P. 1
Ideologi

Ideologi

|Views: 362|Likes:
Dipublikasikan oleh ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Sep 14, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2010

pdf

text

original

Ideologi : Membersihkan Prasangka Metafisika dan Agama Oleh Rum Rosyid Sejak pertama kali dilaunching oleh Destutt

de Tracy di masa kekuasaan Napoleon Bonaparte (akhir abad ke-18) istilah ini muncul, Ideologi. Bagi de Tracy waktu itu, ideologi adalah ilmu pengetahuan (baru) tentang ide-ide yang membersihkan prasangkaprasangka metafisika dan agama. Dengan ideologi-nya, ia berusaha menemukan ”kebenaran” di luar otoritas yang selama ini selalu dimiliki dan dikuasai oleh agamawan atas nama institusi agama. Ideologi (inggris); berasal dari bahasa Yunani ide (idea/gagasan) dan logos (studi tentang, ilmu pengetahuan tentang). Secara harfiah, sebagaimana dalam metafisika klasik, ideologi merupakan ilmu pengetahuan tentang ideide, studi tentang asal-usul ide. Dalam pengertian modern, ideologi mempunyai arti negatif sebagai teoretisasi atau spekulasi dogmatik dan khayalan kosong yang tidak betul atau tidak realistis; atau bahkan palsu dan menyembunyikan realitas yang sesungguhnya. Dalam pengertian yang lebih netral, ideologi adalah setiap sistem gagasan yang mempelajari keyakinan-keyakinan dan hal-hal ideal filosofis, ekonomis, politis, sosial. Pertarungan antar Ideologi Keyakinan-keyakinan yang ideal dalam masyarakat dunia, sampai saat ini tidak membawa hasil yang memuaskan. Ideology, yang awalnya, diharapkan membawa secercah pembebasan dan jalan keselamatan, ternyata malah membawa kita menuju jurang persengketaan yang memakan begitu banyak korban. Revolusi Perancis, civil war di Amerika, Holocaust oleh Nazi Jerman, rezim Stalin di Rusia, rezim Pol Pot di Kamboja, tragedi G 30/S/PKI di Indonesia, dan seterusnya adalah selintas hamparan bukti-bukti yang menggiring pemahaman masyarakat bahwa ideologi adalah kancah pembantaian antar manusia atas nama idealisme dan gagasan yang agung. Ideologi sebagai bagian dari peradaban manusia memang menampilkan wajah ganda. Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla meminta para penegak hukum untuk saling bekerja sama dalam menyelesaikan masalah keamanan. Ia mengatakan, kerja sama ini penting misalnya dalam menghadapi terorisme. "Perang fisik dan perang ideologi," kata Kalla pada pembukaan rapat koordinasi para penegak hukum di Mabes Polri, Selasa (22/11/05). Kalla mengatakan, perang fisik yang dimaksud adalah penanganan kasus terorisme oleh polisi di lapangan, misalnya mencari bom hingga menangkap para pelakunya. Sedangkan perang ideologi, dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman yang benar mengenai agama, misalnya konteks jihad. "Ini dapat dilakukan oleh kiai, ustad, dan ulama,". Kalla menegaskan, para ulama telah menyatakan tindakan terorisme dan 'jihad' yang dilakukan para pelaku teror bertentangan dengan ajaran agama. Jika langkah pendekatan ideologi ini berhasil, ia berpendapat, beban polisi di lapangan akan semakin ringan. Untuk itu ia meminta para penegak hukum untuk tidak segan melibatkan pemuka agama dalam menegakkan hukum. Ia melanjutkan, langkah para penegak hukum harus seirama dalam menangani masalah keamanan. Jika saling menjegal dan saling melindungi penjahat, penegakan hukum akan lumpuh. Sejarah kelam (dalam arti yang sesungguhnya) tersebut semoga saja kini telah menyadarkan (sebagian besar) umat manusia untuk menggali kembali pentingnya nalar humanis yang “melampaui” atau “mentransendensi” pemahaman-pemahaman eksklusif

