Anda di halaman 1dari 100

MALE FEMINIS DAN KONTRA MALE FEMINIS

DALAM NOVEL TRILOGI RONGGENG DUKUH PARUK


KARYA AHMAD TOHARI

SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra

Oleh
Nama : Veri Dani Wardani
NIM : 2150401506
Program Studi : Sastra Indonesia
Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
SARI

Dani Wardani, Veri. 2005. Male Feminis dan Kontra Male Feminis dalam Novel
Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Skripsi.
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas
Negeri Semarang. Pembimbing: I. Drs. Sukadaryanto, M. Hum.
II. Drs. Agus Nuryatin, M. Hum.
Kata kunci : Feminis, male feminis dan kontra male feminis.

Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari merupakan


salah satu novel yang menceritakan perjalanan tokoh perempuan (Srintil) yang
dipengaruhi oleh tokoh laki-laki. Dalam kehidupannya Srintil bertemu dengan
tokoh penyelamat (male feminis) dan tokoh penghambat (kontra male feminis).
Rumusan masalah yang diangkat dalam skripsi ini adalah (1) Bagaimana
peran male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh
Paruk karya Ahmad Tohari?, (2) Faktor-faktor apa yang menyebabkan munculnya
male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh
Paruk karya Ahmad Tohari?
Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif karena analisis ini
berangkat dari teks. Sumber data ini adalah semua perilaku tokoh yang pro
feminis (male feminis) dan kontra male feminis dalam teks novel Trilogi
Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang berkaitan dengan peran male
feminis dan kontra male feminis. Teknik analisis data yang dipergunakan untuk
mengelompokkan perilaku tokoh laki-laki yang berhubungan dengan peran tokoh
utama, kemudian diterapkan dalam model aktan (peran tokoh) menurut Claude
Bremond untuk mengetahui peran masing-masing tokoh sebagai male feminis dan
kontra male feminis.
Hasil pembahasan ini menunjukkan bahwa laki-laki ada yang
menghargai perempuan dan juga ada yang tidak menghormati perempuan. Peran
male feminis dan kontra male feminis ini pada intinya menggambarkan perilaku
yang menghargai sosok perempuan dan perilaku yang tidak menghargai
perempuan. Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya male feminis adalah
faktor kultur kesenian tradisional dan kontra male feminis itu meliputi faktor
ekonomi, faktor seksualitas dalam kultur masyarakat Jawa.
Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan dapat menjadi jembatan bagi
munculnya penelitian baru. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah
wawasan dalam dunia apresiasi sastra Indonesia.

ii
PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar

hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau

seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini

dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etika ilmiah.

Semarang, 28 Agustus 2005

Veri Dani Wardani

iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia
Ujian Skripsi.

Semarang, 31 Agustus 2005

Pembimbing I, Pembimbing II,

Drs. Sukadaryanto, M. Hum. Drs. Agus Nuryatin, M. Hum.


NIP 131764057 NIP 131813650

iv
PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan

Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri

Semarang

pada hari : Rabu

tanggal : 31 Agustus 2005

Panitia Ujian Skripsi

Ketua, Sekretaris,

Prof. Dr. Rustono Drs. Mukh. Doyin, M.Si


NIP 131281222 NIP 132106367

Penguji I, Penguji II, Penguji III,

Dra. Nas Haryati S, M.Pd Drs. Agus Nuryatin, M.Hum Drs. Sukadaryanto, M.Hum.
NIP 131125926 NIP 131813650 NIP 131764057

v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto:

Ada orang yang masuk ke dalam hidup kita dan berlalu dengan cepat. Ada yang

tinggal beberapa lama dan meninggalkan jejak dalam hati kita. Dan diri kita pun

tak akan pernah sama seperti sebelumnya. (Veri)

Persembahan

Setetes peluh dan sebentuk karya kecil ini

kupersembahkan untuk:

1. Allah SWT “Peniup nafas kehidupan”

2. Muhammad “Pemberi tutunan hidupku”

3. Ayahanda M. Subandi dan ibunda R.

Mudiyanti “tercinta”

4. Saudara kembarku Vera Dani Wardani serta

adik-adikku Vedi Destriyanto dan Vika Ari

Wijayanti “tersayang”

5. Hermawan Widyastantyo “dukungan dan

semangatku”

6. Angkatan ’01

7. Almamaterku tercinta

vi
PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Pengasih dan

Masa Penyayang atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat

penulis selesaikan. Penulis mengakui bahwa penyelesaian karya ini tidak terlepas

dari bimbingan dan bantuan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak

langsung.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak mungkin

terwujud tanpa bantuan Drs. Sukadaryanto, M. Hum sebagai pembimbing I dan

Drs. Agus Nuryatin, M. Hum sebagai pembimbing II yang senantiasa memberikan

motivasi, kesabaran dan membimbing kepada penulis dalam penyusunan skripsi

ini. Selain itu, penulis juga mengucapkan terima kasih atas dorongan dan

keterlibatan berbagai pihak dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis

mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan

kepada penulis untuk menyusun skripsi;

2. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang yang telah

memberikan izin kepada penulis untuk menyusun skripsi;

3. Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan

kemudahan kepada penulis untuk menyusun skripsi ini;

4. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas Bahasa dan Seni, khususnya Jurusan

Sastra Indonesia yang penulis perlukan dalam penulisan skripsi ini;

vii
5. Teman-teman Sastra Indonesia angkatan ’01 yang telah memberikan semangat

dan dorongannya;

6. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, sehingga penulis

dapat menyelesaikan skripsi ini.

Mudah-mudahan segala amal dan kebaikan yang telah diberikan kepada

penulis mendapatkan ridho dan balasan dari Allah SWT. Amin

Akhir kata penulis berharap agar skripsi ini berguna bagi almamater

tercinta dan bermanfaat bagi yang membacanya.

Semarang, September 2005

Penulis

viii
DAFTAR ISI

SARI................................................................................................................. ii
PERNYATAAN............................................................................................... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................... iv
PENGESAHAN . ............................................................................................. v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................... vi
PRAKATA ....................................................................................................... vii
DAFTAR ISI.................................................................................................... ix
BAB I PENDAHULUAN......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah........................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................... 8
1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................... 8
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................... 8
BAB II LANDASAN TEORETIS............................................................. 9
2.1 Tokoh dan Penokohan ............................................................. 9
2.2 Feminisme ................................................................................ 14
2.3 Male Feminis dan Kontra Male Feminis ................................. 19
BAB III METODE PENELITIAN.............................................................. 26
3.1 Pendekatan Penelitian .............................................................. 26
3.2 Sasaran Penelitian .................................................................... 26
3.3 Teknik Analisis Data................................................................ 27
BAB IV PERAN MALE FEMINIS DAN KONTRA MALE FEMINIS
DAN FAKTOR YANG MENYEBABKAN MUNCULNYA
MALE FEMINIS DAN KONTRA MALE FEMINIS
DALAM NOVEL TRILOGI RONGGENG DUKUH PARUK….. 30
4.1 Peran Male Feminis dan Kontra male Feminis
dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. ......................... 30
4.1.1. Male Feminis.................................................................. 38
4.1.1.1. Rasus .................................................................. 39
4.1.1.2. Goder.................................................................. 48

ix
4.1.1.3. Sakum................................................................. 49
4.1.1.4. Mertanakim ........................................................ 52
4.1.1.5. Partadasim .......................................................... 53
4.1.1.6. Pak Blengur........................................................ 55
4.1.2. Kontra Male Feminis ..................................................... 57
4.1.2.1. Mantri Kesehatan ............................................... 57
4.1.2.2. Sakarya............................................................... 58
4.1.2.3.Kartareja.............................................................. 59
4.1.2.4. Dower................................................................. 61
4.1.2.5. Sulam ................................................................. 63
4.1.2.6. Pak Simbar dan Babah Pincang . ....................... 64
4.1.2.7. Marsusi............................................................... 65
4.1.2.8. Komandan Polisi ................................................ 67
4.1.2.9. Darman............................................................... 69
4.1.2.10. Bajus................................................................. 69
4.2. Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya
Male feminis dan Kontra male feminis
dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk .......................... 72
4.2.1. Faktor ekonomi ............................................................ 73
4.2.2. Faktor kesenian tradisional. ......................................... 76
4.2.3. Faktor seksualitas kultur masyarakat Jawa .................. 78
BAB V PENUTUP..................................................................................... 82
5.1 Simpulan .................................................................................. 82
5.2 Saran......................................................................................... 83
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 84
LAMPIRAN

x
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Karya sastra adalah salah satu jenis hasil budidaya masyarakat yang

dinyatakan dengan bahasa, baik lisan maupun tulis, yang mengandung keindahan.

Karya sastra diciptakan pengarang untuk dinikmati, dipahami, dihanyati, dan

dimanfaatkan oleh masyarakat pembacanya. Pengarang itu sendiri adalah anggota

masyarakat dan lingkungannya, ia tak bisa begitu saja melepaskan diri dari

masyarakat lingkungannya.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang mengangkat

persoalan perempuan dan menceritakan perjalanan hidup seorang perempuan

(Srintil) dalam menggapai kehidupan yang diinginkannya. Selanjutnya, tokoh

perempuan itu juga bertemu dengan banyak tokoh laki-laki yang mempunyai

karakter yang berbeda-beda, karakter yang mendukung tokoh perempuan dan

karakter yang menghambat kebahagiaan tokoh wanita..

Karya sastra, seperti diakui banyak orang, merupakan suatu bentuk

komunikasi yang disampaikan dengan cara yang khas dan menolak segala sesuatu

yang serba “rutinitas” dengan memberikan kebebasan kepada pengarang untuk

menuangkan kreativitas imajinasinya. Hal ini menyebabkan karya sastra menjadi

lain, tidak lazim, namun juga kompleks sehingga memiliki berbagai kemungkinan

penafsiran dan sekaligus menyebabkan pembaca menjadi “terbata-bata” untuk

1
2

berkomunikasi dengannya. Berawal dari inilah kemudian muncul berbagai teori

untuk mengkaji karya sastra, termasuk karya sastra novel.

Novel merupakan sebuah “struktur organisme” yang kompleks, unik, dan

mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung. Hal inilah, antara lain, yang

menyebabkan sulitnya pembaca menafsirkan sebuah novel, dan untuk keperluan

tersebut dibutuhkan suatu upaya untuk menjelaskannya disertai bukti-bukti hasil

kerja kajian yang dihasilkan.

Novel merupakan salah satu jenis karya sastra prosa yang mengungkapkan

sesuatu secara luas. Berbagai kejadian di dalam kehidupan yang dialami oleh

tokoh cerita merupakan gejala kejiwaan.

Manfaat yang akan terasa dari hasil kajian itu adalah apabila pembaca

(segera) membaca ulang karya sastra yang dikajinya. Dengan cara ini akan

dirasakan adanya pembedaan: ditemukan sesuatu yang baru, yang terdapat dalam

karya sastra itu sebagai akibat kekompleksitasan karya yang bersangkutan

sehingga sesuatu yang dihadapi baru dapat ditentukan. Dengan demikian,

pembaca akan lebih menikmati dan memahami cerita, tema, pesan-pesan, tokoh,

gaya bahasa, dan hal-hal lain yang diungkapkan dalam karya yang dikaji

(Nurgiyantoro 1995: 32).

Dalam kesusastraan Indonesia modern banyak pengarang yang

menghasilkan cerita fiksi, sebagai contoh dapat disebutkan di antaranya Ronggeng

Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala karya Ahmad

Tohari, Para Priyayi karya Umar Kayam. Pengakuan Pariyem karya Linus

Suryadi AG serta Roro Mendut karya J.B. Mangunwijaya. Kebanyakan inti cerita
3

dan karya-karya itu tentang etika Jawa dan persoalan wanita Jawa yang masih

memegang teguh nilai-nilai dan pandangan hidup wanita Jawa.

Karya sastra yang dijadikan objek kajian penelitian ini adalah novel

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari karena novel tersebut

menempatkan wanita sebagai tokoh utama meskipun masih dipengaruhi tokoh

pria. Tokoh wanita dalam novel Ahmad Tohari adalah sosok wanita yang penuh

dengan permasalahan yang harus dihadapi. Masalah cinta, rumah tangga, asal

usul, dan kebahagiaan yang masih dihadapi dan harus dipecahkan oleh sang

tokoh.

Lebih lanjut, Srintil ingin mempertahankan sesuatu yang menjadi haknya.

Ia ingin berhenti menjadi ronggeng dan menjadi perempuan seutuhnya, menikah

dan mempunyai anak. Srintil sebagai ronggeng harus melakukan pengorbanan, ia

mengorbankan sebuah kesucian dalam acara Bukak-Klambu. Kartareja telah

menyanyembarakan kesucian Srintil pada laki-laki yng bisa memenuhi syarat.

Pembaca menyukai novel-novel Ahmad Tohari karena kemenarikan

ceritanya. Ahmad tohari sering mengangkat tema tentang kehidupan masyarakat

lapisan bawah yang disajikan dengan gaya bahasa yang mampu menghidupkan

suasana cerita dan mudah dipahami pembaca. Ahmad Tohari bisa melahirkan

karya yang mengangkat kesukaran hidup kaum bawah karena pengalaman hidup

yang sangat berkesan, terutama yang mengangkat tentang kemelaratan para

tetangga, kebodohan, serta ketidakberdayaan mereka keberpihakan Ahmad Tohari

terhadap wong cilik seakan menjadi obsesinya yang tidak pernah berkesudahan.
4

Pribadi-pribadi yang terwujud dalam diri tokoh-tokoh manusia Jawa dalam

karya Ahmad Tohari merupakan cerminan dari kepribadiannya selaku pengarang

dalam pergulatannya dengan pengalaman hidup. Ahmad Tohari memang tinggal

dan dibesarkan di daerah Jawa, tepatnya di daerah Jati Lawang, Banyumas,

sehingga wajar bila nilai kultur Jawa yang melatarbelakangi hidupnya sangat lekat

dan kentara mewarnai hampir dalam semua karyanya.

Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk terdiri dari tiga episode yaitu

episode pertama berjudul Ronggeng Dukuh Paruk, episode kedua diberi judul

Lintang Kemukus Dini Hari, dan yang ketiga adalah Jantera Bianglala. Menurut

pengarangnya, novel Ronggeng Dukuh Paruk sengaja dipersiapkan untuk menjadi

trilogi, ketika menulis episode pertama, pengarang mengakui mengalami

kebuntuan untuk menyelesaikan dalam sebuah trilogi sekaligus. Novel tersebut

berkisah tentang dunia Ronggeng Dukuh Paruk. Tokoh-tokohnya adalah Srintil

dan Rasus yang menginjak dewasa pada sekitar tahun 1965. Sekian tahun

sebelumnya, Dukuh Paruk adalah sebuah desa kecil yang terpencil dan terbilang

miskin. Namun, segenap warganya memiliki suatu kebanggaan tersendiri karena

mewarisi kesenian ronggeng yang senantiasa menggairahkan kehidupan. Tradisi

itu nyaris musnah setelah terjadi musibah keracunan tempe bongkrek yang

mematikan belasan warga Dukuh Paruk. Untunglah mereka menemukan kembali

semangat kehidupan setelah gadis cilik Srintil pada umur belasan tahun secara

alamiah memperlihatkan bakatnya sebagai calon ronggeng (Yudiono 2003: 17-

18).
5

Lebih jauh, novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari

sepertinya ingin menunjukkan sisi lain dari kehidupan perempuan, sebuah

fenomena yang jarang terjadi ketika sosok perempuan dengan tekad dan

kegigihannya berusaha keluar dari jeratan nasib yang kurang memihaknya. Hal

lain, novel ini banyak mengangkat tokoh laki-laki untuk secara bersama-sama

memerangi suatu ketidakadilan, baik yang berasal dari sosok laki-laki maupun

sosok perempuan itu sendiri. Laki-laki dan perempuan adalah sosok yang secara

maknawi mereka sama, konstruksi sosial di masyarakatlah yang menyebabkan

mereka diperlakukan berbeda.

Dalam waktu singkat, Srintil membuktikan kebolehannya menari

disaksikan orang-orang Dukuh Paruk sendiri. Srintil sebagai seorang ronggeng,

harus menjalani serangkaian upacara tradisional yang puncaknya menjalani

upacara bukak klambu, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapapun

lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal.

Selama ini perempuan dipandang sebagai sosok yang lemah. Banyak

anggapan yang beredar di masyarakat tentang diri perempuan itu sendiri yang

menyebabkan perempuan semakin terpinggirkan. Adanya anggapan bahwa sosok

perempuan itu irrasional atau emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil

memimpin, berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi

yang tidak penting. Laki-lakilah yang dianggap dominan yang berada di pusat.

Perempuan hanya sebagai kanca wingking atau dalam istilah bahasa jawanya

“swargo nunut neroko katut” (Fakih 2003: 12).


6

Srintil merupakan sosok wanita yang berparas cantik. Sejak usia sebelas

tahun ia sudah menjadi Primadona karena menjadi ronggeng. Kecantikan Srintil

banyak menrik perhatian orang terutama kaum laki-laki. Mereka rela

mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk sekedar bertayub dan tidur

dengan Srintil.

Perbedaan yang jelas antara konsep jenis kelamin (sex) telah melahirkan

ketidakadilan, baik kaum laki-laki dan terutama perempuan. Disadari atau tidak,

ketika gagasan feminis ini dilihat secara sekilas, sepertinya perempuanlah yang

menjadi korban konsep-konsep gender tersebut. Laki-laki bisa menjadi feminis

jika sikap dan tingkah laku mereka menunjukkan sikap menghargai dan

menghormati perempuan. Namun, tatkala istilah male feminis dimunculkan, akan

ada sebuh oposisi yang menyatakan perlawanan dari male feminis yang bisa

disebut dengan istilah kontra male feminis. Sikap laki-laki yang kontra male

feminis terlihat dari tingkah laku mereka yang tidak menghargai perempuan,

bahkan cenderung semena-mena (Adian dalam Subono 2001: 26).

Dominasi tokoh laki-laki cukup mewarnai novel Ronggeng Dukuh Paruk

tersebut Srintil banyak melibatkan tokoh laki-laki. Pada kenyataannya tokoh laki-

laki ada yang mendukung atau yang disebut male feminis dan ada pula yang tidak

mendukung dan disebut kontra male feminis. Namun, seperti yang dijelaskan

sebelumnya bahwa tokoh kontra kontra feminis lebih dominan dibanding dengan

laki-laki yang male feminis. Tokoh male feminis inilah yang banyak membantu

tokoh perempuan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mereka dalam

bersikap dan tingkah lakunya sangat menghormati dan menghargai perempuan.


7

Jadi, laki-laki pun bisa menjadi feminis jika tingkah laku mereka

menunjukkan sikap menghargai dan menghormati perempuan. Dan laki-laki bisa

menjadi kontra male feminis jika mereka menunjukkan sikap tidak menghargai

dan menghormati perempuan. Terlihat jelas bahwa laki-laki dan perempuan perlu

berkolaborasi untuk membangun sebuah masyarakat yang bebas dari diskriminasi

dan hal ini jelas terlihat dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya

Ahmad Tohari.

Tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

adalah Srintil, Rasus, Ki Kertareja, Bajus, Marsusi, Sakarya, Sulam, Dower,

Warta, Darsun, dan lain-lain. Deretan nama-nama dalam novel Trilogi Ronggeng

Dukuh Paruk telah mampu memerankan perannya dengan baik. Hampir semua

tokoh yang dimunculkan oleh Ahmad Tohari telah mampu menunjukkan

karakteristik pribadi yang unik, sanggup memberikan penginderaan yang jelas dan

terasa begitu nyata, lengkap dengan segala pelukisan gambaran, penempatan, dan

perwatakannya masing-masing tokoh tersebut.

Berdasarkan hal di atas, dalam penelitian ini penulis tertarik untuk meneliti

tokoh male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh

Paruk karya Ahmad Tohari berdasarkan teori male feminis dan kontra male

feminis.
8

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan

masalah yang akan diangkat adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana peran male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi

Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari?

2. Faktor-faktor apa yang menyebabkan munculnya male feminis dan kontra

male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad

Tohari?

1.3. Tujuan Penelitian

1. Mengungkap peran male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi

Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari?

2. Mengungkap faktor-faktor apa yang menyebabkan munculnya male feminis

dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya

Ahmad Tohari?

1.4. Manfaat Penelitian

1. Menambah pengetahuan dan wawasan tentang bagaimana peran male feminis

dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya

Ahmad Tohari.

2. Menambah pengetahuan dan wawasan tentang faktor-faktor apa yang

menyebabkan munculnya male feminis dan kontra male feminis dalam novel

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.


