Anda di halaman 1dari 7

Semar . has posted a new blog entry.

Manage alerts settings

Jan 24, '10 5:19 AM


Kisah Intel CIA di Bogor
for Semar's contacts

Kisah Intel CIA di Bogor


Bahaya bermain agen ganda.

Jum'at, 22 Januari 2010, 21:00 WIB

Nurlis E. Meuko

Gedung Putih di Washington DC Amerika


Serikat (AP Photo)
VIVAnews – DIA jauh dari sosok agen rahasia dalam film spy Amerika yang kerap kita ton
Marshall Read tidaklah gagah. Usianya 56 tahun. Badannya ringkih, dan rambutnya putih pe
Hidungnya khas: tinggi berlengkung tajam.

Sudah sepekan lelaki itu meringkuk di sel pojok kanan lantai satu gedung Badan Reserse Kr
di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan. Tapi dia memang agak istimewa. Selama ditahan, selny
dikunjungi warga asing.

Siapa Marshall? Dua informasi berbeda mencuat tentang lelaki ini. Ada yang bilang dia agen
Intelligence Agency (CIA) yang bermarkas di Washington DC, Amerika. Sebaliknya, dia dise
buronan lembaga mata-mata kelas wahid itu.

Tapi mari berpegang pada keterangan resmi Mabes Polri, bahwa Marshall adalah bekas CIA,
sekaligus buronan lembaga mata-mata itu. Dia dituduh terlibat perdagangan senjata api gel
sejumlah kejahatan lain di Amerika, Inggris, dan Rusia.

Kata polisi, Marshall agen yang licin. CIA memburunya sejak 1974. Mengantongi 50 paspor
negara, dia bisa melanggang ke pelbagai penjuru dunia.

Pada Agustus 2007, dari Johor, Malaysia, dia menyeberang ke Batam. Di Indonesia, petuala
lebih seru. Dia jatuh cinta dengan Lisna Herawati saat berada di Jakarta. Dia pun menikah d
gadis 32 tahun itu. Mereka menetap di Cianjur. Lengkap dengan KTP dan paspor setempat.

Enam bulan kemudian, Marshall hendak meninggalkan Indonesia. Bersama Lisna, dia mengu
paspor di Kota Bogor, pada Januari 2008. Tapi, entah salah pada bagian apa, petugas Imigr
Bogor curiga. Kepala Imigrasi Bogor meneruskan informasi ini ke Kedutaan Besar Amerika.
kedutaan itu mengutus tiga petugasnya. Di sinilah pertama kali muncul cerita Marshall adala
CIA itu.

Setelah penangkapan itu, tak jelas di mana Marshall berada. Cerita soal dia simpang-siur. In
dari petugas Imigrasi saat itu, Marshall segera dideportasi ke Amerika.

***

Senin 14 Januari 2010. Seorang calo paspor, R. Simbolon, datang ke kantor Imigrasi Bogor
Ahmad Yani, Tanah Sareal, Kota Bogor. Simbolon membawa dokumen atas nama Robert Ma
Reid. Tujuannya mengurus paspor. “Dia menempuh prosedur normal,” kata Kepala Imigrasi
Ahmad Hasaf.

Petugas pun meminta Simbolon membawa Marshall pada Selasa 15 Januari 2010. Lelaki itu
10.30 WIB, bersama istrinya Lisna Herawati. Petugas mewawancarainya kembali. Aneh mem
Petugas imigrasi seperti tak punya data pemeriksaan Marshall dua tahun silam.

Tapi toh tetap ada yang mencurigakan. Marshal mengaku warga Indonesia keturunan Inggr
gagap bicara Indonesia. “Padahal seluruh dokumennya menunjukkan dia Indonesia asli,” ka

Marshall punya kartu tanda penduduk bernomor 09.5005020352.0248 yang diteken Lurah C
Putih Timur, Rugan M. Faisal. Di dalam KTP itu tertulis Robert beragama Islam, lahir di Jaka
beralamat di Jalan Cempaka Putih Tengah XV/6 RT 01/08, Jakarta Pusat.

