Anda di halaman 1dari 55

23 September 2005

KEBIJAKAN OBAT NASIONAL


DEPARTEMEN KESEHATAN RI
2005
Daftar isi
B AB I. P EN DA HU LU AN
A. Latar belakang
B. Tujuan
C. Ruang Lingkup
BAB II ANALISIS SITUASI dan KECEN DERUNGAN
A. Pe rk em ba ng an
B. Permasalahan
C. Peluang
D. Ta nt an ga n
BAB III. STRATEGI DAN LANDASAN KEBIJAKAN
A. St ra te gi
B. Landasan Kebijakan
BAB IV. POKOK-POKOK DAN LANGKAH-LANGKAH KEBIJAKAN
A . Pembiayaan Obat
B. Ketersediaan Obat
C. Keterjangkauan
D. Seleksi Obat Esensial
E. Pe ng gu na an Ob at Yan g R as io na l
F. Regulasi Obat
G. Penelitian Dan Pengembangan
H. Pe ng em ba ng an Su mb er Day a M an us ia
I. Pemantauan Dan Evaluasi
BAB V. PEN UTUP
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKAN G

Pokok-pokok rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010, menggariskan arah
pembangunan kesehataan yang mengedepankan paradigma sehat. Tujuan pembangunan kesehatan menuju
Indonesia Sehat 2010 antara lain meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat dan
memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan bermutu secara adil dan merata. Obat merupakan salah satu
komponen yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Akses terhadap obat terutama obat esensial
merupakan salah satu hak azasi manusia. Dengan demikian penyediaan obat esensial merupakan kewajiban
bagi pemerintah dan institusi pelayanan kesehatan baik publik maupun swasta. Obat berbeda dengan
komoditas perdagangan lainnya, karena selain merupakan komoditas perdagangan, obat juga memiliki fungsi
sosial.

Kebijakan Depkes terhadap peningkatan akses obat diselenggarakan melalui beberapa strata kebijakan yaitu
Peraturan Pemerintah, Indonesia Sehat 2010, Sistem Kesehatan Nasional (SKN), Kebijakan Obat Nasional
(KONAS), SKN 2004 yang menggantikan SKN 1982, memberikan landasan, arah dan pedoman
penyelenggaraan pembangunan kesehatan bagi seluruh penyelenggara kesehatan, baik pemerintah pusat,
propinsi dan kabupaten/ kota, maupun masyarakat dan dunia usaha, serta pihak lain yang terkait. Salah satu
subsistem SKN 2004 adalah Obat dan Perbekalan Kesehatan. Dalam subsistem tersebut penekanan diberikan
pada ketersediaan obat, pemerataan termasuk keterjangkauan dan jaminan mutu obat. KONAS adalah dokumen
kebijakan pelaksanaan program di bidang obat, sebagai penjabaran dari subsistem bidang Obat dan Perbekalan
kesehatan dalam SKN. KONAS merupakan dokumen resmi yang berisi pernyataan komitmen semua pihak baik
pusat, propinsi kabupaten - kota yang menetapkan tujuan dan sasaran nasional di bidang obat beserta
prioritasnya, untuk menggariskan strategi dan peran berbagai pihak dalam penerapan komponen-komponen
pokok kebijakan untuk pencapaian t u j u a n p e m b a n gu na n ke se ha t a n.

Dengan diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2000 berdasarkan UU 22/ 1999, yang diperbaharui
dengan UU 32/ 2004 tentang Pemerintah Daerah, beberapa peran pemerintah pusat dialihkan kepada
pemerintah daerah sebagai kewenangan wajib dan tugas pembantuan, salah satunya adalah bidang pelayanan
kesehatan. KepMenKes No 004/ 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Desentralisasi Bidang kesehatan dan
KepMenKes No 1457/ 2003 tentang Standar

Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan merupakan petunjuk pelaksanaan program kesehatan yang telah
diserahkan kepada pemerintah daerah. Dalam SPM tersebut, indikator yang menyangkut obat antara lain,
100% pengadaan obat esensial dan obat generik dan 90% penulisan obat generik di pelayanan kesehatan
dasar. Selain itu dalam indikator program pemberantasan penyakit menular seperti Tbparu, pneumonia, HIV/
AIDS, malaria dan Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) dipastikan membutuhkan
ketersediaan d an ke te rja ng ka ua n o ba t.

P en ye di aa n da n a ta u p en ge lo laa n a ng ga ra n unt uk pe ngada an obat esensi al yang diperluka n m asyarakat di


s ek to r p ub li k m en ja di tan gg un g j aw ab pe me ri nt ah da erah. Nam un pe me ri nt ah pusa t m asih mem punyai
k ew aj ib an un tu k p en ye di aan ob at pr og ra m kesehata n dan buffer st ok. Se da ngka n j am ina n kea ma nan,
k ha si at da n m ut u o bat ya ng be re da r m as ih tet ap me nj adi t anggung j a w a b pe m e r i n t a h p us a t .

Sebelum diberlakukannya otonomi daerah, pembiayaan obat di sektor publik, terutama penyediaan obat
esensial disediakan oleh pemerintah pusat. Pelaksanaan otonomi daerah telah membawa perubahan mendasar
yang perlu dicermati untuk tetap menjamin ketersediaan obat esensial bagi masyarakat. Untuk daerah-daerah
terpencil, perbatasan, kepulauan dan daerah rawan, perlu dikembangkan sistem manajemen obat secara
khusus.
B. TUJUAN

KONAS dalam pengertian luas dimaksudkan untuk meningkatkan pemerataan dan keterjangkauan obat secara
berkelanjutan, untuk tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Keterjangkauan dan
penggunaan obat yang rasional merupakan bagian dari tujuan yang hendak dicapai. Pemilihan obat esensial
yang tepat dan pemusatan upaya pada penyediaan obat esensial tersebut terbukti telah meningkatkan akses
obat serta penggunaan obat yang rasional..

S em ua ob at ya ng ber ed ar ha ru s d ij am in kea ma na n, kha si at da n m ut unya a ga r bet ul be tul m em berikan


m an fa at bag i k es eh at an da n ke se ja ht er aa n ma syarakat, da n j ustru t idak me rugi kan ke se ha ta n. B ersam aa n
d en ga n i tu ma sya ra ka t h ar us d i l i n d u n g i da ri sa l a h pe ng gu na a n da n p e n ya l a h gu na a n ob a t
D en ga n d em ik ian tu ju an KO NA S a da la h unt uk me nj am in:
1. Ketersediaan , pemerataan, dan keterjangkauan obat esensial
2. Keamanan , khasiat dan mutu semua obat yang beredar serta penggunaan
obat yang rasional.
3. Ma sy ar ak a t t er li ndung dar i s al ah penggun aa n d an peny al ah guna an obat ;
C. RUANG LINGKUP
O ba t a da lah se di aa n a ta u pa du an ba ha n- ba ha n ya ng si ap untuk digunka n unt uk me mpenga ruhi ata u
m en ye di li dk i s is te m f is io lo gi ata u k ea da an pat ol ogi dal am ra ngka penet apan di agnosa, pence ga ha n,
p en ye mb uh an, pem ul ih an, pe ni ng ka ta n, ke se ha ta n dan kont ra sepsi. De ngan de mi ki an obat menca kup
p ro du k b io lo gi ti da k t er ma su k me nc ak up obat.

Dalam hal ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat diutamakan pada obat esensial, sedangkan dari
aspek jaminan mutu diberlakukan pada semua jenis obat.
BAB II
ANALISIS SITUASI DAN KECENDERUNGAN
Obat sebagai salah satu unsur yang penting dalam upaya kesehatan, mulai dari upaya peningkatan kesehatan,
pencegahan, diagnosis, pengobatan dan pemulihan harus diusahakan agar selalu tersedia pada saat
dibutuhkan. Di samping merupakan unsur yang penting dalam upaya kesehatan, obat sebagai produk dari
industri farmasi dengan sendirinya tidak lepas dari aspek ekonomi dan teknologi. Tekanan aspek teknologi
dan ekonomi tersebut semakin besar dengan adanya globalisasi ekonomi, namun tekanan ini pada dasarnya
dapat diperkecil sedemikian rupa sehingga kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi sedangkan industri farmasi
dapat berkembang secara wajar. Obat juga dapat merugikan kesehatan bila tidak memenuhi persyaratan atau
bila digunakan secara tidak tepat atau disalah gunakan.
A. PERKEMBANGAN

Kemanfaatan obat bagi kesehatan dan kesejahteraan ditujukan bagi masyarakat Indonesia yang saat ini
penduduknya berjumlah 219 juta jiwa, dan diproyeksikan pada tahun 2020 akan berjumlah sekitar 252 juta jiwa.
Apabila tingkat kelahiran dan tingkat kematian terus menurun mengikuti laju penurunan tingkat fertilitas dan
mortilitas, maka angka pertumbuhan penduduk alamiah juga akan turun dari 1,2 % per tahun pada periode tahun
2000-2005 menjadi 0,79 % per tahun pada periode 2015-2020. Pada piramida kependudukan, terjadi perubahan
kecenderungan pada mengecilnya jumlah penduduk usia muda dan balita, dan meningkatnya jumlah segmen
angkatan kerja dan usia lanjut secara bermakna di tahun 2020, yang perubahannya diperkirakan akan mulai
terlihat sejak tahun 2005 ini. Jumlah tenaga kerja tahun 2000 sebesar 69,9 % dari jumlah penduduk seluruhnya
dan diproyeksikan akan menjadi 76,8 % pada tahun 2020.

