Anda di halaman 1dari 12

Sejarah

sumpah pemuda sebagai peristiwa dan kisah

Sumpah Pemuda, Kisah Patriotisme Pemuda Indonesia untuk Mempersatukan Bangsa

Pada pertengahan 1923, serombongan mahasiswa yang bergabung dalam Indonesische


Vereeninging (nantinya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia) kembali ke tanah air.
Kecewa dengan perkembangan kekuatan-kekuatan perjuangan di Indonesia, dan melihat
situasi politik yang di hadapi, mereka membentuk kelompok studi yang dikenal amat
berpengaruh, karena keaktifannya dalam diskursus kebangsaan saat itu. Pertama, adalah
Kelompok Studi Indonesia (Indonesische Studie-club) yang dibentuk di Surabaya pada
tanggal 29 Oktober 1924 oleh Soetomo. Kedua, Kelompok Studi Umum (Algemeene
Studie-club) direalisasikan oleh para nasionalis dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di
Bandung yang dimotori oleh Soekarno pada tanggal 11 Juli 1925.

Suatu gejala yang tampak pada gerakan mahasiswa dalam pergolakan politik di masa
kolonial hingga menjelang era kemerdekaan adalah maraknya pertumbuhan kelompok-
kelompok studi sebagai wadah artikulatif di kalangan pelajar dan mahasiswa. Diinspirasi
oleh pembentukan Kelompok Studi Surabaya dan Bandung, menyusul kemudian
Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), prototipe organisasi yang menghimpun
seluruh elemen gerakan mahasiswa yang bersifat kebangsaan tahun 1926, kelompok
Studi St. Bellarmius yang menjadi wadah mahasiswa Katolik, Cristelijke Studenten
Vereninging (CSV) bagi mahasiswa Kristen, dan Studenten Islam Studie-club (SIS) bagi
mahasiswa Islam pada tahun 1930-an.

Lahirnya pilihan pengorganisasian diri melalui kelompok-kelompok studi tersebut,


dipengaruhi kondisi tertentu dengan beberapa pertimbangan rasional yang melatari
suasana politis saat itu. Pertama, banyak pemuda yang merasa tidak dapat menyesuaikan
diri, bahkan tidak sepaham dan kecewa dengan organisasi-organisasi politik yang ada.
Sebagian besar pemuda saat itu, misalnya menolak ideologi Komunis (PKI) maka mereka
mencoba bergabung dengan kekuatan organisasi lain seperti Sarekat Islam (SI) dan Boedi
Oetomo. Namun, karena kecewa tidak dapat melakukan perubahan dari dalam dan
melalui program kelompok-kelompok pergerakan dan organisasi politik tersebut, maka
mereka kemudian melakukan pencarian model gerakan baru yang lebih representatif.

Kedua, kelompok studi dianggap sebagai media alternatif yang paling memungkinkan
bagi kaum terpelajar dan mahasiswa untuk mengkonsolidasikan potensi kekuatan mereka
secara lebih bebas pada masa itu, dimana kekuasaan kolonialisme sudah mulai represif
terhadap pembentukan organisasi-organisasi massa maupun politik.

Ketiga, karena melalui kelompok studi pergaulan di antara para mahasiswa tidak dibatasi
sekat-sekat kedaerahan, kesukuan,dan keagamaan yang mungkin memperlemah
perjuangan mahasiswa.
Ketika itu, disamping organisasi politik memang terdapat beberapa wadah perjuangan
pemuda yang bersifat keagamaan, kedaerahan, dan kesukuan yang tumbuh subur, seperti
Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Jong Celebes, dan lain-lain.

Dari kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda itulah,
munculnya generasi baru pemuda Indonesia: generasi 1928. Maka, tantangan zaman yang
dihadapi oleh generasi ini adalah menggalang kesatuan pemuda, yang secara tegas
dijawab dengan tercetusnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah
Pemuda dicetuskan melalui Konggres Pemuda II yang berlangsung di Jakarta pada 26-28
Oktober1928, dimotori oleh PPPI.

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar


Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh
indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan
dibagi dalam tiga kali rapat. Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung
Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya,
Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari
para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Jamin tentang arti dan
hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat
persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas


masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro,
sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada
keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara
demokratis.

Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi


selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan
tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik
anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu “Indonesia” karya Wage Rudolf


Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres
ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir,
rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia, berbunyi :

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH
DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG
SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA
PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)


Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :

1. Abdul Muthalib Sangadji


2. Purnama Wulan
3. Abdul Rachman
4. Raden Soeharto
5. Abu Hanifah
6. Raden Soekamso
7. Adnan Kapau Gani
8. Ramelan
9. Amir (Dienaren van Indie)
10.Saerun (Keng Po)
11. Anta Permana
12.Sahardjo
13. Anwari
14. Sarbini
15. Arnold Manonutu
16. Sarmidi Mangunsarkoro
17. Assaat
18. Sartono
19. Bahder Djohan
20. S.M. Kartosoewirjo
21. Dali
22. Setiawan
23. Darsa
24. Sigit (Indonesische Studieclub)
25. Dien Pantouw
26. Siti Sundari
27. Djuanda
28. Sjahpuddin Latif
29. Dr.Pijper
30. Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
31. Emma Puradiredja
32. Soejono Djoenoed Poeponegoro
33. Halim
34. R.M. Djoko Marsaid
35. Hamami
36. Soekamto
37. Jo Tumbuhan
38. Soekmono
39. Joesoepadi
40. Soekowati (Volksraad)
41. Jos Masdani
42. Soemanang
43. Kadir
44. Soemarto
45. Karto Menggolo
46. Soenario (PAPI & INPO)
47. Kasman Singodimedjo
48. Soerjadi
49. Koentjoro Poerbopranoto
50. Soewadji Prawirohardjo
51. Martakusuma
52. Soewirjo
53. Masmoen Rasid
54. Soeworo
55. Mohammad Ali Hanafiah
56. Suhara
57. Mohammad Nazif
58. Sujono (Volksraad)
59. Mohammad Roem
60. Sulaeman
61. Mohammad Tabrani
62. Suwarni
63. Mohammad Tamzil
64. Tjahija
65. Muhidin (Pasundan)
66. Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
67. Mukarno
68. Wilopo
69. Muwardi
70. Wage Rudolf Soepratman
71. Nona Tumbel

Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu"Indonesia Raya"
gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.

1. Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat


di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah
Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie
Kong Liong.
2. 2. Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau
Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang
yaitu :
a. Kwee Thiam Hong
b. Oey Kay Siang
c. John Lauw Tjoan Hok
d. Tjio Djien kwie

Semangat Kebangsaan
by Suryo, under Pemuda Indonesia

Tulisan di bawah ini Murni bukan karya saya sendiri..hehehe,.Murni copy-paste. Tapi
tulisan ini sangat layak dibaca dan dipahami.Apalagi masih di dalam peringatan hari
Sumpah Pemuda :) . .. Monggo disimak,gan..

“Semangat Kebangsaan”. oleh Koes Pratomo


Di sekitar ujung Perang Dunia kedua , ada seorang Laksamana Inggris { namanya lupa }
berkata “ Didalam wilayah Britania Raya , matahari tidak pernah tenggelam “.
Dia tidak sembarangan berkata .begitu .
Tanah jajahan Inggris sedemikian luasnya , sehingga matahari tidak menemukan ujung
wilayah . Sebelum dia sempat tenggelam ,dia sudah sampai ke bagian lain dari wolayah
kekuasaan Inggris .
Kalimat itu menjadi kebanggaan orang Inggris, sebagai bangsa penakluk.
Sampai-sampai sebegitu luasnya wilayah jajahannya..
Kira-kira pada era yang sama, banyak orang Indonesia yang melontarkan kata-kata yang
dialamatkan kepada para pejuang kemerdekaan kita ‘ Jangan sok pinter ! Mau apa sih ?
Belanda sudah bercokol dinegara kita 350 tahun lamanya !”.
Sebuah kalimat pasrah, pengakuan sebagai bangsa pecundang.
Menjadi bangsa terjajah, sudah suratan nasib yang tak terelakan.
Tak ada kebanggaan sama sekali sebagai sebuah bangsa.
Menerima perlakuan istimewa dari penjajah, yang memberinya hak-hak sama dengan
bangsa penjajah, akan lebih membanggakan { gelijkgesteld }, dari pada menjadi bagian
dari bangsanya sendiri.
Dua semangat yang sangat kontradiktif. antara bangsa Inggris dan Indonesa ketika itu.
Sebenarnya kesadaran sebagai bangsa,dan keinginan untuk merdeka , tumbuh juga meski
demi sedikit. Mendapat inspirasi dari kemenangan Jepang atas Rusia, pada tahun 1905
,kebangkitan Nasional terjadi juga. Sejarah mengatakan terbentuknya Organisasi BUDI
UTOMO menjadi tanda-tanda itu. { 1908 }.
Oktober 1928 , diselenggaraakan Konggres Pemuda yang mencetuskan SUMPAH
PEMUDA :” Berbangsa satu , bernegara satu dan berbahasa satu INDONESIA “.
Pemuda Pejuang Indonesia

