Anda di halaman 1dari 10

Sepenggal Catatan OSPEK 2008 Dari Jurnal Seorang Aktivis

Jum’at_08.30 a.m_Gedung TEP1 FP

Bergema-gema langkah kakiku yang mengadu di lantai dipantulkan oleh dinding-dinding

yang dingin di gedung kuliahku yang sepi ini. Jam di tangan menunjukkan pukul 08.30 a.m. berarti

aku sudah terlambat setengah jam kuliah Irigasi hari ini. “Hah..hah...wuih capeknya lagi...”

gerutuku dalam hati ketika melihat anak tangga meliuk-liuk tajam ke lantai dua. Seperti ada beban

sepuluh pangkat sembilan kilogram membelit kedua kakiku dan membuatku enggan untuk

menginjakkan kaki ke anak-anak tangga itu. Rasanya capek luar biasa sehabis berlari-lari dari

sumber ke FP. Ditambah lagi membayangkan mukanya Pak Edi yang sangar menanti di depan

pintu, aku semakin enggan untuk melangkah naik. Pak Edi dosen yang sangat unik di TEP ini,

beliau belum mau memulai kuliahnya sebelum semua mahasiswanya datang dan aku adalah

mahasiswa yang selalu dinantinya setiap hari Jum’at jam 08.00 pagi, bukan karena aku selebritis di

TEP tapi memang hobi yang melekat pada diriku sejak lahir adalah selalu terlambat masuk kuliah

khususnya kuliah yang ada di jam 08.00. Dan aku sudah hapal luar kepala kata-kata dan intonasi

nada sindiran Pak Edi yang biasa dia lontarkan padaku ketika aku membuka pintu ruang kuliahnya:

“Berapa kosong tadi malam skornya Raihanah?” Memang aku suka menonton bola tapi bukan itu

alasan mengapa aku terlambat. Selalu setelah berkata seperti itu kelas penuh dengan tawa. Tapi

sebelum sempat kakiku mendarat di anak tangga yang pertama tiba-tiba ada suara menyeru dari

lantai dua di depan Lab. SO2.

“Nah..gak ada kuliah Irigasi hari ni, kalau mau absen di joglo aja sana sama si lintang!” ternyata

suaranya si Ryu temanku.

“Lho..kenapa pula bisa absen di joglo Yu?” tanyaku agak bingung sambil mengatur nafas.

“Yah..hari ini kan ospek Nah.. Gak ngerasa jadi panitia kau? Yuk lah cepat ke joglo, anak-anak

baru tu udah pada ngumpul di sana” jawabnya sambil tergesa-gesa menuruni tangga.

“Oh..gitu, ya udahlah duluan aja, aku mau singgah ke bengkel dulu ni, ngurusin alat-alat buat

praktikum Me-Per3 ntar siang, TA4 kan ajalah ya..” ujarku seadanya sambil memutar langkah balik
ke belakang menuju bengkel. Dalam hati aku merasa lega soalnya hari ini aku tak mendengar

sindirannya Pak Edi.

“Gak ikut ospek Nah?” tanya Ryu dengan kening berkerut seratus lapis kaya Enstein lagi berpikir

keras tentang formula relativitas waktunya.

“Ehm..ntar lah agak siangan aja..” jawabku singkat dan terus melangkah ke dalam bengkel.

Mungkin aku salah satu mahasiswa yang termasuk ke dalam golongan orang-orang yang

apatis terhadap ospek. Buatku ospek terlihat seperti pembodohan massal, seluruh perbuatan keji dan

munkar ada disitu (kalau bisa aku bilang dengan bahasa yang sedikit hiperbola). Teringat sewaktu

diriku di ospek tiga tahun yang lalu, muka seperti papan tulis, baju penuh lumpur semua bak tentara

baru keluar hutan setelah satu minggu suntuk mengikuti simulasi perang gerilya, mulut bau petai,

kalau jalan sedikit saja ini batu di kaleng yang digantung di pinggang bunyinya heboh bukan main,

belum lagi rasa dongkol yang membuncah hampir ke ubun-ubun kepala melihat tingkah para senior

itu yang tidak berprikemanusiaan, rasanya serba salah mau marah tak bisa menangis apalagi.. Dan

sekarang aku diajak untuk memperlakukan orang lain seperti orang lain yang dahulu

memperlakukan aku? Huh..buat apa? Buang-buang energi, bukannya pemerintah sekarang ini lagi

gencar-gencarnya menghimbau kepada kita untuk menghemat energi.

