Anda di halaman 1dari 31

1

A. Mata Pelajaran : Fisika


B. Satuan Pendidikan : SMA/ MA
C. Kelas / semester : IX / 1
D. Standar Kompetensi :
Menerapkan konsep besaran Fisika dan pengukurannya
E. Kompetensi Dasar :
 Mengukur besaran fisika (massa, panjang, waktu)
 Melakukan penjumlahan Vektor
F. Indikator
 Menyebutkan besaran pokok dan besaran turunan
 Menyatakan besaran massa, panjang, waktu dengan satuan yang tepat
 Menyebutkan dimensi besaran-besaran Fisika
 Mengkonversi satuan besaran massa, panjang, dan waktu kedalam satuan SI
 Mengukur panjang, massa, waktu dengan alat ukur yang sesuai
 Melaporkan hasil pengukuran dengan kaidah angka penting
 Melaporkan hasil pengukuran dengan kaidah notasi ilmiah
 Menjumlahkan dua buah vektor atau lebih jelas dengan metode jajaran genjang
dan poligon
 Menjumlahkan dua vektor atau lebih dengan metode analisis.
 Menggambarkan cara menjumlahkan vektor.
 Menentukan arah vektor resultan hasil penjumlahan vektor atau pengurangan vektor.
 Menjelaskan pengertian vektor satuan.
 Menjelaskan penguraian vektor terhadap sumbu Cartesian
 Menghitung hasil perkalian dua buah vektor dengan cara perkalian titik
 Menghitung hasil perkalian dua buah vektor dengan cara perkalian silang
G. Materi Pokok :
 Besaran dan satuan
 Vektor

1
2

H. Konsep Prasyarat :
 Besaran
 Satuan
I. Konsep Essensial :
 Besaran
 Satuan
 Vektor
 Resultan vektor
 Vektor satuan

2
3

J. Peta Konsep BESARAN BESARAN


VEKTOR SKALAR

merupakan
SATUAN
memiliki berkaitan
BESARAN FISIKA
dengan
DIMENSI
terdiri dari

memenuhi

BESARAN BESARAN
POKOK TURUNAN
MENURUNKA
MENURUKAN MEMERIKSA
N PERSAMAAN
PERSAMAAN RUMUS
RUMUS

mengandung
KESALAHAN PENGUKURAN

memenuhi

KETELITIAN ANGKA
PENTING

3
4

K. Uraian Materi

Besaran, Satuan dan Pengukuran


Pendahuluan
Ilmu Fisika merupakan cabang ilmu yang berusaha menerangkan segala
kejadian alam di sekitar kita berdasarkan sudut pandang fisisnya. Dalam proses
mencari jawaban dan menyelesaikan persoalan-persoalannya, Fisika menggunakan
bahasa matematika karena matematika merupakan suatu metode pembuktian paling
logis dan tepat.
Ketika kita menyebut matematika, pasti kita akan berurusan dengan yang
namanya angka-angka. Begitu pula dalam Fisika, segala sifat atau peristiwa yang
terjadi pada objek permasalahan Fisika akan dirubah dalam bentuk angka-angka.
Contoh-contoh sifat itu antara lain adalah panjang, waktu, massa, dan lainnya.
Untuk melakukan hal ini dilakukan pengukuran yaitu proses untuk membandingkan
sesuatu yang belum diketahui dengan sesuatu yang telah diketahui. Sebagai contoh,
ketika kita ingin mengetahui nilai panjang suatu batang kayu maka kita akan
membandingkannya dengan penggaris yang memberi kita informasi tentang
seberapa panjang jarak 1 cm, 1mm atau lainnya.
Sifat-sifat atau peristiwa yang ada pada suatu objek dan bisa diterjemahkan
dalam bentuk angka-angka disebut besaran.atau dengan kata lain, besaran adalah
segala sesuatu yang dapat diukur. Tiap besaran memiliki satuan yang menunjukkan
besarnya besaran itu sendiri. Sebagai contoh, panjang suatu batang kayu adalah 3.
Penulisan 3 disini tidaklah berarti karena dia tidak menunjukkan suatu nilai apapun.
Oleh karena itu dibuatlah satuan-satuan untuk tiap-tiap besaran yang membedakan
besaran satu sama lain. Dalam Fisika, terdapat dua macam besaran. Yang pertama
adalah besaran pokok dan kedua adalah besaran turunan. Pengelompokkan ini
dibuat supaya tidak terlalu rumit dalam menentukan suatu satuan dari besaran-
besaran tadi karena banyaknya besaran-besaran dalam Fisika.

1. Besaran dan Satuan

4
5

a. Besaran Pokok
Besaran pokok adalah besaran yang satuanya telah ditetapkan dan tidak
diturunkan dari besaran lain. Besaran pokok digunakan untuk menghasilkan
besaran turunan yang lain.
Tabel 1. Besaran Pokok dan Satuannya
Besaran pokok Satuan Lambang satuan
Panjang Meter m
Massa Kilogram kg
Waktu Sekon S
Kuat arus listrik Ampere A
Suhu Kelvin K
Intensitas cahaya Candela Cd
Jumlah zat mol Mol
Sudut datar Radian Rad
Sudut ruang Steradian Sr

Semua penentuan satuan untuk tiap-tiap besaran ini tidaklah dibuat secara
sembarangan begitu saja. Para ilmuwan sepakat untuk membuat suatu sistem yang
berlaku secara internasional sehingga tidak ada kesalahpahaman ketika suatu
negara menggunakan sistem yang berbeda dengan negara lain. Sistem itu disebut
satuan internasional ( SI ).

b. Penetapan Satuan Standar Internasional


Satuan standar adalah satuan dari besaran-besaran yang telah disepakati
memiliki ukuran sama denga satu atau satu satuan.
Sistem ini sendiri memiliki beberapa syarat untuk membuat sebuah satuan
yaitu :
1. satuan tersebut harus bersifat internasional
2. satuan tersebut tetap, tidak berubah oleh pengaruh apapun.
3. mudah ditiru oleh setiap orang.

