P. 1
1143

1143

|Views: 218|Likes:
Dipublikasikan oleh safran

More info:

Published by: safran on Sep 16, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2014

pdf

text

original

PEMETAAN HIRARKI PUSAT TRANSPORTASI DI KABUPATEN KLATEN

Tugas Akhir

Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai gelar Ahli Madya – D3

Program Studi Survei dan Pemetaan Wilayah

Di ajukan oleh Fajar Watiningrum 3252302500

Kepada JURUSAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

i

TUGAS AKHIR PEMETAAN HIRARKI PUSAT TRANSPORTASI DI KABUPATEN KLATEN

Yang dipersiapkan dan disusun oleh Fajar Watiningrum 3252302500 telah diujikan di depan Dewan Penguji pada tanggal 2005

dan dinyatakan telah lulus memenuhi syarat

susunan tim penguji

Pembimbing

Penguji

Drs. Haryanto M.Si NIP.131 813 657

Dra. Sri Mudiyastuti NIP. 130 237 397

Semarang, …………………. Universitas Negeri Semarang Fakultas Ilmu Sosial

Ketua Jurusan Geografi

Ketua Program Studi Survei dan Pemetaan Wilayah

Drs. Sunarko M.Pd NIP. 130 812 916

Drs. Suroso NIP. 131 570 075

ii

PERNYATAAN

Dengan ini saya nyatakan bahwa dalam penulisan Tugas Akhir ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar Ahli Madia di Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Semarang, ………

Fajar Watiningrum NIM. 3252302500

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO Jadikanlah pengalaman hidupmu suatu pelajaran yang berharga. Hidup ini indah, jadi kita harus memperjuangkan. Berikan Kebahagiaan kepada semua yang ada di sekelilingmu.

PERSEMBAHAN 1. Tugas Akhir ini penulis persembahkan kepada Bapak/Ibu tercinta, adik, Kakak tersayang dan semua keluarga terimakasih atas dorongan dan partisipasinya. 2. Mas Fatkhur Rohman terimakasih untuk pengertian, kepercayaan dan cintamu karena semua itu sumber inspirasiku. 3. Eti, Ika dan Ani terimakasih, kalian sahabat terbaikku yang pernah ku kenal kan ku ukir dalam lubuk hatiku karena kalian telah menjadi bagian perjalanan hidupku baik suka maupun duka. 4. Teman – teman Survei dan Pemetaan Wilayah Angkatan pertama tahun 2002 yang tidak saya sebutkan satu persatu terimakasih atas kebaikan dan persahabatan kalian.

iv

PRAKATA

Puji syukur Alkhamdulilah peneliti panjatkan kepada Allah SWT, dengan usaha peneliti dan ijin-Nya akhirnya Tugas Akhir ini dapat terselesaikan dengan berbagai kendala dan keterbatasan. Banyak pihak yang membantu dalam proses penyelesaian tugas akhir ini oleh karena itu, kepada pihak – pihak tersebut saya menyampaikan terimkasih. 1. 2. Drs. AT. Sugito SH.M.M, selaku Rektor Universitas Negeri Semarang. Drs. Sunardi, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 3. Drs. Masruki M.Pd, selaku Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas

Ilmu Sosial yang telah menyetujui pelaksanaan penelitian. 4. Drs. Sunarko M.Pd, Selaku Ketua Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 5. 6. Drs. Suroso, selaku Ketua Program Studi Survei dan Pemetaan Wilayah. Drs. Haryanto M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing selama penyusunan Tugas Akhir. 7. 8. Dra. Sri Midiyastuti, selaku Dosen Penguji. Pimpinan Instansi yang terkait Kabupaten Klaten yang telah memberikan kemudahan untuk melakukan penelitian serta Bpk.Totok S.E.MM, selaku Kepala Terminal Jonggrangan. 9. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas akhir ini, yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

v

Meskipun

peneliti

berusaha

semaksimal

munkin

dengan

segala

kemampuna dan pengetahuan yang dimiliki peneliti untuk menyusun tugas akhir ini, tetapi peneliti mengharapkan saran dari semua pihak. Akhirnya peneliti berharap semoga tugas akhir ini dapat mermanfaat bagi masyarakat dan semua pihak yang berkepentingan.

Semarang

Penulis

vi

INTISARI

Fajar Watiningrum. 2005, Pemetaan Hirarki Pusat Transportasi di Kabupaten Klaten. Jurusan Survei dan Pemetaan Wilayah D3 Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 81 Halaman, 12 Tabel, 6 Gambar dan 4 Lampiran.

Perkembangan di bidang transportasi menjadikan Kabupaten Klaten diharuskan untuk mengembangkan sarana dan prasarana transportasi yang berupa jalan raya, moda angkutan dan terminal yang merupakan unsur vital guna menunjang pembangunan ekonomi daerah baik mobilitas orang atau barang. Kebenaran analisa tersebut perlu dibuktikan melalui kegiatan penelitian agar diperoleh hasil yang baik. Permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1). Bagaimana hirarki pusat transportasi di Kabupaten Klaten, 2). Prasarana apa yang dimiliki oleh pusat transpotasi di Kabupaten Klaten. Adapun tujuan penelitian yaitu : 1). Untuk mengetahui hirarki pusat transportasi di Kabupaten Klaten, 2) Untuk mengetahui sarana dan prasarana yang ada pada pusat transportasi di Kabupaten Klaten, 3) Untuk membuat peta hirarki pusat transportasi di Kabupaten Klaten. Populasi dalam penelitian ini adalah pusat transportasi di Kabupaten Klaten yang tersebar di 26 Kecamatan. Adapun penelitian ini meliputi pusat transportasi di Kabupaten Klaten yaitu terminal yang terdiri dari prasarana transportasi meliputi kantor pengawas, loket atau restribusi, kios atau toko, kamar mandi atau wc, parkir, taman, ruang tunggu, loket agen bus. Dan sarana transportasi yang melipti Angkutan Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) dengan jenis bus besar, Angkutan Perbatasan Antar Prorinsi (APAP) dengan jenis bus sedang, Perbatasan Dalam Propinsi (APDP) dengan jenis bus sedang, Angkutan Pedesaan (AP) dengan kapasitas 24 – 26 tempat duduk, Angkutan Pedesaan (AP) dengan kapasitas 12 – 16 tempat duduk, Angkutan Pedesaan (AP) dengan kapasitas 12 tempat duduk dengan saraana transportasi mikrobus, minibus dan angkutan kota. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi, studi pustaka, observasi dan laboratorium. Tehnik analisa data yang digunakan yaitu metode skalogram untuk menetukan hirarki pusat transportasi dimana skor tertingi sebagai hirarki pertama dan skor terendah sebagai hirarki terakhir. Hasil penelitian menujukan bahwa hirarki pusat transportasi di Kabupaten Klaten terbagi menjadi tiga hirarki dengan klasifikasi sebagai berikut, 1) Hirarki pertama mencakup terminal Jonggrangan. 2) Hirarki kedua mencakup terminal Cawas, terminal Ceper, terminal Teloyo, terminal Pasar Klaten, terminal Bendogantungan, dan terminal Delanggu. 3) Hirarki ketiga mencakup terminal Tulung, terminal Prambanan, terminal Bayat dan terminal Manisrengo. Dari hasil penelitian di peroleh bahwa hirarki pertama berada di tepi jalan arteri yang mempunyai fasilitas pusat transportasi terlengkap meliputi kantor pengawas, loket atau restribusi, kios atau toko, kamar mandi atau wc, mushola, taman, ruang tunggu penumpang, parkir dan loket agen bus serta digunakan transit sarana angkutan penumpang yang berupa Angkutan Antar Kota Antar Propinsi

vii

(AKAP), Angkutan Perbatasan Antar Propinsi (APAP), Angkutan Perbatasan Dalam Propinsi (APDP) dan Angkutan Pedesaan (AP). Hirarki kedua berada di tepi jalan arteri, kolektor dan lokal yang dilengkapi fasilitas pusat transportasi yang meliputi kantor pengawas, kios atau toko, ruang tunggu, loket atau restribusi, mushola dan jenis sarana angkutan penumpang yang meliputi Angkutan Antar Kota Antar Propinsi (AKAP), Angkutan Perbatasan Antar Propinsi (APAP), Angkutan Perbatasan Dalam Propinsi (APDP) dan Angkutan Pedesaan (AP). Hirarki ketiga berada di tepi jalan arteri, kolektor dan lokal yang mempunyai fasilitas pusat transportasi yang meliputi loket restribusi, ruang tunggu penumpang dan jenis sarana angkutan penumpang yang meliputi Angkutan Perbatasan Dalam Propinsi (APDP) dan Angkutan Pedesaan (AP). Dari hasil Penelitian juga di peroleh bahwa keadaan jalan di Kabupaten Klaten dalam keadaan baik yaitu berupa jalan aspal tidak berlubang sepanjang 704,99 Km (91, 74%) dan terdapat jalan desa yang belum diaspal 63, 50 Km (8, 26%). Dan sarana angkutan yang beroperasi di Kabupaten Klaten berupa bus besar, bus sedang, mikrobus, minibus dan angkutan kota. Sarana dalam penelitian ini kepada Dinas terkait untuk lebuh meningkatkan sarana dan prasarana transportasi khususnya berupa terminal agar dapat difungsikan terutama pada terminal Delanggu dan membangun terminal Bayat mengingat potensi pariwisata tersebut mendukung untuk pengguna jasa angkutan yang ada di Kabupaten Klaten antara lain dengan penambahan armada dan perbaikan sarana transportasi serta memperbaiki jalan yang rusak.

viii

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL …………………………………………………… PENGESAHAAN KELULUSAN……………………………………… HALAMAN PERNYATAAN ………………………………………… MOTTO DAN PERSEMBAHAN……………………………………… PRAKATA……………………………………………………………... INTISARI………………………………………………………………. DAFTAR ISI……………………………………………………………. DAFTAR TABEL ……………………………………………………… DAFTAR GAMBAR ………………………………………………….. DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………. BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang …………………………………….. B. Permasalahan ……………………………………… C. Tujuan dan Manfaat Tugas Akhir ..………………. D. Penegasan Istilah ..………………………………… E. Sistematika Tugas Akhir…………………………… BAB II : TINJAUAN PUSTAKA A. Hirarki Pusat Transportasi ………………………….. 8 B. Sarana dan Prasarana Transportasi …………………. 9 C. Pemetaan ………………………………………… 18 1 3 4 5 6 i ii iii iv v vii ix xi xii xiii

ix

BAB III

: METODE SURVEI DAN PEMETAAN A. Populasi ………………………………………… B. Tehnik Analisis ………………………………… C. Lokasi Survei . ………………………………… D. Variabel Survei … …………………………….. E. Metodelogi Pengumpulan Data ……………….. F. Metode Analisa Data ………………………….. G. Proses Pemetaan ………………………………. 23 23 23 23 24 24 26

BAB IV

: HASIL ANALISIS A. Hasil Penelitian 1. Kondisi Geografis Daerah Penelitian ………… 2. Hirarki Pusat Transportasi …………………… 3. Sarana dan Prasarana Transportasi …………… B. Hasil Analisis 1. Hirarki Pusat Transportasi …………………… 2. Sarana dan Prasarana Transportasi …………… 50 65 30 35 38

BAB V

: KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan …………………………………… B. Saran …………………………………………… 73 75

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

x

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kepadatan Penduduk Kabupaten Klaten ………………………..… 2. Angkutan Antar Kota Antar Propinsi……………….. …………….

Halaman 31 39 39 40 42 43 44 47 51 52 69 70

3. Angkutan Perbatasan Antar Propinsi Kapasitas 24-32 tempat duduk 4. Angkutan Perbatasan Dalam Propinsi Kapasitas 24-32 tempat duduk 5. Angkutan Pedesaan Jenis Bus Kapasitas 24-26 tempat duduk …… 6. Angkutan Pedesaan Kapasitas 12 - 16 tempat duduk …………….. 7. Angkutan Pedesaan Kapasitas 12 tempat duduk ………………… 8. Panjang Jalan ………………………………………………………. 9. Terminal …………………………………………………………… 10. Fasilitas Terminal …………………………………………………. 11. Angkutan Penumpang Umum ……………………………………… 12. Panjang Jalan ……………………………………………………….

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Peta Administrasi Kabupaten Klaten……………………………… 2. Peta Kepadatan Penduduk Kabupaten Klaten ……………………. 3. Peta Hirarki Pertama Pusat Transportasi ………………………..... 4. Peta Hirarki Kedua Pusat Transportasi …………………………… 5. Peta Hirarki Ketiga Pusat Transportasi …………………………… 6. Peta Hirarki Pusat Transportasi …………………………………… 7. Peta Kepadatan Penduduk dan Hirarki Pusat Transportasi ………...

