Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK INSTRUMEN

PENENTUAN KADAR XILENA DALAM SAMPEL PERTAMAX


DENGAN METODE KROMATOGRAFI GAS
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah praktikum kimia analitik
instrumen
Dosen : Wiji, M.Si.

Oleh :
Kelompok 3
Aan Anih (0700538)
Hendri Awaludin Hidayat (0700570)
Iis Rosliana (0700521)

LABORATORIUM KIMIA INSTRUMEN


JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2010
Tanggal Praktikum : 23 Oktober 2009

KROMATOGRAFI GAS

A. Tujuan Praktikum
Menentukan kadar xilena dalam sampel pertamax menggunakan
instrumentasi kromatografi gas (GC).

B. Tinjauan Pustaka
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan komponen-komponen
dalam suatu campuran berdasarkan perbedaan distribusi komponen-komponen
ke dalam 2 fasa, yaitu fasa gerak dan fasa diam. Fasa diam akan menahan
komponen campuran sedangkan fasa gerak akan melarutkan komponen
campuran. Perbedaan distribusi ini disebabkan oleh adanya perbedaan
interaksi antara komponen-komponen dalam suatu campuran dengan fasa
diam dan fasa geraknya. Interaksi ini adalah adsorbsi, partisi, penukar ion dan
gel permiasi. Komponen yang interaksi dengan fasa diamnya lebih kuat
dibanding dengan fasa geraknya maka komponen itu akan tertahan lebih lama
di dalam fasa diam, begitupun sebaliknya.
Prinsip kromatografi gas hampir sama dengan prinsip kromatografi
kolom. Terdapat tiga aspek yang membedakan antara keduanya, yaitu :
1. Pada kromatografi kolom, fasa geraknya adalah cairan dan
fasa diamnya dapat berupa zat cair atapun zat padat, sedangkan pada
kromatografi gas fasa geraknya adalah gas dan fasa diamnya adalah
adsorben padat.
2. Kelarutan komponen di fasa gerak hanya merupakan fungsi
dari tekanan uapnya saja.
3. Temperatur sistem dapat dikontrol.
Mekanisme kerja kromatografi gas adalah sebagai berikut : gas
bertekanan tinggi dialirkan ke dalam kolom yang berisi fasa diam, kemudian
cuplikan diinjeksikan ke dalam aliran gas dan ikut terbawa oleh gas ke dalam
kolom. Di dalam kolom akan terjadi proses pemisahan cuplikan menjadi
komponen-komponen penyusunnya. Komponen-komponen tersebut satu per
satu akan keluar kolom dan mencapai detektor yang diletakkan di ujung akhir
kolom. Hasil pendeteksian direkam oleh rekorder dan dikenal sebagai
kromatogram. Jumlah peak pada kromatogram menyatakan jumlah komponen
yang terdapat dalam cuplikan dan kuantitas suatu komponen ditentukan
berdasarkan luas peaknya. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut
(www.chromatography-online.org) :

Gambar 1.1 Diagram kromatografi gas


Komponen-Komponen Kromatografi Gas
1. Gas Pembawa
Gas pembawa harus bersifat inert artinya gas ini tidak bereaksi dengan
cuplikan ataupun fasa diamnya. Gas ini disimpan dalam silinder baja
bertekanan tinggi sehingga gas ini akan mengalir cepat dengan sendirinya.
Karena aliran gas yang cepat inilah maka pemisahan dengan kromatografi gas
berlangsung hanya dalam beberapa menit saja.
Gas pembawa yang biasa digunakan adalah gas argon, helium,
hidrogen dan nitrogen. Gas nitrogen memerlukan kecepatan alir yang lambat
(10 cm/detik) untuk mencapai efisiensi yang optimum dengan HETP (High
Eficiency Theoretical Plate) minimum. Sementara hidrogen dan helium dapat
dialirkan lebih cepat untuk mencapai efisiensi optimumnya, 35 cm/detik untuk
gas hidrogen dan 25 cm/detik untuk helium. Dengan kenaikan laju alir, kinerja
hidrogen berkurang sedikir demi sedikit sedangkan kinerja nitrogen berkurang
secara drastis.
Semakin cepat solut berkesetimbangan di antara fasa diam dan fasa
gerak maka semakin kecil pula faktor transfer massa. Difusi solut yang cepat
membantu mempercepat kesetimbangan di antara dua fasa tersebut, sehingga
efisiensinya meningkat (HETP nya menurun). Pada kecepatan alir tinggi, solut
berdifusi lebih cepat melalui hidrogen dan helium daripada melalui nitrogen.
Hal inilah yang menyebabkan hidrogen dan helium memberikan resolusi yang
lebih baik daripada nitrogen. Hidrogen memiliki efisiensi yang relatif stabil
dengan adanya perubahan kecepatan alir. Namun, hidrogen mudah meledak
jika terjadi kontrak dengan udara. Biasanya, helium banyak digunakan sebagai
penggantinya.
Kotoran yang terdapat dalam carrier gas dapat bereaksi dengan fasa
diam. Oleh karena itu, gas yang digunakan sebagai gas pembawa yang relatif
kecil sehingga tidak akan merusak kolom. Biasanya terdapat saringan
(molecular saeive) untuk menghilangkan kotoran yang berupa air dan
hidrokarbon dalam gas pembawa . Pemilihan gas pembawa biasanya
disesuaikan dengan jenis detektor.
2. Sistem Injeksi Sampel
Sampel dapat berupa gas atau cairan dengan syarat sampel harus
mudah menguap saat diinjeksikan dan stabil pada suhu operasional (50°-300°
C). Injektor berada dalam oven yang temperaturnya dapat dikontrol. Suhu
injektor biasanya 50° C di atas titik didih cuplikan. Jumlah cuplikan yang
diinjeksikan sekitar 5 µL. Tempat pemasukkan cuplikan cair pada kolom pak
biasanya terbuat dari tabung gelas di dalam blok logam panas. Injeksi sampel
menggunakan semprit kecil. Jarum semprit menembus lempengan karet tebal
disebut septum yang mana akan mengubah bentuknya kembali secara otomatis
ketika semprit ditarik keluar.(www.chem-is-try.org)
Untuk cuplikan berupa gas dapat dimasukkan dengan menggunakan
alat suntik gas (gas-tight syringe) atau kran gas (gas-sampling valve).
Alat pemasukan cuplikan untuk kolom terbuka dikelompokkan ke
dalam dua kategori yaitu injeksi split (split injection) dan injeksi splitless
(splitless injection). Injeksi split dimaksudkan untuk mengurangi volume
cuplikan yang masuk ke kolom. Cuplikan yang masuk biasanya hanya 0,1 %
hingga 10 % dari 0,1-2 µL, sementara sisanya dibuang.

