Anda di halaman 1dari 34

PENDIDIKAN INDONESIA DALAM KERANCUAN IDEOLOGI: Ilusi

Kurikulum Pendidikan dalam Kuasa Neoliberalisme


Oleh Rum Rosyid
Diakui atau tidak, dunia pendidikan kita sungguh telah terperangkap ke dalam kemelut
yang mungkin belum pernah terbayangkan semula. Kritik sistim dan bongkar-pasang
kurikulum -seperti yang ditempuh selama ini- ternyata tak pernah memuaskan. Maka apa
salahnya jika kita melirik kepada ideologinya. Mungkin di sana ada jawabnya. Dikatakan
oleh seorang filsuf pendidikan, Paulo Freire, bahwa tidak ada pendidikan yang netral dan
bebas nilai. Bahkan tulisan yang Anda baca sekarang inipun cukup banyak memuat
ideologi yang saya yakini. Permasalahannya adalah,apakah Anda peduli? jika ideologi
kita sama,maka Anda akan melanjutkan membaca,dan jika ideologi Anda berbeda dengan
saya, sebaiknya Anda juga melanjutkan membaca karena paling tidak Anda mulai belajar
untuk menerima perbedaan ideologis. Semoga ini akan menyenangkan.
Pendidikan hingga saat ini diyakini oleh sebagian besar orang sebagai kegiatan
mulia,mengandung kebajikan, dan sekali lagi bebas nilai. Pikiran kita selama ini masih
terendam mitos, tak luput juga para pendidik banyak yang tidak kunjung siuman bahwa
mereka punya andil besar dalam pertarungan ideologi dan politik.

Ideologi (inggris);berasal dari bahasa Yunani ide (idea/gagasan) dan logos (studi tentang,
ilmu pengetahuan tentang). Secara harfiah,sebagaimana dalam metafisika klasik, ideologi
merupakan ilmu pengetahuan tentang ide-ide, studi tentang asal-usul ide. Dalam
pengertian modern, ideologi mempunyai arti negatif sebagai teorisasi atau spekulasi
dogmatik dan khayalan kosong yang tidak betul atau tidak realistis; atau bahkan palsu
dan menutup-nutupi realitas yang sesungguhnya. Dalam pengertian yang lebih netral,
ideologi adalah setiap sistem gagasan yang mempelajari keyakinan-keyakinan dan hal-hal
ideal filosofis, ekonomis, politis, sosial.
IDEOLOGI • Diciptakan oleh Desstutt de Tracy tahun 1796 di perancis. Science of ideas,
the study of origins, evolution and nature of ideas. Namun telah terjadi pergeseran
sehingga tidak ada satu-satunya pengertian subtansial. • Ricoeur (1986) ; mengandung
sifat dasar permulaan yang sangat mendua, ambigu: positif dan negatif Konstruktif dan
destruktif. Karena itu ideologi perlu disertai presisi dan proporsinya yang jelas. Presisi: •
Pranarka ( 1985) Ideologi suatu cara berpikir dan ideologi sebagai materi yg dibahas
dalam pemikiran itu. • Sydney Hook / Bachtiar (1976) Ideologi sebagai pandangan
dunia/kosmos tempat manusia di dalamnya, yang merupakan bimbingan kegiatan politik
dlm arti yang seluas- luasnya. • Karl Marx Ideologi sebagai kesadaran palsu mengenai
kenyataan- kenyataan sosial ekonomi dan merupakan angan-angan kolektif yg diperbuat
& ditanggung bersama oleh kelas sosial tertentu.

Ideologi Pendidikan
Pendidikan dimanapun dikepung situasi dilematis,pro status quo ataukah ingin menjadi
agen transformasi sosial menuju masyarakat yang sadar. Dalam buku Ideologi-ideologi
Pendidikan oleh William F O’neil, ahli pendidikan University Of Southern California AS
ini mengupas enam ideologi yang berkembang di masyarakat dunia. ideologi-ideologi itu
adalah: fundamentalisme, intelektualisme, konservatisme, liberalisme, liberasionisme,
dan anarkisme. Berbagai ideologi ini kemudian disederhanakan kedalam tiga kelompok
besar: konservatif, liberal, dan kritis.
Para pendukung konservatif menganggap ketidak adilan sosial sebagai kodrat. Mereka
berpandangan kaum miskin, anak jalanan, dan kaum kriminal, semuanya menderita
karena kesalahan mereka sendiri. Kaum konservatif mengajukan bukti-bukti dari mereka
yang mau berusaha banyak yang berhasil dalam studi,karier,dan hidup bebas di luar
penjara.
Pendukung liberal beranggapan, pendidikan tidak berkaitan dengan persoalan ekonomi
dan politik. Mereka tidak melihat kaitan pendidikan dengan struktur kelas,dominasi
politik ,hegemoni budaya,dan diskriminasi jender. Inilah paradigma pendidikan yang
berkembang saat ini di Indonesia. Mekanisme pe-rangking-an, untuk memacu persaingan
antar murid,membangun gedung-gedung,dan semua hal yang dominan kepada hal-hal
fisik, pada akhirnya melalaikan pembangunan mental dan moral. Akibatnya kini kita
terperosok dalam pertikaian antar etnis,agama, dan integrasi wilayah. Paradigma liberal
hanyalah kosmetik. Ujung-ujungnya adalah human investment. Bangsa Indonesia telah
menjadi bagian sekaligus korban dari mesin besar industri kapitalisme.
Paradigma liberal inilah yang mendominasi segenap pemikiran maupun praktik
pendidikan. Paradigma ini berakar pada cita-cita masyarakat Barat tentang
individiualisme. Sejarah paham ini terkait erat dengan kebangkitan kelas menengah yang
diuntungkan kapitalisme.
Pengaruh paradigma liberal, di Indonesia, tampak dalam pendidikan yang mengutamakan
prestasi melalui mekanisme persaingan antarmurid. Pe-ranking-an murid implikasi belaka
dari paradigma ini.
Penganut paradigma liberal hanya sibuk dengan reformasi bersifat kosmetik: membangun
prasarana dan sarana pendidikan seperti perluasan gedung sekolah, perpustakaan, fasilitas
olahraga, laboratorium, komputer, dan menyehatkan rasio jumlah guru-murid. Pun
investasi untuk meningkatkan pengajaran seperti cara belajar siswa aktif (CBSA).

Paradigma kritis pendidikan menghendaki perubahan struktur sosial secara fundamental.


Pendidikan ini mendekonstruksi struktur-struktur sosial,ekonomi, politik, dan budaya
yang melambangkan ketidakadilan. Paradigma kritis menghendaki perubahan struktur
sosial secara fundamental. Pendidikan mendekonstruksi struktur-struktur sosial, ekonomi,
politik, dan budaya yang melambangkan ketidakadilan. Visi pendidikan adalah
melakukan kritik atas ideologi dominan sebagai wujud preferential option for the poor-
pemihakan terhadap rakyat miskin yang menderita. Tugas utama pendidikan, meminjam
istilah sosiolog Peter L Berger, meniadakan piramida korban manusia buntut
pembangunanisme yang gelojoh, tamak, korup, zalim, dan manipulatif.

Paradigma konservatif memelihara status quo, sedangkan paradigma liberal ujung-


ujungnya human invesments untuk mesin besar industri kapitalistik. Paradigma kritis
pendidikan menghendaki perubahan struktur sosial secara fundamental Paradigma kritis
pendidikan menghendaki perubahan struktur sosial secara fundamental.
Menurut William O'neil(2001) bahwa pendidikan kalau boleh diibaratkan seperti seorang
musafir yang sedang berada pada persimpangan jalan. Jalan mana yang akan ditempuh
untuk mencapai tujuan adalah pilihan. Begitu juga dengan pendidikan, memilih jalan itu
merupakan hal yang amat penting dan menentukan keberhasilan. Akan tetapi, dalam
pendidikan yang menjadi persoalan adalah apakah pendidikan akan melegitimasi sistem
dan struktur sosial yang ada ataukah berperan ritis dalam usaha melakukan perubahan
sosial dan transformasi menuju dunia yang lebih adil. Dari adanya dua pilihan itulah,
akhirnya melahirkan Ideologi pendidikan liberal dan Kritis. Kedua paradigma tersebut
dijabarkan sebagai berikut. Menurut paradigma kritis, pendidikan merupakan arena
perjuangan politik.
Dalam perspektif kritis, urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis, terhadap 'the
dominant ideologi' kearah transformasi sosial. Tugas utama pendidikan adalah
menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistim dan sruktur ketidak adilan, serta
melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistim sosial yang lebih adil. Pendidikan
tidak bisa bersikap netral, bersikap obyektif maupun berjarak dengan masyarakat
(detachment) seperti anjuran positivisme. Visi pendidikan adalah melakukan kritik
terhadap sistim dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil dan yang tertindas
untuk mencipta sistim sosial baru dan lebih adil. Dalam perspektif kritis, pendidikan
harus mampu menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas
dan kritis untuk transformasi sosial. Dengan kata lain tugas utama pendidikan adalah
'memanusiakan' kembali manusia yang mengalami
dehumanisasi karena sistim dan struktur yang tidak adil.
Kedua yakni paradigma Liberal, berangkat dari keyakinan bahwa tidak ada masalah
dalam sistim yang berlaku ditengah masyarakat, masalahnya terletak pada mentalitas,
kreativitas, motivasi, ketrampilan teknis, serta kecerdasan anak didik. Paradigma
pendidikan liberal kemudian menimbulkan suatu kesadaran, yang dengan meminjam
istilah Freire (1970) disebut sebagai kesadaran naif. Keadaan yang di katagorikan dalam
kesadaran ini adalah lebih melihat 'aspek manusia' menjadi akar penyebab masalah
masyarakat. Dalam kesadaran ini 'masalah etika, kreativitas, 'need for achevement'
dianggap sebagai penentu perubahan sosial.
Jadi dalam menganalisis misalnya mengapa suatu masyarakat miskin menurut paradigma
pendidikan liberal karena 'salah' masyarakat yang miskin itu sendiri, yakni mereka malas,
tidak memiliki kewiraswataan, atau tidak memiliki budaya 'membangunan' dan
seterusnya. Oleh karena itu 'man power development' adalah sesuatu yang diharapkan
akan menjadi pemicu perubahan. Pendidikan dalam kontek ini tidak mempertanyakan
systim dan struktur yang berlaku, bahkan systim dan struktur yang ada dianggap sudah
baik dan benar.
Dalam memandang tentang realitas sosial yang sedang berjalan, kaum liberal lebih
berorientasi pada upaya menyesuaikan “subyek” terhadap realitas yang
melingkupinya. Dengan demikian, berdasarkan pandangan ini, yang harus berubah adalah
“subyeknya”, dalam hal ini peserta didik, agar bisa beradaptasi dengan sistem dan
struktur yang sedang berjalan.
Berkaitan dengan pendidikan, kaum liberal beranggapan bahwa persoalan pendidikan
terlepas dari persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Dan pendidikan tidak memiliki
kewajiban untuk menjadi pendorong terjadinya perubahan sosial. Pendidikan kemudian
lebih diarahkan pada penyesuaian atas sistem dan struktur sosial yang berjalan. Yang
lebih diperhatikan adalah bagaimana meningkatkan kualitas dari proses belajar mengajar
sendiri, melalui pembangunan fasilitas dan kelas yang baru, modernisasi peralatan
sekolah, penyeimbangan rasio guru-murid.
Selain itu juga berbagai investasi untuk meningkatkan metodologi pengajaran dan
pelatihan yang lebih effisien dan partisipatif, seperti kelompok dinamik (group dynamics)
'learning by doing', 'experimental learning', ataupun bahkan Cara Belajar Siswa Aktif
(CBSA) sebagainya. Usaha peninkatan tersebut terisolasi dengan system dan struktur
ketidak adilan kelas dan gender, dominasi budaya dan represi politik yang ada dalam
masyarakat.
Kaum Liberal sama sama berpendirian bahwa pendidikan adalah a-politik, dan
"excellence" haruslah merupakan target utama pendidikan. Kaum Liberal beranggapan
bahwa masalah mayarakat dan pendidikan adalah dua masalah yang berbeda. Mereka
tidak melihat kaitan pendidikan dalam struktur kelas dan dominasi politik dan budaya
serta diskriminasi gender dimasyarakat luas. Bahkan pendidikan bagi salah satu aliran
liberal yakni 'structural functionalisme' justu dimaksud sebagai sarana untuk
menstabilkan norma dan nilai masyarakat. Pendidikan justru dimaskudkan sebagai
media untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai nilai tata susila keyakinan dan
nilai nilai dasar agar masyarakat luas berfungsi secara baik.

Pendidikan macam apa yang melahirkan pemuda seperti Soekarno, Hatta, Tan Malaka,
Sjahrir atau Haji Agus Salim. Sekolah seperti apa yang kemudian meluluskan anak-anak
muda yang punya pikiran raksasa dan tindakan besar. Sebab zaman dimana mereka
tumbuh adalah masa dimana kolonialisme primitif sedang tumbuh begitu kejam dan
keras. Masa itu dunia sedang mengalami pertarungan ideologi yang keras dan
pertempuran yang tak henti antar berbagai negara. Pemuda-pemuda itu tumbuh tidak di
masyarakat yang sudah mengalami kemajuan pendidikan tetapi di tengah iklim
feodalisme yang masih mencekik. Dalam usia yang masih belasan tahun mereka punya
pikiran yang melampaui batas-batas geografis negeri, dan bahkan pada usia 20-an ada
banyak diantara mereka yang menjadi pemimpin pergerakan.

Sekolah seperti apa yang mampu mencetak pemuda semacam mereka? Saya ingin
kutipkan sekolah guru yang diikuti oleh Tan Malaka pada tahun 1895: -Setiap hari para
murid harus belajar dari pukul 8 sampai pukul 17 dengan istirahat dua jam pada tengah
hari. Juga pada hari rabu sore dan sabtu sore bel baru berbunyi pukul 5. Tetapi setiap hari
diadakan satu jam gerak badan. Jumat pagi di lapangan dan pada Rabu sore dan Sabtu
sore dilakukan pekerjaan tangan (kayu, karton dan tanah liat) Mata pelajaran yang
terpenting adalah bahasa Belanda. Mata pelajaran lain: berhitung, ilmu ukur, mengukur
tanah, ilmu bumi, sejarah pribumi, ilmu alam (yang dianggap penting untuk melenyapkan
takhayul), ilmu hayat, ilmu hewan, ilmu tumbuh-tumbuhan (sebuah kebun di pekarangan
belakang sekolah dipakai dalam mata pelajaran ini, yang membicarakan masalah
penyuluhan pertanian) ilmu pendidikan, menggambar, menulis dan menyanyi... mereka
tinggal di asrama dengan syarat yang ditentukan, dan ‘mereka pun harus menyeka bersih
ruang depan dan pinggiran-pinggiran selokan’-

Kita kemudian tahu, dalam sejarah kelak Tan Malaka adalah salah satu pencetus sekolah
SI yang sangat anti kolonial dan itu sebabnya sekolah itu dipaksa tutup oleh Belanda.
Sekolah guru (kweekscholl), dimana Tan Malaka sempat mendapat pendidikan, resmi
dibuka pada bulan April 1852 dengan batas usia murid yang diterima 14-17 tahun dan
mereka harus berasal dari keluarga baik-baik. Perkembangan paling pesat dalam
pendidikan di masa kolonial adalah dibuatnya UU Pendidikan yang merupakan
rancangan dari kaum Liberal yang dikomandoi oleh Menteri Jajahan van de Putte . Tak
cukup dengan itu, pada tahun 1869 pembiayaan sekolah yang merupakan tanggungan
sekolah, sejak 1869 oleh Raja Belanda ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Sikap
politik Belanda mengalami perubahan besar ketika kaum liberal memenangkan
pertarungan politik dengan menempatkan Mr JH Abendanon sebagai Direktur Pendidikan
dan Industri (1900-5) dan A.W.F Idenburg sebagai menteri Jajahan (1902-5)

Abendanon kemudian sangat terkenal dengan konsep pendidikan bagi ibu Jawa, yang
kelak akan memunculkan perempuan besar, Kartini. Hasrat untuk menjangkau Barat
itulah yang kemudian dirumuskan dalam sekolah kolonial di masa itu dan kebijakan
politik etis memang membuka kesempatan bagi banyak pribumi untuk mencicipi sekolah
Barat. Tapi bukan tidak ada kritik atas pendidikan kolonial saat itu. Haji Agus Salim
adalah seorang diantara banyak tokoh pergerakan yang beranggapan bahwa pendidikan
kolonial hanya meluluskan manusia-manusia budak yang kelak akan berhamba pada
sistem penjajah. Di tahun 1912 Haji Agus Salim mendirikan sebuah sekolah HIS
(Hollandsche Inlandsche Scholl) di Kota Gedang sebagai petunjuk kalau dirinya tak
setuju dengan model pendidikan kolonial. Tak hanya dengan itu, dididiknya anak-anak
Agus Salim dengan caranya sendiri dan sejarah mengetahui bagaimana kecerdasan anak-
anak Salim.