Setelah selesai mempersiapkan alat-alat untuk praktikum Me-Per nanti siang aku pun

melangkahkan kaki ke musholla tercinta yang terletak tak jauh dari gedung kuliahku. Sembari jalan

kudengar suara Dewi Persik melantun centil mengiringi adik-adik baru itu senam pagi dengan

beragam gaya yang aneh-aneh. Hah..aku hanya bisa menggelengkan kepala.

05.30 p.m._Musholla

Ba’da ashar sebelum pulang ke kos aku sempatkan duduk sebentar di musholla sembari

melihat-lihat keadaan adik-adik baru itu yang pada bergelimpangan kecapaian di teras dan pelataran

parkir musholla. Aku ajak mereka bercanda sedikit karena aku tidak tega melihat raut kesedihan di

wajah mereka. Tak berapa lama kemudian masuklah segerombolan panitia memakai almamater

hijau-hijau seperti sebelas jendral revolusioner kemudian berteriak-teriak dengan lantangnya.


“Dek..yang udah sholat baris sesuai dengan kelompoknya tadi pagi, cepat!!!” Mendengar itu

spontan mahasiswa baru itu berdiri tegak dan semua kebingungan mencari teman-teman yang sama

kelompoknya tadi pagi. Aku hanya bisa mengamati saja dari jauh. Selagi adik-adik baru itu dan

panitia yang sama-sama kebingungan menentukan kelompoknya, masuklah beberapa senior kelas

kakap dengan sombongnya dan berkacak pingang, mengamati sebentar lalu tertawa terbahak-bahak.

Saat itu kondisi musholla begitu berisik, suara tawa bercampur dengan teriakan serta gemerincing

peralatan ospek mahasiswa baru itu, sedangkan di dalam musholla kloter kedua masih melakukan

sholat jamaah. Hatiku pun mulai gaduh ada perasaan yang tidak enak terganjal di hati. Tak berapa

lama kemudian senior-senior itu pun duduk di tembok musholla sambil mengospek beberapa

mahasiswa baru. Aku dan teman-teman yang berada di situ mulai ambil tindakan. Pertama kami

peringatkan secara baik-baik tapi tidak digubris sama sekali. Kali kedua temanku dengan berani

berkata tegas kepada senior itu.

“Bang..maaf ya, musholla adalah tempat ibadah bukan tempat ospek, kalau abang mau mengospek

silahkan diluar saja”. Mendengar kata-kata tegas yang dilontarkan temanku tersebut senior itu

kembali tertawa sambil memandang jijik temanku itu dari atas sampai bawah. Dalam hatinya

mungkin dia berkata: sok suci kali kau!!! Beberapa detik kemudian aku melihat ada asap rokok

mengepul disampingnya dan terdengar kata-kata jorok dari panitia.

Panik pun menyelimuti musholla, bukan hanya aku saja yang manahan geram tetapi seluruh

orang-orang yang mencintai musholla ini yang tak akan pernah rela melihat izzahnya terinjak-injak

oleh orang-orang tak bermoral pun sama geramnya. Demi Allah saja..saat itu aku marah. Kontan

aku membubarkan panitia dengan paksa. Tapi apalah daya hanya suara satu orang. Aku telah

merasa putus asa menangani kondisi ini, sehingga aku terdiam beberapa saat. “Ya...Rabbi, jika ini

masih rumah-Mu yang suci maka bersihkan dia dari segala kekotoran sekarang juga!!!” jeritku

dalam hati. Tak berapa lama kemudian aku melihat seorang ikhwan memanjat salah satu tiang

penyangga canopy musholla sambil berteriak lantang mengusir mereka semua agar mereka angkat

kaki secepatnya dari sini. Beberapa saat setelah itu keadaan musholla hening sejenak. Melihat
keberaniannya yang luar biasa itu aku pun tak jadi berputus asa, aku kembali meneriakkan kata-kata

penggusuran pada panitia. Walaupun banyak panitia yang tidak suka dan memandang sinis tetapi

tetap kulakukan. Hanya demi Allah Ta’ala saja aku menjaga kemuliaan dan kesucian mushollaku

tercinta. Beberapa menit berlalu akhirnya mereka semua keluar dari musholla termasuk para senior

itu dan keadaan pun kembali tenang. Kuucapkan hamdallah dalam hati.