1. Panjang
Satuan standar internasioanal untuk besaran
panjang adalah meter (m) yang sering disingkat
dengan meter . Awalnya satuan panjang
5
6

dinyatakan oleh jarak antara dua goresan yang dibuat pada sebuah batang kayu
yang terbuat dari campuran platinum iridium yang disimpan di International
Bureau of Weights and Measures di SEVRES PRANCIS. Akan tetapi untuk
saat ini meter standar didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh cahaya dalam

ruang hampa selama waktu sekon.

Pada tahun 1960, diadakan perjanjian internasional yang menetapkan satu


meter adalah 1.650.763,73 kali panjang gelombang cahaya merah jingga yang
dihasilkan oleh pancaran gas Krypton. Ketetapan inilah yang masih dipakai
sampai sekarang.

2. Massa
Satuan standar international untuk besaran massa adalah
kilogram (kg).Dalam keseharian sering kita mendengar
istilah berat satu karung beras adalah 50 kg, pengunaan
satuan berat dalam pernyatan tersebut adalah tidak benar
karena pada dasarnya berat adalah suatu massa yang
terpengaruh oleh gaya gravitasi W = m. g dan dari
persamaan tersebut berat merupakan juga gaya,
sedangkan telah kita ketahui gaya sendiri memiliki satuan Newton bukan
kilogram.
Sebelum adanya kesepakatan satuan dalam sistem internasional untuk
massa, orang memakai satuan yang berbeda-beda di berbagai tempat, misalnya
di Sumatera utara, orang menamakan satuan massa adalah mayam, dan lain
sebagainya. Tapi sekarang menurut Satuan Internasional, satuan massa yang
dipakai secara internasional adalah kilogram dimana satu kilogram
didefinisikan sebagi massa 1 liter air murni pada suhu 4° C. Massa air ini
disimpan di Sevres, Paris dalam bentuk logam platina silinder yang dikurung
dalam wadah kaca doble untuk menjaga ketetapannya.

3. Waktu

6
7

Satuan standar international untuk besaran waktu adalah sekon (s),


semula satuan standar waktu didefinisikan berkenaan dengan rotasi bumi

sebagai x x dari rata – rata lama hari matahari. Dengan mengacu pada

perjanjian internasional, ditetapkanlah bahwa satu detik adalah waktu yang


diperlukan oleh atom Cesium untuk bergetar sebanyak 9.192.631.770 kali.
Dengan cara ini, perubahan satu detik hanya akan terjadi setelah 3000 tahun
kemudian.

4. Kuat Arus
Satuan standar internasional untuk besaran kuat arus adalah Ampere (A),
satu ampere adalah kuat arus tetap yang yang jika dialirka melalui dua buah kawat
yang sejajar dan sangat panjang, dengan tebal yang dapat diabaikan dan diletakan
pada jarak pisah 1 meter dalam vakum, menghasilkan gaya 2 x 10 -7.newton pada
setiap meter kawat (CGPM ke-9,1948), ketelitian yang diperoleh adalah 1:106.
5. Suhu
Satuan standar untuk suhu adalah kelvin. Satu kelvin (K) adalah 1/273,16
kali suhu termodinamika titik tripel air (CGPM ke-13,1967). Titik tripel air
adalah suhu di mana air murni berada dalam keadaan setimbang dengan es dan
uap jenuhnya.
6. Intensitas Cahaya
Satuan standar untuk intensitas cahaya adalah kandela. Satu kandela (cd)
adalah intensitas cahaya suatu sumber cahaya yang memancarkan radiasi
monpkromatik pada frekuensi 540 X 1012 hertz dengan intensitas radiasi sebesar
1/683 watt per steradian dalam arah tersebut (CGPM,ke-16,1979).
7. Jumlah Zat
Satuan standar untuk jumlah zat adalah mol. Satu mol adalah jumlah zat
yang mengandung unsur elementer zat tersebut dalam jumlah sebanyak jumlah
atom karbon dalam 0,012 kg karbon- 12 (CGPM ke-14, 1971).
c. Besaran Turunan

7
8

Besaran turunan adalah besaran yang didapatkan dari hasil pengoperasian


beberapa besaran pokok. Satuannya pun terdiri dari satuan-satuan besaran yang
terlibat dalam pengoperasian itu.
Tabel 2. besaran turunan beserta satuannya :
Besaran turunan Satuan Lambang satuan
Kecepatan meter/sekon m/s
Percepatan meter/sekon² m/s2
Massa jenis Kilogram/meter³ Kg/m3
Gaya Newton N
Luas Meter2 m2
Volume Meter3 m3
Tekanan Pascal Pa
Usaha Joule J

d. Konversi Satuan
Telah disebutkan sebelumnya bahwa besar suatu besaran fisika harus terdiri
dari suatu bilangan dan suatu satuan, dalam aplikasi matematisnya besaran fisika
massa, panjang dan waktu biasanya ditentukan tidak selalu satuan standar
internasional misalnya satuan massa bisa saja dinyatakan dengan gram, slug, atau
pun ton. Sedangkan besaran panjang bisa saja diketahui dengan satuan yard (yd),
foot (ft), atau pun inci (in) dan besaran waktu bisa saja dinyatakan dengan satuan
jam atau pun menit. Menstandarkan satuan ke dalam stuan standar lain disebut
Konversi dalam perhitungan yang dijadikan standar konversi adalah standar
internasional dimana panjang dinyatakan dengan meter (m), massa dinyatakan
dengan kilogram (kg) dan waktu dinyatakan dengan sekon (s)
Cara mengkonversi satuan menjadi standar internasional dapat dijelaskan
sebagai berikut :
1) Panjang meter (m)
1 yard = 0,9144 m

