Anda di halaman 1dari 35

TUGAS PKN

Nama : Dian Puspita Sari


Kelas : X.6
No.Absen : 10
Daftar Isi

Bab 1
Hakikat Bangsa dan Negara

Bab 2
Sistem Hukum dan Peradilan Nasional

Bab 3
Hak Asasi Manusia (HAM)
BAB 1
HAKEKAT BANGSA DAN NEGARA

PENGERTIAN BANGSA

Bangsa dalam arti etnis dapat disamakan dengan bangsa


dalam arti rasial atau keturunan.

Dalam arti kultural, bangsa merupakan sekelompok


manusia yang menganut kebudayaan yang sama

Dalam arti politis , bangsa merupakan kelompok manusia


Yang mendukung suatu organisasi kekuasaan yang disebut
Negara tanpa menyelidiki asal usul keturunannya
Pengertian Bangsa menurut para ahli

Ernest Renan (Perancis)


Bangsa terbentuk karena adanya keinginan untuk hidup
bersama (hasrat bersatu) dengan perasaan setia kawan
yang agung.
Otto Bauer (Jerman)
Bangsa adalah kelompok manusia yang mempunyai
persamaan karakter. Karakteristik tumbuh karena adanya
persamaan nasib.
Ratzel (Jerman)
Bangsa terbentuk karena adanya hasrat bersatu.
Hasrat itu timbul karena adanya rasa kesatuan antara
manusia dan tempat tinggalnya (paham geopolitik).
Hans Kohn (Jerman)
Bangsa adalah buah hasil tenaga hidup manusia dalam
sejarah.
PENGERTIAN NEGARA

Kata “negara” yang lazim digunakan di Indonesia berasal


dari bahasa Sansekerta nagari yang berarti wilayah, kota,
atau penguasa.
Pada umumnya ada 3 (tiga) pendekatan dalam mempelajari
terjadinya negara, yaitu
• melalui proses pertumbuhan primer dan
sekunder
• secara teoritis
• secara faktual
a. Pertumbuhan Primer dan Sekunder

Terjadinya negara berdasarkan pendekatan pertumbuhan primer


secara ringkas adalah sebagai berikut:

Fase Genootschaft ( suku)

Fase Rijk (kerajaan)

Fase Staat (negara )

Fase Natie ( nasional/demokrasi)


1.Fase Genootschaft /suku
Kehidupan manusia diawali dan sebuah keluarga, kemudian
berkembang luas menjadi kelompok-kelompok masyarakat hukum
tertentu (suku). Sebagai pimpinan, kepala suku bertanggungjawab
terhadap penyelenggaraan kehidupan bersama. Kepala suku
merupakan primus interpares (orang pertama di antara yang
sederajat) dan memimpin suatu suku, yang kemudian berkembang
luas baik karena faktor alami maupun karena penaklukan-penaklukan.
Kepala suku sebagai primus interpares kemudian menjadi seorang
raja dengan cakupan wilayah yang lebih luas. Untuk menghadapi
kemungkinan adanya wilayah/suku lain yang memberontak, kerajaan
membeli senjata dan membangun semacam angkatan bersenjata yang
kuat sehingga raja menjadi berwibawa. Dengan demikian lambat laun
tumbuh kesadaran akan kebangsaan dalam bentuk negara nasional.
2. Fase Rijk / Fase Kerajaan

Masyarakat hukum yang paling sederhana tadi Menjadi


masyarakat yang lebih maju yaitu kerajaan yang disebut
dengan fase rijk. Pada fase ini kelompok kelompok
individu yang bergabung telah memiliki kesadaran akan
hak milik atas tanah dan menimbulkan penguasa
penguasa
3) Fase Staat / Fase Negara Nasional
Pada awalnya negara nasional diperintah oleh raja yang absolut
dan tersentralisasi. Semua rakyat dipaksa mematuhi kehendak dan
perintah raja. Hanya ada satu identitas kebangsaan. Fase demikian
dinamakan fase nasional.
 
