Anda di halaman 1dari 6
Artikel ini dimuat dalam Majalah “ CONSULTING ” edisi 10 Konsekuensi Penggunaan Software ”ILEGAL” dan

Artikel ini dimuat dalam Majalah “CONSULTING ” edisi 10

Konsekuensi Penggunaan Software ”ILEGAL” dan Penegakan UU Hak Cipta bagi Konsultan

Bayu Arie Wibawa, ST. MT. IAI

Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu program komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500 juta (Pasal 72 ayat 3 UU Hak Cipta).

Undangundang perlindungan hak cipta intelektual nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (UUHC) telah diberlakukan hampir empat tahun, namun tingkat pembajakan perangkat lunak (software) komputer di Indonesia masih sangat merajalela. Bajakan software software terbaru dan terhebat, begitu gampangnya bisa diperoleh di beberapa tempat tertentu dan bahkan dijual secara bebas di mall dan pusat perbelanjaan.

Data tahun 2005 menunjukkan tingkat pembajakan software di Indonesia mencapai 88% yang berarti 8 dari 10 pengguna aplikasi komputer adalah bajakan” atau lebih keren disebut “ ilegal ”. Angka tersebut sangat tinggi bila dibandingkan dengan ratarata pembajakan di negara Asia Pasifik sebesar 53%, sehingga Indonesia merupakan negara terbesar ke empat dalam pembajakan software setelah Vietnam, Cina dan Ukraina.

Dalam ruang lingkup konsultan di Jawa Tengah, angka prosentase penggunaan software “illegal” ini diyakini lebih tinggi (walau belum ada penelitian mengenai hal ini). Bagaimana pemahaman dan kesadaran anggota INKINDO tentang konsekuensi yang harus ditanggung terutama dengan makin giatnya upaya kepolisian untuk menegakkan UUHC?. Apakah anda merasa ” terancam” dengan hal ini? Bila jawabannya ” tidak”, anda mungkin perlu membaca lebih lanjut tulisan ini.

Apakah UU Hak Cipta?

UU Hak Cipta merupakan amandemen keempat dari peraturan perundangundangan di bidang hak cipta yang sebagaimana pertama kali disahkan pada tahun 1982. Seiring dengan perkembangan seni, budaya, teknologi, dan perdagangan, karya ciptaan yang dilindungi semakin beragam jenisnya. Karya cipta berupa basis data (database) merupakan hal baru yang dilindungi UU Hak Cipta.

Pasal 12 UU Hak Cipta menyebutkan bahwa karya ciptaan yang dilindungi dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra mencakup buku, program komputer , pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain seperti ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu, alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan, lagu atau musik dengan atau tanpa teks, drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan dan pantomim, seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar , seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan; arsitektur ; peta; seni batik; fotografi ; sinematografi; terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan.

Selain karya cipta yang berupa program komputer, sinematografi, fotografi, database, dan karya hasil pengalihwujudan yang perlindungannya berlaku selama 50 tahun sejak pertama kali diumumkan, karya cipta di Indonesia akan dilindungi selama masa hidup penciptanya ditambah 50 tahun lagi setelah pencipta dimaksud meninggal dunia.

Dalam UU Hak Cipta dikenal pula doktrin kewajaran penggunaan ( fair use ) sebagaimana termuat dalam Pasal 15, antara lain disebutkan bahwa tidak merupakan pelanggaran hak cipta apabila penggunaan ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pencipta, pengambilan ciptaan pihak lain guna keperluan pembelaan di dalam atau di luar pengadilan.

pelanggaran hak cipta. Pembuatan salinan cadangan (backup copy) suatu program komputer oleh pemiliknya hanya dapat dilakukan semata mata untuk digunakan sendiri.

