tiba-tiba dia sadar telah melalaikan suatu hal. Setiap orang persilatan yang berjiwa ksatria selamanya siap menghadapi kematian. dan manusia adalah makhluk yang punya daya pikir dan punya reaksi . "sebentar lagi dia pasti datang. Apakah tiba saatnya dia harus turun tangan? Terasa sesuatu tekanan yang amat berat seperti menindih sanubarinya sehingga dia sukar bernapas. mati hidup sendiri bukan soal lagi. kelihatan dia sudah banyak berubah." Perhatian seluruh hadirin serta merta tertuju kepada Ji Bun. hanya boleh sukses pantang gagal. Beberapa kejap lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi. Namun dia anggap sepi dan tak acuh. hatinya bertambah mantap. Dia tidak berani membayangkan. Tapi betapapun dia adalah manusia. agaknya masih ada seorang tamu terhormat yang belum hadir?" "Siangkoan Hong maksud saudara muda?" Hwecu menegas. segalanya bakal lenyap tak berbekas lagi. jiwa seorang akan bertambah jadi korban dalam gardu ini. laksana anak panah sama diarahkan dirinya.

orang tua di bawah jurang Pek-ciokhong. Mendidih darah dalam tubuh Ji Ban. Biau-jiu Siansing.. Lama sekali Ji Bun mengawasi muka Wi-to-hwecu tanpa bersuara. menghadapi detik yang menentukan ini. namun mempunyai jiwa luhur.. Tak heran selama ini dirinya disambut sebagai tamu terhormat. ibunya tidak keruan paran. .. Mendadak Wi-to-hwe-cu berdiri serta berkata: "Saudara muda. Thian-thay-mo-ki yang lahirnya genit dan cabul. Bayangan orang-orang ini satu persatu timbul dalam benaknya. mimpi juga tidak pernah pikir olehnya bahwa Hwecu yang misterius ini adalah duplikat Siangkoan Hong..com/ tajam. timbul berbagai bayangan yang berbeda dalam benak Ji Bun. segera tertampak seraut wajah yang bopeng sebelah dihiasi codet yang buruk sekali. Khong-koklan So-yan yang bertempat tinggal di gedung setan di kota Cinyang.. nah. inilah Siangkoan Hong telah datang!" Sembari bicara tangannya mengusap ke muka sendiri. Ayahnya meninggal secara mengenaskan. Jit-sing-ko-jin. kau inikah Siangkoan Hong?" "Ya!" sahut Wi-to-hwecu alias Siangkoan Hong sambil duduk kembali. Ciang Wi-bin ayah beranak yang punya tekad dan perhatian serta menaruh harapan terhadap dirinya.Tiraikasih Website http://kangzusi. dengan terkejut ia berjingkrak seraya berteriak: "Kau .

Sudah tentu pertanyaan Siangkoan Hong harus ia jawab dulu sebelum bertindak. semua hadirin sama dijalari nafsu membunuh. hal ini diketahui oleh semua hadirin dan tidak ambil peduli. keturunan Ji Ing-hong. Hadirin yang lain juga ikut berdiri. .Tiraikasih Website http://kangzusi.. Siapa Pembunuh Te-gak Suseng? Wi-to-hwecu berjingkrak berdiri.. katanya: "Aku bernama Ji Bun. adalah keturunan Ji lng-hong?" 11." "Kau . tahu-tahu tangannya sudah menggenggam Ngolui-cu. sekarang silakan terangkan asal usulmu. maka ia meninggalkan tempat duduknya." Karena meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu. tangan kiri Ji Bun amat beracun.33. Tapi tangan kirinya itu pelan-pelan dijulurkan keluar dari lengan bajunya yang kosong melambai. Suasana seketika memuncak tegang. selama ini disembunyikan di dalam lengan baju.. "cerita tentang Siangkoan Hong sudah tamat. mukanya kaku dingin dan penuh nafsu liar. sorot matanya tetap tertuju kepada muka Siangkoan Hong tanpa berkedip. Orang lain belum tahu dan tidak soal." kata Wi-to-hwecu alias Siangkoan Hong dengan suara berat.. "Saudara muda.com/ Pandangan hadirin yang tajam semua tertuju kepadanya pula. karena sekejap lagi semuanya bakal berakhir. Ji Bun seperti tidak merasakan sama sekali.. namun Ji Bun sendiri amat tegang sampai telapak tangannya basah oleh keringat dingin.

kalau tidak kenapa harus mengaku. jadi bukan soal berani atau tidak. Ji Bun buka suara "Taysu. "siapa bilang?" "Kabarnya demikian." "Omong kosong.” "Katakan saja!" "Kabarnya kematian ayahku dan seorang berkedok lain adalah buah karya Taysu?" Seketika mencorong sinar mata Thong-sian Taysu. dalam keadaan seperti ini hanya gugur bersama musuh. mata orangpun sedang menatap dirinya. "Pinceng pembunuhnya maksudmu?" desisnya.com/ Sudah tiada pilihan lain bagi Ji Bun. sudah tentu semua hadirin tidak tahu bahwa elmaut sudah diambang pintu. "Taysu tidak berani mengaku?" "Kalau benar harus diakui." teriak Thong-sian.Tiraikasih Website http://kangzusi. Agaknya perjamuan yang diadakan Wi-to-hwecu ini memang ada sangkut pautnya untuk membongkar kedok dirinya. siapa yang bilang Taysu tidak perlu tahu. Tanpa jeri mata Ji Bun melirik ke arah Thong-sian Hwesio. tangan kiri yang menggenggam Ngolui-cu sampai gemetar." . Pokoknya ada saksi. ada sebuah hal mohon petunjukmu.

" bentak Siang-thian-ong." sela Wi-to-hwecu. jangan memaki orang... kau sedang mimpi di siang hari? Soal menuntut balas kau salah alamat... "memangnya kau pandang Lohu sama dengan Ji Ing-hong.. kau sendiri harus mawas diri dan merasa malu. "apa tujuanmu?" "Menuntut balas!" Ji Bun mengertak gigi.. bicara sakit hati." "Tutup mulutmu!" bentak Ji Bun. kau justeru sasaran Hwecu untuk menuntut balas atas perbuatan bapakmu . jengeknya: "Semua yang hadir ini ikut membantai penghuni Jit-sing-po bukan?" "Kentutmu busuk. . Suara Siang-thian-ong yang berat laksana geledek berkata: "Anak muda." damprat Ji Bun.com/ "Tapi tuduhan ini betulkan?" "Tidak!" "Ji Bun." bentak Siu-yan Suthay bengis dan kereng. tiada kesempatan lagi bagimu bicara disini . "Ji Bun. manusia srigala yang kejam itu?" "Tua bangka.Tiraikasih Website http://kangzusi. apalagi kau mempunyai ayah durjana...." Ji Bun mendengus berat. "Mengingat kau pernah menolong jiwa Hwecu.

" ujar Siu-yan Suthay. "Kalau kami pandang kau sebagai musuh. "Sahabat muda." sahut Ji Bun. " "Tidak perlu!" teriak Ji Bun beringas." "Ji Bun." demikian Bu-cing-so memenyelutuk. jiwanya sudah lama kuhabisi." "Cayhe sudab cukup membedakannya.com/ Saking marah rambut ubanan Siang-thian-ong yang jarang sampai berdiri. dengan cara apa kau hendak menuntut balas?" . kalau tempo hari aku sudah tahu siapa dia sebenarnya. "kau pernah menolongku." ujar Wi-to-hwecu. agaknya dia sudah tak sabar lagi. "Laki-laki sejati putus hubungan tidak akan mengeluarkan katakata kotor.Tiraikasih Website http://kangzusi. utang piutang kedua pihak sudah lunas sejak kini. sekarang kusilakan kau turun gunung. tapi juga cukup menakutkan. "Ji-sicu. Sudah tentu badannya yang serba buntak tambun itu kelihatan lucu dan menggelikan. buat apa aku menolongnya. "Kau menghapus kenyataan. jelas kau tiada kesempatan mengundurkan diri. membual hendak menuntut balas segala. kau percaya tidak? Tahukah kau kenapa selama ini Siangkoan Hwecu bersabar dan menyembunyikan diri saja?" "Tidak perlu tahu. kau harus membedakan salah dan benar.

siapakah yang kebal terhadap racun di tangan kirinya. tiada orang atau sesuatu yang dapat mengubah lagi nasib semua hadirin? Pada detik-detik yang gawat sebelum Ji Bun sempat menjatuhkan Ngo-lui-cu. teriaknya kalap: "Utang darah bayar dengan darah!" Diam-diam genggaman tangannya kiri semakin mengencang. tiba-tiba terasa oleh Ji Bun lengan kirinya kesemutan dan mengejang. pasti tiada seorangpun di antara hadirin yang selamat. Seluruh tenaga yang dikerahkan seketika lenyap. gadis jelita yang pernah menjadi pujaannya. serasa sukma meninggalkan raganya. Kejut Ji Bun luar biasa. bumi terasa bergunjing. Ngo-lui-cu tahu-tahu sudah terlepas dari genggamannya. lengan kirinya lantas menjulur lemas ke bawah.Tiraikasih Website http://kangzusi. Waktu matanya bentrok dengan pandangan Pui Ci-hwi. serta merta timbul perasaan dalam sanubarinya. pikirannya menjadi hampa dan kabur. Kini tibalah saatnya dia turun tangan. . Dengan tatapan beringas dia menyapu pandang muka seluruh hadirin.com/ Ji Bun terdesak dan nekat. sehingga segala usahanya menjadi gagal total? Dalam sekejap itu. Lebih celaka lagi. nasib sering mempermainkan setiap orang. tidak boleh ragu-ragu. kalau dia lemparkan Ngo-lui-cu di tengah perjamuan ini. Kehidupan manusia di dunia fana ini memang tiada yang abadi. Mendadak ia keluarkan tangan kiri serta teracung ke atas. kini juga akan gugur bersama. Ji Bun merasa kepala berat dan mata berkunang.

Tahu-tahu dalam gardu bertambah seorang nyonya muda. benci dan murka dan kaget hati Ji Bun. meski berdiri tidak bergerak. seketika ia melenggong. wajah nan cantik membesi geram. Tangannya tengah menimang-nimang Ngo-lui-cu. Padahal sejak kapan nyonya muda ini berada di beiakangnya. waktu dia berpaling. Sungguh menyesal. akhirnya Siang-thian-ong yang bersuara: "Ngo-lui-cu!" Serta merta pandangan hadirin berbalik ke arah Ji Bun yang berdiri bagai patung. segalanya sudah berakhir. sepasang matanya yang bening bersih mempesona menyorotkan sinar terang. pakaian yang dikenakan berwarna serba merah. begitu kereng dan penuh wibawa nyonya muda ini. namun tiada orang yang berani mengawasinya lamalama. Pandangan seluruh hadirin tertuju kepada nyonya muda ini.com/ Sekali sapu ia tendang meja kursi terus melompat mundur. begitu molek dan rupawan sampai Ji Bun tidak berani menatapnya terang-terangan. sama sekali tidak diketahuinya. segera ia memberi hormat padanya serta menyapa: "Sejak kapan Siancu tiba?" . tak ubahnya seperti puteri raja. Bu-cing-so berdiri paling dekat dengan nyonya muda ini. Kalau sejak tadi dia turun tangan. Hening lelap sekian lama.Tiraikasih Website http://kangzusi.

puteranyapun srigala. "agaknya memang sudah kehendak Thian!" Siancu? Siapakah dia? Ji Bun bertanya-tanya dalam hati. seharusnya bernama Siangkoan Ci-hwi.. karena dia puteri kandung Siangkoan Hong. “Darimana Siancu tahu . serunya: "Ayahnya srigala. Lalu dia membalik tubuh dan mengundurkan diri. Siang-thian-ong menggeram bagai guntur menggelegar.Tiraikasih Website http://kangzusi. mana boleh diantapi hidup di dunia ini.. Nyonya muda baju merah segera memotong: "Seorang yang mempunyai sesuatu rencana jahat. jika menghadapi situasi yang menegangkan dan tetap tidak tergoyahkan pendiriannya." tanya Bu-cing-so... menjerit pelahan terus menubruk ke dalam pelukan nyonya muda itu.. suaranya merdu nyaring bagai kicau burung kenari." Beberapa patah kata ini membuat seluruh jago-jago silat yang hadir sama merah mukanya. agaknya kalian lalai dalam hal ini." Ji Bun tersentak sadar dari kejut yang membuat pikirannya butek. Tiba-tiba Pui Ci-hwi.com/ "Baru saja." sahut nyonya muda baju merah. itu berarti dia sudah nekat dan bertekad gugur bersama musuh. masuk lewat pintu bundar yang ada di arah kiri sana. Mendadak ia menyadari keadaan dirinya yang serba kepepet dan . Nyonya muda baju merahpun lantas memeluknya.

gempuran hebat ini semuanya mengenai tempat kosong. meski harus menemui ajal dia tetap berjuang sampai titik darah terakhir. darah menyembur dari mulutnya. dengan niat gugur bersama musuh. Ji Bun insaf usahanya sudah gagal dan entah nasib apa yang akan menimpa dirinya. Tanpa bicara mendadak dia menubruk ke arah Siangkoan Hong. Pertama kali Ji Bun merasakan kekuatan dan kehebatan Sian-thian-cin-khi. Setelah menyeka darah diujung mulutnya. Tapi secara refleks Wi-to-hwecu angkat sebelah tangannya menangkis. disusul suara gerungan rendah. namun hanya terlambat sedetik saja. namun dia pantang menyerah. tampak Ji Bun terpental balik menumbuk dinding malah. Berubah air muka Wi-to-hwecu. tangannya membelah ke arah Bu-cing-so yang . "Blang". dia lupa bahwa Ji Bun menyerang dengan tangan beracun yang bakal mencabut nyawanya.com/ nasib apa yang bakal menimpa dirinya. begitu keras benturan ini sampai gardu itu terasa guncang. suara bentakan dan hardikan saling susul. Yang menolong Siangkoan Hong ternyata adalah Thong-sian Hwesio.Tiraikasih Website http://kangzusi. siapapun yang disergap begini pasti akan kelabakan. mendadak lagi. beberapa gelombang angin pukulan sekaligus menerjang secara beruntun dengan dahsyat. beruntun dia lancarkan serangan dengan Bu-ing-cui-sim-jiu. Gerak tubrukannya ini secepat kilat. Hampir dalam waktu yang sama. yang lainpun ikut pucat dan beringas. Tapi segera tubuh Ji Bun terpental balik dan terhuyung hampir roboh.

kelihatan kebutan tangan ini menimbulkan segulung angin lunak. Setelah melancarkan serangannya. tapi begitu Ji Bun keterjang. Bu-cing-so melayani secara tergesa-gesa dan keripuhan. semua perabot yang ada di dalam gardu sama tersapu porak peronda. namun sejak mendapat saluran Lwekang orang tua aneh di jurang Pek-ciok-hong. Bagai diterjang badai mengamuk seketika badan Ji Bun terpental terguling-guling di luar pekarangan dan tak mampu bangun lagi. Walaupun dia sudah terluka. kecuali Thong-sian Hwesio.com/ berdiri paling dekat. "Omitohud!' ditengah sabda Thong-sian yang bergema itu telapak tangannya cepat mengebut. Di tengah bergolaknya angin pukulan yang menderu. lukanya bertambah berat. Segulung angin lembut dan kuat segera menerjang Ji Bun.Tiraikasih Website http://kangzusi. darah menyembur semakin banyak. teriaknya beringas: "Aku tak kuasa mengkerumus daging kalian. tiang gardu juga berguncang seakan-akan ambruk. pelan-pelan dengan menahan sakit Ji Bun merangkak bangun. keruan ia terdesak mundur hingga keluar gardu. Orang-orang di dalam gardu serempak memburu keluar dan mengurungnya di tengah. Ji Bun tidak pedulikan hasilnya. maka dapatlah dibayangkan betapa dahsyat serangan yang nekat dan siap adu jiwa ini. kekuatannya kini tiada orang lain yang mampu menandinginya. sigap sekali dia putar tubuh terus menubruk ke arah Wi-tohwecu. matipun aku akan mencabut nyawa . Setelah mengatur napas. baru terasa kekuatannya ternyata bukan kepalang hebatnya.

si cebol tua paling berangasan.com/ kalian!" Betapa tebal kebencian yang terkandung dalam sumpahnya ini. badannya yang buntak tambun seperti bola menggeser maju. kupingnya mendenging. "Plak.Tiraikasih Website http://kangzusi. untuk berkelitpun sudah tak kuasa lagi. mukanya pucat pias seperti kertas. Siang-thian-ong. beruntun tiga kali baru dia berhasil berdiri dengan langkah sempoyongan dan badan limbung. sementara Ji Bun roboh terguling lagi. jangan dibiarkan hidup merajalela di dunia ini. Pandangan Ji Bun berkunang-kunang. tapi tersungkur jatuh. tahu-tahu Wi-to-hwecu maju menahan pukulan Siang-thian-ong. telapak tangannya sebesar kipas terus mengepruk. orang-orang yang mengelilinginya sama merasa jeri dan ngeri. terpaksa dia terima ajal saja. Namun dia berusaha bangun. Bayangan berkelebat." Di tengah bentakannya. sekuatnya dia himpun sisa kekuatannya untuk menangkis. bentaknya. . darah tambah deras menyemprot dari mulutnya. "Anak keparat ini memang berwatak srigala. katanya: “Harap berhenti dulu!" Dengan bersungut gusar Siang-thian-ong mundur ke belakang. Mendelik liar mata Ji Bun. Siang-thian-ong menggerung seperti banteng ketaton. jangan kata melawan." Siang-thian-ong menggelinding balik. badannya yang bundar tiba-tiba membal ke atas. pukulannyapun melanda ke arah Ji Bun.

katanya dengan tegas: "Siangkoan Hong. katanya: "Ji Bun. aku bersumpah akan menuntut balas kepadamu. ." Ko Ling-Jin mengiakan. kembali ia meronta bangun melanjutkan perjalanan dengan jatuh bangun. Setelah fajar menyingsing baru jalan pegunungan itu dilaluinya." "Terserah!" ujar Wi-to-hwecu. perjalanan yang biasanya hanya ditempuh setengah jam. Hanya dendam dan kebencian saja yang mempertahankan dirinya. seperti orang yang baru sembuh dari sakit lama. Akhirnya ia tersungkur roboh di pinggir jalan. waktu itu sudah kentongan kedua. kalau bertemu lagi. kalau tidak mungkin dia sudah tidak sanggup angkat kaki. antar dia turun gunung. Dengan tatapan penuh dendam dan kebencian Ji Bun tatap setiap orang yang hadir.com/ Wi-to-hwecu langsung mendekati Ji Bun. Rebah telentang kira-kira semasakan air. lalu dia berpaling dan berseru kepada Ko Ling-jin yang berdiri jauh di belakang sana: "Kocongkoan. hari ini kau tidak membunuhku. Ko Ling-jin mengikuti di belakangnya. kali ini kubebaskan kau turun gunung. langkah Ji Bun turun naik sambil menahan derita luar biasa." Ji Bun tenangkan diri. lalu dengan langkah sempoyongan beranjak keluar. Setelah keluar dari benteng terdepan. Seorang diri Ji Bun turun dari Tong-pek-san. Tiada yang dipikirkan. selanjutnya masing-masing pihak tiada utang piutang. kini harus empat jam. tak tertahan lagi ia merintih-rintih. Ko Ling-jin segera kembali.Tiraikasih Website http://kangzusi. aku pasti membunuhmu.

" . selangkahpun ia tak kuasa lagi berjalan. kalau tidak lekas diobati. Maka sambil merangkak dan meronta dia merayap memasuki hutan.Tiraikasih Website http://kangzusi. kelak pasti masih ada kesempatan." "Siapa dia? Mana Ngo-lui-cu itu?" "Direbut nyonya muda itu. Ji Bun sadar bahwa luka dalamnya amat parah.com/ Terasa sekujur badan sakit sekali seperti habis digebuki. dengan tertawa getir ia menggumam: "Beruntung tidak mati. “Apa gagal? Bagaimana bisa gagal?" "Digagalkan seorang nyonya muda berbaju merah." Sekonyong-konyong sebuah suara yang cukup dikenalnya berkata: "Te-gak Suseng bagaimana hasilnya?” Sekuatnya Ji Bun angkat kepala. mungkin bisa mendatangkan bahaya bagi jiwanya." "Bagaimana kau bisa meloloskan diri?" "Mereka melepas aku pergi. kalau tidak mana aku bisa gagal. "Gagal total. akhirnya ia duduk di bawah pohon." sahut Ji Bun menyengir. tulangtulang sama nyeri. laki-laki tak dikenal yang memberikan Ngo-lui-cu itu tahu-tahu sudah berdiri di depannya.

sahutnya gusar: "Kau hendak mengorek keteranganku?" "Aku harus memberi laporan." Hampir pecah dada Ji Bun laksana dipukul godam. kenapa?" "Apa pernah menolong jiwa Wi-to-hwecu. Kau sudah tahu wajah aslinya?" "Sudah.. tapi majikanmu . mendadak dia berdiri. pergilah ke alam baka saja." "Sejak kini kau sudah bermusuhan dengan Wi-to-hwe?" "Memangnya perlu omong lagi?" "Kau ingin bertemu dengan ibumu bukan?" "Sudah tentu. katanya menyeringai: "Majikanku sudah berpesan.” Bertambah tebal nafsu membunuh laki-laki tak dikenal. serunya: "Apa maksudmu?" .." Memancar sinar terang yang mengandung nafsu membunuh dari mata laki-laki tidak dikenal. dia itulah Siangkoan Hong..Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya dingin: "Kau.. pernah menolong jiwanya?" Ji Bun mengatur napas.com/ "Lho. kalau kau ingin bertemu dengan ibumu. dia utang budi kepadaku.

hanya mengerang lirih Ji Bun tak bergerak Iagi. ini memang sudah nasibmu." "Kau akan bertemu dan melihatnya di alam baka." .. sambil menggerung gusar dia menubruk ke arah laki-laki tak dikenal. kalau gagal hanya kematianlah yang harus kau tempuh. daun-daun kering menjadi basah oleh darahnya. badannya yang menubruk itu seketika tersungkur kaku tak bergerak lagi. sungguh diluar dugaan tahu-tahu dua titik air mata meleleh dari uiung matanya. napas: "Demi aku yang hidup.com/ "Kalau berhasil. anak dan ibu akan kumpul kembali. maka kau harus mati. jangan salahkan aku. Setelah terbukti jantungnya berhenti bekerja. katanya menghela.Tiraikasih Website http://kangzusi." Mendidih darah Ji Bun. darah merembes dari mulut dan hidungnya. tidak bisa tidak aku harus membunuhmu. desisnya mengertak gigi: "Siapa sebetulnya majikanmu? Bagaimana keadaan ibuku." Tangan terangkat terus menggablok punggung Ji Bun." Ji Bun menyurut mundur membelakangi pohon. Laki-laki tak dikenal berjongkok memeriksa urat nadi dan pernapasan Ji Bun. Rasa sakit yang luar biasa seketika membuat pandangannya gelap. Laki-laki tak dikenal itu menggumam: "Jangan salahkan aku. luka-lukanya seketika kambuh. Karena mengerahkan hawa murni dan menyerang dengan kalap.

dua bayangan orang berlari mendatangi memasuki hutan itu. Nyonya berkedok itu berkata: "Kau tahu pasti kalau dia pernah kemari?" Gadis cantik itu mengiakan. sinarnya menembus daundaun pepohonan menyinari pusara baru ini. Di tengah helaan napas laki-laki tak dikenal itu terus putar badan dan pergi." "Budak bodoh.com/ Habis berkata. Setelah membunuhnya. Te-gak Suseng Ji Bun sudah bersemayam dalam tanah ini untuk selamanya? Menjelang tengah hari.Tiraikasih Website http://kangzusi. Dicarinya sebuah batu besar. seorang lagi adalah gadis cantik. sehingga kau justru menujui dia?" "Suhu luluskanlah keinginan murid. tak diketahui usianya. dengan telapak tangannya yang kuat dia menggali liang lahat terus menggotong Ji Bun dan direbahkan telentang dalam lubang serta menguburnya. kenapa menghela napas? Kenapa menangis pula? Siapakah sebetulnya laki-laki tidak dikenal ini? Sang surya sudah tinggi di cakrawala. "Memangnya laki-laki dikolong langit ini sudah mampus seluruhnya. seorang adalah nyonya baju hijau yang mengenakan cadar. diatas batu dia mengukir "Tempat abadi Te-gak Suseng". ada permusuhan apakah dia dengan Wi-to-hwe?" .

memangnya siapa musuhnya?" "Siapa lagi kalau bukan orang-orang Wi-to-hwe?" "Budak.. seketika dia memekik keras: "Dia . setelah melihat tulisan diatas nisan mulutnya mengerut: "Agaknya betul dugaan budak ini. murid hanya kuatir dia dibunuh oleh gembonggembong silat durjana itu. Heh?" Cepat dia lari mendatangi.. pecah tangisnya dengan sedih." "Ah. cara bagaimana kau akan menuntut balas?" ... Tak lama kemudian nyonya berkedok telah katanya keras: "Ada apa gembar gembor . Mendadak pandangannya tertuju ke sana...com/ "Entahlah. sementara si gadis mondar mandir. dia sudah mati!" Cepat dia menubruk maju dan mendekam di atas pusara Ji Bun dan jatuh semaput. Segera si gadis siuman dari pingsannya serta menubruk kedua kaki nyonya berkedok. aku masuk ke sana sebentar. menyebalkan. wah celaka!" dia melangkah maju mengebas Thian-in-hiat si gadis. Lama sekali baru si gadis menghentikan tangisnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. pada sebuah kuburan baru. Setelah dia melihat jelas. Tunggu di sini." nyonya berkedok masuk ke dalam hutan. Ia berdiri dan bersumpah dengan murka: "Aku akan menuntut balas!" “Menuntut balas.

kau ." "Yang sudah mati biarlah pergi.. pertanda dia belum lama mati.... Cici pasti akan menyusulmu di alam baka. aku bersumpah . sungguh tak nyana kita akan berpisah untuk selamanya .... menuntut balas kematianmu. hatinya luluh.." Si gadis mengertak gigi dan menghampiri pusara Ji Bun. kau tahu bagaimana keadaannya sekarang?" "Kuburan ini masih baru. dik.com/ "Dengan cara apapun. dia sudah meninggal.. cara yang paling keji.." "Nak... katanya sesenggukan: "Adik. kenapa kau mengusik jenazahnya . air mata bercucuran pula. memangnya kau sudah tidak ingat kepada gurumu lagi. mendadak ia angkat kedua tangannya menggempur gundukan tanah pusara. Lekas Nyonya berkedok menangkap tangannya... serunya: "Apa yang kau lakukan?" "Murid ingin melihatnya untuk terakhir kali. Siapakah dia? Ia bukan lain Thian-thay-mo-ki adanya.” .." Si gadis diam saja. tunggulah kedatanganku!" "Anak bodoh. istirahatlah dengan tenteram.. takkan lama lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi. Sekian lamanya dia melamun...

Di sini bukan tempat semayam yang cocok untuk dia..... Begitu melihat jenazah Ji Bun. Biarlah dia menangis sepuasnya untuk melampiaskan duka citanya... Dia adalah Thian-thay-mo-ki yang telah kembali. keadaannya sudah tidak menyerupai manusia. Jenazah digotong keluar serta dibaringkan di tanah berumput. katanya menghela napas: "Tuhan menghendaki dia berpulang. Sambil berlutut di depan pusara Ji Bun diam-diam dia berdoa dan mengheningkan cipta. dia tidak membujuk atau menghiburnya.." maka dia bekerja mengeduk tanah.. begitu sedih memilukan suaranya.com/ "Tapi . aku harus memindahkan dan menguburnya di tempat lain dengan cara yang memadai.. bibirnya kelihatan bergerak. Kejap lain mereka sudah berangkat menuju ke markas besar Wi-to-hwe... sesosok bayangan orang muncul dari balik hutan langsung menghampiri pusara Ji Bun. Nyonya berkedok diam saja. tanpa menghiraukan siapa orang di . orang itu menyobek pakaian dengan air yang ada disungai tak jauh diluar hutan sana. oh .. Tak lama setelah bayangan Thian-thay-mo-ki dan gurunya lenyap.. Dik!" Thian-thay-mo-ki menggerung-gerung sesambatan. Entah apa yang diucapkannya. Dalam keadaan seperti ini. dia membersihkan muka dan kaki tangan Ji Bun. Cukup lama baru tangis Thian-thay-mo-ki mereda.Tiraikasih Website http://kangzusi. bujuk dan hiburan akan percuma saja. anggaplah sebagai kewajiban seorang sahabat .. "Siapa di situ?" ditengah hardikan nyaring sesosok bayangan meluncur tiba.. apa boleh buat.

"Sahabat. Cepat sekali beberapa orang telah bermunculan pula.com/ depannya dan bagaimana jenazahnya bisa keluar dari liang kubur." `'Apa hubungan Ciang Wi-bin dengan dia?" . Mereka menyapu pandang ke arah jenazah Ji Bun lebih dulu. dengan alasan apa kau hendak memindah kuburannya?” “Karena aku pernah mendapat pesan seseorang untuk melindunginya. sebutkan namamu?" tanya Wi-to-hwecu kereng. serunya menuding Biau-jiu Siansing: "Apa maksudmu mengeluarkannya dari liang lahat?” "Jenazahnya akan kupindah dan kukubur semestinya. di belakangnya adalah Wi-to-hwecu. Thong-sian Hwesio dan empat laki-laki seragam hitam. "Cayhe adalah Thian-gan-sin-jiu!" ternyata si tabib kelilingan samaran Biau-jiu Siansing.Tiraikasih Website http://kangzusi. Lalu perhatian tertuju kepada orang yang mengeduk kuburan. yang terdepan adalah nyonya berkedok baju Hijau." "Omong kosong. segera dia mendekap jenazah Ji Bun serta meraung-raung. Mendadak Thian-thay-mo-ki berdiri.” "Pesan siapa?" "Ciang Wi-bin dari Kay-hong.

." "Siapa bilang?" "Aku yang bilang. siapapun bisa membunuhnya dengan gampang." kata si nyonya. "Tanpa ada perintah anak buahku takkan berani sembarangan turun tangan." Tiba-tiba Thong-sian menyelutuk: "Sicu ini kenapa begini kukuh. "Kalau bukan kau pasti anak buahmu." ." "Tak mungkin mana bisa .. waktu dia turun gunung sudah terluka parah." "Kau memang pandai mungkir dan berpura-pura." "Kau sendiri bilang.. lalu berkata bengis kepada Wi-to-hwecu: "Jenazahnya ada di sini.. nyata bukan?" "Siapakah yang membunuhnya?" tanya Wi-to-hwecu. belum lama ini dia pernah mengikat perjodohan dengan puteri Ciang Wi-bin di Kay-hong." "Dengan kedudukan dan pribadiku aku berani menjamin anak buahku pasti tiada yang berani berbuat di luar perintahku.Tiraikasih Website http://kangzusi..com/ "Ciang Wi-bin adalah mertuanya.” Nyonya berkedok angkat tangan mencegah Thian-thay-mo-ki bicara lebih lanjut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Gusar dan membentak nyonya berkedok: "Kau ini terhitung apa, berani bicara kepadaku!" Berubah hebat air muka Thong-sian, namun dia tetap sabar, katanya: "Pinceng pandang kau sebagai tokoh terkemuka Bu-lim .......” "Kau belum setimpal bicara soal ini." Betapapun sabar Thong-sian Hwesio juga menjadi gusar, matanya mendelik, katanya: "Sam-cai Lolo, harap kau tahu diri." "Kau minta aku tahu diri? Ha ha ha, sudah lama aku tidak membunuh orang .......” "Sicu mau bunuh orang? Sicu kira Sam-cai-cui-hun tiada bandingannya dikolong langit ini?" Sam-cai Lolo terkekeh, katanya: "Jika puluhan tahun yang lalu berani kau kurangajar padaku, sejak tadi kau sudah mampus." "Locianpwe," sela Wi-to-hwecu, "bicara dulu persoalan sekarang saja." "Nanti akan kubereskan dengan kau," bentak Sam-cai Lolo murka. Tiba-tiba dia gerakkan tangan kanannya, dengan jari-jari telunjuk, tengah dan manis, sama teracung menuding Thong-sian Hwesio, bentaknya bengis: "Kalau segera kau berlutut minta ampun, aku boleh ampuni jiwamu."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tanpa dihembus angin, jubah Thong-sian Hwesio yang longgar melambai-lambai, katanya tegas: "Biar Pinceng menyambut tiga jari sicu." Sam-cai Lolo menggereng gusar, ketiga jarinya teracung kearah samping, "ser, ser, ser!" tiba-tiba pohon sebesar pelukan tiga orang setombak di sebelah kiri sana bergetar, tiga lobang yang dalam menghiasi batang pohon yang besar itu. Kerena memakai kedok, bagaimana reaksi dan mimik muka Wito-hwecu tidak diketahui, namun sorot matanya nampak ngeri dan jera, anak buahnya sama merinding ketakutan. Memangnya siapa yang pernah melihat dan menyaksikan ilmu jari selihay ini, mendengarpun belum pernah. Hanya Thong-sian Hwesio tetap tenang-tenang dan adem ayem, agaknya dia tidak terkejut atau gentar sama sekali. "Hwesio cilik," kata Sam-cai Lolo, tak acuh dengan nada menghina, "bagaimana dirimu dibandingkan dengan pohon itu?"

