Anda di halaman 1dari 47

Jangkep Minggu, 5 September 2010

Minggu I (Hari Doa Alkitab)

PILIHAN YANG MENENTUKAN


Bacaan I: Ulangan 30:15-20; Antar Bacaan: Mazmur 1;
Bacaan II: Filemon 1: 1-21; Bacaan III: Injil Lukas 14 : 25-33
Tujuan:
Jemaat menjalani hidup di dalam Tuhan Yesus sebagai pilihan yang mesti
dijalani dengan totalitas sehingga menjadi berkat bagi diri dan orang lain.

 Dasar Pemikiran
Hidup adalah pilihan. Dan setiap pilihan akan menentukan masa depan.
Banyak contoh dalam kehidupan tentang salah pilih yang akhirnya berakibat
kepada kesIa-sIaan dan kebinasaan. Oleh karena itu pilihan tidak boleh
dilakukan dengan gegabah, sembrono, atau tanpa pemikiran yang matang.
Setiap pilihan membutuhkan totalitas, tidak bisa setengah-setengah, tidak
juga leda-lede. Komitmen atas pilihan yang diambil adalah hal yang harus dan
mesti, kalau tidak ingin malu, karena kita mengingkari pilihan kita sendiri.
Harapan untuk umat adalah agar kita memilih dengan sungguh-sungguh
untuk hidup kita dengan komitmen yang jelas agar hidup kita tetap di dalam
berkat Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain.

 Tafsir
Ulangan 30:15-20
Ayat-ayat ini berisi perintah, berkat dan kutuk, serta seruan untuk taat.
Musa menghadapkan umat kepada pilihan. Pilihan itu akan menentukan masa
depan umat Israel. Kemurahan Allah tidak mengalir begitu saja, tetapi juga dari
respon umat. Untuk itulah Musa mendorong umat untuk memilih ‘Hidup’
dengan mengasihi TUHAN (ayat.16,19). Hidup menunjuk kepada kehidupan
yang dilindungi Allah, sedangkan mati menunjuk kepada kehidupan yang tanpa
Allah atau menolak Allah. Hidup adalah berkat, mati adalah kutuk.
Pilihan untuk mengasihi Allah diwujudkan dengan hidup menurut jalan
yang ditunjukkan-Nya, berpegang kepada perintah, ketetapan, dan peraturan-
Nya. Pilihan hidup mengasihi Allah akan menjamin masa depan (ayat 20).

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Mazmur 1
Puisi ini digolongkan ke dalam mazmur kebijaksanaan karena
mempertentangkan ‘dua jalan’, yaitu jalan orang benar dan jalan orang fasik.
Mazmur membagi manusia menjadi dua kelompok yaitu orang-orang yang taat
kepada Tuhan (ayat 1-3) dan orang jahat yang tidak taat kepada Tuhan (ayat 4-
5) dan masing-masing kelompok akan menerima akibat dari perbuatannya.
Hidup dan kemakmuran bagi yang taat, kesia-siaan dan kebinasaan bagi orang
jahat.

Filemon 1:1-21
Dalam suratnya kepada Filemon, Paulus mengucap syukur kepada Tuhan
karena mendengar mengenai iman Filemon serta kasihnya kepada Tuhan dan
sesama. Filemon dapat menjadi contoh bagi orang Kristen lainnya. Ini menjadi
jalan bagi Paulus untuk meminta Filemon dengan Kasih, walaupun sebagai rasul
punya wibawa untuk memerintah Filemon memenuhi keinginannya.
Paulus meminta Filemon untuk menerima kembali Onesimus yang disebut
sebagai budak yang melarikan diri, bukan hanya sebagai budak melainkan
sebagai sesama Kristen yang terkasih, yang artinya dalam kedudukan yang lebih
penting. Paulus tidak meminta pembebasan bagi Onesimus dari perbudakan,
tetapi supaya Filemon menerima kembali budak ini tanpa memberikan
hukuman berat atau denda yang biasa diberikan kepada budak yang melarikan
diri. Paulus memberikan pilihan bebas kepada Filemon atas permintaannya,
karena Paulus percaya akan kemurahan hati Filemon dan Ia akan melakukan
lebih dari apa yang diminta Paulus.
Paulus tidak menggunakan wibawanya sebagai rasul untuk memaksa
Filemon, tetapi ingin menunjukkan kepada Filemon perlunya menanggapi
secara Kristen masalah yang berdampak sosIal. Bagaimana seorang Kristen
menerima saudara dalam Kristus bukan masalah biasa, melainkan memerlukan
tindakan yang mungkin jauh mengatasi kebiasaan dan hukum duniawi karena
hidup dalam Kristus adalah suatu tatanan baru.

Injil Lukas 14 : 25-33


Kepada orang yang berduyun-duyun mengikuti-Nya, Yesus mengatakan
bahwa untuk menanggapi panggilan mengikuti-Nya, tidak bisa setengah-
setengah (ayat 33). Yesus mengatakan bahwa mereka harus membenci ayah,
ibu, dan keluarganya. Ini ungkapan yang keras bahkan bisa dikatakan
berlebihan. Membenci dalam hal ini berarti ‘tidak begitu memilih’. Ini adalah
pesan radikal dari Salib.(ayat 26-27).

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Menjadi murid adalah panggilan yang menuntut segalanya. Untuk itu
pilihan untuk menjadi murid perlu dipikirkan dengan masak, diperhitungkan
dengan matang, dengan kesadaran penuh atas segala resiko dari pilihan
tersebut. Jangan sampai kita dicibir orang karena memilih dengan sembrono.
Seperti gambaran yang diberikan Yesus tentang mendirikan menara dan raja
yang mau pergi berperang. (ayat.28-32).
Hal yang sangat penting untuk menjadi murid Yesus adalah meninggalkan
segalanya. Meninggalkan segalanya adalah pokok pemuridan. Jika seseorang
menjadi murid Yesus dengan mengambil untung untuk dirinya, maka pemuridan
menjadi cacat.(ayat 35).

 Benang Merah
Tuhan adalah Allah yang tidak memaksa umat untuk melakukan sesuatu
bagi diri-Nya. Ia memberi kebebasan kepada umat untuk menentukan
pilihannya. Dan setiap pilihan menentukan masa depan. Tetapi Tuhan juga
bukan Allah yang tidak peduli terhadap umat, justru Tuhan sangat peduli, untuk
itu Ia memberikan pilihan kepada umat dengan menjelaskan akibat dari setiap
pilihan yang diambil. Maka Musa, yang merasa bertanggung-jawab terhadap masa
depan umat Israel, mendorong umat untuk memilih mengasihi Tuhan. Pemazmur
mengungkapkan kata-kata hikmatnya mengenai akibat jika seseorang hidup
menurut Taurat Tuhan dan jika seseorang mengikuti nasihat orang Fasik.
Setiap pilihan harus dipikirkan dengan sungguh-sunguh, tidak bisa setengah-
setengah karena pilihan yang sembrono akan berakibat tragis. Untuk itu Tuhan
Yesus menuntut totalitas terhadap orang yang mau mengikut Dia. Pilihan bebas
ada pada pihak umat, tetapi diharapkan supaya umat memilih dengan bijaksana
dan benar yaitu hidup mengasihi Tuhan karena akan berdampak kepada hidup
yang penuh dengan damai sejahtera bagi semua. Itu pula yang diinginkan
Paulus terhadap Filemon agar mau menerima Onesimus dengan kasih Kristus.

 Khotbah Jangkep
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus,

B erbicara masalah memilih, kita pasti sadar bahwa kita akan memilih
yang baik. Apalagi jika pilihan itu menyangkut dengan diri kita.
Bahkan tidak jarang orang berdesak-desakan untuk antri supaya
bisa memilih lebih dulu agar tidak mendapatkan sisa atau yang tidak baik.
Setiap saat kita harus memilih, baik untuk perkara yang rutin dan biasa,
atau untuk hal-hal yang besar, yang akan berakibat besar dalam diri kita

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


maupun orang lain. Mau ke gereja atau tidak, kita juga harus memilih. Mau
persembahan yang hapalan (karena kalau persembahan ya uangnya mesti
gambarnya itu/sama) atau yang layak sesuai dengan berkat Tuhan, kita juga
harus memilih, dan masih banyak lagi contohnya.
Kita tahu setiap pilihan yang kita ambil memiliki akibat. Dan yang
menanggung akibatnya adalah kita, atau bahkan orang lain jika pilihan kita
menyangkut kehidupan orang lain, untuk itu setiap pilihan harus dipikirkan
dengan matang supaya jangan sampai kita menyesali pilihan kita. Bahkan tidak
jarang pilihan yang sembrono, dan sikap yang tidak konsekuen akan
mempermalukan kita.

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus,


Bacaan minggu ini mengajak kita untuk memilih dengan sungguh-sungguh.
Juga mengajak kita bertanggungjawab dengan pilihan kita supaya pilihan kita
menjadi berkat dalam hidup kita dan bagi orang lain.

Pilihan Bebas
Tuhan adalah Allah yang tidak memaksa umat untuk melakukan sesuatu
bagi diri-Nya. Ia memberi kebebasan kepada umat untuk menentukan
pilihannya. Setiap pilihan menentukan masa depan. Namun Tuhan juga bukan
Allah yang tidak peduli terhadap umat. Justru Tuhan sangat peduli. Oleh karena
itu Ia memberikan pilihan kepada umat dengan menjelaskan akibat dari setiap
pilihan yang diambil, supaya umat dapat memilih dengan bijaksana. Sebagaimana
dikatakan dalam Ulangan 30:15 “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada
hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan.” Apakah umat
mau memilih kehidupan atau memilih kecelakaan, terserah umat. Umat dapat
memilih dengan bebas.
Tetapi Musa, yang merasa bertanggungjawab terhadap masa depan umat
Israel, mendorong umat untuk memilih mengasihi Tuhan. Pemazmur
mengungkapkan kata-kata hikmatnya mengenai akibat jika seseorang hidup
menurut Taurat Tuhan dan jika mengikuti nasihat orang Fasik.
Memang kita memiliki pilihan bebas, tetapi marilah kita menggunakan
pilihan bebas itu dengan bijaksana, untuk kebaikan, kehidupan kita. Jangan sampai
kita sudah mengetahui sesuatu itu akan merusak, mencelakakan, bahkan
membinasakan kita, namuna tetap kita pilih. Ini namanya tidak bijaksana dan
tidak berhikmat. Misalnya sudah tahu berzinah, selingkuh, korupsi, minum-
minuman keras, dapat merusak tetapi tetap saja dipilih. Jadi jika dengan pilihan

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


kita itu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, ya jangan menyesal, karena
penyesalan itu datangnya mesti telat dan tidak mengubah yang sudah terjadi.
Memilih untuk ikut Tuhan Yesus itu pilihan bijaksana, memilih untuk
mengasihi Tuhan itu pilihan bijaksana, memilih untuk berjalan di jalan orang benar,
tidak mengikuti jalan orang Fasik seperti yang dikatakan pemazmur, itu pilihan
bebas yang bijaksana. Semua pilihan bebas itu harus diwujud-nyatakan, tidak hanya
diungkapkan secara lisan saja. “Karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu
untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-
Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya supaya engkau
hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN. Allahmu, di negeri ke
mana engkau masuk untuk mendudukinya.” Ul.30:16.

Menuntut Totalitas
Kepada orang yang berduyun-duyun mengikuti-Nya, Yesus mengatakan
bahwa untuk menanggapi panggilan mengikut-Nya, tidak boleh setengah-setengah.
Yesus mengatakan bahwa mereka harus membenci ayah, ibu, dan keluarganya.
Ini ungkapan yang keras bahkan bisa dikatakan berlebihan. Membenci dalam
hal ini berarti ‘tidak begitu memilih’. Ini adalah pesan radikal. Itu artinya setiap
pilihan menuntut totalitas, tidak bisa setengah-setengah. Karena di manapun
berada orang yang setengah-setengah tidak akan laku. Contoh saja, jika ada
seorang pemuda melamar anak perempuan saudara satu-satunya, dan ketika
saudara tanya: ”Apakah Saudara mencintai anak saya, kok Saudara melamar?”
Jika dijawab: “Ya Pak, Bu, saya mencintai anak bapak setengah-setengah!”
Apakah jawaban orang itu akan menjadikan lamarannya diterima?.
Pilihan pasti ada konsekuensinya, maka sebelum memilih perlu dipikirkan
dengan sungguh. Menjadi murid adalah panggilan yang menuntut segalanya.
Untuk itu pilihan untuk menjadi murid perlu dipikir dan diperhitungkan dengan
matang, dengan kesadaran penuh segala resiko dari pilihan tersebut. Jangan
sampai kita dicibir orang karena memilih dengan sembrono. Seperti gambaran
yang diberikan Yesus tentang mendirikan menara dan raja yang mau pergi
berperang. Mereka harus berhitung dahulu sebelum mengambil keputusan/
memilih. Jangan sampai keputusan yang diambil tidak dapat diselesaikan.
Hal yang sangat penting untuk menjadi murid Yesus adalah meninggalkan
segalanya. Meninggalkan segalanya adalah pokok pemuridan. Jika seseorang
menjadi murid Yesus dengan mengambil untung untuk dirinya, maka pemuridan
menjadi cacat.
Setiap pilihan membutuhkan totalitas. “Barang siapa tidak memikul
salibnya, dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Akibat Sebuah Pilihan.
Setiap pilihan pasti membawa akibat. Pemazmur mengatakan jika orang
tidak mengikuti jalan orang Fasik, ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran
air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya,
apa saja yang diperbuatnya berhasil. Tetapi orang Fasik menuju kebinasaan.
Demikian juga Musa mengatakan jika orang Israel berpaling dari Tuhan, tidak
mau mendengar Tuhan, bahkan beribadah kepada Allah lain, pastilah engkau
binasa.
Setiap pilihan kita memiliki konsekuensi dan akibat. Maka memilih tidak
hanya sekadar memilih, tetapi memilih itu berarti jalan hidup, nilai yang kita
pilih. Kita akan jadi orang Kristen macam apa, bernasib seperti apa tergantung
dari pilihan kita. Pilihan itu menentukan.
Setiap pilihan harus dipikirkan dengan sungguh-sunguh, tidak bisa
setengah-setengah karena pilihan yang sembrono akan berakibat tragis. Untuk
itu Tuhan Yesus menuntut totalitas terhadap orang yang mau mengikut Dia.
Pilihan bebas ada pada pihak umat, tetapi diharapkan supaya umat memilih
dengan bijaksana, benar, dan bertanggungjawab, yaitu hidup mengasihi Tuhan,
karena akan berdampak kepada hidup yang penuh dengan damai sejahtera
bagi semua.
Itu pula yang diinginkan Paulus terhadap Filemon agar mau menerima
Onesimus dengan kasih Kristus. Paulus tidak menggunakan wibawanya sebagai
rasul untuk memaksa Filemon, tetapi ingin menunjukkan kepada Filemon
perlunya menanggapi secara Kristen masalah yang berdampak sosIal. Bagaimana
seorang Kristen menerima saudara dalam Kristus bukan masalah biasa, melainkan
memerlukan tindakan yang mungkin jauh mengatasi kebiasaan dan hukum
duniawi karena hidup dalam Kristus adalah suatu tatanan baru. Inilah Pilihan.
Selamat memilih dengan bijaksana. Tuhan Memberkati. Amin.

 Rancangan Bacaan Alkitab.