Halaman 31 34 56 62 66 67 68

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Tabel metode membuat hirarki pusat transportasi dengan skalogram 2. Foto hirarki pusat transportasi ……………………………………... 3. Surat pemberitahuan tentang pelaksanaan research/survei kepada Kepala BAPEDA Kabupaten Klaten…………… …………. 4. Surat Permohonan ijin penelitian dari Kepala BAPEDA Kabupaten Klaten……………………………….……… ………….

Halaman 78 79

80

81

xiii

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Berbagai perkembangan dan perubahan peraturan sistim pemerintahan negara yang berorientasai pada otonomi daerah serta adannya tantangan persaingan global dan tuntutan peningkatan peran masyarakat dalam penyelengaraan jalannya pemerintahan perlu adanya penataan segala bidang termasuk di dalamnya hirarki pusat transportasi di Kabupaten Klaten. Jalan raya sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan urat nadi perekonomian masyarakat mempunyai peranan penting dalam usaha pengembangan dan hasil - hasilnya seluruh rakyat Indonesia. Pembangunan pusat transportasi dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat atas angkutan barang dan angkutan orang yang aman, nyaman dan berdayaguna khususnya pembangunan jalan – jalan pedesaan dan dirasakan manfaatnya. Jalan raya sebagai prasarana tranportasi mempunyai peranan penting dalam mendukung ekonomi sosial budaya lingkungan politik serta pertahanan dan keamanan. Dari aspek ekonomi transportasi sebagai medium antara produsen pasar dan konsumen. Dari segi budaya keberadaan transportasi membuka daerah terisolir yang menjadikan wahana perubahan sosial membangun toleransi. Dari aspek lingkungan keberadaan transportasi diperlukan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Dari aspek politik, pusat transportasi yang diikuti tersebarnya beberapa jaringan jalan akan

2

menghubungkan dan mengikat antar daerah. Sedangkan dari aspek pertahanan dan keamanan keberadaan pusat transportasi yang memberikan akses dan mobilitas dalam penyelenggaraan keamanan (UU RI N0.38 tentang jalan). Dalam panataan jaringan jalan, agar tersusun sistim jaringan jalan yang baik harus diperhatikaan tata jenjang hirarki jaringan jalan. Tata jenjang jaringan jalan akan mengarah pada susunan sistim pelayanan jasa angkutan jalan kemudian menjadi sistim hirarki sistim sirkulasi lalu lintas jalan.

Untuk mewujudkan keterpaduan antara lalu lintas dan angkutan jalan dengan moda angkutan lain, ditetapkan jaringan jalan yang menghubungkan seluruh wilayah Kabupaten Klaten (Warpani, Suwardjoko 2002 : 7). Salah satu wujud pembangunan fisik adalah pembangunan sarana dan prasarana transportasi yang berupa jalan raya, moda angkutan, terminal dan lain lain. Sarana transportasi merupakan unsur vital guna menunjang pembangunan ekonomi daerah baik mobilitas orang atau barang. Dalam fungsi ekonomi pusat transportasi dapat berfungsi sebagai pelengkap dalam mencapai “demand” dan “supply” suatu kawasan dengan kawasan lain. Pusat transportasi merupakan pusat dari kegiatan pelayanan transportasi dengan segala fasilitasnya sebagai pergerakan barang dan penumpang dari satu

tempat ke tempat lainnya. Sesuai dengan fungsinya, pembangunan terminal juga menjadi tempat pengaturan kedatangan dan keberangkatan kendaraan umum. Terminal juga menjadikan komponen penting dalam sistim perbelanjaan terutama terminal

3

besar atau terminal pusat sebagai kegiatan usaha penunjang. Terminal juga menimbulkan tempat keramaian karena kendaraan yang berjalan lambat. Kabupaten Klaten ditinjau dari letak geografisnya berada pada jalan nasional yang menghubungkan dua kota yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Kedua kota besar tersebut memiliki daya tarik masing – masing karena didukung oleh budaya kerajaan dan pariwisata sehingga, meningkatkan mobilitas orang dan barang. Hal ini yang menyebabkan kabupaten klaten cepat berkembang dan maju sehingga diperlukan adanya pusat transportasi sesuai transit kendaraan guna melancarkan pelayanan kota, Propinsi dan Nasional.

B. Perumusan Masalah Terminal dan atau sub terminal merupakan simpul transportasi. Simpul sebagai pusat transportasi mempunyai jenjang atau hirarki antara wilayah satu dan lainnya. Menurut Undang - Undang Republik Indonesia No.14 tentang lalu lintas dan angkutan jalan bahwa terminal adalah sarana transportasi untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum, yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi. Perumusana masalah yang di hadapi antara lain: 1. Bagaimana hirarki pusat transportasi di Kabupaten Klaten. 2. Prasarana apa yang di miliki oleh hirarki pusat transportasi di Kabupaten Klaten.

4

C. Tujuan Dan Manfaat Tugas Akhir 1. Tujuan tugas akhir. a. Untuk mengetahui hirarki pusat transportasi di Kabupaten Klaten. b. Untuk mengetahui sarana dan prasarana pusat transportasi di Kabupaten Klaten. 2. Manfaat tugas akhir. a. Manfaat bagi pembangunan. - Mengetahui hirarki pada pusat transportasi di Kabupaten Klaten dan memberikan informasi kepada DLLAJR. - Memberikan informasi mengenai jenis sarana dan prasarana yang ada pada pusat transportasi di Kabupaten Klaten kepada DLLAJR dan DPU. b. Manfaat bagi akademik. - Sebagai tambahan bacaan pada perpustakaan jurusan geografi khususnya program studi survei dan pemetaan wilayah D3. - Diharapkan dapat memanfaatkan dan menerapkan ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah serta sebagai bahan penelitian di masa yang akan datang. c. Manfaat bagi Pemerintah. Bagi pemerintah hasil penelitian ini semoga dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengelola atau dinas terkait di Kabupaten Klaten.

5

D. Penegasan Isitilah Untuk mempertegas dalam penulisan tugas akhir ini sehingga jelas ruang lingkup permasalahannya, maka penulisan tugas akhir ini akan membatasi masalah 1. Pemetaan adalah proses cara pembuatan membuat peta (Kamus Besar Bahasa Indonesia 1989 : 763). Secara umum peta merupakan permukaan bumi atau angkasa yang digambarkan pada bidang datar dengan menggunakan ukuran simbol dan generalisasi (Juhadi dan Dewi LS 2001 : 2). 2. Hirarki pusat transportasi adalah urutan tingkatan (kedudukan) (KBBI: 301). 3. Pusat transportasi adalah simpul dalam sistim jaringan pengangkutan yang terdiri dari terminal penumpang dan barang (Warpani, Suwardjoko atau jenjang

2002 : 69). 4. Sarana adalah kendaraan atau moda angkutan yaitu suatu alat yang dapat bergerak di jalan, terdiri atas kendaraan bermotor (yakni kendaraan yang digerakan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu) dan kendaraan tidak bermotor (yakni kendaraan yang digerakkan oleh tenaga manusia atau hewan) (Warpani, Suwardjoko 2002 : 9). 5. Prasarana adalah jaringan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan terdiri atas ruang lalu lintas berupa jalan (termasuk jembatan), dan simpul lalu lintas yang berujud terminal (Warpani, Suwardjoko 2002 : 7).

6

Dari uraian di atas maka, yang di maksud dari tugas akhir ini adalah pemetaan hirarki pusat transportasi di Kabupaten Klaten. Hirarki pusat transportasi adalah urutan atau tingkatan pada pusat transportasi berdasarkan pada sarana dan prasarana transportasi yang ada.

E. Sistematika Tugas Akhir Hasil penelitiaan ini disusun dengan menggunakan sistematika yang terdiri dari 3 bagian yaitu bagian awal, bagian utama, bagian akhir. Bagian awal terdiri dari sampul depan, halaman judul, halaman pengesahan, halaman pernyataan, motto dan persembahan, prakata, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran. Bagian Utama BAB I : Pendahuluan. Berisi tentang latar belakang, permasalahan, manfaat dan tujuan tugas akhir, penegasan istilah dan sistematika tugas akhir. BAB II : Tinjauan Pustaka. Berisi tentang pengertian hirarki pusat transportasi, sarana dan prasarana transportasi dan pemetaan. BAB III : Metodologi Penelitian. Berisi tentang populasi, lokasi penelitian, variabel penelitian, Metode pengumpulan data dan analisa data. BAB IV : Hasil Penelitian Berisi tentang hasil Penelitian dan Pembahasan

7

BAB V

: Penutupan Berisi tentang kesimpulan dan Saran

Bagian akhir berisi tentang daftar pustaka dan Lampiran.

8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Hirarki Pusat Transportasi Hirarki adalah urutan dari suatu tingkatan yang rendah sampai yang tinggi atau yang kecil sampai besar. Pusat transportasi adalah tempat terjadinya pergantian atau pemberhentian moda angkutan. Transportasi merupakan pergerakan barang dan penumpang atau seseorang dari suatu tempat ketempat yang lain (Magribi 1999 : 6). Hirarki pusat transportasi merupakan urutan dari suatu tingkatan pada pusat kegiatan transportasi yang berupa terminal dan sub terminal sampai pemberhentian sementara maupun fasilitas pusat transportasi yang berupa tempat parkir, gedung dan lain lain. Pada hakekatnya pusat transportasi merupakan simpul dalam sistim jaringan pengangkutan yang terdiri atas terminal penumpang dan barang. Dengan demikian terminal merupakan komponen penting dalam

pengangkutan dan merupakan prasarana yang memerlukan biaya yang sangat mahal. Selain itu terminal berfungsi sebagai tempat perbelanjaan terutama terminal besar atau terminal pusat sebagai usaha penunjang

(Warpani,Suwarjoko 2002 : 69 ). Pada dasarnya hirarki pusat transportasi menggambarkan aksesbilitas suatau wilayah. Makin tinggi hirarki tersebut makin tinggi aksesbilitas menunjukan bahwa lokasi tersebut mudah terjangkau dari jurusan maupun dari aspek angkutan umum.

9

B. Sarana dan Prasarana Transportasi 1. Sarana Transportasi Sarana transportasi adalah kendaraan atau moda angkutan yaitu alat yang bergerak di jalan (Warpani, Suwardjoko 2002 : 9). Sarana transportasi merupakan suatu alat yang digunakan untuk memindahkan barang dan manusia dari suatu tempat ke tempat lain melalui darat udara, laut maupun udara. Secara umum sarana transportasi adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk pelayanaan angkutan orang dengan trayek angkutan tetap dan teratur. Sarana transportasi dapat dimanfaatkan oleh setiap penduduk dengan memberikan imbalan jasa berupa biaya transportasi yang besarnya sudah ditetapkan (Retnowati 2004 : 9 ). Transportasi jalan raya sebagai salah satu moda angkutan yang tidak dapat dipisahkan dari moda – moda transportasi lain yang ditata dalam sistim transportasi nasional yang dinamis dan mampu menjangkau seluruh pelosok wilayah dratan. Berdasarkan daerah pelayanan moda angkutan tersebut dapat berupa angkutan pedesaan, angkutan perkotaan, angkutan antar kota, angkutan lintas batas negara. Lebih lanjut UU No.14 Tahun 1992 disebutkan bahwa angkutan kendaraan umum terdiri dari : a. Angkutan Pedesaaan yang merupakan pemindahan orang dalam antar wilayah pedesaan.b. Angkutan Kota yang merupakan pemindahan orang dalam wilayah perkotaan.

