Anda di halaman 1dari 7

Paper Tugas Kimia Dasar

Senyawa Kimia Bidang Farmasi


Ratu Nida-260110090095
Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan jenis
tumbuhan (diperkirakan mencapai sekitar 25.000 jenis atau lebih
dari 10 % dari jenis flora dunia). Ditambah dengan jumlah jenis
lumut dan gangang yang berjumlah ± 35.000 jenis dimana 40 %
diantaranya merupakan jenis yang endemik atau hanya terdapat di
Indonesia saja. Dengan tingginya kekayaan alam yang dimiliki
Indonesia itu yang dilihat dari keanekaragaman tumbuhan yang
ada, memungkinkan untuk ditemukannya beraneka jenis senyawa
kimia, walaupun beberapa senyawa kimia itu telah banyak
ditemukan tetapi berdasarkan sejarah penemuan dan
pengembangan telah membuktikan bahwa peluang untuk terjadinya
temuan-temuan baru adalah sangat besar. Sebab semakin tinggi
tingkat evolusi dari suatu tanaman, maka keanekaragaman molekul
dari tumbuhan tersebut juga beragam.

Berdasarkan hal itu, sebagai negara yang termasuk negara mega


biodiversity maka riset kimia bahan alam telah menjadi ujung
tombak penelitian para ahli kimia Indonesia. Kimia Bahan Alam
Sebenarnya pengertian dari senyawa bahan alam sendiri adalah
hasil metabolisme suatu organisme hidup (tumbuhan, hewan, sel)
berupa metabolit primer dan sekunder. Sedangkan pengertian dari
kimia bahan alam merupakan salah satu cabang ilmu kimia yang
membahas tentang senyawa-senyawa kimia yang terdapat dalam
bahan alam baik dari tanaman atau hewan. Sebenarnya senyawa
kimia yang biasa kita jumpai seperti karbohidrat, lipid, vitamin dan
asam nukleat termasuk dalam bahan alam, namun ahli kimia
memberikan arti yang lebih sempit tentang istilah bahan alam yakni
senyawa kimia yang berkaitan dengan metabolit sekunder saja
seperti alkaloid, terpenoid, golongan fenol, feromon dan
sebagainya.Senyawa-senyawa metabolit sekunder itu, meskipun
tidak sangat penting bagi eksistensi suatu individu, tetapi sering
berperan bagi kelangsungan hidup suatu spesies dalam perjuangan
menghadapi spesies-spesies lain. Sebagai contoh pada tumbuhan,
senyawa metabolit sekunder biasa digunakan sebagai senjata
penangkal serangan hama dan penyakit. Sedangkan pada hewan,
senyawa metabolit sekunder seperti feromon digunakan sebagai zat
penarik sex. Sejauh ini telah diketahui bahwa tumbuhan
memproduksi senyawa metabolit sekunder lebih banyak
dibandingkan hewan. 1.Isolasi, penentuan struktur, sintesis dan
biosintesis senyawa organik bahan alam.2. Sifat dan fungsi biologis
senyawa alam meliputi aspek farmakologi dan biokimia.3. Minyak
atsiri dan rempah-rempah.4. Pengembangan metode analisis dan
aplikasinya pada bahan alam.5. Bioteknologi termasuk kultur
jaringan atau sel dalam produksi senyawa alam, rekayasa DNA,
serta teknologi tumbuhan obat dan rempah.6. Pengunaan bahan
alam dalam media pembelajaran.Peranan Senyawa Bahan Alam
Peranan senyawa bahan alam bagi manusia tidak terlepas dari
tinjauan sejarah kajian riset kimia bahan alam itu sendiri, yang
telah sejak lama dilakukan oleh manusia.

Karl Wilhelm Schele, merupakan ahli kimia pertama yang berhasil


melakukan pemisahan (isolasi) senyawa kimia dari bahan alam
seperti gliserol, asam-asam oksalat, laktat, tartarat dan sitrat.
Selanjutnya diikuti Frederich W. Serturner (1783-1841) yang
memisahkan morfina dari opium dan Pelletier serta caventon yang
berhasil memisahkan strihina, brusina, kuinin, sinkonina, dan kafein
lima belas tahun kemudian. Untuk pemisahan beribu-ribu senyawa
kimia yang lain dari bahan alam segera menyusul dan terus
berjalan sampai sekarang. Senyawa-senyawa metabolit sekunder
yang telah berhasil diisolasi, oleh manusia selanjutnya
didayagunakan sebagai bahan obat seperti morfin sebagai obat
nyeri, kuinin sebagai obat malaria, reserpin sebagai obat penyakit
tekanan darah tinggi dan vinkristin serta vinblastin sebagai obat
kanker. Selain sebagai bahan obat, senyawa metabolit sekunder
juga didayagunakan oleh manusia untuk menunjang kepentingan
industri seperti industri kosmetik dan industri pembuatan pestisida
dan insektisida.

Untuk di Indonesia, pemanfaatan senyawa bahan alam yang


ditemukan para peneliti Indonesia sebagai bahan baku obat antara
lain Itebein sebagai anti tumor, Artoindonesianin sebagai anti
malaria, Diptoindonesin, Indonesiol serta banyak lagi. Sedangkan
potensi lain yang sedang dikembangkan peneliti Indonesia untuk
menunjang kepentingan industri adalah potensi bahan alam sebagai
penghasil minyak atsiri.

Indonesia merupakan penghasil dan pengekspor minyak atsiri yang


besar di dunia. Kandungan senyawa kimia yang terdapat dalam
bahan alam (daun, batang, akar, biji) untuk minyak atsiri dibagi
menjadi dua kelompok yakni kelompok pertama; minyak atsiri yang
komponen-komponennya mudah dipisahkan yang kemudian
menjadi bahan awal sintesis (minyak sereh, minyak daun cengkeh,
minyak permen, dan minyak terpentin) dan kelompok kedua;
minyak atsiri yang komponen-komponennya tidak mudah dipisah
(minyak akar wangi, minyak nilam, minyak cendana, minyak
kenanga), dimana minyak atsiri ini dapat langsung digunakan.
Komponen senyawa kimia utama dari kedua kelompok tersebut
sebagian dapat dilihat pada tabel berikut :

N Tumbuhan/poh Bagian tanaman Minyak atsiri Komponen Utama


o on
1 Pohon Cengkeh Bunga/daun Minyak Eugenol
. Cengkeh
2 Tanaman Sereh Daun Minyak Sereh Sitronelal, sitronelol,
. geraniol
3 Pohon Pinus Kulit/batang/get Minyak Terpentin α-pinen
. ah Terpentin
4 Tanaman nilam Daun Minyak Nilam Patchouli alkohol
.
5 Pohon Kenanga Bunga Minyak Ester
. Kenanga
6 Tanaman Adas Biji Minyak Adas Anetol, estragol, fenson
.
Sumber : Hardjono Sastrohamodjojo, 2005

Peluang Penelitian Bahan AlamSenyawa metabolit sekunder


merupakan sumber bahan kimia yang tidak akan pernah habis,
sebagai sumber inovasi dalam penemuan dan pengembangan obat-
obat baru ataupun untuk menujang berbagai kepentingan industri.
Hal ini terkait dengan keberadaannya di alam yang tidak terbatas
jumlahnya. Sejalan dengan hal itu dan diikuti oleh keberadaan
organisme yang juga tidak terbatas jumlahnya, maka topik
penelitian bahan alam juga tidak akan pernah habis. Ini didukung
pula oleh fakta bahwa di muka bumi ini terdapat lebih kurang
250.000 jenis tumbuhan tingkat tinggi, akan tetapi tidak lebih dari
0,4 % dari jumlah tumbuhan tersebut telah diselidiki oleh peneliti
untuk berbagai kepentingan. Sebagian besar dari penelitian itupun
masih sangat dangkal sifatnya atau belum menyeluruh, lagi pula
terbatas pada tumbuhan yang terdapat di daerah beriklim sedang.
Dari 250.000 jenis tumbuhan tingkat tinggi seperti dikemukan di
atas 54 % diantaranya terdapat di hutan-hutan tropika dan
Indonesia dengan hutan tropikanya yang mengandung lebih dari
30.000 jenis tumbuhan tingkat tinggi sangat berpotensial untuk
diteliti dan dikembangkan oleh para peneliti Indonesia. Penelitian
bahan alam biasanya dimulai dari ekstraksi, isolasi dengan metode
kromatografi sehingga diperoleh senyawa murni, identifikasi unsur
dari senyawa murni yang diperoleh dengan metode spektroskopi,
dilanjutkan dengan uji aktivitas biologi baik dari senyawa murni
ataupun ekstrak kasar. Setelah diketahui struktur molekulnya
biasanya dilanjutkan dengan modifikasi struktur untuk
mendapatkan senyawa dengan aktivitas dan kestabilan yang
diinginkan. Disamping itu dengan kemajuan bidang bioteknologi,
dapat juga dilakukan peningkatan kualitas tumbuhan atau
organisme melalui kultur jaringan atau pembentukan menjadi
tumbuhan transgenik yang tentunya juga akan menghasilkan
berbagai jenis senyawa metabolit sekunder baru yang beraneka
ragam dan mungkin juga dengan struktur molekul yang berbeda
dengan yang ditemukan dari tumbuhan awalnya. Dengan demikian
peluang penelitian dalam bidang bahan alam adalah juga tidak
terbatas. Pengembangan potensi bahan alam untuk di kembangkan
di Indonesia didukung juga oleh kebijakan dan program riset dan
teknologi (ristek) dari pemerintah dimana Kementrian Riset dan
Teknologi telah menetapkan 6 (enam) Bidang Prioritas Riset dan
Teknologi Nasional untuk tahun 2004-2009 yakni di bidang
ketahanan pangan, ketersediaan energi, sistem transportasi
nasional, teknologi informasi dan komunikasi, pertahanan dan
keamanan dan pembangunan kesehatan. Bidang-bidang prioritas itu
oleh lembaga pelaksana teknis diterjemahkan menjadi rencana
strategis.