Berita Anugerah : Yohanes 3: 16-17
Petunjuk Hidup Baru : Wahyu 2: 10-11
Nats Persembahan : II Korintus 9: 7
 Rancangan Nyanyian Ibadah
NyanyIan PujIan : Kidung Jemaat 21: 1,2
NyanyIan Penyesalan : Kidung Jemaat 23: 1-3
NyanyIan Kesanggupan : Kidung Jemaat 369 A: 1,3
NyanyIan Persembahan : Kidung Jemaat 302: 1-3
NyanyIan Penutup : Kidung Jemaat 370: 1,2

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Khotbah Jangkep Jawi Minggu, 5 September 2010
Minggu I (Hari Doa Alkitab)

PILIHAN INGKANG NEMTOKAKEN


Waosan I: Pangandharing Toret 30:15-20; Antar Waosan: Jabur 1;
Waosan II: Filemon 1: 1-21; Waosan III: Injil Lukas 14 : 25-33
Tujuan:
Pasamuwan nglampahi gesang ndherek Gusti Yesus minangka pilihan, kedah
nglampahi kanthi pasrah-sumarah temahan dados berkah tumraping dhiri
pribadi lan tiyang sanes.

 Khotbah Jangkep

Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing patungggilanipun Gusti Yesus,

N grembag babagan nemtokaken pilihan, sami nglenggana bilih


mesthi kita milih ingkang prayogi lan sae, punapa malih
magepokan kaliyan gesang kita. Mila boten mokal tiyang rebat
ngajeng supados pikantuk ingkang sae piyambak, boten pikantuk ingkang
awon.
Saben wekdal kita kedah nemtokaken pilihan, sae prekawis padintenan lan
limrah utawi prekawis ageng lan pituwasipun kangge kita utawi tiyang sanes ugi
ageng. Nemtokaken pilihan punika kathah tuladhanipun, umpaminipun ing
dinten Minggu badhe dhateng greja utawi boten, lan ugi nemtokaken pilihan
ngaturaken pisungsung kanthi mirunggan utawi apalan. Kita mangertos, saben
nemtokaken pilihan mesthi wonten pituwasipun ingkang kedah kita tanggel,
malah saged ugi tiyang sanes ndherek nanggel menawi pancen magepokan
kaliyan tiyang sanes. Saben nemtokaken pilihan, kita kedah nenimbang kanthi
permati, supados boten getun ing tembe-wingkingipun awit saking pilihan
kanthi sembrono, kanthi sikep ingkang boten tanggel-jawab lan nglelingsemi

Pasamuwan ingkang kinasih,


Ing waosan Minggu punika kita kaajak nemtokaken pilihan kanthi saestu,
kanthi tanggel-jawab, supados saged nemtokaken pilihan ingkang saged
mbabaraken berkahing Gusti sae kangge kita punapa dene tiyang sanes.

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Nemtokaken pilihan kanthi mardika
Gusti punika Allah sayektinipun boten nate meksa umat nindakaken
satunggaling prakawis kagem Panjenenganipun. Panjenenganipun paring
kamardikan supados umatipun saged nemtokaken pilihanipun ingkang ugi
saged nemtokaken gesang ing tembe-wingkingipun. Ananging Gusti ugi sanes
Allah ingkang boten nggatosaken umatipun. Gusti sanget anggenipun
nggatosaken. Gusti nggelaraken pituwasipun, supados umat saged nemtokaken
pilihanipun kanthi wicaksana. Kados pangandika ing Pangandaring Toret 30:15
“Elinga ing dina iki aku wus nggelarake bab urip lan karahayon, bab pati lan
kasangsaran”. Punapa umat punika badhe milih gesang utawi kacilakan?
Sumangga kanthi mardika nemtokaken piyambak
Nabi Musa rumaos tanggel-jawab tumrap gesanging umat ing tembe-
wingkingipun, piyambakipun lajeng mbereg supados sami milih nresnani Gusti.
Kanthi kawicaksanan, Juru Masmur ngandharaken kados pundi pituwasipun
kangge tiyang ingkang nindakaken Toretipun Gusti lan punapa pituwasipun
gesang ingkang manut pangajaking tiyang duraka.
Pancen kita saged nemtokaken pilihan kanthi mardika, nanging kedah
kaginakaken kanthi kebak ing kawicaksanan, kangge kasaenan lan tumuju
dhateng gesang. Sampun ngantos yen kita sumerep bilih satunggaling bab
badhe tumuju dhateng karisakan, adamel cilaka, kepara tiwas, nanging tetep
kita pilih. Punika ateges boten ngginakaken kawicaksanan, nilar tetimbangan
ingkang prayogi. Tuladhanipun kathah. Umpaminipun lampah bedhang,
nyimpen gendhakan, korupsi, omben-omben, sadaya saged dhatengaken
karisakan, nanging kenging punapa tetep dipun pilih. Menawi kita sampun
netepaken pilihan, dene pilihan kita ndhatengaken prakawis-prakawis ingkang
boten ngremenaken, sampun ngantos getun, awit getun jumedhulipun wonten
wingking lan boten saged ngewahi punapa ingkang kawuri.
Nemtokaken pilihan ndherekaken Gusti Yesus punika pilihan ingkang
wicaksana, nresnani Panjenenganipun, mlampah wonten margi ingkang leres,
boten milih ndherek lumampah ing margining tiyang duraka -kados ingkang
kapratelakaken Juru Masmur- punika wicaksana. Nemtokaken pilihan ingkang
mardika kedah kawujudaken wonten ing tuindak, boten namung ing lambe,
“Marga ing dina iki aku prentah marang kowe, supaya kowe tresnaa marang
Pangeran Yehuwah Gusti Allahmu sarta lumakua ana ing dalan pitedahe,
apadene netepana ing pepaken lan katetepan sarta prasetyane supaya kowe
lestarIa urip lan tangkar-tumangkara, sarta diberkahana dening Pangeran
Yehuwah Gusti Allahmu ana ing negara kang kokparani lan bakal kokejegi”.

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Mundhut Saranduning Gesang
Dhateng tiyang kathah ingkang sami ngetutaken Panjenenganipun, Gusti
Yesus ngandika bilih kangge nyanggemi timbalan dados siswanipun boten
kenging sangga-runggi lan mamang (tidha-tidha: red). Gusti Yesus
ngendikakaken kudu sengit marang rama, ibu lan brayatipun. Punika
pepundhutanipun Gusti ing perangan punika keras. Sengit ateges boten
nengenaken, punika minangka pepundhutan ingkang keras ugi, menawi
sampun nemtokaken pilihan, kedah saranduning gesang boten kenging sangga-
runggi. Menawi kanthi patrap sangga-runggi punika boten trep lan boten
pantes. Umpaminipun satunggaling nem-neman ngayunaken pawestri badhe
dipun dadosaken semahipun, calon mara sepuh mundhut pitakenan, “Apa
bener kowe nresnani anakku?” Menawi wangsulanipun: ”Kasinggihan, kanthi
sangga-runggi tresna kula dhateng putra panjenengan”, temtunipun lamaran
badhe katampik amargi wangsulanipun ngabritaken talingan. Nemtokaken
pilihan mesthi wonten pituwasipun, mila saderengipun kedah kapanggalih
kanthi saestu.
Dados siswanipun Gusti punika timbalan ingkang mundhut
samudayanipun. Mila kedah dipun-penggalih lan dipun-timbang kanthi saestu
lan permati, den-enget mesthi wonten pituwas awit saking pilihan kasebat.
Sampun ngantos dipun-remehaken dening tiyang sanes awit kita nemtokaken
pilihan kanthi sembrono. Kados sanepan ingkang kapangandikakaken dening
Gusti Yesus tumrap tiyang ingkang badhe ngedegaken menara, utawi ratu
ingkang badhe majeng wonten madyaning palagan. Piyambakipun kedah
nimbang-nimbang rumiyin saderengipun nemtokaken pilihan, sampun ngantos
panjangkanipun boten kadumugen.
Ingkang paling baken, dados siswanipun Gusti Yesus kedah nilar
samudayanipun. Nilar samudaya punika dados titikan minangka siswanipun
Gusti. Saben nemtokaken pilihan mbetahaken saranduning gesang, ”Sing sapa
ora manggul salibe lan melu Aku, dheweke ora pantes dadi siswaKu”.

Pituwasipun saben nemtokaken pilihan


Saben nemtokaken pilihan mesthi wonten pituwasipun. Juru Masmur
ngendikakaken saben tiyang ingkang boten manut pangangen-angenipun
tiyang duraka, piyambakipun kados wit ingkang katanem ing sapinggiring lepen
ingkang badhe ngedalaken woh ing mangsanipun, sedaya panyambut damel
wonten pituwasipun. Nanging tiyang duraka badhe tiwas. Semanten ugi Nabi

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Musa ngendika menawi bangsa Israel nilar Gusti, boten purun mirengaken
pangandikanipun, lan nyembah dhateng brahala mesthi badhe tiwas.
Saben nemtokaken pilihan mesthi wonten pituwasipun, mila boten
namung uger nemtokaken pilihan kemawon, nanging menawi dipunkertoaji
(dipun kinten-kinten: red) pilihan wau kedah tumuju dhateng gesang. Kita
badhe dados tiyang Kristen kados punapa, punika gumantung pilihan kita, awit
pilihan punika nemtokaken.

Pasamuwan ingkang dipun tresnani dening Gusti Yesus,


Saben nemtokaken pilihan kedah kapenggalih kanthi lebet, boten kenging
sangga- runggi, amargi nemtokaken pilihan kanthi sembrono pituwasipun
boten ngremenaken. Kanthi punika Gusti Yesus ngersakaken kita ngetut
wingking Panjenenganipun kedah kanthi saranduning gesang. Umat saged
nemtokaken pilihan kanthi mardika nanging kaajab saged nemtokaken pilihan
kanthi wicaksana, leres lan tanggel-jawab, inggih punika gesang nresnani Gusti
ingkang badhe dhatengaken gesang kebak tentrem lan karahayon kangge kita
sadaya.
Mekaten ugi ingkang dipun-kersakaken dening Paulus dhumateng
Filemon, supados purun nampi Onesimus linambaran katresnan wonten ing
Sang Kristus. Paulus boten ngagem kawibawanipun minangka rasul kangge
ngrodapeksa Filemon, ananging kepingin nedahaken dhumateng Filemon kados
pundi tiyang Kristen kedah gesang sesambetan kaliyan tiyang sanes, awit sinten
ingkang wonten ing Sang Kristus, punika dados titah anyar. Mila sugeng
nemtokaken pilihan kanthi wicaksana, Gusti berkahi, Amin.

 Rancangan Waosan Kitab Suci


Pawartos Sih Rahmat : Yokanan 3 : 16-17
Pitedah Gesang Enggal : Wahyu 2 : 10-11
Pangatag Pisungsung : II Korinta 9 : 7

 Rancangan Kidung Pangibadah


Kidung Pambuka : KPK. BMGJ. 31 : 1,3
Kidung Panelangsa : KPK. BMGJ. 52 : 1-3
Kidung Kesanggeman : KPK. BMGJ. 18 : 1,2
Kidung Pisungsung : KPK. BMGJ. 32 : 1-3
Kidung Panutup : KPK. BMGJ. 82 ; 1,2

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Khotbah Jangkep Minggu, 12 September 2010
Minggu II

PEMIMPIN YANG DIPERKENAN TUHAN


Bacaan:
Bacaan I: Keluaran 32: 7 – 14; Mazmur Tanggapan: Mazmur 51: 1 – 10;
Bacaan II: I Tim 1: 12 – 17; Bacaan Injil: Lukas 15: 1 – 10
Tujuan:
Agar jemaat dapat mengembangkan pola kepemimpinan dalam kehidupan tiap
hari di tengah keluarga, masyarakat dan gereja.

 Dasar pemikiran:
Pola kepemimpinan yang dikehendak Tuhan dari sejak dahulu hingga
sekarang tentulah sama. Dengan pola kepemimpinan yang akan direnungkan dan
dipelajari melalui Kitab Suci akan memberi harapan baru bagi pola kepemimpinan
saat ini dan mendatang. Pola kepemimpinan yang dikehendaki Tuhan sangat
dibutuhkan bagi kehidupan manusia yang bermartabat. Hal tersebut
merupakan tantangan bersama. Tidak hanya bagi yang sudah jadi pemimpin,
tetapi lebih khusus jika kepemimpinan itu dimulai dari diri kita sendiri.

 Tafsir:
Keluaran 32: 7 – 14
Sikap kepemimpinan yang besar, yang sangat bertanggung jawab dan yang
berbela, telah ditunjukkan oleh Musa, ketika Musa memberanikan diri untuk
mengingatkan Tuhan agar tidak menghukum Israel karena bangsa Israel membuat
patung lembu emas sebagai ganti kehadiran Alah. Musa berani mengingatkan
Tuhan Allah karena nanti Tuhan akan menyesal kalau menumpas bangsa Israel.
Boleh dikatakan bahwa Musa mengajukan keberatan terhadap Tuhan
sendiri, ini suatu sikap yang berbeda dari kebiasaan manusia pada umumnya
yang hanya menurut apa yang menjadi kehendak Tuhan. Bagi Musa, dampak
atas hukuman yang dijatuhkan Tuhan perlu menjadi cara untuk “Tuhan
diperingatkan” oleh Musa, karena nantinya Tuhan pasti akan menyesal.
Keberanian Musa terhadap Tuhan, membedakan Musa dengan para
pemimpin lain yang patuh saja dengan rencana Tuhan. Tuhan pun akhirnya
mengurungkan niat-Nya menghukum Israel.

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Dalam pemahaman ini, redaktor Kitab Suci hendak menunjukkan betapa
antara Musa dengan Tuhan terjalin relasi yang amat dekat. Sehingga pada
pihak Musa sebagai manusia bisa mengkritik Tuhan dan Tuhan menerima kritik
dan peringatan dari Musa.

Mazmur 51: 1 – 10
Mazmur pada pasal ini merupakan nyanyian yang berisi refleksi atas dosa
manusia dan pengakuan dosa di hadapan Tuhan. Ungkapan itu secara utuh
pada ayat tiga hingga ayat tujuh serta ayat 9, sementara ayat delapan dan ayat
10 merupakan pernyataan perkenan manusia yang beroleh tempat di hati
Tuhan. Mazmur ini menjadi teks pelengkap atas tindakan penyesalan Daud
ketika dengan licik merebut Batsyeba istri Uria untuk diambil menjadi isterinya.
Paparan mazmur ini adalah paparan pengakuannya seorang raja Israel,
raja yang amat terkenal. Apalagi jika memandang Daud sebagai seorang raja
yang mampu membawa negeri Israel, waktu itu, menjadi negeri yang tersohor
dan menikmati jaman keemasan. Sebelum dan sesudah Daud tidak ada
pemimpin Israel yang mampu seperti dia.
Dalam mazmurnya ini, meskipun ia seorang raja namun bersedia dikritik
oleh Nabi Natan dan segera menyesali dosanya.

I Timotius 1: 12 – 17
Rasul Paulus menyatakan diri sebagai orang yang mendapat limpahan belas
kasih Tuhan, mengingat masa lalunya ketika menjadi orang yang gigih memusuhi
jemaat Kristen. Namun kini Paulus yang dengan tekun melayani jemaat, maka
Tuhan mempercayakan pelayanan itu kepadanya. Paulus telah menunjukan
ketekunan dan kesetiaan menjadi rasul walaupun di dalam menjadi orang
Kristen dan menjalani kerasulannya ia berhadapan dengan resiko dipenjara.

Lukas 15: 1 – 10
Dalam bacaan ini lebih memang perhatian orang lebih banyak tertuju pada
bagian pernyataan Yesus yang menegaskan pertobatan manusia yang dihargai
demikian tinggi oleh Tuhan. Namun mari kita melihat sosok Tuhan Yesus yang
menerima kehadiran para pemungut cukai dan orang-orang yang dianggap
berdosa di tengah masyarakat.
Agaknya sudah menjadi kebiasaan, demikian Injil Lukas, para pemungut
cukai dan beberapa orang berdosa datang kepada Yesus untuk mendengarkan
ajaran-Nya. Sementara bagi Yesus sendiri, kedatangan mereka dan kesediaan
mereka untuk mendengarkan-Nya, bukan merupakan gangguan atau hal yang
menurunkan kredibilitas seorang yang telah diagungkan waktu itu.