4) Fase Democratische Natie / Fase Negara Demokrasi
Rakyat yang semakin lama memiliki kesadaran kebangsaan
kemudian tidak ingin diperintah oleh raja yang absolut. Ada
keinginan rakyat untuk mengendalikan pemerintahan dan memilih
pemimpinnya sendiri yang dianggap dapat mewujudkan aspirasi
mereka. Fase ini lebih dikenal dengan “kedaulatan rakyat”, yang
pada akhirnya mendorong lahirnya negara demokrasi.
Terbentuknya negara secara sekunder

pendekatan pertumbuhan sekunder, negara sebelumnya telah


ada, namun karena adanya revolusi, intervensi, dan
penaklukan, muncullah negara yang menggantikan negara
yang ada tersebut.

Contoh: lahirnya negara Indonesia setelah melewati revolusi


panjang yang mencapai klimaksnya pada tanggal 17 Agustus
1945. Lahimya negara Indonesia otomatis mengakhiri
pemerintahan Nederlands Indie (Hindia Belanda) di
Indonesia, dan negara lain kemudian mengakuinya baik
secara de facto maupun secara de jure.
b.Pendekatan Teoritis

Pendekatan teoritis pertumbuhan negara adalah pendekatan


yang berdasarkan pada pendapat­pendapat para ahli yang
masuk akal dan berbagai hasil penelitian.

c.Pendekatan faktual

Pendekatan faktual adalah pendekatan yang didasarkan pada


kenyataan-kenyataan yang benar-benar terjadi, yang
diungkap dalam sejarah (kenyataan historis).
Terjadinya negara secara faktual adalah sbb:accopatie
(pendudukan), fusi(peleburan), cessie (penyerahan), accesie
(penarikan), anexatie (pencaplokan), proklamation (kemer
Dekaan), innovation (pembentukan baru), sparatisme (pemi
Sahan).
FUNGSI DAN TUJUAN NEGARA

Fungsi negara pada dasarnya hanya dua, yaitu sebagai berikut:

a. Melaksanakan ketertiban (law and order)


Untuk mencapai tujuan bersama dan mencegah
bentrokan-bentrokan dalam masyarakat, negara harus
melaksanakan ketertiban. Negara bertindak sebagai
stabilisator.
b.Menghendaki kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
fungsi negara dianggap dianggap penting. Setiap negara
mencoba meningkatkan dan memperluas taraf kehidupan
ekonomi masyarakat .
Tujuan Negara

Beberapa teori tujuan negara:


Teori fasisme
Menurut paham fasis, negara bukan ciptaan rakyat melainkan ciptaan Orang kuat,
bila orang kuat sudah membentuk organisasi maka megara wajib menggembleng
dan mengisi jiwa rakyat secara totaliter, dan nasionalisme

Teori Individualisme
Teori individualisme berpendapat bahwa negara tidak boleh campur
tangan dalam urusan pribadi, ekonomi, dan agama bagi warga
negaranya. Tujuan dibentuknya negara hanyalah berfungsi untuk
menjaga keamanan dan ketertiban individu serta menjamin kebebasan
seluas-luasnya dalam memperjuangkan kehidupannya.
Teori Sosialisme

Teori sosialisme berpendapat bahwa negara mempunyai hak campur


tangan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Hal mi dilakukan
agar tujuan negara dapat tercapai. Tujuan negara sosialis adalah
memberikan kebahagiaan yang sebesar-besarnya dan merata bagi setiap
anggota masyarakat.
Teori Integralistik
Teori integralistik berpendapat bahwa tujuan negara itu merupakan
gabungan dan paham individualisme dan sosialisme. Paham
integralistik ingin menggabungkan kemauan rakyat dengan penguasa
(negara). Paham integralistik beranggapan bahwa negara didirikan
bukan hanya untuk kepentingan perorangan atau golongan tertentu
saja, tetapi juga untuk kepentingan seluruh masyarakat negara yang
bersangkutan.
Tujuan Negara Republik Indonesia

