Anda di halaman 1dari 56

PRAKTIKUM 1.

STRUKTUR BENIH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Benih merupakan salah satu alat reproduksi generatif tanaman yang memiliki suatu
organisasi yang teratur rapi, mempunyai persediaan bahan makanan yang cukup untuk
melindungi serta memperpanjang kehidupannya. Benih sering disamaartikan dengan biji, namun
terdapat perbedaan yang mendasar antara kedua istilah tersebut, yakni fungsinya. Benih
berfungsi sebagai alat perbanyakan generatif, sedangkan biji berfungsi sebagai bahan makanan.
Dalam kingdom plantae terdapat dua kelas tumbuhan berbiji yaitu Angiospermae dan
Gymnospermae. Angiospermae terdiri dari dua sub kelas yaitu Monokotiledon dan Dikotiledon.
Terdapat banyak perbedaan antara tanaman yang tergolong subkelas Monokotiledon dan
Dikotiledon, diantaranya adalah perbedaan pada struktur dan morfologi benih kedua subkelas
tanaman tersebut. Pengetahuan tentang struktur benih masing-masing subkelas tanaman tersebut
akan memberikan pemahaman yang baik tentang perbedaan kedua struktur benih tersebut.
Benih secara garis besar terdiri dari 3 bagian penting yakni :
1) Kulit Biji
• Umumnya kulit biji berasal dari integumentum/ovule yang mengalami modifikasi
selama proses pembentukan biji berlangsung
• Biasanya kulit luar biji keras dan kuat berwarna kecoklatan sedangkan bagian dalam
tipis berselaput.
• Kulit biji berfungsi melindungi biji dari kekeringan, kerusakan mekanis, serangan
cendawan dan insekta.
2) Embryo
Embryo adalah suatu tanaman baru yang terjadidari bersatunya gamet-gamet jantan dan
betina pada suatu proses pembuahan. Embryo yang perkembangannya sempurna akan
teriri dari struktur-struktur, calon pucuk, calon akar, cadangan makanan dsb.

1
3) Jaringan Penyimpan Cadangan Makanan
Pada biji ada beberapa struktur yang dapat berfungsi sebagai jaringan penyimpan
cadangan makanan, yaitu : Kotiledon (kelas dikotiledoneae), Endosperm (kelas
monokotiledoneae), Perisperm (fam. Chenopodiaceae dan Caryophyllaceae), Scutellum
(grasses/rumput-rumputan)

1.2. Tujuan
Untuk mengetahui / melihat :
− Kulit biji, embryo dan cadanga

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Batasan Pengertian Benih


Benih sering disamaartikan dengan biji, namun terdapat perbedaan yang mendasar antara
kedua istilah tersebut, yakni fungsinya. Benih berfungsi sebagai alat perbanyakan generatif,
sedangkan biji berfungsi sebagai bahan makanan. Dalam batasan struktural, benih sama dengan
buah tetapi dalam batasan fungsional tidak sama dengan biji (Sjamsoe’oed Saudjad, 1993).
Biji bukan objek pasca panen karena benih merupakan komoditi pertanian yang proses produksi
dan persiapan sejak benih sumber yang ditanamharus jelas identitas genetiknya sampai
menghasilkan benih bermutu sesuai analisis benih ditangan konsumen benih (Wahyu Qamara
Munisjah, dkk, 1991) .
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No.12 tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Pertanian Bab I ketentuan umum pasal 1 ayat 4 disebutkan bahwa benih tanaman yang
selanjutnya disebut benih, adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak
dan atau mengembangbiakkan tanaman. Dalam buku lain tertulis benih disini dimaksudkan
sebagai biji tanaman yang dipergunakan untuk tujuan pertanaman (Sutopo, 2004). Namun bila
kita telaah makna benih yang terkandung dalam UU RI No.12 th. 1992, yang termasuk ke dalam
pengertian benih bukan hanya biji, namun bagian tanaman lain yang dapat digunakan
perbanyakan tanaman secara generatif maupun vegetatif seperti stek batang, daun, akar, dan lain
sebagainya. Sehingga dalam hal ini perlu adanya batasan mengenai benih yang dimaksud pada
praktikum kali ini, yang lebih mengacu pada biji sebagai benih.
Biji adalah ovule yang dewasa.Terbentuk satu atau lebih di dalam satu ovari pada
legume,tapi tidak pernah lebih dari satu biji terbentuk dalam ovari pada monokotil.Setiap biji
matang selalu terdiri paling kurang dua bagian,yaitu: (1).Embryo,(2).Kulit biji (Seed coat atau
testa).Embryo terbentuk atau berasal dari telur yang dibuahi (zygote) dengan mengalami
pembelahan sel di dalam embryo sac. Kulit biji terbentuk dari integumen (satu atau lebih) dari
ovule.Pada legume umumnya terdapat dua lapis kulit biji.Lapisan sebelah dalam tipis dan

3
lunak,sedangkan lapisan sebelah luar tebal dan keras fungsinya sebagai lapisan proteksi terhadap
suhu,penyakit dan sentuhan mekanis.
Setiap biji yang sangat muda dan sedang tumbuh, selalu terdri atas tiga bagian yaitu: (1)
Embryo,(2) Kulit buji (seed coat),(3) Endosperm.Endosperm yaitu suatu jaringan penyimpanan
makanan cadangan (storage tissue) yang mana diserap oleh embryo sebelum atau selama
perkecambahan biji dan selalu terdapat di dalam biji yang sangat muda.Hubungan dalam struktur
reproduktif dari fase bunga sampai menjadi buah atau biji masak yaitu: Ovule menjadi biji, ovari
menjadi buah, ovari wall menjadi pericarp (2n), nucellus menjadi perisperm (2n), integument
menjadi testa atau seed coat, 2 polar nuclei + sperm nucleus menjadi endosperm (3n), Egg
nucleus + sperm nucleus menjadi zigote-embryo (2n),embryo sac akan lenyap, micropyl menjadi
micropyle, funiculus menjadi hilum, funiculus + integumen menjadi raphae.
Biji dapat memiliki fungsi ganda, sebagai bahan konsumsi dan sebagai bahan tanaman.
Secara fungsional dalam memenuhi kepentingan budidaya. Tanaman biji itu tidak sama dengan
benih. Biji tumbuhan kalau dipelihara dan ditangani untuk tujuan budidaya, maka biji berfungsi
sebagai benih dalam batasan.

4
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Tempat dan Waktu


Praktikum ini dilaksanakan di kebun percobaan Pegok, Fakultas Pertanian, Universitas
Udayana. Pada hari Sabtu, 21 Desember 2009. Pukul 08.00 WITA

3.2. Alat dan Bahan


Bahan yang digunakan adalah biji jagung, biji kedelai, biji kacang tanah dan kacang
hijau, air untuk merendam biji. Sedangkan peralatan yang digunakan adalah pisau singlet
untuk membelah dan peralatan sederhana untuk merendam biji.

3.3. Cara kerja


1. Siapkan beberapa benih contoh seperti jagung, kacang tanah, kedelai dan kacang
hijau.
2. Bagi masing-masing contoh benih menjadi dua bagian, satu bagian direndam
dengan air biasa selama 24 jam dan satu bagian kering.
3. Pada benih kering, amati dan gambar :
a. Bentuk benih (amati dan gambar bentuk benih utuh)
b. Kulit benih
Warna, kilapan permukaan, tekstur kulit benih (licin/kasar/berbulu.bertugi)
c. Aroma,(Berbau sedap, berbau tidak sedap, tidak berbau).
d. Hilum
1) Bentuk hilum (gambar) : lonjong/bulat/segitiga/dll)
2) Warna hilum : kuning/coklat muda/hijau/hitam/abu-abu/merah/dll)
3) Lokasi hilum : dibawah/ditengah/dll
4) Posisi hilum : rata/menjorok/menonjol.
4. Belah benih yang telah direndam, amati dan gambar bagian-bagiannya sebagai
berikut :

5
a. Embryo seperti :
1) Monokotil : koleoptil, plumule, radikal, koleoriza
2) Dikotil : plumule, radikel, hypokotil, epikotil.
b. Cadangan makanan :
1) Monokotil : endosperm, scutellum
2) Dikotil : kotiledon

6
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Hasil praktikum terlampir.
4.2 Pembahasan
Dari hasil praktikum, terlihat bahwa terdapat perbedaan struktur benih antara benih
monokotil dengan benih dikotil. Sampel subkelas monokotil pada praktikum kali ini adalah
benih jagung, dimana terlihat morfologi jagung yang memiliki bentuk hilum yang lonjong dan
berlokasi di bagian pangkal biji dan posisinya menonjol. Selain itu terlihat perbedaan warna yang
membedakan antara embrio, endosperm, dan epicarp benih jagung, ketika benih jagung dibelah.
Sedangkan sampel subkelas dikotil adalah benih kedelai, dimana bentuk hilumnya bulat lonjong,
lokasi ditepi dan posisinya menjorok.
Pada benih yang dilakukan perendaman, dilakukan pengamatan pada biji jagung, kacang
tanah, dan kacang hijau. Setelah direndam, benih dibelah dan diamati bagian-bagiannya.
Perendaman bertujuan untuk mempermudah dilakukannya pembelahan pada benih kacang tanah
dan kacang hijau. Pada benih jagung terlihat endosperma, embrio dan posisi hilum. Pada benih
kacang tanah terlihat jelas selaput benih, plumula yang menjadi bakal daun serta radikula yang
menjadi bakal akar, yang paling luas bentuknya adalah kotiledon. Sedangkan pada kacang hijau
yang telah dibelah terlihat jelas hipokotil, epikotil, selaput benih dan kotiledon.

