Anda di halaman 1dari 7

(SC)

Meu-en
Casho, malam hari ketika hujan deras turun. Seseorang berjas hujan
membawa tas hitam menyusuri gang kecil. Di sana ia bertemu dengan pria lain dan
menyerahkan tas hitam itu. Ia membuka tas itu untuk menunjukkan kotak hitam
yang dicari pria kedua ada di dalamnya. Tetapi pria itu menodongnya dengan pistol
dan menyuruhnya membuka kotak hitam berkode. Ketika dibuka, ternyata kotak
hitam itu kosong. Suara tembakan terdengar, lalu hujan.
Stasiun kota Casho, beberapa hari kemudian. Seorang penjambret dikejar-
kejar oleh polisi stasiun karena mencuri tas seorang ibu. Penjambret itu melewati
Feneree yang berdiri di dekat trolly. Feneree menendang trolly itu sehingga trolly itu
meluncur tepat di depan si penjambret dan membuatnya jatuh tersungkur menabrak
Refisen yang berdiri tepat di depannya. Makanan Refisen tumpah sehingga ia marah
besar dan memukuli penjahat itu sampai pingsan. Atas jasanya, polisi berhasil
menangkap si penjambret.
Rugger, inspektur dari Casho yang kebetulan ada di stasiun itu dan
membantu penangkapan penjambret berterima kasih pada Refisen atas bantuannya.
Ia menyerahkan urusan si penjambret pada polisi stasiun yang berwenang. Kemudian
menawari Refisen sarapan bersama. Awalnya Refisen tidak mau, tetapi Feneree tiba-
tiba muncul dan meminta ikut ditraktir. Rugger mengenalinya sebagai anak yang
menendang trolly tapi tidak bilang apa-apa. Mereka saling memperkenalkan diri lalu
Rugger mentraktir mereka semua di kafe stasiun.
Mereka makan-makan di salah satu kafe stasiun sambil menceritakan tujuan
perjalanan mereka. Rugger mengaku sebagai inspektur Casho yang mendapat tugas
di Tratahensee. Feneree mengaku seorang siswa SMP di Tratahensee yang mau
pulang dari liburannya di Casho. Sedangkan Refisen mengaku punya sedikit urusan
di Tratahensee. Ketika mereka sedang makan terdengar pengumuman bahwa kereta
mereka yang sama-sama menuju Tratahensee ditunda 5 jam karena kerusakan
mesin. Refisen marah-marah karena hal itu. Feneree melihat jam yang ada di dinding
kafe. Ia melihat bayangan seseorang dengan syal tinggi di sana (sniper).
Tidak lama kemudian, Rugger mendapat panggilan di HT-nya. Ia terdengar
bercakap-cakap dengan seseorang lewat HT. Lalu Terain muncul di samping Refisen
dan langsung duduk di sana. Refisen kesal karena Terain duduk begitu saja, bahkan
menyerobot makanan yang sudah dipesannya tadi. Rugger mengucapkan ‘Il Hetia’
ketika bicara di HT, ia terus bicara ketika Terain dan Refisen sudah saling pandang
dan bertengkar mulut. Rugger mengaku mendapat panggilan pada Refisen dan
Feneree sehingga ia harus segera pergi dan membayar semua pesanan mereka.
Setelah Rugger pergi, Refisen bertengkar dengan Terain karena menganggap
Terain tidak sopan dan seenaknya sendiri tetapi Terain tidak peduli. Feneree dengan
senangnya mengajak Terain berkenalan. Terain hanya mengenalkan namanya tetapi
tidak tertarik menceritakan tujuannya. Ketika mereka sedang berbicara seekor
kucing hitam lewat. Feneree memanggil kucing itu lalu bermain-main dengannya.
Tidak lama kemudian beberapa orang berpakaian pelayan mendatanginya dan
meminta kucing yang katanya milik bos mereka itu.
Akhirnya kereta mereka datang. Refisen dengan gembira naik ke kereta. Dia
mencari nomor kompartemennya dan secara kebetulan dia ada di kompartemen
yang sama dengan Feneree. Refisen sangat kesal karena dia benci Feneree tetapi
Feneree sangat senang bertemu dengan Refisen lagi.
Malam harinya seorang pelayan makanan membagikan kopi gratis untuk para
penumpang. Refisen yang belum pernah naik kereta sebelumnya menolaknya karena
mengira harus membeli sehingga ia ditertawai Feneree. Refisen kesal lalu pura-pura
tidur di balik selimut.