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Tata nilai pergaulan masyarakat waktu itu memiliki asas kepatutan
seseorang itu dijaga menurut apa, siapa dan kondisi seperti apa, relasi itu
dibangun. Yesus hendak mengubah pandangan orang bahwa relasi seperti itu
tidak berlaku ketika Yesus, sebagai Juru Selamat memang sudah semestinya
mendekati orang yang akan diselamatkan.
Kehadiran para pemungut cukai dan orang-orang berdosa justru
merupakan hal yang terbaik karena kehadiran Yesus akan mengubah
kehidupan para pemungut cukai dan orang yang dianggap berdosa. Bahkan
Yesus merasa wajib dan harus mencari orang berdosa. jika orang berdosa itu
diumpamakan seperti dirham yang hilang, maka Yesus dengan menyamakan
diri sebagai orang yang berusaha mencari dengan tekun dirham yang hilang itu.
Dan ketika dirham itu ditemukan, pemilik dirham itu pun bersukacita.

Benang merah:
Sosok seorang pemimpin yang dapat kita pelajari dalam rangkaian bacaan
ini, yakni hendak menunjukkan bagaimana tipologi seorang pemimpin.
Pemimpin yang berani seperti Musa yang mengingatkan serta mengkritik
Tuhan agar tidak menghukum bangsa Israel, sosok pemimpin seperti Daud yang
mengakui sisi kemanusiaannya yang lemah dan dengan iklas ia bertobat dari
dosanya, seorang pemimpin yang tekun dan setia melayani seperti halnya
Paulus, atau sosok pemimpin seperti Yesus yang mencari orang berdosa.
Serangkaian bacaan ini hendak merefleksikan bahwa tugas kepemimpinan
bagaimanapun tetap harus dilangsungkan dalam kehidupan ini. Watak bagi
seorang pemimpin yang baik, jikalau sedia menerima cara pandang Alkitab
bagi seorang pemimpin.

 Khotbah Jangkep:

Jemaat yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus.

J ika kita membahas soal kepemimpinan, agaknya lebih tertuju


bahwa soal kepemimpinan itu bukan untuk kita, bukan urusan
kita, tapi untuk orang lain. Karena bisa jadi di benak kita, sudah
terlanjur memiliki gambaran pemimpin itu berkaitan dengan orang yang saat
ini sudah jadi pemimpin. Sekalipun ada benarnya memang hal kepemimpinan
itu diterapkan bagi mereka yang menjadi pemimpin, namun lebih tepat jika
kepemimpinan itu juga bagi diri kita dan untuk diterapkan pada diri kita.

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Apakah menjadi pemimpin bagi orang lain akan lebih mudah daripada
menjadi pemimpin bagi diri sendiri? Mari kita belajar dari Firman Tuhan pada
hari ini, bagaimana Kitab suci mengajarkan hal kepemimpinan itu kepada kita.
Musa adalah nabi Allah yang sudah berusia tua, ia memimpin bangsa Israel
keluar dari negeri Mesir sudah berusia 80 tahun, dan kita tahu bahwa pengembaraan
di padang gurun Sinai 40 tahun serta sebelum memasuki negeri Kanaan, Musa
meninggal lebih dahulu di usia 120 tahun. Dalam pengembaraan di Sinai yang
dikehendaki oleh Tuhan melewati jalur yang lebih jauh, Israel dituntun Tuhan hingga
pada suatu saat sampai di kawasan gunung Sinai, sebuah tempat yang legendaris bagi
sejarah Israel. Di kawasan gunung Sinai itu Tuhan mengadakan relasi yang lebih intens
dengan bangsa Israel, di mana melalui Musa, Tuhan memberikan hukum-hukum
yang akan dipergunakan oleh bangsa Israel dalam beribadah dan dalam kehidupan
setiap hari kelak ketika sudah berhasil menempati negeri yang dijanjikan Tuhan,
perlu diingat pula bahwa pemberian hukum-hukum itu, menjadi sebuah cara untuk
mengganti Israel bukan lagi sebagai keluarga besar anak cucu keturunan Abraham,
melainkan menjadi sebuah bangsa. Dalam rentang waktu pemberian hukum itu,
Musa meninggalkan bangsanya untuk naik ke gunung. Tidak ada batas waktu
hingga kapan Musa turun gunung, menjadikan bangsa Israel mengalami kehilangan
kepastian bahkan kepastian relasi dengan Tuhan, sehingga mereka membuat
patung lembu emas yang dimaksudkan untuk menggantikan Tuhan.
Setelah patung lembu emas selesai dibuat, bangsa Israel mengarahkan
gerak imannya kepada patung tersebut, hal itu menimbulkan kemarahan di
pihak Tuhan, sehingga Tuhan berniat menghukum bangsa Israel. Dalam
kesempatan genting itulah nabi Musa memberanikan diri untuk mengajukan
keberatan kepada Tuhan. Keberatan yang diajukan Musa sekaligus mengingatkan
Tuhan bahwa hukuman itu nantinya justru akan menjadikan penyesalan bagi Tuhan
sendiri. Sebuah relasi yang amat dekat antara Musa dengan Tuhan, Musa
sebagai manusia berada dalam kedekatan personal yang amat khusus dengan
Tuhan, sehingga Tuhan pun bersedia mengurungkan niat-Nya menghukum
Israel. Sebuah pementasan sikap seorang pemimpin yang penuh tanggung
jawab terhadap bangsa yang dipimpin, telah ditunjukkan pula oleh Musa
dengan berhasil mengurungkan niat Tuhan menghukum Israel. Seorang
pemimpin yang sungguh-sungguh mengalami kedekatan dengan Sang Khalik,
seperti anak dengan bapaknya.
Seorang pemimpin yang mengalami perubahan dan hidup dalam
pertobatan telah ditunjukkan oleh Daud. Daud dalam ungkapan hatinya
menyatakan penyesalan atas dosanya. Daud mengakui apa yang dilakukan itu
jahat di mata Tuhan, ia pernah dengan kelicikannya mengambil Batsyeba istri

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


panglimanya sendiri, untuk diambil menjadi istri Daud. Lintasan pengalaman
kelam dari Daud diakuinya, kini ia merasakan hidup yang tidak lagi diganggu
oleh dosa, karena ia sudah bertobat dan menyesali perbuatannya.
Sikap seorang pemimpin yang berani mengakui atas kesalahannya sendiri,
amat diperlukan bagi Tuhan dalam memimpin bangsa yang dipilih-Nya itu. Artinya,
pemimpin itu tidak mengukuhi sebagai orang yang paling benar, apapun yang
diucapkan menjadi keputusan, akan tetapi Daud menunjukkan diri sebagai
pemimpin yang telah melakukan kesalahan dan bertobat serta membaharui
sikapnya. Maka dalam perkara ini, Daud menjadi pemimpin yang berjiwa besar.

Jemaat yang terkasih,


Jiwa kepemimpinan Daud memiliki kesamaan dengan apa yang dimiliki oleh
rasul Paulus. Paulus adalah seorang yang pilih tanding dari antara bangsa Yahudi
kala itu, ia sosok yang cerdas, pemuka agama yang disegani, ia mengaku diri sebagai
orang ganas, artinya watak kejam ada padanya, hal itu terbukti dengan upaya
pembasmian para pengikut Kristus. Akan tetapi setelah mengalami perjumpaan
dengan Kristus sendiri, ia kemudian bertobat. Kini dalam pertobatannya itu, ia tidak
lagi melakukan pola hidup seperti tatkala belum menjadi orang Kristen, kini ia
hidup dalam kerasulannya yang benar-benar berkaliber sebagai rasul Kristus.
Rasul Paulus kini mengakui bahwa ia dikaruniai kasih dan pengampunan dari
Tuhan Yesus, sehingga ia tidak membanggakan lagi apa yang dimilikinya dahulu.
Harta terindah dalam hidup Paulus adalah kasih karunia dari Tuhan Yesus Kristus.
Kasih itu telah ia pelihara dalam ketekunan dan kesetiaannya menjalani tugas
kerasulannya. Ketekunan Paulus dan kesetiaannya memang telah membuahkan
pertumbuhan gereja. Perlu kita ketahui, bahwa pandangan teologi Paulus mengisi
hampir seluruh kitab Perjanjian Baru, sehingga pandangan kitab Perjanjian Baru
sering diidentikkan dengan pandangan rasul Paulus, Rasul Paulus pantas disebut
rasul yang meletakkan dasar-dasar pandangan keimanan gereja. Hal yang
demikian besar itu berkat ketekunan dan kesetiaan dari seorang Paulus. Artinya
bahwa Rasul Paulus sebagai seorang rasul besar yang memiliki wawasan teologi
yang amat luas dan dalam, namun yang dengan kerendahannya mengakui
bahwa semua itu hanya karena kasih Kristus semata.
Sedangkan dalam bacaan Injil Lukas tadi, menampilkan pemandangan yang
sangat menarik, mengingat orang Farisi yang sudah memiliki pandangan bahwa
orang yang terhormat di kalangan tradisi Yahudi, tidak pantas bergaul dengan
masyarakat kelas bawah, atau mereka yang dianggap berdosa oleh masyarakat
atau hanya oleh kalangan Farisi. Duduk makan dengan kalangan orang yang
dianggap berdosa pun dimasalahkan oleh orang Farisi, kini Yesus di datangi

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


mereka para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Jelas bagi Farisi bahwa
apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus merupakan suatu penyimpangan dari tata
nilai yang berlaku dalam tradisi Yahudi. Tuhan Yesus dianggap melanggar asas
kepatutan dalam tradisi Yahudi. Namun bagi Tuhan Yesus justru tidak demikian.
Tuhan Yesus memandang adalah hal yang utama jika orang berdosa datang
kepada-Nya. Agaknya sudah menjadi kebiasaan, demikian Injil Lukas, para
pemungut cukai dan beberapa orang berdosa datang kepada Yesus untuk
mendengarkan ajaran-Nya. Sementara bagi Tuhan Yesus sendiri, kedatangan
mereka dan kesediaan mereka untuk mendengarkan-Nya, bukan merupakan
gangguan atau hal yang menurunkan kredibilitas seorang yang telah diagungkan
waktu itu. Tuhan Yesus menerima kehadiran mereka dengan sukacita. Tuhan Yesus
menjadi seorang pemimpin yang tetap dengan keagungan-Nya tanpa harus
terganggu oleh pandangan orang Farisi.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,


Kepemimpinan memang tidak bisa dipisahkan dari si pemimpin itu sendiri
memiliki kekuatan pada dirinya sendiri. Kekuatan kepemimpinan itu dalam
contoh-contoh di dalam Alkitab, ditempatkan dalam relasi dengan Tuhan,
sehingga memungkinkan terjadinya relasi yang begitu erat, seperti halnya nabi
Musa dengan Tuhan. Atau seperti yang ditampilkan oleh sikap raja Daud
ataupun rasul Paulus, sebagai seorang pemimpin yang menampilkan sikap
kerendahan hati, mereka mengakui pernah berdosa bagi Tuhan, dan hidup
selanjutnya dipersembahkan bagi Tuhan pula.
Gambaran pemimpin yang melakukan pola kepemimpinan yang keras,
berkuasa, tangan besi, tidak dijumpai dalam contoh pada tokoh bacaan Alkitab pada
hari ini. Justru para pemimpin yang mengakui keberadaannya hanya karena Tuhan,
yang melakukan tugasnya dengan tetap berada dalam kerendahan hatinya,
pemimpin yang berkenan menerima setiap orang tanpa pembedaan kelas sosial.
Mereka tokoh dalam bacaan ini yang kita sebut para pemimpin itu, memiliki
kekuatan kepemimpinannya bukan dengan kuasa, tetapi dengan kasih mereka.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,


Lantas bagi kita, apakah kita bukan pemimpin? Di keluarga kita masing-masing,
di dalam kehidupan pribadi kita masing-masing? Diri kita adalah juga pemimpin
bagi diri kita sendiri. Kita memang dengan bebas mengarahkan diri kita mau kemana
atau mau seperti apa. Mau acuh tak acuh dengan orang lain atau keluarga. Kita
mau perhatian bagi orang lain, kita mau ramah, mau peduli, mau menerima orang
lain atau kebalikan dari itu. Semuanya bebas pada kita sendiri. Namun perlu

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


diingat, apapun yang dipilih dalam sikap hidup kita menentukan bagi diri kita
dan berpengaruh pula bagi orang lain. Nah, jika demikian, alangkah baiknya kita
mengikuti pola kepemimpinan Musa, Daud, Paulus dan tentu Tuhan Yesus
sendiri.
Apakah kita memiliki kedekatan pribadi dengan Tuhan, mengakui realitas
kekuasaan Tuhan, mengakui hidup kita karena kasih dan kemurahan Tuhan,
dan apakah kita bersedia menerima sesama kita sebagaimana kita diterima
Tuhan? Adakah semuanya itu menjiwai dalam hidup dan pikiran kita? Atau apakah
rapat-rapat di dalam gereja kita, pelayanan di dalam gereja kita, diwarnai oleh hal-
hal seperti itu?
Kerapkali kita membiarkan hidup dipengaruhi oleh hal-hal yang menyebabkan
kita menjadikan lebih mudah marah, tidak sabar, kurang rendah hati. Kita dibuat
sibuk meladeni situasi seperti itu, sehingga kurang atau tidak mampu memimpin
diri sendiri dengan sikap-sikap yang lebih arif dan bijak.
Bisa jadi selama ini, kritik dari orang lain akan ditolak semampu kita, rendah
hati menjadi jauh dari kebiasaan kita, kita lebih mengutamakan bagaimana kita bisa
menang.
Mari kita tengok jika kita sendiri di dalam keluarga kita dan pekerjaan kita
serta dalam pelayanan kita di manapun kita berada. Apakah kehidupan keluarga
kita sangat terasa sikap seperti itu? Apakah dalam pekerjaan kita diwarnai nilai-nilai
kepemimpinan seperti dalam tokoh Kitab Suci tadi, atau justru pekerjaan kita hanya
untuk menumpuk harta saja, dan mengorbankan orang lain?
Jika kita menyadari sebagai pemimpin bagi diri sendiri sudah tentu kita sekarang
mengambil cara kepemimpinan Musa Daud Paulus dan Tuhan Yesus. Agar segala
sesuatu yang ada pada mereka membuat diri kita diperkenan bagi Allah. Amin.

 Rancangan Bacaan Alkitab:


Berita Anugerah : Yohanes 10: 11, 14
Petunjuk Hidup Baru : I Timotius 4: 12
Persembahan : Mazmur 76: 11

 Rancangan Nyanyian Pujian:


Nyanyian Pembuka : Kidung Jemaat 20: 1, 2
Nyanyian Penyesalan : Kidung Jemaat 355: 1, 2, 3
Nyanyian Kesanggupan : Kidung Jemaat 364: 1, 2, 4
Nyanyian Persembahan : Kidung Jemaat 68: 1,2,3
Nyanyian Penutup : Kidung Jemaat 273: 1,2

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Khotbah Jangkep Jawi Minggu, 12 September 2010
Minggu II

PEMIMPIN INGKANG KARENAN ING


PANGGALIHIPUN GUSTI
Pangentasan 32: 7 – 14; Mazmur 51: 1 – 10; I Tim 1: 12 – 17; Lukas 15: 1 – 10
Ancas tujuan:
Supados pasamuwan saged anjembaraken patraping pemimpin ing gesang
padintenan wonten ing brayat, masyarakat lan pasamuwan.