Dari sisi keterjangkauan, akses, penggunaan obat akan memberikan kontribusi dalam pencapaian derajat
kesehatan yang ingin dicapai pemerintah. Proyeksi angka umur harapan hidup (UHH) tahun 2005 sebesar 69,0
tahun dan tahun 2025 akan sebesar 73,7 tahun. Angka kematian bayi (AKB) tahun 2005 sebesar 32,3 per 1.000
kelahiran hidup dan tahun 2025 akan sebesar 15,5 per 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu (AKI) tahun
2005 sebesar 262 per 100.000 kelahiran hidup dan tahun 2025 akan sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup.
Prevalensi kurang energi kalori (KEK) pada Balita tahun 2005 diproyeksikan sebesar 23 % dan tahun 2025
akan sebesar 17 %.
S eb el um di be rl ak uka nn ya ot on om i d ae ra h, diperki rakan 50-80 % da ri masyarakat Indonesia memiliki
akses terhadap obat esensial. Akses masyarakat terhadap obat esensial dipengaruhi oleh empat faktor utama,
yaitu penggunaan obat yang rasional; harga yang terjangkau; pembiayaan yang berkelanjutan; dan sistem
pelayanan kesehatan beserta sistem suplai obat yang dapat menjamin ketersediaan, pemerataan,
keterjangkauan obat. Beberapa intervensi terhadap kepatuhan penggunaan obat yang rasional telah dilakukan
Departemen Kesehatan di beberapa daerah seperti di Provinsi NTB, Kalimantan Timur, Jawa Timur,
Kalimantan Barat dan S um at er a B ara t d an te la h m enam pakka n hasil pa da ta hun 1991.
Evaluasi penerapan KONAS pada tahun 1997 menunjukkan kerasionalan penggunaan obat relatif lebih baik.
Namun keberhasilan beberapa intervensi yang dilakukan di beberapa daerah tersebut, belum sempat diperluas
telah terjadi krisis ekonomi yang memberikan dampak negatif pada pelaksanaan ke ra si onala n penggunaa n
o ba t.

U nt uk me nj am in ob at yan g m em en uh i p er syarata n t el ah di ke mbangkan st anda r kom odit i yang me nc akup


s ta nd ar kea ma na n, k ha si at da n m ut u. S el ai n i tu te la h dike mbangkan st anda r prose s produksi ya it u
Cara Pe mb ua ta n O ba t ya ng Ba ik (C PO B). Untuk pem anta ua n m ut u oba t ya ng beredar dilakukan melalui
program sampling.

Regulasi bidang obat mencakup: aspek persyaratan produk, proses produksi, sistem suplai, sistem harga,
pembiayaan, dan sebagainya. Penerapan regulasi secara umum dapat dikatakan telah berjalan baik terutama
sebelum era desentralisasi. Dari aspek sistem suplai obat hal ini dapat dilihat dengan ketersediaan obat yang
terjamin di seluruh wilayah Indonesia melalui Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota (GFK). Hal tersebut di atas
sekarang ini telah berubah disebabkan pengaruh visi dan persepsi Pemda kepada GFK yang bervariasi.

Untuk menjamin keterjangkauan obat, terutama di sektor publik, pemerintah telah menetapkan harga obat
esensial generik untuk pelayanan kesehatan dasar, maupun obat esensial generik program untuk
Pemberantasan Penyakit Menular (P 2 M). Disamping itu pemerintah juga menyediakan dana subsidi obat
melalui Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS BBM) untuk masyarakat
miskin. Sedangkan untuk masyarakat berpenghasilan rendah disubsidi melalui pengadaan obat di pelayanan
kesehatan dasar. Yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah kesinambungan ketersediaan dana pengadaan obat
untuk masyarakat miskin.
D af ta r O ba t E sen si al Na si on al (D OE N) te la h disusun sej ak ta hun 1980, dan pr om os i o ba t d e n ga n
m e n g a d o p s i “Ethi cal C rite ria for M edicinal Pr o mo tio n ”
d a r i W H O u n t u k m e r e s p o n s p r o m o s i o b a t no n- e t i s.
G. PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
Sasaran :
Peningkatan penelitian di bidang obat untuk menunjang penerapan
KONAS.

Pengertian penelitian dan pengembangan obat termasuk dalam penelitian pengembangan kesehatan
(Litbangkes) yang di dalamnya terkandung juga kajian berbagai hasil Litbang dan kebijakan. Litbang obat ini
pada dasarnya mencakup aspek sistem (manajemen obat, manajemen SDM, penggunaan obat rasional, dan lain-
lain), komoditi (obat, bahan obat, obat tradisional, kosmetik, bahan berbahaya, bahan tambahan makanan, dan
lain-lain), proses (pengembangan obat baru kimia farmasi, formulasi, uji preklinik, uji klinik), kajian regulasi
dan kebijakan (OE, OG, CPOB), dan lain-lain.
Langkah kebijakan:
1. Pe ng em ba ng an, da n m od if ik as i i nd ik at or penerapan KONAS.

2. Pe ng em ba ng an mo del pe ng el ol aa n t er uta ma obat esensi al di dae ra h t erpe nc il, dae ra h perba ta san, da erah
r aw an be nca na, da er ah ter ti ng ga l, g un a m enunja ng ket erse di aa n, peme ra ta an da n kete rj angkauan

3. Penelitian operasional untuk evaluasi penerapan KONAS secara berkala sesuai dengan pedoman WHO untuk
dapat melakukan penilaian k e m a j u a n p e n e ra pa nn ya .

4. Pe ng em ba ng an oba t b ar u u nt uk pe ny ak it ba ru (e mergi ng), m uncul- ke mbal i (re -em ergi ng), oba t yang
s ec ara ek on om is ti da k m en gu nt un gk an n a m u n s a n ga t d i pe rl uk a n ( o rp h an d ru g s) .
5. Pengembangan dan revitalisasi Sistem Informasi Obat di Instalasi Farmasi Kabupaten/ Kota (IFK) untuk
menjamin ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan khususnya obat esensial.
6. Pe ng em ba ng an dan ev al ua si si st em mo ni tori ng kea ma na n penggunaa n
obat.
7. Kajian atas efektifitas sistem sampling pada uji petik pengujian obat di
p as ar an.

8. Penelitian dan pengembangan penggunaan obat rasional mulai dari identifikasi masalah, besarnya masalah,
memilih strategi peningkatan p en gg un aa n obat ya ng ra si onal.
10.Penerbitan dan revisi pedoman cara uji klinis yang baik untuk berbagai
28
k el as te rap i o ba t.
H . PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
S a sa r a n :
Tersedianya SDM yang menunjang pencapaian sasaran KONAS.
T en ag a fa rm as i y an g d ip er lu ka n u nt uk be rba ga i i nsti tusi di at as ha rus
memadai dari segi jumlah,

kompetensi maupun pemerataan. Untuk itu perlu dilakukan upaya


peningkatan dan pengembangan SDM farmasi sacara sistematis, berkelanjutan disesuaikan dengan
perkembangan Iptek. Instalasi Farmasi Kabupaten/ Kota (IFK = GFK) yang sebelumnya telah dikembangkan
di setiap Kabupaten/ Kota, dilengkapi dengan sistem informasi yang dapat diandalkan serta sumber daya
manusia yang telah terlatih. Pelayanan obat di Puskesmas, rumah sakit baik pemerintah maupun swasta,
industri farmasi, Pedagang Besar Farmasi (PBF), apotek serta toko obat. Disamping itu diperlukan tenaga
apoteker di lebih 400 kabupaten/ kota dan 33 provinsi. Serta diperlukan juga tenaga asisten apoteker untuk
puskesmas.
Langkah kebijakan:
1. Me la ku ka n pe me ta an ke bu tu ha n te na ga fa rm asi di bidang obat.
2. Pe ny ed ia an ten ag a f ar ma si se sua i d en ga n kebut uhan di se tia p j enja ng
p el ay ana n k es eh at an
3.KONAS merupakan bagian dari kurikulum pendidikan dan pelatihan
tenaga profesi kesehatan.
4. Pe ne ra pa n K ON AS pa da p en di di ka n b erke la nj uta n ole h organisasi profe si
kesehatan.
5. Penyelenggaraan pelatihan kerja (in-job training) untuk menunjang
pengawasan obat,
penggunaan obat yang rasional serta pengelolaan
obat esensial secara efektif dan efisien.
6.Kerjasama regional dan internasional untuk pengembangan SDM a.l.
k er ja sa ma d en ga n o rg an is as i i nt er nas io na l dan de ngan ne gara donor.
29
I.PE MA NT AU A N DA N E VA LU AS I
Sasaran :
Menunjang penerapan KONAS sebaik-baiknya melalui pembentukan
mekanisme pemantauan dan evaluasi performa serta dampak kebijakan,
guna mengetahui hambatan dan penetapan strategi yang efektif

K ON AS me me rl uk an pe man ta ua n s ec ara be rkal a dan di eva luasi. Hal ini penti ng untuk m el akuka n
a nt is ip as i a tau ko re ks i t er ha da p p er uba ha n l ingkunga n dan pe rke mbanga n yang t erja di di masya ra ka t
y an g b eg it u k om pl ek s d an cep at. Ke gi at an pe manta ua n dan eval uasi m erupakan ba gi an ya ng ti da k
t er pi sa hk an dar i k eg ia ta n p en ge mba ng an
kebijakan. Dari
p em an ta uan ke bi ja ka n a ka n d ap at di la ku kan kore ksi yang dibut uhka n.
S ed an gk an eva lu as i k eb ij ak an di ma ks ud kan se ba ga i m el akuka n studi te nt ang penyel enggaraa nnya,
m el ap or ka n ou t pu t-n ya, me ng uk ur ou t com e, m enge va lua si pe ngaruhnya ( impact) pa da ke lompok sasaran,
m em be ri ka n r ek om en da si ser ta pe ny em pu rnaa n ke bi ja ka n.
Langkah Kebijakan:
1. Pe ma nt au an di lak uk an se ca ra ber ka la da n e va lua si di la kuka n ole h sua tu
komite nasional yang melibatkan instansi terkait.
2. Li ng ku p pem an ta uan da n e va lu as i m el iput i anta ra la in priori ta s
p en er apa n, k ap as it as, pe la ks ana an da n k em aj uan pe nc apai an tujua n.
3.P e m a n t a u a n d a p a t d i l a k u k a n d e n g a n p e n e t a p a n da e ra h s a m pe l .
4.P e l a k s a n a a n p e m a n t a u a n m e n g i k u t i p e d om a n W H O d a n be ke rj a sa m a
d e n g a n W H O u n t u k m e m u n g k i n k a n m e m b a n di ng ka n h a s i l nya de ng a n
negara lain.
5.P e m a n f a a t a n h a s i l p e m a n t a u a n d a n e v a l ua si un t u k:
a. Ti nd ak la nj ut be ru pa p en ye su ai an ke bi jakan, ba ik pe nyesua ian opsi
k eb ij ak an mau pu n p en et ap an pr io ri ta s.
b. Ne go si as i d en gan in st an si da n b ad an te rka it.
c . B a h a n p e m b a h a s a n d e n g a n b e r b a g a i b a d a n i n t e rn a s i o na l m a up un
donor luar negeri.
30
BAB V
P EN U T U P
Perumusan KONAS memerlukan pengorganisasian, penggerakan, pelaksanaan, pemantauan, pengawasan,
pengendalian dan evaluasi. KONas dipergunakan sebagai petunjuk dalam bertindak dari berbagai pemangku
kepentingan ( stakeholders) di Indonesia

K ON AS me ru pa ka n s is te m te rb uk a b er in te ra ksi, i nt ere la si da n i nt erde pe nde nsi yang sinergi s dengan


l in gk un ga n s tr at eg is bai k d i t in gk at lo ka l, nasiona l, regiona l dan gl oba l yang dinam is da n perlu
m en gi ku ti pe rk em ban ga n.