Dalam bahasa yang lebih ringkas, pendidikan pada masa-masa itu merupakan cara untuk
menegaskan dimana posisi kita! Itu pulalah yang kemudian membangun hubungan antara
murid dan guru bukan semata-mata fungsional melainkan ideologis. Sukarno misalnya,
mengenal Marxisme bukan dari buku melainkan guru HBS-nya yang bernama C Hartogh.
Ia seorang guru bahasa Jerman sekaligus anggota dari Indische Social-Democratische
Vereeniging (ISDV) yang menjadi embrio bagi gerakan kiri. Paling tidak ada tiga
mahaguru politik etis yang memang kemudian memberi banyak pengaruh pada kaum
pergerakan, yakni: Ch Snouck Hurgronje, C van Vollehnoven dan G.A. J Hazeu.
Ketiganya itulah yang mulai memandang pendidikan bukan saja sebagai upaya untuk
menstransfer pengetahuan melainkan juga taktik bagi kaum pergerakan. Pendidikan, pada
masa itu adalah, upaya pembebasan. Makanya Sjahrir dan Hatta kemudian mendirikan
gerakan yang bernama: Pendidikan Nasional Indonesia, yang tujuanya: pertama-tama
hendak mendidik, dan dengan demikian memetakan jalan menuju kemerdekaan...
karenanya tujuan pendidikan, bukanlah ‘untuk menciptakan agitasi’ melainkan untuk
‘membawakan kejernihan’.

Kilasan historis ini membawa kita pada jawaban mengapa pendidikan mampu mencetak
manusia-manusia besar itu tadi. Pendidikan adalah pembebasan dari belenggu penindasan
maupun kepercayaan yang naif. Kutipan Sjahrir diatas menjelaskan bagaimana
sesungguhnya ideologi pendidikan kita itu berdiri: pendidikan, kata Sjahrir: pertama
memperbaiki hidup lebih dulu, dan kemudian menunjukkan sikap panutan, kemudian
membangkitkan kekuatan dan semangat rakyat dan rela mengorbankan kepentingan diri
sendiri. Tujuan ideologis pendidikan itulah yang hari-hari ini begitu kita prihatinkan.
Silang-sengketa masalah pendidikan makin hari makin kerdil dari tujuan utama
pendidikan: urusan soal kesejahteraan, ongkos sekolah, bangunan sekolah yang buruk,
siswa yang tidak lulus dan buku pelajaran yang meluapkan kasus korupsi telah
memadamkan peran pendidikan dari tujuan utama: pembebasan. Mengerikan
menyaksikan pendidikan berjalan tanpa sandaran ideologis bahkan tidak melahirkan
peserta didik yang mampu berpikir dan bertindak besar.

Yang menonjol misalnya dalam perumusan buku pelajaran. Buku sejarah hanya
menyorongkan citra sejarah. Kelemahanya yang paling berat adalah diproyeksikannya
masa sekarang ke dalam masa lampau secara tetap. Kedua pelajaran sejarah hampir tanpa
teori sehingga pelajaran sejarah menjadi berat, karena daya imajinasi-kesadaran serta
citra sejarah-tidak dihidupkan. Itu sebabnya pelajaran sejarah banyak sekali
menghidupkan mithos-mithos yang sering dimanfaatkan untuk kegunaan taktis politik .
Buku pelajaran hampir tidak mengenalkan gambaran tentang realitas, apalagi dengan
mengandalkan soal-soal yang sepenuhnya hapalan. Buku pelajaran yang didesain tidak
menarik, tanpa ada lukisan kenyataan yang imaginatif dan kurang menampung berbagai
perkara-perkara masyarakat akan menumpulkan nalar berpikir peserta didik dan tidak
mendorong sikap berpihak mereka. Sedikit upaya dilakukan oleh guru tetapi itu selalu
menambang gugatan dari beberapa pihak yang dirasa menganggu.

Hal yang sama pula pada methode pengajaran yang sifatnya masih mengkonfirmasi.
Beberapa methode baru yang ditawarkan nyatanya hanya berlaku pada beberapa lembaga
pendidikan mahal dan selalu membutuhkan pembiayaan tinggi. Penghambaan pada
kekuasaan didorong sedemikian rupa dalam dunia pendidikan kita melalui, pembelajaran
bahwa keluarga dan jaringan perluasanya merupakan dasar bagi kehidupan mereka, dan
bahwa hubungan-hubungan itulah yang membentuk bangsa. Bangsa dan keluarga
kemudian tak bisa dibedakan secara lugas, bahkan kekuasaan dengan keluarga kemudian
batasanya begitu tipis. Itu sebabnya pendidikan kemudian memunculkan para terdidik
yang kadang susah membedakan antara kepentingan umum dengan kepentingan
keluarganya sendiri. Alumni pendidikan pada masa Orde Baru, diantaranya adalah
mereka yang mencicipi kursi kekuasaan sekarang ini. Tanpa pandangan besar, picik
terhadap perbedaan, tidak tahu malu pada keadaan rakyat dan kurang terdidik.

Jika kita ingin melampaui apa yang sudah dihasilkan oleh pendidikan kolonial, maka
mandat pendidikan bukan lagi mencerdaskan akan tetapi berpihak pada kepentingan luas
rakyat. Hendaknya pendidikan mengembalikan fungsi pembebasan dan keberpihakan,
bukan hanya memenuhi kepentingan-kepentingan pasar. Tak bisa lagi pendidikan hanya
meluluskan anak-anak yang sekedar memenuhi nilai ujian nasional, tetapi juga mampu
untuk merumuskan dan mengartikulasikan tuntutan-tuntutan lingkunganya dalam bahasa
yang lebih sistematis dan segar. Ideologi pendidikan memang tak bisa ditemukan hanya
dalam bunyi undang-undang melainkan dihidupkan dalam pratek-praktek pembelajaran.
Guru merupakan salah satu sendi bagaimana hidupnya ideologi keberpihakan dalam
dunia pendidikan dan pemerintah merupakan tiang utama penyangganya. Sudah barang
tentu jangan bertanya banyak tentang apa saja yang dilakukan oleh pemerintah dalam
soal pendidikan, karena kita tahu sendiri, pendidikan bukan soal yang menarik diurus!
Mencari basis ideologi Pendidikan bukan hanya mengharuskan kita untuk berkaca pada
masa lalu melainkan juga meraba ‘keinginan’ kita terhadap pendidikan.

Pendidikan adalah bagian dari rekayasa sosial. Melalui pendidikanlah masyarakat


dibentuk dan diarahkan kepada tujuan-tujuan tertentu. Tetapi pendidikan juga merupakan
produk masyarakat. Dengan kata lain, ia juga bisa dilihat sebagai sebuah proses sosial.
Sebab, bagaimanapun sistim atau modelnya, pendidikan tak mungkin terbebas dari
pengaruh kesadaran dunia, cita-rasa, dan selera tertentu. Bahkan sangat boleh jadi ia
dibentuk di bawah tekanan belenggu-belenggu struktural yang sedang berlaku.
Di dalam kritik ideologi (bukan kritik sistim) kita tak akan bertanya, misalnya; berapa
sekolah telah dibangun, berapa sarjana telah dihasilkan, serta bagaimana kualitasnya atau
bagaimana meningkatkan semangat belajar pada siswa. Kritik ideologi berbicara tentang
sejarah, aspek psiko-sosiologis, bentuk dan isi pendidikan, serta hubungannya dengan
tingkah laku masyarakat.
Feodalisme, masyarakat agraris, pengalaman dijajah 350 tahun, dan situasi dunia
internasional merupakan di antara faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk dan ideologi
pendidikan bangsa Indonesia. Tentu saja kita pun tak boleh lupa, bahwa “Politik Ada
Maunya” merupakan pelajaran pertama yang kita warisi dari penjajahan Belanda.
Pribumi -ketika itu- dididik dan dicetak menjadi administrateur, tidak lain untuk
dijadikan kaki-tangan politik kolonialis-imperialis mereka. Karena nya, wajar kalau
kemudian setelah merdeka, kursi para pengambil keputusan didominasi mereka yang
berselera dan bercita-rasa “indo”. Sebab hanya merekalah yang siap. Meski mereka
adalah nasionalis-nasionalis sejati dan telah berjasa bagi republik ini, namun tak bisa
dipungkiri bahwa -secara tak langsung- lewat sebagian dari mereka pulalah pengkultusan
terhadap “barat” mulai ditanamkan. Dan yang demikian terjadi hampir di setiap bekas
negara jajahan. Dendam terhadap penjajah secara menakjubkan berubah menjadi rasa
“berterimakasih”. Kemudian mulailah “barat” menjadi acuan segala nilai kebajikan.
Menjadi tolok ukur kesejahteraan, demokrasi, toleransi, atau apa saja. Di dalam suasana
kejiwaan semacam inilah bangsa kita tumbuh dan dibesarkan
Di awal masa kemerdekaan kita tak punya pilihan selain meneruskan target-target lama.
Tentu saja kali ini di dalam semangat nasionalisme. Pendidikan diselenggarakan dalam
rangka memenuhi kebutuhan sektor negara. Dan karena hampir seluruh sektor swasta
hanya dikuasai keturunan Arab, Cina, dan India, mengabdi sebagai pegawai negeri
seakan menjadi manifestasi semangat mengisi kemerdekaan ketika itu.
Tetapi karena belum banyak orang pintar, apalagi karena sebelumnya Belanda hanya
mendirikan sekolah tinggi untuk hukum, teknik, dan kedokteran saja, jangan heran kalau
ketika itu ada sarjana duduk di kementerian mengurus masalah di luar disiplin ilmu yang
ia kuasai. Begitu juga di dunia pendidikan, tak sedikit yang mengajar bahkan diangkat
menjadi guru besar di bidang spesialis yang mereka bukan ahlinya. Tentu ini berakibat
tidak saja kepada mutu, tetapi juga kepada paradigma ilmunya.
Lahirnya jaringan kerja-sama antara perguruan tinggi nasional dengan universitas-
universitas seperti Cornell University, UCLA, atau Massachusetss Institute of
Technology di tahun 50-an ikut mewarnai perkembangan ilmu dan pendidikan kita.
Indonesia pernah menjalin hubungan “Bapak-Anak Angkat” dengan Cornell University.
Program ini secara tak langsung mempengaruhi bentuk kurikulum perguruan tinggi kita
ketika itu dalam hal: apa yang harus dan apa yang tak perlu dipelajari, obyek penelitian,
serta metodenya. Kalau Marshall Plan “membantu” kita supaya bisa jadi partner dagang,
maka program -yang popular dengan sebutan Formington Scheme ini- “membantu” kita
agar bisa jadi sparing partner berpikir. Ini merupakan pelajaran selanjutnya bagi bangsa
kita tentang “Politik Ada Maunya”.
Situasi politik awal tahun 60-an merubah arah perkembangan keilmuan dan pendidikan
kita ketika itu. Kerja sama dengan universitas-universitas Amerika terputus. Ilmu-ilmu
sosial berparadigma sosialis mulai tampil. Buku pelajaran sejarah juga ikut disesuaikan
dengan haluan politik saat itu. Menjadi orang kaya ketika itu identik dengan kapitalis.
Meski telah berjasa menciptakan lapangan kerja, wiraswastawan yang sukses mudah
dicurigai telah berkolaborasi dengan imperialis, atau dituduh sebagai antek-anteknya.
Akhirnya tak sedikit orang menempuh “jalur partai berkuasa” sekedar demi
mempertahankan hidup.
Ketika Orde Baru berkuasa, keadaan berbalik. Pulangnya para sarjana kita dari studinya
di Barat menambah barisan orang pintar. Para pendekar yang baru turun gunung itu
mengoleh-olehi kita ilmu dan teori-teori sosial yang lagi “ngetren”, Modernism-nya Mc
Clelland misalnya. Kita juga diperkenalkan dengan macam-macam isme pembangunan.
Dan kita menjadi tak lagi canggung bergaul dengan mazhab-mazhab yang dominan di
Berkeley, Sorbone, atau tempat-tempat lainnya, yang sedikit banyak juga bicara
pendidikan.
Meski tidak semua agennya dari bangsa kita itu langsung berselera Amerika atau Prancis,
tetapi kesan keberpihakan kepada logika-logika liberalis -baik dalam teori-teori yang
diajarkan di sekolah-sekolah maupun dalam praktek sosialnya yang berwujud kebijakan-
kebijakan pemerintah- sangat terasa. Ditandai dengan banyaknya orang pintar
memainkan peran ganda, sebagai teoritisi yang mengajar di perguruan-perguruan tinggi
sekaligus sebagi teknokrat.
Keadaan ini menguntungkan pemerintah, tetapi tidak bagi perkembangan ilmu. Yang
diajarkan di perguruan tinggi tak lebih dari teori-teori yang membenarkan kebijakan
pemerintah. Meski demikian, ada pula baiknya, karena hal itu telah menghidupkan
banyak pihak. Dan entah, apakah ini juga termasuk pelajaran tentang “Politik Ada
Maunya”?
Agaknya zaman ketika itu pun berpihak untuk memenangkan isme yang berorientasi
pada pertumbuhan ekonomi. Dan ini sangat sesuai dengan kepentingan negara-negara
kapitalis. Modal asing masuk, MNC-MNC (Multi National Corporation) hadir, kemudian
industri-industri swasta pun tumbuh. Artinya, terbuka lagi lapangan kerja baru. Tetapi
ternyata ini hanya menolong sesaat dan bagi sebagian orang saja. Sebabnya jelas.
Industri-industri tersebut sudah tentu tidak dimaksudkan untuk jadi “panti asuhan”. Dan
memaksakan konsep Padat Karya menurut logika bisnis mereka sama saja dengan bunuh
diri.
Ketika ternyata pengangguran tidak berkurang, orang masih percaya bahwa kesalahan
terletak pada skill, atau mental -kata sebagian lain. Solusinya, pendidikan kewiraswastaan
masuk kurikulum, fakultas-fakultas politeknik dibuka, serta BLK-BLK didirikan dan
perusahaan-perusahaan swasta dihimbau untuk membuka kesempatan magang. Hasilnya?
Lahirlah istilah “Tenaga Siap pakai”. Setiap orang bangga dengan status ini. Sekolah-
sekolah menjadikannya tema promosi dan perusahaan-perusahaan pun berjanji
membelinya.
Maka ketika industri tercanggih yang kita miliki, seperti IPTN -yang tidak semua orang
Indonesia pantas direkrut kecuali putra terbaiknya saja-, ternyata harus juga mengurangi
karyawannya, kita pun terperangah. Ternyata kita memiliki begitu banyak orang pintar
lagi siap pakai sampai-sampai sulit menampungnya dan terpaksa tidak dipakai. Boleh jadi
ada yang bertanya; kenapa surplus orang pintar dan siap pakai itu tidak dimanfaatkan
untuk membuat cabang-cabang IPTN, walau sekedar untuk memproduksi layang-layang?
Lantas apa artinya “Tenaga Siap pakai”? Kenapa ternyata mereka tidak siap untuk tidak
dipakai? Kenapa tak kita didik saja mereka sejak awal untuk menjadi “Tenaga Siap Tak
Terpakai”? Dengan kata lain, kenapa bukan istilah “Tenaga Siap Cipta” -misalnya- yang
kita masyarakatkan?
Di dalam “cipta” ada makna kemandirian dan kemampuan. Sedang di dalam “pakai” ada
makna ketergantungan dan ketidakberdayaan. Tergantung dan tak berdaya di dalam
memilih dan menentukan, seakan tak punya pilihan, serta dipaksa untuk menerima apa
yang disodorkan. Manusia menjadi tak lebih dari sekedar operator bagi sebuah teknologi,
bahkan untuk sebuah ideologi. Lantas, siapa yang diuntungkan dengan istilah itu? Mudah
diduga, untuk kepentingan siapa sebenarnya istilah itu dimunculkan. Tentu itu bukan
sekedar bahasa teknologi, apalagi psikologi. Itu bahasa ideologi!
Akhirnya, orientasi “Lapangan Kerja Selepas Sekolah” semakin mendominasi
pertimbangan memilih bidang studi. Terlihat sekali ketika industri perbankan tumbuh
menjamur, sekolah-sekolah manajemen keuangan dan yang sejenisnya pun langsung
surplus peminat. Gayung pun bersambut, karena “Politik Ada Maunya” semua orang pun
ramai-ramai bikin sekolahnya. Mencetak orang untuk dijadikan administrateur para
konglomerat. Kalau kemudian para alumninya berwiraswasta di bidang lain, itu terpaksa,
karena ternyata penawaran lebih besar dari permintaan. Herannya, kita tak pernah
berhenti percaya kepada janji-janji yang telah berulang kali memperdayakan, tak pernah
berhenti berharap kepada teori-teori yang telah berulang kali mengecewakan.
Jelas ini masalah ideologi, jika pola-pola kebijakan pendidikan sepanjang sejarah ternyata
tak pernah bersih dari “Politik Ada Maunya”. Selalu saja ada “vested interest”. Selalu
saja berbau eksploitasi dari yang kuat terhadap yang lemah,yang kaya terhadap yang
miskin, yang pintar terhadap yang bodoh, dan yang merdeka terhadap yang tak punya
pilihan.
Akhirnya kita dipaksa mengerti mengapa misalnya, sekolah melarang murid membeli
buku kecuali yang telah disediakan. Mengapa guru-guru ikut mengatur pengadaan
seragam murid. Mengapa di kota besar murid diperebutkan sementara di desa mereka
yang wajib belajar sulit menemukan sekolah.
Lebih dari itu, “Politik Ada Maunya” menimbulkan dampak psikologis sekaligus
sosiologis bagi kita. Budaya curiga dan buruk sangka merupakan dampak psikologisnya.
Kita curiga kalau ada siswa akrab dengan dosennya, curiga kalau mendengar ada rencana
perubahan kurikulum. Kita menjadi tak percaya pada keluhuran budi serta cenderung
mencemoohkan sebagian orang -yang masih tulus- dengan tuduhan dan anggapan-
anggapan yang menghinakan. Dampak sosiologisnya, lahirnya berbagai bentuk kolusi
dan nepotisme di dalam sistim sosial kita. Mekanisme pertahanan diri -untuk bertahan
hidup- pun memaksa kita beradaptasi dengan situasi ini. Symbiosis mutualistis!!! Semua
berusaha mengambil keuntungan di dalam posisinya sebagai apa pun atau siapa pun. Tak
perlu ada yang merasa dirugikan atau ditipu. Yang ada hanya kepura-puraan. Pura-pura
mengerti sekaligus pura-pura tidak mengerti!!!
Nah, kritik ideologi - yang saya maksudkan di atas- itu bukan mempertanyakan ideologi
dalam artian normatif. Dan jawabannya bukan pada deklarasi-deklarasi resmi, motto, atau
retorika pejabat pemerintah. Tetapi di dalam rangkaian fakta; pengangguran terpelajar,
ijazah AsPal, orientasi lapangan kerja selepas sekolah, minimnya guru dan sekolah di
pedesaan (-sedangkan di perkotaan murid diperebutkan, sekolah mewah bertebaran, dan
guru bejibun-), lembaga pendidikan bermasalah, komersialisasi, bentuk ketergantungan
yang semakin kuat justru setelah melalui proses pendidikan, serta konsep-konsep
-obyektif, ilmiah, netral atau rasional, bahkan indikator kesejahteraan, kemajuan, dan
keterbelakangan- yang melulu mengacu pada tolak ukur Barat.
Kita tidak pernah membuang keyakinan “pendidikan merupakan proses moderenisasi,
segala yang tidak sejalan dengan moderenisasi bukanlah pendidikan”. Itulah soalnya,
itulah akar masalahnya. Ini andil sejarah!!! Kemudian pendidikan menjadi “gengsi”,
karena menyandang sekaligus menghasilkan atribut-atribut moderenisme. Karenanya,
tenaga, uang, dan waktu harus dikerahkan ke sana. Otomatis pendidikan menjadi
komoditi. Sehingga kebijakan apapun yang ditempuh, “Politik Ada Maunya” pasti ikut
berpartisipasi. Meletakkan akar masalah ini selalu dalam posisi di luar pembicaraan
-sebagaimana yang terjadi selama ini- justru memperkuat dugaan bahwa itulah ideologi
pendidikan yang kita anut selama ini. Atau, mungkin ada yang masih mau coba-coba
mengatakan: ini bukan masalah ideologi?

