Anda di halaman 1dari 12

PAPER

INSIDEN KOJA DAN REVITALISASI PENGENDALIAN SOSIAL

Oleh :

KELOMPOK II

HENDRA (0721000064)
PANDAPOTAN SINURAT (0721000080)
LYRA BUMANTARA SYARIF (0912000258)
AJAT SUDRAJAT (09130002
06)
ANDI ARDIANSYAH (09130002
08)
HISAR (09130002
38)
KUSTORO (09130002
50)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas II


Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik
Dosen : RATRI ISTANIA, SIP, MA.
Hari/Jam/Ruang Kelas : Jum’at/16.30/P

SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI


LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
(STIA – LAN)
JAKARTA
2010
INSIDEN KOJA DAN REVITALISASI PENGENDALIAN SOSIAL

A. Latar Belakang

Dalam tatanan kehidupan masyarakat bernegara, kita tentu


mengharapkan adanya suatu keselarasan dalam setiap aspek kehidupan
sehingga dapat tercipta suasana yang aman, nyaman, tertib, dan damai
Namun demikian, dalam kehidupan yang majemuk di masyarakat,
seringkali kita tidak dapat menghindari terjadinya berbagai bentuk konflik,
mulai dari yang bersifat sederhana, seperti perselisihan antar orang per
orang; keluarga dengan keluarga hingga yang bersifat kompleks seperti
konflik antar golongan; antar suku; antar ras; dan antar agama.

Pengendalian sosial merupakan satu cara yang efektif untuk


mencegah atau mengatasi terjadinya konflik. Melalui pengendalian sosial
setiap individu; kelompok; ataupun masyarakat dapat diarahkan untuk
berperilaku selaras atau sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang
berlaku di dalam masyarakat, agar nilai-nilai dan norma-norma sosial
dapat dijalankan oleh masyarakat sehingga tercipta suasana aman,
nyaman, tertib, dan damai di masyarakat.

Dalam kaitan antara ilmu politik dengan ilmu sosiologi, negara


adalah institusi yang menjalankan peran paling sentral dan paling
dominan dalam pengendalian sosial. Sifat negara yang memiliki
kewenangan memaksa dan memonopoli merupakan dasar pijakan yang
kuat untuk menyusun serangkaian kebijakan dan regulasi, maupun
melakukan tindakan secara langsung dalam rangka untuk melaksanakan
pengendalian sosial.

Namun demikian, upaya pengendalian sosial oleh negara masih


belum optimal baik dalam mencegah maupun dalam menangani konflik
yang terjadi di masyarakat. Peristiwa kerusuhan di Koja pada tanggal 14
April 2010 lalu merupakan suatu bukti bahwa pengendalian sosial oleh
negara (khususnya pemerintah DKI Jakarta) tidak mampu menciptakan

Paper Kelompok II Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik -1


suasana yang kondusif, bahkan justru melebar kepada konflik yang
meluas hingga menimbulkan ratusan orang korban luka dan tiga orang
tewas. Peristiwa ini tentunya sangat memilukan, karena terjadi di tengah
hembusan angin segar good governance sebagai paradigma baru
penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia yang seharusnya
menciptakan kebahagiaan bagi rakyatnya (bonum publicum, common
good, common wealth).

Berpijak dari fenomena ini Kami bermaksud untuk menyajikan


suatu penulisan mengenai revitalisasi pengendalian sosial, dengan
merujuk atas dasar insiden Koja tanggal 14 April 2010. Penulisan ini
diharapkan dapat menjadi sebuah referensi yang bermanfaat bagi
segenap pihak yang membutuhkannya.

B. Permasalahan

1. Faktor-faktor apa sajakah yang melatarbelakangi terjadinya insiden


Koja?

2. Bagaimanakah upaya untuk merevitalisasi pengendalian sosial?

C. Teori dan Konsep

C.1. Pengendalian Sosial


1. Definisi Pengendalian Sosial

Joseph S. Roucek dan Associates (dalam Soerjono Soekanto,


2007 : 179) menyatakan bahwa : “Arti sesungguhnya pengendalian
sosial jauh lebih luas, karena pada pengertian tersebut tercakup
segala proses, baik yang direncanakan maupun tidak, yang
bersifat mendidik, mengajak, atau bahkan memaksa warga-warga
masyarakat mematuhi kaidah-kaidah dan nilai sosial yang berlaku.

