Anda di halaman 1dari 13

1

PARIWISATA KERAKYATAN
DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LOKAL1
Oleh:
Ir. Agung Suryawan Wiranatha, MSc. PhD.2

Pariwisata: Manfaat dan Masalahnya

Sejak jaman dahulu manusia telah melakukan perjalanan untuk berbagai tujuan.
Berjuta-juta tahun yang lalu, perjalanan (travel) dilakukan manusia dengan tujuan utama
untuk mengumpulkan makanan seperti berburu dan mancing. Pada era berikutnya,
nenek moyang kita melakukan perjalanan untuk mencari tempat yang nyaman dan
aman untuk menggembalakan ternak, berladang atau mencari sumber air. Selanjutnya
perjalanan dilakukan manusia untuk kegiatan perdagangan (seperti dilakukan oleh
bangsa Phoenicians) atau memperluas daerah kekuasaan suatu kelompok/bangsa
(seperti dilakukan oleh bangsa Romans). Ada juga masyarakat yang melakukan
perjalanan ke daerah lain untuk mempelajari budaya bangsa lain (learn about other
cultures) dan menikmati panorama keindahan alam (enjoy scenic beauty) seperti yang
dilakukan oleh bangsa Greeks sejak jaman dahulu (Edgell, 2006). Hal yang terakhir
inilah yang kemudian berkembang menjadi kegiatan pariwisata.
Pariwisata didefinisikan secara luas sebagai suatu perjalanan dari satu tempat
ke tempat lain secara sementara yang dilakukan oleh perorangan maupun kelompok
dengan tujuan untuk mencari kebahagiaan dan keserasian dengan lingkungan hidup
dalam berbagai dimensi seperti sosial, budaya, alam dan ilmu (Spillane, 1985). World
Tourism Organization (WTO) mendefinisikan pariwisata sebagai berikut: ”Tourism
comprises the activities of persons travelling to and staying in places outside their usual
environment for not more than one consecutive year for leisure, business and other
purposes” (World Tourism Organization, 2002a p:17). Dalam hal ini pariwisata
didefinisikan sebagai berbagai aktivitas perjalanan manusia dan tinggal sementara di
tempat lain secara berturut-turut tidak lebih dari periode satu tahun untuk berlibur, bisnis,
dan tujuan-tujuan lainnya.
Pada era sekarang ini dimana berbagai produk pariwisata ditawarkan, hampir
separuh dari populasi dunia melakukan perjalanan dengan berbagai tujuan seperti

1
Disampaikan pada Pelatihan Ekowisata Nasional di Hotel Inna Sindhu, Denpasar (25-26 Agustus 2006).
2
Kepala Puslit Kebudayaan dan Kepariwisataan Universitas Udayana; dan Sekretaris Bali Tourism
Board. E-mail: baligreen@indo.net.id atau balitrully@yahoo.com
2