Pertarungan antar Ideologi


Keyakinan-keyakinan yang ideal dalam masyarakat dunia, sampai saat ini tidak
membawa hasil yang memuaskan. Ia yang awalnya,diharapkan membawa pembebasan
dan jalan keselamatan,ternyata malah membawa kita menuju jurang pertikaian yang
menelan banyak korban. Revolusi Perancis,civil war di Amerika, pembantaian oleh Nazi
Jerman, rezim Stalin di Rusia,rezim Pol Pot di Kamboja, tragedi PKI di Indonesia, dan
seterusnya adalah sebagian bukti-bukti yang menggiring pemahaman masyarakat bahwa
ideologi berarti pembantaian antar manusia atas nama cita-cita luhur dan gagasan yang
agung.
Ideologi sebagai bagian dari peradaban manusia memang menampilkan wajah ganda.
Hingga kini, ia dianggap sebagai sebuah kesadaran palsu. Ini seperti yang pernah
dikatakan Karl Marx, kaum elit mendominasi pandangan awam tentang dunia yang
kemudian menghasilkan kesadaran palsu. Tetapi menariknya ia juga seperti candu.
Beberapa kali kita menyaksikan ideologi dipuja bagai sebuah agama sehingga
penganutnya sanggup berjuang hingga meregang nyawa.
Dari Kamus Wikipedia, ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata tersebut
diciptakan Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan ‘’sains tentang
ide”. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, cara memandang segala
sesuatu, akal sehat dan beberapa kecenderungan filosofis, atau serangkaian ide yang
dikemukakan kelas masyarakat dominan –walaupun minoritas– kepada seluruh anggota
masyarakat yang mayoritas.
Ideologi juga dapat didefinisikan sebagai aqidah ‘aqliyah (akidah yang sampai melalui
proses berpikir) plus aqidah naqliyah yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan. Di
sini akidah ialah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup; serta
tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan di samping hubungannya dengan
sebelum dan sesudah alam kehidupan.
Dari definisi di atas, sesuatu bisa disebut ideologi jika memiliki dua syarat, yakni:
1. Ide yang meliputi aqidah ‘aqliyah dan aqidah naqliyah yang keduanya memberi jalan
dan aturan bagi kehidupan dan masalah kehidupan. Jadi, ideologi harus unik karena harus
bisa memecahkan problematika kehidupan.
2. Metode yang meliputi metode penerapan, penjagaan, dan penyebarluasan ideologi.
Jadi, ideologi harus khas karena harus disebarluaskan ke luar wilayah lahirnya ideologi
itu. Jadi, suatu ideologi bukan semata berupa pemikiran teoretis seperti filsafat,
melainkan dapat dijelmakan secara operasional dalam kehidupan. Menurut definisi kedua
tersebut, apabila sesuatu tidak memiliki dua hal di atas, maka tidak bisa disebut ideologi,
melainkan sekedar paham. Dalam ilmu sosial, ideologi politik adalah sebuah himpunan
ide dan prinsip yang menjelaskan bagaimana seharusnya masyarakat bekerja, dan
menawarkan ringkasan order masyarakat tertentu. Ideologi politik biasanya mengenai
dirinya dengan bagaimana mengatur kekuasaan dan bagaimana seharusnya dilaksanakan.
Jadi, hakikat ”perang ideologi” dalam konteks ”perang melawan terorisme” seperti
dimaksud AS dan sekutunya, termasuk di dalamnya aktor-aktor individu yang ada di
Indonesia, dapat diartikan menjadi tiga hal yaitu:
1. perang terhadap sistem keyakinan, jalan hidup, dan sistem kehidupan;
2. perang terhadap pelaksanan dan penyebarluasan dari kosep-konsep pemikiran yang
bersumber dari sistem keyakinan hidup;
3. ”pemusnahan” terhadap kelompok/individu yang melaksanakan dan memiliki
pemikiran/ideologi yang bertentangan dengan ideologi dan kepentingan AS dan
sekutunya.
Bagaimanapun pertarungan ideologi ini tetap berlangsung. Kaum kapitalis dan sosialis
membawa dialektika dalam keseharian hidup sosial kita. Mereka berlomba mencipta
teori-teori baru untuk meyakinkan masyarakat dunia, bahwa ini adalah jalan menuju masa
depan yang baik. Para teoritisi kapitalis, misalnya, melahirkan teori-teori modernisasi,
antara lain: teori pembangunan,teori tabungan dan investasi, dan sebagainya. Teori kaum
ini yang mutakhir adalah ide tentang Neoliberalisme melalui gerakan globalisasi dan
pasar bebas. Di sisi lain,kaum sosialis pun,tak kalah “gertakan”. Karl Marx,mempelopori
untuk menelanjangi keserahan kaum kapitalis melalui teori Materialisme dialektika-
historis, Althusser dengan teori Strukturalis, Antonio Gramsci dengan Hegemoni, hingga
teori “kritis”oleh Max Hokreimer dan para penerusnya yang mengajukan kembali konsep
dasar Marx, yakni pembebasan manusia dari segala belenggu penindasan dan
penghisapan, tetapi secara kritis dan antidogmatis sebagai antitesis dari teori-teori
pembangunan.
Di luar dua pemain besar ini,muncul juga pemikiran postmodernisme yang keluar dari
tradisi enlightenment. Ragam pemikiran postmodernisme bersatu dalam sebuah ide
bersama,penolakan atas “cerita-cerita besar penyelamatan manusia,menolak obyektifitas
ilmu pengetahuan,dan menolak pemikiran dikotomis. Penekanan ideologi ini kepada hak
untuk berbeda (the right of different). Melalui teori dekonstruksi, faham ini memutus
rantai perdebatan ideologi yang bertikai beserta seluruh rasionalitas yang
membenarkannya. Lalu siapakah pemenang pertarungan ideologi?
The end of History and The last man,oleh Francis Fukuyama mewartakan kemenangan
kaum kapitalisme.”Kita dapat menyaksikan,” demikian katanya…akhir sejarah yang
sedemikian itu: yakni akhir dari evolusi ideologis umat manusia dan universalisasi
demokrasi liberal barat sebagai bentuk final dari sistem pemerintahan umat manusia.”
Sedangkan,ilmu pengetahuan modern (teori modernisasi) telah menghasilkan pandangan
seragam tentang corak produksi secara ekonomis (kapitalisme).
George Ritzer,dari kubu sosialis ,jauh-jauh hari telah mengkritisi paradigma ini dengan
mengatakan kemenangan kapitalisme disebabkan karena pendukungnya lebih
mempunyai kekuatan dan kekuasaan, bukan karena teori ini lebih manusiawi,lebih
baik,apalagi lebih benar. Apakah pesimisme ini mengakhiri pertarungan dan juga sejarah
ideologi manusia?
Perang merupakan salah satu upaya untuk mencapai tujuan. Selain itu perang juga identik
dengan kekerasan fisik. Tapi perang yang satu ini berbeda dengan perang-perang lainnya,
yang lebih menonjolkan kekuatan fisik. Perang ini adalah Perang Ideologi.
Dalam memaksakan tujuannya perang ideologi lebih mengarah kepada perang pemikiran.
Inilah masalah pelik yang sedang dialami oleh negara-negara yang mulai beranjak setelah
sekian lama tertidur .
Karena perang ideologi adalah perang pemikiran maka, dampaknya pun tidak langsung
terasa. Perang ideologi lebih mengacu pada upaya pemecah belahan suatu negara melalui
rakyat, dari negara itu sendiri, dengan kata lain perang ideologi berarti upaya pemecah
belahan bangsa. Di Indonesia sendiri hal ini sudah mulai tampak, contohnya adalah
timbulnya beragam konflik, mulai dari antar pelajar, antar masyarakat, antar suku,
bahkan yang lebih memalukan lagi Antar Anggota Dewan. Kalau ini terus berlanjut, gak
menutup kemungkinan bahwa di masa depan nanti bangsa kita akan terpecah belah.
Padahal negara ini mempunyai beragam suku bangsa dengan berbagai budaya_nya. Inilah
salah satu hal yang membuat Indonesia kaya dimata dunia.
Selain timbulnya konflik, perang ini juga menyerang melalui aspek agama. Berhubung di
Indonesia mayoritas beragama Islam jadi yang akan saya bahas disini juga manyangkut
Agama Islam (maaf gak bermaksud mengucilkan Agama lain). Saya akan menjelaskan
yang paling sederhana saja.
Dalam Islam kita tahu bahwa babi itu haram, namun dalam perkembangannya babi justru
dijadikan barang yang lucu. Kini mulai banyak aksesories-aksesories yang memakai babi
sebagai simbolnya seperti, gambar sablon pada pakaian, boneka (yang menurut beberapa
orang menggemaskan), dan pernak-pernik lainnya.

Kepentingan ekonomi-politik
Setelah Perang Dunia II berakhir, dunia memasuki era Perang Dingin antara Uni Soviet
dan AS. Pada era ini, ada perlombaan persenjataan, perebutan pengaruh ideologi, dan
peningkatan fungsi spionase (mata-mata/intrik intelijen) tanpa ada perang konvensional
terbuka. Upaya lain yang tak kalah pentingnya adalah melalui tekanan ekonomi,
pergerakan diplomatik, propaganda, dan bahkan pembunuhan.
Pada era Perang Dingin ini, kemampuan AS memanipulasi negara-negara Islam dan
kelompok-kelompok Islam di dunia untuk berada di pihak mereka dengan masuk dan
menyusup serta memberikan simpati-simpati palsu yang pada dasarnya hanya
menguntungkan kepentingan negara mereka sendiri– pada akhirnya mampu mengalahkan
ideologi komunis Uni Soviet dan kroninya. Kepandaian kaum kapitalis pimpinan AS
dalam membaca dan mempengaruhi berbagai aliran dan kelompok Islam yang secara
tegas dan nyata menentang ideologi komunis memberikan keleluasaan kepada kaum
kapitalis liberal untuk memperalat umat Islam dan negara-negara Islam sebagai ujung
tombak melawan kaum komunis.
Setelah berakhirnya era Perang Dingin, dunia bipolar berubah menjadi unipolar. Pada
masa ini terjadi transformasi radikal dalam tata hubungan Timur-Barat dan Barat-Islam.
Berbagai bentuk keterbatasan AS membuat mereka memutar otak untuk dapat
mempengaruhi dan memenangkan dominasi atas dunia. Maka metode yang efektif dan
efisien untuk memenangkan dominasi ini adalah jalan propaganda.
Kerajaan ekonomi dunia yang dikuasai oleh AS tetap eksis dan bertahan dengan segala
keterbatasan sumber daya alam yang mereka miliki. Filsafat ekonomi-politik
neoliberalisme memandang manusia beserta seluruh aspeknya semata-mata sebagai homo
economicus dan menetapkannya sebagai satu-satunya model yang mendasari tindakan
relasi manusia.
Di antara propaganda mereka adalah senjata pemusnah massal yang dapat
membahayakan dunia. Dengan alasan itu AS menginvasi Irak. Setelah Irak takluk, AS
melakukan propaganda lanjutan dengan cara membayar dan menyogok koran-koran Irak
melalui perusahaan Lincoln Group agar memberitakan bahwa pihaknya yang telah
menjatuhkan kelompok-kelompok perlawan di Irak dan keberhasilan AS membangun
kembali Irak. Lusinan artikel ditulis militer dan Departemen Pertahanan AS yang
kemudian ”dipaksakan” dimuat di koran-koran Irak sebagaimana diungkap Los Angeles
Time seperti dilansir Sydney Morning Herald.
Propaganda yang akhir-akhir ini sering didengungkan AS dan kroninya adalah terorisme.
Dibalik isu itu, sebenarnya tersembunyi ketakutan besar yaitu bangkitnya kekuatan
khilafah Islam dan kekuatan ekonomi Cina dan India. Propaganda untuk menghambat
bahkan menutupi perjuangan umat Islam semakin tampak jelas. Berbagai pemikiran
tentang konsep Barat terhadap pandangan-pandangan Islam muncul. Ideologi Islam pun
selalu dipertentangkan dengan berbagai pemikiran kapitalis liberal mereka.
Modus operandi ideologi yang digunakan untuk melemahkan lawan ideologi AS dan
sekutunya adalah unifikasi dan fragmentasi. Yang pertama adalah menempatkan bahwa
seolah-olah kaum kapitalis liberal beserta seluruh ideologinya adalah yang benar dan
membawa misi Tuhan serta wajib disebarluaskan. Juga menempatkan ideologi selain
kapitalisme liberal sebagai sebuah sistem yang jahat, kejam, tidak berperikemanusiaan,
diktator, dan pengikut setan.
Hal itulah yang menjelaskan mengapa AS selalu memasukkan Irak dan Afghanistan
sebelum diinvasi dan Iran ke dalam ”poros setan”. Hal ini pula yang menjawab mengapa
George Walker Bush mengatakan ”Tuhan berbisik dan menyuruhnya berperang di
Afghanistan dan Irak untuk mengakhiri tirani dan kediktatoran.”Modus operandi yang
kedua adalah dengan memecah belah umat Islam sehingga muncullah kelompok-
kelompok Islam dengan julukan moderat, liberal, kultural, radikal, fundamentalis dan
sebagainya. Kelompok-kelompok Islam yang mendukung dan mengusung ideologi
kapitalis liberal dimunculkan sebagai ‘Islam yang benar’, Islam yang sesungguhnya, dan
Islam demokratis.