Selain KTP, ada juga buku nikah bernomor 134/52/III/2006, diteken H. Damar yang disebu
Kantor Urusan Agama Mampangprapatan, Jakarta Selatan. Di kolom isteri tertera nama Lisn
wali nikah Badang, seorang purnawirawan TNI.

Dokumen itu diduga palsu. Untuk kedua kalinya Marshall digiring ke ruang Pengawas dan Pe
Keimigrasian. Sayangnya, si calo Simbolon yang hendak diperiksa sudah kabur duluan. Lisn
bisa menjawab soal status kewarganegaraan Marshall. ”Selanjutnya, saya melaporkannya k
Kedutaan Amerika,” kata Ahmad.
Hari itu juga tiga petugas Kedutaan Amerika datang ke Bogor. Setelah berbicara dengan Ma
meneliti data-datanya, tiga petugas itu mengakui Marshall warga negara mereka. “Disebutk
Marshall pelaku tindak kriminal dan buronan tiga negara yakni AS, Inggris dan Rusia,” katan

Menurut informasi dari Kedutaan Amerika yang masuk ke Ahmad, Marshall terlibat kasus ce
pemalsuan dokumen, dan senjata illegal. Cerita ini persis seperti disampaikan petugas Kedu
Amerika dua tahun lalu.

Sehari kemudian, Marshall dititipkan ke tahanan Mabes Polri. Di sinilah muncul informasi Ma
adalah agen CIA. “Kami mencari tahu apa motifnya berada di Indonesia,” kata Kepala Badan
dan Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Ito Sumardi.

***

Jejak CIA di Indonesia, sepertinya juga bukan hal baru. Setidaknya, cerita itu sudah muncu
lembaga intel berdiri 1947. Pada masa itu, Harry S. Truman memimpin Amerika (1945-1953
membuat doktrin mengisolasi Uni Sovyet secara politik dan ideologi. Amerika lalu rajin men
komunisme di seluruh dunia.

Pada masa Sukarno, yang anti imperialisme, dan condong ke Partai Komunis Indonesia, Ind
menjadi intaian CIA. Tercatat sejumlah pemberontakan dalam negeri, disebut-sebut berkait
intelijen Amerika. Sepak terjang lembaga intel Abang Sam ini pernah diulas tajam dalam Le
Ashes, the History of CIA, karya Tim Weiner, wartawan The New York Times, pemenang Pul

Setelah Sukarno tumbang, cerita soal intel Amerika beraksi di Indonesia muncul samar-sam
Layaknya organisasi intel, tak tercium geraknya. Paling banter, tudingan diarahkan ke jaring
Amerika di lingkaran elit teknokrat. Pada awal orde baru, sempat mencuat sebutan Mafia Be
semacam koneksi elit pendukung orde baru, yang dididik di Universitas Berkeley, California,

Nama CIA juga timbul tenggelam. Terakhir, misalnya, ada tudingan Laboratorium Namru-2
Departemen Kesehatan bekerja untuk kepentingan intelijen Amerika. Namru adalah kerjasa
Departemen Kesehatan RI dan Angkatan Laut Amerika sejak 1975.

Dua lembaga swadaya masyarakat, An Nashr Institute dan Medical Emergency Rescue Com
menuding lab itu bekerja untuk intelijen Amerika. Para peneliti Namru, kata mereka, boleh m
penelitian ke luar Indonesia tanpa diperiksa.

Terakhir, nama CIA mencuat tatkala penangkapan Umar al Faruq di Bogor pada 2002. Dicok
Faruq adalah bagian “perang melawan teror” yang digelorakan George W Bush setelah seran
Qaidah pimpinan Usamah bin Ladin, ke dua menara WTC di New York, 11 September 2001.