bisnis, berlibur, mengikuti berbagai kegiatan seperti olah raga, musik, seni, sejarah,
religius, pertemuan ilmiah, dan outdoor events. Dengan berkembangnya teknologi
transportasi dan komunikasi maka setiap individu memiliki kesempatan lebih luas untuk
melakukan perjalanan sehingga dapat menikmati keindahan alam dan beraneka ragam
budaya di belahan dunia lainnya.
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang di dunia juga ikut aktif
mengembangkan kegiatan kepariwisataan sebagai salah satu motor penggerak
perekonomian nasional. Namun kepariwisataan Indonesia juga diharapkan memberikan
manfaat selain manfaat ekonomi seperti tercantum Dalam Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan. Adapun tujuan
penyelenggaraan kepariwisataan di Indonesia adalah: (a) memperkenalkan,
mendayagunakan, melestarikan dan meningkatkan mutu objek dan daya tarik wisata; (b)
memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan persahabatan antar bangsa; (c)
memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja; (d)
meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan
kemakmuran rakyat; dan (e) mendorong pendayagunaan produksi nasional.
Perkembangan kepariwisataan dunia dan juga di Indonesia memberikan dampak
positif maupun negatif terhadap daerah dan masyarakat dimana kegiatan pariwisata
tersebut dilaksanakan. Secara umum, pariwisata memberikan dampak positif terhadap
perekonomian seperti: peningkatan pendapatan masyarakat, daerah dan negara tujuan
wisata; membuka lapangan pekerjaan; dan peningkatan infrastruktur dan fasilitas umum
di daerah tujuan wisata (Antara, 1999). Pariwisata juga dapat berdampak positif
terhadap sosial-budaya msyarakat, karena manfaat ekonomi dari pariwisata dapat
mendukung pelestarian dan pengembangan aktivitas yang berkaitan dengan sosial-
budaya masyarakat (Pitana, 1999).
Peningkatan pendapatan masyarakat dapat terjadi karena pengeluaran oleh
wisatawan untuk konsumsi, akomodasi, transportasi, souvenirs dan jasa-jasa lainnya di
daerah tujuan wisata akan menciptakan multiplier effects bagi sektor-sektor
perekonomian lainnya. Misalnya di Bali, Erawan (1994) menemukan multiplier effects
pariwisata Bali tahun 1984 sebesar 1,2 dan tahun 1994 meningkat menjadi 1,5.
Selanjutnya Antara (1999) menyatakan multiplier effects dari pengeluaran wisatawan di
Bali tahun 1996 adalah 3,743, yang terdiri dari pengganda neraca faktor sebesar 0,752
(tenagakerja = 0,253 dan modal = 0,499), pengganda neraca institusi sebesar 0,788,
dan pengganda neraca sektor produksi sebesar 2,203. Dengan demikian setiap
3

peningkatan kunjungan wisatawan ke Bali, akan meningkatkan permintaan produk-


produk sektor ekonomi dan pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan perekonomian
Bali.
Pariwisata juga menyumbang bagi pendapatan daerah dan negara melalui
restribusi dan pajak yang dibayar oleh wisatawan dan pengusaha pariwisata. Restribusi
dan pajak dapat berupa restribusi/pajak dipungut langsung seperti restribusi masuk dan
parkir di lokasi objek wisata, pajak hotel dan restoran, biaya visa, dan pajak bandara.
Pajak yang dipungut tidak langsung berupa pajak atas barang-barang yang dibeli oleh
wisatawan di daerah tujuan wisata (PPN) dan pajak yang dibayarkan pengusaha atas
keuntungan yang diperoleh akibat bisnis pariwisata. Dan yang terpenting adalah
penerimaan devisa negara dari kegiatan pariwisata karena wisatawan membawa mata
uang asing ke Indonesia.
Pariwisata juga memberikan dampak negatif terhadap daerah tujuan wisata,
seperti dampak negatif terhadap lingkungan alam dan sosial-budaya. Misalnya di Bali,
kegiatan pariwisata juga menimbulkan masalah pencemaran lingkungan akibat sampah
dan limbah yang dihasilkan oleh hotel dan restoran; berkurangnya keindahan alam
akibat dari pembangunan fasilitas pariwisata yang tidak terkontrol dan menutupi
panorama alam yang menjadi daya tarik wisata seperti pembangunan hotel dan restoran
di sepanjang jalan Penelokan-Batur-Kintamani yang menutupi pemandangan ke arah
Gunung dan Danau Batur serta pembangunan artshops dan pertokoan di sepanjang
jalur wisata Gianyar; pemanfaatan air tanah dan air permukaan secara besar-besaran
untuk suplai kepada fasilitas pariwisata sehingga mengurangi ketersediaan air untuk
domestik dan pertanian; alih fungsi lahan pertanian yang subur menjadi fasilitas
pariwisata dan pendukung lainnya; dan terkonsentrasinya pembangunan fasilitas
pariwisata di Bali Selatan juga berdampak pada rusaknya terumbu karang, abrasi
pantai, polusi udara dari emisi kendaraan dan kemacetan lalu-lintas (Hassall and
Associates, 1992; Knight, et al., 1997; Wall, 1995; Wiranatha, 2001).
Dampak negatif pariwisata terhadap sosial-budaya masyarakat meliputi
degradasi sosial-budaya, masalah akibat pergeseran pola kerja masyarakat dari
"traditional-agrarian" menjadi "industrial-modern", masalah urbanisasi dan imigrasi antar
provinsi/negara, peningkatan kriminalitas dan ancaman terhadap keamanan, dan
kesulitan tenaga kerja di sektor pertanian. Degradasi sosial-budaya dapat berupa
maraknya prostitusi, sex bebas sesama wisatawan dan wisatawan dengan masyarakat,
meningkatnya konsumsi minuman keras dan narkoba oleh masyarakat. Untuk Bali,
4

