Anda di halaman 1dari 36

c c

  

   

 
c 

1. c

Kita sering ka1i melihat, ada seorang pembeli yang membanding-bandingkan untuk memilih
suatu barang di supermarket, atau di pasar. Kalau akan membeli ikan maka pasti akan dilihat
dengan seksama, apakah ikan tersebut masih segar dan layak untuk dikonsumsi. Ikan yang segar
adalah jika ditekan akan kembalo seperti sedia kala, tapi kalau yang ditekan itu jadi legok atau
tidak kembali ke posisi semula maka menunjukkan bahwa ikan tersebut sudah tidak segar lagi.
Disini ibu tersebut sedang menilai suatu barang yaitu ikan, dia menilai kelayakan ikan yang
masih segar yaitu dengan cara melihat dan menekan ikan tersebut apakah masih kenyal, kalau
dipijat akan kembali ke posisi semula. Selain itu juga akan dilihat dari bau ikan tersebut sudah
basi ataukan masih segar. Kalau masih kenyal dan bau atau aromanya masih segar maka ikan
tersebut masih segar dan layak untuk dikonsumsi. Kegiatan ibu yang berbelanja tersebut adalah
kegiatan pelilaian terhadap suatu barang yang dia inginkan. Ibu tersebut sudah mempunyai
kriteria-kriteria yang dia tentukan sendiri. Kalau ternyata barang tersebut sesuai dengan apa yang
dia inginkan dan cocok dengan kriteria yang dia tentukan maka ibu tersebut akan membelinya,
tetapi apabila tidak sesuai dengan kriteria yang dia tentukan maka ibu tersebut tidak jadi
membelinya. Hal tersebut adalah contoh tentang penilaian seorang ibu terhadap suatu barang.
Dia melakukan dua kali penilaian yaitu menilai terhadap kekenyalan ikan dan yang kedua
menilai dari bau atau aroma ikan tersebut. Kalau kedua penilaian tersebut sudah masuk kategori,
maka ibu tersebut baru dapat memutuskan untuk membelinya ataukah tidak.

Dilingkungan sekolah, kita melihat pula bahwa pada waktu-waktu tertentu guru selalu
mengadakan evaluasi. Kenyataan yang biasa dilakukan di sekolah-sekolah Indonesia sampai
dewasa ini ialah bahwa pada akhir semester guru mengadakan ulangan-ulangan, pada akhir tahun
mengadakan ujian-ujian kenaikan kelas, dan pada akhir kelas tertinggi pada setiap taraf atau
level pendidikan, sekolah mengadakan ujian akhir (Evaluasi Belajar Tahap Akhir). Ulangan,
ujian kenaikan kelas, dan evaluasi belajar tahap akhir tadi, merupakan contoh tentang evaluasi
yang lazim dilaksanakan di setiap institusi pendidikan.

Kita sebagai guru umumnya memahami bahwa pendidikan adalah merupakan proses melakukan
perubahan pada diri siswa. Atau secara definitif dirumuskan, bahwa pendidikan adalah ³usaha
sadar yang dilakukan untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan siswa di dalam dan di
luar sekolah, dan berlangsung seumur hidup´.

Bertitik tolak dari pandangan tersebut, kita sebagai guru berharap agar setiap program
pengajaran, setiap mata pelajaran, dan bahkan setiap unit pelajaran yang kita sajikan dapat
membawa perubahan yang berarti bagi diri anak didik. Siswa seharusnya mengalami perubahan
perilaku setelah mengikuti pelajaran. Dan seharusnya ada perbedaan perilaku antara mereka yang
mengikuti pelajaran suatu unit pelajaran atau suatu program pengajaran dengan yang tidak
semestinya. Namun demikian, ini tidak berarti bahwa suatu program pengajaran akan
menghasilkan perubahan yang sama pada setiap siswa yang mengikutinya. Usaha untuk
mengetahui ada dan tidaknya perubahan, atau tingkat perubahan yang terjadi pada diri siswa
inilah yang termasuk dalam kawasan evaluasi.

Dalam hubungan ini, kita sekarang ingin menyoroti hal-hal yang berkenaan dengan evaluasi,
khususnya dalam kontek dengan proses belajar mengajar, yang dilaksanakan di sekolah. Karena
evaluasi merupakan salah satu proses dalam pengajaran, yang dalam batas-batas tertentu dapat
merupakan indikator yang mempengaruhi perubahan perilaku siswa.

Istilah evaluasi atau penilaian adalah sebagai terjemaban dari istilah asing ³evaluation´. Dan
sebagai panduan, menurat Benyamin S. Bloom (Handbook on Formative and Sumative
Evaluation of Student Learning) dikemukakan, bahwa:

³Evaluasi adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar
penetapan ada tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau anak
didik´

Apabila alur fikiran yang terkandung dalam definisi itu kita ambil sebagai pegangan, maka logis
apabila kita bersikap, bahwa dalam melakukan evaluasi kita sebagai guru harus yakin bahwa
pendidikan dapat membawa perubahan pada diri siswa. Oleh karena itu dalam kegiatan evaluasi
kita harus melakukan setidak-tidaknya dua hal yaitu:

1) Mengumpulkan bukti-bukti yang cukup;

2) Menetapkan ada tidaknya perubahan, dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa.

Bukti-bukti yang dikumpulkan dapat bersifat kuantitatif (dalam bentuk angka-angka), dan dapat
pula bersifat kualitatif, yaitu menunjukkan kualifikasi seperti: baik sekali, baik, sedang atau
cukup, rajin, cermat dan lain-lainnya. Bukti-bukti kuantitatif atau kualitatif yang dikumpulkan
harus memenuhi persyaratan tertentu agar dapat dijadikan dasar pengambilan keputusah ada
tidaknya perubahan perilaku serta derajat perubahan yang ada secara adil dan obyektif.

Disamping itu, masih ada beberapa point yang perlu diketahui, yaitu batasan antara evaluasi dan
pengukuran. Pengertian evaluasi dan pengukuran sangat erat hubungannya, sehingga sulit untuk
diterangkan perbedaan secara khas. Ada sementara orang memakai kedua istilah itu silih
berganti, karena menganggap identik. Ada lagi sementara orang yang memakai kedua istilah itu
sebagai yang bersifat kesinambungan. Dalam arti bahwa kegiatan pengukuran pendidikan akan
dilanjutkan dengan evaluasi. Atau sebalikhya, untuk dapat melakukan penilaian sesuatu
diperlukan data/bahan dari hasil pengukuran.

Oleh karenanya, pengukuran dapat dirumuskan sebagai kegiatan untuk menetapkan dengan pasti
tentang luas, dimensi, atau kualitas sesuatu, dengan membandingkan dengan ukuran tertentu.
Sedangkan evaluasi sebagai usaha untuk memberikan nilai terhadap hasil pengukuran tersebut.

Jika diterapkan dalam pengukuran hasil belajar, maka mengukur akan diperoleh skore tertentu,
dan dengan mengevaluasi akan diintepretasikan apakah seseorang siswa yang memperoleh skore
tertentu tersebut tergolong anak yang pandai atau bodoh menurut norma tertentu. Jadi misalnya
si Arief memperoleh nilai 9, berarti ia telah wenguasai 90% dari keseluruhan yang dipersyarat
untuk mancapai tingkat atau perilaku tertentu.

1. c

Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa tujuan evaluasi secara umum adalah untuk
mengetahui ada atau tidaknya perubahan pada diri anak didik serta tingkat perubahan yang
dialaminya setelah ia mengikuti PBM. Tetapi sebenarnya hal tersebut baru merupakan sebagian
dari tujuan evaluasi dalam arti yang sebenarnya. Kita harus masih mengenal dimensi tujuan lain.
Misalnya sebagaimana dirumuskan di dalam Kurikulum 1975 (Buku III B ± tentang Pedoman
Penilaian), dapat kita baca bahwa tujuan atau fungsi evaluasi belajar siswa di sekolah pada
dasarnya dapat digolongkan kedalam 4 (empat) kategori yaitu:

1. Untuk memberi umpan balik (feedback) kepada guru, sebagai dasar untuk memperbaiki
proses belajar mengajar dan mengadakan revisi program dan remidial program bagi
siswa.
2. Untuk menentukan angka kemajuan atau hasil belajar masing-masing siswa, yang antara
lain diperlukan untuk memberikan laporan kepada para orang tua siswa, penetapan
kenaikkankelas, dan penentuan lulus tidaknya siswa.
3. Untuk menempatkan siswa dalam situasi belajar mengajar yang tepat (misalnya dalam
penentuan jurusan) sesuai dengan tingkat kemampuan dan atau karakteristik lain yang
dimiliki siswa.
4. Untuk mengenal latar belakang (psikologi, pisik, dan lingkungan) siswa yang mengalami
kesulitan-kesulitan belajar. Yang hasilnya dapat dipakai sebagai dasar untuk
memecahkan kesulitan-kesulitan tersebut.