Corporatocracy
Dalam soal demokrasi ini ada fakta menarik yang perlu kita lihat sebagai contoh
hipokrasi AS. Daniel Pipes, salah seorang arsitek perang Irak dan juru kampanye baru
tentang demokrasi di Timur Tengah, mengatakan,”Amerika harus memperlambat proses
demokrasi untuk mencegah pemerintahan Islam berkuasa di negara-negara Arab.”
AS khawatir jalan demokrasi akan membawa kemenangan bagi partai-partai Islam dan
kekuatan Islam di Timur Tengah. Karena itu, AS lebih memilih menghentikan laju
demokrasi yang akan memberikan kemenangan partai-partai Islam daripada
”menghormati” demokrasi yang mereka agung-agungkan. Rupanya, demokrasi bagi AS
adalah demokrasi yang mendukung keberadaan sistem kapitalisme-liberal mereka. Di
luar itu, jangan harap AS menganggap sebuah sistem sebagai sistem demokratis.
John Perkins dalam bukunya Confession of an Economic Hit Man menyebut dengan tepat
istilahnya sebagai corporatocracy. Yaitu demokrasi yang menjadi penopang kekuasaan
perusahaan-perusahaan AS untuk menghisap kekayaan negara-negara seperti Indonesia
dan menindas mayoritas umat.
Dalam konteks perang ideologi dan memapankan kepentingan ekonomi politik AS ini
pula, upaya untuk mengubah kurikulum pesantren yang didanai AS sebesar 157 juta dolar
AS, menjadi hal yang patut diwaspadai. Karena perang ideologi tersebut telah secara jelas
menempatkan para pejabat dan sebagian kelompok elite di Indonesia menjadi ”antek
AS”, baik secara sukarela maupun karena ”terpaksa”.
Penghembusan isu teroris ini selalu mendominasi seluruh kegiatan umat Islam. Hal ini
dilakukan agar setiap kegiatan umat Islam dapat dibatasi, sehingga prinsip kapitalisme
dan liberalisme yang dianut AS dapat semakin leluasa merasuk ke negara-negara Islam.
Karena tidak adanya kontrol secara sistematis dari para pemuka agama Islam, dengan
mudah AS menguasai umat Islam terutama di Indonesia. Dengan demikian, AS dengan
mudah mempertahankan ”kerajaan ekonomi”-nya yang menggunakan sistem jahiliyah
dan zalim.
Melakukan perlawanan terhadap sistem yang jahil dan zalim secara membabi buta
dengan menebar bom di mana-mana tidak menyelesaikan masalah, malah justru
merugikan umat dan negara-negara ketiga secara keseluruhan. Bukankah sistem jahiliyah
dan zalim menghendaki kita terjebak dalam kesesatan sehingga gampang digiring ke
jurang kehancuran dan ladang pembantaian? Perlawanan terhadap sistem jahiliyah dan
zalim harus dilakukan melalui pemikiran yang konsepsional dan melalui tindakan yang
strategis, agar tidak menjatuhkan korban sia-sia dan mubazir.

Peran Media Massa


“Saya lebih takut pada media massa dibanding senjata” Demikian ungkap Napoleon
Bonaparte ratusan tahun yang lalu. Memang, sejak dulu media masa memiliki peran
penting dalam peta percaturan politik dunia, sehingga pengaruhnya melebihi kemampuan
pedang dalam membunuh. Media massa kini menjadi medan baru perang antar ideologi.
Peperangan dimulai dari game, film, buku, surat kabar, majalah, dan bahkan internet.
Intinya, segala sarana yang terkategori media massa, menjadi senjata paling efektif
melancarkan serangan. Tentu saja, yang dibidik bukan melukai fisik, tapi mengoyak iman
dan akidah. Itu target utamanya.
Media massa telah menjelma menjadi alat propaganda paling efektif. Media massa
mampu menjadi lokomotif perubahan masyarakat. Terlebih saat ini, dengan kemajuan
teknologi, jaringan-jaringan pemberitaan dunia mengalami perkembangan sangat pesat.
Masyarakat dari berbagai penjuru bumi dapat dengan mudah dipengaruhi arah opini yang
di-blow-up media massa dengan sangat cepat.
Eksistensi ideologi kapitalisme-sekular saat ini, tak lepas dari keberhasilan para kapitalis
dalam menggenggam media massa. Ya, para pemilik modal itulah aktor utama di balik
berbagai propaganda pro-sekularisme. Tak ayal jika demokrasi, hak asasi manusia, seks
bebas, gaya hidup hedonis dan berbagai budaya Barat dengan mudah merasuk ke
berbagai penjuru dunia. Semua itu disokong penuh oleh media massa.
Iqbal Shadiqi, pemimpin redaksi majalah terbitan Inggris, Cressent International,
mengatakan, “Media-media AS sangat bergantung kepada para investor dan orang-orang
Zionis. Kedua kelompok inilah yang mengontrol pemerintah dan media AS.”
Saat ini mayoritas media massa internasional dikuasai oleh jaringan Zionis. Sejak awal
terbentuknya Gerakan Zionisme Internasional, para aktivis gerakan ini telah
memanfaatkan media massa untuk mempropagandakan pemikiran mereka kepada dunia.
Dalam Protokol ke-12 Gerakan Zionisme, disebutkan, “Media massa dunia harus berada
di bawah pengaruh kita.”
Theodore Hertzl, peletak dasar Gerakan Zionisme Internasional, dalam konferensi di
Swiss tahun 1897 mengatakan, “Kita akan berhasil mendirikan pemerintah Israel dengan
memanfaatkan dan menguasai fasilitas propaganda dunia dan media massa dunia.”
Hertzl adalah wartawan internasional yang dengan pengalamannya berkecimpung di
dunia jurnalistik tahu persis bagaimana melakukan lobi-lobi terhadap media massa.
Hasilnya, kantor berita ternama seperti AFP, AP, dan Reuters, berada di bawah kontrol
mereka.
Dari sinilah perang ideologi di media massa dimulai. Zionisme merancang berita-berita
dan opini yang menampilkan citra bahwa mereka adalah gerakan legal dan lahir dari
ketertindasan. Diciptakanlah opini bahwa penjajahan Isreal terhadap Palestina adalah sah.
Sebaliknya, diluncurkan opini dan berita yang kerap menyerang ideologi Islam. Label-
label negatif dilekatkan pada komunitas Muslim, seperti fanatik, fundamentalis, radikal,
teroris, dll. Para pejuang Palestina diposisikan sebagai teroris.
Setiap kejadian terorisme, tanpa menunggu penyelidikan terlebih dahulu, akan langsung
diliput media massa dengan tendensi anti-Islam. Dalam atmosfer propaganda dunia yang
teracuni oleh media-media pro-Zionis, opini dunia menjadi terarahkan pada satu topik:
stigmatisasi buruk terhadap Islam.
Kasus paling gres adalah dimuatnya kembali kartun yang menghinakan Nabi Muhammad
saw di 11 media massa dan televisi nasional di Denmark, serta tiga harian di Eropa, yakni
Swedia, Belanda dan Spanyol.
Tindakan tersebut merupakan kesengajaan sebagai sinyal perang terhadap Islam. Betapa
tidak, Nabi Muhammad sebagai pengusung ideologi Islam digambarkan sebagai lelaki
bersorban yang menyembunyikan bom di baliknya. Islam digambarkan sebagai agama
yang penuh kekerasan dan darah. Sayang, umat Islam seolah tak berdaya menghadapi
penistaan ini. Para penguasa di negeri-negeri Muslim diam seribu bahasa.
Contoh lain ketika gagasan formalisasi syariah Islam bergema, segera serangan balik
terhadap gagasan ini ditebar media massa. Terutama meminjam corong para “tokoh” atau
“alim ulama.” Dihembuskan opini bahwa syariah Islam tidak wajib diterapkan, bahwa
Khilafah adalah utopia, dan sejenisnya. Ideologi Islam yang terdiri dari akidah dan
syariah pun mendapat serangan bertubi-tubi, yang ironisnya justru dilakukan oleh
sebagian umat Islam sendiri.
Microsoft Ensemble Studios pernah meluncurkan game yang menggambarkan perang
peradaban lewat trilogi Age of Empire. Sejarah peradaban manusia di jaman
Messopotamia, Babilonia, sampai jamannya Shalahuddin al-Ayubi yang melakukan
penaklukan Yerusalem, Joan of Arc yang biasa dipanggil Maid of Orleans dan lainnya
dengan detil bibliografi yang lengkap.
Memainkan game Rise of Nations, dimana peradaban yang bisa dimainkan di sini adalah
kapitalisme, sosialisme, dan mungkin Islam diwakili Turki, meski tak nyata pemerintahan
Islam. Simulasi dalam game ini seperti menjalin kerjasama perdagangan dengan negara
lain, hubungan diplomatik, pencapaian teknologi, sampai ekspansi besar-besaran dengan
mengerahkan kekuatan militer untuk menjajah negara lain.
Selain game, bertebaran pula buku-buku, majalah, zine, dan bahkan tulisan di internet
yang nyata-nyata sebagai bentuk benturan peradaban. Islam selalu dihadapkan dengan
Kapitalisme dan Sosialisme. Bahkan saat ini, pertarungan Islam dengan Kapitalisme-
Sekularisme sedang panas-panasnya. Internet bahkan menjadi medan perang ideologi
paling efektif untuk membidik kaum intelektual. Sudah banyak website yang menyerang
Islam, meskipun berlabel Islam.
Perang ideologi pun bisa kita jumpai lewat film. Islam, Kapitalisme, dan Sosialisme juga
getol mempropagandakan ideologinya lewat film. Di film Die Hard 4.0 yang dibintangi
Bruce Willis bahkan ada dialog yang secara implisit menyebut kaum muslimin sebagai
teroris. Film “True Lies” (1994), menggambarkan seorang teroris berkebangsaan Arab
yang membawa senjata nuklir. Film yang dibintangi aktor kekar Arnold Schwarzenegger
sedang memerangi teroris Crimpson Jihad.
Islam juga tak tinggal diam. Film ar-Risalah alias The Message yang dibesut oleh
sutradara Moustapha Akkad pada tahun 1976 telah menjadi film yang sangat bagus dan
cukup detil dalam menyampaikan pesan Islam kepada seluruh dunia. Bahkan konon
kabarnya di Jepang ketika film in diputar di bioskop-bioskop di sana, banyak orang
Jepang yang masuk Islam.
Moustapha Akkad pernah mengatakan, “Film-film sejarah memiliki daya kreativitas yang
sangat tinggi. Film-film modern hanya memiliki kelebihan di bidang dialog dan teknik
pembuatannya, akan tetapi ia tidak memiliki kreativitas tersebut. Kita umat muslimin
memiliki masa lalu yang indah, yang sangat berguna untuk kita jadikan sebagai pelajaran
bagi masa depan kita. Kekhawatiran besar saya ialah terhadap jebakan-jebakan yang
dipasang oleh musuh-musuh kita. Jebakan-jebakan ini mereka tebarkan melalui
propaganda lewat media-media massa mereka. Media massa dapat dijadikan sebagai
senjata yang jauh lebih mematikan daripada bom dan tank.”.

Perjalanan Ideologi bangsa Indonesia


Bangsa Indonesia sebagai bagian dunia, tak terlepas dari pengaruh ideologi sejak pra
kemerdekaannya. Namun,secara umum perbedaan pandangan dari ideologi dapat
dikemas menjadi sebuah alat pemersatu. Sukarno menulis dalam Suluh Indonesia
Muda,tahun 1926 tentang Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme sebagai faham-faham
yang menjadi roh pergerakan di Indonesia,bahkan di Asia. Tetapi jauh sebelumnya
Indische Partij,Sarekat Islam,I.S.D.V (Indisch Sociaal Democratische Vereniging) telah
merumuskan ideologinya masing-masing sebagai alat perjuangan. Setelah
kemerdekaan,pemerintah mulai mengalami kesulitan menangani perbedaan ideologi-
ideologi ini,mulai dari pemberontakan kaum komunis di Madiun, DI/TII hingga tragedi
PKI tahun 1965. Sejak saat itu,seolah-olah bangsa Indonesia trauma dengan sejarah
pertarungan ideologi. Maka mulailah represi rezim penguasa dengan mewajibkan semua
ormas dan orpol menggunakan satu asas sebagai ideologi,Pancasila. Meski dalam
prakteknya bangsa ini terseret jauh dalam sistem ekonomi kapitalisme, bahkan
kapitalisme global.
Berbeda dengan masa Orde Baru yang menggunakan represi, hegemoni ,dan proses
indoktrinisasi melalui P4 sebagai alat untuk meneguhkan kekuasaan,sejak era Reformasi
bangsa ini mulai kembali diramaikan oleh berbagai ideologi Islam, Nasionalisme,
Sosialisme, Marhaenisme, Kristen, dan sebagainya. Disisi lain,terperangkapnya Indonesia
ke dalam “ideologi “Pancasila adalah pengalaman masa lalu. Ahli etika politik
Prof.Dr.Franz Magnis Suseno SJ berpendapat,jangan pernah lagi menyerahkan negara
dan bangsa Indonesia ini kepada ideologi manapun. Menurutnya, Pancasila sebagai dasar
negara lebih tepat disebut kerangka nilai atau cita-cita luhur bangsa Indonesia secara
keseluruhan. Lebih lanjut ia mengatakan, ideologi manapun termasuk komunisme,selalu
punya cacat metodologik yang serius. Alasannya,karena ia telah menyelundupkan
kategori paham benar-salah ke dalam politik praktis. “Kalau kategori benar-salah itu
sudah menjadi sebuah praksis berpolitik, konsekuensi logikanya jelas, yakni
pemerintahan akan menjadi totaliter. Padahal,dalam politik praktis sebenarnya hanya
dikenal kategori baik-buruk dengan beberapa variannya. Kategori benar-salah itu hanya
ada dalam kerangka sebuah teori atau ajaran dan bukan pada tataran praktis,” jelasnya.
Penafsiran lain tentang Pancasila muncul dari Dr.Onghokham. Ia menyatakan, pandangan
bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah salah. Sejarawan ini
mengungkapkan,dalam notulen Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia,rumusan Pancasila ada dalam dokumen yang disiapkan dalam proses
pembentukan negara baru,yakni Republik Indonesia. Dengan demikian, jelasnya,
Pancasila merupakan suatu dokumen politik, bukan falsafah atau ideologi. Sebuah
dokumen politik dalam proses pembentukan negara baru biasanya merupakan sebuah
kontrak sosial, artinya persetujuan atau kompromi antara sesama warga negara tentang
asas-asas negara baru itu. Risalah badan persiapan ini menunjukkan perundingan
(musyawarah) tersebut akhirnya menghasilkan sebuah kompromi.
Ragam ideologi tanah air kita belakangan ini,dengan berbagai tuntutan seperti penegakan
syariah Islam,Pemilu 2004 yang bisa menjadi ajang deideologisasi Partai Politik memberi
pertimbangan bagi kita bahwa sebaiknya Pancasila tidak disandingkan dengan Ideologi-
ideologi tersebut. Saya (penulis) sepakat dengan pemikiran Pancasila sebagai kontrak
sosial. Sebagai kontrak sosial,ia berdiri diatas semua ideologi karena ia merupakan suatu
kontrak pembentukan negara. Sehingga berarti, jika Pancasila diubah maka mensyaratkan
pembubaran Negara Kesatuan Repulik Indonesia terlebih dahulu.

