Anda di halaman 1dari 12

Minyak Bumi

A. Pembentukan Minyak Bumi

1. Minyak Bumi dari Zat Anorganik


Dinyatakan oleh Berthelot. Menurutnya, logam – logam alkali
dalam bumi bereaksi dengan CO2 pada suhu tinggi membentuk gas
asetilena (C2H2) yang kemudian membentuk senyawa hidrokarbon yang
lain. Hipotesis lain menurut Dmitri Ivaovick Mendeleev (1834-1907),
besi karbida di dalam bumi bereaksi dengan air dan menghasilkan gas
asetilena. Reaksi ini mirip dengan reaksi yang terjadi antara batu karbida
dan air.

2. Minyak Bumi dari Zat Organik


Teori ini dinyatakan oleh P.G. Macquir, didasarkan pada sumber
batubara yang juga berasal dari tumbuh – tumbuhan. Adapun teori yang
menyatakan bahwa minyak bumi berasal dari hewan, pertama kali
dikemukakan oleh J. P. Lesley. Kemudian ilmuwan lain yang bernama B.
Haquet melakukan percobaan distilasi minyak bumi dari moluska.
Percobaan lain dilakukan oleh H. Hofer dan C.Eugler. Mereka
melakukan distilasi terhadap daging kerang dan ikan pada suhu 3000C –
4000C dan tekanan 10 atm. Pada zat tersebut dihasilkan zat yang
menyerupai minyak bumi.
Teori ini didukung oleh hasil – hasil penelitian di laboratorium,
analisis pemikiran, dan sesuai dengan ilmu geologi sehingga teori yang
menyatakan bahwa sumber minyak bumi berasal dari zat anorganik tidak
dianut lagi.
Berdasarkan teori pembentukannya, minyak bumi berasal dari hasil
pelapukan organisme hidup yang berlangsung sangat lama (berjuta – juta
tahun). Pembentukan minyak bumi memerlukan lingkungan yang dapat
memberi kadar zat organik tinggi dan memberi kesempatan pengawetan
sehingga tidak terjadi oksidasi atau pembusukan. Daerah pantai yang
memiliki muara sungai menghadap ke laut terbuka, memiliki
kemungkinan lebih besar memproduksi zat organik . Selanjutnya, zat
organik tersebut menyebar ke dalam batuan serpih lempeng yang halus,
terakumulasi dan terkonsentrasi. Selanjutnya, zat tersebut bergerak masuk
ke dalam batuan dan terperangkap di dalam batuan sedimen.

B. Komponen Minyak Bumi

Minyak bumi hasil eksplorasi (pengeboran) masih berupa minyak mentah


atau crude oil. Minyak mentah ini mengandung berbagai zat kimia berwujud gas,
cair dan padat. Komponen utama minyak bumi adalah senyawa hidrokarbon, baik
alifalik, alisiklik, maupun aromatik.
1. Senyawa Hidrokarbon Alifatik Rantai Lurus
Disebut juga alkana atau normal parafin. Senyawa ini banyak
terdapat dalam gas alam dan minyak bumi yang memiliki rantai karbon
pendek. Contoh : etana dan propana.

2. Senyawa Hidrokarbon Bentuk Siklik


Senyawa hidrokarbon siklik adalah senyawa hidrokarbon golongan
sikloalkana atau sikloparafin. Senyawa hidrokarbon ini memiliki rumus
molekul sama dengan alkena, tetapi tidak memiliki ikatan rangkap dua dan
membentuk struktur cincin. Pada umumnya, senyawa hidrokarbon siklik
dalam minyak bumi berupa campuran siklopentana dan sikloheksana yang
disebut naften. Dalam minyak bumi, antarmolekul siklik tersebut kadang–
kadang bergabung membentuk suatu molekul yang terdiri atas beberapa
senyawa siklik. Contoh : Siklobutana, Siklopentana, Sikloheksana.

3. Senyawa Hidrokarbon Alifatik Rantai Bercabang


Yang termasuk ke dalam hidrokarbon ini adalah isoalkana atau
isoparafin. Jumlah senyawa hidrokarbon ini tidak sebanyak senyawa
hidrokarbon alifatik rantai lurus dan senyawa hidrokarbon bentuk siklik.
Contoh : Isobutana, Isooktana.