7
BAB V
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, maka dapat disimpulkan:
− Terdapat perbedaan antara struktur benih tanaman dikotil dan tanaman monokotil.
Yang pada praktikum kali ini menggunakan sampel tanaman jagung untuk tanaman
monokotil dan kedelai, kacang tanah dan kacang hijau untuk tanaman dikotil.
− Terdapat bagian-bagian calon/bakal tanaman di dalam benih, baik benih monokotil
maupun dikotil, dimana terdapat pula endosperm yang mendukung kelangsungan
embrio sebagai cadangan makanannya.
− Perendaman benih dapat membantu mempermudah membelah benih dan melihat
bagian dalam isi benih terutama bagian radikal, plumula dan endosperm.

4.2. Saran
Untuk mengetahui kualitas suatu benih, perlu diperhatikan terlebih dahulu morfologinya,
karena dari morfologi terlihat jelas bentuk benih tersebut itu baik atau tidak serta bagian-
bagiannya lengkap atau tidak, terutama kulit biji, embrio dan cadangan makanannya. Struktur
benih yang bagus dan memiliki bagian-bagian yang penting dapat mewakili kelompok benih
yang akan diteliti.

8
DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun. 2009. Penuntun Praktikum Teknologi Benih. Jurusan Budidaya, Fakultas
Pertanian. Universitas Udayana. Denpasar.
Garden Decorations. 2004. Struktur biji. http://www.ramadhan.20m.com/whats_new.html.
Diakses 28 Desember 2009.
Anonim. 2009. Pengertian Benih.

9
PRAKTIKUM 2. PENGUJIAN KEMURNIAN BENIH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pengujian mutu benih, yang meliputi pengujian mutu fisik, genetis dan fisiologis,
merupakan metode untuk menentukan nilai pertanaman di lapangan. Dimana pengujian masing-
masing standar mutu kualitas benih memiliki standar tolak ukur yang berbeda-beda. Oleh karena
itu, komponen-komponen mutu benih yang menunjukan korelasi dengan nilai pertanaman benih
di lapang harus dievaluasi dalam pengujian. Dalam pengujian benih mengacu dari ISTA, dan
beberapa penyesuaian telah diambil untuk mempertimbangkan kebutuhan khusus (ukuran,
struktur, pola perkecambahan) jenis-jenis yang dibahas di dalam petunjuk ini. Beberapa
penyesuaian juga telah dibuat untuk menyederhanakan prosedur pengujian benih. Pengujian
benih, salah satunya adalah pengujian mutu fisik benih. Pengujian mutu fisik benih dapat
dilakukan melalui analisis kemurnian benih. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan
sampel yang mewakili lot benih yang kemudian dipisahkan antara kotoran dan benih tanaman
lain untuk dihitung persentasenya dan dapat dihitung persentase kemurnian benihnya.
Benih murni merupakan salah satu komponen dalam pengujian benih sangat penting
dalam menghasilkan benih yang berkualitas tinggi. Pada pengujian daya berkecambah, benih
yang diuji diambil dari fraksi benih murni. Benih murni yang merupakan salah satu komponen
dalam pengujian benih, sangat penting dalam menghasilkan benih yang berkualitas tinggi. Pada
pengujian daya berkecambah, benih yang diuji diambil dari fraksi benih murni. Dengan demikian
hasil pengujian kemurnian benih dan daya kecambah benih mempengaruhi nilai benih untuk
tujuan pertanaman. Pengujian kemurnian digunakan untuk mengetahui komposisi contoh kerja,
kemurnian, dan identitasnya yang akan mencerminkan komposisi lot benih yang didasarkan pada
berat komponen pengujian. Dalam pengujian kemurnian contoh kerja kemurnian dipisahkan
menjadi benih murni, biji tanaman lain, dan kotoron (ISTA).

10
Penentuan kemurnian dilakukan untuk mengetahui komposisi contoh benih yang diuji,
yang mencerminkan komposisi kelompok benih yang diwakilinya. Contoh kerja dipisah-
pisahkan ke dalam komponen benih murni, benih tanaman lain dan kotoran fisik lainnya.
Kemurnian ditentukan berdasarkan persentase berat masing-masing komponen terhadap berat
awal contoh kerja.
Pemurnian benih bertujuan :
1) membuang benih spesies lain yang berbeda dengan spesies yang diproduksi dan
bahan-bahan pengotor.
2) memilih benih murni dari beni-benih yang kecil, berwarna tidak normal,dan
benih-benih yang tidak sehat lainnya. Pemurnian benih tidak dapat dilakukan
dengan sembarangan karena masing-masing kelompok benih mempunyai masalah
yang harus dianalisis dan dipecahkan dengan menggunakan perangkat mesin
dengan cara yang benar.Untuk benih yang sedikit pengayakan dapat dilakukan
tetapi pada benih yang banyak harus dilakukan dengan mesin penampi. Ketika
dibersihkan , benih dipisahkan dari kontaminan, tanah ,debu, dan sekam dan
benih yang inferior (diluar ukuran lazim,keriput, retak-retak,dan berpenyakit).

1.2. Tujuan
− Untuk mengetahui komposisi contoh kerja, kemurnian dan identitasnya yang akan
mencerminkan komposisi lot benih yang didasarkan pada berat komponen pengujian.
− Contoh kerja dipisahkan menjadi :
• Benih murni
• Biji tanaman lain
• Kotoran.

11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kemurnian benih adalah tingkatan kebersihan benih dari materi-materi non


benih/serasah, atau benih varietas lain yang tidak diharapkan. Biasanya kemurnian benih
dinyatakan dalam persentase (%). Pengujian kemurnian benih adalah pengujian yang dilakukan
dengan memisahkan tiga komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih yang
selanjutnya dihitung presentase dari ketiga komponen benih tersebut. Tujuan analisis kemurnian
adalah untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh benih yang
mewakili lot benih. Untuk analisis kemurnian benih, maka contoh uji dipisahkan menjadi 3
komponen sebagai berikut :
a. Benih murni, adalah segala macam biji-bijian yang merupakan jenis/ spesies yang sedang
diuji. Yang termasuk benihmurni diantaranya adalah :
− Benih masak utuh
− Benih yang berukuran kecil, mengkerut, tidak masak
− Benih yang telah berkecambah sebelum diuji
− Pecahan/ potongan benih yang berukuran lebih dari separuh benih yang sesungguhnya,
asalkan dapat dipastikan bahwa pecahan benih tersebut termasuk kedalam spesies yang
dimaksud
− Biji yang terserang penyakit dan bentuknya masih dapat dikenali
b. Benih tanaman lain, adalah jenis/ spesies lain yang ikut tercampur dalam contoh dan
tidak dimaksudkan untuk diuji.
c. Kotoran benih, adalah benih dan bagian dari benih yang ikut terbawa dalam contoh. Yang
termasuk kedalam kotoran benih adalah:
− Benih dan bagian benih
− Benih tanpa kulit benih
− Benih yang terlihat bukan benih sejati
− Bijihampa tanpa lembaga pecahan benih ≤ 0,5 ukuran normal

12
− Cangkang benih, Kulit benih, Bahan lain, Sekam, pasir, partikel tanah, jerami, ranting,
daun, tangkai, dll.
Dalam pengambilan contoh kerja untuk kemurnian benih ada dua metode yang dapat
dilakukan, yaitu:
a. Secara duplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan dua kali.
b. Secara simplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan satu kali.
Skema pengujian analisis kemurnian benih

Dari skema diatas dapat diketuhi bahwa pengambilan contoh benih dapat dilakukan
secara simplo yaitu dengan melakukan pengambilan contoh kerja hanya satu kali, tetapi jika
secara duplo maka pengambilan contoh kerja dilakukan 2 kali setengah berat contoh kerja.
Setelah dilakukan pengabilan contoh kerja maka dilakukan penimbangan untuk mengetahui berat
awal benih sebelum dilakukan pengujian kemurnian. Tahap selanjutnya adalah analisis
kemurnian, setiap benih diidentifikasi satu persatu secara visual bedasarkan penampakan
morfologi. Semua benih tanaman lain dan kotoran benih dipisahkan. Setelah dilakukan analisis
kemudian dilakukan penimbangan pada setiap komponen tersebut.
Faktor kehilangan yang diperbolehkan ≤ 5%, jika terdapat kehilangan berat > 5% dari
berat contoh kerja awal, maka analisis diulang dengan menggunakan contoh kerja baru. Jika

13
faktor kehilangan ≤ 5% maka analisis kemurnian tersebut diteruskan dengan menghitung
presentase ketiga komponen tersebut.
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Tempat dan Waktu


Praktikum dilaksanakan pada hari Sabtu, 21 November 2009, pukul 08.00 WITA-
selesai. Bertempat dikebun Percobaan Pegok, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana.

3.2. Alat dan Bahan


Bahan yang digunakan sebagai penelitian adalah benih jagung dan benih kedelai yang
dibagi menjadi 2 lot. Siapkan alat tulis dan kertas, serta timbangan.

3.3. Cara kerja


1. Ambil contoh kerja dan timbang berat awal contoh tersebut.
2. Pisahkan komponen-komponen analisis kemurnian
• Benih murni
• Biji tanaman lain
• kotoran
3. Timbang masing-masing komponen hasil pemisahan dan timbang berat masing-
masing komponen tersebut.
4. Jumlahkan semua berat masing-masing komponen untuk mendapatkan berat total
setelah pengujian.
5. Jika selisih antara berat awal dengan berat setelah pengujian >6% maka pelaksanaan
percobaan diulang.
6. Hitung masing-masing komponen dengan menggunakan 1 angka desimal.
KRITERIA
a. Benih murni
Kacang-kacangan : benih utuh dengan selaput (coat) pecahan benih > ½ ukuran asli
dengan selaput melekat

14
Padi : meliputi spikelet, floret, jail (caryopsis) utuh, pecahan jali > ½ ukuran
asli, tidak termasuk bulu yang panjangnya lebih dari panjang spikelet
atau floret.
Jagung : jail utuh, pacahan jail >1/2 ukuran asli.
b. Biji tanaman lain
Semua biji yang tidak termasuk dalam spesies yang dimaksud (seharusnya <5%)
c. Kotoran
Semua materi yang terdapat didalam contoh kerja kemurnian akan tetapi tidak trmasuk
kedua komponen sebelumnya seperti : jerami, sekam, debu, tanah, pecahan benih yang
ukurannya kurang dari ½ ukuran benih asli.

