Anda di halaman 1dari 26

MATA PELAJARAN : FISIKA

KELAS/SEMESTER :XI/2

A. STANDAR KOMPETENSI
2. Menerapkan konsep dan prinsip mekanika klasik sistem kontinu dalam menyelesaikan
masalah
B. KOMPETENSI DASAR
2.1Memformulasikan hubungan antara konsep torsi, momentum sudut, dan momen
inersia, berdasarkan hukum II Newton serta penerapannya dalam masalah benda tegar
C. INDIKATOR
• Menjelaskan pengertian momen gaya.
• Menjelaskan pengertian momentum sudut
• Menjelaskan kaitan momentum sudut dengan momen gaya
• Mengaplikasikan hukum kekekalan momentum sudut pada sistem yang berotasi
• Menganalogikan hukum II Newton untuk gerak translasi dan rotasi benda tegar
• Menjelaskan pengertian momen inersia
• Menghitung momen gaya dari gaya-gaya yang bekerja pada suatu benda tegar
• Menyatakan syarat yang diperlukan agar keseimbangan statis sistem partikel dapat
terjadi.
• Menggunakan syarat keseimbangan statis sistem partikel untuk menyelesaikan soal-
soal.
• Menyatakan syarat yang diperlukan agar keseimbangan statis sistem benda tegar dapat
terjadi.
• Menggunakan syarat yang diperlukan agar keseimbangan statis sistem benda tegar
untuk menyeesaikan soal-soal
• Menyatakan persamaan untuk menentukan koordinat pusat berat suatu benda.
• Menentukan koordinat pusat berat suatu benda.
D. MATERI POKOK
Momentum Sudut dan Rotasi Benda Tegar
E. KONSEP PRASYARAT
• Dinamika translasi
• Gerak Melingkar

F. KONSEP ESENSIAL
• Momen gaya

1
• Momen kopel
• Momen Inersia
• Dinamika rotasi dan pemecahan masalah gerak menggelinding
• Momentum sudut
• Kesetimbangan benda tegar

G. BAGAN KONSEP

2
H. URAIAN MATERI
Benda tegar didefinisikan sebagai benda yang tidak berubah bentuknya bila diberi
gaya luar di mana posisi setiap partikel pada benda tersebut relative selalu sama antara
satu dengan yang lain. Sebenarnya benda dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih rumit.
Bentuk benda dapat berubah ketika dikenai gaya. Perlu diingat bahwa Benda tegar
merupakan sebuah pendekatan ideal saja, di mana kita menganggap bentuk dan ukuran
benda tidak berubah. Benda tegar sebagai objek pembahasan, ukurannya tidak diabaikan
(tidak dianggap sebagai satu titik pusat materi), di mana resultan gaya eksternal dapat
menyebabkan benda bergerak translasi dan juga rotasi (berputar terhadap suatu poros
tertentu). Dan seperti kita ketahui, penyebab gerak translasi adalah gaya, sedangkan
penyebab gerak rotasi adalah momen gaya.
A. Momen Gaya
Torsi atau momen gaya ( diberi lambang ) adalah ukuran keefektifan sebuah gaya
τ

yang bekerja pada suatu benda untuk memutar benda tersebut terhadap suatu titik
poros tertentu.

Jika r adalah vektor yang ekornya pada titik


poros dan kepalanya pada titik kerja gaya

Gambar 1
(gambar 1), maka torsi adalah suatu besaran vector yang diperoleh dari perkalian
vektor ( cross product ) antara vektor r dan vektor F, ditulis:

Rumus torsi …………….. (1)


τ = rxF

Besar torsi τ = rF sinθ ……………...(2)

dengan adalah sudut antar vektor r dan vektor F. Dari persamaan ini dapat
θ

dinyatakan bahwa komponen gaya F yang cenderung menyebabkan rotasi hanyalah

, yaitu komponen tegak lurus terhadap r. Komponen horisontal yang


F sin θ F cosθ

melewati titik poros O tidak menyebabkan gerak rotasi. Arah torsi yang putarannya
berlawanan dengan arah jarum jam bertanda positif (+), sebaliknya torsi yang
putarannya searah jarum jam bertanda negative (-).
Persamaan (2) dapat ditulis dengan:

τ = rF sinθ = (r sinθ…………..(3)
)F

Jika kita ambil , maka dapat kita tulis:


r sin θ = d

besar torsi ………………(4)


τ = dF

Dalam persamaan (4), jarak disebut lengan torsi ( lengan momen) dari gaya F.
d

Lengan torsi dari sebuah gaya didefinisikan sebagai panjang garis yang ditarik dari
titik poros rotasi sampai memotong tegak lurus garis kerja gaya.
Perhatikan gambar berikut:

4
Gambar 2

Jika terdapat dua atau lebih gaya yang bekerja pada batang (benda tegar), maka harus
diperhatikan kecenderungan arah memutar benda dari setiap gaya. Untuk menghitung
momen gaya total akibat kedua atau lebih gaya perlu didefinisikan tanda dari momen
gaya. Sesuai perjanjian arah torsi yang putarannya berlawanan dengan arah jarum jam
bertanda positif (+), sebaliknya torsi yang putarannya searah jarum jam bertanda
negative (-).
Momen gaya total terhadap poros O adalah:

∑ τ = τ 1 + τ 2 = − d1 F1 + d 2 F2
Perhatikan bahwa satuan Momen adalah satuan panjang dikali satuan gaya, yaitu m N
(satuan dituliskan m N untuk membedakannya dengan satuan usaha Nm, walaupun
satuan ini memiliki dimensi yang sama).
B. Momen Kopel
Kopel adalah dua buah gaya yang sejajar, sama besar dan
berlawanan arah. Kopel yang bekerja pada sebuah benda
akan menghasilkan momen kopel yang mengakibatkan
benda berotasi. Momen kopel (dilambangkan M) adalah
perkalian antara gaya dengan jarak antara kedua gaya
tersebut, dituliskan dalam persamaan:

M = Fd

Momen kopel bertanda positif jika putarannya berlawanan dengan arah jarum jam dan
bertanda negative jika putanrannya searah putaran jaum jam. Apabila pada sebuah
benda bekerja beberapa buah kopel sebidang, resultan momen kopelnya merupakan
jumlah aljabar dari masing-masing momen kopelnya.

M = M 1 + M 2 + ... + M n

5
C. Koordinat Titik Tangkap Gaya Resultan
Jika terdapat beberapa gaya yang bekerja pada bidang XY, maka setiap gaya tersebut
dapat diuraikan atas komponen-komponennya pada sumbu-X dan sumbu-Y.

Misalkan, komponen-komponen gaya pada sumbu-X adalah , yang


F1x , F2 x , F3 x ,......, Fnx

jaraknya masing-masing terhadap sumbu-X adalah . Sedangkan


y1 , y 2, y 3 ,...., y n

komponen-komponen gaya pada sumbu-Y adalah , , yang


F1 y , F2 y , F3 y ,......, Fny

jaraknya masing-masing terhadap sumbu-Y adalah . Semua komponen


x1 , x2, x3 ,...., xn

gaya pada sumbu-X dapat digantikan oleh sebuah gaya resultan yang jaraknya
Rx yR

dari sumbu-X, demikian juga semua komponen gaya pada sumbu-Y dapat digantikan

oleh sebuah gaya resultan yang jaraknya dari sumbu-Y.


Ry yR

maka:

F1 y x1 + F2 y x2 + F3 y x3 + ...... + Fny xn
xR =
F1 y + F2 y + F3 y + ...... + Fny

F1x y1 + F2 x y 2 + F3 x y 3 + ...... + Fnx y n


yr =
Fx + F2 x + F3 x + ...... + Fnx

D. Momen Inersia
Massa dalam gerak linier adalah ukuran kelembaman suatu benda, yaitu
kecenderungan untuk tidak mengalami perubahan gerak. Untuk gerak rotasi,

6
kecenderungan untuk tidak mengalami perubahan gerak, selain ditentukan oleh massa,
juga dipengaruhi oleh distribusi massa terhadap sumbu putar yang disebut momen
inersia.
Momen inersia dari sebuah partikel bermassa m terhadap poros yang terletak sejauh r
dari massa partikel didefinisikan sebagai hasil kali massa partikel tersebut terhadap
kuadrat jarak dari titik poros, ditulis:

I = mr 2

Jika terdapat banyak partikel masing-masing m1, m2, m3, …., dan mempunyai jarak
r1, r2, r3, …, terhadap poros, maka momen inersia total adalah penjumlahan momen
inersia setiap partikel, yaitu:

I = ∑ mi ri = m1 r1 + m2 r2 + m3 r3 + ...
2 2 2 2

Momen inersia benda tegar.