09.58 p.m._Kamar Kos

Ba’da isya ini aku terhanyut dalam tilawahku yang panjang, sekedar mengistirahatkan diri

dan melabuhkan kesedihan jiwa setelah seharian penat di kampus tadi. Sehabis tilawah aku santai

sejenak sambil membaca-baca iseng diktat kuliah Tata Letak dan Perencanaan Pabrik sebelum

berniat tidur. Ketika asyik membaca aku disentakkan dengan intro lagu Generasi Harapannya Izzis

dari si blacky handphoneku tanda 1 message received. “Hah...!!!” aku kaget melihat nama

sendernya. “Kok..tumben malam-malam gini masih sms, penting kali ya rupanya” gumamku pelan

sambil membuka pesan yang dikirim oleh bapak sekretaris jurusanku dengan rasa penasaran.

From: Mr Taufik

Asslkm. Raihanah, bpk dpt infrmasi td siang bsk ank2 br itu dkmplkn jm 5 dpnt 4, apa bnr itu?

Aku diam beberapa saat, bingung mau jawab apa karena aku tidak tahu sama sekali tentang ospek.

Jangankan ikut rapat rutinnya, baca undangan rapatnya yang ditempel disepanjang dinding fakultas

saja aku malas. Yah...dengan jawaban yang jujur aku balas smsnya Pak Taufik.

To: Mr Taufik

Walkmslm. Maaf pak saya krng tau karena saya bukan panitia inti. Apa prl saya tanyakan ke Andri

pak? Soalnya Andri korlap pak, mngkn dia tau.

Kemudian kutekan tombol send dan sesaat kemudian ada laporan message delivered. Kutunggu

beberapa menit balasannya. Dan lagi intronya Generasi Harapannya Izzis berteriak disamping

bantal gulingku. Cepat kuraih dan kubaca pesan balasannya.

From: Mr Taufik
Tidk ush, hny tlng smpkan psn saya, hati2 bsk jng ada trjd bntrokan/rusuh. Jk trjd kalian smua

tnggngjwb dan hkmn mungkn skorsing/plng ringn ggl klh saya smstr ini.

“Wah...luar biasa!!!” spontan aku berteriak. “Gagal kuliahnya Mr. Taufik semester ini...??? Land

Clearing dan Proses Manufaktur dong berarti..Masya Allah..aku gak kepengen ngulang kuliah yang

super duper ngejelimet itu semester 9 ntar!” Segera ku forward sms itu ke Andri, Benni, Eko, Sri

dan Nando, teman-teman yang seingatku jadi korlap besok. Setelah sepuluh menit kutunggu

ternyata tidak ada satu pun yang memberikan respon dan akhirnya aku jatuh tertidur.

Sabtu_05.20 a.m. (Ba’da Subuh)_Kamar Kos

“Assalamualaikum ya akhi ya ukhti.....” Opick membuyarkan doa subuhku. Refleks aku

menoleh kebelakang ke arah tempat tidurku. Kuangkat si blacky: Winny-THP5 calling, langsung

kutekan yes. “Assalamualaikum ukh..? ada apa subuh nelpon?” langsung saja kutanya

kepentingannya.

“Hanah..cepat kemarilah, winny gak bisa handle semua ni..!!!” suara winny panik dan takut

diseberang sana.

“Dimana ukh? Ada apa ni? Jangan panik gitu dong...” jawabku menenangkan.

“Pintu empat nah!!!” “Ce......mari....nah..” “Ra.....Li....disini..” sinyal handphonenya goyang. Aku

berlari ke dekat jendela supaya sinyalnya jelas.