serta “klaim-klaim kebenaran” (truth claim) ideologi yang ada Hingga kini, ideologi, dianggap sebagai sebuah kesadaran palsu (false consciousnes). Ini seperti yang pernah dikatakan Karl Marx, kaum elit mendominasi pandangan awam tentang dunia yang kemudian menghasilkan kesadaran palsu. Tetapi menariknya ia juga seperti candu. Beberapa kali kita menyaksikan ideologi dipuja bagai sebuah agama sehingga penganutnya sanggup berjuang hingga meregang nyawa. Samuel Huntington pernah memprediksi bahwa setelah hancurnya Sosialis Komunis dengan ditandai hancurnya negara Soviet maka musuh satu-satunya yang berbahaya bagi Kapitalisme adalah Islam Ideologis.Sejak itu pula kebijkan Amerika sangat agresif memberangus gerakan-gerakan Islam dengan tuduhan Teroris dan Fundamentalis. Untuk meredam gerakan Islam ini, Negara-negar Kapitalisme pun telah menyiapkan anak-anak didikannya yang berasal dari negeri Islam dengan memberikan bantuan pendidikan dan uang demi menangkal Islam. Maka, tidak bisa ditolak perang ideologi pun terjadi antara ideologi Islam dan ideologi sekuler kapitalis yang sekarang dikenal dengan kelompok liberalis.Perang ini pasti akan berlangsung sampai kapan pun selama ada pengemban ideologi tersebut. Rois Syuriah PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) menyatakan Jepang saat ini sedang prihatin atas perang ideologi antara Presiden Amerika Serikat, George W Bush, dengan pemimpin jaringan Al-Qaeda, Osama bin Laden, karena keduanya ekstrim. Jepang sekarang mencari ideologi alternatif yang berada selalu di tengah-tengah dan mereka menemukan pada Islam tradisional. keunggulan Islam tradisional yang ada di kalangan pesantren dan NU antara lain mereka lebih menekankan pada pendidikan (moral) dan bukan pengajaran. Oleh karena itu, katanya, para kiai saat ini hendaknya memfokuskan diri pada aspek pendidikan. "Pendidikan itu sendiri bukan sekedar memberi nasehat atau memberi teladan, tapi juga mendoakan," katanya. Menurut dia, para kiai di masa lalu tidak hanya mengajar kitab/buku, tapi mereka juga mendoakan para santri saat sholat tahajud di tengah malam. Bahkan, katanya, ada kiai yang menjalin ikatan batin hingga santri sudah tamat dari pesantren dengan bersilaturrahmi kepada santri jika kebetulan menghadiri pengajian di luar kota. "Islam tradisional yang sederhana, menekankan pada aspek pendidikan atau moralitas, dan mengutamakan kemandirian serta sikap-sikap yang bijak merupakan ideologi alternatif yang diharapkan Jepang akan dapat menengahi perang ideologi yang sama-sama ekstrim. “Saya lebih takut pada media massa dibanding senjata” Demikian ungkap Napoleon Bonaparte ratusan tahun yang lalu. Memang, sejak dulu media masa memiliki peran penting dalam peta percaturan politik dunia, sehingga pengaruhnya melebihi kemampuan pedang dalam membunuh. Media massa telah menjelma menjadi alat propaganda paling efektif. Media massa mampu menjadi lokomotif perubahan masyarakat. Terlebih saat ini, dengan kemajuan teknologi, jaringan-jaringan pemberitaan dunia mengalami perkembangan sangat pesat. Masyarakat dari berbagai penjuru bumi dapat dengan mudah dipengaruhi arah opini yang di-blow-up media massa dengan sangat cepat. Eksistensi ideologi kapitalisme-sekular saat ini, tak lepas dari keberhasilan para kapitalis dalam menggenggam media massa. Ya, para pemilik modal itulah aktor utama di balik