1 ft = yd = 0,9144 m = 0,3048 m

1 in = 2,54 cm = 0,024 m
Satuan-satuan panjang yang tidak baku yang biasa digunakan oleh
masyarakat
1 hasta = 0,6 m

8
9

1 tumbak = 1 bata = 14 m
1 are = 100 m2
1 hektar = 9800 m
1 mil = 1500 m.
2) Massa
1 slug = 14,59 kg
1 ton = 1000 kg
1 gram = 0,001 kg
1 liter = 1000 cm3 = 0,8 kg
3) Waktu
1 menit = 60 sekon
1 jam = 60 menit
1 jam = 60 x 60 sekon = 3600 sekon

e. Dimensi
Dimensi adalah suatu lambang yang berhubungan dengan besaran yang
diukur atau dihitung. Dimensi suatu besaran menunjukan cara besaran itu tersusun
dari besaran-besaran pokok. Satuan besaran yang dinyatakan tidak mempengaruhi
dimensi besaran tersebut, misalnya satuan panjang dapat dinyatakan dalam m, cm,
atau mil, ketiga satuan tersebut memiliki dimensi yang sama, yaitu L. Dari
besaran-besaran ini, setiap persamaan haruslah konsisten secara dimensional,
yakni kedua dimensi pada ruas haruslah sama. Dimensi besaran-besaran pokok
dinyatakan dengan lambang huruf tertentu dan biasanya diberi tanda […].
Tabel 3. Lambang dimensi besaran pokok
Besaran pokok Satuan Dimensi
Panjang Meter [L]
massa Kilogram [M]
waktu Sekon [T]
suhu Kelvin [θ]
kuat arus Ampere [I]
jumlah zat Mole [N]
intensitas cahaya Candela [J]

Secara umum dimensi memegang peranan yang cukup penting untuk


memeriksa kebenaran dari suatu persamaan, karena dengan cara ini kita dapat
9
10

memeriksa kesamaan dimensi pada kedua ruas dalam satu persamaan. Persamaan
yang benar haruslah mempunyai dimensi yang sama pada kedua ruasnya. Akan
tetapi, penjumlahan dua besaran atau lebih hanya bisa dilakukan jika besaran-
besaran tersebut memiliki dimensi yang sama.
Manfaat analisis dimensi dalam fisika :
1. Untuk membuktikan dua besaran fisika setara atau tidak. Dua besaran
fisika dikatakan setara jika keduanya memiliki dimensi yang sama dan
keduanya termasuk besaran skalar atau besaran vektor.
2. Untuk menentukan salah atau tidaknya suatu persamaa.
3. Untuk menurunkan persamaa suatu besaran fisika jika kesebandingan
besaran fisika tersebut dengan besaran lain diketahui.
Contoh : kesetaraan antara energy kinetik dan usaha
Usaha = gaya . perpindahan
W = F.S
[W] = [M][L][T]-2
Energi Kinetik
Ek = ½ mv2
[Ek] = [m][v]2
[Ek] = [M][L][T]-2
Dimensi usaha dan dimensi energy kinetik sama, sehingga dapat disimpulkan
bahwa usaha dan energy adalah setara.
2. Pengukuran Besaran Fisika
a. Mengukur (massa, panjang, waktu) dengan alat ukur
Massa, panjang, dan waktu merupakan besaran pokok. Definisi dari besaran
yaitu sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dengan nilai (harga). Untuk dapat
memperoleh nilai dari besaran tersebut harus dilakukan terlebih dahulu proses
pengukuran. Sedangkan pengukuran atau “mengukur” sendiri dapat didefinisikan
sebagai suatu kegiatan membandingkan suatu besaran dengan besaran lain yang
ditetapkan sebagai standar satuan.
Untuk mengukur besaran fisika kita memerlukan suatu alat ukur, contoh
besaran panjang dapat di ukur menggunakan alat ukur seperti mistar, jangka
sorong, dan mikrometer sekrup.
1. Pengukuran Panjang
10
11

Setiap alat ukur panjang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-


masing.
a. Mistar
Mistar merupakan alat untuk mengukur panjang
yang umumnya mempunyai skala terkecil 1 mm.
Tetapi ada juga mistar yang mempunyai skala terkecil
lebih besar dari 1 mm, misalnya 1 cm.
Nilai skala terkecil dari misitar seperti gambar di
samping adalah 1cm
b. Jangka Sorong
Jangka sorong merupakan alat untuk mengukur panjang yang lebih teliti
bila dibandingkan dengan mistar, karena skala terkecilnya hingga 0,1 mm.
Terdapat dua bagian yang penting dari jangka sorong, yaitu rahang tetap dan
rahang geser (rahang bergerak). Rahang tetap mempunyai sekala panjang
yang disebut skala utama, sedangkan rahang geser mempunyai skala pendek
yang disebut dengan skala nonius. Berikut ini contoh pembacaan skala pada
jangka sorong

Dari gambar di atas, kita bisa melihat :


1. pembacaan skala utama yang berhimpit dengan skala nonius nol adalah di
antara 4,7 cm dan 4,8 cm.
2. skala nonius yang berhimpit tegak dengan skala utama adalah skala
keempat senilai 0,4 mm atau 0,04 cm
Jadi, pembacaan jangka sorong tersebut adalah :
(4,7 + 0,04) cm = 4,74 cm
c. Mikrometer Sekrup

11
12

Mikrometer sekrup merupakan alat untuk mengukur panjang yang lebih


teliti daripada mistar atau jangka sorong, hal ini dikarenakan micrometer
sekrup memiliki ketelitian hingga 0,01 mm.