Kereta terus berjalan. Di gudang kereta terjadi perkelahian antara 2 orang.
Perkelahiannya tidak begitu jelas karena gelap, tetapi salah satu dari antara 2 orang
itu terbunuh. Pintu gudang terbuka dan seorang koki tiba-tiba berteriak. Yang
terbunuh itu temannya.
Tengah malam, ketika semua orang sudah tidur, Feneree masih terjaga. Dia
mengintip keluar jendela kereta. Tiba-tiba ada cahaya kelap kelip yang memancar
dari arah belakang kereta. Feneree mendengar bunyi kereta lain mendekat. Gorden
ditutup. Refisen langsung membungkam mulut Feneree agar tidak bersuara. Kereta
lain lewat di samping kereta mereka. Cahaya kelap kelip itu tetap memancar, kode
morse (kode markas rahasia tempat pertemuan pemberontak).
Keesokan harinya, Refisen dan Feneree pergi ke kereta makan untuk sarapan.
Ketika akan makan, Feneree melihat seorang wanita muda yang membawa nampan
makanan dan sebuah buku peta jalur kereta api di tangannya. Feneree berpura-pura
menjatuhkan sendoknya lalu menabrak wanita itu ketika akan memungut sendok.
Buku peta itu jatuh. Feneree mengambilnya lalu membalik-balik halmannya sekilas
dan mengembalikan pada perempuan itu sambil meminta maaf (E140). Wanita itu
pergi. Refisen dan Feneree melanjutkan makan mereka sambil ngobrol. Feneree
melihat di pintu dekat dapur, beberapa koki menggerombol dan salah seorang di
antara mereka terlihat menangis (koki yang menemukan mayat), ada beberapa polisi
di sana termasuk Rugger.
Terain ternyata juga ada dikereta itu dan dia sedang mengantri makanan di
bar. Seorang koki terlihat bercakap-cakap dengannya lalu memberikan kopi kaleng
dan makanan. Terain duduk di meja yang agak jauh lalu makan. Dia membuka
kaleng kopinya lalu meminumnya sampai habis. Ketika dibuang di tempat sampah
ada sebagian merek kaleng yang terkelupas dengan tulisan yang tidak terlalu jelas,
‘tikus’.
Setelah makan, Refisen dan Feneree kembali ke gerbong mereka. Ketika
berada di perbatasan gerbong mereka ditembak dari luar kereta dengan bowgun.
Meleset, panah bowgun menancap di dinding. Refisen mengambilnya sebelum
segerombolan penumpang lain lewat di sana dan masuk ke gerbong berikutnya.
Ketika sudah sepi, ia mengeluarkan panah itu dan mengambil surat yang diikatkan di
sana. Ternyata itu surat ancaman karena mereka ‘terlalu ingin tahu’.
Mereka sudah berada di kompartemennya. Refisen kesal karena dia harus
terlibat masalah yang sebenarnya bukan urusannya. Feneree menyarankan mereka
mencari bantuan pada polisi tetapi Refisen tidak tahu di mana harus mencari polisi.
Feneree bilang kalau Rugger dan anak buahnya ada di gerbong VVIP di paling
belakang. Jadi mereka pergi ke sana.
Gerbong VVIP pada saat yang hampir bersamaan. Crevacna, seorang diplomat
yang ternyata pemilik kucing hitam kesal dan merasa sangat ketakutan karena ada
teror di kereta api itu. Ia membawa kotak hitam yang menjadi incaran. Rugger dan
anak buahnya ternyata mendapat tugas untuk melindungi kotak hitam dan Crevacna.
Ada seorang polisi yang berjaga di depan sementara yang lainnya di dalam gerbong
bersama dengan Rugger, Crevacna, dan beberapa ajudannya. Crevacna juga kesal
dan heran karena bantuan dari Odseii tidak kunjung datang.
Refisen dan Feneree sampai juga ke sambungan gerbong VVIP, satu gerbong
sebelumnya dikosongkan untuk alasan keamanan. Mereka tidak diizinkan masuk oleh
polisi yang berjaga karena ada pembicaraan antara Rugger dan Crevacna. Kereta
membelok, tiba-tiba polisi itu ditembak oleh sniper yang berada di gerbong lain, 2
gerbong di depan gerbong VVIP. Polisi itu mati di tempat. Kemudian sniper
menembakkan beberapa tembakan lagi tetapi Refisen dan Feneree berhasil
bersembunyi sehingga tidak kena tembakan.
