Anda di halaman 1dari 14

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dampak negatif penggunaan pestisida sudah semakin diwaspadai oleh
berbagai komponen masyarakat Indonesia saat ini. Sayangnya kesadaran ini masih
belum diimbangi oleh pengurangan penggunaan pestisida oleh para petani di
lapang. Penggunaan pestisida oleh para petani Indonesia masih cukup tinggi sebab
pengembangan dan penerapan alternatif teknik pengendalian hama dan penyakit
di luar pestisida masih sangat kurang. Pengelolaan hama terpadu (PHT) yang
menjadi kebijakan nasional perlindungan tanaman (pasal 20 UU No. 12 tahun
1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman) tampaknya masih belum bisa diterapkan
secara baik di tingkat petani. Masih banyak yang belum paham apa itu PHT dan
teknik pengendalian hama apa saja yang bisa ditawarkan oleh PHT (Untung,
2006).

Salah satu alternatif teknik pengendalian hama yang cukup efektif dan
efisien adalah penggunaan pestisida nabati, atau penggunaan zat kimia nabati
yang terkandung dalam jaringan tumbuh-tumbuhan untuk mengendalikan
populasi hama. Untung (2006) mengungkapkan bahwa pestisida botani atau
pestisida nabati merupakan pestisida alami yang bahannya diambil langsung dari
tanaman atau hasil tanaman. Pestisida nabati sangat berbeda dari pestisida sintetis
kimia sebab tidak menimbulkan dampak residu (pestisida nabati sangat mudah
terurai secara alami) dan memiliki spektrum yang spesifik dan efektif untuk hama
tertentu. Selain itu sebagai hasil ekstrak jaringan tumbuhan, pestisida nabati
tentunya dapat dibuat sendiri dengan bahan yang sudah tersedia di lingkungan
sekitar kita, sehingga biaya yang dikeluarkan pun semakin berkurang. Sayangnya
teknik ekstraksi yang baik masih belum diperkenalkan kepada para petani
sehingga hal yang mudah ini terasa sulit dilakukan oleh para petani; pestisida
sintetis kimia pun tetap menjadi pilihan utama.
2

Salah satu jenis tanaman yang memiliki potensi untuk dikembangkan


sebagai pestisida nabati adalah jarak pagar, Jatropha curcas L. Tanaman ini
tersedia dalam jumlah yang banyak di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Nusa
Tenggara Timur (NTT). Awalnya tanaman ini mulai dikembangkan karena potensi
bioetanol yang dapat diperoleh dari bijinya. Namun beberapa hasil penelitian
laboratorium dan literatur ilmiah menunjukkan bahwa jarak pagar tidak hanya
bisa dimanfaatkan sebagai bioetanol, tetapi juga sebagai pestisida nabati yang
efektif mengendalikan beberapa jenis serangga hama, termasuk Sitophilus
zeamais, kumbang bubuk jagung yang biasa menyerang bulir jagung di tempat
penyimpanan.

Perumusan Masalah
Tulisan ilmiah yang dikembangkan berdasarkan hasil penelitian
laboratorium ini, difokuskan pada hasil pengujian laboratorium terhadap ekstrak
biji jarak pagar, Jatropha curcas L, dalam meningkatkan mortalitas kumbang
bubuk jagung, Sitophilus zeamais. Beberapa fokus kajian yang diangkat:
1. cara pembuatan ekstrak biji jarak pagar yang murah dan mudah
dilakukan
2. pengaruh peningkatan dosis ekstrak biji jarak pagar terhadap
tingkat kematian kumbang bubuk
3. uji data hasil pengamatan terhadap perbedaan dosis ekstrak jarak
pagar dan kematian kumbang bubuk.