9
11

BAB II

LANDASAN TEORETIS

2.1. Tokoh dan Penokohan

Suatu cerita bukan hanya rangkaian kejadian-kejadian saja. Kejadian-

kejadian itu ada yang bersangkutan dengan orang-orang tertentu atau sekelompok

orang tertentu. Oleh karena itu, dalam suatu cerita harus ada tokoh utama, tokoh

antagonis, tokoh bawahan (tokoh penunjang cerita), dan tokoh tambahan. Tokoh

dibedakan menjadi beberapa jenis menurut kriterianya. Tokoh berdasarkan

fungsinya dibedakan menjadi empat jenis, yaitu tokoh sentral, tokoh antagonis,

tokoh wirawan dan tokoh bawahan. Tokoh sentral atau tokoh utama adalah tokoh

yang selalu muncul dalam cerita, yaitu tokoh yang memegang peranan pimpinan.

Tokoh ini menjadi pusat sorotan dalam cerita. Intensitas keterlibatan tokoh itu

dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita dan hubungan antara tokoh itu

menjadi tokoh utama atau tidak. Tokoh antagonis adalah tokoh yang menentang

tokoh protagonis. Tokoh bawahan adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya

di dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau

mendukung tokoh utama. Tokoh bawahan misalnya tokoh andalan, yaitu tokoh

bawahan yang menjadi kepercayaan tokoh protagonis yang dimanfaatkan untuk

memberi gambaran lebih rinci mengenai tokoh utama, dan tambahan adalah tokoh

yang tidak memegang peranan penting dalam cerita (Sudjiman, 1991:17-19).

Berdasarkan cara pengarang dalam menampilkan tokoh cerita, dibedakan

menjadi tokoh datar dan tokoh bulat. Tokoh datar adalah tokoh stereotif Tokoh

bulat yaitu tokoh yang watak kompleks, terlihat kekuatan dan kelemahannya.

11
12

Tokoh ini mempunyai watak yang dapat mengejutkan pembaca, karena kadang

dirinya dapat terungkap watak yang tidak terduga sebelumnya dan sedikit sekali

berubah (Sudjiman, 1991:20).

Robert Stanton mengatakan bahwa yang dimaksud dengan penokohan

dalam suatu fiksi biasanya dapat dipandang dari dua segi, yaitu:

1. Mengacu kepada orang atau tokoh yang bermain dalam cerita.

2. Mengacu kepada pembauran dari minat, keinginan, emosi, dan moral

yang membentuk individu yang bermain dalam suatu cerita, (Baribin,

1985: 54).

Penokohan adalah cara penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh,

baik keadaan lahir maupun batinnya, dapat berupa pandangan hidup, sikap

keyakinan, adat istiadat, dan sebagainya (Suharianto, 1982:3 1). Watak adalah

kualitas tokoh, kualitas nalar, dan jiwanya yang membedakan dengan tokoh lain.

Nurgiyantoro (1994:23) berpendapat, bahwa penokohan adalah penyajian atau

penciptaan watak tokoh.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penokohan adalah pelukisan

yang jelas tentang tokoh yang ditampilkan dalam sebuah cerita dengan segenap

aspek-aspeknya. Artinya, segala perilaku-perilaku yang dilakukan oleh seorang

tokoh dilukiskan secara konkrit, baik itu wajah, tabiatnya, pandangan hidupnya,

kenyakinnnya, dan sebagainya. Sedangkan tokoh cerita hanya, mengacu kepada

pelaku cerita. Tokoh cerita telah mengacu pada aspek “perorangan” dalam sebuah

komunitas yang dibangun dalam sebuah karya sastra novel. Dengan

mempertimbangkan aspek-aspek yang akan dikaji dalam skripsi ini, kajian hanya
13

akan dibatasi pada tokoh ceritanya, saja, tidak sampai pada aspek penokohannya.

Namun demikian, tidak berarti kajian yang akan dihasilkan tidak “menyinggung”

aspek penokohan.

Selanjutnya, ditentukan peran tokoh (aktan) male feminis dan tokoh kontra

male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang sebelumnya akan

dipaparkan tentang peran tokoh. Tokoh male feminis merupakan tokoh

penyelamat, sedangkan tokoh kontra male feminis merupakan tokoh penghambat

dalam perjuangan hidup tokoh utama.

Peran adalah perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki orang yang

berkedudukan dalam masyarakat (Moeliono 2000: 667). Dimaksudkan sebagai

pola perilaku yang ditentukan bagi seseorang yang mengisi kedudukan tertentu,

keberadaan peran manusia berjenis kelamin pria dan wanita tidak bisa dilepaskan

dari atribut-atribut sosial yang melekat secara kultural.

Tokoh itu sendiri merupakan bagian yang bersama unsur lain membangun

totalitas karya sastra novel. Tokoh merupakan pelaku yang berfungsi sebagai fakta

cerita sebagai peranan yang besar dalam menentukan keutuhan cerita dan

karakteristik sebuah novel.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan pengarang, untuk dapat membangun

persoalan dan menciptakan konflik-konflik, biasanya melalui peran-peran tertentu

yang harus mereka lakukan. Jarang tokoh mempunyai peran yang tunggal,

biasanya tergantung dengan interaksi sosial yang dilakukannya. Perubahan lawan

interaksi sosial akan menyebabkan berubahnya peran seorang tokoh. Peran

umumnya selalu hadir berpasangan dengan peran lain dalam membentuk suatu
14

permasalahan atau konflik. Setiap permasalahan atau konflik dapat muncul atau

dibentuk oleh beberapa peran dari beberapa tokoh. Namun beberapa peran itu,

tetap hadir dalam peran yang berpasangan. Sehingga terbentuk relasi beberapa

peran dalam membentuk permasalahan. Setiap peran membawa misi

permasalahan. Oleh karena itu, perubahan peran akan menyebabkan perubahan

tingkah laku, ucapan, tindakan, sebagai perwujudan pikiran dan perasaan tokoh

dalam perannya itu (Hasanuddin 1996: 80).

Tokoh male feminis dan kontra male feminis ini ditentukan dengan

menggunakan model aktan yang berdasar kepada pendapat Claude Bremond

karena model aktan ini memilah tokoh penyelamat dan penghambat dalam

perjalanan hidup tokoh utama novel sehingga sesuai bila diterapkan untuk

memilah peran tokoh dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Tokoh yang

akan diteliti dalam skripsi ini adalah tokoh yang berperan sebagai male feminis

dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmd

Tohari.

Uraian tentang aktan menurut Claude Bremond yang digunakan untuk

menentukan tokoh male feminis dan kontra male feminis akan diuraikan di bawah

ini.

Peran tokoh yang mengalami peristiwa dalam novel disebut dengan actant

(aktan). Kedudukan tokoh dalam naratif berbeda antara satu tokoh dengan tokoh

lain sehingga peran tokoh (aktan) juga mempunyai perbedaan. Aktan diisi oleh

tokoh-tokoh yang sesuai dengan tindakan yang dilakukannya.


15

Peran tokoh dalam peristiwa itu disebut aktan (Barthes 1977: 106).

Kedudukan tokoh dalam naratif dapat berbeda menurut peristiwanya dan aktan itu

sendiri dapat diisi oleh peran tokoh yang berbeda pula. Oleh karena itu, aktan

dapat memuat peristiwa yang banyak dan berbeda-beda dan naratif.

Aktan menurut Bremond (dalam Remon & Kenan 1983: 22) diawali

dengan tokoh yang mengalami perjuangan hidup dari kondisi awal atau permulaan

(potentiality) hingga sampai kearah yang dituju.

Peranan aktan dalam tingkat aksi ini berupa perjuangan hidup,

penyelamat, dan penghambat. Bremond dalam Rimmon-Kenan (1983), telah

memberi gambaran diagram tentang peranan aktan dalam tingkat aksi sebagai

berikut:

Potentiality (Keadaan awal)

Penolong Bahagia

Aktan Perjuangan hidup

Penghambat Menderita

Pada skema itu aktan diawali dengan perjuangan tokoh (X) yang

merupakan proses aktualisasi bergerak menuju ke arah sesuatu yang dituju

(hasilnya), dalam perjuangannya tokoh dapat bertemu dengan penyelamat yang

akan mengantarkan dia pada kebahagiaan atau keberhasilan. Apabila bertemu

dengan penghambat maka mengakibatkan kegagalan dalam perjuangan hidupnya.


16

Selanjutnya di bawah ini akan diurikan tentang feminisme yang

merupakan faham feminisme yang memperjuangkan hak-hak kaum wanita.

2.2. Feminisme

Feminisme pada dasarnya merupakan sebuah topik pembicaraan wanita

dengan mengikutsertakan pria sebagai “makhluk” yang selalu dicemburui, sebagai

makhluk yang superior (kuat), yang senantiasa menganggap wanita sebagai

mahkluk inferior (lemah). Pandangan inilah yang tidak pernah mendudukkan

wanita sebagai subjek dalam bidang apapun. Apalagi pembagian kerja yang secara

seksual juga tidak menguntungkan. Bidang-bidang kerja domestik akhirnya

memarginalkan mereka sebagai makhluk yang lemah, yang hanya dapat bekerja

sesuai dengan kodratnya. Pandangan sikap yang masih diskriminatif tersebut

masih tampak diberbagai negara di dunia.

Feminisme berasal dari kata feminist (pejuang hak-hak kaum wanita), yang

kemudian meluas menjadi feminism (suatu faham yang memperjuangkan hak-hak

kaum wanita). Dalam arti leksikal feminisme berarti gerakan wanita yang

menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan kaum pria

(Moeliono 1988: 241). Menurut Goefe, feminisme ialah teori persamaan hak

antara laki-laki dan wanita dibidang politik, ekonomi, dan sosial, atau gerakan

yang terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan kaum wanita

(dalam Sugihastuti 2000: 37).

Feminisme sebagai gerakan pada mulanya berangkat dari asumsi bahwa

kaum perempuan pada dasarnya ditindas dan dieksploitasi, serta usaha untuk

mengakhiri penindasan dan eksploitasi tersebut. Mereka sepaham bahwa hakikat


17

perjuangan feminis adalah demi kesamaan, martabat dan kebebasan mengontrol

raga dan kehidupan baik di dalam maupun di luar rumah (Fakih 1996: 99).

Dalam dunia masyarakat pria, proses mengamati lawan jenis selalu

dihubungkan dengan estetika fisik demi melayani nafsu dan rasa ingin tahu. Ini

merupakan salah satu perilaku andrticentric “berpusat pada pria” (andro dalam

bahasa Yunani berarti pria) atau Phallocentric (pallus merupakan penanda jenis

kelamin pria). Dalam masyarakat pria phallocentric, memiliki phallus berarti

memiliki kekuasaan dengan kata lain, sistem itu memungkinkan pria menguasai

wanita dalam semua bentuk hubungan sosial. Dalam paradigma feminis, situasi

seperti itu diekspresikan dengan istilah patriarki. Patriarki merupakan penyebab

utama munculnya fenomena-fenomena penindasan hak wanita oleh kaum pria.

Konsep ini memandang wanita sebagai kelas kedua setelah laki-laki sehingga

muncul dominasi pria atas wanita. Akibat kekuasaan patriarki termanifestasikan

dengan apa yang disebut seksisme (dasar ideologi penindasan yang merupakan

sistem hirarki seksual dimana laki-laki memiliki superior dan economic privilege

(Fakih 1996: 86).

Dalam konteks itu, phallocentrisme memiliki ciri yang sama dengan

ideologi yaitu disimulasi: menyembunyikan kenyataan-kenyataan yang benar-

benar dihayati oleh kelompok perempuan, yaitu ketidakadilan dan aspirasi akan

kesetaan gender. Ciri disimulasi dari phallocentrisme itu lebih terasa dalam

hubungannya dengan peran domonasi yang terkait dengan hirarki suatu organisasi

sosial. Biasanya apa yang ditafsirkan dan mendapat pembenaran dari ideologi

adalah hubungan kekuasaan. Maka tidak mengherankan masalah pastor wanita,


18

pemuka agama perempuan dan pemimpin politik perempuan, menjadi isu yang

hangat dan mengundang reaksi keras terutama dari laki-laki (Haryatmoko dalam

Subono 2001: 19).

Menurut Fakih (2003: 12) sesungguhnya perbedaan gender tidaklah

menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun yang

menjadi persoalan, ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai

ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki dan terutama terhadap kaum perempuan.

Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur di mana baik kaum laki-laki

dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut.

Sejak sepuluh tahun terakhir kata gender telah memasuki perbendaharaan

disetiap diskusi dan tulisan sekitar perubahan social dan pembangunan di Dunia

Ketiga. Untuk memahami konsep gender harus dibedakan kata gender dengan

kata seks (jenis kelamin). Pengertian jenis kelamin merupakan pensifatan atau

pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang

melekat pada jenis kelamin tertentu. Sedangkan konsep gender, yaitu suatu sifat

yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara

sosial maupun kultural (Fakih 2003: 7-8).

Budianta (1999: 15) memperkenalkan istilah pebedaan antara seks dengan

gender. Seks itu adalah pebedaan biologis pria dan wanita, sedangkan gender

adalah segala macam atribut sosial yang dikenakan pada perbedaan. Artinya yang

melihat bahwa perbedaan-perbedaan sifat dan sebagainya itu hanya karena

perbedaan biologisnya. Hal seperti itu yang didobrak, dengan memperkenalkan

istilah perbedaan seks dengan gender.


19

Adanya ketidakadilan gender inilah yang memunculkan gerakan

feminisme. Gerakan ini pada mulanya, terinspirasi oleh kaum postmodern dengan

ilham dekonstruksinya Derrida. Mengambil dari istilah Supriyanto (1997: 6)

bahwa berpikir ala postmodern berarti berpikir dalam strategi dekonstruksi.

Dengan kata lain, sebuah konsep atau pengertian selalu tersusun secara binary-

opposition, yang membangun serangkaian pengertian yang saling berlawanan,

misalnya kata laki-laki-perempuan, cantik-jelek.

Sebagian feminis mengakui bahwa jika cita-cita feminisme untuk

mencapai keadilan dan kesetaraan tanpa memperhitungkan jenis kelamin berhasil,

maka perhatian pada masalah-masalah perempuan tidak relevan lagi. Karena

bagaimanapun juga bahwa ketidakadilan gender merupakan konstruksi sosial di

masyarakat yang pendukungnya bisa laki-laki maupun perempuan.

Secara politik, feminisme, baik sebagai ide maupun aksi politik, akan

memiliki pengaruh kepada dua jenis kelamin (gender) yang ada, yakni di satu sisi

akan memberikan banyak keuntungan kepada perempuan dan di sisi yang lain,

akan mensyaratkan laki-laki untuk menyerahkan berbagai ‘hak-hak istimewa’

yang mereka miliki selama ini. Dengan demikian, laki-laki yang menyatakan

dirinya sebagai feminis akan menimbulkan kecurigaan dari laki-laki dan

perempuan pada umumnya. Ada kata lain yang digunakan yakni meninis

(meninist) atau yang kelihatannya lebih moderat adalah laki-laki pro-feminis

(Subono 2001: 59-60).

Dalam perkembangannya wanita tidak lagi dihadirkan sebagai korban

kekuasaan kaum patriarki, tetapi dihadirkan sebagai wanita yang berhak dan bebas
20

menentukan nasib atau masa depannya (seperti dalam Belenggu). Tini yang

diharapkan Tono hadir sebagai ibu rumah tangga, ternyata gagal karena lebih

memilih sebagai wanita karir, tidak mau dikalahkan kaum pria, dan tidak mau

tergantung pada pria. Pada novel tersebut, gambaran wanita tidak lagi pesimis,

yang digambarkan adalah wanita aktif, dinamis, optimis, sadar akan kondisi

sosialnya, serta berani berjuang mendapat persamaan hak dengan kaum pria.

Periode 80-an banyak novel-novel warna lokal dengan pengarang pria,

tetapi tidak mengemukakan semangat feminisme. Wanita hanya dihadirkan

sebagai makhluk yang menyimpan kelembutan tetapi sekaligus menyembunyikan

kekerasan seperti Roro mendut (dalam Roro Mendut karya YB. Mangunwijaya),

Srintil (dalam Ronggeng Dukuh Paruk) Sri Sumarah (dalam Sri Sumarah), dan Bu

Bei (dalam Canting). Pengarang pria tetap mendudukkan wanita sebagai objek

yang tidak mampu melawan kemapanan budaya.

Novel yang membicarakan masalah feminisme, tokoh-tokoh cerita pada

dasarnya berfungsi memperkuat gagasan feminisme dan emansipasi perempuan

yang ada dalam karya sastra. Karena itu dalam pelukisan penokohan laki-laki

digolongkan kedalam tokoh male feminist dan kontra male feminis. Tokoh male

feminis adalah tokoh laki-laki yang setuju dan memperjuangkan ide feminis,

sedangkan kontra male feminis adalah tokoh laki-laki yang tidak

memperjuangkan, bahkan menentang ide feminisme.

Berikut ini adalah uraian tentang male feminis dan kontra male feminis.
21

2.3. Male Feminis dan Kontra Male Feminis

Istilah male feminis bagi kalangan feminis di Indonesia masih sangat baru

dan belum terdengar akrab di telinga. Persoalannya jelas, feminis di Indonesia

dapat dikatakan baru berjalan kurang lebih 15 tahun ini, tepatnya dimulai pada

pertengahan tahun 1980-an. Itupun baru berupa pergerakan feminisme dan belum

sampai pada taraf studi yang intensif yang berupa pengembangan wacana yang

kritis dan analisis sifatnya, apalagi masalah feminis laki-laki (Arivia dalam

Subono 2001: 1).

Sebagian kaum feminis berpendapat bahwa laki-laki dapat menyatakan

diri mereka feminis sepanjang mereka ikut berjuang bagi kepentingan kaum

perempuan. Sekelompok feminis lain beranggapan bahwa laki-laki tidak dapat

menjadi feminis karena tidak mengalami diskriminasi dan penindasan

sebagaimana dialami kaum perempuan. Oleh karena itu, kaum laki-laki yang ikut

berjuang melawan penindasan terhadap perempuan lebih tepat dikatakan sebagai

kelompok pro-feminis (male feminis) (Muchtar 1999: 5).

Secara sederhana bisa katakan bahwa mereka adalah laki-laki yang secara

aktif terlibat dalam mendukung ide-ide feminisme dan upaya-upaya untuk

menciptakan kesetaraan dan keadilan gender (Subono 2001: 70).

Pandangan male feminis muncul karena adanya gerakan kaum feminisme

yang menolak keterlibatan laki-laki dalam penyetaraan masalah gender. Menurut

Soenarjati (2000: 4), inti tujuan feminisme adalah meningkatkan kedudukan dan

derajat perempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan serta derajat laki-

laki.
22

Sejalan dengan nafas filsafat yang telah dihembuskan oleh Haryatmoko,

tulisan Donny Gahral Adian mencoba membahas persoalan feminis laki-laki

dengan lebih teoritis lagi. Ia lebih jauh mengkolaborasi metafisika kontenporer

yang mengkritik metafisika klasik yang melahirkan pemahaman dikotomi dan

akhirnya menjagokan rasio ketimbang emosi, laki-laki ketimbang perempuan.

Tampak pula pengakuannya bahwa semakin banyak laki-laki intelektual-borjuis

yang mempelajari feminisme sebagai sebuah teori yang tidak kalah

“menterengnya” dengan teori-teori besar lainnya (Arivia dalam Subono 2001: 3).

Ketika muncul kesadaran bahwa “laki-laki” dan juga “perempuan” tak

lebih dari sebuah konstruksi politis yang melibatkan berbagai otoritas sosial,

kemungkinan seorang laki-laki menjadi feminis pun terbuka lebar. Buat apa

seorang laki-laki membela mati-matian kodrat istimewanya yang bukan hanya

melapangkan sebuah reaksi dominan tapi juga membebani dirinya. Laki-laki harus

menyadari bahwa kualitas-kualitas unggul yang melekatkan patriarki kepadanya

merupakan pedang dengan dua sisi tajam. Sisi tajam pertama mengarah pada

perempuan, sedang sisi tajam lainnya mengarah kepada dirinya sendiri.

Keunggulan laki-laki adalah semu dan juga tidak manusiawi, dan kesetaraan

gender adalah harga yang pantas dibayar dengan melucuti satu persatu hak-hak

istimewanya (Adian dalam Subono 2001: 27-28).

Alasan mengapa laki-laki bisa begitu terkabutkan rasa kemanusiaannya

adalah karena ia masih berada pada tingkat kesadaran praktis ideologi patriarki.

