Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH ISBD

MANUSIA DAN KEINDAHAN

DISUSUN OLEH

NAMA : SAMUEL BUTAR BUTAR

NPM : 090801108
LATAR BELAKANG

Ditinjau dari segi bahasa, Keindahan berasal dari kata Indah, diartikan sebagai keadaan
yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan identik dengan kebenaran.
Keindahan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah keindahan.
Keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan. Keindahan dalam arti
estetika murni menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala
sesuatu yang diserapnya. Keindahan dalam arti terbatas mempunyai arti yang lebih disempitkan
sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan Indera Penglihatan, yakni
berupa keindahan bentuk dan warna.
Nilai Estetik menurut Teori The Liang Gie menjelaskan bahwa, pengertian keindahan
dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomi, nilai Pendidikan,
dan sebagainya.
PERUMUSAN MASALAH

Dalam materi pembahasan tentang Manusia dan Keindahan, ada beberapa hal-hal yang
akan dibahas, dimana setiap pointnya mempunyai keterkaitan yang saling berhubungan,
diantaranya adalah sebagai berikut :
I. PENGERTIAN KEINDAHAN
1. Apakah Keindahan Itu ?
2. Nilai Estetika
3. Apa Sebab Manusia Menciptakan Keindahan ?
II. MAKNA KEINDAHAN
III. MANUSIA DAN KEINDAHAN
ANALISIS

I. PENGERTIAN KEINDAHAN
Keindahan berasal dari kata Indah, Keindahan atau "Beauty" adalah sifat dari sesuatu
yang memberi kita rasa senang bila melihatnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok.
Keindahan juga dapat memberikan kita rasa keingintahuan tentang hal tersebut semakin terus
bertambah.
Keindahan juga identik dengan kebenaran. Keindahan adalah kebenaran, dan kebenaran
adalah keindahan. Keduanya memiliki nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik
yang bertambah, yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah.
Keindahan juga bersifat Universal, yang tidak terikat oleh selera perorangan, waktu dan
tempat, selera mode, kedaerahan. Kemudian pertanyaannya apakah keindahan itu? Apakah nilai
Estetik itu? Yang mendorong manusia menciptakan keindahan.

1. Apakah Keindahan itu ?


Menurut sejarah Yunani kuno abad 18, pada saat itu pengertian keindahan telah di
pelajari oleh para Filsuf. Menurut The Liang Gie dalam bukunya “Garis Besar Estetik” (Filsafat
Keindahan), dalam bahasa Inggris Keindahan diterjemahkan dengan kata “Beautiful”, bahasa
Perancis “Beau”, Italia dan Spanyol “Bello”, kata-kata itu berasal dari bahasa Latin “Bellum”,
akar katanya adalah “Bonum” yang berarti Kebaikan kemudian mempunyai bentuk pengecilan
menjadi “Bonellum” dan terakhir dipendekkan menjadi “bellum”. Kemudian menurut luas
cakupannya, Keindahan dibedakan menjadi tiga macam pengertian, yaitu :

• Keindahan Dalam Arti Luas


Keindahan dalam arti luas, menurut The Liang Gie, mengandung gagasan tentang
kebaikan. Untuk ini bisa dilihat misalnya dari pemikiran Plato, yang menyangkut adanya watak
yang indah dan hukum yang indah: Aristoteles yang melihat keindahan sebagai sesuatu yang
baik dan juga menyenangkan; Plotinus yang berbicara tentang ilmu yang indah dan kebajikan
yang indah atau bisa pula disimak dari apa yang biasa dibicarakan oleh orang-orang Yunani
mengenai buah pikiran yang indah dan adat kebiasaan yang indah. Tetapi bangsa Yunani juga
mengenal pengertian keindahan dalam arti estetik disebutnya “Syimmetria”, untuk keindahan
berdasarkan pengelihatan. (misalnya pada seni pahat dan arsitektur) dan “Harmonia” untuk
keindahan bedasarkan pendengaran (musik). Jadi pengertian yang seluar-luasnya meliputi :
o Keindahan Seni
o Keindahan Alam
o Keindahan Moral
o Keindahan Intelektual

• Keindahan Dalam Arti Estetika Murni


Hal ini murni menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan
segala sesuatu yang diserapnya.