1. c

Agar supaya evaluasi berlajar benar mencapai sasaran, yaitu untuk mengetahui tingkat perubahan
tingkah laku atau keberhasilan siswa, maka harus dilaksanakan dengan berdasarkan pada suatu
asas atau prinsip mapan.

Adapun asas atau prinsip-prinsip yang dimaksudkan adalah:

1. Evaluasi harus dilaksanakan secara terus menerus

Maksud evaluasi yang dilaksanakan secara terus-menerus atau continue ialah agar kita (guru)
memperoleh kepastian atau kemantapan dalam mengevaluasi. Dan dapat mengetahui tahap-tahap
perkembangan yang dialami oleh siswa.

1. Evaluasi harus menyeluruh (*onprehensive)

Evaluasi yang menyeluruh ialah yang mampu memproyeksikan seluruh aspek pola tingkah laku
yang diharapkan sesuai dengan tujuan pendidikan. Untuk dapat melaksanakan evaluasi yang
memenuhi asas ini, maka setiap tujuan instruksional harus telah dijabarkan sejelas-jelasnya,
sehingga dapat dijadikan pedoman untuk melakukan pengukuran. Alat atau instrument evaluasi
harus mengandung atau mencerminkan itemitem yang representatif, yang dijabarkan dari tujuan-
tujuan instruksional yang telah disusun. Untuk keperluan pembuatan soal tes yang demikian guru
dapat membuat ³Tabel spesifikasi tujuan´, sebagai alat bantu guna menjaring item-item yang
mewakili perilaku yang diharapkan. Disamping itu tabel speasifikasi tersebut juga dapat
membantu guru dalam usaha memenuhi validitas alat pengukur.

1. Evaluasi harus obyektif (èbyective)

Asas ini dimaksudkan, bahwa didalam proses evaluasi hanya menunjukkan aspek yang
dievaluasi dengan keadaan yang sebenarnya. Jadi didalam mengevaluasi hasil pendidikan dan
pengajaran guru tidak boleh memasukkan faktor-faktor subyektif dalam memberikan nilai
kepada siswa.

1. Evaluasi harus dilaksanakan dengan alat pengukur yang baik

Asas ini diperlukan, sebab untuk dapat memberikan penilaian secara obyektif diperlukan
informasi atau bukti -bukti yang relevant dan untuk itu dibutuhkan alat yang tepat guna. Ada
beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk alat pengukur yang baik, yaitu:

1. Validitas

Validitas alat pengukur berhubungan dengan ketepatan dan kesesuaian alat untuk
menggambarkan keadaan yang diukur sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Ketepatan
berhubungan dengan pemberian informasi persis (akurat) seperti keadaannya. Atau dengan
perkataan lain disebut sahih. Sedang kesesuaian berhubungan dengan efektivitas alat untuk
memerankan fungsinya sesuai dengan yang dimaksud dari alat pengukur tersebut.

1. Reliabilitas

Realiabilitas alat pengukur berhubungan dengan kestabilan, kekostanan, atau ketepatan test.
Suatu test akan dinyatakan reliabel apabila test tersebut dikenakan kepada sekelompok subyek
yang sama, tetap memberikan hasil yang sama pula, walaupun saat pemberian testnya berbeda.
Tinggi rendahnya reliabilitas alat pengukur alat pengukur dapat diketahui dengan menggunakan
teknik statistik. Yaitu dengan mengklasifikasikan antara hasil pengukuran pertama dan hasil
pengukuran kedua dari bahan test yang sama, atau test yang lain yang dianggap sama
(ekuivalen).

1. Evaluasi harus deskriminatif

Kegiatan evaluasi yang dapat memenuhi asas ini akan mampu membedakan tentang keadaan
yang diukur apabila keadaannya memang berbeda. Jadi test hasil belajar dapat dikatakan
deskriminatif apabila test tersebut dapat membedakan antara 2 (dua) orang atau lebih, yang
memang mempunyai kemampuan yang tidak sama. Apabila UnyiI keadaanya memang lebih
pandai dari si Badu maka test itu harus dapat mengetahui atau mengungkapkan perbedaan yang
dimiliki oleh kedua anak tersebut
1. c

Sehubungan dengan 4 (empat) tujuan sebagaimana dituangkan di dalam sub bab yang terdahulu,
selanjutnya kurikulum 1975 membedakan evaluasi prestasi belajar siswa di sekolah menjadi 4
(empat) jenis yaitu:

1. Evaluasi Formatif

Adalah evaluasi yang ditujukan untuk memperbaiki proses belajar mengajar. Jenis evaluasi wajib
dilaksanakan oleh guru bidang studi setelah selesai mengajarkan satu unit pengajaran tertentu.

1. Evaluasi Sumatif

Adalah evaluasi yang ditujukan untuk keperluan penentuan angka kemajuan atau hasil belajar
siswa. Jenis evaluasi ini dilaksanakan setelah guru menyelesaikan pengajaran yang
diprogramkan untuk satu semester. Dan kawasan bahasanya sama dengan kawasan bahan yang
terkandung di dalam satuan program semester.

1. Evaluasi Penempatan

Adalah evaluasi yang ditujukan untuk menempatkan siswa dalam situasi belajar atau program
pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya.

1. Evaluasi Diagnostik

Adalah evaluasi yang ditujukan guna membantu memecahkan kesulitan belajar yang dialami
oleh siswa tertentu.

Jenis evaluasi formatif dan sumatif terutama menjadi tanggungjawab guru (guru bidang studi),
evaluasi penempatan dan diagmostik lebih merupakan tanggungjawab petugas bimbingan
penyuluhan. Oleh karena itu wajar apabila dalam tulisan ini hanya mengaksentuasi pada jenis
penilaian yang pertama dan jenis yang kedua.

 ! 

Sebagai salah satu perwujudan dari usaha pembaharuan bidang pendidikan di Indonesia, ialah
dibakukannya Kurikulum 1975, yang di dalamnya tersurat juga suatu pedoman guru dalam
melaksanakan penilaian atau evaluasi hasil belajar siswa. Karena di atas telah disinggung bahwa
evaluasi yang menjadi tanggungjawab guru bidang studi adalah evaluasi formatif dan evaluasi
sumatif, maka untuk memberikan gambaran yang jelas dan tegas, berikut akan diuraikan batasan
pengertian dan teknik pelaksanaannya.

Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan oleh guru selama dalam perkembangan atau
dalam kurun waktu proses pelaksanaan suatu Program Pengajaran Semester. Dengan maksud
agar segera dapat mengetahui kemungkinan adanya penyimpang-penyimpangan, ketidak
sesuaian pelaksanaan dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Karena dilaksanakan
setelah selesai mengajarkan satu unit pengajaran (mungkin sesuatu topik atau pokok bahasan),
maka ternyata apabila ada ketidaksesuaian dengan tujuan segera dapat dibetulkan. Oleh karena
itu,fungsi dari pada evaluasi ini terutama ditujukan untuk memperbaiki proses bolajar mengajar.
Dan karena scope bahannya hanya satu unit pengajaran, dan dalam satu semester terdiri dari
beberapa unit, maka pelaksanaan evaluasi ini frekuensinya akan lebih banyak dibanding evaluasi
sumatif. Umumnya frekuensi tes formatif ini berkisar antara 2 ± 4 kali dalam satu semester.

Sedangkan yang dimaksud dengan evalusi sumatif adalah evaluasi yang dilaksanakan oleh guru
pada akhir semester. Jadi guru baru dapat melakukan evaluasi sumatif apabila guru yang
bersangkutan selesai mengajarkan seluruh pokok bahasan atau unit pengajaran yang merupakan
forsi dari semester yang bersangkutan. Oleh karena itu evaluasi ini dimaksudkan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai siswa selama satu semester. Jadi fungsinya untuk
mengetahui kemajuan anak didik.

Akhirnya, untuk menambah kejelasan didalam pelaksanaannya, berikut penulis rumuskan


perbedaan dari kedua jenis evaluasi tersebut.