berbagai propaganda pro-sekularisme. Tak ayal jika demokrasi, hak asasi manusia, seks bebas, gaya hidup hedonis dan berbagai budaya Barat dengan mudah merasuk ke berbagai penjuru dunia. Semua itu disokong penuh oleh media massa. Iqbal Shadiqi, pemimpin redaksi majalah terbitan Inggris, Cressent International, mengatakan, “Mediamedia AS sangat bergantung kepada para investor dan orang-orang Zionis. Kedua kelompok inilah yang mengontrol pemerintah dan media AS.” Saat ini mayoritas media massa internasional dikuasai oleh jaringan Zionis. Sejak awal terbentuknya Gerakan Zionisme Internasional, para aktivis gerakan ini telah memanfaatkan media massa untuk mempropagandakan pemikiran mereka kepada dunia. Dalam Protokol ke-12 Gerakan Zionisme, disebutkan, “Media massa dunia harus berada di bawah pengaruh kita.” Theodore Hertzl, peletak dasar Gerakan Zionisme Internasional dalam konferensi di Swiss tahun 1897 mengatakan, “Kita akan berhasil mendirikan pemerintah Israel dengan memanfaatkan dan menguasai fasilitas propaganda dunia dan media massa dunia.” Hertzl adalah wartawan internasional yang dengan pengalamannya berkecimpung di dunia jurnalistik tahu persis bagaimana melakukan lobi-lobi terhadap media massa. Hasilnya, kantor berita ternama seperti AFP, AP, dan Reuters, berada di bawah kontrol mereka. Dari sinilah perang ideologi di media massa dimulai. Zionisme merancang berita-berita dan opini yang menampilkan citra bahwa mereka adalah gerakan legal dan lahir dari ketertindasan. Diciptakanlah opini bahwa penjajahan Isreal terhadap Palestina adalah sah. Sebaliknya, diluncurkan opini dan berita yang kerap menyerang ideologi Islam. Labellabel negatif dilekatkan pada komunitas Muslim, seperti fanatik, fundamentalis, radikal, teroris, dll. Para pejuang Palestina diposisikan sebagai teroris. Setiap kejadian terorisme, tanpa menunggu penyelidikan terlebih dahulu, akan langsung diliput media massa dengan tendensi anti-Islam. Dalam atmosfer propaganda dunia yang teracuni oleh media-media pro-Zionis, opini dunia menjadi terarahkan pada satu topik: stigmatisasi buruk terhadap Islam. Kasus paling gres adalah dimuatnya kembali kartun yang menghinakan Nabi Muhammad saw di 11 media massa dan televisi nasional di Denmark, serta tiga harian di Eropa, yakni Swedia, Belanda dan Spanyol. Tindakan tersebut merupakan kesengajaan sebagai sinyal perang terhadap Islam. Betapa tidak, Nabi Muhammad sebagai pengusung ideologi Islam digambarkan sebagai lelaki bersorban yang menyembunyikan bom di baliknya. Islam digambarkan sebagai agama yang penuh kekerasan dan darah. Sayang, umat Islam seolah tak berdaya menghadapi penistaan ini. Para penguasa di negeri-negeri Muslim diam seribu bahasa. Media massa kini menjadi medan baru perang antar ideologi. Peperangan dimulai dari game, film, buku, surat kabar, majalah, dan bahkan internet. Keberadaan internet sebagai medan perang baru, dalam kaitannya dengan jihad, turut menggelisahkan dunia Barat. Raymond Kelly, seorang Komisi Polisi New York, mengungkapkan pada Reuters (15/08/07) bahwa internet merupakan “Afghanistan Baru”. Disejajarkannya internet dengan perang di Afghanistan menunjukkan betapa dahsyatnya pengaruh internet secara khusus dan media massa secara umum dalam perang ideologi global dewasa ini. Dalam bukunya Terror on the Internet, The New Arena, The New Challenges, Gabriel Weimann,