Gambar 1.2 Sistem injeksi split


Sedangkan injeksi splitless lebih cocok digunakan untuk analisa renik.
3. Kolom
Kolom pada umumnya terbuat dari baja tahan karat atau terkadang
dapat terbuat dari gelas. Kolom kaca digunakan bila untuk memisahkan
cuplikan yang mengandung komponen yang dapat terurai jika kontak dengan
logam. Diameter kolom yang digunakan biasanya 3 mm – 6 mm dengan
panjang antara 2-3 m. kolom dibentuk melingkar agar dapat dengan mudah
dimasukkan ke dalam oven ( thermostat ).
Kolom adalah tempat berlangsungnya proses pemisahan komponen
yang terkandung dalam cuplikan. Di dalam kolom terdapat fasa diam yang
dapat berupa cairan, wax, atau padatan dengan titik didih rendah. Fasa diam
ini harus sukar menguap, memiliki tekanan uap rendah, titik didihnya tinggi
(minimal 100º C di atas suhu operasi kolom) dan stabil secara kimia. Fasa
diam ini melekat pada adsorben. Adsorben yang digunakan harus memiliki
ukuran yang seragam dan cukup kuat agar tidak hancur saat dimasukkan ke
dalam kolom. Adsorben biasanya terbuat dari celite yang berasal dari bahan
diatomae.
Cairan yang digunakan sebagai fasa diam di antaranya adalah
hidrokarbon bertitik didih tinggi, silicone oils, waxes, ester polimer, eter dan
amida. (The Techniques)
Pemilihan fasa diam juga harus disesuaikan dengan sampel yang akan
dipisahkan. Untuk sampel yang bersifat polar sebaiknya digunakan fasa diam
yang polar. Begitupun untuk sampel yang nonpolar, digunakan fasa diam yang
nonpolar agar pemisahan dapat berlangsung lebih sempurna.

Tabel 1: Struktur fasa diam dan sifatnya

Struktur Fasa Diam Sifat


Rtx®/MXT®-1
100% dimethyl
polysiloxane
Stable to 360°C
Polarity: non-polar
Uses: solvents, petroleum
products, pharmaceutical
samples, waxes
tx®/MXT®-1301,
Rtx®/MXT®-624
6% cyanopropylphenyl -
94%
dimethyl polysiloxane
Stable to 280°C
Polarity: slightly polar
Uses: volatile compounds,
insecticides, residue
solvents in
pharmaceutical products
Rtx®/MXT®/XTI®-5
5% diphenyl - 95%
dimethyl
Polysiloxane
Stable to 360°C
Polarity: non-polar
Uses: flavors,
environmental
samples, aromatic
hydrocarbons
Rtx®/MXT®-35
35% diphenyl - 65%
dimethyl
Polysiloxane
Stable to 300°C
Polarity: intermediately
polar
Uses: pesticides, Aroclors,
amines,
nitrogen containing
herbicides
Rtx®/MXT®-20
20% diphenyl - 80%
dimethyl
Polysiloxane
Stable to 310°C
Polarity: slightly polar
Uses: volatile compounds,
alcohols
Rtx®/MXT®-50
50% phenyl - 50% methyl
Polysiloxane
Stable to 340°C
Polarity: intermediately
polar
Uses: triglycerides,
phthalate
esters, steroids, phenols
Rtx®/MXT®-1701
14% cyanopropylphenyl -
86%
dimethyl polysiloxane
Stable to 280°C
Polarity: intermediately
polar
Uses: pesticides, Aroclors,
alcohols, oxygenates
Rtx®/MXT®-200
trifluoropropylmethyl
polysiloxane
Stable to 360°C
Polarity: selective for lone
pair
Electrons
Uses: environmental
samples,
solvents, Freons ,drugs,
ketones,
alcohols
Rtx®/MXT®-65TG
65% diphenyl - 35%
dimethyl
Polysiloxane
Stable to 370°C
Polarity: intermediately
polar
Uses: triglycerides, rosin
acids,
free fatty acids
Rtx®-2330
90% biscyanopropyl - 10%
cyanopropylphenyl
polysiloxane
Stable to 275°C
Polarity: very polar
Uses: FAMEs, cis/trans
and dioxin
isomers, rosin acids
Stabilwax®/MXT®-WAX
Carbowax® PEG
Stable to 250°C
Polarity: polar
Uses: FAMEs, flavors,
acids,
amines, solvents, xylene
isomers
Rtx®-225
50% cyanopropylphenyl -
50%
phenylmethyl polysiloxane
Stable to 260°C
Polarity: polar
Uses: FAMEs,
carbohydrates
(www.resteek.com)