seperti Bagus (1988) menyatakan bahwa juga telah terjadi pergeseran orientasi dalam
berkehidupan masyarakat Bali yang mulanya menyeimbangkan tujuan hidup antara
niskala (akhirat) dan sekala (duniawi), saat ini menjadi cenderung ke sekala yang lebih
hedonis (materialistis dan konsumtif). Juga terjadi perubahan pola hidup seperti
perubahan pola makan, berkurangnya keterlibatan wanita Bali untuk mempersiapkan
banten (sarana upacara persembahan) dan berkurangnya waktu untuk kegiatan
adat/agama karena banyak masyarakat Bali (pria dan wanita) yang bekerja di luar
rumah sebagai akibat pergeseran dari pola kerja yang "traditional-agrarian" ke sektor
pariwisata yang "industrial-modern" dengan pengaturan waktu yang padat dan ketat.
Pesatnya pembangunan pariwisata di Bali juga memikat banyak imigran (baik
pekerja dan investor) dari luar Bali untuk ikut berebut manfaat ekonomi dari pariwisata.
Sampai-sampai muncul dugaan bahwa masyarakat Bali semakin terjepit di daerahnya
sendiri, yaitu dijepit dari bawah dalam persaingan memperoleh pekerjaan oleh pekerja
dari luar Bali dan terjepit dari atas dalam persaingan usaha oleh investor dari luar Bali
(Bali Post, 04/04/2001). Disamping itu, urbanisasi dan imigrasi dapat menimbulkan
kerawanan keamanan dan peningkatan kriminalitas karena heterogenitas penduduk
semakin tinggi sehingga semakin sulit untuk pendataan dan penertiban kependudukan.
Bom Bali tahun 2002 dan 2005 sebagai salah satu contoh dari akibat lemahnya
pendataan dan penertiban kependudukan khususnya penduduk pendatang (imigran)
dari luar Bali.
Dampak negatif juga terjadi pada perekonomian masyarakat dimana terjadi
kesenjangan pendapatan/kesejahteraan masyarakat antara pelaku pariwisata dengan
petani di pedesaan, serta ketidakberdayaan masyarakat lokal dalam hal persaingan
ekonomi sehingga banyak terjadi alih kepemilikan lahan dari masyarakat lokal kepada
investor dari luar daerah/luar negeri.
Apabila dampak-dampak negatif yang mungkin muncul akibat perkembangan
pariwisata tersebut tidak diantisipasi sejak awal maka akan sulit untuk mengharapkan
tercapainya tujuan kepariwisataan seperti tercantum dalam UU RI No 9 tahun 1990
tentang Kepariwisataan tersebut. Untuk itu perlu merujuk kepada konsep-konsep
pembangunan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) dan dengan memberikan
perhatian yang lebih pada keterlibatan masyarakat lokal (community based tourism).
5

Konsep Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Tourism)