RUMUS :

Benih murni(%) = x 100%

Biji tanaman lain (%) = x 100%

Kotoran (%) = x 100%

15
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
1. Untuk jagung
− Berat total akhir pengujian : 8,79 g
− Berat biji tanaman lain :0g
− Berat benih murni : 8,20 g
− Berat kotoran : 0,58 g
Perhitungan

Benih murni(%) = x 100%

= x 100% = 93,28%

Biji tanaman lain (%) = x 100%

= x 100% = 0%

Kotoran (%) = x 100%

= x 100% = 6,59%

2. Kedelai Lot A
− Berat total akhir pengujian : 17,44 g
− Berat biji tanaman lain :0g
− Berat benih murni : 16,40 g
− Berat kotoran : 1,02 g
Perhitungan

Benih murni(%) = x 100%

16
= x 100% = 94,04%

Biji tanaman lain (%) = x 100%

= x 100% = 0%

Kotoran (%) = x 100%

= x 100% = 5,84%

3. Kedelai Lot B
− Berat total akhir pengujian : 13,41 g
− Berat biji tanaman lain :0g
− Berat benih murni :12,07 g
− Berat kotoran : 1,34 g
Perhitungan :

Benih murni(%) = x 100%

= x 100% = 90%

Biji tanaman lain (%) = x 100%

= x 100% = 0%

Kotoran (%) = x 100%

= x 100% = 9,99%

4.2. Pembahasan
Dari data tersebut, sampel benih yang diambil rata-rata memiliki kemurnian 92%. Pada
benih jagung,kemurniannya mencapai 93,28% dan kotoran 6,59%. Pada biji kedelai Lot A
kemurniannya 94,04% dan kotoran mencapai 5,84%. Sedangkan pada kedelai Lot B,
kemurniannya hanya 90%, sedangkan kotorannya 9,99%. Ini berarti faKtor kehilangan benih
tidak lebih besar dari 5%, sehingga benih yang digunakan pada praktikum ini termasuk benih

17
yang bermutu fisik baik.. Namun dengan nilai yang kemurnian hanya 92%(rata-rata) benih
tersebut belum murni dan masih banyak mengandung kotoran.
Semakin baik mutu fisik benih, akan berpengaruh pada semakin baik mutu genetis dan
fisiologis. Sebab murni benih tersebut, maka daya kecambah dan campuran dari benih lain juga
sedikit, sehingga karakter benih terjaga dan tumbuh di lapangan dengan optimal.

18
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah :
− Tujuan analisis kemurnian adalah untuk menentukan komposisi benih murni, benih
lain dan kotoran dari contoh benih yang mewakili lot benih. Dengan mengetahui
kemurnian benih kita dapat menentukan mutu benih tersebut.
− Pada benih jagung didapat kemurnian benih 93,28%. Sedangkan pada kdelai Lot A
dan kedelai Lot B masing-masing kemurniannya adalah 94,04% dan 90%.
− Faktor kehilangan benih dalam pengujian ini lebih kecil dari 5%, sehingga pengujian
itu dapat dikatakan benih yang digunakan pada praktikum ini bermutu fisik baik.

5.2. Saran
Setiap benih yang akan digunakan untuk pembibitan tanaman, hendaknya dilakukan uji
kemurnian benih tersebut, untuk mengetahui mutu fisik benih tersebut. Karena hal ini sangat
berkaitan dengan mutu genetis dan fisiologis dari benih tersebut. Maka persentase
perkecambahan benih akan semakin tinggi dan sifat/karakter dari varietas tersebut terjaga
kemurniannya. Sehingga nantinya benih yang kita dapat untuk bahan pertanaman dapat tumbuh
dengan baik dan menghasilkan hasil yang maksimal.

19
DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun. 2009. Penuntun Praktikum Teknologi Benih. Jurusan Budidaya, Fakultas
Pertanian. Universitas Udayana. Denpasar.
Garden Decorations. 2004. Struktur biji. http://www.ramadhan.20m.com/whats_new.html.
Diakses 28 Desember 2009.
Kemurnian Benih. 2009. Pengujian Kemurnian Benih. www.google.com. Diakses 28 Desember
2009.

20
PRAKTIKUM 3. UJI DAYA KECAMBAH BENIH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Penentuan daya berkecambah merupakan salah satu cara untuk mengetahui mutu
fisiologis suatu. Hal ini disebabkan karena dengan mengetahui daya berkecambah maka kita
akan dapat menentukan persentase benih yang dapat tumbuh. Uji perkecambahan benih dapat
dilakukan di laboratorium dengan menggunakan germinator (alat pengecambah benih) dengan
media kertas dan metoda uji = UDK (Uji Di atas kertas), UAK (Uji Antar Kertas) dan UKDdp
(Uji Kertas digulung didirikan dalam plastik). Uji perkecambahan benih di rumah kaca
umumnya menggunakan media tanah halus, pasir halus, serbuk gergaji dan media lainnya, dapat
berupa campuran atau tidak dicampur. Media uji sebelum di proses akan mengalami perlakuan
sterilisasi, seperti pemanasan dalam oven temperatur 103 ± 2 ºC untuk media kertas, atau
dilakukan penggorengan untuk media pasir, tanah, serbuk gergaji dan media lainnya.
Perkecambahan merupakan proses metabolisme biji hingga dapat menghasilkan
pertumbuhan dari komponen kecambah (Plumula dan Radikula). Definisi perkecambahan adalah
jika sudah dapat dilihat atribut perkecambahannya, yaitu plumula dan radikula dan keduanya
tumbuh normal dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan ketentuan ISTA. Setiap biji yang
dikecambahkan ataupun yang diujikan tidak selalu persentase sama pertumbuhan kecambahnya.
Persentase perkecambahan adalah : Persentase kecambah normal yang dapat dihasilkan oleh
benih murni pada kondisi yang menguntungkan dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan.
Daya kecambah benih memberikan informasi kepada pemakai benih tentang viabilitas
dan vigor benih tersebut, yaitu benih dapat tumbuh normal menjadi tanaman yang berproduksi
wajar dalam kondisi biofisik lapangan yang mendukung. Parameter yang digunakan dapat berupa
persentase kecambah normal berdasarkan penilaian terhadap struktur tumbuh embrio yang
diamati langsung. Namun terdapat pula pengujian daya kecambah benih dengan memasukkan
perlakuan cekaman. Hal ini untuk mendapatkan vigor dari tanaman tersebut.

21
Pengujian pada kondisi lapangan biasanya tidak memuaskan karena hasilnya kurang
dapat dipercaya. Oleh karena itu metode labolatorium dikembangkan sedemikian rupa, dimana
beberapa atau seluruh kondisi luar / lapangan dapat dikendalikan dengan teratur. Sehingga
memberikan hasil perkecambahan yang lengkap dan cepat dari contoh benih yang dianalisa.
Metode perkecambahan dengan pengujian dilabolaotorium hanya menentukan persentase
perkecambahan total. Dan dibatasi pada pemunculan dan perkembangan struktur – struktur
penting dari embrio, yang menunjukan kemampuan untuk menjadi tanaman normal pada kondisi
lapangan yang oftimum. Sedangakan kecambah yang tidak menunjukan kemampuan tersebut
dinilai sebagai kecambah abnormal. Benih yang tidak dorman tetapi tidak tumbuh setelah
periode pengujian tertentu dinilai sebagai mati.
Agar hasil persentase perkecambahan yang didapat dengan metode uji daya kecambah
dilabolatorium mempunyai korelasi fositif dengan kenyatan nantinya dilapangan makan perlu
diperhatikan faktor – faktor berikut ini :
1. Kondisi lingkungan dilabolaotrium harus mengunutngkan bagi perkecambahan benih dan
terstandarisasi.
2. Pengamatan dan penilaian baru dilakukian pada saat kecambah mencapi suatu fase
perkembangan, dimana dapat dibedakan antara kecambah normal dan kecambah
abnormal.
3. Pertumbuhan dan perkembangan kecambah harus sedemikian sehingga dapat dinilai
mempunyai kemampuan tumbuh menjadai tanaman normal dan kuat pada keadaan yang
mengunguntungkan dilapangan.
4. Lama pengujian harus dalam jangka waktu yang telah ditentunkan.

1.2. Tujuan
• Untuk mengetahui daya berkecambah benih dengan berbagai metoda.
• Mengetahui kriteria kecambah normal dan abnormal

22
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Perkecambahan pada dasarnya adalah pertumbuhan embrio atau bibit tanaman, sebelum
berkecambah tanaman relatif kecil dan dorman. Perkecambahan ditandai dengan munculnya
radicle dan plumule. Biasanya radicle keluar dari kulit benih, terus ke bawah dan membentuk
sistem akar. Plumule muncul ke atas dan membentuk sistem tajuk. Pada tahap ini proses respirasi
mulai terjadi. Cadangan makanan yang tidak dapat dilarutkan diubah agar dapat dilarutkan,
hormon auxin terbentuk pada endosperm dan kotiledon. Hormon tersebut dipindah ke jaringan
meristem dan digunakan untuk pembentukan sel baru dan membebaskan energi kinetik (Edmond
et al., 1975).
Perkecambahan (germination) merupakan serangkaian peristiwa-peristiwa penting yang
terjadi sejak benih dorman sampai ke bibit yang sedang tumbuh – tergantung pada variabilitas
benih, kondisi lingkungan yang cocok dan pada beberapa tanaman tergantung pada usaha
pemecahan dormansi. Perkecambahan benih yang mengandung kulit biji yang tidak permeabel
dapat dirangsang dengan skarifikasi, yaitu pengubahan kulit biji untuk membuatnya menjadi
permeabel terhadap gas-gas dan air, dan Cara mekanik. (Harjadi, 1986).
Biji akan bekecambah setelah mengalami masa dorman yang disebabkan berbagai faktor
internal, seperti embrio masih berbentuk rudiment atau belum masak (dari segi fisiologis), kulit
biji yang tahan atau impermeabel, atau adanya penghambat tumbuh (Hidayat, 1995). Daya hidup
biji cukup tinggi. Persentase daya kecambahnya dalam 8 hari mencapai 80%, bila biji yang
dikecambahkan itu sebelumnya direndam dalam air panas (80o C) selama 2-3 menit. Persentase
ini dapat ditingkatkan lagi dengan melakukan pengocokan dengan air panas (Wawo, 1981).
Dormansi digambarkan sebagai peristiwa benih yang berkecambah, tidak akan
berkecambah walaupun faktor lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan
(Kuswanto,1996).