  


Tujuannya untuk memperbaiki PBM. Tujuannya untuk mengetahui hasil atau
tingkat kemajuan belajar siswa.
1. Dilaksanakan setelah selesai
mengajarkan suatu unit 1. Dilaksanakan setelah
pengajaran tertentu. mengajarkan seluruh unit
pengajaran, yang menjadi forsi
1. Frekuensi 2 ± 4 kali dalam satu sesuatu semester.
semester. 2. Frekuensinya 1 x dalam satu
2. Lingkup atau scope bahannya semester.
sempit. 3. Lingkup atau scope bahannya
3. Obyeknya hanya terdapat suatu luas.
aspek perilaku. 4. Obyeknya meliputi berbagai
4. Bobot atau kadar nilainya aspek perilaku.
rendah. 5. Bobot atau kadar nilainya tinggi.

Mengingat karakteristik dari masing-masing jenis evaluasi itu, maka guna penentuan nilai akhir
(misalkan nilai raport), diberikan pedoman sebagai berikut :

Jika seorang siswa misalnya si Arief dalam suatu semester mengikuti evaluasi formatif 4 (empat)
kali dan hasilnya: 6, 8, 8, 10. Kemudian sewaktu mengikuti evaluasi sumatif mendapat nilai 9,
maka nilai akhir Arief untuk mata pelajaran itu menjadi: dibulatkan menjadi 9,00

Jadi bukannya:

dibulatkan menjadi 8,00


Yang terakhir panduan untuk menentukan nilai akhir itu menurut Kurikulum 1984
disempurnakan menjadi:

Rumus menentukan nilai raport:

Keterangan

N = nilai raport

p = nilai rata-rata evaluasi formatif

q = nilai rata-rata kegiatan kokurikuler

r = nilai evaluasi sumatif

Nilai pada p, q, dan r belum ada pembulatan, pembulatan baru dilakukan pada N (nilai raport).

1. ×

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa evaluasi adalah merupakan kegiatan yang meliputi
pengumpulan bukti-bukti yang kemudian dijadikah dasar dalam pengambilan keputusan tentang
keberhasilan siswa mengikuti pelajaran. Agar pengambilan keputusan tidak merupakan
perbuatan yang subyektif, maka diperlukan patokan tertentu. Kriteria tersebut berfungsi sebagai
ukuran, apakah seseorang telah memenuhi persyaratan untuk digolongkan sebagai siswa yang
berhasil, pandai, baik, naik kelas, lulus atau tidak. Kriteria penilaian itu disebutdengan istilah
³Standar Penilaian´. Dan standar penilaian yang dimaksud dibedakan menjadi 2 (dua) jenis,
yaitu:

1. Standar Penilaian Yang mutlak.


2. Standar Perilaian Yang Relatif.

Standar Penilaian Yang Mutlak.

Kriteria ini lebih dikenal dengan istilah ³Penilaian Acuan Patokan´ atau disingkat PAP. Dan
istilah ini merupakan terjemahan dari istilah asing ³*riterion Referenced´. Standarini bersifat
tetap atau bahkan tidak dapat ditawar. Dalam artian bahwa kriteria keberhasilan siswa itu tidak
dipengaruhi oleh prestasi suatu kelompok siswa. Apabila kita menggunakan standar ini, maka
keberhasilan atau kegagalan siswa dalam mengikuti pelajaran ditentukan berdasarkan kriteria
yang telah ditetapkan sebelumnya (sebelum evaluasi dilaksanakan). Pelaksanaanstandar PAP ini
dapat diberikan contoh sebagai berikut:

Misalnya untuk dapat dinyatakan lulus, siswa harus dapat menjawab dengan betul paling sedikit
70% dari pernyataan yang disediakan. Ini berarti bahwa siswa yang menjawab benar kurang dari
70% dari jumlah soal yang disediakan, dinyatatan tidak berhasil atau tidak lulus.

Langkahnya dapat didiskripsikan sebagai berikut:


1. Menetapkan kualifikasi nilai minimal yang dapat diterima, misalnya: 5,50; 6,0; atau 7,0
dan sebagainya, sebagai batas lulus atau passing grade.Atau batas kesalahan minimal
yang masih dapat dimaafkan dalam suatu penilaian. Ketentuan tersebut terserah kepada
guru.
2. Membandingkan angka nilai (prestasi) setiap siswa dengan nilai passing grade tersebut.
Secara teoritis maka mereka yang angka nilai prestasinya berada di bawah batas lulus,
dinyatakan tidak berhasil.

Standar Yang Relatif

Kriteria ini lebih dikenal dengan istilah ³Penilaian Acuan Normal´atau disingkat PAN. Dan
istilah ini merupakan alih bahasa dari istilah asing ³porm Referenced´. Berbeda dengan standar
mutlak, pada standar yang relatif ini keberhasilan siswa ditentukan oleh posisinya di antara
kelompok siswa yang mengikuti evaluasi. Dengan lain perkataan, bahwa keberhasilan seseorang
siswa dipengaruhi oleh tempat relatifnya dibandingkan dengan prestasi rata-rata kelompok.
Dengan menggunakan standar relatif, dapat terjadi bahwa siswa yang prosentasi (%) jawaban
yang benar hanya 50% dapat dinyatakan lulus atau berhasil, karena kebanyakan teman-teman
yang lain mencapai angka prosentasi yang lebih rendah. Sebagai contoh misalnya:

Dalam suatu kelas, ujian tulis IPS yang diikuti oleh 30 orang siswa diberikan 100 buah soal.
Ternyata kebanyakan siswa hanya berhasil menjwab 56 soal dengan betul, dan dapat dinyatakan
lulus. Pada kelas lain, dari 100 soal yang diujikan rata-rata siswa berhasil menjawab dengar
benar 90 soal, sehingga si Badu yang berhasil menjawab dengan benar 65 soal, dinyatakan tidak
berhasil atau gagal.

Dengan demikian kriteria keberhasilan masing-masing kelas tidak sama. Sehingga keberhasilan
seseorang siswa baru dapat ditentukan setelah prestasi kelompoknya diketahui. Dan jenis standar
ini tepat dipakai oleh guru, apabila ia akan mengetahui kedudukan siswa dalam kelompok/
kelasnya. Mengingat karakteristik dari masing-masing standar itu, dan sesuai dengan prinsip
ketuntasan belajar, bahwa ³pengolahan skor yang diperoleh siswa diperlakukan dengan
menggunakan standar mutlak atau Penilaian Acuan Patokan (PAP)´.

Misalnya:

Item soal yang harus dikerjakan siswa adalah 40 buah. Setiap butir soal yang dapat dijawab
benar oleh siswa diberi skor 1 (satu). Jadi skor maksimal yang mungkin dicapai adalah 40. Ani
memperoleh skor 24. Ini berarti Ani menguasai

tujuan/bahan pelajaran, maka nilai untuk Ani adalah 6,00

tujuan/bahan pelajaran, maka Budi akan mendapat nilai 9,00

Disamping itu penulis informasikan pula, bahwa skala nilai yang dipergunakan dalam buku
raport dan STTB adalah skala 0 ± 10. Sehingga taraf penguasaan 60% sama dengan nilai 6,00
(enam), dan taraf penguasaan 90% sama dengan nilai 9,00 (sembilan), dan seterusnya.
"

Atas dasar uraian-uraian sebagaimana dikemukakan di atas, dapatlah dibuatkan suatu ikhtisar
yang berkenaan dengan topik BAB I sebagai berikut:

1. Evaluasi Belajar adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan
dasar penetapan ada tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri
siswa, setelah mengikuti proses belajar mengajar.
2. Tujuan diadakan evaluasi belajar adalah:

2.1. Untuk memperbaiki proses belajar mengajar (PBM).

2.2. Untuk menemukan angka kemajuan hasil belajar siswa.

2.3. Untuk penjurusan.

2.4. Untuk mengenal latar belakang siswa yang mendapatkan kesulitan belajar.

1. Asas-asas evaluasi belajar adalah meliputi:

3.1. Dilaksanakan secara terus menerus.

3.2. Menyeluruh.

3.3. Obyektif.

3.4. Dilaksanakan dengan alat pengukur yang baik.

3.5. Deskriminatif.

1. Jenis-jenis evaluasi yang dilaksanakan di sekolah adakag:

4.1. Pre Test

4.2. Post Test

4.3. Formatif Test

4.4. Sumiatif Test

4.5. Diagnostik Test

4.6. Placement Test


Jenis test yang menjadi tanggungjawab guru bidang studi/guru fak adalah kecuali 4.5 dan 4.6 di
atas.

1. Kriteria evaluasi dapat dibedakan menjadi:

5.1. Penilaian Acuan Patokan (PAP) atau Criterion Referenced.

5.2. Penilaian Acuan Norma (PAN) atau Norm Referenced.

Standar atau kriteria evaluasi yang ideal untuk dipakai di sekolah adalah standar PAP.