Ada dua tipe kolom yang biasa digunakan dalam kromatografi gas,
yaitu kolom pak (packed column) dan kolom terbuka (open tubular column).
• Kolom pak (packed column)
Kolom pak terbuat dari stainless steel atau gelas Pyrex. Gelas Pyrex
digunakan jika cuplikan yang akan dipisahkan bersifat labil secara termal.
Diameter kolom pak berkisar antara 3 – 6 mm dengan panjang 1 – 5 m. kolom
diisi dengan zat padat halus sebagai zat pendukung dan fasa diam berupa zat
cair kental yang melekat pada zat pendukung. Kolom pak dapat menampung
jumlah cuplikan yang banyak sehingga disukai untuk tujuan preparatif.
Kolom yang terbuat dari stainless steel biasa dicuci dengan HCl terlarut,
kemudian ditambah dengan air diikuti dengan methanol, aseton, metilen
diklorida dan n-heksana. Proses pencucian ini untuk menghilangkan karat dan
noda yang berasal dari agen pelumas yang digunakan saat membuat kolom.
Kolom pak diisi dengan 5% polyethylene glycol adipate dengan efisiensi
kolom sebesar 40,000 theoretical plates.

Gambar 1.3 Kolom pak


(elchem.kaist.ac.kr)
• Kolom terbuka (open tubular column)
Kolom terbuka terbuat dari stainless steel atau quartz. Berdiameter
antara 0,1 – 0,7 mm dengan panjang berkisar antara 15 - 100 m. semakin
panjang kolom maka akan efisiensinya semakin besar dan perbedaan waktu
retensi antara komponen satu dengan komponen lain semakin besar dan akan
meningkatkan selektivitas. Penggunaan kolom terbuka memberikan resolusi
yang lebih tinggi daripada kolom pak. Tidak seperti pada kolom pak, pada
kolom terbuka fasa geraknya tidak mengalami hambatan ketika melewati
kolom sehingga waktu analisis menggunakan kolom ini lebih singkat daripada
jika menggunakan kolom pak.
Jenis-jenis kolom terbuka :
 Wall Coated Open Tubular Column (WCOT)
Fasa diamnya berupa cairan kental dilapiskan secara merata pada dinding
dalam kolom.
 Support Coated Open Tubular Column (SCOT)
Partikel zat pendukung (silica atau aluminium) ditempelkan pada dinding
dalam kolom. Adsorben ini dilapisi oleh cairan kental sebagai fasa diam untuk
meningkatkan luas permukaan yang nantinya akan memungkinkan untuk
menampung volum cuplikan yang lebih banyak. Jenis ini cocok untuk
memisahkan zat dengan konsentrasi yang sangat kecil. Kolom ini
menghasilkan resolusi yang tinggi.
 Porous Layer Open Tubular Column (PLOT)
Partikel zat padat yang ditempelkan pada dinding kolom bertindak sebagai
fasa diam.
Gambar 1.4 Jenis-jenis kolom terbuka
4. Termostat
Termostat (oven) adalah tempat penyimpanan kolom. Suhu kolom
harus dikontrol. Temperatur kolom bervariasi antara 50ºC - 250ºC. Suhu
injektor lebih rendah dari suhu kolom dan suhu kolom lebih rendah daripada
suhu detektor. Suhu kolom optimum bergantung pada titik didih cuplikan dan
derajat pemisahan yang diinginkan.
Operasi GC dapat dilakukan secara isotermal dan terprogram. Analisis
yang dilakukan secara isotermal digunakan untuk memisahkan cuplikan yang
komponen-komponen penyusunnya memiliki perbedaan titik didih yang dekat,
sedangkan sistem terprogram digunakan untuk memisahkan cuplikan yang
perbedaan titik didihnya jauh.
5. Detektor
Detektor berfungsi untuk mendeteksi komponen-komponen yang telah
terpisahkan yang mengalir bersama fasa gerak keluar kolom. Detektor dipilih
berdasarkan tingkat konsentrasi yang diukur dan sifat dasar komponen-
komponen yang akan dipisahkan.
Macam-macam detektor :
• Detektor Konduktifitas Termal ( Katherometer)
Detektor ini paling banyak digunakan untuk analisis mikrogram.
Detektor ini menggunakan serabut logam yang dipanaskan untuk mendeteksi
perubahan konduktivitas termal dari aliran gas pembawa. Dua pasang serabut
tersusun dalam rangkaian jembatan Wheatstone. Kedua serabut dalam ruas
yang berseberangan dan jembatan itu dilalui oleh gas pembawa murni,
sementara kedua serabut lain dilalui oleh efluen yang berasal dari kolom
kromatografi. Bila hanya gas pembawa yang melewati dua serabut tersebut,
maka jembatan akan seimbang. Namun bila ada komponen cuplikan dalam
gas pembawa maka jembatan akan tidak seimbang lagi. Jarak
ketidakseimbangan ini adalah ukuran dari konsentrasi komponen yang telah
terpisahkan.