Tujuan Penulisan
Hasil penelitian yang diangkat dalam tulisan ini memang perlu
disempurnakan lagi dengan penelitian lanjutan. Namun pada dasarnya apa yang
diangkat di sini ingin menunjukkan bahwa jarak pagar tidak hanya bisa
dikembangkan sebagai bioetanol tetapi juga sebagai pestisida nabati. Selain itu
jarak pagar sebagai salah satu kekayaan lokal NTT seharusnya lebih diperhatikan
dan dikembangkan agar posisi pestisida kimia di hati para petani NTT dapat
digantikan oleh pestisida nabati yang berasal dari kekayaan lokal NTT.
3

LANDASAN TEORI

Melambungnya harga minyak dunia telah menimbulkan keresahan


tersendiri bagi negara-negara maju dan berkembang di dunia, termasuk Indonesia.
Kenaikan harga minyak ini telah memicu kenaikan harga bahan makanan pokok
dan kebutuhan lainnya, sementara peningkatan pendapatan masyarakat hampir
tidak pernah terjadi. Melihat kegelisahan sosial yang timbul akibat ketergantungan
terhadap energi fosil, perlu dikembangkan berbagai inovasi baru yang mampu
mengurangi ketergantungan tersebut. Salah satunya adalah pengembangan sumber
energi alternatif, seperti biodiesel.

Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan salah satu sumber
energi alternatif yang dapat dikembangkan sebagai biodiesel. Hambali et al.
(2006) mengungkapkan bahwa minyak yang dihasilkan tanaman jarak pagar ini
merupakan salah satu minyak nabati yang tidak dimanfaatkan sebagai minyak
makan (edible oil), seperti minyak kelapa sawit, sehingga penggunaannya untuk
memenuhi kebutuhan energi tidak akan mengganggu kebutuhan lainnya. Selain
itu tanaman tahunan yang tahan kekeringan ini dapat berkembang dengan baik di
wilayah-wilayah marginal Indonesia Timur, seperti NTT, NTB, Sulawesi, Maluku,
dan Papua.

Selain dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif, tanaman jarak


pagar ternyata memiliki berbagai keunggulan lain yang belum banyak
dimanfaatkan, misalnya sebagai bahan obat tradisional, sumber pupuk, pakan
ternak, dan sumber pestisida botanik yang mampu mengendalikan beberapa jenis
hama dan penyakit. Syah (2006) mengungkapkan bahwa di Mali, racikan daun
jarak pagar digunakan sebagai obat malaria; di Filipina, telah dibuktikan secara
medis bahwa senyawa kimia yang dikandung biji jarak pagar mampu melawan
cacing hati, Lymneae auricularia, salah satu penyebab penyakit perut. Selain itu
diungkapkan pula bahwa konsentrat daun tanaman ini bersifat racun bagi
4

kumbang pemakan jagung, Callosubruchus chinensis, dan kumbang bubuk,


Sitophilus zeamais, serta efektif mengendalikan populasi lalat rumah, Musca
domestica.

Penggunaan pestisida sintetik berbahan aktif racun kimia dalam bidang


pertanian, memang mampu menanggulangi kemerosotan hasil akibat serangan
hama. Pestisida kimia pun sanggup menekan populasi hama dalam waktu singkat,
lebih mudah diaplikasikan, dan sudah diformulasikan dalam bentuk yang siap
pakai (Oka, 1995). Akan tetapi penggunaan pestisida sintetik yang kurang
bijaksana telah menimbulkan resistensi dan resurgensi hama, pencemaran
lingkungan, serta berdampak buruk bagi kesehatan manusia (Untung, 1993).
Keracunan akut dan kronik dalam jangka waktu panjang dapat menjadi masalah
kesehatan serius bagi manusia. Keracunan akut dapat terjadi karena kecerobohan
dan perilaku pengguna yang tidak memperhatikan aspek keamanan penggunaan
bahan kimia berbahaya. Sementara itu keracunan kronik dapat terjadi akibat
terpapar pestisida yang lalu menimbulkan kerusakan hormon endokrin, sistem
syaraf, dan sistem pernapasan (Untung, 2006).

Untuk menekan pengeluaran petani serta mengurangi dampak negatif


penggunaan pestisida sintetik, maka dicarilah alternatif lain yang lebih ramah
lingkungan, aman bagi kesehatan manusia, dan murah. Pestisida botanik
merupakan salah satu alternatif utama yang ditawarkan. Senyawa-senyawa kimia
yang terkandung dalam pestisida botanik lebih mudah terurai di alam, dan
memberikan pengaruh negatif yang kecil pada manusia. Pestisida botanik ini pun
mudah diperoleh dari bahan-bahan alami yang tersedia secara gratis di sekitar
kita.

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, jarak pagar (Jatropha


curcas L.) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi menjadi pestisida
botanik. Sayangnya pengujian secara ilmiah terhadap potensi tanaman ini sebagai
sumber pestisida botanik baru mulai dikembangkan akhir-akhir ini. Kami pun
berpikir bahwa perlu dilakukan percobaan lain yang dapat mendukung
5

pengembangannya sebagai pestisida botanik. Pada kegiatan percobaan yang


dilakukan dalam rangka Praktek Kerja Lapang (PKL) di Balai Benih Induk (BBI)
Tarus, Kupang, NTT, hama bubuk, Sitophilus zeamais, dipilih sebagai komponen
uji coba utama. Hama ini termasuk salah satu hama gudang penting di wilayah
NTT. Hama ini juga bersifat polifag dan menimbulkan kerusakan pada beras,
kacang tanah, dan gaplek (Kartasapoetra, 1991).

Gambaran Umum Kumbang Bubuk Sitophilus zeamais


Klasifikasi kumbang bubuk (Sitophilus zeamais) menurut Kalshoven
(1981) adalah sebagai berikut
kingdom : Animalia
phylum : Arthropoda
kelas : Insecta
ordo : Coleoptera
famili : Curculionidae
genus : Sitophilus
spesies : Sitophilus zeamais

Morfologi
Sitophilus zeamais dewasa memiliki panjang tubuh 2,5–4,5 mm, berwarna
cokelat, serta memiliki moncong yang sempit dan panjang. Hama inijuga
memiliki antena yang menyiku (siku-siku). Sementara itu, larvanya berwarna
putih, gemuk, dan tidak berkaki. Larva ini tumbuh dan berkembang dalam biji
jagung (Pracaya, 2007).

Daur Hidup
Sitophilus zeamais memiliki kekuatan terbang yang cukup baik, sehingga
dengan mudah menyerang biji-bijian jagung yang telah masak di lapang dan
menimbulkan lubang pada tongkol jagung. Meski begitu, biji-biji jagung yang
yang sudah berada di tempat penyimpanan, lebih rentan terhadap serangan S.
zeamais. Setiap lubang yang dibuat akan digunakan untuk meletakkan satu butir
telur, kemudian ditutup lagi. Kumbang betina biasa menghasilkan telur sampai
6

300 butir dalam beberapa minggu. Larva yang menetas lalu makan dan
berkembang dalam satu butir jagung, dan menjadi pupa di tempat yang sama.
Setelah menyelesaikan stadium pupa, imago kumbang keluar dari butir jagung
dan mulai memakan serta merusak biji-biji jagung lainnya. Kumbang bubuk
jagung dapat hidup hingga usia lima bulan. Dalam keadaan optimum, daur hidup
sejak stadium telur hingga dewasa diperkirakan 30 hari (Pracaya, 2007).

Kerusakan Akibat Serangan Sitophilus zeamays


Serangan kumbang bubuk, Sitophylus zeamais, pada komoditi jagung
menyebabkan susut kualitatif dan kuantitatif. Imdad dan Nawangsih (1995)
menyatakan bahwa susut kualitatif adalah penurunan kualitas yang menurunkan
harga jual, sedangkan susut kuantitatif adalah susut berat yang mengurangi jumlah
produksi. Baik susut kualitatif maupun susut kuantitatif mengakibatkan kerugian
yang cukup besar bagi para petani.

Sitophilus zeamais merupakan hama gudang, yang serangannya dapat


menimbulkan kerusakan pada butir-butir jagung: berlubang serta mudah pecah
dan hancur. Kerusakan yang hebat dapat ditimbulkan sejak stadium larva hingga
dewasa. Imago kumbang bubuk jagung akan melubangi melubangi biji jagung dan
pada masing-masing lubang tersebut akan diletakkan satu telur. Lubang bekas
gerekan itu direkatkan kembali dengan air liur dan sisa gerekannya
(Kartasapoetra, 1991).

