Anda di halaman 1dari 3

7 tehnik media membuat penyesatan opini publik

hidup di zaman canggih kayak gini, kata orang seh namanya abda ini adalah abad
tekhnologi informasi..dimana manusia dengan mudahnya mendapatkan informasi dari
berbagai media, baik media eloktornik atau cetak.....

tapi apakah semua yang diaktakan media adalah benar, menjadi sebuah pertanyaan
penting, karena bagaimanapun media adalah media yang sangat ampuh...artinya media
bisa jadi dijadikan sebuah alat untuk mencapai kepentingan tertentu..bahkan dengan cara
memalsukan informasi, seperti kata j.de gray

permasalahanya bukan apa


yang dinformasikan
media,tapi apa yang tidak
diinformasikan
media bisa menjadi alat yang efektif untuk pembentukan opini publik, bagaimana tekhnik
media untuk membentuk opini publik atau bisa jadi penyesatan opini publik demi
kepentingan tertentu, berikut beberapa tekhniknya
1. Name calling (nama julukan)
Spoiler for name calling:
propaganda dengan memberikan sebuah ide atau label yang buruk. Tujuannya agar orang
menolak dan menyangsikan ide tertentu tanpa mengoreksi atau memeriksanya terlebih
dahulu. Contoh istilah ”Muslim garis keras” sebagai lawan dari ”Muslim moderat”,
digunakan untuk memberikan kesan negatif pada pelaku penegak syariat Islam. Negara
yang tidak sejalan dengan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah dicap sebagai ”negara
militan”, sementara negara yang sejalan dengan AS disebut ”negara sahabat” atau
”negara moderat”.

2. Glittering Generalities (generalitas gemerlapan)


Spoiler for Glittering Generalities:
teknik propaganda ini digunakan untuk menonjolkan propagandis dengan
mengidentifikasi dirinya dengan segala sesuatu yang serba luhur dan agung. Ungkapan
kata-kata ”demi keadilan dan kebenaran” menjadi salah satu ciri teknik propaganda ini.
Teknik ini dimunculkan untuk memengaruhi persepsi masyarakat agar mereka ikut serta
mendukung gagasan propagandis. Kadang sang propagandis sangat menonjolkan dirinya
dengan sebutan agung dan luhur serta menganggap dirinyalah paling benar sedangkan
orang lain salah. Contoh, invasi AS ke Irak dan Afganistan atas nama demokrasi demi
keadilan dan kebenaran. Padahal dari invasi tersebut jutaan kaum Muslim menjadi
korban.

3. Transfer (pengalihan)
Spoiler for transfer:
pelaku propaganda berupaya mengidentifikasikan suatu gagasan, seseorang, suatu negara,
atau kebijakan dengan mengalihkannya pada gagasan atau kebijakan yang bertolak
belakang. Hal ini untuk menimbulkan citra jelek pada gagasan atau kebijakan pihak
musuh. Misalnya, Khilafah Islamiyah atau negara Islam dijuluki sebagai ‘negara pada
zaman batu’, ‘sistem abad kegelapan’, ‘sistem utopis’, ‘sistem penuh darah’, serta
julukan-julukan negatif lainnya.

4. Testimonials (kesaksian)
Spoiler for kesaksian:
berisi perkataan manusia yang dihormati atau dibenci bahwa idenya adalah baik atau
buruk. Propagandis, misalnya, menggunakan narasumber yang diberi gelar ‘pakar’, ‘ahli’,
‘yang berpengalaman’, atau ‘saksi langsung’ untuk menambah keyakinan para
pendengarnya

5. Plain Folk (orang sederhana)


Spoiler for Plain Folk:
Setiap pelaku propaganda sadar bahwa masalah bertambah rumit jika ia tampak pada
pendengarnya sebagai ‘orang asing’. Karena itu, mereka berupaya mengidentifikasikan
diri sedekat mungkin dengan nilai dan gaya hidup sasaran dengan menggunakan logat,
aksen, dan ungkapan setempat. . Cara yang paling efektif adalah merekayasa seseorang
untuk menjadi tokoh, sumber rujukan, atau ilmuwan yang kompeten. Hal ini dilakukan
lewat proses pendidikan, rekayasa media dengan menampilkan tokoh tersebut secara
terus-menerus, atau dengan memberinya gelar/penghargaan. Jadi, umat Islam harus
waspada, kalau ada calon tokoh atau tokoh, yang idenya bertentangan dengan Islam
bahkan menyerang Islam, tetapi mendapat banyak penghargaan dari Barat. Misalnya,
SBY yang dinobatkan sebagai 100 tokoh berpengaruh di dunia versi majalah Times,
Musdah Mulia yang selalu dirujuk oleh media ketika ada permasalahan perempuan, dan
sebagainya.

6. Card Stacking (pilihan fakta)


Spoiler for pilihan fakta:
Hampir semua propaganda biasanya melakukan pilihan fakta, meskipun aktual namun
jarang rinci. Pilihan ini biasanya digunakan untuk melakukan generalisasi. Perjuangan
syariat Islam diidentikkan dengan kekerasan. Kesimpulan ini dibangun dengan memilih
fakta adanya aksi kekerasaan yang dilakukan oleh sekelompok kaum Muslim yang ingin
menegakkan syariat Islam (itu pun sering tanpa bukti hukum). Sementara itu, adanya
fakta lain berupa perjuangan syariat Islam tanpa kekerasaan—seperti yang dilakukan oleh
Hizbut Tahrir di Uzbekistan, Yordania, Mesir, dan belahan dunia lainnya—cenderung
ditutupi. Akibatnya, ada kesan kuat bahwa perjuangan syariat Islam identik dengan teror
dan kekerasan

7. Bandwagon technique (ikut pihak yang banyak)


Spoiler for BT:
Teknik ini memanfaatkan keinginan pendengar untuk ‘menjadi bagian’ atau ‘satu sikap’
dengan orang banyak. Teknik paling sering digunakan oleh AS dalam kampanye ‘Perang
Melawan Terorisme’-nya saat ini dengan menyatakan bahwa terorisme adalah serangan
terhadap dunia. Sama halnya dengan ungkapan para penolak syariat Islam yang sering
menggunakan ungkapan, ‘mayoritas umat Islam Indonesia adalah moderat’, ‘organisasi
Islam terbesar di Indonesia saja menolak syariat Islam’, ‘mereka itu hanya minoritas’,
dan lainnya. Padahal jelas, kebenaran tidaklah bergantung pada suara mayoritas.

sumber dari temen yang kuliah di fikom...ternyata keren juga tekhniknya, jadi gak
aneh klo TV*ne kita lihat sering sekali merubah topik...kemarin baru saja begitu
gencarnya ngomongin PANSUS..eh belum tuntas..tiba2 tadi dari pagi ampe malam
ngomongin teroris

tentu di era tekhnologi informasi in, kita harus jeli terhadap pilihan berita yang masuk ke
kita, jangan sampai kita hanya menjadi kotak kosong melompong....