 Khotbah Jangkep

Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing Gusti Yesus Kristus,

M enawi kita ngrembag bab timbalan dados pemimpin,


ing semu wosing pirembagan punika kaeneraken dhateng
tetiyang ingkang sampun dados pemimpin, inganggep bab
punika sanes prakawis kita, nanging kangge tiyang sanes. Jalaran ing pikiran
kita sampun kebacut ndarbeni pangganggep bilih bab mimpin punika
gegayutan kaliyan tiyang ingkang sampun dados satunggaling pemimpin.
Sanadyan inggih wonten leresipun, nanging langkung trep menawi bab mimpin,
nuntun, ngreksa lan ngereh punika kangge kita piyambak.
Punapa dados pemimpin ingkang nuntun tiyang sanes badhe kaanggep
langkung gampil katimbang kangge dhiri kita piyambak? Sumangga kita purun
sinau dhateng pangandikanipun Gusti ing dinten punika, kadospundi Kitab Suci
mulangaken bab punika kangge kita.
Nabi Musa katimbalan dados nabi sampun yuswa sepuh, nuntun bangsa
Israel medal saking nagari pangawulan Mesir nalika sampun yuswa 80 tahun,
kita inggih sumerep bilih bangsa Israel mlampah tumuju dhateng Kanaan
nglangkungi pasamunan Sinai dangunipun 40 tahun, Nabi Musa seda langkung
rumiyin saderengipun bangsa Israel kalampah mlebet dhateng Kanaan, nabi
Musa seda ing yuswa 120 tahun. Wonten ing pasamunan Sinai, inggih margi lan
panggenan ingkang kalangkungan punika tebih lan dangu wekdalipun, Israel
katuntun dening Gusti, lumantar nabi Musa, ngantos dumugi ing laladan redi
Sinai, satunggaling papan ingkang pikantuk kawigatosan dening bangsa Israel.

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Ing wewengkon redi Sinai punika Gusti akarya tetangsulan ingkang langkung
bakuh kaliyan bangsa Israel. Lumantar nabi Musa, Gusti maringi pepaken
ingkang badhe kaginakaken dening bangsa Israel salebeting ngabekti lan ing
gesang padintenanipun benjing ing wekdal wancinipun bangsa Israel sampun
kalampah manggen ing negari prasetyan. Prelu kasumerepana bilih sarana
Gusti paring sakathahing pepaken punika nelakaken bilih Gusti badhe
anggantos Israel, boten dados satunggaling brayat ageng tedhak turunipun
Abraham malih, ananging dados satunggaling bangsa. Ing wekdal samanten,
nalika Gusti paring pepaken dhateng nabi Musa, sang nabi nilar bangsa Israel
saprelu minggah redi Sinai. Boten wonten katemtuaning wekdal benjing
punapa sang nabi badhe tedhak mandhap saking redi Sinai. Ing wekdal ingkang
boten gumathok wau, anjalari bangsa Israel kecalan underaning sesambetan
kaliyan Gusti Allah, satemah bangsa Israel mangun reca lembu mas kinarya
gantosing Gusti Allah.
Sasampunipun reca wewangunan lembu mas wau rampung kawangun,
bangsa Israel lajeng ngeneraken pangabektinipun dhateng reca wau, bab
punika nuwuhaken bramantyanipun Gusti, satemah Gusti Allah sumadya
ndhawahaken bebendunipun dhateng bangsa Israel. Ing swasana ingkang
tintrim ngajengaken dhawahing pidana, nabi Musa nguningakaken
panyuwunan dhateng Gusti. Nabi Musa nguningakaken raos kawratan tuwin
kedugi ngengetaken dhumateng Gusti Allah bilih bebendu punika mangke
anamung damel keduwung panggalihipun Gusti piyambak. Bab punika
nedahaken wontenipun sesambetan ingkang mirungga lan sakelangkung raket
ing antawising nabi Musa kaliyan Gusti Allah. Nabi Musa minangka jalma
manungsa limrah dene mapan ing rumaketing sesambetan pribadi kaliyan
Gustinipun, ing satemah Gusti inggih lajeng murungaken sedyanipun midana
bangsa Israel. Ing ingriki nabi Musa mratelakaken dados satunggaling pemimpin
ingkang kebak tanggel jawab dhateng bangsanipun kanthi saged meper
bramantyanipun Gusti. Satungaling pemimpin ingkang tuhu angraosaken
rumaketing patungggilan kaliyan ingkang nitahaken jagad, sinami kadosdene
anak kaliyan bapakipun.

Pasamuwan ingkang kinasih,


Satunggaling pemimpin ingkang ngalami ewah-ewahan lan gesang ing
pamratobat kasumerepaken dening Sang Prabu Dawud. Dawud ngakeni
punapa ingkang katindakaken awon ing paningalipun Gusti Allah, piyambakipun
nate kanthi kajuliganipun mendhet Batsyeba semahipun Uria, senopatinipun

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


piyambak, kadadosaken semahipun Dawud. Lelampahan ingkang ngucemaken
rumiyin, dipun akeni dening Dawud. Dene samangke piyambakipun boten
karidhu dening dosanipun malih, awit piyambakipun purun nelangsani
pandamelipun wau tuwin mratobat.
Patraping pemimpin ingkang purun ngakeni kalepatanipun piyambak,
sayekti dipun betahaken dening Gusti kangge nuntun bangsa pilihanipun Allah.
Tegesipun pemimpin punika boten ngekahi minangka tiyang ingkang sampun
leres. jer punapa kemawon ingkang kaucapaken dados paugeran, ananging
Sang Prabu Dawud nedahaken bilih piyambakipun minangka pemimpin ingkang
sampun nate nindakaken kalepatan. Ing bab punika Dawud madeg pemimpin
ingkang agung karana purun nglengganani kalepatanipun.

Pasamuwan ingkang kinasih.


Watak kepemimpinan ingkang sami kadosdene Sang Prabu Dawud kaliyan
Rasul Paulus. inggih kadarbe dening Rasul Paulus. Rasul Paulus minangka
satunggaling tiyang ingkang pilih tandhing saking antawising bangsa Yahudi.
Piyambakipun dados pawongan ingkang lantip, pangarsa agami ingkang kebak
pangaribawa, piyambakipun ngaken minangka tiyang ingkang kereng,
tegesipun watak gampil nepsu lan kejem wonten ing piyambakipun, bab punika
kayektenan wonten ing wekdal nalika nguya-uya pasamuwanipun Gusti.
Ananging sasampunipun ngalami pepanggihan kaliyan Gusti Yesus piyambak,
samangke piyambakipun mratobat. Salebeting pamrabatobat, piyambakipun
babar pisan boten nindakaken malih patraping gsang kados ing wekdal dereng
dados tiyang Kristen. RasulPaulus samangke tumemen nindakaken pakaryaning
karasulanipun ingkang laras minangka rasulipun Gusti Yesus.
Rasul Paulus ngakeni bilih piyambakipun kaparingan sih lan pangapunten
saking Gusti Yesus Kristus, piyambakipun boten badhe ngegungaken dhiri
tumrap punapa ingkang rumiyin nate dipun darbeni. Bandha ingkang
nengsemaken lan elok ing gesangipun Paulus samangke inggih punika sih
rahmat saking Gusti Yesus Kristus. Katresnanipun Gusti Yesus dipun raosaken
lan kajagi wonten ing katemenanipun salebeting leladi kagem Gusti minangka
rasul. Tumemen lan kasetyanipun Rasul Paulus nguwohaken pasamuwan-
pasamuwan. Prelu den-enget, bilih kawruh utawi seserepan teologi Rasul
Paulus sumebar ing Kitab Suci Prajanjian Anyar, satemah punapa ingkang dados
wawasanipun Kitab Suci Prajanjian Anyar punika inganggep sami kaliyan
wawasanipun Rasul Paulus. Rasul Paulus pantes sinebat rasul ingkang akarya
tetalesing wawasaning tumrap iman kapitadosanipun pasamuwan. Bab ingkang

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


ageng punika amargi tumemen saha kasetyanipun satunggaling Paulus,
tegesipun, Rasul paulus minangka rasul agung ingkang kagungan wawasan
teologi ingkang jembar lan lebet, nanging ingkang kanthi patrap andhap asor
ngakeni bilih sadaya punika awit katresnanipun Gusti Yesus Kristus.
Wondene ing waosan Injil Lukas, nyumerepaken dhateng kita sesawangan
ingkang narik kawigatosan, ngengeti bilih tiyang Farisi ingkang sampun gadhah
paugeran ing pundi tiyang ingkang kinurmat, manut pakulinanipun masyarakat
Yahudi, boten pantes sesrawungan kaliyan masyarakat ingkang kaanggep asor,
utawi para tiyang ingkang kaanggep dosa tumraping masyarakat Yahudi.
Lenggah sapajagongan sinambi dhahar sesarengan kaliyan tiyang dosa punika
dipun dadosaken prakawis dening tiyang Farisi. Samangke Gusti nampi
pisowanipun para juru mupu beya lan tiyang-tiyang ingkang kaanggep dosa.
Tumraping tiyang Farisi, cetha bilih ingkang katindakaken Gusti Yesus medal
saking paugeran ingkang sampun lumampah ing masyarakat Yahudi. Gusti
Yesus inganggep nerak paugeraning masyarakat Yahudi. Nanging tumrap Gusti
boten makaten.
Gusti Yesus mirsa bilih bab ingkang utami menawi tiyang ingkang
nandhang dosa sowan dhateng ing ngarsanipun. Manut paseksining Injil Lukas,
bilih juru mupu beya lan tiyang dosa sampun kulina sowan saprelu mirengaken
piwulangipun Gusti. Tumrap Gusti Yesus, sowanipun para tiyang wau karana
kepingin mirengaken, lan sanes bab ingkang adamel reridhu, utawi badhe
nglorop kalenggahanipun Gusti. Gusti Yesus tetep dados pemimpin ingkang
agung tanpa kaganggu damel dening panampining tiyang Farisi wau.

Pasamuwan ingkang kinasih


Magepokan kaliyan bab mimpin, boten saged pinisah saking ingkang
mimpin piyambak, tiyang ingkang mimpin prelu nggadhahi kakiyatan wonten
ing dhirinipun pribadi. Kakiyataning leladi dados pemimpin pinanggih ing
sawetawis tuladha ing Kitab Suci, bilih kakiyatan wau kapapanaken ing
sesambetan kaliyan Gusti, satemah nukulaken sesambetan ingkang raket
kadosdene nabi Musa kaliyan Gusti Allah. Inggih kados dene ingkang katingal
ing gesangipun Sang Prabu Dawud lan Rasul Paulus, nelakaken para pemimpin
ingkang andhap asor, para tiyang wau samidene nate nindakaken punapa
ingkang boten prayogi ing ngrasanipun Allah, ananging samangke gesangipun
lumadi kagem Gusti. Gegambaraning pemimpin ingkang awatak keras,
kumawasa, babar pisan boten pinanggih ing gesangipun. Para pemimpin
ingkang kaseksenan ing Kitab Suci dinten punika, para tiyang ingkang

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


nindakaken timbalanipun salebeting sikep andhap asor, pemimpin agung
ingkang karsa nampeni para tiyang tanpa memilah tataran ing masyarakatipun.
Para tiyang ingkang nindakaken timbalan dados pemimpin boten lumantar
panguwaosing kadonyan, ananging kanthi sih lan katresnanipun.

Pasamuwan ingkang kinasih,


Lajeng kadospundi menggahing kita, punapa kita punika sanes pemimpin?
Sae ing satengahing brayatkita punapadene ing gesang kita piyambak-
piyambak? Kita punika inggih dados pemimpin tumrap gesang kita piyambak.
Kita pancen kanthi mardika ngeneraken dhiri kita tumuju dhateng cakriking
pemimpin ingkang kados punapa. Badhe mendel kemawon tanpa migatosaken
brayat lan tiyang sanes, kita badhe migatosaken, grapyak sumanak, badhe
nampi tiyang sanes utawi kosokwangsul saking sadaya punika. Nanging den-
enget, punapa kemawon ingkang kita pilih, badhe nemtokaken tumraping dhiri
kita pribadi lan andayani tumraping tiyang sanes. Menawi sampun makaten,
langkung prayogi kita nulad dhateng Nabi Musa, Sang Prabu Dawud, Rasul
Paulus lan sampun temu dhateng Gusti Yesus piyambak.
Punapa kita gadhah sesambetan ingkang mirungga satata pribadi kaliyan
Gusti, ngakeni dhateng panguwaosipun, ngakeni bilih gesang kita punika karana
sih lan kamirahanipun Gusti, tuwin punapa kita purun nampeni sesami
kadosdene kita katampi dening Gusti? Punapa bab ingkang makaten rumeksa
ing pikiran lan gesang kita? Punapa sampun kapratelakaken nalika rapat-rapat
ing pasamuwan kita, wonten ing paladosan-paladosaning pasamuwan inggih
sampun kadayan dening sikep ingkang makaten?
Asring kalampahan kita kembet dening prakawis-prakawis ingkang njalari
kita langkung gampil nepsu, kereng, boten sabar, kirang andhap asor. Kita
kadayan nguja ngladosi kahanan ingkang makaten, satemah kirang utawi boten
saged mimpin dhiri pribadi kanthi sikep ingkang wicaksana.
Sadanguipun punika bok menawi ingkang nama panyaruwe saking tiyang
sanes ingkang katujokaken dhateng kita, katampik sakakiyatan kita, boten kita
tanggapi kanthi prayogi, andhap asor dados sikep ingkang tebih saking gesang
kita, kita langkung nengenaken kadospundi kita saged mimpang.
Sumangga kita tingali, menawi kita piyambak ing satengahing brayat kita
lan panyambut damel kita ing pundi kita mapan, punapa gesanging brayat kita
saestu saged ngraosaken awit kita saged dados pemimpin ingkang nulad ing
Kitab Suci? Punapa ing pakaryan lan pangabden kita cakriking pemimpin
ingkang alus, lembah manah, andhap asor inggih andayani? Utawi panyambut

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


damel kita anamung kangge numpuk bandha kemawon lan ngurbanaken tiyang
sanes?
Menawi kita nglenggana minangka pemimpin tumrap gesang kita
piyambak, sampun temtu samangke wekdalipun kita ngginakaken caranipun
Nabi Musa, Sang Prabu Dawud, Rasul Paulus lan Gusti Yesus piyambak,
kadadosaken caranipun kita mimpin dhiri pribadi, supados sadaya ingkang
kawengku ing caranipun mimpin para priyagung ing Kitab Suci wau,
andadosaken kita karenan ing panggalihipun Gusti. Amin.

 Rancangan Waosan Kitab Suci:


Pawartos Sihrahmat : Yokanan 10: 11, 14
Pitedal Gesang Anyar : I Timotius 4: 12
Pangatag Pisungsung : Jabur 76: 11

 Rancangan Kidung Pamuji:


Kidung Pambuka : KPK BMGJ 27: 1, 2
Kidung Panalangsa : KPK BMGJ 46: 1, 2, 3
Kidung Kasanggeman:K : KPK BMGJ 168: 1, 2
Kidung Pisungsung : KPK BMGJ 188: 1, 2, 3
Kidung Panutup : KPK BMGJ 174: 1,3

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Khotbah Jangkep Minggu, 19 September 2010
Minggu III

DOA BAGI PEMIMPIN


Bacaan I: Amos 8: 4-7; Antar Bacaan: Mazmur 113;
Bacaan II: I Timotius 2: 1-7; Bacaan III: Injil Lukas 16: 1-13
Tujuan:
Jemaat mampu dan setia mendoakan dalam kesabaran dan penyangkalan diri
bagi para pemimpin/penguasa.