4. Senyawa Hidrokarbon Aromatik


Merupakan senyawa hidrokarbon yang berbentuk siklik segienam,
berikatan rangkap dua selang – seling, dan senyawa hidrokarbon tak
jenuh. Jumlah senyawa hidrokarbon ini paling sedikit di antara jenis
lainnya. Pada umumnya, senyawa hidrokarbon aromatik ini terdapat dalam
minyak bumi yang memiliki jumlah atom C besar. Berikut table komposisi
senyawa hidrokarbon dalam beberapa komponen minyak bumi.

Komponen % Volume
Minyak bumi n-alkana Sikloalkana Isoalkana Aromatik Residu
Gas 100 - - - -
Bensin 38 43 20 9 -
Kerosin 23 43 15 19 -
Solar 22 48 9 21 -
Minyak Pelumas 16 52 6 24 -
Residu 13 51 1 27 8

C. Pengolahan Minyak Bumi

Minyak mentah mengandung berbagai senyawa hidrokarbon dengan


berbagai sifat fisiknya. Untuk memperoleh materi-materi yang berkualitas baik
dan sesuai dengan kebutuhan, perlu dilakukan tahapan pengolahan minyak
mentah (crude oil).
Pada pemrosesan minyak bumi melibatkan 2 proses utama, yaitu :
1. Proses pemisahan (separation processes)
2. Proses konversi (convertion processes)
Proses pengilangan (refines) pertama-tama adalah mengubah komponen minyak menjadi
fraksi-fraksi yang laku dijual berupa beberapa tipe dari destilasi. Beberapa perlakuan
kimia dan pemanasan dilakukan untuk memperbaiki kualitas dari produk minyak mentah
yang diperoleh. Misalnya pada tahun 1912 permintaan gasolin melebihi supply dan untuk
memenuhi permintaan tersebut maka digunakan proses "pemanasan" dan "tekanan" yang
tinggi untuk mengubah fraksi yang tidak diharapkan. Molekul besar menjadi yang lebih
kecil dalam range titik didih gasolin, proses ini disebut cracking.

a. Proses Pemisahan (Separation Processes)


Unit operasi yang digunakan dalam penyulingan minyak biasanya
sederhana tetapi yang kompleks adalah interkoneksi dan interaksinya. Proses
pemisahan tersebut adalah :

1. Destilasi
Bensin, kerasin dan minyak gas biasanya disuling pada tekanan
atmosfer, fraksi-fraksi minyak pelumas akan mencapai suhu yang lebih tinggi
dimana zat-zat hidrokarbon mulai terurai (biasanya kira-kira antara suhu 3750
-400°C) karena itu lebih baik jika minyak pelumas disuling dengan tekanan
yang diturunkan. Pengurangan tekanan diperoleh dengan menggunakan sebuah
pompa vakum (vacum pump).
2. Absorpsi
Umumnya digunakan untuk memisahkan zat yang bertitik didih tinggi
dengan gas. Minyak gas digunakan untuk menyerap gasolin alami dari gas-gas
basah. Gas-gas dikeluarkan dari tank penyimpanan gas sebagai hasil dari
pemanasan matahari yang kemudian diserap ulang oleh tanaman. Steam
stripping pada umumnya digunakan untuk mengabsorpsi hidrokarbon fraksi
ringan dan memperbaiki kapasitas absorpsi minyak gas.

Proses ini dilakukan terutama dalam hal-hal sebagai berikut:


- Untuk mendapatkan fraksi-fraksi gasolin alami yang dapat dicampurkan
padabensin.
- Untuk pemisahan gas-gas rekahan dalam suatu fraksi yang sangat
ringan (misalnya fraksi yang terdiri dari zat hidrogen, metana, etana)
dan fraksi yang lebih berat yaitu yang mempunyai komponen-
komponen yang lebih tinggi.
- Untuk menghasilkan bensin-bensin yang dapat dipakai dari berbagai gas
ampas dari suatu instalasi penghalus.