Mengikuti logika Giddens, laki-laki bisa menjadi feminis dengan senantiasa

menjaga kesadaran diskursifnya lewat kewaspadaan, kecurigaan, pengambilan


23

jarak terus menerus terhadap struktur patriarki yang menyelimutinya. Laki-laki

feminis adalah laki-laki yang tidak mau dininabobokkan oleh struktur yang

merupakan rajutan-rajutan sosial terhadap eksistensi dirinya. Berangkat dari

pengambilan jarak yang berkesinambungan, laki-laki lambat laun dapat peka

terhadap penindasan yang dialami perempuan dan menjadi pejuang feminis

(Adian dalam Subono 2001: 31).

Secara sederhana bisa katakan bahwa mereka adalah laki-laki yang secara

aktif terlibat dalam mendukung ide-ide feminisme dan upaya-upaya untuk

menciptakan kesetaraan dan keadilan gender. Banyak dari mereka yang

berpartisipasi dalam aktivitas politik, dan kelihatannya wilayah perhatian mereka

yang sangat umun adalah masalah kekerasan laki-laki. Kegiatan mereka sendiri

seringkali merupakan bentuk kerjasama dengan kalangan feminis dan organisasi-

organisasi perempuan (seperti pusat krisis perkosaan dan kekerasan domestik).

Ada juga yang lebih memperlihatkan komitmen mereka terhadap ide-ide

feminisme dalam bentuk kehidupan sehari-hari yang lebih egaliter dan saling

menghargai, baik di rumah, tempat kerja maupun tempat publik lainnya (Subono

2001: 70-71).

Dinamika yang terjadi di masyarakat tidak memungkinkan bahwa

perempuan bisa berjuang sendiri tanpa bantuan laki-laki. Ketika muncul

kesadaran bahwa “laki-laki” dan juga “perempuan” tidak lebih dari sebuah

konstruksi politis yang melibatkan berbagai otoritas sosial, kemungkinan seorang

laki-laki menjadi feminis pun terbuka lebar (Adian dalam Subono 2001: 26-27).
24

Jadi, laki-laki pun bisa menjadi feminis jika sikap dan tingkah laku

mereka menunjukkan sikap menghargai dan menghormati perempuan. Terlihat

jelas bahwa laki-laki dan perempuan perlu berkolaborasi untuk membangun

sebuah masyarakat yang bebas dari diskriminasi.

Sebuah bentuk dekonstruksi, ketika istilah male feminis, berarti akan ada

paradoksal yang menyatakan kebalikannya dalam hal ini bisa disebut kontra male

feminis. Hal ini merupakan bentuk dari oposisi biner. Kontra male feminis

merupakan kebalikan dari male feminis. Jika male feminis mempunyai sifat

menghargai terhadap perempuan, maka kontra male feminis adalah mempunyai

sifat menentang perempuan. Tokoh kontra male feminis ini tidak mempunyai

upaya untuk menyelamatkan perempuan atau bahkan menghargai perempuan.

Tokoh seperti ini hanya menginginkan keuntungan saja tanpa memperdulikan

orang lain. Asal ia puas dan bahagia maka jalan apa saja akan ia tempuh. Sifat

inilah yang membedakan antara tokoh male feminis dan kontra male feminis.

Namun, seperti halnya roda kehidupan, bahwa tokoh laki-laki pun ada

yang bersifat kontra male feminis. Tokoh laki-laki yang bersifat seperti ini

cenderung tidak menghargai sosok perempuan dan tidak mendukung ide-ide

feminisme. Secara nyata tokoh laki-laki yang kontra male feminis ini sangat

menikmati keistimewaan-keistimewaan yang melekat pada dirinya. Bahkan ia

tidak ingin keistimewaan itu hilang.

Menyikapi isu laki-laki feminis, kalangan feminis terbagi menjadi menjadi

dua kubu yaitu mereka yang sepakat dan mereka yang kontra.
25

Mereka yang sepakat mengemukakan argumentasi sebagai berikut:

pertama, terbukti bahwa dalam dua dekade belakangan ini laki-laki telah menjadi

sekutu yang efektif dalm perjuangan feminis; kedua, generasi muda feminis tidak

merasakan perlunya melakukan segregasi gender seperti yang dilakukan feminis

generasi sebelumnya. Perubahan konteks sosio-historis memaksa mereka untuk

menyadari pentingnya peran laki-laki dalam perjuangan feminis; ketiga, tidak

semua laki-laki merasa nyaman dengan statusnya sebagai penindas kemanusiaan.

Ada juga laki-laki yang muak dengan status tersebut dan menginginkan sebuah

relasi sosial yang lebih setara dan manusiawi.

Sebaliknya, mereka yang kontra memberi argumentasi sebagai berikut:

pertama, mereka menuduh laki-laki feminis sebagai oportunis yaitu mereka yang

mempelajari habis-habisan feminisme demi keuntungan sosial, akademis dan

politik; kedua, adalah mustahil seorang laki-laki menjadi feminis. Laki-laki sudah

terlampau lama menjadi warga kelas satu peradaban dengan segala privilisenya, ia

tersosialisasi ke dalam konstruksi identitas yang berseberangan dan bermusuhan

dengan feminisme, baik ide mupun gerakan (Adian dalam Subono 2001: 23-24).

Perdebatan yang muncul kelihatannya belum bergeser yaitu antara mereka

yang pro dengan argumentasi laki-laki harus merupakan bagian dari perjuangan

feminis dengan mereka yang kontra, yang menganggap bahwa sangat tidak

mungkin laki-laki menjadi feminis mengingat bahwa sudah ratusan tahun laki-laki

diuntungkan oleh posisi dan peran gendernya selama ini (Subono 2001: 59)

Kekerasan yang melibatkan laki-laki dan perempuan di mana perempuan

biasanya menjadi korban diakibatkan oleh hubungan kekuasaan yang timpang


26

antara laki-laki dan perempuan. Jika terjadi kekerasan terhadap perempuan

biasanya laki-lakilah yang ditunjuk sebagai pelakunya. Padahal, terdapat

masyarakat di mana laki-lakinya tidak melakukan atau tidak pernah terlibat dalam

kekerasan terhadap perempuan.

Persoalan mengenai pertanyaan dapatkah laki-laki menjadi feminis

memang bukan merupakan persoalan yang mudah. Namun, feminisme bukanlah

soal kecerdasan akademis, melainkan perihal kecerdasan etis. Laki-laki dapat

menjadi feminis dengan memakai akalnya secara sehat. Akal tidak membedakan

antara laki-laki dan perempuan. Akal membedakan manusia dengan binatang

(Gerung 2001: 127-129).

Jadi laki-laki pun bisa menjadi feminis jika sikap mereka mau

menunjukkan penghormatan dan sikap menghargai terhadap perempuan. Hal yang

paling sederhana jika laki-laki mau membantu perempuan ketika perempuan

tersebut membutuhkan bantuannya. Mereka tidak segan-segan membantu.

Sebaliknya laki-laki bisa menjadi kontra male feminis jika mereka tidak

mempunyai upaya untuk menyelamatkan perempuan atau bahkan tidak

menghargai perempuan. Mereka hanya menginginkan keuntungan saja tanpa

memperdulikan orang lain.

Sudah saatnya laki-laki dan perempuan saling bekerjasama dalam

membangun agenda pemikiran dan aksi untuk menciptakan masyarakat yang

bebas dari diskriminasi. Suatu tatanan kehidupan sosial masyarakat di mana laki-

laki dan perempuan merasa aman dan terlindungi.


27

Terlihat dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari

memunculkan tokoh-tokoh seperti Rasus, Goder, Pak Blegur, Partadasim dan

tokoh laki-laki yang lain. Tokoh-tokoh tersebut adalah tokoh male feminis,

sedangkan tokoh yang kontra male feminis dapat dilihat dalam sikap Bajus,

Marsusi, Kartareja, Sakarya, Dower, Tamir dan lain sebagainya dalam novel

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Pada dasarnya keberadaan tokoh male feminis

dan kontra male feminis adalah sebuah keniscayaan, apalagi untuk novel-novel

yang mengangkat persoalan perempuan dan berangkat dari dunia feminis.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif, yaitu menitikberatkan

pada teks sastra yang disebut strukturalisme atau instrinsik. Penelitian struktural

dipandang lebih objektif karena hanya berdasarkan sastra itu sendiri (Endraswara

2003: 9).

Gagasan tentang male feminis yang merupakan tokoh penyelamat dan

kontra male feminis yang merupakan tokoh penghambat dalam perjuangan hidup

tokoh utama. Sebenarnya di dalam kehidupan ada laki-laki yang berusaha

memperjuangkan hak-hak perempuan, tapi di lain sisi ada juga laki-laki yang

tidak memperjuangkan hak-hak perempuan. Perempuan merasa bahwa laki-laki

tidak akan pernah bisa dan mau membantu mereka dalam pemenuhan hak-hak

perempuan. Untuk hal ini, perempuan harus berusaha sendiri tanpa pernah

meminta bantuan pada laki-laki. Analisis peran male feminis dan kontra male

feminis itu berdasarkan kepada teori aktan (peran tokoh) menurut Claude

Bremond karena teori aktan ini memilah tokoh penyelamat dan penghambat

dalam perjalanan hidup tokoh utama novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.

3.1. Sasaran Penelitian

Sasaran atau objek yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah peran

tokoh male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh

Paruk karya Ahmad Tohari; dan faktor-faktor apa yang menyebabkan munculnya

27
28

male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh

Paruk karya Ahmad Tohari.

Data dalam penelitian ini yaitu semua perilaku tokoh yang pro feminis

(male feminis) dan kontra male feminis dalam teks novel Trilogi Ronggeng Dukuh

paruk karya Ahmad Tohari yang berkaitan dengan peran male feminis dan kontra

male feminis.

Sumber data dalam penelitian ini adalah teks novel Trilogi Ronggeng

Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

cetakan ke-2 ini terbit pada bulan Februari tahun 2003 yang diterbitkan oleh PT.

Gramedia Pustaka Utama, sebuah penerbit di Jakarta. Tebal buku 397 halaman, 15

x 21 cm.

3.2. Teknik Analisis Data

Data diperoleh dari Perilaku para tokoh laki-laki dalam novel Trilogi

Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Cara kerja analisis data dimulai

dengan mengelompokkan perilaku tokoh laki-laki yang berhubungan dengan

peran tokoh utama.

Kemudian diterapkan dalam model aktan (peran tokoh) menurut Claude

Bremond untuk mengetahui peran masing-masing tokoh sebagai male feminis dan

kontra male feminis.

Selanjutnya perlu diungkap faktor-faktor apa yang menyebabkan

munculnya male feminis dan kontra male feminis dengan cara mengungkap peran

masing-masing tokoh yang berhubungan dengan peran utama sehingga dapat


29

diketahui faktor-faktor yang menyebabkan munculnya male feminis dan kontra

male feminis.

Adapun langkah kerja dalam penelitian ini dapat dipaparkan secara rinci

sebagai berikut:

1. Membaca novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

2. Menentukan tokoh yang berperan sebagai male feminis dan kontra male

feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari

dengan menggunakan model aktan menurut Claude Bremond untuk

mengetahui peran masing-masing tokoh sebagai male feminis dan kontra male

feminis dan menentukan faktor-faktor yang menyebabkan munculnya male

feminis dan kontra male feminis novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya

Ahmad Tohari.

3. Menyimpulkan hasil analisis tentang peran tokoh male feminis dan kontra

male feminis serta faktor-faktor yang menyebabkan munculnya male feminis

dan kontra male feminis.


BAB IV

PERAN MALE FEMINIS DAN KONTRA MALE FEMINIS

SERTA FAKTOR YANG MENYEBABKAN MUNCULNYA

MALE FEMINIS DAN KONTRA MALE FEMINIS

Berikut ini adalah analisis male feminis dan kontra male feminis yang

menyoroti tentang peran male feminis dan kontra male feminis dan faktor-faktor

yang menyebabkan munculnya male feminis dan kontra male feminis dalam novel

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk k arya Ahmad Tohari.

4.1. Peran Male Feminis dan Kontra male Feminis dalam novel

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

Tokoh utama dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk adalah seorang

perempuan cantik yang bernama Srintil. Dukuh Paruk yang telah lama kering kini

menampakkan kehidupannya kembali ketika Srintil, bocah yang berusia sebelas

tahun, menjadi ronggeng, seorang bromocorah yang dianggap moyang mereka,

menganggap bahwa kehadiran Srintil akan mengembalikan citra pedukuhan yang

sebenarnya.

Sebagaimana layaknya seorang ronggeng, Srintil harus melewati tahap-

tahap untuk menjadi ronggeng yang sesungguhnya. Srintil harus dimandikan di

depan cungkup makam Ki Secamenggala setelah ia diserahkan kepada Kertareja,

dukun ronggeng di dukuh itu, Srintil juga harus melewati tiga tahap bukak-

klambu. Dia tidak mungkin naik pentas dengan memungut bayaran kalau tidak

31
32

melewati tahap yang lebih mirip sebagai sayembara bagi setiap laki-laki yang

mampu memberikan sejumlah uang sebagai syaratnya.

Sayembara bukak-klambu tersebut terdengar sampai kemana-mana,

banyak laki-laki yang berusaha mengikutinya dengan segala cara. Srintil sengaja

menyerahkan keperawanannya kepada Rasus pada malam bukak-klambu tanpa

sepengetahuan Nyai Kartareja. Kenyataan itu tidak dibayangkan Rasus

sebelumnya. Rasus tidak menolak keinginan orang yang merupakan bayang-

bayang ibunya yang entah kemana itu.

Srintil dalam menjalani hidupnya selalu bertemu dengan tokoh penyelamat

dan tokoh penghambat. Tokoh penyelamat berperan mengantarkan Srintil untuk

mendapatkan keberhasilan dalam tujuan hidupnya sehingga dapat membuat Srintil

bahagia. Tokoh penghambat membuat Srintil menderita dan gagal memperoleh

kebahagiaan dalam mencapai tujuan hidupnya. Tokoh penyelamat dalam

perjalanan hidup Srintil diperankan oleh tokoh male feminis dan tokoh

penghambat diperankan oleh tokoh kontra male feminis.

Peran tokoh penyelamat dan penghambat dalam perjuangan hidup Srintil

dianalisis dengan tujuan untuk memudahkan analisis male feminis dan kontra

male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.

Berikut ini peran tokoh penyelamat dan penghambat dalam kehidupan

Srintil pada novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari tersebut.

Srintil adalah gadis Dukuh Paruk. Dukuh Paruk adalah sebuah desa kecil

yang terpencil dan miskin. Segenap warganya memiliki suatu kebanggaan

tersendiri karena mewarisi kesenian ronggeng yang senantiasa menggairahkan


33

hidupnya. Tradisi itu nyaris musnah setelah terjadi musibah keracunan tempe

bongkrek yang mematikan belasan warga Dukuh Paruk sehingga lenyaplah gairah

dan semangat kehidupan masyarakat setempat. Untunglah mereka menemukan

kembali semangat kehidupan setelah gadis cilik pada umur belasan tahun secara

alamiah memperlihatkan bakatnya sebagai calon ronggeng ketika bermain-main di

tegalan bersama kawan-kawan sebayanya (Rasus, Warta, Darsun). Permainan

menari itu terlihat oleh kakek Srintil, Sakarya, mereka sadar bahwa cucunya

sungguh berbakat menjadi seorang ronggeng. Berbekal keyakinan itulah, Sakarya

menyerahkan Srintil kepada dukun ronggeng Kartareja. Harapan Sakarya kelak

Srintil menjadi seorang ronggeng yang diakui oleh masyarakat.

Srintil pun membuktikan kebolehannya menari dalam waktu singkat,

disaksikan orang-orang Dukuh Paruk sendiri dan selanjutnya dia pun berstatus

gadis pilihan yang menjadi milik masyarakat. Srintil harus menjalani serangkaian

upacara tradisional sebagai seorang ronggeng dan puncaknya adalah menjalani

upacara bukak klambu, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapa pun

lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal.

Meskipun Srintil sendiri merasa ngeri, tak ada kekuatan dan keberanian

untuk menolaknya. Srintil telah terlibat atau larut dalam kekuasaan sebuah tradisi,

di sisi lain, Rasus merasa mencintai gadis itu tidak bisa berbuat banyak setelah

Srintil resmi menjadi ronggeng yang dianggap milik orang banyak. Rasus

memilih pergi meninggalkan Srintil sendirian di Dukuh Paruk. Kepergian Rasus

ternyata membekaskan luka yang mendalam di hati Srintil dan kelak besar sekali

pengaruhnya terhadap perjalanan hidupnya yang berliku. Rasus yang terluka


34

hatinya memilih meninggalkan Dukuh Paruk menuju pasar Dawuan, kelak dari

tempat itulah Rasus mengalami perubahan garis perjalanan hidupnya dari seorang

remaja dusun yang miskin dan buta huruf menjadi seorang prajurit atau tentara

yang gagah setelah terlebih dahulu menjadi tobang. Ketentaraannya itulah

kemudian Rasus memperoleh penghormatan dan penghargaan seluruh orang

Dukuh Paruk, lebih-lebih setelah berhasil menembak dua orang perampok yang

berniat menjarah rumah Kartareja yang menyimpan harta kekayaan ronggeng

Srintil.

Rasus sempat menikmati kemanjaan dan keperempuanan Srintil

sepenuhnya setelah beberapa hari singgah di Dukuh Paruk. Semua itu tidak

menggoyahkan tekadnya yang bulat untuk menjauhi Srintil dan dukuhnya yang

miskin. Rasus melangkah gagah pada saat fajar merekah tanpa berpamitan pada

Srintil yang masih pulas tidurnya.

Kepergian Rasus tanpa pamit sangat mengejutkan dan menyadarkan Srintil

Tidak semua lelaki dapat ditundukkan oleh seorang ronggeng. Srintil setiap hari

tampak murung setelah kejadian itu dan sikap Srintil yang kemudian

menimbulkan keheranan orang-orang disekitarnya. Kebanyakan mereka tidak

senang menyaksikan kemurungan Srintil, sebab mereka tetap percaya ronggeng

Srintil telah menjadi simbol kehidupan Dukuh Paruk. Kemurungan Srintil tetap

tertahan ketika didatangi lelaki bernama Marsusi yang berniat menikmati

kecantikannya dan kegairahan seksualnya. Pak Marsusi yang telah membawa

seratus gram kalung emas buat Srintil sesuai dengan tawaran Nyai Kartareja

ternyata gagal merangkul ronggeng itu. Srintil memang berjanji akan pulang dari
35

tegalan, langkahnya justru menuju pasar Dawuan hendak mencari Rasus. Niatnya

melarikan diri dari rumah Nyai Kartareja itu akhirnya pasrah kembali ke

rangkulan Nyai Kartareja yang begegas menyusul dan mengajaknya pulang.

Srintil tetap bertahan tidak ingin menari sebagai ronggeng, Srintil senang

mengasuh bayi Goder (anaknya Tampi, seorang tetangga) dalam kurun waktu

tertentu dengan gaya asuhan seorang ibu kandung. Marsusi kembali datang ke

rumah Nyai Kartareja hendak menikmati kegairahan seks bersama Srintil.

Nyatanya Srintil tetap bertahan dengan menegaskan sikap untuk bersedia

menerima seratus gram kalung emas dari Pak Marsusi hanya untuk menari bukan

melayani kelelakian Marsusi. Marsusi marah dengan pernyataan Srintil,

kemarahannya dilimpahkan kepada Nyai Kartareja yang gagal membujuk

ronggeng asuhannya.

Perlawanan atau pemogokan Srintil masih bertahan ketika datang tawaran

menari dari Kantor Kecamatan Dawuan yang akan menggelar pentas kesenian

menyambut perayaan Agustusan. Akhirnya Srintil runtuh dan pasrah, bukan

semata-mata tergugah untuk kembali tampil menari sebagai seorang ronggeng,

melainkan mendengar ancaman Pak Ranu dari Kantor Kecamatan.

Srintil menyadari kedudukannya sebagai orang kecil yang tak berhak

melawan kekuasaan. Srintil sama sekali tidak membayangkan akibat lebih jauh

dari penampilannya di panggung perayaan Agustusan yang pada tahun 1964

sengaja dibuat berlebihan oleh orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI).

Warna merah dipasang di mana-mana dan muncullah pidato-pidato yang

menyebut-nyebut rakyat tertindas, kapitalis, imperalis, dan sejenisnya. Slogan


36

seperti itu diperdengarkan kehadapan Sakarya sebagai tetua Dukuh Paruk, justru

timbullah sebuah reaksi yang mencerminkan kebingungan.

Dukuh Paruk masih tetap Dukuh Paruk. Rapat, pidato, gambar, dan simbol

partai dipasang di mana-mana. Dukuh Paruk tetap tenang ditunggui oleh cungkup

makam Ki Secamenggala di puncak bukit kecil di tengah-tengahnya. Mereka tidak

mengetahui perubahan sosial yang berkembang dari dunia politik yang berpusat di

Jakarta, sebuah tempat yang terlalu jauh dari alam pikiran mereka. Padahal saat

itu mereka terancam perubahan sosial.

