Anda di halaman 1dari 3

SKRINING DAN DIAGNOSIS RETARDASI

PERTUMBUHAN JANIN

IDENTIFIKASI POSTPARTUM
Identifikasi lewat riwayat adanya salah satu faktor di atas, disamping riwayat janin dengan
retardasi pertumbuhan atau dengan kematian fetal atau neonatal yang sebelumnya, harus membuat
dokter kebidanan waspada terhadap kemungkinan retardasi pertumbuhan selama kehamilan yang
sekarang (Glabraith dkk., 1979). Penentuan usia gestasional yang dini serta teliti dan pengukuran
tinggi fundus uteri secara cermat di sepanjang masa kehamila, harus dilakukan untuk mengenali
sebagian besar kasus pertumbuhan janin yang abnormal; namun demikian, diagnosis pasti baru
dapat dibuat setelah bayi dilahirkan. Walaupun demikian, retardasi pertumbuhan janin dengan
derajat ringan, acap kali terlewatkan jika kita hanya memperhatikan berat neonatus saja.
Sejumlah teknik pemeriksaan telah dikembangkan untuk mengenali bentuk-bentuk retardasi
pertumbuhan janin yang tidak begitu jelas. Mayoritas teknik pemeriksaan ini digunakan untuk
mengenali bentuk-bentuk pertumbuhan yang tidak sesuai, seperti makrosomia dan retardasi
pertumbuhan janin asimetris. Teknik ini biasanya dikerjakan berdasarkan rasio berat yang terlalu
besar atau kecil, ketebalan kulit yang diukur pada berbagai tempat, atau ukuran lingkaran dada atau
bagian tengah lengan yang dibandingkan dengan panjang badan atau lingkaran kepala atau dada.
Keuntungan pemakaian rasio semacam ini adalah bahwa setiap janin dijadikan nilai standartnya
sendiri, yaitu gemuk atau kurus berdasarkan panjang badan atau lingkaran kepala atau dadanya
sendiri.
Indeks ponderal paling sering dipakai untuk mengenali bentuk-bentuk pertumbuhan janin
yang tidak sesuai semacam itu. Indeks tersebut dihitung dengan menggunakan rumus :
berat ( g )
Indeks ponderal = x 100
( panjang dalam cm ) 3

Teknik tersebut dapat digunakan untuk mengenali janin makrosomia maupun janin dengan retardasi
pertumbuhan asimetris, namun tidak bisa dipakai untuk mengenali bayi yang secara konstitusional
berukuran kecil menurut usia gestasionalnya atau bayi dengan retardasi pertumbuhan yang simetris.
Rasio lingkar bagian-bagian lengan : lingkar kepala iksipitofrontal (MAC/HAC ratio atau
midarm circumference : occipitofrontal head circumference) dinyatakan oleh sebagian pakar
sebagai metode antropometrik yang lebih sensitif dan mungkin pula lebih spesifik untuk mengenali
janin yang makrosomia dan bukan hanya secara konstitusional berukuran besar (Georgieff dkk.,
1986; Meadows dkk., 1986). Pernyataan yang sama juga dibuat bagi janin yang kecil menurut usia
gestasional. Secara khas bayi yang secara konstitusional berukuran kecil menurut usia gestasional
mempunyai rasio yang normal, sementara rasio ini memperlihatkan nilai rendah yang abnormal
pada bayi yang mengalami retardasi pertumbuhan dengan mula timbul yang terjadi kemudian, dan
dengan demikian menghadapi risiko untuk timbulnya hipoglikemia.
IDENGTIFIKASI ANTEPARTUM
Tantangan tetap dihadapi terutama oleh dokter kebidanan untuk mengenali janin yang
pertumbuhannya tidak sesuai di dalam uterus. Sebagian teknik yang telah banyak digunakan dan
bermanfaat, dijelaskan di bawah ini.

Tinggi Fundus Uteri


Pada tahun 1977 Westin mempublikasikan hasil pengukuran tinggi fundus-simfisis dari 100
wanita Swedia yang normal. Dengan menggunakan peta ini, ia dapat meramalkan 75 persen
neonatus yang berada lebih dari satu standar deviasi di bawah berat rata-rata menurut usia
gestasional, dan 65 persen neonatus yang berada satu standar deviasi di atas berat rata-rata menurut
usia gestasional.
Pengukuran tinggi fundus uteri secara serial yang dilakukan dengan cermat di sepanjang
masa kehamilan merupakan metode skrining yang sederhana, aman, murah dan cukup akurat, yang
bisa digunakan untuk mendeteksi banyak janin kecil menurut usia gestasional. Permasalahan
utamanya adalah nilai prediktif positif palsu yang tinggi dan ketidak mampuan untuk membedakan
antara bayi dengan retardasi pertumbuhan simetris dan yang tidak simetris (asimetris). Namun
demikian hasil pengukuran ini tidak bisa diterapkan pada kehamilan multipel, hidramnion, ataupun
untuk janin dengan letak lintang.