Pendekatan konseptual dari pembangunan pariwisata berkelanjutan (sustainable


tourism development) meliputi empat aspek seperti yang dicanangkan oleh World
Tourism Organization (1993), yaitu:
• Ecological sustainability, dimana pembangunan yang dilaksanakan tidak
mengganggu proses ekologi, tidak merusak sumberdaya alam, dan tetap menjaga
kekayaan biodiversity.
• Cultural sustainability, dimana pembangunan tersebut harus selaras dengan
budaya dan nilai-nilai masyarakat lokal, dan dengan memberdayakan masyarakat
setempat sehingga dapat menjaga bahkan memperkuat identitas budaya
masyarakat setempat.
• Economic sustainability, dimana pembangunan harus efisien secara ekonomi
dan sumberdayanya dikelola dengan baik sehingga dapat dimanfaatkan oleh
generasi mendatang.
• Local sustainability, dimana pembangunan dirancang agar bermanfaat bagi
masyarakat setempat dan juga memberikan keuntungan bagi pengusaha setempat.

Isu pembangunan pariwisata berkelanjutan semakin berkembang luas ke seluruh


belahan dunia sejak dilaksanakannya the World Conference on Sustainable Tourism
pada tahun 1995. Dari konferensi tersebut dihasilkan rumusan tentang pariwisata
berkelanjutan. Kegiatan kepariwisataan dikatakan berkelanjutan apabila memberikan
manfaat secara ekonomi (economically viable), tidak merusak lingkungan
(environmentally friendly), bertanggung-jawab secara sosial (socially responsible), dan
tidak bertentangan dengan budaya setempat (culturally acceptable). Manfaat ekonomi
dari kegiatan pariwisata diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap
keberlanjutan kepariwisataan melalui manfaat/kesejahteraan sosial kepada masyarakat,
kegiatan revitalisasi warisan budaya dan keindahan alam, serta dapat menjaga
kelestarian ekosistem di daerah tujuan wisata. Konsep ini memiliki makna yang serupa
dengan definisi yang diberikan oleh World Tourism Organization (1993) tersebut di atas.
Walaupun secara konseptual keempat aspek penting (ekonomi, lingkungan,
budaya dan sosial/masyarakat) telah dimasukan dalam definisi pariwisata berkelanjutan,
tapi dalam kenyataannya sampai akhir abad ke-20 yang lalu, implementasi pariwisata
berkelanjutan masih cenderung lebih fokus pada aspek lingkungan, hanya sebagian
kecil saja perhatian diberikan kepada aspek budaya dan sosial/masyarakat. Dalam hal
6

ini, aspek lingkungan menjadi central, seperti digambarkan dalam diagram keterkaitan
antar stakeholders menuju pariwisata berkelanjutan di bawah ini (Gambar 1). Dalam
perkembangannya, paradigma ’peduli lingkungan’ ini menyebabkan terjadinya
pergeseran trend pariwisata dunia menuju ke alam (back to nature). Salah satu jenis
pariwisata alternatif yang semakin populer karena trend ’back to nature’ ini adalah
ekowisata (ecotourism), disamping agrowisata dan wisata pedesaan.
Disamping itu, kejenuhan wisatawan dunia terhadap jenis pariwisata
konvensional yang diformat dalam bentuk industri berskala besar yang menampilkan
berbagai kemewahan artifisial, telah menimbulkan kecenderungan minat wisatawan
untuk berpaling kepada produk wisata ‘back to nature’ yang lebih bersifat natural,
otentik, dan eksotik. Kenyataan tersebut kian mendorong berkembangnya ecotourism
dengan beberapa aktivitas yang mengeksplorasi keindahan dan kekayaan alam.
Dengan demikian, ekowisata merupakan alternatif jawaban terhadap adanya
kecenderungan pergeseran orientasi kunjungan wisatawan dari orientasi pilihan ke
objek wisata di daerah perkotaan yang modern dengan hotel berskala besar ke pilihan
objek wisata di wilayah hutan/pedesaan yang alami, unik dan eksotik dengan akomodasi
sederhana berskala kecil.
Dengan tetap memberikan penekanan pada aspek lingkungan, dimana
ekowisata didefinisikan secara terbatas sebagai aktivitas pariwisata yang mendukung
usaha-usaha untuk pelestarian alam (”ecotourism suggests activities that promote
conservation of nature”), maka pengembangan ekowisata pada abad ke-20 masih
bertumpu dan didominasi oleh investor yang datang dari luar daerah dan berinvestasi
mengembangkan paket ekowisata maupun fasilitas ekowisata di suatu wilayah
lingkungan yang alami. Masyarakat lokal hanya diberi peran sebagai staf dalam jumlah
yang terbatas, maupun sebagai karyawan rendahan, bahkan ada yang hanya dijadikan
objek belaka. Diperkirakan ada beberapa pengembangan ekowisata di sekitar wilayah
hutan yang kurang memperhatikan keterlibatan masyarakat lokal. Model-model
pengembangan ekowisata seperti ini semakin mendapat tantangan dan hambatan dari
masyarakat maupun para akademisi. Pada millenium 21 ini terjadi lagi pergeseran trend
dimana pentingnya keterlibatan dan peranan masyarakat lokal dalam pengembangan
kepariwisataan semakin lebih keras gaungnya sehingga konsep pariwisata berbasis
kerakyatan sudah saatnya diimplementasikan secara lebih nyata.
7