Dari gambar di atas, kita mengetahui panjang benda :


1. pembacaan skala utama yang berhimpit dengan tepi selubung luar adalah
di antara 6,5 mm dan 7,0 mm.
2. garis selubung luar yang berhimpit tepat dengan garis mendatar skala
utama adalah garis ke 44.
Jadi bacaan micrometer sekrup tersebut adalah :
6,5 mm + 44 bagian = 6,5 mm + 0,44 = 6,94 mm

2. Pengukuran Massa
Untuk mengukur besar massa, kita dapat menggunakan timbangan atau
neraca. Beberapa neraca atau (timbangan) yang seringkali digunakan untuk
mengukur massa di antaranya seperti neraca lengan, neraca pegas, neraca O-
hauss, dan neraca digital.

Contoh mengukur massa dengan neraca :

Dari gambar di
samping terlihat
pebedaan massa daging
ayam yang belum
dimasak dengan daging
ayam yang sudah dimasak
12
13

3. Pengukuran Waktu
Untuk mengukur besaran waktu, kita dapat
menggunakan alat ukur seperti jam tangan, jam dinding,
dan stopwatch.
Berikut contoh pengukuran waktu dengan
menggunakan stopwatch.
Dari gambar diperoleh perhitungan waktu sebesar 1 jam 30 menit 65 detik.
3. Pengukuran
1. Angka penting
Banyak bilangan dalam sains merupakan hasil pengukuran, dan oleh
karenanya bilangan–bilangan tersebut diketahui hanya dalam batas–batas beberapa
ketidakpastian percobaan. Besarnya ketidakpastian bergantung pada keahlian
pelaksanaan percobaan dan pada peralatan yang digunakan. Misalnya kita
menyatakan panjang suatu kursi sebesar 2,50 m, sebenarnya Kita menyatakan
secara tidak langsung bahwa panjangnya mungkin antara 2,495 m dan 2,505
artinya kita tahu bahwa panjang dari kursi tersebut dalam batas ± 0,005 m. Oleh
karena itu untuk memastikan nilai hasil pengukuran maka dikenal istilah angka
penting. Berikut ini beberapa ketentuan penulisan dalam angka penting :
1) Semua angka di depan koma selain angka nol merupakan angka penting, dan
angka berapa pun termasuk nol yang letaknya di belakang koma merupakan
angka penting.
2 = satu angka penting 0,2 = satu angka penting
23 = dua angka penting 2,0 = dua angka penting
23,4 = tiga angka penting 2,00 = tiga penting
2) Pembulatan di belakang koma.
Jika angka di belakang koma adalah lebih besar atau sama dengan 5, maka
pembulatannya dilakukan dengan menambah nilai satu ke angka sebelum angka
tersebut. Contoh : 2,48 → angka 8 dibulatkan dengan menambah angka 4
dengan 1 menjadi 2,5. Sedangkan jika angka yang akan dibulatkan tersebut
lebih kecil dari 5, maka pembulatannya cukup dengan menghilangkannya saja.
Contoh : 2,43 dapat dibulatkan menjadi 2,4.
3) Opersai perkalian dan pembagian
13
14

Dalam operasi perkalian dan pembagian, jumlah angka penting dihasil akhir
operasi tidaklah lebih banyak dari jumlah angka penting terkecil yang terlibat
dalam penghitungan.
Contoh : 1,34 x 2,2= 2,948
1,34 = tiga angka penting
2,2 = dua angka penting
Dari hasil perkalian diperoleh nilai 2,948 merupakan empat angka penting
maka berdasarkan ketentuan pertama dan kedua nilainya menjadi 2,9.
4) Operasi penjumlahan dan pengurangan
Hasil dari penjumlahan atau pengurangan dua bilangan tidak mempunyai angka
penting di luar tempat desimal terakhir dimana kedua bilangan asal mempunyai
angka penting.
Misalnya 1,040 + 0,2134 = 1,253
1,040 = memiliki tiga angka penting di belakang koma
0,2134 = memiliki empat angka penting di belakang koma
Jumlah angka penting ditentukan oleh nilai yang angka penting dibelakang
koma paling sedikit, jadi nilainya ditulis 1,253 (tiga angka penting di belakang
koma).