profesor komunikasi Universitas Haifa Israel, juga bertutur bahwa saat ini teroris tidak hanya berperang di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Peter Berger, penulis buku Holy War, menyebutkan bahwa al-Qaeda telah memanfaatkan teknologi Barat untuk menyerang Barat sendiri. Usamah bin Ladin dan pengikutnya merupakan orang-orang cerdas dan sangat mahir menggunakan teknologi yang berkaitan dengan pembuatan video dan penyebarannya ke seluruh dunia melalui internet. Ratusan video tentang jihad dirilis dan disebarkan. Selain diproduksi dan didistribusikan dengan cepat, ‘kado’ tersebut bisa langsung sampai ke sasaran. The Jihad Media Battalion, misalnya, mengirimkan sebuah video pada pemerintahan AS dengan judul They Are Coming sebagai peringatan akan adanya operasi jihad masa datang. Video yang dibuka dengan agitasi Osama bin Ladin dan Abu Hager al-Muqrin ini berisi latihan tempur para mujahidin di berbagai belahan dunia. Kehebatan cyber muslim dalam menyerang sebuah situs sudah terbukti. Situs Global War memberitakan bahwa beberapa hacker muslim berhasil menyerang sekitar 750 situs internet Israel sebagai protes melawan operasi militer Israel di Gaza. Surat Kabar Jerusalem Post mengatakan bahwa serangan dilakukan oleh kelompok hacking yang bernama Tim Setan, dan berbasis di Maroko. Kelompok tersebut dinyatakan juga bertanggung jawab terhadap serangan kepada situs pemerintah AS di tahun 2004. Kalangan cyber muslim telah memperkenalkan sosok-sosok lagendaris, seperti Irhaby 007 (Younis Tsouli, 22 tahun, London). Aksinya yang paling dikenal adalah mempropagandakan video-video dari Abu Musab al-Zarqawi pada awal perang Irak dan mengirimnya ke hampir seluruh situs dan forum jihad on-line. Irhaby 007 juga membuat sebuah buku panduan bagi hacker pemula untuk menyerang ke situs-situs yang dianggap memusuhi Islam. Petualangan penguasa ilmu hacking, programming, serangan executing on-line dan disain media ini terhenti setelah dia ditangkap kepolisian Scotland Yard. Intinya, segala sarana yang terkategori media massa, menjadi senjata paling efektif melancarkan serangan. Tentu saja, yang dibidik bukan melukai fisik, tapi mengoyak iman dan akidah. Itu target utamanya. Microsoft Ensemble Studios pernah meluncurkan game yang menggambarkan perang peradaban lewat trilogi Age of Empire. Sejarah peradaban manusia di jaman Messopotamia, Babilonia, sampe jamannya Shalahuddin al-Ayubi yang melakukan penaklukan Yerusalem, Joan of Arc yang biasa dipanggil Maid of Orleans dan lainnya dengan detil bibliografi yang lengkap. Peradaban yang bisa dimainkan di sini adalah kapitalisme, sosialisme, dan mungkin Islam diwakili Turki, meski tak nyata pemerintahan Islam. Simulasi dalam game ini seperti menjalin kerjasama perdagangan dengan negara lain, hubungan diplomatik, pencapaian teknologi, sampai ekspansi besarbesaran dengan mengerahkan kekuatan militer untuk menjajah negara lain. Selain game, bertebaran pula buku-buku, majalah, zine, dan bahkan tulisan di internet yang nyata-nyata sebagai bentuk benturan peradaban. Islam selalu dihadapkan dengan Kapitalisme dan Sosialisme. Bahkan saat ini, pertarungan Islam dengan KapitalismeSekularisme sedang panas-panasnya. Internet bahkan menjadi medan perang ideologi paling efektif untuk membidik kaum intelektual. Sudah banyak website yang menyerang Islam, meskipun berlabel Islam. Kita harus waspada. Perang ideologi pun bisa kita