Pemberontakan PKI kandas dalam sekejap dan akibatnya orang-orang PKI

atau mereka yang dikira PKI dan siapa pun yang berdekatan dengan PKI di daerah

mana pun ditangkapi dan di tahan. Nasib itu terjadi juga pada Srintil yang harus

mendekam di tahanan tanpa alasan yang jelas.

Paceklik di mana-mana sehingga menimbulkan kesulitan ekonomi secara

menyeluruh. Orang-orang Dukuh Paruk tidak berpikir panjang dan tidak

memahami berbagai gejala zaman yang berkembang di luar wilayahnya. Masa

paceklik yang berkepanjangan, Srintil terpaksa lebih banyak berdiam di rumah,

karena jarang orang mengundangnya berpentas untuk suatu hajatan. Tidak lama

kemudian ronggeng Srintil sering berpentas di rapat-rapat umum yang selalu

dihadiri atau dipimpin tokoh Bakar. Srintil tidak memahami makna rapat-rapat

umum, pidato yang sering diselenggarakan orang. Srintil paham hanya untuk

menari sebagai ronggeng atau melayani nafsu kelelakian. Hubungan mereka tetap

baik.
37

Hubungan mereka merenggang setelah beberapa kali terjadi penjarahan

padi yang dilakukan oleh orang-orang kelompok Bakar. Bakar mengungkit-ungkit

masa lampau Ki Secamenggala yang dikenal orang sebagai bromocorah

menjadikan Sakarya merasa tersinggung dengan sikap Bakar. Kejadian itu

membuat itu Sakarya memutuskan hubungan dengan kelompok Bakar.

Sakarya tidak hanya melarang ronggeng Srintil berpentas di rapat-rapat

umum, Sakarya juga meminta pencabutan lambang partai. Dasar Bakar dengan

tenang menanggapinya dengan sikap bersahaja. Dukuh Paruk dalam tempo

singkat kembali ketradisinya yang sepi dan miskin. Kedamaian itu hanya sebentar,

mereka kemudian kembali bergabung dengan kelompok Bakar setelah terkecoh

oleh kerusakan cungkup makam Ki Secamenggala. Sakarya menduga kerusakan

itu ulah kelompok Bakar yang sakit hati, tetapi kemudian beralih ke kelompok

lain setelah menemukan sebuah caping bercat hijau di dekat pekuburan itu.

Sayang, mereka tidak mampu membaca simbol itu. Srintil pun menjadi semangat

menari walaupun tariannya tidak seindah penampilannya yang sudah-sudah.

Penampilan yang berlebihan itu merupakan akhir perjalanan Srintil

sebagai ronggeng. Mendadak pasar malam bubar tanpa penjelasan apa pun dan

banyak orang limbung, ketakutan, dan kebingungan, kehidupan kembali terasa

sepi dan mencekam.

Berbagai peristiwa menjadikan orang-orang Dukuh Paruk ketakutan.

Mereka sama sekali tidak mengetahui cara-cara penyelesaiannya. Melaksanakan

upacara selamatan dan menjaga kampung dengan ronda setiap saat adalah satu-

satunya cara yang mereka lakukan. Keesokan harinya orang-orang Dukuh Paruk
38

melepas langkah Kartareja dan Srintil yang berniat meminta perlindungan polisi

di Dawuan. Harapan berlindung kepada polisi itu berantakan, karena kepolisian

dan tentara justru sudah menyimpan catatan nama Srintil yang terlanjur populer

sebagai ronggeng rakyat yang mengibarkan bendera PKI. Harapan Srintil dan

Kartareja menjadi Pupus untuk mendapatkan perlindungan polisi karena justru

harus ditahan seperti orang-orang kelompok Bakar.

Srintil pulang ke Dukuh Paruk setelah dua tahun mendekam dalam

tahanan politik dengan kondisi kejiwaan yang sangat tertekan. Ia berjanji menutup

segala kisah dukanya selama dalam tahanan dan bertekad melepas predikat

ronggengnya untuk membangun sebuah kehidupan pribadinya yang utuh sebagai

seorang perempuan Dukuh Paruk, meskipun tidak mengetahui sedikitpun

keberadaan Rasus.

Nyai Kartareja menghubungi Marsusi tanpa sepengetahuan Srintil,.

Akibatnya, Srintil mengumpat kebodohan neneknya dan meratapi nasibnya

sebagai perempuan yang terlanjur dikenal sebagai ronggeng. Untungah Srintil

masih bisa mengelak perangkap Marsusi. Selepas dari perangkap Marsusi, Srintil

kembali mendapat tekanan dari lurah Pecikalan agar mematuhi kehendak Pak

Bajus. Bajus hendak menikahi Srintil dan Srintil berusaha mencintai Bajus.

Srintil harus kecewa lagi, Bajus ternyata lelaki impoten yang justru hanya berniat

menawarkannya kepada seorang pejabat proyek. Srintil pun mengalami

goncangan jiwa dan akhirnya menderita sakit gila sampai akhirnya dibawa ke

rumah sakit jiwa oleh Rasus.


39

Tokoh penyelamat dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk itu

termasuk tokoh pro feminis yang membantu tokoh utama (Srintil) untuk

mendapatkan kesejajaran dengan laki-laki, sedang tokoh penghambat dapat

dikatakan sebagai tokoh kontra male feminis karena kehadirannya membuat tokoh

utama menderita. Tokoh-tokoh pro feminis yang menolong Srintil berjenis

kelamin laki-laki sehingga mereka dapat dikatakan sebagai sosok male feminis.

Para tokoh yang memerankan male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh

Paruk yaitu seperti Rasus, Sakum, Mertanakim, Sentika, Partadasim, Pak

Blengur. Tokoh kontra male feminis yaitu Mantri Kesehatan, Kartareja, Sakarya,

Bajus, Marsusi, Dower, Sulam, Babah Pincang, Pak Simbar, Darman.

Berikut ini adalah pemaparan mengenai perilaku beberapa tokoh yang

berperan sebagai male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi

Ronggeng Dukuh Paruk.

4.1.1. Male Feminis

Kaum feminis berpendapat laki-laki dapat menyatakan diri mereka feminis

sepanjang mereka ikut berjuang bagi kepentingan kaum perempuan. Kaum laki-

laki yang ikut berjuang melawan penindasan terhadap perempuan lebih tepat

dikatakan sebagai kelompok male feminis.

Berikut ini adalah pemaparan mengenai perilaku beberapa tokoh yang

berperan sebagai male feminis.


40

4.1.1.1. Rasus

Rasus adalah teman bermain Srintil sebelum menjadi ronggeng.

Persahabatan mereka mulai renggang setelah Srintil menjadi ronggeng. Rasus

merasa Srintil makin menjauh. Rasus mengakui hatinya tersiksa dengan keadaan

seperti itu. Rasus tetap kecewa karena tidak bisa lagi bermain bersama Srintil.

Rasus mulai mencari jalan untuk memperoleh kembali perhatian Srintil. Rasus

acap kali mendengar orang berceloteh bila Srintil habis menari tari Baladewa.

Tubuh Srintil masih terlampau kecil bagi kerisnya yang terselip di punggungnya.

Celoteh semacam itu membuka jalan karena di rumah Rasus ada sebuah keris

tinggalan Ayahnya. Rasus berani berbohong tentang keris itu dengan mengatakan

mendapat wangsit Ayahnya. Perhatikan kutipan berikut.

“Nek, tadi malam aku bermimpi bertemu Ayah. Dalam mimpiku


itu Ayah berpesan yang wanti-wantinya harus kulaksanakan, ”kataku
dengan hati-hati.
“Apa pesan Ayahmu?” jawab Nenek yang mulai terpancing
kebohonganku.
“Soal keris itu, Nek. Kata Ayah keris itu harus kuberikan kepada
siapa saja yang menjadi ronggeng di pedukuhan ini. Demikian wangsit
Ayah, Nek.” (TRDP, hlm. 39).

Neneknya percaya dengan mimpi Rasus karena menyebut kata wangsit.

Orang Dukuh Paruk menganggap wangsit sebagai bagian dari hukum yang

pantang dilanggar. Akhirnya Rasus menyerahkan keris itu kepada Srintil ketika

Srintil sedang terlelap. Perhatikan kutipan berikut.

“Keris yang kubawa dari rumah masih kuselipkan di ketiakku, rapi


tergulung dalam baju. Aku merasa lebih baik menyerahkan benda ittu
kepada Srintil selagi dia tertidur...... yang terwujud dalam diri Srintil yang
sedang tidur.” (TRDP, hlm. 41).
41

Rasus berharap Srintil mengenali pemilik baju yang digunakan untuk

membungkus keris itu. Rasus berharap perhatian Srintil akan kembali padanya.

Keris peninggalan Ayahnya ternyata adalah pusaka ronggeng yang telah hilang.

Keris pemberian Rasus dipakai Srintil saat melaksanakan upacara pemandian.

Upacara pemandiaan yang dilaksanakan di depan cungkup makam Ki

Secamenggala sedang berlangsung, ada kejadian yang sangat menyesakkan dada

Rasus dan membuat Rasus bertindak untuk menolong Srintil ketika semua orang

sibuk mengurus Kartareja. Tubuh Kartareja telah dirasuki roh Ki Secamenggala.

Kartareja perlahan-lahan mengendurkan dekapan atas diri Srintil, entah

oleh siraman air kembang atau oleh siraman kepulan asap pedupaan. Dukun

ronggeng itu mulai berdiri goyah, dan akhirnya roboh ke tanah. Tangan dan kaki

Kartareja kejang. Melihat kejadian itu, Rasus langsung ke depan. Ia ingin menjadi

orang pertama yang menolong Srintil dari ketakutan. Lihat kutipan berikut.

“Kau tidak apa-apa, Srin?” tanyaku.


Srintil hanya menggeleng. Dingin terasa tubuhnya. Tangannya
gemetar.” (TRDP, hlm. 49)

Rasus hanya ingin segera membawa Srintil menyingkir. Rasus

menggandeng tangan Srintil menuruni bukit kecil pekuburan. Srintil tidak diantar

ke rumahnya, melainkan di bawa ke rumah Rasus untuk dihiburnya. Suatu

keberanian yang tak pernah terbayangkan dapat dilakukan oleh Rasus. Srintil

menurut. Srintil bisa terbebas dari cengkraman Kartareja yang saat itu sedang

kemasukan arwah Ki Secamenggala. Sikap Rasus yang menolong Srintil terbebas

dari cengkeraman Kartareja bisa dikatakan sebagai peran male feminis.


42

Rasus salah menyira bahwa upacara pemandian itu akhir dari segalanya,

masih ada satu acara lagi yaitu bukak-klambu. Dower adalah pemuda pertama

yang datang untuk mengikuti sayembara bukak-klambu. Memenangkan

sayembara bukak-klambu bukan hanya menyangkut rencana berani. Melainkan

juga kebanggaan. Rasus Ingin sekali menyakiti Dower yang akan menggagahi

Srintil.

Rasus merasa tidak bisa berbuat apa-apa dengan adanya sayembara bukak-

klambu. Rasus hanya bisa berjalan tanpa arah, perjalanan yang tanpa tujuan

membawa Rasus sampai ke lorong yang menuju pekuburan Dukuh Paruk. Srintil

dalam waktu yang sama ternyata juga berjalan menuju cungkup makam Ki

Secamenggala. Srintil tidak mengetahuinya kalau Rasus membuntutinya. Srintil

menaruh sesaji di depan pintu makam Ki Secamenggala. Srintil bangkit dan

berbalik, setelah selesai ia baru menyadari Rasus ada di belakangnya. Rasus

hendak melangkah pergi setelah berbicara sebentar, Srintil menghalangi langkah

Rasus dengan menarik bajunya. Srintil membimbing Rasus duduk di atas akar

beringin. Keduanya duduk dengan membungkam mulut masing-masing.

Ronggeng kecil itu merasa sedang menghadapi seorang anak laki-laki yang

sedang mengalami kekecewaan. Srintil pasti tahu Rasus menyukainya. Srintil

tahu pula bahwa malam bukak-klambu baginya menjadi sesuatu yang sangat

dibenci Rasus. Lihat kutipan berikut.

“Aku tak bergerak sedikit pun ketika Srintil merangkulku,


menciumiku. Nafasnya terdengar cepat. Kurasakan telapak tangannya
berkeringat. Ketika menoleh ke samping kulihat wajah Srintil tegang. Ah,
sesungguhnya aku tidak menyukai Srintil dengan keadaan seperti
itu......pohon-pohon puring dan kamboja yang mengelilingi pekuburan
Dukuh Paruk menjadi pagar yang sangat rapat.”
43

“Srintil melepaskan rangkulannya. Kemudian aku mengerti


perbuatan itu dilakukannya agar ia dapat membuka pakaiannya dengan
mudah.” (TRDP, hlm. 66).

Rasus sering melihat perempuan mandi telanjang di pancuran. Rasus

sudah tahu beda tubuh laki-laki dan tubuh perempuan. Rasus merasa jantungnya

memompa darahnya ke segala penjuru ketika melihat Srintil telanjang di

hadapannya. Kehendak alam terasa begitu perkasa menuntut Rasus bertindak.

Srintil dengan tidak canggung menarik tangan Rasus. Wajahnya merona merah,

matanya berkilat-kilat. Srintil mulai mendekat badan Rasus yang mulai basah oleh

keringat dingin. Kemudian Rasus tak bisa berbuat lain kecuali menutup muka

dengan dua telapak tangan. Lihat kutipan berikut.

“Kita tak bisa berbuat sembrono di tempat ini,” kataku sambil


membenahi pakaian Srintil.
“Ya, tetapi kau sungguh bangsat.”
“Maafkan aku, Srin. Sungguh! Aku minta engkau jangan marah
kepadaku,” kataku menirukan cara seorang kacung yang minta belas
kasihan kepada majikannya. (TRDP, hlm. 67)

Srintil kecewa dengan penolakan Rasus dan ia merasa malu. Rasus

mencoba menjelaskan pada Srintil bahwa perbuatannya akan mendapat kualat.

Konon menurut cerita di Dukuh Paruk pernah terjadi sepasang manusia mati di

pekuburan itu dalam keadaan tidak senonoh. Mereka kena kutuk setelah berzina di

atas makam Ki Secamenggala. Rasus percaya akan cerita itu, dan segera

mencegah perbuatan Srintil yang akan berbuat senonoh. Penolakan Rasus bisa

disebut peran male feminis.

Rasus memilih meninggalkan Dukuh Paruk setelah kejadian itu. Pertama

kalinya Rasus diajak berburu oleh Sersan Slamet setelah ia keluar dari Dukuh

Paruk, sekarang ia menjadi seorang tobang. Rasus berburu bersama tiga orang
44

tentara ke hutan. Rasus berharap orang Dukuh Paruk akan melihat Rasus

mengenakan baju hijau. Rasus tidak pernah mimpi sebelumnya bahwa suatu

pengalaman yang amat luar biasa diperolehnya dalam kesempatan berburu itu.

Rasus sempat kecewa karena tiga orang tentara yang diiringnya sama sekali tidak

berpengalaman dalam hal berburu, hanya seekor ular yang didapatnya. Rasus

bertugas menguliti ular besar itu, memotongnya pendek-pendek dan memasukkan

dalam tiga ransel.

Pekerjaan mengguliti ular besar selesai sudah. Sementara suasana sepi,

Sersan Slamet dan dua orang anggotanya masih terlelap. Rasus tidak mempunyai

keberanian membangunkan ketiganya, Rasus hanya duduk berdiam diri dalam

kelengangan hutan. Dalam kesendiriannya tiba-tiba Rasus mendapat ilham

gemilang ketika memandang tiga pucuk bedil yang dibiarkan tersandar oleh

pemiliknya. Lihat kutipan berikut.

“Ketiga bedil itu masih tersandar di tempatnya. Selagi Sersan


Slamet bersama dua rekannya pulas, aku bisa menggunakan salah sebuah
bedil mereka untuk kepentinganku sendiri. Aku mempunyai musuh
bebuyutan yang meski hanya merajalela dalam angan-angan, namun sudah
sekian lama aku ingin menghancurkan kepalanya hingga berkeping-
keping:......Ketika datang kesempatan buat menghancurkan kepala mantri
itu, mengapa aku tidak segera bertindak?” (TRDP, hlm. 96)

Rasus merasa sudah saatnya membalas kesumatnya. Rasus mulai mencari

sebongkah batu cadas sebesar kepala. Rasus membayangkan kepala mantri

keparat yang telah mencuri Emaknya. Rasus memantapkan hatinya, Rasus

mengambil sebuah bedil dengan tangan gemetar. Denyut jantungnya ternyata

mampu menggerak-gerakkan ujung laras bedil yang telah bertuju lurus pada
45

sasaran. Kepala Mantri itu! Rasus menunggu sampai jantungnya tenang. Lihat

kutipan berikut.

“Bedil kembali kuarahkan kepada sasaran.....Picu kutarik. Ledakan


dendam membuat gerak telunjuk kananku menjadi kuat dan pasti. Aku
hampir tidak mendengar letupan karena seluruh indra terpusat kepada
kepala Mantri yang hancur dan terlempar ke belakang. Tapi gabusnya
terbang entah ke mana.” (TRDP, hlm. 98).

Rasus telah membalas dendam kesumatnya pada Mantri yang telah

membawa Emaknya. Rasus bahkan siap menerima hukuman dari Sersan Slamet

karena telah menggunakan senjata sembarangan, Rasus sekarang benar-benar

puas. Rasus benar-benar puas walau yang dibunuh hanya sekedar bayangan

Emaknya.

Selama Rasus menjadi tobang Rasus telah membuktikan kejujuran dan

kerja kerasnya pada Sersan Slamet sebagai atasannya. Rasus juga berhasil

membunuh perampok yang akan merampok rumah Kartareja di mana Srintil

tinggal.

Kedatangan tentara di Dawuan tidak selamanya dapat mencegah

perampokan. Rasus tidak berharap sesuatu akan memimpa Dukuh Paruk. Malam

kesembilan dari tempat pengintaian Rasus melihat sinar lampu senter mendekat.

Empat-lima orang sedang berjalan beiringan di atas pemantang. Keadaan genting

seperti itu Kopral Pujo tidak bisa dengan cepat mengambil keputusan. Rasuslah

yang mengambil keputusan. Lihat kutipan berikut.

“Kita perlu bantuan. Kopral tetap di sini. Aku akan berlari


secepatnya ke Dawuan. Dalam dua puluh menit kuharap aku sudah
kembali bersama Sersan Slamet.”
“Terlalu lama. Mana sentermu. Aku akan memberi isyarat ke
markas.”
46

“Tetapi dari tempat ini isyarat itu takkan terlihat oleh Sersan
Slamet. Kopral harus berlari sampai ke pertengahan pemantang.”
“Tak mengapa.”
“Nah, inilah senter yang Kopral minta. Aku juga akan
meninggalkan tempat ini, mengikuti para perampok itu dari belakang.”
(TRDP, hlm. 100).

Kopral Pujo langsung ke tengah pemantang dan Rasus mengendap

mengikuti para perampok yang baru beberapa menit lewat di dekat tempat

pengintaian. Perampok tidak mendatangi rumah Kartareja di mana Srintil tinggal,

melainkan ke rumah Sakarya. Perampok itu tidak menemukan Srintil maupun

hartanya. Perampok itu langsung menanyakan di mana Srintil tinggal. Kegaduhan

di rumah Sakarya saat itu sudah mendengar oleh dukun ronggeng itu. Barang-

barang miliknya dan milik Srintil disembunyikannya di dalam abu tungku.

Rasus tetap mengintai di balik pohon beberapa langkah dengan salah

seorang di antara mereka. Perampok itu mendobrak pintu dan Srintil menjerit

ketakutan. Rasus mengutuk sengit mengapa Kopral Pujo belum juga muncul dalm

keadaan seperti itu. Rasus tidak sabar menunggu dan akhirnya timbul

keberaniannya. Lihat kutipan berikut.

“.......Aku mencari sesuatu di tanah. Sebuah batu sudah cukup.


Tetapi yang kutemukan sebatang gagang pacul......Pembunuhan kulakukan
untuk kali pertama.....Pengalaman pertama itu membuat aku
gemetar......Aku mendengar langkah mendekat. Cepat aku ambil senjata
milik orang yang sudah kubunuh. Sebuah Thomson yang tangkainya sudah
diganti dengan kayu buatan sendiri......Senjata yang telah terkokang ittu
kugunakan untuk pembunuhan kali kedua.” (TRDP, hlm. 102-103)

Keberanian Rasus muncul karena keadaan. Rasus merasa harus

menyelamatkan Srintil dan hartanya. Sesaat setelah kejadian itu Kopral Pujo

datang dengan membawa bantuan. Rasus mengatakan kalau perampok sedang

berada di rumah Kertareja, dua di antara mereka telah dibunuh dirinya.