Pemuda Pejuang Indonesia

Kita semua tahu itu.


Semangat untuk merdeka-pun sampai kepada puncaknya ,ketika kita mem-proklamirkan
kemerdekaan kita pada tgl 17 Agustus 1945.
Jadi ketika kita merdeka , kesadaran untuk Berbangsa dan Bernegara sudah mendahului
langkah perjuangan.
Apa lagi ,masih menurut sejarah yang kita dengar, ketika Belanda datang kemari pada
abad ke lima belas , Bangsa ini sudah ber-budaya tinggi.
Kekaguman Belanda atas negara yang dijajahnya, terbukti dari banyak-nya benda-benda
kebudayaan yang dikumpulkan di negara Belanda .
Maka boleh disimpulkan , identitas sebagai bangsa sudah definitif ada, bahkan jauh
sebelum kita merdeka.
Ada budaya yang tinggi dan ada semangat kebangsaan .
Atas kesadaran itulah kita berjuang untuk merdeka.
Tidak semua bangsa-bangsa jajahan bangkit dengan melalui proses yang demikian..
Berakhirnya perang Dunia Kedua dengan kemenangan Sekutu atas Jerman -Italy –Jepang
memberi hikmah kepada bangsa-bangsa terjajah.
Karena kemudian terjadi persaingan antara dua kekuatan , Rusia dengan kubu
komunisnya ,melawan Amesrika –Ingris dengan sekutu-sekutunya yang menamakan
dirinya NEGARA – NEGARA BEBAS.
Franklin Deleanor Roosevelt [ FDR ], Presidan Amerika Serikat ,menyadarkan para
sekutunya, bahwa mereka akan kalah bersaing dengan komunis kalau tidak memberi
kemerdekaan kepada tanah jajahan mereka.
Karena komunis berkampanye dengan mendukung perjuangan untuk merdeka kepada
bangsa-bangsa terjajah.
Kampanye FDR ampuh.
Suaranya memang didengar dan dituruti.
Indonesia memang menyatakan merdeka ketika terjadi ke-vacum-an, karena Jepang telah
menyerah padatgl 14 Agustus 1945 dan kekutan sekutu belum sampai disini
Tspi kemudian harus berjuang secara physik maupun diplomasi ,karena Belanda enggan
melepas daerah jajahannya yang terlanjur menjadi andalan hidup
Dan doktrin FDR inilah yang memenangkan Indonesia dimeja diplomasi.
Churchill , Perdana Menteri Inggris, menerima saran FDR untuk memerdekakan
jajahannya dnengan menggerutu. Menolak tidak bisa, menuruti tidak rela.
Tapi kemudian Inggris menemukan jalan keluar yang cerdik.
Inggris memberi kemerdekan kepada tanah-tanah jajahannya, tapi langaung
menampungnya dalam sebuah organisasi yang mereka sebut NEGARA
PERSEMAKMURAN {Commenwealth Countries }.Negara –negara yang baru merdeka
itu ditampung dalam wadah persemakmuran itu, masih dalam sebuah Sistem Ekonomi
dan Pertahanan bersama Inggris.
Dua hal yang sangat membebani negara –negara baru , yang belum tahu bagaimana
caranya mengelola sebuah negara.Belenggu yang diasang Inggris justru disambut senang
oleh negara- negara jajahan yang baru merdeka.
Dengan cara seperti ini , berbeda dengan Belanda yang langsung kehilangan Indonesia
,sebagai lumbung kemakmurannya selama ini , Ingris melalui system Commenwealth
masih bisa mempertahankan system ekonominya dengan tetap mengandalkan tanah
jajahan.
Termasuk dalam sejumlah negara-negara yang baru diberi kemerdekaan oleh Inggris itu
adalah Malaysia dan Singapura..
Malaysia dan Singapura yang merdeka karena perubahan administrative ., tanpa proses
seperti yang dialami Indonesia.