jumpai lewat film. Islam, Kapitalisme, dan Sosialisme juga getol mempropagandakan ideologinya lewat film. Di film Die Hard 4.0 yang dibintangi Bruce Willis bahkan ada dialog yang secara implisit menyebut kaum muslimin sebagai teroris. Film “True Lies” (1994), menggambarkan seorang teroris berkebangsaan Arab yang membawa senjata nuklir. Film yang dibintangi aktor kekar Arnold Schwarzenegger sedang memerangi teroris Crimpson Jihad. Islam juga tak tinggal diam. Film ar-Risalah alias The Message yang dibesut oleh sutradara Moustapha Akkad pada tahun 1976 telah menjadi film yang sangat bagus dan cukup detil dalam menyampaikan pesan Islam kepada seluruh dunia. Bahkan konon kabarnya di Jepang ketika film in diputar di bioskop-bioskop di sana, banyak orang Jepang yang masuk Islam. Moustapha Akkad pernah mengatakan, “Film-film sejarah memiliki daya kreativitas yang sangat tinggi. Film-film modern hanya memiliki kelebihan di bidang dialog dan teknik pembuatannya, akan tetapi ia tidak memiliki kreativitas tersebut. Kita umat muslimin memiliki masa lalu yang indah, yang sangat berguna untuk kita jadikan sebagai pelajaran bagi masa depan kita. Kekhawatiran besar saya ialah terhadap jebakan-jebakan yang dipasang oleh musuh-musuh kita. Jebakanjebakan ini mereka tebarkan melalui propaganda lewat media-media massa mereka. Menurutku media massa dapat dijadikan sebagai senjata yang jauh lebih mematikan daripada bom dan tank. Hegemoni pers Barat terhadap arus informasi dunia sangat berperan memicu serangan balik ini. Barat telah memarginalkan media muslim, terutama informasi terkait dengan jihad. Umat Islam hanya mendapat informasi dunia dari media Barat melalui Reuters, AFP, CNN, BBC, ABC dan sebagainya yang tentunya tidak steril dari kepentingan. Barat berhasil mengontrol informasi dunia serta menghujamkan nilai dan ideologinya dengan memproduksi sekitar 6 juta kata per hari, sementara Timur (Islam) hanya 500 ribu. Ketimpangan informasi dan geliat jihad global yang mulai bangkit akhirnya mendorong umat Islam membuat media massa tandingan. Hal ini juga didorong oleh keyakinan bahwa menulis dan menyebarkan informasi yang dapat memotivasi jihad merupakan bagian dari jihad dengan lisan. Dari sinilah lahirnya puluhan bahkan ribuan situs Islam, milis, forum, video-video jihad yang dikelola oleh kaum Muslim, seperti al-Jazera, alIkhlas, al-Firdaus, Sawtul Islam, Kavkaz Center dan lainnya yang berskala internasional. Terjadinya Pengetahuan Vauger menyatakan bahwa titik tolak penyelidikan epistemologi adalah situasi kita, yaitu kejadian. Kita sadar bahwa kita mempunyai pengetahuan lalu kita berusaha untuk memahami, menghayati dan pada saatnya kita harus memberikan pengetahuan dengan menerangkan dan mempertanggung jawabkan apakah pengetahuan kita benar dalam arti mempunyai isi dan arti. Bertumpu pada situasi kita sendiri itulah sedikitnya kita dapat memperhatikan perbuatan-perbuatan mengetahui yang menyebabkan pengetahuan itu. Berdasar pada penghayatan dan pemahaman kita dan situasi kita itulah, kita berusaha untuk mengungkapkan perbuatan-perbuatan mengenal sehingga terjadi pengetahuan. Akal sehat dan cara mencoba-coba mempunyai peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagi gejala alam. Ilmu dan filsafat dimulai

dengan akal sehat sebab tidak mempunyai landasan lain untuk berpijak. Tiap peradaban betapapun primitifnya mempunyai kumpulan pengetahuan yang berupa akal sehat. Randall dan Buchlar mendefinisikan akal sehat sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan. Sedangkan karakteristik akal sehat, menurut Titus, adalah (1). Karena landasannya yang berakar pada adat dan tradisi maka akal sehat cenderung untuk bersifat kebiasaan dan pengulangan, (2). Karena landasannya yang berakar kurang kuat maka akal sehat cenderung untuk bersifat kabur dan samar, dan (3). Karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi yang tidak dikaji lebih lanjut maka akal sehat lebih merupakan pengetahuan yang tidak teruji. Perkembangan selanjutnya adalah tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Menurut Popper, tahapan ini adalah penting dalam sejarah berpikir manusia yang menyebabkan ditinggalkannya tradisi yang bersifat dogmatik yang hanya memperkenankan hidupnya satu doktrin dan digantikan dengan doktrin yang bersifat majemuk yang masing-masing mencoba menemukan kebenaran secara analisis yang bersifat kritis. Dengan demikian berkembanglah metode eksperimen yang merupakan jembatan antara penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode ini dikembangkan lebih lanjut oleh sarjana-sarjana Muslim pada abad keemasan Islam. Semangat untuk mencari kebenaran yang dimulai oleh para pemikir Yunani dihidupkan kembali dalam kebudayaan Islam. Dalam perjalanan sejarah, lewat orang-orang Muslimlah, dunia modern sekarang ini mendapatkan cahaya dan kekuatannya. Pengembangan metode eksperimen yang berasal dari Timur ini mempunyai pengaruh penting terhadap cara berpikir manusia, sebab dengan demikian berbagai penjelasan teoritis dapat diuji, apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. Dengan demikian berkembanglah metode ilmiah yang menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif. Metode Ilmiah Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Metode, menurut Senn, merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang memiliki langkah-langkah yang sistematis. Metodologi ilmiah merupakan pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. Jadi metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah. Proses kegiatan ilmiah, menurut Riychia Calder, dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Secara ontologis ilmu membatasi masalah yang diamati dan dikaji hanya pada masalah yang terdapat dalam ruang lingkup jangkauan pengetahuan manusia. Jadi ilmu tidak mempermasalahkan tentang hal-hal di luar jangkauan manusia. Karena yang dihadapinya adalah nyata maka ilmu mencari jawabannya pada dunia yang nyata pula. Einstein menegaskan bahwa ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta, apapun juga teori-teori yang menjembatani antara keduanya.