47

Peran male feminis terletak pada keberanian Rasus yang telah berani

membunuh perampok tanpa menghiraukan keselamatannya.

Kejadian perampokan di Dukuh Paruk sudah tidak terdengar lagi. Rasus

dan rombongan tentara kembali ke markas mereka. Setelah beberapa lama Rasus

meninggalkan neneknya sendirian di Dukuh Paruk, ia meminta izin pulang untuk

menjenguk neneknya.

Rasus Meninggalkan Dukuh Paruk selama dua tahun dan kini dia kembali

untuk menjenguk neneknya. Rasus terkejut setelah sampai di depan rumah melihat

banyak orang berkumpul. Langkahnya dipercepat, perasaannya kembali seperti

seorang bocah yang ingin segera menghambur ke pangkuan neneknya. Lihat

kutipan berikut.

“Nek, aku pulang!”


“Oalah, Gusti Pangeran. Rasus, cucuku wong bagus. Kau datang
kemari bukan hendak menangkap kami, bukan? Kau hendak menjenguk
nenekmu yang sudah payah ini, bukan? Kau masih mengaku saudara
kepada kami orang-orang Dukuh Paruk, bukan?” (TRDP, hlm. 256)

Rasus seperti mendapat pukulan keras di dadanya setelah mendengar

ucapan itu. Lengan dan bibirnya bergetar. Rasus langsung mendekap neneknya

perlahan dia mulai bergerak menjauh membiarkan neneknya istirahat.

Tengah malam ketika bulan terbenam hanya tinggal Rasus dan Sakarya

yang masih terjaga. Tiba-tiba mata nenek itu terbeliak. Lalu kelihatan ada sesuatu

yang bergerak cepat dari arah dada dan berhenti dalam tekak. Rasus merasakan

neneknya telah berangkat. Keberangkatan neneknya ke tempat asal-muasalnya

Rasus merasa berada dalam ketenangan sempurna. Rasus tidak menyesal


48

menjenguk neneknya saat ajal sudah menunggu neneknya, Rasus akan benar-

benar menyesal bila saat kematian nenek, ia tidak berada di samping neneknya.

Rasus ikut menguburkan neneknya, dan setelah keadaan tenang ia

bermaksud mencari Srintil karena perintah semua warga Dukuh Paruk. Rasus

seperti bertanggung jawab atas diri Srintil. Sakarya tidak salah ketika dia

menitipkan nasib Srintil kepada Rasus. Rasus tergagap ketika mendengar

kenyataan bahwa Sakarya sendiri yang menyampaikan ketegasan tanggung jawab

moral Rasus atas nasib Dukuh Paruk, khususnya atas diri Srintil. Lihat kutipan

berikut.

“Bagaimana cucuku, sampean mau, kan?”


“Yah, ya. Besok akan kucoba mencari tahu di mana Srintil kini
berada dan bagaimana keadaannya.”
Sakarya kembali mengusap air matanya.
“Kemudian, cucuku, apakah sampean mau berusaha agar Srintil
segera dibebaskan? Karena sampean tahu tak seorang Dukuh Paruk pun
sebenarnya mengerti urusan yang menyebabkan geger itu.”
“Akan kucoba juga, Kek.” (TRDP, hlm. 263)

Kesediaan Rasus mencari Srintil adalah kesanggupan seorang anak Dukuh

Paruk yang bertanggung jawab. Rasus merasa semua orang Dukuh Paruh adalah

tanggung jawabnya karena ia merupakan satu-satunya anak yang menjadi tentara.

Kesediaan Rasus mencari Srintil bisa dikatakan sebagai peran male feminis.

Rasus berhasil mencari Srintil tetapi tidak segera menikahinya karena

sebagai seorang tentara Rasus akan ditugaskan di luar Jawa. Setelah kembali

bertugas dari luar Jawa Rasus menyesal karena Srintil ternyata merasa tertekan

dan menjadikan Srintil hilang ingatan. Merasa bertanggung jawab pada Srintil,

Rasus segera membawa Srintil berobat ke rumah sakit.


49

Rasus menengok Dukuh Paruk setelah dia berangkat ditugaskan ke luar

Jawa. Ketika Rasus melintasi rumah Srintil sejenak ia tertegun. Srintil tertawa

terbahak-bahak lalu bertembang seorang diri di dalam rumah terdengar. Srintil

menjadi gila karena Bajus menjadikan impiannya lenyap seketika. Lihat kutipan

berikut.

“Srintil jadi ngengleng begitu Bajus menyatakan tidak bisa


mengawininya. Itu kata Bajus sendiri, yang mengantar Srintil pulang.”
“Aku bangkit dan mengentakkan kaki ke tanah. Bagaimanapun jua
aku ingin menempeleng laki-laki yang bernama Bajus. Ah, tetapi tindakan
semacam itu percuma saja. Ada benarnya kata Kartareja; bukan hal yang
mudah meminta pertanggungjawaban kepada Bajus. Aku hanya akan
menambah kepusingan.” (TRDP, hlm. 387)

Semua orang seolah menyalahkan Rasus yang selalu menunda menikahi

Srintil sampai terjadi peristiwa itu. Rasus mengajak Srintil untuk berobat untuk

menghapus rasa bersalahnya. Rasus membawa Srintil ke rumah sakit jiwa. Sikap

Rasus yang mempunyai keinginan supaya Srintil bisa disembuhkan merupakan

peran male feminis. Rasus mempunyai haparan Srintil bisa sembuh dan mereka

bisa hidup bahagia.

4.1.1.2. Goder

Goder adalah anak Tampi tetangga Srintil. Semenjak Srintil sakit Goder

adalah satu-satunya bayi yang dapat mengembalikan semangat hidupnya. Lihat

kutipan berikut.

“Makin lama Srintil makin lekat dengan Goder, bayi


tampi…..Hasrat memeteki Goder telah menjadi renjana jiwanya, renjana
hatinya, dan renjana system ragawinya…..Ketika kali pertama Srintil sadar
teteknya mengeluarkan air susu maka dia berurai air mata….Hanya dalam
beberapa hari tubuhnya kembali segar dan kelihatan lebih hidup.” (TRDP,
hlm. 139)
50

Srintil sekarang telah memasuki usia dewasa yang sudah mempunyai

keinginan menikah dan melahirkan seorang anak. Srintil tidak mungkin memiliki

anak karena dia adalah seorang ronggeng yang perutnya telah dipijit terlalu keras

sehingga dia tidak akan bisa mempunyai anak. Kenyataan itu membuat Srintil

sempat putus asa, setelah Srintil mengetahui semua itu. Untung ada Goder anak

Tampi. Goder telah berhasil memberi Srintil motivasi baru dan gairah dalam

hidupnya. Goder masih terlalu kecil dan suci, Goder walau masih kecil bisa

dikatakan sebagai peran male feminis.

4.1.1.3. Sakum

Srintil berhenti di depan rumah Sakum ketika mau ke rumah Tampi untuk

mengambil Goder. Hatinya terkesan oleh suasana di rumah Sakum. Setelah Srintil

memutuskan tidak berjoget yang berakibat kehidupan Sakum menjadi berantakan

karena penghasilannya hanya diperolehnya ketika mengiringi ronggeng. Sakum

membuat anyaman kukusan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Lihat kutipan berikut.

“……Jemarinya terus bekerja; menganyam, menyambung, atau


memotong serpih bambu yang kepanjangan. ”Bila aku masih mendengar
suara anakku, itu pertanda baik. Berarti mereka masih hidup.” Ini senda
gurau Sakum yang bukan sekali-dua diucapkan.” (TRDP, hlm. 163)

Sakum tidak bisa hanya mengandalkan indra pendengarannya, terkadang

naluri dan perasaannya lebih dipercaya. Mata Sakum buta tapi dia bisa membuat

anyaman kukusan dengan baik dan ketika ia sedang menabuh gendang mengiringi

ronggeng, Sakum sempurna melakukannya. Naluri Sakum bisa mencukupi

kebutuhan keluarganya.
51

Sakum kecewa dengan Srintil tidak mau berjoget lagi, Sakum dengan

sabar mendengarkan keluh kesah Srintil. Srintil tetap teringat Rasus dan membuat

dia tidak mau berjoget lagi. Lihat kutipan berikut.

“Ya, Kang. Sebaiknya aku menuruti permintaan mereka. Aku mau


menari lagi, Kang. Tetapi hatiku, Kang, hatiku!”
“Hati?”
“Ya. Hatiku tak bisa kubawa menari.”
“bisa,” ujar Sakum cepat. “Aku percaya indang ronggeng masih
tetap bersemayam pada diri sampean. Hati sampean yang buntu akan
terobati bila sampean melupakan dia.” (TRDP, hlm. 165)

Sakum memperlihatkan kesungguhannya. Sakum ingin menyatakan

kebenciannya dengan cara itu atas hubungan Srintil-Rasus yang telah membawa

banyak persoalan bagi rombongan ronggeng, bagi Dukuh Paruk. Sakum kembali

menarik nafas lega setelah memberi penjelasan pada Srintil, Sakum telah lama

ingin mengungkapkan perasaannya kepada Srintil; mengingatkannya dan

mengajarinya tentang bagaimana seharusnya sikap seorang ronggeng. Kesedian

Sakum mendengarkan cerita Srintil bisa dikatakan sebagai male feminis.

Srintil menolak berjoget setelah sekian lama dan kini ia menerima tawaran

panitia Agustusan. Tidak semua orang tahu bahwa sebenarnya Srintil menari

dalam keadaan marah. Lihat kutipan berikut.

“Kecuali Sakum. Laki-laki buta itu sudah terbiasa memahami


sesuatu dengan intuisinya. Sakum ingin menghentikan Srintil……..Maka
Sakum yang bertindak. Sentuhan irama calungnya dibuat sumbang dengan
cara menyimpangkan nada-nada tertentu………Baru setelah tiga buah
lagu berlalu Srintil patuh akan aba-aba yang diberikan Sakum.” (TRDP,
hlm. 192)
Calung berhenti suasana mendadak janggal dan hampa. Tiba-tiba Srintil

pingsan. Sakum yang mengerti keadaan Srintil hanya dengan nalurinya. Kepekaan

hati Sakum terhadap Srintil bisa dikatakan sebagai peran male feminis.
52

Sakum dengan keadaan cacat fisik tidak bisa mencari keberadaan Srintil

setelah Srintil pergi melapor ke kantor polisi, Sakum menyuruh Rasus mencari

Srintil.

Nenek Rasus dikuburkan di pekuburan Dukuh Paruk. Selesai

menguburkan jasad neneknya Rasus tidak segera turun dari bukit pekuburan itu.

Sakarya dan Rasus menuruni bukit pekuburan Dukuh Paruk setelah beberapa lama

termenung dan memilih jalan memutar karena Rasus ingin melihat-lihat keadaan

lebih menyeluruh. Ketika Rasus melewati rumah Sakum dan Rasus berdiri agak

lama. Sakum keluar memanggil Rasus. Lihat kutipan berikut.

“Ah, Pak Tentara. Jadilah orang Dukuh Paruk lagi.”


“Aku tetap orang Dukuh Paruk, Kang.”
“Itu iya. Maksudku, ada sesuatu yang sangat layak, sangat pantas.
Semua orang di sini pasti senang bila sampean kembali tinggal bersama
kami. Dan mengambil istri orang sini. Ah, Pak Tentara. Aku kan Sakum.
Aku tidak pernah lupa siapa sampean, siapa Srintil, dan bagaimana kalian
pada waktu dulu. Carilah Srintil dan bawa kemari. Ambil dia jadi istri
sampean.” (TRDP, hlm. 261)

Mendengar kata-kata Sakum, wajah Rasus langsung berubah. Kata-kata

Sakum mengusik harapan yang pernah ada dan kini diam-diam masih

dipeliharanya, Rasus akan menjadi cucu menantunya suatu hari nanti. Sakum

menunggu jawaban Rasus dengan hampa. Sakum tidak mendapat jawaban pasti

dari Rasus. Usaha Sakum yang telah membujuk Rasus untuk mencari Srintil bisa

dikatakan sebagai peran male feminis.

Srintil setelah sekian lama di penjara akhirnya dia dibebaskan bersyarat.

Srintil keluar dari penjara dan ia tidak kembali meronggeng karena takut terjadi

apa-apa. Srintil menemukan pria yang dikira bisa menggantikan Rasus.


53

Perkenalannya dengan Pak Bajus menjadikan keduanya akrab. Bajus

berjanji datang ke rumah Srintil untuk berkunjung. Tidak seperti biasanya Srintil

mempersiapkan semua. Srintil merasa Bajus bisa menggantikan Rasus yang telah

pergi meninggalkannya. Srintil menyuruh Sakum untuk membelikan keperluan

menyambut Bajus. Lihat kutipan berikut.

“Ya. Aku mau minta tolong, Kang. Belikan gula dan bubuk kopi
yang bagus. Juga papaya dan jeruk. Mau, Kang?”
“Tentu saja mau, jenganten,” jawab Sakum yang cengar-cengir.
“Ada tamu ya? Siapa?”
“Benar, Kang. Ada orang mau bertamu ke rumahku.”
“He….he. Marsusi, ya?”
“Salah. Orang Jakarta, Kang.” (TRDP, hlm. 325-326)

Srintil menyerahkan uang pada Sakum, dan Sakum langsung berangkat ke

Pasar Dawuan. Sakum membeli menurut pesanan. Sambil menunggu Sakum,

Srintil mandi di pancuran. Pulang dari pancuran Srintil menengok Goder yang

masih tidur. Sakum pulang beberapa saat kemudian dan menyerahkan barang

belanjaannya pada Srintil. Keikhlasan Sakum membantu Srintil bisa dikatakan

sebagai peran male feminis.

4.1.1.4. Mertanakim

Rombongan Srintil memenuhi undangan datang ke Alaswangkal. Mereka

naik bus tua dari Dawuan dan untuk sampai Alaswangkal harus menempuh

perjalanan beberapa jam. Rombongan dari Dukuh Paruk turun di daerah sepi

berhutan jati setelah dua jam dalam kendaraan. Seorang laki-laki tua bercawat

lancingan tergopoh-gopoh menjumpai Kartareja. Lihat kutipan berikut.

“Saya Mertanakim,” katanya. “Saya utusan Pak Sentika untuk


menjemput sampean semua.”
54

“Ah, ya. Terima kasih,”jawab Kartareja. “Apakah ada tenaga buat


mengangkut bawaan kami?”
“Lha, orang-orang ini! Sampean semua tinggal berjalan bersama
saya.”
“Jauh?”
“Paling-paling dua jam perjalanan,” jawab Mertanakim tanpa
perubahan emosi pada wajahnya.” (TRDP, hlm. 205)

Rombongan Srintil mulai berjalan mengikuti Mertanakim. Mereka

berjalan di jalan sempit, turun-naik, dan berlapis batu cadas yang besar dan kasar.

Mertanakim membimbing rombongan Srintil dengan sadar, dan selalu

membesarkan hati rombongan Srintil bila mereka kelihatan lelah. Lihat kutipan

berikut.

“Apa kira-kira masih jauh lagi, Kang Kartareja?” kata Sakum, yang
merasa paling sengsara bila melangkahkan kaki pada jalan yang belum
dikenalnya.
“Memang masih jauh,” kata Mertanakim. “Tetapi sampean tidak
perlu berkecil hati. Majikan kami sudah mempersiapkan sambutan yang
istimewa bagi sampean semua.” (TRDP, hlm. 206)

Mendengar rayuan Mertanakim rombongan Srintil menjadi semangat

untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan diteruskan saat matahari mulai terik.

Rombongan Dukuh Paruk memasuki kampung Alaswangkal ketika hampir tengah

hari. Ucapan Mertanakim benar-benar terbukti. Di Alaswangkal rombongan

Srintil diperlakukan istimewa, terlebih perlakuan tuan rumah terhadap Srintil.

Peran male feminis terletak pada keikhlasan Mertanakim yang dengan

sabar membimbing rombongan Srintil.

4.1.1.5. Partadasim

Srintil masih diwajibkan lapor setelah keluar dari penjara. Srintil ditawari

Marsusi untuk membonceng motornya ketika hendak melapor. Marsusi merayu


55

Srintil supaya Srintil mau membonceng motornya. Srintil mau juga membonceng

Marsusi.

Srintil yang semula mengira akan diantar ke rumah oleh Marsusi salah

mengira. Marsusi hendak berbuat jahat pada Srintil. Lihat kutipan berikut.

“Namun ketika perjalanan hampir sampai simpang tiga, ada pikiran


baru yang membuat Marsusi mengambil keputusan mendadak.
Dibelokkannya motornya ke kiri masuk ke jalan kecil yang menuju daerah
perkebunan karet Wanakeling. Ketika “barang” yang sangat diinginkannya
sudah berada di tangan, mengapa tidak langsung membawanya pulang ke
rumah?” pikir Marsusi. (TRDP, hlm. 287)

Srintil merasa dibohongi, dan segera menanyakan hendak ke mana dirinya

di bawa. Srintil tidak mau di ajak ke Wanakeling oleh Marsusi. Marsusi tetap

memaksanya. Srintil Berkali-kali berusaha terjun dari motor, namun setiap kali

diurungkannya. Marsusi begitu semangat membawa Srintil ke Wanakeling, tanpa

disadari kecerobohannya mengakibatkan rencananya gagal. Ketika melewati ruas

jalan yang sangat rusak motor Marsusi kelihatan melompat-lompat dalam

kecepatan yang berubah-ubah. Kejadian itu membuat pantat Srintil terangkat

karena guncangan dan terhempas ke permukaan jalan tanpa diketahui Marsusi.

Srintil yang merasa mendapat jalan berusaha bangkit keluar dari hutan.

Srintil berjalan menuruni lorong setapak menuju jalan pengunungan yang

membelah hutan jati. Usaha Srintil sia-sia, Marsusi telah mencegatnya di tepi

jalan. Marsusi merasa bersalah karena telah menjatuhkan Srintil dan melukainya.

Srintil menolak diantar Marsusi pulang. Marsusi terus mengejar Srintil yang terus

menjauh.

Sintil sudah kehabisan tenaga ketika mencapai jalan pengunungan.

Marsusi muncul sesaat kemudian. Seorang laki-laki pengendara sepeda lewat di


56

depan mereka saat Marsusi merayu Srintil untuk mengantarnya pulang,. Lihat

kutipan berikut.

“Kang, sampean mau ke mana?”


“Lha, aku mau pulang.”
“Ke mana?”
“Lha, ya ke Pecikalan. Aku kan orang Pecikalan. Sampean orang
Dukuh Paruk, kan?”
“Kebetulan, Kang. Aku minta dengan sangat sampean mau
menolongku. Mau?”
“Ya mau saja. Lalu apa tidak salah, karena sampean
kan.....kan….kan….” (TRDP, hlm. 295-296)

Srintil menjelaskan kejadiannya pada Partadasim, Partadasim mau

mengantarkan Srintil pulang. Kesempatan memboncengkan Srintil adalah sesuatu

yang diimpikannya selama ini. Marsusi kalah dan berusaha menutupi

kekalahannya dengan menyuruh Partadasim untuk mengantar Srintil. Sikap

Partadasim yang mau mengantar Srintil pulang ke Dukuh Paruk bisa dikatakan

sebagai peran male feminis.

4.1.1.6. Pak Blengur

Bajus membawa Srintil untuk mengikuti sebuah rapat. Sikap Bajus

memperlihatkan bahwa Bajus seolah-olah hendak menikahi Srintil. Srintil salah

mengartikannya sikap Bajus. Bajus menyuruh Srintil melayani Pak Blengur demi

untuk mendapatkan pekerjaan juga uang lima juta. Lihat kutipan berikut.

“Anu, Srin. Kamu sudah kuperkenalkan kepada Pak Blengur.


Percayalah, dia orangnya baik. Aku yakin bila kamu minta apa-apa
kepadanya, berapa pun harganya, akan dia kabulkan. Nanti dia akan
bermalam di sini. Temanilah dia. Temanilah dia, Srin.” (TRDP, hlm. 372)

Srintil tersentak mendengar kata-kata Bajus. Gerakannya limbung, Srintil

bangkit dan berlari ke kamar. Srintil menyesal ikut Bajus. Srintil dengan
57

keberaniannya hendak melawan Bajus, Bajus segera bertindak, menangkap tangan

Srintil dan mengunci Srintil di dalam kamar.

Beberapa langkah di luar kamar, Bajus duduk gelisah ketika sopir Pak

Blengur menyuruhnya datang ke hotel. Berbagai alasan telah dipersiapkan untuk

Pak Blengur tentang Srintil. Bajus tidak menyangka akan berhadapan dengan

sosok yang penuh kesantaian. Lihat kutipan berikut.

“Jus, aku membuktikan sendiri katamu memang benar.”


“Kata yang mana, Pak?”
“…...Aku terkesan oleh citra pada wajahnya. Wajah perempuan
jajanan yang sangat berhasrat menjadi ibu rumah tangga. Jus!”
“Ya, Pak.”
“Ya. Berilah dia kesempatan mencapai keinginannya menjadi
seorang ibu rumah tangga. Masih banyak perempuan lain yang dengan
sukarela menjadi objek petualangan. Jumlah mereka tak akan berkurang
sekalipun Srintil mengundurkan diri dari dunia lamanya.” (TRDP, hlm.
375-376)

Pak Blengur menyuruh Bajus mengantar Srintil pulang. Pak Blengur

memberi uang pada Srintil tanpa harus melayaninya. Sikap Pak Blengur bisa

dikatakan sebagai peran male feminis karena mengerti keadaan Srintil yang telah

berhenti melayani nafsu laki-laki.

Dari beberapa peran male feminis di atas, peran terbanyak dilakukan oleh

tokoh Rasus, karena Ahmad Tohari menitikberatkan peran male feminis pada

sosok Rasus.

Dalam roda kehidupan, tokoh laki-laki pun ada yang bersifat kontra male

feminis. Tokoh laki-laki yang bersifat seperti ini cenderung tidak menghargai

sosok perempuan dan tidak mendukung ide-ide feminisme. Secara nyata tokoh

laki-laki yang kontra male feminis ini sangat menikmati keistimewaan-


58

keistimewaan yang melekat pada dirinya. Bahkan ia tidak ingin keistimewaan itu

hilang.

4.1.2. Kontra Male Feminis

Berikut ini adalah pemaparan mengenai perilaku beberapa tokoh yang

berperan sebagai kontra male feminis.

4.1.2.1. Mantri Kesehatan

Orang Dukuh Paruk pada saat terjadi keracunan tempe bongkrek belum

percaya dengan adanya dokter, mereka percaya bahwa malapetaka itu adalah

kutukan Ki Secamenggala. Sakarya mendengar Ki Secamenggala mengatakan

kematian delapan belas warga Dukuh Paruk adalah kehendaknya. Selama

hidupnya menjadi bromocorah, Ki Secamenggala berutang nyawa sebanyak itu,

nyawa keturunannya dipakai sebagai tebusan.

Cerita nenek Rasus yang paling membuat Rasus penasaran adalah yang

menyangkut Emaknya. Emaknya juga termakan racun seperti Ayahnya. Ayahnya

langsung meninggal pada hari pertama, tidak demikian halnya dengan Emaknya.

Dia masih hidup sampai seorang mantri datang pada hari ketiga. Lihat kutipan

berikut.

“Oleh Pak Mantri, Emak bersama lima orang lainnya dibawa ke


poliklinik di sebuah kawedanan. Beberapa hari kemudian seorang kembali
ke Dukuh Paruk dalam keadaan hidup, dan tiga lainnya sudah menjadi
mayat. Emak tidak ada diantara mereka.” (TRDP, hlm. 34)
“………Ada orang yang secara tak sengaja mengatakan Emak
memang meninggal di poliklinik kota kawedanan itu. Namun mayatnya
dibawa ke kota kabupaten, di sana mayat Emak diiris-iris oleh para dokter.
Mereka ingin tahu lebih banyak mengenai racun tempe bongkrek. Dengan
demikian mayat Emak tidak pernah sampai kembali ke Dukuh Paruk. Di
mana Emak dikubur, tak seorang Dukuh Paruk pun yang mengetahuinya.”
(TRDP, hlm. 34)
59

Bermacam-macam versi kisah tentang nasib selanjutnya Emak Rasus.

Rasus tetap percaya Emaknya meninggal. Mayatnya dicincang untuk kepentingan

penyelidikan. Mantri itu ingin tahu lebih banyak mengenai racun tempe bongkrek,

tanpa berpikir kepanikan yang dialami keluarga Emaknya karena menanti kabar

dari kota kawedanan. Sikap Pak Mantri yang lebih mementingkan penyelidikan

demi karier dapat dikatakan sebagai peran kontra male feminis.

4.1.2.2. Sakarya

Sakarya adalah kakek Srintil yang merawat dirinya sejak kecil sejak

bencana tempe bongkrek yang melanda Dukuh Paruk. Karena tanpa

sepengetahuan Srintil, kakeknya mengetahui ulahnya tadi sewaktu menari

layaknya seorang ronggeng di bawah pohon nangka. Sakarya yakin cucunya itu

telah kerasukan indang ronggeng. Sakarya yakin cucunya akan mengembalikan

citra sebenarnya pedukuhan. Lihat kutipan berikut

“Sakarya tersenyum. Sudah lama pemangku keturunan Ki


Secamenggala itu merasakan hambarnya Dukuh Paruk karena tidak
terlahirnya seorang ronggeng di sana. “Dukuh Paruk tanpa ronggeng
bukanlah Dukuh Paruk. Srintil, cucuku sendiri, akan mengembalikan citra
sebenarnya pedukuhan ini,” kata Sakarya kepada dirinya sendiri………
(TRDP, hlm. 15)

Sakarya tahu kalau cucunya telah kerasukan indang ronggeng lalu ia

menyerahkan Srintil pada Kartareja seorang dukun ronggeng. Sakarya tahu akibat

setelah Srintil menjadi ronggeng, ia akan menjadi pelampiasan nafsu kaum laki-

laki. Dukuh Paruk tanpa ronggeng bukanlah ronggeng. Dukuh Paruk hanya

lengkap bila di sana ada keramat Ki Secamenggala, ada seloroh cabul, ada
60

sumpah serapah, dan ada ronggeng bersama perangkat calungnya. Lihat kutipan

berikut.

“Keesokan harinya Sakarya menemui Kartareja. Laki-laki yang


hampir sebaya ini secara turun temurun menjadi dukun ronggeng di Dukuh
Paruk. Pagi itu Kartareja mendapat kabar gembira. Dia pun sudah
bertahun-tahun menunggu kedatangan seorang calon ronggeng untuk
diasuhnya. Belasan tahun sudah perangkat calungnya tersimpan di para-
para di atas dapur. Dengan adanya laporan Sakarya tentang Srintil, Dukun
ronggeng itu berharap bunyi calung akan kembali terdengar semarak di
Dukuh Paruk.” (TRDP, hlm. 16)

Srintil segera diserahkan ke dukun ronggeng yaitu Kartareja. Srintil

sekarang sudah berada dalam asuhan Kartareja dan Srintil harus menjalani

serangkaian upacara sebelum Srintil sah menjadi ronggeng. Srintil setelah selesai

dimandikan. Ronggeng itu dituntun ke depan pintu cungkup. Di sana Srintil

menyembah dengan takzim, lalu bangkit dan berjalan ke hadapan lingkaran para

penabuh. Kartareja komat-kamit sebentar, laki-laki itu memberi aba-aba kepada

pemukul gendang. Kelengangan pekuburan Dukuh Paruk pecah. Semua gendang

dan calung menggema bersama dalam irama khas.

Sikap Sakarya yang menjadikan Srintil sebagai seorang ronggeng

walaupun dia adalah cucunya sendiri bisa dikatakan sebagai peran kontra male

feminis.

4.1.2.3. Kartareja

Upacara pemandian dilaksanakan di pekuburan Ki Secamenggala, dan

Srintil harus menempuh satu syarat lagi yaitu bukak-klambu. Bukak-klambu

adalah semacam sayembara, terbuka bagi laki-laki mana pun, dan yang

disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang dapat


61

menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, berhak

menikmati virginitas itu.

Kartareja sebagai dukun ronggeng jauh-jauh hari sudah menentukan

malam bukak-klambu tersebut. Kartareja memasang syarat sekeping uang ringgit

emas. Lihat kutipaan berikut.

“......Dukun ronggeng itu rajin keluar Dukuh Paruk untuk


menyebarkan berita. Hanya dalam beberapa hari telah tersiar kabar tentang
malam bukak-klambu bagi ronggeng Srintil. Orang-orang segera tahu pula,
Kartareja menentukan syarat sekeping uang ringgit emas bagi laki-laki
yang ingin menjadi pemenang.” (TRDP, hlm. 54)

Kartareja merasa layak memasang harga sekeping uang ringgit emas untuk

acara bukak-klambu karena di Dukuh Paruk belum pernah ada ronggeng secantik

Srintil. Harga itu sudah terlalu pantas.

Kartareja ditegur oleh beberapa pemuda di pasar saat menyebarkan berita

itu. Mereka menegur Kartareja karena terlalu berat harga untuk mengikuti

sayembara bukak-klambu bagi orang Dukuh Paruk. Jangankan ringgit emas,

sebuah rupiah perak pun tak dimiliki oleh laki-laki Dukuh Paruk. Lihat kutipan

berikut.

“Berita tentang malam berahi itu cepat menyebar ke mana-mana,


jauh ke kampung-kampung di luar Dukuh Paruk......Tetapi sebagian besar
segera memadamkan keinginan setelah mengerti apa syarat untuk tidur
bersama Srintil pada malam bukak-klambu.......Hanya beberapa pemuda
yang merasa dirinya sanggup mengalahkan tantangan itu.” (TRDP, hlm.
54)

Kartareja mendapat keraguan setelah menyebarkan berita itu. Kartareja

tetap melaksanakan malam bukak-klambu pada sabtu malam. Sikap Kartareja

yang telah menentukan malam bukak-klambu bagi Srintil bisa dikatakan sebagi

peran kontra male feminis.


62

Kartareja menyuruh istrinya untuk melayani Sulam. Kartareja mempunyai

cara licik untuk mendapatkan uang Dower dan Sulam dalam acara Bukak-klambu.

Kartareja memberi keduanya minuman ciu, Sulam mulai mengigau karena dia

minum terlalu banyak. Sebaliknya Dower sama sekali tidak mabuk. Sulam

merasakan melihat beribu bintang jatuh dari langit. Telinganya mendengar suara

tembang asmara, dan Nyai Kartareja dianggapnya Srintil dan mengajaknya

bertayub. Lihat kutipan berikut.

“Oleh suaminya Nyai Kartareja disuruh melayani Sulam yang


sedang hilang ingatan. Soal bertayub tak usah ditanyakan kepada istri
dukun ronggeng itu......Dia membiarkan dirinya dibawa berjoget, bahkan
diciumi oleh Sulam.” (TRDP, hlm. 74-75)

Nyai Kartareja menuruti kemauan suaminya untuk melayani Sulam.

Keduanya sudah membayangkan sebuah ringgit emas, dua rupiah perak, dan

seekor kerbau. Nyai Kartareja melayani Sulam bertayub, renjana yang menguasai

Sulam tidak berlangsung lama karena kemudian Sulam roboh dalam pelukan Nyai

Kartareja. Dan Nyai kartareja segera melapor pada suaminya kalau tugas melayani

Sulam sudah selesai. Kartareja tetap menyuruhnya untuk melayani Sulam walau

Nyai Kartareja istrinya sendiri, sikap Kartareja terhadap istrinya bisa dikatakan

sebagai kontra male feminis.

4.1.2.4. Dower

Dower pemuda dari Pecikalan adalah pemuda pertama yang datang ke

rumah Kartareja untuk mengikuti sayembara. Dower sampai di rumah Kartareja

ketika Kartareja sedang melamun karena sudah jumat malam belum ada seorang

pemuda pun yang datang memenuhi harapannya, menyerahkan sekeping ringgit


63

emas bagi keperawanan Srintil. Lamunan dukun ronggeng itu berhenti ketika

pintu depan berbunyi. Lihat kutipan berikut.

“Kula nuwun,” Dower mengucapkan salam.


“Mangga,” jawab Kartareja. Dijulurkannya lehernya sambil
menyipitkan mata. Sinar lampu membuat matanya silau. “Oh, maari
masuk.””
Dower melangkah di bawah tatapan Kartareja. Lalu
duduk.....Kartareja segera tahu tamunya datang dari jauh karena
mendengar nafas Dower yang terengah-engah.” (TRDP, hlm. 58)

Kartareja segera mempersilakan tamunya masuk dan segera menanyakan

maksud kedatangannya. Dower datang untuk mengikuti sayembara. Kartareja

harus kecewa karena Dower baru membawa dua buah rupiah perak, dan uang itu

dijadikan panjar terlebih dahulu kemudian besok harinya Dower akan datang lagi

dengan membawa seringgit emas. Lihat kutipan berikut.

“Jadi beginilah maksudmu, Nak?’


“Ya, Kek.”
“Baiklah. Uang panjarmu bisa kuterima. Tetapi besok malam kau
harus datang membwa sebuah ringgit emas. Kalau tidak, apa boleh buat.
Kau kalah dan uang panjarmu hilang. Bagaimana?”
“Kalau engkau berkeberatan, maka terserah. Silakan berpikir. Atau
segera pulang ke Pecikalan selagi malam belum larut. Aku akan menunggu
pemuda lain, beberapa orang akan segera tiba.” (TRDP, hlm. 59)

Gertakan Kartareja menggena di hati Dower. Dower berjanji datang lagi

dengan membawa sebuah ringgit emas. Sesaat kemudiaan terdengar gemerincing.

Dower menyerahkan dua buah uang rupiah perak pada Kartareja. Usaha Dower

untuk mendapatkan sebuah ringgit emas demi memperoleh keperawanan Srintil

bisa dikatakan sebagai peran kontra male feminis karena untuk mendapatkannya

Dower berhasil mengelebuhi orang tuanya.

Dower datang lagi ke rumah Kartareja pada malam berikutnya dengan

menuntun seekor kerbau. Dower dengan bajunya yang baru duduk di hadapan
64

tuan rumah. Dower menyerahkan seekor kerbau sebagai pengganti ringgit emas

setelah berbincang-bincang dengan Kertareja,. Kartareja menyambutnya dengan

senyum kecut, bahkan menyepelekan. Lihat kutipan berikut.

“Tetapi bagaimana juga kau tak bisa kuanggap telah mencukupi


syarat yang kutentukan. Seekor kerbau dan dua buah rupiah perak tidak
sama dengan sebuah ringgit emaas.”
“Jadi engkau menolak, Kek?” tanya Dower gelisah.
“Ya. Kecuali......”
“Kecuali apa?” potong Dower cepat.
“Kecuali kau mau hanya menjadi cadangan. Bila sampai tengah
malam nanti tak ada orang lain membawa ringgit emas kepadaku, maka
kaulah pemenangnya. Kalau kau menolak, silakan terima kembali dua
rupiah perak ini. Bawalah pula kerbaumu itu.” (TRDP, hlm. 70)

Dower tidak menyangka Kartareja akan menolak dengan kata-kata sekeras

itu. Perjaka Pecikalan tergagap. Bukan main kecewa hati Dower. Dower

menerima dengan mengutuk Kartareja dengan sengit. Sikap Dower bisa dikatakan

sebagai peran kontra male feminis karena ia bersedia dijadikan cadangan yang

penting dia bisa mewisuda Srintil.

4.1.2.5. Sulam

Dower dan Kartareja ketika sedang mendiskusikan masalah bukak-klambu.

Di halaman seorang pemuda datang ke rumah Kartareja. Sulam dengan

angkuhnya melangkah ke dalam rumah Kartareja. Kebanggaan menjadi anak

seorang lurah dibawanya ke mana-mana. Di rumah Kartareja, Sulam terkejut

sejenak ketika dilihatnya Dower sudah duduk di hadapan Kartareja. Sebelum

terjadi bersitegang antara Dower dan Sulam, Kartareja bertanya pada Sulam

tentang maksud kedatangan Sulam ke rumahnya. Sulam seperti halnya dower

datang untuk mengikuti sayembara bukak-klambu. Lihat kutipan berikut.


65

“Baiklah. Bila demikian katamu, pasti kau sudah siap dengan


sebuah ringgit emas,” ujar Kartareja.
“Sebuah pertanyaan yang menghina, kecuali engkau belum
mengenalku. Tentu saja aku membawa ringgit emaas. Bukan rupiah perak,
apalagi seekor kerbau seperti anak Pecikalan ini,” ujar Sulam sambil
melirik ke arah Dower. Yang dilirik tersengat hatinya lalu membalas
keras.” (TRDP, hlm. 72)

Sulam dengan angkuh menyerahkan ringgit emas pada Kartareja. Sulam

merasa telah mengalahkan Dower anak Pecikalan. Mereka berdua belum tahu

siasat sedang dijalankan Kartareja untuk mendapatkan uang keduanya, Sulam

tetap angkuh. Sikap Sulam yang menurutnya dapat mengikuti sayembara bukak-

klambu bisa dikatakan sebagai peran kontra male feminis.

4.1.2.6. Pak Simbar dan Babah Pincang

Srintil dan Nyai Kartareja ketika sedang berbelanja di pasar menjadi

perhatian orang banyak. Tidak sedikit pedagang yang memberikan barang

dagangannya secara cuma-cuma. Bermacam-macam celoteh orang pasar. Para

perempuan kelihatan tulus ikhlas memanjakan Srintil, tidak demikian dengan para

lelaki. Pak Simbar, penjual sabun di pasar Dawuan, berkata dengan mata bersinar

kepada Srintil. Lihat kutipan berikut.

“Eh, wang kenes, wong kewes. Aku tahu di Dukuh Paruk orang
menggosok-gosokkan batu ke badan bila sedang mandi. Tetapi engkau tak
pantas melakukannya. Mandilah dengan sabun mandinya. Tak usah bayar
bila malam nanti kaubukakan pintu bilikmu bagiku. Nah,
kemarilah.”........Aku melihat dengan pasti, Srintil tidak menepiskan
tangan laki-laki itu. Bangsat!” (TRDP, hlm. 83)

Pak Simbar bermaksud memberikan sabun pada Srintil tapi ia meminta

imbalan yaitu tidur bersama ronggeng itu. Di pasar itu bukan hanya Pak Simbar
66

yang gatal tangannya pada Srintil. Babah Pincang juga memperlakukan Srintil

senonoh. Lihat kutipan berikut.

“Nah. Aku punya sandal kulit. Mulah. Barang baik, kamu olang
tida pantas beltelanjang kaki. Betismu baagus. Bayal sandalku. Nanti aku
juga mau bayal kalau aku tidul di Dukuh Paruk.” (TRDP, hlm. 83)

Babah Pincang di tengah dagangannya akhirnya ikut berbicara dengan

wajah beringas dan mata berkilat menawarkan dagangannya. Selain menawarkan

dagangannya tangan Babah Pincang juga mengamit pipi Srintil. Sikap Pak Simbar

dan Babah Pincang termasuk peran kontra male feminis.

4.1.2.7. Marsusi

Suatu malam Marsusi datang lagi ke rumah Kartareja dengan membawa

kalung emas yang diminta Nyai Kartareja. Suami-istri Kartareja menerima

keuntungan lebih besar manakala mereka menjadi mucikari. Seorang laki-laki

yang mabuk kepayang terhadap Srintil dan ingin bersamanya barang satu-dua

malam harus melalui perantara Nai Kartareja. Baginya untuk sementara tak

mengapa kalau Srintil masih enggan menari asalkan dia mau melayani laki-laki

yang menginginkannya. Lihat kutipan berikut.

“Ketika suatu malam Marsusi muncul kembali di Dukuh Paruk,


tibalah saat bagi Nyai kartareja meminta Srintil kembali kepada kebiasaan
semula. Dalam mempengaruhi Srintil, Nyai Kartareja menggunakan segala
kemampuannya karena dia tahu Marsusi pastilah membawa kalung emas
seratus gram dengan bandul berlian. Perhiasan seperti milik istri lurah
pecikalan itu telah lama menjadi buah impiannya. Tetapi kepada Marsusi
dia menyatakan Srintil-lah yang menginginkannya.” (TRDP, hlm. 140)

Nyai kartareja menggunakan dalih bahwa Srintil yang menginginkan

kalung itu. Srintil masih berada di rumah Sakarya dengan mengendong Goder

ketika Marsusi datang lagi. Srintil disusul oleh Nyai Kartareja untuk segera
67

menemui tamunya. Nyai Kartareja menyuruh Srintil melayani Marsusi dengan

imbalan kalung emas seratus gram dengan bandul berlian. Srintil dengan tegas

menolak melayani Marsusi, ia akan menerima kalung tersebut sebagai upah

menari bukan melayani Marsusi.

Mendengar pernyataan Srintil betapa marahnya Marsusi. Sikap Marsusi

yang menuntut Srintil melayaninya adalah peran kontra male feminis.