23
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Tempat dan Waktu


Praktikum ini dilaksanakan di kebun Percobaan pegok, Fakultas pertanian, Universitas
Udayana, Denpasar, pada hari Sabtu, 28 November 2009. Pukul 08.00 WITA-selesai.

3.2. Alat dan Bahan


Bahan yang digunakan adalah biji jagung, biji kedelai yang dibagi menjadi kedelai A
dan kedelai B. Air untuk merendam biji, kertas merang untuk tempat biji berkecambah,
dan plastic tipis transparan untuk menutup kertas yang digulung. Petridish untuk uji atas
kertas.

3.3. Cara kerja


1. METODE UDK (Uji Diatas Kertas)
a. Siapkan 3-4 kertas merang lembab didalam petridish
b. Tanam 25 butir benih diatas subtract (posisi melingkar)
c. Tutup petridish dengan penutupnya
d. Tempatkan dalam alat pengecambah (germinator)
e. Amati kecambah normal dan abnormal pada umur 3 dan 5 HST.
f. Buang kecambah normal yang dijumpai pada hitungan pertama, demikian juga
kecambah yang mati atau busuk.
g. Hitung daya berkecambah benih dengan rumus sbb :

(%) kecambah normal = x 100%

(%) kecambah abnormal = x 100%

24
2. METODE UAK (Uji Antar Kertas)
a. Siapkan 3-4 kertas merang lembab berukuran 20 x 30 cm dan letakkan terhampar
diatas meja praktikum
b. Lipat substrat tersebut kearah panjang kertas sehingga memberikan bekas lipatan
pada setengah bagiannya.
c. Tanam 25 butir benih (susun 5 baris)
d. Lipat setengah bagian substrat yang tidak ditanam sehingga menutupi benih.
e. Lipat ketiga tepi kertas yang belum terlipat kearah dengan lebar lipatan 1,5-2 cm
f. Tempatkan materi dalam germinator
g. Amati kecambah normal dan abnormal pada umur 3 dan 5 HST
h. Hitung daya kecambah benih dengan rumus diatas.

3. METODE UKDdp (Uji Kertas Digulung diatas plastic)


a. Hamparkan selembar plastic transparan tipis berukuran 20x30 cm diatas meja
praktikum
b. Siapkan 3-4 kertas merang lembab berukuran 20x30 cm dan letakkan terhampar
diatas lembar plastic tadi.
c. Tanam 25 butir benih diatas subtract (5 baris)
d. Tutup substrat yang telah ditanami tadi dengan 2-3 lembar kertas merang lembab
lainnya
e. Gulung materi pengujian itu kearah panjang substrat
f. Tempatkan gulungan substrat pengujian itu dengan posisi vertical dalam sel-sel
germinator
g. Amati kecambah normal, abnormal (3 dan 5 HST)
h. Hitung daya kecambah dengan rumus diatas.

25
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Table 1. Banyak Biji yang Berkecambah dan Abnormal pada Uji Di atas Kertas (UDK)
Petridish Berkecambah % Abnormal %
A 21 84 4 16
B 20 80 5 20

Table 2. Data biji yang Berkecambah dan Biji Abnormal pada Metode UAK dan AKDdp
Perlakuan Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3
Hari % Hari % Hari % Hari % Hari % Hari %
ke 3 ke 5 ke 3 ke 5 ke 3 ke 5
Uji Antar
Kertas
Kedelai A 25 25 25 25 25 25
Normal 24 96 23 92 21 84 15 60 22 88 22 88
Abnormal 1 4 2 8 4 16 10 40 3 12 3 12

Kedelai B 25 25 25 25 25 25
Normal 20 80 15 60 12 48 14 56 17 68 12 48
Abnormal 5 20 10 40 13 52 11 44 8 32 13 52

Jagung 25 25 17 17 17 17
Normal 23 92 21 84 14 82 10 58 15 88 15 88
Abnormal 2 8 4 16 3 18 7 42 2 12 2 12

UKDdp
Jagung 25 25 25 25 25 25
Normal 25 100 23 92 23 92 23 92 23 92 23 92
Abnormal - 0 2 8 2 8 2 8 2 8 2 8

Kedelai A 25 25 25 25 25 25
Normal 18 72 17 68 23 92 22 88 23 92 23 92
Abnormal 7 28 8 32 2 8 3 12 2 8 2 8

Kedelai B 25 25 25 25 25 25
Normal 23 92 22 88 23 92 14 56 20 80 20 80
Abnormal 2 8 3 12 2 8 11 44 5 20 5 20

26
4.2. Pembahasan
Dari seluruh perlakuan, pada perlakuan Uji Kertas Digulung diatas Plastik (UKDdp)
prsentase kecambah normal lebih tinggi, kemudian pada Uji Antar Kertas, dan Uji Diatas Kertas.
Pada UKDdp, persentase kecambah normal tertinggi yakni 100 % pada jagung kelompok I
setelah dikecambahkan pada hari ke 3, selanjutnya pada kedelai Lot B yakni 92 % kelompok I
dan II pada perkecambahan hari ke 3 dan kedelai Lot A tertinggi pada Kelompok II dan III pada
perkecambahan hari ke 3.
Pada UAK, persentase kecambah normal tertinggi yakni 96% pada Kedelai Lot A
kelompok I setelah perkecambahan 3 hari. Selanjutnya 92 % pada jagung kelompok I an Kedelai
Lot A pada kelompok II setealah dikecambahkan pada hari ke 3. Pada UAK tidak ada ulangan
dan persentase kecambah tertinggi yakni 84% pada petridish A diikuti 80% pada petridish B.
Kemampuan kecambah antara jagung dan kedelai memiliki persentase kecambah yang
hampir sama, yakni sudah mulai berkecambah pada hari ke3. Sedangkan perlakuan kecambah
yag tertinggi yakni pada UKDdp karena pada perlakuan ini kertas ditutup dengan plastik dan
digulung pada keadaan basah, sehingga penguapan sangat kecil terjadi, kelembapan terjaga dan
perkecambahan dapat tumbuh dengan baik.

27
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Dari hasil data dan pembahasan dalam praktikum ini, dapat diambil beberapa
kesimpulan, diantaranya adalah :
− Perkecambahan benih adalah pertumbuhan embrio atau bibit tanaman, yang ditandai
dengan munculnya radicula dan plumule.
− Uji daya kecambah dapat dilakukan pada kertas merang yang dibasahi dengan beberapa
perlakuan : Uji diatas kertas, uji antar kertas dan uji diatas kertas dan digulung plastic.
− Biji jagung dan kedelai sudah berkecambah pada hari ke 3 setelah ditanam di perlakuan,
− Pada ketiga perlakuan uji ini, uji diatas kertas dan digulung plastic transparan memilki
persetase kecambah tumbuh yang lebih tinggi, diikuti dengan uji antar kertas dan uji
diatas kertas. Hal ini disebabkan apabila kertas merang digulung plastic, penguapan dapat
diperkecil yang menyebabkan pertumbuhan kecambah baik.

5.2. Saran
Dalam melakukan pengujian mutu benih dengan melakukan pengujian daya kecambah,
sangat menentukan apakah benih tersebut baik atau tidak. Karena benih yang kurang baik
memiliki daya kecambah yang rendah. Sebaiknya pengujian ini diterapkan untuk benih sebelum
disebarkan ke masyarakat. Agar masyarakat khususnya petani tidak rugi memakai benih tersebut
apabila daya kecambahnya rendah. Sehingga setiap benih yang disebar ke masyarakat nantinya
akan memberikan hasil yang maksimal.

28
DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun. 2009. Penuntun Praktikum Teknologi Benih. Jurusan Budidaya, Fakultas
Pertanian. Universitas Udayana. Denpasar.
Anonym. 2009. Evaluasi Perkecambahan benih. http://teknologibenih.blogspot.com/
2009/10/evaluasi-perkecambahan-biji.html. Diakses 28 Desember 2009.
Anonym. 2009. Perkecambahan Biji II. http://manaree.blogspot.com/2009/05/perkecambahan-
biji-ii.html. Diakses 28 Desember 2009.

29
PRAKTIKUM 4. PENGUKURAN KADAR AIR BENIH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kadar air merupakan salah satu komponen dari mutu benih (yang lainnya, kemurnian dan
daya kecambah). Kadar air benih mempunyai peranan yang penting dalam penyimpanan benih.
Kadar air benih dapat memacu proses pernafasan benih sehingga akan meningkatkan
perombakan sadangan makanan benih, akibatnya benih akan kehabisan cadangan makanan pada
saat diperlukan/berkecambah.
Kadar air benih harus diketahui baik untuk tujuan pengolahan, maupun penyimpanan
benih. Telah diketahui bahwa kadar air memiliki dampak besar terhadap benih selama
penyimpanan. Menyimpan benih ortodok pada kadar air tinggi berisiko cepat mundurnya benih
selama dalam penyimpanan. Kadar air benih merupakan salah satu komponen yang dinilai oleh
BPSB dalam sertifikasi benih sehingga uji ini merupakan satu pengujian rutin para analisis benih
di laboratorium benih.
Yang dimaksud kadar air benih, ialah berat air yang “dikandung” dan yang kemudian
hilang karena pemanasan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, yang dinyatakan dalam
persentase terhadap berat awal contoh benih. Penetapan Kadar Air adalah banyaknya kandungan
air dalam benih yang diukur berdasarkan hilangnya kandungan air tersebut & dinyatakan dalam
% terhadap berat asal contoh benih. Tujuan penetapan kadar air diantaranya untuk untuk
mengetahui kadar air benih sebelum disimpan dan untuk menetapkan kadar air yang tepat selama
penyimpanan dalam rangka mempertahankan viabilitas benih tersebut.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari cara
mencari kadar air benih.

