Anda di halaman 1dari 3

Seribu Burung Kertas

Oleh MT

Hari ini adalah tepat dua tahun papa meninggalkan aku karena penyakit kanker yang
dideritanya. Bumi serasa tak lagi berputar saat aku tau dia tak lagi ada disampingku. Dia yang
selalu membimbing aku, dan menemani aku dengan candanya. Namun karena ,Angga, kekasihku,
aku mampu bertahan dari semua itu. Kami bernecana akan mengunjungi ke makam papa. Aku
masih tak kuasa menahan haru saat berada dimakam Papa, sepertinya dia masih berada
disampingku dan tersenyum padaku.
”Luna Sayang, doanya udah? Kita pulang yuk? Udah jangan nangis. Papa kamu pasti udah
bahagia disana” kata Angga sambil memeluk pundakku.
”Udah kok. Ayo Pulang?” kataku sambil tersenyum padanya.
Perjalanan pulang kali ini terasa lain, dari wajah Angga dia terlihat letih. Wajahnya
pucat, dan badannya terlihat lebih kurus. Namun ketampanan wajahnya tidak hilang. Mungkin
ini akibat pekerjaannya dikantor. Dia memang baru saja diangkat menjadi manajer di
kantronya. Sebuah perusahan TI yang cukup terkenal.
”Aku enggak mampir ya? Ada acara. Nanti malem aku jemput” kata Angga sesampainya di
depan rumahku.
“Iya, kamu hati – hati ya..”

Aku memandang langit langit kamar yang penuh dengan burung kertas. Burung – burung
itu adalah pembeberian Angga sehari setelah kematian Papa. Angga melipat 1000 burung
kertas itu untukku. Angga mengatakan kalau 1000 burung kertas itu melambangkan ketulusan
hatinya untuk selalu ada disampingku. Sayang, dia tidak bisa menemaniku aku hari ini. Untuk
mengisi waktu aku memutuskan untuk membaca novel yang baru saja kubeli sambil mendengar
lagu favoritku yang mengalun lembut di telingaku. Lagu itu membuatku terlelap..
And even if the sun refuse to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart
Until the end of time
You're all i need
My love, my valentine
Namun aku terbangun dari tidurku saat handphoneku tiba – tiba bergetar. Selva,
sahabatku menelpon Tidak biasanya dia menelpon aku, sepenting apapun keperluanya, dia hanya
memberiku pesan singkat.
”Hallo, kenapa say??” sapaku padanya.
”Eh, Lun, lo cepetan ke Marvel deh, sekarang yah. Ada Bad News” kata Selva di
seberang sana. Dari suaranya dia terlihat gugup.
”Kenapa sih?? Ada masalah apa??” tanyaku cemas. Namun telambat. Selva sudah
memutuskan telepon.
Aku beranjak dari kamar tidurku, tidak biasanya Selva seperti ini, pasti ada sesuatu.
Aku segera berlari ke garasi dan mengemudikan mobilu ke Marvel. Sebuah Mall yang tak jauh
dari rumahku. Dan aku mendapati Selva disana, didepan sebuah Food Court Mall. Dia terlihat
gelisah, sembari melihat handphonenya berulang kali.
”Hai.. Ada apa sih??” tanyaku padanya.
”Lo liat kesana deh..” kata Selva sembari menunjuk sebuah meja yang ada di dalam kafe.
Awalnya aku sempat bingung, namun sejenak kemudian aku sadar. Itu adalah Angga, dan
siapa cewek cantik yang ada disampingnya itu? Mereka terlihat mesra, seperti layaknya
pasangan kekasih.
Hatiku serasa hancur. Laki – laki yang selama ini setia menemaniku selama enam tahun
belakangan ini ternyata telah mendua dibelakangku.
Aku tetap menghampiri Angga, meskipun batinku terasa sakit melihatnya bermesraan dengan
wanita lain. Namun aku harus menyelesaikan ini.
“Angga, ini siapa??” bentakku didepan mejanya. Dan aku pun tahu, semua mata yang
sedang melihat ke arahku saat ini.
”Luna..” katanya terkaget – kaget.
”Apaa? Ini siapa Angga?? Aku tanya sama kamu, siapa cewek ini?? Jadi ini yang namanya
urusan kantor??” bentaku lebih keras. Air mata mengalir deras di pipiku. Aku tak bisa
membendungnya lagi.
”Luna, aku sebenarnya enggak mau menyakiti kamu. Namun kamu harus tau yang
sebenarnya. Aku beneran enggak bisa ngelanjutin hubungan kita. Aku capek, kalau setiap hari
harus jadi tumpuan buat kamu, harus terus jaga perasaan kamu, tapi kamu enggak pernah kasih
sedikit perhatian kamu buat aku. Dan aku pikir ini udah saatnya kita jalan sendiri – sendiri.
Hubungan kita berakhir disini..”
Mendengar hal itu, duniaku serasa runtuh, tak berpijak ditempatnya lagi.
Angga yang selama ini kubanggakan, ternyata tak lebih dari seorang pengecut. Aku
meninggalkannya disana, tatapan nanar-nya masih terbayang di ingatanku. Namun dalam hatiku,
kini dia tak lebih seorang sampah.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Dua bulan berlalu sejak hubunganku dengan Angga berakhir. Untuk melupakannya, aku
menyibukkan diriku dengan kegiatan sosial. Aku beruntung, masih ada mama yang selalu
menemani aku. Dan Selva, sahabat yang tak pernah berhenti memberikan semangat untukku.
Setidaknya, masih ada mereka semua, yang masih peduli dengan aku.
Hujan sore ini mengingatkan kebersamaanku dengan Angga, dimana dia selalu setia
menjemputku, rela kehujanan demi aku. Namun, itu semua hanya kenangan. Tiba – tiba suara
Mbak Minah,pembantuku, membuyarkan lamunanku.
”Maaf, tadi ada saya menemukan kado di depan rumah, ternyata buat non” katanya sopan
sembari memberikanku sebuah kado berpita ungu untukku.
”Oh, iya, makasih mbak” kataku sambil mengambil kadoitu dari tangan Mbak Minah.
Aku membuka kado itu, didalamnya hanya terdapat burung – burung kertas dan sebuah
surat.

