Anda di halaman 1dari 5

BULETIN PENYEJUK HATI

EDISI 17

Terjaganya Keturunan Nabi SAW


Keutamaan Nasab Nabi SAW
Keluarga Nabi Muhammad SAW atau Ahlu al-Bait adalah orang-orang yang disucikan oleh
Allah SWT sebagaimana dalam firman-Nya di QS. al-Ahzab, 33. Dari Ummi Salamah RA, "Setelah
turun ayat (QS. al-Ahzab: 33.) Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa kamu wahai
ahli bait (anggota keluarga Rasulullah). Dan dia hendak membersihkan kamu sebersih-
bersihnya". Maka Rasulullah SAW menutupkan kain kissa’nya (surbannya) di atas Ali, Fathimah,
Hasan dan Husain, seraya berkata, ”Ya Allah mereka adalah ahli baitku, maka hapuskanlah dosa
dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya". (Sunan al-Tirmidzi, [2139])

Pertalian dengan Rasulullah dan bernasab dengannya itu merupakan salah satu
kemuliaan yang besar. Para ulama sepakat bahwa para habaib adalah orang–orang paling baik
keturunannya dari sisi ayah (nasab) nya, namun mereka tetap sejajar dengan lainnya dalam
bidang hukum-hukum syari’ah dan hudud.

Rasulullah saw bersabda: ”Apa keadaan orang–orang yang menyangka, bahwa hubungan
kekerabatan denganku tidak bermanfaat. Sesungguhnya setiap sebab pertalian dan nasab pada
hari kiamat nanti terputus, kecuali pertalian sebab aku dan sebab nasabku. Sesungguhnya
pertalian keluarga denganku itu tetap sambung di dunia dan akhirat.” (HR. Al – Bazzar dan At –
Thobroni)

Para ulama sepakat, bahwa di antara khushusiyyah Nabi Saw. adalah anak-anak puteri
beliau bernasab kepada beliau semuanya secara sah, berdasarkan sabda beliau :

Sesungguhnya Allah menjadikan keturunan semua nabi pada sulbinya, dan Allah
menjadikan keturunanku pada Sulbi Ali bin Abi Thalib. “(HR. Imam At – Thobroni)

Setiap anak laki–laki seorang ayah memiliki ashobah (penerima bagian ashabah). Kecuali
dua puteri Fatimah, karena akulah wali keduanya dan ashobah mereka berdua (HR. Al – Hakim)

Mencintai Keluarga Nabi SAW

Nabi SAW sendiri memerintahkan kita umat Islam untuk menghormati dan memuliakan
keluarga beliau. Dalam salah satu hadits, Nabi SAW bersabda :
"Dari Abi Said al-Khudri berkata, "Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya aku tinggalkan
untuk kalian dua wasiat, Kitabullah (al-Qur'an) dan keluargaku". (Sunan al-Tirmidzi, [3720])

"Cintailah Allah karena kenikmatan yg dilimpahkan-Nya pada kalian, dan cintailah aku
karena kecintaan kalian kepada Allah, dan cintailah Ahlulbaitku karena kecintaan kalian
kepadaku". (HR Tirmidzi)

“Sesungguhnya nabi SAW telah bersabda sedangkan beliau di atas mimbar,” Apa keadaan
kaum yang menyakiti aku dalam nasab dan kerabatku, ingat, barang siapa yang menyakiti
keturunanku dan orang – orang yang mempunyai hubungan denganku, berarti ia menyakiti aku,
dan barang siapa menyakiti aku, maka ia benar-benar menyakiti Allah ta’ala,” (HR. At –
Thobroni dan AL – Baihaqi)

Terjaganya Keturunan Nabi SAW

Terjaganya keturunan Nabi SAW hingga sekarang disepakati ulama dan dibuktikan dengan
adanya catatan silsilah dan sejarah yang terkodifikasi (dibukukan). Dalam Tafsir Jalalain Surat
Al-Kautsar, kata Al-Kautsar ditafsirkan juga sebagai keturunan. Dijelaskan dalam asbabun
nuzulnya bahwa celaan yang pada mulanya dilontarkan kafir Quraisy (salah satunya ‘Ash bin
Wail) kepada Nabi bahwa Nabi itu tidak akan punya keturunan lagi karena sudah tidak
mempunyai anak laki-laki, dikembalikan oleh Allah SWT kepada kafir Quraisy dan menyebut
mereka yang membenci Nabi dengan sebutan Al-Abtar.