Keberhasilan penggerakan dan pelaksanaan KONAS sangatlah bergantung pada landasan moral, etika,
dedikasi, kompetensi, integritas, ketekunan, kerja keras, da n k e t ul us a n se g e n a p pe m a ng ku ke pe n t i ng a n di
bidang obat.
K i t a b e r h a r a p d a r i k e y a k i n a n y a n g t u m b u h da ri di ri ki t a , KO NA S i ni da pa t
d il ak sa na kan ol eh se mu a p em an gk u ke pe nt inga n di bidang oba t.
31
Glo ssary
M e t oo
:
KLB
:
Darurat
:
Bencana
:
B ul k P ur ch as in g
:
P oo l p ro cu re me nt :
P3D
W HO
:
IFK
:
Obat Essensial
:
O ba t G en er ik
:
CPOB
:
DOEN
:
Buffer stok
:
O rp ha n d ru g
:
SAS
:

kebijakan-obat-nasional
Reads:
36

Uploaded:
08/24/2010
Category:
Uncategorized.
Tags:
jurnal
obat
jurnal
obat
(Less)
Rated:
0 5 false false 0

Download this Document for FreePrintMobileCollectionsReport Document


This is a private document.

Rakhmad Harissono
Follow
Sign Up for an Ad-Free Scribd
• Remove all ads.
Never see ads on Scribd again.
No Thanks
Share & Embed
http://w w w

Link / URL:
Embed Size & Settings:
(auto)

• Width: Auto
300

• Height: (proportional to specified width)


1

• Start on page:
Scroll

• Preview View:
<a title=

More share options


Related
1. 21 p.

Pandangan Ekonomi Masyarakat Terha...


Reads: 800
30 p.

Pedoman Pengelolaan Obat Publik Da...


Reads: 1212
55 p.

'cara Menghitung Persentase Perese...


Reads: 1941
2. 37 p.

obat
Reads: 0
12 p.

Bahan New Farmakolog


Reads: 0
48 p.

Manajemen Obat Adalah


Reads: 3142
3. 12 p.

Makalah Obat Bahan Alam


Reads: 1110
8 p.

Analisis Jurnal Kesehatan


Reads: 2048
5 p.

swamedikasi
Reads: 1403
4. 2 p.

Pengertian Obat
Reads: 646
7 p.

Materi Kimia Medisinal Farmasi


Reads: 453
15 p.

WARUNG OBAT DESA 2008


Reads: 296
5. 18 p.

Mekanisme Perjalanan Obat Ke Alam ...


Reads: 934
1 p.

Analgetik Narkotik Adalah


Reads: 384
12 p.

Perbedaan Gargarisma Dan Mouthwash


Reads: 1165
More from this user
1. 31 p.
kebijakan-obat-nasional
From: Rakhmad Harissono
Reads: 76
Top of Form

Login to Add a Comment

Submit 4gen

Bottom of Form

Jerpi Sijabat readcast this about 21 hours agoLearn more about Readcast.

Print this document


High Quality
Open the downloaded document, and select print from the file menu (PDF reader required).
Browser Printing
Coming soon!

Scribd Archive > Charge to your Mobile


Phone Bill
Sign up
Use your Facebook login and see what your friends are reading and sharing.
Other login options

Login with Facebook


Top of Form
http://w w w .scrib http://w w w .scrib

Bottom of Form

Signup
I don't have a Facebook account
Top of Form
default

email address (required)

create username (required)

password (required)
Send me the Scribd Newsletter, and occasional account related communications.

Privacy policy
You will receive email notifications regarding your account activity. You can manage these
notifications in your account settings. We promise to respect your privacy.
Bottom of Form

Why Sign up?

Discover and connect with people of similar interests.

Publish your documents quickly and easily.

Share your reading interests on Scribd and social sites.

Already have a Scribd account?


Top of Form

email address or username

password
Log In

Trouble logging in?


Bottom of Form

Login Successful
Now bringing you back...

« Back to Login
Reset your password
Please enter your email address below to reset your password. We will send you an email with
instructions on how to continue.
Top of Form

Email address:

You need to provide a login


for this account as well.

Login:

Submit

Bottom of Form
Upload a Document
Top of Form

Search Books, Presentations, Business, Academics...


Bottom of Form
Scribd
• About
• Press
• Jobs
• Contact
• Blog
• Scribd Store
Legal
• Terms - General
• Terms - API
• Terms - Privacy
• Copyright
Help & Tools
• Getting Started
• Community Guidelines
• Support & FAQ
• Web Stuff
Partners
• Partners
• Branded Reader
• Developers / API
Subscribe to Us
• On Scribd
• On Twitter
• On Facebook
Top of Form

Enter your email address:


Sign Up

or

Bottom of Form
What's New
• We have updated our Terms of Service
• Branded Reader
• Desktop Uploader
EVALUASI MANAJEMEN OBAT DI RUMAH SAKIT
A. Pengertian Obat

Dalam Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan Bab I pasal 1 tidak disebutkan mengenai

pengertian obat, tetapi pengertian tentang sediaan farmasi. Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional

dan kosmetik.10
Menurut
Keputusan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia

omor 43/Menkes/SK/II/1988 tentang Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB), obat adalah tiap bahan atau

campuran bahan yang dibuat, ditawarkan untuk dibuat, ditawarkan untuk dijual atau disajikan untuk digunakan

dalam pengobatan, peredaran, pencegahan atau diagnosa suatu penyakit, suatu kelainan fisik atau gejala-gejalanya
pada manusia atau hewan, atau dalam pemulihan, perbaikan atau pengubahan fungsi organis pada manusia atau

hewan.11
Beberapa istilah yang perlu diketahui tentang obat, antara lain :12

1.Obat jadi adalah obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk, cairan, salep, tablet, pil, supositoria,

atau bentuk lain yang mempunyai nama teknis sesuai dengan Farmakope Indonesia (FI) atau buku lain.

2.Obat paten yakni obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama si pembuat atau yang dikuasakan dan dijual

dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya.


3.Obat baru adalah obat yang terdiri atau berisi suatu zat baik sebagai bagian yang

berkhasiat maupunan mutunya terjamin yang tidak berkhasiat, misalnya lapisan, pengisi, pelarut, bahan pembantu

atau komponen lain yang belum dikenal, hingga tidak diketahui khasiat dan keamanannya.
4.Obat esensial adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan bagi

masyarakat terbanyak yang meliputi diagnosa, profilaksis terapi dan rehabilitasi yang diupayakan tersedia pada unit

pelayanan kesehatan sesuai dengan fungsi dan tingkatnya.13 Konsep obat esensial merupakan pendekatan untuk

menyediakan pelayanan bermutu dan terjangkau, yang diwujudkan dengan Daftar Obat Esensial Nasional.14

5.Obat generik berlogo adalah obat esensial yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan

mutunya terjamin karena diproduksi sesuai dengan persyaratan CPOB dan diuji ulang oleh Pusat Pemeriksaan Obat

dan Makanan Departemen Kesehatan (PPOM Depkes). PPOM Depkes saat sekarang telah menjadi Badan Pengawas

Obat dan Makanan (BPOM) yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden.
1
2
B. Dasar Kebijakan Umum Obat

Dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN)15 telah disebutkan bahwa Subsistem obat dan perbekalan kesehatan

adalah tatanan yang menghimpun berbagai upaya yang menjamin ketersediaan, pemerataan serta mutu obat dan

perbekalan kesehatan secara terpadu dan saling mendukung dalam rangka tercapainya derajat kesehatan yang

setinggi-tingginya.

Tujuan dari subsistem obat dan perbekalan kesehatan adalah tersedianya obat dan perbekalan kesehatan yang

aman, bermutu dan bermanfaat, serta terjangkau oleh masyarakat untuk menjamin terselenggaranya pembangunan

kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.


Subsistem obat dan perbekalan kesehatan terdiri dari tiga unsur utama yakni jaminan ketersediaan, jaminan

pemerataan serta jaminan mutu obat dan perbekalan kesehatan. Jaminan ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan

adalah upaya pemenuhan kebutuhan obat dan perbekalan kesehatan sesuai dengan jenis dan jumlah yang dibutuhkan

oleh masyarakat. Jaminan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan adalah upaya penyebaran obat dan perbekalan

kesehatan secara merata dan berkesinambungan sehingga mudah diperoleh dan terjangkau oleh masyarakat. Jaminan

mutu obat dan perbekalan kesehatan adalah upaya menjamin khasiat, keamanan serta keabsahan obat dan perbekalan

kesehatan sejak dari produksi hingga pemanfaatannya. Ketiga unsur utama tersebut, yakni jaminan ketersediaan,

jaminan pemerataan serta jaminan mutu obat dan perbekalan kesehatan, bersinergi dan ditunjang dengan teknologi,

tenaga pengelola serta penatalaksanaan obat dan perbekalan kesehatan.


Penyelenggaraan subsistem obat dan perbekalan kesehatan mengacu pada
prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Obat dan perbekalan kesehatan adalah kebutuhan dasar manusia yang berfungsi
sosial, sehingga tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas ekonomi semata.