Beberapa lembaganya antara lain LIPI, BATAN dan BPPT. LIPI


melalui pusat penelitian kimia terapan mengembangkan antara lain;
penelitian kimia, bahan alam, jasa penelitian di bidang kimia bahan
alam dan farmasi dengan memanfaatkan sumber daya alam dalam
rangka pemenuhan kebutuhan farmasi dan kosmetika, penelitian
fitofarmaka untuk indikasi anti kanker, isolasi senyawa aktif dari
tanaman obat. BATAN mengembangkan pemanfaatan teknologi
nuklir untuk penelitian dan pengembangan obat sedangan BPPT
dengan program risetnya yang bertema Pengembangan Teknologi
Produksi Obat dan Pangan Fungsional dari Sumber Daya Hayati.
Disini peran perguruan tinggi sebagai “Centre of Excellence” juga
sangat diperlukan. Diharapkan Perguruan Tinggi mampu
mengembangkan prilaku ilmiah yang meliputi Scholarship of
Discovery, Scholarship of Teaching, Scholarship of Application,
Scholarship of Integration dan Scholarship of Engagement untuk
menunjang pengembangan pemanfaatan bahan alam Indonesia.
Menilik pada peluang dan kesempatan yang terbuka luas bagi para
peneliti Indonesia untuk mengkaji pemanfaatan bahan alam
sebagaimana telah diuraikan diatas, maka secara tidak langsung
telah membuka pintu bagi bangsa Indonesia untuk terangkat harkat
dan martabatnya ke tingkat yang lebih tinggi. Sebab apabila dari
setiap 100?1000 jenis tumbuhan dapat ditemukan satu saja
senyawa kimia untuk obat maka keuntungan dari penjualan obat
akan berkisar antara 10-30 juta dolar US per tahun, untuk masa 15
tahun lamanya, belum lagi apabila senyawa kimia tersebut
didayagunakan untuk kepentingan industri yang lainnya. Dengan
kata lain, Indonesia adalah gudang bagi bahan-bahan kimia yang
belum ditemukan dan tidak ternilai harganya baik untuk masa kini
maupun masa depan. Hal ini ditunjang pula bahwa senyawa kimia
yang dihasilkan oleh suatu jenis tumbuhan sangat berbeda dari
yang dihasilkan oleh jenis yang lain, yang juga berbeda bergantung
pada lokasi di mana ia tumbuh dan berbeda pula antara tumbuh-
tumbuhan tingkat tinggi dan tumbuh-tumbuhan tingkat rendah
seperti jamur, lumut dan mikroorganisme yang tumbuh di darat
maupun di laut. Jadi sekali lagi dapat diungkapkan disini bahwa
keanekaragaman hayati Indonesia merupakan harta karun yang tak
ternilai besarnya bagi bangsa Indonesia yang harus terus
dilestarikan dan dimanfaatkan secara arif dan bijaksana agar tidak
mengalami kepunahan. Disini riset kimia bahan alam menjadi ujung
tombak para peneliti Indonesia untuk mengeksplorasi potensi
sumber daya alam untuk kemaslahatan kehidupan bangsa dan
negara.
Daftar PustakaAchmad, Syamsul Arifin. 2002. Pelestarian dan
Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati untuk Meningkatkan
Kesejahteraan dan Peradaban Umat Manusia. Kumpulan Artikel
pada Buku Ilmu Alamiah Dasar. JakartaAchmad, Syamsul Arifin.
2004. Bahan Alam untuk Mendukung Pengembangan Bioindustri.
Makalah pada Seminar Nasional Kimia Bahan Alam Unair dan
Ikahimki pada 4 September 2004. SurabayaAtun, Sri. 2005.
Pengembangan Potensi Bahan alam sebagai Sumber Penemuan
Obat Baru. Makalah pada Seminar Nasional Kimia UNY dan Ikahimki
pada 24 September 2005. YogyakartaEffendi. 2005. Profile PT.
Indesso Aroma. Makalah pada Workshop Kewirausahaan UGM dan
Ikahimki pada 27 September 2005. YogyakartaMulyani, Sri. 2005.
Optimalisasi Pengunaan Bahan Alam dalam Media Pembelajaran.
Makalah pada Seminar Nasional Kimia UNY dan Ikahimki pada 24
September 2005. YogyakartaRosid. 2005. Parfume-Parfume.
Makalah pada Workshop Kewirausahaan UGM dan Ikahimki pada 27
September 2005. YogyakartaSastrohamidjojo, Hardjono. 2005.
Potensi Minyak Atsiri Indonesia. Makalah pada Workshop
Kewirausahaan UGM dan Ikahimki pada 27 September 2005.
YogyakartaWijayanti, Listyani dan Sumaryono, Wahono. 2005.
Kebijakan Riset dan Teknologi dalam Pengembangan Potensi Bahan
Alam Indonesia. Makalah pada Seminar Nasional Kimia UNY dan
Ikahimki pada 24 September 2005. Yogyakarta