• Keindahan Dalam Arti Terbatas


Keindahan dalam arti terbatas mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya
menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan Indera Penglihatan, yakni berupa
keindahan bentuk dan warna. Filsuf seni merumuskan keindahan sebagai kesatuan hubungan
yang terdapat antara penerapan-penerapan inderawi kita (Beauty is unity of formal realitions of
our sense percepctions). Thomas Aquinos (1225-1274) mengatakan bahwa keindahan adalah
sesuatu yang menyenangkan bila mana dilihat (Id qout visum placet).

2. Nilai Estetika
Kata estetika berasal dari kata Aesthesis yang artinya perasaan atau sensitivitas, karena
memang pada awalnya pengertian ini berhubungan dengan lidah dan perasaan. Dalam pengertian
teknis, Estetika adalah ilmu keindahan atau ilmu yang mempelajari keindahan, kecantikan secara
umum. Pengertian ini berdasarkan kepada, bila kita memandang sesuatu obyek dan obyek itu
dapat memberikan rasa senang, puas dan sebagainya yang sejalur dengan kata tersebut, maka
dapat dikatakan obyek yang dipandang itu mengandung keindahan. Dalam perkembangannya,
pengertian ini, kemudian berubah meluas, tidak lagi berkaitan dengan lidah dan perasaan, tetapi
berhubungan dengan pikiran, etika dan logika. Teori The Liang Gie menjelaskan bahwa,
pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai Moral, nilai
Ekonomi, nilai Pendidikan, dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang
tercakup dalam pengertian keindahan disebut Nilai Estetik.
Masalah sekarang ialah: apakah Nilai Estetik. itu? Dalam bidang filsafat, istilah nilai
sering kali dipakai suatu kata benda abstrak yang berarti keberhargaan (Worth) atau kebaikan
(Goodness). Dalam “Dictionary Of Sociology And Related Science” diberikan rumus tentang
nilai sebagai berikut :
“The believed Capacity of any object to saticgy a human desire. The Quality of any object which
causes it be of interest to an individual or a group” (Kemampuan yang dianggap ada pada suatu
benda yang dapat memuaskan keinginan manusia. Sifat dari suatu benda yang menarik minat
seseorang atau suatu kelompok).
Hal itu berarti, bahwa nilai ini adalah semata-mata adalah realita psikologi yang harus
dibedakan secara tegas dari kegunaan, karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada
hendaknya itu sendiri. Nilai itu (oleh orang) dianggap terdapat pada suatu benda sampai terbukti
letak kebenarannya. Tentang nilai itu ada yang membedakan antara nilai subjektif dan objektif,
atau ada yang membedakan nilai perseorangan dan nilai kemasyarakatan. Tetapi penggolongan
yang penting ialah : Nilai Ekstrinsik dan Nilai Instrinsik. Nilai Ekstrinsik adalah sifat baik dari
suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya (instrumental/Contributory value),
yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu. Nilai Instrinsik adalah sifat baik dari benda
yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu sendiri.
Contoh :
1) Puisi, bentuk puisi yang terdiri dari bahasa, diksi, baris, sajak, irama, itu disebut nilai
ekstrinsik. Sedangkan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui (alat benda) puisi
itu disebut Nilai Intrinsik.
2) Tari, tarian Kecak dari Bali suatu tarian yang halus segala macam jenis pakaian dan gerak
geriknya. Dan merupakan nilai ekstrinsik.
3. Apa Sebab Manusia Mencipta Keindahan
Keindahan itu pada dasarnya adalah alamiah. Alam itu ciptaan Tuhan. Ini berarti bahwa
keindahan itu ciptaan Tuhan. Alamiah itu artinya wajar, tidak berlebihan tidak pula kurang.
Kalau pelukis wanita lebih cantik dari keadaan sebenarnya, justru tidak indah. Karena akan ada
ucapan “lebih cantik dari warna aslinya”. Bila ada pamain drama yang berlebih-lebihan,
misalnya marah dengan meluap-luap padahal kesalahan kecil, atau karena kehilangan sesuatu
yang tak berharga kemudian menangis meraung-raung, itu berarti tidak alamiah. Dibawah ini
adalah alasan dan tujuan manusia menciptakan
keindahan :
1. Tata nilai yang telah usang
Tata nilai yang sudah tidak sesuai dengan kondisi dan keadaan pada zaman sekarang, sehingga
dirasakan sebagai hambatan yang dapat merugikan nilai-nilai kemanusiaan dan dipandang
sebagai hak-hal dapat mengurangi nilai moral bermasyarakat, sehingga bisa dikatakan tiodak
indah.
2. Kemerosotan zaman
Keadaan yang merendahkan derajat dan nilai kemanusiaan ditandai dengan kemerosotan moral.
Kemerosotan moral dapat diketahui dari tingkah laku dan perbuatan bejat terutama dari segi
kebutuhan seksual. Kebutuhan seksual ini dipenuhinya tanpa menghiraukan ketentuanketentuan
agama dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Yang demikian itu tidak baik, yang
tidak baik iu tidak indah.
3. Penderitaan Manusia
Penderitaan merupakan hal yang pernah dialami semua orang, dan hal ini merupakan resiko
hidup manusia, yang diberikan oleh Tuhan agar manusia sadar untuk tidak menjauh dariNya.
Walaupun penderitaan adalah resiko hidup manusia, tapi hampir semua orang menyukai adanya
penderitaan, dan menganggap penderitaan merupakan hal yang tidak baik, yang tidak baik iu
tidak indah.
4. Keagungan Tuhan
Keindahan merupakan anugerah yang diberikan oleh manusia dan maka dari itu kita sebagai
manusia wajib mensyukurinya, dan sebagian dari kita mengungkapkan rasa syukur tersebut
dalam bentuk karya seni, seperti melukis pemandangan, yang merupakan hasil karya seni yang
Agung yang diciptakanoleh Allah untuk kita sebagai hambanya.
II. MAKNA KEINDAHAN
Beberapa definisi keindahan berdasarkan pendapat para ahli antara lain menjelaskan
(Gie, 1996 : 13-14) :