INDUSTRI

LINGKUNGAN
WISATAWAN ALAM PEMERINTAH

MASYARAKAT

Gambar 1. Diagram keterkaitan antar stakeholders menuju pariwisata berkelanjutan


(fokus pada aspek lingkungan alam)

INDUSTRI

MASYA-
WISATAWAN PEMERINTAH
RAKAT

LINGKUNGAN ALAM

Gambar 2. Diagram keterkaitan antar stakeholders


menuju pariwisata kerakyatan berkelanjutan
8

Konsep Pariwisata Berbasis Kerakyatan

Lahirnya konsep pariwisata kerakyatan merupakan salah satu pengejewantahan


dari konsep pembangunan berbasis kerakyatan yang merupakan reaksi keras terhadap
kebijakan pembangunan konglomerasi yang selama ini lebih berpihak pada pemilik
modal yang pada umumnya bukan berasal dari anggota masyarakat setempat. Konsep
pembangunan berbasis kerakyatan lebih mengedepankan peningkatan kesejahteraan
dan pemberdayaan masyarakat. Para pemikir dan perencana pembangunan telah lama
menyadari bahwa pembangunan konglomerasi kerap merugikan masyarakat setempat.
Masyarakat sebagai pemilik sah atas sumber daya setempat kerap mengalami
marginalisasi sehingga kualitas hidupnya justru menurun dibandingkan sebelum adanya
pembangunan. Demikian halnya dalam pengembangan industri pariwisata berskala
besar dan padat modal umumnya sangat kurang melibatkan peran serta masyarakat
setempat, bahkan justru mengakibatkan terjadinya proses marginalisasi terhadap hak-
hak masyarakat lokal.
Pariwisata kerakyatan merupakan kegiatan pariwisata yang mengikutsertakan
seluruh lapisan masyarakat dalam tahapan-tahapan proses pembangunan
kepariwisataan di suatu tempat. Menurut (Edgell, 2006) bahwa setiap wilayah/daerah
memiliki sumberdaya, atraksi, kegiatan/event atau potensi kegiatan petualangan yang
dapat menjadi daya tarik wisata. Misalnya dapat berupa tempat mancing, tempat unik
untuk berfoto, jalur trekking, berkuda, tempat camping, tempat rafting, sport events,
aktivitas budaya atau perayaan hari raya agama. Walaupun suatu daerah bukan
merupakan objek wisata utama, tapi pasti tetap memiliki potensi daya tarik wisata
sehingga bisa dimasukan dalam jalur wisata yang menyediakan produk bagi wisatawan
seperti souvenirs, makanan dan minuman. Karena kemampuan dan potensi masyarakat
berbeda-beda maka peranan pemerintah sebagai fasilitator sangat penting dalam hal ini.
Menurut UU RI No 9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan, ada 5 prinsip dasar
dalam pengembangan kepariwisataan Indonesia yaitu: (a) asas manfaat, dimana
pariwisata dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat; (b) asas
usaha bersama dan kekeluargaan, dimana kegiatan pariwisata dapat dilakukan oleh
seluruh lapisan masyarakat dan dijiwai oleh semangat kekeluargaan; (c) asas adil dan
merata, bahwa hasil-hasil dari pariwisata dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan
masyarakat; (d) asas perikehidupan dalam keseimbangan, dimana pariwisata tidak
hanya berdampak positif terhadap ekonomi tapi juga meningkatkan kehidupan sosial
9