Pengukuran Ultrasonik
Evaluasi dan pengukuran dengan menggunakan alat sonar untuk skrining, diagnosis dan
penatalaksanaan pada pertumbuhan janin yang tidak sesuai, merupakan tindakan yang tidak bisa
ditinggalkan. Beberapa teknik dapat digunakan dan sekali lagi perlu ditekankan bahwa informasi
mengenai usia gestasional yang akurat merupakan masalah yang amat penting.
Perkiraan terhadap volume total intrauteri mencakup janin dan cairan amnion, yang
keduanya sering menurun bersamaan dengan terjadinya retardasi pertumbuhan janin. Gohari dkk.
(1977) melaporkan bahwa penurunan volume total intrauteri sangat berguna dalam mendiagnosis
retardasi pertumbuhan janin. Angka positif palsu yang berlebihan (Grossman dkk., 1982) dan
penggunaan sonografi real-time yang kini semakin tersebar luas, telah menyebabkan
ditinggalkannya cara pengukuran ini yang diperoleh dengan menggunakan alat scanner statistik.
Karena adanya kaitan antara oligohidramnion dan retardasi pertumbuhan janin, Manning
dkk. (1981b) mengemukakan bahwa perkiraan kualitatif terhadap volume cairan amnion dapat
digunakan untuk mengenali retardasi pertumbuhan janin. Mereka mendefinisikan hasil abnormal
dengan kantong cairan yang ukurannya kurang dari 1 cm. Hasil ini memiliki korelasi yang erat
dengan retardasi pertumbuhan janin.
Berbagai rumus yang berbeda berdasarkan hasil pengukuran diameter janin, sirkumferensia,
dan daerah-daerah dari semua bagian tubuh telah digunakan untuk menghitung berat janin pada
berbagai tahap kehamilan (Campbell dan Wilkin, 1975 ; Eik-Nes dkk., 1982). Rumus tersebut amat
kompleks dan tabel yang diciptakan untuk berat janin sangat mengagumkan (Shepard dkk., 1987).
Penggunaan sehari-hari dan pengandalan teknik-teknik yang disampaikan ini belum ditentukan
dengan tegas, tetapi teknik-teknik tersebut tampaknya memberikan nilai prediktif yang lebih tinggi
dari pada yang diberikan oleh banyak metode lainnya (Benson dkk., 1986).
Pengukuran berat serebelum tampak memberikan harapan, tetapi hasil observasi
pendahuluan oleh Goldstein dkk. (1987) harus dikonfirmasi dahulu.
EVALUASI METODE ULTRASONIK
Benson dkk. (1986) secara kritis menganalisis suatu seri yang luas dari kriteria ultrasonik
yang dipublikasikan bagi identifikasi retardasi pertumbuhan janin untuk memastikan nilai prediktif
yang positif dan yang negatif.
Teknik-teknik yang dipakai untuk mengenali berat janin yang rendah, diperkirakan dapat
mendeteksi 88 persen dari semua janin dengan retardasi pertumbuhan ; meskipun demikian, 12
persen (spesifisitas 88 persen) dari semua janin normal akan tercakup ke dalam kelompok yang
abnormal. Karena spesifisitas ini dan karena beberapa janin sungguh-sungguh mengalami retardasi
pertumbuhan, maka di antara janin-janin yang diperkirakan berukuran kecil menurut usia
gestasional, hanya 45 persen yang akan benar-benar kecil.
Dua metode dengan nilai prediktif di atas 50 persen, hanyalah perkiraan volume cairan
amnion dan rasio lingkar kepala / lingkar abdomen. Namun demikian, pengukuran volume cairan
amnion tidak begitu praktis pemakaiannya karena teknik ini hanya mendeteksi 24 persen
(sensitivitas) kasus dengan retardasi pertumbuhan janin yang benar-benar terdapat. Nilai prediktif
rasio lingkar kepala / lingkar abdomen yang besarnya 62 persen, tampak merupakan alat klinis yang
terbaik dengan sensitivitas sebesar 82 persen.
Harapan yang menjanjikan dari suatu perkiraan yang akurat mengenai retardasi
pertumbuhan janin dengan menggunakan sonografi, belum pernah tercapai. Meskipun nilai prediktif
ini rendah, sebagian pakar pernah mengklaim bahwa nilai prediktif sebesar 92 sampai 99 persen
membuktikan nilai tes ini karena dokter kebidanan dapat secara aman menyimpulkan kalau risiko
retardasi pertumbuhan janin itu kecil. Namun demikian, prevalensi retardasi pertumbuhan janin
dalam populasi umum adalah 10 persen atau kurang.

PERBANDINGAN TINGGI FUNDUS UTERI DAN PENGUKURAN ULTRASONIK


Pearce dan Campbell (1983) membandingkan hasil pengukuran fundus uteri secara serial
dengan pengukuran tunggal sirkumferensia abdomen pada trimester ketiga, dan melaporkan bahwa
kedua metode tersebut mempunyai sensitivitas yang hampir sama yaitu 85 persen serta angka
positif palsu sebesar 55 persen. Cnattinguis dkk. (1985) membandingkan hasil pengukuran fundus
uteri secara serial terhadap hasil dua kali pengukuran diameter biparietal yang diperoleh secara
terpisah, yakni pengukuran pertama dilakukan antara 16 hingga 21 minggu, dan pengukuran kedua
paling sedikit 10 minggu setelah pengukuran pertama. Mereka melaporkan bahwa pengukuran
tinggi fundus uteri memberikan hasil lebih akurat daripada pengukuran ultrasonik untuk
menegakkan diagnosis retardasi pertumbuhan janin. Untuk setiap diagnosis yang benar diperoleh
lewat pengukuran tinggi fundus uteri, terdapat tiga positif palsu (nilai prediktif 25 persen). Namun
demikian, untuk setiap diagnosis yang benar dengan menggunakan diameter beparietal, terdapat 10
positif palsu (nilai prediktif 9 persen).