12.34. Te-gak Suseng Hidup Kembali .....?? Usia Thong-sian sudah lebih setengah abad, namun dipanggil "Hwesio cilik” sungguh lucu dan menggelikan, namun dia tetap tenang dan berkata serius: "Sicu boleh turun tangan, kalau aku tidak kuat melawan, anggaplah Pinceng yang bernasib jelek."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Selama hidupku belum pernah kuhadapi kurcaci seangkuh kau, memangnya kau sudah bosan.” "Bukan bosan hidup, tapi aku yakin dapat melawan ilmu jarimu," demikian tantang Thong-sian malah. "Sambut jariku!" hardik Sam-cai Lolo, tiga larik sinar kemilau laksana kilat sama menyambar ke arah Thong-sian Hwesio. Thong sian berdiri tenang sekokoh gunung, bukan saja tidak melawan juga tidak berkelit. Terbelalak pandangan Wi-to-hwecu, berubah pula air muka Thian-thay-mo-ki, belum pernah dia melihat gurunya gusar dan menggunakan kepandaian mujijatnya ini. "Cres, cres, cres", desis suara yang berubah menjadi letupan keras beruntun tiga kali. Begitu sinar kemilau putih mengenai jubah Hwesio seperti menumbuk dinding baja saja, seketika pecah berderai keempat penjuru. Thong-sian Hwesio hanya tergetar mundur setengah tindak. "Sian-thian-cin-khi," seru Sam-cai Lolo terkejut. Thong-sian menarik ilmu saktinya, katanya tawar: "Sicu memang berpengalaman luas, memang tidak malu sebagai tokoh terkemuka Bu-lim." Pujian atau cemoohan, orang lain tidak merasakan perbedaannya, namun bagi pendengaran Sam-cai Lolo sungguh tidak karuan rasanya. Sejak seabad yang lalu dia sudah terkenal.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Sam-cai-sinkang selamanya belum pernah menemukan tandingan, di mana Sam-cai-ciat muncul, golongan hitam putih sama lari menyingkir. Sungguh tak nyana setelah puluhan tahun mengasingkan diri, hari ini sudah kecundang habis-habisan. Karuan gemetar sekujur badannya saking gusar dan malu, teriaknya melengking: "Budak, hayo pergi." Thian-thay-mo-ki melirik ke arah jenazah Ji Bun, katanya pilu: "Suhu ......." "Mau pergi tidak?" bentak Sam-cai Lolo. "Locianpwe tidak mempersoalkan sebab musabab kematiannya tanya Wi-to-hwecu dengan suara ramah. Tanpa bicara dan tidak melirik, tahu-tahu Sam-cai Lolo berkelebat menghilang. Thian-thay-mo-ki sudah angkat langkah menyusul ke sana. Tapi pada saat itulah, tiba-tiba Biau-jiu Siansing berteriak dengan suara aneh: "Lihat ..... dia ..... dia tidak mati." Thian-thay-mo-ki segera putar balik, teriaknya penuh emosi: "Dia tidak bisa mati, kenapa tidak terpikir sejak tadi olehku." Wi-to-hwecu dan lain-lain sama melenggong bingung, memang badan Ji Bun kelihatan bergerak-gerak seperti mengejang dadanya pun turun naik. Seseorang yang sudah mati dan dikubur masih bisa hidup kembali, sungguh kejadian yang aneh sekali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Mungkin karena terlalu senang, kaki Thian-thay-mo-ki sampai lemas dan mendeprok di tanah. Di antara tatapan semua orang yang serba aneh, kaget dan tidak percaya, pelan-pelan tapi pasti daya hidup Ji Bun pulih kembali. Sepeminuman teh kemudian, semua orang menanti dan menyaksikan dengan sabar, terdengar tenggorokannya berbunyi, dia kini betul-betul sudah hidup kembali setelah mati. "Terima kasih kepada Thian Yang Maha Kuasa, ini berarti jiwa seorang yang lain telah engkau selamatkan juga," demikian ujar Biau-jiu Siansing seorang diri. Siapakah jiwa seorang yang lain? Kata-katanya ini tidak menimbulkan reaksi apa-apa, karena perhatian semua orang tertuju kepada kejadian di depan mata yang aneh dan jarang terjadi ini. Kejadian mayat hidup sering terdengar dan diceritakan oleh orang-orang yang suka mendongeng, mayat hidup umumnya kaku, namun mayat yang mereka lihat sekarang ini adalah lemas dapat bergerak bebas seperti manusia biasa, bau mayat tidak tercium. Malah suara deru napasnya terdengar dengan jelas. Thian-gan-sin-jiu alias Biau-jiu Siansing segera berjongkok memeriksa denyut nadi Ji Bun. Teriaknya gembira: "Betul-betul hidup kembali, sungguh berbahaya, kalau bukan pikiranku ingin mengebumikannya di tempat lain, mungkin dia sudah mati betulbetul."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Tiba-tiba dia berputar ke arah Thian-thay-mo-ki dan bertanya: “Nona tadi bilang dia tidak akan mati dan seharusnya ingat akan hal ini ...... apakah maksud ucapanmu .......” Sudah terpentang mulut Thian-thay-mo-ki, namun dia urung bicara, ia geleng kepala tanpa menjawab. Biau-jiu Siansing angkat kepala, katanya kepada Wi-to-hwecu: "Hwecu tidak keberatan bila dia kubawa pergi bukan?" Wi-to-hwecu menoleh kearah Thong-sian Hwesio, Thong-sian Hwesio sedikit mengangguk, lalu Wi-to-hwecu berkata: "Boleh, tapi beritahu kepadanya, pihak kami sudah mengalah sejauh ini, kelak kalau bersua lagi, bergantung kepada nasibnya saja,” kembali dia pandang Ji Bun sebentar lalu ajak Thong-sian dan lain-lain pergi. Ji Bun merintih pelahan, namun kedua matanya masih terpejam, agaknya daya hidupnya masih terlalu lemah. Dengan penuh kasih sayang Thian-thay-mo-ki mengawasi dan menunggu perkembangan selanjutnya dia berdiri lalu berkata kepada Biau-jiu Siansing: "Tuan hendak membawanya pergi? Kenapa?" "Cayhe mendapat pesan dari seorang untuk melindunginya." "Kularang kau menyentuhnya. Aku sendiri yang akan merawat dia."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Nona," kata Biau-jiu Siansing tergelak-gelak, "ketahuilah, dia laki-laki yang sudah punya isteri dan keluarga?" Berubah air muka Thian-thay-mo-ki, desisnya dingin: "Berdasar apa kau berani berkata demikian? Apa pula buktinya?" "Ciang Bing-cu sudah berikan anting-anting pualam kepadanya sebagai tanda pertunangan." "Mungkin kau salah mengerti, hal ini kuketahui dengan jelas, hakikatnya dia tidak menaruh cinta kepada Ciang Bing-cu." "Mungkin nona betul, namun kejadian di dunia ini sering berubah. Nanti setelah dia siuman, boleh kau tanya dia." Kebetulan Ji Bun membuka mata, pandangannya pudar, biji matanya berputar dengan hambar agaknya belum sadar betul-betul. "Dik, adik," panggil Thian-thay-mo-ki iba. Lama sekali baru timbul perubahan pada air muka Ji Bun, akhirnya mulutnya bergerak, suaranya lirih bagai nyamuk: ''Aku ..... sudah mati?" "Tidak, Dik, kau tidak bisa mati, kau hidup kembali!" "Mana ..... laki-laki itu? Laki-laki yang turun tangan .... kepadaku." "Laki-laki? Siapa dia?''

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Cici, kaukah yang menolongku?" "Nanti saja dibicarakan, sekarang biar kubantu kau memulihkan tenaga." "Jangan ...... sentuh tangan kiriku." Bercahaya mata Biau-jiu Siansing, katanya: "Mengobati luka menyembuhkan sakit adalah keahlianku, biarlah aku saja yang membereskan." "Baiklah," ujar Thian-thay-mo-ki, "bikin repot kau saja." Pandangan Ji Bun beralih kepada Biau-jiu Siansing, tanyanya keheranan: "Kau juga berada di sini?" "Ji Bun," ujar Biau-jiu Siansing tertawa, "Kau .......” "Dia bernama Ji Bun?'' tanya Thian-thay-mo-ki matanya terbeliak. Biau-jiu Siansing diam saja, agaknya dia menyesal kelepasan omong membongkar asal-usul Ji Bun. Dengan penuh penyesalan Ji Bun pandang Thian-thay-mo-ki, katanya terus terang: "Cici, maafkan kerahasiaan ini sekian lama, adik memang bernama Ji Bun, putera tunggal Jit-sing-pocu Ji Inghong."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ “O,” tukas Thian-thay-mo-ki bersuara sekali, seperti hendak bicara lagi. Namun melihat keadaan Ji Bun yang lemah, dia urungkan niatnya, berhenti sebentar baru dia menambahkan: "Dik, biar kubantu pengobatan dirimu." "Nona," tukas Bian-jiu Siansing, “dia harus minum obat untuk menambah semangat .......” "Tidak usah," tukas Thian-thay-mo-ki ketus, tanpa menghiraukan reaksi Biau-jiu Siansing, dia berjongkok dan duduk di samping Ji Bun, telapak tangan menempel di Meh-kin-hiat Ji Bun, pelan-pelan hawa murni dia salurkan ke badan orang. Cara pengobatan seperti ini biasanya memang sering dilakukan oleh kaum persilatan. Ji Bun pejamkan kedua mata, dengan sisa tenaganya pelan-pelan iapun himpun hawa murni dan pusatkan tenaga, mukanya yang pucat pelan-pelan bersemu merah. Kira-kira satu jam kemudian baru Thian-thay-mo-ki berhenti dan menarik tangannya berdiri, wajahnya kelihatan pucat. Ji Bun buka mata dan bergegas berdiri, katanya tulus. "Cici, banyak terima kasih atas pertolonganmu." Thian-thay-mo-ki meleroknya sekali, katanya: "Terima kasih segala, aku tidak suka mendengarnya." "Ji Bun," timbrung Biau-jiau Siansing, apakah yang telah terjadi?" Ji Bun mengerut alis, katanya: "Apa yang kau ketahui?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Pengalamanmu sampai kau dikubur di sini." Mengawasi liang kubur dan batu nisan yang bertata nama julukannya, berkobar amarah Ji Bun. Dia tahu dengan pengalaman Biau-jiu Siansing yang luas mungkin tahu siapa majikan yang dikatakan laki-laki tak dikenal itu, maka dengan sabar dia mulai ceritakan pengalamannya. Dia menambahkan: "Tahukah kau siapa kiranya majikan orang tak dikenal itu?" "Kukira tidak mungkin, kecuali ......” Biau-jiu Siansing ragu-ragu. "Kecuali apa?" Sorot mata Biau-jiau Siansing menampilkan rona yang serba susah, dia menengadah mengawasi langit, lama sekali baru berkata dengan nada berat: "Liku-liku persoalan ini amat rumit, perlu waktu cukup lama untuk menyelidikinya." "Tuan tahu asal usul orang itu?" "Tidak tahu." "Tapi kau tadi bilang tidak mungkin kecuali .... apa maksudnya?" "Itu hanya dugaan, mungkin tidak cocok satu dengan yang lain." "Kurasakan kau tidak bicara sejujurnya." "Ji Bun, dalam waktu sebulan pasti kuberi jawabanku, bagaimana?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Apakah kau bisa menepati janji?" "Omong kosong," ujar Biau-jiu Siansing sungguh-sungguh, "begini saja, kau boleh ajukan persoalan ini kepada mertuamu Ciang Wi-bin." Tiba-tiba berubah air muka Thian-thay-mo-ki, selanya: "Dik, sejak kapan kau mengikat pernikahan dengan puteri keluarga Ciang?" Kikuk dan rikuh Ji Bun, sahutnya: Ah, tidak." "Ji Bun," kata Biau-jiu Siansing dingin, "seorang laki-laki harus menepati janji, mana boleh kau menjilat ludahmu sendiri?" Panas muka Ji Bun, katanya: "Berapa banyak persoalan yang tuan ketahui?" "Semua persoalanmu tidak seluruhnya kuketahui, namun delapan puluh persen kukira ada." "Dik, jadi hal itu memang benar?" tanya Thian-thay-mo-ki sedih. "Tidak!" sahut Ji Bun tegas. "Ji Bun, soal ini tiada sangkut pautnya dengan Lohu, namun kusaksikan sendiri dari kecil Bing-cu tumbuh dewasa, sekali-kali kau jangan menghinanya." "Menghina?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kau menerima anting-antingnya, pernah berjanji mengikat perjodohan pula bukan?" "Dia sendiri yang memberikan anting-anting, waktu itupun kuajukan syaratku." "Mana boleh dikatakan syarat, kau lupa janji dan ikatan kedua orang tua kalian." "Soal jodoh ini tidak ditentukan secara adat waktu itu, kan hanya secara lisan saja .....” "Memangnya apa maksudmu waktu kau berjanji dihadapan mertuamu?” "Janji apa?" "Kau berjanji begitu racun dalam tubuhmu bisa ditawarkan, segera kau akan menepati janji melangsungkan pernikahan, betul tidak?" "Benar, tapi kenyataan telah bicara, racun ini selamanya takkan bisa tawar." "Siapa bilang tidak bisa ditawarkan?" Tersirap darah Ji Bun, teriaknya: "Apakah ......"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Ya, Ciang Wi-bin sudah memperoleh cara untuk menawarkan racunmu, katanya, umpama dia harus mengorbankan segalanyapun tidak akan menyesal." Ji Bun diam, hatinya bergolak seperti ombak samudera yang mengamuk, terbayang olehnya betapa besar perhatian dan kasih sayang Ciang dan puterinya pada saat dirinya menghadapi jalan buntu, sungguh tidak ternilai .....” Pucat, muka Thian-thay-mo-ki, air mata tak tertahan bercucuran, katanya sedih: "Dik, semoga kelak ...... berjumpa lagi!" Dengan langkah cepat dia terus berlari pergi. "Cici!" teriak Ji Bun serta melesat ke sana mengejar, tapi sekali gerak Biau-jiu Siansing sudah menghadang di depannya, katanya: "Tak usah dikejar." "Apa tuan tidak keterlaluan mengurusi diriku?” semprot Ji Bun gusar. "Soalnya Lohu dipercayai orang untuk ......” "Cayhe tidak suka ada orang mencampuri urusan pribadiku." "Jadi kau mau ingkar janji?” "Siapa bilang?" "Baiklah, datanglah ke Kay-hong dan bicaralah secara langsung dengan mertuamu."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ji Bun tahu betapa besar dan murni cinta Thian-thay-mo-ki terhadap dirinya. Caranya berlari pergi dengan sedih dan putus harapan, tentu hatinya sangat menyesal. Akan tetapi dendam sakit hati keluarga belum terbalas, mati hidup sendiri susah di ramalkan, terutama tangan kirinya yang beracun pantang dirinya mendekati perempuan. Apakah pantas dirinya memperoleh cinta kedua orang gadis? Dengan tertawa getir dia merogoh keluar anting-anting pualam dari sakunya, katanya: "Tolong tuan kembalikan antinganting ini kepada paman Ciang, beliau pasti maklum akan kesulitan Cayhe." Biau-jiu Siansing melengak, tanyanya: "Kau sudah mendapat kembali anting-anting ini?" "Ya, dari tangan Kwe-loh-jin." "Ehm, tapi .... Lohu tidak berani mengurus soal ini. Dengan setulus hati dan cintanya yang sejati Ciang Bing-cu berikan antinganting ini sebagai tanda mata padamu, kini kau putuskan hubungan atau atau mau ingkar janji, kau harus bicara sendiri saja." Ji Bun jadi serba susah, kata-kata Biau-jiu Siansing mengetuk hati dan menusuk perasaannya. Terbayang olehnya betapa kasih sayang Ciang Bing-cu yang menungguinya semalam suntuk di kamar buku tempo hari, meladeninya dengan telaten, betapapun dirinya sudah pernah berjanji. "Ji Bun," ujar Biau-jiu Siansing, "Lohu peringatkan sekali lagi, untuk menyembuhkan tangan kirimu ini, siang malam Ciang Wi-bin

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ berusaha tanpa mengenal lelah, betapapun dia berusaha mencari obat pemunah racun tanganmu. Kini resep-resep obat yang dibutuhkan sudah mulai terkumpul, memangnya kau anggap sepele susah payahnya itu?" Ji Bun percaya apa yang dikatakan orang tua aneh di dasar jurang tentang ilmu beracun tangan kirinya memang takkan tawar kalau ajalnya belum tiba atau tangannya ini dibuntungi, bahwa sekarang Ciang Wi-bin katanya berhasil memperoleh obat penawarnya, ini sungguh diluar tahunya, karena tertarik, ia bertanya: "Resep apakah yang diperoleh paman Ciang untuk menawarkan racun tanganku?" "Lohu sendiri tidak tahu, kau tanya langsung padanya saja." Ji Bun tidak bertanya lagi, kini tak terpikir pula olehnya untuk menawarkan racun ditangan kirinya, hanya satu niat yang masih berkobar dalam benaknya, yaitu menuntut balas. Tangan kirinya yang beracun merupakan senjata ampuh yang menjadi andalannya, soal lain tidak pernah terpikir lagi. Tiba-tiba Biau-jiu Siansing unjuk rasa, heran, tanyanya: "Aneh, bagaimana kau bisa tidak mati?" Selama ini Ji Bun sendiri juga sedang bingung. Seingatnya belum pernah dia makan sesuatu obat mujarab apapun, tidak pernah meyakinkan suatu ilmu sakti. Namun beruntun dirinya pernah mati tiga kali, tiga kali pula dirinya hidup kembali dengan segar bugar. Kenapa hal ini bisa terjadi? Memang kejadian ini merupakan peristiwa aneh dan janggal.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sejak dirinya luka dan terpukul mampus oleh laki-laki tak dikenal terus dikubur, sedikitnya dirinya sudah mati selama satu jam. Manusia biasa tentu sudah mati terpendam tanpa bisa bernapas, masakah dirinya masih bisa hidup? Ataukah ada seseorang yang selalu menolongnya secara diam-diam? Lalu siapakah dia? Semakin dipikir semakin bingung dan pusing kepalanya, terasa kejadian ini sangat aneh dan mengerikan. Sebab apakah setelah dirinya mati bisa hidup kembali? Dengan bingung dia geleng-geleng kepala, katanya:"Cayhe sendiri juga tak tahu persoalannya.” Seperti ingat sesuatu, tiba-tiba Biau-jiu Siansing berkata: "Ya. sekarang Lohu ingat, pasti dia tahu seluk beluk persoalannya." "Dia?" tanya Ji Bun melenggong. "Siapa?" “Thian-thay-mo-ki, dia pernah bilang sesuatu, namun Lohu tidak perhatikan, kini kalau dipikirkan, pasti ada latar belakangnya ......” "Ada yang dia katakan?" "Dia bilang: “seharusnya aku ingat akan hal ini, dia tidak bisa mati." "O," kata Ji Bun, "apakah dia yang mengeduk Cayhe dari liang lahat?" "Bukan, Lohu yang mengeluarkan kau." "Kau yang mengeluarkan aku?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Ya, maksudku semula hendak memindah jenazahmu dan dikubur semestinya untuk memenuhi pesan Ciang Wi-bin. Tak nyana kau malah hidup kembali, sungguh kebetulan sekali, kalau bukan lantaran keinginanku itu, mungkin sekarang kau masih rebah di bawah tanah." Merinding Ji Bun dibuatnya, memang betul, kalau Biau-jiu Siansing tidak mengeduk dirinya, jiwanya pasti sudah tamat. Itu berarti dirinya utang jiwa padanya, lekas dia memberi hormat serta berubah panggilan: "Terima kasih atas pertolongan Cianpwe, kelak pasti kubalas kebaikan ini.” "Ah, sudahlah," ujar Biau-jiu Siansing tertawa lebar, "anggaplah ajalmu belum tiba, sehingga mengalami kejadian yang sangat kebetulan. Cuma secara tulus Lohu mengharap kau tidak menyianyiakan harapan keluarga Ciang kepadamu, terutama Ciang Bing-cu yang begitu besar dan murni cintanya padamu. Sejak kau menolongnya dari tangan orang-orang Cip-po-hwe, dia sudah bersumpah tanpa kau dia tidak akan mau kawin dengan laki-laki lain, umpama kau mati begini saja, kukira budak itu juga akan mencari jalan pendek." Tersirap darah Ji Bun, batinnya, betulkah begitu luhur dan murni cinta Ciang Bing-cu kepadaku? Kalau betul, cara bagaimana diriku harus menyelesaikan soal asmara ini? Lalu bagaimana pula dirinya harus bersikap terhadap Thian-thay-mo-ki. Teringat Thian-thay-mo-ki, pikirannya menjadi kalut, dia merasa utang budi atas pertolongannya beberapa kali. Iapun sudah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ meresapi betapa besar pula cinta orang terhadap dirinya. Sayang dia tidak senang melihat tingkah lakunya yang genit, sepak terjangnya tak ubahnya seperti perempuan jalang. Melihat Ji Bun melongo saja, Biau-jiu Siansing bertanya pula: "Ji Bun, soal menuntut balas, kuharap kau berembuk dulu dengan Ciang Wi-bin sebelum bertindak.” Ji Bun mengiakan dan manggut-manggut. "Sekarang boleh langsung kau pergi ke Kay-hong. Ingat, dalam satu bulan Lohu akan bantu kau menyelidiki siapa penculik dan musuh yang melukai kau, tiba waktunya nanti Lohu akan mencarimu lagi." "Cianpwe boleh silakan dulu." Biau-jiu Siansing geleng-geleng kepala, setelah menghela napas, dia melejit pergi. Pikiran Ji Bun masih kalut, hatinya risau, perasaannya campur aduk, entah benci, dendam, kecut atau getir .....” Dia masih mematung diam dikala sebuah bayangan tiba-tiba meluncur turun dihadapannya, ternyata Biau-jiu Siansing putar balik lagi. Ji Bun bertanya : "Ada petunjuk apa lagi Cianpwe?” "Maukah kau menutupi muka aslimu saja?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kenapa?” "Situasi sekelilingmu amat genting, keadaanmu sekarang amat berbahaya, banyak orang menghendaki jiwamu" "Maksud Cianpwe supaya aku menyamar?“ "Ya, disamping orang-orang Wi-to-hwecu, Kwe-loh-jin yang kau katakan sudah tiga kali membunuhmu, walau kurang jelas tujuannya, namun dia tetap tidak akan melepasmu. Bukan mustahil begitu kau muncul, kau akan mengalami pembokongan lagi. Kau di tempat terang musuh dipihak gelap. Untuk membongkar kedoknya jelas amat sulit, jalan baik untuk meluruskan usahamu, sekarang kuburan ini harus dikembalikan dalam bentuk semula, supaya dia tidak mengira kalau kau telah hidup kembali." "Tapi soal Wanpwe hidup kembali kan sudah diketahui dan disaksikan orang lain." "Itu tidak penting, tujuannya hanya untuk mengaburkan pandangan musuh saja, dan lagi setelah menyamar dalam bentuk lain, untuk selanjutnya nama Te-gak Suseng harus dihapus dari kalangan Kang-ouw. Carilah kesempatan dan menyelidiki, Lohu juga akan bekerja dari jurusan lain, mungkin dengan kerja sama kita akan berhasil membongkar kedoknya." Ji Bun berpikir sebentar, akhirnya menjawab: “Baiklah, kuterima usul Cianpwe."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Maka kuburan Te-gak Suseng kembali ditegakkan lagi.

12.35. Orang Desa Penagih Darah Biau-jiu Siansing keluarkan dua butir macam bundar sebesar kelengkeng, katanya: "Yang berwarna kelabu adalah obat untuk merias muka, gunakan air dan poleskan dimuka leher dan kaki tangan yang terlihat dari luar, kulit badanmu akan berubah. Sedang yang berwarna putih ini untuk pemunahnya atau untuk memulihkan bentukmu semula. Kulitmu yang sudah berubah warna, kecuali dipunahkan dengan obat aslinya, selamanya tidak akan luntur. Dan satu hal lagi harus kau perhatikan, setelah kulit wajahmu berubah, suaramu juga harus kau ganti supaya tidak konangan, dengan dasar latihan Lwekangmu, kukira bukan soal sulit untuk mengubah suaramu." "Soal kecil ini pasti dapat kulakukan," sahut Ji Bun. "Demikian pula dandananmu selanjutnya harus diganti, Lohu kebetulan membawa bekal pakaian, nah ambillah," Biau-jiu Siansing membuka peti obatnya, di lapisan paling bawah dia keluarkan seperangkat pakaian dan diberikan pada Ji Bun. Itulah satu stel baju dan celana katun warna biru, warnanya sudah luntur dan agak kumal. Bajunya malah sudah tambalan. Dalam hati Ji Bun membatin, dengan berdandan seperti ini entah berubah jadi apa bentuk dirinya ini ......”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Biau-jiu Siansing panggul peti obatnya, dengan menenteng dan membunyikan kelintingan dia beranjak pergi. Setelah ganti pakaian, Ji Bun memendam pakaiannya yang berlepotan darah, lalu pergi ke sungai di pinggir hutan untuk membersihkan badan. Obat rias bungkusan kelabu dia keluarkan lalu dicampur air sungai dan dipoleskan ke muka dan seluruh badan, kedua lengannya kini berubah coklat legam. Habis merias diri dia berkaca pada air sungai yang jernih. Seketika dia tertawa geli sendiri. Pelajar yang semula ganteng kini berubah jadi orang desa yang bermuka coklat legam, jangan kata orang lain, dia sendiripun tak kenal lagi pada wajahnya. Kini ke mana dia harus pergi? Ia melamun. Dendam kebencian berkobar pula dalam hatinya. Biau-jiu Siansing menyuruhnya pergi ke Kay-hong merembuk dengan Ciang Wi-bin, sakit hati keluarga mana boleh menyangkut jiwa orang lain. Apalagi musuh sehebat Thong-sian Hwesio, memang Ciang Wi-bin mampu menandinginya. Memandang jauh ke puncak Tong-pek-san di sebelah utara sana, darahnya yang bergolak serasa mendidih. Namun dia belum kuasa menuntut keadilan kepada orang-orang yang katanya menjunjung keadilan. Betapa derita dan tersiksa lahir batinnya sungguh sukar dibayangkan. Dengan hambar tanpa tujuan akhirnya dia keluar dari hutan menempuh perjalanan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Kini tugas dan kewajibannya bertambah besar, dengan munculnya nyonya muda berbaju merah di markas Wi-to-hwe. Dengan mudah orang merampas Ngo-lui-cu dari tangannya, jelas Lwekangnya lebih tinggi dari Thong-sian Hwesio. Serta merta dia bergidik. Sungguh dia tidak habis pikir, kenapa tokoh-tokoh silat kosen di jagat ini seolah-olah berkumpul di dalam Wi-to-hwe? Tengah ia berjalan, tiba-tiba dari sebelah atas sana terdengar bentakan: "Berhenti!" Ji Bun berhenti dan memandang ke sana, tampak tujuh orang berseragam hijau berjajar di sana, seorang pemimpinnya memegang sebuah panji kecil segi tiga dengan huruf "ronda" ditengah, agaknya mereka ini rombongan peronda dari Wi-to-hwe. Nafsu membunuh seketika bersemi dalam hati Ji Bun. Sikap pemimpin ronda ini ternyata cukup ramah, setelah mengawasi Ji Bun sekian lama baru menegur: "Orang mana kau?" Untuk menghabisi nyawa ketujuh orang bagi Ji Bun segampang membalik tangan. Namun setelah dipikir, sementara dia tekan nafsunya. Terhadap kaum keroco tiada gunanya mengumbar nafsu. Maka dengan suara serak dia berkata: "Hamba orang berdekatan sini." "Dimana tempat tinggalmu?" "Ngo-li-kip di luar kota Cinyang." "Untuk apa kau datang kemari?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Mencari binatang piaraan yang hilang." "Jangan kau kira mataku ini sudah lamur sahabat, kau terang orang persilatan?" Walau Ji Bun sudah menyamar dan berganti dandanan, namun dia lupa bahwa Lwekangnya tinggi, langkah kaki dan sorot matanya tentu jauh berbeda dengan orang biasa, sekali bertemu orang tentu segera tahu. Otak Ji Bun cukup cerdik, segera dia menyadari akan kekurangannya ini, terpaksa harus bersabar, katanya tertawa lebar: "Betul, aku si hitam memang pernah belajar beberapa jurus silat, tapi bukan persilatan." Laki-laki yang memegang panji ronda mengamatinya lagi sekian lamanya, katanya kereng: "Saudara tahu tempat apakah ini?" "Di bawah Tong-pek-san." "Kau melihat tanda-tanda yang berada di sana?" "Wah ..... hi hi hi ..... aku orang desa, buta huruf." Seorang baju hitam yang lain tiba-tiba nyeletuk: "Thaubak (pemimpin), di sini baru saja terjadi perkara jiwa, orang hitam ini agak mencurigakan, lebih baik digusur ke atas gunung untuk ditanyai keterangannya?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Laki-laki pemegang panji manggut-manggut, katanya kepada Ji Bun: "Sahabat, sukalah kau ikut kami ke atas gunung, kalau betul kau penduduk sekitar sini, kami pasti tidak akan mengganggumu." Berkerut alis Ji Bun, katanya: "Kau suruh aku naik gunung, ah, aku tidak punya tempo." "Sahabat, kami sudah cukup sabar dan ramah terhadapmu, kuharap kau tidak mempersulit kami, kalau terpaksa ......" "Terpaksa apa? Sudah kubilang tiada tempo," berkobar pula nafsu Ji Bun. Laki-laki pemegang panji menarik muka, katanya: "Sahabat, apa sih artinya kalau pakai kekerasan?” "Apa kekerasan? Jadi kau mau berkelahi? Hari ini aku tidak ingin membunuh orang." Kata-kata ini membuat ketujuh orang itu berubah air mukanya, pemimpinnya, segera menjengek: "Sahabat, di wilayah Wi-to-hwe yang terlarang tidak boleh membunuh orang." Ji Bun memang ingin membunuh mereka, tapi sekilas dipikir, buat apa membuat gara-gara dengan kaum kroco, katanya dingin: "Jangan kau paksa aku membunuh kalian. Minggir!" "Sahabat memangnya sudah gila," bentak laki-laki pemegang panji kecil. Tiba-tiba dia menubruk maju seraya ulur tangan mencengkeram pundak Ji Bun, serangan ini cukup lihay dan cekatan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Agaknya dia memang memiliki kepandaian lumayan, tapi kebentur Te-gak Suseng, kepandaian ini seperti telor menumbuk batu. Kalau ketujuh orang ini tahu siapa yang berhadapan dengan mereka, pasti sudah sejak tadi lari terbirit2. "Huuuaaaah!" ditengah lolong panjang yang menyayat hati, lakilaki pemimpin itu tiba-tiba jatuh terjengkang. Kaki tangan berkelejetan sebentar terus tak bergerak lagi. Keruan keenam peronda yang lain serasa copot nyalinya, mereka berdiri terpaku dengan mata terbeliak, lawan tidak kelihatan bergerak, namun pemimpinnya sendiri tiba-tiba jatuh mampus, sungguh kejadian aneh. Begitu nafsu membunuh timbul sudah tidak terbendung lagi. Terbayang oleh Ji Bun betapa mengenaskan kematian seluruh penghuni Jit-sing-po. Kini tibalah saatnya utang darah ditagih dengan darah pula. Kenapa aku harus menaruh kasihan segala. Maka tanpa berhenti segera ia melangkah maju, belum lagi keenam peronda itu sempat menyelamatkan diri, beruntun mereka menjerit berjatuhan saling tindih. Dalam sekejap ketujuh peronda Wi-to-hwe ini sudah dicabut nyawanya. Sekilas Ji Bun mengawasi mayat-mayat yang bergelimpangan itu, lalu tinggal pergi, langkahnya tetap bergoyang gontai dan lambat. Belum sepuluh tombak dia berjalan, sebuah suara dingin berkumandang dari jauh: "Bocah keparat, putarlah kembali." Ji Bun menoleh, dilihatnya tiga bayangan orang meluncur tiba berdiri sejajar diantara mayat-mayat yang bergelimpangan. Laki-laki

Kedua pengawalnya agaknya sudah tidak sabar lagi. mungkinkah laki-laki yang tidak terpandang ini adalah pembunuh? Dengan bingung dan kurang percaya Khu In mengawasi Ji Bun. Tiba-tiba terkiang pesan ayahnya diwaktu masih hidup: "Berantas satu persatu!" Segera dia membalik badan dan menghampiri musuh dengan langkah lebar." sahut Ji Bun. sorot mata mereka buas dan liar karena anak buahnya dibunuh. ia tidak percaya kalau anak buahnya terbunuh oleh orang desa ini. katanya: "Kaukah yang membunuh mereka?" "Betul. kau tidak percaya?" Khu In berjingkat mundur. Agaknya bergelora dendam kesumat ketiga orang ini. Keruan Khu In mengerut kening. dua orang dibelakangnya adalah laki-laki kekar. Khu In tetap ragu-ragu. dari mana kau bedebah ini tahu namaku?" "Memangnya ini bukan rahasia? Betul tidak?" . katanya gemetar: "Sekarang aku harus percaya. mereka sudah mencincing lengan baju dan menggosok kepalan.com/ muka hitam yang terdepan jelas adalah komandan ronda Wi-to-hwe yang bernama Khu In. Ji Bun menjengek hina: "Khu In.Tiraikasih Website http://kangzusi. Tampang dan dandanannya mirip benar dengan orang desa yang bodoh.

Memangnya perintah ini yang ditunggu kedua pengawalnya. namun sebelum mendapat perintah mereka tidak berani bertindak. keempat tangan mereka mencakar bersama." "Ringkus dia!" bentak Khu In. "Apa betul kau yang membunuh mereka?" "Perlu keterangan lagi?" "Kenapa kau bunuh mereka?" "Menagih darah. sorot matanya bersinar buas." "Menagih darah apa?" "Setelah kau mampus. segera ia menjawab dingin: "Aku yang rendah adalah Siu-hiat-jin (penagih darah). bentaknya kereng: "Sebutkan nama dan gelaranmu?" Sekilas Ji Bun mendapat ilham. Khu In si komandan rondapun menjadi gusar. bentaknya." "Apa? Siu-hiat-jin? Tak pernah dengar di kalangan Kang-ouw ada nama gelaran ini?" "Itulah karena kau cetek pengalaman dan sempit pengetahuan. .com/ Muka Khu In yang hitam menjadi legam. Serempak mereka menubruk maju seperti harimau menerkam mangsanya. kau akan mengerti." Kedua laki-laki pengawal itu betul-betul tidak sabar lagi.Tiraikasih Website http://kangzusi.

terlalu rendah aku menilaimul" Di tengah bentakannya. Serta merta Ji Bun hentikan tangannya di tengah udara. dalam sekejap sudah tiba di depan mereka. hardiknya: "Siu-hiat-jin. tangan kiri menutul enteng. segulung angin badai seketika menyambar ke arah Ji Bun. "Plaak!" di tengah benturan dahsyat. berbareng tangan kanan menyapu keras. Serasa pecah jantung Khu In. tanah dan rumput terbang berhamburan. sebuah bentakan yang cukup dikenal suaranya berkumandang dari kejauhan. serahkan jiwamu!" "Berhenti!" untunglah pada detik-detik yang menentukan itu. waktu berpaling.com/ "Cari mampus!" Ji Bun menggeram. Ji Bun mendesak maju hawa nafsunya semakin bertambah. Ji Bun gerakkan kedua tangan. kontan dua jeritan berkumandang menggema lembah pegunungan. Begitu tandu . dilihatnya sebuah tandu dipikul mendatangi bagai terbang. seketika terbanting berguling-guling tak bergerak lagi. sementara orang di sebelah kanan terpental tiga tombak jauhnya. mukanya yang hitam semakin gelap. desisnya: "Khu In. dengan kekuatan besar dia menahan. Orang di sebelah kiri seperti ketumbuk dinding tak kelihatan.Tiraikasih Website http://kangzusi. Komandan ronda Khu In mengoak tertahan dan beruntun mundur empat langkah. darah meleleh dari ujung mulutnya membasahi pakaiannya.

" Khu In mengiakan. Namun sejak mendapat tambahan Lwekangnya dan kepandaian dari orang tua di dasar jurang kemampuan Ji Bun sudah berlipat ganda. Kedatangan orang dalam tandu amat kebetulan baginya untuk dibunuh satu persatu dan mengurangi kekuatan musuh. Namun belum pernah bentrok secara langsung dengan orang dalam tandu.com/ diturunkan. "Komandan Khu. apakah kuat mengalahkan orang." Memangnya nafsu Ji Bun tak terkendali lagi." "Komandan Khu tidak usah banyak adat. "periksa kematian para korban. dia membalik mayat-mayat itu serta memeriksa dengan teliti. Komandan ronda Khu In segera menyongsong sambil membungkuk memberi hormat serunya: "Menghadap Thay-sianghau-hoat (pelindung agung).Tiraikasih Website http://kangzusi. Bagaimana bentuk dan tampang orang tandu sampai sejauh belum diketahuinya. Pandangan tajam Ji Bun menatap ke arah tandu. Lwekang dan kepandaian silatnya tinggi. terutama tutukan jarinya yang sakti. dia belum punya . silakan mundur ke samping. keempat pemikul tandu yang berotot segera mundur berjajar ke belakang. yang terang dia adalah perempuan." kata pula orang dalam tandu dengan suara dingin bengis.

." "Maksudmu Bu-ing-cui-sim-jiu?" "Mirip sekali... lalu dengan suara dingin dia tanya Ji Bun: "Siapakah sahabat ini?" "Siu-hiat-jin. Diam-diam dia menerawangkan cara bagaimana harus paksa musuh keluar dari tandu? Khu In berdiri serta melotot kepada Ji Bun. dari mana kau?" "Kenapa kau tidak keluar saja. Siu-hiat-jin. seperti ." "Siu-hiat-jin.Tiraikasih Website http://kangzusi. tiada bekas luka?" "Ya." "Baik kau mundur." "Apa." "Sasarannya adalah perkumpulan kami?" .." ujar orang dalam tandu. seperti Te-gak Suseng membunuh orang. memangnya malu dilihat orang?" "Kurangajar. lalu mendekati tandu. namun belum berani dipastikan. lapornya: "Lapor Thay-siang-hou-hoat.com/ keyakinan. para korban tiada bekas lukalukanya. apa alasanmu membunuh orang?" "Menagih darah. menurut hamba.

Sudah tentu.. kalian yang ada di sini jangan harap bisa hidup lebih lama lagi. kedua tangan menyongsong datangnya serangan dengan setakar kekuatannya. ikutlah aku ke atas gunung atau terpaksa aku harus turun tangan?" "Ikut kau ke atas gunung? He he he he . namun tegang. arti dari penyamarannya menjadi tak berguna. padahal lawan mengerahkan segenap kekuatan untuk menempur dirinya. tapi apakah dirinya mampu bertindak. Semakin matang latihannya semakin hebat . Kalau menyangkal.. Cara tempur dengan kekerasan merupakan adu kekuatan Lwekang. suasana menjadi sepi." "Baik. terang sukar untuk mengelabui dia. lawan sudah tahu akan ilmu beracunnya.. Ji Bun tak pernah lena. segala persoalan pun tidak perlu dikuatirkan lagi." "Keparat!" tiba-tiba segulung angin menerjang ke luar dari dalam tandu. Oleh karena itu dia berkata samar-samar: "Hal ini kau tidak perlu tahu.com/ "Tepat sekali. masih merupakan tanda tanya.. Lama sekali baru orang dalam tandu bersuara dengan nada berat: "Siu-hiat-jin. soal ini tidak usah dibicarakan. perlukah terus terang. kalau sekali gebrak dia dapat membunuh lawan tanpa seorangpun ditinggalkan hidup. lekas dia berkisar dan sedikit jongkok.. pernah apa kau dengan Te-gak Suseng?" Otak Ji Bun bekerja cepat.Tiraikasih Website http://kangzusi." Orang dalam tandu diam. agaknya tengah berpikir. Kalau mengakui..