2. Obat dan perbekalan kesehatan sebagai barang publik harus dijamin ketersediaan dan keterjangkauannya, sehingga

penetapan harganya dikendalikan oleh pemerintah dan tidak sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar.
3. Obat dan Perbekalan Kesehatan tidak dipromosikan secara berlebihan dan
menyesatkan.
4.Peredaran serta pemanfaatan obat dan perbekalan kesehatan tidak boleh
bertentangan dengan hukum, etika dan moral.
2
3

5. Penyediaan obat mengutamakan obat esensial generik bermutu yang didukung oleh pengembangan industri bahan baku

yang berbasis pada keanekaragaman sumberdaya alam.


6. Penyediaan perbekalan kesehatan diselenggarakan melalui optimalisasi industri
nasional dengan memperhatikan keragaman produk dan keunggulan daya saing.
7.Pengadaan dan pelayanan obat di rumah sakit disesuaikan dengan standar
formularium obat rumah sakit, sedangkan di sarana kesehatan lain mengacu
kepada Daftar Obat Esensial Nasional.
8.Pelayanan obat dan perbekalan kesehatan diselenggarakan secara rasional
dengan memperhatikan aspek mutu, manfaat, harga, kemudahan diakses serta
keamanan bagi masyarakat dan lingkungannya.
9.Pengembangan dan peningkatan obat tradisional ditujukan agar diperoleh obat

tradisional yang bermutu tinggi, aman, memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah dan dimanfaatkan secara

luas, baik untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun digunakan dalam pelayanan kesehatan formal.
10.Pengamanan obat dan perbekalan kesehatan diselenggarakan mulai dari tahap
produksi, distribusi dan pemanfaatan yang mencakup mutu, manfaat, keamanan
dan keterjangkauan.
11. Kebijaksanaan Obat Nasional ditetapkan oleh pemerintah bersama pihak terkait
lainnya.
Bentuk pokok subsistem obat dan perbekalan kesehatan antara lain:
1.Perencanaan kebutuhan obat dan perbekalan kesehatan secara nasional
diselenggarakan oleh pemerintah bersama pihak terkait.
2.Perencanaan obat merujuk pada Daftar Obat Esensial Nasional yang ditetapkan
oleh pemerintah bekerja sama dengan organisasi profesi dan pihak terkait lainnya.
3. Penyediaan obat dan perbekalan kesehatan diutamakan melalui optimalisasi
industri nasional.

4. Penyediaan obat dan perbekalan kesehatan yang dibutuhkan oleh pembangunan kesehatan dan secara ekonomis belum

diminati swasta menjadi tanggung jawab pemerintah.


5. Pengadaan dan produksi bahan baku obat difasilitasi oleh pemerintah.
6.Pengadaan dan pelayanan obat di rumah sakit didasarkan pada formularium yang
ditetapkan oleh PFT rumah sakit.
7.Jaminan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan.
8. Pendistribusian obat diselenggarakan melalui pedagang besar farmasi.
3
4
9.Pelayanan obat dengan resep dokter kepada masyarakat diselenggarakan melalui
apotek, sedangkan pelayanan obat bebas diselenggarakan melalui apotek, toko
obat dan tempat-tempat yang layak lainnya, dengan memperhatikan fungsi sosial.
10. Dalam keadaan tertentu, dimana tidak terdapat pelayanan apotek, dokter dapat
memberikan pelayanan obat secara langsung kepada masyarakat.
11.Pelayanan obat di apotek harus diikuti dengan penyuluhan yang
penyelenggaraannya menjadi tanggung jawab apoteker.
12.Pendistribusian, pelayanan dan pemanfaatan perbekalan kesehatan harus
memperhatikan fungsi sosial.
13. Jaminan mutu obat dan perbekalan kesehatan

14. Pengawasan mutu produk obat dan perbekalan kesehatan dalam peredaran dilakukan oleh industri yang bersangkutan,

pemerintah, organisasi profesi dan masyarakat.


15. Pengawasan distribusi obat dan perbekalan kesehatan dilakukan oleh pemerintah,
kalangan pengusaha, organisasi profesi dan masyarakat.
16. Pengamatan efek samping obat dilakukan oleh pemerintah, bersama dengan
kalangan pengusaha, organisasi profesi dan masyarakat.

17. Pengawasan promosi serta pemanfaatan obat dan perbekalan kesehatan dilakukan oleh pemerintah bekerja sama

dengan kalangan pengusaha, organisasi profesi dan masyarakat.


18. Pengendalian harga obat dan perbekalan kesehatan dilakukan oleh pemerintah
bersama pihak terkait.

19. Pengawasan produksi, distribusi dan penggunaan narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya lainnya

dilakukan oleh pemerintah secara lintas sektor, organisasi profesi dan masyarakat.
20. Pengawasan produksi, distribusi dan pemanfaatan obat tradisional dilakukan oleh
pemerintah secara lintas sektor, organisasi profesi dan masyarakat.

Selain SKN di Indonesia juga terdapat Kebijakan Obat Nasional (KONAS) yang digunakan sebagai landasan,

arah, dan pedoman dalam pembangunan di bidang obat. Tujuannya menjamin:16


1. Ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat, terutama obat esensial.
2. Keamanan, khasiat dan mutu semua obat yang beredar serta melindungi
masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat.
3.Penggunaan obat yang rasional.
4
7
efisien agar obat yang diperlukan oleh dokter selalu tersedia setiap saat dibutuhkan
dalam jumlah cukup dan mutu terjamin untuk mendukung pelayanan yang bermutu.5,12

Manajemen obat di rumah sakit dilakukan oleh Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Berkaitan dengan pengelolaan

obat di rumah sakit, Departemen Kesehatan RI melalui SK No. 85/Menkes/Per/1989, menetapkan bahwa untuk

membantu pengelolaan obat di rumah sakit perlu adanya Panitia Farmasi dan Terapi,Formularium dan Pedoman

Pengobatan.

Panitia Farmasi dan Terapi adalah organisasi yang mewakili hubungan komunikasi antara para staf medis

dengan staf farmasi, sehingga anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili spesialisasi-spesialisasi yang ada di

rumah sakit dan apoteker wakil dari Farmasi Rumah Sakit, serta tenaga kesehatan lainnya.3

Formularium dapat diartikan sebagai daftar produk obat yang digunakan untuk tata laksana suatu perawatan

kesehatan tertentu, berisi kesimpulan atau ringkasan mengenai obat. Formularium merupakan referensi yang berisi

informasi yang selektif dan relevan untuk dokter penulis resep, penyedia/peracik obat dan petugas kesehatan

lainnya.5

Pedoman pengobatan yaitu standar pelayanan medis yang merupakan standar pelayanan rumah sakit yang

telah dibakukan bertujuan mengupayakan kesembuhan pasien


secara
optimal,
melalui
prosedur
dan
tindakan
yang
dapat
dipertanggungjawabkan.

Pengelolaan obat berhubungan erat dengan anggaran dan belanja rumah sakit. Mengenai biaya obat, menurut

Andayaningsih, biaya obat sebesar 40% dari total biaya kesehatan. Menurut Depkes RI secara nasional biaya obat

sebesar 40%-50% dari jumlah operasional pelayanan kesehatan. Mengingat begitu pentingnya dana dan kedudukan

obat bagi rumah sakit, maka pengelolaannya harus dilakukan secara efektif dan efisien sehingga dapat memberikan

manfaat yang sebesar-besarnya bagi pasien dan rumah sakit.2 Pengelolaan tersebut meliputi seleksi dan perencanaan,

pengadaan, penyimpanan, distribusi dan penggunaan.1


1.Seleksi dan perencanaan
Tersedianya berbagai macam obat dipasaran, membuat para dokter tidak mungkin up to date dan

membandingkan berbagai macam obat tersebut. Produk obat yang sangat bervariasi juga menyebabkan tidak

konsistennya pola peresepan dalam suatu sarana pelayanan kesehatan. Hal ini akan menyulitkan dalam proses

pengadaan obat. Disinilah letak peran seleksi dan perencanaan obat.


a. Seleksi
7
8

Seleksi atau pemilihan obat merupakan proses kegiatan sejak dari meninjau masalah kesehatan yang terjadi di

rumah sakit, identifikasi pemilihan terapi, bentuk dan dosis, menentukan kriteria pemilihan dengan memprioritaskan

obat esensial, standarisasi sampai menjaga dan memperbaharui standar obat. Penentuan seleksi obat merupakan

peran aktif apoteker dalam PFT untuk menetapkan kualitas dan efektifitas, serta jaminan purna transaksi pembelian.1

Kriteria seleksi obat menurut DOEN:

1) Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan pasien

2) Memiliki rasio resiko manfaat yang paling menguntungkan

3) Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan

4) Obat mudah diperoleh


b. Perencanaan

Perencanaan merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah, dan harga perbekalan farmasi yang

sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, untuk menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode yang

dapat dipertanggung jawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang telah ditentukan antara lain Konsumsi,

Epidemiologi, Kombinasi metode konsumsi dan epidemiologi disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.1

Dalam pengelolaan obat yang baik perencanaan idealnya dilakukan dengan berdasarkan atas data yang

diperoleh dari tahap akhir pengelolaan, yaitu penggunaan obat periode yang lalu. Tujuan dari perencanaan adalah

untuk mendapatkan jenis dan jumlah obat yang sesuai dengan kebutuhan, menghindari terjadinya stock out

(kekosongan) obat dan meningkatkan penggunaan obat secara rasional.17

Perencanaan merupakan tahap yang penting dalam pengadaan obat di IFRS, apabila lemah dalam

perencanaan maka akan mengakibatkan kekacauan dalam suatu siklus manajemen secara keseluruhan, mulai dari

pemborosan dalam penganggaran, membengkaknya biaya pengadaan dan penyimpanan, tidak tersalurkannya obat

sehingga obat bisa rusak atau kadaluarsa.