Pengendalian sosial (dalam http://www.crayonpedia.org/mw/


PENGENDALIAN_SOSIAL_8.2_SANUSI_FATTAH) adalah suatu
bentuk aktivitas masyarakat yang disampaikan kepada pihak-pihak
tertentu dalam masyarakat karena adanya penyimpangan-

Paper Kelompok II Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik -2


penyimpangan sosial. Hal ini dilakukan agar kestabilan dalam
masyarakat kembali dapat tercapai.

2. Macam-Macam Pengendalian Sosial

Dalamhttp://www.crayonpedia.org/mw/PENGENDALIAN_SOSIAL_
8.2_SANUSI_FATTAH, macam-macam pengendalian sosial dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Berdasarkan Waktu Pelaksanaannya

Berdasarkan waktu pelaksanaannya, pengendalian sosial


dapat dibedakan menjadi tiga, berikut ini.

1). Tindakan preventif; yaitu tindakan yang dilakukan oleh pihak


berwajib sebelum penyimpangan sosial terjadi agar suatu
tindak pelanggaran dapat diredam atau dicegah.
Pengendalian yang bersifat preventif umumnya dilakukan
dengan cara melalui bimbingan, pengarahan dan ajakan.

2). Tindakan represif; yaitu suatu tindakan aktif yang dilakukan


pihak berwajib pada saat penyimpangan sosial terjadi agar
penyimpangan yang sedang terjadi dapat dihentikan.

3). Tindakan kuratif; tindakan ini diambil setelah terjadinya


tindak penyimpangan sosial. Tindakan ini ditujukan untuk
memberikan penyadaran kepada para pelaku
penyimpangan agar dapat menyadari kesalahannya dan
mau serta mampu memperbaiki kehidupannya, sehingga di
kemudian hari tidak lagi mengulangi kesalahannya.

b. Berdasarkan Sifatnya

1). Pengendalian internal; pengendalian sosial jenis ini


dilakukan oleh penguasa atau pemerintah sebagai
pemegang kekuasaan (the rulling class) untuk menjalankan
roda pemerintahannya melalui strategi-strategi politik.
Strategi-strategi politik tersebut dapat berupa aturan

Paper Kelompok II Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik -3


perundang-undangan ataupun program-program sosial
lainnya.

2). Pengendalian eksternal; pengendalian sosial jenis ini


dilakukan oleh rakyat kepada para penguasa. Hal ini
dilakukan karena dirasa adanya
penyimpanganpenyimpangan tertentu yang dilakukan oleh
kalangan penguasa. Pengendalian sosial jenis ini dapat
dilakukan melalui aksi-aksi demonstrasi atau unjuk rasa,
melalui pengawasan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),
atau pun melalui wakil-wakil rakyat di DPR.

c. Berdasarkan Cara atau Perlakuan Pengendalian Sosial

1). Tindakan persuasif; yaitu tindakan pencegahan yang


dilakukan dengan cara pendekatan secara damai tanpa
paksaan. Bentuk pengendalian ini, misalnya berupa ajakan
atau penyuluhan kepada masyarakat untuk tidak melakukan
hal-hal yang menyimpang.

2). Tindakan koersif; yaitu tindakan pengendalian sosial yang


dilakukan dengan cara pemaksaan. Dalam hal ini, bentuk
pemaksaan diwujudkan dengan pemberian sanksi atau
hukuman terhadap siapa saja yang melakukan pelanggaran
sesuai dengan kadar penyimpangannya.

C.2. Kelompok Kepentingan


1. Definisi Kelompok Sosial

Menurut Marcus Ethridge dan Howard Handelman (dalam Miriam


Budiarjo, 2008 : 383), kelompok sosial adalah : “Suatu organisasi
yang berusaha untuk mempengaruhi kebijakan publik dalam suatu
bidang yang penting untuk anggota-anggotanya”.