Gambar 1.5 Detektor konduktifitas termal


• Detektor Pengionan Nyala (Foto Ionize Detektor)
Prinsip detektor ini adalah efluen yang keluar dari kolom dicampur
dengan hidrogen dan dibakar di udara dan menghasilkan radikal CH yang
selanjutnya menghasilkan ion CHO+ dalam nyala hidrogen udara. (kimia
pemisahan)
CHO + O → CHO+ + e-
CHO+ ini bergerak ke katoda di atas nyala. Arus yang mengalir di
antara katoda dan anoda diukur oleh detektor dan diterjemahkan sebagai
sinyal oleh rekorder. Detektor ini jauh lebih peka dibanding detektor
konduktivitas termal apalagi jika digunakan nitrogen sebagai gas pembawa.
Gambar 1.6 Detektor pengionan nyala
(hiq.linde-gas.com)
• Detektor Penangkapan Elektron (Electron Capture
Detector)
Detektor ini memanfaatkan fenomena rekombinasi yang didasarkan
pada penangkapan elektron oleh senyawa yang berafinitas terhadap elektron
bebas. Jadi, detektor ini mengukur berkurangnya arus listrik. Gas pembawa
yang dapat digunakan adalah nitrogen kering atau 5% metana dalam argon.
Dapat juga menambahkan nitrogen bila H2 atau He digunakan sebagai carrier
gas.
Detektor ini peka terhadap senyawa yang mengandung halogen,
karbonil terkonjugasi, nitro, nitril dan organologam. Akan tetapi, detektor ini
tidak peka terhadap hidrokarbon, alkohol dan keton.

Gambar 1.7 Detektor Penangkapan elektron


• Detektor Fotometri Nyala
Detektor ini merupakan fotometer emisi optik yang berfungsi untuk
mendeteksi senyawa-senyawa yang mengandung fosfor atau belerang seperti
pestisida dalam polutan udara. Solut yang telah terpisahkan dari campurannya
memasuki nyala hidrogen di udara. Fosfor dan belerang tereksitasi ke tingkat
energi yang lebih tinggi lalu melepaskan energi dalam bentuk cahaya. Cahaya
ini dapat diisolasi dengan filter dan dideteksi dengan tabung fotomultifier.
• Detektor Nyala Alkali
Detektor nyala alkali merupakan modifikasi dari FID yang selektif
terhadap fosfor dan nitrogen. Detektor ini digunakan dalam analisis obat-
obatan. Gas pembawa yang digunakan adalah nitrogen, hidrogen dan helium
untuk cuplikan yang mengandung fosfor. Nitrogen tidak dapat digunakan
untuk menganalisis cuplikan yang mengandung nitrogen.
Ion yang dihasilkan ketika unsur yang berkontak dengan gelas yang
mengandung Rb2SO4 pada ujung pembakar membentuk arus yang dapat
diukur.

Gambar 1.8 Detektor nyala alkali


• Detektor Spektroskopi Massa
Spektrometer massa disambungkan dengan keluaran GC. Ketika gas
solut memasuki spektrometer massa maka molekul senyawa organik
ditembaki dengan elektron berenergi tinggi. Molekul tersebut pecah menjadi
molekul-molekul yang lebih kecil dan terdeteksi berdasarkan massanya yang
digambarkan sebagai spektra massa.
6. Rekorder
Rekorder berfungsi sebagai pencetak hasil percobaan pada lembaran
kertas berupa kumpulan puncak, yang selanjutnya disebut sebagai
kromatogram.
Seperti telah diberitahukan di awal, jumlah puncak dalam
kromatogram menyatakan jumlah komponen penyusun campuran. Sedangkan
luas puncak menyatakan kuantitas komponennya.
Waktu retensi (Tr) adalah waktu yang digunakan oleh komponen
untuk bergerak sepanjang kolom menuju detektor. Waktu retensi sangat
bervariasi dan bergantung pada titik didih senyawa, kelarutan dalam fasa cair
dan temperatur kolom. Oleh karena itu, waktu retensi satu komponen berbeda
dengan komponen lainnya (spesifik).
Faktor yang mempengaruhi pemisahan adalah temperatur kolom, laju
alir gas pembawa, pemilihan fasa diam dan panjang kolom.

