Anda di halaman 1dari 8

Guru sebagai Agen Perubahan

Oleh Rum Rosyid


Dalam upaya mengimplementasikan paradigma pendidikan masa depan, peran guru
sebagai pilar utama peningkatan mutu pendidikan jelas tidak boleh dipandang sebelah
mata. Sudah saatnya guru diberi kebebasan dan keleluasaan untuk mengelola proses
pembelajaran secara kreatif, “liar”, dan mencerdaskan, sehingga pembelajaran
berlangsung efektif, menarik, dan menyenangkan. Sudah bukan saatnya lagi guru
dipajang dalam “rumah kaca” yang selalu diawasi gerak-geriknya, sehingga guru yang
dianggap “tampil beda” dalam mengelola proses pembelajaran “kena semprit” dan
dihambat kariernya.

Profesi guru bukan sembarangan, melainkan penting dan menentukan masa depan
bangsa. Dengan demikian guru harus menjadi orang yang memiliki jati diri kuat,
senantiasa menjadi tauladan dan merencanakan, melaksanakan pembelajaran dengan
serius sepenuh hati. Siswa juga harus memiliki cara pandang baru, yakni, sekolah bukan
merupakan keharusan melainkan kebutuhan; siswa bukan peserta pasif, melainkan
peserta aktif, siswa bukan tidak berdaya, melainkan memiliki kekuatan untuk merealisir
apa yang dinginkan; apa saya bisa mengerjakan, YES saya bisa kerjakan; dan, tidak
sekedar senang bisa lulus, melainkan Why not the best. Dengan demikian siswa menjadi
individu yang memiliki cita-cita yang tinggi, semangat belajar keras dan yakin bahwa
yang bersangkutan mampu.

Dalam Undang-undang Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas (pasal 40 ayat 2) jelas


dinyatakan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban: (1) menciptakan
suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; (2)
mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan (3)
memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan
kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ini artinya, guru tidak lagi berperan sebagai
“piranti negara” yang semata-mata mengabdi untuk kepentingan penguasa, tetapi sebagai
“hamba kemanusiaan” yang mengabdikan diri untuk “memanusiakan” generasi bangsa
secara “utuh” dan “paripurna” (cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual) sesuai
dengan tuntutan zaman.

Dalam konteks demikian, guru harus benar-benar menjadi “agen perubahan” dan menjadi
sosok profesional yang senantiasa bersikap responsif dan kritis terhadap berbagai
perkembangan dan dinamika peradaban yang terus berlangsung di sekitarnya. Guru -
bersama stakeholder pendidikan yang lain - harus selalu menjadikan sekolah bagaikan
“magnet” yang mampu mengundang daya pikat anak-anak bangsa untuk berinteraksi,
berdialog, dan bercurah pikir dalam suasana lingkungan pembelajaran yang menarik dan
menyenangkan. Dengan cara demikian, tidak akan terjadi proses deschooling society di
mana sekolah mulai dijauhi oleh masyarakat akibat ketidakberdayaan pengelola sekolah
dalam menciptakan institusi pembelajaran yang “murah-meriah” di tengah merebaknya
gaya hidup hedonistik, konsumtif, materialistik, dan kapitalistik.

Demikian pula, orang tua siswa harus memiliki cara pandang baru. Yaitu, tanggung
jawab ortu tidak selesai dengan membayar uang ke sekolah; yang terikat dengan
perjanjian dan kewajiban sekolah tidak hanya anaknya, melainkan juga dirinya;
sepenuhnya percaya pada sekolah dan bekerjasama dengan sekolah; perlu
mengembangkan keserasian apa yang di sekolah dan apa yang di rumah; tidak ada
sekolah murah, sekolah itu mahal; dan, angka nilai penting, tetapi bukan segala-
segalanya. Dengan demikian orang tua akan patuh pada aturan sekolah dan berpartisipasi
dalam membantu terlaksananya kegiatan sekolah.