10

c. Angkutan Antar Kota yang merupakan pemindahan orang dalam wilayah luas dalam antar Propinsi. d. Angkutan Lintas Negara yang merupakan angkutan orang melalui batas negara (Undang – Undang Republik Indonesia No.14 Tahun 1992 pasal 36 : 143). Transportasi sebagai dasar pembangunan nasional yang menjadi alat perekonomian, politik, organisasai militer dan berbagai karakter lainnya (Magribi 1999 : 13). Transportasi merupakan dasar perkembangan dan pembangunan serta pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi suatu negara tergantung pada tersedianya pengangkutan dalam negara yang bersangkutan (Salim 2002 : 6). Sarana transportasi mempunyai hubungan yang erat dengan prasarana transportasi yang berupa jalan. Tersedianya sarana transportasi yang cukup tanpa jalan yang baik tanpa adanya sarana transportasi tidak akan bisa memenuhi kebutuhan mobilitas penduduk secara maksimal. Dalam penelitian ini penulis membahas sarana transportasi angkutan penumpang yang berhubungan dengan jalan arteri yang berupa angkutan antar kota antar propinsi, angkutan perbatasan dan angkutan pedesaan. Angkutan penumpang adalah dengan menggunakan kendaraan umum dan dilaksanakan dengan sistim sewa dan bayar (Warpani, Suwarjoko 2002:38). Jenis sarana angkutan penumpang umum mempunyai peranan yang besar terhadap mobilitas penduduk dapat menggunakan dan

11

memanfaatkan jenis sarana angkutan penumpang ini secara maksimal untuk melakukan berbagai kegiatan. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh penulis, sarana angkutan penumpang umum diperlukan sebagian penduduk Kabupaten Klaten . Hal ini disebabkan jumlah penduduk dan kepadatan penduduk di wilayah Kabupaten Klaten tersebut cukup besar. Dengan jumlah penduduk di Kabupaten Klaten sebesar 1.281.786 jiwa dan kepadatan penduduk sebesar 1.955 jiwa/Km2. Penduduk Kabupaten Klaten memanfaatkan sarana angkutan penumpang umum untuk pergi ketempat bekerja, sekolah dan rekreasi. Penduduk yang memanfaatkan sarana angkutan penumpang umum ini adalah mereka yang mempunyai pekerjaan sebagai pegawai, pedagang, pelajar, buruh bangunan, rekreasi dan alasan sosial budaya lainnya. Adapun jenis sarana angkutan penumpang yang beroperasi dan melewati Kabupaten Klaten terutama pada jalur arteri Angkutan Kota Antar Propinsi, Angkutan Perbatasan dan Angkutan Pedesaan. Sarana angkutan penumpang yang ada di Kabupaten Klaten antara lain Angkuatan Kota Dalam Propinsi (AKDP), Angkutan Perkotaan, Angkutan Pedesaan. Angkutan Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP), armadanya berupa bus besar dan bus sedang dengan jalur atau trayek terbatas pada jalur utama dalam kota. Jenis angkutan ini hanya transit pada terminal Jonggrangan, Penggung dan Bendogantungan. Moda angkutan perkotaan dan pedesaan ini melewati jalan raya utama hampir seluruh

12

wilayah Kabupaten Klaten yang mencakup seluruh kota Kecamatan. Jenis moda angkutan ini sangat srategis untuk wilayah – wilayah yang memiliki jaringan jalan sekunder dan jaringan jalan yang menghubungkan antar kecamatan. Sarana transportasi yang berada di Kabupaten Klaten ini cukup baik mengingat sarana transportasi yang tersebar diseluruh pelosok Kabupaten Klaten yang digunakan untuk melayani kegiatan penduduk baik orang maupun jasa. Sarana angkutan penumpang umum (sarana transportasi) yang dilayani oleh layanan moda angkutan mulai kapasitas besar seperti bus dan minibus yaitu kecamatan – kecamatan yang dilayani oleh minibus adalah kecamatan yang dilalui oleh jalan arteri dan jalan kolektor dan beberapa jalan Kabupaten.

2 Prasarana Transportasi. Prasarana transportasi merupakan jaringan lalu lintas dan angkutan jalan yang terdiri atas ruang lalu lintas berupa jalan (termasuk jembatan), dan simpul lalu lintas yang berwujud terminal (Warpani, Suwardjoko 2002 : 7). Dengan tersedianya prasarana transportasi yang berupa jalan raya yang baik menjadi faktor penting terhadap perkembangan sarana transportasi di suatu wilayah. Ciri utama prasarana transportasi adalah melayani pengguna berupa barang atau akomodasi. Oleh karena itu, prasarana tersebut tidak mungkin di simpan dan digunakan hanya pada saat diperlukan. Pada dasarnya prasarana transportasi mempunyai dua peran penting utama yaitu

13

sebagai alat bantu untuk mengarahkan pembangunan di daerah perkotaan dan sebagai prasarana bagi pergerakan manusia dan barang yang ditimbulkan akibat adanya kegiatan perkotaan (Tamin 1997 :7).

Pergerakan yang berupa pergerakan manusia dan barang membutuhkan moda angkutan baik sarana dan media (prasarana) membutuhkan moda angkutan. a. Jaringan Jalan Berdasarkan Undang - Undang Republik Indonesia No. 13

Tahun 1980 bahwa jalan adalah prasarana perhubungan darat dalam bentuk apapun meliputi bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapan yang diperuntukan bagi lalu lintas (Laporan Akhir Bapeda : IV-14). Jalan raya mempunyai peranan yang penting terutama menyangkut perkembangan antar daerah yang seimbang dan pemerataan hasil – hasilnya pembangunan serta pemantapan dan keamanan nasional dalam rangka mewujudkan pembangunan

nasional. Secara umum jalan raya berfungsi untuk mobilitas saja atau hanya untuk pergerakan mencapai persil perumahan. Jalan raya sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan unsur penting dalam pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam pembinaan persatuan Republik Indonesia. Jaringan jalan merupakan desain terstruktur untuk bersama – sama mengikat node melaui link atau rute apapun yang menjadi arus dalam undang – undang

14

pergerakan dari satu tempat ke tempat lain (Magribi 1999 : 16). Unsur jaringan jalan yaitu simpul (node), link (rute). Simpul atau node diartikan sebagai titik atau pusat, sedangkan link (rute) berupa jasa atau tujuan perjalanan (magribi 1999 : 16). Jaringan jalan merupakan prasarana transportasi yang penting karena mempunyai pengaruh yang kuat terhadap arus barang dan penumpang. Jalan mempunyai sistim jaringan jalan yang mengikat dan menghubungkan pusat pertumbuhan jaringan dalam suatu wilayah mempunyai pengaruh pelayanan dan membentuk hirarki. Berdasarkan laporan akhir sistim informasi manajemen di Kabupaten Klaten, Jaringan jalan menurut fungsinya antara lain : 1) Jalan Arteri Jalan yang menghubungkan secara efesien antar pusat kegiatan nasional atau antara pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan wilayah. 2) Jalan Kolektor Jalan yang menghubungkan secara efesien antar pusat kegiatan wilayah atau menghubungkan antar pusat kegiatan wilayah dengan wilayah pusat kegiatan lokal. 3) Jalan Lokal Jalan yang menghubungkan secara efesien pusat kegiatan nasional dengan kegiatan lokal dengan pusat kegiatan lokal dengan persil

15

atau pusat kegiatan dibawahya sampai persil (Laporan Bapeda 2003).

b. Terminal Berdasarkan Undang - Undang Republik Indonesia No. 14 tahun 1992 tentang lalu lintas dan angkutan jalan terminal adalah sarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum yang merupakan satu wujud simpul jaringan jalan. Terminal dapat diklasifikasikan sebagai terminal penumpang dan terminal barang. Terminal penumpang adalah prasarana angkutan jalan raya untuk menurunkan dan menaikan penumpang pemidahan dan atau barang pemindahan intra dan antar moda angkutan serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum.

(Warpani, Suwardjoko 2002 : 71). Sampai tahun 2003 kabupaten klaten terdapat 9 terminal penumpang (Laporan Akhir BAPEDA), sedang terminal barang adalah prasarana perangkutan jalan untuk keperluan membongkar dan memuat barang serta perpindahan intra dan antar moda.(Warpani, Suwardjoko 2002 : 71). Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.43 Tahun 1993 wilayah pelayanan terminal dapat diklasifikasikan sebagai berikut : ke dalam beberapa tipe

16

1) Tipe A berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan lintas negara, angkutan kota, antar propinsi, antarkota dalam propinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan 2) Tipe B berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan 3) Tipe C berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan pedesaan. Berdasarkan kedalam : 1) Terminal Utama, adalah terminal yang melayani angkutan utama, angkutan pengumpul atau penyebaran antar pusat kegiatan nasional dari pusat kegiatan wilayah ke pusat kegiatan nasional serta perpindahan antarmoda khususnya moda angkutan laut dan udara. Terminal Utama dapat dilengkapi dengan fungsi sekunder, yakni pelayanan angkutan lokal sebagai mata rantai akhir sistim perangkutan. 2) Terminal pengumpan adalah terminal yang melayani angkuatan pengumpul atau penyebaran antar pusat kegiatan wilayah dari pusat kegiatan lokal ke pusat kegiatan wilayah. Terminal jenis ini dapat dilengkapi dengan pelayanan angkutan setempat. 3) Terminal lokal melayani penyebaran antar pusat kegiatan lokal. (Warpani, Suwardjoko 2002 : 73). fungsi pelayanannya, terminal dikelompokan

17

c. Fasilitas Fasilitas adalah sarana untuk melancarkan pelaksanaan fungsi transportasi (KBBI : 275). Mengingat fungsi dan fasilitas yang

tersedia pada pusat transportasi maka, luas lahan bagi sebuah terminal harus logis. Fungsi terminal tidak hanya sebagai pelengkap prasarana perangkutan yaitu menaikkan dan menurunkan penumpang serta menyangkut pemberangkatan dan kedatangan kendaraan umum. Terminal juga berfungsi sebagai tempat yang tepat untuk kegiatan penunjang. Di luar fungsi perangkutan terminal juga mempunyai fungsi kewilayahan sebagai pusat pengembangan wilayah sedang, fasilitas terminal penumpang harus dilengkapi dengan fasilitas utama dan fasilitas penunjang. Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No.31 tahun 1995 fasilitas terminal penumpang utama sebagai berikut : 1) Fasilitas Utama meliputi : a) Jalur pemberangkatan kendaraan umum b) Jalur kedatangan kendaraan umum c) Tempat parkir kendaraan umum selama menunggu

keberangkatam termasuk didalamnya tempat tunggu dan tempat istirahat kendaraan umum d) Bangunan kantor terminal e) Tempat tunggu penumpang dan atau pengantar f) Menara pengawas g) Loket penjualan karcis

18

h) Rambu – rambu dan papan informasi, yang sekuranf – kurangnya memuat petunjuk jurusan, tarif dan jadwal perjalanan i) Pelataran parkir kendaraan pengantar dan atau taksi. 2) Fasilitas Penunjang a) Kamar kecil atau toilet b) Mushola c) Ruang pengobatan d) Ruang informasi dan pengaduan e) Telepon umum f) Tempat penitipan barang g) Taman.

C. Pemetaan Pemetaan merupakan suatu unsur proses cara pembuatan membuat peta (KBBI 1989 : 763). Secara umum peta merupakan pengecilan permukaan bumi atau angkasa yang digambarkan pada bidang datar dengan menggunakan ukuran, simbol dan generalisasi (Juhadi dan Dewi LS 2001 :2 ). Adapun kegunaan peta antara lain untuk keperluan pelaporan peragaan, analisis dan pemahaman obyek atau kenampakan keruangan (Sinaga,1992). Peta juga digunakan sebagai alat diperlukan dalam proses belajar mengajar di kelas dan media untuk sebagai alat yang membantu ( Juhadi dan Dewi LS. 2002 : 2 ). dalam penelitian

19

Peta mempunyai peranan yang penting bagi kehidupan manusia terutama sebagai alat pengamat lapangan. Fungsi peta adalah sebagai alat yang diperlukan dalam proses perencanaan wilayah, alat yang membantu dalam kegiatan penelitian, alat peraga untuk proses pembelajaran di kelas dan sebagai media untuk pembelajaran di kelas dan sebagai media untuk belajar secara mandiri (Juhadi dan Dewi L.S 2002 : 2) 1. Pengertian Sistem Informasi Geografis Pemetaan dapat dilakukan dengan menggunakan komputer berbasis SIG. Peggunaan SIG meningkat tajam sejak tahun 1980-an. Peningkatan pemakaian SIG terjadi dikalangan pemerintah, militer akademis atau bisnis terutama negara – negara maju. SIG merupakan sebuah sistem yang saling berangkaian satu dengan lainnya. Bakosurtanal mengabarkan SIG sebagai alat kumpulan yang terorganisir dari perangkat lunak komputer dan perangkat keras. Data geografi dan personil yang didesain untuk memperoleh, menyimpan, memperbaiki, manipulasi, menganalisis dari semua informasi yang bergeoreferensi. Dengan demikian data SIG adalah data yang berbentuk spasial dalam digital yang diperoleh melalui data

satelit atau data lain yang digital (Budiyanto :2002). 2. Data Sistem Geografis Data SIG berupa digital yang berformat raster dan vektor. Data raster adalah data yang berasal dari hasil scanning atau data yang belum dalam vektor. Data vektor adalah data digital yang diubah kedalam bentuk digital lengkap dengan informasi obyek. Sumber data digital berupa citra