Teori yang dimaksud di sini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut, tetapi merupakan suatu abstraksi intelektual di mana pendekatan secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya, teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesusaian dengan obyek yang dijelaskannya. Suatu penjelasan biar bagaimanapun meyakinkannya, harus didukung oleh fakta empiris untuk dinyatakan benar. Di sinilah pendekatan rasional digabungkan dengan pendekatan empiris dalam langkahlangkah yang disebut metode ilmiah. Secara rasional, ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. Kepustakaan Alif Lukmanul Hakim, Merenungkan Kembali Pancasila Indonesia, Bangsa Tanpa Ideologi , Newsletter KOMMPAK Edisi I 2007. http://aliflukmanulhakim.blogspot.com Abdurrohim, Pendidikan Sebagai Upaya Rekonstruksi Sosial, posted by Almuttaqin at 11:41 PM , http://almuttaqin-uinbi2b.blogspot.com/2008/04/ Abdurrohim, Pendidikan Sebagai Upaya Rekonstruksi Sosial, posted by Almuttaqin at 11:41 PM , http://almuttaqin-uinbi2b.blogspot.com/2008/04/ Adnan Khan(2008), Memahami Keseimbangan Kekuatan Adidaya , By hati-itb September 26, 2008 , http://adnan-globalisues.blogspot.com/ Al-Ahwani, Ahmad Fuad 1995: Filsafat Islam, (cetakan 7), Jakarta, Pustaka Firdaus (terjemahan Pustaka Firdaus). Ary Ginanjar Agustian, 2003: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (edisi XIII), Jakarta, Penerbit Arga Wijaya Persada. _________2003: ESQ Power Sebuah Inner Journey Melalui Al Ihsan, (Jilid II), Jakarta, Penerbit ArgaWijaya Persada. A. Sonny Keraf, Pragmatisme menurut William James, Kanisius, Yogyakarta, 1987 R.C. Salomon dan K.M. Higgins, Sejarah Filsafat, Bentang Budaya, yogyakarta, 2003 Avey, Albert E. 1961: Handbook in the History of Philosophy, New York, Barnas & Noble, Inc. Awaludin Marwan, Menggali Pancasila dari Dalam Kalbu Kita, Senin, Juni 01, 2009 Bernstein, The Encyclopedia of Philosophy Bagus Takwin. 2003. Filsafat Timur; Sebuah Pengantar ke Pemikiran Timur. Jalasutra. Yogjakarta. Hal. 28 Budiman, Hikmat , Lubang Hitam Kebudayaan , Kanisius, Yogyakarta : 2002 Chie Nakane. 1986. Criteria of Group Formation. Di jurnal berjudul. Japanese Culture and Behavior. Editor Takie Sugiyama Lembra& William P Lebra. University of Hawaii. Hawai. p. 173 Center for Civic Education (CCE) 1994: Civitas National Standards For Civics and Government, Calabasas, California, U.S Departement of Education. Dawson, Raymond, 1981, Confucius , Oxford University Press, Oxford Toronto, Melbourne D. Budiarto, Metode Instrumentalisme – Eksperimentalisme John Dewey, dalam Skripsi, Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta, 1982