budaya dan hubungan antar manusia; dan (e) asas kepercayaan terhadap diri sendiri,
dimana pariwisata mampu membangkitkan kepercayaan akan kemampuan diri sendiri
serta menyeimbangkan aspek material dan spiritual. Jadi sangat jelas bahwa pariwisata
ideal yang diamanatkan dalam undang-undang adalah pariwisata yang melibatkan
seluruh lapisan masyarakat untuk kepentingan masyarakat sehingga tercapai
masyarakat yang sejahtera lahir dan bathin. Konsep pembangunan pariwisata
kerakyatan sejalan dengan amanat undang-undang tersebut.
Lebih jauh lagi mengenai konsep pariwisata kerakyatan, sebenarnya
pembangunan pariwisata berbasis kerakyatan tersebut hendaknya mengacu kepada
pembangunan pariwisata yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Pendekatan ini pada dasarnya juga merupakan model pemberdayaan masyarakat yang
memberikan lebih banyak peluang kepada masyarakat lokal untuk berpartisipasi secara
aktif dalam kegiatan-kegiatan pembangunan kepariwisataan. Hal ini berarti memberi
wewenang atau kekuasaan kepada masyarakat lokal untuk memobilisasi kemampuan
mereka sendiri dalam mengelola potensi sumber daya setempat. Kedudukan mereka
adalah sebagai pemeran utama dalam membuat keputusan dan melakukan kontrol
terhadap kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi kehidupannya. Pendekatan ini
melibatkan masyarakat sebagai proses pengembangan dirinya. Bahkan secara lebih
ekstrem dikatakan oleh (Edgell, 2006: p. 87): ”Community involvement makes for
successful tourism. ...... Whatever the case, no tourism product should be developed or
marketed without the involvement and support of the local residents. If they are not
included in the beginning, do not expect them to help”.
Pendekatan pembangunan pariwisata berkelanjutan berbasis kerakyatan ini
(Pariwisata Kerakyatan Berkelanjutan) menjadikan masyarakat sebagai titik centralnya
diantara stakeholder lainnya, seperti digambarkan pada diagram diatas (Gambar 2).
Secara ideal, pembangunan pariwisata kerakyatan berkelanjutan akan bermuara
pada model pengembangan kepariwisataan yang: (a) berskala kecil, dimana skala
usaha yang dikembangkan adalah skala kecil sehingga masyarakat secara lebih mudah
untuk ikut terlibat dalam berinvestasi; (b) meningkatkan peranan masyarakat lokal
sebagai pemilik dan pengelola (locally owned and managed) serta sebagai pelaku
langsung dalam berbagai aktivitas wisata tersebut; dan (c) memanfaatkan potensi
keindahan dan keunikan alam serta budaya masyarakat setempat (Pitana, 2000;
Wiranatha, 2003; World Tourism Organization, 2002b). Dari model tersebut di atas,
10