04/29/2010 Ditulis oleh zaifbio | Evaluasi Pendidikan | 2 Komentar

  #  ×   × 


$  ×   ×
$ #



Penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah
ditetapkan itu tercapai atau tidak. Dengan kata lain, penilaian berfungsi sebagai alat untuk
mengtahui keberhasilan proses dan hasil belajar siswa. Dalam sistem pendidikan nasional
rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan
klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga
ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.

Salah satu prinsip dasar yang harus senantiasa diperhatikan dan dipegangi dalam rangka evaluasi
hasil belajar adalah prinsip kebulatan, dengan prinsip evaluator dalam melaksanakan evaluasi
hasil belajar dituntut untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap peserta didik, baik dari
segi pemahamannya terhadap materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan (aspek kognitif),
maupun dari segi penghayatan (aspek afektif), dan pengamalannya (aspek psikomotor).

Ketiga aspek atau ranah kejiwaan itu erat sekali dan bahkan tidak mungkin dapat dilepaskan dari
kegiatan atau proses evaluasi hasil belajar. Benjamin S. Bloom dan kawan-kawannya itu
berpendapat bahwa pengelompokkan tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu kepada
tiga jenis domain (daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik, yaitu:

a) Ranah proses berfikir (cognitive domain)

b) Ranah nilai atau sikap (affective domain)

c) Ranah keterampilan (psychomotor domain)

Dalam konteks evaluasi hasil belajar, maka ketiga domain atau ranah itulah yang harus dijadikan
sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi hasil belajar. Sasaran kegiatan evaluasi hasil belajar
adalah:
1) Apakah peserta didik sudah dapat memahami semua bahan atau materi pelajaran yang telah
diberikan pada mereka?

2) Apakah peserta didik sudah dapat menghayatinya?

3) Apakah materi pelajaran yang telah diberikan itu sudah dapat diamalkan secara kongkret
dalam praktek atau dalam kehidupannya sehari-hari?

Ketiga ranah tersebut menjadi obyek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah
kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan dengan
kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.


 ×

%&'× () !('"'


×

%&&'×

Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala
upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif
berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal,
memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Dalam
ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah
sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang atau aspek yang dimaksud adalah:

 Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)

Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali
tentang nama, istilah, ide, rumus-rumus, dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk
menggunkannya. Pengetahuan atau ingatan adalah merupakan proses berfikir yang paling
rendah.

Salah satu contoh hasil belajar kognitif pada jenjang pengetahuan adalah dapat menghafal surat
al-µAshar, menerjemahkan dan menuliskannya secara baik dan benar, sebagai salah satu materi
pelajaran kedisiplinan yang diberikan oleh guru Pendidikan Agama Islam di sekolah.

 Pemahaman (comprehension)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu
diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat
melihatnya dari berbagai segi. Seseorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia
dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan
menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang
setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.

Salah satu contoh hasil belajar ranah kognitif pada jenjang pemahaman ini misalnya: Peserta
didik atas pertanyaan Guru Pendidikan Agama Islam dapat menguraikan tentang makna
kedisiplinan yang terkandung dalam surat al-µAshar secara lancar dan jelas.

 Penerapan (application)

Adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara
ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi
yang baru dan kongkret. Penerapan ini adalah merupakan proses berfikir setingkat lebih tinggi
ketimbang pemahaman.

Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang penerapan misalnya: Peserta didik mampu
memikirkan tentang penerapan konsep kedisiplinan yang diajarkan Islam dalam kehidupan
sehari-hari baik dilingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

 Analisis (analysis)

Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan
menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagian-
bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya. Jenjang analisis adalah
setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang aplikasi.

Contoh: Peserta didik dapat merenung dan memikirkan dengan baik tentang wujud nyata dari
kedisiplinan seorang siswa dirumah, disekolah, dan dalam kehidupan sehari-hari di tengah-
tengah masyarakat, sebagai bagian dari ajaran Islam.

 Sintesis (syntesis)

Adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Sisntesis
merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga
menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau bebrbentuk pola baru. Jenjang sintesis
kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada jenjang analisis. Salah satu jasil belajar kognitif
dari jenjang sintesis ini adalah: peserta didik dapat menulis karangan tentang pentingnya
kedisiplinan sebagiamana telah diajarkan oleh islam.

 Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)

Adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif dalam taksonomi Bloom.
Penilian/evaluasi disini merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan
terhadap suatu kondisi, nilai atau ide, misalkan jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan
maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik sesuai dengan patokan-patokan atau
kriteria yang ada.

Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang evaluasi adalah: peserta didik mampu
menimbang-nimbang tentang manfaat yang dapat dipetik oleh seseorang yang berlaku disiplin
dan dapat menunjukkan mudharat atau akibat-akibat negatif yang akan menimpa seseorang yang
bersifat malas atau tidak disiplin, sehingga pada akhirnya sampai pada kesimpulan penilaian,
bahwa kwdisiplinan merupakan perintah Allah SWT yang waji dilaksanakan dalam sehari-hari.

Keenam jenjang berpikir yang terdapat pada ranah kognitif menurut Taksonomi Bloom itu, jika
diurutkan secara hirarki piramidal adalah sebagai tertulis pada gambar 1.

Keenam jenjang berpikir ranah kognitif bersifat kontinum dan overlap (tumpang tindih), dimana
ranah yang lebih tinggi meliputi semua ranah yang ada dibawahnya. Overlap di antara enam
jenjang berfikir itu akan lebih jelas terlihat pada gambar 2.

Penilaian (Evaluation)

Sintesis (Syntesis)

Analisis (Analysis)

Penerapan (Aplikation)

Pemahaman (*omprehensi)

Pengetahuan (Knowledge)

 c &Y   



     



2
1

 c %è           





Keterangan : |engetahuan (1) adalah merupakan jenjang berpikir paling dasar. |emahaman (2)
mencakup pengetahuan (1). Aplikasi atau penerapan (3) mencakup pemahaman (2)dan
pengetahuan (1). Sintesis (5) meliputi juga analisis (4), aplikasi (3), pemahaman (2) dan
pengetahuan (1). Evaluasi (6) meliputi juga sintesis (5) , analisis (4), aplikasi (3), pemahaman (2)
dan pengetahuan (1).

Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan
intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan
masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan beberapa ide,
gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan
demikian aspek kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental
yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu
evaluasi.

%&%()'×

Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir termasuk di dalamnya kemampuan


memahami, menghafal, mengaplikasi, menganalisis, mensistesis dan kemampuan mengevaluasi.
Menurut Taksonomi Bloom (Sax 1980), kemampuan kognitif adalah kemampuan berfikir secara
hirarki yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.

Pada tingkat pengetahuan, peserta didik menjawab pertanyaan berdasarkan hafalan saja. Pada
tingkat pemahaman peserta didik dituntut juntuk menyatakan masalah dengan kata-katanya
sendiri, memberi contoh suatu konsep atau prinsip. Pada tingkat aplikasi, peserta didik dituntut
untuk menerapkan prinsip dan konsep dalam situasi yang baru. Pada tingkat analisis, peserta
didik diminta untuk untuk menguraikan informasi ke dalam beberapa bagian, menemukan
asumsi, membedakan fakta dan pendapat serta menemukan hubungan sebab²akibat. Pada
tingkat sintesis, peserta didik dituntut untuk menghasilkan suatu cerita, komposisi, hipotesis atau
teorinya sendiri dan mensintesiskan pengetahuannya. Pada tingkat evaluasi, peserta didik
mengevaluasi informasi seperti bukti, sejarah, editorial, teori-teori yang termasuk di dalamnya
judgement terhadap hasil analisis untuk membuat kebijakan.

Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan
intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan
masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide,
gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut.
Dengan demikian aspek kognitif adalah sub-taksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan
mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu
evaluasi. Aspek kognitif terdiri atas enam tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda.
Keenam tingkat tersebut yaitu:

1. Tingkat pengetahuan (knowledge), pada tahap ini menuntut siswa untuk mampu
mengingat (recall) berbagai informasi yang telah diterima sebelumnya, misalnya fakta,
rumus, terminologi strategi problem solving dan lain sebagianya.
2. Tingkat pemahaman (comprehension), pada tahap ini kategori pemahaman dihubungkan
dengan kemampuan untuk menjelaskan
pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri. Pada tahap ini
peserta didik diharapkan menerjemahkan atau menyebutkan kembali yang telah didengar
dengan kata-kata sendiri.
3. Tingkat penerapan (application), penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan
atau menerapkan informasi yang telah dipelajari kedalam situasi yang baru, serta
memecahlcan berbagai masalah yang timbuldalam kehidupan sehari-hari.
4. Tingkat analisis (analysis), analisis merupakan kemampuan
mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu
fakta, konsep, pendapat, asumsi, hipotesa atau kesimpulan, dan memeriksa setiap
komponen tersebut untuk melihat ada atau tidaknya kontradiksi. Dalam tingkat ini peserta
didik diharapkan menunjukkan hubungan di antara berbagai gagasan dengan cara
membandingkan gagasan tersebut dengan standar, prinsip atau prosedur yang telah
dipelajari.
5. Tingkat sintesis (synthesis), sintesis merupakan kemampuan seseorang dalam mengaitkan
dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk
pola baru yang lebih menyeluruh.
6. Tingkat evaluasi (evaluation), evaluasi merupakan level tertinggi yang mengharapkan
peserta didik mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan,
metode, produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu.

Apabila melihat kenyataan yang ada dalam sistem pendidikan yang diselenggarakan, pada
umumnya baru menerapkan beberapa aspek kognitif tingkat rendah, seperti pengetahuan,
pemahaman dan sedikit penerapan. Sedangkan tingkat analisis, sintesis dan evaluasi jarang sekali
diterapkan. Apabila semua tingkat kognitif diterapkan secara merata dan terus-menerus maka
hasil pendidikan akan lebih baik.

Tabel Kaitan antara kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek kognitif

No Tingkatan Deskripsi
1 Pengetahuan Arti: Pengetahuan terhadap fakta, konsep, definisi,
nama, peristiwa, tahun, daftar, teori, prosedur,dll.

Contoh kegiatan belajar:

 Mengemukakan arti
 Menentukan lokasi
 Mendriskripsikan sesuatu
 Menceritakan apa yang terjadi
 Menguraikan apa yang terjadi

2 Pemahaman Arti:pengertian terhadap hubungan antar-faktor, antar


konsep, dan antar data hubungan sebab akibat penarikan
kesimpulan

Contoh kegiatan belajar:

¨ Mengungkapakan gagasan dan pendapat dengan


kata-kata sendiri

¨ Membedakan atau membandingkan

¨ Mengintepretasi data

¨ Mendriskripsikan dengan kata-kata sendiri

¨ Menjelaskan gagasan pokok

¨ Menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri

3 Aplikasi Arti: Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan


masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan
sehari-hari

Contoh kegiatan:

 Menghitung kebutuhan
 Melakukan percobaan
 Membuat peta
 Membuat model
 Merancang strategi

4 Analisis Artinya: menentukan bagian-bagian dari suatu masalah,


penyelesaian, atau gagasan dan menunjukkan hubungan
antar bagian tersebut

Contoh kegiatan belajar:

 Mengidentifikasi faktor penyebab


 Merumuskan masalah
 Mengajukan pertanyaan untuk mencari informasi
 Membuat grafik
 Mengkaji ulang

5 Sintesis Artinya: menggabungkan berbagai informasi menjadi


satu kesimpulan/konsepatau meramu/merangkai
berbagai gagasan menjadi suatu hal yang baru

Contoh kegiatan belajar:

v Membuat desain

v Menemukan solusi masalah

v Menciptakan produksi baru,dst.


6 Evaluasi Arti: mempertimbangkan dan menilai benar-salah, baik-
buruk, bermanfaat-tidak bermanfaat

Contoh kegiatan belajar:

Mempertahankan pendapat

Membahas suatu kasus

Memilih solusi yang lebih baik

Menulis laporan,dst.

%&*('"'×

Apabila melihat kenyataan yang ada dalam sistem pendidikan yang diselenggarakan, pada
umumnya baru menerapkan beberapa aspek kognitif tingkat rendah, seperti pengetahuan,
pemahaman dan sedikit penerapan. Sedangkan tingkat analisis, sintesis dan evaluasi jarang sekali
diterapkan. Apabila semua tingkat kognitif diterapkan secara merata dan terus-menerus maka
hasil pendidikan akan lebih baik. Pengukuran hasil belajar ranah kognitif dilakukan dengan tes
tertulis.

Bentuk tes kognitif diantaranya; (1) tes atau pertanyaan lisan di kelas, (2) pilihan ganda, (3)
uraian obyektif, (4) uraian non obyektif atau uraian bebas, (5) jawaban atau isian singkat, (6)
menjodohkan, (7) portopolio dan (8) performans.

Cakupan yang diukur dalam ranah Kognitif adalah:

a. Ingatan (C1) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat. Ditandai dengan kemampuan
menyebutkan simbol, istilah, definisi, fakta, aturan, urutan, metode.
1. Pemahaman (C2) yaitu kemampuan seseorang untuk memahami tentang sesuatu hal.
Ditandai dengan kemampuan menerjemahkan, menafsirkan, memperkirakan,
menentukan, menginterprestasikan.

c. Penerapan (C3), yaitu kemampuan berpikir untuk menjaring & menerapkan dengan tepat
tentang teori, prinsip, simbol pada situasi baru/nyata. Ditandai dengan kemampuan
menghubungkan, memilih, mengorganisasikan, memindahkan, menyusun, menggunakan,
menerapkan, mengklasifikasikan, mengubah struktur.

1. Analisis (C4), Kemampuan berfikir secara logis dalam meninjau suatu fakta/ objek
menjadi lebih rinci. Ditandai dengan kemampuan membandingkan, menganalisis,
menemukan, mengalokasikan, membedakan, mengkategorikan.

e. Sintesis (C5), Kemampuan berpikir untuk memadukan konsep-konsep secara logis sehingga
menjadi suatu pola yang baru. Ditandai dengan kemampuan mensintesiskan, menyimpulkan,
menghasilkan, mengembangkan, menghubungkan, mengkhususkan.

1. Evaluasi (C6), Kemampuan berpikir untuk dapat memberikan pertimbangan terhadap
sustu situasi, sistem nilai, metoda, persoalan dan pemecahannya dengan menggunakan
tolak ukur tertentu sebagai patokan. Ditandai dengan kemampuan menilai, menafsirkan,
mempertimbangkan dan menentukan.

Contohnya siswa dibina kompetensinya menyangkut kemampuan melukis jaring-jaring kubus.


Namun, untuk dapat melukis jaring-jaring kubus setidaknya diperlukan pengetahuan (kognitif)
tentang bentuk-bentuk jaring kubus dan cara-cara melukis garis-garis tegak lurus.

%%' " () !('"'


 "

%%&' "

Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup
watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan
bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan
kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam
berbagai tingkah laku. Seperti: perhatiannnya terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam,
kedisiplinannya dalam mengikuti mata pelajaran agama disekolah, motivasinya yang tinggi
untuk tahu lebih banyak mengenai pelajaran agama Islam yang di terimanya, penghargaan atau
rasa hormatnya terhadap guru pendidikan agama Islam dan sebagainya.

Ranah afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu: (1) receiving (2) responding
(3) valuing (4) organization (5) characterization by evalue or calue complex

Receiving atau attending (= menerima atua memperhatikan), adalah kepekaan seseorang dalam
menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah,
situasi, gejala dan lain-lain. Termasuk dalam jenjang ini misalnya adalah: kesadaran dan
keinginan untuk menerima stimulus, mengontrol dan menyeleksi gejala-gejala atau rangsangan
yang datang dari luar. Receiving atau attenting juga sering di beri pengertian sebagai kemauan
untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek. Pada jenjang ini peserta didik dibina agar
mereka bersedia menerima nilai atau nilai-nilai yang di ajarkan kepada mereka, dan mereka mau
menggabungkan diri kedalam nilai itu atau meng-identifikasikan diri dengan nilai itu. Contah
hasil belajar afektif jenjang receiving , misalnya: peserta didik bahwa disiplin wajib di tegakkan,
sifat malas dan tidak di siplin harus disingkirkan jauh-jauh.