Hawa seketika bergolak. Sementara itu. keadaan Ji Bun juga cukup mengenaskan.Tiraikasih Website http://kangzusi. Getaran tenaga tadi membuat kedua kakinya yang bertahan sekokoh gunung itu lantas ambles ke dalam tanah sebatas mata kakinya. Sementara orang dalam tandu yang selama ini bersembunyi dalam tandu terpaksa harus mengunjuk diri. kedua." dua tenaga pukulan yang dasyat saling hantam menimbulkan suara dasyat. karena dia bukan lain adalah ketua Boh-to-am. sedikitpun tidak dapat dipalsukan dan tidak mungkin menggunakan akal atau muslihat. "Blak. tandu berhias itu sampai semplak dan pecah tercerai berai. Memang dua tujuan yang memaksa Ji Bun memakai cara tempur yang memeras keringat ini. pertama. supaya lekas berakhir dan menentukan. kalau mencampurkan diri menjadi anggota suatu persilatan di Kang-ouw mungkin bisa menimbulkan hal-hal yang tidak di inginkan disamping bisa menjadikan cemooh dan tutur kata orang banyak dan lagi dia akan banyak mengalami kesulitan di dalam melaksanakan kewajibannya sebagai seorang anggota suatu . untuk menyelidiki dan menjajal sampai di mana sebetulnya kekuatan lawan. Keempat pemikul tandu sama berubah air mukanya. Hampir saja Ji Bun menjerit kaget setelah mengenali siapa sebetulnya orang yang berada di dalam tandu ini. Maklumlah lantaran dia seorang beribadat. Komandan ronda Khu In yang berdiri jauh di sana juga melongo. dia ternyata adalah seorang Nikoh tua.com/ kekuatannya. mereka melompat mundur dua tombak jauhnya. yaitu Siu-yan Loni.

com/ perserikatan. Orang dalam tandu ini pernah sekian lamanya membuat Ji Bun bertanya-tanya dalam hati. Tak nyana hari ini dengan mudah dan tanpa sengaja keinginannya itu terlaksana dengan mudah sekali. Suthay terlalu memuji. katanya penuh emosi: "Siuhiat-jin. kalau Pinni tak mampu membereskan kau." Dengan menyindir jawab Ji Bun: "Ah. Jalan tepat yang harus dilaksanakan sekarang adalah selekasnya mengakhiri pertempuran. tantangnya: "Boleh kau . segera aku bunuh diri dihadapanmu. Oleh karena itu dia selalu naik tandu berhias untuk menyembunyikan diri. karena badan gemetar. bahwa Nikoh tua ini berani mempertaruhkan jiwanya. Dia cukup trampil melihat situasi.Tiraikasih Website http://kangzusi. sudah tentu bukan gertak sambal belaka. Agaknya Siu-yan Loni menahan gejolak perasaannya." Sudah tentu tersirap darah Ji Bun mendengar ancaman ini. Sorot matanya tajam dan menakutkan. tidak sulit diramalkan bagaimana akhir dari nasibnya. Kalau ditambah dua tiga musuh bangkotan lagi. karena daerah sekarang dia berada masih merupakan kekuasaan Wito-hwe. kini Ji Bun kenal Siu-yan Loni. kulit mukanya yang penuh keriput tampak berkerut. tidak lemah kepandaianmu." "Tapi jangan kau takabur. Segera ia melangkah maju. betapa susah payahnya dia berusaha untuk menyelidiki dan membongkar asal usulnya. tapi Siu-yan Loni tidak mengenalnya lagi. bala bantuan musuh bukan mustahil akan menyusul tiba secepat mungkin.

." Belum selesai ia berkata. Dingin muka Siu-yan. Segulung angin lunak dan kuat seketika menerpa seperti angin puyuh dasyatnya. Sudah tentu Ji Bun tidak sia-siakan kesempatan yang baik ini. ketangannya ditarik terus di dorong untuk mengurangi daya tekanan lawan. tanpa kuasa tubuhnya íkut berputar-putar. lalu dari samping tiba-tiba dia lontarkan pukulan. Bu-ing-cui-sim-jiu dengan cepat luar biasa menyerang pula ke arah lawan. diam-diam dia mengeluh. Seketika Ji Bun merasakan seperti diterjang kekuatan ribuan kati beratnya. terpaksa dia kerahkan tenaga pada kedua kakinya. Kalau Ji Bun tarik kembali pukulan dan balas menggempur.. Secepat kilat tubuhnya melenting ke samping.. Pertempuran tokoh-tokoh kosen terletak pada kesempatan pertama dapat mendahului melancarkan serangan. . Sedetik peluang ini sudah cukup membuat Siu-yan merasakan dirinya keterjang angin badai sehingga tubuhnya terhuyung mundur. Sebat sekali dia maju lagi.. kedua lengan bajunya bersilang laksana gunting dikebaskan ke depan. waktunya jelas tidak sempat lagi. Siu-yan Loni kembalikan kedua lengan bajunya dengan gaya yang sama.Tiraikasih Website http://kangzusi. beruntun angin kebasan lengan baju menerjang secara berantai . pukulannya sudah dilontarkan lebih dulu.. Kali ini Ji Bun memang cukup cerdik dan tepat mengambil kesempatan. Sebelum dia dapat menguasai diri.com/ mencobanya lagi.

sang korban akan jatuh terguling dan jiwapun melayang dalam beberapa detik saja. damparan angin kencang tiba-tiba menyibak datang dari arah samping. Hebat juga terjangan ini sehingga Ji Bun yang tidak mengira akan bokongan ini terpental miring. kedua tangan serempak di dorong ke depan. dua jalur angin kencang memecah udara menderu ke depan. sementara Ji Bun menguak seperti sapi digorok lehernya. Serangannya luput kesempatanpun sirna. cukup ujung jarinya saja menyentuh tubuh lawan. Sekujur badan serasa kosong dan lunglai karena terjangan angin pukulan Siu-yan Loni yang lihay ini. badannya bergoyang dengan kaki terhuyung.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Berani kau!" bentak Siu-yang Loni. Di kala jari-jari Ji Bun hampir mengenai kulit daging lawan. nafsunya pun semakin berkobar. "Bluk. ngek!" sekaligus terdengar dua suara berbeda. Orang yang membokong dari samping ternyata adalah komandan ronda Khu In adanya. malah Siu-yan Loni punya peluang balas menyerang sehingga Ji Bun terpukul mundur beberapa tombak jauhnya. tangkas sekali dia jumpalitan dan lompat kembali menubruk ke arah Khu In. . Begitu kaki menyentuh tanah. komandan ronda Khu In terkapar di tengah serangan yang terakhir. Sudah tentu bukan kepalang murka Ji Bun.com/ Bu-ing-cui-sim-jiu adalah ilmu beracun tertinggi dari golongan racun masa kini.

namun hanya sekilas saja dia sudah melangkah maju pula dalam jarak dekat. itu berarti dia harus berpeluk tangan terima kematian. apa lagi menyerang. darah menyembur dari mulutnya. "Blang!” diselingi jeritan keras. rebah dan tak berkutik lagi. kembali Ji Bun terlempar dua tombak jauhnya. otot hijau jidatnya merongkol keluar. "sret". badan limbung dan hampir terjungkal lagi. dalam jarak yang cukup jauh dia mampu mematahkan kekuatan lawan hanya dalam segebrakan saja? Siu-yan Loni melengking murka. Entah menggunakan ilmu apakah Nikoh tua ini. "Kutungi dulu lengan kirinya!" dalam murkanya Siu-yan memberi perintah. Hampir pecah biji mata Ji Bun mendelik gusar. ia melolos pedang dari pinggangnya.com/ Khu In sempat berkelejetan tiga kali. tenaganya macet sehingga tak mampu dikerahkan lagi. Laki-laki yang menenteng pedang agaknya menjadi jeri menghadapi manusia darah yang seram dan berwibawa ini. sambil mengertak gigi dia meronta bangun. . badannya seketika lemas tak bergerak lagi. terus menghampiri Ji Bun. serta merta dia berhenti. Serasa copot sukma Ji Bun. mulutnya menjerit beringas: "Berani kau!" Mendadak darah menyemprot pula. lengan baju bergoyang telapak tanganpun bekerja.Tiraikasih Website http://kangzusi. Ji Bun tidak sanggup lagi menggerakkan tangannya. salah seorang pemikul tandu mengiakan.

itulah tanda pengenal pemberian si orang tua aneh di dasar jurang di belakang Pek-ciok-hong yang harus diserahkan kepada Toh Ji-lan. mundur!" Bahwa yang berseru ini adalah Siu-yan Loni betul-betul membuat Ji Bun kaget dan heran tapi juga bersyukur. matanya menatap ke arah tanah di sebelahnya. Kali ini Ji Bun betul-betul mati kutu. Mungkin waktu dia . kenapa demikian? 12. Namun secara refleks Ji Bun telah menjatuhkan diri menggelundung sejauh mungkin. namun kenyataan dia tak kuasa lagi menghindari ancaman yang akan memisahkan lengan dari tubuhnya karena tiada tenaga untuk berkelit. tajam pedang yang dingin seketika terayun menabas ke arah lengan kiri Ji-Bun. Seketika hatinya tergerak. Serasa meledak dada Ji Bun.36. Karena tabasannya luput. dengan mendelong dia hanya mengawasi pedang orang terayun ke arah lengannya tanpa dapat berbuat apa-apa. ternyata di sampingnya menggeletak sebentuk barang. Pada detik-detik yang gawat itulah mendadak sebuah bentakan menghentikan gerakan pedang laki-laki itu: "Berhenti. kini mencegahnva lagi. Mulai Tercium Dengan mendelong dia awasi orang.com/ Sinar kemilau berkelebat. tadi memberi perintah supaya menabas lengannya. dengan heran Ji Bun menoleh ke arah orang memandang. laki-laki itu menggeram gusar terus memburu maju dan ayun golok pula.Tiraikasih Website http://kangzusi. Jejak Ibunda. darah menyembur pula dari mulutnya. tampak wajah Siau-yan Loni penuh emosi yang campur aduk.

Siu-yan Loni pejamkan mata sebentar seperti menenangkan gejolak hatinya. maka dia balas bertanya: “Apa maksud Suthay bertanya soal ini?" “Siu-hiat-jin. katanya kemudian dangan suara rada gemetar: "Darimana kau dapatkan barang ini?" Ji Bun seka darah yang meleleh diujung mulutnya. apakah kau muridnya?" . tanyanya: "Apakah Suthay kenal benda ini?" "Bukan hanya kenal saja. Mendadak Siu-yan Loni melompat maju memungut benda itu. bagaimana barang ini bisa berada di tanganmu?" "Cayhe mendapat pesan seorang Cianpwe dengan tanda pengenal ini mencari seorang untuk menyampaikan beberapa patah kata.. dia bolak balik serta memeriksanya dengan teliti.Tiraikasih Website http://kangzusi.. lama sekali baru dia buka suara dengan gemetar: "Siu-hiat-jin..com/ menjatuhkan diri dan menggelundung tadi benda itu jatuh keluar dari kantongnya. mungkinkah ..." "Apakah Suthay ada hubungan dengan barang ini?" tanya Ji Bun.." "Siapa yang berpesan padamu?" Ji Bun menyadari di balik kejadian hari ini serta melihat sikap Siuyan Loni pasti ada latar belakang yang menarik. kenapa Nikoh tua ini begini besar perhatiannya terhadap tanda pengenal ini.

. masih hidup? Di .. dimana dia sekarang?” "Harap Suthay suka jelaskan dulu siapa sebenarnya kau?” "Pinni .. katamu kau dipesan untuk mencari seseorang? Siapa yang kaucari?” "Tapi konon orang itu sudah meninggal dunia. namun pernah memperoleh banyak kebaikan dari beliau. Siu-hiat-jin.. Dari julukannya dapatlah dibayangkan dimasa mudanya dulu pasti orang tua aneh itu adalah seorang pemuda cakap dan ganteng..com/ "Muridnya siapa?” "Giok-bin-hiap Cu Kong-tam!" Setiap patah kata diucapkan Siuyan dengan penuh emosi...... Ji Bun membatin: Giok-bin-hiap (pendekar wajah kemala) Cu Kong-tam mungkin adalah orang tua aneh di bawah jurang itu.” Siu-yan melangkah maju setindak... dengan haru dan girang dia bertanya: "Dia.Tiraikasih Website http://kangzusi." . "Maksud Suthay pemilik barang ini? Cayhe bukan murid beliau... .. tahu siapa pemiliknya dan dirangsang emosi lagi.” "Katakanlah siapa dia?” "Adik kandung Pek-ciok Sinni yang bernama Toh Ji-lan. Memangnya siapa pula Nikoh tua ini? Dari mana dia tahu akan tanda pengenal ini.. dia.

..com/ Seperti kena aliran listrik tiba-tiba Siu-yan Loni berjingkat mundur.. segalanya sudah terlambat..... masih hidup? Dia . dia .. tidak mungkin. semuanya sudah terlambat? Memangnya Nikoh tua ini adalah . Maka Ji Bun bertanya: "Siapakah nama preman Suthay?" "Siu-hiat-jin......" Yang dimaksud "dia" adalah orang tua aneh di dasar jurang? Ini menandakan bahwa Siu-yan ada hubungan yang intim dan luar biasa dengan beliau. seperti bermimpi saja mulutnya mengigau: "Tidak." Ji Bun kerjingkrak berdiri dan menyurut mundur... memang Pinni adanya.." “Ini . tapi Siangkoan Ci-hwi bilang Toh Ji-lan sudah meninggalkan dunia yang fana ini. mukanya yang berkeriput tampak berkerut-kerut... Tidak terduga. tapi .... pekiknya: "Suthay adalah Toh Ji-lan Cianpwe?" "Ya..... Sudah terlambat. suaranya semakin gemetar: "Katamu Toh Ji-lan? Dia sudah meninggal dunia?" "Siangkoan Ci-hwi yang bilang demikian.Tiraikasih Website http://kangzusi. ini .." terpancar cahaya pilu dan sedih sekali dari sinar mata Siuyan Loni. Ah. mana mungkin?" "Kenapa tidak mungkin?" .. belum mati? ." "O. Pinni adalah orang yang sedang kau cari..

.. Cu-cianpwe masih bertahan hidup dengan satu keyakinan. dia .” "Ya.“ "Apakah budak itu bilang Pinni sudah meninggal?" "Dia bilang Cianpwie sudah meninggal dunia fana .com/ "Nona Siangkoan bilang bahwa To-cianpwe sudah . apakah kau tidak pernah pikir seorang biarawati harus meninggalkan urusan duniawi?" Ji Bun melongo kesima.. dulu Tacimu Pek-ciok Sinni Toh Jihwi telah menjebloskan Cu-cianpwe ke gua rahasia untuk meyakinkan Pi-yap-sin-kang. "Di mana Cu Kong-tam sekarang berada?" "Di dasar jurang di belakang Pek-ciok-hong. Ternyata beliau adalah Giok-bin-hiap Cu Kong-tam..Tiraikasih Website http://kangzusi. meninggalkan dunia fana bukan berarti sudah mati...." "Taciku. memang. Kalau tidak secara kebetulan tanda pengenal itu jatuh. Selama puluhan tahun. . yaitu ingin bertemu muka sekali lagi dengan Suthay.. bukankah bakal menyia-nyiakan harapan si orang tua aneh yang sudah menunggu berpuluh tahun di dasar jurang. lalu menutupnya." pucat pias wajah Siu-yan Loni.... kenapa semula ia tidak berpikir ke arah itu. wibawa seorang beribadat serta sikap yang welas asih lenyap tak membekas lagi......" "Apa. dia berada di dalam jurang?" "Menurut cerita Cu-cianpwe..

" "Pinni adalah seorang biarawati .. mengandung rasa putus asa dan kecewa. Walau dia tidak tahu bagaimana jalinan asmara kedua orang tua ini." "Pesan apa." "Beliau ingin bertemu muka sekali lagi dengan Suthay....” . semuanya sudah berselang!" demikian nada suaranya terdengar hambar dan hampa... katakanlah...Tiraikasih Website http://kangzusi. betapapun Ji Bun harus bertanggung jawab akan tugas yang harus ditunaikan.. sejak jaman dulu entah berapa banyak muda mudi yang menjadi korban cinta... Mengingat budi kebaikan Giok-bin-hiap Cu Kong-tam yang menolong dan mengajarkan ilmu kepadanya.. "Sudah terlambat.. Cu-cianpwe berpesan kepada Wanpwe bila setelah menemukan Cianpwe supaya menyampaikan beberapa patah kata . namun pasti banwa mereka adalah korban dari asmara juga. dendam.com/ rona wajahnya kini dilembari rasa benci. Dalam sekejap ini Siu-yan Loni tampak semakin tua... namun asmara itu masih kekal abadi ... Puluhan tahun dia hidup menderita. bulan berganti tahun. maka dengan berat dia berkata: "Suthay.. dia menghela napas panjang yang mengandung kerawanan dan kepedihan hati. Hari berganti bulan.. Di kala kehidupan hampir mencapai akhirnya. Diam-diam terkejut juga sanubari Ji Bun. sang waktu berlalu dan tak pernah kembali lagi. pahit getir semuanya terkandung dalam helaan napas ini.... marah dan emosi campur aduk.

.Tiraikasih Website http://kangzusi. sungguh tak nyana semua ini adalah perbuatan Taciku.... maka dia hendak membunuhnya .. kalau musabab ini tidak berakhir.. tak nyana dalam lembaran hidupnya ternyata juga . itulah karma." "Pinni ....com/ "Kalau Suthay tidak sudi menemuinya. aku pasti akan menemuinya. sekarang baru aku mengerti.. apa saja yang telah Pinni katakan?" Bergidik seram Ji Bun. aku .. dendam dan marah sehingga mencukur rambut menjadi orang beribadat. “Karma." "Bolehkah Wanpwe mohon penjelasan?" "Soal apa?" "Kenapa dulu Sin-ni menjebloskan dan mengurung Cu-cianpwe di dasar jurang itu?" Berkerut-kerut muka Siu-yan Loni alias Toh-ji-lan. karena tujuan tidak tercapai.. Tak nyana . "Cu Kong-tam lenyap. Pek-ciok Sin-ni terpandang sebagai tokoh yang diagungkan. Amitha Budha! Ah. Pinni takkan bisa tenteram." "Mengerti apa?" "Taciku dulu juga mencintainya.. itu membuat Pinni benci." ujarnya setengah berbisik.. terpaksa Wanpwe harus kembali memberi laporan dan menyampaikan kejadian hari ini..

semoga kau suka berpikir. Barulah Siu-yan Loni berpaling kepada Ji Bun katanya: "Siu-hiatjin. lalu pergi dengan memanggul mayat-mayat itu. manusia memang makhluk yang luar biasa. maka dia merasa harus segera membuat penyelesaian dengan Ciang Bing-cu. sebelum bertindak. peduli apa maksud tujuanmu. Tugas dan pesan si orang tua di dasar jurang boleh dikatakan sudah ditunaikan." Habis berkata dia lantas melangkah pergi. Mati hidup sendiri sudah menjadi tanggung . utang darah dia harus menagihnya dengan darah pula. semua jenazah ini harus kalian bawa kembali. Pengalaman Siu-yan Loni dengan Giok-bin-hiap Cu Kong-tam sudah merupakan contoh nyata bagi Ji Bun. katakan bahwa aku meninggalkan arena Bulim. mereka saling pandang lalu mengiakan bersama. Pinni ingin memberi peringatan padamu." Keempat pemikul tandu sejak tadi berdiri jauh dengan melongo. dengan tangkas mereka bekerja. kebumikan sepantasnya sebagai orang-orang persilatan umumnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Kepandaianmu terhitung kelas wahid. Tiba-tiba Siu-yan berpaling dan berkata kepada para pemikul tandu: "Kalian boleh segera kembali ke gunung. laporkan kepada Hwecu. Setelah itu tanpa ada ganjelan hati baru melaksanakan keinginan menuntut balas secara terbuka. sebagai seorang persilatan yang hidup di arena kau harus dapat membedakan salah dan benar.com/ pernah melakukan perbuatan rendah dan hina. Pesan Siu-yan sebelum pergi memang masuk akal namun bagi pendirian Ji Bun sekarang wejangan ini sudah tiada artinya lagi.

tak ubahnya seperti manusia awam umumnya. Setelah berganti pakaian.Tiraikasih Website http://kangzusi. Kalau hal ini tidak dibereskan dengan baik. Setelah beberapa kejadian yang menambah pengalamannya. tegakah dia menelantarkan masa remaja seorang gadis jelita? Cara bagaimana dia harus membereskan hal ini. seperti apa yang dikatakan Biau-jiu Siansing bahwa Ciang Bing-cu bersumpah hanya akan kawin dengan dirinya. kelihatan dia mirip seorang pelajar bermuka hitam. sudah setengah jalan ditempuhnya.com/ jawab awak sendiri pula. mungkin akan terjadi suatu tragedi yang mengenaskan. topi kaum pelajar warna biru pula. bayangan seorang tampak menyongsong datang: "Selamat datang Siau-hiap ini. sampai sekarang dia belum mendapatkan jalan keluarnya. mati hidup dirinya sukar diramalkan. maka sepanjang jalan tidak menarik banyak perhatian orang. Pagi hari itu dia tiba di Bik-seng dan menuju ke Ling-eng. tapi dia sudah menempuh perjalanan dengan tujuan Kay-hong. kini dia tidak memperlihatkan lagi sorot matanya yang tajam berkilat. Keadaannya sudah jauh berubah. Sekarang musuh-musuh tangguh ada dihadapannya. Supaya tidak malu dan dipandang hina setiba di gedung keluarga Ciang. tapi dalam keadaan sudah selarut ini." . Tengah dia berjalan. Karena dia sudah berubah dandanan dan wajah. maka dia membeli seperangkat pakaian dan jubah warna biru.

usianya sekitar 25-an." . "Siapakah saudara ini?" Ji Bun balas bertanya. Biau-jiu Siansing. maka tanyanya heran: "Saudara menyapa aku?" "Siau-hiap she Ji bukan?" tanya orang itu." "Sian-tian-khek (si kilat)?" "Julukan yang tidak berarti. kecuali Biau-jiu Siansing tiada orang lain yang tahu kalau dirinya menyamar. Bukan kepalang kejut Ji Bun.com/ Ji Bun melenggong. Orang ini terlalu asing baginya. cuma agak kurus pucat. teman-teman Kang-ouw memberi julukan Sian-tian-khek kepadaku. dilihatnya orang yang menyapa ini juga berdandan seorang pelajar. wajahnya bersih. "Aku yang rendah Ui Bing.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Dari mana Ui-heng tahu kalau aku she Ji?" Sian-tian-khek Ui Bing tertawa penuh arti. sungguh menakutkan. Harap Siau-hiap tidak mentertawakan." "Atas perintah siapa?" "Guruku. katanya: "Cayhe mendapat tugas untuk menunggu Siau-hiap di sini. memangnya dari mana lakilaki tak dikenal ini tahu she dan namanya.

" Melihat orang pandai bicara. Hiante hendak pergi ke Kay-hong bukan?" "Betul. beliau berpendapat engkau adalah tunas muda yang berbakat tinggi selama ratusan tahun belakangan ini. jangan melantur.com/ "O. tidak perlu heran kalau tahu siapa dirinya. katanya tersenyum: "Kenapa tidak boleh?" "Kalau begitu. timbul kesan Ji Bun." baru Ji Bun paham." Ji Bun tak mengerti tanyanya: "Melihat apa?" "Kau akan tahu setelah tiba di sana.Tiraikasih Website http://kangzusi. marilah kita masuk kota minum arak dulu. Ui Bing tertawa lebar." ujar Ji Bun kikuk. katanya lantang: "Guruku menaruh perhatian besar terhadap Siau-hiap. petunjuk segala. Ui Bing miringkan kepala. katanya: "Agaknya usiaku lebih tua." "Ah." . bolehkah kupanggil Hiante (adik) saja? Panggilan Siau-hiap rasanya kurang enak diucapkan. entah Ui-heng ada petunjuk apa?" "Wah. sekarang belum waktunya. aku hanya mendapat pesan guru untuk mengajakmu ke suatu tempat untuk melihat sesuatu. kalau dia murid Biau-jiu Siansing. syukurlah. gurumu terlalu memuji.

Dasar Ui Bing suka ngobrol panjang lebar. Sejak kecil sudah biasa makan minum secara berlebihan. Di kala mereka makan minum sambil berbincang. agaknya Ui Bing minta orang baju hitam bicara saja blak-blakan dan tidak usah kuatir karena kehadiran Ji Bun. terlambat beberapa hari juga tidak jadi soal maka dia memanggut. seorang berbaju hitam tiba-tiba muncul. di lihatnya sebuah restoran.Tiraikasih Website http://kangzusi. Pelayan menyambutnya dengan hormat. yang dibicarakan adalah peristiwaperistiwa Kang-ouw dan serba serbi yang pernah terjadi." Ji Bun tahu kedua orang sedang bicara dengan bahasa kode. ia langsung membawa Ji Bun ke loteng. Ui Bing berhenti bicara serta menoleh. mukanya tampak serius. marilah. katanya: "Sesama dupa di dalam hiolo tidak usah kuatir.com/ Memangnya Ji Bun tidak terburu-buru pergi ke Kay-hong. jawabnya. hidangan yang dipesan Ui Bing cocok dengan seleranya. katanya dengan muka kereng: "Ada urusan apa?" "Dapatkah hamba bicara?” Ui Bing melirik Ji Bun. . "Baik." Mereka memutar ke jalanan kecil langsung menuju ke dalam kota. Ji Bun amat berkesan dan mendengarkan dengan asyik. agaknya Ui Bing adalah langganan lama. dipilihnya meja dekat jendela yang mengarah ke jalan raya di bawah.

tapi . lalu ditaruh kembali ke dalam kotak. berdirilah. lutut bertekuk dan badan terbungkuk. Gu Su. semua sumber dalam kalangan maling. pelan-pelan ia membuka tutupnya." sahut laki-laki baju hitam sambil berdiri. serunya lantang: "Aliran ada aturan. kotak kayu dipeluk di depan dada. Ui Bing ulur tangan mengeluarkan kutungan lengan itu dan diacungkan di depan Ji Bun. Dengan heran dan tak habis mengerti Ji Bun mengawasi Ui Bing dan ingin bertanya." Ui Bing mengulapkan tangan. delapan tingkat dapat diperiksa." "Terima kasih.Tiraikasih Website http://kangzusi. bolehlah. katanya: "Ya. anak murid dari tingkat huruf ‘tanah' menghadap kepada atasan. kedua tangan terangkat tinggi di atas kepala mempersembahkan sebuah kotak kayu. namun mengingat urusan mungkin menyangkut rahasia sesuatu perkumpulan. rumah punya tata tertib.com/ Orang baju hitam melangkah maju. bulu kuduknya berdiri. Serta merta Ji Bun arahkan pandangannya ke kotak yang terbuka itu. sikapnya prihatin dan hormat." Cepat laki-laki baju hitam menutup kotak terus mengundurkan diri. ujarnya: "Sesama keluarga tidak perlu banyak adat. Ternyata di dalam kotak berisi sebuah lengan manusia yang masih berlepotan darah. seketika dia melongo terbeliak. Lalu menaruh kotak itu di atas meja. orang luar pantang mencampuri.

apakah tangan tadi yang kau maksudkan?" "Betul. Hal ini memang menjadi salah satu azas tujuan perserikatan kita." "Tadi Ui-heng bilang mendapat perintah gurumu untuk melihat sesuatu. Liok Kin mengkoleksi harta. Tentunya Hiante masih ingat kepada Liok Kin?" "Ketua muda Cip-po-hwe" "Tangan tadi adalah lengannya. anggota perkumpulan maling bercampur aduk dari segala lapisan. Hiante sudah paham?" Ji Bun manggut-manggut." "Lengan Liok Kin?" "Betul. Namun dia main perempuan dan melakukan perbuatan kotor. Ui Bing malah buka suara: "Hiante. hal ini melanggar undang-undang.Tiraikasih Website http://kangzusi. hati terasa mengganjel sehingga sikapnya menjadi kikuk. Khusus tangan tadi memang diperlihatkan padamu. kau sudah melihatnya?" "Melihat apa?" "Kutungan tangan tadi. namun undang-undang yang menjadi tradisi aturan perserikatan kita cukup keras dan berdisiplin." . sahutnya: "Siaute mengerti.com/ kalau tidak tanya.

seorang pelayan cilik perempuan berpakaian hijau tengah duduk di atas sebuah kursi batu di bawah .com/ Ui Bing angkat cangkir.Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya: "Hayolah kita pergi saja?" "Habiskan dulu sepoci ini. maka duduk lagi. kini kepala sudah rada pusing. sebanyak itu dia minum. katanya: “Marilah kita habiskan secangkir lagi. pelayan masuk menyulut pelita. bagian loteng ini khusus kelas satu dengan pelayanan yang serba istimewa. Di kala Ji Bun dan Ui Bing hendak meninggalkan perjamuan. jadi merupakan sebuah petak atau kamar khusus dengan meja yang muat delapan orang. Seketika Ji Bun melongo dan asyik mendengarkan lagu ini. Takaran minum Ji Bun memang terbatas. Di antara berisik percakapan dan gelak tawa para tamu. tetamu memenuhi restoran besar ini. tibatiba dari petak sebelah kanan sana berkumandang irama nyanyian yang menawan hati. sayup-sayup terdengar juga suara nyanyian diiringi petikan kim (harpa). benaknya terbayang sebuah pemandangan alam yang mempesona." ajak Ui Bing. Di dalam pekarangan yang sepi dan dikelilingi tembok tinggi. Bentuknyapun serba berkotak." Cuaca sudah gelap. Restoran ini memang kelas tinggi dan serba mewah. Tak enak menolak keinginan orang. Jadi perjamuan satu sama lain para tamu itu tidak saling ganggu. waktu itu memang saatnya orang-orang makan malam.

Begitu penuh perasaan gadis pelayan itu membawakan lagu ini seperti dia sendiri yang ditinggal sang kekasih. Ui Bing melihat sikap Ji Bun yang aneh ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. Nyanyian merdu itu kini berkumandang pula. Kepedihan betul-betul mengetuk sanubarinya sehingga tanpa sadar ia menangis tersedu. dia merasa bahwa lagu yang dibawakan bujangnya sedemikian merdu ." kata Ui Bing pula.. di hadapannya berdiri seorang anak laki-laki berusia enam tujuh tahun.. Air mata tak terbendung lagi membasahi pipi Ji Bun. maka diam saja.. pikiran Ji Bun tenggelam di dalam kenangan keluarga dan rumahnya yang hancur berantakan.. Itulah gambaran masa lalu di kala Ji Bun masih kanak-kanak. "Hiante. Tanpa terasa berkaca-kaca mata Ji Bun mengenang masa kecilnya dulu. Dia tengah asyik mendengarkan pelayan cilik itu mengalunkan suaranya yang merdu menyanyikan sebuah lagu perpisahan antara seorang jejaka yang meninggalkan gadis pujaannya untuk merantau mencari nafkah demi masa depan mereka.. kenapa kau?" Ji Bun masih tenggelam dalam impian masa kecilnya itu. bocah laki-laki itu mendengarkan dengan mata mendelong. serunya: "Hiante.com/ pohon... mungkin dia tidak mendengar pertanyaan ini. "kenapa sih kau sebetulnya?" Tanpa sadar Ji Bun buka suara: "Siapakah yang nyanyi itu?" . yang dibawakan adalah lagu sedih yang menyentuh hati.

.." belum habis dia bicara.." "Ing-ing?” seru Ji Bun berjingkrak... entah siapa bayangan punggung yang dikenalnya ini? "Oh. dilihatnya sebelah kaki Ui Bing sudah melangkah kekamar sebelah dan berseru kepada Ji Bun: "Hiante.. dia sudah mati. “Ya. seketika Ji Bun melenggong." "Berapa usianya?" "Kira-kira sudah tiga puluhan kenapa Hiante tanya dia?" "Karena . Orang-orang dalam kota ini sama memanggilnya Ing-ing (burung kenari). karena begitu merdu suaranya bagai kicauan burung kenari..... dia." . cepat dia berlari ke arah tangga. tapi dia sudah cukup lama mencari nafkah dengan menjual suara di daerah ini.com/ "Apa? Yang nyanyi .Tiraikasih Website http://kangzusi. segera dia berdiri dan lari keluar menyingkap kerai.. Serta merta Ji Bun berhenti sambil menoleh. perempuan yang nyanyi di sebelah? Siapa dia kurang jelas. Kwe-loh-jin!" teriaknya tiba-tiba. "Haya!" tiba-tiba didengarnya Ui Bing menjerit di sebelah sana. Tersirap darah Ji Bun... tiba-tiba didengarnya suara berdehem tertahan di kamar sebelah. Tampak bayangan punggung seseorang yang dikenalnya tengah melompat turun dari loteng.?” "Ui-heng tidak mendengar?" "O.

teriaknya berulang-ulang: "Bwe-hiang. tanyanya: "Hiante kenal dia?" "Dialah pelayan pribadi ibuku.” Ui Bing ikut memburu ke sampingnya. sekilas Ji Bun memeriksa keadaannya. . tiga butir dia jejalkan ke mulut Bwe-hiang..Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Ji Bun batalkan pengejaran terhadap Kwe-loh-jin. Ui Bing lari mengambil secangkir teh dan bantu Ji Bun mencekoki perempuan ini. tanyanya: "Kena racun? Bisa ditolong tidak?" "Inilah racun Giam-ong-ling... lekas dia memburu masuk ke kamar sebelah. Setelah dipijat dan urut. sesaat kemudian dia mulai membuka mata." beruntun Ji Bun menutuk beberapa Hiat-to. pernapasan perempuan baju hitam itu bertambah kuat. Bwe-hiang!" Napas perempuan itu amat lemah. ternyata betul kau . keringat membasahi jidatnya. katanya kemudian: "Dia terkena racun. Tampak Ji Bun seorang perempuan pakaian hitam rebah di pinggir meja. "Bwe-hiang.. Bwe-hiang . seketika dia menjerit: "Bwe-hiang." Lekas dia keluarkan obat penawar yang yang selalu dibawanya. aku tidak mampu menolongnya." Ji Bun memanggil-manggil dengan suara serak. agaknya tidak jauh lagi dari kematian..." sahut Ji Bun sambil memapah perempuan baju hitam dan didudukkan di atas kursi...

badannya kejang..” "Lam-cau ... ini ..” "Bwe-hiang.... beliau ada di .... papilion yang ada di Se-ek itu?" “ya ... di Lam-cau ..." teriak Ji Bun penuh emosi... bukankah ibunya diculik dan menjadi tawanan Kwe-loh-jin? Bagaimana bisa berada di Lam-cau. ya. inikah Ji-kongcu?" "Ya....... aku adalah Ji-kongcu... kau kenal suaraku? Ibuku... Bwe-hiang. papilion ayahnya dimasa hidupnya? Apakah rumah itu sudah diduduki musuh? .. di mana Ji-hujin sekarang?" "Aku mendengar .... sekuatnya dia gigit bibir. betul..." perempuan baju hitam mengeluh panjang..." sela Ui Bing..... aku sedang menyamar ..." Ji Bun menjadi bingung.....Tiraikasih Website http://kangzusi.... Dengan sekuat tenaga dia bicara: "Kau .. lama sekali baru membuka suara: "Kau .” Ji Bun sadar akan kelalaian ini. "jangan lupa kau menyamar ......” "Oooooh.com/ Berkedip biji mata perempuan baju hitam ini. siapa? Dari mana tahu . "kau tidak mengenalku lagi?" "Hiante. segera dia berkata gugup: "Bwehiang. kulit mukanya bergemetar. mukanya yang pucat menjadi merah..

.. sela .. aku melarikan diri untuk mencari ......." “Kenapa kau jual suara di sini?" "Atas perintah Ji-hujin.. dia .. sorot matanyapun guram. Serasa disayat-sayat isi perut Ji Bun. memperingatkan . Keruan Ji Bun gugup.. keraskan hatimu. namun hanya beberapa patah kata terputus-putus yang keluar dari mulutnya: "Dia . teriaknya: "Bwe-hiang.Tiraikasih Website http://kangzusi. Dia goyang-goyang pundak si perempuan sambil berteriak seperti orang kalap: "Siapakah yang menculik Ji-hujin?" Perempuan itu mengerahkan sisa tenaganya....." "Lari untuk mencariku? Ada urusan apa?" "Ji-hujin suruh hamba ." suaranya semakin lirih dan lemah. Ji-kongcu ......com/ "Apakah beliau selamat?" "Se . mat. namun suaranya sudah tidak terdengar.. keringatnya gemerobyos.... otot hijau merongkol di jidatnya...... memperingatkan apa padaku?" Bibir perempuan baju hitam bergerak-gerak. Jikongcu.......” .