Begitu mendengar bunyi tembakan, seorang pembajak kereta yang
menyamar sebagai polisi di dalam gerbong VVIP langsung memukul Rugger sampai
pingsan kemudian menembaki semua polisi lainnya. Refisen mendengar Crevacna
berteriak sehingga ia menggunakan mayat polisi yang ada di depan gerbong untuk
menahan tembakan sniper. Refisen berhasil mendobrak pintu dan masuk ke
gerbong. Semua ajudan dan polisi lain selain Rugger sudah mati. Si pembajak
memukul Crevacna sampai pingsan lalu merebut kotak hitam. Kucing milik Crevacna
ketakutan dan lari. Refisen mengejar si pembajak yang naik ke atap gerbong. Tetapi
begitu kereta melewati terowongan yang gelap pembajak itu menghilang.
Di gerbong 4, seorang pelayan kereta (ia koki yang menemukan mayat)
sedang membawa kereta dorong makanan berkeliling gerbong. Wanita yang tadi
pagi membawa peta ada di gerbong itu. Ia memanggil si pelayan untuk memesan
makanan. Di samping wanita itu duduk seorang pria bertopi yang memesan
‘Varfvaree’ pada pelayan. Si pelayan mengeluarkan minuman dalam botol
bergambar 2 anak kecil dan 2 buah pedang bersilang di belakangnya (kode untuk
membunuh Refisen dan Feneree). Setelah itu si pelayan pergi.
Dua orang polisi yang duduk di salah satu kompartemen gerbong 6 merasa
kebingungan karena kehilangan kontak dengan Rugger. Salah satu dari mereka
keluar mencari toilet yang ada di sambungan gerbong. Di sana ia bertemu Feneree
yang sedang menangis. Karena merasa kasihan ia menanyai Feneree yang mengaku
kehilangan ibunya ketika keluar dari kereta makan. Feneree terus menangis
sehingga polisi itu harus mengiming-iminginya dengan coklat dan membawanya ke
kompartemennya. Ketika berjalan ke kompartemen si polisi, Feneree melihat si
sniper duduk di salah satu kompartemen di dekat pintu. Ia mengacuhkannya dan
mengikuti polisi ke dalam kompartemen.
Refisen melihat kaca salah satu gerbong sudah pecah. Ia menduga si pencuri
kotak hitam pasti memecah kaca itu untuk masuk ke dalam jadi ia masuk ke sana.
Ternyata itu adalah dapur kereta. Tetapi si pencuri tidak ada di sana. Ia malah
bertemu dengan Terain yang sudah menunggunya di situ. Terain bilang kalau ia
ditugaskan untuk membunuh Refisen. Refisen marah karena Terain
memperlakukannya seperti korban pembunuh bayaran. Tetapi ketika Refisen
berbicara, Terain sudah menyerangnya dengan teknik Houza.
Refisen ketika kecil sedang duduk-duduk dengan ayahnya di pos jaga
kampung. Ayahnya menceritakan tentang 2 kekuatan besar yang paling ditakuti di
kalangan pembunuh bayaran dan dunia hitam, Houza dan Staerfcanssar. Houza
adalah teknik yang mengandalkan kecepatan dan serangan fisik sehingga dapat
menimbulkan kerusakan yang fatal. Staerfcanssar adalah teknik mental yang ‘tidak
terlihat’. Dengan kata lain Houza adalah pedang yang terlihat sedangkan
Staerfcanssar adalah pedang yang tidak terlihat. Sejak pertama kali muncul, Houza
yang diwarisi oleh klan Haish selalu bertempur dengan Staerfcanssar yang diwarisi
klan Kiza. Seperti pertempuran yang sudah ‘ditakdirkan’.
Refisen berhasil mengelakkan serangan Terain dengan dasar dari teknik
Staerfcansar, ‘membaca’. Terain terkejut dan mundur beberapa langkah. Lalu
Refisen dengan bangga mengenalkan dirinya sebagai Kiza Refisen. Terain tertawa
mendengarnya karena tidak ada Kiza yang bermata hijau, semua keluarga Kiza
bermata emas. Refisen kesal mendengarnya tapi Terain langsung memperkenalkan
dirinya sebagai Terain Haish.