Negara-negara itu belum mempunyai perangkat yang menjadi ciri negara dan bangsa itu.
Dengan dadakan dikaranglah bendera dan lagu kebangsaan.
Entah dengan pertimbangan apa, Malaysia mengambil lagu rakyat ‘ TERANG BULAN’
dijadikan lagu kebangsaan dengan menyesuaikan liriknya.
Lagu INDONESIA RAYA dan bendera merah putih sudah ada sejak sebelum
kita merdeka..
Tidak hanya itu .
Sejumlah lagu-lagu perjuangan, ikut mnedampingi Indonesia Raya.
Sebut saja “Sorak-sorak bergembira “ ,” hari merdeka”, “maju tak gentar “ , “ hallo-hallo
Bandung “, “tanah pusaka” “rayuan pulau kelapa “ , “ gugur bunga”, “ butet “,
“ sepasang mata bola” dan masih banyak yang lain.
Dan diseluruh persada Indoneia berserak berbagai monumen perjuangan .
Belum lagi sejumlah budaya yang definitif menjadi identitas dan kebanggaan Bangsa..
Lepas dari pengaruh ataupun kemiripan dengan yang dipunyai penjajah.
Ada batik, keris ,rencong ,tari serimpi, gending, berbagai tari Bali, ukiran Bali dan
Jepara.,kerajinan perak Kotagede.
Karya-karya seni dan budaya yang tak terkira jumlahnya.
Sementara kita melihat tetangga kita Malaysia dan Singapura, canggung melihatt dirinya
sendiri dalam status yang “katanya” merdeka.
Orang Melayu Malaysia lebih merasa sebangsa dengan sesama Melayu dari Singapura
,meski masing-masing berpasport lain.
Begitu juga China Malaysia, dengan China Singapura dan India Malaysia dengan India
Singapura..
Dan tidak merasa sebagsa dengan sesama warga negara Malaysia dan Singapura, kalau
etnisnya berbeda.
Bahasa Melayu di Malaysia dijadikan bahasa resmi pemerintahan ,tapi orang Melayu
yang hanya bisa berbahasa Melayu , tidak bisa berharap mencapai kedudukan tinggi ,baik
dalam pemerintahan maupun pada kantor-kantor swasta.
Bandingkan saja dengan para pejabat kita yang masih gagap berbahasa asing.
Ini karena Bahasa Indonesia berdaulat , tidak seperti di Malaysia .
Malaysia bahkan tidak berdaya ketika bahasa Melayu “diperkosa” dengan kaidah-kaidah
Inggris yang merusak. Dengarlah mereka mengtakan “ Bile-bile mase “ untuk
mengatakan “any tme ‘ dan “yang mana satu “ untuk mengatakan “which one “.
Dan kita melihat yang lebih kejam lagi dari itu.
Banyak oang-orang China , kendati-pun terlahir di Malaysia,tidak pandai berbehasa
Melayu. Para executive China di Malaysia , kalau perlu pergi kekantor-kantor
pemerintahan, seperti immigrasi dsb.nya terpaksa membawa staff-nya yang orang
Melayu, karena sekedar mengisi formulirpun dia tak pandai..
Kita membandingkan dengan China Solo yang tahu gneding , serimpi dan batik lebih dari
orang-orang Jawa sendiri
.China Solo lebih Jawa dari orang Jawa sendiri .
Orang-orang Malaysia dan Singapura memang tidak melihat identitas bangsa pada
dirinya sendiri . Kegagapan inilah kemudian yang mendorongnya mengakui reyog,
batik , keris , bahkan lagu Rasa Sayange sebagai miliknya, tanpa tahu apa akar yang
menumbuhkan semua itu .
Inggris memang berhasil menjaga kestabilan ekonomi dalam kawsannya. Tapi
membiarkan yang selebihnya.
Perasaan rendah diri orang Melayu menatap orang Inggris tak pernah sirna.
Inferior complex sebagai bangsa terjajah, tetap saja tidak hilang