Responding (= menanggapi) mengandung arti ³adanya partisipasi aktif´. Jadi kemampuan


menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya
secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya salah satu cara. Jenjang
ini lebih tinggi daripada jenjang receiving. Contoh hasil belajar ranah afektif responding adalah
peserta didik tumbuh hasratnya untuk mempelajarinya lebih jauh atau menggeli lebih dalam lagi,
ajaran-ajaran Islam tentang kedisiplinan.

aaluing (menilai=menghargai). Menilai atau menghargai artinya mem-berikan nilai atau


memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu
tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Valuing adalah merupakan
tingkat afektif yang lebih tinggi lagi daripada receiving dan responding. Dalam kaitan dalam
proses belajar mengajar, peserta didik disini tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan
tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena, yaitu baik atau buruk.
Bila suatu ajaran yang telah mampu mereka nilai dan mampu untuk mengatakan ³itu adalah
baik´, maka ini berarti bahwa peserta didik telah menjalani proses penilaian. Nilai itu mulai di
camkan (internalized) dalam dirinya. Dengan demikian nilai tersebut telah stabil dalam peserta
didik. Contoh hasil belajar efektif jenjang valuing adalah tumbuhnya kemampuan yang kuat pada
diri peseta didik untuk berlaku disiplin, baik disekolah, dirumah maupun di tengah-tengah
kehidupan masyarakat.

èrganization (=mengatur atau mengorganisasikan), artinya memper-temukan perbedaan nilai


sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa pada perbaikan umum. Mengatur
atau mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi,
termasuk didalamnya hubungan satu nilai denagan nilai lain., pemantapan dan perioritas nilai
yang telah dimilikinya. Contoh nilai efektif jenjang organization adalah peserta didik mendukung
penegakan disiplin nasional yang telah dicanangkan oleh bapak presiden Soeharto pada
peringatan hari kemerdekaan nasional tahun 1995.

*haracterization by evalue or calue complex (=karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek
nilai), yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki oleh seseorang, yang
mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Disini proses internalisasi nilai telah
menempati tempat tertinggi dalal suatu hirarki nilai. Nilai itu telah tertanam secara konsisten
pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya. Ini adalah merupakan tingkat efektif
tertinggi, karena sikap batin peserta didik telah benar-benar bijaksana. Ia telah memiliki
phyloshopphy of life yang mapan. Jadi pada jenjang ini peserta didik telah memiliki sistem nilai
yang telah mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang lama, sehingga membentu
karakteristik ³pola hidup´ tingkah lakunya menetap, konsisten dan dapat diramalkan. Contoh
hasil belajar afektif pada jenjang ini adalah siswa telah memiliki kebulatan sikap wujudnya
peserta didik menjadikan perintah Allah SWT yang tertera di Al-Quran menyangkut disiplinan,
baik kedisiplinan sekolah, dirumah maupun ditengah-tengan kehidupan masyarakat.

Secara skematik kelima jenjang afektif sebagaimana telah di kemukakan dalam pembicaraan
diatas, menurut A.J Nitko (1983) dapat di gambarkan sebagai berikut:

Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif
kemampuan yang diukur adalah: Menerima (memperhatikan), Merespon, Menghargai,
Mengorganisasi, dan Karakteristik suatu nilai.

Skala yang digunakan untuk mengukur ranah afektif seseorang terhadap kegiatan suatu objek
diantaranya skala sikap. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak
(negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang.
Ada tiga komponen sikap, yakni kognisi, afeksi, dan konasi. Kognisi berkenaan dengan
pengetahuan seseorang tentang objek yang dihadapinya. Afeksi berkenaan dengan perasaan
dalam menanggapi objek tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan berbuat
terhadap objek tersebut. Oleh sebab itu, sikap selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek
tertentu.

Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah
pernyataan itu didukung atau ditolaknya, melalui rentangan nilai tertentu. Oleh sebab itu,
pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua kategori, yakni pernyataan positif dan pernyataan
negatif.

Salah satu skala sikap yang sering digunakan adalah skala Likert. Dalam skala Likert,
pernyataan-pernyataan yang diajukan, baik pernyataan positif maupun negatif, dinilai oleh
subjek dengan sangat setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak setuju, sangat tidak setuju.

%%%()' "

Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif
(Andersen, 1981:4). Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua,
perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah
intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Beberapa
perasaan lebih kuat dari yang lain, misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka. Sebagian
orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain. Arah perasaan
berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan
itu baik atau buruk.

Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif, sedang kecemasan dimaknai negatif. Bila
intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama, maka karakteristik afektif berada dalam
suatu skala yang kontinum. Target mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagai arah dari
perasaan. Bila kecemasan merupakan karakteristik afektif yang ditinjau, ada beberapa
kemungkinan target. Peserta didik mungkin bereaksi terhadap sekolah, matematika, situasi
sosial, atau pembelajaran. Tiap unsur ini bisa merupakan target dari kecemasan. Kadang-kadang
target ini diketahui oleh seseorang namun kadang-kadang tidak diketahui. Seringkali peserta
didik merasa cemas bila menghadapi tes di kelas. Peserta didik tersebut cenderung sadar bahwa
target kecemasannya adalah tes.

Ada 5 tipe karakteristik afektif yang penting berdasarkan tujuannya, yaitu sikap, minat, konsep
diri, nilai, dan moral.

1. Sikap

Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap
suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif,
kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati
dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap
sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik
terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.

Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk
merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap
peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran.
Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap
mata pelajaran, misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti
pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan ini
merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta
didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.

1. Minat

Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang
mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan
untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia
(1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal
penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang
memiliki intensitas tinggi.

Penilaian minat dapat digunakan untuk:

 mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran,
 mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya,
 pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik,
 menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas,

Mengelompokkan didik yang memiliki peserta minat sama, f. acuan dalam menilai kemampuan
peserta didik secara keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam penyampaian materi,
 mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik,
 bahan pertimbangan menentukan program sekolah,
 meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

1. Konsep Diri

Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan
kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah
afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah.
Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah
kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.

Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui
kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik.
Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta
didik dengan tepat.

Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri adalah
sebagai berikut:

 Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.


 Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
 Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya.
J Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
J Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
J Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input
peserta didik.
J Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
J Peserta didik dapat mengetahui ketuntasan belajarnya.
J Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik.
J Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki.
J Peserta didik memahami kemampuan dirinya.
J Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik.
J Mempermudah pendidik untuk melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk
instropeksi pembelajaran yang dilakukan.
J Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain.
J Peserta didik mampu menilai dirinya.
J Peserta didik dapat mencari materi sendiri.
J Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya.

1. Nilai

Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau
perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap
mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan
nilai mengacu pada keyakinan.
Target nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan
perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan
tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu.

Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7), yaitu nilai adalah suatu objek,
aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan
kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide
sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan
pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan
signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi
positif terhadap masyarakat.

1. Moral

Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang per-kembangan moral anak. Namun Kohlberg
mengabaikan masalah hubungan antara Àudgement moral dan tindakan moral. Ia hanya
mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema
hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak.

Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan
terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang
lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan
keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi
moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.

Ranah afektif lain yang penting adalah:

 Kejujuran: peserta didik harus belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan
orang lain.
 Integritas: peserta didik harus mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan
artistik.
 Adil: peserta didik harus berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang
sama dalam memperoleh pendidikan.
 Kebebasan: peserta didik harus yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan
yang bertanggung jawab secara maksimal kepada semua orang.

Tabel Kaitan antara kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek Afektif

Tingkat Contoh kegiatan pembelajaran


Penerimaan Arti : Kepekaan (keinginan menerima/memperhatikan)
(Receiving) terhadap fenomena/stimult menunjukkan perhatian
terkontrol dan terseleksi

Contoh kegiatan belajar :

-sering mendengarkan musik

- senang membaca puisi

- senang mengerjakan soal matematik

- ingin menonton sesuatu

- senang menyanyikan lagu


Responsi Arti : menunjukkan perhatian aktif melakukan sesuatu
(Responding) dengan/tentang fenomena setuju, ingin, puas meresponsi
(mendengar)

Contoh kegiatan belajar :

ü mentaati aturan

ü mengerjakan tugas

ü mengungkapkan perasaan

ü menanggapi pendapat

ü meminta maaf atas kesalahan

ü mendamaikan orang yang bertengkar

ü menunjukkan empati

ü menulis puisi

ü melakukan renungan

ü melakukan introspeksi
Acuan Nilai Arti : Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung
nilai, termotivasi berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang
( Valuing) pasti

Tingkatan : menerima, lebih menyukai, dan menunjukkan


komitmen terhadap suatu nilai
Contoh Kegiatan Belajar :

 mengapresiasi seni
 menghargai peran
 menunjukkan perhatian
 menunjukkan alasan
 mengoleksi kaset lagu, novel, atau barang antik
 menunjukkan simpati kepada korban pelanggaran
HAM
 menjelaskan alasan senang membaca novel

Arti : mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam suatu


sistem menentukan saling hubungan antar nilai
Organisasi memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima di
mana-mana memantapkan suatu nilaimyang dominan dan
diterima di mana-mana

Tingkatan : konseptualisasi suatu nilai, organisasi suatu


sistem nilai

Contoh kegiatan belajar :

 rajin, tepat waktu


 berdisiplin diri mandiri dalam bekerja secara
independen
 objektif dalam memecahkan masalah
 mempertahankan pola hidup sehat
 menilai masih pada fasilitas umum dan mengajukan
saran perbaikan
 menyarankan pemecahan masalah HAM
 menilai kebiasaan konsumsi
 mendiskusikan cara-cara menyelesaikan konflik
antar- teman

%%*('"' "

Kompetensi siswa dalam ranah afektif yang perlu dinilai utamanya menyangkut sikap dan minat
siswa dalam belajar. Secara teknis penilaian ranah afektif dilakukan melalui dua hal yaitu: a)
laporan diri oleh siswa yang biasanya dilakukan dengan pengisian angket anonim, b)
pengamatan sistematis oleh guru terhadap afektif siswa dan perlu lembar pengamatan.

Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif
kemampuan yang diukur adalah:
1. Menerima (memperhatikan), meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala, kesadaran,
kerelaan, mengarahkan perhatian
2. Merespon, meliputi merespon secara diam-diam, bersedia merespon, merasa puas
dalam merespon, mematuhi peraturan
3. Menghargai, meliputi menerima suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen
terhadap nilai
4. Mengorganisasi, meliputi mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan abstrak,
mengorganisasi sistem suatu nilai

Karakteristik suatu nilai, meliputi falsafah hidup dan sistem nilai yang dianutnya. Contohnya
mengamati tingkah laku siswa selama mengikuti proses belajar mengajar berlangsung.

Skala yang sering digunakan dalam instrumen (alat) penilaian afektif adalah Skala Thurstone,
Skala Likert, dan Skala Beda Semantik.

(' "'+'!,,'

7 6 5 4 3 2 1
Saya senang balajar sejarah
Pelajaran sejarah bermanfaat
Pelajaran sejarah membosankan
Dst«.

(' ""+'!,,'

1. Pelajaran sejarah bermanfaat SS S TS STS

1. Pelajaran sejarah sulit

1. Tidak semua harus belajar sejarah

1. Sekolah saya menyenangkan

×+

SS : Sangat setuju

S : Setuju

TS : Tidak setuju

STS : Sangat tidak setuju


Contoh Lembar Penilaian Diri Siswa

Minat Membaca

Nama Pembelajar:_____________________________

No Deskripsi Ya/Tidak
1 Saya lebih suka membaca dibandingkan dengan
melakukan hal-hal lain
2 Banyak yang dapat saya ambil hikmah dari buku yang
saya baca
3 Saya lebih banyak membaca untuk waktu luang saya
4 Dst««««..

%*'"" () !('"'


""

%*&'"

Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan
bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah
ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari,
memukul, dan sebagainya. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan oleh Simpson (1956)
yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill)
dan kemampuan bertindak individu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan
kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru
tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). Hasi belajar kognitif dan hasil
belajar afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta didik telah menunjukkan
perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan
ranah afektif dengan materi kedisiplinan menurut agama Islam sebagaimana telah dikemukakan
pada pembiraan terdahulu, maka wujud nyata dari hasil psikomotor yang merupakan kelanjutan
dari hasil belajar kognitif afektif itu adalah; (1) peserta didik bertanya kepada guru pendidikan
agama Islam tentang contoh-contoh kedisiplinan yang telah ditunjukkan oleh Rosulullah SAW,
para sahabat, para ulama dan lain-lain; (2) peseta didik mencari dan membaca buku-buku,
majalah-majalah atau brosur-brosur, surat kabar dan lain-lain yang membahas tentang
kedisiplinan; (3) peserta didik dapat memberikan penejelasan kepada teman-teman sekelasnya di
sekolah, atau kepada adik-adiknya di rumah atau kepada anggota masyarakat lainnya, tentang
kedisiplinan diterapkan, baik di sekolah, di rumah maupun di tengah-tengah kehidupan
masyarakat; (4) peserta didik menganjurkan kepada teman-teman sekolah atau adik-adiknya,
agar berlaku disiplin baik di sekolah, di rumah maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat;
(5) peserta didik dapat memberikan contoh-contoh kedisiplinan di sekolah, seperti datang ke
sekolah sebelum pelajaran di mulai, tertib dalam mengenakan seragam sekolah, tertib dan tenag
dalam mengikuti pelajaran, di siplin dalam mengikuti tata tertib yang telah ditentukan oleh
sekolah, dan lain-lain; (6) peserta didik dapat memberikan contoh kedisiplinan di rumah, seperti
disiplin dalam belajar, disiplin dalam mennjalannkan ibadah shalat, ibadah puasa, di siplin dalam
menjaga kebersihan rumah, pekarangan, saluran air, dan lain-lain; (7) peserta didik dapat
memberikan contoh kedisiplinan di tengah-tengah kehidupan masyarakat, seperti menaati rambu-
rambu lalu lintas, tidak kebut-kebutan, dengan suka rela mau antri waktu membeli karcis, dan
lain-lain, dan (8) peserta didik mengamalkan dengan konsekuen kedisiplinan dalam belajar,
kedisiplinan dalam beribadah, kedisiplinan dalam menaati peraturan lalu lintas, dan sebagainya.

%*%()'"

Ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan
manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Ranah psikomotor adalah ranah yang
berhubungan aktivitas fisik, misalnya; menulis, memukul, melompat dan lain sebagainya.

Tabel Kaitan antara kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek Psikomotorik

Tingkat Deskripsi
I. Gerakan Refleks Arti: gerakan refleks adalah basis semua perilaku bergerak,
respons terhadap stimulus tanpa sadar.

Misalnya:melompat,menunduk,berjalan,menggerakkan
leher dan kepala, menggenggam, memegang

Contoh kegiatan belajar:

- mengupas mangga dengan pisau

- memotong dahan bunga

- menampilkan ekspresi yang berbeda

- meniru gerakan polisi lalulintas, juru parkir

- meniru gerakan daun berbagai tumbuhan yang diterpa


angin
II Gerakan dasar Arti: gerakan ini muncul tanpa latihan tapi dapat
(basic fundamental Diperhalus melalui praktik gerakan ini terpola dan dapat
movements) ditebak

Contoh kegiatan belajar:

 ö contoh gerakan tak berpindah: bergoyang,


membungkuk, merentang, mendorong, menarik,
memeluk, berputar
 ö contoh gerakan berpindah: merangkak, maju
perlahan-lahan, muluncur, berjalan, berlari,
meloncat-loncat, berputar mengitari, memanjat.
 ö Contoh gerakan manipulasi: menyusun balok/blok,
menggunting, menggambar dengan krayon,
memegang dan melepas objek, blok atau mainan.
 ö Keterampilan gerak tangan dan jari-jari:
memainkan bola, menggambar.

III. Gerakan Arti : Gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu


Persepsi kemampuan perseptual

( Perceptual Contoh kegiatan belajar:


obilities)
¨ menangkap bola, mendrible bola

¨ melompat dari satu petak ke petak lain dengan 1 kali


sambil menjaga keseimbangan

¨ memilih satu objek kecil dari sekelompok objek yang


ukurannya bervariasi

¨ membaca melihat terbangnya bola pingpong

¨ melihat gerakan pendulun menggambar simbol geometri

¨ menulis alfabet

¨ mengulangi pola gerak tarian

¨ memukul bola tenis, pingpong

¨ membedakan bunyi beragam alat musik

¨ membedakan suara berbagai binatang

¨ mengulangi ritme lagu yang pernah didengar

¨ membedakan berbagai tekstur dengan meraba

IV. Gerakan Arti: gerak lebih efisien, berkembang melalui kematangan


Kemampuan fisik dan belajar
(Psycal abilities)
Contoh kegiatan belajar:

menggerakkan otot/sekelompok otot selama waktu tertentu

berlari jauh
mengangkat beban

menarik-mendorong

melakukan push-up

kegiatan memperkuat lengan, kaki dan perut

menari

melakukan senam

melakukan gerakan pesenam, pemain biola, pemain bola


V. gerakan Arti: dapat mengontrol berbagai tingkat gerak ± terampil,
terampil (Skilled tangkas, cekatan melakukan gerakan yang sulit dan rumit
movements) (kompleks)

Contoh kegiatan belajar:

 melakukan gerakan terampil berbagai cabang


olahraga
 menari, berdansa
 membuat kerajinan tangan
 menggergaji
 mengetik
 bermain piano
 memanah
 skating
 melakukan gerak akrobatik
 melakukan koprol yang sulit

VI. Gerakan indah Arti: mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan


dan kreatif
- gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien
(Non-discursive dan indah
communicatio)
- gerakan kreatif: gerakan-gerakan pada tingkat
tertinggi untuk mengkomunikasikan peran

Contoh kegiatan belajar:

v kerja seni yang bermutu (membuat patung, melukis,


menari baletr

v melakukan senam tingkat tinggi


v bermain drama (acting)

v keterampilan olahraga tingkat tinggi

%**('"'"

Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (1980)
menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung
dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung, (2)
sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk
mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran
selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya. Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat
bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan
sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan,
(3) kecepatan mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5)
keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan.