30
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kadar air benih selama penyimpanan merupakan faktor yang paling mampengaruhi masa
hidupnya. Oleh karena benih yang sudah masak dan cukup kering penting untuk segera dipanen
atau benihnya masih berkadar air tinggi yang juga harus segera dipanen. Cara lain yang
mempengaruhi umur simpan benih adalah kerusakan akibat proses penggunaan alat-alat
mekanis. Meski sangat penting artinya untuk menurunkan kadar air benih hingga ke tingkat yang
aman untuk disimpan, namun bila kadar air terlalu kering juga dapat membahayakan benih.
Benih yang sangat kering yang sangat peka terhadap kerusakan mekanis serta pelukaan
sampingan lainya.kerusakan seperti ini dapat menyebabkan bagian penting benih mengalami
pecah atau retak pada bagian penting biji hingga benih tersebut peka terhadap serangan
cendawan yang dapat menurunkan daya simpannya (Oren L.Justice dan Louis N.Bass, 1979).
Kadar air benih merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi daya simpan
benih. Jika kadar air benih terlalu tinggi dapat memacu respirasi dan berbagai cendawan dapat
tumbuh (Wahyu Qamara Munisjah, dkk, 1991).
Umumnya pada tanaman legume dan padi-padian, ovule atau tepatnya embryo sac yang
sedang mengalami pembuahan mempunyai kadar air kira-kira 80 % dalam bebarapa hari
kemudian kadar air ini meningkat sampai kira-kira 85% lalu pelan-pelan menurun secara teratur.
Dekat kepada waktu masak kadar air ini menurun dengan cepat sampei kire-kire 20% pada biji
tanaman sereallia,setelah tercapai berat kering maximum dari pada biji,kadar air tersebut agak
konstan sekitar 20% tetapi sedikit naik terun seimbang dengan keadaan lingkungan di lapangan.
Kadar air ini penting artinya untuk menetapkan waktu panen, karena panenan itu harus di
lakukan pada tingkat kadar air biji tertentu pada masing-masing spesies atau varietas. Umumnya
tanaman sereallia dan biji-bijian legume dipanen pada kadar air 20%umumya kadar air biji 30%
merupakan batas tertinggi untuk dipanen. Panenan dengan kadar air biji 30 % tidak baik karena
sukar untuk pengirikan, disamping ini biji akan rapuh apabila dikeringkan sampai dibawah kadar
air 20% tetapi tergantung pada jenis biji,ada yang baik dipanen pada kadar air 10-12%.Gandum
dipanen pada kadar air biji 14-15%,kapas 12-14%,padi 18%,jagung 20-30%. Beberapa varietas

31
padi di daerah ini panicle atau gabahnya akan rontok atau jatuh ketanah apabila kadar biji di
biarkan sampai 12-14% (Jurnalis Kamil, 1979).
Beberapa hal perlu diperhatikan dalam pengujian kadar air benih ini adalah contoh kerja
yang digunakan merupakan benih yang diambil dan ditempatkan dalam wadah yang kedap
udara. Karena untuk penetapan kadar air, jika contoh kerja yang digunakan telah terkontaminasi
udara luar maka kemungkinan besar kadar air benih yang diuji bukan merupakan kadar air benih
yang sebenarnya karena telah mengalami perubahan akibat adanya kontaminasi udara dari
lingkungan. Yang kedua adalah untuk pengujian kadar air ini harus dilakukan sesegera mungkin,
selama penetapan diusahakan agar contoh benih sesedikit mungkin berhubungan dengan udara
luar serta untuk jenis tanaman yang tidak memerlukan penghancuran, contoh benih tidak boleh
lebih dari 2 menit berada di luar wadah.
Metode yang digunakan untuk menguji kadar air ini juga harus diperhatikan. Ada dua
metode dalam pengujian kadar air benih, yaitu :
a) Konvensional ( Menggunakan Oven )
Skema pengujian kadar air benih dengan metode konvensional (oven)
b) Automatic (Menggunakan Balance Moisture Tester, Ohaus MB 45, Higromer)
Dalam metode ini hasil pengujian kadar air benih dapat langsung diketahui.

32
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Tempat dan Waktu


Praktikum ini dilaksanakan di kebun Percobaan pegok, Fakultas pertanian, Universitas
Udayana, Denpasar, pada hari Sabtu, 5 Desember 2009. Pukul 08.00 WITA-selesai.

3.2. Alat dan Bahan


Bahan yang digunakan adalah biji jagung dan biji kedelai yang dibagi menjadi 2 Lot.
Kertas/amplop untuk tempat menoven biji, serta timbangan digital.

3.3. Cara kerja


1. Timbang 10 g benih masing-masing lot sebanyak 2 ulangan.
2. Setelah bobot awal dicatat, tempatkan benih pada kertas amplop yang tahan suhu
oven.
3. Tempatkan benih yang sudah dibungkus pada oven dengan suhu rendah konstan
selama 17 jam (sampai berat konstan)
4. Setelah berat konstan, keluarkan benih dari oven kemudian dinginkan dahulu didalam
eksikator.
5. Timbang bobot kering benih setelah didinginkan
6. Hitung kadar air benih dengan rumus sebagai berikut :

Kadar air = x 100%

33
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Table 1. Data Berat Kering hari ke 7 dan Kadar Air pada Setiap Biji Setelah Dioven dan
Mencapai Berat Konstan (bobot awal/basah untuk setiap jenis benih = 10 g)
Kelompok Jagung Kadar Kedelai A Kadar Kedelai Kadar
(gram) Air % (gram) air % B (gram) air %
I 8,86 11,4 8,49 15,1 8,97 10,3
II 8,87 11,3 9,22 7,8 9,06 9,4
III 8,85 11,5 8,57 14,3 7,92 20,8
Rata-rata 7,95 12,4 13,5

4.2. Pembahasan
Dari data yang telah didapat, terlihat bahwa kadar air terendah terdapat pada kadar air biji
kedelai A pada kelompk II dengan 7,8% dan tertinggi yakni kedelai B pada kelompok III dengan
20,8 %. Sedangkan dari ketiga jenis biji yang diuji kadar benihnya, rata-rata kadar air tertinggi
adalah pada benih kedelai B yakni 12,4 % sedangkan yang terendah adalah pada jagung dengan
7,95 %.
Benih yang diteliti disini masih memiliki kadar air tinggi, khususnya dalam penyimpanan
sebelum dilakukan penanaman. Untuk mnegurangi kadar air tersebut harus dilakukan lagi
pengeringan, sehingga nantinya didapat benih dengan kadar air rendah dan apabila dilakukan
penyimpanan, benih tersebut dapat disimpan dengan baik dna tidak akan berkecambah karena
lingkungannnya kering.

34
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum pengujian kadar air benih, dapat diambil beberapa
kesimpulan, seperti :
− Pengujian kadar air benih berguna untuk mengetahui kadar air suatu benih khususnya
dalam proses penyimpanan, agar nantinya benih tidak berkecambah didalam
penyimpanan.
− Pada pengujian kadar air benih ini, dilakukan menggunakan benih jegaung an kedelai
yang dibagai 2 lot. secara rata-rata kelompok benih yang memiliki kadar air terendah
adalah kadar air jagung yakni 7,95%, diikuti kedelai A 12,4% dan kedelai A 13,5%.
− Kadar air terendah terdapat pada kadar air biji kedelai A pada kelompk II dengan 7,8%
dan tertinggi yakni kedelai B pada kelompok III dengan 20,8 %.

5.2. Saran
Sebelum melakukan penyimpanan benih, hendaknya terlebih dahulu dilakukan pengujian
kadar air benih untuk mengetahui berapa kadar air benih an apakah benih tersebut sudah dapat
disimpan atau tidak. Apabila kadar air masih terlalu tinggi, maka dilakukan pengeringan lanjut
sebelum disimpan sehingga nantinya dalam penyimpanan benih, benih tidak berkecambah.

35
DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun. 2009. Penuntun Praktikum Teknologi Benih. Jurusan Budidaya, Fakultas
Pertanian. Universitas Udayana. Denpasar.
Garden Decorations. 2004. Struktur biji. http://www.ramadhan.20m.com/whats_new.html.
Diakses 28 Desember 2009.
Anonym. 2009. Kadar Air Benih. http://teknologibenih.blogspot.com/2009/08/yang-dimaksud-
kadar-air-benih-ialah.html. Diakses 28 Desember 2009

36
PRAKTIKUM 5. PEMECAHAN DORMANSI BENIH (Kasus : selaput benih keras)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Benih merupakan komponen penting teknologi kimiawi-biologis yang pada setiap musim
tanam untuk komoditas tanaman pangan masih menjadi masalah karena produksi benih
bermutu masih belum dapat mencukupi permintaan pengguna/petani.
Benih dari segi tehnologi diartikan sebgai organisme mini hidup yang dalam keadaan
“istirahat” atau dorman yang tersimpan dalam wahana tertentu yang digunakan sebagai penerus
generasi (Samsoed Sadjad, 1975).
Dormansi merupakan strategi benih-benih tumbuhan tertentu agar dapat mengatasi
lingkungan suboptimum guna mempertahankan kelanjutan spesiesnya. Terdapat berbagai
pnyebab dormansi benih yang pada garis besarnya dapat digolongkan sebagai berikut :
− Adanya hambatan dari kulit benih
Misal : benih lamtoro yang kulit benihnya impermeable terhadap air
− Adanya hambatan dari bagian dalam benih
Misal : pada benih melinjo karena embrio yang belum dewasa.
Benih yang mengalami dormansi organic ini tidak dapat berkecambah dalam kondisi lingkungan
pekecambahan yang optimum.
Dormansi digambarkan sebagai peristiwa benih yang berkecambah, tidak akan
berkecambah walaupun faktor lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan
(Kuswanto,1996).