2. Ketidakpastian Pengukuran
a. Ketidakpastian Sistematik dan Ketidakpastian Rambang
Ketidakpastian pengukuran disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor
manusia, faktor alat dan faktor lingkungan. Ketidakpastian pengukuran yang
disebabkan oleh faktor manusia terjadi ketika kita melakukan kegiatan
pengukuran. Ketidakpastian pengukuran yang disebabkan oleh faktor alat
terjadi ketika alat yang digunakan dalam keadaan rusak atau pengaturan alat
tidak tepat. Sedangkan faktor-faktor lingkungan yang dapat menyebabkan
ketidakpastian pengukuran di antaranya adalah suhu, tekanan udara dan
kelembaban udara.
Pada dasarnya ketidakpastian pengukuran terdiri dari ketidakpastian
sistematik dan ketidakpastian rambang. Ketidakpastian sistematik adalah
ketidakpastian pengukuran yang dapat menyebabkan hasil pengukuran
menyimpang dari keadaan sebenarnya. Ketidakpastian sistematik ini biasanya
14
15

disebabkan oleh kesalahan pengukuran atau kalibarasi alat, kesalahan titik nol,
kerusakan komponen alat, kesalahan pengamatan (praktek), adanya gesekan
dan keadaan lingkungan saat pengukuran.

Misalnya ketika akan


mengukur massa dengan menggunakan neraca O-hauss, untuk menghindari
ketidakpastian sistematis kita dapat melakukan hal-hal berikut ini:
1) Melakukan kalibrasi atau pastikan bahwa kita telah memberikan skala
dengan benar .
2) Mengatur titik nol skala alat ukur agar berhimpit dengan titik nol jarum
penunjuk skala.
3) Memeriksa keadaan alat sebelum mengukur besaran.
4) Membaca skala dengan tegak lurus.
5) Memeriksa keadaan lingkungan, seperti suhu, tekanan udara dan
kelembaban sebelum dan sesudah melakukan pengukuran.
Sedangkan, ketidakpastian rambang adalah ketidakpastian pengukuran
yang terjadi sangat cepat dan hampir tidak mungkin dihindari.

Beberapa sumber kesalahan rambang tersebut adalah :


1) Fluktuasi tegangan listrik yang mempengaruhi pengukuran arus listrik
dan tegangan listrik.
2) Gerak Brown molekul-molekul udara yang mempengaruhi pembacaan
jarum penunjuk Galvanometer.

15
16

b. Pengukuran Tunggal dan Pengukuran Berulang


Pengukuran besaran fisika terdiri dari pengukuran tunggal dan pengukuran
berulang. Berikut ini merupakan penjelasan tentang pengukuran tunggal dan
berulang serta ketidakpastian mutlak dan ketidakpastian relatifnya.
a) Pengukuran tunggal
Data hasil pengukuran tunggal biasanya dilaporkan sebagai berikut :
X = X0 +  X
Dengan:
X = besaran fisika yang diukur
X0 = hasil pengukuran tunggal
X = ketidakpastian pengukuran

Pada pengukuran tunggal, X0 ditentukan dari pembacaan alat ukur,


sedangkan ketidakpastiannya (  X) ditentukan dengan :
1
X= x nst
2
Dengan : nst = nilai skala terkecil alat ukur

b) Pengukuran berulang
Pengukuran berulang menghasilkan data yang disebut sampel.
Berdasarkan metoda statistik, data pengukurann berulang dapat dilaporkan
dengan persaman berikut ini.
X  X  X
Dengan :
X = rata-rata nilai besaran X
X = ketidakpastian pengukuran
harga X dan X pada pengukuran berulang dapat ditentukan dengan
menggunakan persamaan berikut ini .
X 1  X 2  X 3  ...  X N  X 1
X 
n n

1 n X i    X i 
2 2

X 
n n 1
Dengan
16
17

Xi = hasil pengukuran besaran ke-i


N = jumlah pengukuran berulang
c. Ketidakpastian Mutlak dan Ketidakpastian Relatif
Pada pengukuran tunggal atau pengukuran berulang,  X disebut
dengan ketidakpastian mutlak. Ketidakpastian mutlak daapt digunakan untuk
menentukan ketepatan hasil pengukuran. Semakin kecil harga  X, maka
semakin tepat hasil pengukuran itu, dan sebaliknya. Selain disertai dengan
ketidakpastian mutlak, data hasil pengukuran juga dapat disertai dengan
ketidakpastian relatif, yang biasanya dinyatakan denganpersen (%). Harga
ketidakpastian relatif dapat ditentukan sebagai berikut.
X
Ketidakpastian relatif = x 100%
X
Pada pengukuran tunggal, ketidakpastian relatif dinyatakan dengan
persamaan :
X
x 100%
X0

Semakin kecil harga ketidakpastian relatif, maka semakin teliti


pengukuran tersebut, dan sebaliknya.
Contoh :

Tabel 4. hasil sepuluh kali pengukuran panjang meja diperoleh nilai


No (cm)
1 9,0 81 810
2 9,3 86 860
3 9,5 90 900
4 9,4 88 880
5 9,4 88 880
6 9,6 92 920
7 9,4 88 880
8 9,2 85 850
9 9,1 83 830
10 9,4 88 880
10 9,4 88 880
= 9,3 = 957 = 9570

17
18

Dengan menggunakan persamaan berikut diperoleh nilai


ketidakpastiannya

1 n X i    X i 
2 2

X 
n n 1

ΔX =

ΔX = = 0,1 x 30,9 = 3

Jadi nilainya : X  X  X
X = 9,3 ± 3
Sedangkan nilai ketidakpastian relatifnya dapat diperoleh yaitu :

x 100% = x 100% = 30 %

Dapat disimpulkan bahwa hasil pengukuran meja dari contoh di atas


memiliki kesalahan relatif yang cukup besar yaitu 30 % .