Kromatografi gas selain berfungsi dalam pemisahan, juga berfungsi


dalam analisa baik kualitatif maupun kuantitatif. Analisa kualitatif dapat
dilakukan dengan menambahkan komponen murni yang sama dengan
komponen yang diduga terkandung dalam cuplikan yang dianalisa. Sedangkan
analisa kuantitatif dapat dilakukan dengan menggunakan tiga metode berikut.
1. Metode Kalibrasi
Metode ini dilakukan dengan membuat larutan standar dengan
berbagai konsentrasi dan mengukurnya dengan kromatografi gas. Dari
pengukuran tersebut dihasilkan kromatogram untuk setiap larutan standar.
Dari kromatogram-kromatogram tersebut kemudian dibuat kurva linear antara
konsentrasi larutan dengan tinggi puncak/luas puncak. Sumber kesalahan pada
metode ini adalah volum cuplikan dan laju injeksi.
2. Metode Standar Dalam
Metode ini berfungsi untuk menghilangkan pengaruh yang timbul dari
variasi seperti laju pengemban, temperatur kolom dan detektor. Persyaratan
untuk standar yang efektif adalah :
1. harus menghasilkan peak yang terpisah semuanya,
tetapi harus terelusi dengan komponen-komponen yang akan diukur.
2. tinggi atau luas peak harus kira-kira sama dengan
tinggi atau luas peak dari komponen yang akan diukur.
3. secara kimiawi harus serupa dengan contoh, tetapi
tidak terdapat dalam contoh aslinya.
Prosedur :
1. penambahan standar dalam yang kuantitatifnya
konstan ke volum tetap dari beberapa campuran sintetik yang mengandung
komponen yang akan ditetapkan dengan kuantitas yang diketahui yang
diubah-ubah.
2. campuran tersebut dianalisis dengan GC dan dibuat
kurva kalibrasi dari persen komponen dalam sampel versus angka banding
luas peak komponen/luas peak standar.
3. Metode Normalisasi Area
Area setiap peak yang muncul dihitung dan dikoreksi terhadap respon
detektor untuk jenis senyawa yang berbeda. Konsentrasi analit ditentukan
dengan membandingkan area suatu peak terhadap total area semua
komponen. (duniakimia.com)

C. Alat dan Bahan Praktikum


• Alat
1. Perangkat GC 1 set
2. Labu ukur 5 mL 6 buah
3. Ball pipet 1 buah
4. Pipet tetes 3 buah
5. Gelas kimia 100 mL 1 buah
6. Pipet seukuran 1 mL 1 buah
7. Pipet seukuran 5 mL 1 buah

• Bahan
1. Xilena p.a
2. Toluene p.a
3. Heksana p.a
4. Sampel pertamax

D. Prosedur Kerja Praktikum


1. Pembuatan deret larutan standar
Larutan standar yang dibuat adalah larutan yang mengandung xilena
dengan konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20%, 25% dan 30%. Untuk membuat
larutan standar dengan konsentrasi 5%, caranya adalah sebagai berikut :
1. larutan xilena p.a dipipet sebanyak 0,25 ml dengan menggunakan
pipet volumetric.
2. larutan tersebut dipindahkan ke dalam labu ukur 5 ml.
3. ke dalam larutan ditambah toluena p.a sebanyak 0,15 ml dan
diencerkan dengan heksana p.a kemudian ditanda batasi.
4. larutan dihomogenkan.
Untuk larutan standar yang lain dapat dibuat dengan mengulangi langkah
1-4, hanya saja volum xilena yang dipipet berbeda-beda. Untuk larutan
standar konsentrasi 10%, 15%, 20%, 25% dan 30% volum xilena yang
dipipet berturut-turut sebanyak 0,5 ml ; 0,75 ml ; 1,0 ml ; 1,25 ml; 1,50 ml.
2. Penyiapan sampel pertamax dengan standar
internal
Untuk analisa kualitatif akan keberadaan xilena dalam sampel digunakan
metode adisi standar internal. Caranya adalah dengan menambahkan 25 %
xilena sebanyak 1 ml ke dalam 3 ml sampel pertamax murni.
3. Penyiapan instrument GC
1. pastikan kabel penghubung listrik
tersambung dengan benar.
2. alirkan gas nitrogen, diikuti
dengan mengalirkan gas hidrogen.
3. hidupkan kompresor.
4. hidupkan instrument GC dengan
menekan tombol “ON” pada sakelar listrik.
5. hidupkan komputer sebagai alat
pemograman instrumentasi GC.
6. tombol heat pada posisi “ON”.
7. pilih N2 sebagai gas pembawa
dengan laju alir 1 ml/menit.
8. atur suhu injektor (150ºC), suhu
kolom (70 ºC dan deprogram dengan kenaikan 10 ºC permenit sampai
150 ºC) dan suhu detektor (200 ºC).
9. pilih FID sebagai detektor.
10. jalankan pompa, biarkan alat
stabil selama waktu tertentu (sekitar 1 jam).