Dari Ibnu Mas’ud ra. Ia berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda diantara
mimbar, “Bagaimana orang–orang yang mengatakan, bahwa keluarga Rasullah saw. Tidak
memberi manfaat pada kaumnya besok di hari kiamat. Demi Allah, keluargaku tetap
bersambung denganku di dunia dan di akhirat, dan sesungguhnya aku hai orang – orang,
mendahului kamu semua di telaga (Al – Kautsar)”. (HR. Aljunaid, Al – Hakim dan Al – Baihaqi)

Seperti yang dijelaskan dalam Hadits Nabi SAW, Allah SWT telah memberikan kekhususan
pada Nabi dan putri beliau Fathimah ra. sehingga keturunan Nabi terjaga yakni lewat kedua
putra Ali bin Abi Thalib ra. dengan Fathimah Ra, Sayyidina Hasan dan Husein.

Ada kalangan yang menganggap bahwa semua keturunan Nabi sudah berhenti dengan
terbunuhnya Sayyidina Husein dan keluarga saat di Karbala. Namun, perlu diketahui bahwa ada
salah satu putra beliau bernama Sayyidina Ali Zainal ‘Abidin yang saat itu selamat dari ancaman
pembunuhan oleh Pasukan Yazid bin Muawiyah berkat kegigihan Zainab binti Ali bin Abi Thalib
ra. mempertahankan keponakannya itu.

Demikian pula Keturunan Nabi lewat Sayyidina Hasan ra. pun masih ada hingga sekarang
dengan silsilah nasab yang tercatat. Wallahu A’lam bishowab.
Alawiyin dan Perannya di Indonesia
Kaum Alawiyin adalah keluarga keturunan Alawi yaitu Alawi (Alwi) bin Ubaidillah bin
Ahmad (Al-Muhajir) bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far bin Muhammad al-Baqir
bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fathimah ra binti Rasulullah SAW.
Makna kata Alawi atau Alawiyin dalam jamaknya, memang lebih dari satu selain diatas,
yakni berarti tarekat alawiyin atau pengikutnya, atau pendukung Ali bin Abi Thalib, atau
keturunan Ali bin Abi Thalib. Namun berbeda makna dengan Kaum Alawi di Syiria (Suriah)
karena mereka itu bermakna kaum Nushairi yang berasal dari pegunungan Alawia yang
merupakan sempalan syiah ekstrem yang menyimpang dari ajaran islam bahkan tidak diakui
kalangan syiah sendiri.

Tersebarnya islam tak lepas dari jasa kaum Alawiyin. Luput dari serbuan Hulagu Khan,
maharaja Cina, yang menamatkan kekhalifahan Bani Abbas (1257 M), yang memang telah
dikhawatirkan oleh Ahmad bin Isa, maka di Hadramaut Alawiyin menghadapi kenyataan
berlakunya undang-undang kesukuan yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan kenyataan
bahwa penduduk Hadramaut adalah Abadhiyun yang sangat membenci sayidina Ali bin Abi-
Talib r.a. Dalam menjalankan “tugas suci” menyebarkan islam, mengikuti Kakek merek, Nabii
Muhammad SAW, banyak dari suku Alawiyin tidak segan-segan mendiami di lembah yang
tandus. Alawiyin mulai memperoleh sukses dalam menghadapi Abadhiyun itu setelah Al-Faqih
Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi memilih mazhab Syafi’i.