Penjumlahan Vektor

A. Besaran Vektor berbeda dengan besaran Skalar


Besaran fisis yang mempunyai besar dan arah disebut besaran vektor. Besaran
fisis telah lengkap jika dinyatakan nilainya dengan sebuah bilangan dan satuannya.
Akan tetapi, ada beberapa besaran fisis yang harus dijelaskan lebih lanjut karena
besaran fisis tersebut mempunyai arah. Contohnya : kecepatan, gaya, dan medan
magnet.
Suatu besaran fisis dapat mempunyai nilai positif (+) atau negative(-),
tergantung pada acuan arah yang digunakan. Hal ini tentunya tergantung dari hasil
kesepakatan.

18
19

Apabila arah positif telah ditentukan, dapat dikatakan bahwa garis tersebut
sudah memiliki orientasi dan sering disebut sebagai sumbu. Arah positif biasanya
ditandai dengan anak panah yang berpangkal di O menuju kekanan atau keatas, dan
jika arahnya negative, maka arahnya berlawanan dengan arah anak panah yang
mempunyai arah positif.
Contoh :
Budi bergerak maju dari titik O (acuannya pohon) ke kanan dengan laju 5 m/s.
berarti Budi bergerak kearah X positif dengan kecepatan 5 m/s. Sedangkan bondan
bergerak dari titik O ke kiri dengan laju 5 m/s, berarti bondan bergerak kearah X
negative dengan kecepatan 5 m/s.
-X O
+X1
Gambar

B. Cara menggambar vektor dan penulisan vektor


Suatu vektor digambarkan dengan menggunakan anak panah dengan satu titik
tangkap gaya. Dalam vektor anak panah pada vektor menyatakan arah, titik pangkal
O menyatakan titik tangkapnya.

O X
Gambar 2 Vektor OX
Keterangan :
O = titik tangkap vektor
X = ujung vektor
OX = arah dan panjang vektor

Ada dua cara penulisan vektor yang umum, yakni :



1. Ditulis dengan satu huruf dengan tanda panah diatasnya, misalnya a

2. Ditulis dengan dua huruf dengan dicetak tebal, misalnya OA

19
20

C. Penjumlahan dan selisih vektor


Dua vektor atau lebih dapat diganti dengan sebuah vektor resultan
A a1 B
hasil penjumlahan a1 + a2 = R
a2
R

C
Gambar 3 Penjumlahan vektor

D. Melukis vektor dengan beberapa metode


1. Metode jajargenjang
Langkah – langkahnya sebagai berikut :
a. Pada ujung vektor A, gambarkan garis sejajar vektor B
b. Pada ujung vektor B, gambarkan sejajar vektor A
c. Tandai titik potongnya C
d. Hubungkan titik O dengan titik perpotongan C, garis yang menghubungkan
titik O dan C disebut resultan (R)
B C

A Gambar 4. vektor dengan metode jajargenjang


O
2. Metode poligon
Metode ini digunakan untuk garis vektor yang mempunyai banyak segi,
dalam penentuan resultan yaitu dengan menghubungkan pangkal vektor pertama
keujung vektor terakhir.
Langkah – langkahnya sebagai berikut:
a. Gambarkan vektor pertama ( misalnya vektor A ), tandai pangkal vektor
pertama dengan titik O.
b. Gambarkan pangkal vektor kedua pada ujung vektor pertama, dan seterusnya.
c. Vektor hasil penjumlahan (resultan) diperoleh dengan menghubungkan
pangkal vektor pertama (titk O) pada ujung vektor terakhir.
C

R
20
B

O A
21

Gambar 5. penjumlahan
vektor
3. Selisih vektor
Tinjau sebuah vektor a, kita defenisikan negative dari vector ini adalah -A,
yaitu sebuah vector yang sama besar dengan A tetapi berlawan arah.tidak ada
vector yang mempunyai besar negative, besar vector selalu positif. Tanda
negative (-) hanya menunjukan arah. Dengan demikian mendefenisikan
pengurangan vector dari suatu vector terhadap yang lainnya.
A – B = A + (-B)
Dari persamaan tersebut jelaslah bahwa selisih dua buah vektor sama dengan
penjumlahan dari vektor yang pertama ditambah negatife vektor yang kedua.
a. b. A A
+A -A - =
B -B

c. -B

Gambar 6 selisih dua vektor A - B

D. Menentukan besar dan arah vektor resultan


Secara grafik kita dapat menentukan besar resultan, tetapi hasil yang kita
peroleh tidak teliti. Ketelitian perhitungan dengan cara grafik tergantung pada skala
panjang yang kita pilih, ketelitian alat ukur, dan ketelitian membaca mistar. Cara
menentukan besar resultan dengan teliti adalah dengan menggunakan rumus.

B C

 OAC 
V2 R

O

V1 A

21
22

Gambar 7 menentukan besar dan arah vector resultan


Perhatikan Gambar B.4, rumus cosinus pada Δ OAC memberikan persamaan:

OC 2  OA 2  AC 2  2OA  AC cos OAC


 OA 2  AC 2  2OA  AC cos (180   )
 OA 2  AC 2  2OA  AC (  cos  )
OC 2  OA 2  AC 2  2OA  AC cos 

OC tidak lain adalah R, OA adalah V1, dan AC adalah V2, sehingga persamaan dapat
kita tulis menjadi:
R 2  V1  V2  2 V1  V2 cos 
2 2

V1  V2  2 V1  V2 cos 
2 2
R

dengan  , kita sebut sudut apit, yang merupakan sudut terkecil yang dibentuk oleh
vektor V1 dan V2.