 Dasar Pemikiran
Doa adalah suatu perintah yang menegaskan hubungan kena-mengena
kita dengan orang lain. Itu cara yang paling indah untuk mentaati perintah
mengasihi orang lain seperti diri kita sendiri. Kasih yang alkitabiah tidak boleh
diartikan sebagai perbuatan tukar-menukar yang timbal-balik atau sebagai
transaksi dagang. Kasih yang sejati diberikan tanpa mengharap balasan. Dengan
dasar ini doa untuk orang lain atau para pemimpin yang dilakukan dengan
sungguh merupakan pernyataan kasih yang agung. Tanpa pamer, tanpa pamrih.
Dengan sendiri atau bersama berdoa, dalam doa itu mengangkat nama-nama
atau problem orang lain di hadapan hadirat Allah, dengan harapan dapat
mendukung dan mengarahkan perbuatan kasih yang nyata dan mampu
mengubah.
Ketidak-jujuran, keserakahan dan kecurangan rupanya menjadi gaya hidup
para pemimpin/penguasa tidak hanya masa lampau melainkan juga masa kini.
Entah itu pemimpin bangsa atau bisa jadi juga para pemimpin gereja.
Buktinya memang hingga saat ini upaya untuk memberantas korupsi di
dunia umumnya, dan di Indonesia khususnya selalu mengalami banyak
hambatan. Hambatan ini bukan saja karena para koruptor ini memiliki
kesempatan untuk korup, namun juga karena kecerdikan mereka yang mampu
menutupi segala ketidak-jujurannya.
Tentu bukan ketentraman, ketenangan, kesalehan dan kehormatan yang
akan diperoleh para pemimpin/penguasa yang tidak jujur, namun justru hal
sebaliknya yang akan diperoleh mereka. Kejujuran para pemimpin menjadi
harapan yang sangat didambakan oleh banyak orang. Bekal kejujuran para

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


pemimpin akan membawa yang dipimpin pada kesejahteraan dan kesentosaan
hidup.
Bukan perkara mudah pada masa ini mengubah ketidak-jujuran para
pemimpin. Namun demikian bukan berarti tidak mungkin akan terjadi
perubahan dalam kehidupan para pemimpin yang tidak jujur. Kekuatan doa
dan upaya untuk berubah serta menyediakan diri untuk diubah memungkinkan
karya Tuhan dalam Roh Kudus terjadi.

 Tafsiran:
Amos 8: 4-7
Kitab Amos banyak dikenal sebagai kitab yang mampu membawa gerakan
sosial untuk membela keadilan bagi orang-orang yang tertindas. Walau demikian
yang utama dari kitab Amos ini adalah bagaimana penulis menempatkan Allah
sebagai pemilik kehidupan dan pencipta seluruh umat manusia.
Bacaan dalam pasal 8 ayat 4-7, dilatar belakangi oleh kemerosotan moral para
pemimpin Israel, yang membuat hati TUHAN tergerak untuk mengingatkan dan
memberikan hukuman kepada mereka. Bentuk kemerosotan moral itu ditunjukkan
dengan cara berpikir dan sikap hidup menindas dan memeras orang yang lebih
lemah. Bahkan kejahatan senantiasa dirancangkan oleh para pemimpin/penguasa
untuk mengambil keuntungan bagi diri sendiri. Pola kepemimpinan yang
dijalankan selalu tidak mengarah pada upaya membangun kesejahteraan
bersama, melainkan justru sebaliknya.
Sikap serakah para pemimpin/penguasa yang telah mendorong mereka
untuk mengkorupsi dan menistakan hari-hari yang telah dikuduskan Allah.
Tidak sedikit mereka yang berlaku kejam dan curang terhadap sesamanya.
Bukan saja para pemimpin politik yang cenderung suka menindas, tetapi juga
mereka yang bergerak di bidang ekonomi (para pebisnis dan pedagang) banyak
berlaku curang dengan menggunakan neraca yang telah dipalsukan.
Allah merespon perilaku jahat mereka dengan mengambil keputusan dan
sumpah untuk tidak melupakan dan mengampuni dosa dan kejahatan para
pemimpin ini.

Mazmur 113
Pemazmur menyaksikan dengan puji-pujian dan menyatakan kemaha-
tinggian Allah yang luar biasa. Sekalipun demikian Allah yang dikenal pemazmur
adalah Allah yang juga peduli kepada umatnya yang lemah dan tertindas.
Bentuk kepedulian Allah dinyatakan bahwa Ia menentang setiap orang yang

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


suka menindas sesamanya. Dan sebaliknya, Ia akan menegakkan orang yang
hina memulihkan mereka yang miskin dari lumpur kehinaan.
Dalam karya penyelamatan Allah, nampak bahwa Ia selalu akan
memulihkan martabat kemanusiaan dari mereka yang direndahkan dan dihina.
Allah tidak menghendaki umat manusia saling menindas. Yang Allah kehendaki
adalah agar umat manusia saling menghargai dan saling memberi tempat
untuk memperoleh kesejahteraan bersama.

I Timotius 2: 1-7
Surat pribadi Rasul Paulus kepada Timotius ini sekaligus merupakan surat
penggembalaan bagi jemaat yang sedang menghadapi masalah tertentu. Latar
belakang yang dihadapi jemaat adalah berkembangnya ajaran sesat berupa
intelektualisme spekulatif yang cenderung bermain-main dengan logika,
kepercayaan pada dongeng dan penekanan silsilah sebagai keturunan orang-
orang rohani.
Perikop ini memuat beberapa hal penting:
Doa bagi penguasa. Secara fungsional, penguasa duniawi dikehendaki Tuhan
untuk melaksanakan perintah-Nya. Dalam melaksanakan pemerintahan atau
kekuasaan mereka seharusnya berpedoman pada kebenaran dan keadilan
Allah yang memelihara kehidupan rakyatnya. Dalam pengertian yang
demikian orang percaya dituntut untuk mendoakan para penguasa
Dalam pengajaran tentang doa, terkandung pengertian bahwa Injil
keselamatan Allah itu berlaku universal. Injil mencakup orang besar dan
kecil, baik untuk kaisar dengan kekuasaannya, maupun bagi para budak
dalam ketidak-berdayaannya. Untuk orang baik dan orang jahat, untuk
orang Kristen maupun yang bukan Kristen. Doa dinaikkan bagi semua
orang, termasuk mereka yang tidak Kristen. Kaisar waktu itu bukan
Kristen, bahkan memusuhi gereja. Tapi harus juga didoakan.

Sewajarnya, lebih mudah bagi Rasul Paulus mengajak jemaat untuk


mengutuk dan mengumpati tindakan sang penguasa saat itu daripada
mengajak jemaat untuk mendoakan mereka. Di sinilah kekuatan karya Roh
Kudus yang telah mengubah kehidupan Rasul Paulus, sehingga ia mau
menyangkali dirinya dalam menyatakan doa bagi para pemimpin/penguasa.
Rasul Paulus melalui Timotius justru mendorong jemaat untuk setia
mendoakan para pemimpin tersebut. Kesetiaan untuk mendoakan memerlukan
kesabaran dan penyangkalan diri yang luar biasa.

Lukas 16: 1-13

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur hendak mengajar
kepada kita untuk berpikir obyektif. Karena di balik kejahatan atau keburukan
seseorang, tentu ada kemungkinan kebaikan yang dapat dijadikan contoh
dalam kehidupan. Yesus memuji sang bendahara bukan karena ketidak-
jujurannya dalam mengelola uang majikannya, tetapi karena kecerdikannya
mencermati segala kemungkinan yang dapat terjadi di masa yang akan datang.
Uang adalah barang yang senantiasa lekat dalam kehidupan manusia.
Uang diupayakan dan diperoleh dengan bersusah-payah agar terwujud
keberhasian hidup yang sejahtera. Mencari dan mengelola uang menjadi
bagian hidup sehari-hari manusia. Sering kali karena bersifat rutin dan sehari-
hari lekat, maka manusia cenderung menganggap ‘kecil’. ‘Kecil’ tentu bukan
berarti tidak penting, tetapi lebih dalam arti sudah biasa dilakukan; menjadi
sebuah rutinitas yang biasa saja. Bila kita gagal dalam mengurus urusan ‘kecil’
sehari-hari, mana mungkin kita akan setia dalam mengurus perkara-perkara
yang lebih besar, apalagi untuk hal-hal yang terkait dengan pekerjaan Tuhan?
Mereka yang gagal mengelola uang yang sangat berkait dengan hidup
sehari-hari, tidak layak untuk diberi kepercayaan yang lebih besar tentunya!

 Khotbah Jangkep:
Jemaat yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,

K
omisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menetapkan
tersangka terkait dugaan korupsi pejabat di salah satu instansi
pemerintahan…. “ demikianlah sebagian cuplikan dari berita surat
kabar yang bisa jadi kita temui setiap hari. (pengkhotbah bisa membawa
cuplikan surat kabar tentang kasus korupsi yang sedang terjadi).
Keserakahan, kecurangan, ketidak-jujuran rupanya telah menjadi berita
setiap hari masyarakat. Anehnya, tindakan itu bukan saja dilakukan oleh
mereka yang secara nyata memang kekurangan dalam memenuhi hidupnya.
Tetapi justru dilakukan oleh mereka yang nota-bene disebut sebagai pejabat,
penguasa atau pemimpin bangsa ini.
Mau dibawa kemana bangsa ini? Mau dibawa kemana masyarakat kita ini?
Demikian, kekesalan kebanyakan rakyat yang telah merasa ditipu oleh para
pemimpinnya!
Sudah sedemikian parahkah kehidupan moral para pemimpin/penguasa
bangsa ini? Mereka yang seharusnya menjadi teladan atau contoh bagi
kehidupan bermasyarakat justru telah mencurangi rakyat dengan seenaknya.

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Kenyataan tentang kemerosotan moral, sebenarnya bukan masalah
manusia pada masa kini saja. Kitab Amos, dilatar-belakangi oleh adanya
kenyataan kemerosotan moral para pemimpin Israel, yang membuat hati
Tuhan tergerak untuk mengingatkan dan memberikan hukuman kepada
mereka. Bentuk kemerosotan moral itu ditunjukkan dengan cara berpikir dan
sikap hidup menindas dan memeras orang yang lebih lemah. Bahkan kejahatan
senantiasa dirancangkan oleh para pemimpin/penguasa untuk mengambil
keuntungan bagi diri sendiri. Pola kepemimpinan yang dijalankan selalu tidak
mengarah pada upaya membangun kesejahteraan bersama, melainkan justru
sebaliknya.
Sikap serakah para pemimpin/penguasa yang telah mendorong mereka
untuk mengkorupsi dan menistakan hari-hari yang telah dikuduskan Allah.
Tidak sedikit mereka yang berlaku kejam dan curang terhadap sesamanya.
Bukan saja para pemimpin politik yang cenderung suka menindas, tetapi juga
mereka yang bergerak di bidang ekonomi (para pebisnis dan pedagang) banyak
berlaku curang dengan menggunakan neraca yang telah dipalsukan.
Perilaku tidak jujur dengan dibungkus kecerdikan membuat para pelaku
kejahatan sulit untuk dijerat dengan hukum duniawi. Untuk itulah Allah
merespon perilaku jahat mereka dengan mengambil keputusan dan sumpah
untuk tidak melupakan dan mengampuni dosa dan kejahatan para pemimpin
ini.
Jemaat yang terkasih,
Adakah kemungkinan akan terjadi perubahan dalam kehidupan para
pemimpin bangsa ini, yang mampu membawa kehidupan seluruh rakyat
menjadi lebih baik dan sejahtera? Pemazmur, dalam menyaksikan dengan puji-
pujian dan menyatakan kemaha-tinggian Allah yang luar biasa, memiliki
keyakinan bahwa, sekalipun Allah yang dikenalnya adalah Allah yang
mahatinggi, namun ia juga meyakini bahwa Allah adalah Allah yang peduli
kepada umatnya yang lemah dan tertindas. Bentuk kepeduliaan-Nya
dinyatakan bahwa Ia menentang setiap orang yang suka menindas sesamanya.
Dan sebaliknya, Ia akan menegakkan orang yang hina memulihkan mereka yang
miskin dari lumpur kehinaan.
Dalam karya penyelamatan Allah, nampak bahwa Ia selalu akan
memulihkan martabat kemanusiaan dari mereka yang direndahkan dan dihina.
Allah tidak menghendaki umat manusia saling menindas. Yang Allah kehendaki
adalah agar umat manusia saling menghargai dan saling memberi tempat
untuk memperoleh kesejahteraan bersama.
Berangkat dari keyakinan sebagaimana Pemazmur, sudah semestinya
orang percaya selalu membangun hidup dalam persekutuan dengan Tuhan.

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Doa menjadi salah satu sarana mewujudkan kehidupan yang dekat dan intim
dengan Tuhan. Oleh karenanya orang percaya tidak dapat terlepas dari doa.
Doa adalah nafas dan sarana untuk meletakkan pengharapan orang percaya
kepada Allah Bapa.
Sebagai orang percaya, kita juga hidup dalam pergolakan. Orang percaya
menghadapi banyak tantangan dan ujian serta persoalan-persoalan. Di sini doa
dapat menjadi senjata yang ampuh untuk menghadapi segala kemungkinan dan
menetapkan pengharapan. Doa dapat mendatangkan perkara-perkara yang
besar, perubahan dalam kehidupan dan keajaiban-keajaiban. Tetapi doa
bukanlah alat si tukang sihir. Keampuhannya tidak terletak pada doanya
sebagai alat. Sikap hati kita terhadap Tuhan sangat menentukan. Oleh karena
itu, doa tidak boleh hanya merupakan upacara yang formal dan tradisional saja,
tetapi juga tidak karena terpaksa. Doa adalah suatu kehidupan dan
pergumulan. Doa juga bukanlah hanya diberi arti untuk kepentingan sendiri,
namun harus menyatakan kesejahteraan dan keselamatan bagi semua orang.
Karena itulah yang sebenarnya dikehendaki Allah.
Dalam surat pribadinya kepada Timotius, Rasul Paulus menyatakan kepada
anak yang dikasihi dalam iman itu untuk berdoa bagi penguasa. Memang
secara fungsional, penguasa duniawi dikehendaki Tuhan untuk melaksanakan
perintah-Nya. Dalam melaksanakan pemerintahan atau kekuasaan mereka
seharusnya berpedoman pada kebenaran dan keadilan Allah yang memeilihara
kehidupan rakyatnya. Dalam pengertian yang demikian orang percaya dituntut
untuk mendoakan para penguasa.
Doa dinaikkan bagi semua orang, termasuk mereka yang tidak Kristen.
Kaisar waktu itu bukan orang Kristen, bahkan cenderung memusuhi gereja.
Meskipun demikian Rasul Paulus menyatakan juga agar mereka didoakan.
Sewajarnya, lebih mudah bagi Rasul Paulus mengajak jemaat untuk
mengutuk dan mengumpati tindakan sang penguasa saat itu dari pada
mengajak jemaat untuk mendoakan mereka. Sebab tindakan para penguasa
saat itu cenderung jahat dan berperilaku tidak adil. Bahkan tidak hanya dalam
hal politis mereka melakukan tindak kejahatan, dalam kehidupan ekonomi
bentuk-bentuk kecurangan terjadi. Bahkan dalam kehidupan agamawi, jemaat
banyak disesatkan dengan berbagai ajaran yang lebih mengutamakan logika
dan kepercayaan pada dongeng-dongeng.
Kemerosotan moral yang mengakibatkan ketidak-sejahteraan dan ketidak-
tentraman hidup telah merambah dalam seluruh sendi kehidupan. Tindakan
para pemimpin/penguasa yang cenderung korup dan tidak jujur dalam
melaksanakan fungsinya sebagai penguasa duniawi menambah semakin
parahnya kerusakan relasi dalam kehidupan masyarakat.