Di antara mereka yang sangat terkenal ialah keturunan Abdul Malik bin Alwy bin
Muhammad (Shohib Mirbath) bin Ali (Kholi Qosam) bin Alwy bin Muhammad bin Alwy bin
Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir. Sayid Abdul Malik tersebut pergi dari Hadromaut dan
menetap di India dan anak cucunya membaur dengan penduduk negeri dan menggunakan
nama-nama dan gelar-gelar India. Dalam buku nasab kaum Alawiyin, mereka disebut sebagai
keluarga Adzamat Khan. Diantara mereka pergi ke Asia Tenggara yang diantara anak cucunya
kemudian dikenal di Indonesia sebagai Wali Songo.

Jamaluddin Husain al-Akbar adalah orang pertama dari keluarga Adzamat Khan yang
datang dan menetap di Indonesia. Ia adalah putra Ahmad Jalal Syah (lahir dan wafat di India)
bin Abdullah khan bin Abdul-Malik (wafat di India) bin Alwi (wafat di Tarim Hadromaut) bin
Muhammad (Shahib Marbath) dan seterusnya sampai Imam al-Muhajir. Jamaluddin datang ke
Indonesia dengan membawa keluarga dan sanak kerabatnya, lalu meninggalkan salah seorang
putranya bernama Ibrahim Zain al-Akbar di Aceh untuk mengajarkan tentang Islam, sedangkan
ia sendiri mengunjungi kerajaan Majapahit di Jawa kemudian merantau lagi ke daerah Bugis
(Makassar dan Ujung pandang) dan berhasil dalam penyiaran Islam dengan damai sampai ia
wafat di daerah Wajo, Makassar. Ia meninggalkan tiga orang putra, yaitu Ibrahim Zainuddin al-
Akbar (yang ditinggal oleh ayahnya di Aceh), Ali Nurul Alam dan Zainal Alam Barakat.

Ibrahim Zainuddin al-Akbar (alias Ibrahim Asmoro) wafat di Tuban Jawa Timur dan
meninggalkan tiga orang putra yakni: Ali Murtadha, Maulana Ishaq, (ayah dari Muhammad
Ainul Yakin /Sunan Giri) dan Ahmad Rahmatulloh Sunan Ampel (ayah dari Ibrohim Sunan
Bonang, Hasyim Sunan Drajat, Ahmad Husanuddin Sunan Lamingan, Zainal Abidin Sunan
Demak, Jafar Shodiq Sunan Kudus).

Ali Nurul Alam putra dari Jamaluddin Husein Al Akbar, wafat di Anam (Siam)
meninggalkan seorang putra yaitu Abdulloh Khan yang wafat di Kamphuchea (Kamboja). Dua
orang putra Abdulloh beliau adalah Baabulloh Sultan Ternate dan Syarif Hidayatulloh Sunan
Gunung Jati (ayah dari Sultan Hasanuddin, Sultan Banten yang pertama).

Zainal Alam Barokat, putra ketiga dari Jamaluddin Husen Al Akbar, wafat di Kampuchea
atau di Cermin, meninggalkan dua orang putra yaitu Ahmad Zainal Alam dan Maulana Malik
Ibrohim (wafat di Gresik).

Dari kalangan keluarga Alawiyin lainnya tercatat nama-nama para pahlawan


kemerdekaan RI antara lain Pangeran Diponegoro, nama beliau adalah Mas Ontowiryo beliau
lahir pada tanggal 17 Nopember 1785, ayah beliau adalah Hamengkubuwono III ( Sayyid Husein
bin Alwy Baabud ). Tuanku Imam Bonjol nama beliau adalah Muhammad bin Shahab lahir pada
tahun 1772 ayah beliau seorang ulama yang bernama Sayid Khatib Bajanuddin Bin Shahab dll.

Selanjutnya dapat disebutkan disini beberapa nama lainnya yang berjasa dibidang dakwah
dan pendidikan mulai sekitar tahun 1800 M, antara lain :

* Sayid Idrus bin Salim Al Jufry di Palu, Sulawesi penyebar Islam di wilayah Timur

* Habib Ali bin Abdurrohman Al Habsyi, pendiri Islamic Center yang terletak di Kwitang

* Sayid Muhammad bin Abdurrohman bin Shahab, salah seorang pendiri Jamiatu Khair,
dan masih banyak sekali.

Alawiyin yang lebih dikenal dengan sebutan sayid, habib, ayib dan sebagainya tetap
dicinta dimana-mana dan memegang peranan rohani yang tidak dapat dibuat-buat
sebagaimana juga di negara islam lain. Kebiasaan dan tradisi Alawiyin pun diikuti dalam
Perayaan maulid Nabi, haul, nikah, upacara-upacara kematian dan sebagainya.

Suku-suku Alawiyin di Indonesia yang berjumlah kurang lebih 50.000; ada banyak yang
dominan, antara lain Al-Saggaf, Al-Attas, Al-Syihab, Al-Habsyi, Al-Aydrus, Al-Kaf, Al-Jufri, Al-
Haddad dan semua keturunan asal-usul ini dicatat dan dipelihara pada Al-Maktab Al-Da-imi
yaitu kantor tetap untuk statistik dan pemeliharaan nasab sadatul-alawiyin yang berpusat di
gedung “Darul Aitam” jalan K.H. Mas Mansyur (dahulu jalan Karet) No. 47, Jakarta Pusat (II/24).

Fadhilah Amal: Bulan Sya’ban (Bulan Rasulullah SAW)

Bulan ini dinamakan Sya’ban karena bulan ini sya’ab (menonjol) dari bulan-bulan lainnya.
Rasulullah SAW, bersabda, “Pada bulan itu (Sya’ban) muncul bercabang-cabang kebaikan yang
banyak”
Malam Nishfu Sya’ban

Malam Nishfu Sya’ban dipandang sebagai malam termulia setelah malam Lailatul qadar. Jika
malam Jumat adalah penebus dosa-dosa seminggu, maka malam Nishfu Sya’ban adalah
penebus dosa-dosa setahun sementara malam Lailatul qadar adalah penebus dosa-dosa
seumur hidup yang mungkin umur kita tidak mencapainya (1000 bulan).

Allah membukakan 300 pintu rahmat-Nya bagi manusia yang tidak menyekutukan Allah pada
malam nisfhu Sya’ban kecuali orang-orang ahli sihir, tukang tenung, orang yang saling marah
dan bermusuhan, orang yang durhaka pada orang tuanya, orang yang mengadu domba, orang
yang suka berzina, orang yang senang minum-minuman khamr dan sejenisnya dan orang yang
makan harta dengan riba, serta orang yang memutuskan tali kekeluargaan. Mereka tidak akan
diampuni hingga mereka bertaubat dan meninggalkan perbuatan tersebut.

Dikisahkan bahwa pada malam ini Nabi Muhammad SAW dibangunkan Malaikat Jibril agar
Shalat dan berdoa kepada Allah SWT. Hal ini patut kita ikuti sebagai penambah nilai amaliyah
kita. Dianjurkan pula kita membaca Surat Yasin tiga kali di awal waktu sesudah shalat Maghrib.
Niat Pertama ialah mohon dipanjangkan umur untuk beribadah. Niat Kedua ialah minta
dipelihara dari bencana, disembuhkan dari penyakit, dan diluaskan rizqinya. Niat ketiga adalah
minta kaya hati dari segala makhluq (tidak butuh pada makhluq) dan memohon khusnul
khotimah. Wallahu a’lam bishshowwab.

Mutiara Hikmah
Wasiat Sulthanul Auliya' Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily:

"Aku bertanya kepada guruku tentang sabda Nabi SAW: "Buatlah mudah dan jangan berbuat
kesulitan, tebarkan kegembiraan dan janganlah membuat mereka terusir..." Beliau menjawab,
"Tunjukkanlah mereka kepada Allah dan janganlah engkau tunjukkan mereka kepada selain
Allah. Orang yang menunjukkan jalan kepada dunia, maka dunia akan menggulung anda. Orang
yang menunjukkan jalan amal, maka amal itu akan membuat anda terbebani. Dan orang yang
menujukkan anda kepada Allah, maka benar-benar menjadi penasehat anda.”