Kebijakan kedua dalam peningkatan mutu adalah memperkuat penekanan sekolah


sebagai suatu entitas mandiri, sebagai implikasi dari kebijakan SBM dan KTSP. Oleh
karena itu, semua intervensi dalam rangkaian peningkatan mutu senantiasa melewati
sekolah. Kondisi memerlukan kesadaran diri secara serius dari kalangan sekolah sendiri.
Sekolah telah memiliki memiliki kemandirian dan kemerdekaan sebagai basis munculnya
watak kreatif innovative dan berani mengambil resiko.
Mentalitas Wiraswasta : Sebagai Tantangan
Demam wirausaha di dunia perguruan tinggi sebenarnya berasal dari keinginan Indonesia
meniru silicon valley-nya Amerika Serikat. Seorang tokoh bernama Iskandar Alisjahbana
menjadi peletak ide ini. Pada 10 Mei 1963, seorang mahasiswa berbicara di depan ratusan
mahasiswa lainnya. Dalam orasinya, ia menyinggung soal mahasiswa Cina di kampus
tempatnya belajar. Kata-kata yang diucapkannya menyinggung kelebihan mahasiswa
Cina.

Yang dibicarakannya bukan ajakan untuk meniru prestasi mahasiswa Cina. Sang
mahasiswa tersebut malah menyulut kebencian pribumi dan non-pribumi. "Bakar motor-
motor mereka," kata orator bernama Siswono. Kejadian ini terjadi di Institut Teknologi
Bandung. Untung kejadian itu tidak berlangsung lama. Seorang dosen datang dan
menempeleng balik mahasiswa yang berkoar tersebut. Lalu ia berkata, "Sis, menampar
orang secara fisik di kampus, itu haram hukumnya. Di kampus orang harus menampar
dengan otak, berdebat!"

Sang dosen, Iskandar Alisjahbana lantas membawa mahasiswanya itu ke tempat lain dan
diajak berbicara. Tentu saja, Iskandar tidak ingin ITB yang disebut menyulut konflik
rasial di Indonesia sehingga ia perlu mengamankan mahasiswanya tersebut. "Sis lalu
membuat buku dan meminta maaf pada seluruh sivitas akademika. Itu dua bulan setelah
kejadian itu," kata Iskandar pada suata sesi wawancara dengan Kampus dan budayawan
Hawe Setiawan, 15 November 2008.
Kenapa mahasiswa bisa bertingkah rasis seperti itu? Iskandar mengatakan mahasiswa-
mahasiswa ITB yang berdarah pribumi cemburu dengan prestasi non-pribumi. Cemburu
berawal dari sedikitnya mahasiswa pribumi naik kelas ketimbang non-pribumi. "Pada
zaman saya masih mahasiswa, hanya ada dua pribumi yang lulus ujian lisan. Sampai
zaman saya jadi dosen pun kejadiannya tidak beda jauh," ujarnya terkekeh.

Kelemahan akademis seperti itu tidak dibiarkan lama oleh Iskandar. Ia menilai
mahasiswa pribumi tidak 'bodoh' apa yang dibicarakan oleh kolonial sebagai inlander
pemalas. Ia mengatakan, adanya sikap rendah diri karena perlakukan koloniallah yang
membuat banyak generasi muda saat itu seperti lemah. Ditambah lagi karut-marut
politik membuat runyam perhatian ke dunia pendidikan.
Iskandar melepaskan beban politik pada dunia pendidikan dan mengalihkan perbaikan
mutu mahasiswa pada program-program seperti need of achievement (NAch) training.
Pelatihan ini bertujuan mendongkrak motivasi dan kreativitas mahasiswa di zaman itu.
Maksudnya, agar mahasiswa Indonesia bisa mandiri dan tidak melulu disebut malas.
"Ada orang yang need of achievement-nya tinggi. Ada juga orang yang punya need of
affiliation yang tinggi, dan ada orang yang need of power-nya tinggi. Setiap manusia
punya tiga need ini. Indonesia adalah masyarakat gotong royong. Saya datangkan seorang
dosen dari Amerika," jelasnya.

Pelatihan Need of Achievement sebenarnya landasan dari pelatihan wirausahawan.


