Anda di halaman 1dari 5

TUGAS KEDOKTERAN FORENSIK

SIANIDA

Sifat:
1. Bentuk cair yang mendidih pada temperature 26,5 C
2. Maximal Allovable Concentration 100 ppm
3. Dosis letal: HCN = 50 mg atau ¾ grain – 1 grain
4. Dosis letal: KCN = 200 mg atau 3 grain – 5 grain
5. Cairan bening tidak berwarna
6. Bau seperti kentang kayu
7. Mudah menguap pada temperatur kamar
8. Berat molekul ringan dan sukar terionisasi

Sumber:
Tumbuh-tumbuhan yang mengandung amygdalin:
1. Singkong gendruwo, buncis, apel, kluwak, tempe, aprikot, temulawak, koro, pear
dan kratok.
2. Hasil dekomposisi sianida oleh suatu asam
3. Sisa pembakaran selluloid
4. Gas penerangan

Manfaat:
1. Untuk membasmi hama, misalnya membasmi tikus dalam gudang-gudang dan
kapal dengan cara KCN didestiler dengan H2SO4 menjadi gas HCN
2. Dalam bentuk garam: KCN, AgCN, NaCN dan HgCN digunakan untuk
pewarnaan, photografi dan penyepuhan.

Toksisitas:
1. Absorbsi HCN lewat lambung (per oral), lewat paru (per inhalasi), lewat kulit per
kutan.
2. Merupakan racun terhadap protoplasma
3. Dapat menimbulkan asifikasi akibat terjadinya histotoksik anoksia senhingga
aliran darah balik masih banyak mengandung oksigen dan berakiibat bercak
jenazahnya merah menyala.
4. Kalau hanya sedikit saja kemasukan HCN, gejalanya yang timbul adalah adanya
iritasi, misalnya hipersalivasi, mual, muntah dada terasa tertekan dan otot-otot
lemas.

Dosis falal:
- 1 grain HCN
- 3-5 grain KCN

Periode fatal:
Kematian dapat terjadi dalam beberapa detik. Periode rata-rata 2-10 menit.

Cara kerja:
Sianida
Punya afinitas tinggi terhadap enzim sitokrom oksidase dengan mampu mengikat
Fe3+ nya, sehingga akibatnya enzim tersebut tidak mampu mengukat O2. yang
berakibat terjadinya gangguan pernafasan sel (anoksia, citolit anoxia). HbO2 menjadi
berlebihan dalam darah sehingga warna lebam jenazah menjadi merah menyala.

KCN
Mempunyai sifat korosit terhadap saluran cerna dan lainya, bahkan mematikan
tubuh. Tubuh kitapun mengaddakan detoksikasi, sehingga pada kasus keracunan
yang fatal, sering terdapat hasil detoksikasi yang cukup tinggi, sehingga dapat untuk
menegakkan diagnosa. Proses detoksikasi ini dilakukan oleh enzim Rodanase dengan
melakukan konversi sianis amenjadi thiocianat yang tidak toksis.

Gejala klinis:
Bersifat non spesifik, terutam dengan adanya tanda-tanda stimulasi respirasi
1. Akut
a) Dengan menelan atau menghirup lebih dari 10 X. MDL (Minamal Lethalis
Dosis) sianida dengan adanya gejala-gejala mudah kehilangan kesadaran,
kejamg-kejang dan mati dalam tempo hanya 15 menit.
b) Menelan, menghirup atau absorbsi lewat kulit untuk racun sianida, sedikit
di bawah dosis letal menyebabkan: telingan mendesing, palpitasi, lemah
dan haus, nadi cepat dan akhirnya tidak sadar. Dalam tempo 4 jam akan
terjadi kejang-kejang dan akhirnya meninggal. Sedangkan untuk Sodium
Nitro Pruside dapat bertahan hidup sampai 12 jam.
c) Acrylorinitrile: Kalau menghisap racun ini akan timbul ras mual, muntah,
lemah, sakit kepala dan ikteris.
d) Kalau hanya skin kontak saja, maka kuliot akan melepuh.
Mekanisme: akibat terjasi inhibisi sitokrom oksidae pada khemoreseptor,
sehingga terjadi akumulasi hasil metabolit asam pada khemoreseptor yang
segera diikuti oleh kegagalan pernafasan.

2. Kronis
Hanya dengan menghirup cianogen kloride dengan cepat akan menyebabkan
telinga mendesing, lemah, paru mengalami kongesti, suara parau, konjuntivitis,
anoreksi, berat badan menurun, gangguan mental. Proses ini dapat berlangsung
sampai satu tahun lebih.
Terapi:
A. Menghirup gas HCN:
1. Segera:
a. Pindahkan si korban ke tempat yang bersih udaranya
b. Beri Amil nitrir inhalasi 1 ampul, (2 cc selama 3 menit) tiap 5 menit. Bila
sistole < 80 mmHg, Amilnitrit distop.
c. Buka pakaiannya, badanya dicuci dengan air dan sabun.
d. Bila respirasi lemah, beri pernafasan bantuan.