Dari penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau
keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat
proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau sesudah proses
berlangsung dengan cara mengetes peserta didik.

Penilaian psikomotorik dapat dilakukan dengan menggunakan observasi atau pengamatan.


Observasi sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu
ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya
maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain, observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan
proses belajar atau psikomotorik. Misalnya tingkah laku peserta didik ketika praktik, kegiatan
diskusi peserta didik, partisipasi peserta didik dalam simulasi, dan penggunaan alins ketika
belajar.

Observasi dilakukan pada saat proses kegiatan itu berlangsung. Pengamat terlebih dahulu harus
menetapkan kisi-kisi tingkah laku apa yang hendak diobservasinya, lalu dibuat pedoman agar
memudahkan dalam pengisian observasi. Pengisian hasil observasi dalam pedoman yang dibuat
sebenarnya bisa diisi secara bebas dalam bentuk uraian mengenai tingkah laku yang tampak
untuk diobservasi, bisa pula dalam bentuk memberi tanda cek (¥) pada kolom jawaban hasil
observasi.

Tes untuk mengukur ranah psikomotorik adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja
(performance) yang telah dikuasai oleh peserta didik. Tes tersebut dapat berupa tes paper and
pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes unjuk kerja.

1) Tes simulasi
Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, jika tidak ada alat yang
sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan peserta didik, sehingga
peserta didik dapat dinilai tentang penguasaan keterampilan dengan bantuan peralatan tiruan atau
berperaga seolah-olah menggunakan suatu alat yang sebenarnya.

2) Tes unjuk kerja (work sample)

Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, dilakukan dengan sesungguhnya dan
tujuannya untuk mengetahui apakah peserta didik sudah menguasai/terampil menggunakan alat
tersebut. Misalnya dalam melakukan praktik pengaturan lalu lintas lalu lintas di lapangan yang
sebenarnya

Tes simulasi dan tes unjuk kerja, semuanya dapat diperoleh dengan observasi langsung ketika
peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. Lembar observasi dapat menggunakan daftar
cek (check-list) ataupun skala penilaian (rating scale). Psikomotorik yang diukur dapat
menggunakan alat ukur berupa skala penilaian terentang dari sangat baik, baik, kurang, kurang,
dan tidak baik.

Dengan kata lain, kegiatan belajar yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah
praktik di aula/lapangan dan praktikum di laboratorium. Dalam kegiatan-kegiatan praktik itu
juga ada ranah kognitif dan afektifnya, namun hanya sedikit bila dibandingkan dengan ranah
psikomotor. Pengukuran hasil belajar ranah psikomotor menggunakan tes unjuk kerja atau
lembar tugas.

Contohnya kemampuan psikomotor yang dibina dalam belajar matematika misalnya berkaitan
dengan kemampuan mengukur (dengan satuan tertentu, baik satuan baku maupun tidak baku),
menggambar bentuk-bentuk geometri (bangun datar, bangun ruang, garis, sudut,dll) atau tanpa
alat. Contoh lainnya, siswa dibina kompetensinya menyangkut kemampuan melukis jaring-jaring
kubus. Kemampuan dalam melukis jaring-jaring kubus secara psikomotor dapat dilihat dari
gerak tangan siswa dalam menggunakan peralatan (jangka dan penggaris) saat melukis. Secara
teknis penilaian ranah psikomotor dapat dilakukan dengan pengamatan (perlu lembar
pengamatan) dan tes perbuatan.

Dalam ranah psikomotorik yang diukur meliputi (1) gerak refleks, (2) gerak dasar fundamen, (3)
keterampilan perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi auditoris,
diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinasi, (4) keterampilan fisik, (5)
gerakan terampil, (6) komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerakan
ekspresif, gerakan interprestatif.

Lembar observasi

Beri Tanda (¥)

Nama Siswa Mengerjakan Tugas Tidak Mengerjakan Catatan Guru


(èn-Task) Tugas (èff-Task)
Damar
Ayu
Dst«..

Tabel Instrumen (alat) Asesmen Kinerja (unjuk kerja) Berpidato dengan numerical Rating Scale

Nama : «««««««««««««««««.

Kelas : «««««««««««««««««.
Petunjuk:

Berilah skor untuk setiap aspek kinerja yang sesuai dengan ketentuan
berikut:

(4) bila aspek tersebut dilakukan dengan benar dan cepat

(3) bila aspek tersebut dilakaukan dengan benar tapi lama

(2) bila aspek tersebut dilakukan selesai tetapi salah

(1) bila dilakukan tapi tidak selesai

( 0 = tidak ada usaha)


No Aspek yang dinilai Skor
4 3 2 1
1. Berdiri tegak menghadap penonton
2. Mengubah ekspresi wjah sesuai dengan pernyataan
3. Berbicara dengan kata-kata yang jelas
4. Tidak mengulang-ulang pernyataan
5. Berbicara cukup keras untuk didengar penonton




1) Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).

2) Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup
watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Ranah afektif menjadi lebih rinci
lagi ke dalam lima jenjang, yaitu: (1) receiving (2) responding (3) valuing (4) organization (5)
characterization by evalue or calue complex.

3) Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau
kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah
psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat,
melukis, menari, memukul, dan sebagainya. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan oleh
Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk
keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu.

4) Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir termasuk di dalamnya kemampuan


memahami, menghafal, mengaplikasi, menganalisis, mensistesis dan kemampuan mengevaluasi

5) Ciri ranah penilaian afektif yaitu pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk
diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Andersen, 1981:4). Pertama, perilaku melibatkan perasaan
dan emosi seseorang. Kedua, perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang
termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau
kekuatan dari perasaan. Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain, misalnya cinta lebih kuat
dari senang atau suka. Sebagian orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat
dibanding yang lain. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan
yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk. Misalnya senang pada pelajaran
dimaknai positif, sedang kecemasan dimaknai negatif. Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau
bersama-sama, maka karakteristik afektif berada dalam suatu skala yang kontinum. Target
mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagai arah dari perasaan.

6) Ranah kogniti berhubungan erat dengan kemampuan berfikir, termasuk di dalamnya


kemampuan menghafal, rnemahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis dan kemampuan
mengevaluasi

7) Cakupan yang diukur dalam ranah Kognitif adalah: Ingatan (C1), Pemahaman (C2),
Penerapan (C3), Analisis (C4), Sintesis (C5), dan Evaluasi (C6).

8) Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif
kemampuan yang diukur adalah: Menerima (memperhatikan), Merespon, Menghargai,
Mengorganisasi.
9) Hasil belajar keterampilan (psikomotor) dapat diukur melalui: (1) pengamatan langsung dan
penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung, (2)
sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk
mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran
selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya. Dalam ranah psikomotorik yang diukur meliputi
(1) gerak refleks, (2) gerak dasar fundamen, (3) keterampilan perseptual; diskriminasi kinestetik,
diskriminasi visual, diskriminasi auditoris, diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang
terkoordinasi, (4) keterampilan fisik, (5) gerakan terampil, (6) komunikasi non diskusi (tanpa
bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan interprestatif

$  
 ×

Anonymous. 2009. ³Aspek Penilaian dalam KTSP Bag 1 (Aspek Kognitif)´. (Online)
http://massofa.wordpress.com/feed/. Diakses Tanggal 10 Oktober 2009

Anonymous. 2009. ³Sistem Penilaian´. (Online) http://smak.yski.info/. Diakses Tanggal 10


Oktober 2009

Anonymous. 2009. ³Pengembnagan Perangkat Penilaian Psikomotor dan Prosedur


Penilaian´.(Online) http://nurmanspd.wordpress.com/2009/09/17/pengembangan-perangkat-
penilaian-psikomotor/. Diakses Tanggal 10 Oktober 2009