Tercantum dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke 4

…..memajukan kesejahteraan umum,


mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial, ………
Pengakuan Kedaulatan

1. Pengakuan Secara de Facto


*Pengakuan de facto yang bersifat tetap
*Pengakuan defacto yang bersifat sementara

2. Pengakuan Secara de Jure


* Pengakuan de jure yang bersifat tetap

* Pengakuan de jure yang bersifat penuh


Pengakuan De Facto

Pengakuan de Facto diberikan oleh suatu negara kepada negara lain yang telah
memenuhi unsur-unsur negara, yaitu negara tersebut telah ada
pemimpinnya/pemerintahannya, ada rakyatnya, dan ada wilayahnya.

Pengakuan de facto menurut sifatnya dapat dibedakan sebagai berikut:


Bersifat tetap, artinya bahwa pengakuan dari negara lain dapat
menimbulkan hubungan bilateral di bidang perdagangan dan ekonomi
(konsul), untuk tingkat diplomatik belum dapat dilaksanakan.

Bersifat sementara, artinya bahwa pengakuan yang diberikan oleh negara


lain tidak melihat jangka panjang apakah negara itu eksis atau tidak. Apabila
ternyata negara tersebut tidak dapat bertahan maka pengakuan terhadap
negara itu dapat ditarik kembali
Pengakuan Secara de Jure
artinya pengakuan terhadap sebuah negara secara resmi berdasarkan hukum
dengan segala konsekwensinya

Dapat dibedakan
atas :

Pengakuan de jure yang bersifat tetap, ini berlaku untuk selama-lamanya


sampai pada waktu yang tidak terbatas.

Pengakuan dejure yang bersfat penuh, ini mempunyai dampak dibukanya


hubungan bilateral di tingkat diplomatik dan konsul sehingga masing­masing
negara akan menempatkan perwakilannya di negara tersebut yang biasanya
dipimpin oleh seorang duta besar yang berkuasa penuh.
BAB 2
SISTEM HUKUM DAN PERADILAN
NASIONAL

a. Pengertian Sistem
Kata “sistem” dalam Kamus Umum Bahasa
Indonesia mengandung arti susunan kesatuan-
kesatuan yang masing-masing tidak berdiri sendiri-
sendiri, tetapi berfungsi membentuk kesatuan
secara keseluruhan
Unsur-unsur dalam sistem mencakup :
• Seperangkat komponen, elemen, bagian.
• Saling berkaitan dan tergantung.
• Kesatuan yang terintergrasi.
• Memiliki peranan dan tujuan tertentu.
• Interaksi antar sistem membentuk sistem lain yang lebih
besar.
b.Tujuan Hukum

Hukum mempunyai sifat mengatur dan memaksa.


Tujuan dibuatnya hukum menurut sebagian pakar
adalah sbb :

No Tokoh/ Pakar Pendapat Yang Dikemukakan


1. Subekti, S.H. Hukum itu mengabdi pada tujuan negara, yang
mendatangkan atau ingin mencapai kemakmu-ran dan
kebahagiaan pada rakyatnya.
2. Van Apeeldoorn Mengatur pergaulan oleh hukum dengan melin-dungi
kepentingan-kepentingan hukum manusia tertentu,
(kehormatan, kemerdekaan jiwa, harta benda) dari
pihak yang merugikan.
3. Y. Van Kant Tujuan hukum adalah untuk menjaga agar
kepentingan tiap-tiap manusia tidak diganggu.
4. Geny Hukum bertujuan semata-mata untuk mencapai
keadilan. Sebagai unsur keadilan, ada kepenti-ngan
daya guna dan kemanfaatan.
c.Sumber Hukum

Sumber hukum adalah segala yang menimbulkan aturan yang


mempu-nyai kekuatan memaksa, yakni aturan-aturan yang
pelanggarannya dikenai sanki yang tegas dan nyata. Sumber
hukum dibedakan antara sumber hukum “material” dan sumber
hukum “formal” .