Kemarahan Marsusi membawa dia mendatangi Pak Tarim seorang dukun

teluh. Pak Tarim adalah laki-laki tua berkepala semar. Setiap hari berleha-leha

menghadapi gelas besar dengan kue-kue jajan pasar. Di kampung laut nama Tarim

sering dihubungkan dengan ngelmu. Melalui jalur informasi yang panjang berliku-

liku sampailah Marsusi kepada Tarim. Marsusi datang ke rumah Tarim ketika

panas udara mulai reda. Marsusi di suruh istirahat terlebih dahulu setelah sampai

rumah Tarim. Tarim memanggilnya untuk diajak diskusi setelah Marsusi istirahat.

Marsusi mulai menceritakan perihal yang membawanya sampai ke rumah

Tarim. Mendengar cerita Marsusi, Tarim berusaha menasehati Marsusi supaya

mengubah rencana balas dendamnya. Tarim berhasil mengubah keinginan

Marsusi. Lihat kutipan berikut.

“Ya. Dan untunglah, setidaknya aku telah berhasil mengubah


niatku,” kata Marsusi setelah beberapa kali mengangguk. Tetapi dia kaget
karena Tarim menertawakannya, ditambah dengan pandangan mata
menyindir.” (TRDP, hlm. 177)

Marsusi merasa rencana balas dendamnya akan berakibat fatal. Srintil

bukan hanya milik dirinya tapi ia milik semua orang. Sikap awal Marsusi yang

ingin membalas dendam Srintil bisa dikatakan sebagai peran kontra male feminis.

Marsusi tidak jadi membalas dendam pada Srintil, Marsusi masih mempunyai
68

keinginan melihat Srintil menderita. Srintil mengisi acara Agustusan itulah

Marsusi dapat melaksanakan rencananya. Semangat Agustusan tidak hanya ada

pada orang-orang yang menonton acara itu, Srintil juga dengan semangat yang

mengesankan terus menari. Srintil terus melenggang dan melenggok pada saat

yang biasa dia gunakan untuk istirahat, Srintil sedang melampiaskan

kemurkaannya sampai alam bawah sadarnya tanpa seorang pun tahu. Srintil

menari setelah beberapa lama tanpa istirahat akhirnya Srintil pingsan. Suasana

mulai kalut. Sesaat setelah sadar Srintil menari lagi sesat setelah sadar dan begitu

seterusnya.

Kartareja adalah orang yang mengetahui kalau Srintil sedang dalam

bahaya. Kartareja menduga adanya tangan jail. Kartareja segera menemukannya.

Lihat kutipan berikut.

“Tunggu sebentar, Mas,” panggilnya. Laki-laki itu menoleh. Mata


Kartareja membulat untuk lebih memahami wajah laki-laki itu. Mula-mula
Kartareja ragu.
“Oh, sampean? Ah, meskinya sampean menonton bersama Pak
Camat. Tak pantas di sini, bukan?”
“Yah, terkadang orang ingin menyendiri,” jawab Marsusi tenang.”
(TRDP, hlm. 195)

Ulah Marsusi diketahui oleh Kartareja. Marsusi sengaja merusak acara itu

karena ia masih merasa sakit hati terus menerus ditolak Srintil. Sikap Marsusi

yang ingin mencelakakan Srintil bisa dikatakan sebagai peran kontra male

feminis.

4.1.2.8. Komandan Polisi

Sakarya menangis keras karena mendapati cungkup makam Ki

Secamenggala poranda dirobohkan orang. Orang Dukuh Paruk merasa sedih dan
69

marah, mereka merasa terhina. Mereka melaporkan kejadian itu kepada polisi

untuk meminta perlindungan. Polisi yang mendapat laporan kejadian di Dukuh

Paruk hanya mengecewakan. Polisi belum memberikan keterangan siapa

sebenarnya para pelakunya sampai lima hari. Kejadian demi kejadian yang

memilukan terus menimpa Dukuh Paruk. Srintil sebagai warga Dukuh Paruk

merasa harus melakukan tindakan. Lihat kutipan berikut.

“Aku akan pergi ke kantor polisi!” kata Srintil tiba-tiba. “Aku akan
bertanya kepada mereka apa kesalahan kita.”
“Ya. Aku setuju,” ujar Kartareja. “Kami hanya meronggeng. Kita
sama sekali tidak merojeng pada siapa pun. Srintil, aku akan menyertaimu
ke kantor polisi.”
Kata-kata Kartareja menimbulkan sedikit harapan dan percaya diri.
Hanya Nyai Sakarya yang mempertahankan Srintil agar jangan pergi ke
kantor polisi. Tetapi nenek itu mengalah karena Srintil bersikeras.
“Aku mengenal mereka, Nek. Juga komandannya,” kata Srintil.”
(TRDP, hlm. 239)

Srintil dan Kartareja berangkat menuju kantor polisi dengan membawa

harapan. Mereka berdua tidak tahu bahwa sesungguhnya mereka sedang

menyerahkan diri, sebenarnya mereka ikut dalam nama orang yang ditahan. Lihat

kutipan berikut.

“Kami datang kemari hendak bertanya, Pak,” kata Srintil dengan


keberanian yang masih tersisa......Apabila kami dikatakan salah, maka
tolong, Pak, katakan apakah kesalahan kami.”
“Mereka malah datang sendiri. Bagaimana ini?”
“Belum nama-nama mereka tercantum dalam daftar?”
“Ini, lihat,” kata komandan polisi sambil membuka cacatan yang
mulai kumal.” (TRDP, hlm. 240)

Srintil dan Kartareja mendengar seluruh ucapan komandan, bahwa mereka

termasuk orang-orang yang harus ditahan. Komandan menahan Srintil dan

Kartareja tanpa alasan yang jelas. Sikap komandan bisa dikatakan sebagai peran

kontra male feminis.


70

4.1.2.9. Darman

Darman adalah salah satu orang yang bekerja di kantor polisi. Marsusi

dengan Darman sudah saling kenal. Marsusi mendatangi Darman dikira Marsusi

mau menawarkan pohon karet yang mau ditebang, Marsusi datang dengan

membawa maksud. Marsusi menanyakan Srintil. Dengan ditutup satu truk pohon

karet mulut Darman, ia membantu rencana Marsusi. Lihat kutipan berikut.

“Baik, Pak Marsusi. Asal sampean camkan, situasinya bisa


berkembang demikian rupa sehingga dapat menyulitkan diriku.”
“Oh, aku sadar betul, Mas Darman. Akan kujaga sekuat tenaga
agar segala akibat tindakanku, akulah yang menanggung, aku seorang.
Sekarang katakan, kapan kiranya Srintil bebas dari kewajiban melapor.”
(TRDP, hlm. 283)

Kedua orang itu menyusun rencana untuk Srintil. Srintil datang ke kantor

polisi untuk melapor seperti biasanya. Srintil minta diri setelah selesai, Darman

dengan santainya menyuruh Srintil membonceng Marsusi, Srintil mau

membonceng Marsusi karena takut terjadi apa-apa lagi akhirnya. Demi satu truk

pohon karet Darman rela membantu Marsusi. Sikap Darman dapat dikatakan

sebagai peran kontra male feminis.

4.1.2.10. Bajus

Bajus sudah dipercaya Srintil sejak pertama kali mereka kenal. Bajus

sekarang dapat dengan mudah membawa Srintil pergi ke mana dia mau. Bajus

mengajak Srintil pergi ke Jakarta untuk menenami menghadiri rapat, Srintil

dengan mudah diajaknya. Srintil sudah berangan-angan terlalu tinggi untuk

menjadi istri Bajus. Harapan Srintil sirna seketika karena ternyata Srintil dibawa

ke Jakarta untuk melayani nafsu bosnya Bajus. Lihat kutipan berikut.


71

“Anu, Srin. Kamu sudah kuperkenalkan kepada Pak Blengur.


Percayalah, dia orangnya baik......Nanti dia akan bermalam di sini.
Temanilah dia. Temanilah dia, Srin.”
Srintil tersentak dengan kedua matanya terbelalak. Mulutnya
terbuka dan dadanya turun cepat. Kedua tangannya gemetar.
“Tidak!”
“Tunggu dulu....”
“Tidak, tidak, tidak!” (TRDP, hlm. 372-373)

Srintil bangkit dengan gerakan limbung dan berlari ke kamar. Bajus

langsung naik pitam melihat sikap Srintil. Bajus berkelakuan keras pada Srintil

untuk pertama kali. Srintil dikunci dari luar. Bajus berjalan menemui Pak Blengur.

Sikap Bajus bisa dikatakan sebagai peran kontra male feminis karena memaksa

Srintil untuk melayani Pak Blengur demi mendapatkan tender.

Peran tokoh (aktan) yang termasuk tokoh penyelamat (male feminis)

maupun tokoh penghambat (kontra male feminis) dalam perjuangan hidup Srintil

dapat diklasifikasikan dalam bentuk skema berikut ini.


72

Potentiality (keadaan awal)

Male Feminis bahagia


1. Rasus
2. Sersan Slamet
3. Goder
4. Sakum
5. Mertanakim
6. Partadasim
7. Pak Blengur

Srintil → Perjuangan hidup

Kontra male Feminis Menderita

1. Mantri Kesehatan
2. Sakarya
3. Kartareja
4. Dower
5. Sulam
6. Babah Pincang dan Pak
Simbar
7. Marsusi
8. Komandan Polisi
9. Darman
10. Bajus

Pada skema itu terlihat Srintil dalam menjalani hidupnya selalu bertemu

dengan tokoh penyelamat dan tokoh penghambat. Tokoh penyelamat berperan

mengantarkan Srintil untuk mendapatkan keberhasilan dalam tujuan hidupnya

sehingga dapat membuat Srintil bahagia. Sedangkan tokoh penghambat membuat

Srintil menderita dan gagal memperoleh kebahagiaan dalam mencapai tujuan

hidupnya. Tokoh penyelamat dalam perjalanan hidup Srintil diperankan oleh


73

tokoh male feminis, sedang tokoh penghambat diperankan oleh tokoh kontra male

feminis.

Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari ini pada

akhirnya menceritakan perjalanan tokoh utama (Srintil) tidak mengalami

kebahagiaan atau menderita. Srintil banyak mendapatkan tekanan yang

mengakibatkan ia mengalami goncangan jiwa dan akhirnya menderita sakit gila.

Tokoh Rasus yang merasa bersalah pada Srintil langsung membawa Srintil ke

rumah sakit jiwa. Rasus berharap Srintil bisa sembuh dan mereka bisa hidup

dengan bahagia.

4.2. Faktor yang menyebabkan munculnya peran male feminis dan

kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh

Paruk

Male feminis dan kontra male feminis merupakan isu yang masih hangat

dan menarik untuk diangkat dalam karya sastra. Timbulnya peran tokoh male

feminis dan kontra male feminis dalam karya sastra disebabkan oleh beberapa

faktor yang mendukungnya. Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya male

feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

karya Ahmad Tohari, di antaranya faktor ekonomi, faktor kultur kesenian

tradisional, faktor seksualitas dalam kultur masyarakat Jawa.

Berikut ini akan dibahas mengenai faktor-faktor yang menyebabkan

munculnya male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng

Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.


74

4.2.1. Faktor Ekonomi

Dukuh Paruk dengan kemelaratannya, keterbelakangannya serta sumpah

serapah cabul menjadi bagian yang sah. Keramat Ki Secamenggala pada puncak

bukit kecil di tengah Dukuh Paruk seakan menjadi pengawal abadi atas segala

kekurangan di sana. Dukuh Paruk yang dikelilingi hamparan sawah berbatas kaki

lngit, tak seorang pun penduduknya memiliki lumbung padi meski yang paling

kecil sekalipun.

Ahmad Tohari menggambarkan Dukuh Paruk dengan masyarakat yang

serba kekurangan dan miskin. Sebagian masyarakat di sana hanya menggandalkan

menggiringi ronggeng baru bisa makan layak.

Suami-istri Santayib berjualan tempe bongkrek setiap hari untuk

memenuhi kebutuhan orang Dukuh Paruk. Mereka hanya bisa berjualan karena

keadaan ekonomi. Santayib tidur paling terakhir setiap malam untuk menyiapkan

dagangan esok hari.

“......Semua penghuni pedukuhan itu telah tidur pulas, kecuali


Santayib, Ayah Srintil. Dia sedang mengakhiri pekerjaannya malam itu.
Bungkil ampas minyak kelapa yang telah ditumbuk halus dalam
air.....Besok hari pada bungkil ampas minyak kelpa itu akan tumbuh
jamur-jamur halus. Jadilah tempe bongkrek. Sudah sejak lama Santayib
memenuhi kebutuhan orang Dukuh Paruk akan tempe itu.” (TRDP, hlm.
21)

Santayib berangkat tidur bila pekerjaannya telah selesai. Meski Santayib

orang yang paling akhir pergi tidur, dia pula yang pertama kali terjaga di Dukuh

Paruk. Keduanya mulai sibuk bekerja. Suami-istri Santayib menyiapkan

dagangannya.
75

Desakan ekonomi yang dialami suami-istri Santayib tidak membuat

mereka sedih. Mereka dengan bahagia menjalani hidupnya. Walau miskin mereka

bisa berbangga diri karena mereka bisa memenuhi kebutuhan tetangganya.

Keadaan ekonomi sumi-istri Santayib sangat berbeda dengan Sulam.

Ahmad Tohari memunculkan tokoh seperti Sulam misalnya dengan keadaan

ekonomi tinggi. Sulam adalah anak seorang lurah kaya dari seberang kampung

Dukuh Paruk. Sulam dikenal sebagai penjudi dan berandal. Uang yang dimiliki

Sulam menjadikan ia dapat mengikuti sayembra bukak-klambu yang diadakan

oleh Kartareja.

“Sebuah pertanyaan yang menghina, kecuali engkau belum


mengenalku. Tentu saja engkau membawa ringgit emas itu. Bukan rupiah
perak, apalagi seekor kerbau seperti anak Pecikalan ini,” ujar Sulam
sambil melirik ke arah Dower. Yang dilirik tersengat hatinya lalu
membalas keras.” (TRDP, hlm. 72)

Ekonomi tinggi memang bisa membuat orang mampu meraih apa pun

yang diinginkannya. Seperti halnya Sulam, Dower pun sama perilakunya dengan

Sulam. Dower berani membohongi orang tuanya sendiri untuk dapat mengikuti

sayembara.

Dower merasa Sulam telah menghinanya karena belum mampu membawa

ringgit emas sebagai persyaratan. Masalah itu menjadikan dower dan Sulam

bersitegang, sebagai dukun ronggeng Kartareja berhasil mencairkan keadaan.

Mereka sepakat memberi Dower dan Sulam minuman ciu supaya mereka mabuk.

Tapi setelah meminum ciu hanya Sulam yang mabuk.

Melihat keadaan itu Kartareja menyuruh istrinya untuk melayani Sulam

yang telah mabuk.


76

“Oleh suaminya Nyai Kartareja disuruh melayani Sulam yang


sedang hilang ingatan. Soal bertayub tak usah ditanyakan kepada istri
dukun ronggeng itu. Dia sangat berpengalman. Jadilah. Teringat masa
mudanya, maka Nyai Kartareja melayani Sulam dengan sepenuh hati. Dia
membiarkan dirinya dibawa berjoget, bahkan diciumi oleh Sulam.”
(TRDP, hlm. 74-75)

Demi seekor kerbau dan rupiah perak Kartareja rela menyuruh istrinya

melayani orang lain. Suami-istri itu sama saja sifatnya, yang terpenting bagi

mereka adalah uang, jalan apapun akan mereka tempuh.

Srintil dijadikan barang dagangan oleh suami-istri Kartareja. Mereka tidak

tahu bahwa sebenarnya Srintil tertekan akan keadaannya. Mereka juga tidak

mengetahui kalau sebenarnya kehormatannya telah diserahkan pada Rasus.

Srintil suatu ketika merasa menyesal kenapa dirinya menjadi ronggeng.

Tidak bisa menpunyai anak dan juga ditinggalkan Rasus. Suami-istri Kartareja

dengan sikapnya yang selalu memanfaatkan Srintil dan itu menambah beban di

hatinya. Nyai Kartareja selalu saja memaksa Srintil melayani nafsu kaum laki-

laki. Demi uang Nyai kartareja menjadi seorang mucikari atas diri Srintil.

“Aku tak ingin pergi kemana pun, Nyai,” jawab Srintil. Nyai
Kartareja masih tak percaya akan kedua daun telinganya. Dadanya turun-
naik. Namun hanya sesaat. Kematangannya sebagai seorang mucikari
berhasil menata kembali perasaannya.” (TRDP, hlm. 147)

Menjadi mucikari bagi Nyai Kartareja akan mendatangkan keuntungan

lebih besar, karena bila ada seorang laki-laki yang menginginkan Srintil, maka

mereka harus melewati perantara Nyai Kartareja.


77

4.2.2. Faktor Kultur Kesenian Tradisional

Sebelas tahun sejak kematian ronggeng Dukuh Paruk yang terakhir, tidak

ada lagi suara calung. Perangkat gamelan itu telah tertutup lapisan debu campur

jelaga di para-para dapur keluarga Kartareja. Tali ijuk yang merenteng tiap mata

calung telah putus oleh gigitan tikus atau ngengat.

Warga Dukuh Paruk menunggu kedatangan seorang ronggeng untuk

meramaikan pedukuhan itu. Kesenian ronggeng hampir gulung tikar, hanya orang-

orang tertentu saja yang tetap teguh mempertahankannya sebagai rasa bangga dan

cinta terhadap kesenian tradisional. Mereka masih bertahan karena memang tidak

ada yang bisa dikerjakan selain itu.

Ahmad Tohari memunculkan tokoh Srintil sebagai “primadona” dalam

perkumpulan ronggeng. Dukuh Paruk kembali bergembira dengan munculnya

seorang gadis cilik yang telah dirasuki indang sejak lahir.

“.....Pagi itu Kartareja mendapat kabar gembira. Dia pun sudah


bertahun-tahun menunggu kedatangan seorang calon ronggeng untuk
diasuhnya. Belasan tahun sudah perangkat calungnya tersimpan di para-
para di atas dapur. Dengan adanya laporan Sakarya tentang Srintil, dukun
ronggeng itu berharap bunyi calung akan kembali terdengar semarak di
Dukuh Paruk.” (TRDP, hlm. 16)

Dukuh Paruk kembali mempunyai ronggeng. Srintil yang dipercaya telah

kemasukan indang oleh Sakarya diserahkan pada Kartareja untuk diasuhnya.

Srintil menjadi ronggeng sudah dua bulan. Adat Dukuh Paruk mengatakan

ada dua tahapan yang harus dilalui Srintil, Srintil belum berhak menyebut dirinya

sebagai seorang ronggeng yang sebenarnya sebelum menjalani beberapa syarat.

Salah satu diantaranya adalah upacara pemandian yang secara turun-temurun

dilakukan di depan cungkup makam Ki Secamenggala.


78

“.......Upacara memandikan seorang ronggeng adalah peristiwa


yang penting bagi orang di pedukuhan itu, lagi pula amat jarang
terjadi.....Mereka akan mengiring Srintil dari rumah itu sampai ke makam
Ki Secamenggala. Di sana Srintil akan dipermandikan.” (TRDP, hlm. 44)

Warga Dukuh Paruk menjadi semangat bila ada kejadian yang berhubung

dengan ronggeng. Srintil dipermandikan dan didandani dengan pakaian kebesaran

seorang ronggeng. Ronggeng itu kemudian dituntun ke depan pintu cungkup.

Srintil di sana menyembah dengan takzim, lalu bangkit dan berjalan ke hadapan

lingkaran para penabuh. Srintil mulai menari dan lagu pertama yang dinyanyikan

adalah sari gunung, konon semasa hidupnya Ki Secamenggala sangat menyukai

lagu tersebut.

Upacara pemandian di pekuburan itu bukanlah syarat terakhir sebelum

seorang gadis sah menjadi ronggeng. Srintil masih harus menyelesaikan satu

syarat lagi. Sebelum hal itu terlaksana, Srintil tidak mungkin naik pentas dengan

memunggut bayaran.

“Dari orang-orang Dukuh paruk pula aku tahu syarat terakhir yang
harus dipenuhi oleh srintil bernama bukak-klambu......bukak-klambu
adalah semacam sayembara, terbuka bagi laki-laki mana pun. Yang
disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang
dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng,
berhak menikmati virginitas itu.” (TRDP, hlm. 51)

Bukak-klambu yang harus dialami Srintil sudah merupakan hukum pasti di

Dukuh Paruk. Setelah Srintil melaksanakan upacara itu, Srintil sudah bisa naik

pentas dengan memungut bayaran. Bukan hanya itu, Srintil juga harus melayani

nafsu laki-laki yang menginginkannya. Lewat suami-istri Kartareja itulah Srintil

menjalani kehidupan sebagai seorang ronggeng.