- Mortiner Adler : Sifat dari suatu benda yang memberi kita kesenangan yang tidak
berkepentingan yang kita bisa memperolehnya semata-mata dari memikirkan atau melihat benda
individual itu sebagaimana adanya.
- Thomas Aquinas : Sesuatu yang menyenangkan ketika dilihat.
- Aristoteles : selain yang baik juga adalah menyenangkan.
- Charles J. Bushell : Kualitas yang mendatangkan penghargaan yang mendalam tentang bebagai
nilai atau ideal yang membangkitkan semangat Keindahan adalah perpaduan dari sesuatu yang
baik bentuknya dengan yang bertenaga hidup.
- Samuel Coleridge : Kini studi estetika sebagai ilmu yang dipelajari bukanlah cara untuk
menikmati keindahan, tetapi usaha untuk memahami keindahan. Walaupun rasa keindahan
bersifat subyektif, bergantung kepada rasa perseorangan. Secara keilmuan dapat diobjektifkan.
- Tolstoy : Keindahan adalah sesuatu yang mendatangkan rasa menyenangkan bagi yang melihat.
- Baumgarten : Keindahan adalah keseluruhan yang merupakan susunan yang teratur dari bagian-
bagian yang saling berhubungan satu sama lain, atau dengan keseluruhan itu sendiri. Atau,
“Beauty is an order of parts in their manual relations and in an relation to the whole”
- Shaftesbury : Yang indah adalah yang memiliki proporsi yang harmonis. Karena proporsi yang
harmonis itu nyata, maka keindahan itu dapat disamakan dengan kebaikan. Jadi yang indah
adalah nyata dan yang nyata adalah yang baik.
- David Hume : Keindahan adalah suatu yang dapat mendatangkan rasa senang
- Hamsterhuis : Yang indah adalah yang paling banyak mendatangkan rasa senang, dan itu
adalah yang dalam waktu sesingkat-singkatnya paling banyak memberikan pengalaman yang
menyenangkan.
- Kahlil Gibran : Keindahan adalah sesuatu yang menarik jiwamu. Keindahan adalah cinta yang
tidak memberi namun menerima.
- Winchelmann : Keindahan dapat terlepas sama sekali dari kebaikan
- Sulzer : Yang indah hanyalah yang baik. Jika belum baik ciptaan itu belum indah. Keindahan
harus dapat memupukan rasa moral. Jadi ciptaan-ciptaan yang amoral tidak bisa dikatakan indah,
karena tidak dapat digunakan untuk memupuk moral