3. Adsorpsi
Proses adsorpsi digunakan untuk memperoleh material berat dari gas.
Pemakaian terpenting proses adsorpsi pada perindustrian minyak adalah :
- Untuk mendapatkan bagian-bagian berisi bensin (natural gasoline) dari
gas-gas bumi, dalam hal ini digunakan arang aktif.
- Untuk menghilangkan bagian-bagian yang memberikan warna dan hal-
hal lain yang tidak dikehendaki dari minyak, digunakan tanah liat untuk
menghilangkan warna dan bauxiet (biji oksida-aluminium).

4. Filtrasi
Digunakan untuk memindahkan endapan lilin dari lilin yang
mengandung destilat. Filtrasi dengan tanah liat digunakan untuk decolorisasi
fraksi.

5. Kristalisasi
Sebelum di filtrasi lilin harus dikristalisasi untuk menyesuaikan ukuran
kristal dengan cooling dan stirring. Lilin yang tidak diinginkan dipindahkan
dan menjadi lilin mikrokristalin yang diperdagangkan.

6. Ekstraksi
Pengerjaan ini didasarkan pada pembagian dari suatu bahan tertentu
dalam dua bagian yang mempunyai sifat dapat larut yang berbeda.

b. Proses Konversi (conversion processes)


Hampir 70% dari minyak mentah di proses secara konversi di USA,
mekanisme yang terjadi berupa pembentukan "ion karbonium" dan "radikal
bebas". Dibawah ini ada beberapa contoh reaksi konversi dasar yang penting:

1. Cracking atau Pyrolisis


Cracking atau pyirolisis merupakan proses pemecahan molekul-molekul
hidrokarbon besar menjadi molekul-molekul yang lebih kecil dengan adanya
pemanasan atau katalis. Minyak gas berat gasolin gasalin (anti knock) recycle
stock. Dengan adanya pemanasan yang cukup dan katalis maka hidrokarbon
parafin akan pecah menjadi dua atau lebih fragmen dan salah satunya berupa
olefin. Semua reaksi cracking adalah endotermik dan melibatkan energi yang
tinggi. Proses cracking meliputi:

* Proses cracking thermis murni


Proses ini merupakan proses pemecahan molekul-molekul besar
dari zat hidrokarbon yang dilakukan pada suhu tinggi yang bekerja pada
bahan awal selama waktu tertentu. Pada pelaksanaannya tidak mungkin
mengatur produk yang dihasilkan pada suatu proses crackingi, biasanya
selain menghasilkan bensin (gasoline) juga mengandung molekul-molekul
yang lebih kecil (gas) dan molekul-molekul yang lebih besar (memiliki
titik didih yang lebih tinggi dari bensin). Proses cracking dilakukan untuk
menghasilkan fraksi-fraksi bensin yang berat yaitu yang mempunyai
bilangan oktan yang buruk karena umunya bilangan oktan itu meningkat
jika titik didihnya turun. Maka pada cracking bensin berat akan diperoleh
suatu perbaikan dalam kualitas bahan pembakarnya yang disebabkan oleh
2 hal, yaitu:
- Penurunan titik didih rata-rata
- Terbentuknya alken
Oleh karena itu bilangan oktan dapat meningkat dengan sangat tinggi,
misalnya dari 45-50 hingga 75-80.

* Proses cracking thermis dengan katalisator


Dengan adanya katalisator maka reaksi cracking dapat terjadi pada
suhu yang lebih rendah. Keuntungan dari proses thermis-katalisator
adalah:
- Perbandingan antara bensin terhadap gas adalah sangat baik karena
disebabkan oleh pendeknya waktu cracking pada suhu yang lebih
rendah.
- Bensin yang dihasilkan menunjukkan angka oktan yang lebih baik.

Dengan adanya katalisator dapat terjadi proses isomerisasi, dimana


alkenaalkena dengan rantai luru dirubah menjadi hidrokarbon bercabang,
selanjtnya terjadi aromatik-aromatik dalam fraksi bensin yang lebih tinggi
yang juga dapat mempengaruhi bilangan oktan.
* Proses cracking dengan chlorida-aluminium (AlCl3) yang bebas air
Bila minyak dengan kadar aromatik rendah dipanaskan dengan
AlCl3 bebas air pada suhu 180-2000C maka akan terbentuk bensin dalam
keadaan dan waktu tertentu. Bahan yang tidak mengandung aromatik
(misalnya parafin murni) dengan 2 atau 5% AlCl3 dapat merubah sebagian
besar (90%) dari bahan itu menjadi bensin, bagian lain akan ditingga/
sebagai arang dalam ketel. Anehnya pada proses ini bensin yang
dihasilkan tidak mengandung alkena-alkena tetapi masih memiliki
bilangan oktan yang lumayan, hal ini mungkin disebabkan kerena
sebagian besar alkena bercabang. Kerugian dari proses ini adalah :

- Mahal karena AlCl3 yang dipakai akan menyublim dan mengurai.