Edward Wilson. 1998. Consilience : The Unity of Knowledge. NY Alfred. A Knof. Fakih, Mansour, Dr, Runtuhnya Teori Pembangunan Dan Globalisasi . Pustaka Pelajar. Yogyakarta : 1997 Fritjof Capra. 1982. The Turning of Point; Science, Society and The Rising Culture. HaperCollins Publiser. London. Hadiwijono, H, Dr, Sari Sejarah Filsafat 2, Kanisius, Yogyakarta, 1980 Kartohadiprodjo, Soediman, 1983: Beberapa Pikiran Sekitar Pancasila, cetakan ke-4, Bandung, Penerbit Alumni. Kelsen, Hans 1973: General Theory of Law and State, New York, Russell & Russell Lasiyo, 1982/1983, Confucius , Penerbit Proyek PPPT, UGM Yogyakarta --------, 1998, Sumbangan Filsafat Cina Bagi Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia , Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada Faklutas Filsafat UGM, Yogyakarta --------, 1998, Sumbangan Konfusianisme Dalam Menghadapi Era Globalisasi , Pidato Dies Natalis Ke-31 Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta. McCoubrey & Nigel D White 1996: Textbook on Jurisprudence (second edition), Glasgow, Bell & Bain Ltd. Mohammad Noor Syam 2007: Penjabaran Fislafat Pancasila dalam Filsafat Hukum (sebagai Landasan Pembinaan Sistem Hukum Nasional), disertasi edisi III, Malang, Laboratorium Pancasila. ---------2000: Pancasila Dasar Negara Republik Indonesia (Wawasan Sosio-Kultural, Filosofis dan Konstitusional), edisi II, Malang Laboratorium Pancasila. Murphy, Jeffrie G & Jules L. Coleman 1990: Philosophy of Law An Introduction to Jurisprudence, San Francisco, Westview Press. mcklar(2008), Aliran-aliran Pendidikan, http://one.indoskripsi.com/node/ Posted July 11th, 2008 Nawiasky, Hans 1948: Allgemeine Rechtslehre als System der rechtlichen Grundbegriffe, Zurich/Koln Verlagsanstalt Benziger & Co. AC. Notonagoro, 1984: Pancasila Dasar Filsafat Negara, Jakarta, PT Bina Aksara, cet ke-6. Radhakrishnan, Sarpavalli, et. al 1953: History of Philosophy Eastern and Western, London, George Allen and Unwind Ltd. Roland Roberton. 1992. Globalization Social Theory and Global Culture. Sage Publications. London. P. 85-87 Sudionokps(2008)Landasan-landasan Pendidikan, http://sudionokps.wordpress.com Titus, Smith, Nolan, Persoalan-Persoalan Filsafat, Bulan Bintang, Jakarta : 1984 UNO 1988: Human Rights, Universal Declaration of Human Rights, New York, UNO UUD 1945, UUD 1945 Amandemen, Tap MPRS – MPR RI dan UU yang berlaku. (1966; 2001, 2003) Widiyastini, 2004, Filsafat Manusia Menurut Confucius dan Al Ghazali, Penerbit Paradigma, Yogyakarta Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New York, Harvard College, University Press. Ya'qub, Hamzah, 1978, Etika Islam , CV. Publicita, Jakarta Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New York, Harvard College, University Press.