2. Antidote:
a. Sodium nitrit. Secepatnya beri Na Triosulfat 25 % sebanyak 50 cc secara
intravena dengan tempo 2,5 cc- 5 cc per menit. Bila sistole < 80 mmHg,
pemberiannya dihentikan.
b. Sodium Thiosulfat 25 %, 50 cc secara intravena dengan tempo 2,5-5 cc per
menit.
c. Harus selalu siap ulang pemberian Na Thiosulfat. Bila tanda-tanda itu timbul
kembali atau gagal. Pemberian ulang ini tidak boleh kurang dari 1 jam.

B. Menelan sianida:
Segera:
a) Menghirup amyl nitrit 1 ampul (0,2 cc 3 menit), diberi tiap 5 menit.
b) Lakukan cuci lambung :
Kalau keracunan itu < 4 jam. Dengan diindikasika mengeluarkan racun
dari korban yang dalam keadaan histeri, komatose, Dilarang melakukan
cuci lambung untuk korban yang menelan asam atau basa keras, Juga
dilarang melakukan cuci lambung dengan menggunakan gastric tube yang
besar lebih dari 30 menit setelah minum racun, sebab pada saat itu proses
pengrusakan racun terhadap dinding lambung sedang berlangsung,
sehingga dikwatirkan kalau timbul perforasi. Sebaiknya mengunakan tube
Levine yang kecil dan lemas, dan itupun memasukkannya harus ekstra
hati-hati.
c) Catharsis (urus urus)
Sesudah dilakukan cuci lambung, lalu durus-urusi segera. Tindakan ini
penting karena untuk mengeluarkan sisa racun dan mengeluarkan zat-zat
yang diekskresikan oleh hati atau usus tetapi tak sempat diabsorbsi.
d) Berikan artifisial repirasi :
Bila ada gangguan respirasi. Beri oksigenisasi.

Profilaksis :
dalam ruang kerja yang mengerjakan sianida, MAC (Maximal Allovable
Concentration) harus selalu di jaga, sedang obat obat untuk keracunan cianida harus
selalu tersedia.

Prognose :
Pada keracunan akut, bila lebih dari 4 jam ternyata masih bisa bertahan, biasanya
masih dapat dtolong.
Otopsi :

Tanda post mortum:


1. Pemeriksaan luar:
a) Tercium bau amandel/kentang wayu. (tak semua ras/bansa mampu
membau ini). Bisa dideteksi kalau kadar HCN minimal 1 ppm. Bau ini
sering jumbuh atau tertutup oleh bau busuk mayat, sedang ujung
syaraf olfaktorius cepa kelumpuhan akibat gaas sianida.
b) Lebam jenazah berwarna merah menyala, akibat kadar
oksihemoglibine tetap tinggi.
c) Pada keracunan gas CO, warna lebam jenazah merah menyala, dan
kukunya membiru.
d) Terdapatnya bintik perdarahan pada konjuntiva.
e) Ada metallic test, mulut berbusa.
2. Pemeriksaan dalam :
a) tercium bau amandel.
b) Paru kongestie, udem.
c) Bintik perdarahan pada otak, selaput otak, pleura dan perikardium bisa
ditemukan
d) Mungkin didalam lambung pun terjadi perdarahan lambung akut (pada
keracunan KCN
Awas, tanda ini jumbuh dengan keracunan alkali pekat.

Pemeriksaan Kimia:

A. Kwalitatif:
1. Schonbein test :x
Cara:
Ambil sepoting kertas filter yang telah dibasahi dengan larutan
Tinctura Guiaiaci, lalu dicelupkan dalam larutan CuSO4 1%, lalu
digantungkan pada gabus penutup Erlenmeyer yang telah diisi dengan
barang bukti biologisnya. Kalau positif, dalam waktu 12 menit akan
tampak perubahan warna pada kertas tadi menjadi berwarna biru. Tetapi
waena biru ini dapat juga disebabkan oleh adanya minyak aetheris,
Nitrobenzen, senyawa amoniak, jadi kalau tidak ada perubahan warna,
jelas bahwa hasilnya negatif, berarti tidak ada sianida.

2. Percobaab asam pikrat :


Cara:
Masukkan secarik kertas pikrat dalam larutan asam pikrat dan
biarkan kering. Teteskan bahan yang akan diperiksa pada potongan kertas
tersebut, dan biarkan kering. (BBB)
3. Reaksi biru berlin :
.

Anda mungkin juga menyukai