Mereka bertarung di dapur itu dengan memanfaatkan semua benda yang bisa
mereka temukan di sana sehingga dapur menjadi berantakan. Akhirnya Terain
menemukan deretan botol bir dan menggunakan efek sodanya untuk menembak
mata Refisen dengan tutup botol.
Si polisi mengenalkan Feneree pada temannya. Mereka memperkenalkan diri
sebagai Sto dan Vazs. Feneree merengek meminta coklat lagi pada Vazs. Begitu
diberi coklat ia meremas coklat itu lalu memakainya untuk menuliskan sesuatu di
meja. Vazs dan Sto mulanya terkejut dan mencoba mencegah tetapi tidak jadi begitu
mereka melihat apa yang ditulis Feneree di meja. ‘Aku diincar’ dan ‘E-140’. Vazs dan
Sto langsung berpura-pura menanyai Feneree soal ibunya sehingga Feneree
menceritakan ‘liburannya’ dan bagaimana dia kehilangan ibunya. Sto memberinya
piring kereta yang putih sehingga Feneree bisa menuliskan pesannya dengan jelas di
sana. Ia memberitahu posisi si sniper di gerbong itu.
Sementara si sniper mendengarkan cerita liburan Feneree dari
kompartemennya merasa bahwa mungkin dia sudah ketahuan. Dia menyiapkan
pistolnya dan berniat membunuh Feneree. Ketika ia akan keluar ruangan, ia
mendengar Sto minta izin pada Vazs untuk ke WC lagi karena tadi dia belum sempat
kencing. Sto sengaja menabrak si sniper ketika berpapasan di jalan. Ia marah-marah
pada si sniper dan memaki-makinya. Si sniper kebingungan karena tangannya masih
memegang pistol yang disembunyikan di balik jaketnya. Apalagi semua penumpang
sekarang mengawasi mereka berdua karena membuat keributan di kereta. Tiba-tiba
Sto menusuk si sniper dengan jarum bius dan mendorongnya sehingga si sniper
tampak oleng. Ia memarahi si sniper dan menuduhnya mabuk lalu membawanya
kembali ke kompartemennya.
Sto langsung memborgol si sniper di kursinya. Ia mendengar Vazs bercerita
pada Feneree kalau ia pernah menyembunyikan vas kesayangan ibunya yang pecah
di kolong kursi. Maka ia segera mengecek kolong kursi di kompartemen sniper.
Sebuah senapan khusus sniper lengkap dengan teropong dan amunisinya.
Sementara itu ternyata si pencuri berada di salah satu WC. Ia menemui
temannya di sana lalu mengeluarkan kotak hitam. Mereka mencoba membuka kotak
hitam itu dengan kode yang diberikan si pencuri tetapi saat itu Rugger tiba-tiba
membuka pintu WC dan menodong mereka dengan pistol. Rugger menembak
mereka.

Refisen berhasil menghindari tutup botol bir yang ditembakkan Terain. Tetapi
Terain tiba-tiba muncul, menjatuhkan Refisen dan menusukkan pisau padanya (angle
dr samping, pisaunya terlihat menusuk).
Sto, Vazs, dan Feneree cuma punya waktu 3 jam sebelum kereta itu berhenti
di stasiun E-140 untuk mengisi bahan bakar. Jika kereta itu sudah berhenti di stasiun,
para pembajak itu bisa dengan mudah kabur dan rencana mereka gagal total.
Feneree pergi ke gerbong 5, tempat kompartmennya. Di sana ia bertemu
dengan koki yang menerima kode Varfvaree. Ia melihat tulisan ‘Il Hetia’ di gantungan
kunci yang keluar dari saku koki itu. Koki itu melewatinya beberapa meter sebelum
Feneree memanggilnya untuk membeli senter (kereta dorongnya menjual macam-
macam barang). Ketika menerima uang kembalian, Feneree mengamati terus wajah
si koki yang murung lalu menyuruhnya untuk ceria. Si koki mulanya terkejut. Feneree
mengambil jarak beberapa langkah lalu memainkan sulap dengan mengeluarkan
kartu-kartu bergambar kereta api. Ia menyebut satu per satu bagian dari kereta api
dalam sebuah cerita perjalanan sebagai ‘mantra’. Wajah koki sedikit berubah ketika
ia menyebut kata ‘pelayan’ dan ‘dapur’. Kemudian Feneree menghilangkan semua
kartu itu dan memunculkan senter. Ia menyalakan senternya dan menyuruh si koki
untuk tersenyum karena orang yang bekerja di kereta api tentunya menyukai kereta
api. Dia juga menyukai kereta api dan perjalanan ini. Si koki merasa terharu dengan
ketulusan Feneree lalu bilang terima kasih. Feneree pergi.