79

Banyak tekanan yang dialami selama menjadi ronggeng. Srintil tidak akan

bisa mempunyai anak, ditinggal Rasus dan masih banyak lagi tekanan itu. Srintil

menyesal menjadi ronggeng. Srintil menolak naik pentas setelah ditinggal Rasus,.

Dukuh Paruk kembali sepi tanpa suara calung. Sampai akhirnya Dukuh Paruk

harus kehilangan ronggeng lagi karena tekanan membuat Srintil gila.

4.2.3. Seksualitas dalam Kultur Masyarakat Jawa

Sebagian kaum laki-laki Jawa ada yang beranggapan bahwa tugas utama

perempuan yaitu berperan sebagai pemuas naafsu seksual sehingga merekaa

sering bermain perempuan, yang terkenal dengan istilah madon. Laki-laki pada

umumnya memang selalu tertarik kepada perempuan cantik seperti Srintil, bahkan

di antara mereka kadang ada yang tidak peduli meski sudah beristri.

Kecantikan Srintil ternyata memikat perhatian banyak orang, termasuk

Sulam dan Dower. Mereka berdua rela mengeluarkan uang banyak demi

memenangkan sayembara Bukak-Klambu bagi ronggeng Srintil. Mereka berdua

ingin meniknati kecantikan Srintil yang bagi masyarakat Dukuh Paruk, Srintil

adalah gadis tercantik di Dukuh Paruk.

Dower pemuda dari Pecikalan adalah pemuda pertama yang datang ke

rumah Kartareja untuk mengikuti sayembara. Dower tetap mengikuti sayembara

walaupun hanya dijadikan cadangan. Sulam juga datang untuk mengikuti

sayembara.
80

Perilaku madon juga dilakukan oleh kalangan atas. Kecenderungan seperti

ini dengan memperlihatkan perilaku Marsusi, salah seorang majikan yang senang

main perempuan.

Marsusi membalas dendam pada Srintil ketika sedang mengisi malam

Agustusan. Untungnya Kartareja mengetahui ulah Marsusi dan segera menegur

Marsusi.

Uraian di atas menggambarkan bahwa orang semacam Marsusi yang sudah

dikuasai oleh nafsu seksual dapat mengejar seoarang perempuan seperti Srintil

tanpa memperdulikan perasaan perempuan itu (Kontra Male Feminis).


BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Male feminis dan kontra male feminis dimunculkan Ahmad Tohari sebagai

tokoh penolong dan tokoh penghambat bagi tokoh utama dalam novel Trilogi

Ronggeng Dukuh Paruk. Peran male feminis dan kontra male feminis serta faktor-

faktor yang menyebabkan munculnya male feminis dan kontra male feminis dalam

novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Peran male feminis meliputi tokoh-tokoh sebagai berikut: Rasus berperan

sebagai orang yang banyak membantu Srintil dalam kehidupannya dan orang

yang membawa Srintil ke rumah sakit jiwa, Goder berperan sebagai

penyemangat hidup Srintil, Sakum berperan sebagai pria buta yang selalu

mengerti keadaan Srintil, Mertanakim berperan sebagai orang yang

menjemput rombongan Srintil menuju Alaswangkal, Partadasim berperan

sebagai orang yang menolong Srintil dari Marsusi, Pak Blegur berperan

sebagai orang yang mengerti akan keadaan Srintil yang tidak mau lagi

melayani nafsu laki-laki. Peran kontra male feminis meliputi tokoh-tokoh

sebagai berikut: Mantri Kesehatan berperan sebagai orang yang telah

membawa Emak rasus dan tidak pernah mengembalikan ke Dukuh Paruk,

Sakarya berperan sebagai kakek Srintil dan menjadikan Srintil menjadi

ronggeng, Kartareja berperan sebagai dukun ronggeng dan mucikari bagi

Srintil, Dower berperan sebagi orang yang mengikuti sayembara Bukak-

Klambu untuk Srintil, Sulam juga berperan sebagai orang yang mengikuti

80
81

acara Bukak-klambu, Babah Pincang berperan sebagai pedagang yang

menggoda Srintil, Pak Simbar berperan sebagai pedagang yang menggoda

Srintil, Marsusi berperan sebagai orang yang menginginkan Srintil melayani

nafsunya, Komandan Polisi berperan sebagai orang yang menahan Srintil

tanpa alasan yang jelas, Darman berperan sebagai petugas kantor polisi yang

memaksa Srintil membonceng marsusi demi satu truk pohon karet, Bajus

berperan sebagai sebagai orang yang telah membuat Srintil gila karena

harapannya.

2. Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya male feminis dalam novel

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari adalah faktor kultul

kesenian tradisional dan kontra male feminis adalah faktor ekonomi, faktor

seksualitas dalam kultur masyarakat Jawa.

5.2 Saran

Penelitian skripsi ini diharapkan dapat menjadikan jembatan dalam

menulis penelitian lain yang sejenis. Penulisan tentang male feminis dan kontra

male feminis dalam novel yang ditulis oleh pengarang laki-laki belum banyak

dilakukan oleh peneliti sastra, kalau pun ada maka jumlahnya mungkin masih

sangat terbatas sekali.


DAFTAR PUSTAKA

Adian, Donny Gahral. 2001. Feminis Laki-laki Sebagai Seni Pengambilan Jarak.
Dalam Nur Iman Subono (ed.) Feminis Laki-Laki Solusi dan Persoalan?
Jakarta: Jurnal Perempuan.

Arivia, Gadis. 2001. Dominasi Laki-laki, Pengambilan Jarak dan ‘Meninist’.


Dalam Nur Iman Subono (ed.) Feminis Laki-laki Solusi atau Persoalan?
Jakarta: Jurnal Perempuan.

Baribin, Raminah. 1989. Kritik Sastra dan Penilaian. Semarang: IKIP Semarang
press.

Budianta, Melani. 2002. Pendekatan Feminis Terhadap Wacana Sebuah


Pengantar. Dalam Kris Budiman (ed.) Analisis Wacana Dari Linguistik
Sampai Dekonstruksi. Yogyakarta: Kanal.

Chatman, Seymour. 1928. Story And Discourse Narrative Structure In Ficion and
Film. London: Cornell University Press.

Djajanegara, Soenarjadi. 2000. Kritik Sastra Feminis Sebuah Pengantar. Jakarta:


Gramedia Pustaka Utama.

Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra Epistemologi Model


Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fakih, Mansour. 2003. Analisis Gender Dan Transformasi Sosial. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

Gerung, Rocky. 2001. T. G. I. F. Dalam Nur Iman Subono (ed.) Feminis Laki-
Laki Solusi atau Persoalan? Jakarta: Jurnal Perempuan.

Haryatmoko. 2001. Dominasi Laki-laki Melalui Wacana. Dalam Nur Iman


Subono (ed.) Feminis Laki-laki Solusi atau Persoalan? Jakarta: Jurnal
Perempuan.

Hasanuddin. 1996. Drama Karya dalam Dua Dimensi Kajian Teori, Sejarah dan
Analisis. Bandung: Angkasa

Moeliono, Anton dkk. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press.

84
85

Qomariyah, U’um. Male Feminis Dan Kontra Feminis Dalam Perspektif Sastra.
Makalah yang disampaikan dalam Seminar. Yogyakarta: Universitas
Gadjah Mada.

Rimmon-Kenan, Shlomith. 1983. Narrative Fiction: Contemporary Poetics.


London: Methuen.

Rochmayati, Endang. 2003. Male Feminis Dalam Novel Bekisar Merah Dan
Belantik (Bekisar Merah II) Karya Ahmad Tohari. Skripsi. Semarang:
FBS UNNES

Sofia, Adib dan Sugihastuti. 2003. Feminisme dan Sastra. Menguak Citra
Perempuan dalam Layar Terkembang. Bandung: Katarsis.

Subono, Nur Iman. 2001. Laki-laki, Kekerasan Gender dan Feminisme. Dalam
Nur Iman Subono (ed.) Feminis Laki-laki Solusi atau Persoalan? Jakarta:
Jurnal Perempuan.

Sugihastuti, dkk. 2002. Kritik Sastra Feminis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suharianto, S. 2005. Dasar-dasar Teori Sastra. Semarang: Rumah Indonesia.

Sujdiman Panuti. 1991. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Supriyanto, Teguh. 1997. “Dekonstruksi Dalam Kajian Sastra Di Indonesia”.


Dalam Lembaran Ilmu Pengetahuan No. 2 Tahun XXVI. Semarang: IKIP
Semarang Press.

Wardana Veven Sp. 2001. Pornografi dan Media: Yang Bukan Perempuan (tak)
Ambil Bagian. Dalam Nur Iman Subono (ed.) Feminis Laki-laki Solusi
atau Persoalan? Jakarta: Jurnal Perempuan.

Yudiono. 2003. Ahmad Tohari Karya Dan Dunianya. Jakarta: Grasindo.

Yunus, Umar. 1985. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.


LAMPIRAN

SINOPSIS

NOVEL TRILOGI RONGGENG DUKUH PARUK

Srintil adalah gadis Dukuh Paruk. Dukuh Paruk adalah sebuah desa kecil

yang terpencil dan miskin. Namun, segenap warganya memiliki suatu kebanggaan

tersendiri karena mewarisi kesenian ronggeng yang senantiasa menggairahkan

hidupnya. Tradisi itu nyaris musnah setelah terjadi musibah keracunan tempe

bongkrek yang mematikan belasan warga Dukuh Paruk sehingga lenyaplah gairah

dan semangat kehidupan masyarakat setempat. Untunglah mereka menemukan

kembali semangat kehidupan setelah gadis cilik pada umur belasan tahun secara

alamiah memperlihatkan bakatnya sebagai calon ronggeng ketika bermain-main di

tegalan bersama kawan-kawan sebayanya (Rasus, Warta, Darsun). Permainan

menari itu terlihat oleh kakek Srintil, Sakarya, yang kemudian mereka sadar

bahwa cucunya sungguh berbakat menjadi seorang ronggeng. Berbekal keyakinan

itulah, Sakarya menyerahkan Srintil kepada dukun ronggeng Kartareja. Dengan

harapan kelak Srintil menjadi seorang ronggeng yang diakui oleh masyarakat.

Dalam waktu singkat, Srintil pun membuktikan kebolehannya menari

disaksikan orang-orang Dukuh Paruk sendiri dan selanjutnya dia pun berstatus

gadis pilihan yang menjadi milik masyarakat. Sebagai seorang ronggeng, Srintil

harus menjalani serangkaian upacara tradisional yang puncaknya adalah menjalani

upacara bukak klambu, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapa pun

lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal.


Meskipun Srintil sendiri merasa ngeri, tak ada kekuatan dan keberanian

untuk menolaknya. Srintil telah terlibat atau larut dalam kekuasaan sebuah tradisi,

di sisi lain, Rasus merasa mencintai gadis itu tidak bisa berbuat banyak setelah

Srintil resmi menjadi ronggeng yang dianggap milik orang banyak. Oleh karena

itu, Rasus memilih pergi meninggalkan Srintil sendirian di Dukuh Paruk.

Kepergian Rasus ternyata membekaskan luka yang mendalam di hati Srintil dan

kelak besar sekali pengaruhnya terhadap perjalanan hidupnya yang berliku. Rasus

yang terluka hatinya memilih meninggalkan Dukuh Paruk menuju pasar Dawuan,

dan kelak dari tempat itulah Rasus mengalami perubahan garis perjalanan

hidupnya dari seorang remaja dusun yang miskin dan buta huruf menjadi seorang

prajurit atau tentara yang gagah setelah terlebih dahulu menjadi tobang. Dengan

ketentaraannya itulah kemudian Rasus memperoleh penghormatan dan

penghargaan seluruh orang Dukuh Paruk, lebih-lebih setelah berhasil menembak

dua orang perampok yang berniat menjarah rumah Kartareja yang menyimpan

harta kekayaan ronggeng Srintil.

Beberapa hari singgah di Dukuh Paruk Rasus sempat menikmati

kemanjaan dan keperempuanan Srintil sepenuhnya. Tapi itu semua tidak

menggoyahkan tekadnya yang bulat untuk menjauhi Srintil dan dukuhnya yang

miskin. Pada saat fajar merekah, Rasus melangkah gagah tanpa berpamitan pada

Srintil yang masih pulas tidurnya.

Kepergian Rasus tanpa pamit sangat mengejutkan dan menyadarkan Srintil

bahwa ternyata tidak semua lelaki dapat ditundukkan oleh seorang ronggeng.

Setelah kejadian itu Srintil setiap hari tampak murung dan sikap Srintil yang
kemudian menimbulkan keheranan orang-orang disekitarnya. Kebanyakan mereka

tidak senang menyaksikan kemurungan Srintil, sebab mereka tetap percaya

ronggeng Srintil telah menjadi simbol kehidupan Dukuh Paruk. Kemurungan

Srintil tetap tertahan ketika didatangi lelaki Marsusi yang berniat menikmati

kecantikannya dan kegairahan seksualnya. Pak Marsusi yang telah membawa

seratus gram kalung emas buat Srintil sesuai dengan tawaran Nyai Kartareja

ternyata gagal merangkul ronggeng itu, bahkan melihat wajah pun tidak. Waktu

itu, Srintil memang berjanji akan pulang dari bermain di tegalan, tetapi

langkahnya justru menuju pasar Dawuan hendak mencari Rasus. Namun, niatnya

melarikan diri dari rumah Nyai Kartareja itu akhirnya pasrah kembali ke

rangkulan Nyai Kartareja yang begegas menyusul dan mengajaknya pulang.

Dalam kurun waktu tertentu, Srintil tetap bertahan tidak ingin menari

sebagai ronggeng, bahkan senang mengasuh bayi Goder (anaknya Tampi, seorang

tetangga) dengan gaya asuhan seorang ibu kandung. Bahkan ketika Marsusi

kembali datang ke rumah Nyai Kartareja hendak menikmati kegairahan seks

bersama Srintil. Nyatanya Srintil tetap bertahan dengan menegaskan sikap untuk

bersedia menerima seratus gram kalung emas dari Pak Marsusi hanya untuk

menari bukan melayani kelelakian Marsusi. Marsusi marah dengan pernyataan

Srintil, kemarahannya dilimpahkan kepada Nyai Kartareja yang gagal membujuk

ronggeng asuhannya.

Perlawanan atau pemogokan Srintil masih bertahan ketika datang tawaran

menari dari Kantor Kecamatan Dawuan yang akan menggelar pentas kesenian

menyambut perayaan Agustusan. Kalau pun pada akhirnya runtuh dan pasrah,
bukan semata-mata tergugah untuk kembali tampil menari sebagai seorang

ronggeng, melainkan mendengar ancaman Pak Ranu dari Kantor Kecamatan.

Srintil menyadari kedudukannya sebagai orang kecil yang tak berhak

melawan kekuasaan. Sama selaki ia tidak membayangkan akibat lebih jauh dari

penampilannya di panggung perayaan Agustusan yang pada tahun 1964 sengaja

dibuat berlebihan oleh orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Warna

merah dipasang di mana-mana dan muncullah pidato-pidato yang menyebut-

nyebut rakyat tertindas, kapitalis, imperalis, dan sejenisnya. Ketika slogan seperti

itu diperdengarkan kehadapan Sakarya sebagai tetua Dukuh Paruk, justru

timbullah sebuah reaksi yang mencerminkan kebingungan.

Dukuh Paruk masih tetap Dukuh Paruk. Rapat, pidato, gambar, dan simbol

partai dipasang di mana-mana. Akan tetapi, Dukuh Paruk tetap tenang ditunggui

oleh cungkup makam Ki Secamenggala di puncak bukit kecil di tengah-

tengahnya. Mereka tidak mengetahui perubahan sosial yang berkembang dari

dunia politik yang berpusat di Jakarta, sebuah tempat yang terlalu jauh dari alam

pikiran mereka. Padahal saat itu mereka terancam perubahan sosial.

Pemberontakan PKI kandas dalam sekejap dan akibatnya orang-orang PKI

atau mereka yang dikira PKI dan siapa pun yang berdekatan dengan PKI di daerah

mana pun ditangkapi dan di tahan. Nasib itu terjadi juga pada Srintil yang harus

mendekam di tahanan tanpa alasan yang jelas.

Pada mulanya, terjadi paceklik di mana-mana sehingga menimbulkan

kesulitan ekonomi secara menyeluruh. Pada waktu itu, orang-orang Dukuh Paruk

tidak berpikir panjang dan tidak memahami berbagai gejala zaman yang
berkembang di luar wilayahnya. Dalam masa paceklik yang berkepanjangan,

Srintil terpaksa lebih banyak berdiam di rumah, karena amat jarang orang

mengundangnya berpentas untuk suatu hajatan. Akan tetapi, tidak lama kemudian

ronggeng Srintil sering berpentas di rapat-rapat umum yang selalu dihadiri atau

dipimpin tokoh Bakar. Walaupun Srintil tidak memahami makna rapat-rapat

umum, pidato yang sering diselenggarakan orang. Yang dia pahami hanyalah

menari sebagai ronggeng atau melayani nafsu kelelakian. Tapi hubungan mereka

tetap baik.

Hubungan mereka merenggang setelah beberapa kali terjadi penjarahan

padi yang dilakukan oleh orang-orang kelompok Bakar. Sukarya merasa

tersinggung dengan Bakar, karena Bakar mengungkit-ungkit masa lampau Ki

Secamenggala yang dikenal orang sebagai bromocorah. Karena hal itu Sakarya

memutuskan hubungan dengan kelompok Bakar.

Sakarya tidak hanya melarang ronggeng Srintil berpentas di rapat-rapat

umum, tetapi juga meminta pencabutan lambang partai. Akan tetapi, Bakar

menanggapinya dengan sikap bersahaja. Dalam tempo singkat, Dukuh Paruk

kembali ketradisinya yang sepi dan miskin. Akan tetapi, kedamaian itu hanya

sebentar, karena mereka kemudian kembali bergabung dengan kelompok Bakar

setelah terkecoh oleh kerusakan cungkup makam Ki Secamenggala. Sakarya

menduga kerusakan itu ulah kelompok Bakar yang sakit hati, tetapi kemudian

beralih ke kelompok lain setelah menemukan sebuah caping bercat hijau di dekat

pekuburan itu. Sayang, mereka tidak mampu membaca simbol itu. Dan Srintil pun
semangat menari walaupun tariannya tidak seindah penampilannya yang sudah-

sudah.

Ternyata penampilan yang berlebihan itu merupakan akhir perjalanan

Srintil sebagai ronggeng. Mendadak pasar malam bubar tanpa penjelasan apa pun

dan banyak orang limbung, ketakutan, dan kebingungan, sehingga kehidupan

terasa sepi dan mencekam.

Berbagai peristiwa menjadikan orang-orang Dukuh Paruk ketakutan, tetapi

tidak mengetahui cara-cara penyelesaiannya. Yang terpikir adalah melaksanakan

upacara selamatan dan menjaga kampung dengan ronda setiap saat. Keesokan

harinya orang-orang Dukuh Paruk melepas langkah Kartareja dan Srintil yang

berniat meminta perlindungan polisi di Dawuan. Tapi ternyata harapan berlindung

kepada polisi itu berantakan, karena kepolisian dan tentara justru sudah

menyimpan catatan nama Srintil yang terlanjur populer sebagai ronggeng rakyat

yang mengibarkan bendera PKI. Pupuslah harapan Srintil dan Kartareja untuk

mendapatkan perlindungan polisi karena justru harus ditahan seperti orang-orang

kelompok Bakar.

Srintil pulang ke Dukuh Paruk setelah dua tahun mendekam dalam

tahanan politik dengan kondisi kejiwaan yang sangat tertekan. Ia berjanji menutup

segala kisah dukanya selama dalam tahanan dan bertekad melepas predikat

ronggengnya untuk membangun sebuah kehidupan pribadinya yang utuh sebagai

seorang perempuan Dukuh Paruk, meskipun tidak mengetahui sedikitpun

keberadaan Rasus.
Tanpa sepengetahuan Srintil, Nyai Kartareja menghubungi Marsusi.

Akibatnya, Srintil mengumpat kebodohan neneknya dan meratapi nasibnya

sebagai perempuan yang terlanjur dikenal sebagai ronggeng. Untungah Srintil

masih bisa mengelak perangkap Marsusi. Selepas dari perangkap Marsusi, Srintil

kembali mendapat tekanan dari lurah Pecikalan agar mematuhi kehendak Pak

Bajus. Bajus hendak menikahi Srintil, sehingga Srintil berusaha mencintai Bajus.

Tapi Srintil sangat kecewa, karena Bajus ternyata lelaki impoten yang justru

hanya berniat menawarkannya kepada seorang pejabat proyek. Srintil pun

mengalami goncangan jiwa dan akhirnya menderita sakit gila sampai akhirnya

dibawa ke rumah sakit jiwa oleh Rasus.