Sekilas Sistem Pendidikan di USA


Untuk memberikan gambaran aplikasi penerapan konsep-konsep pemikiran sekuler-
kapitalisme dalam bidang pendididikan, akan kita berikan sekilas gambaran sistem
pendidikan di USA. Walaupun model sistem pendidikan di USA bukan merupakan satu-
satunya model penerapan konsep sekuler-kapitalisme dalam bidang pendidikan, tetapi
karena saat ini USA merupakan negara adidaya, maka konsepnya dalam berbagai bidang
akan terasa pengaruhnya di negeri-negeri lain, khususnya di Indonesia.
Sistem pendidikan di Amerika memiliki sifat yang khas yang berbeda dari sistem
pendidikan di negara-negara lain, hal ini terutama karena sistem pemerintahannya yang
mendelegasikan kebanyakan wewenang kepada pemerintahan negara bagian dan
pemerintahan lokal (distrik atau kota).
Amerika tidak memiliki sistem pendidikan nasional, yang ada adalah sistem pendidikan
dalam artian terbatas, pada masing-masing negara bagian. Hal ini berdasarakan pada
filosofi bahwa pemerintah (federal/pusat) harus dibatasi perannya, terutama dalam
pengendalian kebanyakan fungsi-fungsi publik seperti sekolah, pelayanan sosial dsb.
Kendali semacam itu harus berada di tangan negara bagian atau masyarakat dan
pemerintahan lokal.
Karena itu di Amerika dalam bidang pendidikan dasar dan menengah, tidak ada
kurikulum nasional, bahkan tidak ada kurikulum negara bagian. Apa yang ada hanyalah
semacam standar-standar kompetensi lulusan yang ditetapkan oleh pemerintahan negara
bagian ataupun pemerintahan lokal. Walaupun begitu pemerintah federal (pusat) diberi
wewenang terbatas untuk mengintervensi dalam masalah pendidikan, bila terkait dengan
empat hal, yaitu untuk :
- memajukan demokrasi,
- menjamin kesamaan dalam peluang pendidikan,
- meningkatkan produktivitas nasional,
- memperkuat pertahanan/ketahanan nasional.
Bentuk intervensi pemerintah pusat tidak dalam bentuk penentuan materi ajar, tetapi
dalam bentuk usulan-usulan maupun program-program pendanaan dengan tujuan-tujuan
tertentu. Sebagai akibatnya pendanaan pemerintah federal di bidang pendidikan sangat
kecil, sebagai gambaran di tahun 2005 hanya 2,9 persen dari total budjet pemerintah
federal yang dialokasikan untuk pendidikan. Total 2,9 persen dari dana federal tersebut
hanya menyumbang antara 8 sampai 10 persen budjet pendidikan di seluruh Amerika. Ini
berarti sumbangan terbesar pendanaan pendidikan ada pada pemerintah negara bagian
dan dana masyarakat.
Sebagian besar sekolah tingkat dasar dan menengah dimiliki dan didanai oleh negara
bagian dan pemerintah lokal, dan semuanya gratis. Tetapi terdapat juga sejumlah sekolah
swasta yang tidak mendapat dana dari pemerintah, dan biasanya sangat mahal tetapi
memiliki kualitas yang terkenal. Sekolah semacam ini biasanya dikelola oleh lembaga
keagamaan, dan biasanya hanya dapat diakses oleh kelompok elit dan keluarga-keluarga
kaya di Amerika. Kebanyakan para politikus dan negarawan Amerika adalah alumni
sekolah-sekolah elit semacam ini.
Dalam bidang pendidikan tinggi, semua universitas memiliki otonomi yang sangat besar
dalam masalah akademik dan pendanaan. Tidak ada kurikulum nasional dan juga tidak
ada standarisasi kompetensi kelulusan di perguruan tinggi. Terdapat beberapa lembaga,
khususnya kebanyakan majalah, yang melakukan perangkingan terhadap unviersitas-
universitas, seperti US News and World Reports (menerbitkan America’s Best Colleges
dan America’s Best Graduates Schools), dan Business Week (menerbitkan Best Business
Schools), tetapi lembaga-lembaga ini bukan lembaga pemerintah. Juga terdapat berbagai
lembaga akreditasi regional maupun nasional, yang mengakreditasi berbagai bidang
pendidikan maupun bidang profesional. Tetapi lembaga akreditasi ini tidak terkait dengan
pemerintah baik pusat maupun pemerintahan negara bagian.
Lembaga-lembaga akreditasi tadi semacam yayasan non profit yang kebanyakan
anggotanya adalah para profesional terkait bidang yang diakreditasi. Lembaga-lembaga
akreditasi tersebut memperoleh pengakuan melalui dua lembaga, Council of Higher
Education Accreditation (CHEA suatu lembaga swasta - non pemerintah) dan US.
Department of Education. Ketiadaan kurikulum maupun standar nasional maupun lokal
di bidang pendidikan tinggi, menyebabkan kebanyakan universitas-unversitas di
Amerika, membentuk kurikulumnya berdasarkan pada perkembangan pasar dunia kerja
dan industri. Kerjasama dengan pihak perusahaan/industri juga sering dilakukan, dalam
bentuk magang (internship), yang tentunya menguntungkan perusahaan karena
mendapatkan sumberdaya manusia yang murah dengan kualitas yang memadai. Bentuk
kerjasama dengan pihak industri, secara terbatas, juga menentukan pola kurikulum yang
ada di suatu universitas.
Sebagian besar unversitas adalah universitas publik (negeri) yang dimiliki oleh negara
bagian. Sebanyak 92 dari 100 universitas terbesar di Amerika adalah universitas publik
(negeri) yang dimiliki negara-negara bagian. Tidak ada institusi pendidikan yang dimiliki
negara federal kecuali beberapa akademi militer. Universitas-universitas publik tersebut
dipimpin oleh board of trustees (semacam majelis wali amanat) yang bertanggung jawab
kepada pemerintah negara bagian yang menjadi pemiliknya. Walaupun didanai oleh
negara bagian, tetapi sebagian pendanaan universitas-unversitas publik juga berasal dari
masyarakat, terutama peserta didik dalam bentuk SPP dan biaya-biaya lain, bahkan hanya
sekitar 10 sampai 30 persen budjet universitas publik yang berasal dari pemerintah negara
bagian di mana universitas itu berada. Selebihnya budjet universitas publik, berasal dari
hibah, spp mahasiswa, kontrak-kontrak kerjasama dan sumbangan.
Walaupun tidak semahal SPP univesitas privat/swasta, SPP di universitas publik masih
termasuk tinggi, sehingga masyarakat dari kalangan menengah bawah kesulitan dalam
memasukinya, kecuali dengan bantuan sistem pendanaan. Banyak siswa yang tidak akan
dapat merasakan pendidikan tinggi kecuali mendapat bantuan berupa grant (hibah) atau
scholarship(beasiswa). Banyak juga siswa yang mengambil pinjaman khusus pendidikan
(student loans) untuk biaya kuliahnya, yang nantinya dilunasi ketika dia sudah lulus.
Untuk membantu mengurangi beban biaya pendidikan, kebanyakan universitas juga
membuka pekerjaan untuk mahasiswanya, seperti bekerja sebagai asisten riset, maupun
pekerjaan administrasi. Dengan mekanisme semacam ini, universitas dapat menjalankan
fungsi-fungsinya dengan biaya yang lebih murah, karena mahasiswa pekerja (student
worker) ini digaji dengan honor yang lebih rendah dari honor pekerja biasa, dan sering
tidak mendapat keuntungan-keuntungan sebagaimana layaknya pekerja biasa di Amerika.
Selain universitas-universitas publik, terdapat sejumlah universitas privat (swasta). Tentu
saja biaya kuliah di universitas-universitas ini sangat mahal, mencapai lima kali lipat dari
biaya di universitas publik kebanyakan. Tetapi dalam bidang kualitas, hampir 25 posisi
teratas dalam rangking-rangking berbagai bidang, kecuali tiga atau empat posisi, dikuasai
oleh universitas-unversitas privat. Karena tidak menggunakan dana publik maka
pengelolaan universitas-universitas privat ini lebih fleksibel dan bebas. Bila universitas
publik tidak boleh membuka cabang di luar negara bagiannya, sebaliknya universitas
privat dapat bebas menbuka cabang di berbagai tepat termasuk di luar negeri.
Universitas-universitas privat inilah yang banyak `mengekspor pendidikan’ ke berbagai
negera. Mereka juga lebih bebas dalam memperoleh sumber-sumber pendanaan maupun
bekerjasama dengan berbagai pihak (industri). Ketika berkaitan dengan pendanaan riset,
pemerintah federal berkewajiban untuk memperlakukan semua lembaga pendidikan
secara sama, sehingga universitas privat memiliki peluang yang sama dalam mendapat
dana riset seperti halnya universitas publik. Kesemua hal di atas, ditambah dengan
kebebasan dalam memperoleh dana-dana tambahan dari industri dan sumbangan pribadi
yang tidak mudah diakses universitas publik, menyebabkan universitas-universitas privat
lebih berkualitas dan beberapa di antaranya menjadi universitas unggulan taraf
internasional.
Terlepas dari bentuk dan sistem pendidikan yang saat ini diterapkan di Amerika, dalam
sejarah perkembangan Amerika terdapat beberapa hal fundamental yang sampai saat ini
masih menjadi perdebatan dikalangan para ahli-ahli mereka antara lain:
1.Bagaimana seharusnya materi yang diajarkan di sekolah
2.Bagaimana seharusnya pendidikan dibagi/didistribusi
3.Bagaimana seharusnya mendistribusi otoritas pendidikan
4.Siapa yang seharusnya menanggung beban biaya pendidikan
5.Seberapa banyak sumber daya kita yang harus dikerahkan untuk dunia pendidikan.
Dan masih banyak lagi. R.Freeman Butts, pakar dari universitas Columbia dan pengarang
banyak buku pendidikan, mengatakan bahwa akar penyebab perdebatan-perdebatan
tersebut adalah adanya tiga pemikiran kuat yang berbeda dalam masyarakat Amerika:
1.Pemikiran nilai perekat, menginginkan sistem pendidikan menghasilkan warga negara
yang efektif, terpelajar dan bertanggungjawab,
2.Pemikiran nilai-nilai pembeda, menginginkan nilai-nilai (minoritas) mereka terlayani,
3.Pemikiran modernisasi dan globalisasi, menekankan pentingnya membentuk `warga
negara dunia’ dalam dunia yang saling berketergantungan, modern dan urban.

Pemanfaatan Sistem Pendidikan dalam Penjajahan


Dalam rangka penjajahan terhadap suatu negara, di mana di sana ada ideologi tertentu
(Islam) yang diemban oleh sebagian masyarakatnya, maka pihak kapitalis penjajah akan
melakukan serangan pemikiran untuk melemahkan dan melenyapkan ideologi musuh
serta memperkuat masuknya ideologi sekuler kapitaliseme di negeri tersebut. Bidang
pendidikan telah menjadi andalan mereka untuk memasukkan pemikiran-pemikiran
ideologi mereka ke benak umat, sejak sebelum runtuhnya daulah khilafah Turki Usmani
– dengan sekolah-sekolah misionaris yang menjadi awal penyebab keruntuhan daulah–
sampai sekarang - dalam rangka menghabiskan sisa-sisa ideologi Islam sampai ke akar-
akarnya.
Penanaman pemikiran-pemikiran barat ke benak masyarakat dilakukan dengan mendidik
putra-putri kaum muslimin yang memiliki potensial dalam institusi-institusi pendidikan
mereka, melalui berbagai program beasiswa yang mereka tawarkan, seperti misalnya
program beasiswa Fulbright (USA), khususnya dalam bidang ilmu sosial-humaniora,
ilmu pemerintahan, ilmu agama, dan ilmu ekonomi.
Orang-orang ini, setelah menyelesaikan pendidikan tingkat tinggi mereka, biasanya
berpotensi menduduki posisi-posisi penting di berbagai bidang, dan setelah kembali ke
tengah-tengah masyarakatnya akan secara langsung atau tidak langsung, sadar atau tidak
sadar mempropagandakan dan memperjuangkan pemikiran-pemikiran Barat dan merusak
pemikiran-pemikiran Islam di tengah masyarkat.
Mereka juga secara sadar atau tidak sadar menjalankan program-program penjajah Barat,
seperti misalnya kelompok Mafia Berkley yang terkenal di jaman orde baru, yang
memformat sistem ekonomi Indonesia mengikuti program penjajah. Ketika cengkraman
penjajah Barat pada suatu negeri cukup kuat, berikutnya mereka akan mengarahkan
sistem pendidikan negara tersebut agar dapat menopang rencana mereka untuk menjajah
negeri tersebut, dengan menjadikannya seperti sistem pendidikan dalam sistem sekuler
kapitalisme. Dengan itu mereka dapat mencetak pengemban dan pembela-pembela
ideologi mereka langsung di negeri jajahan.
Selain itu dengan terbukanya (globalisasi) sistem pendidikan di negara tersebut, maka
penjajah akan dapat lebih leluasa mengendalikan sumberdaya manusia di negeri tersebut,
termasuk akses terhadap data-data penting sumberdaya alamnya. Termasuk juga
menjadikan para ilmuwan di negeri tersebut untuk bekerja bagi kepentingan mereka. Ini
dilakukan misalnya dengan memberikan dana bantuan penelitian di bidang-bidang non
sains dan teknologi maupun kerjasama-kerjasama langsung antar perguruan tinggi
terutama dalam bidang eksplorasi sumber daya alam.
Dalam masalah pendanaan pendidikan, negara terjajah, yang biasanya lemah secara
ekonomi, dipaksa agar memperkecil subsidi pendidikan ataupun menghilangkan subsidi
negara pada institusi pendidikan milik negara, serta mengubah institusi-institusi
pendidikannya menjadi sekedar semacam "perusahaan milik negara". Akibatnya tentu
adalah mahalnya biaya pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Walhasil negara
tersebut akan kekurangan sumber daya manusia yang berpendidikan tinggi. Kekurangan
SDM berkualitas tinggi ini justru menjadi keuntungan bagi penjajah, karena dengan
begitu kebanyakan SDM adalah tenaga teknis maupun tenaga kasar, yang murah dan
menguntungkan para pemilik modal.
Penerapan sistem pendidikan sekuler kapitalis serta masuknya pemikiran-pemikiran
sekuler kapitalis dalam bidang pendidikan dapat sangat jelas dilihat di Indonesia. Antara
lain dalam bidang pendanaan, pemerintah mulai mengubah perguruan tinggi-perguruan
tinggi (PT) negeri terkenal menjadi bentuk BHMN dan nantinya BHP, yang memiliki
otonomi luas terpisah dari pemiliknya (pemerintah). Dalam masalah dana dari pemerintah
(dana hibah maupun dana penelitian), sekarang memperlakukan antara PTS dan PTN
secara sama, yaitu memiliki peluang yang sama untuk mendapat dana-dana tersebut. Di
bidang kurikulum pun sekarang tidak ada lagi kurikulum nasional, yang akan ada hanya
standar-standar kompetensi siswa. Peran lembaga rangking perguruan tinggi asing pun
sudah mulai terasa. Keberadaan majelis wali amanat, yang merupakan copy paste dari
sistem board of trustee di universitas-universitas Amerika USA, lebih memperjelas
pengaruh pemikiran sekuler kapitalis dalam sistem pendidikan tinggi.
Walhasil, dapat kita prediksi bila penjajahan sekuler kapitalisme dalam bidang
pendidikan tidak dihentikan, maka gambaran dunia pendidikan di Indonesia akan
semakin suram. Akan kita lihat PTS menjadi lebih kuat lebih berkualitas dan lebih
dominan dalam dunia pendidikan, disertai dengan munculnya PT-PT swasta asing.
Orientasi kurikulum PT akan mengikuti perkembangan pasar. Mahalnya pendidikan
(khususnya pendidikan tinggi) bagi kebanyakan masyarakat. Munculnya sistem pinjaman
siswa (student loans) untuk membayar biaya kuliah. Munculnya lembaga akreditasi dan
perangkingan swasta. Desentralisasi sistem pendidikan dasar dan menengah, dan otonomi
total (bidang pendanaan maupun akademik) universitas-universitas milik negara