E. Menentukan arah vektor resultan dengan rumus sinus

Sebuah vektor harus dinyatakan dengan besar dan arah. Oleh karena itu, kita
harus menentukan arah vektor resultan terhadap salah satu vektor penyusunnya.
Misalkan arah vektor R terhadap salah satu vektor penyusunnya, yakni V1, sama
dengan  . Sudut ini dapat kita tentukan dengan menggunakan rumus sinus.
Rumus sinus pada segitiga OAC menghasilkan:


V2 y1 R

O
 y2

V1
Gambar 8 menentukan besar dan arah vector resultan
y1
sin    y1  V2 sin 
V2
y2
sin    y 2  R sin 
R
y1  y 2
V2 sin   R sin 

Dari persamaan di atas, sudut  (arah vektor R terhadap vektor V1) dapat kita
tentukan
22
23

F. Sebuah Vektor Dapat Diuraikan Menjadi Dua atau Lebih Vektor


Setiap vektor selalu dapat Anda uraikan menjadi dua atau lebih vektor. Di sini
kita hanya akan membahas cara menguraikan sebuah vektor menjadi 2 vektor yang
saling tegak lurus. Vektor yang terletak pada sumbu X, kita sebut komponen vektor
pada sumbu X. Vektor yang terletak pada sumbu Y, kita sebut komponen vektor
pada sumbu Y.

1. Menentukan komponen-komponen sebuah vektor jika besar dan arahnya


diketahui
Tinjau sebuah vektor V yang kita uraikan menjadi komponen pada sumbu X,
kita beri nama VX, dan komponen pada sumbu Y, kita beri nama VY, (lihat Gambar
C.1). Sudut vektor V terhadap sumbu X adalah  , sehingga berdasarkan rumus
perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku OAB kita peroleh

Y
Vx
cos    Vx  V cos 
B V
VY V
sin   y  V y  V sin 
V V

O
 VX
A
X
Gambar 9. komponen-komponen vector pada sumbu Cartesian

2. Menentukan besar dan arah sebuah vektor jika kedua komponen vektornya
diketahui

23
24

Misalkan sebuah vektor V memiliki komponen-komponen VX dan VY. Besar


vektor V, dapat kita cari dengan menggunakan dalil phytagoras pada segitiga siku-
siku, dan arah vektor dapat kita cari dengan menggunakan perbandingan
trigonometri tangen.

2 2
V  V x  VY (1)
……………..

VY (2)
tan  = …………………
VX

Perhatikan : Untuk menentukan besar vektor, Anda langsung dapat


menggunakan persamaan (1) dan ingat V selalu positif. Sedangkan untuk
menggunakan persamaan (2) dalam menentukan arah vektor (sudut yang dibentuk
terhadap sumbu X positif) Anda harus memperhatikan tanda Vx dan tanda Vy, yang
akan menentukan letak sudut pada kuadran mana dalam sistem koordinat .

Tabel di bawah ini dapat Anda gunakan untuk menentukan letak kuadran sudut
tersebut.

Tabel 5. Letak Kuadran sudut sebuah vektor

Kuadran I II III IV

VX + - - +

VY + + - -

3. Menyatakan suatu vektor dengan vektor satuan

Telah dipelajari bagaimana suatu vektor yang terletak pada bidang diuraikan atas
komponen-komponennya pada sumbu X dan sumbu Y. Untuk vektor yang terletak
dalam ruang (3 dimensi) maka suatu vektor dapat diuraikan atas komponen-
komponennya pada sumbu X, Y dan Z, gambar C.2 memperlihatkan bagaimana

24
25

suatu vektor A yang terletak dalam ruang diuraikan atas komponen-komponennya


yaitu Ax, Ay, dan Az. Dengan demikian vektor A dapat dinyatakan sebagai:

A = Ax + Ay + AZ

Untuk memudahkan analisis vektor ditetapkan vektor-vektor satuan pada sumbu


X, Y dan Z (Gambar C.2). Vektor satuan ialah sebuah vektor yang besarnya sama
dengan satu satuan.

Vektor satuan pada sumbu X diberi lambang i, pada sumbu Y diberi lambing j,
dan pada sumbu Z diberi lambing k. Sesuai dengan definisi vektor satuan maka:
i=j=k=1
Berdasarkan vektor saruan ini maka vektor A dapat dinyatakan dengan :
A = Ax + Ay + Az Atau A = Axi + Ayj + Azk

Pada gambar C.2 vektor A merupakan diagonal ruang bangun berbentuk balok
dengan rusuk-rusuk Ax, Ay, Az, sehingga besar vektor A adalah:
2 2 2
A AX  AY  AZ

X
Y

AYj

j
i
X
A Xi
k

AZk

Gambar 10 Penguraian vektor pada sumbu Cartesian


Z

Jika vektor A terletak pada bidang XY, maka Az = 0 sehingga vektor A itu hanya
dinyatakan atas vektor satuan i dan j, yaitu :
25
26

A = Axi + Ayj
Dan besar A adalah :
2 2
A= AX  AY

Arah vektor A adalah:


AY
tan   Dengan  adalah sudut terhadap vektor satuan i.
AX

4. Menjumlahkan vektor secara analitis

Telah kita pelajari bagaimana menentukan resultan dua buah vektor dengan cara
jajargenjang. Dengan cara ini sangat sulit bagi siswa yang memulai untuk
menentukan besar resultan lebih dari dua vektor. Untuk mengatasi masalah ini kita
dapat menggunakan cara menjumlahkan vektor secara analitis.

Dalam menentukan resultan vektor secara analitis, maka kita terlebih dahulu kita
uraikan tiap vektor atas komponen-komponennya pada sumbu X dan sumbu Y.
Kemudian kita hitung jumlah nilai semua komponen vektor pada sumbu X dan
sumbu Y

Langkah – langkah penjumlahan vektor secara analitis

1. Uraikan setiap vektor menjadi komponen-komponennya pada sumbu X dan


sumbu Y. Hitung besar komponen-komponen tersebut dengan persamaan-
persamaan : Vx = V cos  dan Vy = V sin 
2. Jumlahkan semua komponen vektor pada sumbu X dan sumbu Y
Rx = Vx = V1x + V2x + V3x + …
Ry = Vy = V1y + V2y + V3y + …
3. Hitung besar dan arah resultan dengan persamaan berikut ( lihat Gambar 11)
2 2
R  Y RX  RY
R

Ry RY
tan  =
RX

0
 Rx
X
Gambar 11 proyeksi vektor pada sumbu Cartesian
26
27

5. Perkalian titik vektor dan perkalian silang vektor

Selain operasi penjumlahan vektor terdapat juga operasi perkalian antara dua
vektor. Ada dua macam operasi perkalian vektor, yaitu perkalian titik vektor (dot
product) dan perkalian silang vektor (cross product).
a. Perkalian titik
Perkalian skalar antara dua vektor A dan B , yang ditulis sebagai A  B
(dibaca “A dot B”), menghasilkan sebuah skalar yang didapat dengan mengalikan
besar A dan besar B serta cosinus sudut apit terkecil antara kedua vektor .

 B

Gambar 12 perkalian dot product antara 2 vektor


A  B = AB cos 

Dengan :
A = besar vektor A
B = besar vektor B
 = sudut apit terkecil antara vektor A dan B
Salah satu besaran fisika yang merupakan hasil perkalian skalar adalah usaha,
yang dirumuskan sebagai :
W = F  s = F s cos 
Dengan :

W = Usaha (joule)

F = vektor gaya, F = besar gaya (N),

s = vektor perpindahan, s = besar perpindahan (m)

 = sudut apit antara F dan s

27
28

Operasi perkalian skalar mengikuti hukum komutatif dalam matematika, yaitu :


AB=BA

b. Perkalian silang
Perkalian vektor antara dua vektor A dan B yang ditulis sebagai A  B
(dibaca “A cross B”), menghasilkan sebuah vektor yang besarnya dirumuskan
oleh :
A  B  = AB Sin 
Dengan :
A = besar vektor A
B = besar vektor B

 = sudut apit terkecil antara kedua vektor A dan B

Arah vektor A  B tegak lurus dengan bidang yang dibentuk oleh vektor A
dan vektor B (bidang H) dan arahnya sesuai arah ibu jari tangan kanan bila ujung
A diputar menuju ujung B (Gambar C.5.a). dari gambar tersebut terlihat bahwa
perkalian vektor tidak bersifat komutatif melainkan antikomutatif.

A B

B
O 
A
H

B A

AB=-BA

Gambar 13 Perkalian cross product antara 2 vektor


Contoh besaran fisika yang merupakan hasil perkalian vektor antara lain luas,
momen gaya, dan gaya Lorentz.

6. Penjumlahan vektor satuan

28
29

Perhatikan contoh penjumlahan vektor satuan berikut.

3i + j - 2k + 2i – 2j + k = (3+2)i + (1-2)j + (-2 + 1)k

= 5i - j – k

a. Perkalian titik dua buah vektor satuan


Perkalian titik vektor-vektor satuan sejenis::
i  i  i  i cos 00

i i  1 1 1

i  i 1

i  i  j j  k  k 1

Dengan cara yang sama didapat


Perkalian titik antara vektor-vektor satuan yang tidak sejenis.
i  j  i  j cos 90 0

 1 1  0 

i  j  0

i  j i  k  j k  0
Dengan cara yang sama didapat Persamaan di atas dapat digabung dan
dinyatakan dengan kalimat sebagai berikut: Perkalian dua vektor satuan sama
dengan satu bila keduanya sejenis, dan sama dengan nol bila keduanya tidak
sejenis.

b. Rumus perkalian titik dua buah vektor


Misalkan vektor A dan B dinyatakan dengan vektor-vektor satuan sebagai
berikut:
A = AX i  AY j  AZ k dan B =
B X i  BY j  BZ k
Dengan menggunakan rumus perkalian skalar dua buah vektor satuan didapat:
A  B =  AX i  AY j  AZ k    B X i  BY j  BZ k 

A  B=
AX Bx  AY BY  AZ B Z
29
30

c. Perkalian silang dua buah vektor satuan


Perkalian silang dua buah vektor satuan yang sejenis :
i  i  i  i sin 0 0

 1 1  0 
i  i  0  i  i  0

Dengan cara yang sama didapat :


i  i  j j  k k  0
Untuk mendapat hasil perkalian silang dua vektor satuan yang tidak sejenis
digunakan diagram lingkaran putar (Gambar 14)

+
_

j 
i

Gambar 14 Perkalian
k vector cross product

Perjanjian tanda yang berlaku dalam diagram lingkaran adalah:


Untuk putaran berlawanan arah jarum jam (putar kiri) tandanya positif,
sedang untuk putaran searah jarum jam (putar kanan) tandanya negative.
Hasil perkalian silang dua vektor satuan yang tidak sejenis, yaitu:

i j k j i  k
ki  j ik  j
jk  i k  j  i

30
31

L. Daftar Pustaka

Tippler. 1998. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta : Erlangga

Kanginan, Marthen.2006. Fisika Untuk SMA Kelas X. Jakarta : Erlangga

31

Anda mungkin juga menyukai