.. apakah kau ." Ji Bun keluarkan anting-anting pualam..” "Urusan apa Hiante.. namun Siaute mohon dua kali bantuanmu .. harap Ui-heng suka memaklumi perasaanku.com/ Tiba-tiba kepalanya menjadi lemas dan miring kesamping. tiba-tiba dia menguak. tenanglah.. betapapun sulit bagiku untuk bantu mengantar anting-anting ini. kau .. Melotot biji mata Ji Bun." "Sukalah kau urus penguburan Bwe-hiang. "selain itu tolong antar sekalian anting-anting ini ke Kay-hong kepada paman Ciang Wi-bin. Ui Bing menjadi gugup.” kata Ji Bun sambil angsurkan anting-anting pualam.. kita baru berkenalan. katanya: "Hiante.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Hiante hendak ke Lam-cau? Kukira lebih baik kau pargi ke Kayhong dulu dan berunding dengan Ciang-cianpwe.. darah menyembur dari mulutnya.” ." "Siaute tak sabar lagi.. katanya: "Hiante. bahwa aku harus segera bertindak untuk menolong ibu yang disekap musuh.. Ui Bing menjadi serba susah.. katakan saja. napaspun berhenti." Ji Bun angkat kepala. gigipun berkerutuk. Ceritakan apa yang terjadi hari ini. katanya menahan gejolak hati: "Ui-heng...

.. waktu kecil dulu pernah beberapa kali Ji Bun ikut ibunya ke sana." Habis berkata ia melompat keluar dari jendela. hanya dendam dan sakit hati yang terpikir dalam benakku. Tak nyana tempat itu kini sudah diduduki musuh dan dijadikan tempat untuk menyekap ibunya. kuharap barang ini tidak terjatuh ke tangan orang lain kalau aku gugur. Pengkhianatan Kacung Keluarga Ji Bun lupa lapar dan dahaga. katanya: "Tidak.Tiraikasih Website http://kangzusi.. tolong Ui-heng antar kembali pada pemiliknya saja. hanya "dendam" yang selalu .com/ "Ui-heng jangan salah paham. akan kuhancur leburkan dia. aku bersumpah menuntut balas sakit hatimu. setelah besar pernah juga pergi sekali. tidak merasakan lelah. tenanglah di alam baka." "Bagaimana kalau titip saja sementara waktu?" ujar Ui Bing. setiap saat aku menghadapi ancaman elmaut. akan kuusahakan." Ji Bun menunduk mengawasi jenazah Bwe-hiang. 13.. malam itu juga dia langsung menuju ke Lam-cau. Rumah yang ada di Lam-cau adalah salah satu dari tiga tempat peristirahatan Ji Ing-hong dulu. Kukuh pendapat Ji Bun. siang malam dia menempuh perjalanan.37. Harap Hiante jaga dirimu baik-baik. kau .. dengan sedih dia berdoa: “Bwe-hiang." “Baiklah.

Pagi hari itu. itulah salah satu rumah Jit-sing-pocu Ji Ing-hong. walau dia harus menghadapi hutan golok dan rimba pedang. . Pintu besar yang berwarna merah sudah agak luntur catnya. Namun demi keselamatan ibunya. seorang pemuda muka hitam berjubah biru mondarmandlr di depan pintu taman yang tertutup rapat. Taman ini terhitung saiah satu tempat milik keluarganya. lautan apipun akan diterjangnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Semakin dekat tempat tujuan hatinya semakin tidak tenteram. akhirnya dia berkeputusan dan mengetok pintu.com/ menggejolak sanubarinya. dia bukan lain adalah Te-gak Suseng Ji Bun yang datang dengan dendam kesumat untuk menolong ibunya. namun sekarang dia mondar-mandir di luar seperti orang asing. Lama sekali Ji Bun mondar-mandir dengan ragu-ragu. tidak berani ketok pintu atau menerobos masuk secara langsung. di ujung jalan yang menjurus keluar kota dari jalan raya yang menuju barat terdapat sebuah taman hiburan yang terkenal diseluruh pelosok kota. gelang tembaga yang tergantung di tengah pintu juga sudah menghijau berdebu. dia tahu musuh pasti telah mengatur jebakan dan muslihat untuk menyambut kedatangannya. o0o Lam-cau adalah sebuah kota kecil yang ramai. agaknya sudah lama tidak terjamah tangan manusia. namun pepohonan di dalam pagar tembok tampak hidup subur dan berkembang dengan lebat.

di antara rambutnya yang awut-awutan.. hatinya bergirang.” .. inilah aku!" "Kau .Tiraikasih Website http://kangzusi... cepat ia menjawab: "Pak jenggot.com/ Lama Ji Bun menunggu baru terdengar suata keresekan daun kering yang terinjak kaki. bukankah ibunya diculik kemati? Kenapa yang menjaga rumah dan membuka pintu tetap penjaga lama? "Siapa yang ketok pintu di luar?" suara serak si jenggot bertanya pula. Pintu segera dibuka separo. disusul suara serak orang berseru: "Siapa?" Ji Bun tidak asing akan suara ini." "Oooo. sorot matanya mengunjuk rasa kaget dan heran. "Pak jenggot!" sapa Ji Bun "Siapa kau berani mengaku sebagai . kau siapa?" "Bun-ji kongcu.. mukanya penuh berewok kaku. Ji Bun sudah jelas dan yakin bahwa yang bertanya di dalam memang si Jenggot adanya.. tampak sepasang matanya memancarkan sinar tajam. hatinya menjadi bingung dan heran.. menongollah seraut wajah seorang tua yang kurus kering.." orang di dalam berseru kaget. suara serak orang tua ini adalah si kakek berjenggot. agaknya di luar dugaannya.

syukur aku tidak mati... . si jenggot mengawasi Ji Bun dari atas ke bawah. tidak.com/ "Pak jenggot. kau ini Ji-kongcu? Kau .. duduk persoalannya nanti kuceritakan... suaranya ragu: "Apa betul ." "Ji-kongcu." ujar pak jenggot menghela napas panjang.. aku sedang menyamar.. ''sampai sekarang jejak Ji-hujin belum diketahui parannya.” "Pak jenggot." "Memang berulang kali aku mengalami bencana.." Sinar mata si jenggot yang tajam seperti mata burung elang menyelidik.Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya: O. Pak jenggot... akhirnya ia berkata: "Wajahmu tidak mirip . masa kau tidak kenali suaraku lagi?" Setelah tangan memegangi pintu... hamba kira Jikongcu ikut menjadi korban musuh. masakah orang lain yang kutanyakan. mana ibuku?" "Ji-hujin?" "Memangnya otakmu sudah miring. tidak mati?" "Apa? Mati? Bagaimana kau." "Apa katamu?” hardik Ji Bun beringas. bisa bilang demikian?" Si jenggot menjadi gelagapan...

Kini pak jenggot bilang ibunya tak keruan paran. siapa pula yang tinggal di sini?" tanyanya kemudian. apa yang dikatakan Bwehang sebelum ajal pasti tak salah. semua ini tidak akan palsu.com/ Kaget dan ketakutan pak jenggot menyurut mundur sampai mulut melongo. sungguh luar biasa. bayangan orang dilihatnya jelas demikian pula racun Giam-ong-ling hanya dimiliki oleh Kwe-loh-jin seorang. hanya kau seorang? Pernah terjadi apa-apa di sini?” "Terjadi apa? Tidak pernah. Sulit dia menganalisa liku-liku persoalan yang ganjil ini. Bagaimana seluk beluk kejadian ini harus diselidiki? Maka dia tanya dengan suara lebih keras: "Pak jenggot kau bicara dengan jujur?" Pak jenggot menjadi gugup. Bwe-hiang adalah pelayan pribadi ibunya." "Apa. Sudah tentu Ji Bun amat penasaran. yang membunuhnya adalah Kwe-loh-jin. "Pak jenggot.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Hanya hamba seorang saja. sahutnya: "Ji-kongcu. hamba tidak tahu apa yang kau maksudkan?" . kenapa Kongcu tanya hal ini?" Ji Bun semakin bingung. bagaimana dia takkan naik pitam? Tapi iapun percaya kalau pak jenggot inipun takkan berbohong. bahwa ibunya disekap di rumah yang ada di Lam-cau ini.

Kongcu bertemu dia? Dia kenapa dan mana dia sekarang?" "Dia sudah meninggal. budak yang menyenangkan sekali. "Hamba menjadi bingung.com/ "Kau masih ingat Bwe-hiang tidak?" "Bwe-hiang? Ya." "Sebelum ajalnya dia bilang bahwa ibu berada di rumah ini. tanaman bunga . "Hayolah bicara di dalam saja. Ji Bun melepas pandang ke seluruh penjuru taman yang amat dikenalnya ini. rumput-rumput liar sama tumbuh... budak mungil dan pandai nyanyi.. ai . Kongcu?" "Aku bertemu dengan dia?" "O.. lalu membalik menutup pintu... sudah tentu. katanya: "Ji-kongcu silakan duduk di gardu saja.... suaranya gemetar ngeri. biar hamba buatkan makanan dan menyediakan arak.." Pak jenggot mundur dua langkah. Kenapa dia." lalu ia mengundurkan diri menuju ke samping rumah sebelah kiri." "Meninggal? Bagaimana mungkin . bukankah dia sama menghilang bersama Ji-hujin?" Ji Bun melangkah masuk ke taman.Tiraikasih Website http://kangzusi." Suara pak jenggot kedengaran kurang wajar.

seorang diri dia berjalan sambil menekan perasaan sedihnya. hal ini hamba sih.com/ yang dulu teratur dan tumbuh subur sama layu bercampur dengan rumput-rumput liar. dia repot membersihkan debu. ." Tersipu-sipu dia mengisi cangkir arak Ji Bun. Entah berapa lamanya. Ji Bun duduk tenggelam dalam kedukaan.. tanyanya: "Apa maksud Kongcu?" "Kau amat memperhatikan menu untuk hidupmu sehari-hari." Pak jenggot melengak. keruan dia heran: "Pak jenggot. baru pak jenggot muncul lagi. pak jenggot berlari pergi dan membawakan hidangan dan arak.ai!. Ji Bun berdiri kesima. gelagasi terbentang di mana-mana. setelah melewati taman bunga dia masuk ke gardu ujung." "Ehm. agaknya kau pandai merawat diri... penjagaan yang ada di dalam gardu tetap seperti sedia kala.ai. empat macam diantaranya malah hidangan daging dan ikan. Katanya: "Ji-kongcu. . cuma debu tebal. dalam waktu sesingkat ini ternyata pak jenggot mampu menyiapkan delapan macam hidangan. he he he.Tiraikasih Website http://kangzusi. hanya belukar melulu yang kelihatan. Dengan mengerut alis. mulutnya mengeluh panjang pendek. silakan dahar seadanya. Setelah membersihkan gardu.. kalau tidak dalam waktu sesingkat ini darimana kau bisa menyiapkan hidangan sebanyak ini?” "O." baru sekarang Ji Bun angkat kepala. Menghadapi keadaan yang serba rusak tak terurus ini.

mendadak Ji Bun merasakan kepala sedikit pusing.." "Soal apa yang ganjil?" "Sebelum ajal Bwe-hiang bilang bahwa Ji-hujin bersama penculiknya ada di tempat ini. mungkin terlalu capai . Entah berapa cangkir sudah Ji Bun menghabiskan arak yang selalu di isi pak jenggot. kenapa kau?" "Beberapa hari ini aku menempuh perjalanan siang malam.Tiraikasih Website http://kangzusi." Pada saat itulah.. serunya mendelik: "Bagaimana mungkin. keduanya lantas makan minum sambil ngobrol. lalu tanyanya: "Pak jenggot.com/ "Marilah pak jenggot kau. setelah dipaksa akhirnya duduk di depan Ji Bun..” .. lekas dia menahan tubuh dengan kedua tangan memegangi meja." Pak jenggot berjingkat berdiri. Pak jenggot memburu maju dan bertanya gugup: "Ji-kongcu. urusannya agak ganjil." Semula pak jenggot rikuh dan tidak berani. iringi aku makan minum. sudah tentu yang dibicarakan hanya soal-soal yang menyangkut keluarga dan peristiwa hancurnya jit-sing-po.

apa katamu?" Pak jenggot menyeringai.” "Ji-kongcu...." Sudah tentu bukan kepalang gusar Ji Bun... kau . Kalau dirinya harus mati demikian.com/ "He he he he . seketika dia mendapat firasat jelek. kau . hardiknya kalap: "Tua bangka. lekas sekali dia duduk lemas di kursinya pula.. ingin rasanya ia merobeknya.. terpaksa kau pasrah nasib saja. kau sendiri yang meluruk kemari.... bentaknya: "Anjing tua... serunya: "Pak jenggot. orang lain takkan tahan terkena racun ini. ujarnya: "Kuharap kau menyerah dan terima kematian saja. kau . dengan melotot dia tatap pak jenggot.. katanya setelah mundur cukup jauh: "Ji-kongcu. berani mencelakai aku?” Pak jenggot menyurut takut melihat wajah Ji Bun yang beringas seram." Hampir meledak kepala Ji Bun. darah mendidih." tiba-tiba berubah air muka pak jenggot dengan menyeringai. jangan kau salahkan hamba.. racun sudah menjalar ke seluruh tubuh.. Namun tenaga tak kuasa dikerahkan. Tersirap darah Ji Bun mendengar tawa aneh ini..." . dia tahu Ji Bun takkan mampu berbuat apa-apa.. namun wajahnya yang beringas buas sungguh menakutkan. apa yang kau lakukan . sungguh penasaran sekali. Mulutnya megap-megap seperti binatang kelaparan. baru saja dia berdiri... Lwekangmu sungguh hebat.Tiraikasih Website http://kangzusi... saking murka...

. kenapa. mata berkunang-kunang dan tidak jelas melihat siapa orang yang baru datang itu..Tiraikasih Website http://kangzusi." Darah yang mendidih merangsang benaknya. kau . bahwa musuh telah menduduki rumah ini." "Ji-kongcu. katanya: "Lebih baik kau tidak tahu.. kepala pusing pandangan gelap.. setelah menarik napas. katanya sambil mengertak gigi: "Pak jenggot.. muka dan dadanya sama basah oleh masakan.. setelah diakhirat. Apa yang dikatakan Bwe-hiang memang tidak salah.. siapa yang suruh kau?" Pak jenggot bergelak tertawa...... pak jenggotpun sudah menyerah kepada musuh. Pada detik-detik yang gawat itulah mendadak sebuah suara bentakan berkumandang di sebelah tubuhnya: "Pak jenggot. kedua tangan menyanggah meja. . jangan salahkan aku. kau takkan meram di alam baka. seketika pandangan Ji Bun menjadi gelap badanpun tersungkur di meja. darah menyembur dari mulutnya. kau akan tahu siapa pembunuhmu. sehingga badannya melorot duduk di atas kursi pula.. katakan ..com/ "Anjing tua. badannya bergoyang gontai berpegangan meja. sungguh sukar dipercaya." Ji Bun berteriak kalap. berani kau!" Susah payah Ji Bun angkat kepalanya. Sekuatnya dia bertahan. dia kuatkan hati menenangkan pikiran.

Terdengar Biau-jiu Siansing membentak pula dengan bengis: "Pak jenggot. cepat tangannya meraba kantong dan mengeluarkan beberapa butir Pi-tok-tan terus dimasukkan mulut.” Ji Bun mulai sadar. Bahwa Biau-jiu Siansing muncul di sini tepat pada waktunya... jawabnya: "Kau orang kosen dari mana?" .. peristiwa yang tidak mungkin bisa terjadi. rasa pening segera berkurang. Namun pandangannya masih remangremang. Agaknya Biau-jiu Siansing juga terlalu emosi. napasnya memburu. pikirannya sudah jernih.Tiraikasih Website http://kangzusi. Pak jenggot yang teringkus oleh Biaujiu Siansing tampak pucat wajahnya. kau sadar tidak apa yang kaulakukan ini?" Gemetar tubuh pelayan tua itu." Sekilas pikiran jernih mengetuk benak Ji Bun. mulutnya menggumam: "Mana mungkin.. kenapa . dengan air ludah dia telan seluruhnya. dia bukan lain adalah Thian-gan-sin-jiu alias Biau-jiu Siansing..com/ "Aduh!" terdengar pak jenggot menjerit disusul sebuah bentakan kereng: "Keluarkan obat pemunahnya.. badanpun gemetar. gumam Biau-jiu Siansing tadi dapat didengarnya. lapat-lapat ia kenal siapa pendatang yang meringkus pak jenggot itu. sungguh amat diluar dugaan. namun dia masih lemas dan belum sempat memikirkan arti kata-kata orang itu..

Tiraikasih Website http://kangzusi. serahkan obat penawarnya jika tidak ingin kukerjain kau hingga setengah mampus. namun tetap tidak mau menjawab. Kembali Biau-jiu Siansing menutuk pula. buih meleleh dari . katakan. pegangan tangan dilepaskan." Bergidik pak jenggot dibuatnya." demikian pak jenggot malah menantang..punya. mana obat pemunahnya?" "Tidak. tua bangka. kenapa kau melakukan semua ini?" "Tahukah kau bahwa mencampur tangan urusan keluarga orang lain merupakan pantangan besar kaum persilatan?" "Keparat.com/ "Tak perlu kau tanya.. Pak jenggot terus merintih-rintih. kontan pak jenggot berkuik-kuik seperti babi disembelih. mukanya yang penuh keriput berubah bentuk menahan sakit. "Ada tidak?" bentak Biau-jiu Siansing. "Anjing tua. pak jenggot berguling-guling. katanya: "Apa tuan mampu berbuat demikian? Meski mati ditanganmu. . keringat sebesar kacang membasahi selebar mukanya." Jari Biau-jiu Siansing segera menutuk. jaagan harap kau bisa keluar dari sini. "Bluk".

. jika mata buta... namun dia tetap tak mau buka suara. seperti ... kuambilkan ...." bentak Biau-jiu Siansing pula.. namun mulutnya malah menyeringai: "Kau .. Dengan gusar Biau-jiu Siansing turunkan kotak obatnya lalu mengeluarkan sebilah pisau yang biasanya dibuat operasi. teriaknya: "Kuping kiri. dan kuping kanan pak jenggot diirisnya pula. maka luluhlah hatinya. "Keluarkan obat pemunahnya. tunggu saja.” Biau-jiu Siansing tarik pisaunya. hiduppun tak berarti orang berhati keras bagaimanapun juga kalau kedua mata diancam.. terbang juga sukmanya. "Kuping kanan!" kembali pisau bekerja. Meski sudah tua.... akan disiksa . sepuluh kali lipat .. daun kuping kiri pak jenggot seketika berpisah dengan kepalanya.. lebih menderita daripada aku. pak jenggot benar-benar sudah kehabisan tenaga.Tiraikasih Website http://kangzusi. suara rintihanpun tak terdengar lagi. Keruan bertambah sakit dan tersiksa keadaan pak jenggot. mukanya seram dan matanya melotot sambil menjeritjerit..com/ mulutnya.. ternyata pak jenggot tahan disiksa. kaupun . teriaknya. betapapun pak jenggot tak berani mengambil resiko lagi." Biau-jiu Siansing berteriak aneh: "Sepasang mata!" pisaunya kembali mengiris kemuka orang.” dan sekali pisaunya bergerak... darah mengalir deras.... "Baiklah . keadaannya sudah sepayah itu.

” Tanpa membuang waktu lagi Biau-jiu Siansing segera berlari ke sana.” Biau-jiu Siansing lantas membuka tutukan Hiat-to pak jenggot." "Obat pemunahnya ada ..." pinta orang tua itu.. dalam sekejap saja dia sudah lari kembali. di dalam laci kelima almari sebelah timur .com/ mampus saja ia melingkar di lantai... biarlah aku yang pergi mengambil... "Katakan dulu di mana obat pemunahnya?" "Di . tangannya memegangi sebuah botol porselin kecil putih. namun beruntun dia menutuk dua Hiat-to yang lain pula. asal obatnya tepat dan mujarab.. katanya sambil diacungkan ke depan pak jenggot: "Apakah ini?" “Ya ... Kena racun berbeda dengan luka-luka parah oleh pukulan.. botol putih .. "Harap bebaskan dulu tutukanmu...." "Tidak. segera akan punah dan sembuh seperti . seolah-olah sudah apal akan keadaan taman luas ini......... di atas loteng yang terletak di pekarangan barat ..Tiraikasih Website http://kangzusi. di ..." Segera ia menghampiri Ji Bun serta menuang sebutir pil dari dalam botol terus dijejalkan ke mulut Ji Bun. katanya dingin: "Kalau obatmu ini betul mujarab baru kupastikan nasibmu... katakan saja.

Tiraikasih Website http://kangzusi. Setelah kepala orang terhantam remuk baru dia sadar. berbareng tangan terayun. kadar racun seketika tawar dan hawa murnipun dapat terhimpun pula. Lekas Ji Bun mengunyah pil itu serta ditelan ke dalam perut. Walau dia mendengar teriakan Biau-jiu Siansing sayang dia sudah tak kuasa mengendalikan tenaga pukulannya. memang Wanpwe yang salah. terdengar jeritan menyayat hati. begitu mendapat sumber berita segera aku menuju kemari. "terima kasih atas pertolongan Cianpwe. namun menyesalpun sudah kasip. Maklumlah bukan kepalang benci dan sakit hati Ji Bun." . "ujar Ji Bun menyesal. Sekali melejit dia melompat bangun terus memburu ke sana.” "Lohu sudah memberi peringatan supaya sebelum bertindak kau pergi ke Kay-hong dulu untuk merunding dengan Ciang Wi-bin "Betul. Biau-jiu Siansing segera berteriak mencegah: "Jangan dibunuh!" Sayang sudah terlambat. maka dia menyerang dengan penuh emosi. batok kepala pak jenggot kontan hancur luluh. namun hubungan ibu dan anak betapapun tidak dapat sabar dan membuang waktu lagi. tamatlah riwayat budak ayahnya yang ternyata khianat ini." "Ya.com/ sediakala. cepat sekali keringat dingin merembes dari seluruh pori-pori badannya. Berkerut alis Biau-jiu Siansing: "Mestinya kau harus mengompes keterangannya dulu.

tentu kau bisa bayangkan akibatnya. sekarang menawan ibunya sebagai sandera pula. Lohu sendiri juga pernah berjanji dalam sebulan untuk bantu menyelidiki seluk beluk musuh. mana mungkin dirinya masih bernyawa sekarang. memang... Tapi bagaimana keadaan ibunya? Tegakah dia membiarkan ibunya tersiksa dan menderita dibelenggu musuh? Rencana kerja yang diatur dan dilaksanakan Biau-jin Siansing serta tutur katanya telah menunjukkan bahwa seluk beluk musuh sedikit banyak sudah dapat merabanya.. "Tapi kenapa?" .Tiraikasih Website http://kangzusi. maka dia berkata dengan suara haru: "Tentunya Cianpwe sudah tahu asal usul musuh. bahwa Lohu suruh kau menyamar adalah untuk mengelabuhi pihak lawan supaya tidak terjadi sesuatu di luar dugaan." Merinding Ji Bun. lebih celaka lagi kacung ayahnya yang setia dulu sekarang juga menyerah dan menjadi kaki tangan musuh hendak mencelakai jiwanya pula..com/ "Tekadmu memang dapat dimengerti. tanyanya mendesak." "Boleh dikatakan demikian. Hanya tinggal mencari bukti dan kenyataan.” Tersirap hati Jl Bun. kalau maling sakti ini tidak muncul tepat pada waktunya. tapi . kau harus menunggu. kalau Ui Bing tak segera memberi laporan dan aku menyusul kemari tepat pada waktunya. Bahwa musuh berulang kali cari kesempatan hendak membunuh dirinya.. sungguh suatu hal yang mengerikan.. Apa maksud tujuannya sukar diraba.

menurut pendapatku. dirinya sudah tersudut dan menghadapi jalan buntu. kekuatan musuh ternyata satu kuat dari yang lain." "Dia tidak akan mengalami apa-apa.com/ "Menurut rabaan. tidak mungkin ada kejadian-kejadian seaneh ini. dalam sebulan pasti bisa kuselidiki dengan terang. ia yakin bekal untuk menuntut balas sudah cukup melampaui." "Berdasarkan apa Cianpwe berkata demikian?" "Menurut keadaan yang sudah Lohu ketahui. Minat untuk ke Kay-hong tiada. lebih baik sekarang juga kau harus berangkat ke Kay-hong. tapi belum bisa." "Cianpwe tidak suka memberitahu seluk beluknya?” "Bukan tidak suka." Timbul rasa duka dalam hati Ji Bun. namun di luar perhitungannya.Tiraikasih Website http://kangzusi. akan tetapi kenyataan justeru menyulitkan Lohu akan analisa semula. Sejak meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu yang ganas." "Wanpwe hanya menguatirkan keselamatan ibuku. pengalaman getir yang beberapa kali ini sungguh merupakan peristiwa yang terlalu berat untuk dipikul dan dirasakan oleh anak semuda dirinya. kau harus bersabar. dalam situasi seperti sekarang. lalu mendapat saluran kekuatan dari orang tua di dasar jurang itu. dendam berdarah keluarganya entah kapan baru bisa terbalas? .

dia mengagulkan diri sebagai tokoh beracun yang tiada tandingan.... katanya: "Darimana kau tahu ayahmu tak mampu menawarkannya?" 13." "Pi-tok-tan yang selalu Wanpwe bawa bisa menawarkan segala macam racun." lalu ia tuang beberapa butir ditelapak tangannya. Sampai sedemikian jauh kau harus tetap merahasiakan dirimu.com/ Seperti memikirkan sesuatu Biau-jiu Siansing berkata: "Kita harus segera meninggalkan tempat ini. katanya lebih lanjut: "Waktu ayah mendapatkan Tok-keng dulu.. Ji Bun menerimanya sambil mengucap terima kasih. sisanya yang ada di dalam botol ia serahkan pada Ji Bun. pak jenggot sudah mati.Tiraikasih Website http://kangzusi.??!! "Karena tak pernah beliau sebut-sebut nama Giam-ong-ling. racun Giam-ong-ling ini biarpun ayah sendiripun tak mampu menawarkannya..." "Itu tidak bisa membuktikan bahwa dia tidak mampu menawarkannya. namun terhadap Giam-ong-ling ini kehilangan khasiatnya.. tiada orang hidup lain di sini.. Tak nyana gunung satu lebih tinggi daripada gunung yang lain.38." Terpancar sinar mata Biau-jiu Siansing yang aneh... mungkin setiap waktu bisa kau gunakan. ini membuktikan .” . Obat pemunah racun Giam-ong-ling ini boleh kau bawa. Kedok dan kemunafikan Sang Ayah .

Dan setahunya Jit-sing-pang belum pernah mengikat permusuhan dengan siapapun. sekaligus juga memutuskan keturunan keluarga Ji. maka selama hidup dirinya tak boleh bersentuhan kulit dengan lawan jenisnya." "Nah. namun ada dua persoalan yang masih merupakan tanda tanya bagi dirinya. kalau begitu siapa tahu kalau racun Giam-ong-ling ini juga tercatat di Tok-keng itu?" "Memangnya antara ayah dan anak juga perlu main rahasia segala?" "Menurut aturan tidak. namun dia toh tidak berani menyangkal adanya kemungkinan ini. justeru mengajarkan kepada dirinya.com/ Biau-jiu Siansing goyang-goyang tangan: "Itu belum tentu. ayahpun tahu hal ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. apakah kau sendiri pernah mempelajari Tok-keng?" "Tidak. Hal ini bukan saja mematahkan harapan hidup bahagia di kemudian hari. mengapa? . tiada ambisi untuk menguasai dunia. ayahnya jelas tahu setelah meyakinkan Bu-ing-cuisim-jiu. Kedua. mestinya tidak perlu meyakinkan ilmu beracun yang ganas ini. namun kejadian di dunia ini kadangkadang sukar diterima oleh akal sehat." Ji Bun diam saja. Kini ayahnya sudah meninggal. dirinya belum pernah membaca Tok-keng. apa yang Wanpwe dapatkan adalah ajaran ayah secara lisan. dia tidak percaya kalau ayahnya sekikir itu dan sengaja merahasiakan pelajaran terhadap puteranya. Pertama.

. mereka menuju ke barat terus keluar kota.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Tiada ayah bunda di dunia ini yang tidak sayang kepada puteraputerinya. Jika betul ayahnya seorang jahat dan bermoral bejat. mereka tiba di tegalan yang penuh belukar. namun tindakan ayahnya dalam hal ini jelas salah. Ji Bun hanya manggut-manggut. selamat bertemu di Kay-hong.. apakah sudi memberi penjelasan suatu persoalan yang mengganjel hati Wanpwe?" "Soal apa?" "Tentang gedung setan di kota Cinyang .. katanya. "Cianpwe." Tiba-tiba teringat sesuatu hal yang selama ini mengganjel hatinya. bukan saja ia amat berduka dan menderita lahir batin.... "Lekaslah kita pergi!" ujar Biau-jiu Siansing pula.. "Kita berpisah di sini..” . Sebagai putera puteri yang harus berbakti kepada orang tua. diapun merasa malu. Biau-jiu Siansing berhenti. apa yang harus dilakukannya sekarang? Terbayang juga olehnya cerita Siangkoan Hong yang menggiriskan itu. demikian pula peristiwa pembunuhan murid Siuyan Loni yang diperkosa lebih dulu. bukankah dia merupakan sampah persilatan yang patut dibunuh oleh setiap insan? Hal inilah yang betul-betul mengetuk sanubarinya.. dia ikuti langkah Biau-jiu Siansing keluar. ia bertanya.

namun dia hanya menyintai seorang muda yang bergelar Hing-thiankiam Gui Han-bun.” "Istri bapakmu yang resmi.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Biau-jiu Siansing menepekur sebentar." "Bolehkah Wanpwe mengetahui?" "Ehm. kedua insan yang sedang memadu kasih di puncak Siau-sit-hong di gunung Siong-san mendadak kepergok oleh musuh. Sudah tentu Khong-kok-lan amat sedih. Suatu ketika jerih payahnya tidak sia-sia.. entah berapa banyak pemuda yang tergila-gila padanya. dia bersumpah menuntut balas pembunuh kekasihnya..." Perasaan Ji Bun menjadi bergolak. Pada suatu malam hari terang bulan. Memang gedung setan itu adalah salah satu tempatku yang dirahasiakan. "Wanpwe mohon penjelasan. keduanya sumpah setia sehidup semati. katanya: "Kau pernah ke sana bukan? Baiklah Lohu akan berterus terang padamu. kenapa ibu tua tampaknya amat dendam dan benci terhadap ayah?" "Ya. . Khong-kok-lan So Yan?" Biau-jiu Siansing menukas.. jenazahnya hilang tidak berbekas. katanya: "Disana Wanpwe bertemu dengan . pernikahan Khong-kok-lan So Yan dengan ayahmu memang banyak lika-likunya. Waktu mudanya dulu ibu tuamu itu cukup tenar juga di kalangan Kangouw.. Hing-thian-kiam terpukul jatuh masuk jurang oleh musuhnya. baik juga kalau kau tahu akan peristiwa itu.

bagaimana selanjutnya?" "Kira-kira tiga tahun kemudian. dia terluka parah oleh pukulan musuh. Akhirnya dia menikah dengan penolongnya itu .. lekas dia menukas: "Siapakah penolongnya itu?" Membelalak kedua biji mata Biau-jiu Siansing.. maka kedua pihak bertarung mati-matian . ketika dia hendak diperkosa.” Sampai disini Biau-jiu Siansing merandek... disamping amat haru dan berterima kasih akan perawatan dan pertolongannya. suaranya meninggi: "Setelah luka-luka Khong-kok-lan sembuh. diobati dan dirawat dengan tekun .... musuhnya itu timbul nafsu birahinya.." “O. sekaligus terbongkarlah satu muslihat yang menakutkan ....” .. maka Khong-kok-lan dibawanya pergi. datang seorang menuntut balas ke jit-sing-po... muncullah seorang tokoh muda lainnya. seperti mengenang dan merangkai cerita yang akan diuraikan.....Tiraikasih Website http://kangzusi... Musuh berhasil dibunuh olehnya.. Melihat wajahnya ayu jelita.. lalu melanjutkan: "Sayang kepandaian Khong-kok-lan setingkat lebih rendah.com/ musuh berhasil ditemukan.. sahutnya: "Dia adalah ayahmu Ji Ing-hong. malah membujuk dan meminangnya berulang-ulang.” Jantung Ji Bun berdebur.” Biau-jiu Siansing pejamkan mata.... diapun merasakan penolongnya ini seorang muda yang baik hati.

"Ya.” Berat perasaan ji Bun...." "Pembunuhan yang sudah direncanakan?" Ji Bun menegas pula. memang pembunuhan yang sudah direncanakan ... tidak mungkin!" "Kau harus menerima kenyataan ini dengan kepala dingin.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Rahasia apakah yang terbongkar?" Biau-jiu Siansing mengertak gigi.. muslihat yang rendah dan hina dina tujuannya adalah Khong-kok-lan .." "Siapa bisa membuktikan?" "Ji Bun.. katanya dengan keren: "Ternyata Hing-thian-kiam yang dipukul jatuh ke dalam jurang tiga tahun yaog lalu itu.. namun rasa ingin tahu tetap merangsang dihatinya... kau kira siapa yang menuntut balas ke Jit-sing-po?" . . tanyanya dengan gemetar: "Muslihat siapakah itu?" "Ayahmu!" Bergidik Ji Bun seperti mendadak kecebur sumur es yang dingin.. teriaknya dengan histeris: "Tidak.. hampir dia tak berani mendengar lebih lanjut.

. maka dia cari kesempatan...com/ "Siapa?" "Ji-susiokmu (paman guru kedua)! Sam-susiokmu dibunuh ayahmu setelah Hing-thian-kiam berhasil dijerumuskan ke jurang." "Lalu bagaimana dengan Ji-susiok?" "Akhirnya iapun terbunuh oteh ayahmu.. betapapun takkan tercuci bersih. untuk turun membalas kekejian ayahmu .. perbuatan rendah dan hina dina yang diwariskan ayahnya ini.Tiraikasih Website http://kangzusi. ternyata . dia percaya ini pasti bukan bualan belaka... lebih-lebih tiada kesempatan lagi. Setelah ayahmu memperoleh Tok-keng..” "Watak Sam-susiokmu mirip dengan ayahmu.... mulutnya menggumam: "Betulkah ayah macam orang demikian? Dia ." ...." "Ibu tuamu Khong-kok-lan tahu kepandaian silatnya bukan tandingan ayahmu.. tanyanya: "Dia berhasil menuntut balas?" "Tidak." "Oh. namun derita lahir batin ini takkan bisa dilenyapkan untuk selamanya. maka dialah yang menjadi korban muslihat keji dan kotor itu.... ini sungguh menakutkan. ini ." Ji Bun mundur tiga langkah..” Terbayang oleh Ji Bun betapa dendam dan benci ibu tuanya terhadap ayahnya.

waktu dilahirkan ibunya meninggal.com/ "Bagaimana beliau bisa berada di gedung setan?" "Secara suka rela aku menolong dan menerimanya.. setelah kau mampir ke gedung setan itu. karena Lohu juga punya hubungan luar biasa dengan keluarga Ciang.Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya gemetar: "Itulah puteraku..." "Siapakah bocah bernama Siao-po itu?" Terunjuk rasa pilu pada sorot mata Biau-jiu Siansing. ayahmu ada hubungan kental dengan keluarga Ciang.” "Karena itulah. Lohu mau menerimanya." "Cianpwe mau menerima ibu tua disana.." "Apakah ayahku almarhum tidak tahu?" "Yang tahu sarang rahasiaku kau inilah orang pertama. tentu ada sebabnya? Bolehkah Wanpwe tahu?" "Ini ." "Cianpwe memang sudah tahu sebelumnya akan peristiwa itu?" "Tidak. betul tidak?" "Itu memang kenyataan. belakangan ini. ibumu menceritakannya padaku. sekarang kuserahkan dia untuk merawat dan membimbingnya." .