maka jenis wisata yang paling berpeluang untuk dikembangkan adalah ekowisata,
agrowisata dan wisata pedesaan.
Terkait pengembangan ekowisata, dengan memperhatikan konsep pariwisata
berbasis kerakyatan maka definisi ekowisata yang lebih sesuai adalah yang
dikembangkan oleh The Ecotourism Society yaitu “ecotourism as a responsible travel to
natural areas which conserves the environment and improves the welfare of local
people” (Western, 1993). Dimana ekowisata tidak hanya terkait pelestarian lingkungan
alam tapi juga hendaknya memberikan dampak pada peningkatan kesejahteraan
masyarakat lokal. Dalam hal ini, ekowisata diharapkan menjadi sumber pendapatan
yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal dengan cara memberdayakan masyarakat
dengan memberikan peranan yang lebih besar kepada masyarakat dalam berbagai
kegiatan ekowisata (termasuk ikut berinvestasi di dalamnya) serta meningkatkan
parisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan alam (Sudarto, 1999).
Sebagai implementasi dari konsep pariwisata kerakyatan berkelanjutan pada
ekowisata, maka ekowisata hendaknya memenuhi unsur-unsur di bawah ini (Montavalli,
2002 dalam Edgell, 2006):
• Motivasi utama adalah untuk melakukan observasi dan apresiasi terhadap alam
serta kebudayaan tradisional yang ada di wilayahnya.
• Melibatkan unsur-unsur pendidikan dan pemaknaan terhadap alam
• Kegiatan diorganisasi oleh pengusaha lokal dalam jumlah peserta yang terbatas
(kelompok kecil)
• Meminimumkan dampak negatif terhadap lingkungan alam, dan sosial-budaya
setempat.
• Memberikan dukungan terhadap usaha-usaha pelestarian alam oleh masyarakat
setempat melalui income generation dan menyediakan lapangan kerja bagi
masyarakat setempat, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap
pelestarian sumberdaya alam dan budaya.

Dengan melaksanakan model pariwisata kerakyatan berkelanjutan diharapkan


pariwisata menjadi milik seluruh masyarakat termasuk masyarakat yang termarginalisasi
pada kegiatan pariwisata konglomerasi yang umumnya dilaksanakan selama ini. Untuk
lebih mengoptimalkan manfaat ekonomi pariwisata terhadap masyarakat yang
termarginalisasi tersebut (mungkin bisa disebut juga sebagai masyarakat miskin), maka
dapat dipertimbangkan langkah-langkah sebagai berikut: (WTO, 2002c)
11

• Memberikan peluang kerja bagi masyarakat setempat dalam kegiatan usaha


pariwisata.
• Memberikan peluang kerja bagi masyarakat setempat dalam kegiatan usaha
pemasok barang dan jasa bagi usaha pariwisata.
• Membuka peluang sektor informal untuk menjual barang dan jasa kepada
wisatawan secara langsung.
• Membuka usaha pariwisata berskala mikro dan kecil oleh masyarakat, atau
usaha bersama oleh lembaga kemasyarakatan (community based enterprise),
• Bantuan sukarela kepada masyarakat oleh usaha pariwisata dan wisatawan.

• Pajak dari penerimaan/keuntungan pariwisata disumbangkan kepada


masyarakat miskin.
• Melakukan pembangunan infrastruktur untuk pariwisata yang sekaligus dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

Penutup

Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia sudah memulai menerapkan sebagian
besar atau beberapa bagian dari unsur-unsur penting dalam model pariwisata
kerakyatan yang berkelanjutan pada beberapa kegiatan/objek ekowisata yang ada di
Bali. Bahkan konsep pariwisata kerakyatan yang berkelanjutan tersebut sudah
mengakar pada budaya Bali sebagai sebuah kearifan lokal yang dikenal dengan nama
Tri Hita Karana. Filosofi Tri Hita Karana dan konsep pariwisata kerakyatan yang
berkelanjutan telah diimplementasikan dalam pengelolaan ekowisata di beberapa objek
wisata seperti Hutan Wisata Alam Sangeh, Hutan Wisata Alas Kedaton dan Hutan
Wisata Wenara Wana. Dengan pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat maka
keberadaan fasilitas pariwisata di objek-objek tersebut semakin bersih dan terawat,
masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih baik, dan ekosistem hutan
termasuk penghuninya (komunitas kera dan satwa liar lainnya) semakin terpelihara
dengan baik (Wiranatha dan Dalem, 2005).
12

Daftar Pustaka

Antara, M. (1999). Dampak Pengeluaran Pemerintah dan Wisatawan Terhadap Kinerja


Perekonomian Bali: Pendekatan social accounting matrix. Unpublished Ph.D. Thesis.
Bogor: Institut Pertanian Bogor (Bogor Agricultural Institute).