UUHC di antaranya memuat beberapa peraturan mengenai tindak pembajakan software. Ketentuanketentuan dalam UUHC yang menyatakan bahwa selain tuntutan ganti rugi, tidak menutup kemungkinan dilakukannya tuntutan secara pidana atas pelanggaran hak cipta software. Hal ini disebutkan dalam pasal 72 ayat 3 UUHC sebagai berikut: ”Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu program komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan atau denda paling banyak Rp 500.000.000”.

Pelanggaran hak cipta dikategorikan sebagai tindak pidana biasa (delik biasa), sehingga pengaduan dari

pidana biasa (delik biasa), sehingga pengaduan dari Perbanyakan suatu ciptaan secara terbatas dengan cara
pidana biasa (delik biasa), sehingga pengaduan dari Perbanyakan suatu ciptaan secara terbatas dengan cara
pidana biasa (delik biasa), sehingga pengaduan dari Perbanyakan suatu ciptaan secara terbatas dengan cara
pidana biasa (delik biasa), sehingga pengaduan dari Perbanyakan suatu ciptaan secara terbatas dengan cara

Perbanyakan suatu ciptaan secara terbatas dengan cara atau alat apa pun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan atau pendidikan, dan pusat dokumentasi yang nonkomersial semata mata untuk keperluan aktivitasnya tidak pula dikategorikan pelanggaraan hak cipta. Namun, melakukan perbanyakan untuk suatu program komputer merupakan suatu

“ILEGAL”perbanyakan untuk suatu program komputer merupakan suatu pihak yang dirugikan tidak diperlukan, menjadikan pihak

pihak yang dirugikan tidak diperlukan, menjadikan pihak penegak hukum tampak begitu perkasa untuk mengejar para penjual ataupun pengguna software ilegal. Pihak kepolisian tidak perlu lagi menunggu pengaduan atau laporan dari Microsoft, Autodesk, Adobe, dan lainlain selaku software developer untuk melakukan penggeledahan dan penyitaan software ilegal.

Hal ini berarti jika seseorang memegang notebook dan polisi menduga software di dalam notebook tersebut palsu atau hasil bajakan, saat itu polisi bisa langsung melakukan pemeriksaan tanpa pengaduan. Begitu pula jika seseorang penyanyi di atas panggung yang mengubah model lagu pop menjadi dangdut, polisi pun bisa langsung menangkapnya.

Ancaman pidana dalam kasus pembajakan hanya berlaku untuk produsen, tetapi tidak untuk pengguna barang bajakan. Bagi seseorang yang kepergok menggunakan barang bajakan, hanya akan disita barang bajakannya, kecuali jika karya intelektual yang dibajak tadi digunakan untuk tampilan di muka umum. Bagaimana dengan perusahaan konsultan?, walaupun aktivitas konsultan bukan merupakan produsen penggandaan program bajakan, namun karena penggunaannya untuk kepentingan komersial dan digunakan untuk tampilan umum, maka perusahaan konsultan tidak masuk dalam pengecualian ini, sehingga ancaman sangsi tetap pada tuntutan denda dan pidana.

Manfaat UUHC

Dilihat dari spiritnya, pemberlakuan UUHC memang diarahkan untuk lebih menjamin dan dihargainya sebuah karya cipta. Dari situ diharapkan setiap orang terdorong kreativitasnya untuk melakukan inovasi dan karya berharga.

Apakah UUHC juga tidak punya tendensi lain?,

sebagian masyarakat menilai penerapan UUHC hanya akan lebih menguntungkan pihak pihak pemilik hak cipta, namun pada saat yang sama merugikan masyarakat kurang mampu. Bahkan lebih lanjut pemberlakuan UUHC dinilai merupakan bentuk ”kelemahan” Indonesia di tengah tekanan negara maju yang berlindung di balik WTO.

Beberapa pakar berpendapat bahwa tekanantekanan internasional dalam pemberlakuan Undangundang No. 19/2002 tentang Hak Cipta merupakan hal yang wajar karena Indonesia ikut dalam World Trade Organization (WTO). Ketentuan tersebut tidak merugikan masyarakat karena berfungsi melindungi hak cipta atas kekayaan intelektual. Adanya UUHC juga akan memberi keuntungan bagi pencipta dan pewarisnya, karena berlaku seumur hidup si pencipta plus 50 tahun kemudian.