Pada tahun 2009 ini Indonesia merdeka enam puluh empat { 64 } tahun lamanya.
Malaysia Singapura hanya kurang sedikit dari itu.
Banyak yang berubah dimakan keharian selama itu.
Ada yang tumbuh menjadi besar, dan ada yang menyusut dan terkikis.
Syahdan , karena masalah –masalah politik yang tidak kondusif untuk tumbuh dan
stabilnya ekonomi, Indoneisa-pun tertinggal.
Sedemikina sehingga pergi ke Malaysia dan Singapura , negara tetangga yang terdekat ,
untuk mencari rejeki, kemudian menjadi pilihan.
Bencana-bencana-pun terjadi diluar kewajaran.
Kekejaman-kekejaman yang tidak masuk diakal bisa terjadi , justru terjadi terus menerus,
tak terbilang banyaknya.
Karena orang-orang Malaysia yang belum”kelas majikan” ini tiba-tiba menjadi majikan.
Mereka belum tahu membentuk hubugan kerja majikan –pegawai selain “hubungan
uang “saja .
Bahkan seorang pangeran Kelantan ,tega meninggalkan ibu mertuanya , dilandasan pacu
Jedah, ketika melarikan istrinya Manohara untuk dibawa ke Kelantan.
Suatu tindakan yang jauh dari kesantunan sebagia orang berbudaya. Kekasaran yang
mustahil terjadi dalam peradaban terkini ,di Indoneia maupun tempat lain.di Dunia ini.
Dan sejumlah tindakan “aneh” sang pangeran terhadap Manohara..
Kejadian Manohara dibarengi dengan peristiwa Siti Hajar. Lalu ada Modesta.
Keduanya Tenaga Kerja Wanita [ YKW ] yang bekerja disana.
Dan mungkin ini akan berkanjut terus.
Kekejaman atau kelainan perilaku seorng dua orang majikan barang kali biasa.
Tapi kalau menjadi gejala umum yang tak terbilang jumlahnya, tentu kita patut menduga
ada ketimpangan yang lebih mendasar disana.
Fakta yang nampak disini, “Orang jajahan yang minder “ menjadi majikan “orang
merdeka yang berbudaya”.
Ada juga kemajuan Indonesia yang luar biasa.
Salah satunya di bidang olahraga..
Sejak akhir tahun lima puluhan atau awal enam puluhan Indonesia patut di sebut
BANGSA BESAR di arena bulutangkis..
Menjuarai All England , Thomas Cup dan Uber Cup sudah terlalu sering.
Nama-nama besar seperti Tan Yu Hok, Ferry Sonneville , Liem Swie King , Christian
Hadinata, Ade Chandra, Chunchun –Johan Wahyudi ,Rexy Mainaki Ricky Subakgja dan
masih banyk lagi. Bahkan Rudy Hartono menjurai All England sampai delapan kali..
Sebuah prestasi yang tidak bisa disamai siapapun.
Ada istilah “King Smaash “ , “Indoneisa Service” dan lain sebagainya.
Juga ad kejuaraan Dunia Beregu dengan nama PIALA SUDIRMAN .Mengambil nama
salah seorang tokoh bulutangkis Indonesia.
Tapi belakangan kejayaan Indonesia seperti layu .
Dalam kejuaraan final “Indonesia Open” tgl 21 juni `09 di Jakarta, kejayaan itu tidak
nampak sama sekali.
Taufik Hidayat, satu-atunya pemain tuan rumah yang mencapai final, dikalahkan dengan
mudah oleh Lee Chong Wei dari Malaysia
Bahkan pada game pertama Taufik hanya diberi point 9 { sembilan } dalam dua belas
menit saja.
Dalam nomor tunggal putri, Saina Nehwal { 19 th }dari India mengalahkan
Wang Lin { 20 th } dari China.
Sedangkan putri-putri Indonesia yang lebih tinggi usianya sudah berguguran dibabak-
babak sebelumnya.
Berarti kesengangan yang semakin jauh akan terjadi antara Indonesia dengan level dunia.
Indoneia-pun berkabung , tak bisa bicara.