Macam-macam Sumber Hukum :


1. Undang-undang,
2. Traktat,
3. Kebiasaan (hk tidak tertulis),
4. Doktrin, dan
5. Yurisprudensi,
Tata Urutan Peraturan Perundang-
undangan
(TAP MPR No. III/MPR/2003)

Tata Urutan Peraturan Perundang-Undangan,


merupakan pedoman pembuatan aturan hukum di
bawahnya. Tata urutan peraturan perundang-
undangan Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Undang-undang Dasar 1945 ;

2. Ketetapan MPR-RI ;
3. Undang-undang ;
4. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
undang (Perpu) ;
5. Peraturan Pemerintah ;
6. Keputusan Presiden ; dan
7. Peraturan Daerah
d.Sanksi Hukum

Macam-macam sanksi Pidana (Pasal 10 KUHP) :


1. Hukuman Pokok, yang terdiri dari :
a. Hukuman Mati
b. Hukuman Penjara, yang terdiri dari :
1) Hukuman seumur hidup
2) Hukuman sementara waktu (setinggi-tingginya 20 tahun
dan
sekurang-kurangnya 1 tahun)
c. Hukuman Kurungan (setinggi-tingginya 1 tahun dan sekurang-
kurangnya 1 hari).
2. Hukuman Tambahan, yang terdiri dari :
a. Pencabutan hak-hak tertentu.
b. Perampasan (penyitaan) barang-barang tertentu.
c. Pengumuman keputusan hakim.
e.Perbedaan Hukum Pidana
Dan Perdata

Hukum Pidana, pelanggar hukum pada umumnya


segera disikapi oleh pengadilan setelah menerima
berkas polisi yg mengadakan penyelidikan dan
penyidikan. Tindakan Pidana (delik) disengaja
disebut delik doloes, & yg tidak sengaja disebut
delik coelpa.
Berdasarkan isi

Hukum Perdata, pelanggar hukum perdata baru dapat


disikapi oleh pengadilan setelah ada pengaduan dari
pihak yang merasa dirugikan. Di sini, ada pihak yg
mengadu (penggugat) dan pihak yang diadukan
(tergugat).
f.Peradilan Nasional

Pasal 1 UU No. 4/2004, bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh


MA dan badan peradilan di bawahnya dalam lingkungan ; Peradilan
Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer, Peradilan Tata Usaha
Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.

Mahkamah
Agung

Pengadilan Tinggi Pengadilan Pengadilan Tinggi Pengadilan Tinggi Tata


Umum/Sipil Tinggi Militer Usaha Negara

Pengadilan Negeri Pengadilan Pengadilan Pengadilan Tata


Umum/Sipil Negeri Militer Usaha Negara
2. Peranan Lembaga-lembaga Peradilan
a. Pengadilan Negeri (Tingkat Pertama)
Fungsi pengadilan negeri adalah memeriksa
tentang sah atau tidaknya suatu penangkapan atau
penaha-nan yg diajukan oleh tersangka, keluarga
atau kuasanya kpd Ketua Pengadilan dengan
menyebutkan alasan-alasannya
Tugas dan wewenang pengadilan negeri adalah
memeriksa, memutus, dan menyelesaikan
perkara pidana dan perdata di tingkat pertama.
Tindak pidana yg pemeriksaannya hrs didahulukan, yaitu :
Korupsi, Terorisme, Narkotika/psikotropika, Pencucian
uang, atau yang ditentukan oleh UU dan perkara yang
terdakwanya berada di dalam Rumah Tahanan Negara.
b. Pengadilan Tinggi (Tingkat Kedua)
Pengadilan Tinggi berkedudukan di ibukota Provinsi,
dan daerah hukumnya meliputi wilayah Provinsi
(Pengadilan Tingkat Banding).