Ideology Liberalisme dalam pendidikan kita


PARA praktisi pendidikan, seperti guru dan dosen di sekolah formal, trainer di tempat
kursus atau lokakarya, maupun fasilitator pelatihan di kalangan buruh dan petani miskin,
banyak yang tak kunjung siuman bahwa mereka punya andil dalam pertarungan politik
dan ideologi di arena pendidikan.Pikiran mereka masih terendam mitos. Pendidikan
diyakini sebagai kegiatan mulia, mengandung kebajikan, dan bebas nilai. Paulo Freire,
dalam Pedagogy of The Oppresed (1973), Educational for Critical Consciousness (1981),
dan Pedagogy of Hope (1994), melakukan gebrakan baru guna membangunkan para
praktisi pendidikan dari amnesia sejarah.
Freire, melalui paradigma pembebasan dan konsientisasinya, menyadarkan bahwa
pendidikan yang dimitoskan luhur itu ternyata tidak netral, melainkan sarat berbagai
agenda ideologis, arena pertarungan kepentingan, dan diam-diam melegitimasi sistem
sosial pengekal kezaliman.
Apa yang terjadi di dunia pendidikan, bagi pemikir Brasil yang meninggal pada tahun
1996 itu, adalah apa yang terjadi dalam masyarakat riil yang dikendalikan kekuatan
kapital, yakni penindasan mereka yang kuat terhadap mereka yang miskin dan tidak
berdaya.
Penindasan itu tidak hanya bersifat fisik. Pun membatin sampai ke relung terdalam
kesadaran manusia. Menggunakan metafora kodok rebus, peningkatan suhu penindasan
itu berlangsung perlahan-lahan namun pasti dan akhirnya matilah sang kodok; matilah
kebebasan anak didik.
Prinsip kaum liberalisme pendidikan adalah mengangkat perilaku personal yang efektif.
Dalam hal ini, tak lebih hanya sebagai sarana untuk pembelajaran bagi siswa tentang
bagaimana cara menyelesaikan persoalan praktis melalui penerapan tatacara-tatacara
pemecahan masalah secara personal maupun kelompok, dengan berdasar pada metode
ilmiah-rasional. Adapun ciri-ciri umum dari liberalisme pendidikan antara lain;

Pertama, Pengetahuan adalah alat yang digunakan untuk memecahkan masalah praktis.
Kedua, Individu adalah pribadi yang unik, yang mampu menemukan kepuasan terbesar
dalam mengungkapkan dirinya menanggapi kondisi yang berubah; pemikiran efektif
(kecerdasan praktis)-kemampuan menyelesaikan problema-problema personal secara
efektif-adalah perangkat yang mesti digunakan. Ketiga, pendidikan adalah
pengembangan efektifitas personal, yang berpusat pada tatacara-tatacara pemecahan
masalah perseorangan maupun kelompok dengan menekankan pada situasi dan masa
depan yang dekat sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhan dan persoalan-persoalan
individu sekarang.
Pendekatan liberal inilah yang mendominasi segenap pemikiran tentang pendidikan baik
pendidikan formal seperti sekolah, maupun pendidikan non-formal
seperti berbagai macam pelatihan. Akar dari pendidikan ini adalah Liberalisme, yakni
suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak, dan
kebebasan (freedoms), serta mengidentifikasi problem dan upaya perubahan social secara
inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang.
Konsep pendidikan dalam tradisi liberal berakar pada cita cita Barat tentang
individualisme. Ide politik liberalisme sejarahnya berkait erat dengan bangkitnya kelas
menengah yang diuntungkan oleh kapitalisme. Pengaruh liberalisme dalam pendidikan
dapat dianalisa dengan melihat komponen komponennya.
Komponen pertama, adalah komponen pengaruh filsafat Barat tentang model manusia
universal yaitu manusia yang "rational liberal". Ada beberapa asumsi yang mendukung
konsep manusia "rasional liberal" seperti: pertama bahwa semua manusia memiliki
potensi sama dalam intelektual, kedua baik tatanan alam maupun norma sosial dapat
ditangkap oleh akal. Ketiga adalah "individualis" yakni adanya angapan bahwa manusia
adalah atomistik dan otonom (Bay,1988). Menempatkan individu secara atomistic,
membawa pada keyakinan bahwa hubungan sosial sebagai kebetulan, dan masyarakat
dianggap tidak stabil karena interest anggotanya yang tidak stabil.
Pengaruh liberal ini kelihatan dalam pendidikan yang mengutamakan prestasi melalui
proses persaingan antar murid. Perankingan untuk menentukan murid terbaik, adalah
implikasi dari paham pendidikan ini. Pengaruh pendidikan liberal juga dapat dilihat
dalam berbagai training management, kewiraswastaan, dan training-training yang lain.
Contoh kongkrit pendekatan liberal bisa kita lihat pada Achievement Motivation Training
(AMT) yang diciptakan oleh David McClelland. McClelland berpendapat bahwa akar
masalah keterbelakangan dunia ketiga karena mereka tidak memiliki apa yang
dinamakannya N Ach. Oleh karena sarat pembangunan bagi rakyat dunia ketiga adalah
perlu virus "N ach" yang membuat individu agresif dan rasional (McClelland, 1961).
Komponen kedua adalah Positivisme. Positivisme sebagai suatu paradigma ilmu sosial
yang dominan sewasa ini juga menjadi dasar bagi model pendidikan Liberal. Positivisme
pada dasarnya adalah ilmu sosial yang dipinjam dari pandangan, metode dan teknik ilmu
alam memahami realitas. Positivisme sebagai suatu aliran filsafat berakar pada tradisi
ilmu ilmu sosial yang dikembangkan dengan mengambil cara ilmu alam menguasai
benda, yakni dengan kepercayaan adanya universalisme and generalisasi, melalui metode
determinasi, 'fixed law' atau kumpulan hukum teori
(Schoyer, 1973). Positivisme berasumsi bahwa penjelasan tungal dianggap 'appropriate'
untuk semua fenomena. Oleh karena itu riset sosial ataupun pendidikan dan pelatihan
harus didekati dengan metode ilmiah dengan berpijak pada positivisme yang melibatkan
unsur-unsur seperti obyektivitas, empiris, tidak memihak, detachment, rasional dan bebas
nilai. Pengetahuan selalu menganut hukum ilmiah yang bersifat universal, prosedur harus
dikuantifisir dan diverifikasi dengan metode "scientific". Dengan kata lain, positivisme
mensaratkan pemisahan fakta dan nilai dalam rangka menuju pada pemahaman obyektif
atas realitas sosial.
Pendidikan dan pelatihan dalam positivistik bersifat fabrikasi dan mekanisasi untuk
memproduksi keluaran pendidikan yang harus sesuai dengan 'pasar kerja'. Dalam pola
pemikiran positivistic Murid dididik untuk tunduk pada struktur yang ada. Dari sana, bisa
kita lihat bahwa pada paradigma liberal pendidikan biasanya lebih melanggengkan
system yang ada dengan melahirkan anak-anak didik yang berperan dalam
mempertahankan system tersebut.
Tradisi liberal telah mendominasi konsep pendidikan hingga saat ini. Pendidikan liberal
adalah menjadi bagian dari globalisasi ekonomi 'liberal' kapitalisme. Dalam kontek lokal,
paradigma pendidikan liberal telah menjadi bagian dari sistim developmentalisme,
dimana sistim tersebut ditegakan pada suatu asumsi bahwa akar 'underdevelopment'
karena rakyat tidak mampu terlibat dalam sistim kapitalisme.
Pendidikan harus membantu peserta didik untuk masuk dalam sistim developmentalisme
tersebut, sehingga masyarakat memiliki kemampuan dalam
kompetisi di system kapitalis.
Pada paradigma pendidikan liberal, fokus utama terletak pada bagaimana membuat anak
didik memiliki kemampuan sehingga mereka bisa bersaing di tengah sistem yang berlaku
pada masyarakat. Pendidikan liberal tidak melihat masalah yang berkembang dalam
masyarakat karena sistem sosial masyarakat tersebut, tetapi karena ketidaksiapan manusia
dalam menghadapi sistem. Sehingga ini akan mengakibatkan pembelajaran yang bersifat
memberikan pengetahuan dan keterampilan yang berguna sebanyak-banyaknya kepada
anak didik, pengetahuan bersifat doktriner dan menilai sesuatu hanya dengan melihat
kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh anak didik. Menariknya ideologi pendidikan
inilah yang sekarang
sedang berkembang ditengah-tengah masyarakat global.

Ilusi Kurikulum Pendidikan dalam Kuasa Neoliberalisme


Tema yang menyorot tentang problem-problem pendidikan kerap menjadi perhatian
besar. Tidak hanya karena pendidikan dipikir penting, tetapi pendidikan menjelma
menjadi kebutuhan mendasar yang hampir secara keseluruhan menyita perhatian hidup
manusia. Tanpa pendidikan manusia seakan menjadi kehilangan separuh hidupnya.
Diskusi-siskusi pendidikan tidak urung selalu menarik untuk dilakukan, tetapi anehnya
sekian waktu proses berjalan, pendidikan justru terasa berjalan sangat lamban. Problem
pendidikan tidak justru berkurang melainkan semakin memunculkan species-species
problem yang lain. Problemnya kemudian bergerak sangat politis.
Ada mata rantai yang kerap terputus dalam membaca proses pendidikan terutama berkait
dengan persoalan ekonomi politik; pendidikan ini . Mengapa harus tema ekonomi politik
kita angkat kembali? Apakah pembahasan tentang isi kurikulum juga bisa berkait dengan
persoalan tersebut? Menarik jika kita memulai untuk melakukan penelusuran tersebut.
Pengetahuan dan kekuasaan saling terkait satu sama yang lain. Kita tidak bisa
membayangkan bahwa suatu ketika ;pengetahuan tidak lagi bergantung pada kekuasaan,
sebagaimaa mustahil pengetahuan tidak mengandung kekuasaan (Michel Foucault) Sejak
indonesia mencanangkan pembukaan pasar dengan ruang kebijakan liberal, maka sejarah
mengalirnya berbagai kepentingan modal yang menyentuh pendidikan mulai dirasakan.
Modal-modal asing masuk bersamaan dengan masuknya berbagai ilmu kepentingan
barat. Hampir bertahun-tahun wacana yang dikonstruksi oleh proyek pendidikan telah
memperoleh status kebenaran dan secara efektif membentuk sekaligus memaksa suatu
cara agar kepentingan-kepentingan pasar berbicara dan bertindak terhadap dunia ketiga.
Maka sejak lama pula proyek-proyek pendidikan didesain oleh para perancang dan
penggagasnya sebagai sebagai proyek yang seakan-akan netral dan bebas nilai yang lebih
didorong oleh semangat humanisme. Narasi pendidikan kemudian selalu menghindari
analisis yang bersifat politis dan ideologis. Pembahasan tentang tema-tema pendidikan
dalam banyak hal kemudian dipisahkan dari lingkungan produksi sosialnya dan dijauhkan
dari aspek;relasi kuasa Tidak ada sesuatu hal yang begitu saja ada dan a-historis, yang
sesungguhnya muncul adalah diadakan demikianlah yan dilontarkan Edward W.Said.
Seperti juga yang pernah diungkapkan Michel Foucault bahwa tidak ada relasi kuasa
tanpa keberadaan wilayah pengetahuan, dan juga tidak ada pengetahuan yang tidak
menimbulkan relasi kuasa. Ketika pengetahuan dalam pendidikan jatuh pada relasi kuasa
ini maka ia membentuk apa yang dinamakan oleh Rita Abrahamsen sebagai rezim
kebenaran.
Atas kepentingan itu pula maka sejak neoliberalisme diangkat sebagai matra suci bagi
pembangunan pendidikan saat ini, maka pasar telah menciptakan komoditas baru yang
disebut pendidikan. Pertimbangan itu mempengaruhi kepentingan pasar melalui negara-
negara maju untuk memaksakan agenda-agenda penting dalam komersialisasi sektor ilmu
pengetahuan ini. Pendidikan kemudian menjadikan jembatan bagi masuknya ide-ide dan
gagasan bagi kepentingan neoliberal. Tidak heran jika kepentingan pasar saat ini telah
berhasil memasukkan klausul pendidikan sebagai salah satu sektor jasa yang bisa dijual
dan diperdsgangkan. Problem sekolah mahal, isi kurikulum dan menjamurnya kebijakan
privatisasi pendidikan sangat terkait dengan bagaimana perubahan pada tingkatan makro
ini terjadi. Sebagai mana kedigdayaan neoliberalisme yang telah mampu memaksa semua
negara untuk membuka pasar dan mencabut semua subsidi yang penting bagi masyarakat.
Pasar selalu menjanjikan bahwa dalam situasi pasar terbuka maka kompetisi dapat
berjalan dan selanjutnya membuka tingkat pertumbuhan dan kemjuan masyarakat secara
lebih sehat. Inilah mitos yang selalu dibangun. Mungkin kompetisi menjadi sangat
menyenangkan bagi kekuatan-kekuatan
negara dengan tingkat modal raksasa yang dimilikinya dan tentu sangat menyakitkan bagi
negeri-negeri miskin yang selalu tergantung seperti Indonesia. Seiring dengan
berjalannya pasar, negara justru tidak pernah hadir untuk menjadi benteng pelindung bagi
terciptanya akses yang adil bagi seluruh masyarakat. Negara berubah menjadi entitas
pengetok palusekaligus pemberi legitimasi bagi berjalannya mesin-mesin pasar
pendidikan. Tidak jarang pula, negara justru mengeluarkan berbagai kebijakan dan aturan
hukum yang memberikan legitimasi dan kebebasan seluas-luasnya pada pasar untuk bisa
mengelola pendidikan. Kasus yang paling bisa kita baca adalah kebijakan privatisasi dan
pembentukan universitas menjadi lembaga dan badan hukum yang bisa dikelola secara
swasta. Pada titik ini mata rantai sudah bisa kita baca. Negara justru telah merelakan
sepenuhnya bahwa persoalan pendidikan menjadi sasaran liberalisasi pendidikan.
Desakan-desakan untuk melakukan bentuk-bentuk perubahan kurikulum pendidikan jika
ditelisik lebih mendasar justru banyak mempertimbangkan problem basis produksi ini.
Kepentingan modal telah ditransformasikan melalui berbagai agen dan aktor pendidikan
seperti negara, pelaku pasar, organ filantropi, kekuatan media dan kelompok kepentingan
politik untuk menjadi aparatus yang sangat
efektif mendukung kepentingan modal tersebut.
Sejarah pengembangan kurikulum dengan berbagai variasi perubahnnyan baik pada
wilayah isi dan pengelolaan tema-tema pendidikan, pembiayaan dan tahapan
pelaksanaan, selalu dekat dengan gesekan-gesekan berbagai kepentingan itu. Tuntutan
yang secara normatif ditegaskan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional
bahwa tujuan pendidikan harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan,
peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi
tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global, terasa
menjadi bermasalah ketika dihadapkan pada struktur mata rantai yang sebenarnya.
Kurikulum Berbasis Kompetensi yang secara meluas telah diberlakukan di semua jenjang
pendidikan dan dimantapkan lagi melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No.
23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan
Menengah atau yang kerap disebut sebagai KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan) dalam tingkat substansi dan pelaksanaan masih membawa persoalan yang
serius. Pertama bahwa komitemen perubahan pada satuan kurikumum sama sekali masih
belum meneyntuh pada komitmen dan keseriusan negara untuk menjamin proses
pembangunan pendidikan secara lebih adil. Atmosfir yang dirasakan masih pada pola
pola kebijakan fragmentatif dan pragmatis. Kedua, perubahan kurikulum menjadi terlihat
sebagai keniscayaan yang tidak mampu dihindari oleh negara untuk keluar dari
keterjebakan intervensi pasar dalam pengelolaan pendidikan. Ketiga, pada tingkat
implementatif tidak juga disertai dengan upaya secara komprehensif menyertakan
dukungan-dukungan pada kebijakan-kebijakan sektor lain yang terkait. Kebijakan
kurikulum bukanlah entitas netral yang yang hanya menjadi kepedulian sektor
pendidikan.
Kurikulum adalah prototype wajah generasi pendidikan yang harus disusun dalam
kerangka yang luas menyertakan seluas-luasnya keterlibatan masyarakat. Problem
pendidikan daerah menjadi cukup signifikan mengingat perubahan-perubahan dalam
tingkatan global memaksa daerah sekaligus telah menjadi ruang sekaligus aktor dalam
percaturan politik ekonomi internasional. Bagi kepentingan modal, daerah adalah
peluang. Iklim pasar membutuhkan berbagai kebijakan daerah yang harus merespon
secara positif. Desentralisasi merupakan jargon dan narasi yang dianggap menjanjikan
bagi kepentingan daerah. Inilah titik masalah yang perlu kita kaji dan kita angkat berkait
dengan harapan desentralisasi yang juga nerambah pada sektor kebijakan pendidikan.
Dalam sistem ekonomi politik yang masih timpang, harapan pada kemajuan pendidikan
yang juga berdampak pada pembangunan daerah kerap terjebak pada logika-logika
ekonomis praktis.
Pertumbuhan pembangunan daerah tetap masih akrab dengan roh perspektif
developmentalisme. Kemajuan pendidikan menjadi sarat dengan hitungan-hitungan
angka ekonomis yang meletakkan kebijakan pendidikan bak entitas mesin penghasil
keuntungan. Inilah ironi pasar yang
saat ini Indonesia hadapi. Langkah serius dan mendesak yang harus dilakukan adalah,
pertama-tama tentu adalah mengkaji dan merumuskan kembali secara mendalam
persoalan mendasar bangunan ideology pendidikan terutama untuk menghindari dasar
orientasi yang selalu menghamba pada kepentingan laba. Di titik ini, strukur kepentingan
pendidikan selalu akan menyentuh pada mata rantai struktur ekonomi politik yang lebih
besar.
Dalam catatan sejarah, pendidikan adalah bagian sektor yang selalu menjadi tarik-
menarik untuk diperebutkan. Apa yang menjadi gagasan Louis Althusser barangkali
menjadi benar bagwa pendidikan mampu menjadi mesin aparatus ideologis yang paling
efektif untuk membangun berbagai narasi pengetahuan yang mendukung formasi sosial
yang dibangun oleh kekuasaan. Tinggal yang terpenting bagi kita saat ini adalah formasi
hubungan sosial apa yang saat ini akan Indoneisia rumuskan untuk membangun model-
model pendidikan yang tepat bagi masyarakat. Selamat berdiskusi. Revolusi adalah
sebuah proses kritis yang tidak akan terwujud tanpa ilmu pengetahuan dan refleksi (Paulo
Freire).

Konstruktivisme
Menurut Von Glasersfeld (1988) pengertian konstruktif kognitif muncul pada
pertengahan abad ke-19 dalam tulisan Marx Baldwin yang secara luas diperdalam dan
disebarkan oleh Jean Piaget. Namun bila ditelusuri lebih jauh, gagasan pokok
konstruktifisme sebenarnya sudah dimulai oleh Giambatissta Vico, seorang epistemolog
dari Itali. Dialah cikal bakal konstruktivisme. Pada tahun 1710 Vico dalam De
Antiquissima Italorum Sapienta, mengungkapkan filsafatnya dengan berkata "Tuhan
adalah pencipta alam, dan manusia adalah tuan dari ciptaannya". Ia menjelaskan bahwa
"mengetahui" berarti "mengetahui bagaimana cara membuat sesuatu". Ini berarti orang
dapat mengetahui sesuatu setelah ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun
sesuatu itu.

Dalam dunia pendidikan konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan adalah hasil


dari konstruksi manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi
mereka dengan objek, fenomena dan lingkungan sekitar. Suatu pengetahuan dianggap
benar bila pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan
atau fenomena. Bagi kaum konstruktifisme, pengetahuan tidak bisa begitu saja ditransfer
dari seseorang kepada seseorang lainnya, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh
masing-masing orang. Tiap orang harus mengkonstruksi pengetahuan sendiri, karena
pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang
terus menerus. Dalam proses ini keaktifan seseorang yang ingin tahu amat berperan
dalam perkembangan pengetahuannya.

Pendidikan di Indonesia telah lama menjadi instrumen pembangunan. Tanpa pernah


dipersoalkan agenda ideologis macam apa yang mendasari pembangunan. Fenomena
"sekolah unggulan" dan "link and match" merupakan contoh bagus tentang pendidikan
yang begitu bersimpuh dan mengabdi secara membabi buta pada pembangunanisme yang
tak lain kemasan baru dari anggur lama kapitalisme.
Ideologi itu sejak dari tempat asalnya, Amerika Serikat, tidak adil. Terbukti,
pembangunan di Indonesia yang lebih mementingkan segi fisik, ternyata membuat
bangsa Indonesia berputar-putar dalam lingkaran setan krisis multidimensi dan represi
rezim kleptokratik puluhan tahun.
Orientasi pembangunan yang dominan ke segi fisik dan melalaikan pembangunan mental
dan moral, akhirnya memerosokkan bangsa Indonesia dalam perang antaretnik, konflik
agama, dan disintegrasi wilayah. Ideologi pembangunan yang sebetulnya dimanipulasi
itu, juga nyaris menenggelamkan perekonomian Indonesia akibat belitan gurita korupsi.
Konyolnya, pendidikan justru menjadi bagian dari masalah dan gagal memberikan solusi.
Setiap usaha pendidikan yang pernah dilakukan, sebagaimana diuraikan Mansour Fakih,
tanpa visi dan pemihakan yang jelas, sulit diharapkan menjadi media perwujudan nilai-
nilai keadilan, kerendahan hati, kejujuran, ugahari, demokrasi, dan toleransi.
Pendidikan, menurut pengamatan doktor andragogi (pendidikan orang dewasa) lulusan
Universitas Massachusetts Amerika Serikat ini, akan tetap menjadi media pelestari
ideologi bercorak kapitalistik, konsumeristik, hedonistik, materialistik, feodalistik, dan
kleptokratik. Hasil pendidikan macam itu, katanya, bukan manusia bermartabat yang
memiliki integritas moral sebagai pelaku perubahan; melainkan manusia tidak otentik,
berotak kerdil, bermental pencuri, dan penjaga status quo.

Dunia pendidikan yang idealnya menjadi penjaga gawang moral yang berbasis budi
pekerti kini semakin memprihatinkan. Dunia pendidikan di negeri ini kian terpuruk
menjadi sebuah komoditas yang dibanderol dengan angka-angka rupiah. Dunia
pendidikan tidak ubahnya menjadi lembaga bisnis yang mengeruk keuntungan
maksimum dari para konsumennya, yakni para siswa dan orangtua siswa.
Dunia pendidikan dalam pemahaman "birokrasi institusional" tidak luput pula dari deraan
praktik korupsi nilai, korupsi budaya, dan korupsi idealisme. Korupsi nilai terjadi
manakala dunia pendidikan terjebak dalam arus liberalisasi (kapitalisasi) yang
menjadikan dunia pendidikan sebagai matra ekonomi.
Korupsi budaya, dunia pendidikan tidak luput dari praktik budaya menjiplak di kalangan
siswa, kebiasaan mendongkrak nilai yang dilakukan para guru, kultur membantu standar
penilaian bagi anak-anak guru karena ikatan "bina lingkungan" dan sebagainya.
Sedangkan korupsi idealisme dunia pendidikan kian pragmatis menjual "jargon-jargon"
keunggulan tanpa bukti. Dengan demikian, kini banyak bermunculan label sekolah
unggulan, sekolah berstandar internasional, kelas akselerasi, dan sebagainya.
Jargon-jargon yang konon menempatkan satuan (unit) dunia pendidikan sebagai sesuatu
yang "unggul" dan berkualitas ditengarai oleh para pemerhati pendidikan kritis sebagai
strategi jitu untuk menaikkan biaya pendidikan setinggi langit. Padahal, jika ditelaah
kualitas berbagai unit pendidikan semacam sekolah berstandar internasional, sekolah
unggulan, kelas akselerasi sangat diragukan. Mengapa demikian, karena dalam fakta
kualitas pendidikan nasional Indonesia masih terpuruk dibanding negara-negara lain,
bahkan ketinggalan dengan indeks mutu pendidikan negara semacam Vietnam atau
Malaysia.
Labeling dunia pendidikan yang konon berkualitas memang dalam realitasnya adalah
strategi untuk mengeruk keuntungan ekonomis dari para konsumen yang dilayani. Tidak
mengherankan sering terlansir di media, biaya pendidikan berbagai sekolah "unggulan"
dan sejenisnya setiap tahun ajaran baru mencapai angka jutaan atau bahkan puluhan juta
rupiah.
Mahalnya dunia pendidikan di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama,
masih kuatnya kultur korupsi dan ego kapitalisme dalam dunia pendidikan. Tidak
dimungkiri dan bahkan menjadi rahasia umum bahwa korupsi di dunia pendidikan-
institusional formal-termasuk rangking 10 besar menurut catatan Trancparancy
International. Hasil penelitian ICW tahun 2007 bahkan menyebut sekolah sebagai unit
kerja juga sering menjadi arena korupsi sistemik yang dibiarkan tumbuh berkembang
secara pesat.
Kedua, lepasnya tanggung jawab negara dalam pembiayaan pendidikan. Melalui UU
Sisdiknas tahun 2003 dilegitimasi ideologi liberalisasi pendidikan. Dunia pendidikan
ibaratnya semakin tumbuh kembang menjadi lembaga bisnis yang menggiurkan dan
menguntungkan bagi para pemilik sahamnya.
Menyoal dunia pendidikan di Indonesia memang akan dijumpai kondisi yang paradoks.
Di satu sisi ada kabar siswa-siswa dari sekolah unggulan memenangkan kejuaraan
olimpiade pendidikan, namun di sisi lain semakin meningkat persentase angka DO di
kalangan masyarakat miskin. Ada kabar menyenangkan meningkatnya angka kelulusan
UN yang kontroversial, di sisi lain ada kabar kecurangan dalam pelaksanaan UN yang
ironisnya sering melibatkan perilaku para pendidik.
Saat ini integritas moral dalam dunia pendidikan semakin tenggelam. Ibaratnya semakin
tenggelam di dalam "catacomb" (baca" katakomba, sebuah goa penguburan di dalam
tanah). Dunia pendidikan di Indonesia semakin kehilangan aksentuasi moral
keberpihakan kepada kepentingan aksesibilitas hak publik.
Pendidikan yang dibuat semakin mahal biayanya mengabaikan makna tanggung jawab
negara dalam melayani hak memperoleh pendidikan bagi rakyatnya. Karena itu, lambat-
laun pendidikan menjadi barang yang mahal bagi siswa dari keluarga miskin. Pendidikan
yang masih mengembangkan kultur KKN juga mendiskriminasi hak potensial para
pembelajar. Contoh aktual adalah masih dipraktikkannya kultur bina lingkungan, di mana
anak guru memperoleh prioritas meraih kursi tempat orangtua mereka mengajar dan
bahkan sering dibantu dalam upaya mendongkrak standar penilaian dalam kegiatan
belajar-mengajar.
Pendidikan yang menjadi alat menumpuk keuntungan ekonomis dari pemegang
kekuasaan birokrasi pendidikan pada hakikatnya juga mencederai hakikat pendidikan
sebagai pengembang nilai kejujuran. Bagaimana bisa menjadi alat pembentuk karakter
anak didik (generasi muda) bangsa yang cerdas dan jujur bila dunia pendidikan dalam
dunia pendidikan masih tumbuh budaya korupsi?
Negara ini jika ingin maju dunia pendidikannya bisa memilih satu di antara dua Opsi.
Pertama, pendidikan harus berkiblat ke arah negara maju. Konsekuensinya pilihan
liberalisasi pendidikan, pendidikan berbiaya mahal namun berkualitas. Syarat
fundamentalnya adalah segala praktik korupsi, feodalisme, dan pragmatisme harus dicuci
bersih.
Opsi kedua, pendidikan berpaling kepada sistem pendidikan egaliter semacam yang ada
di negara sosial demokrat atau sosialis seperti Prancis, Kuba, Libia di mana biaya
pendidikan dibuat murah sehingga masyarakat bisa mengakses fasilitasi pendidikan yang
berkualitas.
Selama ini karakter dunia pendidikan di Indonesia hanya mengambil setengah bagian dari
nilai positif dua opsi sistem/budaya pendidikan di atas. Pendidikan dijadikan alat
pengeruk keuntugan ekonomis dengan biaya mahal dan jargon sekolah unggulan dan
sejenisnya, namun masih diliputi kultur feodalisme/kapitalisme dan KKN.
Di era Orde Baru, pendidikan berbiaya murah namun kontrol ideologi pendidikan
mematikan proses perkembangan ilmu pengetahuan yang objektif sehingga sekolah
(dunia pendidikan) ibaratnya menjadi aparatus ideologi untuk membungkam
perkembangan kesadaran kritis masyarakat dan generasi muda.