Sudah semestinyakah kita berkabung ?
Ingggris penyelenggara Thimas Cup dan All England diajang bulutangkis dan
Wimbledon untuk cabang tennis ,sudah lama tidak pernah menjuarai arena-arena itu.
Tapi Inggris ternyata tenang-tenang saja , tidak terusik.
Sebenarnya dimanakah harga diri sebagai anak bangsa itu bersemayam ?
Ada lagi yang rasanya aneh.
Tgl 18 Juni pada ajang Indonesia Open juga , dalam jenjang quarter final , bertemu dua
pasangan ganda putra tangguh..
Markis Kida – Hendra Setiawan dari Indonesia dengan pelatih Sigit Pamungkas melawan
Hnedra Saputra –Hendri Wijaya dari Singapura dengan pelatih Eng Hian.
Yang menarik keenam orang itu belum lama berselang masih menjadi atlit pelatnas di
Indonesia.
Atlit-atlit Singapura itu, baru saja mendapat kewarga-negaraan Singapura.
Tapi kejadian ini tidak mengusik masyarakat Indonesia .Bahkan audience Indonesia bisa
membiarkan mereka bertanding tanpa gangguan ataupun ejekan kepaada pemain pelatnas
yang ganti warga negara. itu.
Beda dengan nasib Abdulkadir , putra Indonesia yang menjadi Ketua Delegasi Belanda
ketika th 1947 Komisi Tiga Negara { KTN ] PBB sedang mengajak Belanda dan
Indonesai kemeja peundingan..
Ketika datang ke Jogja dengan kereta dari Jakarta, Abdulkadir di stasion Tugu mendapat
serangan physuk oleh sekelompok pemuda Indonesa.. Bahkan ada cerita sampai diludahi.
Tidak bisa segala masalah kita dijaikan masalah pribadi.
Karena soal pemihakan dan kewargnegaraan bukanlah masalah pribadi , tapi commitment
kita bersama terhadap ibu pertiwi.
Mengganti kewarganegaraan , bukanlah jalan keluar untuk mengejar kepentingn pribadi.
Bagi kita itu mengherankan.
Sebegitu mudah mendapatkan kewarganegaraan Singapura .
Kita membandingkan dengan perjuangan Ivana Lie , pemain bulutangkis kita yang
bersudah payah berjuang untuk mendapatkan kewarganegaraan Indonesia.
Pada hal Ivana Lie,tidak saja terlahr di Indonesia dia bahkan sudah malang melitang di
arena international membela merah putih.
Hanya dengan campur tangan orang-orang besar Ivana mendapatkan kewarganegaraan
itu..
Tapi bagi Singapura itu hanya hal biasa.
Singapura juga “membeli ‘pemain-pemain Brazil untuk kesebelasan sepak bola
Singapura..Ini hanya mungkin karena Singapura menjadi sebuah negara hanya dengan
perubahan administrative saja.
Perubahan kewarga negaraan bagi Singapura ,hanyalah soal administratif saja.
Tak lebih dari itu.
Kiranya wujud Indonesai dalam perbandingan cukup jelas .
Akan lebih jelas lagi kalau soal-soal yang seperti remeh –temeh itu ,kita anggap penting
juga.
Ketika FDR mengumandangkan kemerdekaan bagi bangsa –bangsa terjajah, dia bersama
sekutunya telah mempertimbangkan banyak hal.
Dengan alasan mencegah tragedi kemanusiaan seperti yang terjadi pada Perang Dunia
yang baru usai, sebagai pihak yang menang perang ,mereka terpaaggil untuk menjaga
dunia dan membentuknya se-ideal mungkin.
Tolok ukurnya tentu saja kepentingan mereka sendiri Amerika –Inggris dan sekutunya..
Mereka juga tahu , semua bangsa akan bergerak maju dan semakin sadar akan
kepentingannya sendiri.
Betapapun kemajuan bangsa –bangsa bekas jajahan itu harus bisa dikontrol