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Jemaat yang terkasih,
Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur yang diceritakan Yesus
dalam Injil Lukas di atas, hendak mengajar kepada kita untuk berpikir obyektif.
Karena di balik kejahatan atau keburukan seseorang, tentu masih ada
kemungkinan kebaikan yang dapat dijadikan contoh bagi kehidupan. Yesus
memuji sang bendahara bukan karena ketidak-jujurannya dalam mengelola
uang majikannya, tetapi karena kecerdikannya mencermati segala
kemungkinan yang dapat terjadi di masa yang akan datang.
Cara berpikir dan bertindak obyektif kita kepada orang lain, bahkan orang
yang sering kita pandang tidak layak untuk dihormati, dihargai sebagaimana
umumnya, dapat membangun sikap doa yang positif dan tidak apriori. Doa
sebagai suatu perintah yang menegaskan hubungan kena mengena kita
dengan orang lain. Menjadi cara yang paling indah untuk mentaati perintah
mengasihi orang lain seperti diri kita sendiri. Kasih yang alkitabiah tidak boleh
diartikan sebagai perbuatan tukar-menukar yang timbal-balik atau sebagai
transaksi dagang. Kasih yang sejati diberikan tanpa mengharap balasan. Dengan
dasar ini, doa untuk para pemimpin yang dilakukan dengan sungguh-sungguh
dan sikap hati yang benar merupakan pernyataan kasih yang agung. Tanpa
pamer, tanpa pamrih. Sendiri atau bersama berdoa dan mengangkat nama-
nama atau problem para pemipin/penguasa di hadapan hadirat Allah, dapat
mendukung dan mengarahkan perbuatan kasih yang nyata dan mampu
mengubah segala sesuatunya.
Bukan perkara mudah pada masa ini mengubah keserakahan, kejahatan
dan ketidak-jujuran para pemimpin. Namun demikian bukan berarti tidak
mungkin akan terjadi perubahan dalam kehidupan para pemimpin. Kekuatan
doa dan upaya untuk berubah serta menyediakan diri untuk diubah
memungkinkan karya Tuhan dalam Roh Kudus terjadi. Amin.

 Rancangan Bacaan Alkitab:


Berita Anugerah : Kolose 1: 13-14
Petunjuk Hidup Baru : II Petrus 2: 13-17
Nats Persembahan : II Korintus 8: 13-14
 Rancangan Nyanyian Pujian:
Nyanyian Pembuka : KJ. 60: 1,7
Nyanyian Penyesalan : KJ. 37a: 1, 2
Nyanyian Kesanggupan : KJ. 369a: 1,2
Nyanyian Persembahan : KJ.450: 1- dst.
Nyanyian Penutup : KJ. 452:1,2, 5

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Khotbah Jangkep Jawi Minggu, 19 September 2010
Minggu III

PANDONGA TUMRAP PARA PEMIMPIN


Waosan I: Amos 8: 4-7; Mazmur Tanggapan: Mazmur 113;
Waosan II: I Timotius 2: 1-7; Waosan Injil: Injil Lukas 16: 1-13

 Khotbah Jangkep

Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing patunggilanipun Gusti Yesus Kristus,

K omisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menetapkan tersangka


terkait dugaan korupsi pejabat di salah satu instansi pemerintahan
.........”
Makaten saperangan pawartos saking serat kabar ingkang saged ugi kita
panggihi saben dinten ( pengkhotbah saged maosaken cuplikan serat kabar
ingkang magepokan kaliyan pawarta bab korupsi ingkang dumados ).
Budi kethaha, kaculikan, watak boten jujur kados sampun dados pawartos
padintenan ing satengahing masyarakat. Ananging emanipun, tumindak kados
makaten punika boten namung katindakaken dening para tiyang ingkang boten
nandhang kekirangan ing kabetahaning gesangipun, nanging malah
katindakaken dening para tiyang ingkang saged kasebat pejabat, panguwaos
utawi pemimpin bangsa.
Badhe tumuju dateng pundi bangsa punika? Badhe kabekta dhateng pundi
purugipun masyarakat kita punika? Makaten raos panggresula saperangan
ageng warga masyarakat kita ingkang rumaos dipun apusi dening para
pemimpinipun.
Punapa inggih sampun samanten risakipun patraping para pemimpin/
panguwaos bangsa punika? Para pemimpin ingkang kedahipun dados tepa-
palupi utawi panutanipun para warganing masyarakat malah kepara nyulikani
rakyat kanthi sasekecanipun.
Ingkang nama sudaning bebuden sejatosipun sanes prakawisipun
manungsa ing wekdal samangke kemawon. Kitab Amos nekseni bilih karana
sudaning bebudenipun para pangarsaning bangsa Israel ingkang ndadosaken
sekeling penggalihipun Allah ingkang krenteg paring pemut lan paring pidana
dhateng para tiyang ingkang patrapipun awon wau. Mloroding bebuden wau

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


saged katingal saking caranipun nenimbang lan netepaken tumindak ingkang
asikep nindhes lan meres tiyang ingkang langkung ringkih. Kepara kadursilan
karantam dening para pemimpin/panguwaos kangge kamuktenipun piyambak.
Wewaton anggenipun mimpin tansah boten tumuju kangge ngupadi mangun
karahayoning bebrayan, nanging malah kosok wangsulipun.
Watak serakah para pemimpin/panguwaos anjurung dateng tumindak
korupsi lan damel nistha dinten-dinten ingkang kasucekaken Allah. Boten
sakedhik para ingkang tumindak kejem lan culika dhateng sesaminipun. Boten
namung para pemimpin politik kemawon ingkang remen nindhes, nanging ugi
para sudagar ingkang kiprah ing babagan ekonomi, inggih para juragan lan
sudagar ageng sami nglampahi culika kanthi ngginakaken traju ingkang boten
samesthinipun.
Tumindak boten jujur ingkang kawungkus weweka ingkang limpad
ndadosaken para paraganipun angel badhe karangket ing ukum. Kanthi
makaten Gusti Allah nanggapi sikep kaculikanipun para tiyang punika sarana
akarya pancasan lan sumpah boten badhe nyupekaken lan ngapunteni dosa lan
kadursilanipun para pemimpin wau.

Pasamuwan ingkang kinasih,


Punapa badhe kalampah wontenipun ewah-ewahan ing gesangipun para
pemimpin bangsa kita punika, ingkang saged marsudi gesanging para kawula
tumuju dhateng katentreman lan karahayon?
Juru Mazmur ingkang nekseni kanthi kekidungan lan mratelakaken
mahaluhuripun Allah ingkang boten saged ginayuh ing nalar, juru mazmur
anggadhahi kapitadosan bilih Gusti Allah punika inggih Allah ingkang dipun
tepangi, Allah ingkang Maha Luhur, nanging ugi pitados bilih Gusti Allah
ingkang migatosaken dhateng umat kagunganipun ingkang ringkih lan
katindhes. Wujuding kawigatosanipun kacetha bilih Allah nglawan dhateng
tiyang ingkang remen nindhes sesaminipun. Kosok wangsulipun Gusti Allah
badhe njejegaken tiyang ingkang asor lan mangsulaken para tiyang mlarat
saking lendhuting kanisthan.
Pakaryan kawilujenganipun Allah kacetha bilih Panjenenganipun tansah
badhe mangsulaken martabat kamanungsaning para tiyang ingkang
karemehaken lan kaina. Allah boten ngersakaken manungsa sami nindhes,
nanging Allah ngersakaken supados manungsa urmat-ingurmatan lan tampi
tinampi kanthi tulusing manah kangge ngraosaken karahayon sesarengan.

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Adhedasar kapitadosanipun juru mazmur, sampun samesthinipun para
tiyang pitados kedah tansah mangun gesang ing patunggilanipun kaliyan Gusti,
pandonga dados salah satunggaling sarana mujudaken gesang ingkang rumaket
lan ajrih asih dhumateng Pangeran. Pramila tiyang pitados boten kepareng
nglirwakaken pandonga. Pandonga punika inggih napasing gesang lan sarana
kangge sumendhe ing pangajeng-ajeng tumrap para tiyang pitados dumateng
Allah Sang Rama.
Minangka tiyang pitados, kita ugi gesang ing satengahing tetarungan. Para
pitados ngadhepi sawernining tantangan lan pandadaran sarta ruwet
rentenging gesang. Ing ngriki pandonga dados pusaka ingkang ampuh kangge
ngadhepi samukawis prakawis lan netepaken pangajeng-ajeng. Pandonga
saged ndhatengaken prakawis-prakawis ageng, ewah-ewahan salebeting
gesang lan sakathahing bab ingkang nengsemaken. Nanging pandonga sanes
kadosdene pirantinipun tukang sihir. Dayaning pandonga boten mapan wonten
ing pandonganipun minangka sarana, ananging sikep kita dhumateng Gusti
punika ingkang nemtokaken. Pramila pandonga boten kenging namung
mujudaken upacara ingkang asipat tata lair lan adhapur pakulinan kemawon,
ugi boten karana kapeksa. Pandonga punika prakawis gesang lan tantangan,
pandonga ugi sanes nggadahi pangertosan kangge kabetahanipun piyambak,
nanging kedah mratelakaken karahayon lan kawilujengan tumrap sedaya
tiyang, amargi inggih punika ingkang kakersakaken dening Allah.
Wigatining seratipun Rasul Paulus ingkang kaparingaken dhateng Timotius
anak rohani ingkang kinasih punika, supados ndedonga tumrap para
panguwaos. Awit adeging para panguwaos kadonyan punika dipun kersakaken
minangka sarana nindakaken dhawuhipun Gusti. Salebeting nindakaken
paprentahan utawi panguwaosipun, para panguwaos punika kedahipun
lelandhesan kaleresan lan keadilaning Allah ingkang ngrimati gesanging
kawulanipun. Kanthi pangertosan makaten, tiyang pitados kaatag ndongakaken
para panguwaos supados saged nindakaken kados ingkang dipun kersakaken
Gusti.
Pandonga punika tumuju tumrap sedaya tiyang, kalebet tiyang sanes
Kristen. Kaisar wekdal samanten sanes tiyang Kristen, malah mengsahi
pasawuwan, nanging sinaosa makaten Rasul Paulus paring pangatag supados
kadongakaken.
Limrahipun langkung gampil Rasul Paulus ngatag pasamuwan kangge
nyupata lan memoyok dhateng pratingkahipun panguwaos kala samanten
katimbang ngatag pasamuwan ndongakaken piyambakipun. Amargi

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


tumindakipun para panguwaos kala samanten tansah katindakaken salebeting
kadursilan lan boten adil, kepara boten namung ing babagan politik
piyambakipun ugi nindakaken kaculikan ing babagan ekonomi kanthi kaculikan.
Malah ing babagan agami, pasamuwan dipun sasaraken sarana ajaran-ajaran
ingkang nengenaken pikir lan kapitadosan dumateng dongeng-dongeng.
Mloroding patrap gesang ingkang nebihaken katentreman lan
karahayoning gesang, sampun sumrambah ing sedaya gesangipun rakyat.
Tumindakipun para pemimpin/panguwaos lankung ngener dhateng watak
culika lan boten jujur anggenipun nindakaken jejibahanipun minangka
panguwaosing kadonyan sangsaya damel risakipun sesambetaning bebrayan
ing satengahing masyarakat.

Pasamuwan ingkang kinasih,


Pasemon bab juru-gedhong ingkang boten jujur, ingkang kacariyosaken
Gusti Yesus ing Injil Lukas kala wau, paring piwulang dhumateng kita sedaya
sageda nggadhahi pemanggih ingkang trep kaliyan kasunyatan. Sanadyan
kadursilan ingkang nelakaken sipat budi candhala ing satunggaling tiyang,
temtu taksih wonten gempilaning kasaenan ing tiyang wau, ingkang kaagem
dening Gusti (ing waosan wau) kangge memulang tumrap gesanging manungsa.
Gusti Yesus paring pangalembana dhateng juru-gedhong boten karana
sipatipun ingkang boten jujur anggenipun mranata arta bendaranipun, nanging
karana limpadipun nanggulangi bab-bab ingkang bok menawi badhe dumados
ing tembe.
Olah pikir lan tumindak kita ingkang prayogi dhateng tiyang sanes, punapa
malih dhumateng tiyang ingkang kita wawas boten pantes kinurmatan, dipun
aosi sapantesipun, saged mangun sikep pandonga ingkang prayogi lan boten
kebak ing raos sanggarunggi. Pandonga minangka dhawuh ingkang negesaken
sesambetaning bebrayan kita dumateng tiyang sanes, tuwin dados satunggaling
sarana ingkang endah kangge ngemban dhawuh nresnani tiyang sanes
kadosdene dhateng gesang kita pribadi. Katresnan ingkang jumbuh kaliyan
pangandikaning Kitab Suci boten kepareng dipun tegesaken kadosdene
tumindak dol-tinuku kados limrahipun tiyang sesadeyan. Katresnan ingkang
sejatos kaedumaken kanthi tulusing manah tanpa ngajengaken piwales. Kanthi
landhesan punika, pandonga tumrap para pemimpin utawi panguwaos ingkang
katindakaken kanthi tumemen lan sikeping manah ingkang leres mratelakaken
cihnaning katresnan ingkang agung. Tanpa pamer, tanpa pamrih, kanthi
piyambakan utawi sersarengan ndedonga lan ngunjukaken asmanipun tuwin

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


sadaya ruwet rentenging gesangipun para pemimpin/panguwaos, dhateng ing
ngarsanipun Allah, saged njurungi lan ngeneraken dhateng tumindaking
katresnan ingkang nyata lan ndhatengaken ewah-ewahan tumuju kasaenan.
Pancen sanes prakawis ingkang gampil wekdal punika ngewahi
keserakahan, kadursilan, lan sirnaning kejujuranipun para pemimpin, nanging
sinaosa makaten boten ateges boten saged kalampahan ewah-ewahan wonten
ing gesanging para pemimpin. Kekiyataning pandonga lan pambudidaya tumuju
dhateng ewah-ewahan, sarta anggenipun purun dipun dandosi, nyagedaken
pakaryaning Gusti ing Roh Suci badhe kalampahan. Amin.

 Rancangan Waosan Kitab Suci:


Pawartos Sih Rahmat : Kolose 1: 13-14
Pitedah Gesang Anyar : 1 Petrus 2: 13-17
Pangatag Pisungsung : 2 Korintus 8: 13-14

 Rancangan Kidung Pamuji:


Kidung Pambuka : KPK BMGJ 1: 1,3
Kidung Panelangsa : KPK BMGJ 52: 1-3
Kidung Kesanggeman : KPK BMGJ 71: 1,2
Kidung Pisungsung : KPK BMGJ.188:1-4
Kidung Panutup : KPK BMGJ 168: 1,2

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Khotbah Jangkep Minggu, 26 September 2010
Minggu IV

BERJUANG BERSAMA PEMIMPIN


Bacaan I: Amos 6:1a, 4-7; Mazmur Tanggapan: Mazmur146;
Bacaan II: I Timotius 6:6-19; Bacaan III: Injil Lukas 16:19-31
Tujuan:
Jemaat mampu hidup saling mendukung dengan setiap pemimpin, dengan
keteguhan iman yang tulus.