Fungsi Pengadilan Tinggi adalah.


• Menjadi pemimpin bagi pengadilan-pengadilan
Negeri di dalam daerah hukumnya.
• Melakukan pengawasan terhadap jalannya
peradilan di dalam daerah hukumnya dan menjaga
supaya peradilan itu diselesaikan dengan seksama
dan sewajarnya.
• Mengawasi dan meneliti perbuatan para hakim
pengadilan negeri di daerah hukumnya.
• Untuk kepentingan negara dan keadilan,
Pengadilan Tinggi dpt memberi peringatan,
teguran, & petunjuk yg dipandang perlu kepada
Pengadilan Negeri dalam daerah hukumnya.
Wewenang Pengadilan Tinggi adalah :
• Mengadili perkara yang diputus oleh pengadilan negeri
dalam daerah hukumnya yang dimintakan banding.
• Berwenang untuk memerintahkan pengiriman berkas-
berkas perkara dan surat-surat untuk diteliti dan memberi
penilaian tentang kecakapan dan kerajinan para hakim.

Wewenang Mahkamah Agung :


• Memeriksa dan memutus permohonan kasasi, (terhadap putusan Pengadilan
Tingkat Banding atau Tingkat Terakhir dari semua Lingkungan Peradilan),
• Memeriksa dan memutus sengketa tentang kewenangan mengadili,
• Memeriksa dan memutus permohonan peninjauan kembali putusan Pengadilan
yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap,
• Menguji secara materiil hanya terhadap peraturan perundang-undangan di
bawah undang-undang,
• Meminta keterangan tentang hal-hal yang bersangkutan dengan teknis peradilan
dari semua Lingkungan Peradilan,
• Memberi teguran, atau peringatan yang dipandang perlu kepada Pengadilan di
semua Lingkungan Peradilan, dengan tidak mengurangi kebebasan Hakim
dalam memeriksa dan memutus perkara.
• Memeriksa dan memutus permohonan peninjauan kembali pada tingkat pertama
dan terakhir atas putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap.
3. Mahkamah Agung (Tingkat Kasasi
Daerah hukum MA meliputi seluruh Indonesia dan kewajiban
utamanya adalah melakukan pengawasan tertinggi atas tindakan-
tindakan segala pengadilan lainnya diseluruh Indonesia, dan
menjaga/menjamin agar hukum dilaksanakan dengan sepatutnya

Tugas atau Fungsi Mahkamah Agung :


• Melakukan pengawasan tertinggi thd penyelenggaraan
peradilan di semua lingkungan peradilan dlm menjalankan
kekuasaan kehakiman.
• Mengawasi tingkah laku dan perbuatan para Hakim disemua
lingku-ngan peradilan dalam menjalankan tugasnya.
• Mengawasi dengan cermat semua perbuatan-perbuatan para
hakim di semua lingkungan peradilan.
• Untuk kepentingan negara dan keadilan Mahkamah Agung
memberi peringatan, teguran, dan petunjuk yang dipandang
perlu baik dengan surat tersendiri, maupun dengan surat
edaran.
d. Mahkamah Konstitusi

Mahkamah Konstitusi sesuai UU No. 24/2003, memiliki


wewenang dan kewajiban :
• Wewenang, mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final untuk menguji UU terhadap UUD,
memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang
kewenangannya diberikan oleh UUD 1945, memutus
pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan
Pemilihan Umum.
• Kewajiban, yaitu memberi putusan atas pendapat DPR
mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil
Presiden menurut UUD 1945.
BAB 3
HAK ASASI MANUSIA (HAM)

HAM adalah hak pokok atau hak dasar yang dibawa


oleh manusia sejak lahir yang secara kodrat melekat
pada setiap manusia dan tidak dapat diganggu
gugat karena merupakan anugrah Tuhan YME