Melihat pada realitas pendidikan di Indonesia, termasuk pendidikan dasar, maka secara
umum ideologi pendidikan Indonesia sekarang ini berkecenderungan pada ideologi
pendidikan liberal. Hal tersebut terlihat dari beberapa kebijakan yang relatif liberal.
Pertama, pengacuan pendidikan lebih menitikberatkan pada penguasaan kompetensi,
sedangkan kompetensi yang dimakdus selalu mengacu pada kebutuhan dunia kerja
kapitalis. Dengan kata lain pendidikan pada akhirnya hanyalah menjadi sekrup kecil dari
roda-roda kapitalisme. Seakan persepsi yang didesakkan pada peserta didik, dunia
pendidikan, dan bahkan masyarakat luas adalah, “pendidikan untuk bekerja”.
Sedikit banyak memang benar, tapi pada akhirnya hal itu justru menjadikan perspektif
memandang pendidikan kian sempit dan menafikan dimensi lain pendidikan, yakni
dimensi kemanusiaan. Jadi pembelajaran tidak banyak diorientasikan untuk memenuhi
kebutuhan peserta didik sebagai manusia secara utuh seperti untuk aktualisasi diri,
sebagai manusia yang merdeka dan berdaulat dengan dirinya sendiri untuk berproses
menjadi manusia. Mereka dikooptasi oleh orientasi kerja, kerja, dan kerja. Di sinilah
dalam ranah sosial timbul yang dinamakan dehumanisasi pendidikan; pendidikan tidak
menghasilkan manusia yang manusiawi, melainkan manusia-manusia robot, mekanistis,
individualis. Kehalusan budi, sopan santun, akhlak mulia, kerendah hatian, tidak diasah
dalam pendidikan yang berideologi liberal yang mengabdi pada kapitalisme an sich.
Kedua, pendidikan berideologi liberal menitikberatkan proses pembelajaran pada peserta
didik, sementara guru sekadar sebagai motivator, pengarah, bukan aktor utama dalam
proses pembelajaran, bukan satu-satunya sumber pembelajaran. Yang dituju adalah
aktualisasi diri siswa sepenuhnya. Hal ini artinya merombak tradisi pembelajaran yang
telah mendarah daging selama ini di lembaga pendidikan, yakni guru adalah pusat
pembelajaran di kelas, yang di-gugu lan ditiru (diiyakan petuahnya dan dianut
keteladanannya). Kebijakan ini tidak serta merta menjadikan pembelajaran dan siswa
dapat sepenuhnya mengaktualisasikan diri hingga berprestasi menggembirakan.
Guru banyak yang masih konservatif dan tidak dapat memerankan diri sekadar sebagai
motivator pembelajaran. Di sisi lain siswa pun belum dapat menerima kehadiran guru
sekadar sebagai motivator, siswa masih saja pasif dalam proses pembelajaran. Siswa
belum dapat mandiri dan menjadi kritis sebagaimana diharapkan oleh paradigma dan/atau
pendidikan liberal. Hal itu terjadi karena mereka masih kentalnya kultur belajar teacher
centered selama ini. Yang terjadi selanjutnya adalah gagap proses pembelajaran dalam
memadukan antara idealisme sebagaimana kebijakan pemerintah melalui Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) yang student centered dengan realitas pembelajaran di
lapangan yang belum dapat melepaskan diri dari konsep teacher centered.
Ketiga, desentralisasi pendidikan yang satu paket dengan otonomi daerah sebagai
kebijakan yang dikeluarkan pascareformasi dengan agenda politik demokratisasi.
Demokrasi sebagai anak dari liberalisme dalam konsepsi politik melahirkan kebijakan
desentralisasi pengelolaan pemerintahan yang juga berimbas dengan kebijakan
desentralisasi pengelolaan pendidikan. Pada dasarnya kebijakan ini bertujuan untuk
memberrikan kewenangan untuk mengelola secara mandiri bagi daerah dan satuan
pendidikan masing-masing.
Kebijakan ini pada akhirnya menuai masalah, terutama ketika pemerintah ngotot
memberlakukan ujian nasional (UN) dengan acuan standar nasional, padahal di sisi lain
pemerintah juga mengeluarkan kebijakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
yang memberikan kebebasan pada masing-masing daerah dan institusi pendidikan untuk
memberikan proses pembelajaran optimal namun menyesuaikan dengan kemampuan dan
lokal. Akhirnya timbul protes ketika dilaksanakan UN yang mengacu pada standar
nasional yang belum tentu sesuai dengan standar lokal masing-masing daerah dan satuan
pendidikan. Terjadi semacam ketidakadilan dan kerancuan paradigmatik di mana masing-
masing satuan pendidikan diberi kebebasan menyusun proses pembelajaran sesuai
dengan kekhasan, potensi, dan kemampuan yang ada dengan tanpa menafikan upaya
untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, namun di sisi lain kebebasan tersebut
dirampas oleh adanya standarisasi nasional UN sebagai penentu kelulusan siswa. Standar
inilah yang seringkali tidak dapat dijangkau oleh satuan pendidikan di daerah yang relatif
terbelakang. Pelaksanaan UN ini pun pada akhirnya berakibat pada banyak kecurangan-
kecurangan dalam pelaksanaannya.
Konsepsi ideologis yang menghegemoni pemikiran dan kebijakan pendidikan pada
akhirnya memberi warna cukup beragam untuk dunia pendidikan kita. Selayaknya dalam
gerusan globalisasi, neoliberalisme, dan kapitalisme sekarang ini semua stakeholder
dunia pendidikan, terutama pemerintah dan Depdiknas memiliki konsep yang jelas, tegas,
dan kuat secara ideologis untuk menentukan kebijakan-kebijakan pendidikan yang tepat,
hingga tidak terlalu berisiko menimbulkan problem paradigmatik dan implementatif. Jika
tidak, maka agaknya selamanya dunia pendidikan kita akan selalu disibukkan untuk
mengatasi masalah-masalah yang sebetulnya tidak perlu terjadi jika pemerintah memiliki
landasan ideologis pendidikan yang jelas dan sesuai dengan konteks keindonesiaan.
Beberapa pendidik kritis Indonesia telah memulai langkah besar menggali filosofi dan
ideologi pendidikan kita, H.A.R Tilaar dengan pedagogik transformatifnya, (alm)
Mansour Fakih dengan pendidikan partisipatoris-emansipatorisnya, Y.B Mangunwijaya
dengan SD Mangunan yang humanisnya, Winarno Surakhmad dengan paradigma
Gurunya, Mochtar Buchori, Darmaningtyas, dan lainnya. (Wallohu A’lam Bishawab).

Kepustakaan
Cahyana, Ade, Indonesia 2010: Merubah Mitos menjadi Realitas Pembangunan, From:
http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/26/indonesia 2010 Ade Cahyana.htm,
sabtu, 16/9/ 2006, jam. 13.10.
Freire, Paulo, 1995, Pendidikan Kaum Tertindas, Terjemahan, Utomo Dananjaya,
LP3ES, Jakarta.
Kelompok Kerja Pengkajian dan Perumusan, Rangkuman Filosofi, Kebijaksanaan dan
Strategi Pendidikan Nasional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia, 1999, Jakarta.
Mastuhu, 2003, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21,
Safiria Insania Press dan MSI, Yogyakarta.
Musa, Ibrahim, Otonomi Penyelenggaraan Pendidikan Dasar dan Menengah, From:
http://202.159.18.43/jp/22ibrahim.htm, Akses, 5 Juni 2002
Nomida Musnir, Diana, 2000, Arah Pendidikan Nasional dalam Perspektif Historis,
dalam Buku: Sindhunata [editor], 2000, Menggagas Paradigma Baru
Pendidikan, Demokratisasi, Otonomi, Civil Society, Globalisasi, Kanisius,
Yogyakarta.
Purbo, Onno W., Pergeseran Drastis Paradigma Dunia Pendidikan, From:
http://bebas.vlsm.org/v09/onno-ind-1/application/education/pergeseran-
drastis-paradigma-dunia-pendidikan-1998.rtf, 7/11/2003.
Sanaky, Hujair AH., 2003, Paradigma Pendidikan Islam, Membangun Masyarakat
Madani Indonesia, Safiria Insania dan MSI, Yogyakarta.
--------, 2005, Sertifikasi dan Profesionalisme Guru di Era Reformasi Pendidikan, Jurnal
Pendidikan Islam [JPI], Volume XII TH VIII Juni 2005, ISSN: 0853-7437,
Jurusan Tarbiyah Fakultas Ilmu Agama UII, Yogyakarta.
----------, Paradigma Pembangunan Pendidikan di Indonesia Pasca Reformasi Antara
Mitos dan Realitas.
Suryadi, Ace, Pengelolaan Pendidikan Perlu Paradigma Baru, From:http://www.
Kompas.com/kompas-cetak/0010/16/DIKBUD/peng09.htm.,akses, Sabtu,
23/8/ 2003.
Suyanto & Djihad Hisyam, 2000, Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia
Memasuki Milenium III, Adicita Karya Nusa, Yogyakarta.
Suyanto, 2006, Dinamika Pendidikan Nasional [Dalam Percaturan Dunia Global], PSAP
Muhammadiyah, Jakarta.
Soedjiarto, 1999. "Memahami Arahan Kebijakan GBHN 1999-2004 tentang Pendidikan
Sebagai Upaya Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Membangun Peradaban
Negara bangsa Indonesia", Makalah, Primagama-IPSI-PGRI, Yogyakarta.
Tilaar, H.A.R., 1998, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam
Perspektif Abad 21, Tera Indonesia, Magelang.
Yacub, Muhammad, From: http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/27/suatu opini mengenai
reformasi_s.htm, akses, Rabu,20/9/2006, jam.13.35.
Zamroni, 2000, Paradigma Pendidikan Masa Depan, Adipura, Yogyakarta.
Insentif bagi Industri yang Lakukan Pelatihan, Kompas, Kamis, 26 Juni 1997
Tempo, 7 Januari 2001
Lewat Persentase Anggaran, Belajar dari Negara Lain, Kompas, Sabtu, 2 Mei 1998
Kabupaten dan Kota Menjadi Basis Pengelolaan Pendidikan Dasar, Kompas, Rabu, 24
Februari 1999
Sekolah Plus, Menghitung Dengan Dollar, Suplemen, Tempo, 18 Maret 2001
Kasrai, Reza, Corporate University, CFS-Quebec Education Action, edisi musim gugur
2001. http://www.newyouth.com/archives/campaigns/mexico/UNAM.asp
RUU BHP, Skenario Neoliberalisme, SUARA PEMBARUAN DAILY, September 5,
2007
BHMN, Neoliberalisme Pendidikan, Suara Pembaruan March 15, 2007
Muhammad Roqib, M.Ag , Politik Pendidikan dan Pendidikan Politik Sebagai Upaya
Memajukan Bangsa, Jumat, 2008 Agustus 08
Pan Mohamad Faiz (New Delhi) , Polemik Inkonstitusionalitas Anggaran Pendidikan,
Dimuat pada H.U. Seputar Indonesia (05/05/07)
Pan Mohamad Faiz , Menanti Political Will Pemerintah di Sektor Pendidikan, Pikiran
Rakyat Bandung , October 05, 2006
Abu Khaulah Zainal Abidin , “Ideologi Pendidikan Kita” Maret 22, 2008, Posted by
rumahbelajaribnuabbas in Pendidikan.
Greg Russell, Bentuk Pemerintahan Berdasarkan Konstitusi (terj.), Demokrasi, Office of
International Information Programs, US. Dept. of States., tanpa tahun.
Richard C.Schroeder, Garis Besar Pemerintahan Amerika Serikat (terj.), Office of
International Information Programs – United States Dept. of States, 2000.
The center on Education Policy, Washington D.C., The Federal Role in US Education,
US Society and Values, e-journals of the U.S.. Department of State, vol 5 no.
2, June 2000.
Tiffany Danitz, The Standards Revolution In U.S. Schools, US Society and Values, e-
journals of the U.S.. Department of State, vol 5 no. 2, June 2000.
Anonim, The Federal Role in Education - Overview , US Department of Education in
http://www.ed.gov
Anonim, College Rankings, America’s "Top" Schools, US Society and Values, e-journals
of the U.S.. Department of State, , vol 10 no. 2, November 2005.
Judith S. Eaton, An Overview of U.S. Accreditation, publication of Council for Higher
Education Accreditation, tanpa tahun .
Robert H. Bruininks, Public Universities In The United States, US Society and Values, e-
journals of the U.S.. Department of State, , vol 10 no. 2, November 2005.
James W. Wagner, What Is A Large, Private Research University?, US Society and
Values, e-journals of the U.S.. Department of State, , vol 10 no. 2, November
2005.
Anonim, The Cost Of College In The United States, US Society and Values, e-journals of
the U.S.. Department of State, , vol 10 no. 2, November 2005.
Martina Schulze, Possible Sources Of Financial Aid, US Society and Values, e-journals
of the U.S.. Department of State, , vol 10 no. 2, November 2005.
Margaret S. Branson, At The Core Of U.S. Education, A Passion For Learning, US
Society and Values, e-journals of the U.S.. Department of State, vol 5 no. 2,
June 2000.

Hizbut Tahrir, How the Khilafah was Destroyed, Khilafah Publication, London 2000
Ideologi Pendidikan Sebuah Pengantar , Tuesday, March 18, 2008
http://www.fppm.org/Info%20Anda/pendidikan%20yang%20membebaskan.htm.
Mansour Faqih dan Toto Rahardjo. Pendidikan yang membebaskan, 09 Agustus 2002
http://www.pikiran-rakyat.com/Artikel/0802.htm.
Ahmad Dahidi & Miftachul Amri. Potret Pendidikan di Jepang, Sebuah Refleksi. 22 Mei
2003.
Agus Syafii <agussyafii@yaho...>, Problem Pendidikan di Era Reformasi, February 18,
2008
Kepentingan Politik Masih Terlihat Lebih Menonjol, http://www.kompas.co.id/kompas-
cetak/0708/08/humaniora/3750060.htm
Pendidikan Indonesia Alami Proses Involusi, Harian Kompas, 4 September 2004
Agung Pramanto (JIP'98)/Redaksi AP, Dilema Otonomi Pendidikan: Catatan Dari
Seminar Otonomi Pendidikan Nasional 2001 SMFSUI
Otonomi Pendidikan Masih Hadapi Banyak Kendala, Jakarta, Sinar Harapan, 2003
St Kartono , Memahami Otonomi Pendidikan beserta Implikasinya, SUARA
PEMBARUAN DAILY , 2002
Uni Eropa: Perdamaian Aceh Bukti Kekuatan Soft Power, TEMPO Interaktif, Jakarta,
Rabu, 13 Desember 2006 | 21:15 WIB
"Soft Power" dan Jejak Bush , Kompas, 21 Nopember 2006
Muhammad Roqib, M.Ag, Politik Pendidikan dan Pendidikan Politik Sebagai Upaya
memajukan Bangsa, http://roqibstain.blogspot.com/2008/08/politik-
pendidikan-dan-pendidikan.html
Marsudi Budi Utomo, 50 Tahun RI-Jepang, December 24, 2007
Novian Widiadharma, UIN Yogyakarta , Art, Soft Power, dan Tata Dunia Baru,
Wednesday, 13 August 2008 07:15
Nurani Soyomukti (Esai Politik): "Soft Power", Strategi Gerakan Anti Teror(Isme),
Sabtu, 2007 Agustus 25
Dino Patti Djalal Juru Bicara Kepresidenan, SBY dan "Soft Power" , URL Source:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/13/opini/1806887.htm
Megawati: Pandangan Tentang Pendidikan Murah dan Gratis, Menyesatkan, Rabu, 05
Mei 2004
Khoirul Anwar , Membangun Moral di abad Global , 15 Juni 2008 - 17:05
Iskandar Alisjahbana , Cyberspace dari Peradaban Gelombang-Ketiga "Sifat dan Hakekat
Manusia & Masyarakat di Dalam Era-Informasi" , Edisi ke Tujuh, April 1997
Baridul Islam Pr, “Abuse of Power” Kaum Intelektual, Purwokerto, 16 Maret 2003
Anonym, Masalah Pendidikan Di Indonesia, August 29, 2007
Yusufhadi Miarso, Pengembangan Terkini Sistem Pendidikan dan Pembelajaran di
Perguruan Tinggi, Disampaikan dalam Semiloka Pengajaran dan Program
Magang, Departemen Ilmu Hubungan Internasional, FISIP-UI, 2 Mei 2008
Banathy, Bela H. (1991). Systems Design of Education. A journey to create the future.
Englewood Cliffs, NJ: Educational Technology Publications
Dabbagh, Nada & Brenda Bannan-Ritland. Online Learning. Concept, strategies and
application. Columbus,OH : Pearson. 2005
Miarso, Yusufhadi. (2005). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Pustekkom-
Kencana
Reigeluth, Charles M. and Robert J. Garfinkle. (eds.)(1994). Systemic Change in
Education. Englewood Cliffs, NJ: Educational Technology Publications
Toffler, Alvin. The Third Wave. London : Pan Books Ltd.
UNSCTD. Knowledge Society. Published for and on behalf of The Unted Nations.
Oxford,NY : Oxford University Press. 1998
Tim MWA Wakil Mahasiswa KM ITB dan Kastrat Kabinet KM ITB, Positioning Paper.
Pernyataan Sikap KM ITB terhadap RUU BHP BHP: Gaya Baru Otokrasi
Pendidikan Indonesia
NIM. Sistem Pendidikan Yang Berkarakter dan Berbudaya, February 28, 2007
Benedict Richard O'Gorman Anderson. Imagined Communities: Reflections on the
Origin and Spread of Nationalism. Edition: 2, revised. Verso, 1991
Bertrand Russell. Power: A New Social Analysis. Edition: 2. W.W.Norton & company,
1938
Chantal Mouffe . Gramsci and Marxist Theory: essays. Routledge, 1979
Dewey, John, 1974, The Child and The Curriculum,and The School and Society, Chicago
and London, The University of Chicago Press.
Giddens, Anthony, The Nation States and Violence: Volume Two of a Contemporary
Immanuel Maurice Wallerstein, Immanuel Wallerstein. The Modern World-
system II. Edition: 2. Academic Press, 1980
Masinambow, EKM (ed), 1997, Koentjaraningrat dan Antropologi Indonesia, Jakarta,
AAI dan Yayasan Obor Indonesia.
McQuail, Denis, 2000, Mass Communication Theories, Fourth edition, Sage Publication,
London
Michael Wallerstein : The Political Economy of Inequality, Unions, amd Social
Democracy. New York: Cambridge University Press, 2008
Renate Holub. Antonio Gramsci: Beyond Marxism and Postmodernism. Routledge, 1992
Rudolf Ekstein, Robert S. Wallerstein. The Teaching and Learning of Psychotherapy.
Edition: 2. Basic Books, 1958
Siswanta, Relasi kekuasaan: telaah pemikiran Antonio Gramsci dalam konteks politik
Indonesia kontemporer. Media Wacana, 2006
Sutaarga, Moh. Amir. 1997/1998. Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum.
Jakarta: Proyek Pembangunan Permuseuman Jakarta
Vedi R. Hadiz, Benedict Richard O'Gorman Anderson. Politik, budaya, dan perubahan
sosial: Ben Anderson dalam studi politik Indonesia. Penerbit PT Gramedia
Pustaka Utama bekerja sama dengan Yayasan SPES, 1992
FX Sugiyanto, Ilusi Kurikulum Pendidikan dalam Kuasa Neoliberalisme , Saturday, 02
August 2008