Andersen, R. dan Cusher, K. (1994). Multicultural and intercultural studies, dalam Teaching Studies of Society and Environment (ed. Marsh,C.). Sydney: Prentice-Hall Banks, J. (1993). Multicultural education: historical development, dimensions, and practice. Review of Research in Education, 19: 3-49. Boyd, J. (1989). Equality Issues in Primary Schools. London: Paul Chapman Publishing, Ltd. Burnett, G. (1994). Varieties of multicultural education: an introduction. Eric Clearinghouse on Urban Education, Digest, 98. Bogdan & Biklen (1982) Qualitative Research For Education. Boston MA: Allyn Bacon Campbell & Stanley (1963) Experimental & Quasi-Experimental Design for Research. Chicago Rand McNelly Carter, R.T. dan Goodwin, A.L. (1994). Racial identity and education. Review of Research in Education, 20:291-336. Cooper, H. dan Dorr, N. (1995). Race comparisons on need for achievement: a meta analytic alternative to Graham's Narrative Review. Review of Educational Research, 65, 4:483-508. Darling-Hammond, L. (1996). The right to learn and the advancement of teaching: research, policy, and practice for democratic education. Educational Researcher, 25, 6:5-Dewantara, Deese, J (1978) The Scientific Basis of the Art of Teaching. New York : Colombia University-Teachers College Press Eggleston, J.T. (1977). The Sociology of the School Curriculum, London: Routledge & Kegan Paul. Garcia, E.E. (1993). Language, culture, and education. Review of Research in Education, 19:51 -98. Gordon, Thomas (1974) Teacher Effectiveness Training. NY: Peter h. Wydenpub Hasan, S.H. (1996). Local Content Curriculum for SMP. Paper presented at UNESCO Seminar on Decentralization. Unpublished. Hasan, S.H. (1996). Multicultural Issues and Human Resources Development. Paper presented at International Conference on Issues in Education of Pluralistic Societies and Responses to the Global Challenges Towards the Year 2020. Unpublished. Henderson, SVP (1954) Introduction to Philosophy of Education.Chicago : Univ. of Chicago Press Hidayat Syarief (1997) Tantangan PGRI dalam Pendidikan Nasional. Makalah pada Semiloka Nasional Unicef-PGRI. Jakarta: Maret,1997

Highet, G (l954), Seni Mendidik (terjemahan Jilid I dan II), PT.Pembangunan Ki Hajar (1936). Dasar-dasar pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Kemeny,JG, (l959), A Philosopher Looks at Science, New Hersey, NJ: Yale Univ.Press Ki Hajar Dewantara, (l950), Dasar-dasar Perguruan Taman Siswa, DIY:Majelis Luhur Ki Suratman, (l982), Sistem Among Sebagai Sarana Pendidikam Moral Pancasila, Jakarta:Depdikbud Ki Hajar, Dewantara (1945). Pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Ki Hajar, Dewantara (1946). Dasar-dasar pembaharuan pengajaran, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Kuhn, Ts, (l969), The Structure of Scientific Revolution, Chicago:Chicago Univ. Langeveld, MJ, (l955), Pedagogik Teoritis Sistematis (terjemahan), Bandung, Jemmars Liem Tjong Tiat, (l968), Fisafat Pendidikan dan Pedagogik, Bandung, Jurusan FSP FIP IKIP Bandung Oliver, J.P. dan Howley, C. (1992). Charting new maps: multicultural education in rural schools. ERIC Clearinghouse on Rural Education and Small School. ERIC Digest. ED 348196. Print, M. (1993). Curriculum Development and Design. St. Leonard: Allen & Unwin Pty, Ltd. Raka JoniT.(l977),PermbaharauanProfesionalTenagaKependidikan:Permasalahan dan Kemungkinan Pendekatan, Jakarta, Depdikbud Twenticth-century thinkers: Studies in the work of Seventeen Modern philosopher, edited by with an introduction byJohn K ryan, alba House, State Island, N.Y, 1964 http://stishidayatullah.ac.id/index2.php?option=com_content http://macharos.page.tl/Pragmatisme Pendidikan.htm http://www.blogger.com/feeds/7040692424359669162/posts/default http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html http://stishidayatullah.ac.id/index2.php http://macharos.page.tl/Pragmatisme Pendidikan, .htm http://www.blogger.com/feeds/7040692424359669162/posts/default http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan Modern, http://panjiaromdaniuinpai2e.blogspot.com Koran Tempo, 12 November 2005 , Revolusi Sebatang Jerami. http://www.8tanda.com/4pilar.htm di down load pada tanggal 2 Desember 2005 http://filsafatkita.f2g.net/sej2.htm di down load pada tanggal 2 Desember 2005

http://spc.upm.edu.my/webkursus/FAL2006/notakuliah/nota.cgi?kuliah7.htm l di down load pada tanggal 16 November 2005 http://indonesia.siutao.com/tetesan/gender_dalam_siu_tao.php di down load pada tanggal 16 November 2005 http://storypalace.ourfamily.com/i98906.html di down load pada tanggal 16 November 2005 http://www.ditext.com/runes/y.html di down load pada tanggal 2 Desember 2005

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->