Gambaran Umum Jarak Pagar Jatropha curcas L


Menurut Hambali et al. (2006), sistematika tanaman jarak pagar adalah
sebagai berikut

kingdom : Plantae
divisi : Spermatophyta
subdivisi : Angiospermae
kelas : Dicotyledonae
ordo : Euphorbiales
famili : Euphorbiaceae
7

genus : Jatropha
spesies : Jatropha curcas L

Jarak pagar termasuk tanaman setahun dan berupa tanaman perdu yang
dapat tumbuh pada kisaran ketinggian 0-1700 meter di atas permukaan laut.
Batangnya berkayu, berbentuk silindris, bercabang, berkulit licin, dan memiliki
tonjolan-tonjolan bekas tangkai daun yang gugur. Tanaman jarak pagar memiliki
daun tunggal yang tumbuh berseling dan tersebar di sepanjang batangnya.
Daunnya lebar, berbentuk jantung atau bulat telur melebar dengan panjang dan
lebar yang hampir sama, yaitu 5-15 cm. Helai daun berlekuk dan membentuk
sudut 3 atau 5 (Hambali et al. 2006).

Bunga tanaman jarak pagar merupakan bunga majemuk, berbentuk malai,


berwarna kuning kehijauan, berkelamin tunggal, berumah satu (putik dan benang
sari dalam satu tanaman). Jumlah bunga betina 4-5 kali lebih banyak dari bunga
jantan. Baik bunga jantan maupun bunga betina tersusun dalam rangkaian
berbentuk cawan yang tumbuh di ujung batang atau di ketiak daun (Hambali et al.
2006).

Buah tanaman jarak pagar berbentuk bulat telur, memiliki diameter 2-4
cm, panjang 2 cm, dan tebal ± 1 cm. Buahnya berwarna hijau ketika masih muda,
dan berwarna kuning, abu-abu kecoklatan atau kehitaman jika sudah masak.
Bagian dalam buah terbagi atas tiga ruang yang masing-masingnya berisi satu biji.
Sementara itu bijinya berbentuk bulat lonjong, berwarna coklat kehitaman, dan
mengandung banyak minyak (Hambali et al. 2006). Selanjutnya Sinaga (2006)
menyatakan bahwa biji jarak pagar rata-rata berukuran 18x11x9 mm, dengan berat
0,62 gram, serta terdiri atas 58,1% biji inti yang berupa daging (kernel) dan 41,9%
kulit.

Hambali et al. (2006) mengemukakan bahwa di Indonesia tanaman jarak


pagar dapat ditanam di seluruh wilayah, karena tanaman ini tahan terhadap
kekeringan, dan dapat pula tumbuh di tempat bercurah hujan 300-2380 mm per
8

tahun. Sementara itu kisaran suhu lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan
jarak pagar adalah 11° -38° C. Produksi buah dimulai sejak tanaman ini mencapai
usia lima bulan, sedangkan produktivitas penuh dicapai pada usia lima tahun.

Daun dan ranting jarak pagar mengandung senyawa stigmast-5-en-3b,7b-


diol; stigmast-5-en-3b,7a-diol; cholest-5-en-3b,7b-diol; cholest-5-en-3b,7a-diol;
campesterol; b-sitosterol. Selain itu terdapat pula senyawa falvonoid, apigenin,
dan isvitexin. Batang jarak mengandung asam organik seperti iridoits, saponin,
tannin, senyawa fridelin, tetrasiklik triterpen ester jatrocurin, dan scopeletin
metal ester. Kulit batangnya mengandung senyawa b-amyrin, dan tarasterol.
Sementara itu akar jarak mengandung b-sitosterol, b-D-glukosida, marmesin,
propasin, curculathyrane A dan B, diterpenoid jatrophol, jatropholone A dan B,
chomarin tomentin, comarino-lignan jatrophin, serta saponin dan flavonoid.
Getah jarak mengandung senyawa curcacyline A dan B, saponin, flavonoida,
tannin, dan senyawa-senyawa polifenol. Pada biji jarak terkandung senyawa
alkaloida, saponin, dan sejenis protein beracun yang disebut kursin. Bijinya juga
mengandung 35-45% minyak lemak yang terdiri atas berbagai trigliserida asam
palmitat, stearat, dan kurkalonat (Alamsyah, 2006 dan Sinaga, 2006).
9

BAHAN DAN METODE

Kegiatan ini dilakukan selama tiga bulan, November 2007 - Januari 2008,
di Balai Benih Induk (BBI) Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten
Kupang. Sementara itu peralatan yang digunakan yaitu 12 buah stoples, kain kasa,
saringan/ayakan, dan timbangan. Bahan yang digunakan adalah biji jagung, imago
kumbang bubuk (Sitophilus zeamais), dan biji jarak pagar (Jatropha curcas L).
Biji jagung yang digunakan merupakan hasil panen BBI yang sebelumnya
disimpan pada kadar air 10-11%. Biji jagung tersebut disortir untuk mendapatkan
benih jagung yang masih baik/utuh. Sementara itu imago Sitophilus zeamais
diperoleh dari biji jagung yang berlubang atau terdapat bekas gigitan kumbang
bubuk yang diduga menjadi tempat diletakannya telur hama ini. Biji jagung
tersebut kemudian dibiarkan selama beberapa waktu hingga kumbang bubuk
tersebut berkembang manjadi dewasa.