- Bahan-bahan yang dapat dikerjakan terbatas.
- Pada saat reaksi berlangsung, banyak sekali gas asam garam maka harus
memakai alat-alat yang tahan korosi.

2. Polimerisasi
Terbentuknya polimer antara ikatan molekul yang sama yaitu ikatan
bersama dari light gasoline. Proses polimerisasi merubah produk samping gas
hirokarbon yang dihasilkan pada cracking menjadi hidrokarbok liquid yang
bisa digunakan sebagai:

- Bahan bakar motor dan penerbangan yang memiliki bilangan oktan yang
tinggi.
- Bahan baku petrokimia.

Bahan dasar utama dalam proses polimerisasi adalah olefin (hidrokarbon tidak
jenuh) yang diperoleh dari cracking still. Contohnya: Propilen, n-butilen,
isobutilen.

3. Alkilasi
Proses alkilasi merupakan proses penggabungan olefin dari aromat atau
hidrokarbon parafin. Proses alkilasi adalah eksotermik dan pada dasarnya sama
dengan polimerisasi, hanya berbeda pada bagian-bagian dari charging stock
need be unsaturated. Sebagai hasilnya adalah produk alkilat yang tidak
mengandung olefin dan memiliki bilangan oktan yang tinggi. Metode ini
didasarkan pada reaktifitas dari karbon tersier dari isobutan dengan olefin,
seperti propilen, butilen dan amilen.

4. Hidrogenasi
Proses ini adalah penambahan hidrogen pada olefin. Katalis hidrogen
adalah logam yang dipilih tergantung pada senyawa yang akan di reduksi dan
pada kondisi hidrogenasi, misalnya Pt, Pd, Ni, dan Cu. Disamping untuk
menjenuhkan ikatan ganda, hidrogenasi dapat digunakan untuk mengeliminasi
elemen-elemen lain dari molekul, elemen ini termasuk oksigen, nitrogen,
halogen dan sulfur.
5. Hydrocracking
Proses hydrocracking merupakan penambahan hidrogen pada proses
cracking.

6. Isomerisasi
Proses isomerisasi merubah struktur dari atom dalam molekul tanpa
adanya perubahan nomor atom. Proses ini menjadi penting karena dapat
menghasilkan iso-butana yang dibutuhkan untuk membuat alkilat sebagai dasar
gasoline penerbangan.

7. Reforming atau Aromatisasi


Reforming merupakan proses konversi dari naptha untuk memperoleh
produk yang memiliki bilangan oktan yang tinggi, dalam proses ini biasanya
menggunakan katalis rhenium, platinum dan chromium.

D. Bensin dan Bilangan Oktan

Bilangan oktan adalah angka yang menunjukkan seberapa besar tekanan yang
bisa diberikan sebelum bensin terbakar secara spontan. Di dalam mesin, campuran
udara dan bensin (dalam bentuk gas) ditekan oleh piston sampai dengan volume yang
sangat kecil dan kemudian dibakar oleh percikan api yang dihasilkan busi. Karena
besarnya tekanan ini, campuran udara dan bensin juga bisa terbakar secara spontan
sebelum percikan api dari busi keluar. Jika campuran gas ini terbakar karena tekanan
yang tinggi (dan bukan karena percikan api dari busi), maka akan terjadi knocking
atau ketukan di dalam mesin. Knocking ini akan menyebabkan mesin cepat rusak,
sehingga sebisa mungkin harus kita hindari. Untuk mencegah hal tersebut maka
diberikan kandungan isooktan pada bensin. Bilangan oktan bensin juga dapat
ditingkatkan dengan menambah zat adiktif antiketukan, seperti Tetraethyllead (TEL),
Methyl Tertier Butyl Ether (MTBE) dan Etanol.

E. Kegunaan Minyak Bumi dan Residunya

Kegunaan minyak bumi ada banyak antara lain :

1. Bahan bakar gas, terdapat 2 jenis gas alam dalam bentuk cair yang dapat
digunakan sebagai bahan bakar, yaitu :
a. Liquified Natural Gas (LNG), bahan ini dikenal sebagai gas rawa
yang terdiri atas 90% metana dan 10% etana.
b. Liquified Petroleum Gas (LPG), sehari-hari kita mengenal gas ini
sebagai gas elpiji yang memiliki komponen utama propana
(C3H8) dan butana (C4H10).
2. Pelarut dalam industri. Contohnya, petroleum eter.
3. Bahan bakar bermotor. Contohnya bensin dan solar.
4. Bahan bakar rumah tangga dan bahan baku pembuatan bensin. Contohnya,
kerosin atau minyak tanah.
5. Minyak pelumas. Digunakan untuk pelumasan atau lubrikasi mesin-mesin.

Residu minyak bumi yang terdiri atas parafin ( untuk pembuatan obat-obatan,
kosmetik dan lilin) dan aspal (digunakan sebagai pengeras jalan raya). Residu
minyak bumi juga digunakan sebagai bahan dasar industri petrokimia. Residu
minyak bumi yang berupa senyawa alkana rantai panjang diuraikan menjadi
senyawa alkena, yaitu etena atau butadiena.

F. Dampak Pembakaran Bahan Bakar

Minyak bumi merupakan campuran senyawa hidrokarbon sehingga


pembakarannya akan menghasilkan oksida karbon (CO dan CO2) dan uap air.
Hasil pembakaran tersebut biasa dihasilkan dari asap kendaraan bermotor, asap
industri, pembakaran batubara dan sebagainya. Kerugian yang diderita dari gas
tersebut adalah sesak nafas, batuk-batuk, pingsan, kerusakan pada sistem
pernafasan bahkan ada yang sampai menyebabkan kematian. Contoh beberapa
berbahaya yang ada di lingkungan sekitar, gas karbon dioksida (CO2), gas karbon
monoksida (CO), oksida belerang (SO2 dan SO3) dan oksida nitrogen (NO, NO2
dan NH3 yaitu amonia). Selain berupa gas ada juga berupa cairan yang sering
disebut partikulat. Partikulat padat disebut asap dan yang cair disebut kabut.

Kimia dalam Kehidupan Sehari-hari


A. Komposisi Senyawa Kimia dalam Pangan

Dalam makanan yang kita makan sehari-hari mengandung unsur-unsur yang


sangat diperlukan oleh tubuh kita. Unsur tersebut antara lain :

a. Karbohidrat
Beras, jagung, singkong, gandum ataupun ubi jalar ternyata banyak
mengandung karbohidrat yang diperlukan tubuh dalam menghasilkan
energi. Karbohidrat merupakan senyawa makromolekul (polimer) alam
yang disebut polisakarida. Karbohidrat yang dicerna dengan enzim akan
menghasilkan molekul sederhana yaitu glukosa. Jika jumlah glukosa
dalam tubuh berlebihan, maka glukosa yang lebih tersebut akan diubah
menjadi glikogen dan disimpan sebagai cadangan makanan. Glukosa yang
berlebih itupun dapat diubah menjadi lemak dan disimpan di dalam
jaringan adipose (jaringan lemak).

b. Protein
Daging sapi, telur, ikan, ayam dan kacang-kacangan banyak
mengandung protein. Protein merupakan bahan makanan yang utama yang
berfungsi sebagai pembentukan atau pertumbuhan sel. Di dalam tubuh
protein terurai oleh enzim yang akan menghasilkan asam amino. Asam
amino dibagi menjadi 2 jenis yaitu asam amino esensial dan non-esensial.
Asam amino esensial yaitu asam amino yang harus ada dalam makanan
karena tubuh tidak dapat menghasilkannya sendiri. Asam amino non-
esensial adalah asam amino yang mampu dihasilkan oleh tubuh.

c. Lemak
Lemak atau minyak merupakan senyawa kimia yang sama, tetapi
berbeda wujudnya. Lemak umumnya berasal dari hewan (kecuali lemak
coklat) dan berwujud padat. Adapun lemak yang berasal dari tumbuhan
(kecuali minyak ikan) dan berwujud cair. Lemak merupakan bahan pangan
yang memiliki nilai kalori yang amat besar.