Amerika menuding Al-Faruq kaki tangan jaringan bin Ladin di Asia Tenggara. Persembunyia
terbongkar setelah polisi mendapat bisikan informasi dari CIA. Al-Faruq lalu dijebloskan ke
Amerika Serikat di Bagram, Afghanistan. Memang, ada cerita dia berhasil kabur, dan kemba
negara kelahirannya. Lalu, Al-Faruq diberitakan tewas dalam pertempuran di Basra, Irak Se
pada Oktober 2006.

Sejak itu, nama intel Amerika kerap muncul dalam aksi anti teroris di nusantara. Tentu saja
dalam format kerjasama Amerika-Indonesia.

***

Lalu apa tugas si ‘agen’ Marshall yang tertangkap di Bogor ini? Pemeriksaan pun dilakukan i
oleh berbagai lembaga. Selain polisi, Marshall juga ditelisik oleh aparat Kementerian Politik
dan Keamanan, Kementerian Luar Negeri, dan Badan Intelijen Negara (BIN).

Tapi jawabannya toh sama. Kepada penyidik, Marshal menampik bahwa dirinya adalah CIA.
Sayangnya, tak banyak informasi keluar dari mulutnya. Dari Kedutaan Besar Amerika juga
komentar soal ini.

Sampai lelaki berhidung tinggi dengan lengkung tajam itu dipaksa pulang ke negerinya, Mar
hanya dinyatakan bersalah karena satu hal: melanggar aturan imigrasi. “Soal intelijen saya
tahu,” kata Ito Sumardi.

Laporan: Ayatullah Humaeni (Bogor)

Jejak CIA di Indonesia


Infografik.

http://sorot.vivanews.com/news/read/123672-jejak_cia_di_indonesia

SOROT 67

Bahaya Bermain Agen Ganda


Ini taktik andalan CIA untuk beroperasi di wilayah yang sulit ditembus.

Jum'at, 22 Januari 2010, 21:11 WIB

Renne R.A Kawilarang


Adolf Hitler (berkumis) saat berkendara
bersama Benito Mussolini (AP Photo)
VIVAnews – Badan intelijen Amerika Serikat (CIA) untuk kesekian kalinya mendapat tamp
memalukan. Kali ini sumbernya datang dari insiden yang menyebabkan tujuh agen lapangan
seorang intel Yordania tewas. Peristiwa naas itu bahkan terjadi di kantor perwakilan CIA di A
akhir Desember 2009 lalu.

Kendati dibantah oleh CIA dan pihak berwenang Amerika, banyak pengamat meyakini bahw
itu terjadi akibat gegabahnya CIA dalam merekrut agen ganda.

Alkisah, seorang simpatisan al-Qaidah bernama Humam Khalil Abu-Mulal al-Balawi berhasil
mengelabui para agen CIA di Afganistan. Caranya, dia berpura-pura sudah beralih kiblat ke
dan berhasil meyakinkan mereka bahwa dia memiliki informasi tentang keberadaan pimpina
Qaidah.

Melalui perantara seorang intel dari Yordania, CIA lalu mengundang al-Balawi datang ke ma
mereka. Yang fatal, al-Balawi dipersilakan masuk tanpa melalui pemeriksaan keamanan.

Para agen lapangan CIA sudah hakulyakin bahwa al-Balawi termasuk orang yang bisa diperc
berkat rekomendasi agen dari Yordania itu, yang telah menangkap dan mengindoktrinasi al-
sejak tahun lalu.

Alhasil, bukan informasi penting yang didapat, nyawa mereka yang melayang. Buat al-Balaw
undangan dari CIA ini adalah peluang emas yang tak dia sia-siakan untuk menunaikan misi
dari pimpinan al-Qaidah: menjadi pengebom bunuh diri.