Sto mencari para pembajak lain di kereta dan sampai di gerbong 3 tempat si
wanita dan pria yang memberi kode Varfvaree. Ia menduga mereka adalah pembajak
karena peta jalur kereta api yang dibawa oleh wanita itu. Tidak biasanya seorang
penumpang yang sudah naik ke atas kereta api harus membaca peta jalur kereta api
bukannya peta tempat wisata. Apalagi wanita itu memakai jam tangan. Jadi ia pura-
pura meminjam peta itu. Tetapi pria yang duduk di sebelahnya langsung
menembaknya. Sto berhasil menghindar sehingga pelurunya hanya menyerempet.
Para penumpang ketakutan. Sto balas menembak dan berhasil menjatuhkan
pembajak cowok. Si wanita mengeluarkan pistolnya dan berniat menghabisi Sto
tetapi kereta berbelok dan Sto menembak lebih cepat sehingga pistol wanita itu
terlempar keluar kereta. Wanita itu kesal dan langsung memukul Sto lalu kabur. Sto
menenangkan penumpang dengan mengaku sebagai polisi. Ia memborgol penjahat
cowok dan menyita pistol dan senapan yang ditemukannya di kompartemen itu lalu
memberikannya pada 2 orang penumpang pria untuk berjaga-jaga. Dia yakin tidak
ada pembajak lain di sana karena tidak ada yang bereaksi ketika ia menembaki para
pembajak.
Rugger ternyata adalah pimpinan para pembajak.. Pistol yang
ditembakkannya tadi hanya berisi bunga-bunga untuk mengejutkan 2 temannya
yang mencuri kotak hitam. Dia mengambil kotak hitam itu karena mengaku tahu
kode kunci aslinya dari Crevacna. 2 pembajak itu disuruh membunuh Refisen dan
Feneree karena mereka sudah melihat kode morse malam harinya. Kotak hitam itu
disimpan sendiri oleh Rugger.
Di saat yang bersamaan Refisen ternyata mengepit pisau yang ditusukkan
Terain. Ia berhasil memukul balik Terain tepat saat kucing hitam Crevacna lewat di
sana. Refisen mengejar kucing yang lari ke arah belakang (ruang pelayan) dan
melempar panci untuk menutupi pandangan Terain. Terain mengejarnya sampai ke
sambungan gerbong pelayan tetapi tidak menemukannya karena Refisen dan kucing
menempel di langit-langit gerbong.
Refisen dan kucing masuk ke WC ketika melihat Terain sudah tidak ada di
sana. Mereka mendengar suara Terain dan si koki ada di dekat ruang pelayan.
Kemudian suara Terain pelan-pelan menjauh dan menghilang. Refisen menduganya
naik ke atap kereta. Jadi ia memutuskan untuk menjebol kloset kereta lalu turun ke
bawah kereta setelah membersihkannya dengan air. Ia dan kucing berusaha untuk
pindah ke gerbong depan tanpa melewati koki atau Terain, lewat bawah.
Feneree pergi ke dapur yang sudah berantakan. Dia menemukan ruang
pendingin di dekat ruang pelayan. Ketika ia membuka pintunya ternyata di sana ada
mayat koki (aslinya dia utusan Odseii) yang kemarin dibunuh. Ia masuk ke dalam
lemari pendingin dan menutup pintunya sehingga hanya tersisa celah kecil kemudian
mulai memeriksa mayat itu. Ia melihat salah satu kancing baju koki itu ada yang
rusak seperti mau dicabut paksa oleh dirinya sendiri. Jadi ia membalikkan kancing
itu. Tidak ada apa-apa. Tetapi Feneree menemukan kalau bagian dalam baju koki itu
ada lapisan tambahan yang dijahit tipis menyatu dengan lapisan aslinya. Ia
membuka lapisan tambahan itu dan menemukan tulisan yang ditulis di bagian
dalamnya, kode pembuka kotak hitam adalah ‘5 dari 9’.
Tiba-tiba koki penjahat (yang menemukan mayat) menemukannya di sana.