.. bisa meramal dan lain-lain. betul tidak?" tukas Siucay tua dingin. Agaknya Biau-jiu Siansing betul-betul terperanjat. tentunya tiada gunanya buat kau . namun sorot matanya tajam menatap Biau-jiu Siansing.” "Betul lalu saudara ada petunjuk apa?" .. ahli mengobati penyakit aneh. kiranya seorang Siucay (pelajar tua) yang berdandan seperti guru kampungan... katanya: "Tuan tidak perlu tahu.. sahutnya: "Memang akulah yang rendah. lalu balas bertanya: “Pandanganku mungkin sudah kabur." Belum habis Ji Bun bicara.com/ Tengah mereka berbincang.. tanpa sadar Ji Bun berteriak memuji: "Gerakan hebat.” "Tuan juga adalah Biau-jiu Siansing.. katanya setelah mengawasi sekian lamanya: "Tuan ini adalah Thiangan-sin-jiu?" Biau-jiu Siansing ngakak. sekonyong-konyong bayangan seorang bagai angin lesus melesat lewat di samping mereka..Tiraikasih Website http://kangzusi.. maka mohon tanya saudara ini orang kosen darimana?" Berputar biji mata Siucay tua yang berkilau itu.. matanya melirik kepada Ji Bun... saudara . dapat dijajarkan dengan Cianpwe. bayangan orang yang sudah lewat itu tiba-tiba melesat kembali dan berhenti di hadapan mereka. kalau aku sembarangan menyebut sebuah nama.

benar tidak?" .Tiraikasih Website http://kangzusi. sejauh memang dirinya belum berhasil melucuti wajah aslinya maling tua ini. "Kau pasti punya dasar tuduhan ini? Coba jelaskan. "Apa?" teriak Biau-jiu Siansing keras. Serta merta dia melirik Biau-jiu Siansing dengan tatapan curiga. ikut membuat huru-hara ke Wi-to-hwe." Berdebar hati Ji Bun. "Ji Ing-hong sekomplotan denganku?" "Apa kau menyangkal?" tanya orang itu." "Siapa?" "Jit-sing-po-cu Ji Ing-hong. orang yang berdandan pelajar kampungan ini entah darimana asalnya. yang diketahui hanya Biau-jiu Siansing adalah duplikat Thian-gan-sin-jiu. Untuk apa pula mencari tahu jejak ayahnya? Dari mana dia tahu asal usul Biau-jiu Siansing? "Kenapa saudara mencari tahu jejak Ji Ing-hong kepadaku?" "Karena kalian sekomplotan. Sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa Biau-jiu Siansing sekomplotan dengan ayahnya.com/ "Aku ingin mencari tahu seseorang." "Tuan bersama Ji Ing-hong menyaru jago Ngo-lui-kiong." Tersirap darah Ji Bun.

soal lain tak usah ditanya. Jit-sing-pocu sudah meninggal di jalan raya yang menuju ke Kay-hong. Walau wajahnya sukar dikenali. berani kau mengatakan bahwa yang mati betul-betul Ji Ing-hong si keparat itu?" Mendengar orang memaki dan menghina ayahnya." "Kukira kau takkan bisa menagih utangmu itu.com/ "Darimana kau tahu?" "Cukup asal kau mengaku saja. namun dia tekan amarahnya. namun dari barang-barang . jenazah ayah dan dia sendiri yang mengubur. tanyanya: "Untuk apa saudara mencari tahu jejaknya?" Berkilat sinar mata Siucay tua itu." Semakin bergolak perasaan Ji Bun. katanya: "Maling tua. Kenapa Biau-jiu Siansing tidak pernah menyinggung soal ini? Memang waktu Biau-jiu Siansing pernah memperingatkan dirinya supaya meninggalkan gelanggang.Tiraikasih Website http://kangzusi." Siucay tua terkekeh-kekeh dingin. sungguh tak nyana orang baju putih yang mengacungkan Ngo-lui-cu di Tong-pek-san dan dicegah Thong-sian Hwesio itu ternyata adalah ayahnya. Sepak terjang Biau-jiu Siansing sungguh sukar diraba. Kata-kata orang juga mengejutkannya. Biau-jiu Siansing terdiam sebentar. kiranya ada sebabnya. Ji Bun naik pitam. katanya: "Untuk menagih utang lama.

" "Sikapku ini terhitung memberi muka padamu.Tiraikasih Website http://kangzusi. jelas adalah milik ayahnya. bicaralah terus terang saja. hakikatnya dia anggap tidak dengar ucapan Ji Bun. katanya melengking: "Buyung." "Maling tua. tiada urusanmu disini. Cukong atau majikan Kwe-loh-jin pernah suruh orang berpesan kepadanya bahwa ayahnya mati terbunuh oleh Thong-sian Hwesio." "Saudara terlalu menghina dan pandang rendah orang lain. Hati Ji Bun juga dirundung kecurigaan. bukan mustahil peristiwa pembunuhan itu juga merupakan muslihat belaka? Akhirnya Biau-jiu Siansing buka suara nadanya rendah dingin: "Aku tidak mengerti apa maksud saudara. Biau jiu Siansing juga melenggong sekian lama." Ji Bun tidak sabar lagi." . pakaiannyapun cocok dan tidak mungkin dipalsukan. segera ia menyeletuk dengan sinis: "Kenapa tuan ini tidak berterus terang akan pribadi sendiri?" Mengerlingpun tidak mata Siucay tua. dihadapan sang Buddha jangan kau bersembahyang dengan dupa palsu.com/ peninggalan yang ada di kantong bajunya. apakah kau tahu di mana Ji ing-hong berada?" "Mungkin aku tahu." "Kenapa tidak?" "Hm.

" "Akupun tidak sabar untuk menggebahmu pergi. apalagi manusia berjiwa kerdil dan jahat seperti dia.” Lekas Biau-jiu Siansing menyela: "Berdasar apa kau bilang yang mati di jalan raya Kay-hong itu bukan Ji Ing-hong?" "Kenapa Ji Ing-hong dibunuh? Siapa yang menyaksikan? Dengan bekal kepandaiannya. Ji Bun tidak gentar. ia balas tatap orang. tapi masih banyak orang pandai di kalangan Kang-ouw. masakah Ji Ing hong tidak mampu melarikan diri." "Selamanya Lohu tidak suka mengagulkan diri.com/ Tiba-tiba Siucay tua berputar menghadap Ji Bun. katanya: "Sekarang mohon tanya nama gelaran tuan. kukira jarang ada orang yang mampu membunuhnya? Apalagi.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Meski demikian." . anak muda." "Kalau demikian." "Kau congkak sekali. jangan harap tuan bisa mendapat jawaban. sorot matanya bagai kilat tajam menatap anak muda itu. tentu sebelumnya dia sudah mengatur jalan mundur. dia pandai main racun?“ "Memang beralasan." "Jangan saudara lupa. dia terbunuh setelah berhantam matimatian dengan lawan dan akhirnya gugur bersama. Aku tidak sabar lagi.

perhitungan apa yang hendak tuan tagih dari dia?" "Anak muda. Maka ia ber¬kata: "Agaknya tuan selalu menguntit jejak Ji-pocu. Ketahuilah maling tua." "Soal mati hidupnya tak perlu diungkat lagi. boleh dikatakan demikian. namun mayat-mayat mereka pernah kuperiksa. tadi kau bilang tahu jejaknya?” "Ya. wajahnya dihancurkan setelah jiwanya melayang. "Aku datang kemudian. malah aku sendiri yang mengubur mereka. korban itu mati lantaran keracunan." "Ya. tiada luka apa-apa di badannya. jika betul begitu. Luka-lukanyapun tiada sesuatu yang luar biasa.com/ "Kau sendiri tidak menyaksikan bukan? Kabar angin tidak boleh dibuat bukti.Tiraikasih Website http://kangzusi. Sudah tentu ia harap ini jadi kenyataan. Cayhe tahu kalau dia sudah meninggal. Cara mengelabuhi orang begitu masakah bisa mengaburkan pandangan Lohu. maka dalam peristiwa pembunuhan ini pasti ada latar belakangnya. Keja¬dian ini betul-betul merupakan keanehan." "Jadi tuan sendiri menyaksikan kejadian itu?" tanya Biau-jiu Siansing. ia berharap ayahnya masih hidup. menandakan asal usul si korban. maka darah yang meleleh tidak banyak. akupun mendapatkan tanda-tanda bukti dari kantong bajunya." ." Goyah pendirian dan pendapat Ji Bun.

" Bangkit watak angkuh Ji Bun. minggir kau." Belum lenyap kumandang suaranya.Tiraikasih Website http://kangzusi. tahu-tahu Jian-kin-hiat di pundak telah terpegang oleh lawan. tangannya tiba-tiba terulur ke dada Ji Bun.com/ “Apakah tidak terpikir olehmu bahwa itu muslihat Ji Ing-hong untuk mengalihkan perhatian musuh terhadap jiwanya?" "Tiada alasan kenapa aku harus berpikir demikian. soal ini kau tidak usah campur. Seketika Siucay tua menjerit kaget: "Tangan beracun!" pegangan dilepas. gerakan cengkeraman ini aneh dan cepat sekali. telapak tangannya memapas pergelangan tangan lawan. wajahnya berubah pucat. kaki menyurut mundur." "Anak muda. . dengusnya: “Cayhe justru ingin ikut campur." desis Siucay tua. Belum lagi gerakannya berhenti. tahu-tahu setengah tubuhnya terasa kejang dan linu. Ji Bun menggeram rendah. "Apa maksudmu?" "Agaknya kau sudah bosan hidup?" ancam Siucay. "Jangan kau paksa aku membunuhmu. telapak tangannya juga berhasil menabas pergelangan lawan.” "Bedebah. iapun bergerak dalam waktu yang sama.

" "Apakah tuan tidak takluk dan menyerah saja?" "Kalau tahu kau ini Te-gak Suseng. namun racun tetap tidak akan bisa ditawarkan. dia tunggu reaksi namun Siucay tua ini tidak terjungkal roboh. paling-paling hanya mengulur waktu saja. Lohu tak pernah pikir bakal kecundang olehmu.. tentunya bukan wajahmu yang asli . dapatlah dibayangkan betapa tinggi Lwekangnya. ... Seorang yang tidak gentar terhadap tangan beracun. menyerah saja." hanya bicara beberapa patah kata ini. Terdengar Siucay tua barkata tertahan: "Kau inikah Te-gak Suseng? Kenapa tidak mirip wajah yang pernah kudengar ." Mendadak Biau-jiu Siansing berkata keras: "Berikan obat penawarnya!" "Kenapa?" tanya Ji Bun melengak. keringat sudah berketesketes di jidat si Siucay...com/ Dingin Pandangan Ji Bun. oh... anak muda.." "Ehm. tiada kesempatan bagimu menggunakan racun. bagus.Tiraikasih Website http://kangzusi.." "Mungkin. ya. Kalau dia dapat melawan menjalarnya racun dengan tenaga dalam. hanya mulutnya sedikit mengernyit seperti menahan sakit. "Latihan Lwekang tuan memang amat mengejutkan. keluyuran bersama si maling. tapi sudah terlambat. mungkin memang sudah nasibku.

Begitu membalik badan. rasa derita seketika sirna dari wajahnya. Ji Bun berpikir. tahu-tahu Siucay tua itu sudah berkelebat menghilang.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Pamanku? Apakah Cianpwe tidak yakin dia ini orangnya?" . Katanya sambil membanting kaki: "Selamat bertemu lagi" Sekali berkelebat.” "Siapa?" "Lan Sau-seng.com/ "Nak." "Orang macam apakah Lan Sau-seng itu?" "Dia adalah adik ibumu. curiga akan seseorang. maka tanpa bersuara segera dia keluarkan sebutir pil terus diangsurkan.. kecepatan dan ketangkasannya ternyata tidak di bawah Biau-jiu Siansing. Dengan heran Ji Bun bertanya: "Kenapa harus memberi obat penawar kepadanya?" "Lohu ... berikan kepadanya!" kata Biau-jiu Siansing tegas. Lekas Siucay itu menerima dan ditelapnya. mungkin Biau-jiu Siansing punya maksud tertentu. bayangannya tahu-tahu sudah menghilang.

kenapa tadi Cianpwe tidak tanya kepadanya?" . pamanmu ini menentangnya secara keras." "Pertama. Kedua." “O.com/ "Tidak.Tiraikasih Website http://kangzusi. menurut apa yang pernah dikatakan ayahmu. karena itu hubungan kakak beradik menjadi putus. jadi ibumu hanya seorang gundik.. maka dia bertanya gugup: "Kenapa dia menentang pernikahan ibuku?" "Karena ayahmu sudah menikah dengan ibu tuamu Khong-koklan So Yan. waktu ibumu Lan Sau-tin menikah dengan ayahmu.” Ji Bun ketarik. agaknya amat besar cinta ibu kepada ayah dulu." "Lalu kenapa Cianpwe curiga kalau dia ini paman ku?" "Dulu." “O. dia bilang hendak membuat perhitungan namun tidak mau menyebut nama sendiri. hal ini jarang diketahui orang di kalangan Kang-ouw. pamanmu Lan Sau-seng memang ahli dalam Ginkang. Dalam gusarnya pamanmu mengusir ibumu dan bersumpah suatu ketika hendak membuat perhitungan dengan ayahmu . kiranya begitu. Lalu berdasar apa Cianpwe menaruh curiga... sebab Lohu belum pernah melihat mukanya. namun dia tahu.. inilah sekelumit riwayat hidup keluarganya yang belum diketahuinya. Ketiga. gerak geriknya aneh dan cepat. bahwa ayahmu sering menyamar jadi orang berkedok berjubah sutera.

" lalu ia melangkah pergi. kenapa keduanya tidak nampak luka-luka? Ketiga. sudah tentu dia berharap timbulnya suatu kegaiban. Kedua. katanya sungguh-sungguh: "Betul¬kah ayah belum meninggal?" Biau-jiu Siansing balas bertanya: "Apa kau sendiri berpendapat hal ini mungkin?" "Sesuai apa yang dikatakan Siucay tadi mungkin saja. setelah jiwa melayang baru kepala mereka dihancurkan. Kelak kau masih punya banyak waktu untuk menyelidiki hal ini. Namun dalam hati dia merasa malu diri.Tiraikasih Website http://kangzusi. . peti segera dipanggul dan tangan menggoyang kelinting. banyak buntutnya." Ji Bun manggut-manggut. sekali lena dan gegabah. tidak mungkin dia mati keracunan. selamat bertemu lagi. ada latar belakangnya. Agaknya Biau-jiu Siansing sudah segan membicarakan hal ini. jelas peristiwa ini memang." "Jadi kau berpendapat ayahmu memang sengaja main muslihat?" Ji Bun diam saja. karena perbuatan seperti ini tidak pantas dilakukan oleh seorang pendekar yang berjiwa ksatria. katanya: "Lohu harus segera berangkat. Pertama. bahwa dia gugur bersama dengan Jit-sing-kojin. bahwa yang terbunuh itu memang bukan ayahnya.com/ "Kalau salah bagaimana? Jumlah musuh tidak sedikit. ayah seorang ahli dalam permainan racun.

13. Semua perubahan yang bertambah rumit ini merupakan pukulan yang menggoyahkan tekad Ji Bun untuk menuntut balas. maka tanpa banyak pikir lagi Ji Bun segera mengayun langkah kembali ke kota Lam-cau. Hal ini sungguh sangat menusuk hatinya. Bukan saja bisa meminjam tenaganya. bagaimana bisa menuduh Thong-sian Hwesio sebagai pembunuh? Pula Thong-sian Hwesio tidak pernah pakai racun. Korban Ilmu Hian-giok-siu-hun Masuk dari pintu barat tanpa sadar dia langsung menuju ke rumah ayahnya. iapun bisa diminta saran untuk merancang penuntutan balas. Kalau ayah tidak mati. Semua persoalan yang diajukan oleh Siucay tua tadi sebetulnya bisa segera membuktikan kenyataan. Semakin dipikir semakin kalut. Dari rahasia keluarga yang diketahui ini secara beruntun membongkar kedok dan kemunafikan ayahnya.Tiraikasih Website http://kangzusi.39.com/ Dalam jangka setengah hari ini. banyak yang diperoleh Ji Bun mengenai rahasia keluarganya. Sekarang dia benar-benar merasa perlu untuk segera pergi ke Kay-hong. apalagi sepak terjang ayahnya dulu memang terlalu rendah dan hina. hanya Ciang Wi-bin seorang yang sekarang bisa diajak berunding. pasti ada orang lain pula yang . diam-diam ia malu dan berduka. juga tak mungkin dia menghancurkan kepala orang setelah membunuhnya? Sayang waktu dia mengubur kedua mayat itu tidak memikirkan hal ini. Dia pikir kalau pak jenggot sudah mau dibeli oleh musuh dan menjadi kaki tangannya.

kesiur angin dari lambaian pakaian orang terdengar oleh kupingnya yang tajam. bahwa dia mau menjadi kaki tangan dan mencelakai jiwa tuan mudanya. sungguh suatu hal yang luar biasa? Dengan seksama Ji Bun periksa seluruh isi rumah ini. Seumpama secara tidak terduga diperoleh sumber. tentu tidak usah banyak membuang tenaga dan memeras pikiran lagi. kembali dia menyelundup kedalam taman. mungkin ada jejak lain yang bisa ditemukan di sana. namun tiada sesuatu yang didapatkan. Dia melompat ke wuwungan rumah dari arah samping. dilihatnya mayat pak jenggot masih menggeletak di tempat semula. cepat dia menyelinap ke balik rumpun bunga. Pak jenggot adalah warga Jit-sing-po yang tertua.com/ menghuni rumah besar itu. di sinilah letak kebajikan Ji Bun.Tiraikasih Website http://kangzusi. apa betul dalam rumah sebesar ini hanya dihuni pak jenggot seorang? Jadi pak jenggot memang sudah lama mendapat perintah untuk menjebak dirinya. Selesai mengubur mayat pak jenggot. ia pikir harus segera pergi. setiba ruang depan. Tergerak hati Ji Bun. Hanya jejak dan keselamatan ibunya yang masih mengganjel hatinya. Tapi baru saja timbul niatnya. namun sebagai manusia berhati luhur. Sesaat dia berdiri melongo. Walau ia amat dendam dan benci kepada pak jenggot yang khianat ini. haripun sudah mendekati magrib. Ji Bun menggotongnya keluar dan dikebumikan di taman. .

apa tujuan Wi-to-hwe mengutus orangorangnya kemari? Dendam kembali membakar dadanya. Bu-cing-so kaget. yang terdepan adalah Bu-cing-so diiringi delapan laki-laki berseragam hitam." Ji Bun keheranan. dia kira tidak perlu banyak mulut lagi. begitu kaki menginjak tanah. Sekarang dia yakin dengan bekal Lwekangnya. segera memberi tanda peringatan. Secara refleks dia melompat ke belakang. malah serangannya bukan olah-olah hebatnya. kedua tangan segera di dorong kedepan. Pelan-pelan Bu-cing-so pandang ke seluruh penjuru. geledah dengan teliti. mulutnya mengguman sendiri: "Pernah ada orang bergebrak disini. segera Bu-cing-so angkat tangan memberi perintah: "Dua orang satu kelompok. . pasti cukup untuk menghadapi Bu-cing-so bersama delapan anak buahnya. Tak pernah diduga Bu-cing-so bahwa laki-laki muka hitam ini mendadak muncul lantas menyerang dirinya. Secepat kilat tangan kanannya membelah ke depan sementara tangan kiri ikut memotong miring melintang. bentaknya: "Siapa kau?" Tujuan Ji Bun merenggut jiwa orang. begitu menemukan apaapa. Begitu nafsunya timbul segera dia berkelebat keluar.com/ Beberapa orang tampak melompat turun dari atap rumah. tanpa sadar dia mundur selangkah.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Berantas satu persatu" itulah semboyan dalam rangka menuntut balas." Serempak kedelapan orang mengiakan terus memencarkan diri.

karena Bu-cing-so tergetar mundur jaraknya agak jauh. kiranya dua diantara anak buahnya memburu tiba karena mendengar keributan di sini. Mimpi juga Bu-cing-so tidak pernah menduga dalam segebrak meja dirinya sudah kecundang. air mukanya berubah sama sekali. sebaliknya Bu-cing-so terdorong mundur tiga empat langkah. begitu pukulan saling bentur." Ji Bun tak pedulikan.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Blang". Gerakan Ji Bun hanya teralang sekejap. damparan angin seketika menerjang ke depan. "Plak". "Blang". maka tadi ia hanya mengerahkan enam bagian tenaganya. Gerakan tangan kanan Ji Bun hanya tipuan belaka. bentaknya: "Sebutkan namamu. sebaliknya tangan kiri mengerahkan seluruh kekuatannya. sukar untuk melancarkan ilmu beracun. tak pernah terbayang olehnya bahwa lawannya memiliki Lwekang setinggi ini. Kali ini Bu-cing-so sudah kapok dan tak berani memandang rendah musuh. . di tengah gerungan tertahan. Tahu-tahu dua larik sinar pedang meluncur datang. Bu-cing-so sempoyongan. namun demikian Bu-cing-so berhasil dipukul mundur ini menandakan bahwa Lwekangnya lebih tinggi dari lawan. Ji Bun tidak beri kesempatan lawan bernafas. tenaga dikerahkan. Bu-cing-so tergetar selangkah. iapun kerahkan seluruh kekuatannya menangkis. hawa bergolak bumi terasa bergoyang. kedua tangan terus menggempur lagi. kembali telapak tangannya tegak menabas dengan gerak mendorong lurus ke depan.

Kalau tidak sulit baginya untuk menggunakan tangan beracun. Lekas dia pergunakan ilmu yang diajarkan Thian-thay-mo-ki untuk melawan getaran ilmu lawan.com/ Ji Bun ayun tangan kanan. desisnya beringas: "Bu-cing-so. Secepat kilat ia menyerang dengan sengit.. dia tangkis kedua pedang lawan." Mendadak Bu-cing-so bergelak tertawa. Tapi sebelum serangannya dilancarkan Bu-cing-so sudah mendahului bergerak. sudah tentu membawa tenaga yang dahsyat. sebat sekali tangan kirinya mengebas. dengan tangan kanan menangkis. ... Kedua orang sama tersiak mundur. berbareng kakinya berkisar kesamping dan memiringkan badan. serasa terbang sukma Bu-cing-so. kedua ahli pedang ini menjerit dan terbanting mampus. gelak tertawanya seketika berhenti. waaaah .. tergetar hati Ji Bun. Ji Bun membalik badan. Ia yakin hanya beberapa tokoh yang mampu melawannya. Melihat ilmu saktinya tidak manjur.. "Berhenti!" pada detik yang menentukan itu mendadak sebuah bentakan menggelegar. secepat kilat tangan kiri terus menjojoh. dengan langkah enteng dia mendesak maju...Tiraikasih Website http://kangzusi. berbareng segulung angin menyamber tiba.. tibatiba diingatnya lawan tengah melancarkan ilmu saktinya Thian-cin-cisut.. tibalah saat kematianmu. Ji Bun angkat tangannya menyerang pula. Beberapa kaki di depan lawan. kekuatan dan latihannya yang sudah matang. "Waaah . Namun tujuan Ji Bun memang memancing lawan turun tangan menyerangnya.

Wi-to-hwecu adu pandang dengan Ji Bun dengan sengit dan beringas.com/ Tampak oleh Ji Bun seorang laki-laki setengah tua berdiri di samping sana. dua orang tua dan seorang pertengahan umur. Kejap lain beberapa bayangan orangpun bermunculan. suasana menjadi tegang. Siangthian-ong. Mendadak Cui Bu-tok menjerit: "Lapor Hwecu. biar aku tanya dia.Tiraikasih Website http://kangzusi. Bahwa ketuanya datang sendiri. Ji Bun menerawang keadaan. jelas urusan tentu cukup penting. Dia bukan lain adalah Wi-to-hwecu Siangkoan Hong adanya. Jay-ih-lo-sat Cui Bu-tok." Tanpa bersuara Bu-cing-so lantas mengundurkan diri. seketika menyala biji mata Ji Bun. Kereng dan berat suara Siangkoan Hong: "Harap Hou-hoat mundur dulu. mukanya dihiasi codet sebesar telapak tangan. . Berhadapan dengan musuh. dia yakin dengan Bu-ing-cui-sim-jiu beberapa jiwa musuh pasti bisa diganyangnya. dalam hati sama-sama waspada dan saling menjajaki isi hati masing-masing. hanya Thong-sian Hwesio yang tidak kelihatan. sudah tentu sasaran utama adalah Siangkoan Hong. kedua orang kita ini mati karena racun penghancur jantung yang amat jahat." Semua hadirin sama tersirap darahnya mendengar itu.

dimana Ji Ing-hong menyembunyikan diri?" Tergetar hati Ji Bun. apa maksud kedatanganmu?" Wi-to-hwecu mendengus. jadi Wi-to-hwe meluruk kemari lantaran ayahnya." . bukankah ayahnya mati terbunuh oleh Thong-sian Hwesio di jalan raya Kay-hong. saudara.. "bicaralah terus terang. dia balas bertanya: "Siangkoan Hong." bentak Wi-to-hwecu pula. bentaknya: "Pernah apa kau dengan Ji Ing-hong?" Ji Bun melangkah setindak." Ji Bun mengertak gigi. kau sendiri juga tahu bukan? Ji Ing-hong belum mampus.” "Ha ha ha." "Bagus sekali. Ji-pocu sudah mati di jalan raya ke Kayhong . kenapa mereka malah tanya ayahnya? Naganaganya omongan laki-laki tak dikenal yang sehaluan dengan Kweloh-jin itu hanya bualan belaka." Ji Bun menjengek: "Siangkoan Hong.Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya dingin tajam: "Akulah penuntut balasnya.com/ Memancar terang sinar mata Wi-to-hwecu. Sesaat lamanya dia melenggong entah apa yang harus dilakukannya. katanya dengan nada berwibawa: "Sebutkan namamu.. "Saudara....

pihak lawan belum tahu dirinya.com/ "Apa? Thong-sian Hwesio membunuh orang? Kau sedang membual ya?" "Memangnya bukan?" "Kalau Thong-sian Hwesio membunuh tidak perlu pakai racun?" Ji Bun tertegun. maka dia harus segera. Katanya kemudian: "Cayhe sendiri juga sedang mencarinya. bahwa Thong-sian bukan pembunuh.Tiraikasih Website http://kangzusi. Dia yakin kunci dari semua rahasia ini berada di tangan Biau-jiu Siansing. membongkar rahasia kematian ayahnya. Lalu kenapa selama ini ayahnya tidak pernah kontak dengan dirinya? Memangnya beliau tidak tahu bahwa dirinya mempertaruhkan jiwa raga demi menuntut balas sakit hati keluarga? Maka dia menegas: "Lalu apa kehendakmu?" "Aku hanya mengejar Ji Ing-hong saja. habis itu baru bicara soal menuntut balas. jawaban ini persis dengan apa yang dia dengar dari Siucay tua itu. si korban juga bukan ayahnya. urusan semakin simpang siur dan susah diraba juntrungannya. kau juga mencari? . Menurut tuduhan malah perbuatan ayahnya sendiri yang sengaja hendak mengalihkan perhatian lawan." "Apa." Berubah pikiran Ji Bun. Seketika dia menjadi bingung dan hambar.

Celaka kalau dirinya. gerak-geriknya cekatan. Cayhe akan selidiki duduk persoalannya. sulit sekali untuk melancarkan serangan mematikan." demikian kata pula Wi-tohwecu. Ji Ing-hong sendiri malah tidak. dari seorang anak buahnya dia rebut sebatang pedang. sekarang kau harus membela diri. diantara musuh yang hadir tiada satupun yang menjadi tandingannya. mungkin saudara tidak tahu. Cayhe selamanya tidak pernah kenal menyesal. Sebat sekali sudah berdiri pula di tempatnya semula." "Memangnya apa hubunganmu dengan Ji Ing-hong?" "Erat sekali.com/ "Ya. dia tetap harus bertindak. kalau belum meninggal. Bicara soal Lwekang. yang menjadi andalannya hanya tangan kirinya yang beracun. Urusan sudah selarut ini. akulah yang akan menuntut balas kematiannya." Tiba-tiba Wi-to-hwecu berkelebat kesana." "Kau kira kami mau percaya obrolanmu".Tiraikasih Website http://kangzusi. namun terpautnya tidak jauh. "putera Ji Ing-hong meyakinkan ilma beracun ini.” . Lahirnya saja Ji Bun bilang tidak menyesal seharusnya dia tidak memberi kesempatan kepada Siangkoan Hong untuk bersenjata. dikeroyok beramai-ramai. "Menurut apa yang kami ketahui. aku akan turun tangan segera." "Omong kosong. namun kalau bertangan kosong. "jangan kau menyesal kalau tidak mau menerangkan. menghadapi senjata lawan. cepat menakjubkan. tapi kau tidak perlu tahu. jika dia sudah mati. Wi-to-hwecu mengejek.

kali ini kerahkan sepenuh tenaganya. Dua orang segera tubruk menubruk dan berhantam dengan sengit. namun lawannya juga tidak lemah. gerakan pedang Wi-to-hwecu semakin mantap dan ganas. Ji Bun pusatkan seluruh pikiran dan semangat. semuanya sudah diperhitungkan dengan tepat dan rapi. Hanya sekali pedangnya bergerak miring dengan garis melintang. betapa hebat pertempuran ini sungguh sangat menggiriskan. Keruan tercekat hati Ji Bun. dia selalu waspada dan mencari lubang kesempatan untuk melancarkan serangan maut dengan tangan beracun. gerakan Ji Bun tahu sudah terkunci. malah bersenjata. keadaan menjadi bertahan sama kuat alias setanding. Dalam pandangan Bu-cing-so dan jago Wi-tohwe lainnya. Namun Wi-to-hwecu juga tidak kalah tangkas dan selalu waspada juga dalam melancarkan jurus-jurus tipu silatnya. Ji Bun segera melancarkan serangan lebih dulu. ternyata keampuhan ilmu pedang Wi-to-hwecu amat mengejutkan. Pusaran angin pedang yang dimainkan begitu kencang dan tajam sampai anak buahnya menyingkir jauh dari gelanggang. kembali dia lancarkan tipu serangan lain. bahwa dia kuat berhadapan dengan ketua mereka yang bersenjata dengan bertangan kosong. Dalam sekejap puluhan gebrak telah berlangsung. Lwekang dan kepandaian Ji Bun cukup mengejutkan.com/ Tahu tak bisa menghindari bentrokan. Siapakah tokoh kosen dalam Bu-lim ini? Asal-usul Ji Bun yang menyamar ini betul-betul membuat hati mereka tidak . Walau Lwekang Ji Bun amat tangguh.Tiraikasih Website http://kangzusi.

Sejak permulaan Siang-thian-ong dan lain-lain sudah siaga di luar gelanggang.. Sekonyong-konyong dia kerahkan setaker tenaganya beruntun melancarkan delapan kali pukulan berantai. tampak Wi-to-hwecu terdesak kian kemari seperti daun yang dipermainkan badai.. sementara lengan kanan menabas tegak. pedang kirinyapun tergentak ke samping.. Ji Bun tidak mengendorkan serangannya. Siapakah diantara tunas-tunas muda masa ini yang mempunyai kepandaian setinggi ini. Ji Bun maklum. kakinya menyurut tiga langkah. sekali lena..com/ tenteram dan tak habis terpikir oleh mereka. Angin membadai dengan suara gemuruh bagai samudera mengamuk.. untuk mengalihkan posisi dirinya sudah sukar bagi Wi-to-hwecu apalagi Lwekang Ji Bun masih lebih unggul.. Sebenarnya tidak sukar untuk mengundurkan diri. dengan pukulan telapak Ji Bun mengenai sasarannya. Wito-hwecu terpental sempoyongan. Tangan kiri Ji Bun jadi menyerang tempat kosong. begitu melihat Ji Bun menggerakkan tangan kiri. dia . Tangan beracun Ji Bun kembali dilancarkan.Tiraikasih Website http://kangzusi. sigap sekali dia melompat mundur beberapa kaki. tangan beracun menyerang . baru saja menyadari adanya lubang kelemahan dirinya. Pertempuran tokoh silat kelas tinggi sering mengutamakan sedetik kesempatan saja. "Bluk". dibarengi dengan hardikan keras.. namun hatinya tidak rela.” Walau terdesak dan terombang-ambing namun Wi-to-hwecu tetap waspada. kalau bertempur berlarut-larut situasi akan menyulitkan dirinya. Pada saat-saat gawat begini.

pada saat Wi-to-hwecu sempoyongan itulah. berbareng tangannya yang pendek kecil menepuk balik. Namun Ji Bun sendiri juga terlempar pergi oleh pukulan musuh yang beruntun mengenai dirinya. Kepandaian silat Siang-thian-ong juga bukan olah-olah tingginya.com/ tahu tangan orang ini tentu menyembunyikan sesuatu yang berbahaya. Jika Ji Bun tidak urungkan serangan dan mundur menyelamatkan diri. Dia sudah bertekad untuk memberantas lawan satu persatu sampai titik darah penghabisan. serangan tetap diteruskan.Tiraikasih Website http://kangzusi. Tapi Ji Bun sudah nekat. Pikirannya masih sadar bahwa musuh kedatangan bala bantuan yang tangguh dan menakutkan. serentak jago-jago Wi-to-hwecu yang lain melancarkan pukulan Bik-khongciang dari jarak jauh. tepukan lawan malah . maka serangan tangan kiri Ji Bun dengan telak mengenai bayangan orang ini. Keruan Ji Bun menubruk tempat kosong. dirinya sendiri juga pasti mampus hancur lebur tergencet oleh pukulan gabungan lawan. Pada detikdetik yang gawat itulah. badannya yang buntak pendek seperti bola tiba-tiba menggelinding pergi. pandangan menjadi berkunang-kunang. walau musuh terluka atau mati oleh tangan beracunnya. tangkas sekali badannya melejit berbalik menerjang ke arah Siang-thian-ong yang berjarak paling dekat. sesosok bayangan orang laksana setan tahu-tahu menyelinap masuk gelanggang menghadang di depan Wito-hwecu. tak sempat dia pikir dan melihat jelas siapa musuh yang baru datang dan membantu ini. darah mendidih. Gempuran dahsyat dari berbagai penjuru terpusat ke arah Ji Bun seorang.

kemampuan perempuan rupawan ini betulbetul mengejutkan. Berkicau suara perempuan rupawan ini: "Diapun meyakinkan Buing-cui-sim-jiu. dalam segebrak saja sudah tahu akan tangan kirinya yang beracun. Hadirin mengkirik mendengar ucapan perempuan rupawan. Buing-cui-sim-tok merupakan racun terlihay dan terganas pada jaman ini. Munculnya perempuan rupawan mengubah situasi. kontan Ji Bun melosot turun ke tanah." Mencelos hati Ji Bun. mereka menduga bahwa lawan dihadapan mereka ini adalah Te-gak Suseng Ji Bun.Tiraikasih Website http://kangzusi. terpaksa dia menangkis. hanya seorang yang mampu meyakinkan dan menciptakan ilmu ini. Namun sekarang beruntun muncul dua orang yang mampu menggunakan ilmu beracun ini. . sehingga wajah aslinya tidak konangan lawan. tiada diantara. Cukup dia seorang berkelebihan untuk menundukan Ji Bun dan kenyataan Ji Bun memang mati kutu terhadap lawan yang satu ini. sedang Siang-thian-ong menggelinding lebih jauh lagi. dan keduanya memiliki kepandaian silat dan Lwekang tinggi. Siangkoan Hwi juga berada disampingnya. "Blang". Sejak dua ratus tahun yang lalu. namun dalam hati dia memuji akan obat rias Biau-jiu Siansing yang tetap berhasil mengelabui lawan.com/ menyongsong dirinya. Kini setelah berdiri tegak baru dia melihat jelas penolong jiwa Wito-hwecu ternyata adalah perempuan rupawan yang berdandan perlente.

Sejak dia muncul semua orang berdiri tegak hormat sambil menahan napas.com/ Sorot mata Ji Bun menjelajah muka setiap hadirin. belum pernah terpikir olehnya. demikian pula Wi-to-hwecu. Namun sekarang situasi lain. Lari.Tiraikasih Website http://kangzusi. jangan kau paksa aku gunakan siksaan untuk mengompesmu?" Ji Bun merinding dibuatnya mendengar suara perempuan nan cantik jelita namun bersuara dingin kaku. disaat tatapannya tertuju ke wajah Siangkoan Hwi. Ji Bun yakin orang bukan mengertak. Agaknya kedudukan perempuan ini teramat agung dan tinggi di antara hadirin. Sorot matanya akhirnya berhenti pada muka perempuan rupawan. tiada orang berani bergeming atau buka suara. sebab inilah dia merasa harus bertahan." . belum pernah dia mencawat ekor. Suara perempuan rupawan yang merdu tapi dingin berkata pula: "Siapa kau? Mengakulah. tidak gampang untuk mengundurkan diri. betapapun dia tidak rela menerima ajal begini saja. sahutnya berani: "Aku tidak peduli cara apa yang hendak kau gunakan terhadap diriku. selama menghadapi musuh. betapapun tangguhnya lawan. Betapapun gadis ini pernah mengisi relung hatinya. sebelum mati hidup ayahnya terbongkar dan jejak ibunya ditemukan. serta merta bergoncang perasaannya. Dalam keadaan terkepung dan menghadapi keroyokan musuh. namun pikiran asmara ini hanya selintas saja. betapapun dia tidak rela mati. Tapi rasa dendam dan benci menjalari benaknya.

di bawah terdengar seruan kaget banyak orang. tak jauh disamping sana berdiri pohon besar setinggi puluhan tombak. waktu amat mendesak. "Bluk". Baru saja kakinya menyentuh dahan pohon bagai burung elang yang kelaparan mengejar mangsanya. mungkinkah orang dapat membaca isi hatinya? Diam-diam dia bergidik.Tiraikasih Website http://kangzusi. sungguh jarang terlihat dan amat mengejutkan. Hanya inilah satunya cara untuk menyelamatkan diri." Kata-kata ini amat menusuk hati Ji Bun. dengan Ginkang gaya pusaran mumbul ke atas yang berhasil diperajarinya dari orang tua di jurang Pek-ciok-hong itu.com/ Dalam hati dia sudah merancang. Ji Bun melompat pula ke pucuk pohon yang lain. sesosok bayangan lain tibatiba juga meluncur ke atas secepat kilat. yakin dirinya bisa meluncur ke pucuk pohon dan melarikan diri. hampir dalam waktu yang sama iapun mumbul setinggi Ji Bun di pucuk pohon. Perempuan rupawan buka suara pula. gesit sekali dia sudah melenting ke pucuk pohon. Di bawah orang bersorak kagum dan kaget . terdengar erangan tertahan di udara setinggi puluhan tombak. tanpa bersuara tiba-tiba badannya menjulang tinggi mumbul keatas dengan badan ber¬putar. begitu cepat sehingga orang merasa pandangannya kabur. Diam-diam ia kerahkan tenaganya. nadanya tajam mengancam: "Kuharap kau tidak berusaha melarikan diri. namun kecepatan luncuran orang ini memperlihatkan gaya yang indah pula. gerakan seaneh ini. terpaksa dia harus bertindak cepat dan mencobanya. Ditengah seruan kaget hadirin itulah.

Perempuan cantik itu seperti tidak terjadi apa-apa berdiri di depan sana. Hujin (nyonya)? Siapakah perempuan cantik rupawan ini? Serasa tenggelam perasaan Ji Bun. disusul luncuran tubuh gemulai seindah bidadari melayang turun dari kahyangan. Perempuan rupawan menoleh sambil tersenyum manis. kembali dia sapu satu persatu setiap wajah para musuhnya.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ pula. "Lwekang Hujin sungguh membuka mata Lohu. diam saja tidak memberi tanggapan. Ji Bun terjatuh lebih dulu. Ji Bun terbanting jatuh hampir semaput. Kaki tangannya lemas dan linu. Sebaliknya Ji Bun merasa gusar dan malu. dendam dan kebencian hampir membuatnya gila. kedua biji matanya membara. Keadaannya mirip betul . cepat atau lambat kedok aslinya pasti terhongkar." demikian suara Siang-thian-ong yang keras berkumandang seperti bunyi genta. wajahnya dingin kereng. sungguh tak nyana malam ini dia terjungkal habis-habisan dihadapan sekian banyak musuh. sungguh dia tidak berani membayangkan akibat yang bakal menimpa dirinya. Dua bayangan orang beruntun anjlok ke bawah. untung dia tidak jatuh semaput. namun beruntun tiga kali dia meronta baru bisa berdiri tegak. dia bukan lain adalah perempuan rupawan tadi. sejenak dia gelenggeleng kepala dan cepat melompat bangun.

. juga kelaparan dan haus darah. kejadian sudah berselang dua puluh tahun." "Hu-jin bisa menggunakan Hian-giok-siu-hun .Tiraikasih Website http://kangzusi. namun dia menduga itulah suatu cara siksaan yang paling ganas untuk mengompes keterangannya. tapi mungkinkah hal ini terjadi? Perempuan rupawan ini kelihatan baru berusia dua puluhan.. Jadi terang anak dari isteri kedua.. "Bocah ini terlalu angkuh dan keras kepala.” "Sejak berhasil meyakinkan ilmu ini. Perempuan rupawan ini terang adalah isteri kedua Siangkoan Hong. Ji Bun belum pernah mendengar.. Perempuan rupawan berpaling ke arah Wi-to-hwecu. mungkin sulit mengompes keterangannya.. Siangkoan Hwi adalah puteri mereka. Siangkoan Hwi sendiripun sudah berusia delapan belas. ." Apakah Hian-giok-siu-hun itu. Siangkoan Hong pernah menyatakan bahwa ayah Ji Bun pernah membunuh isteri dan puteranya yang baru dilahirkan. Itu berarti Siangkoan Hwi belum lahir waktu itu.com/ seekor singa jantan yang marah dan terluka.. katanya: "Bagaimana membereskan dia?" "Suruhlah menerangkan jejak Ji Ing-hong. belum pernah kugunakan." ujar Wi-to-hwecu tajam. tapi Siu-yan Loni bilang bahwa Siangkoan Hwi adalah anak kandung Siangkoan Hong. biarlah malam ini aku mencobanya.

" Maksud tujuannya memperkenalkan diri orang she Ji lantaran dia tidak ingin berkorban sia-sia. kenapa otaknya ngelantur memikirkan persoalan tetek-bengek yang tiada sangkut paut dengan dirinya. katanya kepada Ji Bun: "Sekarang saatnya kau membuka mulut?" Benci dan dendam menjalari sanubari Ji Bun desisnya: "Sayang sekali aku tak bisa menghancur leburkan kalian anjing laki perempuan ini. "kau she Ji?" "Betul.com/ mungkinkah kecuali perempuan rupawan ini Siangkoan Hong masih punya gundik lagi? Diam-diam Ji Bun geli dan malu sendiri.." jengek Ji Bun." "Tutup mulutmu!" bentak perempuan rupawan.Tiraikasih Website http://kangzusi.” . "Aku inilah Te-gak Suseng Ji Bun. hal ini jauh lebih jantan dari pada rahasia dirinya nanti terbongkar oleh mereka. "matipun orang she Ji takkan mengerut alis. paling tidak biar musuh tahu Kalau dirinya gugur dalam menunaikan tugas menuntut balas. dalam keadaan seperti ini. Wajah perempuan cantik itu semakin membesi kaku. "Apa?" seru Wi-to-hwecu.." teriak Ji Bun beringas... sayang aku tak bisa membunuhmu .... "memangnya kau ingin disiksa?" "Punya cara apa boleh kau gunakan saja.

wajahnya beringas dan buruk sekali." "Sekarang juga belum terlambat. pelan-pelan ia meronta bangun. darah menyembur dari mulutnya. Wi-to-hwecu terkekeh dingin." tantang Ji Bun murka." "Betul. sekali kebas tangan. "sejak kini di antara kita sudah tiada utang-piutang lagi. boleh silahkan kau turun tangan. Lenyap suaranya.com/ Seluruh hadirin sama kaget setelah tahu siapa dia. "Blang" "Ngek". Ji Bun dipukul terpental oleh perempuan rupawan. Hari ini kecundang di tangan kalian. "Ji Bun. "Dimanakah sekarang ayahmu?" "Mau bunuh boleh bunuh. kini Ji Bun bicara dengan nada suaranya yang asli. namun dia keraskan hati." kata Wi-to-hwecu serius. aku orang she Ji tak becus meyakinkan ilmu." .Tiraikasih Website http://kangzusi." Ji Bun menggertak gigi. sigap sekali mendadak dia melesat ke arah Wi-tohwecu. katanya: "Sejak tadi seharusnya aku sudah mengenalimu. namun jangan harap mendapatkan keterangan apapun dari mulutku.

" "Kenapa? Kau lupa ibu tuamu dirajang dan dimasak menjadi hidangan?" "Bu. beruntun perempuan rupawan itu menutuk tiga kali. saking tak tahan dia bergelindingan di tanah. namun . tiba-tiba jari telunjuknya menyentik sekali. jerit lolong Ji Bun seketika berhenti. akhirnya ia memanggut dan berkata berat: "Baiklah. Gadis baju merah. aku utang budi padanya. katanya: "Bu!" "Ada apa?" sahut Si perempuan rupawan.com/ Perempuan rupawan menggeram gusar. sejalur angin tajam mendenging membawa asap putih melesat ke arah Ji Bun. agaknya mohon pendapatnya. Ji Bun menjerit sejadi-jadinya dan roboh terguling." Sorot mata perempuan rupawan menyelidik ke muka Wi-tohwecu. sekilas Wi-to-hwecu melirik Siangkoan Hwi. tapi dengan sekuat tenaga dia masih berusaha meronta berdiri wajahnya seram seperti setan." Sekali tangan menuding. rasa sakit yang teramat besar tiba-tiba merangsang ulu hati. menjadi tidak tega. tulang belulang seperti copot. darah terus meleleh dari mulutnya.Tiraikasih Website http://kangzusi. Siangkoan Hwi. turuti kehendak anak Hwi. "Bebaskan dia. rambut dijambak sendiri dan pakaian dicomoti sampai dedel dowel.

lalu gusur dia pulang ke markas. satu di antaranya angkat pedang terus menabas ke lengan kiri Ji Bun. dia luputkan diri dari tabasan pedang. bentaknya kereng: "Ji Bun aku ada cara lain untuk paksa kau buka mulut. entah darimana datangnya tenaga. sekali menggelinding. saking tersiksa badannya lemas lunglai dan masih kejang dan gemetar. Lelaki Penderita Tanpa Daksa Merah muka Siangkoan Hong." bentakan ini sedetik terlambat dari jerit lolong tadi. . 14. pada saat badannya menggelinding itu. namun Ji Bun juga menguak sekali. dia tetap tak mau buka suara." Dia memberi tanda kepada pengawal pribadinya. sekarang mau buka suara bukan?" tanya Wi-to-hwecu. matanya beringas. badannya terlempar dua tombak oleh pukulan Wi-to-hwecu.40.com/ napasnya sudan kempas-kempis. Berkerutukan gigi Ji Bun. ia jatuh di antara semak-semak berduri. tangan kirinya berhasil menutuk lutut penyerangnya. badan terbanting dan mampus seketika. Kontan si penyerang itu melolong panjang. Mendadak Ji Bun meronta seraya menggembor keras. "Berani kau. lalu katanya: “Tabas dulu tangan kirinya." Dua orang bersenjata pedang segera mengiakan dan melompat maju.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Ji Bun.

" seru Siangkoan Hwi tidak tega.. segera timbul suatu perasaan yang sukar dilukiskan dalam benaknya. "Apa katamu?" bentak Siangkoan Hong. "Anak mohon supaya ayah suka membebaskan dia. "Tidak mungkin!" Wi-to-hwecu berkata kereng.. Pucat wajah Siangkoan Hwi. "Yah. Sudah beberapa kali dia pernah merasakan kematian seperti ini." demikian ujar Siangkoan Hwi tegas.. Perempuan rupawan tadi melirik penuh kasih sayang. katanya kepada Wi-to-hwecu: "Turutilah keinginannya. Siangkoan Hwi menjerit sedih sambil putar tubuh dan berlari pergi. Tapi perempuan rupawan lantas menghadang dan . lepaskan dia saja. pikirannya butek." "Segala menuruti keinginannya.com/ darah terus menyembur dari mulut. air mata bercucuran." "Budak binal." "Selanjutnya anak tidak akan minta apa-apa lagi. "kalau dia tidak begini binal.Tiraikasih Website http://kangzusi. jangan kau terlalu membawa keinginanmu sendiri. mungkinkah terjadi peristiwa keparat she-Liok itu . kepala tertunduk dan sesenggukan. Daya pendengaran Ji Bun belum lenyap...." bentak Wi-to-hwecu..” sampai di sini dia berhenti.

" Agaknya Wi-to-hwecu juga merasakan kekasaran sikapnya tadi. apalagi mati hidup ayah masih teka-teki . serunya kereng: "Markas Cip-po-hwe sudah kuhancurleburkan. sorot mata yang mengandung permintaan maaf tertuju kepada perempuan rupawan. betapapun anaknya ini tidak boleh dilepaskan dia. .com/ memeluknya. diam-diam ia membatin "Aku hendak dijadikan umpan untuk memancing dan mencari jejak ayah.." "Akan kupunahkan ilmunya. bukankah maksud mereka hanya impian belaka. air mukanya tenang kembali..." kata Wi-to-hwecu kemudian. ujarnya: "Ji Ing-hong selicin belut dan selicik srigala. lepaskan dia pergi.. namun percakapan orang masih terdengar oleh Ji Bun.. kita putuskan begitu saja.. katanya: "Memang Hujin lebih cerdik pandai. Hujin. ku kira tiada halangan kau lepaskan." Walau dalam keadaan sekarat.." seru Wi-to-hwecu paham.” "O." "Aku tidak mengerti maksudmu..." "Tujuanmu hanya menemukan Ji Ing-hong.Tiraikasih Website http://kangzusi.” "Baiklah. untuk menemukan jejaknya... itu kan sudah cukup. akhirnya toh dia akan pergi mencari ayahnya .

seolah-olah dirinya berada di neraka. Tanpa terasa hari mendekati terang namun sinar terang seakanakan sudah lenyap bagi dirinya. hanya kebencian saja yang tetap menjalari sanubarinya. segala cita-cita yang diharapkan selama ini bakal menjadi impian kosong belaka. Lwekang lenyap kepandaian punah. terasa oleh Ji Bun angin tajam sekuat pukulan godam mengenai badannya merembes seluruh badan. badan lunglai tidak bertenaga lagi. terasa sekujur badan linu dan sakit bukan main. dalam sekejap suasana kembali sunyi. tulang-tulang seperti copot dari ruasnya. derita batin ditambah rasa sakit luka-luka dadanya yang terkena pedang tak pernah reda sedetikpun. dalam sekejap ini dia merasakan lebih sedih daripada mati. Dia mendongak mengawasi bintang-bintang di langit. Hawa murni dalam badannya seketika buyar. Punahnya ilmu silat menjadikan dirinya tak ubahnya manusia awam umumnya. beruntun terdengar kesiur angin orang banyak berlompatan pergi. "Mundur semua!" sekali aba-aba. Ji Bun meriggerakkan badannya.com/ Dari kejauhan perempuan rupawan angkat jarinya terus menjentik beberapa kali. Sejak kini dirinya akan terus hidup dalam kegelapan. sungguh bukan kepalang siksa yang dialami kali ini. Tapi pikiran Ji Bun menjadi jernih malah.Tiraikasih Website http://kangzusi. tinggal tangan kirinya yang tetap beracun. sampaipun sesuatu yang ingin dipikirkanpun tiada sanggup lagi. tanpa cita rasa. Hidup lebih sengsara daripada mati. lalu apa . Malam rasanya tak berpangkal dan tak berujung.

Sebutir pil saja rasanya berat dan sukar untuk menelannya. lekas sekali sinar sang surya sudah menerangi jagat raya. Pula kau harus menemui ibumu sekali lagi. semua itu milik pak jenggot yang sudah tiada. Sejam kemudian baru dia bisa bergerak leluasa. Dia menuju ke belakang.Tiraikasih Website http://kangzusi. kau akan melihat musuh terpenggal kepalanya. sekenanya dia ganti pakaian. akhirnya ditemukan seperangkat pakaian kaum bujang yang sudah butut. kalau ayah benar-benar belum mati. . namun pakaiannya sudah tidak keruan waktu dirinya tersiksa oleh tutukan Hian-giok-siu-hun tadi. namun impian ini akan terus berlangsung. bagai semut merambat dia mulai melangkah pergi ke empang yang ada dipojok gardu sana mencuci muka dan membersihkan obat penyamarannya." Fajar menyingsing. noda-noda darahpun dibersihkan. untung menemukan pecahan uang pula.com/ pula gunanya? Habis segalanya. hari sudah terang tanah. namun obat-obatan yang dibawanya masih ada. Susah payah akhirnya ia berhasil meronta bangun. jangan kau pikirkan mati. untuk penyembuhan diri dengan kekuatan hawa murni sudah tidak mungkin lagi. Bagai sebuah impian belaka. tamat semuanya. belum saatnya. karena Lwekang lenyap. jauh mencukupi untuk mempertahankan hidup. Pentingkah dirinya bertahan hidup? Sekonyong-konyong sebuah suara timbul dalam relung hatinya yang dalam: "Ji Bun.

kecuali agak kurus. keadaan seperti ini. dia tahu betapa besar dan murni cinta . Sejenak dia melenggong. dia tahu Wi-to-hwe pasti mengutus seseorang untuk membuntuti dirinya. dia bukan lain adalah Thian-thay-mo-ki. "Adik!" teriakan mesra nan girang dan kaget tiba-tiba berkumandang dari belakang. sebaliknya dalam semalam dirinya telah berubah menjadi seorang lain yang tak berguna lagi. dia tahu siapa yang memanggilnya. katanya kemudian penuh haru: "Adik. dia meninggalkan kota Lam-cau dengan langkah lemas bergontai. kenapa kau?" Ji Bun menjadi bimbang. Seperti ketemu anggauta keluarga. Dengan tertegun penuh kejut dan tanda tanya Thian-thay-mo-ki mengawasi Ji Bun. karena mereka kira ia akan mencari ayahnya. waktu dia angkat kepala. dilihatnya bayangan semampai nan menggiurkan sudah berdiri dihadapannya. dia perlu hiburan dan bujukan. Seperti mayat hidup saja. ia lihat Thian-thay-mo-ki masih seperti dulu. hanya Thian yang tahu apakah ayahnya masih hidup atau sudah mati.com/ Kejap lain dia sudah beranjak di jalan raya. segala persoalan sudah tak terpikir lagi olehnya. masih tetap cantik menggiurkan. Ji Bun tidak tahu ke mana harus pergi.Tiraikasih Website http://kangzusi. terharu hatinya dan tak sanggup berucap. perlu bantuan. Bergetar badan Ji Bun. ingin rasanya dia lari dan sembunyi masuk ke liang.

namun dia harus tetap bersikap demikian. tanpa terasa ia menjerit: "Minggir kau. Ia ingin menangis. ilmu silat sudah punah. rasa rendah diri yang tebal merangsang sanubarinya. kau . Dalam keadaan apapun dia tetap seorang pembantu yang dapat dipercaya. Agaknya Thian-thay-mo-ki amat terperanjat.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Thian-thay-mo-ki kepadanya. katanya dengan gemetar: "Dik.. jangan hiraukan aku!" Dia menderita. namun dia rela menelan segala kegetiran hidup ini." merah mata Thian-thay-mo ki dan mukanya membesi hijau. . sejenak dia melenggong. kenyataan ini cukup kejam. bukan kewajibannya pula untuk menerima cintanya. Dasar wataknya memang angkuh dan tinggi hati. ingin rasanya memeluk dan menciumnya. sekarang dia seorang awam. sekuatnya dia tahan emosi dan pura-pura bersikap dingin: “Tidak apa-apa!" "Tapi sikap dan air mukamu amat ganjil sekali?" "Jangan kau hiraukan aku. Remuk rendam hati Ji Bun melihat sikap dan wajah Thian-thaymoki itu.. Hubungan asrama mereka tidak mungkin dilanjutkan.. manusia.. namun mendadak ia tersentak sadar. kini dirinya bukan Te-gak Suseng yang dulu. kenapakah kau?" Ji Bun tekan perasaannya yang menggelora." "Dik. Dia tidak punya hak mengecap cinta kasih orang lain. menahan kepedihan yang tak terhingga.

merugikan kau .. umpama betul Thianthay-mo ki terlalu jalang. Namun wataknya yang mempertahankan sikapnya." Air mata Thian-thay-mo-ki bercucuran katanya dengan pilu: "Aku mengerti... Mungkinkah dirinya mengawini seorang gadis untuk menyia-nyiakan masa remajanya? Dengan mengertak gigi. tak boleh ia bikin kapiran masa depan orang lain." "Ji Bun. aku seumpama kembang dipinggir jalan atau dikaki tembok yang tidak patut dipandang dan dinikmati. cuma secara diamdiam dan diluar tahu orang yang bersangkutan. ketus dan kejam?” Seperti ditusuk sembilu hati Ji Bun.” Bak sekuntum kembang yang ditaburi air embun. . Namun .. menyampaikan sepatah kata hiburanpun tiada.. Sayang kenyataan sekarang tak mungkin untuk menerima semua ini. selama ini kau pandang. aku berbuat atau melakukakan sesuatu yang membuatmu malu atau.. namun cintanya yang luhur dan murni.. sorot matanya memandang ketempat jauh. Ji Bun hampir saja menubruk dan memeluknya. hubungan diantara kita sudah harus diakhiri sampai di sini saja.. tak pernah. dia banyak hutang budi..Tiraikasih Website http://kangzusi. "Biarlah segalanya berakhir begini saja. aku .com/ masa depan suram.. katanya tawar. segala sepak terjangnya masa lalu patut dimaafkan. dia tetap bersikap dingin: "Kupikir. Sesungguhnya inipun merupakan suatu cara untuk menyatakan cinta. betulkah kau begini kaku. namun tak pernah dirinya memberi apa-apa terhadapnya....

aku .. sekarang kau berkiblat kepada Ciang Bing-cu. membeberkan hatinya secara .. Ji Bun merasa tiada tempat bagi dirinya untuk berpijak lagi di bumi ini.. Dik. Dengan segala kekuatannya. namun terasa setajam duri pula yang menusuk ulu hati Ji Bun.Tiraikasih Website http://kangzusi. Dulu kau kasmaran terhadap gadis baju merah. bersikap begini kepadaku. Pernah aku ingin membencimu. kenapa aku tidak bisa mengendalikan rasa cemburuku. tidak melupakan .. diriku dan .. Katanya mengeraskaa hati: "Tiada yang bisa dikatakan lagi.... sungguh tidak sampai hati ..." air mata segera berderai membasahi pipinya.. kata-kata yang terlalu menyakiti tak sampai hati diucapkan...com/ Derita semakin bertambah. Akhirnya dengan suara yang menggetar sukma Thian-thay-mo-ki bersuara. namun hati keduanya sama-sama remuk seperti digerogoti oleh sesuatu sebab yang timbul secara berlainan.. Ji Bun tekan emosinya yang berkobar.. "Dik agaknya aku telah menjilat kata-kataku dulu . menciumnya dengan kasih mesra... mengejang.. cukup asal di dalam sanubarimu ada tempat bagi diriku. kau ti . Walau tiada yang bersuara. namun aku selalu gagal... kawinlah dengan wanita yang kau cintai.. pernah aku bilang.. Hati Ji Bun serasa mengkerut. Setiap kalimat setiap kata mengandung cinta murni nan luhur.. namun kuharap .. tiada sesuatu lebih besar yang kuharapkan dari kau.." Sekian lamanya keheningan mencekam sanubari kedua insan yang dirundung malang ini. tidak pantas sikapku ini. ingin dia memeluknya..

tiada bahagia lagi bagiku. sekaligus mempertebal keyakinannya untuk lebih baik kehilangan daripada membikin susah orang lain. air mata berlinang-linang di kelopak matanya.. pertanyaan ini membuat pikirannya jernih. namun tanggung jawab dan beban batin membuatnya betul-betul sukar ditahan..” "Aku tahu. Matipun terasa bukan soal baginya.." "Cici.. aku hanya minta hubungan kita selama ini jangan menjadi putus begini saja. menimbulkan derita yang tak pernah dirasakan selama hidup. "Cici. Semula Thian-thay-moki tertegun. Pada saat kedua insan ini hampir berpelukan. Wajahnya nan sayu sedih seketika mengulum senyum syahdu.” "Kecuali kau. Derita dan siksaan badaniah tidak menjadikan dia patah semangat.. namun lekas sekali dia memahami maksud Ji Bun. "kau tahu kita tak mungkin . kau harus mencari jodoh demi . namun tiada keberanian. bak sekuntum bunga yang mekar ditimpa air hujan. aku tidak mengharapkan itu. kesadaran Ji Bun tiba-tiba menyentak sanubarinya. tanpa pikir iapun beranjak mendekat. apa yang akan kulakukan? Demikian dia bertanya kepada diri sendiri.com/ gamblang..Tiraikasih Website http://kangzusi. Mendadak .. karena dia harus memikirkan buntut yang bakal timbul dengan akibat yang sukar dibayangkan.” Tidak tega hati Ji Bun.." kata Ji Bun kemudian. tanpa sadar dia maju selangkah sembari ulur tangan kanan..

teriaknya berjingkrak: "Ji Bun kau manusia berdarah dingin. kau sengaja hendak menghinaku?” desis Thian-thay-moki geram." . kenapa? Dia sendiri tidak tahu? Kalau tahu. serentak timbul perasaan terhina dalam hatinya. dia harus mengeraskan hati menelan segala derita dan kegetiran hati. jangan karena demi ketenteraman dan mencapai keinginan pribadi dia sampai mengorbankan kekasihnya. karena cinta maka dia wajib melindunginya. Laksana induk kijang yang sedang marah.Tiraikasih Website http://kangzusi. amarah dan dendam membara dalam benaknya.com/ tangan kanan yang sudah diulur diturunkan lagi. Thian-thay-mo-ki melengak. Itulah cinta sejati. dia perlu perhatian dan simpatik orang lain. Tapi siapa yang tahu betapa derita hati Ji Bun? Dia perlu hiburan. bukan monopoli. karena maklum. Ji Bun diam saja. senyum mekar di wajahnya seketika membeku kelam. cinta murni. namun dia menyingkir dari perhatian. karena cinta itu sendiri perlu pengobanan. tiba-tiba terbenam pula dibalik mega mendung. sekali dia mengobarkan api asmara. lalu kenapa pula? Karena dia betul-betul sudah jatuh cinta terhadap Thian-thay-mo-ki. dia tidak menjelaskan. namun dia menolak. berbareng menyurut mundur beberapa langkah. Bak secercah cahaya matahari yang baru muncul di balik gumpalan awan. dia akan mengalami keruntuhan total. "Ji Bun. sifat Thian-thay-mo-ki yang lembut lenyap seketika. hati dan badan seketika terasa dingin dan kejang.

. aku sendiri tidak tahu diri.Tiraikasih Website http://kangzusi. sedapat mungkin dia menekan emosinya yang bergolak.. Dia tahu kalau Thianthay-mo-ki memukul sekuat tenaga dirinya yang lunglai kehilangan ilmu silat pasti akan binasa seketika.. namun tiada kata-kata yang keluar. kau pandang diriku mirip kembang jalanan..." "Kau kira aku takut?" "Tidak." Tanpa sadar. kenapa sebelum menyelami keaslian jiwamu. bunuhlah aku. Memang. namun dia tetap diam saja.com/ Bergetar tubuh Ji Bun. aku tidak tahu malu. tanpa tedeng aling-aling kucurahkan segala perasaanku. Ji Bun menyurut mundur. Terangkat tangan Thian-thay-mo-ki. teriaknya beringas: "Ji Bun. atau aku yang membunuhmu. Berkerutuk gigi Thian-thay-mo-ki. gunakan tanganmu yang beracun.. aku . kau anggap cinta murniku bagai kotoran. katanya: "Kau boleh turun tangan. Mulutnya sudah terpentang hendak bicara... aku . aku tidak akan membalas.. . membunuh orang tanpa banyak membuang tenaga bukan?" Ji Bun pejamkan mata.” "Ji Bun.. katanya: "Te-gak Suseng." Air matapun bercucuran semakin deras.

Sudah tentu hal ini membuat Thian-thay-mo-ki tertegun. Keadaannya sekarang lebih sengsara dari pada mati. bukankah kau hendak membunuhku. Ia pikir. dia menyeringai. perasaannya hambar. darah seperti sumber air menyembur dari mulutnya. disertai suara mengaduh. namun sekarang aku memang betul-betul mencintaimu setulus hatiku. marah atau dendam. dengan seluruh kekuatannya yang ada ia berteriak: "Thian-thay-mo-ki.Tiraikasih Website http://kangzusi. memang dulu aku pernah menghina dan memandang rendah dirimu. agaknya tak pernah diduganya bahwa ia terima dihajar tanpa membalas atau menghindar. terpaksa Ji Bun rebah diam saja diatas rumput. kalau dirinya mati ditangannya kan lebih baik? Entah dendam atau benci Thian-thay-mo-ki. Tenaga untuk merontapun tiada lagi. bagai . lama sekali baru ia bersuara: "Kenapa kau tidak melawan?” Ji Bun nekat. sorot matanya menyala. kenapa tidak kau lanjutkan? Kau tidak berani?" Berkobar pula amarah Thian-thay-mo-ki. tidak merasa benci. Ji Bun terpukul mencelat dan jatuh terkulai di atas rumput di pinggir jalan." Tapi lahirnya dia tetap bersikap kaku dingin seperti patung.com/ Dalam hati Ji Bun berteriak: "Cici. mungkin inilah suatu cara untuk membayar utang atas permainan asmara yang tiada berkeputusan ini. aku amat menyintaimu. "Plak". wajahnya nan putih molek kini menjadi hijau membesi.

. atau pergilah yang jauh.” . dia siap untuk menyambut ajalnya." desisnya tajam.. kenapa kau tidak melawan?” Cukup menjawab sepatah kata saja. namun Ji Bun sudah nekat dan mengeraskan hati. tiada maksud sungguh untuk membunuh Ji Bun.. "jangan pura-pura lagi. namun dia tahu watak Ji Bun. dia malah menjengek dingin: "Kau tidak tega?" Serba sulit bagi Thian-thay-mo-ki. agaknya dia marah dan penasaran.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ binatang buas yang kelaparan. Ji Bun diam saja tidak bergeming.. "Ji Bun." sahut Ji Bun tegas.. atau kau akan menyesal setelah kasep. "Ji Bun.. tiada peluang untuk memilih. "Baiklah. mungkin situasi akan berubah. dalam keadaan kepepet seperti ini terpaksa dia harus turun tangan... Dia pasti tidak menggunakan akal muslihat. sikapnya yang tenang menunggu kematiannya sungguh menimbulkan curiga. Tak terduga di tengah jalan Thian-thay-mo-ki menghentikan gerakannya. selamanya .. akhirnya dia turunkan pula tangannya katanya dengan suara kalem: “Kenapa kau berbuat demikian?" "Tidak kenapa-kenapa. tak usah . ujung mulutnya malah menyungging senyuman. kalau mau boleh kau bunuh aku." "Aku tidak akan menyesal. biar kau membenciku sepanjang masa!" ancam Thianthay-mo-ki sambil angkat tangannya terus membelah kedadanya. umpama betul tidak tega.

aku terpaksa. kekuatan itu pula yang menyebabkan dirinva hidup kembali setelah mati beberapa kali.com/ "Ji Bun... betulkah kau begini tidak kenal budi?" "Tidak.Tiraikasih Website http://kangzusi. bahwa didalam tubuhnya tersembunyi suatu kekuatan luar biasa yang terpendam. Akan datang suatu ketika kaupun akan mengerti. Sekian lama dia . sungguh aneh bin ajaib. "Ji Bun... kenapa demikian? Seingatnya dia belum pernah makan atau minum sesuatu obat mujijat.." Dengan mendekap mukanya Thian-thay-moki terus berlari pergi. jangan kau kira dirimu ini terlalu . remuk rendam hati Ji Bun.." "Bohong. Ji Bun.” "Tidak pernah aku bilang aku ini gagah.. baru sekarang aku mengenalmu . pelan-pelan dia berdiri. kini betul-betul dirasakan dan terbukti dalam keadaan dirinya sudah sadar benar-benar.... betapa heran hatinya sungguh sukar dilukiskan. alasan yang dibuat-buat belaka. Mengawasi bayangan orang yang semakin jauh dan akhirnya lenyap di balik pohon. kekuatan ini mampu menyembuhkan segala luka-luka dan penyakit.. rasa sakit yang menyiksa tadipun sudah lenyap. memangnya pukulanku tadi mampu melukai Te-gak Suseng yang terkenal itu?" Kini terasa oleh Ji Bun luka-lukanya ternyata sudah sembuh diluar tahunya tanpa minum obat." "Kenapa kau pura-pura lemas tak mau berdiri.

Tiraikasih Website http://kangzusi. "Siapakah sebetulnya tuan?" tanya Ji Bun. dandanan guru kampung dengan kain kasar ini tidak asing lagi baginya. keduanya sudah terbunuh oleh Siucay ini. seketika dia menjadi lesu dengan geleng-geleng kepala.. akupun harus pergi.. Dia bukan lain adalah Siucay yang pernah terserang tangan beracunnya di luar kota Lam-cau tempo hari... katanya: “Tuan ada petunjuk apa?" Tajam pandangan Siucay tua ini... waktu dia angkat kepala serta merta kakinya menyurut mundur. mendadak ia sadar bahwa Lwekang dan kepandaian silatnya sekarang sudah punah. Agaknya Thian memang maha pengasih . Mendadak diiihatnya sesosok bayangan orang yang melayang ke depannya. . Kejadian bunuh membunuh sekarang sudah tidak menarik perhatian lagi.. aku . Kemana aku harus menuju?” Sekonyong-konyong dalam hutan tak jauh di sana beruntun terdengar dua kali jeritan yang mengerikan.com/ terlongong dan menggumam seorang diri: "Dia sudah pergi. tahu-tahu di situ berdiri seorang Siucay tua berusia setengah umur." Jadi kedua jeritan tadi adalah dua orang Wi-to-hwe yang ditugaskan menguntit dirinya.. Mencelos hati Ji Bun... secara refleks dia bersiaga hendak melompat ke sana. Dengan dingin Ji Bun pandang orang sejenak. desisnya: "Tak nyana kau ini anak Ji Ing-hong. hampir saja aku menyia-nyiakan kesempatan baik ini. kalau kedua penguntit Wi-to-hwe tadi tidak mengaku.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

14.41. Moyang Perguruan Racun "Kau akan tahu, kabarnya kau keras kepala dan angkuh, tahan disiksa lagi, walau sekarang kau kehilangan kepandaian silat, namun kita harus cari tempat lain untuk berbicara ......" sembari bicara dia menyopot jubah luarnya, sekali gerak dia ikat tangan dan tubuh Ji Bun terus dijinjingnya lari masuk ke dalam hutan. Hakikatnya Ji Bun tidak kuasa melawan, maka dia diam saja menerima nasib, tujuan orang menelikung kedua tangan dan mengikat badannya karena takut tersentuh tangan kirinya, hal ini cukup dimengerti Ji Bun. Setelah keluar dari hutan, Siucay tua ini tidak berhenti, dia terus berlari-lari dengan kencang, begitu cepat, Ji Bun merasa seperti meluncur secepat angin, lekas sekali mereka tiba ditepi sebuah sungai besar, ombak bergulung-gulung, arus sungai cukup deras. Setiba dipinggir sungai baru Siucay tua berhenti lari, tampak sebuah perahu layar yang cukup besar sudah menunggu di sana. Sekali lompat Siucay tua itu naik ke atas kapal, Ji Bun dilempar ke dalam bilik, lalu ia membuka tali tambatan sehingga kapal ini hanyut terbawa arus. Entah berselang berapa lama, entah berapa jauh kapal ini sudah berlaju, tahu-tahu kapal ini tak terasa terombang-ambing lagi. Siucay tua masuk ke dalam bilik di mana Ji Bun menggeletak, katanya setelah duduk: "Bangun, mari kita bicara." Tanpa bersuara Ji Bun berdiri, dia duduk di kursi yang ada disebelahnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kau putera Ji Ing-hong? Dimana sekarang dia berada?" "Entah.” "Betul kau tidak tahu?” “Terserah kalau tidak percaya." "Anak muda, cara yang kugunakan jauh lebih hebat daripada Hian-giok-siu-hun, kuharap kau tahu diri." Terbayang akan siksaan Hian-giok-siu-hun, Ji Bun bergidik, namun sikapnya semakin tawar lagi, setelah Lwekang dan kepandaiannya punah, hakikatnya hidup lebih sengsara daripada mati, maka katanya dingin: "Cayhe maklum, paling-paling mati sekali lagi." "Jangan kau salah sangka, jangan kau kira gampang untuk mati, kau akan sekarat, setengah mati setengah hidup. Lohu akan tutuk beberapa Hiat-to sehingga kaki tanganmu lumpuh, mata bisa memandang, kuping dapat mendengar, mulut tak bisa bicara, lalu dengan semacam obat kubuat hilang ingatanmu. Kau akan lupa pada dirimu sendiri, segala pengalaman dan semua milikmu akan terlupakan. Lalu kulepas kau dikota yang ramai, sebagai manusia umumnya kau akan berjuang untuk hidup, dan kau akan terluntalunta sebagai pengemis yang cacat dan harus dikasihani ......” "Tutup mulutmu!” bentak Ji Bun keras, serasa meledak dadanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Siucay tua tidak hiraukan reaksi Ji Bun, Dia tetap bicara dengan acuh tak acuh: "Setiap tengah hari, kau akan terserang suatu penyakit aneh, deritanya tentu lebih hebat daripada Hian-giok-siuhun ........” Mendadak Ji Bun melompat berdiri terus menubruk maju, tangan kiri bergerak. "Bluk", tahu-tahu sejalur angin kencang menekan dan menyurungnya mundur terduduk pula dikursinya. Siucay tua melanjutkan: "Sudah tentu, supaya tidak menimbulkan bencana bagi masyarakat ramai, tangan kirimu yang beracun ini harus dikutungi.” Bukan kepalang benci Ji Bun, teriaknya: “Tuan mudamu menyesal tempo hari memberikan obat pemunah padamu...." "Umpama sepuluh kali kau berikan obat pemunah padaku juga belum setimpal untuk menebus kejahatan ayahmu, dalam hal ini Lohu tidak perlu menaruh belas kasihan, tidak perlu bicara soal aturan Bu-lim segala." Ji Bun terempas-empis menahan marah, teriaknya dengan serak: "Ada permusuhan apa sebenarnya kau dengan ayahku?" Terpancar sinar dendam dan kebencian pada mata Siucay tua, giginya berkerutuk, sahutnya. "Dendam setinggi gunung dan sedalam lautan, anak muda, sekarang katakan, dimana anjing tua itu menyembunyikan diri?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Jangan harap kau bisa mendapatkan apa-apa dari tuan-mudamu ini," bentak Ji Bun beringas. "Anak muda, orang yang berbuat kejahatan, anak isterinya tidak ikut berdosa, bicaralah terus terang, Lohu akan memberi kesempatan hidup padamu." "Jangan harap!" "Kau akan mengaku, Lohu punya cara sehingga kau akan buka mulut ........” Ji Bun maklum siksaan yang di luar perikemanusiaan bakal menimpa dirinya, kini dirinya lemas lunglai, tenaga untuk bunuh diripun tak mampu, dia tidak takut mati, malah ingin cari mati. Namun dia kuatir kalau kepalang tanggung, jika terjadi seperti apa yang dikatakan Siucay tua ini, dirinya akan hidup merana terlunta dengan badan cacat ......” Mendadak sekilas ia melihat ujung sebatang paku yang menongol keluar dari dinding papan kapal, panjangnya ada dua senti, letaknya tepat mengarah Thay-yang-hiat dipelipisnya, jaraknya hanya beberapa senti lagi, cukup asal dirinya miringkan kepala dengan mengerahkan sedikit tenaga, tentu dengan mudah dapat menghabisi jiwa sendiri. Penemuan ini seketika menentramkan hatinya, sekarang dia harus cari akal untuk mengalihkan perhatian orang. Maka dia berkata: "Apakah tuan she Lan?" Sincay tua melengak, sahutnya ragu-ragu: "Aku ......”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Tuan bernama Lan Sau-seng?" Ji Bun menegas. "Aku bukan Lan Sau-seng, kalau masih hidup dia juga akan bertindak seperti aku." Agaknya paman atau adik ibunya, Lan Sau-seng, sudah meninggal dunia, tahu siapakah Siucay tua ini? Soal ini tidak penting, karena tujuan Ji Bun ingin mengalihkan perhatian orang dan mencari kesempatan untuk bunuh diri. Mendadak Siucay tua bersuara keras: "Anak muda, pernahkah kau mendengar seorang yang bernama So Yan?” Tanpa pikir Ji Bun berkata: "Bukan hanya mendengar, belum lama ini ....." sampai di sini baru dia menyadari telah kelepasan omong. Darimana Siucay tua ini dapat tahu nama ibu tuanya? Kenapa tanya tentang dia? Siapakah Siucay tua ini? Mendadak Siucay tua berjingkrak berdiri, suaranya menggerang penuh emosi: "Kau pernah melihatnya?" Sudah kadung omong terpaksa Ji Bun keraskan kepala: "Betul!" sahutnya. "Dia ...... dia belum mati?" "Pernah apa tuan dengan So Yan?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Tidak menjawab mendadak Siucay tua malah menangkap kedua pundak Ji Bun serta digoyang-goyangkan, teriaknya: "Katakan, dimana dia?" Inilah kesempatan baik yang tak terduga, walau Lwekang sudah punah, namun tangan kirinya yang berbisa masih mampu bekerja dengan baik, cukup sedikit menyentuh badan orang dan lawan akan keracunan. Tapi Lwekang Siucay tua ini sangat tinggi, meski keracunan ia pasti sanggup bertahan untuk sekian lama lagi. Sedang dirinya sendiri dalam keadaan lemas, obat penawar di dalam kantong pasti dengan mudah dapat digeladah orang dan akibatnya celaka lagi nasibnya nanti. Hanya sekejap saja, agaknya Siucay tua juga tersentak sadar lekas dia lepas tangan dan menyurut mundur. Kesempatan menjadi sia-sia begitu saja. Terpaksa Ji Bun kembali pada rencananya semula, membunuh diri dengan membenturkan kepala pada paku yang menongol di dinding kapal. Siucay tua itu masih dirangsang emosi yang meluap, mata melotot badan gemetar, napas memburu, kulit mukanya berkerut, bahwa seorang yang berkepandaian silat tinggi juga dirangsang emosi begini meluap sehingga napas memburu, dapatlah dibayangkan betapa besar pukulan yang menimpa sanubarinya. "Anak muda, katakan, dimana kau bertemu dengan Khong-kok-lan So Yan?” Ji Bun bersikap acuh sambil angkat pundak, diam-diam ia sudah mengincar dengan tepat, pelipisnya tepat diarahkan ke ujung paku,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ jaraknya tinggal dua senti lagi, sekarang cukup dia gelengkan kepala. segalanya akan beres. Sudah tentu mimpipun Siucay tua itu tidak tahu rencana Ji Bun, namun matanya masih melotot gusar menanti jawaban. Walau ibu tuanya sudah putus hubungan dengan ayah, kini menjadi musuh besar malah, namun Ji Bun tidak rela mengatakan jejaknya, karena hal ini sekaligus bakal mendatangkan bencana bagi Biau-jiu Siansing. "Katakan tidak?" bentak Siucay tua pula. "Tidak!" jawab Ji Bun singkat. "Agaknya sebelum disiksa kau tidak kapok ......" Ji Bun mengertak gigi, baru saja hendak benturkan kepalanya ke arah paku ...... sekonyong-konyong sebuah suara bentakan bagai geledek berkumandang: "Ji Ing-hong, sekarang kau boleh unjukkan diri." Berubah roman Siucay tua, sigap sekali dia melompat keluar bilik. Berdegup jantung Ji Bun, sesaat itu menjadi bingung apa yang telah terjadi. Kenapa di luar orang menyebut nama ayahnya. Tanpa pikir dia berdiri dan dorong jendela melongok keluar. Tampak tiga buah perahu tengah laju mendatangi, perahu pertama berdiri jajar Wi-to-hwecu Siangkoan Hong bersama si perempuan rupawan, perahu kedua berdiri Siang-thian-ong dan Bu-cing-so, perahu ketiga dinaiki Thong-sian Hwesio dan Jay-ih-lo-sat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Ji Ing-hong," terdengar Siangkoan Hong membentak dengan suara kereng, "meski tumbuh sayap juga hari ini jangan harap kau bisa terbang meloloskan diri." Siucay tua terloroh-loroh, serunya: "Para saudara, di sini tiada Ji Ing-hong." Suara Siang-thian-ong bagai bunyi genta berkumandang: "Tutup mulutmu, jangan menggonggong di sini, lekas suruh keparat tua itu keluar." Tergerak pikiran Ji Bun, seketika dia menjadi sadar dan mengerti apa yang terjadi, setelah memunahkan Lwekang dan kepandaian silatnya, perempuan rupawan membiarkan dirinya pergi, tujuannya adalah untuk mengejar jejak ayahnya. Siucay tua ini telah membunuh kedua anak buah Wi-to-hwe yang ditugaskan menguntit dirinya, lalu membawa lari dirinya, kemungkinan ada penguntit lain yang melihat, lalu memberi laporan ke pusat, maka cepat sekali orang-orang Wi-to-hwe ini mengejar datang. Tujuan kedua pihak sama mengejar ayahnya, setelah kedua pihak bicara jelas dan terus terang akan duduk persoalannya, tentu dirinya pula yang bakal ketiban pulung alias celaka. Waktu matanya menjelajah sekelilingnya, dilihatnya mereka berada pada sebuah telaga yang luasnya beberapa hektar. Telaga ini dikelilingi dindingdinding gunung yang tinggi mencuat ke langit, walau tengah hari, namun cuaca di sini remang-remang dingin. Tepat di tengah di depan sana adalah sebuah tebing batu besar yang melintang di antara apitan dua dinding gunung, dari mana air

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ menerjun turun dengan deras, air muncrat keras jatuh di tabir batu besar itu terus mengalir ke telaga ini. Air mengalir tenang keluar kearah kanan, dimana saluran pintunya sempit sehingga air bergolak dan berbuih, gemuruh air amat mengejutkan sekali. Ji Bun bertindak dengan tegas dan bertekad lebih baik mati karam di telaga daripada tertawan musuh dan disiksa. Kesempatan baik sekarang jangan disia-siakan, maka dengan menggeremet diam-diam ia menuju ke belakang, dan jendela dibuka lalu merangkak keluar, tanpa mengeluarkan suara dia meluncur ke dalam air. Permukaan air kelihatan tenang mengalun, tak nyana begitu Ji Bun masuk ke dalam air seketika dia tersedot oleh pusaran arus yang deras. Karena tak pandai berenang, begitu tenggelam, Ji Bun meronta-ronta dan tersedot ke bawah sampai kedasar telaga. Karena kepandaian punah dan Lwekang lenyap, dengan sendirinya dia tidak mampu mengerahkan tenaga untuk menahan nafas, akhirnya air terus tercekok ke dalam tenggorokan. Secara refleks Ji Bun meronta-ronta sekuatnya supaya dirinya mengambang ke atas. Namun sedotan pusaran air di bawah ini amat keras, usahanya sia-sia, malah tubuhnya semakin terseret turun. Sekonyong-konyong badannya terombang ambing berputar terbawa arus, seketika dia kehilangan kesadaran. Dalam keadaan setengah sadar terakhir dia masih merasakan dirinya terbawa hanyut keluar dari pintu sempit yang menjurus entah ke mana. Rasa dingin dan sakit yang menusuk tulang tiba-tiba menyentaknya bangun, waktu dia buka mata, bintang-bintang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ tampak bertaburan di cakrawala, tabir malam menyelimuti jagat, didapatinya dirinya rebah di atas batu cadas yang dingin, hembusan angin malam nan sepoi-sepoi terasa amat dingin membeku. Gemuruh air amat mengganggu pendengarannya. Sesaat itu ia sukar membedakan dimana dirinya berada, entah masih hidup atau sudah mati? Atau di alam mimpi? Lama sekali setelah berhasil memulihkan sedikit tenaga baru dia yakin bahwa dirinya masih hidup dan bernapas dengan teratur, rasa sakit ditubuhnya merupakan bukti yang nyata. Maka dengan penuh keheranan dia merangkak duduk, ia celingukan kian kemari, dilihatnya dirinya rebah di atas batu yang terletak tiga kaki dipinggir jurang, dibawahnya adalah jurang seratus tombak. Sungai yang membawa keluar dirinya tampak berliku-liku di bawah sana mirip seekor ular raksasa. Tempat apakah ini? Siapakah yang menolong dirinya? Jelas dirinya tidak mati walau terjun ke telaga dengan maksud bunuh diri, bagaimana mungkin kini bisa terbang ke atas jurang yang tinggi ini? Sekonyong-konyong sebuah suara serak tua berkumandang di pinggir telinganya: "Suco berada di sini, kenapa tidak lekas berlutut?" Bukan kepalang kejut Ji Bun, tersipu-sipu dia merangkak bangun, terlihat di depan sana di atas sebuah batu, duduk tersimpuh seorang laki-laki tua bertubuh kurus kering seperti kayu, kedua matanya tengah menatap dirinya dengan pandangan tajam berwibawa. Suco? Dari mana datangnya Suco (kakek guru). Sejak kecil dia belajar silat dari keluarga, belum pernah dia mengangkat seorang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ guru. Namun kakek tua kurus yang aneh ini mengapa mengaku dirinya sebagai kakek gurunya, bukankah aneh? Dengan kaget dan heran Ji Bun menyurut mundur, tak mampu bicara karena kebingungan. Orang tua itu bersuara lagi: "Apakah gurumu tidak memberi penjelasan padamu?" Akhirnya Ji Bun menjawab terputus-putus: “Gu ..... guru? Wanpwe tidak punya ....... guru." Mencorong sinar mata orang tua kurus, kulit mukanya yang tinggal kulit membungkus tulang kelihatan berkerut, bentaknya: “Kau tidak punya guru?" "Ya," Ji Bun mengiakan. "Bagaimana kau bisa kemari?" "Sebetulnya Wanpwe terjun ke air hendak bunuh diri. entah bagaimana ..........” Sinar mata si orang tua menyapu turun naik sekujur badan Ji Bun, akhirnya dia membentak bengis: "Lalu siapakah yang mengajarkan Bu-ing-cui-sim-jiu yang kau yakinkan itu?” Jantung Ji Bun serasa melonjak keluar. Tampaknya orang tua ini rada ganjil, sahutnya kemudian: "Ayahku almarhum" "Apa, ayahmu almarhum, jadi dia sudah mati?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ji Bun mengangguk. "Sebelum ajal dia yang suruh kau kemari bukan? Mana Tokkeng?" tanya kakek itu. Semakin kebingungan Ji Bun, pertanyaan yang susul menyusul ini membuatnya garuk-garuk kepala tanpa tahu duduk persoalannya. "Lo ...... Locianpwe adalah .......” Berdiri alis putih si orang tua kurus, kepalanya geleng-geleng, mulutnya menggumam: "Tidak beres, dia tidak akan berani mendurhakai perguruan, namun berani menentang peraturan dengan kawin dan punya anak, tapi ini ......" sampai di sini mendadak ia membentak: "Kapan keparat itu mampus?" "Keparat? Siapa?” "Orang yang mengajar ilmu beracun padamu itu.” "O, mendiang ayahku? Baru beberapa bulan yang lalu beliau meninggal." "Hm," mulut siorang tua kurus menggeram gusar, suaranya dingin seram nadanya aneh lagi. Ji Bun merinding dan berdiri bulu kuduknya, sungguh tidak habis mengerti, apa sebetulnya yang pernah terjadi. Sekian lama siorang tua kurus seperti menahan gejolak amarahnya, akhirnya bersuara pula seperti bicara pada dirinya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ sendiri: "Tidak menepati janji sepuluh tahun ..... cara bagaimana dia mati?” "Dicelakai para musuhnya, tapi ......” "Tapi apa?" "Akhir-akhir ini muncul gejala-gejala yang mencurigakan, agaknya ...... ayah seperti masih hidup." "Pernahkah dia menyinggung peraturan perguruan padamu?” “Tidak, sahut Ji Bun menggeleng. “Lalu bagaimana kau bisa berada di Kiu-coan-ho ini?” “Wanpwe diculik orang, suatu ketika berhasil terjun ke air, maksudku hendak bunuh diri saja ...... apakah Locianpwe yang menolong diriku?” Orang tua kurus diam sebentar, mulutnya menggumam: "Lwekang anak ini tertutup, mungkin pikirannya terganggu dan menjadi linglung. Kalau tidak mengapa jadi begini?” "Lwekangnya tertutup", kata-kata ini amat menggetarkan hati Ji Bun, yang jelas dia sendiri merasakan Lwekang dan kepandaian silatnya sudah punah, namun orang tua kurus ini bilang hanya di "tutup", betapa jauh bedanya antara "tutup" dan "punah" itu? Secara tak disadarinya dia lalu himpun tenaga dan tarik napas panjang. Mendadak hawa murni bagai air bah yang jebol dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ bendungan bergulung-gulung timbul dari sumbernya. Entah bagaimana Lwekangnya ternyata sudah pulih kembali seperti sediakala. Betapa kejut dan tergetar hatinya sungguh bukan kepalang. Orang tua ini bilang Lwekangnya di tutup, kini telah terbuka dan lancar kembali. Jelas orang tua kurus ini yang membuka segelan Lwekangnya, naga-naganya bukan sembarangan tokoh kosen kakek kurus ini. Dia menyebut diri sebagai Suco, menyinggung tangan beracun lagi, mungkinkah memang dia ini guru dari ayah? Orang tua kurus menggapai padanya, katanya: "Mari masuk." Bayangannya tiba-tiba lenyap, heran Ji Bun melototkan matanya, didapatinya di balik batu di mana orang kurus itu bersimpuh tadi adalah lubang batu, tadi karena teraling dan seluruh perhatiannya tertumplek pada si orang tua, maka Ji Bun tidak melihat adanya lubang gua ini. Sejenak dia ragu-ragu, akhirnya melompat naik ke atas terus melangkah ke dalam gua batu itu. Gua ini sempit, hanya tiba cukup untuk satu orang keluar masuk, lorong gua gelap dan lembab, kirakira puluhan tombak kemudian baru pandangannya terbeliak pada sebuah kamar batu yang luas, meja kursi dan perabot lainnya semua terbikin dari batu, tepat di tengah sana terletak sebuah meja pemujaan. Asap dupa mengepul tinggi menambah khitmadnya suasana.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Orang tua kurus tampak berdiri di pinggir meja, begitu Ji Bun melangkah masuk, segera dia berseru lantang: "Tempat semayam Cosu (leluhur) ada di sini, lekas berlutut." Sekilas Ji Bun tertegun. Waktu ia pandang ke arah meja pemujaan, tampak sebuah papan batu panjang, ditengah-tengah bertuliskan beberapa huruf yang berbunyi: "Tempat semayam moyang racun Kwi-kian-jiu Le Bung". Teringat oteh Ji Bun akan penuturan orang tua aneh di dasar jurang Pek-ciok-hong dulu bahwa Bu-ing-cui-sim-jiu adalah ciptaan seorang tokoh silat ahli racun yang bergelar Kwi-kian-jiu pada dua abad yang lalu, ilmu ini sudah lama putus turunan, secara tidak sengaja, agaknya dirinya telah ke sasar ke tempat asal perguruannya sendiri yang asli. Setengah kaget setengah girang, tersipu-sipu Ji Bun berlutut lalu menyembah berulang kali, tak lupa iapun menyembah kepada si orang tua kurus, serunya: "Ji Bun yang tidak berbudi, menghadap Suco." "Berdiri!” seru si orang tua kurus dengan badan gemetar. Cepat Ji Bun berdiri, pandangannya heran penuh tanda tanya kepada si orang tua aneh. "Kau bernama Ji Bun?" orang tua itu bertanya penuh emosi. Ji Bun mengiakan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Siapa nama ayahmu?" "Beliau bernama Ji Ing-hong." “Kau bukan murid perguruan kami!” kata si kakek tiba-tiba. Ji Bun mundur tiga langkah, pandangannya sayu seperti mendadak menjadi bodoh. Selama hidup belum pernah dia mengalami kejadian seperti ini, begitu berhadapan orang tua ini mengaku sebagai Suco. Kini bilang dirinya bukan murid perguruannya, agaknya semua persoalan timbul lantaran dirinya meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu itu, dulu cara bagaimana ayahnya memperoleh kitab pelajaran ilmu beracun ini? Orang tua kurus duduk di atas kursi batu, sekian lama dia pejamkan mata entah merenungkan apa dan begitu membuka mata segera bertanya pula: "Pernah kau mendengar nama Ngo Siang?" "Tidak pernah," jawab Ji Bun. "Pernah melihat Tok-keng?" "Juga tidak." "Bagaimana kau bisa meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu" "Ayah yang mengajarkan secara lisan." "Apakah ayahmu juga meyakinkan tangan beracun?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Menurut apa yang Wanpwe ketahui, agaknya tidak." "Pernah dengar dia menyinggung soal Tok-keng?“ "Tidak pernah beliau menyinggung Tok-keng segala." Untuk sekian lama pula si orang tua berdiam diri, suasana menjadi hening. Ji Bun tidak tahu apa yang sedang dipikirkan si orang tua. Entah vonis apa pula yang akan dijatuhkan atas dirinya, namun nalarnya yakin bahwa dirinya tidak akan mengalami nasib jelek, terutama Lwekang dan kepandaian silatnya sudah pulih, hal ini menimbulkan gairah dan mengobarkan semangat, dia merasa seperti hidup kembali setelah berkayun di neraka. Sampai sekian lamanya kedua orang tiada yang buka suara, lama kelamaan Ji Bun menjadi tidak sabar. Mendadak orang tua kurus berdiri lalu berlutut di depan meja sembahyangan, mulutnya bersabda: "Ban Yu-siong, murid generasi ke-12 bersembah sujud di hadapan Suco, demi mengembangkan perguruan supaya tidak putus turunan, Tecu memberanikan diri memutuskan untuk menerima murid dan menurunkan ilmu, harap dimaklumi dari unjuk periksa adanya!" Habis bersabda ia berdiri di pinggir meja, katanya dengan suara kereng dan serius: "Ji Bun, ayahmu adalah murid generasi 14 dari perguruan kita, kini kau adalah generasi ke 15, sekarang pasang dupa dan bersembahyang kepada leluhur."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Heran dan tidak habis mengerti Ji Bun dibuatnya, tampaknya tiada peluang baginya untuk berpikir panjang, entah berdasar apa orang tua ini berani memutuskan bahwa ayahnya adalah murid generasi ke 14, kalau toh sudah telanjur adanya ikatan ini, apa pula yang harus dikatakan, yang terang budi orang tua ini memulihkan dan membuka segel Lwekangnya. Sulit bagi dirinya untuk menolak segala perintah dan permintaannya, maka dia lantas melangkah maju mengambil tiga batang hio dan disulut terus berlutut di depan meja pemujaan. "Bersumpah!" seru orang tua itu. Kembali Ji Bun tertegun, cara bagaimana harus bersumpah, sekilas dia berpikir, lalu dia berseru lantang sesuai peraturan bagi sesuatu aliran yang hendak memungut murid: "Ji Bun, murid generasi ke-15, berkat keluhuran budi Suco yang sudi menerimanya sebagai murid, dengan ini bersumpah untuk mendarma baktikan jiwa raga bagi perkembangan dan kejayaan perguruan serta bersumpah untuk mematuhi segala peraturan perguruan, kalau melanggarnya, biarlah Thian menjatuhkan hukumannya." "Dengarkan maklumat!” kembali si orang tua kurus berseru lantang.

14.42. Murid Ban-tok-ci-bun Ji Bun berlutut dan menyembah tanpa bersuara, hakikatnya memang, dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk mengiringi upacara ini. Lalu berkatalah Ban Yong-siang lebih lanjut

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ dengan nada kereng berwibawa. "Perguruan kita adalah Ban-tok-cibun (perguruan selaksa racun). Berdiri dan berkembang demi kesejahteraan manusia, hidup rukun saling membantu, membela yang benar menindas kelaliman, membantu yang lemah menumpas yang kuat dan jahat, takkan berbuat salah dan tidak menuntut kegaiban. Dapatkah kau mematuhinya?” "Hamba bersumpah akan patuh dan taat!" "Dengarkan tata tertib!" “Tecu siap mendengarkan." "Pertama dilarang berbuat jahat dan cabul, kedua dilarang mencuri atau merampok, ketiga dilarang membunuh tanpa berdosa, keempat dilarang membantu kejahatan atau kelaliman. Dapatkah kau mematuhi semua ini?" Ji Bun mengiakan. "Nah, sekarang dengarkan peraturan hukum. Mendurhakai perguruan dan leluhur, hukumnya mati. Mengajarkan ilmu beracun secara semena-mena dihukum gantung. Yang membocorkan rahasia perguruan dihukum mati. Berbuat kejahatan dan melanggar perikeadilan dihukum mati. Dapatkah kau mematuhi semua ini?" Ji Bun mengangguk dan menyatakan patuh. "Nah, sekarang kau boleh berdiri, nak."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Ji Bun berdiri lalu menghadapi Ban Yu-siong dan memberi hormat. "Tidak perlu banyak adat, berdirilah!" wajah orang tua itu sekarang kelihatan welas asih penuh kasih sayang, sorot matanya yang tajam tadi telah lenyap, katanya sambil menuding bangku batu di sebelahnya: "Duduklah, kuingin bicara dengan kau." "Terima kasih," ucap Ji Bun sambil duduk. "Tuturkan riwajat dan asal usulmu." "Tecu Ji Bun, keturunan Jit-sing pang Pangcu Ji Ing-hong, anak tunggal dan mewarisi ajaran keluarga, tidak pernah berguru pada aliran lain." "Baiklah, nak, dengarkan dengan cermat. Perguruan kita bernama Ban-tok-ci-bun, cikal-bakal kita adalah Kwi-kian-jiu yang tersohor sejak ratusan tahun hingga sekarang. Beliau bernama Le Bong. Perguruan kita diwariskan dari satu generasi kepada generasi yang lebih muda, setiap generasi , hanya menerima seorang murid, inilah peraturan yang diwariskan oleh cikal bakal kita dan pantang dilanggar, oleh karena itu ada larangan barang siapa yang melanggar aturan dan sembarangan mengajarkan ilmu beracun kepada orang lain, harus dihukum mati." "Pernahkah Suthayco berkelana di Kang-ouw?" "Sudah enam puluh tahun aku menyepi diatas gunung.“

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Lalu generasi yang lalu ......” "Cosuya (Cikal bakal) kita mewariskan aturan cara untuk mendapatkan murid, ini boleh dibilang sebagai rahasia perguruan kita pula. Pada dua ratus tahun yang lalu Cosuya secara tidak disengaja menemukan gua rahasia yang tersembunyi di celah-cela Kiu-coan-ho ini, maka sejak itu beliau lantas bersemayam dan mengasingkan diri di sini. Setelah menggembleng diri selama 60 tahun, bukan saja ilmu silatnya mencapai puncak yang tiada taranya, yang lebih penting beliau berhasil menyelami ajaran Tok-keng yang paling mendalam. Tiba-tiba timbul nalarnya yang luhur, jika ilmuilmu ciptaannya sampai putus turunan dan lenyap terbawa mati, kan amat sayang, namun beliau sudah bersumpah untuk mengasingkan diri, tak mungkin melanggar sumpah untuk keluar mencari murid ......" Sampai disini dia berhenti sebentar, lalu menyambung, "Oleh karena itu Cosuya mendapatkan akal secara untung-untungan bagi yang berjodoh mendapatkan rejeki, beliau mencatat semua ciptaan ilmunya pada dua buah kitab, pada jilid pertama diterangkan, bagi seorang yang menemukan buku itu harus mempelajarinya dengan tekun dan rajin. Dalam jangka 10 tahun, jika mencapai hasil, boleh kemari untuk angkat guru dan memperdalam pelajaran jilid kedua. Jilid pertama dan keterangannya itu oleh Cosuya dimasukkan ke dalam sebuah gelembung kulit terus dilempar ke sungai biar terbawa arus, kemungkinan memang buku itu tidak akan ditemukan orang dan akan lenyap tak keruan parannya. Namun cita-cita Cosuya ini memang hanya dipertaruhkan kepada orang-orang yang kebetulan punya jodoh saja ......”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Asyik sekali Ji Bun mendengarkan cerita ini, akhirnya tak tahan ia bertanya, "Tentu bungkusan itu ditemukan orang, lalu bagaimana?" Ban Yu-siong manggut-manggut, katanya: "Ya, kalau tidak masakah perguruan kita bisa bertahan turun temurun sampai sekarang." “Harap Suthayco melanjutkan kisah ini." "Enam tahun kemudian, suatu hari ketika Cosuya sedang memancing ikan di tepi sungai, mendadak dilihatnya sesosok tubuh manusia terhanyut dibawa arus, cepat beliau menolongnya ke atas, untung orang itu belum meninggal. Pada badannya ternyata ada kitab Tok-keng jilid pertama. Setelah ditolong dan diobati, baru diketahui bahwa orang ini memang hendak menghadap kepada guru, sayang ia kesasar dan terpeleset jatuh ke sungai ......" "Hah!" Ji Bun bersuara dalam mulut. "Waktu itu bukan kepalang senang hati Cosuya, segera orang itu diangkat jadi murid dan mulai mendirikan sebuah perguruan yang dinamakan Ban-tok-bun. Sejak itu keluarlah aturan perguruan. Di samping itu mengingat ajaran ilmu beracun tidak sama dengan pelajaran ilmu silat, sekali salah tangan pasti mengakibatkan tewasnya orang, jika anak murid sendiri tidak dibatasi gerak geriknya, kelak bisa menimbulkan petaka bagi dunia persilatan, oleh karena itu ditentukan setiap generasi hanya boleh menerima seorang murid saja .......” "Memang bajik dan bijaksana sekali Cosuya," ujar Ji Bun.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Orang itu adalah Suco dari generasi kedua bernama Hoan Goanliang, karena pengalaman Hoan-suco ini, maka Cosuya menyadari suatu cara untuk menjajaki jiwa manusia. Setiap orang yang memperoleh Tok-keng jilid pertama dan menjadi murid keturunannya, dia harus menceburkan diri di hulu Kiu-coan-ho, setelah mengalami ujian berat dengan mempertaruhkan jiwa raga ini baru dia setimpal dan punya bobot untuk diangkat menjadi murid secara resmi ......" "Jika orang itu hilang terbawa arus, lalu bagaimana?" tanya Ji Bun. "Tidak mungkin, arus air dibawah bukit itu memang aneh, setiap orang yang ceburkan diri ke sungai akhirnya pasti akan terlempar ke atas daratan, disamping itu Cosuya juga memasang jala besar, setiap benda yang terhanyut kesana pasti terjala, boleh dikata segala kemungkinan sudah dipikirkan dengan matang ......." "O," demikian kata Ji Bun, "pantas datang-datang tadi engkau orang tua lantas mengaku diri sebagai Suco, jadi engkau kira Tecu juga menceburkan diri ke air demi masuk perguruan." "Ya, nak, itulah yang dinamakan jodoh.” "Maaf akan kelancangan mulut Tecu, jika diantara sekian banyak generasi itu kehilangan kitab pusaka, bukankah ajaran akan terputus juga?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Pertanyaan bagus, itulah yang Suco katakan sebagai menyenggol rejeki, kalau memang tidak berjodoh, sudah tentu perguruan kita akan putus di tengah jalan." "Kalau yang menemukan seorang jahat dan membuat petaka Bulim, dan orang itu hakikatnya tiada tujuan hendak masuk perguruan, lalu bagaimana jadinya?" Orang tua kurus tersenyum, ujarnya : "Suco tetap punya cara untuk mengatasinya, tiga tahun setelah kitab diturunkan, generasi yang terdahulu harus turun gunung mengadakan pemeriksaan, karena ajaran racun merupakan ilmu sampingan, setiap orang mendapatkan ilmu ini pasti akan tenar dan berkecimpung di Bu-lim, maka tidak sukar untuk menemukan jejaknya. Kalau murid itu orang jahat, dia akan dihukum menurut peraturan serta merebut kembali Tok-keng, lalu mencari calon murid yang lain. Setelah diselidiki dengan baik, maka dia harus pulang gunung dan menunggu datangnya generasi yang akan tiba, dia wajib menurunkan pelajaran yang tertera pada jilid dua, begitulah seterusnya." "Kalau demikian, sudah menjadi ketentuan adanya dua generasi yang harus tinggal di atas gunung untuk mempelajari ilmu ciptaan Cosuya bersama .......” “Ya, begitulah kenyataannya." "Mohon tanya, siapakah generasi ke-13?" "Murid generasi ke-13 bernama Ngo Siang, tiga tahun kemudian setelah dia nyenggol rejeki jodoh itu, dia mendapat perintahku turun