Seperangkat alat untuk mengontrol duniapun dibentuk.
Alat-alat itu adalah Perserikatan Bangsa Bangsa [ PBB ], Mahkamah International ,Bank
Dunia dan lain-lain yang disodorkan seolah untuk membantu bangsa-bangsa teertinggal.
Kalau kita mengerti itu semua, kita juga mengerti bahwa segalanya tentang Indonesia
cukup mengundang kekawatiran negara-negara “pemilik” dunia itu.
Bangsa dengan semangat kebangsaan yang tinggi
Tidak seperti Malaysia. yang belum mengerti arti kebangsaan.
Bangsa dengan budaya yang definitive jelas.
Negara Indonsia juga luas dan kaya akan suber alam
Jumlah pendudukpun lumayan besar.
Semuaunya mengarah kepada potensi untuk menjadi Bangsa dan Negara yang kuat.
Karena itu laju kemajuan Indonesia harus bisa dikendalikan.
Dalam pemberontakan –pemberontakan separatisne, terbukti berkali-kali keterlibatan
Amerika.
Dalam peristiqwa Timor Timur kita kalah karena permasalhannya diserahkan kepada
PBB yang dibentuk untuk menjaga kepentingan Amerika dan kawan-kawan.
Pulau Sepadan lepas karena diserahkan kepada Mahkamah Interntional, yang juga alat
untuk membela kepentongan Amerika dan para sekutunya.
Seakang dengan “alat” yang bernama Malaysia ,kita dirong-rong pada pulan Ambalat.
Sementara masih ada masalah Separaatisme Papua, dan Gerakan Separatisme Maluku.
Yang dikehendaki adalah pecah-belahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Lalu bagaimana ?
Apa keinginan kita ?
Kita tidak bisa menyepelekan segala hal yang nampak seperti remeh temeh.
Sekian banyak jalan untuk meuju jenjang keatas , sedemikian juga banyaknya cara orang
untuk membenamkan kita..
Peristiwa Manohara, kekejian terhadap TKI kita, pengakuan terhadap kekayaan budaya
kita , pulau Ambalat , separatisme di Papua dan Maluku , harua dimengerti sebagai
gangguan dalam sebuah lay-out design.
KEDAULATAN KITA SEBAGAI BANGSA DAN NEGARA MERDEKA SEDANG
D I RONG – RONG .
Mereka m,enyangsikan kita bisa membela diri.
Sejumlah kelemahan dijadikan senjata. .
Kekuatan Angkatan Bersenjata kita yang kurang budget .
Hukum dan Pengadilan yang tidak meyakinkan kewibawaannya.
Tertinggalnya Indonesia dalam ekonomi. , dan sejumlah faktor lain untuk meremehkan
“Nation of Servants “ ini .
Semakin sukar kita menerima panggilan “saudara serumpun”.
Karena kalau memang YA demikian, Malaysia harus membuktikan diri sebagai Bangsa
yang Berbudaya ,sama dengan Indonesia.
Malaysia harus mebuktikan sebagai Bangsa yang Beradab, yang hukum dan
pengadilannya tidak membolehkan kekejian .terjadi di wilayah hukumnya.
Dan “PE –ER” kita , Indonesia , kalau masih ingin mengaku sebagai bangsa merdeka,
kita harus bisa mempertahankan kedaulatan kita.
Kita harus mampu mempertahankan setiap jengkal wilayah kita dari jamahan bangsa lain.
Kita harus bisa membela setiap warga negara kita, seberapa hinanya sekalipun dia.
Kita tidak membiarkan siapapun untuk merendahkan martabat banga kita .
Bagi kehormatan dan martabat bangsa tak ada sesuatu apapun yang sepele.
Merdeka!!!
Jakarta, Juli 2009
Koes Pratomo Wongsoyudo
sementara ini tinggal di
jl, Otista III, complex satu no 20,
Jakarta Timur.
081 321 45 88 99.