HAM berdasarkan UU No. 39/1999 Pasal 1 angka 1


adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat
keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan YME
dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati,
dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara,hukum,
pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta
perlindungan harkat dan martabat manusia.
Macam-macam HAM:
a. Hak Asasi Pribadi
yaitu hak kemerdekaan memeluk agama, beribadah menurut agama
masing-masing, menyatakan pendapat dan kebebasan berorganisasi
atau berserikat.
b. Hak Asasi Ekonomi atau Hak Milik
yaitu hak asasi ekonomi atau hak milik, yaitu hak kebebasan memiliki
sesuatu, hak membeli dan menjual sesuatu, serta hak mengadakan
suatu perjanjian atau kontrak.
c. Hak Asasi Persamaan Hukum
yaitu hak asasi persamaan hukum, yaitu hak memperoleh perlakuan
yang sama dalam keadilan hukum dan pemerintahan.
d. Hak Asasi Politik
yaitu hak diakui dalam kedudukan sebagai warga negara yang
sederajat.
e. Hak Asasi Sosial dan Kebudayaan
yaitu kebebasan hak untuk memperoleh pendidikan dan hak
mengembangkan kebudayaan yang disukai.
f. Hak Asasi Perlakuan Tata Cara Peradilan Perlindungan Hukum
yaitu hak asasi perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan hukum,
yaitu hak mendapat perlakuan yang wajar dan adil dalam
penggeledahan (razia, penangkapan, peradilan, dan pembelaan hukum)
Sumber Hukum HAM:
1. UUD 1945 Pasal 27 s/d 31 ditambah dengan Pasal 28A -28J

2. Ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998 memuat tentang hak asasi


manusia antara lain : hak untuk hidup, hak untuk berkeluarga
dan melanjutkan keturunan, hak mengembangkan  diri,  hak
mendapatkan keadilan, hak untuk mendapatkan keamanan, hak
kesejahteraan, hak kemerdekaan dan hak atas informasi.
Sedangkan kewajiban asasi yang diatur dalam ketetapan ini
adalah wajib menghormati hak asasi orang lain, wajib untuk ikut
serta dalam usaha pembelaan negara dan wajib tunduk pada
pembatasan-pembatasan yang ditetapkan uu.

3. UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM


HAM yang diatur dalam undang-undang ini antara lain: Hak untuk
hidup, hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan, hak
mengembangkan diri, hak mendapatkan keadilan, hak rasa
aman, hak atas kebebasan pribadi dll.
Instrumen HAM Internasional :

1. DUHAM
2. ECOSOC
3. CAT

Lembaga HAM Indonesia :

1. KOMNAS HAM
Dibentuk tanggal 7 Juni 1993 dengan Keppres No. 5 Tahun 1993.
Fungsinya : Mediasi, penyuluhan, pengkajian dan penelitian dan
pemantauan.
2. Pengadilan HAM
Menurut UU No. 26 Tahun 2000
3. Pengadilan HAM Ad.Hoc adalah untuk menyelesaikan perkara
HAM yang terjadi sebelum ada UU No. 26 Tahun 2000. Penangan ini
atas usul DPR dengan keputusan Presiden.
4. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, merupakan alternatif
penyelesaian pelanggaran HAM berat di luar pengadilan HAM yang
dibentuk dengan undang-undang.
Peradilan HAM Internatioanl :

Perlindungan HAM international dapat dilakukan


melalui lembaga internasional melalui lembaga
international seperti Komisi HAM-PBB dan
Mahkamah International.
Yang termasuk  pelanggaran HAM yang berat:
1. Genoside (pemusnahan massal terhadap
kelompok etnis atau penganut agama tertentu.
2. Kejahatan kemanusiaan : penganiayaan,
penghilangan orang secara paksa,
3. kejahatan perang
4. penyerangan suatu bangsa atau negara
terhadap negara lain.