Badan Pengawas Obat dan Makanan menyebutkan bahwa perencanaan kebutuhan obat adalah salah satu

aspek penting dan menentukan dalam pengelolaan obat karena perencanaan kebutuhan akan mempengaruhi

pengadaan, pendistribusian dan penggunaan obat di unit pelayanan kesehatan.18


8
9
Perencanaan merupakan tahap awal pada siklus pengelolaan obat. Ada
beberapa macam metode perencanaan, yaitu:
1) Metode morbiditas/epidemiologi19

Yaitu berdasarkan pada penyakit yang ada. Dasarnya adalah jumlah kebutuhan obat yang digunakan untuk

beban kesakitan (morbidity load), yaitu didasarkan pada penyakit yang ada di rumah sakit atau yang paling sering

muncul dimasyarakat. Metode ini paling banyak digunakan di rumah sakit. Tahap-tahap yang dilakukan yaitu:
a)
Menentukan beban penyakit
(1) Tentukan beban penyakit periode yang lalu, perkirakan penyakit yang
akan dihadapi pada periode mendatang
(2)Lakukan stratifikasi/pengelompokkan masing-masing jenis, misalnya
anak atau dewasa, penyakit ringan, sedang, atau berat, utama atau
alternatif
(3) Tentukan prediksi jumlah kasus tiap penyakit dan persentase
(prevalensi) tiap penyakit
b)
Menentukan pedoman pengobatan
(1) Tentukan pengobatan tiap-tiap penyakit, meliputi nama obat, bentuk
sediaan, dosis, frekuensi, dan durasi pengobatan
(2) Hitung jumlah kebutuhan tiap obat per episode sakit untuk masing-
masing kelompok penyakit
c)
Menentukan obat dan jumlahnya
(1) Hitung jumlah kebutuhan tiap obat untuk tiap penyakit
(2) Jumlahkan obat sejenis menurut nama obat, dosis, bentuk sediaan,
dan lain-lain

Perencanaan dengan menggunakan metode morbiditas ini lebih ideal, namun prasyarat lebih sulit dipenuhi.

Sementara kelemahannya yaitu seringkali standar pengobatan belum tersedia atau belum disepakati dan data

morbiditas tidak akurat.20


2) Metode konsumsi20

Metode konsumsi adalah suatu metode perencanaan obat berdasarkan pada kebutuhan riil obat pada periode

lalu dengan penyesuaian dan koreksi berdasarkan pada penggunaan obat tahun sebelumnya. Metode ini banyak

digunakan di Apotek.
Langkah-langkah yang dilakukan yaitu:
9
10
a)
Pastikan beberapa kondisi berikut:
(1) Dapatkah diasumsikan pola pengobatan periode yang lalu baik atau
rasional?
(2) Apakah suplai obat periode itu cukup dan lancar?
(3) Apakah data stok, distribusi, dan penggunaan obat lengkap dan
akurat?
(4) Apakah banyak terjadi kecelakaan (obat rusak, tumpah, kadaluarsa)
dan kehilangan obat?
(5) Apakah jenis obat yang akan digunakan sama?
b)
Lakukan estimasi jumlah kunjungan total untuk periode yang akan
datang
(1) Hitung kunjungan pasien rawat inap maupun rawat jalan pada periode
yang lalu
(2) Lakukan estimasi periode yang akan datang dengan memperhatikan:
a) Perubahan populasi daerah cakupan pelayanan, perubahan

cakupan pelayanan

b) Pola morbiditas, kecendrungan perubahan insidensi

c) Penambahan fasilitas pelayanan


c)

Perhitungan

(1) Tentukan metode konsumsi

(2) Hitung pemakaian tiap jenis obat dalam periode lalu


(3) Koreksi hasil pemakaian tiap jenis obat dalam periode lalu terhadap
kecelakaan dan kehilangan obat
(4)Koreksi langkah sebelumnya (koreksi hasil pemakaian tiap jenis obat
dalam periode lalu terhadap kecelakaan dan kehilangan obat)

terhadap stock out.

(5) Lakukan penyesuaian terhadap kesepakatan langkah1 dan 2

(6) Hitung periode yang akan datang untuk tiap jenis obat

Perencanaan obat dengan metode konsumsi akan memakan waktu lebih banyak tetapi lebih mudah dilakukan,

namun aspek medik penggunaan obat kurang dapat dipantau. Kelemahannya yaitu kebiasaan pengobatan yang tidak

rasional seolah-olah ditolerir.20


3) Metode gabungan, metode ini untuk menutupi kelemahan kedua metode
diatas.20
10
11

Dalam Undang-undang Republik Indonesia No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan kaitannya dengan

perencanaan obat, Bab V bagian ke-11 pasal 40 menyebutkan bahwa sediaan farmasi yang berupa obat dan bahan

obat harus memenuhi syarat Farmakope Indonesia dan atau buku standar lain.20
Pedoman perencanaan obat untuk rumah sakit yaitu DOEN, Formularium Rumah Sakit, Standar Terapi

Rumah Sakit, ketentuan setempat yang berlaku, data catatan medik, anggaran yang tersedia, penetapan prioritas,

siklus penyakit, sisa persediaan, data pemakaian periode yang lalu, atau dari rencana pengembangan.1

Perencanaan yang telah dibuat harus dilakukan koreksi dengan menggunakan metode analisis nilai ABC

untuk koreksi terhadap aspek ekonomis, karena suatu jenis obat dapat memakan anggaran besar disebabkan

pemakaiannya banyak atau harganya mahal. Dengan analisis nilai ABC ini, dapat diidentifikasi jenis-jenis obat yang

dimulai dari golongan obat yang membutuhkan biaya terbanyak. Pada dasarnya obat dibagi dalam tiga golongan

yaitu golongan A jika obat tersebut mempunyai nilai kurang lebih 80 % sedangkan jumlah obat tidak lebih dari 20

%, golongan B jika obat tersebut mempunyai nilai sekitar 15 % dengan jumlah obat sekitar 10 % - 80 %, dan

golongan C jika obat mempunyai nilai 5 % dengan jumlah obat sekitar 80 % - 100 %.5

Analisa juga dapat dilakukan dengan metode VEN (Vital, Esensial dan Non Esensial) untuk koreksi terhadap

aspek terapi, yaitu dengan menggolongkan obat kedalam tiga kategori. Kategori V atau vital yaitu obat yang harus

ada yang diperlukan untuk menyelamatkan kehidupan, kategori E atau essensial yaitu obat yang terbukti efektif

untuk menyembuhkan penyakit atau mengurangi pasienan, kategori N atau non essensial yaitu meliputi berbagai

macam obat yang digunakan untuk penyakit yang dapat sembuh sendiri, obat yang diragukan manfaatnya dibanding

obat lain yang sejenis.5 Analisa kombinasi metode ABC dan VEN yaitu dengan melakukan pendekatan mana yang

paling bermanfaat dalam efisiensi atau penyesuaian dana.2


2. Pengadaan
Pengadaan obat merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang
telah direncanakan dan disetujui melalui :1
a. Pembelian :
1) Secara tender (oleh Panitia Pembelian Barang Farmasi)
11
12
2) Secara langsung dari pabrik/distributor/pedagang besar
farmasi/rekanan
b. Produksi/pembuatan sediaan farmasi:
1) Produksi Steril
2) Produksi Non Steril
c.Sumbangan/droping/hibah pembelian secara tender.

Tujuan pengadaan adalah memperoleh obat yang dibutuhkan dengan harga layak, mutu baik, pengiriman obat

terjamin tepat waktu, proses berjalan lancar tidak memerlukan waktu dan tenaga yang berlebihan.5

Pengadaan memegang peranan yang penting, karena dengan pengadaan rumah sakit akan mendapatkan obat

dengan harga, mutu dan jumlah, yang sesuai dengan kebutuhan. Rumah sakit tidak dapat memenuhi kebutuhan
pasien jika persediaan obat tidak ada, hal ini dapat berakibat fatal bagi pasien dan akan mengurangi keuntungan

yang seharusnya dapat diterima rumah sakit.2

Keputusan Presiden No. 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

berlaku untuk pengadaan obat di rumah sakit milik pemerintah, pengadaan obat ini dibiayai oleh Anggaran

Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dalam

Keppres ini, pelaksanaan pengadaan barang/jasa dilakukan dengan menggunakan:21


a.Penyedia barang/jasa, yaitu dengan menggunakan badan usaha atau orang
perseorangan yang kegiatan usahanya menyediakan barang/
layanan jasa.

b. Pengadaan barang/jasa swakelola, yaitu direncanakan, dikerjakan, dan diawasi sendiri oleh institusi pemerintah

penanggungjawab anggaran atau institusi pemerintah penerima kuasa dari penanggungjawab anggaran atau

kelompok masyarakat penerima hibah. Swakelola dapat dilaksanakan oleh pengguna barang/jasa, instansi

pemerintah lain, kelompok masyarakat/lembaga swadaya masyarakat penerima hibah.


Untuk menentukan sistem pengadaan perlu mempertimbangkan jenis, sifat,
dan nilai barang/jasa yang ada. Prinsip pengadaan barang/ jasa yaitu:24

a. Efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang terbatas untuk

mencapai sasaran yang ditetapkan


dalam
waktu
sesingkat-singkatnya
dan
dapat
dipertanggungjawabkan
12
13

b. Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan

manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan

c. Terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi

persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi

syarat/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan

d. Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa, termasuk syarat teknis

administrasi pengadaan, tata cara evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calon penyedia barang/jasa, sifatnya terbuka

bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya
e. Adil/tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa dan tidak

mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak tertentu, dengan cara dan atau alasan apapun

f. Akuntabel, berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan maupun manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas

umum pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang berlaku dalam

pengadaan barang/jasa.
Metoda Pemilihan Penyedia Barang/Jasa terbagi menjadi:24
a. Pelelangan umum

Adalah metoda pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara

luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi untuk penerangan umum sehingga masyarakat luas dunia

usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya. Semua pemilihan penyedia barang/jasa

pemborongan/jasa lainnya pada prinsipnya dilakukan dengan pelelangan umum.


b. Pelelangan terbatas

Dalam hal jumlah penyedia barang/jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas yaitu untuk pekerjaan

yang kompleks, maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan metoda pelelangan terbatas dan

diumumkan secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi dengan mencantumkan penyedia

barang/jasa yang telah diyakini mampu, guna


13
36
c. Frekuensi tertundanya pembayaran oleh rumah sakit terhadap waktu yang
telah disepakati

Tingkat frekuensi tertundanya pembayaran menunjukkan kurang baiknya manajemen keuangan pihak rumah

sakit. Hal ini dapat menunjukkan kepercayaan pihak pemasok kepada rumah sakit sehingga potensial menyebabkan

ketidaklancaran suplai obat dikemudian hari. Besarnya frekuensi tertundanya pembayaran IFRS terhadap waktu

yang telah disepakati dapat mengakibatkan:


1) Hubungan antara IFRS dengan pemasok terganggu

Hubungan antara IFRS dengan pemasok perlu dijaga agar tetap baik, sehingga bila ada pengembalian obat

yang kadaluarsa atau keluhan lain dapat segera ditanggapi, segera mendapat daftar baru bila ada kenaikan harga dan

lancarnya kunjungansales ke IFRS untuk menerima pesanan.