d. Vitamin
Vitamin merupakan senyawa kimia organik yang diperlukan dalam jumlah
kecil tetapi harus ada dalam makanan. Vitamin berperan dalam reaksi
metabolisme sel, melangsungkan pertumbuhan normal dan memlihara
kesehatan. Ada 2 jenis vitamin yaitu vitamin yang larut dalam air
(vitamin B dan C) dan vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E
dan K).

e. Mineral
Mineral berperan dalam mengatur keseimbangan asam-basa,
mengatur tekanan osmotik, membantu transportasi beberapa senyawa yang
diperlukan tubuh dan dalam proses pertumbuhan. Ditinjau dari jumlah
yang diperlukan tubuh oleh tubuh, maka mineral dapat dikelompokkan
menjadi makronutrien dan mikronutrien.

f. Serat
Serat makanan atau dietary fiber merupakan bagian dari sel
tanaman yang kita makan, tetapi tidak dapat dicerna oleh enzim. Serat
dalam makanan berperan dalam menurunkan kolesterol dan memudahkan
membuang air besar karena tinja menjadi lembek. Sumber serat utama
adalah sayuran dan buah-buahan.

g. Air
Air merupakan kebutuhan penting bagi tubuh. Kebutuhan akan air
mencegah terjadinya dehidrasi yang menyebabkan kematian manusia.
Kebutuhan air bagi manusia dewasa rata-rata sebanyak 1,5 liter per hari.
Air berperan dalam mempertahankan konsentrasi ion, hidrogen,
konsentrasi elektrolit, tekanan osmotik, suhu, dan keseimbangan lain
dalam tubuh. Kehilangan 20% air dalam tubuh, misalnya karena diare
akan dapat menyebabkan kematian.

B. Komposisi Senyawa Kimia dalam Bahan Sandang

Pakaian yang kita kenakan setiap hari dibuat dari bahan serat. Serat
pakaian dapat digolongkan menjadi serat alam (kapas dari tumbuhan, sutra dan
wol dari hewan), serat semisintetis (rayon) dan serat sintetis (poliamida dan
poliester).

1. Serat Alam

a. Kapas
Kapas berupa bulu atau serat yang diperoleh dari buah pohon
Kapas yang panjangnya sekitar 2-5 cm. Kain katun merupakan kain dari
serat kapas. Kapas bersifat empuk, dapat sebagai isolator panas dan
hrganya murah.
b. Sutra
Serat sutra diperoleh dari filamen (benang) kepompong ulat sutra.
Kulit kepompong adalah kulit yang teridir dari filamen. Panjang filamen
dari setiap kepompong adalah 1.000-1.400 m.
c. Wol
Wol merupakan serat protein yang mengandung kretinin, diperoleh
dari bulu domba. Serat wol yang panjang cenderung kasar, sedangkan
yang pendek cenderung halus. Wol lembut, tetapi kuat dan tahan
terhadap kotor, serta tidak mudah sobek. Kekurangan wol adalah
mengerut karena panas, tekanan dan lembap, juga akan menarik ngengat.
2. Serat Semisintetis

a. Rayon
Rayon merupakan contoh serat semisintetis karena dibuat dengan
proses kimia dengan bahan dasar alam yaitu serat selulosa. Serat selulosa
diperoleh dari kayu yang dihancurkan.

3. Serat Sintetis

a. Serat Poliamida
Sejarah pembuatan serat sintetis dimulai dengan dibuatnya Nilon.
Nilon merupakan serat sintetis hasil reaksi antara molekul senyawa
diamin dan asam dikarbosilat. Serat ini memiliki massa jenis kecil
(ringan), koefisien gesek tinggi, kekuatan tekuk dan simpul tinggi serta
sifat permanen.
b. Serat Poliester
Serat poliester sintetis yang banyak dipergunakan adalah polyethylene
terephthalate (PET) yang dibuat dari reaksi asam tereftalat dengan etilen
glikol. Serat poliester memiliki elastisitas yang tinggi dan stabilitas
dimensinya baik sehingga cocok untuk bahan pakaian.