Untuk benda tegar yang memiliki massa berbagai partikel (titik materi), momen
inersia diperoleh dengan cara menjumlahkannya momen inersia setiap partikel. Untuk
benda tegar yang memiliki massa yang terdistribusi kontinu, momen inersia diperoleh
dengan cara mengintegralkan momen inersia dari elemen massa dm yang berjarak r
dari poros, yaitu:

I = ∫ r 2 dm

dengan batas-batas integral yang dipilih sehingga mencakup seluruh benda.


Hasil perhitungan momen inersia dari berbagai bentuk benda tegar dapat dilihat pada
gambar berikut:

1 1 1
I = ML2 I = ML2 I = M (a 2 + b 2 )
12 3 2

7
1 1 2 2 1
I = Ma I = M ( R1 + R2 ) I = MR 2
3 2 2

I = MR 2 2 2
I = MR 2 I = MR 2
5 3

Jika momen

inersia benda terhadap pusat massa ( ) diketahui, maka momen inersia benda
I pm

terhadap sebarang sumbu yang sejajar dengan sumbu pusat massa dapat ditentukan
dengan persamaan:

I = I pm + Md 2
Dengan d adalah jarak dari sumbu pusat massa ke sumbu parallel, dan M adalah
massa benda.

Contoh cara menurunkan momen inersia jika pusat massa ( ) diketahui:


I pm

Jika diketahui batang silender adalah , tentukan momen inersia


I pm 1
ML2
12

batang silinder pada gambar dibawah ini!

8
Jawab:

1
I pm = ML2
12

Maka:

I = I pm + Md 2
2
1 1 
I= ML2 + M  L 
12 2 
1 1
I = ML2 + ML2
12 4
1
I = ML2
3

Jadi momen inersia batang silinder poros melalui ujung adalah


1
I = ML2
3

Contoh soal:

Tiga benda kecil massanya masing-masing 0,1 kg, 0,2


kg dan 0,3 kg, diletakkan berturut-turut pada titik A
(0,0) m, B (4,0) m dan C (2,3) m seperti pada Gambar
dan dihubungkan dengan batang tegar yang massanya
diabaikan. Berapakah momen inersia sistem ini bila
diputar terhadap sumbu X ?
Penyelesaian:
Ketiga benda terletak secara diskrit, maka momen inersia:
2 2 2
I = M A R A + M B R B + M C RC

Mengingat benda A dan B terletak sepanjang sumbu rotasi, maka rA dan rB sama
dengan nol, sehingga
2
I = M C RC = (0,3kg )(3m) 2 = 2,7kgm2

9
Dari hukum II Newton untuk massa yang konstan dapat ditulis:

F = ma t
Karena percepatan tangensial sama dengan , maka,
at rα
F = mrα

Jika kedua ruas persamaan ini dikalikan secara silang dengan r ,diperoleh:

rF = mr 2α
Dengan dan , maka,
τ = rF I = mr 2

Hukum II Newton untuk rotasi


τ = Iα

Tabel analogi Hukum II Newton pada gerak translasi dan gerak rotasi benda tegar
No Besaran Translasi Rotasi
1 Gaya τ
F
2 Massa m I
3 Percepatan a α

E. Dinamika Rotasi
– Pemecahan masalah dinamika rotasi
Untuk memecahkan persoalan dinamika rotasi, apabila didalamnya terdapat bagian
sistem yang bergerak translasi maka pemecahannya dapat dilakukan dengan
mengambil langkah-langkahsebagai berikut:
1. Identifikasi benda bagian dari sistem sebagai obyek pembahasan dan
kelompokkan mana yang bergerak translasi dan yang rotasi.
2. Tentukan sumbu koordinat yang memudahkan untuk penyelesaian berikutnya.
3. Gambar diagram gaya benda bebas untuk masing-masing benda.
4. Gunakan persamaan untuk gerak translasi
∑ F = ma