4. Pengukuran dengan instrumen GC


Untuk analisa kuantitatif kandungan xilena dalam sampel dapat
menggunakan metode kalibrasi, caranya dengan melakukan pengukuran
terhadap deret larutan standar seperti berikut :
1. syringe yang akan
digunakan dibilas dengan metanol sebanyak 5 kali, kemudian dibilas
lagi dengan larutan standar yang akan diukur sebanyak 3 kali.
2. ambil sebanyak
0,5-1,0 µL larutan standar 5% dengan syringe dan injeksikan pada GC.
3. kemudian syringe
dibilas lagi dengan larutan standar 10% sebanyak 3 kali.
4. ambil sebanyak
0,5-1,0 µL larutan standar 10% dengan syringe dan injeksikan pada
GC.
5. ulangi untuk
larutan standar yang lain, dengan catatan pengukuran dimulai dari
larutan dengan konsentrasi terendah dan sebelum digunakan untuk
menginjeksikan larutan, syringe harus dibilas dengan larutan yang
akan diuji tersebut sebanyak 3 kali, setelah itu dapat diinjeksikan ke
instrumen GC.
Sedangkan untuk analisa kualitatif dengan metode adisi standar internal,
pertamax murni, pertamax yang telah ditambah standar internal (xilena)
dan sampel diukur dengan instrumen GC. Caranya adalah sebagai berikut:
1. syringe yang
akan digunakan dibilas dengan metanol sebanyak 5 kali, kemudian
dibilas lagi dengan pertamax murni sebanyak 3 kali.
2. ambil sebanyak 0,5-1,0 µL pertamax murni dengan syringe
dan injeksikan pada GC.
3. kemudian dibilas lagi dengan pertamax yang telah
ditambah xilena sebanyak 3 kali.
4. ambil sebanyak 0,5-1,0 µL pertamax yang telah ditambah
xilena dengan syringe dan injeksikan pada GC.
5. kemudian dibilas lagi dengan sampel sebanyak 3 kali.
6. ambil sebanyak 0,5-1,0 µL sampel dengan syringe dan
injeksikan pada GC.
Setelah semua pengukuran selesai, syringe dibilas lagi dengan methanol.

E. Hasil dan Analisis Data


• Pembuatan Larutan Standar
%xilena tinggi xilena tinggi toluena rasio xilena/toluena
5 18,840 30,638 0.614922645
10 44,791 32,358 1.384232647
15 55,054 27,501 2.00189084
20 61,388 24,965 2.458962548
25 85,978 29,511 2.913422114
30 94,808 25,639 3.697804127

%xilena areaxilena areatoluena rasio xilena/toluena


5 100,845 81,619 1.235557897
10 230,164 88,859 2.59021596
15 294,205 73,074 4.026124203
20 323,099 65,427 4.938312929
25 456,729 82,504 5.535840687
30 563,947 77,958 7.233984966

%xilena Tr (menit)
5 3,150
10 3,133
15 3,150
20 3,167
25 3,183
30 3,183
18 ,966
Tr rata-rata : = 3,161 menit
6

Kurva Kalibrasi setelah Penghilangan Beberapa Data

%xilena tinggi xilena tinggi toluena rasioxilena/toluena


5 18.840 30.638 0.614922645
20 61.388 24.965 2.458962548
30 94.808 25.639 3.697804127
Kurva Kalibrasi setelah Penghilangan Beberapa Data
%xilena areaxilena areatoluena rasioxilena/toluena
5 100.845 81.619 1.235557897
20 323.099 65.427 4.938312929
30 563.947 77.958 7.233984966
• Pengukuran Sampel Pertamax
Tinggi xilena dalam sampel : 94,855
Tinggi toluena dalam sampel : 59,563
94 ,855
Rasio tinggi xilena/toluene : = 1,5925
59 ,563