Paper Kelompok II Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik -4


2. Macam-Macam Kelompok Sosial

Gabriel A. Almond dan Bingham G.Powell (dalam Miriam Budiarjo,


2008 : 387-388) membagi kelompok kepentingan ke dalam empat
kategori, yaitu :

a. Kelompok Anomi

Kelompok-kelompok ini tidak mempunyai organisasi, tetapi


individu-individu yang terlibat merasa mempunyai perasaan
frustasi dan ketidakpuasan yang sama. Sekalipun tidak
terorganisir dengan rapi, dapat saja kelompok-kelompok ini
secara spontan mengadakan aksi massal jika tiba-tiba timbul
frustasi dan kekecewaan mengenai sesuatu masalah.
Ketidakpuasan ini diungkapkan melalui demonstrasi dan
pemogokan yang tak terkontrol, yang kadang-kadang berakhir
dengan kekerasan.

b. Kelompok Nonasosiasional

Kelompok kepentingan ini tumbuh berdasarkan rasa solidaritas


pada sanak saudara, kerabat, agama, wilayah, kelompok etnis,
dan pekerjaan. Kelompok-kelompok ini biasanya tidak aktif
secara politik dan tidak mempunyai organisasi ketat, walaupun
lebih mempunyai ikatan daripada kelompok anomi. Anggota-
anggotanya merasa mempunyai hubungan batin karena
mempunyai hubungan ekonomi, massa konsumen, kelompok
etnis, dan kedaerahan.

c. Kelompok Institusional

Yaitu kelompok-kelompok formal yang berada dalam atau


bekerja sama secara erat dengan pemerintahan seperti
birokrasi dan kelompok militer.

d. Kelompok Asosiasional

Kelompok ini terdiri atas serikat buruh, kamar dagang, asosiasi


etnis dan agama. Organisasi ini dibentuk dengan suatu tujuan

Paper Kelompok II Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik -5


yang eksplisit, mempunyai organisasi yang baik dengan staf
yang bekerja penuh waktu. Hal ini telah menjadikan mereka
lebih efektif daripada kelompok-kelompok lain dalam
memperjuangkan tujuannya.

D. Analisis

Tanjung Priok, Kelurahan Koja, kembali menjadi saksi bisu


pertikaian berdarah antara aparat dengan masyarakat. Insiden Koja yang
terjadi pada tanggal 14 April 2010 seakan-akan mengulang kepahitan 16
tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1984 di tempat yang sama terjadi
tragedi berdarah yang menewaskan ratusan korban jiwa, termasuk salah
seorang tokoh ulama setempat, Amir Biki, sehingga menyebabkan
peristiwa itu kemudian tercatat sebagai salah satu pelanggaran HAM
berat di zaman Orde Baru.

Jika dahulu insiden melibatkan antara aparat ABRI (saat ini TNI)
versus masyarakat kini insiden melibatkan antara aparat Satuan Polisi
Pamong Praja (Satpol PP) Pemerintah DKI Jakarta dan polisi versus
masyarakat. Satpol PP yang dibantu oleh Polisi “berperang” melawan
warga Koja dari pagi hingga sore hari dengan keganasan dan kebencian
yang mengerikan. Ratusan orang terluka dan tiga orang tewas. Selain itu,
banyak kendaraan operasional Satpol PP dan polisi dibakar massa.

Adapun pemicunya masih sama, yaitu persinggungan antara


tindakan aparatur yang ditarungkan dengan keyakinan agama.
Kerusuhan berdarah di tahun 1984, dipicu kemarahan warga terhadap
penangkapan empat orang aktivis muslim yang terpancing isu adanya
seorang aparat ABRI yang memasuki masjid tanpa membuka alas kaki.
Sedangkan kerusuhan pada tahun 2010 dipicu oleh perlawanan warga
kepada ribuan Satpol PP yang hendak memasuki kompleks makam
keramat Mbah Priok (Habib Hassan bin Muhamad al Hadad, seorang
ulama yang diyakini menyebarkan agama Islam di wilayah Tanjung Priok
dan sekitarnya). Di mana kompleks makam tersebut berada dalam lahan
milik PT Pelindo II, dan selama bertahun-tahun menjadi sengketa antara

Paper Kelompok II Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik -6


pihak yang mengaku ahli waris (keturunan) dari Mbah Priok dengan PT
Pelindo II.