Dalam bagian pertimbangan/konsiderans UU Hak Cipta bahwa diberlakukannya UU Hak Cipta adalah sebagai upaya untuk peningkatan perlindungan bagi pencipta dan pemilik hak terkait dengan tetap memerhatikan kepentingan masyarakat luas. Oleh karenanya, masyarakat memiliki hak sama untuk diperhatikan pula kepentingannya tidak harus melulu UU Hak Cipta dimaksudkan untuk perlindungan terhadap para pencipta.

Konsekuensi Penegakan UUHC

Pemberlakuan UUHC sejak tanggal 29 Juli 2003, hal ini telah banyak mengusikketenangan sebagian

UUHC Pemberlakuan UUHC sejak tanggal 29 Juli 2003, hal ini telah banyak ” mengusik ” ketenangan

3

besar pengguna software komputer (bagi yang sadar). Ketenangan yang terusik ini bukan saja bagi para penjual software bajakan”, namun juga telah merambah bagi perusahaan kecil/menengah dan bahkan perorangan, termasuk sebagian besar perusahaan konsultan.

Saat mulai pemberlakukannya, para pedagang CD (musik/program komputer), VCD, atau DVD bajakan menutup tokonya. Pemilik rental CD, VCD, dan DVD sejenis juga melakukan hal sama. Demikian juga dengan konsumen produk produk terlarang tersebut menjadi risau dan merasa terganggu kenikmatannya. Bukan hanya karena akan kehilangan barangbarang yang bagus dengan harga yang sangat murah, namun mereka juga khawatir bila barang bajakan yang mereka pakai dirazia pihak berwajib.

Pemberlakukan UUHC saat itu juga menimbulkan problem ekonomi yang cukup signifikan, terutama bagi para pelaku ekonomi kelas menengah ke bawah. Saat itu terdapat ribuan pedagang CD/VCD bajakan tercabut mata pencahariannya.

Bagi konsumen masyarakat bawah, penerapan UUHC telah menghilangkan kesempatan mereka untuk menikmati barangbarang mewah. Untuk menikmati musik Westlife, mereka harus mengeluarkan uang Rp 75.000,00 untuk membeli CD orisinal di toko berlisensi resmi. Namun di pusat bajakan di Simpang Lima, mereka cukup mengeluarkan Rp 3.000,00 s/d 5.000,00 untuk mendapatkan CD bajakannya. Untuk produk produk software yang berlisensi dengan harga jutaan sampai puluhan juta, bisa diperoleh bajakannya dengan harga Rp 20.000,untuk kemasan CD dan Rp 40.000,untuk kemasan DVD (satu CD/DVD bisa berisi puluhan program). Terdapat suatu kemewahan yang akan terenggut saat itu.

Namun demikian, dari sekian jenis produk bajakan, tampaknya komputerlah yang paling telak terkena pukulan. Hal ini cukup dimaklumi mengingat pasar komputer di tanah air sudah sangat dikuasai oleh jenisjenis ”komputer jangkrik,” yakni komputer yang berisi program program software hasil sisipan sana

sini. Tentu saja semuanya software hasil bajakan, sehingga setiap orang bisa memasang software sebanyakbanyaknya ke dalam komputer dengan harga yang relatif murah. Tak heran saat UUHC diberlakukan, sejumlah pedagang dan pemilik sewaan komputer ramairamai menutup toko mereka. Jika sebelum era UUHC, pihak penjual komputer bebas memenuhi keinginan konsumen memasang program komputer yang mereka beli. Sekarang, penjual komputer tidak bisa seenaknya memasang program komputer karena terikat oleh UUHC.