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ gunung untuk mencari calon murid generasi mendatang, mungkin orang yang berjodoh adalah ayahmu Ji Ing-hong, dia terhitung generasi ke-14, Ngo Siang mungkin mengalami sesuatu bencana, sehingga sekian tahun tidak kunjung pulang, kini ayahmu dicelakai orang lagi, beruntung Thian sudah mengatur segalanya dan kaulah yang dituntun kemari." Bergidik Ji Bun dibuatnya, analisa orang tua kurus ini agaknya tepat, namun ayahnya lebih dari 10 tahun mendapatkan Tok-keng, agaknya dia sengaja tidak mau masuk perguruan, malah sepak terjangnya justeru melanggar pantangan yang paling besar dari aturan perguruan. Jika Ngo Siang generasi ke-13 itu masih hidup di dunia ini, suatu hari pasti akan mengadakan pembersihan. Terdengar Ban Yu-siong berkata pula: "Ayahmu melanggar aturan, mengajarkan ilmu perguruan terhadapmu. Jika dia masih hidup, dia pasti dikejar oleh hukuman. Dan kau, setelah meyakinkan ilmu beracun itu pernahkan kau sembarangan membunuh?” "Tecu yakin tidak pernah membunuh secara serampangan," sahut Ji Bun tegas. "Bagus, bagus sekali." "Masih ada satu hal, ingin Tecu bertanya?" "Boleh, soal apa?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Menurut cerita beberapa sesepuh Bu lim, bahwa Bu-ing-cui-simjiu selama ratusan tahun ini hanya Suco seorang saja yang berhasil meyakinkan." "Itu memang benar." "Jadi diantara puluhan generasi itu tiada .......” "Tidak demikian halnya, ajaran Bu-ing-cui-sim-jiu dimuat pada jilid pertama dan sukar dipahami. Setiap generasi yang pulang keperguruan sesuai batas 10 tahun itu, jarang yang berhasil meyakinkan dengan baik, sekalipun ada dua tiga orang, tapi kalau tidak dipergunakan, maka kaum Bu-lim tentu tiada yang tahu. Setelah berada dalam perguruan, meski berhasil dengan gemilang, waktupun sudah berlarut terlalu lama dan tiba saatnya dia harus menerima jabatan sebagai ahli waris. Hakikatnya dia tiada kesempatan berkelana di Kang-ouw untuk mengembangkan ilmu ini, karena tujuannya turun gunung yang kedua kalinya adalah mencari calon murid. Umpamanya kau, lain dari yang lain, rasanya sukar terjadi pada generasi yang mendatang." "Jika kurang hati-hati, sehingga Tok-keng hilang dan terjatuh ke tangan orang lain?" "Orang yang menemukan buku itu akan mati mengenaskan." "Kenapa?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Buku itu mengandung racun yang jahat, begitu tangan menyentuh buku ia akan keracunan dan dalam seratus hari jika tidak diobati pasti mati." Ji Bun merinding, tanyanya pula: "Tapi bagaimana dengan orang pertama yang mendapatkan, buku itu?" "Di dalam buku ada suatu lembar keterangan di mana dijelaskan cara untuk menawarkan racun, penjelasan itu harus segera dibakar sambil berlutut setelah dia memperoleh buku itu. Oleh karena itu tidak mungkin ada orang kedua yang menjadi murid generasi yang sama, lebih tidak mungkin ada orang luar yang bisa belajar ilmu perguruan kita." Ji Bun tunduk dan kagum lahir batin terhadap cikal bakal yang memikirkan segala ini sedemikian cermat, jika demikian halnya, jadi ayah bukan orang kedua yang sama-sama mendapatkan buku pelajaran itu, kalau benar, bukankah dia sudah mati keracunan, ini membuktikan bahwa ayahnya adalah calon murid yang dipilih oleh Ngo Siang, tapi perbuatannya jauh melanggar peraturan perguruan, jika ........ Ji Bun tak berani membayangkan lebih lanjut. Karena celaka, dirinya sekarang malah ketiban rejeki, secara aneh dan luar dugaan dirinya pulang kandang perguruan asalnya, seperti pengalaman dalam mimpi saja rasanya. Tiba-tiba terangkat alis putih si orang tua, katanya: "Nak, ketika membuka tutukan Lwekangmu yang disegel tadi kudapati Lwekangmu begitu kuat dan mengejutkan, rasanya tidak memadai dengan usiamu, mungkin kau .....”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ "Tecu mendapat saluran Lwekang dari seorang Locianpwe yang bergelar Ciok-bin-hiap Cu Kong-tam" "Kau mengangkatnya jadi guru?" "Tidak, kami bertemu di dasar jurang, dia berpesan kepada Tecu untuk menyelesaikan suatu urusan, maka dia salurkan Lwekangnya kepadaku untuk lolos dari tempat itu." "Ah, kiranya begitu, hawa murnimu mencapai latihan puluhan tahun, dengan landasan yang kau miliki sekarang, kira-kira cukup setahun saja pasti berhasil mempelajari ilmu tingkat tertinggi dari perguruan kita." "Setahun?" "Kenapa nak, kau kira terlalu lama? Setiap Ciangbun dari generasi terdahulu, sedikitnya berlatih lima tahun, ada yang sampai puluhan tahun." "Maaf akan kelancangan Tecu." "Dalam keluarga jangan terlalu banyak menggunakan adat, jangan kau bersikap demikian." "Konon setiap orang yang berhasil meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu, selama hidupnya tak bisa dipunahkan, apakah betul demikian?” "Nak, itu hanya dasarnya, tingkat permulaan, jika dilatih sampai tingkat terakhir, racun dapat kau gunakan sesuai keinginan hatimu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Keadaan tak ubahnya seperti orang biasa, semua ini tak perlu kau tanyakan, kelak kau akan tahu sendiri. Sekarang kau boleh mulai kerja bakti, kamar batu sebelah kanan adalah dapur, kamar kedua itu boleh buat tempat tinggalmu, kamar pertama disebelah iri adalah tempat tinggal Suco, kamar kedua adalah tempat latihan, pergilah kau membuat makanan dulu, besok pagi boleh kau mulai belajar." Sampai detik ini Ji Bun masih merasa dirinya seolah-olah di alam mimpi, karena pengalamannya ini teramat aneh, sukar dipercaya, kalau betul ada kejadian ajaib di dunia pengalamannya inilah buktinya. Di dalam gua tidak kenal hari, bulan dan tahun. Sang waktu berjalan tanpa terasa. Ji Bun lupa makan lupa tidur, rajin belajar giat menggembleng diri. Ada kalanya beberapa hari dia tidak makan dan tidak tidur. Hari itu dia kembali ke kamar latihan langsung menghampiri si orang tua dan teriaknya girang: "Suthayco, aku sudah berhasil." Dari pergaulan hari ke hari ini, setiap saat mereka berdampingan. Hubungan mereka kini tak ubahnva seperti kakek dengan cucu sendiri, maka sikap dan gerak gerik serta tutur kata keduanya sudah tidak dibatasi oleh aturan-aturan yang mengekang lagi. Si orang tua mengelus jenggotnya yang ubanan, katanya tertawa lebar: "Nak, kuucapkan selamat padamu, setengah tahun kau lebih dini berhasil dari perhitungan semula.” Ji Bun sendiri sudah lupa waktu dan memperhitungkan hari, iapun merasa heran dan tidak percaya, "Apa, setengah tahun?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Ya, setengah tahun kurang sehari. Nak, besok pagi kau boleh turun gunung." "Besok pagi?" Wajah si orang tua yang berseri girang tiba-tiba dihapus oleh rasa sedih. Ji Bun melihat perubahan roman mukanya, dalam hati juga timbul rasa berat untuk berpisah, namun dia tahu tidak mungkin tidak meninggalkan tempat ini. Selama ini tidak pernah dirasakannya, kini setelah berhasil meyakinkan ilmu, dendam yang tersekam itu seketika berkobar lagi. "Nah, setelah turun gunung, ada beberapa tugas yang harus kau kerjakan," demikian kata si orang tua. "Anak Bun siap mendengarkan petuah."' "Pertama, usahakan untuk menemukan kembali Tok-keng, sekaligus carilah calon penggantimu untuk ahliwaris angkatan ke-16 yang akan datang. Kedua, selidikilah jejak dan kabar kakek gurumu, Ngo Siang. Ketiga, carilah sebab musababnya kenapa setelah mendapatkan Tok-keng, ayahmu tidak kembali ke gunung." Berdetak jantung Ji Bun, namun dia menjawab dengan hormat: "Anak Bun mengingatnya dengan baik, Suthayco ada pesan apa lagi?" "Sekarang segala racun tidak akan mempan pada dirimu, namun demi mendarma baktikan dirimu bagi masyarakat umumnya, kau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ perlu membawa beberapa macam obat, di atas rak obat, kau boleh ambil secukupnya dan pilih mana saja yang kau rasa perlu. Dalam jangka sepuluh tahun kau harus kembali ke sini, murid perguruan kita tidak dilarang menikah, tapi ilmu kita dilarang diajarkan kepada anak cucu sendiri, kau tetap harus melaksanakan peraturan yang telah diwariskan leluhur kita, dengan cara 'rejeki tiban' itu, kau hanyalah satu-satunya orang yang teristimewa di antara sekian murid-murid yang pernah terjadi sejak perguruan kita berdiri. Untunglah kau sendiri juga sudah mengalami petaka di dalam air." "Terima kasih atas budi Suthayco." "Tok-jiu-sam-sek (tiga jurus tangan berbisa) terlalu ganas, kalau lawanmu tidak setimpal mati, jangan sekali-kali kau gunakan. Disamping itu di atas rak pada kotak pertama dibaris teratas terdapat sebotol Hoat-wan (pil maut pelaksana hukum), hasil buatan dan peninggalan Suco, kau boleh membawa sebutir." Bergetar tubuh Ji Bun, namun dia mengiakan. Dia pikir, kalau ayah masih hidup, memang dia setimpal diberi Hoat-wan ini untuk bunuh diri, namun sebagai seorang anak, mungkinkah ....... "Puncak gunung ini dikelilingi air dan dipagari dinding gunung yang curam, hanya ada sebuah jalan rahasia di belakang gunung, sekarang kau boleh melihatnya ......." dengan jari telunjuk dia menggores sebuah peta sambil menerangkan cara bagaimana Ji Bun harus keluar dan masuk, Ji Bun mengingatnya dengan baik. "Sekarang kau boleh mengundurkan diri."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Ji Bun menyahut terus mengundurkan diri ke kamar sendiri, hatinya gundah dan resah, dengan bekal yang dipelajarinya sekarang, pasti tugas menuntut balas kali ini akan bisa terlaksana dengan baik. Pengalaman selama setengah tahun ini, kembali dia ulang dalam pikiran, terasa masih banyak liku-liku yang masih gelap baginya, terutama sepak terjang dan keselamatan jiwa ayahnya menjadi topik pemikirannya. Dia berdoa semoga ayahnya masih hidup, ini jamak, namun iapun ingat betapa kerasnya aturan perguruan, bagaimana kelak dirinya harus bertindak? Ngo Siang pejabat generasi ke 13 sudah lenyap puluhan tahun, dunia seluas ini, ke mana dia harus mencarinya? Tok-keng pasti masih ada di tangan ayah, kalau dia belum mati, bagaimana harus merebutnya .......” Tiba-tiba dia ingat akan racun, Giam-ong-ling yang pernah dipergunakan Kwe-loh-jin, sekarang baru dia tahu bahwa racun ini juga salah satu dari ciptaan perguruannya, mungkinkah Tok-keng terjatuh ke tangannya? Ini mungkin sekali, tapi kenapa dia tidak mati keracunan setelah memperoleh buku itu, sungguh sukar diselami. Kecuali seseorang yang pernah meyakinkan Kim-kong-sin-kang yang kebal terhadap racun Bu-ing-cui-sim-jiu, tiada orang yang kuat menahannya, kecuali diberi obat penawar perguruannya. Tapi Kweloh-jin dan beberapa orang lainnya ternyata tidak gentar dan kebal juga terhadap racun ganas ini, terang mereka belum mencapai tingkat Kim-kong-sin-kang, memangnya mereka memiliki obat penawarnya? Lalu dari mana diperoleh obat penawar itu? Inilah soal yang mencurigakan dan sukar dipecahkan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Diapun teringat pada Biau-jiu Siansing, orang ini juga tidak takut racun, betapapun teka teki ini harus secepatnya dibongkar. Waktu berjalan cepat sekali, hari kedua pagi-pagi benar Ji Bun sudah pamitan kepada kakek gurunya terus menyusuri jalan rahasia di belakang gunung. Tanpa susah dia keluar dari lingkungan gunung terus menempuh perjalanan menuju ke Kay-hong. Banyak persoaian besar yang ingin, dia minta penjelasan dari Biau-jiu Siansing, perjanjian setahun tempo hari, kini sudah berjalan setengah tahun mungkin Ciang Wi-bin ayah dan anak sudah tidak sabar menanti. Setengah tahun cukup lama, tapi juga terlalu cepat berlalu, entah apa pula yang telah terjadi selama ini dikalangan Kangouw? Hari itu, dia tiba di Bik-su, dia cari hotel terus ganti pakaian, sekarang tidak perlu main sembunyi dengan menyamar segala, dibelinya seperangkat dan kipas, topi serta keperluan lainnya, dia berdandan lagi sebagai seorang pelajar yang berwajah cakap. Semu hijau yang dulu selalu timbul di antara kedua alisnya, sejak dia meyakinkan ilmu tingkat tinggi perguruannya, kini tidak kelihatan lagi. Namun setiap kali dia mengerahkan hawa murni menurut ajaran perguruan, sorot matanya pasti mencorong kehijauan, inilah keistimewaan ilmu perguruannya. Malamnya seorang diri dia makan minum di kamarnya. Mendadak dari kamar sebelah luar sama terdengar suara ribut-ribut, seseorang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ berteriak kaget dan ketakutan, tamu-tamu sama berlari keluar, terdengar seorang berkata: "Apa yang terjadi?" "Entah kenapa tua bangka ini mati, yang muda genit itu entah lenyap ke mana?” Kematian seseorang, bagi setiap insan persilatan sudah biasa dan bukan soal besar. Ji Bun tidak tertarik, ia tetap makan minum seenaknya. Tapi kupingnya mendengarkan keributan diluar. Terdengar seseorang berseru pula: "Eh, barang apakah ini?" "Sebuah cincin kok ada tiga lubangnya?" "Itulah cincin batu jade dengan tiga lubang jari?" Ji Bun terjingkat dikamarnya, sebat sekali dia memburu keluar terus berlari ke kamar tetangga sana, dilihatnya orang banyak berkerumun di depan pintu, pemilik hotel melongo di serambi sambil menjublek kehilangan akal. Ji Bun langsung menyelinap masuk ke kamar. Seketika dia berseru kaget. Di atas lantai dalam kamar rebah celentang seorang perempuan tua berpakaian hijau, darah berceceran, di samping mayat menggeletak sepotong batu jade berlubang tiga, itulah cincin tiga lubang yang dibicarakan orang banyak. Ji Bun menjemputnya dan diperiksa, ia kenal inilah Sam-cay-ciat yang biasa dipakai oleh Thian-thay-mo-ki. Dari dandanan orang tua ini, Ji Bun yakin dia pasti Sam-cay Lolo, guru Thian-thay-mo-ki. Di mana Thian-thay-mo-ki? Orang bilang kamar ini dihuni dua orang tua dan muda, yang muda genit pasti Thian-thay-mo-ki adanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Waktu Ji Bun berdiri dan membalik badan, pandangannya menjadi canang. Dinding di pinggir jendela sana terlihat ada beberapa lubang yang tak terhitung jumlahnya. tiga lubang menjadi satu kelompok, itulah bekas-bekas yang ditinggalkan oleh ilmu Samcay-cui-hun kebanggaan Sam cay Lolo. Sam-cay Lolo cukup tenar dan merupakan tokoh kosen kelas wahid. Kepandaiannya hanya setingkat di bawah Thong-sian Hwesio. Golongan hitam putih sama jeri berhadapan dengan Sam-cay-cuihun. Lalu siapakah yang mampu membunuh pendekar aneh perempuan tua di hotel ini? Apa pula tujuannya? Ji Bun membatin: "Kejadian ini pasti sebelum aku masuk ke hotel ini, kelihatan mereka juga bertempur lebih dulu, kalau tidak masakah dirinya tidak mendengar apa-apa, lalu siapakah pembunuhnya, hanya beberapa gelintir jago silat saja yang mampu membunuhnya." Sam-cay Lolo terbunuh, bagaimana nasib Thian-thay-mo-ki dapat dibayangkan. Keruan hati Ji Bun gelisah, dia merasa terlalu banyak utang budi kepada Thian-thay-mo-ki, perbuatan sendiri setengah tahun yang lalu juga keterlaluan. Mendadak seorang tua berpakaian hitam melongok sekali ke dalam kamar, seketika mukanya pucat pias. dia menghampiri pemilik hotel serta berbisik: "Jangan ribut-ribut, lekas dikebumikan, tak usah lapor kepada yang berwajib, supaya hotelmu tidak mengalami gangguan." Habis berkata dia menyurut mundur terus tinggal pergi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Berhenti!" Ji Bun menghardik. Laki-laki baju hitam menoleh, dilihatnya cuma seorang pemuda berdandan pelajar, nyalinya menjadi besar, namun mimiknya yang kaget dan takut masih kelihatan, suaranya gemetar: "Siau-hiap ini ada petunjuk apa?" "Siapa yang membunuh di sini?" "Ini ..... ini .......” "Lekas katakan." "Apakah Siau-hiap tidak melihat cap pupur di atas dinding itu .......” Baru sekarang Ji Bun sempat memeriksa keadaan kamar, dilihatnya di dinding memang terdapat sebuah cap sebesar telapak tangan, bentuknya mirip sekuntum bunga Bwe, keruan dia heran dan tak mengerti, tanyanya: "Cap kembang Bwe, memangnya kenapa?" "Masakah Siauhiap tidak tahu?" "Kalau tahu buat apa tanya padamu." "Ini .... ini .... aku tidak berani menjelaskan," mendadak dia putar tubuh terus menyelinap pergi di antara orang banyak, lekas sekali bayangannya sudah lenyap.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pertanda apakah cap bunga Bwe ini? Ji Bun tidak habis pikir, kenapa orang tua itu begitu ketakutan? Kalau bukan tanda khas seseorang yang ditakuti pasti merupakan tanda pengenal dari suatu perkumpulan rahasia. Sekian lama dia menjublek, akhirnya dia mencari daya untuk menyelidiki pembunuhan ini, maka dia memberi uang kepada pemilik hotel serta menyuruhnya mengubur mayat Sam-cay Lolo. Lalu dia masukkan Sam-cay-ciat ke dalam kantong. Menghadapi hidangan di kamarnya, Ji Bun tiada selera makan lagi, otaknya memikirkan peristiwa aneh ini. Kebetulan pelayan masuk membereskan mangkok piring dan berkata dengan cengarcengir: "Siangkong, di dalam kamar begini gerah, kenapa tidak cari angin di luar?" Tiba-tiba timbul ilham Ji Bun, segera ia merogoh uang dan berkata: "Siau-jiko, 10 tail ini berikan kepada majikanmu untuk ongkos penguburan, beberapa uang receh ini kuberikan kepadamu, pergilah ke toko belikan sebatang kipas lempit berwarna, hitam legam."

"Kipas Hitam?” "Ya, kipas lempit warna hitam polos, jangan yang bergambar atau sudah ada tulisannya, cukup yang bertulang bambu saja." "Kipas tulang bambu cukup murah, uang sebanyak ini .....” “Sisanya boleh kau miliki."

bagian yang ada cap kembang sengaja dia unjuk ke depan. dia merancang akal supaya lebih matang sesuai dengan rencananya untuk mengejar jejak si pembunuh. Sekembali di kamarnya dia keringkan kipasnya. Cap pupur kembang itu segera mengecap balik di atas kipasnya. sambil jalan dia . tujuh delapan kipas lempit dia taruh di atas meja.Tiraikasih Website http://kangzusi. "Kau pandai bekerja. kemudian ia berjalan keluar." kata Ji Bun. 15. Tidak lama menunggu pelayan itu telah kembali dengan berseri tawa. sebentar kuambilkan sepoci air teh dulu. Misteri Perkumpulan Ngo-hong-kau Pelayan itu mengundurkan diri sambil menutup pintu dari luar. kalau perlu nanti kupanggil kau lagi.43. lalu kipas itu dilempitnya pula. Di jalanan Ji Bun sengaja pentang kipas hitamnya. Sekenanya Ji Bun jemput sebatang kipas terus dibeber. dengan handuk basah dia basahi permukaan kipas hitam itu lalu menyelinap masuk ke kamar sebelah. segera kubelikan kipas ke toko sebelah." Seorang diri Ji Bun mondar-mandir di dalam kamarnya.com/ "Terima kasih Siangkong. Kipas hitam yang basah segera dia tempel dan tekan pada cap kembang pupur di atas dinding itu.

tamu lain satu persatu juga mengundurkan diri. Dari sini dia menarik kesimpulan bahwa cap . katanya sambil menyengir: "Bolehkah Lohu duduk di sini?” "Kenapa boleh?" Ji Bun menyilakan.com/ goyang-goyang kipas seperti pelajar umumnya. bergegas aia berdiri menghampiri Ji Bun. sering dia gunakan kipas untuk menghilangkan rasa gerah badannya. mungkin syair-syair senandungnya tadi secara tidak sengaja tepat mengenai sandi-sandi rahasia perkumpulan mereka. didapatinya seorang tua baju hitam bersama seorang laki-laki kekar lainnya baru datang dan mengunjuk mimik heran dan kaget pada dirinya. diam-diam girang hati Ji Bun. berubah air muka mereka dan cepat menyingkir pergi. segera dia buka suara dan bersenandung. "Apakah kau duta pusat?" Berdebar jantung Ji Bun. lalu berkata dengan suara lirih sekali. Aneh sekali. Mereka bisik-bisik sambil melirik ke arahnya. Ji Bun menunggu dengan sabar.Tiraikasih Website http://kangzusi. Bait-bait syair yang dibawakan dalam senandungnya tidak serasi satu sama lain. Di antara sekian banyak orang-orang yang lewat tidak sedikit kaum persilatan. Setelah duduk orang ini mengawasi Ji Bun dengan curiga. Seperti tidak terjadi sesuatu. namun laki-laki baju hitam itu berubah air mukanya. Begitu melihat cap kembang di kipasnya. dia mondar mandir di jalan raya yang banyak dilalui orang. Ji Bun putar kayun lalu mampir di sebuah warung teh yang berloteng. Sambil menikmati air teh.

. "Duduklah!" "Hamba tidak berani . maka dia cari daya untuk mengorek keterangannya dari mulut orang ini. Beberapa kali mulut Tio Wi-kong sudah terbuka hendak bicara. orang pandang dirinya utusan dari markas pusat." Otak Ji Bun bekerja cepat. harap dimaafkan akan keteledoran ini. Maka dia mencobanya: "Apakah Tio-hiangcu ada waktu senggang?" . tapi selalu urung. maka dengan wajah serius dia mengiakan. pejabat Hiangcu dari anak cabang kedua. mungkin bisa dikorek sedikit keterangan dari mulutnya. tidak tahu kedatangan yang mulia. gunakan titik kelemahan orang... Ji Bun diam saja. Ia menduga perkumpulan yang menggunakan tanda pengenal cap kembang ini pasti teramat besar dan mewah. kedudukan duta dari pusat juga teramat tinggi.com/ kembang ini pasti merupakan tanda pengenal dari suatu perkumpulan di Bu-lim. maaf." sembari bicara iapun berdiri. hamba memberanikan diri. namun dia harus hati-hati supaya tidak mengunjuk tanda-tanda yang mencurigakan. serunya tersipu-sipu: "Hamba Tio Wi-kong. Terunjuk sikap gelisah pada wajah orang baju hitam. ia pikir.” "Aku yang suruh kau duduk" "Kalau begitu...Tiraikasih Website http://kangzusi.

ada tugas lain yang harus kukerjakan. hamba bertanggung jawab terhadap semua mata telinga yang disebar di sini. supaya tidak salah omong......." "Ya.. karena .. Hiangcu harus bekerja baik dan hati-hati. sahutnya: "Mana berani." sengaja tidak dia lanjutkan." "Apakah Duta tidak sejalan dengan kedua orang yang ditugaskan menggusur perempuan itu?" .. terpaksa sekenanya dia bicara: "Mengenai peristiwa di hotel itu .com/ Serius wajah Tio Wi-kong.. Sudah tentu Tio Wi-kong tidak berani tanya lagi. lalu sahutnya tergagap: "Apakah duta tidak mengetahui . aku tidak akan menemuinya..Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya tawar... ya...” Tahu pertanyaannya meleset dan menimbulkan curiga orang. seperti sangsi dan heran. "Tidak. tugasmu cukup berat dan besar artinya. mohon petunjuk. betul juga orang baju hitam tertegun sebentar." "Ehm.” sampai disini dia berhenti sambil mengawasi mimik muka orang. sekenanya ia berkata: "Apakah Duta sudah bertemu dengan pimpinan anak cabang?" "O....." Tidak tahu Ji Bun dengan cara apa dia harus mengorek keterangan orang.. belum. hanya kutanya sekenanya saja. lekas Ji Bun unjuk senyuman.

. sesaat baru dia berkata: “Urusan ini cukup genting. tanpa ditanya orang menyinggung kepersoalan yang ingin diketahuinya.." Bualannya memang tepat dan masuk akal.” "Jangan hal ini kau bocorkan.. maka Tio Wi-kong tidak menaruh curiga.. katanya: "Sudah tentu sejalan.." kata-kata ini melanjutkan ucapannya tadi "karena pusat mensinyalir adanya seseorang yang mencampuri urusan ini.. katanya: "Siapa bilang. laki-laki berbaju hitam ini.. kuburannya itu palsu.. katanya: “Entah siapakah . memangnya Tegak Suseng gampang mati. ya..Tiraikasih Website http://kangzusi. untung bertemu dengan kau. "Oleh karena itu. maka aku ditugaskan untuk menyelidiki..com/ Senang hati Ji Bun." Tio Wi-kong mengiakan sambil munduk-munduk....?” Dengan serius Ji Bun berkata: "Te-gak Suseng " Kaget Tio Wi-kong." . karena . serunya: "Bukankah Te-gak Suseng sudah mati di Tong-pek-san?" Ji Bun menggertak gigi. beritahukan rencana gerakan pihak sini supaya aku tidak susahsusah putar kayun lagi.. ia pura-pura bersikap penuh rahasia. hamba harus segera menyebar kaki tangan .. eh. namun aku ada tugas lain lagi." Melotot biji mata Tio Wi-kong. melenggong karena ucapan Ji Bun..

. maka sementara digusur ke cabang.." Ji Bun manggut-manggut. lalu dengan suara lirih ia berkata: “Kaucu sendiri yang turun tangan .. cuma Hiangcu orang sini apal seluk beluk." Ji Bun pura-pura berpikir. otaknya bekerja. baru saja dua Duta datang. lekas ia menjawab: "Hamba sekalian siap menunggu perintah.. katanya kalem: "Sebetulnya tiada urusan apa-apa.. Ia coba tanya: "Apakah Hiangcu ada di tempat sekarang?" Agaknya Tio Wi kong merasa bangga karena berkesempatan menjilat kepada utusan dari pusat.. pihak kami cukup menyediakan sebuah kereta saja.com/ Tio Wi-kong melirik sekelilingnya dulu.” . karena perjalanan cukup jauh... orang sedang mengawasi wajahnya..Tiraikasih Website http://kangzusi.....” "Ya... setelah jelas tiada orang memperhatikan. maka cepat ia berkata. ada urusan kecil perlu bantuan . kata mereka mendapat tugas untuk menggiringnya besok pagi ke markas pusat. tahu dirinya telah mengunjuk gejala-gejala yang mencurigakan. "Coba lanjutkan. Tiba-tiba ia tersentak sadar. Kaucu? Kaucu dari mana? Apakah Bwe-hoa-kau? Jadi Sam-cay Lolo mati di tangan Kaucu mereka. sekali-kali jangan diabaikan saja.” Sedikit berubah air muka Ji Bun. tiba-tiba pikirannya tergerak. terpikir olehnya majikan yang pernah dikatakan Kwe-loh-jin itu mungkin adalah Kaucu ini? Inilah kesempatan baik untuk menyelidiki.

Ji Bun melengak. kalian berdua boleh keluar kota . tuan ada perlu apa?” tanyanya." "Baiklah. dilihatnya pengemis tua ini tidak pernah dikenalnya. "Silakan Duta berangkat saja..." "Baik.. Ji Bun langsung menuju ke selatan.. kau!" tiba-tiba pengemis itu berseru dan melotot. jangan beritahu orang lain. kalian harus segera datang. rekeningnya biar hamba yang bayar." Setelah meninggalkan warung teh. . maka tidak perlu kembali ke hotel... aku akan berangkat lebih dulu. baru saja dia membelok ke jalan besar.com/ "Tidak berani.Tiraikasih Website http://kangzusi. silakan Duta katakan saja. memangnya dia tidak membawa bekal apa-apa." Ji Bun lantas berdiri sambil merogoh saku. berhenti dan mencegat di depan Ji Bun. "Eh. "O..... dia seorang Thaubak pembantu hamba.” "Apakah ke Lam-seng?" "Betul. seorang pengemis tua mata satu tiba-tiba mendatangi dengan langkah terserot-serot." "Siapakah orang itu?" tanya Ji Bun sambil menunjuk dengan gerakan bibir ke arah laki-laki yang semeja dengan Tio Wi-kong tadi. “Tuan .

kau berangkat lebih dulu. kalau di dalam kota masih ramai. sekarang aku ada urusan. Ui Bing tahu diri lekas dia berbisik. ia menyusur jalan kampung terus naik ke atas gundukan tanah tinggi.Tiraikasih Website http://kangzusi. nanti saja kita bicara lagi!" Seorang pengemis tua yang kotor. "jejakmu dicari di segala pelosok." Ji Bun berkata penuh sesal. Saat mana menjelang kentongan ketiga. berbicara dengan seorang pelajar yang berpakaian bersih dan cakap di tengah jalan raya. tidak kelihatan ada bayangan orang. hampir kedua kakiku patah mencari kau.com/ Pengemis tua itu unjuk senyum lebar.” Sambil bertopang tongkat Pak-kau-pang. di luar kota sebaliknya sudah sepi. dengan terserotserot dia melangkah pergi. ia langsung menuju ke pintu selatan. tak pernah disangkanya di sini dia bakal bertemu dengan Sian-tian-khek Ui Bing murid Biau-jiu Siansing. Ji Bun mempercepat langkahnya. "Siaute mohon maaf. adem ayem saja. "Guruku mengerahkan puluhan orang. minta bantuan pihak Kaypang pula. . sudah tentu menarik perhatian banyak orang." demikian Ui Bing menjelaskan. "Baiklah. gelagatnya kau malah. dimana kau selama setengah tahun ini?" "Toako. katanya "Hiante. lewat jalan kecil yang lebih dekat.” Seketika berkobar semangat Ji Bun. masa kau tidak kenal suaraku lagi? Setengah tahun lamanya.

" Ui Bing tampak kaget. Setiba di atas bukit Ui Bing segera bertanya: "Ada apa Hiante?” “Aku menunggu orang. kepandaian orang hanya biasa saja." “Siapa?" “Aku belum tahu siapa mereka. yang jelas dia adalah seorang Hiangcu dari pimpinan sebuah anak cabang dari suatu ‘Kau’ entah apa namanya.com/ Baru saja Ji Bun tiba di atas bukit." "Ngo-hong-kau? Siapakah Kaucunya?" "Belum diketahui. tiada yang perlu dibanggakan. katanya: "Apakah mereka menggunakan tanda kembang Bwe?" "Ya.Tiraikasih Website http://kangzusi." . baru beberapa bulan ini timbul di kalangan Kangouw. mereka sudah menggemparkan Bu-lim. Ui Bing juga lantas tiba. namun gerakan. kenapa? Toako tahu perkumpulan mereka?" "Namanya Ngo-hong-kau. namun bagi pandangan Ji Bun sekarang yang telah mempelajari ilmu tingkat tinggi Ban-tok-bun. memang tidak malu dia dijuluki Sian-tian-khek. kabarnya orangnya yang berhasil merebut Hud-sim.

untung berhasil dibujuk. "Hiante.” "Bagaimana reaksi Ciang Bing-cu?" "Waktu itu dia hendak mencukur rambut menjadi Nikoh. jangan kau menyia-nyiakan harapannya. Bu-lim sudah geger." "Soal ini kelak dibicarakan saja... terpaksa menyepi setengah tahun. maka ia menjawab seenaknya saja: "Siaute mengalami hal yang aneh.com/ "Bagaimana bisa diketahui bahwa Ngo-hong-kaucu adalah adalah orang yang berhasil merebut Hud-sim?" "Masa kau belum tahu. memangnya di mana saja kau selama ini?" Karena aturan perguruan yang keras.. apakah yang terjadi belakangan ini." lalu dengan nada prihatin ia menyambung... begitu besar dan luhur cinta nona Ciang. tidak mungkin Ji Bun menjelaskan rahasia Ban-tok-bun. masakah tanda pertunangan boleh sembarangan dikembalikan . bagaimana akhirnya?" "Aku dicaci maki oleh Ciang-lothau.. anting-anting yang kutitip padamu untuk dikembalikan kepada keluarga Ciang.Tiraikasih Website http://kangzusi." Lalu dia alihkan pembicaraan: "Toako. kenapa Bu-lim sampai geger?" ..

maka dapatlah dibayangkan betapa tinggi kepandaian Ngo hong-kaucu. sampai keluarga Ciang di Kay-hong juga dirampok habishabisan. yang lain-lain umpamanya Itkiam-hwe.com/ "Petaka di Bu-lim mulai bersemi." "Tidak kecil ambisi mereka?" "Ya. Thong-sian Hwesio terluka parah. agaknya sukar dihindari bakal terjadi bencana berdarah ini. tapi Ngo-hong-kau pasti tidak akan tinggal diam.. tak lama kemudian lantas muncul perkumpulan yang bernama Ngo-hong-kau . beruntun terjadi peristiwa besar di Bu-lim.Tiraikasih Website http://kangzusi. jiwa merekapun melayang. kalau tidak tentu Wi-to-hwe sudah ditumpas habis..” "Langkah pertama mereka mencaplok Sin-eng-pang dan dijadikan cabang ketiga. Untunglah Wi-to-hwecu dan Thong-sian Hwesio .." ujar Ui Bing." Jantung Ji Bun berdebar keras. Bu-cing-so dan Jay-ih-lo-sat berkepandaian tinggi.." Tergetar hati Ji Bun.. "Tiga bulan yang lalu.. sungguh amat menakutkan. disusul Ngo-lui-kong yang kini dinyatakan sebagai cabang utama dari Ngo-hong-kau. semua yang terbunuh adalah tokoh-tokoh kenamaan dari aliran baik.. untung paman Ciang dan puterinya sempat menyingkir. dengan gigih dia tempur Ngohong-kaucu. Bucing-so dan Jay-ih-lo-sat gugur. di tempat yang ditinggalkan cap bunga Bwe. ratusan anak buahnya gugur. semua ditelan mentah-mentah. Ang-eng-pang dan sindikat-sindikat kecil lain. untung isteri Wi-to-hwecu segera tiba. tanyanya: “Bagaimana selanjutnya?” "Markas Wi-to-hwe diserbu.

. agaknya berkepandaian lumayan." "Ya. Toako tahu di mana letak markas cabang mereka di kota ini?.” "Kukira amat sulit. gerakgerik mereka cukup cekatan. Sam-cay Lolo juga sudah mati dan Thian-thay-mo-ki diculik mereka.com/ masih hidup.Tiraikasih Website http://kangzusi." "Toako tahu. itulah mereka datang. "Kini tinggal Kay-pang dan beberapa aliran besar saja yang belum diusik. kelak masih sempat dia cari kesempatan untuk menuntut balas. bagaimana tindakan Hiante?" "Aku akan menolongnya." "Nah." “Siaute akan pertaruhkan jiwa raga." "Di mana kira-kira sekarang dia disekap?" "Ada. tapi tidak sulit untuk menyelidiki.” Dua bayangan orang tampak berlari naik ke atas bukit.'' "Aku sendiri belum menemukan. Toako tak usah ikut bicara. hubungannya dengan orang yang kujanjikan kemari ini.

lalu pandang laki-laki baju hitam di depannya dan katanya: "Kau. mohon Duta suka memberi bimbingan.. Sekilas dia melirik Ui Bing.. Lekas Ji Bun berkata dengan angkuh." . kalian boleh kemari. lalu Tio Wikong berkata penuh hormat: "Duta ada perintah apa.. ”Orang sendiri. silakan pesan saja.Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Begitu tiba di bawah bukit." "Ehm. tidak usah kuatir. Begitu tiba di atas bukit Tio Wi-kong berdua tertegun melihat kehadiran Ui Bing. dengan lirikan curiga dan tidak tenteram dia pandang Ui Bing yang menyamar jadi pengemis tua bermata satu. kelak pasti ada harapan ditarik ke markas pusat. Hiangcu yang bernama Tio Wi-kong segera bersuara "Apakah Duta ada di atas?” "Ya.." Tio Wi-kong bersama anak buahnya segera memberi hormat kepada Ji Bun. aku di sini." Tujuan Ji Bun mengundang kedua orang ini adalah untuk mendapatkan keterangan supaya lebih leluasa menolong Thian-thaymo-ki." dengus Ji Bun. lalu berkata dengan nada lebih kereng: "Agaknya kau pintar dan cekatan bekerja. bernama Ci Tay-khing." Ji Bun mengiakan.. seorang Thaubak di bawah pimpinan Tio-hiangcu. siapa namamu?” Seperti takut tapi juga senang sikap laki-laki ini dengan mundukmunduk sahutnya tergagap: "Tecu .

. belum tahu jalan dan seluk beluk di sini. sahutnya ragu-ragu: "Entah siapakah nama Duta yang terhormat ." Dengan langkah tergopoh-gopoh laki-laki baju hitam putar tubuh terus lari turun bukit kecil ini. katanya: "Dia ini Duta rahasia dari pusat. tongkat penggebuk anjing di tangannya terangkat.." Sikap Ui Bing lebih sombong. seketika dia melenggong.com/ Laki-laki baju hitam munduk-munduk lagi. dengan suara dingin ia mendesis: "Kau tahu siapa aku?” Agaknya Tio Wi-kong belum tahu persoalan apa yang ditanyakan.Tiraikasih Website http://kangzusi." Ji Bun menunjuk Ui Bing." Laki-laki baju hitam mengiakan. lekas sekali dia melompat turun ke bawah pula. suaranya keluar dari hidung. tunjukkan jalan. suaranya gemetar senang: "Semua berkat bantuan Duta. "Ya. sorot mata Ji Bun tiba-tiba mencorong. Ui Bing sedikit mengangguk.” "Aku inilah Te-gak Suseng. kaulah yang ditugaskan menunjuk jalan baginya. pertanda bahwa dia tahu maksud Ji Bun. Dia ingin berhadapan langsung seorang diri dengan ketua cabang kalian." . lalu dia memberi hormat kepada Ui Bing. supaya tidak terlalu banyak orang tahu jejaknya.. baru pertama kali dia kemari. Setelah kedua orang tak kelihatan bayangannya.... katanya: "Silakan ikut hamba.

maka tidak perlu dibuat heran. apakah orang ini tidak takut terhadap racun? Kalau dia ini sekomplotan dengan Kwe-loh-jin dan lain-lain. bicaralah terus terang . yang kau andalkan hanya Bu-ing-cui-sim-jiu.. tidak tahu. "Jangan bergerak. wajahnya yang semula kelihatan pucat ketakutan kini berubah menyeringai.. kalau kau mampu melawan sejurus saja. nah kau boleh coba atas.." "Te-gak Suseng. sekarang katakan. Namun Ji Bun sekarang bukan Ji Bun setengah tahun yang lalu. siapa Kaucu kalian? Dimana letak markas pusatnya?" "Ini .com/ "Hah!" Tio Wi-kong kaget setengah mati. mukanya pucat terus putar tubuh hendak lari.Tiraikasih Website http://kangzusi. katanya: "Aku takkan menggunakan tangan beracun. Kini dia menjadi paham. katanya: “Kau mau apa?" "Jawab pertanyaanku.." Ji Bun tertegun malah... maka dia berani bicara besar dan garang. kau boleh pergi sesukamu.. jari-jari tangan orang mengusap mulut tadi mungkin menelan obat penawarnya..” Serta merta Tio Wi-kong menyurut mundur.. suaranya bengis berwibawa: "Orang she Tio..." bentak Ji Bun. jari-jari tangannya mengusap ke mulut. diriku.." Ji Bun berkata pula. "kau takkan bisa lolos." .

akhirnya jatuh terduduk. sebelah tangannya terus memotong miring ke depan. Lihay juga dia. Dinilai permainannya. kiranya Siantian-khek yang menyaru jadi pengemis telah putar balik. kakinya mundur beberapa langkah. memang dia terhitung jago kelas tinggi dikalangan Kang-ouw. tenaga yang dikerahkan telapak tangan Ji Bun tiba-tiba dimuntahkan. Kalau aku tidak segera turun tangan.com/ "Memangnya kau mampu menahanku di sini?” jengek Tio Wikong. namun kekuatannya dahsyat luar biasa. cobalah. "Nah. "Huuuuaaaah!" ditengah jeritan ngeri Tio Wi-kong muntah darah." "Mana orang itu?'' "Sudah kuantar dia pulang ke neraka. kelihatannya gerakan tangan ini enteng dan tidak menggunakan tenaga." .Tiraikasih Website http://kangzusi. pandai main racun. Tio Wi-kong memutar kedua tangan turun naik menyerang sambil bertahan." ujar Ji Bun. "Jalan menuju ke markas cabang sudah kuketahui. "Bagaimana Toako?” tanya Ji Bun. Baru saja serang menyerang kedua pihak berlangsung. hampir saja aku dikibuli. kekuatannya sungguh hebat dan tidak terbendungkan. Sesosok bayangan melayang turun dengan enteng.

” Tio Wi-kong berdiri menjublek. mata terbeliak. namun dia masih bandel: "Tiada yang harus kujelaskan. badannya berputar secepat kitaran. maka berpijarlah kembang api beterbangan di udara dan berjatuhan. Cepat sekali dan seenteng kipas Ji Bun meluncur turun pula. dikala kedua orang bicara. Ji Bun putar badan dan berkata dengan bengis: "Sekarang jawablah beberapa pertanyaanku. "terbuka mataku malam ini. Lwekang tingkat tinggi yang berhasil dipelajarinya dari perguruan Ban-tok-bun dia kombinasikan dengan Ginkang pusaran angin lesus yang dia pelajari dari orang tua aneh Giok-bin-hiap Cu Kong-tam di dasar jurang itu. kau terlalu memuji.Tiraikasih Website http://kangzusi. sukmanya serasa terbang dari raganya. sahutnya: "Ah. agaknya beliau takkan lebih unggul dari pada kau. sekaligus dia demonstrasikan. tahu-tahu tubuhnya melejit tinggi." seru Ui Bing terbelalak. melampaui luncuran panah berapi dan mengebasnya jatuh di tengah angkasa."