Saat peristiwa Tanjung Priok tahun 1984 terjadi, masyarakat tidak


banyak yang mengetahui, karena pers yang terkontrol ketat tidak
memungkinkan untuk menyiarkan peristiwa itu apa adanya. Namun, pada
Perang Tanjung Priok ke-dua (2010), adanya kebebasan pers sebagai
gaung dari reformasi telah membuka mata publik betapa negara, dengan
segala kelengkapan dan kewenangan ternyata tidak mencintai
rakyatnya. Di sisi lain, publik pun bisa menyaksikan betapa warga negara
telah menjelma menjadi sosok yang memiliki keberingasan mengerikan.
Hal ini terlihat dari anarkisme brutal yang ditunjukkan warga dengan
penggunaan senjata tajam dan segala peralatan perang yang mungkin
dipergunakan sebagai senjata, termasuk meledakan bom molotov.

Apakah yang menyebabkan negara dan rakyatnya sendiri terlibat


pertikaian berdarah yang mengerikan seperti layaknya dua pihak yang
saling bermusuhan di medan perang? Setidaknya terdapat dua faktor
utama yang menjadi penyebab terjadinya insiden Koja, yaitu :

Yang pertama, masih mudahnya masyarakat dipolitisir oleh pihak-pihak


yang tidak bertanggungjawab melalui pembelokan isu. Pengalihan isu
tersebut dibungkus dalam kedok agama, yang secara sosial budaya
memang telah mengakar kuat dalam masyarakat.

Sebagaimana keterangan resmi dari Pemerintah DKI Jakarta, melalui


Wakil Gubernur Priyanto yang menyatakan bahwa sejatinya penerjunan
ribuan aparat Satpol PP bukanlah bertujuan untuk membongkar /
menggusur Makam Mbah Priok, namun hanya untuk menertibkan
sejumlah bangunan-bangunan liar yang ada di sekitar makam yang
notabene merupakan lahan PT Pelindo II. Sedangkan Makam Mbah Priok
sendiri tidak termasuk dalam target operasi penertiban, sebaliknya
menurut Wakil Gubernur Priyanto, makam tersebut akan tetap
dilestarikan sebagai obyek cagar budaya untuk wisata ziarah Islam.
Namun apa yang terjadi di lapangan sungguh sangat berbeda, entah

Paper Kelompok II Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik -7


bagaimana isu yang berkembang dengan cepat berubah menjadi isu
penggusuran Makam Mbah Priok. Akibatnya warga muslim yang merasa
bagian dari “simbolnya” diganggu merasa terusik, dan kemudian dengan
“dibungkus” semangat jihad yang seadanya mereka berjuang mati-matian
mempertahankan Makam Keramat Mbah Priok dari agresi Satpol PP.

Terlihat jelas bagaimana akal sehat dan logika sama sekali tidak bermain.
Bagaimana mungkin Makam dapat dikategorikan sebagai simbol agama,
padahal dalam agama Islam sendiri tidak mengajarkan demikian. Islam
tidak memperkenankan umatnya untuk memuja makam, bahkan untuk
makam tokoh sekelas para Nabi dan Rasul pun juga berlaku demikian.

Basis pendidikan formal masyarakat yang rata-rata masih rendah


ditambah dengan tekanan dan beban hidup yang semakin berat (karena
miskin dan menganggur), berakibat pada pemikiran yang cenderung
irasional, rasa frustasi dan perilaku yang mudah terbakar emosi.
Kesamaan nasib inilah yang rupanya menjadi ideologi masyarakat Koja
untuk bersatu membentuk sebuah kelompok yang oleh Gabriel A. Almond
dan Bingham G. Powell disebut sebagai kelompok anomi. Sekalipun tidak
terorganisir dengan rapi, dapat saja kelompok-kelompok ini secara
spontan mengadakan aksi massal jika tiba-tiba timbul frustasi dan
kekecewaan mengenai sesuatu masalah. Ketidakpuasan ini diungkapkan
melalui demonstrasi dan pemogokan yang tak terkontrol, yang kadang-
kadang berakhir dengan kekerasan (Gabriel A. Almond dan Bingham
G.Powell dalam Miriam Budiarjo, 2008 : 387-388).