III. MANUSIA DAN KEINDAHAN

Akal dan budi merupakan kekayaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Oleh
akal dan budi manusia memiliki kehendak atau keinginan pada manusia ini tentu saja berbeda
dengan “kehendak atau keinginan” pada hewan karena keduanya timbul dari sumber yang
berbeda kehendak atau keinginan pada manusia bersumber dari akal dan budi, sedangkan
kehendak dan keinginan pada hewan bersumber dari naluri.
Sesuai dengan sifat kehidupan yang menjasmani dan merohani, maka kehendak dan
keinginan manusia itu pun bersifat demiikian. Jumlahnya tak terbatas. Tetapi jika dilihat dari
tujuannya, satu hal sudah pasti yakni, untuk menciptakan kehidupan yang menyenangkan, yang
memuaskan hatinya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa yang mampu menyenangkan atau
memuaskan hati setiap manusia itu tidak lain adalah sesuatu yang “Baik”, yang “Indah”. Maka
“Keindahan” pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia; karena dengan keindahan itu
manusia merasa nyaman hidupnya. Melalui suasana keindahan itu peraasaan “(ke)-manusia-
(annya)” tidak terganggu.
Keindahan yang bersifat jasmani yang dimaksudkan ialah keindahan yang dapat
“menyenangkan” atau “memuaskan“ indera manusia; baik indera penglihatan maupun indera
pendengaran. Keindahan yang bersifat rohani dimaksudkan keindahan yang dapat
“menyenangkan” atau “memuaskan“ batin manusia. Tetapi perlu segera dipahami bahwa
walaupun secara material keduanya dapat dibedakan, secara Esensial keduanya tidak dapat
dipisahkan; karena pada akhirnya “Unsur kemanusiaan” itulah yang harus menjadi penentunya.
Sebuah lukisan yang secara lahiriah “menyenangkan” tetapi jika “batin” manusia menolaknya
karen lukisan itu dapat ”merusak”. Kemanusiaan manusia, maka lukisan itu tidak berhak disebut
indah. Kodrat manusia selalu mendambakan sesuatu yang baik, yang dapat menyempurnakan
kemanusiaannya. Disadari atau tidak setiap manusia tidak senang terhadap sesuatu yang jorok,
yang tidak baik, dan yang merendahkan martabatnya. Karena itu “Keindahan” bagi manusia
sebenarnya bukan sekedar sesuatu yang menjadi “harapannya“ melainkan merupakan sesuatu
yang “harus diusahakan adanya”. Salah satu definisi yang paling dikenal adalah hasil pemikiran
penyair romantik Inggris, John Keats. Dibukunya yang ditulis tahun 1817, Endymion, terapat
definisi tentang Keindahan semacam ini : “A thing of beauty is a joy forever : It’s loveliness
increases; it will never pass into nothingness”. “Sesuatu yang indah adalah kegembiraan selama-
lamanya : Kemolekannya bertambah, dan takkan pernah menuju ketiadaan”.
Menurut John Keats, keindahan objektif disamakan dengan kebenaran. Keindahan adalah
kebenaran, dan kebenaran adalah keindahan. Sebab keduanya memiliki nilai yang sama, yaitu
Universal dan Abadi. Disamping itu juga mempunyai daya tarik yang selalu bertambah jelasnya
tidak ada keindahan jika tidak mengandung kebenaran, dan yang tidak mengandung kebenaran
tidak indah.
KESIMPULAN

Keindahan berasal dari kata Indah, Keindahan adalah sifat dari sesuatu yang memberi
kita rasa senang bila melihatnya, keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok.
Keindahan dalam arti luas, menurut The Liang Gie, mengandung gagasan tentang kebaikan.
Keindahan Dalam Arti Estetika Murni menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam
hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya. Keindahan dalam arti terbatas mempunyai
arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan
Indera Penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna.
“Keindahan” pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia; karena dengan
keindahan itu manusia merasa nyaman hidupnya. Melalui suasana keindahan itu peraasaan “(ke)-
manusia-(annya)” tidak terganggu.
DAFTAR PUSTAKA

Widagdho, Djoko, Drs, Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008)

Akiel, Ahiruddin, S.Pd, Bahan Kuliah Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta, Unindra)

M.P., Suyadi, Drs., Buku Materi Pokok IBD, (Jakarta : Depdikbud, 1984)

Situs resmi Wikipedia berbahasa Indonesia : tentang Keindahan

Situs www.cariilmuonline.com, Pakde Sofa : Ilmu Budaya Dasar Bag. 1