10
5. Gunakan persamaan untuk gerak rotasi
∑ τ = Iα

6. Padukan dua persamaan pada langkah 4 untuk penyelesaian akhir.

Benda Amassa m (kg) dihubungkan dengan tali pada sebuah roda putar berjari-jari R
dan bermassa M (kg) seperti Gambar . Bila mula-mula benda A diam pada
ketinggian h1 (m) kemudian dilepas sampai pada ketinggian h2 (m), tentukan
tegangan tali dan percepatan linier benda A sepanjang geraknya.
Penyelesaian :
Analisa rotasi:
Setelah benda A dilepas roda (bagian sistem yang

berotasi) berputar dengan percepatan sudut ,


α

dalam hal ini gaya penggerak rotasinya adalah gaya


tegangan tali T. Dari hukum II Newton untuk gerak

rotasi dan definisi momen inersia roda terhadap sumbunya


∑ τ = Iα 1
I= MR 2
2

1
∑τ = MR 2α
2
1 a
(TR ) = MR 2   Analisis translasi:
2 R
Sepanjang gerakan berlaku hukum II Newton:
1
T∑ =
Fy2=Ma ma......(1)
mg − T = ma
1
mg − Ma = ma
2
1
ma + Ma = mg
2

11
 1 
a m + M  = mg
 2 
m
a= g
1
m+ M
2
2m
a= g......( 2)
2m + M

Maka:

1
T= Ma
2
1  2m 
T = M g
2  2m + M 
M
T= mg
2m + M

– Gerak menggelinding
Gerak menggelinding merupakan contoh gerak gabungan antara translasi dan rotasi.
Benda yang menggelinding pusat massanya mengalami gerak translasi dan bagian
benda yang lainnya bergerak rotasi mengelilingi titik pusat massa tersebut. Kasus
khusus untuk gerak menggelinding adalah gerak menggelinding tanpa tergelincir
(rolling without slipping) yang ditandai dengan tidak adanya gerak relatif antara titik
sentuh benda dengan permukaan lintasannya.
Untuk gerak menggelinding tanpa tergelincir, ada hubungan antar besaran-besaran
gerak rotasi dengan besaran-besaran gerak translasi.

12
Diagram benda bebas

Gaya gesek bebas merupakan gaya yang menyebabkan benda bergerak rotasi
(menggelinding). Jika tak ada gaya gesek, benda akan tergelincir. Untuk
gerakmenggelinding tanpa tergelincir, tidak ada gerak relatif antara titik sentuh pada
benda dengan permukaan lintasan geraknya sehingga gaya gesek yang bekerja
adalah gaya gesek statik
– Pemecahan Masalah Dinamika Rotasi dengan Hukum Kekekalan Energi
Setelah mengimplementasikan pemecahan masalah dinamika rotasi dengan

menggunakan hukum II Newton dan . Perlu kita ingat pula


∑ F = ma ∑ τ = Iα

bahwa masalah dinamika translasi dapat juga diselesaikan secara mudah dan cepat
dengan hukum kekekalan energi mekanik, demikian juga secara analogi masalah
dinamika rotasi dapat juga diselesaikan dengan menggunakan hukum kekekalan
energi mekanik. Pada bagian ini kita akan mempelajari cara pemecahan masalah
dinamika rotasi berupa gerak menggelinding dengan menggunakan hukum
kekekalan energi mekanik.

13
Energi kinetik rotasi
Kita telah mengetahui bahwa benda bermassa m yang bergerak translasi dengan

kecepatan v memiliki energi kinetik . Walaupun benda tidak bergerak


1 2
mv
2

translasi, tetapi jika benda tersebut berotasi (berputar) terhadap suatu poros, maka
benda tersebut memliki energi kinetik yang disebut eenergi kinetic rotasi. Energi
kinetic rotasi dapat kita turunkan dari energi kinetik 1
EK =translasi.
mv 2
2

Karena , maka
v = rω

1
EK = m( rω ) 2
2
1
EK = mr 2ω 2
2
1
EK rotasi = Iω 2
2
Energi kinetik benda yang menggelinding
Gerak menggelinding adalah suatu gerak dari
benda tegar yang melakukan gerak translasi
sekaligus melakukan gerak rotasi. Benda tegar
yang melakukan gerak menggelinding maka
energi kinetik nya adalah:

1 1
EK = EK translasi + EK rotasi = mv 2 + Iω 2
2 2
Maka energi mekanik gerak menggelinding adalah

14
1 1
EM = EP + EK translasi + EK rotasi = mgh + mv 2 + Iω 2
2 2

Contoh:
Sebuah silinder pejal bermassa M dan berjari-jari R diletakkan pada bidang miring

dengan kemiringan terhadap bidang horisontal yang mempunyai kekasaran


φ

tertentu. Setelah dilepas silinder tersebut menggelinding, tentukan kecepatan silinder


setelah sampai di kaki bidang miring!
Jawab:

a. Penyelesaian secara dinamika


Silinder menggelinding karena bidang miring mempunyai tingkat kekasaran
tertentu. Momen gaya terhadap sumbu putar yang menyebabkan silinder berotasi

dengan percepatan sudut ditimbulkan oleh gaya gesek f, yang dapat ditentukan
α

melalui

fR = Iα

karena momen inersia silinder terhadap sumbunya adalah


1
I= mR 2
2

maka:

1
f = ma
2

Pada gerak menggelinding tersebut pusat massa silinder bergerak translasi, sehingga
berlaku hukum kedua Newton:

15
mg sin φ − f = ma
1
mg sin φ − ma = ma
2
3
mg sin φ = ma
2
2
a = g sin φ
3

Dengan menggunakan hubungan


2 2
vt = v + 2as
2  h 
vt = 0 + 2 g sin φ 
2

3  sin φ 
2 4
vt = gh
3
4
vt = gh
3

Penyelesaian menggunakan kekekalan tenaga mekanik

EM 1 = EM 2
EP1 + EK trans1 + EK rot1 = EP21 + EK trans2 + EK rot 2
1 1 1 1
mgh1 + mv1 + Iω1 = mgh2 + mv2 + Iω 2
2 2 2 2

2 2 2 2
2
1 11  v 
mgh + 0 + 0 = 0 + mv 2 +  mr 2  
2 22  r 
3
mgh = mv 2
4
4
v= gh
3

A. Momentum Sudut
Pada gerak rotasi, benda mempunyai besaran yang dinamakan momentum sudut yang
analog pada gerak translasi yang terdapat besaran momentum linier. Momentum sudut,
L, merupakan besaran vektor dengan besar berupa hasil kali momen inersia, I, dengan
kecepatan sudut , yang diformulasikan sebagai berikut:
ω

L = Iω

16
dan , sehingga
I = mr 2 v
ω=
r

, maka

(v
L = mr 2  )
r
L = mrv

Kaitan antara momentum sudut dengan torsi


Gaya F adalah turunan fungsi linear p terhadap waktu, atau ditulis . Dari
dp
F
dt

persamaan ini akan diturunkan kaitan antara momentum sudut L dengan momen gaya

.
τ

dp
F=
dt
d (mrω )
F=
dt
d (mr 2ω )
rF =
dt
d ( Iω )
τ=
dt

adalah momentum sudut L, maka:


dL
τ=
dt
Jadi momen gaya adalah turunan dari fungsi momentum sudut terhadap waktu.
Pernyataan ini merupakan pernyataan ang lebih umum dari hukum II Newto untuk
gerak rotasi.
Bila momen gaya eksternal resultan yang bekerja pada suatu benda tegar sama dengan
nol, maka momentum sudut total sistem tetap. Prinsip ini dikenal sebagai prinsip
kekekalan momentum sudut.

17
L1 = L2
I1ω 1 = I 2ω 2

Kekekalan momentum sudut dapat didemonstrasikan dengan baik oleh seorang penari
es. Penari memulai rotasinya dengan kedua lengannya terentang. Dengan melipat
kedua lengannya, penari itu memperkecil momen inersianya terhadap poros (

; untuk mengecil maka I juga mengecil) dan sebagai akibatnya, dia


I = ∑ mi ri
2
ri

berputar lebih cepat (kecepatan sudutnya


bertambah besar).

