Anda di halaman 1dari 13

REGENERASI

Oleh :
Nama : Taruna Septiaji
NIM : B1J007062
Rombongan : VI
Kelompok :1
Asisten : Farida Anita Sari

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN II

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2008
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap hewan mempunyai kemampuan hidup yang bervariasi antara makhluk

yang satu dengan yang lainnya. Salah satu contoh adalah regenerasi dari organ.

Regenerasi organ dapat diartikan sebagai kemampuan tubuh suatu organisme untuk

menggantikan bagian tubuh yang rusak baik yang disengaja ataupun yang tidak

disengaja (karena kecelakaan) dengan bagian tubuh yang baru dengan bentuk yang

sama persis dengan sebelumnya.

Hewan-hewan yang termasuk dalam sub phylum vertebrata mempunyai

daya regenerasi yang lebih randah dibandingkan dengan daya regenerasi pada

hewan-hewan yang termasuk dalam avertebrata (regenerasi tertinggi terjadi pada

Urodela).Regenerasi adalah memperbaiki bagian tubuh yang rusak atau lepas

kembali seperti semula. Kerusakan itu bervariasi. Ada yang ringan, seperti luka dan

memar, ada yang sedang, yang menyebabkan ujung suatu sebagian tubuh terbuang,

dan yang berat, yang menyebabkan suatu bagian besar tubuh terbuang. Kemampuan

regenerasi pada berbagai organisme tidak sama, ada yang tinggi dan ada yang

rendah.

Reptilia seperti cicak regenerasinya hanya terbatas pada ekor untuk

melepaskan diri dari tangkapan musuh dengan memutuskan ekornya. Tak jelas

hubungan linier antara kedudukan sistematik hewan dengan daya regenerasinya.

Daya regenerasi pada berbagai organisme tidak sama, ada yang tinggi seperti

Coelenterata, Platyhelminthes, Annelida, Crustacea dan Urodela. Dikalangan sub

phylum ini yang tertinggi adalah Urodela. Banyak dipakai dalam regenerasi

eksperimental. Vertebrata adalah yang paling rendah daya regenerasinya

dibandingkan dengan avertebrata, dimana bagian tubuh yang lepas tidak dapat
ditumbuhkan kembali. Anura regenerasinya terbatas pada tingkat larva dan hanya

pada anggota gerak dan ekor, yang dewasa tidak bisa beregenerasi sama sekali.

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk dapat menyusun rangkaian

perkembangan, penyembuhan, dan pembentukan kembali ekor pada ujung ekor yang

terpotong dan ujung kaki pada kaki kecoa yang terpotong.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kebanyakan vertebrata memiliki kemampuan regenerasi. Kemampuan ini


tergantung pada bagian tubuh yang dipotong. Misalnya, bila ekor cicak dipotong

ekornya maka pada potongan bagian anterior itu akan segera terbentuk ekor baru.

Segmen-segmen yang terjadi pada regenerasi pada umumnya lebih sedikit dari pada

jumlah segmen yang hilang (Radiopoetra, 1986).

Menurut Balinsky (1981), suatu organisme khususnya hewan memiliki

kemampuan untuk memperbaiki struktur atau jaringan yang mengalami kerusakan

akibat kecelakaan yang tidak disengaja karena kondisi natural atau kerusakan yang

disengaja oleh manusia untuk keperluan penelitian atau experimen. Hilangnya bagian

tubuh yang terjadi ini setiap saat dapat muncul kembali, dan dalam kasus ini proses

memperbaiki diri ini kita sebut sebagai regenerasi. Proses regenerasi dalam banyak

hal mirip dengan proses perkembangan embrio. Dari pembelahan yang cepat, dari

sel-sel yang belum khusus (timbullah) organisasi yang kompleks dari sel-sel khusus.

Ini melibatkan morfogenesis dan diferensiasi seperti perkembangan embrio.

Beberapa reptilia seperti kadal, cicak mampu melakukan regenerasi pada

bagian tertentu yang hilang dengan cukup kokoh. Cicak akan melepaskan ekornya

dan kemudian akan meregenerasi ekor baru pada waktu yang tidak begitu lama.

Kemampuan regenerasi berkurang dengan meningkatnya kompleksitas stuktur dan

fisiologis. Proses regenersi mirip dengan proses perkembangan embrio. Pembelahan

cepat dari sel-sel yang belum khusus (timbulah) organisasi yang komplek dari sel-sel

khusus yang melibatkan morfogenesis dan diferensiasi seperti perkembangan embrio

(Kimball, 1993).

III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah botol aqua yang
dilubangi, plastik, silet atau gunting dan kertas label.

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah seekor cicak dengan

ekor yang masih utuh dan seekor kecoa dengan kaki utuh.

B. Metode

1. Cicak dan kecoa diambil dan diukur ekor dan kakinya.

2. Bagian ekor cicak dan kaki kecoa kemudian dipotong

dan diukur kembali ekor dan kaki setelah dipotong.