1.2. Tujuan
1. Dapat memecahkan dormansi benih karena selaput benih keras
2. Dapat membandingkan berbagai metode pemecahan dormansi pada benih yang
mempunyai selaput benih keras.

37
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian dan Penyebab Dormansi


Dormansi adalah suatu keadaan dimana pertumbuhan tidak terjadi walaupun kondisi
lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan.
Pada beberapa jenis varietas tanaman tertentu, sebagian atau seluruh benih menjadi
dorman sewaktu dipanen, sehingga masalah yang sering dihadapi oleh petani atau pemakai benih
adalah bagaimana cara mengatasi dormansi tersebut.
B. Penyebab Dormansi
Benih yang mengalami dormansi biasanya disebabkan oleh :
− Rendahnya / tidak adanya proses imbibisi air yang disebabkan oleh struktur benih
(kulit benih) yang keras, sehingga mempersulit keluar masuknya air ke dalam benih.
− Respirasi yang tertukar, karena adanya membran atau pericarp dalam kulit benih yang
terlalu keras, sehingga pertukaran udara dalam benih menjadi terhambat dan
menyebabkan rendahnya proses metabolisme dan mobilisasi cadangan makanan dalam
benih.
− Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio, karena kulit biji yang
cukup kuat sehingga menghalangi pertumbuhan embrio. Pada tanaman pangan,
dormansi sering dijumpai pada benih padi, sedangkan pada sayuran dormasni sering
dijumpai pada benih timun putih, pare dan semangka non biji.
C. Pemecahan Dormansi
1. Benih padi
Pemecahan dormansi benih padi dilakukan dengan cara melakukan perendaman
dalam air panas pada suhu kurang lebih 400 C selama 24 jam sampai 48 jam.
2. Benih Timun Putih
Pemecahan dormansi dilakukan dengan cara membuka sedikit bagian ujung pangkal
benih dengan menggunakan penjepit / alat pemotong kuku.

38
3. Benih Pare
Pemecahan dormansi dilakukan dengan cara membuka sedikit bagian ujung pangkal
benih dengan menggunakan penjepit / alat pemotong kuku.
4. Benih Semangka Non Biji
Pemecahan dormansi dilakukan dengan membuka sedikit ujung pankal benih dengan
menggunakan penjepit / alat pemotong kuku dan merendam dalam larutan fungisida
selama kurang lebih 5 menit, kemudian diletakkan dalam kertas yang digulung dan
dimasukkan dalam kotak karton tertutup yang disinari lampu 5 Watt berwarna hijau
selama kurang lebih 2 hari.

39
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Tempat dan Waktu


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 Desember 2009, pukul 08.00 WITA –
selesai. Bertempat dikebun Percobaan Pegok, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana,
Denpasar.

3.2. Alat dan Bahan


Bahan yang digunakan adalah benih yang memiliki selaput keras seperti lamtoro, air, air
mendidih, dan alcohol. Sedangkan bahan yang dipakai adalah substrat kertas merang,
pinset, alat pengecambah,bak plastic, petridish,kertas ampelas dan heater.

3.3. Cara kerja


1. Siapkan benih lamtoro masing-masing 25 butir untuk perlakuan berikut :
a. Benih digosok dengan kertas ampelas
b. Benih direndam dalam air mendidih selama 15 menit
c. Benih direndam dalam alcohol 70%
d. Benih tidak diperlakukan apa-apa (control)
2. Tanam benih yang telah mendapat perlakuan diatas dengan metode Ujia Antar Kertas
(UAK) dan amati potensi tumbuh maksimum dan daya berkecambahnya pada 7 HST.

40
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Table 1. Data pengukuran Dormansi dan Benih Lamtoro yang Berkecambah pada Berbagai
Perlakuan
Perlakuan Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3
Hari I Hari II Hari III Hari I Hari II Hari III Hari I Hari II Hari III
Digosok kertas
ampelas
Lamtoro 25 25 25 25 25 25 25 25 25
Berkecambah - - - - - - - - -
Dorman - - - - - - - - -

Direndam air
mendidih
Lamtoro 25 25 25 25 25 25 25 25 25
Berkecambah 5 8 8 4 11 10 1 9 11
Dorman 20 17 17 21 14 15 24 16 14

Direndam alcohol 75%


Lamtoro 25 25 25 25 25 25 25 25 25
Berkecambah 2 3 3 2 1 1 - 1 2
Dorman 23 22 22 23 24 24 25 24 23

Control
Lamtoro 25 25 25 25 25 25 25 25 25
Berkecambah 2 2 3 2 1 1 1 1 2
Dorman 23 23 22 23 24 24 24 24 23

4.2. Pembahasan
Dari data praktikum yang didapat, terlihat bahwa dormansi yang terjadi pada biji lamtoro
disebabkan karena memiliki kulit biji yang keras. Dari perlakuan terlihat bahwa biji yang
digosok mengalami kematian karena kulit biji lepas dari endospermnya. Sedangkan persentase
benih yang yang berkecambah paling banyak adalah benih yang direndam dengan air panas 15
menit, hal ini disebabkan dengan perendaman dengan air panas kulit benih telah lunak sehingga
dapat berkecambah. Hal ini mungkin disebabkan karena kesalahan dalam proses penggosokkan

41
dengan amplas sehingga kulit biji lepas dari endospermnya. Sedangkan tanpa perlakuan, benih
juga ada yang tumbuh, namun hanya sekitar 8%.

42
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
− Dormansi pada benih lamtoro disebakan karena kulit biji lamtoro sangat keras,
sehingga membutuhkan perlakuan khusus untuk dapat berkecambah.
− Perlakuan yang diberikan pada praktikum ini adalah dengan menggosok kulit biji
dikertas ampelas, merendam dengan air panas 15 menit, merendam dengan alcohol
dan tanpa perlakuan
− Perlakuan yang memberikan daya kecambah yang baik adalah dengan perendaman
dengan air panas 15 menit, karena kulit bji sudah lunak, diikuti dengan perlakuan
perendaman dengan alcohol dan tanpa pelakuan
− Perlakuan dengan penggosokan dengan kertas ampelas harus dengan teknik yang
benar, sebab dapat merusak biji dan kulit biji, sehingga tidak ada benih yang
berkecambah atau benih mati.
5.2. Saran
Dalam melakukan pematahan masa dormansi biji lamtoro yang memiliki kulit biji yang
keras, dapat dilakukan dnegan perendaman dengan air panas. Karena dengan perendaman air
panas selama 15 menit, kulit biji sudah lunak, dan tidak melukai bagian dalam biji sehngga benih
dapat berkecambah.

43
DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun. 2009. Penuntun Praktikum Teknologi Benih. Jurusan Budidaya, Fakultas
Pertanian. Universitas Udayana. Denpasar.
Anonym. 2009. Perkecambahan Biji II. http://manaree.blogspot.com/2009/05/perkecambahan-
biji-ii.html. Diakses 28 Desember 2009
Anonym. 2009. Dormansi Benih dan Pemecahannya. http://www.tanindo.com/abdi6/hal04.htm.
Diakses 28 Desember 2009.

44
PRAKTIKUM 6. PROSSESING BENIH CABAI DENGAN METODE PERENDAMAN
HCl 2% DIMODIFIKASI.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Cabai (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas sayuran yang banyak mendapat
perhatian karena memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Selain dimanfaatkan sebagai
bumbu masak atau bahan campuran pada berbagai industri pengolahan makanan dan minuman,
cabai juga digunakan untuk pembuatan obat-obatan (Setiadi, 1996).
Kebutuhan akan cabai terus meningkat setiap tahun sejalan dengan meningkatnya
jumlah penduduk dan berkembangnya industri yang membutuhkan bahan baku cabai.
Meskipun kebutuhan terhadap cabai meningkat, namun produksi cabai di Indonesia masih
rendah. Rataan produksi nasional baru mencapai 3.3 – 3.5 ton ha-1. Angka tersebut masih
sangat rendah bila dibandingkan dengan potensi produksinya yang dapat mencapai 20 ton ha-1
(Suwandi, 1995). Untuk mengantisipasi hal tersebut, diperlukan pengetahuan dan teknik
budidaya yang tepat sesuai dengan daya dukung agroekosistemnya.
Benih bermutu merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam
budidaya tanaman cabai. Suplai benih untuk musim tanam berikutnya, mengharuskan
terjadinya proses penyimpanan benih. Apabila penyimpanan tidak ditangani dengan baik, maka
benih akan mudah mengalami kemunduran sehingga mutunya menjadi rendah. Disamping itu,
perkecambahan cabai lambat dan tidak seragam. Ilyas (1994) menyatakan bahwa benih cabai
memerlukan imbibisi yang lama sebelum berkecambah dan suhu yang agak tinggi untuk
mencapai perkecambahan maksimum.
Di indonesia, cabe merupakan salah satu tanaman yang menjadi komoditas di bidang
pertanian. Umumnya tanaman cabe yang ditanam di Indonesia adalah jenis cabe rawit dan cabe
besar. Hasil panen dari tanaman cabe ini biasanya oleh para petani sebagian digunakan untuk
kebutuhan benih dan sebagian lainnya dijual berupa cabe utuh.