“Win...kenapa? Gak denger ni..?” desakku. “Tut..tut...tut” telpon malah terputus. Perasaan lain -

gelisah-cemas- mulai menjalari sisi-sisi hati. Masya Allah...aku baru teringat dengan sms yang

dikirim Pak Taufik. Kulirik jam dinding Hello-Kittyku disamping cermin, jam setengah enam

sudah. Tak banyak berpikir aku langsung ganti baju, tarik jilbab sarung dan pakai kaos kaki,

langsung meluncur ke pintu empat. Tiga puluh meter dari simpang kampus jalanan macat panjang

gara-gara trafic light mati. Jam ditangan sudah merayap ke menit 40. Tak tahan terjebak dalam

macat ini aku pun turun lalu aku jalan sampai simpang kampus. Kulihat ada angkot yang kosong

dan sudah terlepas dari jebakan macat, aku menyetopnya lalu naik. Baru lima meter berjalan tiba-

tiba angkotnya mogok, Masya Allah...ada lagi ujian untuk sampai ke pintu empat. Aku pun turun
lagi dari angkot. Diseberang sana tiba-tiba ada becak mesin yang baru melintas. Spontan aku

menjerit sekuat tenaga untuk memanggilnya dan akhirnya abang becak mesin itu melihat kearah ku.

Aku mengisyaratkan agar dia berbalik arah ke tempatku berdiri sekarang. Tak berapa lama tibalah

becak mesin itu dihadapanku. “Pintu empat..! kebut ya bang..” kataku setengah berteriak sambil

berjingkat naik ke dalam becak mesin. Selama perjalanan melewati pintu satu, dua dan tiga hatiku

terus gelisah dan tidak tenang. Aku sempatkan menelpon Kak Ari kakak seniorku dulu di Smun-tig

yang sekarang lagi nyusun TA di FKG, aku tanya pendapat dia tentang keadaan ini. Jawabannya

membuat hatiku lega bercampur takut dan cemas.

06.00a.m._Pintu 4

Dan akhirnya aku tiba di pintu empat. Setelah kubayar ongkos aku pun segera melompat

turun. Begitu kulayangkan pandangan ke depan gerbang seketika itu juga kedua lututku melemas.

“Ya..Rabbi..!!!” aku sungguh tak ingin melihatnya refleks kumenutup kedua mataku. Hatiku

tersayat..sangat pedih. Terbayang olehku Camp pengasingan orang-orang Jahudi yang dibuat oleh

Hittler waktu PD II di film D-Day. Mahasiswa baru itu sebagian besar tiarap di tanah dan merayap

di paret. Muka yang kotor dan penuh lumpur, pasrah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kupandangi

mereka dari balik jeruji gerbang pintu empat. Mata-mata mereka yang layu mengisyaratkan

penyesalan dan kesedihan yang sangat. Lagi-lagi ada rasa putus asa diam-diam menyelinap di

dalam hatiku seolah mengatakan aku tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu mereka. Tapi

karena aku telah berazzam di hati, aku harus berani. Hak azasi manusia adalah sama dan tak ada

satu orangpun yang berhak diperlakukan seperti ini. Darahku bergolak..telah terjadi badai hebat

ditubuhku begitu juga Lobus Frontalisku bekerja keras mencari solusi, dengan kecepatan yang tak

terhitung dia mengirimkan stimulus ke seluruh jaringan saraf di tubuhku, masuk ke dalam neuron

lalu dikirim melalui dendrit, diteruskan oleh akson dan disambungkan oleh sinapsis ke neuron-

neuron yang lain sehingga sampai ke efektor lalu menggerakkan otot-otot kakiku untuk melangkah

ke gerbang, pertama berlari kecil lalu aku berlari kencang sekencang anak ginjal yang terus

memproduksi adrenalinku. Ternyata gerbang dikunci. Aku memaksa lagi Labus frontalisku
bekerja, mencari cara bagaimana agar bisa masuk. Akhirnya kulihat ada sedikit celah pagar yang

bolong di samping pintu masuk bank BNI akupun memanjat dari celah itu. Setibanya di dalam aku

merasakan seperti di neraka. Kenapa manusia menyiksa sesama manusia? Bukanya yang boleh

menghukum hanya Allah Ta’ala saja. Ah..pita suaraku seakan sudah putus, aku tak tahu harus

berkata apa lagi. Aku berjalan ke depan mencari winny dan akhirnya kutemukan dia sedang

membopong salah satu mahasiswa baru yang kakinya keram.