C. Komposisi Senyawa Kimia dalam Bahan Bangunan

Rumah yang kita tempati tidak terlepas dari bahan kimia seperti kayu,
semen, cat dan pralon untuk pipa air. Kayu yang kita pergunakan dalam
pembuatan rumah baik prabotannya seperti meja, kursi dan interior rumah. Semua
kayu tersebut mengandung glukosa. Selain kayu, semen juga mengandung
senyawa kimia anorganik seperti, kalsium oksida (CaO), silikon dioksida (SiO2),
aluminium oksida (Al2O3) dan besi(III) oksida (Fe2O3). Yang paling terlihat pada
rumah adalah catnya. Cat tersebut juga merupakan zat kimia yang mempunyai
daya lekat yang kuat. Selain cat tembok ada juga cat besi yang digunakan untuk
melapisi besi yang bertujuan untuk memperindah dan melindungi besi dari karat.
Bagian rumah yang tidak terlepas adalah kaca. Kaca merupakan isolator
yang efektif. Kaca dipasang di jendela. Sifat kaca yang transparan disebabkan
oleh kimia yang terkandung didalamnya. Selain kaca, pipa pralon pasti terdapat di
setiap rumah. Pipa ini merupakan senyawa polimer polivinil klorida yang
disingkat PVC.

D. kimia yang Berkaitan dengan Perdagangan

Dalam perdagangan sehari-hari juga tidak terlepas dari kimia seperti


bahan logam, bahan polimer dan bahan kimia. Pada logam yang sering kita temui
adalah besi. Besi mentah dibuat dari bijih besi yaitu hematit (Fe2O3). Penggunaan
besi sangat banyak antara lain pembuatan jembatan, rekonstruksi bangunan
ataupun badan kendaraan. Selain Besi ada juga aluminium atau logam anti karat.
Aluminium mengandung senyawa yaitu aluminium oksida (Al2O3). Aluminium
banyak digunakan dalam pembuatan prabot rumah tangga.
Bahan polimer yang paling banyak kita temui adalah plastik. Plastik
digunakan untuk membungkus, alat dapur, isolator kabel listrik dan pipa. Lalu
selanjutnya, yang paling dekat adalah bahan kimia. Banyak sekali bahan kimia
yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya bidang industri.
Misalnya, asam sulfat, amonia dan asam klorida. Asam sulfat dibuat dari belerang
sedangkan amonia dibuat dari nitrogen.

E. Kimia yang Berkaitan dengan Seni dan Estetika

Seni dan estetika berkaitan dengan keindahan, seperti lukisan dan tata rias.
Bahan kimia yang dipergunakan dalam bidang seni dan estetika antara lain kertas,
kanvas, cat dan sabun.
1. Kertas
Kertas merupakan bahan polimer selulosa yang dibuat dari kayu.
Kayu dibuat menjadi bubur sehingga membentuk bubur kayu yang
disebut pulp. Untuk mendapatkan kertas yang berwarna putih maka
ditambahkan bubuk pemutih klor.
2. Kain Kanvas
Kain yang berkaitan dengan sandang dapat dibuat dari bahan
tumbuhan (katun), hewan (sutra,wol) atau sintetis (bahan poliamida
atau poliester). Adapun kain kanvas yang mempunyai serat yang kasar,
terbuat dari bahan serat tumbuhan yang diperoleh dari serat kulit
pohon atau bisa juga berasal dari batang pohon, tangkai ataupun daun.
3. Cat
Penggunaan cat pada lukisan sama seperti cat untuk kebutuhan
papan, hanya biasanya cat minyak atau cat air tidak diencerkan. Cat
mengandung senyawa makromolekul PVAC (Poly Vinyl Acrylic) dan
lateks (getah karet). Getah karet tersusun atas monomer isoprena
sehingga makromolekulnya adalah poliisoprena.
4. Sabun dan Detergen
Sabun dan detergen merupakan bahan pembersih yang penggunaannya
untuk mencuci alat dapur, mandi, mencuci tangan dan sampo. Sabun
memiliki bahan yang berbeda dengan detergen dibuat dari bahan kimia
yaitu senyawa ABS (alkil benzensulfonat). Kelemahan detergen adalah
sukar terurai oleh mikroorganisme sehingga detergen dapat mencemari
lingkungan.