2) Penundaan pemesanan order oleh pemasok

Penundaan pemesanan ini dapat mengganggu kelancaran dalam pelayanan pasien, karena dengan

tertundanya pemesanan akan menyebabkan stok menjadi kosong sehingga kebutuhan pasien tidak dapat terpenuhi.
3. Penyimpanan Obat
a. Persentase kecocokan antara barang dengan kartu stok

Proses pencocokan harus dilakukan pada waktu yang sama untuk menghindari kekeliruan karena adanya

barang yang keluar atau masuk (adanya transaksi). Apabila tidak dilakukan secara bersamaan maka ketidakcocokan

akan meningkat. Ketidakcocokan akan menyebabkan terganggunya perencanaan pembelian barang dan pelayanan

terhadap pasien.
b.Turn Over Ratio (TOR)

TOR digunakan untuk mengetahui berapa kali perputaran modal dalam 1 tahun, selain itu dapat untuk

menghitung efisiensi pengelolaan obat. Semakin tinggi TOR, semakin efisien persediaan obat. Apabila TOR rendah,

bearti masih banyak stok obat yang belum terjual sehingga mengakibatkan obat menumpuk dan berpengaruh

terhadap

keuntungan. TOR adalah perbandingan antara

omzet dalam 1 tahun dengan hasil stok opname pada akhir tahun. Standar umum TOR yang biasa digunakan yaitu 6-

7 kali.
c. Sistem penataan gudang
36
37
Sistem penataan gudang bertujuan untuk menilai sistem penataan obat
digudang.
d. Persentase nilai obat yang kadaluarsa atau rusak

Persentase nilai obat yang kadaluarsa atau rusak masih dapat diterima jika nilainya dibawah 1%. Besarnya

persentase nilai obat yang kadaluarsa atau rusak mencerminkan ketidaktepatan perencanaan dan/atau kurang

baiknya sistem distribusi dan/atau kurangnya pengamatan mutu dalam penyimpanan, dan/atau perubahan pola

penyakit atau pola peresepan oleh dokter.


e. Persentase stok mati

Stok mati adalah stok obat yang tidak digunakan selama 3 bulan atau selama 3 bulan tidak terdapat transaksi.

Kerugian yang disebabkan akibat stok mati adalah perputaran uang yang tidak lancar, kerusakan obat akibat terlalu

lama disimpan sehingga menyebabkan obat kadaluarsa.


f. Nilai stok akhir gudang
Untuk mengetahui nilai stok akhir obat, yaitu:
1) Stok berlebih

Adanya stok berlebih akan meningkatkan pemborosan dan kemungkinan obat mengalami kadaluarsa atau

rusak dalam penyimpanan. Untuk mengantisipasi adanya obat melampaui batas expire date, maka dilakukan
distribusi berdasarkan sistem FIFO atau FEFO. Hal lain yang dapat dilakukan adalah upaya pengembalian obat

kepada PBF atau menukar obat yang hampir tiba waktu kadaluarsanya dengan obat baru.
2) Stok kosong

Stok kosong adalah jumlah stok akhir obat sama dengan nol. Stok obat digudang mengalami kekosongan

dalam persediaannya sehingga bila ada permintaan tidak bisa terpenuhi. Faktor-faktor penyebab terjadinya stok

kosong antara lain:


(a) Tidak terdeteksinya obat yang hampir habis, hal ini terkait dengan
ketelitian petugas dalam mencatat persediaan yang menipis.
(b)Hanya ada persediaan yang kecil untuk obat-obat tertentu (slow
moving), maka ketika habis tidak ada persediaan di gudang.
(c)Barang yang dipesan belum datang, hal ini terkait dengan waktu tunggu
(lead time) dari PBF yang berbeda-beda.
(d) PBF mengalami kekosongan, kadang-kadang hal ini terjadi karena PBF
mengalami kekosongan pengiriman dari industri farmasi, yang
37
38
mengakibatkan pesanan tidak dapat terpenuhi, akibatnya persediaan di
IFRS juga kosong.

(e) Pemesanan ditunda oleh PBF, hal ini terjadi jika pembayaran/pelunasan utang ke PBF mengalami keterlambatan,

biasanya PBF menunda pesanan IFRS sampai utang tersebut dilunasi, penundaan ini mengakibatkan IFRS

mengalami stok kosong.


4. Distribusi
Indikator-indikator distribusi obat yaitu:

a. Rata-rata waktu yng digunakan untuk melayani resep sampai ketangan pasien, bertujuan untuk mengetahui tingkat

kecepatan pelayanan apotek rumah sakit.


b. Persentase obat yang diserahkan, bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan IFRS menyediakan obat yang diresepkan.
c.Persentase obat yang dilabeli dengan benar, bertujuan untuk mengetahui
penguasaan peracik(dispenser) tentang informasi pokok yang harus ditulis
dalam etiket.
d. Persentase resep yang tidak bisa dilayani, bertujuan untuk mengetahui
cakupan pelayanan farmasi rumah sakit.
Sedangkan untuk mengukur situasi pengelolaan pada tahap penggunaan telah
ditetapkan WHO dalam beberapa indikator, yaitu:
1. Jumlah rata-rata obat tiap resep

Tujuannya untuk mengukur derajat polifarmasi. Biasanya kombinasi obat dihitung sebagai 1 obat.

Perhitungan dilakukan dengan membagi jumlah total produk obat yang diresepkan dengan jumlah resep yang

disurvei.
2. Persentase obat generik yang diresepkan
Tujuannya untuk mengukur kecenderungan peresepan obat generik.
3. Persentase antibiotik yang diresepkan
Indikator peresepan resep dengan antibiotik digunakan untuk mengukur penggunaan antibiotik secara

berlebihan karena penggunaan antibiotik secara berlebihan merupakan salah satu bentuk ketidakrasionalan

peresepan. Rata-rata persentase penulisan resep dengan antibiotik di Indonesia adalah sebesar 43%.
4. Persentase injeksi yang diresepkan
Tujuannya untuk mengukur penggunaan injeksi yang berlebihan. Dalam hal ini,
imunisasi biasanya tidak dimasukkan dalam perhitungan.
5. Persentase obat yang diresepkan dari daftar obat esensial atau formularium
38
39

Tujuannya untuk mengukur derajat kesesuaian praktek dengan kebijaksanaan obat nasional yang

diindikasikan dengan peresepan dari daftar obat esensial atau formularium. Sebelumnya rumah sakit harus
mempunyai kopi daftar obat esensial nasional atau formularium sehingga dapat dijadikan acuan dalam penulisan

resep.
Secara lebih rincinya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2.4 Indikator Efisiensi Pengelolaan Obat
Tahap
Macam Indikator
Tujuan
Cara Menghitung
1
2
3
4
A. Perencanaan
B. Pengadaan
C. Penyimpanan
1. Persentase
dana
yang

tersedia dengan keseluruhan dana

yang
sesungguhnya
dibutuhkan
2. Perbandingan
antara jumlah item
obat
yang

ada dalam perencanaan dengan jumlah item obat

dalam
kenyataan
pemakaian
1. Frekuensi
pengadaan
tiap
item obat.
2. Frekuensi
kesalahan faktur
3.Frekuensi
tertundanya
pembayaran
oleh
rumah
sakit
terhadap
waktu
yang disepakati
1.Kecocokan antara
barang
dengan
kartu stok
2. Turn Over Ratio
1.Untuk mengetahui
seberapa

jauh persediaan dana memberikan dana kepada farmasi


2.Untuk mengetahui
seberapa
ketepatan
perkiraan dalam
perencanaan
1.Untuk mengetahui berapa kali obat- obat
tersebut
dipesan
tiap
bulannya.
2.Untuk mengetahui
berapa

kali
petugas
melakukan
kesalahan
3.Untuk mengetahui

kualitas
pembayaran
rumah sakit
1.Untuk mengetahui
ketelitian petugas
gudang
2.Untuk mengetahui
berapa

kali perputaran modal dalam satu tahun


3. Untuk

menilai sistem penataan obat


digudang,
standar
adalah
1. Hitung:
A : Dana yang
tersedia.
B
:
Kebutuhan
berdasar

metode
konsumsi,
epidemiologi
Persentase =
A/B x 100%
2. Hitung :
C : Jumlah item obat
dalam perencanaan
D : Jumlah item obat
dalam

kenyataan
pemakaian
Hitung C : D
1. Ambil 30 kartu stok
obat,

diamati berapa kali obat dipesan tiap tahun


2. Ambil
surat pesanan selama 3 bulan,

kemudian cocokkan dengan nota


pengiriman
fakturnya.
3.
Ambil
daftar
hutang, cocokkan
dengan
daftar
pembayarannya
1.Ambil 30 kartu stok
obat (A) cocokkan
dengan
barang
yang
ada
(B),
apakah A = B atau A
≠ B

2. Omzet 1 tahun = A, Hasil stok opname 1 tahun = B, TOR = A/B

39

40
1
3. Sistem penataan
gudang
2
FIFO dan FEFO
3
3.Ambil 30 kartu stok
secara acak (X), cocokkan dengan keadaan

barang
dalam no batch,
tanggal
kadaluarsa

dan tanggal pembelian, dicatat berapa yang tidak cocok (Y), hitung
berapa persen yang tidak cocok = Y/X x 100%
4
40
41
D. Distribusi
E. Penggunaan
4. Persentase nilai

obat yang
kadaluarsa dan atau
rusak
5. Persentase stok
mati
6.Persentase nilai
stok akhir obat
1.Rata-rata
waktu
yang
digunakan
untuk
melayani
resep
sampai
ketangan pasien
2. Persentase
obat
yang diserahkan
3.Persentase

obat yang diberi label dengan benar


4.Persentase resep
yang tidak bisa
dilayani
1.Jumlah item obat
perlembar resep
4.Untuk mengetahui
besarnya
kerugian
rumah
sakit