45
Untuk mendapatkan benih tanaman cabe biasanya petani menggunakan cara tradisional,
yaitu dengan cara memotong-motong cabe dan memisahkan biji cabe dari kulitnya. Biji cabe
yang telah dipisahkan ini yang kemudian dipakai para petani sebagai benih tanaman baru.
Namun cara ini tidak efisien bila kebutuhan benih cukup banyak. Baik dari segi waktu
pengerjaan maupun tenaga pekerja.

1.2. Tujuan
1. Mengetahui berbagai cara prossesing benih cabai
2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh perendaman benih cabai dengan HCl 2%
terhadap hasil benih yang didapat
3. Untuk mendapatkan benih cabai hasil prossesing biji yang bersih dan bagus.

46
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Tanaman Cabai


Herba tegak, 1 tahun atau menahun, sering kuat dan bercabang lebar, tinggi 1-2,5 m.
Bagian batang yang muda berambut halus. Daun tersebar, atau 2-3 bersama-sama dan kemudian
berbeda dalam besarnya, tangkai 0,5- 2,5 cm panjangnya ; helaian daun bulat telur memanjang
atau ellips bentuk lanset, dengan pangkal meruncing dan ujung runcing, gundul, 1,5-12 kali 1-5
cm. Bunga mengangguk, tangkai 10-18 mm. Tabung kelopak berusuk bentuk lonceng, gundul,
tinggi 2-3 mm, pada buahnya membesar sekali, dengan 5 gigi. Mahkota bentuk roda, berbagi 5
dalam, tinggi tabung 2 mm, tepian terbentang, luas, garis tengah 1,5-2 cm, taju runcing. Kepala
sarl semula ungu, kemudian hijau perunggu. Buah buni bentuk garis lanset, merah cerah, rasa
pedas. Dari Amerika tropis; sering ditanam untuk buahriya dan tunas yang muda, kadang-kadang
seolah-olah liar.

Manfaat
Jenis sayuran ini banyak diusahakan karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Orang
Indonesia yang menyukai sambal dan masakan yang pedas banyak membutuhkan cabai setiap
hari.

Syarat Tumbuh
Cabai dapat hidup pada daerah yang memiliki ketinggian antara 01.200 m dpl. Berarti tanaman
ini toleran terhadap dataran tinggi maupun dataran rendah. Jenis tanah yang ringan ataupun yang
berat tak ada masalah asalkan diolah dengan baik. Namun, untuk pertumbuhan dan produksi
terbaik, scbaiknya ditanam pada tanah berstruktur remah atau gembur dan kaya bahan organik.
Sedang pH tanah yang dikehendaki antara 6,0-7,0.

47
Pedoman Budidaya
Benih Benih cabai dapat diperoleh dari buah yang tua yang bentuknya sempurna, tidak cacat, dan
bebas hama-penyakit. Belahlah buah cabai secara memanjang. Keluarkan bijinya dan dijemur.
Biarkan hingga kering. Biji seperti ini bisa langsung disemai. Apabila ingin disimpan lama
sebaiknya biarkan buah cabai tetap utuh dan jemur hingga kering. Bila sudah ingin disemai,
bijinya yang kering dikeluarkan. Apabila benih terlanjur lama disimpan maka sebelum
disemaikan direndam dahulu dalam air hangat. Biarkan sebentar. Nanti akan terlihat sebagian biji
terendam dan sebagian mengapung. Biji yang mengapung dibuang karena biji tersebut sudah
rusak dan bila dipaksakan ditanam akan sulit tumbuh. Biji yang terpilih untuk ditanam sebaiknya
mengalami perlakuan benih dahulu. Benih direndam dalam larutan kalium hipoklorit 10 %
sekitar 10 menit. Tindakan ini sebagai penangkal penyakit virus yang sering terdapat pada benih.
Benih juga dapat direndam dalam air hangat (suhu 50°C) selama semalam. Tujuan perendaman
agar benih cepat tumbuh. Kebutuhan benih cabai per hektar ialah antara 200-500 g. Untuk cabai
hibrida sebaiknya memakai benih yang langsung dibeli di toko. Bila mengambil benih dari buah
yang ditanam sendiri maka hasil panen bei-ikutnya akan jauh berkurang. Tanaman cabai
sebaiknya ditanam dalam bentuk bibit. Untuk itu diperlukan persemaian. Persemaian sederhana
dengan atap daun kelapa, daun pisang, atau alang-alang bisa dipakai. Pada daerah dataran tinggi
atau daerah yang sering ditiup angin kencang, sebaiknya dibuat atap yang kekuatannya memadai.
Misalnya, atap plastik yang lumayan kokoh. Arah bedengan persemaian dibuat menghadap ke
timur. Tanah bedengan diolah agar gembur. Tambahkan pupuk kandang dengan dicampur
merata. Tebarkan biji cabai dan siram dengan sprayer halus agar tumbuh baik. Rawat dan
siramilah bibit secara teratlir. Setelah berumur 30-40 hari setelah semai bibit siap ditanam di
lahan. Penanaman Cabai bisa di tanam di lahan sawah atau tegalan. Bila ditanam di lahan sawah
sebaiknya di akhir musim hujan sehingga jumlah air di lahan tidak berlebihan. Sedangkan bila
ditanam di tegalan saat yang tepat adalah musim hujan. Pemilihan musim ini penting agar
kebutuhan air tanaman cabai tersedia dengan tepat. Tanah dibersihkan dari gulma dan dicangkul
atau dibajak agar gembur. Bila pH tanah kurang dari 5,5, tambahkan kapur. Untuk satu hektar
tanah asam dibutuhkan 1-1,5 ton kapur. Kapur akan memberikan pengaruh terbaik bila diberikan
1 bulan sebelum tanam. Selanjutnya boleh dipilih apakah cabai akan ditanam dengan sistem baris
tunggal (single row) atau sistem beberapa baris pada bedengan. Sistem baris tunggal banyak
dipakai petani cabai dataran tinggi serta dataran rendah yang tergolong medium karena cocok

48
dengan tanah yang bertekstur ringan atau sedang. Sistem beberapa baris pada bedengan lebih
umum digunakan petani dataran rendah karena sistem tanahnya yang bertekstur liat hingga berat.
Jarak tanam yang digunakan pada sistem baris tunggal adalah (60-70 cm x 30-50 cm).
Sedangkan untuk sistem bedengan, jarak tanamnya (40-50 cm x 30-40 cm). Pada setiap titik
dibuat lubang tanaman. Ukuran lubang tak perlu besar yang penting bisa memuat benih sapihan
beserta tanah yang membalut perakarannya.

Pemeliharaan
Pemeliharaan Benih sapihan biasanya tumbuh terus dengan baik. Bila ada tanaman yang mati,
sebaiknya segera disulam. Tujuannya agar pertumbuhan tanaman susulan tidak terlalu jauh
berbeda dengan yang lebih dahulu tumbuh baik. Tindakan pemeliharaan lain untuk tanaman
cabai yang penting adalah penyiangan, penggemburan, dan pengairan. Penyiangan dilakukan
dengan kored atau dengan langsung mencabut. Penyiangan dengan kored berfungsi juga sebagai
penggembur tanah. Pengairan dilakukan terutama pada awal penanaman atau pada saat air hujan
tak mencukupi kebutuhan tanaman. Pemupukan: Kebutuhan pupuk kandang untuk setiap hektar
lahan cabai adalah sekitar 20 ton. Selain itu pupuk buatan juga diberikan. Pupuk yang biasa
diberikan adalah Urea dengan dosis 225 kg/ha, TSP dengan dosis 100-150 kg/ha, dan KCl
dengan dosis 100-150 kg/ha. Pupuk Urea diberikan tiga kali. Sepertiga bagian di awal tanam,
sepertiga berikutnya di bulan pertama dan kedua. Sebaiknya pupuk diberikan dengan cara
ditugal. Pemupukan pertama merupakan gabungan dari Urea, TSP, dan KCI.

Hama dan Penyakit


Jenis-jenis hama yang banyak menyerang tanaman cabai antara lain kutu daun dan trips. Kutu
daun menyerang tunas muda cabai secara bergerombol. Daun yang terserang akan mengerut dan
melingkar. Cairan manis yang dikeluarkan kutu, membuat semut dan embun jelaga berdatangan.
Embun jelaga yang hitam ini sering menjadi tanda tak langsung serangan kutu daun.
Pengendalian kutu daun (Myzus persicae Sulz.) dengan memberikan Furadan 3 G sebanyak 60-
90 kg/ha atau sekitar 2 sendok makan/10 m2 area. Apabila tanaman sudah tumbuh semprotkan
Curacron 500 EC, Nudrin 215 WSC, atau Tokuthion 500 EC. Dosisnya 2 ml/liter air. Serangan
hama trips amat berbahaya bagi tanaman cabai, karena hama ini juga vektor pembawa virus
keriting daun. Gejala serangannya berupa bercak-bercak putih di daun karena hama ini mengisap

49
cairan daun tersebut. Bercak tersebut berubah menjadi kecokelatan dan mematikan daun.
Serangan berat ditandai dengan keritingnya daun dan tunas. Daun menggulung dan sering timbul
benjolan seperti tumor. Hama trips (Thrips tabaci) dapat dicegah dengan banyak cara. Pemakaian
mulsa jerami, pergiliran tanaman, penyiangan gulma atau rumputan pengganggu, dan
menggenangi lahan dengan air selama beberapa waktu. Pemberian Furadan 3 G pada waktu
tanam seperti pada pencegahan kutu daun mampu mencegah serangan hama trip juga. Akan
tetapi, untuk tanaman yang sudah cukup besar, dapat disemprot dengan Nogos 50 EC, Azodrin
15 WSC, Nuracron 20 WSC, dosisnya 2-3 cc/1. Adapun jenis-jenis penyakit yang banyak
menyerang cabai antara lain antraks atau patek yang disebabkan oleh cendawan Colletotricum
capsici dan Colletotricum piperatum, bercak daun (Cercospora capsici), dan yang cukup
berbahaya ialah keriting daun (TMV, CMVm, dan virus lainnya). Gejala serangan antraks atau
patek ialah bercak-bercak pada buah, buah kehitaman dan membusuk, kemudian rontok. Gejala
serangan bercak daun ialah bercak-bercak kecil yang akan melebar. Pinggir bercak berwama
lebih tua dari bagian tengahnya. Pusat bercak ini sering robek atau berlubang. Daun berubah
kekuningan lalu gugur. Serangan keriting daun sesuai namanya ditandai oleh keriting dan
mengerutnya daun, tetapi keadaan tanaman tetap sehat dan segar. Selain penyakit keriting daun,
penyakit lainnya dapat dicegah dengan penyemprotan fungisida Dithane M 45, Antracol,
Cupravit, Difolatan, Trimiltoa, dan Zincofol. Konsentrasi yang digunakan cukup 0,2-0,3%. Bila
tanaman diserang penyakit keriting daun maka tanaman dicabut dan dibakar. Sedang
pengendalian keriting daun secara kimia masih sangat sulit.