20

satelit atau foto udara yang diperoleh dalam metode digital. Adapun jenis data yang diperoleh dalam digital yaitu : a. Digitasi peta b. Scanning peta c. Produksi peta foto digital d. Transfer dan sumber data digital 3. Pemetaan Menggunakan Software Arch View Pengolahan data SIG secara sederhana dapat digambarkan dengan sebuah overlay atau tumpang susun. Dalam pengolahan data digital SIG masing – masing satuan pemetaan memiliki bobot tertentu yang berupa scoring. Editing terhadap data raster diperlukan untuk memperbaiki hasil dan visualisasi. Editing dilakukan pada pelurusan, penghalusan dan digital seperti Arch Info dan Arch View. Untuk software Arch View memiliki kemampuan perolehan digital dan editing serta layout peta hasil olahan data digital. Untuk pengolahan data spasial dalam software Arch View memiliki keunggulan yang dapat dimanfaatkan untuk mengolah data spasial Arch View mempunyai kemampuan dalam pengolahan atau editing Arch View menerima atau konvensi dari data digital lain seperti cad atau dihubungkan dengan data image seperti format JAB Tiff atau Image untuk memulai software Arch View dipanggil program star menu dengan cara :

21

a. Klik star b. Klik program c. Klik enter d. Klik arch view GIS Isi proyek Arch View yang terdiri dari view, tabel, grafik dan layout. a. View View berfungsi untuk mempersiapkan data spesial dan peta yang akan diolah. Dari view dilakukan input data dengan digistasi pengolahan (editing) data spesial. Program Arch View dapat menerima image dengan format JPG, CAD, dan IRIC Info. b. Tabel Tabel merupakan data atribut dan data spesial. Data atribut digunakan untuk dasar analisis. Arch view dapat membuat jaringan basis data dengan menggunakan fasilitas tabel. Hubungan data atribut

(relasional) dapat dilakukan sehingga memudahkan analisisnya. Hubungan ini memungkinkan penggunaan data untuk mengambil data yang berupa tabel, teks peta atau gambar. c. Grafik (Chart) Grafik (Chart) merupakan alat penyaji yang efektif dengan menggunakan grafik ini dapat digunakan sebagai analisis yang baik terhadap fenomena. Arch view memiliki variasi grafik yang beraneka

22

ragam. Masing – masing grafik tersebut memiliki sifat atau karakteristik terhadap data yang disajikan. d. Layout Layout merupakan tempat mengatur letak dan rancangan dari peta akhir. Dengan penambahan berbagai simbul, tabel dan atribut lain dapat dilakukan pada layout. e. Proses Pemetaan 1) Alat - Komputer - Software arch view - Printer 2) Bahan - Peta administrasi - Peta Jaringan jalan 3) Proses pemetaan - Mempersiapkan view - Memasukkan sumber data - Digitasi - Layout - Printer

23

22

BAB III METODE ANALISIS

A. Populasi Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian (Suharsimi, Arikunto 1993 : 115). Populasi dalam penelitian ini adalah pusat transportasi seluruh Kecamatan di Kabupaten Klaten sebanyak 26 Kecamatan.

B. Tehnik analisis Tehnik analisis untuk menentukan tingkat hirarki (sentralitas) adalah dengan tehnik analisis skalogram untuk menentukan hirarki pusat pelayanan transportasi Kabupaten Klaten.

C. Lokasi survei Lokasi ini dilakukan di wilayah Kabupaten Klaten dengan menitikberatkan pada hirarki pusat transportasi.

D. Variabel survei Variabel tugas akhir yaitu pusat transportasi di Kabupaten Klaten yang meliputi hirarki pusat transportasi dengan variabel : 1. Luas terminal atau sub terminal. 2. Fasilitas terminal atau sub terminal. 3. Jurusan dan moda angkutan.

23

E. Metode pengumpulan data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah : 1. Dokumentasi Metode dokumentasi yang dilakukan dalam tugas akhir ini adalah menggunakan data sekunder berasal dari arsip – arsip atau dokumen – dokumen yang relevan dan instansi terkait seperti BAPEDA, BPS, DLLAJR dan DIPENDA. 2. Studi Pustaka Studi pustaka yaitu dengan mempelajari buku yang berhubungan dengan penyusunan tugas akhir ini. 3. Observasi Observasi adalah pengamatan terhadap obyek yang dilakukan dalam tugas akhir untuk melengkapi data yang belum ada. 4. Laboratorium Pemetaan Laboratorium pemetaan merupakan kegiatan yang dilakukan di dalam laboratorium untuk pembuatan peta hirarki pusat transportasi di Kabupaten Klaten.

F. Analisa Data Metode analisa data yang digunakan dalam tugas akhir ini berdasarkan analisa metode skalogram untuk menentukan hirarki pusat transportasi dimana

24

skor tertinggi (Indeks sentralitas tertinggi) sebagai hirarki pertama dan skor terendah (Indeks sentralitas terendah) sebagai hirarki terakhir. Adapun langkah – langkah dalam metode skalogram sebagai berikut : 1. Buat tabel prasarana transportasi yang meliputi kantor pengawas, loket atau restribusi, kios atau toko, kamar mandi atau wc, mushola, tempat parkir, taman, ruang tunggu dan loket agen bus. 2. Isikan skor fasilitas dan jenis sarana angkutan penumpang. 3. Mengidentifikasi sarana transportasi meliputi Angkutan Kota Antar Propinsi (AKAP), Angkutan Perbatasan Antar Propinsi (APAP), Angkutan Perbatasan Dalam Propinsi (APDP), Angkutan Pedesaan (AP) kapasitas 24 - 26 tempat duduk, Angkutan Pedesaan (AP) kapasitas 12 – 16 tempat duduk dan Angkutan Pedesaan (AP) kapasitas 12 tempat duduk. 4. Hitung jumlah total fasilitas dan jenis moda angkutan penumpang 5. Hasil total fasilitas dan jenis moda angkutan penumpang diberi bobot fungsi Rumus : C = t / T 6. Hasil pembobotan kemudian Indeks Sentral (IS=Σc) 7. Untuk mengetahui hirarki pusat transportasi di hitung berdasarkan total Indeks Sentral fasilitas terminal dan jenis angkutan penumpang, Kemudian dari indeks sentral tersebut dibuat menjadi 3 hirarki Rumus : Rentangan hirarki = Indeks maksimal – Indeks terendah 3

25

Dari hasil pembagian tersebut didapat klasifikasi hirarki pusat transportasi sebagai berikut : Klasifikasi hirarki I = 23,4 – 35

Klasifikasi hirarki II = 11,9 – 23,4 Klasifikasi hirarki III = 0,4 – 11,9

G. Proses pemetaan 1. Menscan peta Sebelum melakukan pemetaan terlebih dahulu kita menscan peta terlebih dahulu. Misal tipe scannya Canon Scan D 646 U EX. Cara menscan yaitu dengan cara : a. klik scan gear pada short cut atau dari start, program, canon csan gear di

klik. Klik custom 2 maka akan muncul scan gear CS-U kemudian akan muncul ommi page pro-untitled ommipage document. b. Untuk menyimpan peta yang sudah di scan caranya klik file kemudian cari save image di klik atau pakai CTRL+L maka akan muncul Save in …. Tulis folder misal tugas akhir file name…..pemetaan hirarki pusat transportasi save as tipe : TIFF group 4 Compressed (* Tiff). 2. Memulai arc view Arc view merupakan sebuah soft ware pengolah data spasial. Soft ware ini memiliki keunggulan yang dapat dimanfaatkan oleh kalangan pengolah data spasial. Arc view mempunyai kemampuan dalam pengolahan data dari data

26

digital lain seperti CAD atau dihubungkan dengan data image seperti format JPEG, TIFF, atau image gerak. Untuk memulai penggunaan soft ware ini panggil program ini dari start menu yang secara berurutan sebagai berikut : a. Klik start b. Pilih program c. Pilih esri d. Pilih arc view 3. Membuat new project Setelah arc view diaktifkan apabila setting arc view belum diubah, maka di dalam layar monitor akan terlihat “wolcome to arc view” yang menawarkan tiga pilihan yaitu : a. Membuka projek dengan new view b. Mambuka projek kosong c. Membuka projek yang sudah dibuat jika belum punya projek atau ingin membuat view baru maka klik “with a new view” kemudian klik OK. kemudian klik yes maka akan muncul add theme. Selanjutnya ubahlah direktori ke direktori yang berisikan data yang akan kita gunakan untuk memetakan suatu peta. Setelah membuat direktori langkah selanjutnya yaitu membuat titik kontrol suatu peta dengan cara mengklik register and transform.

27

4. Digitasi data spasial Setelah menscan, membuat theme baru kemudian memasukkan koordinat atau titik kontrol, peta tersebut siap untuk didigitasi. Langkah-langkah untuk

mendigitasi peta adalah : a. Pilih view dari menu utama dengan mengklik, pilih new theme dari sub menu, kemudian klik maka akan muncul dialog box new theme selanjutnya pilih tipe yang akan digunakan ada tipe point, line, poligon. Sorot atau blok point, line, poligon sesuai dengan tipe theme yang akan dibuat. b. Kemudian klik OK maka akan muncul jendela new theme beri nama baru pada file name karena masing-masing theme akan disimpan pada sebuah file baru dengan ekstensi Shp. Setelah diberi nama kemudian klik OK maka layer atau theme baru aka muncul pada view kemudian kita siap mendigitasi sebuah peta. 5. Editing Langkah-langkah dalam mengedit peta yaitu: a. Klik ikon pointer b. Klik theme yang akan diedit pada daftar isi projek c. Pilih theme dari menu d. Pilih start editing

28

Pada daftar isi view terdapat kotak cek theme yang diaktifkan. Kotak skrip ini menunjukkan bahwa theme tersebut siap untuk diedit. Apabila editing sudah selesai dilakukan maka simpanlah dengan cara mengklik ikon save atau dengan cara klik theme pada sub menu kemudian klik stop editing kemudian klik. 6. Lay out Pembuatan lay out peta dapat dilakukan setelah pembuatan projek dalam arc view dengan segala perubahannya selesai. Langkah-langkahnya adalah sebagai beriku t: a. Aktifkan semua theme yang akan diperlukan dalam sebuah tampilan lay out peta b. Pilih menu view c. Arahkan pointer pada menu lay out. d. Muncul template manager e. Pilih landscpae atau potarit pilih landscape (posisi memanjang) atau potrait (posisi berdiri) sesuai dengan yang diingginkan kemudian klik OK. Maka akan muncul peta yang akan di buat pada view, beserta judul peta, legenda, skala peta, orientasi peta, garis tepi dapat di ubah sesuai dengan keinginan kita. 7. Printer Setelah kita membuat dan mengedit lay out sesuai dengan keinginan kita maka lay out tersebut siap untuk diprint.

29

30

BAB IV HASIL ANALISIS

A. Hasil Penelitian 1. Kondisi Umum Geografi a. Kondisi Geografis Berdasarkan letak geografis Kabupaten Klaten terletak antara 7°30` - 7°45` Lintang Selatan dan 110°30` - 110°45` Bujur Timur. Kabupaten Klaten terletak pada bagian Tenggara wilayah Propinsi Jawa Tenggah dan terletak pada jalur regional yang menghubungkan Kota Solo dan Yogyakarta. Secara administrasi Kabupaten Klaten berbatasan dengan wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara - Sebelah timur : Kabupaten Boyolali : Kabupaten Sukoharjo

- Sebelah Selatan : Kabupaten Gunung Kidul - Sebelah Barat : Kabupaten Sleman

Ditinjau dari datarannnya wilayah Kabupaten Klaten terbagi menjadi 3 wilayah, letak Kabupaten Klaten yang diapit gunung merapi dan pengunungan seribu mempunyai ketinggian berkisar 75 – 2.911 meter diatas permukaan air laut, sehingga secara garis besar keadaan lapangan terbagi dalam 3 wilayah :

31

32

− Wilayah yang berada dikaki Gunung Merapi, meliputi kecamatan kecamatan Manisrenggo, Karanganom, Kemalang, Jatinom dan Tulung. − Wilayah relatif datar berada di bagian tengah Kabupaten Klaten meliputi Kecamatan Klaten Tenggah, Klaten Utara, Klaten Selatan, Klaten Utara, Kalikotes Ngawen, Kebonarum, Wedi, Jogonalan,

Prambanan, Gantiwarno, Delanggu, Wonosari, Juwiring, Ceper, Pedan, Karangdowo, Trucuk, Cawas, Karanganom dan Polanharjo − Wilayah berbukit dan bergelombang yang merupakan wilayah bagian selatan Kabupaten Klaten meliputi Kecamatan Bayat dan sebagian Kecamatan Gantiwarno.

b. Jumlah Penduduk dan Luas Wilayah Secara administrasi Kabupaten Klaten mempunyai daerah seluas 655,56 Km2 dengan pembagian wilayah administrasi yang terdiri dari 26 Kecamatan. Jumlah penduduk Kabupaten Klaten akhir tahun 2004 tercatat 1.281.786 Jiwa. Kepadatan penduduk Kabupaten Klaten cukup tinggi bila dilihat dari kepadatan penduduk Jawa Tengah.

33

Untuk lebih lanjut kepadatan penduduk Kabupaten Klaten dapat dilihat pada tabel berikut di bawah ini : Tabel .1 Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2004 Luas Wilayah (Km2) Jumlah penduduk (jiwa) 45.583 40.494 54.887 63.798 64.695 79.198 36.520 21.206 57.368 41.197 38.046 43.734 63.734 36.447 47.836 51.659 61.699 44.381 45.458 49.075 54.659 56.811 34.772 40.220 43.355 40.252 1.281.786 Kepadatan penduduk (jiwa/Km2) 1.866 1.579 2.251 1.618 1.877 2.342 2.814 2.193 2.149 1.528 1.423 2.577 2.595 2.495 1.767 2.062 1.981 2.363 1.907 2.040 1.708 1.599 673 2.787 4.860 3.878 1.955

N0

Kecamatan

1 Prambanan 24,43 2 Gantiwarno 25,64 3 Wedi 24,38 4 Bayat 39,43 5 Cawas 34,47 6 Trucuk 33,81 7 Kalikotes 12,98 8 Kebonarum 9,98 9 Jogonalan 26,70 10 Manisenggo 26,96 11 Karangnongko 29,74 12 Ngawen 16,97 13 Ceper 24,45 14 Pedan 19,17 15 Karangdowo 29,23 16 Juwiring 29,79 17 Wonosari 31,14 18 Delanggu 18,78 19 Polanharjo 23,84 20 Karanganom 24,06 21 Tulung 32,00 22 Jatinom 35,53 23 Kemalang 51,66 24 Klaten Selatan 14,43 25 Klaten Tengah 8,92 26 Klaten Utara 10,33 Jumlah 655,56 Sumber : Kabupaten Dalam Angka 2004

34

35

Berdasarkan data kependudukan diatas, terlihat bahwa jumlah kepadatan penduduk Kabupaten klaten pada tahun 2004 tercatat 1.955 jiwa/Km2. Angka ini menunjukan bahwa setiap kilometer persegi Kabupaetn Klaten berpenduduk rata – rata 1.955 jiwa/Km2. Bila dilihat dari kepadatan penduduk Jawa Tengah pada tahun 2004 maka, kepadatan penduduk di Kabupaten Klaten cukup tinggi. Kepadatan penduduk tersebut dihitung dengan membagi jumlah penduduk terhadap luas wilayah secara keseluruhan. Dari data tersebut Kecamatan yang paling padat penduduknya adalah Kecamatan Klaten tengah yang tercatat 4.860 jiwa/Km2 sedangkan Kecamatan yang terendah yaitu Kecamatan Kemalang tercatat 673 jiwa/Km2.

2. Hirarki Pusat Transportasi Pusat transportasi ditandai dari aspek prasarana transportasi yang meliputi luas terminal, kantor pengawas, loket restribusi, kios atau toko, kamar mandi atau wc, mushola, tempat parkir, taman, ruang tunggu, dan loket agen bus. Dan sarana transportasi yang meliputi Angkutan Antar Kota Antar Propinsi (AKAP), Angkutan Perbatasan Antar Propinsi (APAP), Angkutan Perbatasan Dalam Propinsi (APDP), Angkutan Pedesaan (AP) kapasitas 24-26 tempat duduk, Angkutan Pedesaan (AP) kapasitas 12-16 tempat duduk, Angkutan Pedesaan (AP) kapasitas 12 tempat duduk. Adapun penentuan hirarki pusat transportasi tersebut berdasarkan pada sarana transportasi dan prasarana kemudian diberi skor sesuai dengan

36

kebutuhan fasilitas terminal. Prasarana transportasi meliputi kelengkapan terminal seperti kantor pengawas, loket atau restribusi, kios atau toko, kamar mandi atau wc, mushola, tempat parkir, taman, ruang tunggu dan loke agen bus. Setiap variabel mempunyai skor satu, jika fasilitas lengkap berarti skor sembilan. Sedangkan sarana transportasi meliputi Angkutan Antar Kota Antar Propinsi (AKAP), Angkutan Perbatasan Dalam Propinsi (APDP), Angkutan Perbatasan Antar Propinsi (APAP), Angkutan Pedesaan (AP) kapasitas 24 - 26 tempat duduk, Angkutan Pedesaan

(AP) kapasitas 12 -16 tempat duduk, Angkutan Pedesaan (AP) kapasitas 12 tempat duduk. Setiap variabel satu jurusan mempunyai skor satu,

jika sarana transportasi semakin banyak maka skornya makin tinggi. Setelah penentuan skor kemudian dihitung indeks sentral, bobot fungsi dan jumlah total dalam terminal tersebut. Dari hasil Indeks sentral selanjutnya ditentukan hirarki pusat transportsi dengan rentangan atau kelas interval skor tertinggi – skor terendah dibagi 3. Hasil analisa hirarki pusat transportasi di Kabupaten Klaten berdasarkan pada metode analisa skalogram.

37

Contoh hitungan hirarki pusat transportasi dengan metode skalogram : a) Fasilitas Terminal t = Jumlah faslitas =9 = 51

T = Jumlah total fasilitas

C1 = Jumlah fasilitas x 100 = (9/51) x 100 = 17,65 Jumlah total fasilitas b) Sarana angkutan penumpang t = Jumlah Jurusan = 42 = 242

T = Jumlah total jurusan

x 100 = (42/242) x 100 = 17,35 C2 = Jumlah jurusan Jumlah total jurusan

Jumlah IS = IS Fasilitas + IS Sarana Angkutan Penumpang = 17, 65 + 17,35 = 35 Indeks minimum Indeks maksimal Rentangan = 0,4 = 35 = Indeks maksimal – Indeks minimal 3 = 35 – 0,41 = 11,53 3 = 23,4 - 35

Klasifikasi Hirarki Pusat Transportasi Hirarki I

Klasifikasi Hirarki Pusat Transportasi Hirarki II = 11,9 - 23,4 Klasifikasi Hirarki Pusat Transportasi Hirarki III = 0,4 – 11,9 Untuk lebih lanjut lihat lampiran 1.

38

Dari analisa data tersebut diperoleh hirarki pusat transportasi di Kabupaten Klaten : Hirarki I Hirarki II = Mencakup terminal Jonggrangan. = Mencakup terminal Cawas, terminal Ceper, terminal Teloyo, terminal Pasar Klaten, terminal Bendogantungan, terminal dan Delanggu. Hirarki III = Mencakup terminal Tulung, terminal Prambanan, terminal Bayat, dan terminal Manisrengo. Dan beberapa Kecamatan berikut ini hanya sekedar dilewati sarana transportasi meliputi Kecamatan

Kalikotes, Kebonarum, Jogonalan, Pedan, Karangdowo, Juwiring, Polanharjo, Karanganom, Jatinom, Kemalang, Gantiwarno, Trucuk, Karangnongko, Ngawen dan Wedi.

3. Sarana dan Prasarana Transportasi a. Sarana Transportasi Sarana transportasi angkutan penumpang umum yang melalui jalan raya terutama di Kabupaten Klaten ada 3 jenis angkutan yaitu Angkutan Antarkota Antar Propinsi (AKAP) dengan kapasitas 50 - 55 tempat duduk, Angkutan Perbatasan Dalam Propinsi (AKDP), dengan kapasitas 24 - 32 tempat duduk, Angkutan Pedesaan (AP) dengan kapasitas 24 – 26 tempat duduk, kapasitas 12 - 16 tempat duduk dan kapasitas 12 tempat duduk.

39

Pada saat ini angkutan penumpang di Kabupaten Klaten di layani 3 jenis pelayanan angkutan penumpang yaitu angkutan antar propinsi, angkutan angkutan perbatasan dan angkutan pedesaan Tabel. 2 Angkutan Antar Kota Antar Propinsi No Trayek Aktif 1 Solo- Prambanan-Yogya- Purwokerto 6 2 Solo – Klaten – Yogya 32 3 Semin- Penggung – Solo 13 4 Semin – Penggung – Klaten 4 5 Wonosari – Bayat – Cawas – Klaten 3
Sumber : Bapeda Kabupaten Klaten 2003

Cadangan 2 -

Dari tabel 3 menunjukan, sarana angkutan antar kota antar propinsi terbagi menjadi 5 trayek yaitu Solo – Klaten – Yogya – Purwokerto dengan jumlah 6 bus besar, Solo – Klaten – Yogya 32 bus besar, Semin – Penggung – Solo 13 bus besar, Semin – Penggung – Klaten 4 bus besar dan Wonosari – Bayat – Cawas – Klaten 3 bus besar. Sarana angkutan tersebut melewati jalan artei, jalan kolektor dan jalan lokal yang ada di Kecamatan Delanggu, Ceper, Pedan, Cawas, Klaten Tengah, Klaten Utara, Klaten Selatan, Jogonalan, Prambanan, Bayat dan Kecamatan Wonosari. Tabel. 3 Angkutan Perbatasan Antar Propinsi Kapasitas 24 – 32 Tempat Duduk No Trayek Aktif Cadangan 1 Klaten-Penggung-Cawas-Jentir-Semin2 0 Wonosari 2 3 4 Klaten-Wedi-Bayat-Semin-Jentir Semin- jentir- Cawas-Pedan-Penggung Klaten-Penggung-Cawas-Pedan-KartosuroSolo 3 5 2 0 0 0

Sumber : Bapeda Kabupaten Klaten 2003

40

Dari tabel 3 menunjukan, sarana angkutan pedesaan kapasitas 24 – 32 tempat duduk terbagi menjadi 4 trayek yaitu Klaten – Penggung– Cawas – Jentir – Semin –Wonosari dengan jumlah 2 bus sedang, Klaten–Wedi - Bayat – Semin – Jentir 3 bus sedang, Semin – Jentir – Cawas – Pedan - Penggung 5 bus sedang, Klaten – Penggung – Cawas – Pedan –Kartosuro – Solo 2 bus sedang. Sarana angkutan tersebut

melewati jalan arteri, jalan kolektor dan jalan lokal yang ada di Kecamatan Klaten Utara, Klaten Selatan, Klaten Tengah, Ceper, Pedan, Cawas, Karangdowo, Juwiring, Wonosari, Delanggu, Wedi dan Bayat. Tabel. 4 Angkutan Perbatasan Dalam Propinsi Kapasitas 24 – 32 Tempat Duduk No Trayek Aktif Cadangan 1 Jentir-Cawas-Pedan-Penggung-Klaten6 2 Jogonalan-Jatinom-Boyolali 2 Klaten-Jatinom-Boyolali 2 3 Kelir-Cawas-Penggung-Klaten 9 4 Klaten-Cawas-Penggung-Kartosuro 6 5 Klaten-Wedi-Bayat-Teloyo-Solo 3 6 Jentir-Cawas-Penggung-Kartosuro-Solo 2 7 Klaten-Gondang-Panggil-Prambanan3 Klaten-Solo 8 Klaten-Wedi-Bayat-Teloyo-Solo 3 9 Jentir-Cawas-Penggung-Klaten 2 10 Klaten-Karanganom-Tegalgondo-Delaggu 7 11 Delanggu-Tegalgondo-Cokro-Karanganom1 Klaten 12 Klaten-Gondang-Kemalang-Musuk2 Boyolali 13 Cawas-Bayat-Wedi-Klaten 2 14 Manyaran-Kelir-Cawas-Penggung3 Kartosuro 15 Jentir-Cawas-Penggung-Klaten-Jatinom3 Boyolali 16 Klaten-Gondang-Kemalang-Musuk4 Boyolali
Sumber : Bapeda Kabupaten Klaten 2003

41

Dari tabel 4 menunjukan, sarana angkutan pedesaan kapasitas 24 - 32 tempat duduk terbagi menjadi 16 trayek yaitu Jentir – Cawas – Pedan – Klaten – Jogonalan – Boyolali dengan jumlah 6 bus sedang, Klaten – Jatinom – Boyolali 2 bus sedang , Kelir – Cawas – Penggung – Klaten 9 bus sedang, Klaten – Cawas - Penggung – Kartosuro 6 bus sedang, Klaten – Wedi – Bayat – Teloyo – Solo 3 bus sedang, Jentir – Cawas – Penggung – Kartosuro – Solo 2 bus sedang, Klaten – Gondang – Panggil – Prambanan – Klaten – Solo 3 bus sedang, Jentir – Cawas – Penggung – Klaten 2 bus sedang, Klaten – Karanganom – Tegalgondo – Delanggu 7 bus sedang, Delanggu – Tegalgondo – Cokro – Karanganom – Klaten 1 bus sedang, Klaten – Gondang – Kemalang – Musuk – Boyolali 2 bus sedang, Cawas – Bayat – Wedi – Klaten 2 bus sedang, Manyaran – Kelir – Cawas – Penggung – Kartosuro 3 bus sedang, Jentir – Cawas – Penggung – Klaten – Jatinom – Boyolali 3 bus sedang, Klaten – Gondang – Kemalang – Musuk – Boyolali 4 bus sedang. Sarana angkutan tersebut melewati jalan arteri, jalan kolektor dan jalan lokal yang tersebar diwilayah kabupaten klaten.

42

Tabel. 5 Angkutan Pedesaan Jenis Bus Pedesaan Kapasitas 24 – 26 Tempat Duduk No 1 2 3 4 5 Trayek Klaten-Penggung-CawasKelir/Perbatasan Klaten-Wedi-Bayat-CawasKarangdowo-TeloyoDelanggu Klaten-GayampritKembang-ManisrenggoPrambanan Klaten-Panggil-Prambanan Klaten-GondangKemalang-Musuk-Boyolali Kebutuhan 11 15 12 12 Tersedia 11 14 10 10 Kurang 2 2

Sumber : Bapeda Kabupaten Klaten 2003

Dari tabel. 5 menunjukan bahwa, sarana angkutan pedesaan dengan kapasitas 24 – 26 tempat duduk terbagi menjadi 5 trayek yaitu Klaten – Penggung – Cawas – Kelir dengan jumlah 11 minibus, Klaten –Wedi – Bayat – Cawas – Karangdowo – Teloyo – Delanggu 14 minibus, Klaten – Gayamprit – Kembang – Manisrenggo – Prambanan 10 minibus, Klaten – Panggil – Prambanan belum ada, Klaten Gondang –Kemalang – Musuk – Boyolali 10 minibus. Sarana angkutan tersebut melewati jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal yang ada di Kecamatan Klaten Utara, Klaten Tengah, Klaten Selatan, Ceper, Pedan, Cawas, Wedi, Bayat, Karangdowo, Wonosari, Delanggu, Kemalang, Manisrenggo, Prambanan, Ganriwarno, Tulung.

43

Tabel . 6 Angkutan Pedesaan Jenis Bus Kapasitas 12 – 16 Tempat Duduk Kebutuhan tersedia Kurang No Trayek 1 Klaten-Penggung-Pedan80 80 Cawas-Jetir 2 Klaten-Bendogantungan-Wedi35 31 4 Bayat 3 Delanggu-Pakis-Daleman34 34 Karangdowo-Pedan 4 Delanggu-Juwiring-Pedan4 4 Wonosari 5 Klaten-Jatinom-Mundu 10 6 4 6 Klaten-Jatinom-Tulung 20 15 5 7 Klaten-Gondang-Kemalang13 13 Surowono 8 Prambanan-Manisrenggo11 11 Kepurun-Butuh 9 Prambanan-Bendogantungan77 77 Penggung-Delanggu
Sumber : Bapeda Kabupaten Klaten 2003

Dari tabel. 6 menunjukan bahwa, sarana angkutan pedesaan jenis mikrobus kapasitas 12 – 16 tempat duduk terbagi menjadi 9 trayek yaitu Klaten – Penggung – Pedan – Cawas – Jentir dengan jumlah 80 mikrobus, Klaten - Bendogantungan - Wedi – Bayat 31 mikrobus, Delanggu – Pakis – Daleman – Karangdowo - Pedan 34 mikrobus, Delanggu – Juwiring – Pedan - Wonosari 4 mikrobus, Klaten – Jatinom - Mundu 6 mikrobus, Klaten – Jatinom – Tulung 15 mikrobus, Klaten – Gondang – Kemalang – Sorowono 13 mikrobus, Prambanan – Manisrenggo – Kepurun – Butuh 11 mikrobus, Prambanan – Bendogantungan – Penggung – Delanggu 7 mikrobus. Sarana angkutan tersebut melewati jalan arteri, jalan kolektor dan jalan lokal yang tersebar di wilayah Kecamatan Kabupaten Klaten.

44

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Tabel. 7 Angkutan Pedesaan Kapasitas 12 Tempat duduk Kebutuhan Tersedia Trayek Klaten-Srowot 9 8 Klaten- Benteng 11 7 Klaten-RSI-Karanganom 11 10 Klaten-Kalikebo-Cawas 10 10 Klaten-Wedi-Pasarbalong 10 8 Klaten-Jatinom-Penggung 16 16 Klaten-Palar-Pedan 8 8 Klaten-Jimbung-Bayat16 10 Karangasem Klaten-Bayat7 7 Karangnongko-Puluhwatu Klaten-Kadilajo9 9 Dompoyanga-Tegalmas Klaten wedi-Gempol 9 8 Klaten-Jatinom-Kayumas8 8 Temuireng Klaten-Warung apung10 8 Pasar Ikan Delanggu-Tanjung-Serenan 11 11 Delanggu-Keprabon2 2 Nangsri Delanggu-Juwiring-Pedan13 10 Karangdowo Delanggu-Sribit-Gabus 8 8 Delanggu-Gunting6 6 Sidowarno-Cuplik Delanggu-Maduhan 8 8 Penggung-Wiro-Krikilan6 6 Bayat Penggung-Troketaon 6 6 Prambanan-Pasarmegah4 4 Tegalmas Prambanan-Dompyangan5 5 Tegalmas

Kurang

1 4 1 2 6 1 2 3 -

Sumber : Bapeda Kabupaten Klaten 2003

Dari tabel. 7 menunjukan bahwa, sarana angkutan pedesaan kapasitas 12 tempat duduk terbagi menjadi 23 trayek yaitu Klaten – Srowot dengan jumlah 8 angkutan kota, Klaten – Beteng 7 angkutan

45

kota, Klaten – RSI – Karanganom 10 angkutan kota, Klaten – Kalikebo – Cawas 10 angkutan kota, Klaten – Wedi – Pasarbalong 8 angkutan kota, Klaten – Jatinom – Penggung 16 angkutan kota, Klaten – Palar – Pedan 8 angkutan kota, Klaten – Jimbung – Bayat 10 angkutan kota, Klaten –Jimbung - Bayat – Karangasem 10 angkutan kota, Klaten - Bayat –Karangnongko – Puluhwatu 7 angkutan kota, Klaten – Kadilajo –Dompyongan – Tegalmas 9 angkutan kota, Klate – Wedi – Gempol 8 angkutan kota, Klaten – Jatinom – Kayumas – Temuireng 8 angkutan kota, Klaten – Warungapung – Pasar Ikan 8 angkutan kota, Delanggu – Tanjung–Serenan 11 angkuatan kota,

Delanggu – Keprabon - Nangsri 11 angkutan kota, Delanggu – Juwiring - Pedan – Karangdowo 10 angkutan kota, Delanggu – Sribit Gabus 8 angkutan kota, Delanggu – Gunting -Sidowarno 6 angkutan kota, Delanggu-Maduhan 8 angkutan kota, Penggung – Wiro - Kerikil - Bayat 6 angkutan kota, Penggung - Truketon 6 angkutan kota, Prambanan – Pasarmegah - Tegalmas 4 angkutan kota, Prambanan Dompyongan Tegalmas 5 angkutan kota. Sarana angkutan tersebut melewati jalan kolektor dan jalan lokal yang tersebar di seruluh wilayah Kabupaten Klaten. Selain armada tersebut di atas angkutan perbatasan antar propinsi juga dilayani kendaraan bus dengan kapasitas 12 – 16 tempat duduk dengan trayek Yogyakarta Prambanan (dengan tanda kendaraan Yogyakarta). Sedangkan kendaraan yang dari Klaten belum ada yang

46

melayani sehingga, dalam hal ini perlu perhatian dari instansi yang terkait untuk penyediaan sarana angkutan dari Klaten – Prambanan mengingat potensi pariwisata yang ada di kompleks candi

Prambanan.(Laporan Akhir Bapeda 2003 : 7-9 ).

b. Prasarana Transportasi 1). Jaringan Jalan Secara umum panjang jalan di Kabupaten Klaten adalah 768,49 Km. Jalan di Kabupaten Klaten termasuk kategori jalan kelas II, IIIA dan IIIC dengan ketentuan sebagai berikut. Jalan kelas II jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 mm, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 mm dan muatan sumbu terberat diijinkan 8 ton. Jalan ini mempunyai panjang 32,00 Km dalam keadaan baik. Jalan kelas IIIA jalan arteri atau jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor dan muatannya ukuran tidak melebihi dari 2.500 mm, ukuran panjang tidak melebihi1800 mm dengan muatan sumbu 8 ton. Jalan ini mempunyai panjang 34,84 Km dalam keadaan baik tidak berlubang. Jalan kelas IIIC ini mempunyai panjang 701,65 Km. Berdasarkan kondisi fisiknya sepanjang 221.50 Km (28,82%) dalam keadaan baik, 211.93 Km (27,58%) dalam keadaan sedang, 170.18

47

Km (22.15%) dalam keadaan rusak, 164.88 Km (21,146%) dalam keadaan rusak berat. Dari panjang jalan keseluruhan 704,99 Km (91,74%) jalan aspal, 63.50 Km (8,26%) jalan tanah. Tabel. 8 Panjang Jalan Kabupaten Klaten. Keadaan Jalan I. Permukaan a. Diaspal b Kerikil c Tanah d tidak diperinci Jumlah II. Kondisi Jalan a. Baik b Sedang c Rusak d Rusak berat Jumlah III Kelas Jalan a Kelas I b Kelas II c Kelas III d Kelas IIIA e Kelas IIIC f Kelas IV g Tidak terperinci Jumlah Panjang Jalan (Km) 704, 99 63,50 768,49 Persentase (%) 91,74 8,26 100,00

221,50 211,93 170,18 164,88 768,49 32,00 34,84 701,65 768,49

28,82 27,58 22,14 21,146 100,00 4,16 4,53 91,30 100,00

Sumber : Kabupaten Klaten Dalam Angka 2004

Jaringan jalan merupakan prasarana transportasi yang sangat penting sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No.14 tahun 1992 tentang lalu lintas dan angkutan jalan bahwa sasaran transportasi merupakan penyelenggaraan transportasi yang efektif, efesien dalam kapasitas mencukupi terpadu, tertib, aman dan tetap dan teratur, cepat dan lancar selamat dan nyaman (Materi Pembekalan 2004).

48

Pola jaringan jalan di Kabupaten Klaten berbentuk pola gride, pola ini sesuai dengan jaringan jalan di Kabupaten Klaten yang relatif datar. Pola jaringan jalan ini mempunyai keuntungan distribusi lalu lintas dapat merata (tidak memusat) dan efesien pelayanannya terutama pada daerah (wilayah) sepanjang jalan arteri. Seperti kepadatan penduduk di Kabupaten Klaten yang tidak merata, maka kepadatan jaringan jalan Kabupaten Klaten juga tidak merata. Kepadatan jaringan jalan di Kabupten Klaten yang tinggi yaitu sepanjang jalan arteri Yogya – Solo. Kepadatan Jaringan Jalan yang paling sederhana yaitu perbandingan panjang jalan seluruhnya dengan luas wilayah. Rumus kepadatan jaringan jalan = Panjang jalan Luas Wilayah = 768,49 Km/655,56 Km2 = 1,172 Km/Km2 Kepadatan jaringan jalan disini 1,172 Km2 artinya setiap luas wilayah 1 Km2 wilayah mempunyai kepadatan jaringan jalan 1,172 Km. Jaringan jalan menurut fungsinya diklasifikasikan menjadi 3 yaitu : a). Jalan Arteri Jalan ini menghubungkan Kabupaten Klaten dengan Kabupaten Solo dan Yoygakarta. Jalan tersebut dari pintu utama yakni dari arah timur ke barat melalui Kecamatan Prambanan, Jogonalan, Klaten Tengah, Klaten Utara, Klaten Selatan, Ceper,

49

Delanggu. Kondisi Jalan ini pada umumnya baik dengan kecepatan lalu lintas yang tinggi dengan kecepatan 60 Km/jam, lebar badan jalan 8 meter dengan kapasitas lebih besar lalu lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulak alik, lalu lintas lokal. Jalan masuk dibatasi secara efesien (jarak antar jalan atau masuk akses langsung tidak boleh lebih pendek 500 m). b). Jalan Kolektor Jaringan jalan ini menghubungkan antar Kota Kecamatan dan Kota Kecamatan dengan Kecamatan Kota Kabupaten, atau menghubungkan kawasan pusat Kota Klaten. Jalan tersebut melalui jalan yang menghubungkan Kota Boyolali – Klaten, Kota Sukoharjo – Klaten, Kota Wedi – Gunung Kidul. Jaringan jalan kolektor ini mempunyai kecepataan minimum 40 Km/jam lebar badan jalan 7,0 meter dengan kapasitas sama dengan lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata. Jalan masuk dibatasi, direncanakan sehingga tidak mengurangi kecepatan rencana dan kapasitas jalan. c). Jalan Lokal Jalan Lokal ini menghubungkan antar Kecamatan dengan Kecamatan, Kecamatan dan antar Kecamatan dengan Kawasan permukiman. Jalan ini melalui simpul pusat Kecamatan di seluruh Kabupaten Klaten.(Laporan Akhir Bapeda 2003).

50

2). Terminal Prasarana transportasi keberadaanya dapat mempermudah mobilitas orang atau barang. Prasarana transportasi meliputi terminal. Untuk menunjang kelancaran transportasi baik antar kota maupun antar desa, maka fasilitas terminal dibutuhkan dan penting keberadaannya. Di Kabupaten Klaten terdapat 9 terminal penumpang. Terminal induk di Kota Klaten ada di Kecamatan Klaten Utara yaitu terminal Jonggrangan dan terminal lainnya di Kecamatan Ceper (Penggung), Cawas, Wonosari (Teloyo), Tulung, Klaten Selatan

(Bendogantungan), Prambanan, dan Klaten Tenggah (Pasar Klaten). Terminal Jonggrangan melayani angkutan Antar Kota Antar Propinsi (AKAP), Antar Perbatasan Dalam Propinsi (APDP) dan angkutan pedesaan (AP). Terminal Bendogantungan melayani angkutan pedesaan bertipe C, Terminal Tulung melayani angkutan pedesaan tipe C, Terminal penggung melayani angkutan pedesaan bertipe C, Terminal Terminal Delanggu melayani angkutan pedesaan tipe C, Terminal Pasar Klaten melayani angkutan pedesaan tipe C. Pada saat ini ada beberapa terminal yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya yaitu terminal Jongrangan yang saat ini merupakan terminal tipe B, namum kenyataannya juga melayani bus AKAP sehingga sebagai terminal tipe A. Terminal Delanggu tidak berfungsi ini disebabkan lokasi CBD yang saat ini terlalu jauh dari

51

pasar tradisional, sehingga pengguna jasa angkutan umumnya malas untuk ke terminal dan cenderung menunggu di kawasan pasar atau CBD yaitu pasar Delanggu yang berdampak angkutan umum lebih senang ngetem di kawasan pasar. Tabel. 9 Terminal Tipe B C C C C C C C C

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Terminal Jongrangan Penggung Cawas Bendogantungan Tulung Teloyo Pasar Klaten Manisrenggo Delanggu Dari tabel diatas

Luas (m2) 10.711 4.500 3.000 3.185 400 3.310 600 1.785 7.000

Sumber : DLLAJR Kabupaten Klaten 2003

menunjukan, Terminal Jonggrangan

mempunyai luas area 10.711 m2 yang merupakan terminal terbesar di Kabupaten Klaten dan Terminal yang mempunyai luas area terkecil yaitu terminal Tulung dengan luas area 400 m2.

3). Fasilitas Prasarana transportasi tanpa disertai dengan fasilitas tidak akan berjalan. Mengingat fungsi dan fasilitas yang tersedia pada pusat transportasi yang berbeda. Hampir di setiap pusat transportsi yaitu terminal mempunyai faisilitas lengkap. Fasilitas terminal meliputi fasilitas utama dan fasilitas penunjang. Dari perolehan data fasilitas terminal Klaten sebagai berikut :

52

Tabel. 9 Fasilitas Terminal No 1 Terminal Jonggrangan Fasilitas Utama - Kantor pengawasan - Loket atau restrribusi - Parkir antar jemput - Ruang tunggu penumpang - Loket agen bus Fasilitas penunjang - Kios atau toko atau warung makan - Kamar mandi atau wc - Mushola - Taman

2

Penggung

- Kamar mandi - Kantor atau wc - Loket atau restribusi - Parkir antar jemput - Taman atau penghijaun - Loket agen bus - Kantor - Kios atau toko - Loket agen bus atau warung -Ruang tunggu - Kamar mandi penumpang atau - Mushola Kios atau - Kantor tokoatau - Loket atau restribusi warung - Parkir antar jemput Ruang tunggu - Kamar mandi penumpang - Loket atau restribusi - Kios atau warung makan - Ruang tunggu penumpang - Loket restibusi - Ruang tunggu penumpang - Kios atau toko - Kantor atau warung - Loket atau restribusi makan - Kamar mandi - Kantor atau wc - Loket atau restribusi - Kantor - Mushola - Loket atau restribusi - Kamar mandi - Ruang tunggu atau wc penumpang - Taman

3

Cawas

4

Teloyo

5

Bendogantunga

6

Tulung

7

Pasar Klaten

8

Manisrenggo

9

Delanggu

Sumber : DLLAJR Kabupaten Klaten 2003

53

B. Hasil Analisis 1. Hirarki Pusat Transportasi Hirarki pusat transportasi di Kabupaten Klaten ditinjau dari kelengkapan fasilitas yang dimiliki setiap terminal serta jenis moda

angkutan penumpang yang tersedia, maka hirarki pusat transportasi di Kabupaten Klaten dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Hirarki I Hirarki II = Mencakup terminal Jonggrangan. = Mencakup terminal Cawas, terminal Ceper, terminal Teloyo, terminal Pasar Klaten, terminal Bendogantungan, terminal Delanggu. Hirarki III = Mencakup terminal Tulung, terminal Prambanan, terminal Bayat, terminal Manisrengo. Dan beberapa Kecamatan berikut ini hanya sekedar dilewati sarana transportasi meliputi Kecamatan

Kalikotes, Kebonarum, Jogonalan, Pedan, Karangdowo, Juwiring, Polanharjo, Karanganom, Tulung, Jatinom, Kemalang, Gantiwarno, Trucuk, Karangnongko, Ngawen dan Wedi. Rumus hirarki pusat transportasi : IS = ΣC C= t/ T Rentangan = IS maksimum (tertinggi) – IS minimun (terendah) 3 Untuk lebih lanjut lihat halaman 34 dan lampiran 1.

54

Ad. 1 Hirarki Pusat Transportasi Pertama : Terminal Jongrangan Terminal Jonggrangan merupakan terminal induk yang berada di Kecamatan Klaten Utara dengan luas area 10.711 m2 yang dilengkapi fasilitas Kantor pengawasan, loket atau restribusi, kios atau toko atau warung makan, kamar mandi atau wc, mushola, taman atau penghijauan, ruang tunggu penumpang, parkir dan loket agen bus. Terminal Jonggrangan termasuk tipe B yang terletak di tepi jalan arteri yaitu jalan nasional yang menghubungkan dua kota besar Solo – Yogyakarta sehingga, tepat dijadikan tempat transit moda angkutan khususnya moda angkutan penumpang umum antara lain angkutan antar kota antar Propinsi (bus besar), angkutan perbatasan antar Propinsi (bus sedang), angkutan perbatasan antar Propinsi (bus sedang), angkutan pedesaan (mikrobus, minibus dan angkutan kota). Terminal Jonggrangan berfungsi sebagai terminal tipe A meskipun termasuk tipe B sebab melayani angkutan penumpang umum angkutan antar kota antar Propinsi. Keadaan terminal Jonggrangan ini cukup ramai digunakan sebagai pengguna jasa angkutan. Terminal Jongrangan didukung akses seluruh Kecamatan di wilayah Kabupaten Klaten mengingat, terminal Jongrangan

merupakan terminal induk. Sebelah barat terminal Jongrangan

55

didukung akses Kecamatan Kemalang, Manisrenggo, Jogonalan, Karangnongko, dan Kebonarum. Sebelah utara Kecamatan Ngawen, Klaten Utara, Karanganom, Jatinom, Tulung dan Polanharjo. Sebelah timur Kecamatan Ceper, Pedan, Trucuk, Cawas, Karangdowo, Wonosari, dan Delanggu. Sebelah selatan Kecamatan Kalikotes, Gantiwarno, Wedi dan Bayat.

56

57

Ad.2 Hirarki Pusat Transportasi II (Kedua) 1. Terminal Cawas Terminal Cawas berada di Kecamatan Cawas dengan luas area 3000 m2 yang dilengkapi fasilitas kantor pengawas, loket atau restribusi, kios atau toko atau warung makan, kamar mandi atau wc, mushola dan ruang tunggu penumpang. Terminal Cawas termasuk terminal tipe C atau Pedesaan yang cukup ramai pengunjung masyarakat pengguna jasa angkutan penumpang umum karena letak yang strategis yaitu dekat pasar Cawas, pertokoan dan sekolah Terminal Cawas berada pada tepi jalan kolektor yang menghubungkan antar Kecamatan Kota Pedan, Bayat dan Kabupaten Sukoharjo yang hanya melayani masyarakat pengguna jasa moda angkutan penumpang berupa angkutan pedesaan (mikrobus, minibus dan angkutan kota), angkutan kota antar Propinsi (bus besar), angkutan perbatasan antar Propinsi (bus besar) Adan angkutan perbatasan dalam Propinsi (bus sedang). 2. Terminal Delanggu Terminal Delanggu berada di Kecamatan Delanggu dengan luas area 7000 m2 yang dilengkapi dengan fasilitas kantor pengawas, loket atau restribusi, ruang tunggu penumpang, mushola, kamar mandi atau wc, kios atau warung makan dan taman. Terminal Delanggu termasuk

58

tipe C atau pedesaan yang terletak pada jalan arteri atau jalan nasioanal yang menghubungkan Kota besar Yogyakarta – Solo. Terminal Delanggu merupakan terminal yang tidak ramai pengunjung dan tidak berfungsi sebagaimanamestinya, disebabkan lokasi terminal jauh dari pusat pasar tradisional atau CBD sehingga pengguna jasa angkutan malas menuju terminal dan cenderung menunggu di kawasan pasar atau CBD yaitu pasar Delanggu . Terminal Delanggu didukung akses dari sebelah utara Kecamatan Polanharjo, sebelah timur Kecamatan Wonosari, sebelah selatan Kecamatan Ceper dan Juwiring dan sebelah barat Kecamatan

Karanganom. Terminal Delanggu melayani moda angkutan pedesaan (mikrobus, minibus dan angkutan kota), angkutan perbatasan dalam Propinsi (bus sedang). 3. Terminal Penggung Terminal Penggung berada di Kecamatan Ceper dengan luas area 4500 m2 yang dilengkapi fasilitas kantor pengawas, loket atau restribusi, toko atau kios, kamar mandi atau wc, parkir antar jemput, taman penghijauan dan loket agen bus. Terminal Penggung termasuk terminal tipe C atau Pedesaan terletak pada jalan arteri atau nasional yang menghubungkan dua kota besar Solo dan Yogyakarta sehingga dijadikan transit moda angkutan untuk melayani angkutan penumpang umum dan masyarakat pengguna jasa angkutan antara lain moda angkutan antar kota antar Propinsi (bus

59

besar), moda angkutan perbatasan dalam Propinsi (bus sedang) dan angkutan pedesaan (mikrobus, minibus dan angkutan kota). Terminal Penggung termasuk tipe C meskipun terminal Penggung melayani moda angkutan tersebut diatas. Terminal Penggung ramai dikunjungi oleh pengguna jasa angkutan untuk melakukan kegiatan. Terminal Penggung didukung akses dari sebelah utara

Kecamatan Delanggu dan Karanganom, sebelah timur Kecamatan Pedan, sebelah selatan Kecamatan Cawas dan Trucuk, sebelah barat Kecamatan Kota Klaten (Klaten Utara, Klaten Tengah dan Klaten Selatan) 4. Terminal Teloyo Terminal Teloyo berada di Kecamatan Wonosari dengan luas area 3310 m2 yang dilengkapi fasilitas kantor pengawas, loket atau restribusi, kios atau toko atau warung makan, kamar mandi atau wc, dan ruang tunggu penumpang. Terminal Teloyo berada di tepi jalan lokal dan termasuk tipe C atau Pedesaan yang melayani angkutan pedesaan sehingga hanya menghubungkan antar Kecamatan. Selain melayani angkutan pedesaan (mikrobus, minibus dan angkutan kota) terminal Teloyo juga melayani angkutan antar kota antar Propinsi (bus besar) dan angkutan perbatasan dalam Propinsi (bus sedang ). Terminal Teloyo didukung akses dari sebelah utara berbatasan wilayah Sukoharjo, sebelah selatan Kecamatan Juwiring, Pedan dan Karangdowo sebelah barat Kecamatan Delanggu.

60

5. Terminal Pasar Klaten Terminal Pasar Klaten berada di Kecamatan Klaten Tengah tepatnya pada pusat kegiatan ekonomi atau perdagangan yaitu CBD. Terminal pasar Klaten mempunyai luas area 600 m2 yang dilengkapi fasilitas loket atau restribusi, kios atau toko atau warung makan dan ruang tunggu penumpang. Terminal Pasar Klaten merupakan pusat terminal angkutan pedesaan dengan yang ramai oleh pengguna jasa transportasi dari segala arah dalam wilayah Kabupaten Klaten. Terminal Pasar Klaten termasuk terminal tipe C atau pedesan yang melayani angkutan penumpang umum berupa angkutan kota yang masuk melalui jalan yang ada dibelakang terminal karena jalan yang ada disebelah barat terminal satu arah tidak boleh dilalui angkutan umum. Sedangkan jenis bus angkutan perbatasan dalam Propinsi, angkutan perbatasan dalam Propinsi dan angkutan jenis mikrobus dan minibus tidak masuk terminal angkutan pasar klaten tetapi hanya melewati jalan yang ada di belakang terminal. Terminal Pasar Klaten didukung akses dari seluruh Kecamatan di wilayah Kabupaten Klaten antara lain sebelah utara Kecamatan Klaten Utara, sebelah timur Kecamatan Trucuk, sebelah selatan Kecamatan Kalikotes dan sebelah barat Kecamatan Kebonarum. 6. Terminal Bendogantungan Terminal Bendogantungan berada di Kecamatan Klaten Selatan dengan luas area 3.168 m2 yang dilengkapi dengan fasilitas loket atau

61

restribusi, kios toko atau warung makan dan ruang tunggu penumpang. Terminal Bendogantungan letaknya strategis berada di pinggir jalan arteri yang menghubungkan kota Yogjakarta dan Solo. Terminal ini termasuk tipe C atau Pedesaan yang melayani angkutan penumpang umum juga melayani angkutan antarkota Propinsi (bus besar) dan angkutan perbatasan dalam Propinsi (bus sedang dan minibus) dan AP (mikrobus atau colt dan angkutan kota). Terminal Bendogantungan didukung akses sebelah utara Kecamatan Kebonarum, sebelah timur kota Klaten (Klaten Utara, Klaten Tengah, Klaten Selatan), sebelah selatan Kecamatan Wedi, Bayat, Gantiwarno dan sebelah barat Kecamatan Prambanan dan Jogonalan.

62

63

Ad.3 Hirarki Pusat Transportasi III (Ketiga) 1. Terminal Tulung Terminal Tulung berada di Kecamatan Tulung dengan luas area 400 m2 yang dilengkapi fasilitas loket atau restribusi dan ruang tunggu penumpang. Terminal Tulung termasuk terminal tipe C atau Pedesaan terletak pada jalan yang menghubungkan Kota Boyolali – Klaten sehingga, dijadikan transit moda angkutan pedesaan. Terminal Tulung hanya melayani angkutan pedesaan (mikorobus dan minibus). Terminal Tulung berdekatan dengan pasar Tulung dan didukung akses dari sebelah utara berbatasan dengan wilayah Boyolali, sebelah timur Kecamatan Polanharjo, sebelah selatan Kecamatan Jatinom. 2. Terminal Manisrenggo Terminal Manisrenggo berada di Kecamatan Manisrenggo dengan luas area tanah 1785 m2 yang dilengkapi fasilitas kantor pengawas, kamar mandi atau wc dan ruang tunggu penumpang. Keberadaan Terminal Manisrenggo jauh dari pusat pasar tradisional atu CBD, toko, Kantor Kecamatan sehingga terkesan sepi atau tidak ramai dikunjungi masyarakat pengguna jasa angkutan penumpang umum berupa angkutan pedesaan. Terminal Manisrenggo berada di tepi jalan lokal dan termasuk tipe C atau Pedesaan dengan moda angkutan pedesaan (mikrobus dan minibus) yang menghubungkan Kota Kecamatan menuju Kabupaten Klaten.

64

Terminal Manisrenggo didukung akses dari sebelah utara Kecamatan Kemalang, sebelah timur Kecamatan Karangnongko, sebelah selatan Kecamatan Prambanan. 3. Terminal Prambanan Secara geografis Terminal Prambanan berada di Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten, tepatnya perbatasan kedua wilayah antar Kabupaten Klaten Jawa Tengah dengan Kabupaten Sleman – Yogyakarta (DIY). Namun, secara administrasi kegiatan pelayanan angkutan penumpang umum mengikuti Kabupaten Klaten. Terminal Prambanan mempunyai fasilitas loket atau restribusi, kamar mandi atau wc dan ruang tunggu penumpang. Terminal Prambanan terletak pada pusat mobilitas masyarakat yaitu pusat perdangangan yang berupa pasar dan dekat dengan pusat pariwisata yaitu Candi Prambanan yang dikunjungi masyarakat pengguna jasa angkutan terutama jasa angkutan pedesaan (mikrobus, minibus dan angkutan kota). Terminal Prambanan didukung akses dari sebelah utara

Kecamatan Manisrenggo, sebelah selatan Kecamatan Gantiwarno, sebelah timur Kecamatan Jogonalan. 4. Terminal Bayat Terminal Bayat berada di Kecamatan Bayat Desa Paseban yang ramai dikunjungi angkutan penumpang umum yaitu bus pariwisata dari berbagai Kota dan Propinsi karena lokasi tersebut terdapat pusat

65

makam Sunan Tembayat. Angkutan penumpang umum yang masuk terminal bayat berupa angkutan mikrobus, minibus, angkutan kota dan angkutan bus pariwisata berupa angkutan kota antar Propinsi (bus besar,) angkutan perbatasan antar Propinsi (bus sedang), angkutan perbatasan dalam Propinsi (bus sedang). Terminal Bayat ini ramai dikunjugi pada hari Jumat dan Minggu khususnya pada bulan Ruwah (Bulan Jawa). Terminal Bayat mempunyai fasilitas loket atau restribusi, ruang tunggu penumpang dan disekitar terminal tersebut diramaikan para pedagang. Terminal Bayat didukung akses dari sebelah utara Kecamatan Trucuk dan Kalikotes, sebelah barat Kecamatan Wedi, sebelah timur Kecamatan Cawas. Beradasarkan Hasil Pengamatan dan analisa data tersebut Kecamatan Gantiwarno, Wedi, Trucuk, Kalikotes, Kebonarum, Jogonalan, Kebonarum, Kemalang, Pedan, Karangdowo, Juwiring, Polanharjo, Karanganom, Jatinom dan Kemalang tidak mempunyai terminal hanya sekedar dilewati oleh moda angkutan penumpang umum berupa angkutan pedesaan dan angkutan perbatasan.

66

67

68

69

2. Sarana dan Prasarana Transportasi a. Sarana Transportasi Dari hasil penelitian sarana transportasi yang ada di Kabupaten Klaten ada 3 jenis angkutan penumpang meliputi angkutan antar kota antar propinsi, angkutan dan angkutan pedesaan dengan jenis moda angkutan berupa bus besar, bus sedang, minibus, mikrobus angkuta kota. Tabel. 11 Angkutan Penumpang Umum Jenis Angkutan Penumpang Kapasitas Angkutan antar kota antar Propinsi 50 - 55 Angkutan Perbatasan 24 – 32 a. Angkutan perbatasan antar Propinsi 24 – 32 b. Angkutan perbatasan dalam Propinsi Angkutan Pedesaan 24 – 26 a. Angkutan jenis bus 12 – 26 b. Angkutan jenis bus 12 c. Angkutan jenis bus dan

No 1 2

3

Sumber : Laporan Akhir Bapeda 2003

b. Prasarana Transportasi 1) Jaringan Jalan Secara Keseluruhan panjang jalan di Kabupaten Klaten tercatat 768,49 Km dengan kelas jalan II, IIIA, IIIC dengan

ketentuan sebagai berikut :

70

Tabel. 12 Panjang Jalan Kabupaten Klaten Keadaan I. Permukaan a. Diaspal b Kerikil c Tanah d tidak diperinci Jumlah II. Kondisi Jalan a. Baik b Sedang c Rusak d Rusak berat Jumlah III Kelas Jalan a. Kelas I b Kelas II c Kelas III d Kelas IIIA f Kelas IIIC g Kelas IV Jumlah Panjang Jalan (KM) 704,99 63,50 768,49 Persentase(%) 91,74 8,26 100,00

221,50 211,93 170,18 164,88 768,49 32,00 34,84 701,65 768,49

28,82 27,58 22,14 21,146 100,00 4,16 4,53 91,0 100,00

Sumber : Kabupaten Klaten Dalam Angka 2004

2) Terminal dan fasilitas Kabupaten Klaten terbagi menjadi 26 Kecamatan, dari 26 Kecamatan tersebut terdapat 9 terminal penumpang. Terminal

angkutan Klaten Utara dengan tipe B yaitu terminal Jonggrangan, Terminal Penggung di Kecamatan Ceper dengan tipe C, terminal Cawas tipe C, terminal Teloyo di Kecamatan Wonosari tipe C, Terminal Tulung Tipe C, terminal Bendogantungan di Kecamatan.

71

Klaten Selatan tipe C, terminal Pasar Klaten di Kecamatan Klaten Tengah dengan tipe C. Dari 9 terminal tersebut masih terdapat terminal yang digunakan untuk ngetem atau tempat yaitu terminal Bayat. 9 Terminal tersebut dilengkapi dengan fasilitas yang berbeda yaitu fasilitas utama dan fasilitas penunjang.

72

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. Hirarki Pusat Transportasi di Kabupaten Klaten diklasifikasikan menjadi 3 hirarki yang meliputi : Hirarki I = Mencakup terminal Jonggrangan.

Hirarki II = Mencakup terminal Cawas, terminal Ceper, terminal Teloyo, terminal Pasar Klaten, terminal Bendogantungan dan terminal Delanggu. Hirarki III = Mencakup terminal Tulung, terminal Prambanan, terminal Bayat dan terminal Manisrengo. Hirarki pertama berada di tepi jalan arteri yang mempunyai fasilitas pusat transportasi terlengkap meliputi kantor pengawas, loket atau restribusi, kios atau toko, kamar mandi atau wc, mushola, taman, ruang tunggu penumpang, parkir dan loket agen bus dan digunakan transit sarana angkutan penumpang yang berupa Angkutan Antar Kota Antar Propinsi (AKAP), Angkutan Perbatasan Antar Propinsi (APAP), Angkutan Perbatasan Dalam Propinsi (APDP) dan Angkutan Pedesaan (AP). Hirarki kedua berada di tepi jalan arteri, kolektor dan lokal yang dilengkapi fasilitas pusat transportasi yang meliputi kantor pengawas, kios atau toko, ruang tunggu, loket atau restribusi, mushola dan jenis sarana angkutan penumpang yang meliputi Angkutan Antar Kota Antar Propinsi

73

(AKAP), Angkutan Perbatasan Antar Propinsi (APAP), Angkutan Perbatasan Dalam Propinsi (APDP) dan Angkutan Pedesaan (AP). Hirarki ketiga berada di tepi jalan arteri, kolektor dan lokal yang mempunyai fasilitas pusat transportasi yang meliputi loket restribusi, ruang tunggu penumpang dan jenis sarana angkutan penumpang yang meliputi Angkutan Perbatasan Dalam Propinsi (APDP) dan Angkutan Pedesaan (AP). 2. Sarana transportasi angkutan penumpang yang beroperasi di Kabupaten Klaten yaitu bus dengan kapasitas besar atau sedang, minibus, mikrobus dan angkutan pedesaaan. Angkutan penumpang tersebut tersebar diseluruh wilayah Kabupaten Klaten. Namun, dari hasil penelitian masih ada trayek angkutan penumpang yang belum ada yaitu Klaten Prambanan. Selain itu terdapat jumlah angkutan yang belum terpenuhi 3. Prasarana Transportasi berupa jalan raya di Kabupaten Klaten dalam Kondisi baik yaitu berupa jalan aspal 704,99 Km (91,74%) dan tidak berlubang dan terdapat jalan desa yang belum di aspal 63,50 Km(8,26%). 4. Di Kabupaten Klaten terdapat 9 terminal penumpang yang tersebar di bebarapa wilayah Kecamatan Kabupaten Klaten yang dilengkapi fasilitas utama dan fasilitas penunjang. Selain 9 terminal tersebut terdapat terminal Prambanan yang secara geografis termasuk Kabupaten Klaten dan terminal Bayat yang digunakan untuk ngetem serta beberapa Kecamatan yang hanya dilalui angkutan penumpang seperti Kecamatan Gantiwarno, Wedi, Trucuk,

74

Kalikotes, Jogonalan, Kemalang, Polanharjo, Karanganom, Jatinom, Kebonarum, Pedan, Karangdowo dan Juwiring.

B. Saran Dari hasil penelitian yang dilakukan maka, penulis ajukan saran kepada dinas terkait untuk lebih meningkatkan sarana transportasi terutama angkutan kota dan prasarana transportasi khususnya terminal agar dapat difungsikan terutama pada terminal Delanggu dan membangun terminal Bayat mengingat potensi pariwisata tersebut mendukung untuk pengguna jasa angkutan yang ada di Kabupaten Klaten antara lain dengan cara menambah armada dan sarana transportasi serta memperbaiki jalan yang rusak

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->