• Pembahasan
Pemisahan pada kromatografi gas didasarkan pada perbedaan
kecepatan migrasi komponen-komponen suatu cuplikan di dalam kolom.
Perbedaan migrasi ini terjadi karena perbedaan interaksi komponen-komponen
tersebut dengan fasa diam dan fasa gerak. Fasa diamnya berupa cairan yang
melekat pada zat pendukung (adsorben), sedangkan fasa geraknya berupa gas.
Karena gas ini berfungsi membawa komponen-komponen sepanjang kolom
hingga mencapai detektor, maka fasa gerak disebut juga sebagai gas pembawa
(carrier gas). Pada percobaan ini, gas pembawa yang digunakan adalah
nitrogen.
Gas pembawa mengalir dengan cepat, oleh karena itu proses
pemisahan hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja. Inilah keuntungan
pemisahan dengan menggunakan GC. Namun, tidak semua senyawa dapat
dipisahkan dengan menggunakan metode kromatografi gas. Senyawa-senyawa
yang dapat dipisahkan dengan menggunakan metode ini adalah senyawa yang
memenuhi dua persyaratan berikut :
1. mudah menguap saat diinjeksikan
2. stabil pada suhu pengujian (50-300°C) yakni tidak
mengalami penguraian atau pembentukan menjadi senyawa lain.
Jika suatu senyawa pada saat diinjeksikan langsung mengalami
perusakan, maka senyawa tersebut tidak dapat dipisahkan dengan metode ini.
Kolom yang digunakan pada kromatografi gas terdapat dua jenis, yaitu
kolom pak dan kolom terbuka. Kolom terbuka disebut juga sebagai kolom
kapiler karena diameter dalam kolomnya sangat kecil, berkisar antara 0,1-0,7
mm. Pada percobaan ini, kolom yang digunakan adalah kolom kapiler
berdiameter sebesar 0,25 mm dengan DB-1 yaitu polyxiloxan sebagai fasa
diam. Kolom kapiler ini diposisikan melingkar sehingga dapat masuk ke
dalam oven.
Seperti yang telah dikemukakan di atas, gas pembawa yang digunakan
adalah nitrogen dengan kemurnian sebesar 99,995 % , sedangkan hidrogen
dan oksigen berperan sebagai gas pembakar. Detektor yang digunakan adalah
FID. Seperti yang telah kita ketahui, FID lebih peka dibandingkan dengan
detektor konduktifitas termal apalagi jika digunakan nitrogen sebagai gas
pembawa.
Terdapat dua metode pemisahan pada kromatografi gas,yaitu metode
isotermal dan metode terprogram. Metode isotermal digunakan untuk
memisahkan cuplikan yang perbedaan titik didih antara komponen satu
dengan komponen yang lainnya dekat satu sama lain. Sedangkan metode
terprogram digunakan untuk memisahkan komponen yang perbedaan titik
didih komponen-komponennya jauh. Metode terprogram memberikan hasil
jauh lebih baik dibanding metode isotermal.
Pada percobaan ini ditentukan kadar xilena dalam sampel dan
pemisahannya dengan metode terprogram. Sampel yang digunakan adalah
pertamax. Suhu injektor diset pada suhu 150°C, detektor pada suhu 200°C dan
kolom diset suhu awalnya sebesar 70°C dipertahankan selama 10 menit
kemudian suhu dinaikkan sebesar 10°C tiap menit hingga suhu mencapai
150°C. Hal ini bertujuan agar semua komponen berubah menjadi gas dan
keluar meninggalkan kolom. Sehingga tidak ada komponen yang masih
berupa cairan dan tertinggal di dalam kolom. Cairan yang tertinggal dalam
kolom akan mengotori kolom dan mempengaruhi hasil analisis. Sebelum
dilakukan pengukuran, instrumen GC harus dibiarkan selama ± 1 jam agar
aliran gas pembawa tetap sehingga kolom tidak akan cepat rusak.
Selain berfungsi dalam pemisahan, kromatografi gas juga dapat
digunakan dalam analisa, baik analisa kualitatif maupun kuantitatif. Analisa
kualitatif dilakukan dengan menambahkan standar internal ke dalam sampel
yang akan dianalisa. Standar internal yang digunakan adalah xilena. Standar
internal digunakan sebagai pembanding untuk menentukan apakah suat zat
terkandung dalam suatu cuplikan atau tidak. Caranya adalah dengan
membandingkan kromatogram hasil analisa pertamax murni dengan
kromatogram hasil analisa yang telah ditambah dengan standar internal
(xilena). Jika pada kromatogram pertamax yang telah ditambah xilena ada
peak yang melebar yang memiliki waktu retensi yang sama dengan peak yang
ada di kromatogram pertamax murni, maka peak tersebut dapat disimpulkan
adalah peak milik xilena. Bila ke dalam sampel juga ditambahkan xilena, lalu
ada peak yang melebar dengan waktu retensi yang sama dengan peak xilena
pada kromatogram pertamax murni dan kromatogram pertamax yang telah
ditambah xilena, maka dapat disimpulkan bahwa sampel tersebut mengandung
xilena.
Dari kromatogram larutan standar dapat dilihat terdapat 4 puncak. 3
puncak pertama dimiliki berturut-turut oleh heksana, toluene dan xilena. Hal
ini dikarenakan titk didih heksana < toluena < xilena. Komponen yang
memiliki titik didih lebih rendah akan lebih mudah menguap menjadi gas dan
pergerakannya lebih cepat di dalam kolom dibandingkan dengan komponen
lain dengan titik didih yang lebih tinggi untuk mencapai detektor. Sedangkan
puncak terakhir adalah puncak milik udara yang terkandung dalam cuplikan
saat diinjeksikan.
Puncak ketiga diduga adalah xilena, dengan waktu retensi (Tr) rata-
rata dari setiap larutan standar sebesar 3,161. Maka pada sampel, peak dengan
waktu retensi sebesar 3,200 dapat disimpulkan sebagai peak milik xilena. Hal
ini diperkuat dengan data dari metode penambahan standar internal bahwa
peak tersebut pada sampel yang ditambah standar internal lebih luas areanya
( area 563.947 dengan tinggi 94.808 ) dibanding dengan peak yang terdapat
pada kromatogram pertamax murni ( area 189.223 dengan tinggi 29.237 )
dengan waktu retensi 3,167.
Untuk analisa kulitatif dapat dilakukan dengan membuat kurva %
xilena vs tinggi xilena, % xilena vs rasio tinggi xilena/toluene, % xilena vs
area xilena dan % xilena vs rasio area xilena/toluene seperti di bawah ini.