Iskandar membawa wacana ini pertama kali ke ITB dimana saat itu perguruan tinggi
hanya menghasilkan mahasiswa berkemampuan teknis dan calon pekerja belaka.
Di berbagai perguruan tinggi pelatihan, training, dan beasiswa menjadi wirausahawan
dibuka. Misal, Institut Pertanian Bogor (IPB). Mengutip situs lembaga tersebut, sekitar
2.000 mahasiswa IPB mendaftar pada program pengembangan kewirausahawan pada
Maret 2009. Konon, dana permodalan yang tersedia Rp 1,4 miliar.

Sama halnya dengan IPB, pihak kemahasiswaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Bandung pun membagikan dana kewirausahaan kepada mahasiswanya. Sebanyak Rp 1
miliar akan diberikan kepada 108 mahasiswa. Besaran dana itu berasal dari bantuan
Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Selain kampus yang
membuka lebar-lebar pintu bagi mahasiswa yang ingin mengubah nasib melalui pelatihan
wirausaha, banyak pula komunitas ekstrakampus yang membuka layanan pelatihan
seperti ini. Meski pandangan wirausaha dalam pendidikan kadang
dicibir sebagai praktik pragmatisme pendidikan, tapi di sisi lain ilmu wirausaha dianggap
jalan keluar dari "musibah" menumpuknya pengangguran intelek di negeri ini.

Banyaknya pelatihan seperti ini tentu bukan fenomena tanpa sebab. Terbersit nama
seorang tokoh pendidikan dan disebut tokoh pendobrak menara gading perguruan tinggi,
Iskandar Alisjahbana sebagai pelopor gerakan wirausaha di dalam perguruan tinggi di
Indonesia. Tokoh yang meninggal dunia pada 16 Desember 2008 itu meninggalkan
wacana berharga bagi dunia pendidikan Indonesia. Pada periode Iskandar menjadi Rektor
ITB (1976-1978), Iskandar membangun inkubator bisnis di ITB. Ia datangkan pula ahli
wirausaha dari Amerika Serikat, membuat kerjasama dengan dengan universitas luar
negeri dan menyinergikan akademik teknis dengan ilmu perusahaan. Iskandar berhenti
dengan aktivitasnya sebagai rektor setelah rumahnya diberondong peluru tentara kala ITB
diduduki tentara 1979.

Meski kini Iskandar telah tiada, tapi catatan sejarah dan pemikirannya bergeming di ITB.
Karena Pak Is, begitu ia akrab dipanggil, tidak ada lagi pertarungan rasial karena
cemburu nilai. Siswono Yudohusodo sudah menjadi pejabat di negeri ini dan pengusaha
pula. Anak didiknya yang lain seperti Arifin Panigoro pun sudah menjadi pembesar
Grup Medco. Yang ada saat ini adalah ITB dan berbagai perguruan tinggi berlomba-
lomba mencetak sarjana yang wirausahawan dan menyambungkan perguruan tinggi
dengan industri. Cita-cita menjadikan Indonesia seperti silicon valley
Dalam kewiraswastaan ter-internalize semangat kerjasama, kerja keras dan penghargaan
akan waktu. Dengan demikian pengimplementasiaan kewiraswastaan terhadap
pendidikan nasional baik menengah dan tinggi dengan secara serius dan melibatkan dunia
usaha secara sungguh-sungguh akan mendorong lahirnya generasi penerus yang berwatak
kerja keras, memiliki toleransi dan mandiri. Selama Orde Baru, para pelaku dunia usaha
muda umumnya karena memiliki kedekatan dengan birokrat, aparat dan karena dari
keluarga bisnis. Memang ada satu dua yang berhasil dengan kerja keras dan keuletan
tetapi dari segi persentase, jumlahnya relatif kecil. Jadi pengembangan kewiraswastaan
ini dengan sungguh-sungguh akan berdampak ganda, yakni dapat menjadi salah satu
solusi dalam masalah mismatch dan juga mempersiapkan dan membangun mentalitas dan
watak generasi penerus sehingga mampu menjawab tantangan masanya.
Banyak kebijakan dan program strategis yang dapat dikembangkan oleh kementerian
pendidikan untuk mampu menjawab tantangan yang berkembang sekarang. Sayangnya
semua seolah terlena dengan persoalan politik. Ketika individu-individu yang terlibat
dalam politik tidak memiliki idealisme, akhirnya memang kreativitas mereka akan
menjadi subordinate dari situasi yang berkembang. Mereka menjadi cenderung pasif dan
tidak kreatif.
Kepustakaan
Alif Lukmanul Hakim, Merenungkan Kembali Pancasila Indonesia, Bangsa Tanpa
Ideologi , Newsletter KOMMPAK Edisi I 2007.
http://aliflukmanulhakim.blogspot.com
Abdurrohim, Pendidikan Sebagai Upaya Rekonstruksi Sosial, posted by Almuttaqin at
11:41 PM , http://almuttaqin-uinbi2b.blogspot.com/2008/04/
Abdurrohim, Pendidikan Sebagai Upaya Rekonstruksi Sosial, posted by Almuttaqin at
11:41 PM , http://almuttaqin-uinbi2b.blogspot.com/2008/04/
Adnan Khan(2008), Memahami Keseimbangan Kekuatan Adidaya , By hati-itb
September 26, 2008 , http://adnan-globalisues.blogspot.com/
Al-Ahwani, Ahmad Fuad 1995: Filsafat Islam, (cetakan 7), Jakarta, Pustaka Firdaus
(terjemahan Pustaka Firdaus).
Ary Ginanjar Agustian, 2003: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan
Spiritual ESQ, Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (edisi XIII),
Jakarta, Penerbit Arga Wijaya Persada.
_________2003: ESQ Power Sebuah Inner Journey Melalui Al Ihsan, (Jilid II), Jakarta,
Penerbit ArgaWijaya Persada.
A. Sonny Keraf, Pragmatisme menurut William James, Kanisius, Yogyakarta, 1987
R.C. Salomon dan K.M. Higgins, Sejarah Filsafat, Bentang Budaya, yogyakarta, 2003
Avey, Albert E. 1961: Handbook in the History of Philosophy, New York, Barnas &
Noble, Inc.
Awaludin Marwan, Menggali Pancasila dari Dalam Kalbu Kita, Senin, Juni 01, 2009
Bernstein, The Encyclopedia of Philosophy
Bagus Takwin. 2003. Filsafat Timur; Sebuah Pengantar ke Pemikiran Timur. Jalasutra.
Yogjakarta. Hal. 28
Budiman, Hikmat , Lubang Hitam Kebudayaan , Kanisius, Yogyakarta : 2002
Chie Nakane. 1986. Criteria of Group Formation. Di jurnal berjudul. Japanese Culture
and Behavior. Editor Takie Sugiyama Lembra& William P Lebra.
University of Hawaii. Hawai. p. 173
Center for Civic Education (CCE) 1994: Civitas National Standards For Civics and
Government, Calabasas, California, U.S Departement of Education.
Dawson, Raymond, 1981, Confucius , Oxford University Press, Oxford Toronto,
Melbourne
D. Budiarto, Metode Instrumentalisme – Eksperimentalisme John Dewey, dalam Skripsi,
Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta, 1982
Edward Wilson. 1998. Consilience : The Unity of Knowledge. NY Alfred. A Knof.
Fakih, Mansour, Dr, Runtuhnya Teori Pembangunan Dan Globalisasi . Pustaka Pelajar.
Yogyakarta : 1997
Fritjof Capra. 1982. The Turning of Point; Science, Society and The Rising Culture.
HaperCollins Publiser. London.
Hadiwijono, H, Dr, Sari Sejarah Filsafat 2, Kanisius, Yogyakarta, 1980
Kartohadiprodjo, Soediman, 1983: Beberapa Pikiran Sekitar Pancasila, cetakan ke-4,
Bandung, Penerbit Alumni.
Kelsen, Hans 1973: General Theory of Law and State, New York, Russell & Russell
Lasiyo, 1982/1983, Confucius , Penerbit Proyek PPPT, UGM Yogyakarta
--------, 1998, Sumbangan Filsafat Cina Bagi Peningkatan Kualitas Sumber Daya
Manusia , Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada Faklutas Filsafat
UGM, Yogyakarta
--------, 1998, Sumbangan Konfusianisme Dalam Menghadapi Era Globalisasi , Pidato
Dies Natalis Ke-31 Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.
McCoubrey & Nigel D White 1996: Textbook on Jurisprudence (second edition),
Glasgow, Bell & Bain Ltd.
Mohammad Noor Syam 2007: Penjabaran Fislafat Pancasila dalam Filsafat Hukum
(sebagai Landasan Pembinaan Sistem Hukum Nasional), disertasi edisi III,
Malang, Laboratorium Pancasila.
---------2000: Pancasila Dasar Negara Republik Indonesia (Wawasan Sosio-Kultural,
Filosofis dan Konstitusional), edisi II, Malang Laboratorium Pancasila.
Murphy, Jeffrie G & Jules L. Coleman 1990: Philosophy of Law An Introduction to
Jurisprudence, San Francisco, Westview Press.
mcklar(2008), Aliran-aliran Pendidikan, http://one.indoskripsi.com/node/ Posted July
11th, 2008
Nawiasky, Hans 1948: Allgemeine Rechtslehre als System der rechtlichen Grundbegriffe,
Zurich/Koln Verlagsanstalt Benziger & Co. AC.
Notonagoro, 1984: Pancasila Dasar Filsafat Negara, Jakarta, PT Bina Aksara, cet ke-6.
Radhakrishnan, Sarpavalli, et. al 1953: History of Philosophy Eastern and Western,
London, George Allen and Unwind Ltd.
Roland Roberton. 1992. Globalization Social Theory and Global Culture. Sage
Publications. London. P. 85-87
Sudionokps(2008)Landasan-landasan Pendidikan, http://sudionokps.wordpress.com
Titus, Smith, Nolan, Persoalan-Persoalan Filsafat, Bulan Bintang, Jakarta : 1984
UNO 1988: Human Rights, Universal Declaration of Human Rights, New York, UNO
UUD 1945, UUD 1945 Amandemen, Tap MPRS – MPR RI dan UU yang berlaku. (1966;
2001, 2003)
Widiyastini, 2004, Filsafat Manusia Menurut Confucius dan Al Ghazali, Penerbit
Paradigma, Yogyakarta
Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New
York, Harvard College, University Press.
Ya'qub, Hamzah, 1978, Etika Islam , CV. Publicita, Jakarta
Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New
York, Harvard College, University Press.
Andersen, R. dan Cusher, K. (1994). Multicultural and intercultural studies, dalam
Teaching Studies of Society and Environment (ed. Marsh,C.). Sydney:
Prentice-Hall