3. Setelah ekor cicak dan kaki kecoa dipotong , cicak dan

kecoa dimasukkan dalam botol aqua yang dilubangi

kecil-kecil tutup plastiknya yang berfungsi sebagai

ventilasi.

4. Diamati perkembangan ujung ekor cicak dan ujung

kaki kecoa selama kurang lebih satu bulan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Gambar 1. Pertumbuhan Ekor Cicak Dengan Pemotongan Alami

Minggu I Minggu I
A A

Minggu II Minggu II

B B

Minggu III Minggu III

C C

Tabel 1. Pertumbuhan Ekor Cicak

Keteranga Data Pemutusan Pemutusan Mekanik (bagian yang dipotong)


n Pribadi Alami

Kel I
Tepat Garis ¾ Bagian ½ Bagian
NGF
Kel II Kel III Kel IV
Panjang 47 63 65
Awal
(mm)
Panjang 10 15 16
Sisa (mm)
Minggu I 2 16 16,3
(mm)
Minggu II 3 17 -
(mm)
Minggu III - 19 -
(mm)

Tabel 2. Pertumbuhan kaki kecoa

Keteranga Data Pemutusan Pemutusan Pemutusan Pemutusan


n Pribadi Ruas I Ruas II Ruas III Ruas IV
Panjang 69 69 35 33
Awal
(mm)
Panjang 5 5 5 12
Sisa (mm)
Minggu I 1 6 6 12,5 15
(mm)
Minggu II 3 8 7,5 12,8 15
(mm)
Minggu III - - - - 15
(mm)

Tabel 3. Kecepatan Pertumbuhan Organ yang Diamputasi

Kelompok Pengamatan Minggu I Minggu II Minggu III


Organ hilang (mm/minggu) (mm/minggu) (mm/minggu)
Ekor Cicak
Kaki Kecoa
Ekor Cicak
Kaki Kecoa
Ekor Cicak
Kaki Kecoa
Ekor Cicak
Kaki Kecoa
Ekor Cicak
Kaki Kecoa
B. Pembahasan

Regenerasi meliputi tiga cara. Pertama lewat mekanisme yang melibatkan

dediferensiasi struktur dewasa untuk membentuk masa sel yang terdiferensiasi. Yang

kemudian direspesifikasi. Tipe regenerasi seperti ini disebut regenerasi epimorfis,

dan ini khas pada regenerasi membra. Mekanisme regenerasi kedua disebut
mofolaksis. Regenerasi semacam ini terjadi lewat pemolaan kembali jaringan yang

masih ada (tersisa), yang tidak disertai dengan perbanyakan sel. Regenarasi

mofolaksis terjadi pada Hydra. Tipe regenerasi ketiga adalah regenerasi intermediet,

dan diduga sebagai regenerasi konsenpatori. Pada regenerasi ini, sel-sel membelah,

tetapi mempertahankan fungsi sel yang telah terdiferensiasi. Tipe regenerasi

konsenpatori khas pada hati manusia (Sounder, 1982).

Proses-proses umum yang terjadi pada regenerasi bagian yang putus atau

rusak yaitu :

1. Darah mengalir menutupi luka, kemudian membeku dan membentuk “scab”.

2. Epitel kulit menyebar di permukaan luka, dari bawah “scab”. Sel-sel epitel

itu bergerak secara amuboid dan membutuhkan beberapa hari agar kulit

lengkap menutupi luka.

3. Dediferensiasi sel-sel jaringan sekitar luka, sehingga jadi bersifat muda

kembali dan pluripotent untuk membentuk berbagai jenis jaringan baru.

Matrix tulang dan tulang rawan melarut. Sel-selnya lepas dan tersebar di

bawah epitel. Serat jaringan ikat juga berdisintegrasi dan sel-selnya

berdiferensiasi semua. Akhirnya tak dapat lagi dibedakan mana sel yang

berasal dari tulang, tulang rawan, atau jaringan ikat disusul oleh sel-sel otot

berdiferensiasi, serat myofibril hilang, inti membesar, dan sitoplasma

menyempit.

4. Pembentukan blastema, yaitu kuncup regenerasi pada permukaan bekas luka

“scab” mungkin sudah lepas waktu ini. Blastema besar dari penimbunan dari

sel-sel dediferensiasi.

5. Proliferasi sel-sel dediferensiasi secara mitosis, proliferasi ini serentak

dengan proses dediferensiasi dan memuncak pada waktu blastema dalam


besarnya yang maksimal, dan waktu itu tak membesar lagi.

6. Rediferensiasi sel-sel dediferensiasi, serentak dengan berhentinya proliferasi

sel-sel blastema itu.