Bagus, I G. N. (1988). Dinamika Budaya Daerah dalam Menyongsong Masa Depan


Bangsa. Widya Pustaka 6(October): 1-6.

Bali Post, 04/04/2001. Dijepit Dari Atas – Bawah.

Bappeda Propinsi Bali. (2001). Studi Tentang Implementasi Konsep Pariwisata


Kerakyatan. Laporan Penelitian Kerjasama Bappeda Propinsi Bali dengan Universitas
Udayana. Denpasar.

Edgell, D. L. (2006). Managing Sustainable Tourism: A Legacy for the future. Oxford:
The Haworth Hospitality Press.

Erawan, I N. (1994). Pariwisata dan Pembangunan Ekonomi : Bali sebagai kasus.


Denpasar: Upada Sastra.

Erawan, I N. (1999). Konsep Pembangunan Pariwisata Bali: Aspek manfaat ekonomi.


Conference Proceedings "Pariwisata Berkelanjutan Menurut Perspektif Orang Bali".
Denpasar: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kepariwisataan, Universitas Udayana.

Hassall and Associates, Scott & Furphy. (1992). Comprehensive Tourism Development
Plan for Bali. Denpasar: UNDP and Government of Indonesia.

Knight, D., Mitchell, B. and Wall, G. (1997). Bali: Sustainable development, tourism and
coastal management. Ambio 26(2): 90-96.

Pitana, I G. (1999). Pelangi Pariwisata Bali. Denpasar: Penerbit BP.

Pitana, I G. (2000). Pariwisata Kerakyatan dan Kutipan Tiga Dolar. Bali Post
(28/09/2000).

Spillane, J. James. (1985). Pariwisata Indonesia: Sejarah dan Prospeknya. Yogyakarta:


Kanisius.

Sudarto, G. (1999) Ekowisata: wahana pelestarian alam, pengembangan ekonomi


berkelanjutan, dan pemberdayaan masyarakat. Yayasan Kalpataru Bahari and Yayasan
KEHATI, Indonesia.

Wall, G. (1995). Forces for Change In Martopo, S. and Mitchell, B. (eds.). Bali:
Balancing Environment, Economy and Culture. Waterloo: Department of Geography,
The University of Waterloo.

Western, D. (1993) Defining ecotourism In Lindberg, K., and D. E. Hawkins (eds.).


Ecotourism: a guide for planners and managers. North Bennington, Vermont: The
Ecotourism Society.
13

Wiranatha, A. S. (2001). A Systems Model for Regional Planning Towards Sustainable


Development in Bali, Indonesia. Unpublished Ph.D. Thesis. Brisbane: University of
Queensland.

Wiranatha, A. S. (2003). Potret Masa Depan: Prediksi, Skenario, dan Rekomendasi


Pembangunan Bali dalam Putra, N. D. (ed.) Bali Menuju Jagadhita: Aneka Perspektif
(2003: p. 247-262). Denpasar: Penerbit Bali Post.

Wiranatha, A. S. dan Dalem, A. A. G. R. (2005). Incorporating Local Knowledge


Towards Sustainable Tourism in Bali In Towards Sustainable Development in Southeast
Asia: From Forest Management to Eco-Tourism (2005: p. 91-102). Jakarta: PSDR-LIPI.

WTO (World Tourism Organization). (1993). Sustainable Tourism Development: Guide


for Local Planners. Madrid: World Tourism Organization.

WTO (World Tourism Organization). (2002a). Tourism and Poverty Alleviation. Madrid:
World Tourism Organization.

WTO (World Tourism Organization). (2002b). Enhancing The Economic Benefits of


Tourism for Local Communities and Poverty Alleviation. Madrid: World Tourism
Organization.

WTO (World Tourism Organization). (2002c). Tourism and Poverty Alleviation


Recommendations for Action. Madrid: World Tourism Organization.