Para pejabat tinggi Amerika, termasuk Presiden Barack Obama, diam seribu bahasa tentang
itu. Apalagi, tak lama kemudian Amerika kembali diteror upaya pengeboman pesawat North
Airlines yang gagal dilakukan seorang penumpang asal Nigeria, pada 25 Desember lalu. Sam
al-Balawi dia juga merupakan simpatisan al-Qaidah di Yaman.
***

Menurut sejumlah pengamat, mengoperasikan agen ganda merupakan salah satu taktik and
dalam beroperasi di wilayah-wilayah yang sulit ditembus. Dengan mengandalkan tenaga lok
berharap bisa mendapatkan informasi intelijen yang lebih akurat dan lengkap. Itulah pula h
CIA kepada al-Balawi, yang dikenal memiliki jaringan yang cukup luas di Afganistan.

Namun, seperti diakui CIA, bermain agen ganda memiliki resiko tersendiri. Menurut buku pa
yang ditulis pada 1960an, itu merupakan operasi kontra intelijen yang rumit dan membutuh
perhatian khusus.

Amerika dan Inggris pernah dengan cemerlang memanfaatkan agen ganda saat berperang d
Nazi di Perang Dunia Kedua. Mereka mengetahui bahwa Nazi menempatkan seorang intel as
di Inggris bernama Juan Pujol Garcia, yang memiliki kode sandi “Garbo.”

Garcia berhasil diciduk, namun penangkapannya tidak diketahui dinas intelijen Jerman, Abw
Berkat imbalan dan ampunan dari pimpinan intelijen Amerika dan Inggris, Garcia sepakat be
sama dan sengaja dibiarkan bekerja untuk Abwehr.

Sembari mengumpulkan data-data intelijen dari Jerman, Garcia lalu ditugasi menyuplai info
sesat kepada Nazi mengenai kekuatan dan pergerakan pasukan sekutu di Inggris.

Operasi pengecohan Garcia yang terkenal terjadi saat Sekutu mempersiapkan penyerbuan k
Garcia berhasil meyakinkan para penghubungnya dari Jerman bahwa Sekutu akan melancar
serangan menuju Norwegia. Mendengar, informasi itu,

Nazi menumpuk kekuatan di Norwegia sekaligus mengurangi kekuatannya di Prancis. Hitler


pimpinan militer Jerman termakan informasi sesat yang dikirim Garbo. Sekutu tidak pernah
menyerang Norwegia, melainkan menggempur Prancis di Pantai Normandy, pada 6 Juni 194
menjadi titik balik kemenangan pasukan Sekutu.

Berkat informasi yang didapat Garcia dari Jerman, Sekutu berhasil mengantisipasi serangan
Nazi. Garbo pun terus menyuplai informasi sesat kepada Jerman hingga berakhirnya Perang

Atas jasanya itu, Garcia mendapat penghargaan Iron First Class dari pemerintah Inggris. Pa
penghargaan prestisius itu selama ini hanya diberikan kepada mereka yang bertempur di m
perang. Menyusul kesuksesan Garbo, pada Perang Dingin Amerika gencar mengerahkan ag
ganda mereka.

***

Kolonel John Hughes-Wilson, mantan pejabat intelijen Inggris, mewanti-wanti agen ganda h
dikendalikan dan selalu diawasi dengan ketat. Lengah sedikit, kata Hughes-Wilson bayarann
insiden fatal seperti di Afganistan itu.
“Di sinilah kesalahan Yordania. Mereka merekrut seseorang yang pada dasarnya adalah jiha
berpikir bisa dengan gampang mengubah pendiriannya selama di penjara.”

• VIVAnews

KOMENTAR : Ini baru Intel asing yang diketahui,belum yang direkrut dari Bangsa Indonesia
tidak diiketahui seberapa luas jaringannya karena pejabat yang bisa dibeli begitu banyaknya
tidak memiliki idealisme bangsa dan rasa cinta tanah air,ahanya memikirkan kepentingan Pr
keluarganya rela mengorbankan masa depan bangsanya terpuruk dalam jurang penjajahan
terselubung.

Tags: sejarah

audio reply video reply

Add a Comment

Copyright 2010 Multiply Inc, 6001 Park of Commerce, Boca Raton, FL 33487, USA
Stop e-mails, view our privacy policy, or report abuse: click here