5.Untuk mengetahui item obat selama tiga bulan tidak terpakai

6.Untuk mengetahui nilai stok akhir digudang


1. Untuk

mengetahui
tingkat
kecepatan
pelayanan
apotik
rumah
sakit
2. Untuk
mengetahui
sejauh

mana
kemampuan
IFRS
menyediakan
obat
yang
diresepkan
3.Untuk

mengetahui
penguasaan
dispenser
tentang
informasi pokok
yang
harus
ditulis
pada
etiket
4. Untuk

mengetahui
cakupan
pelayanan
farmasi rumah
sakit
1.Untuk
mengukur
4. Dari catatan obat
yang
kadaluarsa
dalam
1

tahun, hitung nilainya = X, nilai stok opname = Y, kerugian = X/Y x 100%

5.Jumlah item obat


yang tidak terpakai dalam 3 bulan (X), jumlah item obat yang ada stoknya (Y)

6.Nilai
persediaan
stok akhir (X), nilai
total
persediaan
(Y), Z = X/Y x 100%
1.Ambil 30 pasien

rawat jalan dan rawat inap, catat waktu resep masuk keapotek (B), catat waktu
selesai
diterima pasien (A),
X = ∑ A-B/30
2.Ambil 100 lembar
resep

perbulan, Catat total jumlah item obat yang diserahkan kepada pasien (X), catat jumlah item obat yang
diresepkan
(Y), Z = X/Y x 100%
3.Ambil 30 pasien,

hitung jumlah obat dengan etiket yang paling tdak dilabeli dengan

nama pasien dan aturan pakai (X), Hitung jumlah total obat yang
diberikan
kepada pasien (Y),
Z = X/Y x 100%
4.Ambil sampel 10
hari, hitung jumlah
resep
yang
diberikan
pada pasien rawat jalan (M), hitung jumlah resep yang dilayani farmasi hari yang sama (N).
S = M – N / M x 100%
1.Ambil 100 lembar

resep tiap bulannya (Y), hitung jumlah obat yang diperoleh dari 100 lembar resep (X), rata-rata

41
42
derajat
poli
farmasi
= X/Y
1
2
3
4
2.Persentase resep
dengan
obat
2.Untuk mengukur
kecenderungan
2. Ambil 100 lembar
resep obat tiap
42
43
generik
3. Persentase resep
dengan antibiotika
4. Persentase resep
injeksi
5. Persentase resep
dengan

obat
didalam
DOEN/formularium
meresepkan obat
generik
3. Untuk mengukur

penggunaan
antobiotika
secara berlebihan
4. Untuk mengukur
penggunaan
injeksi
secara
berlebihan

5. Untuk mengukur tingkat kepatuhan dokter terhadap DOEN/


formularium
bulan,

hitung jumlah obat dalam nama generik (X), hitung jumlah total obat (Y)
Z = X/Y x 100%
3.Ambil 100 lembar

resep obat tiap bulan, X = Jumlah pasien


yang
menerima

antibiotika, Y = jumlah total resep. Z = X/Y x 100%


4.Ambil 100 lembar

resep obat tiap bulan, X = jumlah pasien

yang menerima suntikan injeksi,


Y = jumlah total
resep,
Z = X/Y x 100%

5. X = jumlah obat yang sesuai DOEN/ formularium, Y = total jumlah obat.


Z = X/Y x 100%
Sumber: Pudjaningsih, D., Pengembangan Indikator Efisiensi Pengelolaan Obat di Farmasi Rumah Sakit.
Magister Manajemen Rumah Sakit, UGM.
DAFTAR PUSTAKA
43
44
1. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar
Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta : Depkes RI ; 2004.
2. Cut Safrina Indriawati. Analisis Pengelolaan Obat di Rumah Sakit Umum Daerah
Wates [Tesis]. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada ; 2001.
3. Charles J.P. Siregar., Lia Amalia. Farmasi Rumah Sakit : Teori dan Penerapan. Jakarta
: EGC ; 2003.
4. Aditama, Chandra Yoga. Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Jakarta : UI Press ;
2003.
5. Quick D. Jonathan. Managing Drug Supply (2nd ed). Management Sciences for Health.
USA : Kumarian Press ; 1997.
6. Pudjaningsih, D., Pengembangan Indikator Efisiensi Pengelolaan Obat di Farmasi Rumah Sakit [Tesis]. Yogyakarta :
Magister Manjemen Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada ; 1996.
7. Profil Rumah Sakit Umum Daerah Sanggau Tahun 2007.
8. Suciati Susi., Adisasmito BB Wiku. Analisis Perencanaan Obat Berdasarkan ABC Indeks Kritis di Instalasi Farmasi
[Jurnal]. Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol. 09/No. 01/Maret 2006.
9. Istinganah., dkk. Evaluasi Sistem Pengadaan Obat dari Dana APBD Tahun 2001-2003 Terhadap Kesediaan dan
Efisiensi Obat [Jurnal]. Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol. 09/No. 01/Maret 2006.
10. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Supervisi dan Evaluasi Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan.
Jakarta : Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan ; 2002.
11. Wiyono Djoko. Manajemen Mutu. Teori Strategi dan Aplikasi. Vol. I. Surabaya :
Airlangga University Press ; 1999.
12. Azwar Azrul. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta : Binarupa Aksara ; 1996.
13. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, Jakarta
: 2004.
14.Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43/Menkes/SK/II/1988
tentang Cara Pembuatan Obat Yang Baik. Jakarta : 1988.
15. Anief Moh. Apa yang Perlu Diketahui tentang Obat. 4th ed. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press ; 2003.
16. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 1375.A/Menkes/ SK/IX/2002 tentang Daftar
Obat Esensial Nasional 2002.
17.Ida Prista Maryetty. Regulasi Obat yang Mempengaruhi Peresepan. (Online).
fkuii.org/tiki-
44
45
download_wiki_attachment.php?attId=199&page=pengobatan_rasional_handout
diakses tanggal 18 Maret 2008.
18. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Sistem Kesehatan Nasional. Depkes RI,
Jakarta, 2004.
19. Direktur Jendral Bina Kefarmasian dan Pelayanan Farmasi. Kebijakan Obat Nasional (KONAS). (Online).
Http://www.litbang.depkes.go.id/download/lokakarya/ Loknas Bandung/Konas-Obat.pdf, diakses tanggal 18 Maret
2008.
20. Suryawati Sri. Efisiensi Pengelolaan Obat di Rumah Sakit [Tesis]. Yogyakarta :
Magister Manajemen Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada ; 1997.
21. Badan Pengawas Obat dan Makanan. Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Jakarta :
2001.
22.Dono Utomo. Pengembangan Sistem Informasi Farmasi Untuk Pengambilan Keputusan Inventori di Instalasi Farmasi
Rumah Sakit Jiwa Gondohutomo Semarang [Tesis]. Semarang : MIKM Universitas Diponegoro ; 2006.
23. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Jakarta
: 2004.
24. Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Barang dan
Jasa Pemerintah.
25. Soerjono Seto, Yunita Nita, Lily Triana, Manajemen Farmasi. Surabaya : Airlangga
University Press : 2004.
26. Liliek Sulistyaningsih. Evaluasi Manajemen Obat di Rumah Sakit Umum daerah Wangaya Kotamadya Dati II
Denpasar [Tesis]. Yogyakarta : MMR Universitas Gadjah Mada ; 1998.
27. Panjaitan
Richard.
Penggunaan
Obat
Rasional.
(Online).
www.depkes.go.id/downloads/ rakerkes, diakses tanggal 20 Maret 2008.
28. Suryawati Sri. Meningkatkan Penggunaan Obat Secara Rasional Melalui Perubahan Perilaku. Materi Kursus.
Magister Manajemen dan Kebijakan Obat Universitas Gadjah Mada bekejasama dengan Yayasan melati Nusantara.
Yogyakarta ; 1997.
29. Budiono Santoso. Penggunaan Obat dan Prinsip Pengobatan Rasional. Program Pengembangan Eksekutif. Magister
Manajemen Rumah Sakit bekerjasama dengan Pusat Studi Farmakologi Klinik dan Kebijakan Obat Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta ; 1997.
30. Instalasi
Farmasi
Rumah
Sakit.
(Online).
http://farmas
i- istn.blogspot.com/2008/01/instalasi-farmasi-rumah-sakit.html diakses tanggal 22-4- 2008.
31. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. Jakarta : Direktorat Jenderal
Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Republik Indonesia ; 2007.
45

32. Notoatmodjo Soekidjo. Metodologi Penelitian. 3th ed. Jakarta : Rhineka Cipta ; 2005.

33. Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. 1st ed. Bandung : Alfabeta ; 2005.