Pembuatan Pestisida Nabati


Pembuatan ekstrak biji jarak pagar sebenarnya cukup mudah dan murah
untuk dilakukan sendiri oleh para petani. Dalam kegiatan penelitian ini, pestisida
nabati dibuat dari biji Jatropa curcas L yang sudah agak tua (berwarna cokelat
kehitaman). Biji tersebut dibersihkan dan dikeringkan lalu dihaluskan dengan cara
ditumbuk hingga menjadi ekstrak yang lalu disaring atau diayak.

Pengujian Dosis Ekstrak Biji Jatropha curcas L terhadap Mortalitas


Sitophilus zeamais
Tiga dosis berbeda ekstrak biji jarak pagar merupakan perlakuan yang
diujicoba: A = dosis 5 gr/200 gr biji jagung; B = dosis 10 gr/200 gr biji jagung;
dan C = dosis 15 gr/200 gr biji jagung; serta D = kontrol (tanpa perlakuan
pestisida nabati). Setiap perlakuan diulang tiga kali dan dirancang berdasarkan
Rancangan Acak Lengkap (RAL).

Pada setiap stoples yang sudah disediakan, dimasukan biji jagung


sebanyak 200 gram. Kemudian dimasukan pula ekstrak biji Jatropha curcas L
10

yang dicampur merata dengan biji jagung. Setiap stoples lalu diisi dengan sepuluh
ekor imago kumbang bubuk (Sitophilus zeamais), dan kemudian mulut stoples
ditutup dengan kain kasa. Selanjutnya dilakukan pengamatan pada 1 minggu
setelah perlakuan (MSP), 2 MSP, dan 3 MSP. Pengamatan tersebut dilakukan
terhadap kumbang bubuk yang mati. Data pengamatan yang dikumpulkan
kemudian dihitung dengan rumus probit di bawah ini untuk mengetahui bersarnya
persentase mortalitas kumbang bubuk:

∑ serangga mati
% kematian = X 100%
∑ serangga mati + ∑ serangga hidup
11

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengamatan dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan


yang sangat nyata bahan nabati yang diuji, dimana terdapat dosis bahan nabati
yang mampu menyebabkan kematian Sitophilus zeamais hingga 93,33%, yaitu
pada dosis 15 gram/200gram biji jagung (Tabel 1).

Tabel 1. Persentase mortalitas Sitophilus zeamais karena perlakuan bahan nabati


Perlakua Serangga Uji yang
∑ serangga rata-rata
n Mati pada…
Ulangan uji yang serangga % Mortalitas
1 2 3
Dosis mati mati/minggu
MSP MSP MSP
I 3 2 3 8 2.6666667
A II 2 2 3 7 2.3333333 73.33333333
III 3 3 1 7 2.3333333
I 1 3 4 8 2.6666667  
B II 2 4 3 9 3 86.66666667
III 2 3 3 8 2.6666667  
I 3 3 3 9 3
C II 3 4 2 9 3 93.33333333
III 4 4 2 10 3.3333333
I 0 0 0 0 0
Kontrol II 0 0 0 0 0
III 0 0 0 0 0 0

Hasil analisis sidik ragam memperlihatkan adanya perbedaan yang sangat


nyata perlakuan ekstrak biji jarak pagar dalam meningkatkan jumlah kematian
kumbang bubuk jagung (Tabel 2). Hasil uji lanjut BNT menunjukkan bahwa dosis
ekstrak biji jarak pagar yang paling efektif terhadap kematian serangga uji
(Sitophilus zeamais) adalah 15 gram/200 gram biji jagung. Perlakuan dengan
dosis ini berbeda nyata dengan kedua perlakuan yang lain dan kontrol.

