Anda di halaman 1dari 2

Saat anak kecil diberikan standar

Apa yang pertama kali dirasakan, dengarkan dan dilihat seorang manusia saat
muncul di bumi akan menjadi parameter awal dalam pembentukan paradigmanya. Jika
saar lahir yang ia dengarkan adalah lantunan ayat – ayat suci, maka pikiran bawah
sadarnya akan membentuk standar keindahan irama ayat suci dan logikanya terbentuk
memahami makna tersirat dari isi ayat suci. Jika papa mamanya sering bertengkar maka
stem awal di syaraf pendengarannya adalah nada – nada tinggi. Susah sekali untuk
mengembalikan standarnya ke nada- nada rendah.
Seorang anak yang sering dimarahin dan dibesarkan dengan intimidasi seperti ;
“Bobby, taroh remotenya, kalau ga mama masukin ke kamar mandi ya ??!!!”. Misalkan
terjadi standar ganda , saat Papa nya mencoba melarang dengan anaknya : “ Sayang taroh
remotenya ya, ntar Papa beliin permen deh” seringnya yang terjadi adalah si Anak tidak
lagi menuruti permintaan Papanya. Karena terbiasa dengan nada tinggi saat dimasukkan
perintah ke dalam otaknya.
Sering kita dengar lelucon anak – anak kecil di Inggris sudah pintar –
pintar bahasa inggris padahal tidak pernah kursus bahasa inggris. Karena memang itulah
standar bahasa yang didengarnya secara terus menerus setiap hari. Otak manusia belajar
atas 3 pendekatan :
1. Penglihatan
2. Pendengaran
3. Sentuhan
Dengan ekspresi kesal karena anaknya ribut terus main mobil – mobilan di ruang
tengah sang ibu bilang ke anaknya : “ kamu jangan ribut aja, mama lagi nonton
sinetron nih.. Kamu duduk diam disini, Nonton tivi aja “ . Sang Ibu
menggerakkan jari tangannya menunjuk tivi, menggerakkan kepalanya dengan
menatap si anak lalu menonton televisi lagi. Bahasa tubuh si Ibu mengisyaratkan
si anak untuk memfokuskan pandangannya pada objek televisi. Si anak melihat
dan mendengar secara bersamaan. Jika perintah tersebut dilakukan berulang -
ulang, maka si anak pelan – pelaan akan dapat menangkap maksud si ibu secara
tepat. Dan semakin lama kalimat pun jadi bermakna tepat seperti yang diharapkan
si ibu.
Ibu yang tidak memahami cara kerja otak anak, sering langsung
memaksakan agar si anak paham maksudnya. Sama seperti seorang