% xilena vs tinggi xilena

120 y = 2.9128x + 9.1697


100 R2 = 0.9671
tinggi xilena

80 tinggi xilena
60 Linear (tinggi xilena)
40
20
0
0 10 20 30 40
% xilena

% xilena vs rasio tinggi xilena/toluena

4
y = 0.1169x + 0.1326
3.5
R2 = 0.991
3
rasio tinggi

2.5
rasio xilena/toluena
2
1.5
Linear (rasio
1 xilena/toluena)
0.5
0
0 10 20 30 40
% xilena
% xilena vs area xilena

600 y = 17.281x + 25.755


500 R2 = 0.9708
area xilena

400
area xilena
300
Linear (area xilena)
200
100
0
0 10 20 30 40
% xilena
% xilena vs rasio area xilena/toluena

rasio area xilena/toluena


y = 0.2271x + 0.2859
6 R2 = 0.9843

4 rasio xilena/toluena

2 Linear (rasio
xilena/toluena)
0
0 10 20 30 40
% xilena
Seperti yang telah kita ketahui bahwa regresi yang dapat diterima
sebagai data yang akurat dari pengukuran secara instrumentasi adalah data
dengan regresi minimal sebesar 0,990 maka dapat kita katakana bahwa data di
atas belum cukup akurat. Selain itu, dari posisi titik-titik yang ada yang tidak
terletak pada satu garis lurus menyatakan bahwa presisi(keberulangan) data
tersebut kurang baik. Data yang dapat diterima adalah data dengan akurasi dan
presisi yang baik. Untuk mendapat data dengan presisi dan akurasi yang baik
maka beberapa data dihilangkan. Kurva yang dihasilkan adalah sebagai
berikut :

% xilena vs tinggi xilena

100 y = 3.0228x + 2.9281


80 R2 = 0.9979
tinggi xilena

60 tinggi xilena
40 Linear (tinggi xilena)

20
0
0 10 20 30 40
% xilena
% xilena vs rasio tinggi xilena/toluena

rasio tinggi xilena/toluena


4 y = 0.1233x - 0.003
3.5 R2 = 1
3
2.5 rasio xilena/toluena
2
1.5 Linear (rasio
1 xilena/toluena)
0.5
0
0 10 20 30 40
% xilena

% xilena vs area xilena

600.000
y = 18.231x - 4.9455
500.000
R2 = 0.981
area xilena

400.000
area xilena
300.000
Linear (area xilena)
200.000
100.000
0.000
0 10 20 30 40
% xilena

% xilena rasio area xilena/toluena

8
rasio area xilena/toluena

y = 0.2405x + 0.0604
6 R2 = 0.9996

4 rasio xilena/toluena

2 Linear (rasio
xilena/toluena)
0
0 10 20 30 40
% xilena
Linearitas terbaik didapat dari kurva % xilena vs rasio tinggi
xilena/toluene yang telah dihilangkan beberapa datanya dengan regresi sebesar
1. Persamaan garis yang didapat yaitu :
y = 0,1233 x – 0,003 (1)
x menyatakan persen xilena dalam sampel dan y menyatakan rasio
tinggi xilena/toluene dalam sampel.
Tinggi puncak xilena pada kromatogram sampel adalah 94,855 dan
tinggi toluene adalah 59,563. Maka rasio tinggi xilena/toluene adalah 1,5925.
Ini merupakan harga y. Dengan memasukkan harga y ke dalam persamaan (1)
maka didapat harga x (% xilena dalam sampel) sebesar 12,93998 %. Maka
kandungan xilena dalam sampel ditetapkan sebesar 12,93998 %.

F. Kesimpulan
1. penentuan keberadaan xilena dalam sampel dapat dilakukan
dengan menggunakan metode penambahan standar internal.
2. sampel mengandung xilena dengan waktu retensi xilena
sebesar 3,200.
3. kadar xilena dalam sampel dapat diketahui dengan membuat
kurva % xilena vs rasio tinggi xilena/toluena dan mencari persamaan
garisnya.
4. kandungan xilena dalam sampel sebesar 12,93998 %.

DAFTAR PUSTAKA

Basset, J dkk. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Hendayana, Sumar dkk. 1994. Kimia Analitik Instrumen. Semarang: IKIP
Semarang Press.
Hendayana, Sumar. 2006. Kimia Pemisahan. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Pavia, Donald el. 1976. Organic Laboratory Techniques. Philadelphia: W.B
Saunders Company
www.chem-is-try.org
www.chromatography-online.org
www.duniakimia.com
www.elchem.kaist.ac.kr
www.hiq.linde-gas.com
www.restek.com

LAMPIRAN

1. Pembuatan

Larutan Standar

• Volum
xilena untuk larutan standar 5 % :
5 % × 5 ml
Vxilena = = 0,25 ml
100 %
• Volum
xilena untuk larutan standar 10 % :
10 % × 5 ml
Vxilena = = 0,50 ml
100 %
• Volum
xilena untuk larutan standar 15 % :
15 % × 5 ml
Vxilena = = 0,75 ml
100 %
• Volum
xilena untuk larutan standar 20 % :
20 % × 5 ml
Vxilena = = 1,00 ml
100 %
• Volum
xilena untuk larutan standar 25 % :
25 % × 5 ml
Vxilena = = 1,25 ml
100 %
• Volum
xilena untuk larutan standar 30 % :
30 % × 5 ml
Vxilena = = 1,50 ml
100 %
• Volum
toluena yang ditambahkan untuk tiap larutan standar :
3 % × 5 ml
Vtoluena = = 0,15 ml
100 %
2. Penentuan

Konsentrasi Xilena dalam Sampel

y = 1,5925

y = 0,1233 x - 0,003

1,5925 + 0,003
x =
0,1233

x = 12,93998