Proses perbaikan pertama pada regenerasi ekor cicak dan kaki kecoa adalah

penyembuhan luka dengan penumbuhan kulit diatas luka tersebut, kemudian suatu

tunas-tunas sel yang belum berdiferensiasi terlihat. Tunas ini menyerupai rupa yang

mirip dengan tunas anggota tubuh pada embrio yang sedang berkembang. Ketika

waktu berlalu sel-sel dari anggota tubuh yang sedang beregenerasi diatur dan

berdiferensiasi sekali lagi menjadi otot, tulang dan jaringan lajutnya yang

menjadikan ekor dan kaki fungsional. Studi regenerasi mengungkapkan bahwa sel-

sel dewasa dari jaringan tertentu yang telah berdiferensiasi misalnya epidermis

mensintesis dan mengasilkan zat yang secara aktif menghambat mitosis sel-sel muda

dari jaringan yang sama. Stadium permulaan dari regenerasi tidak ada sel-sel dewasa

sehingga tidak ada penghambat pembelahan sel. Umur organisme mempengaruhi

kemampuan regenerasi dengan meningkatnya umur tanpa kemampuan regenerasi

lenyap tampak kemampuan regenerasi lenyap secara progesif. Kemampuan

regenerasi berkurang dengan meningkatnya kompleksitas struktur dan fisiologi

(Kimball, 1993).

Cicak mempunyai daya regenerasi pada ekornya. Regenerasi ini diikuti oleh

auotomi. Automi adalah adaptasi yang khusus untuk membantu hewan melepaskan

diri dari serangan musuh, jika predator menangkap ekornya, maka yang didapatkan

hanya lah ekor itu saja bukan hewan tersebut. Autotomi merupakan perwujutan dari

mutilasi diri. Setelah ekor putus, tunas regenerasi dibentuk pada permukaan yang

terluka dan ini memberi kemunculan suatu ekor baru. Ekor yang baru muncul

tersebut mempunyai struktur yang berbeda dengan ekor semula. Hasil regenerasi
ekor itu tidak semula kembali karena ekor yang baru itu tidak mengandung

notochord lagi. Kulit yang segera menutupi luka amputasi cicak akan menyebabkan

regenerasi terhalang, namun jika hanya epidermis kulit yang menutup luka maka

regenerasi terjadi. Hal ini menunjukkan kulit terutama kulit dermis mengandung

suatu zat yang memblokir proses regenerasi (Balinsky, 1983).

Berdasarkan pengamatan cicak yang telah diputus ekornya dan dipelihara

kurang lebih selama satu bulan mempunyai daya regenerasi sebagai berikut:

• minggu pertama : cicak mengalami pertambahan panjang 2 mm

• minggu kedua : cicak mengalami pertambahan panjang 3 mm

Menurut Kalthof (1996), Regenerasi tidak sempurna ditandai dengan adanya

bentuk tubuh yang sama, tetapi ukurannya berbeda pada salah satu fase regenerasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi petumbuhan dan perkembangan hewan dapat

dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi gen

dan hormon. Faktor eksternal meliputi air, makanan dan cahaya.

1. Hormon

Hormon merupakan senyawa organik yang mengatur pertumbuhan dan

perkembangan hewan adalah hormon somatotrof (hormon pertumbuhan).

Bila hewan kekurangan hormon pertumbuhan, maka pertumbuhan akan

terhambat sehingga badannya kerdil. Bila kelebihan hormone pertumbuhan,

maka akan mengalami pertumbuhan raksasa.

2. Gen

Gen merupakan faktor keturunan yang diwariskan dari orang tua (induk)

kepada keturunannya. Gen akan mengendalikan pola pertumbuhan dan

perkembangan hewan.

3. Makanan
Makanan sangat diperlukan oleh hewan maupun makhluk hidup lainnya.

Makanan digunakan sebagai zat pembangun tubuh dan sumber energi.

4. Air

Air merupakan pelarut dan media untuk terjadinya reaksi metabolisme tubuh.

Reaksi metabolisme ini akan menghasilkan energi, membantu pembentukan

sel-sel yang baru, dan memperbaiki sel-sel yang rusak.

5. Cahaya Matahari

Cahaya matahari sangat diperlukan dalam pembentukan vitamin D. Vitamin

itu diperlukan dalam pembentukan tulang.

V. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut :

1. Regenerasi adalah proses pertumbuhan dan perbaikan pada bagian organ

yang hilang atau rusak.


2. Proses penyembuhan ekor yang terpotong dimulai dengan terjadinya

pembekuan darah disekitar luka yang nantinya akan terbentuk scab.

VI. DAFTAR REFERENSI

Balinsky, B. I. 1981. An Introduction to Embriology. W. B. Saunders Company,


Philadelpia.

Balinsky, B. I. 1983. An Introduction to Embriology. W. B. Saunders Company,


London

Clause R. Amanda. 2006. Caudal Autotomy and Regeneration in Lizards

Kimbal, J. W. 1993. Biologi Jilid 2. Erlangga, Jakarta.


Khaltoff, Klaus. 1996. Analysis of Biological Development. McGraw-Hill,Inc, New
York

Radiopoetro. 1986. Zoologi. Erlangga. Jakarta

Sounder, J. W. 1982. Developmental Biology. Macmillan Publishing Co. New York.