Panen dan Pasca Panen


Panen Cabai dataran rendah lebih cepat dipanen dibanding cabai dataran tinggi. Panen pertama
cabai dataran rendah sudah dapat dilakukan pada umur 70-75 hari. Sedang di dataran tinggi
panen baru dapat dimulai pada umur 4-5 bulan. Setelah panen pertama, setiap 3-4 hari sekali
dilanjutkan dengan panen rutin. Biasanya pada panen pertama jumlahnya hanya sekitar 50 kg.
Panen kedua naik hingga 100 kg. Selanjutnya 150, 200, 250, ..., . hingga 600 kg per hektar.
Setelah itu hasilnya menurun terus, sedikit demi sedikit hingga tanaman tidak produktif lagi.
Tanaman cabai dapat dipanen terus-menerus hingga berumur 6-7 bulan. Cabai yang sudah
berwama merah sebagaian berarti sudah dapat dipanen. Ada juga petani yang sengaja memanen

50
cabainya pada saat masih muda (berwarna hijau). Kriteria panennya saat ukuran cabai sudah
besar, tetapi masih berwama hijau penuh.

2.2 Ragam Jenis Tanaman Cabe


Tanaman cabe (capsicum sp) sendiri dipperkirakan ada sekitar 20 spesies yang sebagian
besarnya tumbuh ditempat asalnya, Amerika. Diantara yang sudah akrab dengan kehidupan
manusia baru beberapa spesies saja, yaitu :
1. Cabe Besar
Cabe besar (C. annuum) atau lombok besar memiliki banyak varietas. Di Indonesia
dikenal beberapa jenis varietas antara lain: (Setiadi 1986).
− Cabe Merah
Disebut cabe merah atau lombok merah (C. Annuum var. longum) karena buahnya
besar berwarna merah kulitnya tipis dan lunak serta rasanya pedas.
− Cabe Hijau
Cabe hijau atau lombok hijau (C. Annuum var. annuum) merupakan cabe yang
bentuk fisiknya seperti cabe merah tetapi kulitnya lebih tebal dan lunak. Rasa cabe ini
tidak pedas seperti cabe merah. (Setiadi 1986).
− Cabe Dieng atau gondola
Cabe Dieng atau gondol merupakan jenis cabe bulat karena bentuk buahnya bulat.
Disebut cabe Dieng karena cabe ini dapat dijumpai disekitar pegunungan Dieng, Jawa
tengah. (Setiadi 1986).
− Paprika
Paprika masih digolongkan kedalam jenis cabe eropa (sweet pepper) yang memiliki
banyak nama seperti cabe banteng atau cabe hidung banteng. (Setiadi 1986).
2. Cabe Kecil atau Cabe Rawit
Cabe kecil (C. frutescens) sering mendapat sebutan cabe rawit. Seperti cabe besar, jenis
cabe ini pun memiliki banyak varietas. Ada yang berukuran mini, ada yang dikatakan
cabe putih, dan ada yang berwarna hijau. (Setiadi 1986).
3. Capsicum baccatum
Memang sulit menamakan cabe ini karena informasinya masih sangat kurang. Informasi
yang ada hanya menyebutkan asal-usul cabe ini, yaitu dari Amerika Selatan. Di daerah

51
asalnya, tanaman cabe ini masih tergolong liar. Daerah pertumbuhannya mulai dari
dataran rendah sampai dataran berketinggian sekitar 1.500 m di atas permikaan laut.
(Setiadi 1986).
4. Capsicum pubescens
Tanaman ini memiliki batang yang tingginya sekitar 1 m dengan bunga dan buah muda
berwarna ungu. Ada yang mengatakan bentuk buahnya bulat telur dengan posisi
menggantung, tetapi ada yang mengatakan bentuk buahnya ini serupa dengan cabai
merah. Biji buahnya berwarna kehitaman (gelap). Buah yang sudah masak berwarna
merah orange. (Setiadi 1986).
5. Capsicum chinense
Menurut cerita cabe ini ada di Indonesia dan sekilas mirip cabe kecil. Kemiripan tersebut
antara lain posisi bunganya tegak setengah menggantung atau menggantung, sedangkan
cabe kecil tegak. Warna mahkota bunganya sama, yaitu kuning kehijauan. Biji buahnya
pun sama, yaitu kuning kecoklatan. (Setiadi 1986).

2.3 Kandungan Buah Cabe


Secara umum buah cabe mempunyai banyak kandungan gizi yang masing-masing
jenisnya akan berlainan. Tabel dibawah menunjukkan kandungan gizi buah dari beberapa jenis
cabe, baik bentuk segar maupun kering (Setiadi 1986).

52
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Tempat dan Waktu


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 19 Desember 2009, pukul 08.00 WITA –
selesai. Bertempat dikebun Percobaan Pegok, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana,
Denpasar.

3.2. Alat dan Bahan


Bahan yang digunakan adalah buah cabai/Lombok yang seragam dan berwarna kuning
kemerahan. Air dan larutan HCl 2%. Sedangkat alat yang digunakan adalah, bak kecil
untuk merendam, dan lesung untuk menumbuk buah cabai.

3.3. Cara kerja


1. Ambil buah cabai sekitar 500 g. dan tumbuk degan lembut, hanya untuk
memecahkan buahnya saja. Dijaga agar biji tidak rusak.
2. Siapkan air di bak penampung sekitar ¾ bagian, sampai dapat merendam buah
cabai yang sudah dibelah
3. Tambahkan larutan HCl 2% kedalam larutan tersebut dan aduk rata.
4. Setelah buah cabai kira-kira sudah pecah semuanya ambil menggunakan sendok
dari lesung an masukkan kedalam air rendaman yang telah berisi larutan HCl 2%.
5. Rendam tumbukan cabai sekitar 15 menit.
6. Bersihkan hasil rendaman dengan air yang mengalir secara perlahan, jangan
sampai biji ikut terbuang.
7. Perhatikan hasil prossesing biji cabai.

53
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil praktikum yang dilakukan, prossesing benih cabai dengan perendaman pada
larutan HCl 2%, dapat menghasilkan benih cabai yang bagus dan bersih dari kotoran. Selama ini,
petani hanya menggunakan perendaman dengan air saja sehingga masih banyak kotoran yang
ikut tergabung dengan benih. Selain itu, petani sering menggunakan cara manual degan
melakukan pembelahan langsung. Namun cara ini tidak dapat diaplikasikan pada kebutuhan
benih dalam jumlah yang banyak, sebab dapat merusak kulit tangan.
Pemecahan benih cabai harus dilakukan dengan perlahan untuk menghindari kerusakan
biji, perendaman dengan larutan asam memberikan pengaruh yakni kulit buah dan daging buah
langsung trpisah dari biji, sehingga dengan terpisahnya biji tersebut, kita dapat langsug
memisahkannya dengan air mengalir. Perendaman benih cabai dengan larutan HCl 2% dapat
juga diaplikasikan untuk mendapat benih dalam jumlah yang banyak.
Benih cabai yang didapat bersih, putih, dan memiliki tekstur yang bagus. Biji cabai
tersebut dapat langsung ditanam. Namun untuk perlakuan lebih lanjut, benih dapat dijemur dan
dikeringkan untuk mengurangi kadar air benih cabai sehingga dapat dilakukan penyimpanan jika
tidak mau menanam langsung.

54
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
− Prossesing benih cabai memerlukan perlakuan khusus untuk mendapatkan benih
cabai yang baik dan bersih dari kotoran.
− Salah satu cara prossing untuk mendapat benih cabai yang baik dan bersih adalah
degan melakukan perendaman didalam larutan HCl 2% yang sebelumnya dilakukan
pemecahan dengan menumbuk di lesung.
− Perendaman dengan larutan HCl dapat dengan cepat memisahkan benih dari kulit dan
daging buah sehingga benih yang didapat bersih, putih dan terbebas dari kotoran yang
menempel.
− Prossesing benih ini dapat diaplikasikan untuk mendapat benih cabai dalam jumlah
banyak.

5.2. Saran
Untuk mendapat benih cabai dalam jumlah banyak dan memiliki kualitas baik, dan bersih
dari kotoran, hendaknya dapat dilakukan dengan perendaman dilarutan HCl2%, yang
sebelumnya telah dilakukan pemecahan dilesung. Namun Pemecahan biji cabai dengan lesung
hendaknya dilakukan dengan lembut, hanya untuk memecahkan buah saja, jangn sampai
merusak biji.dan dalam pengambilan serta pemisahan biji cabai, harus hati-hati, jangan sampai
tangan panas akibat terlalu lama memegang cabai.

55
DAFTAR PUSTAKA

Skriptyan. 2009. Alat Pemisah Biji Cabai. http://skriptyan.wordpress.com/competition/. Diakses


28 Desember 2009.
Anonym. 2009. Pemisahan biji Cabai. www.google.com. Diakses 28 Desember 2009.
Proses Pemisahan Biji cabai. www.google.com.

56