Banks, J. (1993). Multicultural education: historical development, dimensions, and


practice. Review of Research in Education, 19: 3-49.

Boyd, J. (1989). Equality Issues in Primary Schools. London: Paul Chapman Publishing,
Ltd.
Burnett, G. (1994). Varieties of multicultural education: an introduction. Eric
Clearinghouse on Urban Education, Digest, 98.

Bogdan & Biklen (1982) Qualitative Research For Education. Boston MA: Allyn Bacon
Campbell & Stanley (1963) Experimental & Quasi-Experimental Design for Research.
Chicago Rand McNelly
Carter, R.T. dan Goodwin, A.L. (1994). Racial identity and education. Review of
Research in Education, 20:291-336.

Cooper, H. dan Dorr, N. (1995). Race comparisons on need for achievement: a meta
analytic alternative to Graham's Narrative Review. Review of Educational
Research, 65, 4:483-508.

Darling-Hammond, L. (1996). The right to learn and the advancement of teaching:


research, policy, and practice for democratic education. Educational
Researcher, 25, 6:5-Dewantara,
Deese, J (1978) The Scientific Basis of the Art of Teaching. New York : Colombia
University-Teachers College Press
Eggleston, J.T. (1977). The Sociology of the School Curriculum, London: Routledge &
Kegan Paul.