 Dasar Pemikiran
Untuk menuju sebuah harapan, pemimpin menjadi tumpuan untuk
mengarahkan. Perjalanan bisa terarah jelas dalam satu komando pemimpin
yang jelas. Tetapi bagaimana ketika pemimpin ternyata tidak seperti yang
diharapkan? Kondisi ini menyebabkan perjalanan menuju harapan mengalami
kegelisahan. Gelisah oleh pertanyaan, mungkinkah akan bisa mencapai tujuan
yang dituju bila pemimpinnya bermasalah? Bisa jadi dalam kegelisahan
tersebut mengakibatkan munculnya rasa tidak suka. Padahal dengan
munculnya perasaan seperti ini arahan kehidupan sebuah kelompok menjadi
tidak sehat. Kelompok harus bisa mengupayakan kejernihan berpikir bahwa
perjalanan ke arah harapan bersama jangan sampai dikalahkan hanya karena
rasa tidak suka. Kalau sudah demikian kemungkinan besar kelompok ingin
mengganti pemimpinnya. Mencari pemimpin yang sejalan dengan pemikiran
mereka.
Di sini hakekat kerja bersama untuk mencapai tujuan bersama perlu
dibangun atau diingatkan kembali. Perjalanan untuk menuju harapan yang
sama tidak bisa terselesaikan hanya dengan mengganti pemimpin dengan yang
baru, tetapi berusaha untuk mengembalikan suasana bekerja sama yang baik.
Proses ini perlu disadari sebagai upaya bersama untuk selalu menggali
ketidaktahuan dari kondisi keduanya. Baik dalam diri pemimpin itu yang harus
dilakukan oleh kelompok tersebut, dan di sisi yang lain pemimpin itu sendiri,
supaya bisa mencari celah yang jelas sesuai dengan konteks kehidupan
kelompoknya. Proses ini tidak bisa berhenti hanya dalam pertemuan pertama,
atau hanya dalam perkenalan saja ketika saling mengikat perjanjian sebagai
pemimpin dan yang dipimpin. Proses itu harus terus berjalan bersama dengan
kerja-sama yang terus dibangun untuk mencapai tujuan bersama tadi. Untuk

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


itu dibutuhkan ketulusan hati dalam rangka saling mengenal dan saling
mengingatkan. Melalui bangunan hati yang teguh dalam ketulusan tersebut
niscaya kelompok akan berhasil menuju harapannya bersama dengan
pemimpinnya.

 Tafsiran:
Amos 6:1a, 4-7
Perikop ini diawali dengan kata “celaka” yang ditujukan kepada orang-
orang yang merasa aman di Sion dan di gunung-gunung Samaria. Mereka yang
berada di Sion dan di gunung-gunung Samaria adalah para pemuka yang
diharapkan selalu dekat dengan kehendak Tuhan. Lalu kenapa justru mereka
disumpahi dengan kata celaka? Jawabnya adalah karena mereka tidak
memperhatikan kehidupan orang-orang Israel. Secara khusus disebutkan dalam
kehidupan dari keturunan Yusuf. Hal yang menarik dalam perikop ini adalah
keberanian Amos untuk melontarkan nubuatnya. Nubuatan ini diungkapkan
dengan kebersihan niat dari segala kepentingan pribadinya. Hal ini semakin
diperjelas dengan ayat 7 yang mengatakan; Sebab itu sekarang, mereka akan
pergi sebagai orang buangan di kepala barisan. Dengan mengatakan “sebab itu
sekarang, mereka akan” menjadikan ayat ini sebagai ajakan supaya mereka
bersiap-siap menghadapi petaka yang akan dialami bangsa Israel secara
keseluruhan. Dan sekalipun buangan, mereka tetap diharapkan untuk berjuang
menuju kepada harapan bangsa yang sama.

Mazmur146
Mazmur ini mengingatkan supaya kehidupan manusia jangan tergantung
kepada para bangsawan karena keputusan mereka hanya bersifat sementara.
Manusia diingatkan supaya senantiasa hidup dengan kehendak dari Tuhan saja.
Tuhanlah yang menciptakan segalanya dan mencukupi segala kebutuhan
manusia. Keputusan-Nya bersifat kekal. Pimpinan Tuhan pun bersifat kekal
apabila manusia mau menuruti kehendak Tuhan.

I Timotius 6:6-19
Paulus memberikan pengajarannya kepada Timotius untuk membangun
hidup yang teguh dalam ketulusan hidup kepada Tuhan. Dalam bangunan
pengajarannya, Paulus mengingatkan bahwa kehidupan manusia sering
mengalami godaan yang kuat dari kekayaan. Secara khusus dikatakan godaan
kekayaan itu sebagai cinta uang. Dijelaskan ketika orang mengalami cinta uang,

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


kehidupannya akan mengalami kedukaan yang menyiksa dirinya. Karena kalau
belum memiliki akan merasa tersiksa. Untuk itu Paulus menyarankan untuk
membentengi semua godaan tadi dengan membangun sikap ibadah yang
benar. Dalam sikap ibadah yang benar orang akan memahami yang terutama
dalam kehidupannya. Hanya Tuhan yang menjadi tujuan hidup. Dengan
mengarahkan diri murni kepada Tuhan, maka manusia akan memiliki
keteguhan ketulusan hidup. Hanya satu hal yang menjadi pokok kehidupannya.
Ketika manusia telah memiliki keteguhan sikap hidup dalam ketulusan,
apapun yang dilakukan akan dilandasi dengan ketulusan. Orang yang demikian
tidak akan mudah digoyahkan dengan kekayaan, bahkan akan mampu
memberikan peringatan yang tidak bertendensi untuk meraup keuntungan
pribadi. Dengan bekal ini Timotius dapat memperingatkan orang kaya supaya
tidak terbelenggu dengan kekayaannya. Paulus yakin kalau Timotius telah
berhasil membangun sikap ibadah yang tepat maka dirinya dimampukan untuk
memberikan peringatan yang tulus.

Injil Lukas 16:19-31


Bacaan ini memperlihatkan perumpamaan penyesalan yang telah
terlambat dari seorang kaya. Orang kaya ini baru menyesal ketika sudah mati.
Kekayaan yang dimiliki ternyata tidak bisa menolongnya. Setelah mati dia
merasakan kesengsaraan di alam maut. Bahkan ketika dia memohon kepada
Tuhan supaya pengemis Lazarus mencelupkan kakinya ke dalam air untuk
memberikan kesejukan padanya pun tidak bisa. Inilah gambaran kehidupan
yang mengandalkan kekayaan yang akhirnya harus mengalami kesengsaraan
kekal. Namun sekalipun dia merasakan keterlambatan, orang kaya ini
mempunyai harapan yang baik, yaitu supaya saudara-saudaranya jangan
sampai mengalami hal yang sama seperti dirinya. Dia berharap supaya Tuhan
berkenan memperingatkan saudara-saudarnya supaya jangan bertindak seperti
dirinya.
Dialog menarik tentang permohonan untuk memberi peringatan ini
ditutup dengan kata-kata Abraham tentang pentingnya mendengarkan karya
Tuhan pada setiap orang yang dipakai Tuhan. Kalau kepada orang-orang yang
telah menjadi pemberita kehendak Tuhan saja mereka tidak percaya, apalagi
peringatan dari kenyataan yang sulit diterima akal manuasia, yaitu melalui
orang yang bangkit dari kematian. Melalui dialog ini setiap orang diajak untuk jeli
melihat karya Tuhan. Kejelian tersebut bisa terwujud dengan memperhatikan
setiap karya Tuhan sekecil apapun itu sebagai peringatan bagi hidup manusia.
 Benang Merah Tafsiran

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Memberikan perhatian untuk mengingatkan dengan ketulusan terhadap
orang-orang penting dalam kehidupan masyarakat perlu dilandasi dengan
semangat memandang Tuhan yang Tunggal; Tuhan sebagai satu-satunya
sumber kekuatan, Tuhan sebagai satu-satunya pribadi yang dijunjung tinggi
dalam kehidupan. Untuk itu Timotius diantar oleh Paulus untuk mengupayakan
hidup yang senantiasa membangun ibadah yang disertai dengan rasa cukup
atas karunia Tuhan. Melalui bangunan hidup ibadah orang dituntun untuk
mengenal satu hakekat yang menjadi tujuan hidupnya yaitu Tuhan. Melalui
kekuatan ini manusia bisa saling menopang kehidupan orang lain, sekalipun
orang tersebut adalah orang yang tidak kita sukai. Tetapi dengan kejernihan
hati seperti Amos, semangat saling menguatkan dengan mengingatkan menjadi
motor penggerak menuju kehidupan bersama yang lebih baik di dalam Tuhan.

 Khotbah Jangkep:

N dak jelas apa maunya, kita ini mau dibawa kemana?”


“Dengan caranya memimpin seperti itu sebentar lagi semuanya
pasti hancur.”
Sering kita mendengar kata-kata tadi ketika melihat sosok pemimpin yang
tidak becus bekerja atau bahkan mungkin kita sendiri akan mengatakan hal itu,
ketika melihat pemimpin yang asal-asalan bekerja dan pemimpin yang
seringkali malah menjadikan yang dipimpin bingung. Memang lebih mudah
untuk mengatakan hal tadi, mempertanyakan dengan nada kemarahan yang
tinggi, atau bertanya dengan nada sinis menyindir pemimpin yang tidak tepat
menempatkan diri dalam bekerja. Apalagi ketika kita sudah merasa
memberikan banyak untuk membekali pemimpin tadi. Kita akan merasa bahwa
semua sudah kita cukupi, tetapi kenapa kinerja yang dilakukan hanya seperti
itu.
Jemaat yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
Pemimpin berbeda dengan penguasa. Pemimpin hidupnya dipakai untuk
memimpin dan bukan untuk menguasai. Maksudnya pengambilan keputusan
dengan cara yang berbeda. Pemimpin mengambil keputusan dengan mengambil
pertimbangan dari yang dipimpin, jadi keputusan dibuat untuk mendukung
kebutuhan dari yang dipimpin. Di sisi lain, pengambilan keputusan penguasa ada
pada diri mereka sendiri dan kemungkinan besar menguntungkan dirinya sendiri.
Yang dikuasai tidak berhak untuk ikut andil mengambil keputusan. Nampak jelas
perbedaan antara pemimpin dan penguasa. Tampak bahwa pemimpin tidak bisa
lepas dari orang di sekitarnya. Pemimpin butuh pertimbangan supaya langkah
perjalanan kelompok yang dipimpinnya bisa berjalan dengan baik sesuai dengan

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


harapan dan kebutuhan kelompok itu. Pemimpin tidak bisa hidup sendiri.
Pemimpin butuh orang lain. Namun apa yang terjadi ketika pemimpin goyah? Apa
yang terjadi ketika pemimpin tidak bisa menjalankan kepemimpinannya dengan
baik? Lebih banyak yang akan membuat kasak-kusuk tentang pemimpin. Atau kalau
yang mau terang-terangan akan menuding pemimpin dan mengatakan ketidak-
mampuannya untuk memimpin. Kita lebih cenderung ingin menyalahkan mereka.
Kasihan, kan, tentunya? Sudah salah masih dibodoh-bodohkan. Bukankah
pemimpin juga manusia. Pemimpin juga bisa salah. Sudah salah malah didorong
untuk masuk ke dalam jurang kesalahan yang lain. Bisa terjadi lho mereka yang
sudah salah, kemudian masuk ke dalam jurang kesalahan yang lain. Sudah
mengakui bersalah, tetapi karena cara yang kurang tepat menanggapi tudingan
terhadap dirinya, menjadikannya emosi dan justru semakin mengeraskan hati.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,


Mari bersama-sama kita perhatikan hal ini. Bagaimana pun kondisinya,
pemimpin yang kepemimpinannya baik tidak terjadi dengan begitu saja.
Kepemimpinan yang baik bisa terwujud apabila ada kerja sama yang baik dari
pemimpin dan yang dipimpin. Tentu saja dengan dasar bangunan berpikir yang
senantiasa mau bekerja sama dan tidak mudah menyalahkan. Semua bisa saling
mendukung. Ketika ada yang salah dengan segera diingatkan supaya segera pulih
kinerjanya. Mengingatkan....., sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Apalagi
mengingatkan orang yang mungkin secara prinsip tidak benar di mata kita. Butuh
ketrampilan khusus untuk menyatakan peringatan ini. Amos dalam bacaan
pertama membantu kita untuk melihat ketulusan hati dalam memperingatkan para
pemimpinnya. Hal yang menjadi kekuatan dalam peringatan yang disampaikan oleh
Amos adalah kebersihan hatinya yang bertindak dengan tulus dan tidak mudah
digoyahkan. Dengan sikap yang demikian, seorang pemimpin pun akan merasakan
bahwa Amos berbicara benar bagi dirinya, dan sudah seharusnya di dengarkan.
Apa buktinya kalau Amos tulus? Buktinya adalah, Amos tidak berbicara
tentang dirinya sendiri. Amos tidak sedang memperjuangkan kepentingannya
sendiri. Amos sedang memperjuangkan kepentingan bangsanya. Hal ini bisa dilihat
ketika Amos menyebutkan beberapa tokoh besar seperti Daud dan Yusuf.
Ungkapan ini hendak mengingatkan bahwa kehidupan para pemimpin sebaiknya
mengingat perjuangan kehidupan yang pernah dilakukan oleh para pendahulu.
Sekalipun keras, ungkapan yang disampaikan oleh Amos ini berupa peringatan dan
ajakan supaya segera mempersiapkan diri. Melihat dari penggunaan bahasa waktu,
”sebab itu sekarang,” pada ayat 7, hendak menunjukkan bahwa nubuatan ini sudah

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


tidak bisa ditolak. Ketidakbenaran pemimpin menuntut semua untuk bersiap pada
saat “sekarang”. Bukan dikatakan nanti atau yang akan datang, tetapi sekarang ini.
Dalam ayat ini juga, para pemimpin yang sudah mendapatkan cap tidak baik tetap
ditempatkan sebagai yang terkemuka. Mereka akan tetap memimpin sekalipun ada
dalam pembuangan. Untuk itu mereka semua, seluruh bangsa supaya bisa saling
mendukung untuk mengalami kebebasan bersama nantinya.
Bagaimana bisa membangun ketulusan niat dan keteguhan niat seperti Amos?
Supaya ketika kita melihat pemimpin, kita berani mengingatkan, tetapi dengan
modal ketulusan hati dan keteguhan hati yang tidak mudah terombang-ambingkan.
Rasul Paulus memberikan resepnya kepada Timotius. Resep yang diberikan dimulai
dengan mengingatkan bahwa godaan manusia yang terbesar adalah kekayaan.
Rasul Paulus memperjelas godaan untuk kaya dengan menggunakan istilah “cinta
uang.” Untuk melawan godaan, Timotius diingatkan untuk menempatkan diri
membangun sikap ibadah dalam kehidupannya. Kenapa sikap ibadah yang dipilih
dipakai untuk mengalahkan godaan? Karena dalam sikap ibadah manusia dituntun
untuk menetapkan tujuan hatinya yang paling utama. Tidak mungkin orang akan
melakukan ibadah dengan baik kalau hatinya bercabang kemana-mana. Hatinya
hanya mengarah pada satu hal, hanya pada Tuhan. Dengan pemahaman sikap
ibadah tersebut Timotius diajar untuk mengarahkan hidup hanya kepada Tuhan.
Supaya melihat Tuhan saja yang terpenting dalam kehidupannya. Jadi kekayaan
adalah yang nomor ke sekian di bawah pentingnya Tuhan bagi kehidupannya.
Dengan demikian Timotius menjadi teguh keyakinannya dan akan melakukan
apapun dengan tulus karena semua yang dilakukan dalam hidupnya adalah ibadah
kepada Tuhan. Bukan ibadah kepada kekayaan, uang, atau yang lainnya. Hanya
kepada Tuhan.
Dasar keteguhan sikap hidup dalam ketulusan seperti ini yang seharusnya
dikembangkan dalam kehidupan bersama. Sehingga ketika ada kesalahan yang
dilakukan oleh pemimpin, peringatan yang diberikan akan bernada saling
memulihkan, bukan bernada saling menjatuhkan. Dengan meyakini bahwa dalam
diri pemimpin yang terburuk sekalipun pasti memiliki niat untuk menjadi baik,
tentunya niatan saling mengingatkan menjadi potensi pemulihan yang penting.
Dalam bacaan Injil Lukas kita diajak memahami kehidupan orang yang buruk
perilakunya. Dalam perilaku yang buruk itu ternyata dia masih memiliki harapan
yang baik, bahkan minta supaya saudara-saudaranya diingatkan. Jangan sampai
apa yang telah terjadi pada dirinya terulang pada saudara-saudaranya. Harapan
yang baik tersebut merupakan cerminan kehidupan manusia yang sekalipun buruk,
atau jahat, tetapi dalam hatinya pasti ada kebaikan. Dalam kehidupannya selalu

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


mengharapkan kebaikan terjadi. Bukankah hal ini merupakan pertanda yang baik?
Dalam diri setiap manusia ternyata memiliki benih harapan yang baik. Tentunya
kita yang senantiasa disadarkan akan hal ini, sebaiknya menyemaikan benih yang
baik tadi. Harapan sekecil apapun sebaiknya diterima untuk mengalami pemulihan
bersama. Jadi bukan sekedar mangganti pemimpin yang tidak becus, tetapi saling
menopang untuk bersama menjadi baik. Dan kebaikan itu nantinya menjadi milik
bersama. Yang tadinya dianggap tidak becus malah justru akan menjadi pendorong
yang luar biasa, karena merasa bahwa dia yang pernah bersalah ternyata boleh
tetap bersama, dan bekerja bersama.