B. Kesetimbangan benda tegar


Kesetimbangan adalah suatu kondisi benda dengan resultan gaya dan resultan momen
gaya sama dengan nol. Kesetimbangan ada dua yaitu kesetimbangan statis (benda
dalam keadaan tetap diam) dan kesetimbangan kinetis (benda dalam keadaan bergerak
lurusberaturan). Benda dalam keadaan kesetimbangan apabila padanya berlaku

(tidak bergerak tranlasi) dan (tidak berotasi).


∑F = 0 ∑τ = 0

Kesetimbangan biasa terjadi pada :


1. Benda yang diam (statik), contoh : semua bangunan gedung, jembatan, pelabuhan,
dan lain-lain.
2. Benda yang bergerak lurus beraturan (dinamik), contoh : gerak meteor di ruang
hampa, gerak kereta api di luar kota, elektron mengelilingi inti atom, dan lain-lain.
1. Kesetimbangan Statis System Partikel
Dalam system yang tersusun dari partikel, benda dianggap sebagai satu titik materi.
Semua gaya eksternal yang bekerja pada system tersebut dianggap bekerja pada

18
titik materi tersebut sehingga gaya tersebut hanya menyebabkan gerak translasi dan
tidak menyebabkan gerak rotasi. Oleh karena itu kesetimbangan yang berlaku pada
sistem partikel hanyalah kesetimbangan translasi.
Syarat kesetimbangan partikel
∑F = 0 ∑ Fx = 0
∑ Fy = 0

Contoh :

Penyelesaian:
Dari gambar (c ), diperoleh komponen tegangan tali sebagai berikut:

T1x = T1 cos37° = 0,8T 1 T2 x = T2 cos53° = 0,6T 2

T1 y = T1 sin 37° = 0,6T1 T2 y = T2 sin 53° = 0,8T 2

Berikutnya kita menggunakan persamaan kesetimbangan statis partikel dan


perhatikan tanda positif untuk arah ke kanan atau atas dan negatif untuk arah ke
kiri atau bawah.

∑ Fx = 0
∑ Fy = 0

T2 x − T1x = 0 T1x − T2 y = 0

..........(1)
0,6T2 = 0,8T1

..........(2)
0,6T1 + 0,8T2 − 400 = 0

19
Dengan mensubstitusi nilai dari persamaan (1) ke persamaan (2) kita dapat nilai
T2

tegangan tali dan dengan mensubstitusi ke persamaan (1) diperoleh


T2 = 320N

nilai tegangan tali


T2 = 240N

2. Kesetimbangan Benda Tegar


Syarat kesetimbangan benda: , Suatu benda tegar yang terletak pada
∑ Fx = 0

bidang datar (bidang XY) berada


dalam keadaan kesetimbangan statis bila memenuhi syarat:
1. Resultan gaya harus nol
, yang mencakup dan
∑F = 0 ∑ Fx = 0 ∑ Fy = 0

2. Resultan torsi harus nol

∑τ = 0

3. Macam-macam kesetimbangan

Dibedakan menjadi 3:

a. Keseimbangan stabil/mantap

Adalah keseimbangan suatu benda di mana setelah gangguan yang diberikan

pada benda dihentikan, benda akan kembali ke posisi keseimbangan semula.

Contoh: Keseimbangan stabil dapat dipandang sebagai keseimbangan yang

dimiliki benda jika gangguan yang dialaminya menaikkan titik beratnya (energi

potensialnya).

b. Keseimbangan labil/goyah

20
Adalah keseimbangan pada suatu benda di mana setelah gangguan yang

diberikan/dialami benda dihentikan, maka benda tidak kembali ke

posisi keseimbangan semula, tetapi bahkan memperbesar gangguan tersebut.

Contoh: Keseimbangan pada suatu benda dipandang sebagai keseimbangan

yang dimiliki benda jika gangguan yang dialaminya menurunkan titik

beratnya (energi potensialnya).

c. Keseimbangan indeferen/netral

Adalah keseimbangan pada suatu benda di mana setelah gangguan yang

diberikan tidak mengubah posisi benda.

Contoh : Keseimbangan indiferen dapat dipandang sebagai

keseimbangan yang dimiliki benda dimana jika gangguan yang dialaminya

tidak menyebabkan perubahan titik beratnya (energi potensialnya).