“Assalamualaikum ukh...ana harus ngapain ni?” hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari kedua

bibirku karena aku sangat bingung.

Winny langsung mendongak ke arahku. “Waalaikumsalam.. Nah...yang muslimnya belum sholat

subuh semua...” ucapnya lirih.

“Innalillah......” kerongkonganku tercekat. Terntaya apa yang kutakutkan memang benar terjadi.

Aku tak bisa tinggal diam, aku harus melakukan sesuatu. Sebentar terdiam untuk berpikir, aku sadar

takkan bisa bergerak sendiri lalu kutelpon beberapa ikhwan, teman-temanku untuk segera datang

kesini. Ternyata mereka semua masih di musholla FP dan sebagian sedang menuju ke sini. Kulirik

lagi jam ditangan 06.10a.m. takkan sempat jika harus menunggu mereka semua sampai kesini.

Akhirnya aku bergerak sendiri. Aku tak perduli apa yang akan terjadi jika aku melakukannya, yang

jelas aku sangat takut kepada Alla Ta’ala dari pada senior-senior itu. Aku langsung berlari cepat

menuju kelompok pertama yang berbaris paling depan. Setibanya di depan, tanpa permisi kepada

senior yang sedang mengospek mahasiswa baru itu aku langsung berteriak.

“Dek...disini siapa yang belum sholat subuh? Ayo ngaku...”ancamku. Beberapa orang kulihat takut-

takut mengangkat tangannya karena senior yang dibelakangku terus memelototi. Kembali aku

berteriak keras.

“Dek..yang belum sholat subuh keluar dari barisan sekarang juga!” Satu..dua..tiga..enam orang

keluar dari barisan. “Ayok..ikut kakak..” teriakku lagi. Lalu aku pindah ke barisan selanjutnya,

sama...aku meneriakkan kata-kata yang seperti tadi. Dibarisan ini lebih banyak orang yang keluar.

Terus di barisan selanjutnya...lalu barisan selanjutnya dan barisan yang ini lagi disuruh joged
dangdut sama senior-senior itu. Tanpa takut lagi aku langsung ambil alih kendali dan memekik

kuat, “Yang belum sholat subuh keluar dari barisan!!!” semua keluar dari barisan hanya tertinggal

dua orang dan inilah barisan terakhir yang kuraziah. Seketika aku menoleh kebelakang-kepada

adek-adek yang mengikutiku dari barisan pertama sampai terakhir-Masya Allah...Ya Tuhanku Yang

Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang ampunilah dosa kami semua...kata-kata itulah yang terucap

sedih dihatiku. Seketika aku meneteskan air mata. Jumlah mereka setengah dari barisan awal yang

kulihat sebelum aku masuk ke gerbang. Keadaan yang kotor sangat...bagaimana mau sholat? Lagi-

lagi air mata menetes. Jam di tangan kulihat telah menunjukkan pukul 06.30, aku harus mencari

musholla terdekat dari pintu empat. Niatnya ingin dibawa ke Farmasi tetapi tiba-tiba temanku

menelpon supaya mereka dikirim semua ke FP saja, di musholla sana sudah disiapkan air, sabun

dan baju ganti. Segera aku suruh mereka berlali sekencang-kencangnya menuju FP. Disepanjang

jalan senior terus mencegat sampai ketika di depan pintu gerbang fakultas tapi aku tidak peduli, aku

instruksikan kepada mereka semua untuk terus berlari dan jangan sekali-kali berhenti sebelum

sampai di teras musholla walau siapapun yang memanggil. Sayup-sayup aku mendegar pekikan

takbir dari mulut mereka ketika beberapa kali para senior itu ingin menghentikan barisan kami.