Jemaat Tuhan yang terkasih,


Melalui firman Tuhan pada saat ini kita dibimbing untuk memberikan
dukungan kepada setiap pemimpin kita. Dalam rangka memberikan dukungan itu
kita diajak untuk melatih niat yang tulus dalam keteguhan. Niat yang memandang
bahwa segala yang kita sokongkan dalam pekerjaan bersama dengan setiap
pemimpin kita merupakan ucap syukur hidup kita kepada Tuhan. Sehingga ketika
semuanya menjadi baik, akhirnya menjadi ibadah yang sesungguhnya kepada
Tuhan. Seperti Sang Kristus yang mau menerima manusia yang berdosa. Malah
manusia diberi kesempatan bekerja dalam pelayanan. Ini merupakan gambar
penerimaan kita terhadap orang yang tidak baik. Dengan bangunan hidup
mengarah pada hidup bersama yang baik, semua menjadi sarana menjadikan
pulihnya citra Tuhan. Karena pada akhirnya semua saling mendukung untuk meraih
berkat Tuhan dalam damai sejahteraNya. Amin.

 Rancangan Bacaan Alkitab:


Berita Anugerah : Roma 15:5-7
Petunjuk Hidup Baru : Ibrani 13:17
Persembahan : Mazmur 4:5

 Rancangan Nyanyian Ibadah:


Nyanyian Pembukaan : KJ 18:1,2
Nyanyian Pengakuan : KJ 28:1, 4, 5
Nyanyian Kesanggupan : KJ 400:1,3
Nyanyian Persembahan : KJ 161:1, 2, 3
Nyanyian Penutup : KJ 370:1, 2

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Khotbah Jangkep Jawi Minggu, 26 September 2010
Minggu IV

MAKARYA SESARENGAN KALIYAN PEMIMPIN


Waosan I: Amos 6:1a, 4-7 ; Mazmur Tanggapan: Jabur146;
Waosan II: I Timotius 6:6-19; Waosan III: Injil Lukas 16:19-31
Tujuan:
Supados pasamuwan saged makarya sesarengan kaliyan pemimpin kanthi
iman kapitadosan ingkang bakuh lan tulus.

 Khotbah Jangkep:

B
oten cetha punapa pikajengipun, kita punika badhe dipun bekta
dhateng pundi?” “Kanthi cara mimpin ingkang kados mekaten
mesthi sedaya bakalan bubrah.”
Asring kita mireng ukara-ukara wau nalika wonten pemimpin ingkang
boten becus nyambut damel. Utawi malah kita piyambak ingkang ngucapaken
ukara punika. Nalika nyumerepi pemimpin ingkang tanpa wewaton anggenipun
nyambut damel, lan pemimpin ingkang asring ndadosaken kita bingung. Pancen
langkung gampil ngucapaken ukara wau, pitaken kanthi ukara ingkang
kinemulan ing nepsu, utawi menawi boten kanthi pedhes, nyindhir pemimpin
ingkang boten trep mapanaken dhiri ing papaning ayahanipun. Punapa malih
nalika kita sampun rumaos nyumbang kathah kangge nyangoni pemimpin wau.
Kita saged rumaos, sampun dipun cekapi, nanging kenging punapa asil
pakaryanipun namung kados mekaten.

Pasamuwan ingkang dipun tresnani Gusti,


Pemimpin beda kaliyan panguwaos. Pemimpin gesangipun dipun
ginakaken kangge mimpin sanes nguwaosi. Tegesipun, putusan ingkang dipun
damel caranipun ugi beda. Pemimpin damel putusan kanthi nyuwun
pamanggih saking ingkang dipun pimpin. Dados putusaning rembag
katetepaken kangge nyekapi kabetahaning ingkang kapimpin. Dene putusaning
panguwaos, wonten ing dhirinipun piyambak lan isining putusan padatanipun
namung nguntungaken panguwaos kemawon. Ingkang dipun kuwaosi boten

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


gadhah wenang kangge tumut mutusaken rembag. Cetha sanget bedanipun
pemimpin lan panguwaos. Pemimpin boten saged luwar saking tiyang-tiyang
ing sakiwa tengenipun. Pemimpin mbetahaken pamanggihipun tiyang sanes
supados lampahing pakempalan saged lumampah kados ingkang dipun
kajengaken pakempalan punika. Pemimpin boten saged gesang piyambak.
Pemimpin betahaken tiyang sanes. Nanging punapa ingkang kalampahan nalika
pemimpin miyar-miyur? Punapa ingkang badhe dumados nalika pemimpin
boten saged ngayahi pakaryanipun kanthi sae? Kathah-kathahipun kita lajeng
ngraosi pemimpin kita. Utawi menawi boten tedheng aling-aling, nuding
pemimpin lan njlentrehaken kekiranganipun. Kita langkung asring kepingin
nglepataken. Mesakaken temtunipun? Sampun kaanggep lepat, taksih dipun
anggep bodho. Pemimpin punika rak manungsa ugi ta? Pemimpin saged lepat.
Sampun lepat malah dipun surung mlebet dhateng jurang kalepatan sanesipun.
Saged kedugi mekaten lho para sedherek, sampun lepat lajeng mlebet dhateng
juranging kalepatan ingkang sanes. Sampun nglenggana yen lepat, nanging
karana saking cara ingkang kirang trep anggenipun nanggapi tudingan,
andadosaken piyambakipun nepsu, lan malah mangkotaken manah.

Pasamuwan ingkang kinasih,


Mangga kita gatosaken, punapa kemawon kawontenanipun, pemimpin
ingkang anggenipun mimpin wau kanthi cara ingkang sae, boten lajeng
mekaten kemawon dumados. Cara mimpin ingkang sae saged katindakaken
menawi sami dene purun nyengkuyung ing antawisipun pemimpin kaliyan
ingkang dipun pimpin. Temtu kanthi nggerba pamanggih ingkang tansah purun
makarya sesarengan lan boten gampil nglepataken. Sadaya saged sami
mitulungi nalika wonten ingkang lepat, enggal ngengetaken supados
tumindaking pakaryan enggal pulih. Ngengetaken...., setunggaling ayahan
ingkang boten gampil. Punapa malih ingkang dipun engetaken punika tiyang
ingkang boten sae tumindakipun. Ambetahaken kaprigelan mirunggan kangge
mratelakaken pemut punika. Amos ing waosan sepisanan, mbiyantu kita
kangge ningali tulusing manah nalika ngemutaken pemimpin. Bab ingkang
dados kekiyatanipun Amos jalaran manah ingkang resik nalika ngemutaken,
kanthi burus lan bakuh ing pemanggih. Kanthi patrap ingkang kados mekaten,
pemimpin badhe nanggapi bilih Amos nyaruwe kanthi leres lan sampun
samesthinipun dipun pirengaken.
Punapa buktinipun menawi Amos burus manahipun? Buktinipun, Amos
boten nguningakaken bab dhirinipun piyambak. Amos boten saweg

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


ngrumiyinaken kepentinganipun piyambak. Amos saweg ngrumiyinaken
kabetahaning bangsanipun. Bab punika saged dipun tingali nalika nyebataken
asmanipun Dawud lan Yusuf. Kanthi nyebataken kekalihipun, Amos
ngemutaken supados jejering pemimpin kedah ngengetana lara-lapaning
pemimpin ingkang saderengipun. Pancen punapa ingkang dipun ngendikakaken
Amos keras, nanging sejatosipun pemut punika minangka pambereg supados
nyawisaken dhiri. Nggatosaken tembung, “mulane saiki” ing ayat 7, punika
nedahaken bilih pangandika punika saestu badhe kalampahan. Patraping
pemimpin ingkang lepat ndadosaken sedaya ing wekdal punika, ”saiki” kedah
siyaga. Boten dipun telakaken kangge mangke, utawi ingkang badhe dhateng,
nanging sapunika. Ing ayat punika, para pemimpin ingkang sampun kawawas
boten sae tetep kapapanaken minangka pangarsa. Sedaya pemimpin punika
tetep kasuwun supados tetep mimpin sinaosa wontening pambuwangan. Awit
saking punika sedaya warganing bangsa, kasuwun supados sami nyengkuyung
setunggal lan setunggalipun, supados saged ngraosaken pangluwaran ing
tembenipun.
Kados pundi saged mbangun niat ingkang burus lan bakuh kados Amos,
supados nalika nyumerepi pemimpin ingkang lepat kita wantun ngemutaken,
nanging tetep kanthi niat ingkang burus? Rasul Paul paring pitedah dhateng
Timotius bab caranipun ngengetaken. Pitedah ingkang dipun paringaken
kawiwitan kanthi nyumerepaken perkawis ingkang asring dados panggodha
ingkang paling kiyat. Panggodha punika kasugihan. Rasul Paul nandhesaken bab
panggodha kepingin sugih kanthi ngginakaken tembung “karem arta.” Kangge
ngadhepi panggodha, Timotius dipun emutaken supados ambangun patrap
ngibadah ing gesangipun. Kenging punapa patrap ngibadah ingkang dipun
ginakaken kangge ngawonaken panggodha? Awit ing patrapaning ngibadah
manungsa katuntun netepi enering manah ingkang utami. Manungsa
pangabektinipun boten badhe pinanggih leres menawi manahipun nyawang
dhateng papan-pan sanes temtunipun. Manahipun kedah namung ngener
dhateng sinten ingkang kacaosan pangabekti, namung Gusti Allah kemawon.
Kanthi makaten Timotius kawulang supados ngeneraken gesangipun dhateng
Gusti Allah kemawon. Supados namung ningali Gusti Allah ingkang wigati ing
gesangipun. Dados wigatining kasugihan punika badhe mapan ing urudan
ingkang kantun sasampunipun Gusti Allah. Kanthi mekaten Timotius dados
bakuh ing kapitadosan, lan nindakaken punapa kemawon kanthi tulus, awit
sedaya katindakaken minangka pangabekti konjuk dhumateng Gusti Allah.

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


Sanes pangibadah ingkang ngener dhateng kasugihan, dhateng arta utawi
sanesipun. Namung dhumateng Gusti Allah kemawon.
Dhasaring patrap gesang ingkang bakuh punika kedah kaudi ing gesang
bebrayan. Satemah nalika wonten pemimpin ingkang lepat, pepenget ingkang
dipun uningakaken kinanthenan raosing manah badhe andadosi. Sanes raosing
manah ingkang badhe ndhawahaken. Kanthi pitados bilih ing kapribadenipun
pemimpin ingkang samangke ketingalipun awon, temtu gadhah niat kangge
dados sae, temtu sedyaning manah kepingin samidene ngengetaken, dados
pakiyatan ingkang wigati. Ing waosan Injil kita dipun bereg nggatosaken
dhateng satunggaling tiyang ingkang patrapanipun awon. Salebeting patrap
ingkang awon punika, pranyata piyambakipun nggadhahi pepinginan ingkang
prayogi, malah adreng nyuwun supados sadherek-sadherekipun kaemutaken.
Sampun ngantos punapa ingkang sampun nate dipun tindakaken, kalampah ugi
ing gesanging para sadherekipun wau. Pikajengan ingkang sae kala wau,
mracihnani bab kadospundia kemawon manungsa punika awon, nanging ing
salebeting manahipun mesthi wonten perangan ingkang prayogi lan sae. Ing
gesangipun tansah ngajeng-ajeng kasaenan sageda kalampahan. Punapa punika
sanes pratandha ingkang sae? Ing gesanging manungsa kanyata gadhah winih
gegadhangan ingkang sae. Kanthi punika kita dipun emutaken bilih prayogi kita
nyebar winih ingkang sae. Sanadyan pangajeng-ajeng punika namung alit
prayoginipun katampia murih kalampahaning kawontenan ingkang sae
kawangsulaken malih. Dados boten namung kanthi nggantos pemimpin ingkang
boten becus, nanging sami dene mitulungi murih sedaya dados sae. Satemah
sadaya bab ingkang prayogi lan sae dados gadhahn kita sadaya. Ingkang suwau
kaanggep boten becus malah saged dados panjurung ingkang ngedab-edabi,
awit piyambakipun rumaos ingkang suwaunipun kaanggep awon utawi lepat,
dene kaparingan wewengan saged tetep sesarengan, lan makarya sesarengan.

Pasamuwan ingkang dipun tresnani Gusti,


Lumantar pangandikanipun Gusti wekdal samangke, kita sami kabereg
suka panyengkuyung dhateng para pemimpin kita. Ing salebeting
panyengkuyung kita, kaatag supados nggladhi amangun sedyaning manah
ingkang tulus. Niat ingkang kadhasaraken bilih sedaya ingkang kita aturaken
ing pakaryan sesarengan dhateng sedaya pemimpin punika, minangka
pangucap sokur kita dhateng Gusti. Satemah nalika sadaya dados sae, punika
mujudaken pangabekti ingkang lugunipun namung dhateng Gusti Allah. Kados
Sang Kritsus ingkang kersa nampi manungsa ingkang dosa. Malah manungsa

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010


kaparingan timbalan leladi, punika sageda dados gegambaran panampining
gesang kita dhateng tiyang ingkang kaanggep boten sae. Supados kanthi
wewangunaning gesang ingkang kepingin ngener dhateng gesang sae, sedaya
saged adamel pulihing citranipun Gusti. Awit sadaya saged suka
panyengkuyung kangge ngarah berkahipun Gusti salebeting tentrem
rahayunipun. Amin

 Rancangan Waosan Kitab Suci:


Pawartos Sih Rahmat : Rum 15:5-7
Pitedah Gesang Anyar : Ibrani 13:17
Pangatag Pisungsung : Jabur 4:5

 Rancangan Kidung Pamuji:


Kidung Pambuka : KPK 5 : 1,2
Kidung Panelangsa : KPK 53: 1,2, 4
Kidung Kesanggeman : KPK 78: 1,2
Kidung Pisungsung : KPK 33:1-sckp
Kidung Panutup : KPK 127:1,3

Khotbah Jangkep September & Oktober 2010

Anda mungkin juga menyukai