Koki itu mau membunuh Feneree. Ia ingat pesan yang diberikan Rugger ketika
mereka bertemu di gerbong makan untuk membunuh Feneree. Koki itu sebenarnya
sangat sedih dan tidak ingin melanjutkan misi itu atau membunuh lagi karena ia
harus kehilangan teman baik yang harus dibunuhnya sendiri (koki yang mati). Tapi
Rugger mengingatkannya untuk tidak mengecewakan keluarganya dan teman-
temannya, ia harus membunuh Feneree dan menuntaskan misi. Koki itu menembak
tapi meleset. Ia tidak bisa membunuh Feneree lalu pergi.
Di lokomotif seorang pembajak (orang yang ditemui Rugger di WC selain
pencuri) muncul dan menodong masinis untuk menghentikan kereta di E-140. Tapi ia
ditembak mati oleh Vazs dari belakang. Vazs minta masinis yang ketakutan untuk
menggunakan bahan bakar cadangan sehingga mereka tidak perlu berhenti di E-140.
Mereka bisa berhenti di E-141, stasiun setelah E-140 dan itu memberi mereka
tambahan waktu 1 jam.
Refisen dan kucing yang sudah menyusuri bagian bawah kereta sampai di
gerbong 3 dan mereka memutuskan untuk naik ke sana. Tidak disangka ketika ia
masuk ke dalam gerbong dengan menjebol kaca dan membuat para penumpang
panik, si pencuri yang menyamar sebagai penumpang juga ikut terkejut dan
langsung melompat dari tempat duduknya. Refisen langsung tahu itu adalah orang
yang dicarinya. Ia berkelahi dengan pencuri itu dan berhasil membuatnya pingsan
dengan dukungan penumpang di gerbong itu. Refisen mengaku kalau dia diincar
pembajak.
Sto masih kejar-kejaran dengan pembajak wanita. Mereka akhirnya saling
bertemu di gerbong 1. Sto mencoba menghentikan pembajak itu tetapi gagal dan
pembajak itu berhasil berputar balik ke gerbong 2. Ketika Sto sampai di gerbong 2,
wanita itu langsung menahan seorang ibu-ibu sebagai sandera dengan pisaunya. Sto
tidak bisa berbuah apa-apa. Tiba-tiba seorang kakek yang kesal memukul wanita itu
dari belakang. Wanita itu menyabet si kakek dan Sto yang mencoba menolong. Ia
bahkan berhasil merebut pistol Sto dan menembaknya sekali. Tetapi seluruh
penumpang di gerbong itu mengeroyoknya sehingga ia tidak berkutik. Sto bangkit
dan melumpuhkan wanita itu.
Rugger ternyata sudah ada di gerbong VVIP. Ia berpura-pura mengembalikan
kotak hitam pada Crevacna yang sudah bangun dan menenangkannya. Ia heran
mengapa ia tidak bisa membukanya dengan kode palsu yang awalnya diberikan
Crevacna sebelum mereka berangkat. Ia minta kode aslinya tetapi Crevacna
menolak. Rugger langsung menodong Crevacna dengan pistol. Saat itu Feneree
muncul dan bilang kalau kuncinya tidak ada pada Crevacna. Crevacna melihat
Feneree langsung melemparkan kotak hitamnya ke Feneree untuk dibawa lari.
Rugger mengejar Feneree dan kotak hitam itu sampai ke gerbong 4. Para
penumpang di gerbong 4 yang sudah diperingati Sto dan diberi senjata sebelumnya
langsung menghadang Feneree dan Rugger. Mereka tidak tahu siapa penjahat yang
sebenarnya tetapi mereka merasa tidak mungkin anak kecil penjahatnya. Rugger
menodong Feneree dengan pistol dan menunjukkan lencana polisinya. Ia menuduh
Feneree sebagai pencuri kecil. Para penumpang bimbang.
Refisen ternyata bertemu dengan Sto di gerbong 3 lalu mereka bersama-
sama mencari penjahat lainnya ke gerbong 4. Mereka kaget melihat Rugger dan
Feneree. Feneree melihat kucing hitam ada di bahu Refisen. Ia langsung bilang kalau
kunci kotak hitam itu ada pada si kucing. Rugger memasang tampang manis dan
meminta kucing itu dari Refisen tapi kucing itu tidak mau pergi pada Rugger. Rugger
marah dan menembak Refisen dan kucing itu. Meleset. Kucing itu kabur ke atap.
Spontan Refisen dan Rugger mengejarnya.