Garcia, E.E. (1993). Language, culture, and education. Review of Research in Education,
19:51 -98.

Gordon, Thomas (1974) Teacher Effectiveness Training. NY: Peter h. Wydenpub


Hasan, S.H. (1996). Local Content Curriculum for SMP. Paper presented at UNESCO
Seminar on Decentralization. Unpublished.

Hasan, S.H. (1996). Multicultural Issues and Human Resources Development. Paper
presented at International Conference on Issues in Education of Pluralistic
Societies and Responses to the Global Challenges Towards the Year 2020.
Unpublished.

Henderson, SVP (1954) Introduction to Philosophy of Education.Chicago : Univ. of


Chicago Press
Hidayat Syarief (1997) Tantangan PGRI dalam Pendidikan Nasional. Makalah pada
Semiloka Nasional Unicef-PGRI. Jakarta: Maret,1997
Highet, G (l954), Seni Mendidik (terjemahan Jilid I dan II), PT.Pembangunan
Ki Hajar (1936). Dasar-dasar pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian
Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Kemeny,JG, (l959), A Philosopher Looks at Science, New Hersey, NJ: Yale Univ.Press
Ki Hajar Dewantara, (l950), Dasar-dasar Perguruan Taman Siswa, DIY:Majelis Luhur
Ki Suratman, (l982), Sistem Among Sebagai Sarana Pendidikam Moral Pancasila,
Jakarta:Depdikbud

Ki Hajar, Dewantara (1945). Pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian


Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Ki Hajar, Dewantara (1946). Dasar-dasar pembaharuan pengajaran, dalam Karya Ki


Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur
Persatuan Taman Siswa.
Kuhn, Ts, (l969), The Structure of Scientific Revolution, Chicago:Chicago Univ.

Langeveld, MJ, (l955), Pedagogik Teoritis Sistematis (terjemahan), Bandung, Jemmars

Liem Tjong Tiat, (l968), Fisafat Pendidikan dan Pedagogik, Bandung, Jurusan FSP FIP
IKIP Bandung
Oliver, J.P. dan Howley, C. (1992). Charting new maps: multicultural education in rural
schools. ERIC Clearinghouse on Rural Education and Small School. ERIC
Digest. ED 348196.

Print, M. (1993). Curriculum Development and Design. St. Leonard: Allen & Unwin Pty,
Ltd.
Raka JoniT.(l977),PermbaharauanProfesionalTenagaKependidikan:Permasalahan dan
Kemungkinan Pendekatan, Jakarta, Depdikbud

Twenticth-century thinkers: Studies in the work of Seventeen Modern philosopher, edited


by with an introduction byJohn K ryan, alba House, State Island, N.Y, 1964
http://stishidayatullah.ac.id/index2.php?option=com_content
http://macharos.page.tl/Pragmatisme Pendidikan.htm
http://www.blogger.com/feeds/7040692424359669162/posts/default
http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html
http://stishidayatullah.ac.id/index2.php
http://macharos.page.tl/Pragmatisme Pendidikan, .htm
http://www.blogger.com/feeds/7040692424359669162/posts/default
http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html
Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan Modern, http://panjiaromdaniuinpai2e.blogspot.com
Koran Tempo, 12 November 2005 , Revolusi Sebatang Jerami.
http://www.8tanda.com/4pilar.htm di down load pada tanggal 2 Desember 2005
http://filsafatkita.f2g.net/sej2.htm di down load pada tanggal 2 Desember 2005
http://spc.upm.edu.my/webkursus/FAL2006/notakuliah/nota.cgi?kuliah7.htm l di down
load pada tanggal 16 November 2005
http://indonesia.siutao.com/tetesan/gender_dalam_siu_tao.php di down load pada tanggal
16 November 2005
http://storypalace.ourfamily.com/i98906.html di down load pada tanggal 16 November
2005
http://www.ditext.com/runes/y.html di down load pada tanggal 2 Desember 2005