Dear Luna,
Luna sayang, mungkin kalau kamu baca surat ini, aku udah pergi jauh..
Aku udah nggak bisa bersama kamu lagi selamanya,
Sebelumnya aku minta maaf, kalau selama ini aku belum bisa menjadi yang terbaik buat kamu,
aku belum bisa jadi yang kamu mau, dan aku belum bisa bahagiain kamu seperti janjiku kepada
Papa kamu,
Aku mau jelasin soal di Food Court dulu, sebenarnya itu semua cuma sandiwara. Karena hanya
dengan cara itu kamu akan membenci aku.Wanita itu sebenarnya adalah sahabatku, dan alasan
mengapa aku ngelakuin semua ini adalah karena sudah sekitar 4 tahun ini, aku menderita
penyakit leukemia. Dokter mengatakan, kalau penyakit ini tak akan bertahan lama, dan waktu
ku hanya tinggal beberapa bulan saja. Dan aku sadar, kalau aku enggak mungkin bersama kamu
lagi, karena semakin lama aku bersama kamu, itu akan mebuat kamu semakin terluka saat aku
pergi nanti.
Makasih ya, untuk semua yang udah kamu kasih untuk aku, semua cinta dan perhatian kamu,
Kesabaran kamu, dan kesetiann kmu selama ini,
Kamu adalah alasan mengapa aku mau berjuang untuk melawan penyakit ini, tapi aku nggak bisa
sayang, ternyata Tuhan punya rencana lain.
Aku harap kamu jangan sedih, kamu harus tetap kuat dan tegar.
Dan ini adalah burung kertas terakhir yang kubuat selama aku di rumah sakit. Burung kertas
terakhir yang bisa aku berikan untuk kamu. Kuharap ini bisa menemanimu dan menjadi
penggantiku.
Yang mencintaimu,
Angga.

Air mataku mengalir deras. Setelah membaca surat terakhir Angga. Sejenak aku
membayangkan wajah tampan Angga yang tersenyum padaku, terbayang pula segala kisah yang
pernah kami lalui bersama. Aku bergegas menuju rumah Angga, aku melihatnya terbujur kaku
di dalam peti. Aku tak kuasa menahan haru, aku merasa bersalah. Seharusnya aku ada
disampingnya disaat terakhirnya. Selva memelukku erat, menenangkanku.

Angga, aku melepasmu, kuharap kau bahagia disana..