Untuk memasang sistem operasi Windows berikut Microsoft Office misalnya, setiap pembeli komputer paling sedikit dikenai biaya tambahan sekitar 200 dollar Amerika Serikat (AS). Dengan kurs Rp 8.500,00, pemasangan sistem operasi Windows dan Microsoft Office itu berarti penambahan ongkos sekira Rp 1.700.000,00. Padahal, sebelum UUHC

diberlakukan, bisa dibilang software milik miliuner

AS BIll Gates tersebut bisa dinikmati secara gratis

oleh pembeli. Itu artinya setelah era UUHC, pembeli harus mengeluarkan duit sebesar Rp 1,7 juta plus uang seharga komputer yang berlaku sebelumnya. Harga ini belum termasuk software CAD, Corel, SPSS,

CD Burning, dan lain lain.

Dari berita di media masa kita dapat melihat bahwa Unit Cyber Bareskrim Polri telah menangkap beberapa tersangka pembajakan hak cipta softaware sebagai berikut:

Manajer dan direktur marketing PT STI perusahaan yang bergerak dibidang IT ditangkap karena telah merugikan pemegang lisensi resmi pemegang hak cipta software senilai US$2,4 miliar . Di sini polisi menyita 200 lebih software ilegal yang diinstal dalam 300 unit komputer.

Dari PT MA Polri menyita 85 unit komputer yang diduga telah diinstal ke berbagai software yang hak ciptanya dimiliki Business Software Alliance (BSA). Polisi juga berhasil menemukan barang bukti software ilegal

yang hak ciptanya dimiliki anggota BSA, antara lain program Microsoft, Symantec, Borland, Adobe, Cisco System, Macromedia dan Autodesk. Program tersebut telah digandakan tersangka.

Maraknya razia pada warnetwarnet dan persewaan komputer yang diindikasikan menggunakan software ilegal.

Kelanjutan dari kegiatan penindakan atas penggunaan software ilegal oleh perusahaan merupakan wujud komitmen Polri terhadap perlindungan dan penegakan hak cipta khususnya berkaitan dengan hak cipta software. Polisi akan menindak tuntas kasus kasus pembajakan piranti lunak dan mengajukan berkasnya ke pengadilan sehingga pelakunya mendapatkan hukuman berat. Polri menghimbau masyarakat untuk tidak menggunakan teknologi informasi hasil bajakan.

Bagaimana dengan perusahaan konsultan? Sebagai perusahaan profit, konsultan tidak bisa terlepas dari tuntutan hukum di atas. Dari aktivitas yang dilakukan, diyakini perusahaan konsultan adalah menggunakan dan memerlukan sangat beragam software aplikasi, sehingga potensi penggunaan software bajakan relatif lebih besar. Kebutuhan software ini mulai dari server, sistem operasi, office, grafis/CAD/GIS, foto/video editing, sistem informasi dan database, SPSS, Project Manager, aplikasi Civil/Electrical, utility/tools , dll. Tingkat penggunaannya tergantung dari lingkup layanan dan perkembangan IT di kantor masingmasing.

Konsekuensi awal dari penggunaan software ilegal bagi konsultan adalah pada penyitaan perangkat harware komputer yang menggunakan software bajakan yaitu CPU, monitor, keyboard, mouse dan lainlain, kecuali printer. Penyitaan CPU adalah termasuk hardisk yang berisi datadata penting dan program aplikasi bajakan yang akan dijadikan sebagai barang bukti.

Konsekuensi selanjutannya adalah pada tuntutan pidana bagi perusahaan dengan ancaman hukuman

kurungan penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500 juta. Sudah siapkah kita untuk tuntutan senilai Rp 500 juta?, kalaupun sudah siap, apakah kita juga siap dengan tuntutan pidana kurungannya?

apakah kita juga siap dengan tuntutan pidana kurungannya? Apa Yang Harus Dilakukan? Keresahan yang muncul bagi

Apa Yang Harus Dilakukan?

Keresahan yang muncul bagi kalangan konsultan kecil dan menengah adalah masih dipergunakannya software ilegal dalam jumlah yang cukup besar. Bahkan dapat diduga, apabila dilakukan software audit tidak atau sangat jarang ditemui software yang legal dan berlisensi. Keengganan menggunakan software berlisensi karena harga sangat tidak terjangkau.

Berbagai langkah telah ditempuh untuk memperoleh harga khusus hanya berlaku bagi lembaga pendidikan dan lembaga swadaya masyarakat yang nonprofit. Hal itu cukup memberikan angin segar bagi dunia pendidikan, walaupun masih diperlukan pula kejelasan konstruksi lisensinya. Tetapi masalah utama yang muncul yaitu para pengguna di perusahaan kecil dan menengah (termasuk konsultan) ternyata belum disentuh oleh para software developer .

Para pelaku industri/perusahaan harus sudah mulai menghargai hak cipta dengan hanya membeli software legal. Apabila harga tidak lagi dapat dinegosiasikan, jumlah lisensi yang diperoleh harus dapat dimungkinkan untuk dinegosiasikan.

Beberapa budaya penggunaan software ”ilegal” harus mulai ”dikikis” secara bertahap. Misalnya dengan membuang sikap yang masih senang memasang program komputer sebanyakbanyaknya

ke dalam komputer, padahal sebenarnya hanya

sedikit yang dipakai. Ada baiknya pengguna komputer hanya memasang software yang sesuai dengan kebutuhannya sehingga ongkos yang harus dikeluarkan tidak terlalu mahal.

Alternatif lain adalah dengan berganti ke program

lain yang murah, gratis (freeware) atau open source seperti Linux dan OpenOffice. Cara ini memang memerlukan usaha yang ekstra keras dari bagian IT

di perusahaan konsultan. Kebiasaan penggunaan

software ” the best ” yang bajakan seringkali telah

menjadi budaya dan adat yang kuat , sehingga karyawan sangat ”enggan” berpaling ke software lain (apalagi yang gratisan).

Budaya ” bangga” bila menggunakan software terbaru dan terbaik (walau bajakan) harus mulai ” ditabukan”. Tampilan tampilan presentasi yang ”luar biasa” dari software bajakan tidak perlu lagi ”diagungkan”, karena yang jauh lebih utama adalah isi dan materi peresntasinya.

Bila dianalogikan Windows dan MS Office adalah mobil BMW 520i sedangkan Linux dan OpenOffice adalah mobil Avanza, tentu para penumpang BMW yang sudah ”terlena” dengan ”kenikmatannya” akan enggan dan segan rewel untuk menaiki mobil Avanza. Bukankah mobil BMW 520inya diperoleh dengan gratis juga, kenapa harus berpindah ke Avanza?

Dalam upaya penegakan sotfware ”legal” ini sangat diperlukan pemahaman dan kesadaran akan arti penting dan konsekuensinya bagi seluruh karyawan perusahaan, baik dari tingkat bawah dan terutama dari tingkat pimpinan.

Dengan memperhatikan pada konsekuensi hukum dari penggunaan software ilegal, maka perlu kiranya mulai sekaranang kita semua untuk mulai memikirkan dan ” menganggarkan” biaya belanja

software berlisensi, baik untuk perangkat komputer baru maupun yang lama. Kebijakan untuk beralih ke software yang lebih ”murah, gratis atau terbuka” harus dilihat sebagai suatu bentuk pendekatan ”jalan tengah” bila permasalahan dana masih sangat membelenggu. Perpaduan antara software gratis/open source dengan berlisensi sebenarnya merupakan jalan tepak bagi perusahaan konsultan.

Sumber Referensi:

www.nailbomb.org

Pikiran Rakyat Cyber Media, Selasa, 12 Agustus 2003

Suara Merdeka Ciber Media, 01 Nopember 2006

http://budi.insan.co.id

Penulis:

Bayu Arie Wibawa, ST. MT. IAI e mail: ubaysmg@telkom.net Ketua Bidang Informasi dan Promosi DPP INKINDO Jawa Tengah periode 20062010