34. Analisa Tulang Ikan. fuldkt.web.ib/readerticle.php diakses tanggal 6 Juli 2008


35. Sarmini. Analisis Terhadap Faktor Keberhasilan Obat di Instalasi Rumah Sakit Pandan
Arang Boyolali [Tesis]. Yogyakarta : MMR Universitas Gadjah Mada ; 1998.
36. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1457/MENKES/SK/X/2003 Tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota.
37. Hartono Joko Puji. Analisis Proses Perencanaan Kebutuhan Obat Publik untuk Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) di
Puskesmas Sewilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya [Tesis]. Semarang : Program Studi Ilmu Kesehatan
Masyarakat Konsentrasi AKK Universitas Diponegoro ; 2007.
46
10
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentangKese hatan, Jakarta, 2004.
11
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43/Menkes/SK/II/1988 tentang
Cara Pembuatan Obat Yang Baik. Jakarta. 1988.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 3th ed. Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa. Balai Pustaka, Jakarta, 1990.
12
Anief Moh. Apa yang Perlu Diketahui tentang Obat. 4th ed. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta, 2003.
13
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 1375.A/Menkes/ SK/IX/2002 tentang Daftar Obat
Esensial nasional 2002. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Ditjen Yanfar dan Alkes,
Jakarta, 2002.
14
Ida Prista Maryetty. Regulasi Obat yang Mempengaruhi Peresepan. (Online). fkuii.org/tiki-
download_wiki_attachment.php?attId=199&page=pengobatan_
rasional_handout , diakses tanggal 18 Maret 2008.
15
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Sistem Kesehatan Nasional. Depkes RI,
Jakarta, 2004.
16
Direktur Jendral Bina Kefarmasian dan Pelayanan Farmasi. Kebijakan Obat Nasional
(KONAS). (Online). Http://www.litbang.depkes.go.id/download/ lokakarya/LoknasBandung/Konas-
Obat.pdf, diakses tanggal 18 Maret 2008.
17
Sri Suryawati. Efisiensi Pengelolaan Obat di Rumah Sakit. Tesis. MMR UGM, Yogjakarta, 1997.
18
Badan Pengawas Obat dan Makanan. Pengelolaan Obat Kabupaten/Kota. Jakarta, 2001.
19
Dono Utomo. Pengembangan Sistem Informasi Farmasi Untuk Pengambilan Keputusan Inventori
di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Jiwa Gondohutomo Semarang. Tesis. MIKM Undip. Semarang.
2006.
20
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentangKese hatan, Jakarta, 2004.
21
Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Barang dan Jasa
Pemerintah.
22
Liliek Sulistyaningsih. Evaluasi Manajemen Obat di Rumah Sakit Umum daerah Wangaya
Kotamadya Dati II Denpasar. MMR. UGM. 1998.
23
Soerjono Seto, Yunita Nita, Lily Triana, Manajemen Farmasi, Surabaya: Airlangga University
Press, 2004.

24
Panjaitan Richard. Penggunaan Obat Rasional. (Online).ww w.d epkes.go.id/ downloads/ rakerkes,
diakses tanggal 20 Maret 2008.
25

Suryawati Sri. Meningkatkan Penggunaan Obat Secara Rasional Melalui Perubahan Perilaku. Materi Kursus.

Magister Manajemen dan Kebijakan Obat Universitas Gadjah Mada bekejasama dengan Yayasan melati Nusantara.

Yogyakarta ; 1997.
26

Budiono Santoso. Penggunaan Obat dan Prinsip Pengobatan Rasional. Program Pengembangan Eksekutif. Magister

Manajemen Rumah Sakit bekerjasama dengan Pusat Studi Farmakologi Klinik dan Kebijakan Obat Universitas

Gadjah Mada. Yogyakarta ; 1997.


Instalasi Farmasi Rumah Sakit. (Online).http://fa rmasi istn.blogspot.com/2008/
30

01/instalasi-farmasi-rumah-sakit.html diakses tanggal 22-4-2008.


31 Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. Jakarta :
Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Republik Indonesia ; 2007.

EVALUASIMANAJEMENOBATDIRUMAH
SAKIT
Reads:
3,886

Uploaded:
08/22/2009
Category:
Research > Health & Medicine
Tags:
distribusi obat
sistem distribusi
obat adalah
penyimpanan
gudang
(More)
distribusi obat
sistem distribusi
obat adalah
penyimpanan
gudang
obat terhadap
sediaan
mutu
rs
dan alat
obat dan
(Less)
Rated:
0 5 false false 0

Download this Document for FreePrintMobileCollectionsReport Document


Report this document?
Please tell us reason(s) for reporting this document
Top of Form
doc

Spam or junk

Porn adult content

Hateful or offensive
If you are the copyright owner of this document and want to report it, please follow these
directions to submit a copyright infringement notice.
Report

Cancel
Bottom of Form

This is a private document.

Hannifah Fitriani
Sign Up for an Ad-Free Scribd
• Remove all ads.
Never see ads on Scribd again.
No Thanks
Share & Embed
http://w w w

Link / URL:
Embed Size & Settings:
(auto)

• Width: Auto
300

• Height: (proportional to specified width)


1

• Start on page:
Scroll

• Preview View:
<a title=

More share options


Related
1. 8 p.

Analisis Jurnal Kesehatan


Reads: 2048
31 p.

kebijakan-obat-nasional
Reads: 0
21 p.

Pandangan Ekonomi Masyarakat Terha...


Reads: 800
2. 37 p.

obat
Reads: 0
31 p.

Landasan Hukum PP No. 26 Tahun 196...


Reads: 230
49 p.

15.KepMenKes 1197 2004(2)


Reads: 659
3. 49 p.

Standar Pelayanan iFRS


Reads: 83381
2 p.

Pengertian Obat
Reads: 646
5 p.

swamedikasi
Reads: 1403
4. 12 p.

Perkembangan Farmasi
Reads: 749
64 p.

Pharmaceutical Care. Depkes. 2009


Reads: 537
23 p.

PENGANTAR FARMASETIKA RS
Reads: 0
5. 12 p.

Perbedaan Gargarisma Dan Mouthwash


Reads: 1165
23 p.

rumah sakit aisyah bojonegoro


Reads: 2020
4 p.
Obat Kehamilan
Reads: 7758
6. 36 p.

My Life With Mary


Reads: 0
1 p.

LID:OLS - VOR/DME OR GPS-B (1009)


Reads: 0
4 p.

LSAT Logical Reasoning


Reads: 0
7. 1 p.

LID:52B - RNAV (GPS)-B (1009)


Reads: 0
More from this user
1. 1 p.
Hairstyle
From: Hannifah Fitriani
Reads: 18
1 p.
Hairstyle
From: Hannifah Fitriani
Reads: 20
1 p.
SURAT PERNYATAAN Tidak Memiliki...
From: Hannifah Fitriani
Reads: 30
2. 2 p.
Daftar Riwayat Hidup Hannifah F...
From: Hannifah Fitriani
Reads: 44
40 p.
Sistem Indra
From: Hannifah Fitriani
Reads: 329
23 p.
Penerimaan Mahasiswa Baru Unive...
From: Hannifah Fitriani
Reads: 508
3. 4 p.
Fotosintesis
From: Hannifah Fitriani
Reads: 4,103
4 p.
asmaulhusna
From: Hannifah Fitriani
Reads: 172
12 p.
Profil Rsi Assyifa
From: Hannifah Fitriani
Reads: 1,522
4. 2 p.
Lagu Dari Nadia Bukacwezki
From: Hannifah Fitriani
Reads: 188
1 p.
Kimia
From: Hannifah Fitriani
Reads: 221
1 p.
Jurnal Kegiatan Praktek Kerja I...
From: Hannifah Fitriani
Reads: 570
5. 48 p.
EVALUASIMANAJEMENOBATDIRUMAHSAKIT
From: Hannifah Fitriani
Reads: 3,886
20 p.
Cara Memandikan Jenazah
From: Hannifah Fitriani
Reads: 2,171
52 p.
Sistem Koordinasi Dan Indra Pad...
From: Hannifah Fitriani
Reads: 20,585
6. 11 p.
Reklamasi Pantai Utara Jakarta
From: Hannifah Fitriani
Reads: 1,615
18 p.
Otak, penglihatan
From: Hannifah Fitriani
Reads: 519
6 p.
Nota Pengurusan jenazah
From: Hannifah Fitriani
Reads: 2,023
7. 5 p.
Menu Utama
From: Hannifah Fitriani
Reads: 143
1 p.
Mata Kucing
From: Hannifah Fitriani
Reads: 795
2 p.
Mat A
From: Hannifah Fitriani
Reads: 267
8. 35 p.
Kursus_Jenazah
From: Hannifah Fitriani
Reads: 528
1 p.
Kelainan Dan Penyakit Indera
From: Hannifah Fitriani
Reads: 4,459
28 p.
Indera Penglihatan
From: Hannifah Fitriani
Reads: 5,135
9. 4 p.
Indera Penglihatan
From: Hannifah Fitriani
Reads: 4,892

Top of Form

Add a Comment
Submit

1 4gen

Bottom of Form

Selvi Yusra readcast this 1 day agoLearn more about Readcast.

Namakoe Mirah readcast this 3 days agoLearn more about Readcast.


sofakhasani readcast this 3 days agoLearn more about Readcast.

Maya Rakhmawati readcast this 3 days agoLearn more about Readcast.


latifaazzahra readcast this 4 days agoLearn more about Readcast.
dr_purwa readcast this 4 days agoLearn more about Readcast.
cepi_sukma5460 readcast this 5 days agoLearn more about Readcast.

Shiva Alvaro readcast this 5 days agoLearn more about Readcast.

Surroh Zu'amah readcast this 6 days agoLearn more about Readcast.

Surroh Zu'amah readcast this 08 / 30 / 2010Learn more about Readcast.


Show More

Print this document


High Quality
Open the downloaded document, and select print from the file menu (PDF reader required).
Browser Printing
Coming soon!
Add this document to your Collections
This is a private document, so it may only be added to private collections.
Top of Form

Name:

Description:
public - locked

Collection Type:
public locked: only you can add to this collection, but others can view it
public moderated: others can add to this collection, but you approve or reject additions
private: only you can add to this collection, and only you will be able to view it
Save collection

Cancel
Bottom of Form

Finished? Back to Document


Add this document to your Collections
This is a private document, so it may only be added to private collections.
Top of Form

Name:
Description:
public - locked

Collection Type:
public locked: only you can add to this collection, but others can view it
public moderated: others can add to this collection, but you approve or reject additions
private: only you can add to this collection, and only you will be able to view it
Save collection

Cancel
Bottom of Form

Finished? Back to Document

Scribd Archive > Charge to your Mobile


Phone Bill
Upload a Document
Top of Form

Search Books, Presentations, Business, Academics...


Bottom of Form
Scribd
• About
• Press
• Jobs
• Contact
• Blog
• Scribd Store
Legal
• Terms - General
• Terms - API
• Terms - Privacy
• Copyright
Help & Tools
• Getting Started
• Community Guidelines
• Support & FAQ
• Web Stuff
Partners
• Partners
• Branded Reader
• Developers / API
Subscribe to Us
• On Scribd
• On Twitter
• On Facebook
Top of Form

Enter your email address:


Sign Up

or

Bottom of Form
What's New
• We have updated our Terms of Service
• Branded Reader
• Desktop Uploader