Persentase kematian serangga uji (Sitophilus zeamais) yang tinggi


mengindikasikan adanya kandungan senyawa metabolit sekunder dalam ekstrak
Jatropa curcas L tersebut. Senyawa-senyawa tersebut mempunyai daya
insektisidal yang tinggi yang dapat menyebabkan kematian serangga uji
(Sitophilus zeamais). Menurut Lajis & Jaafar (1998), biji jarak mengandung
12

senyawa alkaloid dan senyawa protein beracun yang disebut kursin yang bersifat
insektisidal. Hal ini didukung oleh Hambali et al. (2006), yang menyatakan bahwa
daging biji jarak pagar selain mengandung minyak juga mengandung senyawa-
senyawa kimia seperti alkaloida, saponin, dan sejenis protein beracun yang
disebut kursin. Senyawa beracun ini yang diduga dapat membunuh serangga uji
S. zeamais. Tambahan pula pada bagian kulit biji mengandung ekstrak eter yang
juga dapat membunuh S. zeamais.

Tabel 2. Analisis ragam mortalitas Sitophilus zeamais


F tabel
Sumber variasi DB JK KT F hitung
0.05 0.01
Perlakuan 3 24.67 8.2233333 32.893333 4.07 7.59**
Acak 8 2 0.25
Total 11 26.67 2.4245455
Keterangan: ** = berbeda sangat nyata pada F (0.01)
KK= 5,995%

Pada perlakuan beberapa dosis ekstrak biji jarak yang dicobakan ternyata
dosis tertinggi (15 gram/200 gram biji jagung) yang menyebabkan mortalitas
tertinggi Sitophilus zeamais serta berbeda nyata dengan dosis yang lainnya dan
kontrol. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan efek insektisidal dalam ekstrak
biji jarak pagar yang disebabkan karena perbedaan konsentrasi senyawa metabolit
sekunder dalam ekstraksi tersebut. Konsentrasi senyawa dalam ekstrak
dipengaruhi oleh akumulasi senyawa-senyawa tersebut dalam biji jarak pagar.
13

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan penelitian sederhana yang sudah dilakukan ini dapat diambil


beberapa kesimpulan:
1. Ekstrak biji jarak pagar sangat efektif dalam mengendalikan hama gudang
Sitophilus zeamais
2. Di antara perlakuan yang dicobakan, dosis ekstrak biji jarak yang
memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap mortalitas Sitophilus
zeamais yaitu 15 gram/200 gram biji jagung.
Sementara itu, sangat disarankan agar perlu diadakan penelitian lanjutan di
lapang untuk lebih memastikan efektivitas ekstrak biji jarak pagar terhadap
kematian kumbang bubuk dalam habitat hidup yang sebenarnya.
14

DAFTAR PUSTAKA

Alam Syah, A.N, 2006. Yang Beracun, Yang Berfaeda. Hangtuah Digital Library.
http://www.google.co.id [4 Maret 2008].

Hambali, E. dkk. 2006. Jarak Pagar Tanaman Penghasil Biodisel. Penebar


Swadaya. Jakarta.

Imdad, H. P. dan A. A. Nawangsih.1995. Menyimpan Bahan Pangan. Penebar


Swadaya. Jakarta.

Kalshoven, L. G. E. 1981. Pests of Crops in Indonesia. Laan PA van Der.


Penerjemah. Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve. Terjemahan daru: De
Plagen van de Cultuurgewassen in Indonesie.

Kartasapoetra, A.G. 1991. Hama Hasil Tanaman dalam Gudang. Rineka Cipta,
Jakarta.

Lajis, Razak Hj & Adenan Jaafar. 1998. Jarak Pagar: Siri Tumbuhan Beracun.
http://www.prn2.usm.my/mainsite/bulletin/1998/penawa22.html
[November 2007].

Oka. I. N. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia.


Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Pracaya. 2007. Hama dan Penyakit Tanaman, edisi revisi. Penebar Swadaya.
Jakarta.

Sinaga, E. 2006. Jatropha curcas L. Pusat Penelitian dan Pengembangan


Tumbuhan UNHAS. Jakarta. http://iptek.apjii.or.id/artikel/ttg
tanaman obat/jarak pagar [4 Maret 2008].

Untung, K. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University


Press. Yogyakarta.

Untung, K. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu, edisi kedua. Gadjah


Mada University Press. Yogyakarta.