Refisen dan Rugger kejar-kejaran di atap. Kucing itu terlalu cepat dan Refisen
memutuskan untuk menahan Rugger dan melumpuhkannya daripada menangkap si
kucing jadi ia membiarkan si kucing kabur lalu mencoba menahan Rugger. Mereka
berkelahi di atap. Ketika sedang berkelahi, kereta lain lewat di samping kereta
mereka. Rugger yang marah dan kesal mencoba membunuh Refisen dengan
mendorongnya dari atap kereta. Tetapi Refisen berhasil berpegangan dan
menjejakkan kakinya di kereta lain itu lalu menerobos masuk ke dalam gerbong
lewat kaca samping. Rugger kesal dan mengikutinya masuk.
Ternyata mereka masuk ke gerbong 3 dan di sana sudah berkumpul Vazs,
Sto, Crevacna, Feneree, dan para penumpang yang dipersenjatai Sto. Pembajak-
pembajak yang sudah ditangkap, termasuk si koki yang menyerahkan diri juga ada di
sana (tapi Terain menghilang). Kucing hitam ada pada Crevacna. Rugger kesal dan
langsung menangkap seorang penumpang untuk dijadikan sandera. Ia meminta
kotak hitam dan kucing itu lalu menyuruh semua orang di sana meletakkan senjata.
Saat itu sudah dekat dengan stasiun E-141 dan peluit sudah dibunyikan tanda kereta
akan segera berhenti. Semua orang meletakkan senjata mereka. Crevacna berjalan
mendekati Rugger dengan kotak hitam dan kucing yang ketakutan. Tiba-tiba Feneree
mengambil pistol yang tergeletak di lantai lalu memanggil nama Crevacna. Begitu
Crevacna menoleh ia langsung menembak, peluru melewati dada Crevacna dan
langsung menuju perut Rugger. Rugger roboh. Sto dan Vazs langsung menyerbu dan
menahannya dibantu dengan beberapa penumpang pria.
Kereta akhirnya berhenti di stasiun E-141. Bantuan dari kepolisian setempat
dan kepolisian pusat sudah menunggu di stasiun berkat peringatan yang diberikan
Vazs. Semua pembajak ditahan kepolisian. Rugger yang kesal terus menerus
meneriakkan ‘Ilenzgo Hebeneu Tia’, semboyan kelompok separatis Joccick. Beberapa
penumpang dan polisi merasa kasihan pada si koki yang terus menerus menunduk
karena ia sebenarnya tidak ingin ikut terlibat tetapi dipaksa. Crevacna baru tahu
bahwa koki yang dibunuh malam sebelumnya ternyata adalah agen utusan Odseii.
Refisen melihat penangkapan itu bersama Feneree. Dia merasa kesal pada
para separatis yang menurutnya seenaknya saja memulai perang tanpa memikirkan
dampaknya bagi orang-orang awam. Menurut Feneree hal yang menyebabkan orang-
orang itu terus melakukan hal yang kadang-kadang mustahil adalah harapan.
Kereta berjalan menuju Tratahensee. Feneree dan Refisen sudah duduk di
kompartemennya. Feneree melanjutkan pendapatnya ketika kereta melewati
terowongan. Meskipun dalam perjalanan mereka akan melewati jalan gelap yang
rasanya panjang, tapi selama mereka masih melihat cahaya harapan di ujungnya,
mereka akan terus menempuh jalan mengejar harapan itu meskipun harus
mengorbankan banyak hal. Mereka percaya bahwa suatu saat jalan yang gelap itu
akan berakhir dan harapan mereka akan terwujud. Kereta keluar dari terowongan.
Tratahensee sudah terlihat di depan mata.
Feneree menanyakan apa harapan Refisen sesaat sebelum kereta masuk ke
stasiun utama Tratahensee. Refisen kesal karena menganggapnya tidak penting dan
bilang harapan terbesarnya adalah tidak usah bertemu Feneree lagi selamanya.
Feneree lalu mengucapkan harapan sebaliknya, bertemu Refisen lagi. Kereta
akhirnya berhenti.
Crevacna keluar dari kereta dan langsung dikelilingi pengawal pribadinya. Ia
naik ke mobil dengan penaawalan ketat. Tiba-tiba ada pesan masuk di pager-nya.
Pesan dari Odseii: ‘Cae pan fayzsa ten fenen eree?’ (‘sudahkah kau bertemu dengan
kucing hitam itu?’). Crevacna tersenyum.