C. Titik Berat
Titik berat adalah titik pusat atau titik tangkap gaya berat dari suatu benda atau sistem
benda. Titik berat menurut bentuk benda dibedakan menjadi 3 antara lain:
a. Benda berbentuk garis/kurva, contoh : kabel, lidi, benang, sedotan, dan lain-lain.
b. Benda berbentuk bidang/luasan, contoh : kertas, karton, triplek, kaca, penggaris, dan
lain-lain.
c. Benda berbentuk bangunan/ruang, contoh : kubus, balok, bola, kerucut, tabung, dan

21
lain-lain

– Apabila partikel berbentuk partikel massa


Apabila sistem benda terdiri dari beberapa benda partikel titik digabung
menjadi satu, maka koordinat titik beratnya dirumuskan:

∑ m. X m1 X 1 + m2 X 2 + m3 X 3 + ..... + mn X n
X0 = =
∑m m1 + m2 + m3 + ... + mn

∑ m.Y m1Y1 + m2Y2 + m3Y3 + ..... + mnYn


Y0 = =
∑m m1 + m2 + m3 + ... + mn

Jadi
z 0 = ( X 0 , Y0 )

– Apabila benda berbentuk garis/kurva


Daftar titik beberapa benda berbentuk garis dapat dilihat dalam lampiran. Apabila
sistem benda terdiri dari beberapa benda garis digabung menjadi satu, maka
koordinat titik beratnya dirumuskan:

∑ I . X I 1 X 1 + I 2 X 2 + I 3 X 3 + ..... + I n X n
X0 = =
∑I I 1 + I 2 + I 3 + ... + I n

∑ I .Y I 1Y1 + I 2Y2 + I 3Y3 + ..... + I nYn


Y0 = =
∑I I 1 + I 2 + I 3 + ... + I n

Jadi
z 0 = ( X 0 , Y0 )

– Apabila benda berbentuk bidang/luasan


Daftar titik berat berbagai macam bidang beraturan dan bidang selimut benda dapat
dilihat dalam lampiran. Apabila sistem benda terdiri dari bidang gabungan, maka
koordinat titik beratnya dirumuskan:

∑ A. X A1 X 1 + A2 X 2 + A3 X 3 + ..... + An X n
X0 = =
∑A A1 + A2 + A3 + ... + An

22
∑ A.Y A1Y1 + A2Y2 + A3Y3 + ..... + AnYn
Y0 = =
∑A A1 + A2 + A3 + ... + An

Jadi
z 0 = ( X 0 , Y0 )

– Apabila bendak berbentuk volume/ruang (homogen)


Daftar titik berat berbagai macam benda ruang beraturan dapat dilihat dalam
lampiran. Apabila sistem benda terdiri dari bidang gabungan benda, maka koordinat
titik beratnya dirumuskan:
Bila terbuat dari bahan-bahan yang sama (homogen)

∑ V . X V1 X 1 + V2 X 2 + V3 X 3 + ..... + Vn X n
X0 = =
∑V V1 + V2 + V3 + ... + Vn

∑ V .Y V1Y1 + AV 2Y2 + V3Y3 + ..... + VnYn


Y0 = =
∑V V1 + V2 + V3 + ... + Vn

Jadi
z 0 = ( X 0 , Y0 )

– Apabila terbuat dari bahan-bahan yang berbeda (heterogen)

∑ W . X W1 X 1 + W2 X 2 + W3 X 3 + ..... + Wn X n
X0 = =
∑W W1 + W2 + W3 + ... + Wn

∑ W .Y W1Y1 + W2Y2 + W3Y3 + ..... + WnYn


Y0 = =
∑W W1 + W2 + W3 + ... + Wn

Jadi
z 0 = ( X 0 , Y0 )

keterangan :
W = mg = ρVg

karena
S = ρg W = SV

23
ρ = massa jenis ( )
kg / m 3

S = berat jenis ( )
3
N /m

Tabel titik berat bentuk teratur linier

Tabel titik berat benda teratur berbentuk bidang ruang homogen

24
Table titik berat benda teratur berbentuk luas bidang homogen

25
Tabel titik berat benda teratur berbentuk ruang pejal homogen

26