06.45a.m_Musholla

Lima meter dari depan musholla aku melihat pintu pagar telah terbuka lebar seraya

memanggil mereka semua untuk lekas menunaikan ibadah sholat subuh, ember-ember yang terisi

penuh air berjejer di pelataran parkir dan kain-kain telah dihamparkan. Sesampainya di musholla

mereka semua langsung ganti baju, dan berwudhu. Sembari mereka berganti aku sempatkan

memberikan pesan kepada mereka, walau sedikit keras dan berteriak-teriak.

” Dek..kalau kalian gak ikut ospek gak apa...dan kalaupun kalian terlambat datang kalian paling gak

cuma sama senior kalian bertanggung jawab dan senior kalian itu pun cuma seorang manusia

dek...sama seperti kalian tapi kalau kalian tidak sholat kalian akan bertanggung jawab kepada

siapa???” aku tak bisa menahan gemetarnya suaraku. Kuhentikan sejenak, “Kepada Allah dek..”

lalu tangisku pun pecah... Mereka semua hanya tertunduk lemas. Setelah mereka selesai sholat
subuh mereka kembali dipanggil panitia untuk digiring balik kebarisan dan acara selanjutnya adalah

senam kebugaran. Musholla kembali sepi yang tedengar hanya lantunan musik dangdut dari

lapangan IMABOHAL kali ini bukan dewi persik tapi yang lain, yang aku sendiri tidak tahu siapa,

tetapi yang jelas bukan inul. Tinggal aku sendiri dan beberapa orang temanku termenung dan

terdiam disudut musholla.

“Ya..Rabbi, andaikan mereka tahu, andaikan sekarang mereka dapat melihat siksa yang akan

Engkau berikan kepada orang-orang yang melalaikan ibadah subuhnya, pastilah mereka tidak

akan pernah melalaikannya lagi, walau dengan merangkak sekalipun mereka pasti

menunaikannya”

07.10 p.m_Polonia Medan-Simpang Tiga Pekan Baru

Kali ini ku silentkan handphoneku yang terasa hanya getarnya. Ada satu pesan masuk lalu

kubuka.

From: Akh Dhani

Asslkm. Ngaji sblm adzn udh vlm mksm, adzn dah syahdu kl, bcaan imam pun dah mntp pny. Tp

adk2 tu blm da yg brgrk, msh ikt acr api unggn. Bentr lg bkl km tarik smua ni.

Hah...lagi-lagi aku hanya bisa memejamkan mata dan memohon ampun setulus-tulusnya pada

Tuhanku Yang Pemurah. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena aku harus pulang mendadak malam

ini ke Pekan Baru sehingga tak bisa berada di kampus sampai acara ospek selesai. Selama

perjalanan pulang aku tak hentinya memohon ampun. Penyesalan tak kujung pergi dari diri.

Seandainya saja dari enam bulan yang lalu aku ikut ajakan Lia untuk bersama-sama mengonsep

acara ospek pasti takkan seperti ini jadinya. Setidaknya aku masih bisa berusaha untuk melakukan

yang terbaik buat mereka. Aku merasa marah dan malu pada diriku sendiri. Mengaku aktivis tapi

kezaliman di depan mata sendiri tak terselesaikan.

Kerlap-kerlip lampu di lapangan pacu Simpang Tiga semakin lama semakin memudar

kupandang..tertutup air mata yang tertimbun di mata.

Ket: 1) Teknik Pertanian, 2) Laboratorium Satuan Operasi, 3) Mesin dan Peralatan, 4) Titip Absen, 5) Teknologi Hasil Pertanian
BIODATA DIRI

NAMA : Adian Rindang

FAKULTAS/JURUSAN/NIM : Pertanian/Teknologi Pertanian/Teknik Pertanian/040308014

NO. HANDPHONE : 0813 7056 1032

ALAMAT : Jln. Taman Permai 1 No. 34 Komp. BTN Tanjung Gusta

Medan 20125

KATEGORI LOMBA : Cerpen

JUDUL NASKAH : Sepenggal Catatan OSPEK 2008 Dari Jurnal Seorang Aktivis