Yang kedua, pengendalian sosial oleh aparat Satpol PP yang masih


mengedepankan metode koersif ketimbang persuasif. Kenyataan di
lapangan menunjukkan bahwa dari awal kedatangannya aparat Satpol
PP memang sudah terpancing emosinya oleh tindak-tanduk massa,
Sayangnya, kondisi yang demikian ini tidak disikapi dengan arif dan
cerdas, tetapi dengan emosional dan gegabah (tanpa perhitungan).
Apalagi kemudian beberapa oknum yang tidak bertanggungjawab justru
membakar semangat massa dengan dalih jihad. Sehingga yang terjadi

Paper Kelompok II Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik -8


kemudian, alih-alih terjadi proses mediasi, justru sebaliknya malahan
sebuah pertarungan antara dua kelompok massa, yaitu warga dan
aparat Satpol PP yang sama-sama beringas,

Padahal kerusuhan dapat saja diredam apabila kedua belah pihak sama-
sama dapat berpikir secara jernih meski di dalam kondisi yang keruh,
terutama dari pihak aparatur Satpol PP. Karena tidak selamanya
kekerasan massa harus dilawan dengan kekerasan juga. Jika memang
memungkinkan, proses mediasi atau penanganan dialogis dapat
ditempuh. Melihat kondisi massa yang sudah sangat beringas,
seharusnya ada inisiatif dari pimpinan (koordinator) lapangan Satpol PP
untuk mendinginkan situasi, tidak malah membalas perlakuan dan
tantangan massa dengan tindakan yang sama. Minimal ada upaya untuk
melakukan mediasi dengan segenap tokoh-tokoh sentral yang terkait,
sehingga timbulnya kerusuhan dapat dicegah. Kalaupun memang Satpol
PP bersikukuh bergerak atas dasar payung hukum yang jelas dan kuat,
serta sama sekali tidak ada niatan untuk “mengganggu Makam Mbah
Priok”, paling tidak ada inisiatif untuk merubah komando dari gerakan
koersif menjadi persuasif, mengubah instruksi dari penertiban oleh
Satpol PP menjadi penertiban bersama antara Satpol PP dan
masyarakat. Artinya masyarakat dilibatkan secara partisipatif untuk ikut
membantu Satpol PP dalam melaksanakan tugasnya melakukan
penertiban bangunan liar yang ada di sekitar Makam Mbah Priok.

E. Rekomendasi

Kerusuhan Koja tanggal 14 April 2010 menjadi cermin bagi kita


bahwa upaya pengendalian sosial masih belum berjalan sebagaimana
mestinya. Selama ini pengendalian sosial masih cenderung bergerak
dalam koridor represif dan koersif. Padahal hal ini sudah tidak sejalan lagi
dengan salah satu isu yang termuat di dalam konsep Good governance,
yaitu peningkatan partisipasi masyarakat. Dalam hal ini bagaimana
pemerintah berupaya mengajak masyarakat untuk turut serta secara aktif
dalam proses pengendalian sosial, sehingga bahaya laten konflik dapat

Paper Kelompok II Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik -9


terhindarkan. Oleh karena itu dalam pengendalian sosial sebaiknya
pemerintah berupaya untuk merevitalisasinya dengan merubah
paradigma dari represif koersif menjadi preventif persuasif.

Berpijak dari kerusuhan Koja, dapat diketahui bahwa


ketidakberdayaan ekonomi (kemiskinan, pengangguran) dan
ketidakberdayaan pendidikan merupakan faktor laten yang dapat
berpeluang menimbulkan konflik di masyarakat. Oleh karena itu harus
ada upaya dari pemerintah untuk meningkatkan pemerataan ekonomi
dan pendidikan yang berkeadilan. Dengan kondisi warga masyarakat
yang berpendidikan dan sejahtera maka masyarakat akan lebih rasional
dan logis dalam berpikir, tidak mudah digerakkan oleh pihak-pihak yang
hanya mengambil keuntungan secara politis semata. Hal ini secara tidak
langsung akan dapat mencegah atau setidakya meminimalisir terjadinya
konflik dalam masyarakat.

F. Daftar Pustaka

Budiarjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta. PT Gramedia


Pustaka.

http://www.crayonpedia.org/mw/PENGENDALIAN_SOSIAL_8.2_SANUSI
_FATTAH.

Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta. PT Raja


Grafindo Persada.

Paper Kelompok II Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik -10